pajak penghasilan

advertisement
PAJAK
PENGHASILAN
DEFINISI
PAJAK YANG DIKENAKAN ATAS PENGHASILAN YANG
DITERIMA OLEH WAJIB PAJAK PRIBADI ATAU BADAN
DASAR HUKUM
Pemungutan pajak penghasilan diatur dengan UU
no 7 tahun 1983 tentang Pajak penghasilan (PPH)
yang dirubah dengan UU no 10 tahun 1994 dan
terakhir mengalami penyesuaian pada tahun
2000.
SUBJEK PAJAK
PENGHASILAN

Orang pribadi

Warisan yang belum terbagi sebagai satu
kesatuan

Badan

Bentuk usaha tetap
SUBJEK PAJAK DIBAGI
MENJADI 2

SUBJEK PAJAK DALAM NEGERI

SUBJEK PAJAK LUAR NEGERI
1. Subjek Pajak Dalam
Negeri, yaitu:
 Orang
pribadi yang bertempat tinggal di
Indonesia atau berada di Indonesia
lebih dari 183 hari dalam jangka waktu
12 bulan, atau orang pribadi yang
dalam satu tahun pajak berada di
Indonesia dan berniat untuk menetap di
Indonesia.
 Badan
yang
didirikan
dan
berkedudukan di Indonesia
 Warisan Yang belum terbagi sebagai
satu kesatuan menggantikan yang
berhak.
2. Subjek Pajak Luar negeri, yaitu:

Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal
di Indonesia atau berada di Indonesia
kurang dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan atau badan yang tidak didirikan dan
berkedudukan
di
Indonesia
tapi
menjalankan usaha di Indonesia melalui
bentuk Usaha Tetap (BUT).

Orang pribadi yang tidak tinggal di
Indonesia Atau berada di Indonesia
kuarang dari 183 hari dalam jangka waktu
12 bulan atau badan yang tidak didirikan
dan berkedudukan di Indonesia tapi
memperoleh penghasiln di Indonesia bukan
dari menjalankan usaha.
TIDAK TERMASUK SUBJEK
PAJAK


Badan perwakilan negara asing
Pejabat perwakilan Negara asing
dan konsulat dari Negara asing
dan
orang-orang
yang
diperbantukan kepada mereka
dengan syarat bukan warga
Negara Indonesia dan tidak
menerima penghasilan lain di luar
jabatannya dan Negara yang
bersangktan
memberlakukan
timbale balik.
Organisasi-organisasi internasional
yang ditetapkan oleh mentri
keuangan dengan syarat ndonesia
menjadi
anggota
organisasi
tersebut.
 Pejabat-pejabat
organisasi
internasional yang ditetapkan oleh
menkeu dengan syarat bukan WNI
dan
tidak
memperoleh
penghasilan
lain
di
luar
jabatannya.

KEWAJIBAN PAJAK SUBJEKTIF
Kewajiban Pajak Subjektif, yaitu saat mulai dan berakhirnya
kewajiban pajak subjektif ditentukan sbb

Bagi orang pribadi yang bertempat tinggal di
Indonesia kewajiban pajak subjektifnya dimulai
pada saat di lahirkan sedangkan orang
pribadi yang berada di indinesia lebih dari 183
hari dalam jangka waktu 12 bulan atau orang
pribadi yang berada di Indonesia dalan satu
tahun pajak dan berniat untuk menetap di
Indonesia maka kewajiban pajak subjektifnya
dimulai pada saat hari pertama ada di
Indonesia atau pada berniat untuk menetap
di Indonesia dan berakhir pada saat
meninggal
dunia
atau
meninggalkan
Indonesia unuk selama-lamanya.

Badan
yang
didirikan
dan
berkedudukan di Indonesia kewajiban
pajak subjektifnya dimulai pada saat
badan
tersebut
didirikan
dan
berkedudukan di Indonesia dan berakhir
pada saat dibubarkan atau tidak
didirikan lagi di Indonesia.

Bagi orang pribadi yang tidak bertempat
tinggal di Indonesia atau berada di
Indonesia kurang dari 183 hari dalam
jangja waktu 12 bulan dan badan yang
tidak didirikan dan tidak berkedudukan di
Indonesia yang menjalankan uasahanya
di Indonesia melalui BUT kewajibannya
dimulai pada saat orang atau badan
tersebut
menjalankan
usaha
dan
melakukan kegiatan melalui BUT dan
berakhir pada saat tidak lagi menjalankan
usaha atau melakukan kegiatan melalui
BUT.


Orang pribadi yang tidak bertempat tinggal
di Indonesia atau berada di Indonesia
kurang dari 183 hari dalam jangka waktu 12
bulan dan badan yang tidak di didirikan
dan berkedudukan di Indonesia tapi
memperoleh penghasilan dari Indonesia
tidak dari menjalankan usaha maka
kewajiban pajak subjektifnya di mulai pada
saat
orang
atau
badan
tersebut
memeproleh penghasilan dan berakhir
pada saat tidak lagi menerima penghasilan.
Warisan yang belum terbagi sebagai satu
kesatuan dimulai pada saat timbulnya
warisan tersebut
yaitu pada saat
meninggalnya pewaris dan berakhir pada
saat warisan tersebut selesai dibagi.
CARA MENGHITUNG
PAJAK
Pajak yang terhutang = Tarif pajak
x Penghasilan kena pajak (PKP)
 Penghasilan kena pajak WP LN =
Penghasilan Bruto
 Penghasilan kena pajak WP DN
ada 2 cara, yaitu:
 Menghitung PPH dengan dasar
pembukuan
 Menghitung PPH dengan dasar
pencatatan

MENGHITUNG PPH DENGAN
DASAR PEMBUKUAN
WP BADAN

PKP = Penghasilan sebagai objek
pajak – Biaya
WP Orang Pribadi

PKP = Penghasilan sebagai objek
pajak – Biaya – PTKP (Penghasilan
Tidak Kena Pajak).
MENGHITUNG PPH DENGAN
DASAR PENCATATAN
Untuk
menentukan
besarnya
penghasilan neto diperlukan norma
perhitungan penghasilan neto yang
diterbitkan oleh Direktorat Jendral
Pajak,
diantaranya
WP
yang
menggunakan norma perhitungan
penghasilan neto adalah sbb

WP Orang pribadi yang:
Peredaran bruto dalam satu tahun
kurang dari Rp 600 juta
 Memberikan pemberitahuan
kepada direktorat Jendral Pajak
dalam jangka waktu 3 bulan
pertama dalam tahun pajak.
 Wajib menyelenggarakan
pencatan.

 WP
wajib
menyelenggarakan
pembukuan dan atau pencatatan
tetapi:
 Tidak
sepenuhnya menyelenggarakan
pembukuan atau pencatatan.
 Tidak
bersedia
memperlihatkan
pembukuan atau pencatatan atau
bukti-bukti pendukung pasa waktu
dilakukan
pemeriksaan
yang
menyebabkan peredaran brutonya
tidak diketahui maka penghasilan
neto ditentukan oleh kep menkeu.
OBJEK PAJAK
Objek pajak diartikan sebagai sasaran
pengenaan pajan dan dasar untuk
menghitung pajak yang terhutang , yang
menjadi
objek
pajak
dari
Pajak
Penghasilan (PPH) adalah PENGHASILAN
yaitu setiap tambahan kemampuan
ekonomi yang diterima atau diperoleh
wajib pajak baik yang diterima di
Indonesia ataupun yang diterima di luar
Indonesia
yang
digunakan
untuk
konsumsi
atau
untuk
menambah
kekayaan
WP
yang
bersangkutan
dengan nama dan dalam bentuk
apapun.
PENGHASILAN
DIKELOMPOKAN KE DALAM

Penghasilan dari pekerjaan
contoh: gaji, upah, honor dsbnya

Penghasilan dari usaha contoh:
laba usaha

Penghasilan dari modal contoh:
bunga, dividen, royalty dan sewa

Penghasilan lain-lain contoh
hadiah, pembebasan hutang dll
PENGHASILAN YANG TERMASUK KE
DALAM OBJEK PAJAK

Penggantian atau imbalan sehubungan
dengan pekerjaan

Hadiah dari undian dan penghargaan

Laba usaha

Keuntungan karena penjualan dan
pengalihan harta

Penerimaan kembali pembayaran pajak
yang telah dibebankan sebagai biaya

Bunga termasuk premium, diskonto, dan
imbalan karena jaminan pengembalian
hutang
Dividen
 Sewa
 Penerimaan atau perolehan berkala
 Royalty
 Keuntungan karena pembebasan
hutang
 Keuntungan selisih kurs mata uang asing
 Selisih lebih karena penilaian aktiva
 premi asuransi
 Iuran yang diterima perkumpulan dari
para anggotanya

PENGHASILAN YANG TIDAK TERMASUK
OBJEK PAJAK, antara lain




Bantuan, sumbangan serta harta
hibahan
Warisan
Harta termasuk setoran tunai
yang diterima oleh badan
Penggantian atau imbalan dari
pekerjaan dalam bentuk natura
atau kenikmatan
Pembayaran dar perusahaan asuransi
 Dividen yang diterima oleh PT
 Iuran yang telah diterima oleh dana
pension
 Bunga obligasi yang diterima oleh
perusahaan reksa danaselama 5 tahun
pertama sejak pendirian
 Penghasilan yang diterimaoleh
perusahaan modal ventura yang
merupakan laba dari perusahaan
pasangannya

PENGURANGAN PENGHASILAN (BIAYA)
Biaya Yang Diperkenankan Bagi WP DN

dan BUT antaralain
Biaya untuk mendapatkan,
menagih, dan memelihara
penghasilan

Penyusutan atas pengeluaran
untuk memeperoleh harta
berwujud dan tak berwujud

Iuran dana pension yang
pendiriannya telah disahkan oleh
Menkeu
Kerugian karena penjualan dan
pengalihan harta yang dimiliki dan
digunakan oleh perusahaan
 Kerugian karena selisih kurs mata
uang asing
 Biaya
penelitian
dan
pengembangan yang dilakukan di
Indonesia
 Biaya
beasiswa, magang dan
pelatihan
 Piutang yang nyata-nyata yang
tidak dapat ditagih

PENGHASILAN TIDAK KENA
PAJAK
Berdasarkan keputusan Menkeu No
162/PMK.Oll/2012 maka besarnya PTKP
yang diberikan kepada setiap WP
adalah sbb:




WP Rp 24.300.000
Status kawin Rp 2.025.000
Tunjangan anak Rp 2.025.000 per anak
max 3 orang anak
WP yang istrinya menerima penghasilan
yang digabung dengan suaminya Rp
24.300.000
TARIF PAJAK UNTUK PPH

Untuk WP Orang Pribadi

5% x sampai Rp 50.000.000,00

15% x Rp 50.000.000,00 sampai Rp 250.000.000,00

25% x Rp 250.000.000,00 sampai Rp500.000.000,00

30% x diatas Rp 500.000.000,00
 Untuk
WP Badan
 Berlaku
tarif pajak tunggal yaitu 25 %
Download