Teori-sosial

advertisement
TEORI ILMU SOSIAL
Oleh:
TRISNAWATI
PARADIGMA ILMU SOSIAL


Paradigma adalah suatu world view
yang
dipergunakan
oleh
suatu
komunitas ilmuwan tertentu untuk
mempelajari
obyek
keilmuwan
mereka.
Koinloch (1977) mengidentifikasi ada
enam paradigma atau perspektif
teoritik, yakni : organic paradigm,
conflict
paradigm,
social
behaviorism, structure functionalism,
modern conflict theory, and socialpsychological paradigm.
Lanjutan Paradigma Ilmu Sosial ……..


Burrel
dan
Morgan
(1979)
membaginya
ke
dalam
empat
paradigma, yakni : radical humanist
paradigm,
radical
structuralist
paradigm, intepretative paradigm,
and functionalist paradigm.
Crotty (1994) membagi menjadi lima
paradigma dalam teori ilmu sosial,
yakni:
positivism,
interpretivism,
critical
inquiry,
fenism,
and
postmodernism.
Lanjutan Paradigma Ilmu Sosial ……..

Sementara Guba dan Lincoln
(1994)
membuat
tipologi
menjadi
empat,
yakni
:
positivism,
postpositivism,
critical
theories,
and
constructivism.
Tipologi
pertama
dan
kedua,
oleh
peneliti
sering
disatukan
menjadi satu kreteria, yakni
menjadi classical paradigm.
Perbedaan Paradigma Ilmu Sosial
1. Pradigma Klasik:
Menganalogikan ilmu sosial seperti ilmu
alam.
Mempergunakan deductive logic dan
pengamatan empiris, guna secara
probabilistik menemukan atau
memperoleh konfirmasi tentang hukum
sebab akibat yang bisa dipergunakan
untuk memprediksi pola-pola umum
gejala sosial tertentu.
Lanjutan Perbedaan Paradigma Ilmu Sosial ……..
2. Paradigma Konstruktivis:
Memandang ilmu sosial sbg analisis
sistematis
terhadap tindakan yang
secara sosial penuh makna (socially
meaningful action).
Mempergunakan
pengamatan
langsung dan rinci terhadap pelaku
sosial dalam setting keseharian secara
alamiah, agar mampu memahami dan
menafsirkan bagaimana para pelaku
sosial menciptakan dan memelihara
dunia sosial mereka.
Lanjutan Perbedaan Paradigma Ilmu Sosial ……..
3. Paradigma Kritis:
Mendefinisikan ilmu sosial sebagai
suatu proses yang secara kritis
berusaha mengungkap the real
structures.
Mengkritisi struktur nyata yang
nampak, yang dianggapnya semu,
dengan
tujuan
membantu
membentuk suatu kesadaran sosial
untuk memperbaiki dan merubah
kondisi kehidupan manusia.
Elemen-Elemen Paradigma
(Guba, 1990)



Ontologi: Asumsi tentang “realitas”. What
is the nature of ‘ reality’ ?
Epistemologi: Asumsi tentang hubungan
antara peneliti dan yang diteliti.  What is
the nature of the relationship between the
inquirer and the knowable?
Metodologi/Axiologi: Asumsi tentang
bagaimana peneliti memperoleh
pengetahuan.  How should the inquirer go
about finding out knowledge?
Perbedaan Ontologis
(Hakekat ttg Realitas Sosial)



KlasikRealitas yang ada itu diatur oleh
kaidah-kaidah tertentu yang berlaku universal,
meskipun sesungguhnya kebenaran tentang
realita tersebut hanya bisa diperoleh secara
probabilistic
KonstruktivisKebenaran suatu realitas bersifat
relatif. Ia berlaku sesuai dengan konteks
khusus yang dinilai relevan oleh pelaku sosial.
Realitas sosial merupakan hasil konstruksi
sosial yang dilakukan oleh pelaku.
Kritis Realitas sosial merupakan sesuatu yang
semu (virtual reality) yang sudah terbentuk
oleh proses sejarah, kekuatan sosial, budaya
dan ekonomi politik.
Perbedaan Epistemologis
(Hub. Peneliti & yg diteliti)



Klasik Ada realitas obyektif. Sebagai suatu
realitas yang bersifat eksternal (berada di luar
diri peneliti), maka peneliti sejauh mungkin
harus membuat jarak dengan obyek penelitian
(Dualist/objectivist).
Konstruktivis Pemahaman thd suatu realitas,
atau temuan penelitian merupakan produk
interaksi antara peneliti dan yg diteliti
(transactionalist/subjectivist).
Kritis Hubungan peneliti dengan yang diteliti
selalu dijembatani oleh nilai-nilai tertentu.
Pemahaman terhadap suatu realitas merupakan
value
meditiated
findings
(transactionalis/subjectivist).
Perbedaan Aksiologis
(posisi value judgement)
Klasik:




Peneliti sbg observer.
Nilai, etika dan pilihan moral harus
berada di luar proses penelitian.
Peneliti berperan sbg disinterested
scientist.
Tujuan penelitian = eksplanasi,
predisksi dan kontrol realitas sosial
Perbedaan Aksiologis
(posisi value judgement)
Konstruktivis:




Peneliti sbg fasilitator.
Nilai, etika, dan pilihan moral merupakan
bagian tak terpisahkan dari penelitian.
Peneliti sbg passionate participant,
fasilitator yg menjembatani keragaman
subyektivitas pelaku sosial.
Tujuan penelitian = rekonstruksi realitas
sosial secara dialektis antara peneliti dan
yg diteliti.
Perbedaan Aksiologis
(posisi value judgement)
Kritis:




Peneliti sbg aktivis.
Nilai, etika dan pilihan moral merupakan
bagian tak terpisahkan dari penelitian.
Peneliti
menempatkan
diri
sbg
transformative intellectual, advokat, dan
aktivis.
Tujuan
penelitian
=
kritik
sosial,
transformasi, emansipasi, dan social
empowerment.
BEBERAPA CONTOH TEORI
TEORI SOSIAL




Berikut Akan Ditampilkan Beberapa
Contoh Teori Sosial Dari Masing2
Paradigma:
Karl Marx, Emile Durkheim (P. Klasik)
Max Weber, Georg Simmel (P.
Konstruktivis)
Louis Althusser, Antonio Gramsci (P.
Kritis)
BEBERAPA PEMIKIRAN
KARL MARX (P KLASIK)


Materialisme
Sejarah
=
Dalam
Sepanjang
Sejarah
Perjalanan
Masyarakat,
Materi
(Economic
Materials/Means
Of
Production)
Merupakan Esensi Pokok Kehidupan.
Keberadaan (Existence) lah yang
Menentukan
Kesadaran
(Conciousness),
Dan
Bukan
Kesadaran
Yang
Menentukan
Keberadaan.
Lanjutan Beberapa Pemikiran Marx………


Pemikirannya
Bersifat
Economic
Determinism.
Menurutnya, Siapa Saja Yg Dapat
Mengontrol Means Of Production/ The
Material (Economic) Substructure,
Maka Juga Akan Dpt Mengkontrol
Negara Melalui Justifikasi Ideologi
Dan Kekuasaan Yg Dipegangnya.
Lanjutan Beberapa Pemikiran Marx………






Masyarakat Berkembang Secara Linier
Dari: Primitive Communism (Hunting
And
Gathering),
Ancient
Slave
Societies,
Feodalism,
Capitalism,
Socialism.
Class Struggle.
Social Revolution.
False Consciousness.
Fetishism Of Commodity.
Praxis Dan Emansipatoris, Dll.
BEBERAPA PEMIKIRAN
EMILE DURKEHIM (P KLASIK)


Pemikirannya Emphasis On Social
Order: Bahwa Tatanan Sosial Adalah
The Driving Force In Society.
Sama-sama Bersifat Determinism
Seperti Halnya Marx, Namun
Durkheim Lebih Fokus Pada Cultural
Determinism, Sedang Marx Economic
Determinism.
Lanjutan Beberapa Pemikiran Durkheim…………..




Menurutnya
Untuk
Memahami
Masyarakat Kita Harus Menstudi Social
Facts Sebagai 'Ontological Realities' Yg
Mana
Semua
Itu
Mempengaruhi
Kehidupannya Whether They Know It
Or Not.
Suicide.
Social Solidarity (Mechanical And
Organic Solidarity).
Division Of Labour (Traditonal -->
Rational/Market
And
Bureaucracy
Mechanisms.
BEBERAPA PEMIKIRAN
WEBER (P. KONSTRUKTIVIS)



Pemikirannya
Terkategori
Dalam
Interpretative Sociology = Kita Akan
Dapat Memahami The Social World
Dengan Melihatnya Melalui Makna
(Meanings) Dari Para Aktor Yg
Terlibat Dalam Tindakan Sosialnya -> Verstehen.
Theory Of The Protestant Work Ethic.
Iron Cage Of Rationality.
Lanjutan Beberapa Pemikiran Weber …….





Dia Salah Satu Pioner Pemikiran Ttg
Stratifikasi Sosial.
Stratifikasi Bukan Hanya Ditentukan Oleh
Faktor Ekonomi (Marx) Saja, Tetapi Juga
Faktor
Sosial
Budaya,
Dan
Politik
(Kedudukan Dlm Party)
Analisanya Lebih Fokus Pada Status
Daripada Klas.
Klas = Terbangun Oleh Market Relations.
Status = Muncul Dari Social Honour/Social
Esteem, Dan Social Privileges.
LANJUTAN BEBERAPA
PEMIKIRAN WEBER


Menurutnya Education Might Become
An Autonomous Source Of Status
Distinction In Modern Society.
Orang Yg Memiliki Pendidikan Tinggi
Akan Memiliki The Priviledged Role,
Serta Menjadi The Key Social
Articulator.
BEBERAPA PEMIKIRAN GEORG
SIMMEL (P. KONSTRUKTIVIS)



Ia ingin menjembatani kontroversi antara
realisme (durkheim) dan nominalis
(weber).
Menurutnya, kenyataan sosial itu bersifat
antar pribadi (interpersonal). (Marx dan
durkheim melihat kenyataan sosial itu
berada pada struktur sosial).
Dinamika interaksi antar pribadi
merupakan bahan darimana struktur sosial
akan dibentuk, bukan sebaliknya.
LANJUTAN BEBERAPA
PEMIKIRAN SIMMEL


Social Differentiation = Perub. Masy Secara
Bertahap Dari Struktur Yg Sederhana Dgn
Diferensiasi Yg Rendah Dan Homogen,
Berubah Ke Struktur Yg Lbh Kompleks Dgn
Diferensiasi Serta Heterogenitas Yg Tinggi.
Ia Percaya Ada Perbedaan Antara Persepsi
Manusia Mengenai Suatu Gejala, Dan
Hakikat Dasar Mengenai Gejala Tsb (Ada
Beda Antara Bentuk (Bersifat Apriori) Dan
Isi Bersifat Empiris).
BEBERAPA PEMIKIRAN LOUIS
ALTHUSSER (P. KRITIS)


Menurutnya, Ada Dua Mekanisme
Untuk Menjadikan Warga Dalam
Suatu Negara Berperilaku Sesuai Dgn
Aturan Negara Yakni: Repressive
State Apparatuses (Rsa), Dan
Ideological State Apparatuses (Isa).
Menurutnya, Ideology Merupakan
Representasi Dari Hubungan Imajiner
Individu Thd Kondisi Keberadaannya
Yg Nyata.
LANJUTAN BEBERAPA
PEMIKIRAN ALTHUSSER


Menurutnya, Ideology Itu
Sesungguhnya Bukan Merupakan
Representasi Dari Dunia Nyata,
Namun Oranglah Yg Menghubung2kannya Dgn Dunia Nyata Sbgmana
Persepsi Dirinya Mengenai Dunia
Nyata.
Dunia Nyata Itu “Mengada”, Bukan
Sebagai Sesuatu Yg Obyektif Tetapi
Merupakan Suatu Produk Relasi Kita.
BEBERAPA PEMIKIRAN ANTONIO
GRAMSCI (P. KRITIS)


Gramsci Dan Althusser Memiliki
Kesamaan Teori Yg Berupa Ideological
Hegemony.
Jika Althusser Hegemony Oleh Negara
Dilakukan Melalui Rsa Dan Isa, Maka
Menurut Gramsci Hegemony Itu
Dilakukan Dengan Lebih Soft Yakni
Melalui Cultural Leadership.
LANJUTAN BEBERAPA
PEMIKIRAN GRAMSCI



Menurutnya The Rulling Social Class Itu
Bersifat Hegemonic.
The Rulling Class Itu Bukan Hanya
Mengkontrol Property Dan Kekuasaan,
Tetapi Juga Mengkontrol Ideology Melalui
Kekuasaan Dan Kemakmuran Yg Dimiliki.
Menurutnya, Melalui Cultural Leadership,
Negara Dpt Menjadi Propagator Budaya
Dan Pendidikan Sipil, Serta Mengkontrol
Sistem Institusional.
STRUKTURAL FUNGSIONAL
Asumsi Dasar:
MASYARAKAT TERINTEGRASI
ATAS DASAR KATA SEPAKAT PARA
ANGGOTANYA TERHADAP NILAI
DASAR KEMASYARAKATAN YANG
MENJADI PANUTANNYA
Perspektif mengatasi Dilema





Dilema dalam ilmu-ilmu sosial (khususnya Ilmu Sosial) adalah
tidak adanya konsensus baku untuk memahami berbagai fenomena
sosial. Setiap ilmuwan sosial akan dipengaruhi oleh perspektif yang
berbeda dalam menyusun kerangka analisis untuk memahami
berbagai fenomena sosial.
Maka kita akan menemukan suatu kesimpulan yang berbeda
terhadap suatu fenomena yang sama, karena adanya perbedaan
perspektif.
Dalam proses keilmuan, perspektif atau pendekatan berfungsi
sebagai kriteria utnuk memilah-milah maslah yang hendak diteliti
dan sebagai penuntun ke arah metode penelitian yang hendak
digunakan.
Kita perlu memahami keragaman perspektif yang sering digunakan
oleh Sosiologi Politik, karena keragaman itu menunujukkan adanya
pengakuan jujur bahwa fenomena sosial tidak diakibatkan oleh
penyebab tunggal atau satu faktor saja, melainkan adanya
hubungan multi-kausal dalam hubungan antar variabel ilmu sosial.
Di samping itu untuk menunjukkan bahwa kemampuan manusia
untuk memahami fenomena secara menyeluruh dan dari segala
segi sangatlah terbatas, sehingga perlu dilakukan pengkhususan
dan pembatasan pusat perhatian.
KESEPAKATAN MASYARAKAT
tersebut
Menjadi GENERAL AGREEMENTS yang
memiliki kemampuan mengatasi
PERBEDAAN-PERBEDAAN PENDAPAT
dan KEPENTINGAN dari para
anggotanya
MASYARAKAT SEBAGAI SUATU SISTEM
YANG SECARA FUNGSIONAL
TERINTEGRASI KEDALAM SUATU
BENTUK EQUILIBRIUM
Istilah lain pendekatan
STRUKTURAL FUNGSIONAL




INTEGRATION APPROACH
ORDER APPROACH
EQUILIBRIUM APPROACH
STRUCTURAL FUNGTIONAL
APPROACH
TOKOH







PLATO
AUGUSTE COMTE
HERBERT SPENCER
EMILE DURKHEIM
BRANISLAW
MALINOWSKI
REDCLIFFE BROWN
TALCOT PARSON
ANGGAPAN DASAR THEORI
STRUKTURAL FUNGSIONAL




Masyarakat adalah suatu SISTEM dari
BAGIAN-BAGIAN yang saling BERHUBUNGAN
Hubungan dalam masyarakat bersifat GANDA
dan TIMBAL BALIK (SALING MEMPENGARUHI)
Secara FUNDAMENTAL, SISTEM SOSIAL
cenderung bergerak kearah EQUILIBRIUM dan
bersifat DINAMIS
DISFUNGSI/KETEGANGAN SOSIAL/
PENYIMPANGAN pada akhirnya akan teratasi
dengan sendirinya melalui PENYESUAIAN dan
proses INSTITUSIONALISASI
ANGGAPAN DASAR THEORI
STRUKTURAL FUNGSIONAL (lanjutan)



PERUBAHAN-PERUBAHAN dalam SISTEM SOSIAL bersifat
GRADUAL melalui PENYESUAIAN. Bukan bersifat
REVOLUSIONER
PERUBAHAN terjadi melalui 3 macam kemungkinan:
1. PENYESUAIAN SIATEM SOSIAL terhadap PERUBAHAN
DARI LUAR (extra systemic change)
2. PERTUMBUHAN melalui PROSES DIFFERENSIASI
STRUKTURAL DAN FUNGSIONAL
3. PENEMUAN BARU oleh ANGGOTA MASYARAKAT
Faktor terpenting dalam INTEGRASI adalah KONSENSUS
Penilaian/kritik terhadap theori
STRUKTURAL FUNGSIONAL
Terlalu menekankan anggapan
dasarnya pada PERANAN UNSURUNSUR NORMATIF dari TINGKAH
LAKU SOSIAL (pengaturan secara
NORMATIF terhadap HASRAT
seseorang untuk menjamin
STABILITAS SOSIAL)
(David Lockwood)
Menurut David Lockwood
Terdapat SUB STRATUM yang berupa
DISPOSISI-DISPOSISI yang
mengakibatkan timbulnya PERBEDAAN
LIFE CHANCES (kesempatan hidup) dan
KEPENTINGAN-KEPENTINGAN YANG
TIDAK NORMATIF
DALAM SETIAP SITUASI SOSIAL terdapat
2 hal yaitu:
TATA TERTIB yang bersifat NORMATIF
SUB STRATUM yang melahirkan KONFLIK
GAMBARAN SITUASI SOSIAL MENURUT DAVID
LOCKWOD
SUB STRATUM
TATA TERTIB
KENYATAAN YANG DIABAIKAN DALAM
PENDEKATAN STRUKTURAL FUNGSIONAL
1.
2.
3.
4.
Setiap STRUKTUR SOSIAL mengandung KONFLIK dan
KONTRADIKSI yang bersifat internal dan menjadi
PENYEBAB PERUBAHAN
REAKSI suatu SISTEM SOSIAL terhadap PERUBAHAN
yang datang dari luar (extra systemic change) tidak
selalu bersifat Adjustive/tampak
Suatu SISTEM SOSIAL dalam waktu yang panjang dapat
mengalami KONFLIK SOSIAL yang bersifat VISIOUS
CIRCLE
Perubahan-perubahan sosial tidak selalu terjadi secara
GRADUAL melalui penyesuaian, tetapi juga dapat terjadi
secara REVOLUSIONER
Struktural-Fungsional
(termasuk teori
konsensus, teori
sistem dan teori-teori
yang dipengaruhi
Talcott Parson)
Konflik
(misalnya Ralf
Dahrendorf, Lewis
Coser)
Kelas
(Teori-teori yang
dipengaruhi Karl
Marx)
Elitis
(Gaetano Mosca, Vilfredo
Pareto, Robert Michels,
C. Wright Mills, dan
Robert D. Putnam)
Pluralis
(Robert Dahl, Suzzane
Keller)
Suatu sistem sosial
yang diikat nilai-nilai,
kebutuhan-kebutuhan
dan tujuan-tujuan
yang sama.
Konsensus.
Arena bagi
kepentingankepentingan
yang saling
bersaing dan
arena bagi
pertikaian.
Arena bagi
pertikaian
antar-kelas
sosial.
Didominasi dan dipimpin
oleh kelompok minoritas
yang terorganisir, yaitu
kaum elit. Diluar
kelompok ini massa yang
tidak memahami
keadaan.
Terdiri dari jaringanjaringan interaksi antarindividu dan antarkelompok, yang
mencerminkan
kemajemukan kepentingan
dan nilai-nilai. Tidak
satupun kelompok yang
mampu mendominasi yang
lain.
(2)
Negara
Suatu subsistem yang
berfungsi memelihara,
mempersatukan dan
mencapai tujuan-tujuan
masyarakat. Tindakantindakan negara bersifat
mengikat.
Alat pemaksa yang
dipakai oleh kelas
penguasa untuk
membuat rakyat
tunduk pada
kemauannya.
Sarana kekerasan
yang terorganisir
yang didominasi
oleh satu kelas
sosial yaitu kelas
kapitalis.
Organ atau mekanisme yang
dimanipulasi oleh sekelompok
minoritas yang terorganisir,
yaitu kaum elit, yang
menjalankannya demi
kepentingannya sendiri atau
kepentingan pendukungnya.
Hanya merupakan salah
satu dari banyak lembaga
politik yang ada dalam
masyarakat. Negara
mewakili kepentingan
banyak kelompok.
Karenanya ia demokratis.
(3)
Tertib Sosial
dan
Perubahan
Sosial
Masyarakat dipandang
sebagai statis; selalu
mengutamakan integrasi,
ketertiban dan stabilitas.
Kalau masyarakat
berubah, perubahan itu
berujud penyesuaian
terhadap lingkungannya.
Equilibrium.
Masyarakat selalu
dalam keadaan yang
diliputi perubahan dan
pertikaian. Konflik
yang terjadi itu
merupakan kekuatan
dinamik masyarakat.
Tanpa ada konflik
kepentingan,
masyarakat tidak akan
bermakna
Sumber dinamika
masyarakat adalah
perubahan sosial.
Perubahan sosial
tidak bisa dielakkan.
Ketertiban dan status-quo
sangat dipentingkan.
Perubahan sosial dianggap
membahayakan. Perubahan
yang terjadi haruslah dituntun
oleh kaum elit. Wujud
perubahan yang terjadi
sekedar sirkulai elit.
Perubahan terjadi secara
bertahap. Perubahan
terjadi akibat konflik antara
kelompok yang saling
bersaing tetapi masih
dalam tertib kelembagaan.
Perubahan yang terjadi
tidak sampai mengganggu
kestabilan.
Perspektif
Teoritis
Issue
(1)
Masyarakat
Perspektif
Teoritis
StrukturalFungsional
Konflik
Kelas
Elitis
Pluralis
(4)
Ketimpangan
dan Pelapisan
Sosial
Pelapisan sosial
diperlukan
sebagai sistem
integratif untuk
memelihara tertib
dan stabilitas
sosial. Pemberian
ganjaran secara
tidak merata
diperlukan untuk
menjamin bahwa
hanya orang yang
cakap yang
menduduki
jabatan penting.
Pelapisan sosial
merupakan
penghalang
terjadinya integrasi
dan merupakan
sumber utama
terjadinya konflik
dalam masyarakat.
Pelapisan/ketimpang
an itu terjadi karena
langkanya dan tidak
meratanya distribusi
sumberdaya dalam
masyarakat.
Ketimpangan
sosial dan
pelapisan sosial
adalah penyebab
konflik.
Ketimpangan dan
pelapisan sosial
bisa dihilangkan.
Ketimpangan
antara elit dan
massa pasti
terjadi. Elit pasti
mendominasi
massa. Elitis
klasik:
ketimpangan itu
tidak bisa
dihindarkan dan
memang
diperlukan. Elitis
radikal: mengkritik
keras terjadinya
ketimpangan
antara elit-masa.
Ketimpangan
sosial memang
ada, tetapi
pengaruh dan
keuntungan yang
ada dalam
masyarakat
didistribusikan
secara merata.
(5)
Politik
Mekanisme untuk
mencapai tujuantujuan bersama.
Memainkan peran
menengahi dalam
penyelesaian
konflik.
Politik berkenaan
dengan kekuasaan,
yaitu tentang siapa
yang berkuasa,
bagaimana ia
memperoleh
kekuasaan dan
mengapa ia
berkuasa. Politik
membantu satu
kelompok mencapai
tujuannya dengan
merugikan kelompok
lainnya.
Sarana yang
dipakai oleh kelas
penguasa untuk
mempertahankan
dominasi. Satu
segi dari
suprastruktur
yang didominasi
oleh kelas
kapitalis.
Sarana yang
dipakai kaum elit
untuk menguasai
dan memanipulasi
massa.
Mekanisme untuk
menengahi dan
mewasiti berbagai
kepentingan yang
berbeda dan
mewasiti berbagai
konflik.
Perspektif
Teoritis
StrukturalFungsional
Konflik
Kelas
Elitis
Pluralis
(6)
Partisipasi
Politik
Sarana yang dipakai
oleh warga-negara
dan kelompokkelompok
kepentingan untuk
mendukung sistem
politik. Sebagai
imbalan terhadap
dukungan warga
negara itu, sistem
politik memberikan
kepemimpinan yang
bertanggungjawab
dan memenuhi
tuntutan-tuntutan
yang diajukan.
Yang paling aktif
berpartisipasi adalah
mereka yang paling
beruntung dalam
masyarakat. Tuntutan
dari masyarakat
terhadap sistem politik
tidak ditanggapi secara
seimbang. Ada yang
ditanggapi lebih serius,
ada yang tidak.
Bentuk-bentuk
partisipasi
konvensional bisa
tidak efektif, karena
hanya dilakukan
demi kepentingan
kelas penguasa.
Bentuk-bentuk nonkonvensional
mungkin
diperlukan.
Mayoritas warga
bersifat pasif dan
diam. Mereka
sekedar
dimanipulasi oleh
kaum elit. Para
politisi yang
memerintah tidak
selalu tanggap
terhadap tuntutan
warga.
Para pemilih dan
kelompok
kepentingan
mempengaruhi
proses pembuatan
keputusan melalui
cara-cara
pemilihan, menjadi
anggota kelompok
kepentingan dan
menemui dan
berunding dengan
pemimpin politik
dan pemerintahan.
Sistem politik selalu
tanggap terhadap
tuntutan warganya.
(7)
Kekuasaan
Medium yang sah
untuk
mempertukarkan
dan memobilisasi
sumberdaya politik
dalam sistem politik
demi mencapai
tujuan-tujuan
bersama.
Mekanisme yang tidak
sah dan cenderung
menguntungkan
sekelompok kecil
orang yang
mendominasi
masyarakat dengan
merugikan sebagian
besar anggota
masyarakat yang tidak
memiliki kekuasaan.
Terpusat di tangan
para pemilik alat
produksi, yaitu
kelas penguasa.
Terpusat di tangan
mereka yang
menduduki posisiposisi tertinggi
dalam struktur
sosial. Kekuasaan
adalah
persekongkolan
kepentingan dari
lembaga-lembaga
utama dalam
masyarakat itu.
Bersifat polisentris
dan tersebar
diantara berbagai
kelompok
kepentingan. Tidak
ada satu kelompok
yang memonopoli
kekuasaan.
Download