BAB I PENGERTIAN DAN SEJARAH PERTUMBUHAN

advertisement
BAB I
PENGERTIAN DAN SEJARAH PERTUMBUHAN ILMU KOMUNIKASI
A. PENDAHULUAN
Dalam Bab I ini akan dibahas pengertian komunikasi, sejarah pertumbuhan
ilmunya serta komunikasi sebagai suatu proses.
Dengan mempelajari Bab I ini maka mahasiswa dapat mengetahui dan
memahami tentang komunikasi baik sebagai disiplin ilmu maupun sebagai suatu
proses serta sebagai dasar untuk mempelajari pokok-pokok bahasan pada babbab berikutnya.
Setelah mengikuti dan mempelajari bab I ini mahasiswa dapat menjelaskan
definisi komunikasi dan berbagal perspektif, sejarah pertumbuhan ilmu komunikasi
serta komunikasi sebagai suatu proses yang dinamik, interaktif, irreversible dan
yang berlangsung dalam berbagal konteks yang ada.
B. PENYAJIAN
1. Definisi Komunikasi
Mengawali mempelajari ilmu komunikasi maka perlu diketahui terlebih dahulu
definisi komunikasi. Sampal tahun 1980an saja, sudah ada Iebih dan 150
definisi komunikasi yang beragam. Dan sekian banyak definisi tersebut,
menurut Dance dalam Littlejohn (1983) ada 15 aspek komunikasi yang
terdapat pada berbagai definisi. Oleh Robby I. Chandra kemudian digolonggolongkan sebagai berikut:
a.
Definisi-definisi komunikasi yang berdasarkan perspektif yang bersifat
behavioristik. Perspektif ini datang dari ilmu jiwa perilaku yang menekankan
hubungan antara rangsangan yang dibuat seseorang dengan respons dan
orang lain terhadapnya. Dengan demikian perhatian dalam meneliti
komunikasi ditujukan kepada pengaruh pesan terhadap penerima pesan.
b.
Definisi-definisi komunikasi yang berdasarkan pada teori transmisi.
Menurut teori ini komunikasi terutama merupakan transfer informasi dari
suatu pihak yang berperan sebagai pengirim pesan kepada pihak lain yang
berperan sebagai penerima pesan. Karena itu, untuk meneliti komunikasi,
hal yang perlu diamati ialah peranan media, waktu, sekuens dan beritanya.
c.
Definisi-definisi yang berdasarkan perspektif yang menekankan interaksi.
Perspektif ini menyadari bahwa seorang pengirim dan seorang penerima
pesan saling berespons. Karenanya, diusulkan agar efek timbal balik dan
umpan balik merupakan perhatian utama bagi orang yang meneliti
komunikasi.
d.
Definisi yang menekankan transaksi. Pada definsi serupa ini, komunikasi
dilihat sebagai pengalaman yang pesertanya ambil bagian dengan aktif.
Karena itu, tekanan penelitian diletakkan kepada pemahaman akan
konteks, proses dan fungsi komunikasi yang terjadi.
Dari penggolongan di atas, berikut ini beberapa definisi yang dapat
menggambarkan berbagai perspektif komunikasi yang ada.
a. Definisi-definisi yang menekankan pada aspek proses antara lain:
-
Definisi Everett M. Rogers
Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dan sumben
kepada penerima, dengan maksud untuk mengubah tingkah laku
mereka. (Congara, 1998: 18)
-
Menurut J Carrol & Henry L Tosi
Komunikasi adalah proses memindahkan informasi dan pengertian dan
orang yang satu ke orang yang lain. (1977: 239)
b. Definisi komunikasi yang menekankan aspek behavioristik
-
Menurut Carl I. Hoviand
Komunikasi adalah proses dimana individu (komunikator) mengoperkan
rangsangan (biasanya berupa simbol-simbol verbal) untuk mengubah
tingkah laku individu-individu lain (komunikan). (dalam Onong U.
Efendy, 1990: 10)
-
Menurut R.A. Sharma (1982: 240)
Komunikasi adalah proses yang didalamnya suatu gagasan dipindah
dan sumber kepada penerima dengan maksud merubah perilaku
penerima.
c. Definisi komunikasi yang menekankan aspek transmisi informasi.
-
Menurut Berelon dan Gary A. Stainer
Komunikasi adalah transmisi informasi, gagasan, emosi, ketrampilan
dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-simbol, kata-kata,
gambar, figur, grafik, dan sebagainya. (Thomas M. Scheidel, 1976: 5).
-
Menurut Joseph L. Massie & John Douglas (1977: 347) Communication
can be defined as the process of transmitting the ideas and images of
one person to another person.
d. Definisi komunikasi yang menekankan aspek interaksi
-
Menurut Lawrence Kincoid dan Wilbur Schramm
Komunikasi adalah proses saling membagi dan menggunakan informasi
secara bersama dan bertahan antara peserta dalam proses komunikasi.
(Anwar Arifin, 1998: )
-
Menurut Djajusman, 1985
Komunikasi adalah interaksi sosial melalui pesan.
e. Definisi komunikasi yang menekankan aspek transaksi
-
Menurut william I Gorden (1978: 28)
Komunikasi secara ringkas dapat didefinisikan sebagai suatu transaksi
dinamis yang melibatkan gagasan dan perasaan.
-
Menurut Myers & Myers (dalam Ruslan, Rosady, 1999: 80)
Komunikasi adalah memungkinkan seseorang mengkoordinasikan
suatu kegiatan kepada orang lain untuk mencapai tujuan bersama,
tetapi komunikasi tidak hanya sekedar penyampaian informasi/pesan
dan transfer makna saja. Artinya, komunikasi mengandung arti suatu
proses transaksional, yaitu berkaitan erat dimana orang berkomunikasi
dengan pihak lainnya dalam upaya mempertahankan suatu simbol dan
membentuk serta mengembangkan harapan-harapannya.
Disamping definisi-deflnisi komunikasi yang menekankan pada aspek-
aspek di atas, masih banyak deflnisi komunikasi yang lain, yang menekankan
pada aspek stimulus, pengurangan ketidakpastian, pemahaman, kuasa, kaitan
dan lain-lain.
Membahas tentang pengertian komunikasi, menurut Onong U. Effendy
dapat ditinjau dari 2 sudut pandang, yaitu komunikasi dalam pengertian secara
umum dan pengertian secara paradigmatis. (1986: 3 - 4).
Pengertian komunikasi secara umum dapat dilihat dari dua segi, yaitu
pengertian secara etimologis dan pengertian secara terminologis. Secara
etimologis, komunikasi berasal dari bahasa Latin communicatio, dengan asal
kata communis, yang berarti “sama’’ dalam arti sama makna di antara pihakpihak yang berkomunikasi.
Sedangkan pengertian komunikasi secara terminologi adalah proses
penyampaian pesan/informasi dari seseorang kepada orang/pihak lain.
Dengan demikian maka pengertian komunikasi secara terminologis
menekankan pada proses penyampaian pesan antar manusia, baik secara
langsung maupun dengan menggunakan media. Oleh karena itu, proses
penyamapaian informasi/pesan di luar “antar manusia” bukan menjadi bahan
kajian ilmu komunikasi.
Pengertian komunikasi secara paradigmatis, merupakan suatu proses
penyampaian pesan/pernyataan oleh seseorang kepada orang lain dengan
tujuan tertentu. Dengan demikian kegiatan komunikasi tersebut bersifat
intensional, mengandung tujuan tertentu. Oleh karena itu, dalam kegiatan
komunikasi tersebut harus dilakukan dengan perencanaan tertentu.
Adapun tujuan aktifitas komunikasi itu dapat berupa penyampaian
informasi, merubah sikap, merubah pendapat, merubah perilaku dan
mempengaruhi orang lain. Yang dipelajari dan diteliti oleh ilmu komunikasi
adalah komunikasi secara paradigmatis.
2. Sejarah Komunikasi
Berbicara dan membahas tentang sejarah komunikasi maka banyak
pakar yang mengatakan komunikasi antar manusia itu hampir sama tuanya
dengan peradaban manusia. Namun demikian ada beberapa hal yang perlu
dicatat, antara lain komunikasi sudah dilakukan oleh nenek moyang kita lebih
dan 500.000 tahun yang lalu dan merupakan hasil belajar manusia. Adapun
bahasa lisan sudah dimulai jauh sebelum komunikasi tertulis (Neanderthold)
yang hidup sekitar 60.000 tahun yang lalu.
Kemampuan manusia purba dalam komunikasi lisan ini diperkuat
dengan bukti-bukti yang ada, antara lain dan Hoid yaitu tulang berbentuk U
yang menyangga Iidah dan otot-ototnya yang dapat menjelaskan kemampuan
komunikasi lisan dari Neandenthold, disamping dari ukuran otak mereka, selain
dari perkiraan yang didasarkan pada kemungkinan sosialisasi mereka, seperti
kemampuan mereka untuk bekerja sama dalam usaha komunalnya. Namun
demikian komunikasi lisan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk
berkembang. Bahkan belum ada kesepakatan dan para ahIi apakah bahasa
lisan dikembangkan diberbagai tempat di dunia, atau hanya berkembang di
suatu tempat saja.
Ada bukti-bukti paling awal dari fasilitas komunikasi nenek moyang
manusia ditemukan berupa goresan dan sketsa-sketsa yang ada di gua-gua di
Perancis Selatan, Spanyol dan Afrika Utara yang dibuat kira-kira pada 35.000
tahun SM. Berdasarkan analisis para ahli, sketsa dan lukisan-lukisan tersebut
digunakan dan berhubungan dengan ritual dan religius yaitu untuk memohon
perlindungan dan pertolongan dan para dewa.
Perkembangan berikutnya yang penting untuk dicatat adalah sekitar
3000 tahun SM di Sumenia dan Mesopotamia ditemukan sistem tulisan yang
diterakan pada tanah hat yang merupakan bentuk-bentuk “tersimpan”. Para
arkeolog juga menemukan semacam buletin pertanian yang ada sekitar tahun
1800 SM di Irak.
Pada Romawi Kuno, pihak kerjaan menggunakan cara penyebarluasan
informasi dengan menggunakan “papan pengumuman” di tempat-tempat
dimana biasanya banyak rakyat berkumpul, sepenti di alun-alun kota atau di
tanah lapang, yang disebut “Acta Diurna”. Acta Diurna ini yang dianggap
sebagai embrio surat kabar modern. Adapun secara etimologis akta berati
catatan dan diurna berarti harian, sehingga artinya catatan kejadian sehari-hari.
Dari sini dikenal istilah Diurnarii, yang kemudian hari dikenal menjadi Jurnalis.
Dalam beberapa budaya, “ingatan” sangat dihargai dan manusia dapat
mengulang kata demi kata secara tepat ajaran-ajaran agama atau cerita-cerita
penting yang berhubungan dengan perjuangan atau kepahlawanannya. AlQur’an misalnya dalam budaya Islam dihafal tanpa ada kesalahan oleh orangorang tertentu dari berbagai penjuru dunia. Demikian juga di Tibet, Dalai Lama
dalam tradisi asal menginterpretasikan dan mengajarkan ajaran Budha dari
satu generasi ke generasi selama 25 abad tanpa henti. Tradisi yang sama
dilakukan suku Indian di USA dan Kanada yang melantunkan “The Code of
Handsome Lake” suatu seneca pujian yang menceritakan kejayaan suku
Iraquis sebelum mereka ditaklukkan orang kulit putih. Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa komunikasi tumbuh dan berkembang di berbagai tempat
penjuru dunia dan merupakan suatu kegiatan utama dalam kegiatan manusia
berinteraksi dan bermasyarakat.
3. Komunikasi sebagai suatu disiplin ilmu
Secara ringkas ilmu adalah pengetahuan yang telah diverifikasikan
kebenarannya.
Ada beberapa prinsip yang harus dipenuhi oleh suatu ilmu antara lain:
a. harus mempunyai obyek studi
b. harus mempunyai sistimatika, dimana harus mempunyai tolok ukur
c. dan kriteria yang jelas dalam membuat teori mengenai hal-hal yang
d. menjadi “focus of interestnya”
e. harus mempunyai metoda
f.
bersifat universal
g. sudah menjadi suatu realitas
h. terikat pada disiplin logika,
i.
dan lain-lain.
Dengan demikian komunikasi sebagai suatu disiplin ilmu juga harus
memenuhi syarat-syarat di atas. Adapun definisi Attemp to formulate in
Rigorous fashiorable principles by which information in transmitted and opinion
and attitudes are formed” (suatu sistematika yang mencoba untuk merumuskan
secara tegas asas penyampaian informasi dan pembentukan pendapat dan
sikap)
Dari definisi tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa untuk
mempelajari ilmu komunikasi perlu meliputi 2 aspek yaitu:
Pengertian luas dalam arti mekanikal.
Pengertian tentang bagaimana menggunakan media komunikasi dalam
kehidupan sehari-hari untuk memberi pengertian, mempengaruhi, meyakinkan
atau untuk menghibur orang lain. Sementara itu berdasarkan formula Lasswell
dapat dikatakan bidang-bidang studi komunikasi antara lain:
•
control studies
•
Content analysis
•
Media analysis
•
Audience analysis
•
Effects analysis
4. Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Komunikasi
Membahas tentang sejarah pertumbuhan dan perkembangan ilmu
komunikasi dapat ditinjau dan 3 alur:
a. Retorika
b. Jurnalistik
c. Publisistik
Secara
berurutan
akan
perkembangan ilmu komunikasi.
a. Retorika dan komunikasi lisan
diuraikan
sejarah
pertumbuhan
dan
Menurut Ruben (1992: ) Aristoteles dan Plato merupakan dua figur
sentral pada awal studi kornunikasi. Keduanya rnenganggap kornunikasi
sebagai suatu seni yang dipraktekkan, dan pada sisi lain sebagai suatu
bidang studi.
Disini komunikasi dilihat melalui partisipasi warga negara didalam
berdemokrasi, dirnana seorang orator menyusun suatu argumen yang
dipresentasikan dalam suatu pidato kepada khalayak.
Dengan demikian, komunikasi merupakan suatu aktifitas verbal
dimana
seorang
orator
mencoba
mempengaruhi
khalayak
melalui
kemampuan mengkonstruksi argumen dan menyampaikan suatu pidato.
Filosof lain, Cicero (106-43 SM) dan Quintilian (35 SM — 95 SM)
memberikan kontribusi untuk berkembangnya teori komunikasi. Disini
komunikasi dilihat sebagai suatu masalah akademik dan praktikal yang
begitu komprehensif, termasuk semua yang sekarang meliputi domaindomain ilmu sosial. Sementara Quintilian yang dikenal sebagai seorang
pendidik, pada masa hidupnya terkenal dengan tulisan-tulisan yang
berhubungan dengan komunikasi.
Dengan memudarnya tradisi oral dan demokrasi, maka aktifitas
retorika dan komunikasi lisan mulai menyusut.
Pada akhir abad 14, banyak teori-teori yang dikembangkan dalam
retorika kemudian dipelajari dalam religi, seperti yang dilakukan oleh
Augustial. Ia menulis interpretasi alkitab, yang merupakan penggabungan
aspek-aspek praktis dan teoritis dari studi komunikasi.
Pada akhir abad 18, fokus studi komunikasi pada argumen-argumen
tertulis dan literatur-literatur, disamping banyak yang tertarik mempelajari
gaya berbicara, artikulasi dan gesture. Pada akhir abad 19, sebagian ollege
dan universitas di Amerika Serikat memasukkan retorika dan komunikasi
lisan kedalam Departemen Bahasa.
Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Komunikasi dan Alur Jurnalistik
Praktek jurnalistik diyakini pada pakar dimulai di Mesir sekitar 3700
tahun yang lalu. Kemudian pada masa Romawi Kuno dikenal embrio
suratkabar “Acta Diurna” dan “Acta Senatus”. Dari kata “Diurna” ini
kemudian dikenal menjadi istilah jurnalis.
Surat kabar pada awalnya merupakan penggabungan dari Newsletter,
pamflet, balada, pengumuman dan traktat politik yang memberitakan dan
menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi di masyarakat.
Awal suratkabar modern di Amerika Serikat terbit di Boston pada 1690
dengan nama “Publick Occurences Both Foregn and Domestick”.
Menurut Weaver and Gray (1980) sejarah pertumbuhan jurnalistik
terbagi atas 4 periode:
1) Masa Jurnalistik sebagai Seni (1700-1870)
Pada masa ini kegiatan jurnalistik yang dilakukan Iebih diwarnai
oleh kegiatan magang yang dilakukan oleh para peminat bidang itu.
Untuk menyempurnakan keahlian menulis di suratkabar, maka mereka
menempuh pendidikan di “Liberal Arts” di beberapa universitas swasta.
Dengan demikian jurnalistik pada masa itu dikenal sebagai studi tentang
suratkabar.
2) Masa Jurnalistik sebagai Ilmu Sosial (1870-1930)
Pada masa ini jurnalistik mulai diajarkan secara formal di
universitas-universitas, walaupun belum menjadi suatu disiplin ilmu
secara khusus.
Adalah Robert Lee yang menjadi penintis pendidikan jurnalistik di
Washington College. Oleh Pulitzer, maka profesi jurnalis dan kegiatan
jurnalistik berkembang pesat di Amerika Serikat.
Jika pada awalnya jurnalistik menjadi bagian dari Departemen
Bahasa, maka pada akhir periode ini sudah berkembang sebagai
disiplin tersendiri.
3) Masa Jurnalistik menjadi Komunikasi Massa (1930-1950)
Masa ini diawali dengan begitu besarnya efek propaganda Jerman
yang menarik perhatian dunia, yang menggunakan media massa
(suratkabar, radio, film, selebaran) untuk propaganda perang dan
menjatuhkan mental lawan.
Banyak penelitian-penelitian dilakukan untuk mengetahui tentang
pengaruh media yang dilakukan oleh para pakar, baik dibidang
psikologi, sosiologi, komunikasi massa dan lain-lain.
Kemudian istilah jurnalistik tersisih dan lebih popular dengan istilah
komunikasi massa.
4) Masa Komunikasi Massa menjadi Ilmu Komunikasi (1950-sekarang)
Diawali oleh Wilbur Schramm yang memberikan sumbangan yang
besar terhadap perkembangan ilmu komunikasi. Schramm pula yang
banyak melakukan penelitian tentang komunikasi lisan, komunikasi
pembangunan dan lain-lain serta mempertemukan jurnalistik dengan
komunikasi lisan.
Sedangkan menurut Ruben (1992) sejarah perkembangan ilmu
komunikasi dan alur jurnalistik terbagi atas beberapa permode, seperti
yang diuraikan berikut ini:
Periode 1900-1940an
Secara formal studi jurnalistik tidak berkembang pesat sampai
tahun 1900an. Universitas Wisconsin pada tahun 1905 mengadakan
kursus jurnalistik yang pertama kali dalam sejarah. Sesudah itu, bukubuku dan topik-topik jurnalistik mulai diterbitkan dan dipublikasikan.
Kondisi pada tahun 1940an memberi dorongan terhadap pandanganpandangan yang luas tentang konsep-konsep jurnalistik.
Perkembangan studi komunikasi pada periode itu tidak terbatas
pada komunikasi lisan dan jurnalistik karena banyak kontribusi dan ahli
filsafat, ahli antroplogi, sosiologi dan psikolog yang memfokuskan pada
komunikasi dan peranannya dalam kehidupan manusia maupun
peranannya pada individu dalam proses sosial. Demikian juga para ahli
bahasa memberi kontribusi pada kemajuan studi komunikasi.
Periode 1940an-1950an
Periode ini disebut perkembangan interdisipliner. Para ahli dari
berbagai ilmu sosial mulai mengembangkan teori komunikasi dan
lingkup bidang komunikasi berkembang secara substansial. Para ahli
psikologi memfokuskan para persuasi, terbentuknya dan berubahnya
sikap dan pengaruhnya pada perilaku. Ahli sosiologi dan politik
mempelajari media massa dalam berbagai aktifitas sosial dan politik.
Para ahli antropologi memfokuskan pada riset-riset tentang
“gesture’’ studi retorika dan komunikasi berkembang termasuk dalam
interpretasi oral, psikologi dan patologi pidato.
Perkembangan jurnalistik dan studi media massa pertumbuhannya
semakin dramatis terutama karena popularitas televisi dan dampak
media massa (suratkabar, majalah, radio, televisi), efek media dan
komunikasi massa. Pada akhir tahun 1950an, sejumlah buku dan
artikel-artikel komunikasi diterbitkan.
Perkembangan ini merupakan tahap-tahap yang mempercepat
perkembangan komunikasi massa.
Periode 1960an dikenal sebagai tahap integrasi
Pada periode ini para ahil mensintesakan perkiraan dari retorika,
komunikasi lisan, jurnalistik dan media massa serta berbagai disiplin
ilmu sosial lainnya, baik itu ahli sosiologi, ahli politik dan ahli
administrasi.
Periode 1970an disebut periode perkembangan dan spesialisasi
Pada periode ini komunikasi interpersonal menjadi suatu bidang
yang semakin popular, demikian juga dengan komunikasi kelompok,
komunikasi organisasi, komunikasi interpersonal dan komunikasi lintas
budaya mulai menjadi bidang studi yang spesifik. Disamping itu,
retorika, public speaking, debat, public relations terus berkembang. Hal
yang sama juga terjadi pada komunikasi lisan dan komunikasi massa.
Ekspansi dan diversiflkasi dari studi komunikasi direfleksikan didalam
kurikulum universitas dan College.
Sejumlah departemen komunikasi dibentuk selama tahun 1970an
dan program-program komunikasi lisan berubah nama menjadi
komunikasi. Demikian juga departemen jurnalistik dirubah menjadi
komunikasi massa atau departemen komunikasi.
Periode tahun 1980-1990an disebut abad informasi
Periode
ini
dikenal
dengan
semakin
besarnya
peranan
komunikasi, informasi dan media dalam kehidupan personal maupun
profesional. Komunikasi dan informasi merupakan esensi dibidang
telekomunikasi, publishing, industry komputer, perbankan, asuransi,
novel dan riset. Abad ini juga menitikberatkan pada meningkatnya
peran-peran media-media baru. Berarti juga pesan dirancang dan
disusun serta dikirimkan dengan lebih mudah dan cepat dari
sebelumnya.
Dari uraian di atas dapat diketahui bagaimana komunikasi sebagai
suatu ilmu sosial dan bagaimana kontribusi dan hubungannya dengan
ilmu-ilmu yang lain seperti sosiologi, psikologi, antropologi, politik,
komputer, teknik, ekonomi dan lain-lain.
Adapun pengertian ilmu komunikasi itu sendiri dikemukakan oleh:
Corl I Hovlard (dalam Efendy, 1990:4)
“a systematic attempt to formulate in rigorous fashion the
principles by which information is transmitted and opinions and attitudes
are formed”.
Sedang Joseph De Vito mendefinisikan ilmu komunikasi:
Communication is the study of the science of communication,
particularly that subsection concerned with communication by and
among humans.
5) Pertumbuhan Ilmu Komunikasi Dan Alur Publisistik
Publisistik berasal dari bahasa Jerman Publizistik, yang bersumber
dari
bahasa
latin:
publicatio,
yang
mengandung
makna
=
mengumumkan.
Adapun pertumbuhan ilmunya dimulai pada tahun 1884 oleh Prof.
Swiss yang mempelajari dan mengembangkan Zeitungkunde tentang
persuratkabaran, Prof. Bucher inilah yang mengajarkan pengetahuan
tentang persuratkabaran di Universitas Bazel. Dari sini Zeitungkunde
berubah menjadi Zeitung Wiseenchaft pada tahun 1927, yang berarti
ilmu tentang persuratkabaran. Kemudian Zeitung Wissenchaft ini
dikembangkan di Jerman, yang dihubungkan dengan politik. Prof.Dr.
Karel D. Ester merupakan orang pertama yang membuat disertasi
tentang persuratkabaran pada tahun 1907.
Pada tahun 1946 Zeitung Wissenchaft dikembangkan oleh Prof.Dr.
Hagemann di Munster dan disebut dengan istilah Publisistik, karena
dengan adanya perkembangan teknologi terutama ditemukannya radio,
film dan lain-lain, maka Zeitung Wissenchaft dianggap tidak memadal
lagi oleh karena itu Publisistik ini dimensinya lebih luas dari Zeitung
Wissenchaft, karena mencakup tidak hanya suratkabar tetapi juga
media massa yang lain, termasuk pembentukan opini dan pengaruh
penyebaran suatu pesan.
Sedangkan definisi publisistik sendiri menurut Walter Hagennan:
Publisistik adalah suatu ajaran tentang pernyataan umum mengenai isi
kesadaran yang aktual.
Sementara Adinegoro mendefinisikan : Publisistik adalah ilmu
pernyataan antar manusia yang umum lagi aktual dan bertugas
menyelidiki secara ilmiah pengaruh-pengaruh dan pernyataan itu dari
mula ditumbuhkan orang, sampai tersiar dalam pers, radio dan
sebagainya serta akibatnya kepada penenima pernyataan-pernyataan
itu. (Astrid S Susanto, 1974: 8)
Dengan demikian dapat disimpulkan objek studi publisistik adalah
pernyataan umum dan manusia dalam masyarakat.
6) Komunikasi Sebagai Suatu Proses
Banyak sekali definisi komunikasi sebagai suatu proses. Namun
perlu diketahui apa karakteristik komunikasi sebagai suatu proses,
antara lain:
•
Komunikasi itu dinamik
Yaitu suatu aktifItas yang terus berlangsung dan selalu berubah.
•
Komunikasi itu interaktif
Yaitu terjadi diantara dua pihak (sumber dan penerima), dimana
terjadi timbal balik yang memungkinkan setiap pihak untuk
mempengaruhi pihak lain.
•
Komunikasi itu tidak bisa dibalik (irreversible)
Disini berarti sekali penyampai pesan (sumber) mengirimkan pesan
dan diterima oleh penerima yang kemudian mendecode pesan,
maka penerima tidak dapat lagi menarik kembali pesan tersebut dan
sama sekali meniadakan pengaruhnya.
•
Komunikasi berlangsung dalam konteks fisik dan konteks sosial
Dalam arti pada saat terjadi interaksi antara penyampai dan
penerima pesan, interaksi itu tidak terisolasi, melainkan ada dalam
Iingkungan fisik tertentu dan dinamika sosial tertentu.
Dengan demikian, komunikasi sebagai suatu proses merupakan
suatu kegiatan yang berjalan secara terus menerus, dinamis, selalu
bergerak dan berubah, dimana komponen-komponen yang ada saling
berinteraksi
sehingga
keberadaan
komponen
mempengaruhi komponen yang lain dan sebaliknya.
yang
satu
akan
Sebagai contoh:
Seorang sumber informasi dalam menyampaikan pesan akan
dipengaruhi dan mempertimbangkan media yang akan dipakai,
sehingga cara penyampaian pesan akan disesuaikan dengan media
yang dipakai dan siapa yang menjadi sasaran (komunikan)nya. Tanpa
mempertimbangkan karakteristik dan penerima pesan, sebuah sumber
informasi tidak akan dapat menyesuaikan pesan dengan kebutuhan
penerimanya. Dengan demikian tujuan komunikasinya tidak akan
tercapai.
Menurut Baron, proses decoding, proses interpreting, umpan bahk
dan sebagainya, variabel-variabel mikro proses ini bergabung untuk
menghasilkan variabel makro-proses, yaitu komunikasi.
Contoh:
Proses encoding:
Yaitu proses mengubah ide, perasaan, yang akan disampaikan
kepada orang lain kedalam bentuk tanda-tanda/informasi atau isyarat
yang dapat dikirimkan kepada komunikan.
Proses encoding ini adalah proses yang kompleks karena ide atau
gambaran yang ada didalam sistem syaraf tidak dapat dioperkan secara
langsung, tanpa terlebih dahulu diubah dalam bentuk tanda-tanda.
LATIHAN
1.
Coba
Saudara
perbandingkan
antara
definisi-definisi
komunikasi
yang
menekankan pada perspektif behavioristik, transmisi, interaksi dan transaksi.
Saudara jelaskan persamaan dan perbedaannya, serta beri contoh masingmasing!
2.
Mempelajari pertumbuhan dan perkembangan ilmu komunikasi dari tiga alur ada
garis merahnya. Jelaskan perbedaan antara retorika, jurnalistik dan publisistik
ditinjau dari pertumbuhan ilmunya!
3.
Menyimak formula Lasswell maka terdapat 5 bidang studi komunikasi. Coba Sdr.
Cari contoh masing-masing bidang studi komunikasi yang ada serta kemukakan
tujuan dari masing-masing bidang studi tersebut!
4.
Mengamati pertumbuhan komunikasi yang dimulai dari komunikasi oral baru
kemudian berkembang menjadi komunikasi tercetak, maka di berbagai budaya
yang ada di Indonesia dapat ditemukan fenomena-fenomena tersebut.Coba Sdr
berikan contoh-contoh budaya lisan dan komunikasi cetak yang tumbuh dan
berkembang di Indonesia sampai sekarang dan deskripsikan secara jelas dan
lengkap!
5.
Coba Sdr. Amati beberapa proses komunikasi yang ada, jelaskan mengapa dalam
proses komunikasi mempunyai ciri dinamis, interaktif, tidak bisa dibalik dan terjadi
dalam konteks tertentu!
6.
Jelaskan pengertian = retorika, publisistik, jurnalistik dan komunikasi baik secara
etimologis maupun secara terminologis. Jelaskan pula persamaan dan perbedaan
diantara keempatnya!
RANGKUMAN
Dari pokok bahasan di atas dapat disimpulkan bahwa komunikaasi mempunyai
beragam pengertian/definisi yang menekankan pada perspektif yang berbeda. Dengan
demikian sebagai suatu proses, komunikasi antar manusia merupakan proses yang
sangat kompleks karena masing-masing pihak bersifat dinamis. Selain itu komunikasi
juga kegiatan yang interaktif, tidak bisa dibalik dan berlangsung dalam konteks-konteks
tertentu.
Ditinjau dari pertumbuhan ilmunya, maka ilmu komunikasi tumbuh dan
berkembang dari tiga alur, yaitu retorika, jurnalistik dan publisistik. Sebagai ilmu sosial,
komunikasi tidak bisa dilepaskan dari pengaruhnya dan kontribusi ilmu-ilmu yang lain,
seperti sosiologi, psikologi, filsafat, hukum, ekonomi, komputer dan lain-lain. Karena itu
ilmu komunikasi bersifat interdisipliner dan multidisipliner.
C. PENUTUP
TES FORMATIF
Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan memilih jawaban yang ada!
1. Definisi komunikasi dan Lasswell menekankan pada perspektif:
a. Tansmisi
b. Interaksi
c. Behavioristik
2. Definisi yang menekankan pada interaksi ditandai dengan:
a. Ada efek timbal balik
b. Pengaruh pesan
c. Penyampaian pesan
3. Komunikasi bersifat dinamis berarti:
a. konstan
b. tidak bisa dibalik
c. terus menerus
4. Jurnalistik adalah:
a. Pengetahuan tentang persuratkabaran
b. Keahlian tentang persuratkabaran
c. Keahlian dan pengetahuan tentang persuratkabar dan media massa Iainnya.
5. Publisistik mempunyal objek studi:
a. Pesan yang disampaikan
b. Pernyataan umum manusia yang ada di masyarakat dan efek pernyataan.
c. Pengaruh pernyataan
6. Retorika pada masa modern berkembang menjadi:
a. Propaganda
b. Komunikasi hsan
c. Debat
7. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi perkembangan komunikasi
sebagai ilmu adalah:
a. Perang Dunia II
b. Lahirnya media-media baru seperti radio, film, TV
c. Kondisi sosial politik
8. Ilmu komunikasi sebagai ilmu sosial bersifat interdisipliner artinya:
a. Tidak berhubungan dengan ilmu-ilmu lain.
b. Saling berhubungan dan dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lain.
c. Dipengaruhi oleh satu atau dua ilmu lain.
UMPAN BALIK :
Coba Saudara cocokkan jawaban Saudara dengan kunci tes formatif di bawah
ini. Jika Saudara memperoleh nilai 6-8 pada tes formatif, maka Saudara dinyatakan
mampu memahami pokok bahasan ini, sedangkan jika Saudara memperoleh nilai 6-4
maka Saudara dinyatakan cukup, dan jika memperoleh nilai di bawah 3 Saudara
dinyatakan kurang mampu memahami pokok bahasan ini.
KUNCI TES FORMATIF
1.C
2.A
3.C
4.C
5.B
6.B
7.B
8.B
Download