BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Perilaku 1

advertisement
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perilaku
1. Konsep Perilaku
Perilaku manusia merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi
manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan
tindakan. Beberapa ahli membedakan bentuk-bentuk perilaku misalnya Bloom
membedakan antara perilaku kognitif (yang menyangkut kesadaran atau pengetahuan),
afektif (emosi) dan psikomotor (tindakan/gerakan). Ki Hajar Dewantoro menyebutnya
sebagai cipta (peri akal), rasa (peri rasa), dan karsa (peri tindak). Ahli-ahli lain
umumnya menggunakan istilah pengetahuan, sikap dan tindakan yang sering kali
disingkat dengan KAP (Knowladge, Atitude, Practise)(Makhdalena, 2000).
Perilaku merupakan totalitas penghayatan dan aktifitas seseorang yang merupakan
gabungan dari berbagai faktor, baik faktor internal maupun faktor eksternal
(Notoatmodjo, 2003).
Menurut Blum (1974, dalam Wiryo 2001), derajat kesehatan masyarakat dipengaruhi
oleh empat faktor yaitu , lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Dari
keempat faktor tersebut lingkungan merupakan faktor yang paling dominan
mempengaruhi kesehatan masyarakat karena dilingkungannya manusia mengadakan
interaksi dalam proses kehidupannya baik dalam lingkungan fisik, psikologis, sosial
budaya dan ekonomi, dimana kondisi ini sangat dipengaruhi oleh perilaku individu,
keluarga, kelompok maupun masyarakat. Karena perilaku mempunyai pengaruh yang
Universitas Sumatera Utara
sangat besar terhadap derajat kesehatan, maka diperlukan upaya untuk mengurangi dan
menghilangkan perilaku masyarakat yang bertentangan dengan norma hidup sehat.
Skinner (1938) adalah seorang ahi perilaku , mengemukakan bahwa perilaku
merupakan hasil hubungan antara perangsang (stimulus) dan respon, membedakan
adanya dua respon, yaitu: (Notoatmodjo, 2003)
a. Responden response atau reflexive response, adalah respon yang ditimbulkan
oleh ransangan yang disebut elisting stimuli dan menimbulkan respon yang
relatif tetap. Responsen respon ini mencakup juga emosi respon. Emocional
response timbul karena hal yang kurang mengenakkan responden yang berkaitan.
b. Operant response atau instrumental response, adalah respon yang timbul dan
berkembang di ikuti oleh perangsang yang disebut reinvoreing stimuli karena
perangsang tersebut memperkuat respon yang telah dilakukan oleh organisme.
Oleh sebab itu perangsang yang demikian itu mengikuti atau memperkuat suatu
perilaku tertentu yang telah dilakukan responden.
Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat bahwa banyak alasan seseorang untuk
berprilaku. Oleh sebab itu, perilaku yang sama diantara beberapa orang dapat berbedabeda penyebab atau latar belakangnya .
Jenis perilaku menurut Notoatmodjo (2003), perilaku dibedakan menjadi dua yaitu:
a. Perilaku tertutup (Cover Behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk terselubung atau tertutup
(cover) . Respon atau reaksi stimulus ini masih terbatas pada perhatian, pesepsi,
pengetahuan atau kesadaran dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima
stimulus tersebut, dan belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
Universitas Sumatera Utara
b. Perilaku Terbuka (Overt Behavior)
Respon seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata atau terbuka.
Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas dalam bentuk tindakan atau
praktik (practice), yang dengan mudah dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang menurut (Sunaryo,
2004), faktor tersebut terdiri dari :
a. Faktor Genetik dan Endogen
Faktor genetik atau keturunn merupakan konsepsi dasar atau model untuk
kelanjutan perkembangan perilaku mahluk hidup itu. Faktor genetik berasal dari
dalam individu (endogen), antara lain:
b. Jenis ras, setiap ras didunia memiliki perilaku yang spesifik, saling berbeda satu
dengan yang lainnya.
c. Jenis kelamin, perbedaan perilaku pria dan wanita dapat dilihat dari cara
berpakaian dan melakukan pekerjaan sehari-hari.
d. Sifat Kepribadian, salah satu pengertian kepribadian yang ditemukan oleh (
Marami,1995) :”Keseluruhan pola, pikiran, perasaan,dan perilaku yang sering
digunakan oleh seseorang dalam usaha dalam adaptasi yang terus menerus dalam
hidupnya”.
e. Bakat pembawa. Bakat menurut (Notoadmojo, 2003) yang mengutip pendapat
(William B.Micheel, 1960) adalah kemampuan individu untuk melakukan
sesuatu yang sedikit sekali bergantung pada latihan mengenai hal tersebut.
f. Intelegensi adalah kemampuan untuk berpikir abstrak (Sukardi,1997) intelegensi
adalah kemampuan untuk membuat kombinasi.
g. Usia
Universitas Sumatera Utara
Menurut Hurlock (1996) usia dewasa dini merupakan periode peyesuaian diri
terhadap pola-pola kehidupan baru dan dikenal dengan masa kreatif dimana
individu memiliki kemampuan mental untuk mempelajari dan menyesuaikan dari
situasi baru, sepeti mengingat hal-hal yang pernah dipelajari, penalaran analogis,
berpikir kreatif serta belum terjadi penurunan daya ingat. Masa dewasa dini
memiliki rentang usia 18 tahun sampai usia 40 tahun.
1) Faktor Eksogen atau Faktor Dari Luar Individu
a) Faktor lingkungan. Lingkungan menyangkut segala sesuatu yang ada
disekitar individu, baik fisik, biologis maupun sosial.
b) Pendidikan. Pendidikan mencakup seluruh proses kehidupan individu. Proses
kegiatan-kegiatan pendidikan pada dasarnya melibatkan masalah perilaku
individu maupun kelompok.
c) Agama. Merupakan tempat mencari makna hidup yang terakhir atau
penghabisan .
d) Sosial Ekonomi. Telah disinggung sebelumnya bahwa salah satu lingkungan
yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang adalah lingkungan sosial
e) Kebudayaan. Dikutip dari Mac Iver (1985) dalam buku Serjono Soekanto
(2001) merupakan ekspresi jiwa terwujud dalam ccara-cara hidup dan
berpikir, pergaulan hidup, seni kesusasteraan, agama rekreasi dan hiburan.
B. Domain Perilaku
Universitas Sumatera Utara
Bloom (1908), seorang ahli psikologi pendidikan membagi perilaku manusia ke
dalam 3 (tiga) domain, ranah atau kawasan yakni : a) kognitif (cognitive), b) afektif
(affective), c) psikomotorik (psychomotor). Dalam perkembangannya, teori ini
dimodifikasi
untuk
pengukuran
hasil
pendidikan
kesehatan,
yakni
pengetahuan(knowledge), sikap (attitude), tindakan (practice) (Notoatmodjo, 2003)
1. Knowladge (Pengetahuan)
Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah proses
kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri.
Dalam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek)
didalam dirinya sendiri sedemikian aktif sehinggayang mengetahui itu menyusun
yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif. Pada umumnya adalah
tepat kalau mengatakan pengetahuan hanya merupakan pengalaman “sadar”
(Bachtiar. A, 2005).
Pengetahuan adalah merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui
panca indera manusia yakni indera penglihatan, penciuman dan pendengaran, asa
dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinnga.
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk
terbentuknya tindakan seseorang (ovet behavior). Karena dari pengalaman dan
penelitian ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng
daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan (Notoatmodjo, 2007).
Menurut Notoatmodjo (2007) Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif
mempunyai 6 tingkatan:
Universitas Sumatera Utara
a. Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai pengingat suatu materi yang telah dipelajari atau
rangsangan yang paling rendah. Oleh sebab itu tahu ini merupakan tingkat pengetahuan
yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang
dipelajari antara lain, menyebutkan, menguraikan, mendefenisikan, dan sebagainya.
Contoh : dapat menyebutkan tanda-tanda kekurangan kalori dan protein pada anak
balita.
b. Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar benar.
Orang yang telah paham terhadap objek atau materi tersebut harus dapat menjelaskan,
menyebutkan, contoh: menyimpulkan, meramalkan dan sebagaimana terhadap objek
yang dipelajari.
c. Aplikasi (application)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah
dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan atau
penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau
situasi yang lain.
d. Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke
dalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam suatu struktur organisasi tersebut
dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat ilihat dari
penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan,
mengelompokan, dan sebagainya.
e. Sintesis (synthesis)
Universitas Sumatera Utara
Sintesis menunjukan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau
menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk yang baru. Dengan kata lain
sintesis adalah kemampuan untuk menyusun formulasi baru dan formulasi-formulasi
yang ada.
f. Evaluasi (evaluation)
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan utnuk melakukan justifikasi atau
penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu
criteria yang ditentukan sendiri atau menggunakan criteria-kriteria yang telah ada.
2. Sikap(attitude)
Sikap adalah suatu kecenderungan bertindak kearah atau menolak suatu faktor
lingkungan. Manifestasi sikap tidak dapat dilihat langsung tetapi hanya di tafsirkan
terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup ( Borgadus, 1931, dalam Mueler 2004).
Sikap adalah reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu
stimulus atau objek (Notoatmodjo,2003).
Sikap mengandung daya pendorong atau motivasi. Sikap bukan sekedar rekaman
masa lalu, tetapi juga menentukan apakah orang harus pro dan kontra terhadap sesuatu,
menentukan apa yang disukai, diharapkan dan diinginkan, dan apa yang harus dihindari.
Sikap relatif lebih menetap dan mengandung aspek edukatif, artinya mengandung nilai
menyenangkan atau tidak menyenangkan (Notoatmodjo,2003).
Sikap mempunyai tiga komponen pokok, yaitu kepercayaan atau keyakinan , ide dan
konsep terhadap suatu objek ; kehidupan emosional atau evaluasi emosional terhadap
suatu objek dan kecenderungan untuk bertindak, ketiga komponen ini secara bersamasama membentuk sikap yang utuh ( Alport, 1993 dalam Taylor 2000).
Universitas Sumatera Utara
Menurut Sunaryo (2004) sikap adalah kecenderungan bertindak dari individu,
berupa respons tertutup terhadap stimulus ataupun objek tertentu. Secara nyata sikap
menunjukkan adanya keyakinan seseorang mengenai objek atau situasi yang disertai
adanya perasaan tertentu dan memberikan dasar pada orang tersebut membuat respons
atau berprilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya.
Sikap memiliki tiga komponen yang membentuk struktur sikap dan ketiganya saling
menunjang yaitu: komponen kognitif ( berisi kepercayaan individu), komponen afektif (
berisi dimensi emosional subjektif individu, terhadap objek sikap, baik yang positif (rasa
senang) maupun negative (rasa tidak senang) dan komponen konatif (disebut juga
komponen perilaku) yang berkaitan dengan predisposisi atau kecenderungan bertindak
terhadap objek sikap yang dihadapinya (Saifuddin, 1995 dalam Taylor 2000)
Dari sisi lain, yaitu sisi lain psikologi umum, sikap merupakan ukuran besarnya
pengaruh atas pengalaman yang spesifik terjadi harapan-harapan, atau dengan kata lain,
hal-hal yang pernah dialami akan mempunyai suatu arti dan nilai tertentu.Dalam arti
inilah didefinisikan oleh Rochracher bahwa sikap mempunyai pengaruh memilih dan
mengemudikan kejadian-kejadian dengan sadar.
3. Tindakan (practice)
Tindakan adalah aturan yang dilakukan, melakukan/mengadakan aturan-aturan untuk
mengatasi sesuatu atau perbuatan. Adanya hubungan yang erat antara sikap dan tindakan
didukung oleh pengertian sikap yang menyatakan bahwa sikap merupakan
kecenderungan untuk bertindak. Beberapa tingkatan dari tindakan/praktek, yaitu:
Persepsi,respon terpimpin, mekanisme adaptasi (Notoatmodjo,2003).
Persepsi adalah mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan
yang akan diambil adalah merupakan praktek tingkat pertama.
Universitas Sumatera Utara
Respon terpimpin dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar atau
sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktek tingkat dua.
Mekanisme apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara
otomatis atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia telah mencapai praktek
tingkat tiga, adaptasi yaitu suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan
baik.
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (over behavior). Untuk
menjadikan sikap menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan factor pendukung atau suatu
kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas, juga
diperlukan faktor dukungan (support).
Praktek atau tindakan ini mempunyai beberapa tingkatan antara lain, a. persepsi
(perception) merupakan mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan
tindakan yang akan diambil, b. respon terpimpin (guided response), dapat melakukan
sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh, c. mekanisme
(mechanism) diartikan apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar
secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, d. adopsi (adoption)
adalah suatu praktek atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik, artinya
tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan
wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau
bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan
mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
C. Emesis gravidarum
1. Definisi
Universitas Sumatera Utara
Mual dan muntah (emesis gravidarum) adalah gejala yang wajar dan sering terdapat
pada kehamilan trimester pertama. Mual bisanya terjadi pada pagi hari , tetapi dapat
timbul pula setiap saat dan malam hari. Gejala-gejala ini kurang lebih terjadi enam
minggu setelah hari pertama haid terakhir dan berlangsung selama kurang lebih dari
sepuluh minggu. Mual dan muntah terjadi pada 60-80% primigravida dan 40-60%
multigravida. Satu diantara seribu kehamilan gejala-gejala ini menjadi lebih berat
(Wiknjosastro.2007).
Mual dan muntah (emesis gravidarum) merupakan salah satu gejala paling awal,
paling umum dan dapat menyebabkan stress yang dikaitkan dengan kehamilan dan
merupakan sebuah gejala fisiologis dan sebuah masalah yang sering kali membuat ibu
hamil merasa tidak berdaya mengatasinya ( Tiran. 2004).
Morning sickness adalah suatu kondisi yang bisa muncul mulai minggu ke-4 dan
berakhir pada minggu ke-14 sampai ke-16 minggu masa kehamilan. Rasa pusing dan
mual ini dapat terjadi kapan saja, baik siang maupun malam hari. Gejala ini berkaitan
dengan kedudukan plasenta atau rendahnya kadar gula darah ketika perut sedang kosong
pada malam hari (Ana. 2010).
Mual dan muntah (Morning sickness) adalah hal yang terjadi dalam bulan-bulan
awal kehamilan (biasanya hanya pada saat bangun dari tidur) sering dijumpai dan
biasanya ringan (Farrer. 2001).
2. Etiologi
Universitas Sumatera Utara
Mual dan muntah disebabkan peningkatan hormon yang mengalir dalam darah.
Hormon human Chorionic Gonadotropin, diproduksi untuk menjaga persediaan
estrogen dan progesterone dalam mempertahankan kehamilan. Hormon ini berada
dalam air kencing dan menandakan kehamilan. Pembentukan hCG muncul bersamaan
dengan rasa mual, berangsur-angsur menghilang 12-14 minggu. Hormon ini juga
menyebabkan penurunan drastis kadar gula dalam darah, yang dapat menyebabkan rasa
lapar dan sakit secara tiba-tiba (Stoppard. 2009).
Masalah psikologis juga merupakan faktor predisposisi beberapa wanita mengalami
mual dan muntah dalam kehamilan dan akan memperburuk gejala yang sudah ada atau
mengurangi kemampuan untuk mengatasi gejala normal. Kecemasan berdasarkan
pengalaman melahirkan sebelumnya, terutama kecemasan akan datangnya mual dan
muntah (Tiran.2008).
Menurut Wiknjosastro faktor predisposisi dan faktor-faktor lain penyebab mual dan
muntah adalah:
a. Faktor predisposisi yang sering dikemukakan adalah primigravida , mola hidatidosa
dan kehamilan ganda. Frekuensi yang tinggi pada mola hidatidosa dan kehamilan
ganda menimbulkan dugaan bahwa faktor hormon memegang perann penting karena
pada kedua keadaan tersebut hormon khorionik gonadotropin dibentuk berlebihan.
b. Masuknya vili khorialis dalam sirkulasi maternal dan perubahan metabolik akibat
hamil serta resistensi yang menurun dari pihak ibu terhadap perubahan ini
merupakan faktor organik
c. Alergi
Sebagai salah satu respon dari jaringan ibu terhadap anak, juga disebut sebagai salah
satu faktor organik.
Universitas Sumatera Utara
d. Faktor psikologi
Memegang peranan penting pada penyakit ini, rumah tangga yang retak, kehilangan
pekerjaan, takut terhadap kehamilan dan persalinan, takut terhadap tanggung jawab
terhadap ibu, dapat menyebabkan konflik mental yang dapat memperberat mual dan
muntah sebagi ekspresi tidak sadar terhadap keengganan menjadi hamil atau sebagai
pelarian dari kesukaran hidup
e. Usia
Salah satu faktor predisposisi yang menyebabkan emesis gravidarum yaitu usia,
beberapa peneliti menemukan bahwa wanita yang lebih tua semakin cenderung
mengalami keluhan mual dan muntah, sedangkan penelitian lainnya menemukan
wanita-wanita muda lebih cenderung mengalami morning sickness(Wesson.2002)
Menurut Indra (2009) bahwa usia dan fisik wanita mempengaruhi proses
kehamilan dan persalinannya, dijelaskan sebagai berikut:
1) Hamil kurang dari 20 Tahun
Rahim dan panggul sering kali belum tumbuh mencapai ukuran dewasa, dengan kata
lain kondisi fisik belum 100% siap, di usia ini secara biologis belum optimal,
emosinya cenderung labil, mentalnya belum matang sehingga mudah mengalami
goncangan yang mengakibatkan kurangnya perhatian selama kehamilan. Angka
kematian ibu dan janin 4-6kali lipat lebih tinggi dibanding wanita yang hamil dan
bersalin di usia 20-an.
2) Hamil di Usia 20-an (Kondisi fisik prima)
Universitas Sumatera Utara
Rahim sudah mampu memberi perlindungan atau kondisi maksimal untuk
kehamilan. Umumnya secara mental calon ibu juga sudah siap, ini berdampak pada
perilaku ibu dimana ia menjaga dan merawat kehamilannya secara hati-hati
3) Hamil di Usia 30 hingga 35 Tahun
Mengingat kemajuan teknologi saat ini, direntang usia ini ibu masih boleh hamil asal
kondisi tubuh, kesehatan dan asupan nutrisi betul-betul terjaga.
4) Hamil di Usia lebih dari 35 Tahun
Kesehatan ibu sudah menurun, kehamilan tergolong beresiko tinggi. Itu sebabnya
tidak dianjurkan menjalani kehamilan di usia ini.
Banyak wanita yang melaporkan adanya hubungan antara gangguan kehamilan
yang mereka alami dengan kelelahan. Salah satu gejala kelelahan umum adalah
munculnya perasaan letih, suatu perasaan kelelahan akan teratasi jika dilakukan
istirahat, kelelahan merupakan suatu kondisi dimana seluiruh fungsi tubuh dalam
bekerja sudah tidak maksimal lagi (Wesson.2002).
Kerja adalah sesuatu yang dikeluarkan oleh seseorang sebagai profesi, sengaja
dilakukan untuk mendapatkan penghasilan, atau pengeluaran energi untuk kegiatan
yang dibutuhkan oleh seseorang untuk mencapai tujuan tertentu ( Notoatmodjo.
2007).
Menurut Wesson (2002) ibu hamil yang bekerja pada outlet makanan siap saji
paling cenderung mengalami mual dan muntah.
3. Patofisiologi
Perasaan mual adalah akibat dari meningkatnya kadar estrogen, oleh karena keluhan
ini terjadi pada trimester pertama. Pengaruh fisiologik hormon estrogen ini tidak jelas,
mungkin berasal dari sistem saraf pusat atau akibat berkurangnya pengosongan
Universitas Sumatera Utara
lambung. Penyesuaian terjadi pada kebanyakan wanita hamil, meskipun demikian mual
dan muntah dapat berlangsung berbulan-bulan (Wiknjosastro. 2007).
Makanan yang tidak tercerna dalam perut menyebabkan iritasi ( makanan yang
berlebihan dan berasa tajam) menyebabkan muntah saat hamil tetapi kebanyakan
muntah saat kehamilan disebabkan karena urat syaraf yang tertekan dan bahwa muntah
saat kehamilan disebabkan karena urat syaraf yang tertekan dan bahwa muntahyang
selanjutnya disebabkan karena berkembangnya rahim dan tekanan kepala janin yang
mengganggu gerakan peristaltik dan cenderung berhenti sebelum makan sampai pada
tempatnya (Wesson. 2002).
4. Tanda dan Gejala Emesis gravidarum
Tanda – tanda emesis gravidarum ( Rose & Neil, 2007) berupa:
a. Rasa mual, bahkan dapat sampai muntah
Mual dan muntah ini terjadi 1-2 kali sehari, biasanya terjadi di pagi hari tetapi
dapat pula terjadi setia saaat.
b. Nafsu makan berkurang
c. Mudah lelah
d. Emosi yang cenderung tidak stabil
Keadaan ini merupakan sesuatu yang normal, tetapi dapat berubah menjadi tidak
normal apabila mual dan muntah terjadi terus-menerus dan mengganggu
keseimbangan gizi, cairan, dan elektrolit tubuh. Ibu hamil yang mengalami
emesis gravidarum yang berkelanjutan dapat terkena dehidrasi sehingga
menimbulkan gangguan pada kehamilannya yaitu ibu mengalami dehidrasi,
terganggunya keseimbangan elektrolit, perdarahan gastrointestinal (robekan pada
Universitas Sumatera Utara
selaput lender esophagus dan lambung), ablasia retina dan kematian ibu,
sedangkan janin akan mengalami gangguan dan hingga kematian janin.
5. Penanganan
Wanita dapat mengatasi mual dan muntah dengan cara sederhana, diantaranya:
a. Ubah kebiasaan makan. Makan dalam jumlah sedikit tetapi sering, jangan
makan dalam jumlah atau porsi besar karena akan menambah mual. Tetap
berusaha maka ketika perut terasa enak, dianjurkan 5-6 kali sehari untuk
mencegah perut kosong dan mempertahankan kestabilan kadar gula darah.
b. Makan-makanan yang tinggi karbohidrat dan protein dapat membantu
mengatasi rasa mual. Banyak mengkonsumsi buah, sayuran dan makanan
yang tinggi karbohidrat seperti roti, kentang, dan biskuit.
c. Sewaktu bangun tidur di pagi hari, jangan langsung terburu-buru terbangun.
Cobalah duduk sebentar dan baru perlahan berdiri untuk bangun. Bila merasa
sangat mual ketika bangun tidur pagi, siapkan cemilan atau biskuit di dekat
tempat tidur, dan dapat memakannya terlebih dahulu sebelum mencoba
bangun.
d. Hindari makanan dan bau-bauan yang merangsang mual dan menggangu
keinginan makan.
e. Hindari makanan yang berlemak, berminyak, dan pedas, karena akan
memperburuk rasa mual.
f. Minumlah cairan yang cukup selama muntahuntuk mengganti cairan yang
dikeluarkan dan mencegah dehidrasi.
g. Minumlah air putih, susu rendah lemak atau jus buah. Hindari minuman yang
mengandung kafein karena akan memperburuk rasa mual,
Universitas Sumatera Utara
h. Tingkatkan asupan makanan yang kaya vitamin (beras, pisang, sereal,
alpukad) atau dapat berkonsultasi dengan dokter untuk mendapat vitamin B6
yang efektif untuk mengurangi rasa mual pada ibu hamil.
i. Biasanya orang menggunakan jahe untuk mengurangi rasa mual.
j. Istirahat dan rileks sangat membantu mengatasi mual dan muntah, karena
rasa stress hanya akan memperburuk rasa mual. Beristirahatlah yang cukup
dan santai, sambil mendengarkan musik atau membaca.
k. Cermati pemakaian obat-obatan anti mual. Obat-obatan tersedia untuk
mengatasi rasa mual dan muntah yang berat, tetapi obat-obatan ini dapat
menembus plasenta dan tingkat keamanan untuk bayi masih belum dapat
dipastikan. Tetapi bila mual dan muntah sangat hebat dan mengancam
kesehatan ibu, pengobatan baru akan diberikan. Selalu berkonsultasi dengan
dokter sebelum menggunakan obat-obatan (Ratna.2009).
Adapun hal-hal yang harus dihindari agar tidak terjadi emesis gravidarum (
Wesson. 2002) yaitu:
a) Menghindari masak atau mengkonsumsi makanan yang berminyak atau
digoreng karena akan lebih sulit untuk dicerna dan sering menyebabkan mual
bagi wanita hamil. Sebagian wanita tidak tahan dengan bau saat memasak tetapi
senang makan makanan yang dimasak, sebagian lainnya hanya dapat mentolerir
makanan yang tidak dimasak seperti buah-buahan, sayur-sayuran, sereal dan roti
isi.
b) Menghindari minuman yang mengandung kafein seperti kopi, cola, teh, semua
minuman yang membuat merasa mual.
Universitas Sumatera Utara
c) Menghindari sikat gigi begitu selesai makan
Bagi beberapa ibu hamil menyikat gigi menjadi hal yang menjadi suatu masalah
karena hanya dengan memasukkan sikat gigi dalam mulut membuat mereka
muntah, sehingga pilih waktu yang tepat untuk menggosok gigi.
d) Menghindari gerakan-gerakan yang tiba-tiba, khususnya setelah bangun tidur,
dengan memperlama waktu bangun akan dapat membantu.
e) Menghindari bau-bau yang tidak enak atau sangat menyengat.
Bau menyengat seperti air buangan, tempat sampah, kotoran hewan, asap
pembuangan pabrik, asap rokok biasanya dapat menimbulkan rasa mual dan
muntah.
f. Menghindari berpakaian yang ketat atau pakaian dengan ikat pinggang ketat.
Pakaian yang terlalu ketat dapat memberikan tekanan yang tidak nyaman pada
perut dan dapat memperburuk rasa mual. Pakaian longgar atau ikat pinggang
elastis dapat membantu,
D. Perubahan Psikologi dengan emesis Gravidarum pada Kehamilan Trimester
Pertama
1. Definisi
Kehamilan trimester pertama adalah seluruh periode zigot dan embrionik dan dua
minggu pertama periode janin dari total 10 minggu kehidupan setelah fertilisasi, berada
pada 12 minggu pertama kehamilan dihitung dari masa menstruasi terakhir (Varney.
2006).
Periode antepartum dibagi menjadi tiga trimester, Pada umumnya trimester pertama
secara umum dipertimbangkan berlangsung pada minggu ke-1 hingga ke-12 minggu,
Universitas Sumatera Utara
trimester kedua pada minggu ke-13 hingga ke-27, dan trimester ketiga pada minggu ke28 hingga ke-40 (Varney. 2006).
a. Ibu merasa tidak sehat dan kadang merasa benci dengan kehamilannya
(ketidakstabilan emosi dan suasana hati)
b. Kadang muncul penolakan, kekecewaan, kecemasan, dan kesedihan. Bahkan kadang
ibu berharap agar dirinya tidak hamil saja.
c. Ibu akan mencari tanda-tanda kepastian kehamilannya. Hal ini dilakukan sekedar
untuk meyakinkan dirinya.
d. Oleh karena perutnya masih kecil, kehamilan merupakan rahasia seorang yang
mungkin akan diberitahukannya kepada orang lain atau malah mungkin dirahasiakan
e. Hasrat untuk melakukan hubungan seks berbeda-beda pada tiap wanita, tetapi
kebanyakan akan mengalami penurunan (Sulistyawati. 2009).
Universitas Sumatera Utara
Download