1 DEBAT CAPRES CAWAPRES DI TELEVISI

advertisement
DEBAT CAPRES CAWAPRES DI TELEVISI
(Studi Analisis isi Komunikasi non Verbal dalam tayangan debat capres
cawapres di televisi pada tangal 9 Juni 2014 dan 5 Juli 2014)
Adrie Ayu Farahmilla
Mursito
Program Studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret Surakarta
Abstract
Ahead of the 2014 election a lot of television media that every time of
exposure and campaign information are packaged in the form of advertising or in
the form of events such as talk show to the public. At least the people of Indonesia
can see the personal appearance, psychological view, the view of public speaking,
non-verbal communication, as well as the mindset and specificity of each
candidate.
In the event that each candidate debate often perform non-verbal
communication in any unconscious verbal speech and meaning. Often the nonverbal messages are even more powerful than verbal messages. Therefore,
researchers interested in studying non-verbal communication that occurs at each
candidate impressions contained in the presidential debate for mengetehui how
often the intensity of non-verbal communication is done and what the meaning
contained in the non-verbal communication.
This study focuses on the analysis of the content of non-verbal
communication in the presidential and vice presidential debate on television on
June 9, 2014 and July 5, 2014. This study is a descriptive study that describes the
intensity and forms of non-verbal communication that occurs and describe its
meaning. While the techniques used to analyze the data is content analysis using a
reliability test.
The results of this study indicate that footage presidential and vice
presidential debate found some non-verbal forms of personal communication is
done over and over again by each candidate in which non-verbal communication
is non -verbal communication can show feelings, the mind, the psyche /
psychology someone at that time. Non-verbal communication that occurs implies
that is different between each other . Another inherent meaning is authoritative,
confident and mastering conversation, creativity, and openness to experience
Keywords : presidential and vice presidential debate, non-verbal communication,
content analysis
1
Pendahuluan
Menjelang Pemilu 2014 banyak sekali media televisi yang setiap saat
memberikan terpaan informasi yang dikemas baik dalam bentuk iklan maupun
dalam bentuk acara seperti talk show kepada masyarakat. Televisi menjadi
sebagai salah satu media penyiaran yang berkembang pesat di Indonesia.
banyaknya acara televisi yang hadir dalam rangka masa kampanye pilpres ini
yang ditayangkan di berbagai macam stasiun televisi mengandung pesan yang
tersirat yang ingin disampaikan oleh si pembuat program kepada masyarakat. Baik
dimanfaatkan dalam publisitas untuk menginformasikan visi misi calon presiden,
strategi politik, kepedulian politik, maupun yang berisi menyerang / menyudutkan
pesaing nya. Tayangan yang hadir ditengah masyarakat tersebut, diharapkan
mampu membentuk persepsi masyarakat sesuai dengan tujuan program acara.
Acara yang ditayangkan di televisi secara langsung atau tidak akan
memberikan pengaruh bagi pemirsa nya. Sama hal nya dengan acara debat capres
2014 ditelevisi yang di adakan oleh KPU secara langsung atau tidak akan
memberikan pengaruh bagi pemirsa nya dalam mengenal kandidat calon presiden
atau sekadar memunculkan persepsi / image mengenai performance masing
masing kandidat calon presiden dan wakil presiden yaitu Joko Widodo, Jusuf
Kalla, Prabowo Subianto, dan Hatta Rajasa.
Secara sosial televisi sudah masuk ke dalam aspek kehidupan masyarakat.
Tidak hanya diperkotaan tetapi juga di pelosok pelosok desa. Dengan kondisi
seperti ini pengaruh televisi menjadi sangat besar terhadap pola pikir maupun
sikap masyarakat. Tayangan program televisi seperti reality show, infotaiment,
sinetron, film bahkan iklan sekalipun turut serta dalam mengatur dan mengubah
lifestyle di masyarakat. Informasi yang diberikan televisi seperti program berita
tentang politik, budaya ekonomi maupun sosial masyarakat dari suatu negara juga
ikut serta membentuk persepsi masyarakat yang memperhatikan nya. Hal tersebut
bisa saja menimbulkan dampak negatif namun tidak sedikit juga sebagai
masyarakat pemerhati televisi yang menemukan dampak positif dari tayangan
tersebut.
2
Televisi adalah sebagai sarana pendidik dan pemberi informasi kepada
mayarakat harus mampu membuka wawasan berpikir bagi pemirsa nya untuk
menerima dan mengetahui kejadian yang berada di lingkungan masyarakat. Salah
satu program televisi yang sedang gencar diminati dan menjadi topik
perbincangan yang hangat ditengah masyarakat pada masa kampanye pilpres saat
ini adalah debat capres cawapres yang diadakan langsung oleh KPU (Komisi
Pemilihan Umum).
Televisi bisa menghibur, membentuk opini publik, rumor, mendorong
sikap masyarakat terhadap suatu isu, dapat pula membunuh seseorang atau suatu
objek. Disisi lain televisi dapat membuat masyarakat menjadi semakin cerdas,
kritis, atau justru malah tenggelam kedalam pola pikir yang ingin dibentuk oleh si
pembuat.
Komisi pemilihan umum (KPU) bekerja sama dengan televisi pemerintah
dan swasta menggelar acara kenegaraan dalam masa kampanye pilpres berupa
debat kenegaraan yaitu debat calon presiden dan calon wakil presiden 2014. Acara
debat capres pada masa kampanye 4 juni sampai 5 juli 2014 ini akan berlangsung
sebanyak 5 kali, yang terdiri dari 1 kali debat capres dan cawapres, 2 kali debat
capres, dan 2 kali debat cawapres. Penyelenggaran debat capres ditayangkan
secara live (siaran langsung) di beberapa stasiun televisi. Acara ini bertujuan
untuk membantu memberikan informasi / pengetahuan kepada calon pemilih guna
membentuk persepsi / image kandidat.
Pasangan Calon presiden dan wakil presiden terpilih sebagai kandidat
dan menjadi peserta dalam debat capres cawapres dalam pemilu 2014 adalah
pasangan dengan nomer urut pertama yaitu Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa,
sedangkan pasangan nomer urut 2 adalah Joko Widodo dan Jusuf Kalla. Masing
masing calon kandidat memiliki karakter dan latar belakang pendidikan yang
berbeda beda.
Komisioner Komisi Pemilihan Umum, Ferry Kurnia Rizkiyansyah,
mengatakan acara debat calon presiden dan wakil presiden yang perdana
dilaksanakan pada Senin, 9 Juni 2014, di Balai Sarbini pada pukul 20.00 WIB.
Berikut ini merupakan tema dan jadwal debat capres dan cawapres:
3
1.
Debat
capres-cawapres
dengan
Tema
Pembangunan
Demokrasi,
Pemerintahan yang Bersih, dan Kepastian Hukum. (disiarkan di SCTV,
Indosiar, dan Berita Satu pada tanggal 9 juni 2014).
2.
Debat capres dengan tema Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial
(Disiarkan Metro TV dan Bloomberg pada tanggal 15 Juni 2014)
3.
Debat capres dengan tema Politik Internal dan Ketahanan Nasional.
(disiarkan di TV One dan ANTV pada tanggal 22 juni 2014)
4.
Debat cawapres dengan tema Pembangunan Sumber Daya Manusia dan
IPTEK. (Disiarkan di RCTI dan MNCTV pada tanggal 29 Juni 2014)
5.
Debat capres-cawapres dengan tema Pangan, Energi, dan Lingkungan
(Disiarkan di TVRI dan Kompas TV pada tanggal 5 Juli 2014).1
Menurut Sigit Pamungkas selaku anggota KPU, debat Capres - Cawapres
bukanlah talk show melainkan debat kenegaraan sehingga ada batas-batas tertentu
dalam penyelenggaraannya. Menurutnya, batas-batas atau atura main tersebut di
antaranya, moderator tetap berada di balik podium, moderator tidak boleh
mengeluarkan gerakan anggota tubuh yang bisa dinilai keberpihakan, moderator
tidak boleh memberikan pertanyaan 'mengejar' si calon hingga pendukung tidak
bertepuk tangan saat calon memberikan jawaban atau pernyataan.2
Batas batas atau aturan main dalam debat seperti itu dilakukan
berdasarkan hasil kesepakatan KPU dengan kedua tim sukses capres-cawapres.
Acara debat capres-cawapres tersebut diharapkan dapat memberi gambaran pasti
tentang siapa yang pantas menjadi presiden dan wakil presiden Republik
Indonesia pada periode 2014 -2019 mendatang. Setidaknya rakyat indonesia bisa
menyaksikan tampilan pribadi, tampilan psikologis, tampilan public speaking,
komunikasi non verbal, serta pola pikir dan ketegasan masing masing calon. Cara
penyampaian calon presiden dan wakil presiden akan sangat dinilai oleh calon
pemilih dalam pemilu 9 juli 2014.
1
Dikutip dari http://www.pemilu.tempo.co/debatcapres. yang diakses pada 26/06/2014 jam 12.10
Wib
2
Dikutip dari http://www.kompas.com/debatcaprescawapres, yang diakses tanggal 23/05/2014 jam
10.15
4
Ada sebagian orang yang berpendapat bahwa pandai berpidato dan dapat
menyampaikan dengan baik ide / pola pikir adalah tidak penting, yang penting
adalah kerja nyata. Padahal kenyataan nya, kita bukan akan memilih seorang
pemimpin perusahaan, bukan akan memilih walikota / bupati, tanggal 9 juli
seluruh warga indonesia akan memilih seorang presiden yang akan memimpin,
menyemangati dan memotivasi seluruh anak bangsa selama 5 tahun kedepan.
Dalam kepemimpinan nya presiden tidak lah harus pandai kerja lapangan, tidak
harus selalu hadir di setiap pelosok tanah air yang luas ini untuk bekerja langsung
menerapkan ide ide nya, presiden tidak akan punya banyak waktu mengerjakan
sendiri permasalahan yang ada.
Seorang
presiden
indonesia
haruslah
orang
yang
mampu
mentransformasikan, merefleksikan, memproyeksikan pola pikirnya dalam bentuk
pidato motivasi, pidato gebrakan moral serta akhlak agar seluruh gubernur, bupati,
walikota serta rakyat mengikuti kalimat ucapanya yang mampu membuat gerak
langkah seluruh kegiatan produktif serempak secara nasional. Presiden pun tak
perlu bekerja seperti mentri mentri nya, presiden hanya cukup mengawasi seluruh
pekerjaan yang telah dikomandokan dalam bentuk pidato, dan mengoreksi setiap
saat kinerja para mentri nya.
Namun dalam tampilan pidato secara verbal terkadang banyak pula
komunikasi non verbal yang terjadi yang terkadang tidak kita sadari. Komunikasi
non verbal adalah proses penyampaian pesan pesan oleh seseorang yang
dilakukan tidak dengan kata kata atau bahasa verbal, melainkan melalui petunjuk
atau tanda tanda lain yang terjadi pada seseorang. Banyak komunikasi verbal tidak
efektif hanya karena komunikatornya tidak menggunakan komunikasi non verbal
dengan baik dalam waktu bersamaan. Komunikasi non verbal bisa membantu
komunikator untuk lebih memperkuat pesan yang disampaikan sekaligus
memahami reaksi komunikan saat menerima pesan.
Bentuk komunikasi non verbal sendiri di antaranya adalah, bahasa
isyarat, ekspresi wajah, sandi, symbol - simbol, pakaian seragam kontak mata,
penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan serta cara berbicara
seperti intonasi, penekanan, kualitas suara, gaya emosi, dan gaya berbicara.
5
Seringkali komunikasi non verbal menggambarkan perasaan orang itu sendiri.
Faktanya Penelitian telah menunjukkan bahwa 80% komunikasi antara manusia
dilakukan secara non verbal. Banyak interaksi dan komunikasi yang mengandung
makna yang terjadi dalam masyarakat yang berwujud nonverbal. 3
Terdapat beberapa Tindakan non-verbal yang sangat erat kaitannya
dengan konteks budaya. Salah mengartikan tindakan non verbal dari orang-orang
dengan budaya yang berbeda merupakan hal yang umum terjadi. Misalnya di Irak,
jangan pernah berpikir bahwa mengacungkan jempol di Irak berarti wujud
ekspresi dari sambutan hangat atau apresiasi positif terhadap seseorang, karena di
Irak tanda acungan jempol itu sama artinya dengan tanda mengacungkan jari
tengah di Amerika. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun banyak komunikasi
non-verbal yang sifatnya universal, namun ada juga beberapa tindakan non-verbal
yang dibentuk oleh budaya.
Seperti hal nya pada acara debat capres yang ditayangkan di televisi,
masing masing kandidat juga melakukan komunikasi non verbal dalam setiap
pidato verbalnya yang tidak disadari dan mengandung makna. Seringkali pesanpesan non verbal justru lebih kuat dibandingkan dengan pesan-pesan verbal. Oleh
karena itu peneliti tertarik untuk meneliti komunikasi non verbal yang terjadi pada
masing masing calon yang terdapat dalam tayanga debat capres tersebut untuk
mengetehui seberapa sering intensitas komunikasi non verbal dan makna yang
terkandung dalam komunikasi non verbal tersebut.
Rumusan Masalah
1. Berapa banyak frekwensi komunikasi non verbal yang berlangsung dalam
program acara debat Capres-Cawapres yang ditayangkan di televisi pada
tanggal 9 Juni 2014 dan 5 Juli 2014?
2. Adakah makna yang terkandung dalam komunikasi non verbal tersebut?
Tujuan
Ttujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1.Menunjukan Berapa banyak frekwensi komunikasi non verbal yang berlangsung
dalam program acara debat Capres-Cawapres pada pemilu tahun 2014
3
Jalaludin Rahmat. 1994. Psikologi komunikasi. PT. Remaja Rosda karya
6
2. Mendeskripsikan makna yang terkandung dalam komunikasi non verbal
Tinjauan Pustaka
1. Komunikasi sebagai proses
Komunikasi merupakan sebuah proses yang mendasar dan sangat vital
dalam kehidupan manusia. Dikatakan sangat vital karena semua manusia baik
yang primitif maupun modern melakukan komunikasi dalam kehidupanya.
Komunikasi itu sendiri sebenarnya berasal dari kata latin communicare atau
communis yang berarti sama atau menjadikan milik bersama.
Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari sumber
kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku
mereka.4 komunikasi terdiri dari beberapa unsur diantara nya:
a. Sumber – Yaitu pembuat informasi atau pengirim informasi.
Pada komunikasi antar manusia, sumber komunikasi bisa dari
satu orang atau dari beberapa orang (kelompok) misalnya
sebuah organisasi atau lembaga. Sumber komunikasi disebut
juga komunikator.
b. Penerima – pihak yang menjadi tujuan untuk dikirimi pesan
oleh sumber (komunikator). Penerima bisa terdiri dari satu
orang atau lebih. Penerima disebut juga komunikan.
c. Pesan – adalah informasi yang disampaikan oleh pengirim
pesan kepada penerima (komunikan). Pesan tersebut bisa
disampaikan dengan bertatap muka (langsung) atau melalui
media komunikasi (tidak langsung).
d. Media – alat yang digunakan dalam berkomunikasi untuk
memindahkan pesan (informasi) dari sumber kepada penerima
e. Efek – Pengaruh yang dipikirkan dan dirasakan oleh penerima
sebelum dan sesudah menerima pesan. Yang kemudian akan
mempengaruhi sikap seseorang dalam menelaah pesan.
f. Umpan Balik – sebuah bentuk tanggapan balik dari penerima
setelah memperoleh pesan yang diterima.
4
Dedy mulyana. 2005. ilmu Komunikasi Suatu Pengantar . PT. Remaja rosdakarya. Hal: 62
7
2. Komunikasi sebagai pembangkit makna
Komunikasi bukan hanya sebagai proses, melainkan komunikasi juga
sebagai pembangkitan makna (the generation of meaning). John Fiske
menyebutkan 2 mazhab utama dalam studi komunikasi. Pertama, yaitu mazhab
sebagai proses, yaitu komunikasi sebagai proses transmisi pesan. Dan yang kedua
adalah melihat komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna. 5
komunikasi sebagai produksi dan pertukaran makna, Mahzab ini
berkaitan dengan bagaimana pesan, teks, dan tanda berinteraksi dengan orang
orang
dalam
rangka
menghasilkan
makna.
Mahzab
semiotika
banyak
menggunakan istilah istilah seperti pertandaan (signification), dan tidak
memandang kesalah pahaman sebagai bukti penting dari kegagalan komunikasi.
Hal tersebut mungkin akibat perbedaan budaya antara pengirim dan penerima.
Menurut mahzab ini studi komunikasi adalah studi tentang teks dan budaya.6
Komunikasi sebagai proses bukanlah penekanan yang utama dalam
penelitian ini, namun lebih menekankan pada komunikasi yang dipahami sebagai
pembangkitan makna. Menurut fiske, agar komunikasi berlangsung, seorang actor
social harus membuat pesan dalam bentuk tanda. Pesan itu mendorong penerima
pesan untuk menciptakan makna untuk diri penerima sendiri yang terkait dalam
beberapa hal dengan makna yang dibuat dalm pesanya. Makin banyak actor sosial
(pelaku encoder) dengan penerima pesan (selaku decoder) menggunakan sistem
yang sama, maka makin dekat makna yang datang pada mereka.7 Dan yang
dihasilkan dalam sebuah komunikasi merupakan merupakan generating
pembangkitan makna, bukan proses.
3. Komunikasi Non Verbal
Komunikasi non verbal adalah proses komunikasi dimana pesan
disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Contoh komunikasi nonverbal ialah
menggunakan gerak isyarat, bahasa tubuh, ekspresi wajah dan kontak mata,
5
John fiske. 2004. cultural and communication studies: sebuah pengantar paling komprehensif,
jalasutra, jogjakarta.
6
John fiske. 2004. cultural and communication studies: sebuah pengantar paling komprehensif,
jalasutra, jogjakarta. Hal: 10
7
John fiske. 2004. cultural and communication studies: sebuah pengantar paling komprehensif,
jalasutra, jogjakarta. Hal: 59
8
penggunaan objek seperti pakaian, potongan rambut, dan sebagainya, simbolsimbol,
serta
cara
berbicara
seperti intonasi,
penekanan,
kualitas suara,
gaya emosi, dan gaya berbicara. Pesan - pesan nonverbal dikelompokan sebagai
berikut:
1. Kinesics behavior, berupa sikap tubuh (gesture), gerakan tubuh,
ekspresi muka, dan kontak mata, dan sebagainya.
2. Physical characteristic, tanda-tanda fisik yang tidak bergerak, seperti
berat, tinggi badan, berjenggot, tatanan rambut, dan sebagainya.
3. Touching behavior, perilaku-perilaku dalam bentuk kontak tubuh,
seperti bersalaman, mengusap, memegang, atau yang sejenisnya
4. Paralanguage, perilaku yang berhubungan dengan penggunaan
bahasa dan suara. Seperti intonasi, artikulasi, resonansi, dan
sebagainya.
5. Proxemics, perilaku yang terkait dengan jarak kedekatan saat
berkomunikasi.
 Intim (0-45cm)
 Personal (75-120cm)
 Sosial (120-210 atau 210-360 formal)
 Publik (360-450 cm
6. Artifac, perilaku yang erat kaitannya dengan benda-benda yang
dipergunakan, seperti kalung, kacamata, lipstick, parfum, dan
sebagainya.
7. Environmental factors, perilaku non verbal yang berkaitan dengan
lingkungan, seperti perabotan, dekorasi, musik, dan sebagainya. 8
4. Variasi Budaya Dalam Perilaku Non Verbal
Perilaku non verbal merupakan produk sosial budaya, sehingga sangat
terpengaruh dengan lingkungan budaya dimana komunikasi berlangsung. Perilaku
non verbal di lingkungan budaya Amerika atau Eropa tentu saja akan berbeda
dengan lingkungan budaya Asia, atau budaya Indonesia misalnya. Namun
demikian, tentu saja ada perilaku non verbal yang sama yang berlaku secara
8
Jalaludin Rahmat. 1994. Psikologi Komunikasi. PT Remaja Rosda Karya
9
global, misalnya menyeringai ketika menahan sakit, atau melambaikan tangan
ketika memanggil seseorang untuk mendekat.
Budaya asal seseorang amat menentukan bagaimana orang tersebut
berkomunikasi secara nonverbal. Perbedaan ini dapat meliputi perbedaan budaya
Barat-Timur, budaya konteks tinggi dan konteks rendah, bahasa, dsb. Contohnya,
orang dari budaya Oriental cenderung menghindari kontak mata langsung,
sedangkan orang Timur Tengah, India dan Amerika Serikat biasanya menganggap
kontak mata penting untuk menunjukkan keterpercayaan, dan orang yang
menghindari kontak mata dianggap tidak dapat dipercaya.
5. Media Televisi
Media mempunyai peranan yang sangat penting dalam kaitanya dengan
kehidupan masyarakat. Media dikenal sebagai sebuah sistem yang dituduh dapat
memeberikan pengaruh besar dalam masyarakat. Tanpa disadari, baik disengaja
maupun tidak, dampak media baik dari sisi negative maupun positifnya tidak akan
dapat terhindarkan.
Televisi, adalah sebuah media yang tergolong paling unik dalam sejarah
penemuan media saat ini. Jalur komunikasi yang memadukan dua unsur yaitu
audio dan visual membuat media ini lebih mudah untuk dinikmati dibandingkan
dengan media yang lain yang hanya memadukan satu jalur komunikasi saja.
Misalnya koran yang hanya bisa dinikmati dengan kemampuan mata untuk
membacanya, atau radio yang hanya bisa kita nikmati dengan kemampuan
mendengarkan saja. Sedangkan televisi, memberikan kelebihan dibanding dengan
media yang lain.
6. Debat Capres Cawapres 2014
Debat identik dengan memaparkan atau mendiskusikan sesuatu untuk
mendapatkan titik temu atau kesimpulan dari suatu permasalahan. Dalam sebuah
negara demokrasi debat memegang peranan tersendiri sebagai sarana komunikasi
publik yang efektif. Debat yang mengikuti standar internasional atau ketentuan –
ketentuan khusus yang berlaku dalam suatu negara. Debat ini, mengutamakan
posisi moderator sebagai pengarah proses debat. Debat ini sering disebut dengan
debat politik atau dalam dunia internasional dikenal dengan debat parlementer.
10
Ciri khas dari debat ini selain memberikan peran aktif kepada moderator,
juga ada pertentangan dari dua pihak yang berdebat, yaitu pihak yang setuju (pro)
dan pihak yang tidak setuju (kontra). Dalam debat parlementer ini, ada beberapa
istilah yang tidak asing lagi seperti topik debat atau mosi (motion), tim afrimatif
(tim pro-kontra) dan interupsi untuk setiap pernyataan pendapat.
Debat jenis inilah yang digunakan dalam debat politik capres dan
cawapres menjelang dalam massa kampanye Pilpres 2014. Dalam debat ini,
disampaikan ke public pemaparan visi-misi untuk meyakinkan publik tentang
kemampuan faktor-faktor kepemimpinan dalam pribadi capres. Debat capres cawapres dalam masa kampanye Pilpres memiliki dasar – dasar hukum.
Pelaksanaan debat dalam Pilpres telah diatur dalam Undang-undang
Nomor 42 Tahun 2008 Tentang Pemilu. Dalam Pasal 38 ayat (1) g Undangundang Nomor 42 Tahun 2008 yang menyatakan bahwa kampanye salah satunya
dapat dilakukan dengan cara debat para kandidat mengenai materi kampanye.
Tentang tata cara debat capres cawapres, dalam Pasal 39 Undang-undang Nomor
42 Tahun 2008.
Debat yang menelan biaya hingga 1,4 Milyar ini diikuti oleh dua
kandidat yaitu Jokowi-JK dan Prabowo-Hatta yang akan dilaksanakan dalam 5
termin dengan jadwal sebagai berikut :
1. Debat Termin Satu
Pembangunan Demokrasi, Pemerintahan yang Bersih, dan Kepastian
Hukum (Disiarkan SCTV, Indosiar, dan Berita Satu pada 9 Juni 2014)
2. Debat Termin Dua
Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan Sosial (Disiarkan Metro
TV dan Bloomberg pada 15 Juni 2014)
3. Debat Termin Tiga
Politik Internal dan Ketahanan Nasional (Disiarkan TV One dan
ANTV pada 22 Juni 2014)
4. Debat Termin Empat
Pembangunan Sumber Daya Manusia dan IPTEK (Disiarkan RCTI
dan MNCTV pada 29 Juni 2014)
11
5. Debat Termin Lima
Pangan, Energi, dan Lingkungan (Disiarkan TVRI dan Kompas TV 5
Juli 2014)
Sajian Data
1. Data Frekwensi Komunikasi Non Verbal Debat Capres dan Cawapres tanggl 9 Juni 2014
NO
1.
2.
.3.
Kategori
komunikasi
non verbal
Jenis komunikasi non
verbal
Kinesics
behavior
Touching
behavior
Paralanguage
TOTAL
Peneliti
Pengkoder
P
H
JW
JK
P
H
JW
JK
Menganggukan kepala
5
-
3
3
4
-
3
3
Menganggukan kepala
5
-
3
3
4
-
3
3
Membenarkan
microphone
32
3
2
-
32
3
2
-
Membenarkan
kacamata
5
-
-
-
5
-
-
-
Mengepalkan tangan /
menggenggam
Tangan menunjuk
12
7
-
-
12
7
-
-
10
5
2
-
10
5
2
-
Gerakan 1 tangan di
udara saat bicara
telapak membuka ke
atas
Tepuk tangan
69
79
71
45
66
72
71
43
22
17
19
50
22
16
19
49
2
-
-
-
2
-
-
-
Tangan ke belakang
1
-
-
-
1
-
-
-
Tangan memegang
dada
Gerakan tangan
memutar / membentuk
sesuatu
Bersalaman
1
-
-
-
1
-
-
-
-
-
4
3
-
-
4
3
3
2
4
4
3
2
4
4
Berpelukan
-
-
2
-
-
-
2
-
Nada dan kecepatan
meninggi
Lambat dan nada akhir
turun
Penekanan kata /
bahasa
21
16
45
30
19
16
43
30
83
19
36
35
77
19
35
34
268
150
190
174
255
142
190
174
Keterangan: P: Prabowo Hatta, H: Hatta Rajasa, JW: Joko Widodo, JK: Jusuf Kalla
12
2. Data Frekwensi Komunikasi Non Verbal Debat Capres dan Cawapres tanggl 5 Juli 2014
NO
1.
2.
3.
Kategori Komunikasi
Jenis komunikasi non
Peneliti
non verbal
verbal
P
H
JW
JK
P
H
JW
JK
Kinesics behavior
Menganggukan kepala
3
2
15
1
3
2
15
1
Memainkan jari
-
2
-
-
-
2
-
-
Membenarkan
kacamata
Memegang hidung
4
-
-
-
4
-
-
-
1
-
-
-
1
-
-
-
Mengepalkan tangan /
menggenggam
Menunjuk
11
-
-
-
11
-
-
-
15
20
22
-
15
20
22
-
Gerakan 1 tangan di
udara saat bicara
Telapak membuka ke
atas
Tepuk tangan
108
69
131
39
105
66
130
39
46
18
9
7
45
18
9
7
3
-
1
-
3
-
1
-
Mengusap mulut
1
-
1
-
1
-
1
-
Tangan di dada / perut
8
-
3
3
8
-
3
3
Tangan terbuka ke
samping
Tangan membentuk
angka atau
menggambarkan
bentuk
Tangan memutar
9
-
-
3
9
-
-
3
7
4
12
-
7
4
12
-
2
-
7
-
2
-
7
-
Tangan mengerucut
2
5
9
-
2
5
9
-
Garuk kepala
-
1
-
-
-
1
-
-
Bersalaman
6
6
6
6
6
6
6
6
Berpelukan
2
2
2
2
2
2
2
2
Lambat dan nada akhir
turun
Nada dan kecepatan
meninggi
Penekanan kata
10
15
18
7
10
15
18
7
14
4
10
9
14
4
10
9
133
62
105
56
130
62
106
56
Total
385
210
351
133
378
207
351
133
Touching behaviour
Paralanguage
Pengkoder
Keterangan : P: Prabowo Hatta, H: Hatta Rajasa, JW: Joko Widodo, JK: Jusuf Kalla
13
3. Makna Koding Komunikasi Non Verbal
Berdasarkan analisis isi perilaku komunikasi non verbal yang telah ditemukan oleh
pengkoder, mengungkapkan makna sebagai berikut: 9
Kategori
Kinesics Behaviour
Bentuk komunikasi non
verbal
Mengangguk
Banyak menoleh
Kedipan cepat
Telapak terbuka ke atas
Mengepal / menggenggam
gerakan tangan di udara saat
bicara
tangan Membentuk kerucut
tangan terbuka kesamping
tangan memutar membentuk
angka atau suatu bentuk
memainkan Jari mengetukngetuk
menggaruk kepala
membenarkan microphone
tangan ke belakang
Kombinasi gerakan tangan dan
tatapan.
Kaki atau tangan bersilang
Tatapan
langsung
banyak
dengan lensa mata membesar
Arah kaki lurus dan Postur
tubuh terbuka
Meletakan tangan di dada.
Memainkan kacamata.
Touching behaviour
Paralanguage
9
Bersalaman, berpelukan
Lambat dan nada akhir turun
Penekanan kata
Nada dan kecepatan meninggi
Makna komunkasi non verbal
Setuju
tidak sabar, ingin menyudahi
pembicaraan.
tidak setuju
jujur terbuka
tegang, tidak nyaman, marah, tegas
menguasai pembicaraan
percaya diri atau yakin.
terbuka akan pengalamanya
Kreativitas
bosan atau ingin bicara.
salah tingkah / malu
ketidak nyamanan, ingin segera
menyudahi pembicaraan
merasa berkuasa
tidak mempunyai keberanian untuk
mengemukakan pendapat
tidak setuju atau penolakan
Keterbukaan
keterbukaan, siap menerima
Gerakan ini menunjukkan sebuah
penerimaan. Biasanya diiringi oleh
bahasa lisan, seperti janji dan
kekaguman.
Gerakan ini menunjukkan seseorang
ingin mengulur-ulur waktu sampai ia
merasa nyaman mengambil keputusan.
menunjukan hubungan kekerabatan
yakin dan menguasai.
otoritatif.
emosi, tegang, atau menyembunyikan
sesuatu.
Allan pease. 2001. Seni membaca Bahasa Tubuh. Jakarta: arcan.
14
Analisis Data
A. Hasil Analisis Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas yang pertama adalah uji reliabilitas data komunikasi non
verbal pada acara debat Capres tanggal 9 Juni 2014 dan tanggal 5 Juli 2014 yang
dilakukan dengan formula Holsti. Setelah itu dilanjutkan dengan uji reliabilitas
dengan menggunakan formula scoot’pi untuk menguatkan.
Uji Reproductibility atau intercoder reliability / antar-coder dengan
menggunakan Formula Holsti mempunyai indeks reliabilitas 0-1, tetapi minimum
angka yang ditoleransi adalah 0,7 jika dibawah 0,7 maka tidak reliabel. Untuk
memperkuat uji reliabilitas maka Coder melakukan uji reliabilitas yang kedua
dengan menggunakan Formula Scoot’s/Scoot’s Pi. Pada Formula Scoot’s pi
indeks reliabilitas bergerak dari 0-1.
Menurut Lasswell: “nilai nilai yang menujukan 70% sampai 80%
kesesuaian antara atau kalangan pemberi koding independen, dapat diterima
sebagai kepercayaan yang mencukupi”. 10
Hasil dari perhitungan dengan menggunakan formula holsti pada acara
debat capres cawapres tanggal 9 Juni 2014 adalah benar benar reliable. Karena
hasil perhitungan melebihi batas minimum 0,7 atau 70% yaitu 0,98 atau 98%.
Hasil tersebut masih di uji lagi dengan menggunakan rumus formula scott untuk
mendapatkan persetujuan intercoder. Dengan menggunakan rumus formula scottpi
didapatkan hasil reliabilitas antar coder adalah 0,318. Angka realibilias bergerak
dari 0 hingga 1. Maka, semakin besar angka, semakin besar pula reliabilitasnya.
0,318 menunjukan bahwa data adalah reliabel. Hasil tersebut bermakna bahwa
persetujuan intercoder dapat diterima sebagai kepercayaan yang mencukupi.
Begitu pula degan acara debat capres cawapres pada tanggal 5 Juli 2014
ditemukan hasil yang sama sama reliable yaitu dengan angka 0,99. Dinyatakan
reliable karena lebih dari 0,7 atau 70%. Hasil tersebut masih di uji lagi dengan
menggunakan rumus formula scott untuk mendapatkan persetujuan intercoder.
Dan didapatkan hasil reliabilitas antar coder adalah 0,302. Angka yang diperoleh
10
Don michael flournoy & akhmad syah naina. 1898. analisa isis surat kabar indonesia .
yogyakarta gajah mada university press. Hal: 81
15
dari hasil perhitungan menunjukan bahwa data adalah reliabel. Hasil tersebut
bermakna bahwa persetujuan intercoder dapat diterima sebagai kepercayaan yang
mencukupi.
B. Hasil Analisis Makna Komunikasi non verbal Calon Presiden dan Calon
wakil presiden dalam tayangan Debat Capres Cawapres pada pemilu 2014
1. Prabowo Subianto
a. Ketegasan dan ke Ambisiusan Prabowo Subianto
Karena terbiasa hidup dalam kemiliteran, mungkin hal tersebut yang
menyebabkan pabowo menjadi pribadi yang tegas, berani, dan ambisius.
Pribadi yang tegas sangat melekat pada sosok prabowo subianto, bahkan
karakter tegas juga tampak pada saat ia berpidato. Prabowo subianto lebih sering
mengepalkan tangan diudara saat berbicara. Dalam buku Seni bahasa tubuh karya
Allan pease menggenggam / mengepalkan tangan diudara bermakna ketegasan.
Cara
berpidato
prabowo
cenderung
selalu
mengutarakan
visi
misi kenegarawan seperti kalau kita menyaksikan pidatonya seorang pahlawan.
Prabowo cara bicaranya berapi-api, seperti hal nya yang banyak peneliti temukan
pada tayangan debat capres dan cawapres, prabowo sering menggunakan nada dan
kecepatan
meninggi
saat
berbicara.
Ia
juga
sering
melakukan
penekanan/penegasan kata. Bahkan dalam pidato yang pertama pada acara debat
capres cawapres tanggal 9 juni 2014 dengan tema Demokrasi, pemerintahan yang
bersih dan kepastian hukum prabowo tidak pernah sama sekali berbicara dengan
nada lambat dengan nada akhir yang menurun.
Berbicara dengan nada Lambat dan nada akhir turun menunjukan bahwa
orang tersebut yakin dengan apa yang ia bicarakan dan menguasai materi
pembicaraan. Sedangkan dengan Nada dan kecepatan meninggi bermakna emosi,
tegang,
atau menyembunyikan
sesuatu.11
menyembunyikan
sesuatu
yang
dimaksud Prabowo dengan ketegasan secra fisik dan sikap, bisa saja hanya
ketegasan sebagai pencitraan / realitas rekaan, belum tentu kenyataan.
11
Barbara, allan pease. 2001. Seni membaca bahasa tubuh. Jakarta: Arcan
16
2. Hatta Rajasa
a. Hatta Rajasa yang tenang dan cerdas
Hatta Rajasa adalah sosok yang cukup tenang dan santai. Tetapi dibalik
ketenangan nya itu Hatta Rajasa juga dikenal sebagai orang yang sangat disiplin.
Hatta Rajasa dikenal sebagai pribadi yang sangat disiplin baik soal waktu,
peraturan, ataupun hal lainya. Nada bicara dan intonasi Hatta Rajasa cenderung
lambat dan perlahan. Seperti yang tampak pada acara debat capres cawapres,
kandidat cawapres pasangan dari capres prabowo subianto ini selalu tampak
berhati hati dalam menyusun kalimat yang akan diucapkan nya. Dialeknya tampak
tenang, dan dengan nada akhir yang menurun. Sangat jarang sekali berbicara
dengan kecepatan meningkat dan nada tinggi. Namun di setiap ucapanya hatta
rajasa selalu tampak yakin, dan percaya diri.
Hatta rajasa lebih terkesan tenang dan santai akan tetapi cerdas dan
menguasai pembicaraan. Menurut Allan pease bicara dengan tenang, Lambat dan
nada akhir turun memiliki makna bahwa sang komunikator yakin dan menguasai
apa yang ia bicarakan. Komunikasi non verbal hatta rajasa pada tayangan debat
capres cawapres yang menonjol lainya adalah hatta rajasa sering melakukan
gerakan 1 tangan yang berbarengan saat berbicara. Hatta rajasa memiliki
intensitas yang lebih tinggi dibanding kandidat lainya. Menurut Allan Pease
dalam buku bahasa tubuh nya, gerakan 1 tangan di udara saat berbicara bermakna
bahwa orang tersebut sangat menguasai pembicaraan nya. Jadi, hatta rajasa
menguasai dialek / topik pidato yang ia sampaikan kepada masyarakat.
3. Joko Widodo
.a. Joko widodo Yang penuh kreatifitas dan inovasi
Data yang terkumpul menunjukan bahwa Jokowi mempunyai tingkat
kreatifitas yang lebih tinggi dibanding kandidat yang lain nya. Cara jokowi
memutuskan sesuatu dan mengambil tindakan untuk memecahkan suatu masalah
selalu penuh dengan ide ide / gagasan yang baru. Jokowi selalu mencoba untuk
memecahkan masalah dengan inovasi yang baru yang belum pernah ada
sebelumnya. Seperti hal nya dalam debat capres cawapres jokowi menjawab
permasalahan tentang prosedural kebijakan peraturan yang prosesnya lama, maka
17
ia ingin mengubah itu semua dengan memanfaatkan tekhnologi yang ada
sekarang. Seperti membuat E -budgeting, E-ticketing, dll.
Allan Pease mengungkapkan gerakan tangan memutar membentuk angka
atau menggambarkan sesuatu merupakan suatu ekpresi yang mengandung makna
ke kreativitasan. Sedangkan jari jari tangan membentuk kerucut / mengerucut
bermakna bahwa sang komunikator yakin dan penuh percaya diri. 12
Jokowi sendiri memang selalu tampak yakin dan percaya diri saat
berpidato. Permasalahan yang ada selalu ia jawab dengan tenang, penuh solusi
dan ide baru untuk memecahkan masalah yang disampaikan dengan yakin dan
percaya diri. Gaya kepemimpinan Jokowi yang seperti itu dikenal dengan gaya
kepemimpinan yang pragmatis dan membumi. Pemimpin pragmatis selalu bekerja
dan bertindak dengan memilih cara yang paling efektif, serta yang paling mudah
untuk memenuhi tujuan dan target akhir. Pemimpin pragmatis tidak suka ambisi
dan obsesinya terganjal oleh sikap idealis. Karakter kepemimpinan pragmatis
benar-benar tergantung kepada situasi, kondisi, peluang, risiko, dan intuisi;
kemudian semuanya itu, diperkuat oleh nilai-nilai atau prinsip-prinsip universal
atau nilai-nilai etika yang sifatnya umum.
4. Jusuf Kalla
a. Jusuf Kalla sosok Humoris dan merakyat
JK sapaan akrabnya, dalam gayanya berbicara didepan publik dinilai
sebagai sosok yang tenang dan santai. Namun tidak jarang pula nada bicara beliau
juga cepat dan meninggi karena terlalu bersemangat. JK sangat terbuka dengan
pengalaman pengalaman, serta cukup kreatif dalam memecahkan masalah dan
mengambil keputusan sesuai dengan pengalaman – pengalaman yang telah ia
dapatkan.
Menurut Allan pease dalam bukunya telapak tangan sering membuka
keatas saat berbicara / berpidato, hal tersebut menunjukan memiliki kepribadian
yang sangat terbuka dengan pengalaman yang dimilikinya 13.
12
Allan pease. 1996. Bahasa tubuh. Jakarta: arcan. Hal: 21
Allan pease. 1996. Bahasa tubuh. Jakarta: arcan. Hal: 24
13
18
Berdasarkan hasil analisa, JK memiliki aspek dimensi terpenting yakni
Integritas, Visi dan Gagasan, Leadership dan Keberanian Mengambil Keputusan,
Kompetensi dan Kapabilitas, Pengalaman dan Prestasi Kepemimpinan, serta
Kemampuan Memimpin Pemerintahan dan Negara. Karena pengalaman nya yang
cukup lama dalam dunia politik serta pengalaman JK sebagai wakil presiden, hal
tersebut membuatnya memiliki kompetensi yang cukup.
Kesimpulan
1. Dalam tayangan acara debat capres dan cawapres ditemukan beberapa
bentuk komunkasi non verbal yang dilakukan dengan intensitas sering
/ secara berulang ulang dengan frekwensi komunikasi non verbal
tyang tinggi oleh masing masing kandidat yang berbeda antara satu
dengan yang lainya.
2. Terdapat makna dalam komunikasi non verbal yang dilakukan oleh
masing masing kandidat capres dan cawapres. komunikasi non verbal
tersebut mengandung makna yang berbeda beda antara satu dengan
yang lainya. Makna yang terkandung dinilai mampu menggambarkan
sikap / kepribadian masing masing kandidat pada saat itu. Makna
komunikasi non verbal yng mendominasi dari masing masing kandidat
antara lain adalah otoritatif, percaya diri dan menguasai pembicaraan,
Kreativitas, dan keterbukaan terhadap pengalaman.
Saran
1. Saran untuk acara debat capres yang akan mendatang dalam
memberikan pertanyaan kepada kandidat sebaiknya disertakan /
ditampilkan tulisan pertanyaan di layar studio agar moderator tidak
selalu mengulang pertanyaan yang sama untuk kandidat yang lain, dan
agar penonton juga bisa lebih mudah memahami isi dari pertanyaan
yang diberikan.
2. Dalam acara debat capres sebaiknya setelah para kandidat menjawab
pertanyaan yang diberikan oleh moderator, ditampilkan kesimpulan
singkat dari jawaban masing masing kandidat tersebut. Sehingga
penonton dapat memahami pola pikir dan cara kepemimpinn masing
19
masing kandidat, serta dapat dengan mudah membandingkan isi
jawaban dari masing masing kandidat.
Daftar pustaka
Badjuri, Adi. (2010). Jurnalistik Televisi. Yogyakarta: Graha Ilmu
Pease, Allan. (1996). Bahasa tubuh. Jakarta: Arcan
Barbara, Allan Pease. (2001). Seni membaca bahasa tubuh. Jakarta: Arcan
Mulyana, Dedi. (2005). ilmu Komunikasi Suatu Pengantar. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Michael, Don. (1898). analisa isis surat kabar indonesia. Yogyakarta: Gajah
Mada University Press.
Effendy, Onong Uchjana. (2000). Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi. Bandung:
PT. Citra Aditya Bakti
Eriyanto. (2001). analisis isi (pengantar metodologi untuk penelitian dan ilmu
sosial lainya). Jakarta: Prenada media group.
Fiske, Jhon. (2004). cultural and communication studies: sebuah pengantar
paling komprehensif. Jogjakarta: jalasutra).
Rahmat, Jalaludin. (1994). Psikologi komunikasi. Bandung: PT. Remaja Rosda
karya.
Dikutip dari http://www.pemilu.tempo.co/debatcapres. Diakses pada tanggal
26/06/2014 jam 12.10 Wib
Dikutip dari http://www.kompas.com/debatcaprescawapres, Diakses pada tanggal
23/05/2014 jam 10.15
20
Download