penerapan model pembelajaran cooperative integrated reading and

advertisement
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE INTEGRATED
READING AND COMPOSITION (CIRC) BERBASIS DEEP
DIALOGUE CRITICAL THINKING (DDCT) DALAM
PEMBELAJARAN FISIKA DI SMP
Aulya Nanda P., Sri Astutik, Rif’ati Dina H.
Program Studi Pendidikan Fisika, Jurusan Pendidikan MIPA
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Jember
Email: [email protected]
Abstract
Cooperative Intregrated Reading and Composition (CIRC) can be interpreted as
a model that integrates a thorough reading and compose become essential parts
and Deep Dialogue Critical Thinking (DDCT) as a approach that dialogue in
interpersonal relationships for analyzing, reasoning, decision appropriately and
execute it properly. The purpose of this research were: to analyze the result
differences ability in learning between class using CIRC based on DDCT with
the control class, to describe student’s learning activity in experimental class.
The method of the research is true-experiment, using a randomized post-test only
control group design. Data analysis using t-tes. The results of the analysis
showed: there is significant difference in result of learning of the experimental
class and the control class, student’s activity more active in experimental class.
Student learning activity that CIRC based on DDCT in the experiment class is
85,51 %, it involves in very active category.
Keyword: Cooperative Intregrated Reading and Composition, Deep Dialogue
Critical Thinking.
PENDAHULUAN
Hakikat fisika adalah pengetahuan
yang mempelajari gejala-gejala melalui
serangkaian proses yang dikenal dengan
proses ilmiah yang dibangun atas dasar
sikap ilmiah dan hasilnya terwujud sebagai
produk ilmiah yang tersusun atas tiga
komponen terpenting berupa konsep,
prinsip, dan teori yang berlaku secara
universal (Trianto, 2010:138). Dengan
adanya tiga komponen yang harus diberikan
pada
siswa
ini,
maka
diperlukan
pembelajaran yang dilaksanakan dengan
baik dan benar, serta bermakna bagi siswa.
Berdasarkan
wawancara
yang
dilakukan pada beberapa siswa sekolah
menengah,
tidak
banyak
perbedaan
anggapan tentang bagaimana fisika. Dari
mata pelajaran IPA lainnya, fisika menurut
siswa tetap dianggap menjadi mata pelajaran
paling sulit untuk dipelajari. Anggapan
tersebut secara tidak langsung membentuk
sugesti tersendiri dipemikiran siswa
sehingga merasa tidak mampu sebelum
mempelajarinya dan membuat siswa lebih
memilih
hafalan
rumus
daripada
mengutamakan pemahamannya. Beberapa
hal yang menjadi permasalahan mendasar
pada rendahnya hasil belajar fisika adalah
pembelajaran
yang
menurut
siswa
membosankan, yakni selalu berpusat pada
guru, yang membuat siswa sangat pasif,
ditambah lagi kurangnya keberhasilan
transfer informasi dari guru ke siswa yang
dimungkinkan akibat bahasa yang sulit
dimengerti. Kurangnya respon dari siswa ini
juga dibenarkan oleh guru mata pelajaran
fisika bahwa siswa tidak antusias dengan
pembelajaran yang ada, tidak memberikan
respon yang sesuai, menyibukkan diri
sendiri dengan hal yang tidak berkaitan
dengan pembelajaran, atau ketika siswa
merasa kurang dapat mengungkapan
285
Aulya, Penerapan Model Pembelajaran Cooperative...286
gagasan, pendapat, pemikiran, maupun
pertanyaan yang membuat siswa terus saja
memendam permasalahan yang menghambat
proses
pembelajaran
pada
materi
selanjutnya.
Permasalahan
tersebut
dapat
ditanggulangi
melalui
suatu
bentuk
pembelajaran yang memposisikan guru
hanya sebagai fasilitator, yakni kondisi
dimana peran guru hanya sebatas
mengarahkan siswa untuk mengikuti
kegiatan sesuai dengan perencanaan untuk
mencapai tujuan pembelajaran. Hal ini akan
mengkondisikan siswa lebih aktif dalam
mencari informasi untuk memperoleh
pemahaman
konsepnya
sendiri.
Pembelajaran yang digunakan juga harus
mampu mengatasi masalah dimana siswa
sulit
untuk
mengungkapkan
permasalahannya dalam memahami suatu
materi atau persoalan pada gurunya.
Alternatif solusi yang dapat
digunakan adalah suatu model pembelajaran
yang terpadu dimana siswa dapat
mengembangkan kemampuannya, lebih
mudah mengkomunikasikan materinya,
lebih kreatif dan kritis dalam menyikapi dan
menyelesaikan suatu permasalahan, juga
membentuk karakter siswa untuk dapat
bersikap ilmiah. Salah satu model
pembelajaran yang sesuai dengan konteks
tersebut adalah
model dari strategi
pembelajaran kooperatif. Hal ini karena
pembelajaran kooperatif menuntut siswa
belajar dalam kelompok-kelompok yang
memiliki anggota heterogen. Dalam
kelompok akan terjalin kerjasama untuk
mencapai
tujuan,
sehingga
terjadi
komunikasi antar anggota dimana siswa
yang lemah akan mendapat bantuan dari
siswa yang lebih mampu, dan hal ini akan
mengembangkan kecakapan siswa yang
lebih pandai untuk terus meningkatkan
pengetahuannya agar dapat dengan mudah
mentransfer informasi kepada temannya.
Terdapat
beberapa
model
pembelajaran kooperatif yang dapat
dijadikan solusi, namun model pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and
Composition (CIRC) dianggap sebagai
model terpadu yang dibutuhkan dalam
penelitian ini. Model ini dipilih karena
dibandingkan model-model pembelajaran
kooperatif yang lain, model CIRC masih
jarang digunakan dan merupakan model
pembelajaran terpadu yang sesuai dengan
kebutuhan penelitian. Salah satu bentuk
keberhasilan dalam menggunakan model
CIRC adalah hasil penelitian dari Jayanti
(2008) pada penelitian tindakan kelas dalam
mata
pelajaran
kewirausahaan
yang
menyebutkan bahwa sebanyak 77,5%
membantu siswa dalam memahami dan
tertarik pada mata pelajaran kewirausahaan,
dan dalam tiga siklus pembelajaran selalu
menunjukkan
peningkatan
jumlah
ketuntasan belajar siswa di kelas.
CIRC adalah salah satu model
pembelajaran kooperatif, dimana siswa akan
dibagi menjadi kelompok-kelompok lebih
kecil sehingga terjadi komunikasi bersama
dalam memahami konsep. Dalam CIRC
siswa dituntut untuk membaca kemudian
mengkomposisikan
materi
atau
permasalahan yang diberikan sesuai
kemampuannya,
saling
menjelaskan
terhadap anggota kelompoknya tentang hasil
pemikirannya, mencari solusi bersama
dengan saling mengkritik dan merevisi,
hingga diperoleh hasil akhir yang kemudian
dipresentasikan kepada kelompok lain serta
bersama-sama dengan guru membuat
kesimpulan atas materi atau permasalahan
yang diberikan.
Model pembelajaran CIRC memiliki
kelemahan yakni membuat suasana kelas
menjadi ramai karena siswa harus dibagi
menjadi kelompok-kelompok kecil, tidak
terjadi proses dialog yang baik, serta kurang
optimalnya proses penyampaian fikiran dan
pendapat dari masing-masing anggota
karena terkadang hanya siswa yang lebih
pandai yang akan memberikan prediksi
jawaban karena anggota lainnya kurang
dapat menyampaikan gagasan dengan jelas
sehingga hanya mengukuti solusi yang
ditawarkan oleh siswa yang dianggap lebih
mampu
tersebut.
Kerena
penelitian
dilakukan pada siswa sekolah menengah
pertama,
maka
kelemahan-kelemahan
tersebut akan lebih besar muncul dalam
proses pembelajaran. Oleh karena itu
diperlukan suatu pendekatan yang dapat
mendasari dan mengarahkan agar proses
pembelajaran dengan model CIRC dapat
berlangsung dengan baik dan sesuai dengan
karakteristik dari model tersebut. Model
CIRC
akan
lebih
optimal
bila
pembelajarannya didasari atau dibatasi
dengan
menggunakan
pendekatan
287 Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 2 No. 3, Desember 2013, hal 285-292
pembelajaran Deep Dialogue Critical
Thinking (DDCT). Sesuai dengan jurnal
Salamah (2008) yang menyebutkan bahwa
pembelajaran berbasis DDCT dapat
mengoptimalkan semua potensi yang
dimiliki oleh mahasiswa untuk mencari,
menemukan,
mengkonstruk,
dan
mengkomunikasikan hasil temuannya dalam
bentuk lisan dan tulis secara baik dan benar,
serta
meningkatkan
keterampilan
berkomunikasi secara analitis-kritis antara
guru-siswa atau antar siswa, dengan
demikian penggunaan pembelajaran berbasis
DDCT dapat meningkatkan hardskill
sekaligus softskill.
Pembelajaran berbasis DDCT akan
sesuai dengan model CIRC yang
memerlukan Deep Dialugue berupa diskusi
bermakna bukan hanya dialog satu arah
sehingga proses pembelajaran dapat lebih
efektif karena dapat saling membantu,
bertukar informasi, dan mengkoreksi agar
diperoleh
pemahaman
yang
merata.
Sedangkan Critical Thinking atau berpikir
kritis diperlukan setiap siswa dalam
memahami maksud dan konsep dari bacaan
sesuai
kemampuannya
dengan
mempertahankan hasil pemikiran atau
menerima kritikan dan pendapat orang lain
dalam
memahami
konsep
atau
menyelesaikan permasalahan.
Jadi melalui model pembelajaran
CIRC berbasis pendekatan DDCT yang akan
saling melengkapi, diharapkan pembelajaran
akan lebih meningkatan aktivitas belajar
yang tepusat pada siswa dan pemahaman
konsep siswa terhadap suatu materi fisika
dapat
meningkat,
sehingga
terdapat
perbedaan signifikan yang lebih baik
dibandingkan dengan proses pembelajaran
konvensional yang biasa dilakukan di
sekolah.
Oleh karena itu, dari permasalahan
yang ada dan alternatif solusi yang
digunakan, maka judul yang digunakan
dalam penelitian ini adalah “Penerapan
Model Pembelajaran Cooperative Integrated
Reading and Composition (CIRC) Berbasis
Deep Dialogue Critical Thinking (DDCT)
dalam Pembelajaran Fisika di SMP”
Rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah Adakah perbedaan yang
signifikan antara hasil belajar fisika siswa
menggunakan
model
pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and
Composition
(CIRC)
berbasis
Deep
Dialogue Critical Thinking (DDCT) dengan
menggunakan pembelajaran konvensional,
Bagaimanakah aktivitas belajar siswa
selama menggunakan model Cooperative
Integrated Reading and Composition
(CIRC) berbasis Deep Dialogue Critical
Thinking (DDCT) dalam pembelajaran fisika
di SMP.
METODE
Jenis penelitian ini adalah penelitian
eksperimen yaitu dengan cara memberikan
perlakuan dan mengetahui pengaruh
pembelajaran dengan menerapkan model
Cooperative Integrated Reading and
Composition
(CIRC)
berbasis
Deep
Dealogue (DDCT) dalam pembelajaran
fisika subpokok bahasan pembiasan cahaya
pada
kelas
eksperimen.
Sebagai
pembandingnya, terdapat kelas kontrol yang
menggunakan pembelajaran konvensional
atau cara mengajar yang biasa diterapkan di
sekolah. Penentuan sampel penelitian
dengan metode cluster random sampling.
Metode pengumpulan data dalam penelitian
ini adalah metode observasi, dokumentasi,
wawancara dan tes.Teknik analisis data
untuk hasil belajar siswa dianalisis
menggunkan uji t-test, sedangkan untuk
mendeskripsikan aktivitas belajar siswa
selama pembelajaran di kelas eksperimen
menggunakan persentase keaktivan siwa.
Sampel dalam penelitian ini adalah
kelas VIIIB dan VIIIC SMPN 1 Bondowoso
Semester Genap Tahun Pelajaran 20122013. Desain penelitian ini menggunakan
Design Randomized Post Test Only Control
Group seperti pada gambar 3.1 berikut :
(Suparno, 2007:142 )
Keterangan:
E : Kelas eksperimen
K : Kelas Kontrol
N1 :Perlakuan berupa penggunaan metode
model
Cooperative
Integrated
Reading and Composition (CIRC)
berbasis Deep Dealogue (DDCT)
N2 :Perlakuan berupa penggunaan model
konvensional
Aulya, Penerapan Model Pembelajaran Cooperative...288
X E :Hasil
rata-rata
post-test
kelas
eksperimen
XK :Hasil rata-rata post-test kelas control
HASIL DAN PEMBAHASAN
Data hasil belajar fisika siswa
diperoleh dari nilai rata-rata post test pada
kelas eksperimen dan kelas control, yaitu
kelas eksperimen sebesar 75.5 dan kelas
control sebesar 71.25. Hasil perhitungan
dengan uji Independent Samples ttest SPSS
16 menunjukkan analisa data post test
diperoleh nilai Sig. (2-tailed) sebesar 0.040
atau < 0.05, yang berarti ada perbedaan hasil
belajar yang signifikan antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol (Ha diterima,
Ho ditolak). Sehingga dapat disimpulkan
bahwa
pada
pembelajaran
terdapat
perbedaan yang signifikan antara hasil
belajar siswa kelas yang menggunakan
model pembelajaran Cooperative Integrated
Reading and Composition berbasis Deep
Dialogue Critical Thinking dengan kelas
yang
menggunakan
model
Direct
Interaction
(konvensional).
Apabila
ditampilkan dengan grafik yang sederhana,
tampak seperti Gambar 4.1.
75.5
71,25
Tindakan observasi yang dilakukan
menghasilkan data berupa aktivitas belajar
siswa selama pembelajaran menggunakan
model pembelajaran Cooperative Integrated
Reading and Composition berbasis Deep
Dialogue Critical Thinking. Adapun
diagram presentase aktivitas untuk setiap
indikator pada masing-asing pertemuan
adalah sebagai berikut:
Persentase (%)
Aktivitas dari LKS 1
92,86
79,76
86,9
92,86
100
100
0
Memberikan Contoh
Membaca Grafik
Menggunakan Rumus
Mengumpulkan info
Mendefinisikan
Aktivitas dari LKS 2
Persentase (%)
84.52
100
0
64.29
79.76 64.29
76.19
79.76
Membuat Kesimpulan
Menggambar Skema Pembiasan
Melakukan Eksperimen
Menggunakan Rumus
Mengumpulkan info
Menjelaskan Karakteristik…
Selain observasi aktivitas siswa
berdasarkan indikator aktivitas yang
disesuiakan dengan LKS pada setiap
pertemuan, juga terdapat penilaian afektif
sebagai data pendukung aktivitas siswa
289 Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 2 No. 3, Desember 2013, hal 285-292
Persentase (%)
Aktivitas dari LKS 3
100
84.52
71.43
84.52
95.2485.71
Menggambar Bentuk Bayangan
Menggunakan Rumus
Membedakan Sinar Istimewa
Mengumpulkan info
Menjelaskan Karakteristik Lensa
0
selama mengikuti pembelajaran
dengan menggunakan model CIRC berbasis
DDCT. Maka dapat dibuat ingkasan tentang
aktivitas belajar siswa selama pembelajaran
menggunakan
model
pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and
Composition berbasis Deep Dialogue
Critical Thinking yang dapat dilihat pada
tabel dibawah ini.
.
Tabel 4.1 Data Rata-rata Aktivitas Belajar pada Tiap Pertemuan
Pertemuan 1
Aktivitas dari
LKS
92.86%
Kriteria
Aktivitas
Sangat Aktif
Pertemuan 2
75.59%
Aktif
Pertemuan 3
88.09%
Sangat Aktif
Tabel 4.2 Data Afektif Siswa pada Tiap Pertemuan
Karakter
Keterampilan Sosial
Pertemuan 1
92.46%
86.90%
Pertemuan 2
87.49%
87.50%
Pertemuan 3
87.30%
74.40%
PEMBAHASAN
Penerapan
model
Cooperative Integrated Reading and
Composition
(CIRC)
berbasis
Deep
Dialogue Critical Thinking (DDCT) dalam
proses pembelajaran adalah penerapan
model pembelajaran yang kooperatif dengan
mengintegrasikan suatu bahan bacaan, yakni
membaca dan mengkomposisikan bagianbagian yang dianggap penting melalui
pendekatan yang menuntut siswa melakukan
dialog mendalam dalam kelompok dan
berfikir kritis guna mendapatkan prediksi
jawaban yang dianggap benar secara
bersama untuk membangun konsep fisika
pada tiap siswa.
Penelitian ini bertujuan untuk
mengkaji perbedaan hasil belajar siswa
menggunakan model pembelajaran CIRC
berbasis DDCT dengan pembelajaran
konvensional dan untuk mengetahui
seberapa besar aktivitas belajar siswa
menggunakan model pembelajaran CIRC
berbasis DDCT.
Hasil post-test setelah diberi
perlakuan yang berbeda dalam pembelajaran
pada materi pembiasan cahaya, diperoleh
hasil belajar dalam bentuk post-test yang
berbeda pula, yakni kelas eksperimen
sebesar 75,5 dan kelas kontrol sebesar 71,25.
Hasil analisa
Aulya, Penerapan Model Pembelajaran Cooperative...290
data menunjukkan bahwa pada pembelajaran
terdapat perbedaan yang signifikan antara
hasil belajar siswa kelas yang menggunakan
model pembelajaran Cooperative Integrated
Reading and Composition berbasis Deep
Dialogue Critical Thinking dengan kelas
yang
menggunakan
model
Direct
Interaction (konvensional). Perbedaan hasil
belajar siswa ini dikarenakan pada kelas
eksperimen siswa lebih aktif dibandingkan
dengan kelas kontrol yang hanya mendorong
siswa untuk mencatat dalam mengikuti
pelajaran. Pada kelas eksperimen, model
pembelajaran CIRC berbasis DDCT lebih
banyak mengajak siswa berfikir baik secara
individu untuk memprediksi jawabannya
sendiri maupun dalam diskusi kelompok
untuk berinteraksi secara mendalam dan
mendorong siswa untuk berfikir kritis dalam
memperoleh
prediksi jawaban
yang
dianggap paling tepat.
Analisis
hasil
observasi
menunjukkan rata-rata aktivitas siswa
selama pembelajaran fisika menggunakan
model CIRC berbasis DDCT pada masingmasing indikator di setiap pertemuan
mengalami perubahan. Rata-rata persentase
aktivitas siswa yang paling baik adalah pada
pertemuan pertama, yakni 92,86% karena
siswa sangat antusias ketika dikenalkan
dengan model pembelajaran yang berbeda
dari yang biasa siswa dapatkan. Indikator
aktivitas tertinggi pada pertemuan pertama
adalah mendefinisikan, hal ini dikarenakan
siswa dapat langsung mendefinisikan
pengertian
setelah
membaca
dan
mengartikan maksud dari materi yang ada di
LKS. Pada pertemuan kedua terjadi
penurunan aktivitas yang cukup banyak
yakni menjadi 75,59%. Hal ini dikarenakan
kurang baiknya manajemen waktu siswa
antara mengerjakan persoalan teori dengan
melakukan eksperimen pembiasan pada
plan-paralel sehingga penilaian afektif untuk
ketrampilan karakter turun dan membuat
indikator aktivitas lainnya kurang muncul.
Walaupun ketrampilan sosial meningkat dari
sebelumnya
karena
siswa
saling
bekerjasama, pembagian tugas untuk
melakukan eksperimen tidak merata atau
tidak
bergantian
sehingga
nilai
kecenderungan aktivitas untuk indikator
melakukan eksperimen, menggambar skema
pembiasan, dan membuat kesimpulan
eksperimen setiap siswa berbeda. Pada
pertemuan ketiga, untuk meningkatkan
kembali aktivitas siswa, peneliti terlebih
dahulu memotivasi siswa untuk lebih aktif
dan melakukan diskusi mendalam kembali
dalam memprediksi jawaban pada setiap
permasalahan di LKS dan mengingatkan
siswa untuk lebih fokus agar siap dalam
mengerjakan post-test pada pertemuan
berikutnya.
Hasil
pertemuan
ketiga
menunjukkan aktivitas belajar siswa kembali
meningkat menjadi 88,09%, walaupun dari
afektif siswa baik karakter maupun
ketrampilan sosial menurun dari pertemuan
sebelumnya. Hal ini karena siswa lebih aktif
dan fokus dalam mengerjakan LKS secara
individu namun interaksi antar anggota
dalam kelompok kurang. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa aktivitas siswa dapat
turun atau meningkat sesuai dengan proses
pembelajaran yang ada, yakni sangat baik
ketika diberikan LKS yang menuntutnya
memprediksi jawaban dengan membaca dan
menganalisa materi yang ada di LKS, namun
turun aktivitasnya ketika diberikan waktu
untuk melakukan eksperimen karena tidak
semua anggota akan ikut melakukan
eksperimen dengan baik. Rata-rata penilaian
aktivitas siswa dari tiga pertemuan adalah
85,51% sehingga dapat dikategorikan
aktivitas belajar siswa sangat aktif .
Penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa
melalui
penerapan
model
pembelajaran CIRC dapat menarik siswa
untuk senang belajar dan membantu
memahami pelajaran (Jayanti: 2008). Hasil
pembelajaran berbasis DDCT dapat
mengoptimalkan semua potensi yang
dimiliki oleh siswa untuk mencari,
menemukan,
mengkonstruk,
dan
mengkomunikasikan hasik temuannya dalam
bentuk lisan dan tulis dengan lebih baik
(Salamah:
2008).
Hasil
penelitian
sebelumnya tersebut menguatkan bahwa
hasil belajar dengan menggunakan model
pembelajaran
Cooperative
Integrated
Reading and Composition berbasis Deep
Dialogue Critical Thinking lebih baik
daripada di kelas kontrol serta dalam proses
pembelajarannya siswa akan sangat aktif.
Tanggapan mengenai proses melalui
penerapan model pembelajaran Cooperative
Integrated Reading and Composition
berbasis Deep Dialogue Critical Thinking
dapat diketahui dari hasil wawancara dengan
guru bidang studi fisika dan beberapa siswa.
291 Jurnal Pendidikan Fisika, Vol. 2 No. 3, Desember 2013, hal 285-292
Guru bidang studi menilai model
pembelajaran CIRC berbasis DDCT baik
untuk diterapkan dan dapat mendukung
untuk tercapainya hasil belajar fisika yang
lebih baik. Menurut siswa pembelajaran
CIRC berbasis DDCT lebih menarik
sehingga siswa lebih termotivasi dalam
mengikuti pembelajaran daripada model
pembelajaran yang biasa diterapkan di
sekolah. Hal ini karena mereka dituntut
untuk lebih aktif, siswa diberi kesempatan
mengungkapkan pendapatnya tanpa rasa
malu
pada
teman
sendiri
dalam
kelompoknya, siswa lebih paham karena
menemukan konsep dengan bahasa mereka
sendiri, dan siswa yang pasif akan menjadi
aktif dengan belajar bersama dalam
kelompok yang heterogen.
Proses
pembelajaran
dengan
menggunakan
model
pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and
Composition berbasis Deep Dialogue
Critical Thinking memiliki beberapa kendala
dan kekurangan, yakni memotivasi kembali
siswa dalam melakukan model pembelajaran
yang sama setiap pertemuannya dan
kurangnya manajemen waktu yang baik oleh
siswa dalam mengerjakan LKS. Selain itu,
dalam setiap pembelajaran harus benarbenar menekankan pada siswa untuk terlebih
dahulu memprediksi jawabannya sendiri
kemudian didiskusikan secara mendalam
dengan kelompoknya. Solusinya guru harus
membangun suasana santai namun serius
agar siswa tidak merasa jenuh, selalu
mengingatkan tentang penggunaan waktu
yang efisien, dan menegaskan pada siswa
dengan mengerjakan di lembar tugasnya
sendiri sebelum berdiskusi. Kemudian perlu
menekankan peran guru dalam pengelolaan
kelas yang efektif agar tercipta keseriusan
dan kedisiplinan siswa.
Penerapan model pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and
Composition berbasis Deep Dialogue
Critical Thinking pada pembelajaran fisika
terbukti membuat siswa termotivasi dan
mampu meningkatkan aktivitas siswa
selama pembelajaran dan mempengaruhi
hasil belajar siswa secara signifikan.
Pembahasan di atas menunjukkan
bahwa
pembelajaran
fisika
dengan
menggunakan
model
pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and
Composition berbasis Deep Dialogue
Critical Thinking dapat digunakan sebagai
informasi dan alternatif pembelajaran untuk
mengajar fisika serta memperbaiki hasil
belajar siswa. Dengan menggunakan model
pembelajaran
Cooperative
Integrated
Reading and Composition berbasis Deep
Dialogue Critical Thinking kemampuan
siswa untuk mengingat materi yang telah
dipelajari lebih baik dan bermakna.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan
pada bab sebelumnya, dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut.
1. Ada perbedaan yang signifikan antara
hasil belajar fisika siswa menggunakan
model
pembelajaran
Cooperative
Integrated Reading and Composition
berbasis Deep Dialogue Critical
Thinking
dengan
pembelajaran
konvensional pada pembelajaran fisika
di kelas VIII SMPN 1 Bondowoso tahun
ajaran 2012/2013.
2. Aktivitas
belajar
siswa
selama
mengikuti
pembelajaran
fisika
menggunakan model pembelajaran
Cooperative Integrated Reading and
Composition berbasis Deep Dialogue
Critical Thinking di kelas VIII SMPN 1
Bondowoso tahun ajaran 2012/2013
adalah sebesar 85.51%, sehingga
termasuk dalam kategori sangat aktif.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Hakim, S. 2009. Strategi Berdasarkan
Pembelajaran Berdasarkan Deep
Dealogue/Critical
Thinking
(DD/CT). Jakarta: P3G Dikdasmen
Basir. 1988. Evaluasi Pendidikan. Surabaya:
Airlangga University PressJayanti,
R. D. 2008. Ketuntasan Belajar
Melalui
Penerapan
Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe
Cooperativa Integrated Reading
and
Comprehension.
Jurnal
Pendidikan Ekonomi. I (2), 103115.
Salamah, Umi. 2008. Pembelajaran Menulis
Karya ilmiah Berbasis Deep
Dialogue/Critical
Thinking.
Paradigma. XIII (26), 303-316.
Aulya, Penerapan Model Pembelajaran Cooperative...292
Slavin, R.E. 2005. Cooperative Learning;
Teori, Riset, dan Praktik. Bandung:
Nusamba.
Suparno, P. 2007. Metodologi Pembelajaran
Fisika. Yogyakarta: Universitas
Sanata Dharma
Trianto. 2010. Model Pembelajaran
Terpadu. Jakarta : Bumi Aksara
Download