Efek Terapi Doksisiklin Topikal Intranasal pada Tikus Percobaan

advertisement
VENTRICULO PERITONEAL SHUNTING (VPS) :
PERBANDINGAN ANTARA
VPS TERPANDU LAPAROSKOPI
& VPS DENGAN TEKNIK BEDAH TERBUKA
KONVENSIONAL
Dipresentasikan Oleh : Aji Febriakhano
Pembimbing : dr. Hanis S,Sp.BS
Journal Reading
Abstrak
Tujuan : membandingkan
hasil Ventriculo
Kesimpulan
: VPS dengan panduan
laparoskopi
samaShunting
dengan (VPS)
OPVSdipandu
dalam
Hasil: Peritoneal
Bahan dan
Metode:
2003
2012
 232 pasien
menjalani
pemasangan
laparoskopi
dengan
Ventriculo
Peritoneal
Shunting
(OVPS)
sebagian
besar
aspek,
perlusdOpen
studi
prospektif
untuk mengukur
nilai
teknik VPS
pertama diyang
Beth cocok
Israel pada
Deaconess
Medical
Center.
dengan
panduan
alternatif
pasien
obesitas
dan 155
pasien
dengan
operasi perut
(antara
tahun
1993-2012).
laparoskopi dan 77 bedah terbuka konvensional  dianalisis variabel
sebelumnya.
dependen dan independennya.
Variabel
Laparoskopi
Laparostomi konvensional
P
Waktu operasi
43,7 menit (18,0-102,0)
63.0 menit (30,0-151,0)
P <0,05
Lama rawat inap
5 hari
5 hari
P = 0.945
Kegagalan shunt
14,1%
16,9%
P = 0,601
Kelangsungan hidup
Sama, 85% pd 6 bulan & 78,5% pd 1 thn.
P = 0,868
Pendahuluan
Pemasangan VPS tetap
menjadi terapi
andalan bedah untuk
hidrosefalus nonobstruktif sejak 1908.
Komplikasi meliputi:
Infeksi, perdarahan,
kesulitan penyembuhan
luka & kegagalan
komponen keras
(Kerusakan Shunt (40%
dalam 1 tahun ) (30%
Kegagalan distal
shunt))
Keseluruhan biaya
kesehatan terkait VPS
di AS melebihi $ 1,1
miliar (Patwardhan
dan Nanda,2005).
SEHINGGA perbaikan
manajemen strategi
dan hasil pada pasien
VPS akan memberi
manfaat ekonomi yang
signifikan.
Metode dan Bahan
Jurnal ini menggunakan study kohort retrospektif dengan kumpulan data pasien
dewasa, yang menjalani pemasangan VPS pertama di Beth Israel Deaconess
Medical Center antara Desember 2003 dan September 2012.
VPS Baru : Pemasangan kateter cerebral proksimal dengan katup baru & ujung
distal berupa kateter peritoneal.
Keputusan menggunakan laparoskopi didasarkan pada
(a) riwayat medis pasien
(b) habitus tubuh pasien
(c) saran ahli bedah saraf
Demografi, klinis dan data operasi meninjau dari: catatan medis pasien
(c) database
(b)
catatan
semua
elektronik rumah
(a) review grafik panduan
pemeriksaan & operasi
sakit
Metode dan Bahan
Variabel
independen
Variabel
dependen
Komplikasi
pasca-operasi
Komplikasi
dikategorikan
menjadi
• demografi (misalnya, usia, gender), indikasi operasi dan riwayat medis
(misalnya, komorbiditas dan operasi perut sebelumnya).
• Waktu Operasi, lama tinggal di RS, temuan CT scan kepala pasca
operasi, terjadinya kegagalan shunt, penyebab kegagalan shunt dan
komplikasi lainnya.
• semua komplikasi terkait dengan operasi yang terjadi sebelum waktu
pemulangan dan dikategorikan menurut jenis atau lokasi.
• komplikasi proksimal, komplikasi pada tingkat katup dan komplikasi distal.
Metode dan Bahan
Kegagalan shunt
operasi kembali yang ditujukan untuk pengelolaan masalah terkait shunt
Penyebab kegagalan
shunt
over drainase, malposisi shunt proksimal , obstruksi atau infeksi, malposisi shunt
distal dan kerusakan katup
Infeksi shunt
: kultur cairan cerebro spinal (+), jumlah sel darah putih ↑↑ dari tap shunt atau
kultur luka positif pada saat operasi perbaikan
Obstruksi Shunt
menguji hardware sebelum / intra operatif. Kateter intraventrikular diputus di
proksimal diperiksa alirannya. Kateter distal diakses dengan jarum Marx dan
memerah dengan saline. Jika aliran diragukan dinilai dg manometer.
Malposisi kateter
terdiagnosis secara radiologis selanjutnya dikonfirmasi saat operasi.
Over-drainase
(1) adanya gejala celah ventrikel, (2) adanya cairan kolektif subdural baru yang
signifikan yang memerlukan revisi bedah.
Komplikasi
Gejala bertahan setelah pemasangan kateter dan tetap refrakter terhadap
manajemen konservatif.
Titik akhir untuk
periode tindak lanjut
radiografi.
Pertemuan terbaru dengan pasien (kunjungan klinik atau rumah sakit)
Akhir penelitian
revisi shunt / pengangkatan shunt / kematian pasien.
Hasil
Table 1: Demographic data and etiology of hydrocephalus
Demographics
All shunts (n=232)
Open (n=77)
Laparoscopic
(n=155)
P value
Mean age (years)
59.6±16.6 (61.9,
19.2-88.3)
58.3±17.2 (58.9,
19.2-87.4)
60.2±16.2 (62.6,
20.0-88.3)
0.422
Male
121 (52.2)
44 (57.1)
77 (49.6)
0.284
Female
111 (47.8)
33 (42.9)
78 (50.4)
Subarachnoid hemorrhage
74 (31.9)
19 (24.7)
55 (35.5)
0.086
Normal pressure hydrocephalus
67 (28.9)
23 (29.8)
44 (28.3)
0.816
Metastatic disease
40 (17.2)
16 (21.0)
24 (15.5)
0.335
Hydrocephalus sec. CNS tumor
19 (8.2)
9 (11.6)
10 (6.5)
0.211
Other
30 (13.8)
10 (12.9)
22 (14.2) 0.8
0.8
Previous abdominal operation
60 (25.8)
23 (29.8)
37 (23.2)
) 0.289
Gender (%)
Indication for surgery (%)
77
155
Hasil
Hasil (Kegagalan Shunt)
Hasil
Hasil
Pembahasan
Perbedaan waktu operatif rata-rata : 32,2% lebih pendek pada kelompok
dengan laparoskopi dibanding kelompok teknik terbuka, (43.7 vs 63.0, P
<0,05).
Studi seri lain melaporkan waktu operatif rata-rata teknik terbuka (40-130 min)
dan untuk teknik laparoskopi (30-115 menit).
Waktu operasi tergantung pada pasien dan faktor dokter bedah
pasien obesitas, pasien dengan riwayat
operasi perut sebelumnya, atau anatomi
perut terdistorsi yang memerlukan
waktu tambahan bila dibandingkan
dengan pasien lainnya
Waktu operasi rata-rata juga
mengalami penurunan dari waktu ke
waktu karena semakin baiknya
koordinasi.
Pembahasan
Rawat inap
rata-rata
adalah 5
hari untuk
kedua
kelompok
Naftel et al melaporkan panjang rata-rata
rawat inap 11,9 (terbuka) dan 8,5 hari
(laparoskopi), tetapi populasi pasien berbeda
secara signifikan dalam hal
perjalanan
klinis dan
hasil
tujuan
pemulangan
tingkat
persyaratan
perawatan
sehinnga kita
tidak yakin
arti
perbedaan
ini sebab
etiologi
hidrosefalus
memainkan
peran utama
dalam
pemulihan
pasien
pascaoperasi.
Pembahasan
Tingkat kegagalan shunt :15,0% lebih, dalam periode
rata-rata pengamatan (32,6 bulan)
Tidak ada perbedaan signifikan dalam nilai
keseluruhan komplikasi . Hasil kami konsisten dengan
penelitian serupa sebelumnya.
Beberapa penulis melaporkan tingkat komplikasi lebih
rendah dengan teknik laparoskopi, terutama berkenaan
dengan kegagalan shunt distal, yang juga sesuai dengan
hasil kami.
Pembahasan
(48,5%) proksimal
Kasus kegagalan shunt :
9 (25,8%) katup
8 (22.8%) distal
1 : over drainase
Lazareff et al. dan Kast et al. [37,38] :
penyebab paling sering dari kegagalan shunt adalah kerusakan kateter proksimal
Menurut literatur, frekuensi kerusakan kateter distal :5% sd 47% dg penyebab paling
umum :
Obstruksi
putus
atau
hilangnya
kateter
perforasi
perut
oklusi
usus
perforasi
usus
ascites
cairan
secebro
spinal
pseudokista
hernia
inguinalis
infeksi
dan
peritonitis
.
Kerusakan kateter distal yang mengakibatkan kegagalan shunt hanya terjadi di 8
kasus (3,5%).
Turner et al. [22] Infeksi saluran kateter  penyebab terumum kegagalan shunt (3
bln pertama)
Pembahasan
Keuntungan
laparoskopi :
Kemampuan ahli
bedah untuk
memeriksa
seluruh rongga
perut
Dapat melakukan
adhesiolisis sesuai
kebutuhan sehingga
menghindari
pemasangan kateter
distal dalam saku
adhesi atau dalam
posisi tertekuk
Laparoskopi juga
mengurangi trauma
dinding perut dan
morbiditas pascaoperasi
Pembahasan
Keterbatasan penelitian:
Penelitian ini
adalah
penelitian
retrospektif
Kriteria pemilihan nonterpadu dipergunakan
untuk pemanfaatan
teknik laparoskopi dan
dapat mengubah hasil
pada pasien dengan
risiko yang lebih tinggi
yang justru sering
dipilih untuk teknik ini
Indeks massa tubuh
pasien (BMI) tidak
selalu dilaporkan dan
karenanya kita tidak
bisa menghubungkan
pemilihan pasien atau
temuan hasil
parameter dengan
obesitas.
Kesimpulan
Pemasangan VPS dengan teknik laparoskopi adalah
pendekatan yang aman, yang memiliki banyak keuntungan
dibandingkan mini laparotomy tradisional, yaitu:
memungkinkan
ahli bedah
untuk
mempersingkat mengeksplorasi
waktu operasi rongga perut,
melisiskan
adhesi jika
diperlukan
memungkinkan
untuk menilai
keadaan
patologi
abdomen
insidental
memastikan
posisi optimal
kateter distal.
Kesimpulan
Kami sangat menyarankan teknik laparoskopi
sebagai teknik alternatif pada pasien obesitas
dan pasien dengan riwayat operasi perut
sebelumnya
…..TERIMAKASIH…..
Download