Uploaded by User125647

Essay Muhammad Aksen Sultra

advertisement
STRATEGI PROMOSI KESEHATAN DALAM UPAYA
PENANGANAN PENYAKIT DEMAM BERDARAH DENGUE (DBD)
DI WILAYAH PESISIR
Muhammad Aksen Sultra
Akhir – akhir ini kita digemparkan oleh kasus Demam Berdarah Dengue
(selanjutnya disebut DBD) yang terus melanda sebagian besar masyarakat
Indonesia terutama yang berada di daerah pesisir. Hal ini disebabkan karena
wilayah pesisir adalah wilayah yang padat akan penduduk serta terdapat banyak
genangan air yang dapat menjadi penyebab terjadinya DBD. Oleh karena itu,
sangat diperlukan strategi promosi kesehatan agar masyarakat yang berada di
daerah pesisir dapat mengetahui langkah-langkah yang perlu dilakukan sehingga
dapat terhindar dari penyakit DBD.
Penyakit DBD adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yang
ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes
Albocpictus (Kemenkes, 2016). Secara umum kasus demam berdarah dengue di
Indonesia telah mengakibatkan 94 orang meninggal pada Januari hingga awal
Maret 2020. Angka tersebut total dari 14.716 kasus secara nasional. Data
kematian tersebut di antaranya berada pada zona merah, yaitu Nusa Tenggara
Timur sebanyak 29 orang, Jawa Barat 15 orang dan Jawa Timur 11 orang.
Kemudian pada zona kuning sebanyak tujuh kasus kematian di Lampung, *-empat
di Jawa Tengah, tiga di Bengkulu dan tiga di Sulawesi Tenggara.
Sementara itu, masing-masing dua kasus kematian di Sumatera Utara,
Riau, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan
Selatan, Kalimantan Timur dan Sulawesi Tengah. Disusul masing-masing satu
kasus kematian akibat DBD di Provinsi Jambi, Sumatera Selatan, Bangka
Belitung, Kepulauan Riau, Sulawesi Utara dan Nusa Tenggara Barat.
Berdasarkan data kasus tersebut, kita dapat melihat bahwa diantara 94
orang yang meninggal akibat demam berdarah dengue banyak terjadi di daerah
1
pesisir dan daerah yang memiliki kepadatan penduduk yang tinggi. Oleh karena
itu, sangat diperlukan upaya yang tepat yang dapat menangani kasus demam
berdarah dengue yang terjadi.
Virus dengue ditularkan dari orang ke orang melalui gigitan nyamuk
Aedes (Ae). Ae aegypti merupakan vector epidemik yang paling utama, namun
spesies lain seperti Ae. Albociptus, Ae.polynesiensis dan Ae. Niveus juga dianggap
sebagai vector sekunder. Kecuali Ae.aegypti semuanya mempunyai daerah
distribusi geografis sendiri-sendiri yang terbatas. Meskipun mereka merupakan
host yang sangat baik untuk virus dengue, biasanya mereka merupakan vector
epidemi yang kurang efisien dibanding Ae.aegypti.
Gambar 1. Siklus Penularan DBD
Siklus penularan DBD ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti dan Aedes
albopictus betina. Nyamuk ini mendapatkan virus dengue sewaktu menggigit atau
menghisap darah orang yang sakit DBD atau di dalam darahnya terdapat virus
dengue yaitu empat hari sebelum panas sampai tujuh hari setelah demam timbul.
Selanjutnya, nyamuk menjadi infektif selama 8-12 hari sesudah menghisap darah
penderita yang sedang viremia (periode inkubasi ekstrinsik) dan tetap infektif
selama hidupnya. Setelah melalui periode inkubasi ekstrinsik tersebut, kelenjar
ludah nyamuk bersangkutan akan terinfeksi dan virusnya akan ditularkan ketika
nyamuk tersebut menggigit dan mengeluarkan cairan ludahnya ke dalam luka
2
gigitan ke tubuh orang lain. Setelah masa inkubasi di tubuh manusia selama 7-12
hari timbul gejala awal penyakit secara mendadak yang ditandai demam, pusing,
myalgia (nyeri otot), hilangnya nafsu makan dan berbagai tanda atau gejala
lainnya.
Untuk itu perlu adanya upaya untuk penanganan pencegahan penyakit
DBD ini. Salah satu cara untuk mengurangi terjadinya kasus DBD adalah dengan
melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat pesisir mengenai langkahlangkah sederhana untuk mencegah terjadinya DBD. Namun, dalam melakukan
promosi kesehatan diperlukan strategi khusus agar bisa mengadvokasi,
memberikan dukungan sosial serta pemberdayaan kepada masyarakat pesisir.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia merumuskan pengertian
promosi kesehatan adalah upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat
dalam mengendalikan faktor-faktor kesehatan melalui pembelajaran dari, oleh,
untuk dan bersama masyarakat, agar mereka dapat menolong dirinya sendiri serta
mengembangkan kegiatan yang bersumberdaya masyarakat, sesuai sosial budaya
setempat dan didukung oleh kebijakan publik yang berwawasan kesehatan.
(Keputusan Menteri Kesehatan No. 1114/Menkes/SK/VIII/2005).
Menelaah Keputusan Menteri Kesehatan tersebut di atas, dalam realisasinya
tampak bahwa tujuan dari penerapan promosi kesehatan adalah meningkatkan
kemampuan masyarakat untuk menolong diri sendiri dengan memanfaatkan daya
masyarakat itu sendiri sesuai dengan sosial budaya yang berlaku dengan didukung
oleh kebijakan publik yang terkait.
Dengan kata lain, masyarakat mampu berperilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS) dalam rangka memecahkan masalah-masalah kesehatan yang dihadapinya
(problem solving), baik masalah-masalah kesehatan yang sudah diderita maupun
yang potensial (mengancam), secara mandiri (dalam batas-batas tertentu)
termasuk penyakit DBD.
3
Seperti diketahui bahwa masalah-masalah potensial yang mengancam di
masyarakat tentunya beragam, tergantung dari banyak faktor. Di daerah pedesaan
terutama di wilayah pesisir, kesadaran akan kesehatan masyarakat secara turun
temurun sudah diperkenalkan oleh leluhur masyarakat, tetapi kebanyakan tidak
disertai dengan peningkatan wawasan maupun pemahaman kesehatan yang
diperbaharui. Pada beberapa daerah lebih banyak didasarkan pada tahayul atau
kebiasaan masyarakat yang diyakini secara budaya dan bukan pada pengkajian
maupun penelitian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Berdasarkan kondisi masyarakat pesisir tersebut di atas, maka penerapan
promosi kesehatan perlu menerapkan strategi tertentu yaitu dengan adanya upaya
advokasi, dukungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Upaya inilah yang
disebut sebagai misi dalam promosi kesehatan.
Word Health Organization (WHO) merumuskan bahwa dalam mewujudkan
visi dan misi promosi kesehatan secara efektif menggunakan tiga strategi pokok
dalam upaya penanaganan penyakit demam berdarah dengue, yaitu:
1. Advokasi/ Advocacy
Advokasi adalah strategi untuk mempengaruhi para pengambil keputusan
khususnya pada saat mereka menetapkan peraturan, mengatur sumber daya dan
mengambil keputusan-keputusan yang menyangkut khalayak masyarakat.
Hal tersebut menunjukkan bahwa advokasi diartikan sebagai upaya
pendekatan terhadap orang lain yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap
keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan. Oleh karena itu yang
menjadi sasaran advokasi adalah para pemimpin atau pengambil kebijakan (policy
makers) atau pembuat keputusan (decision makers) baik di institusi pemerintah
maupun swasta.
Sejalan dengan misi advokasi, promosi kesehatan harus dapat membuat
kondisi politik, ekonomi, sosial, budaya, lingkungan dan perilaku menjadi
menguntungkan bagi kesehatan. Kegiatan advokasi ini dilakukan terhadap para
4
pengambil keputusan dari berbagai tingkat dan sektor terkait dengan kesehatan.
Tujuan kegiatan ini adalah meyakinkan para pejabat pembuat keputusan atau
penentu kebijakan bahwa program kesehatan yang akan dilaksanakan tersebut
penting (urgent).
Pemerintah telah melakukan berbagai upaya dalam menanggulangi
munculnya kasus-kasus DBD. Namun, pemerintah tidak dapat melaksanakan
sendiri tanpa peran berbagai pihak untuk melaksanakan tugasnya. Sehingga salah
satu cara untuk memperlancar palaksanaannya adalah dengan mempergunakan
hukum dan perundang-undangan seperti yang terdapat dalam pasal 5 UU No.36
tahun 2009 disebutkan bahwa “Setiap orang mempunyai hak yang sama dalam
memperoleh derajat kesehatan”. Dalam pasal 14 juga disebutkan bahwa
“Pemerintah bertanggung jawab merencanakan, mengatur, menyelenggarakan,
membina dan mengawasi penyelenggaraan upaya kesehatan yang merata dan
terjangkau oleh masyarakat”
Kementerian kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam
mengatasi kasus ini. Pada awalnya strategi yang digunakan adalah memberantas
nyamuk dewasa melalui pengasapan, kemudian strategi diperluas dengan
menggunakan larvasida yang ditaburkan ke tempat penampungan air yang sulit
dibersihkan. Akan tetapi kedua metode tersebut sampai sekarang belum
memperlihatkan hasil yang memuaskan.
Dengan diberlakukannya UU No.32 tahun 2004 sebagai revisi UU No.22
tahun 1999 tentang pemerintahan daerah serta Peraturan Pemerintah No.25 tahun
2000 tentang kewenangan pemerintah dan kewenangan provinsi sebagai daerah
otonom telah terjadi pelimpahan kewenangan dari pusat ke daerah termasuk
didalamnya
kewenangan
dalam
bidang
kesehatan.
Namun
kelambanan
penanganan merebaknya penyakit demam berdarah itu tidak lepas dari kendala
jarak dalam hubungan struktural antara pemerintah pusat dan pemerintah
kabupaten/kota sebagai pelaksana program penanganan penyakit DBD.
5
Selain itu, kemampuan ekonomi masyarakat daerah pesisir pada umumnya
rendah sehingga tidak bisa membelanjakan uangnya untuk kepentingan yang
sifatnya sekunder. Setelah mendapat rumah untuk berteduh dirasa sudah cukup,
tetapi tidak pernah memikirkan lingkungan yang juga merupakan kebutuhan hidup
mereka. Akibatnya sosialisasi mengenai bahaya serangan DBD di daerah pesisir
sangat kurang. Hal inilah yang menyebabkan mengapa penyakit DBD ini terus
berulang-ulang dan cenderung makin besar terutama di daerah pesisir. Di sisi lain,
perilaku masyarakat telah menambah suburnya populasi nyamuk Aedes aegypti
terutama di daerah pesisir, yaitu karena terdapat banyak genangan air, terbatasnya
pasokan air bersih, manajemen pengelolaan yang tidak sempurna dan manajemen
lingkungan yang tidak professional. Semua itu menimbulkan bertambahnya
tempat-tempat yang dapat dipakai bersarang dan berkembang biaknya nyamuk
tersebut.
Kurangnya informasi yang benar tentang penanggulangan penyakit DBD
kepada masyarakat pesisir juga menyebabkan semakin sulitnya mengetahui cara
yang tepat untuk penanganan penyakit DBD. Padahal masyarakat seharusnya
memiliki tanggung jawab yang besar dalam penanggulangan penyakit DBD ini.
Tanggung jawab seharusnya berjenjang dari pihak terkecil seperti tanggung jawab
RT/RW, lalu tanggung jawab pemerintah daerah. Pada kenyataannya semua itu
memiliki aturan, akan tetapi tidak pernah dilaksanakan. Ini semua disebabkan
karena mentalitas baik masyarakat maupun pemerintah tidak siap dengan
perubahan lingkungan
Disamping itu, untuk menekan angka kejadian demam DBD, pemerintah
dalam hal ini Kementerian Kesehatan juga telah menerapkan beberapa program
untuk mencegah penyakit DBD salah satunya ialah dengan menggalakkan
program satu rumah satu juru pemantau jentik (jumantik). Dalam program ini,
satu anggota keluarga diharapkan bisa menjadi juru pemantau jentik di rumahnya
sendiri.
6
Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian
kesehatan, Mohamad Subuh pada tahun 2016 yang lalu mengatakan juru
pemantau jentik dalam suatu rumah tangga nantinya akan memastikan bahwa
tidak ada jentik di tempat tinggalnya sehingga kasus penularan virus DBD dari
nyamuk Aedes Aegypti dapat ditekan. Hal ini dapat diterapkan semaksimal
mungkin terutama di wilayah pesisir untuk mengurangi jentik nyamuk yang ada di
sekitar pesisir.
Selain kegiatan juru pemantau jentik, juga dapat dilakukan kegiatan
kunjungan masing-masing rumah warga untuk melakukan pemeriksaan bak
mandi/WC, tempayan, drum dan tempat penampungan air lainnya. Kemudian
memberitahukan kepada masyarakat pesisir cara yang paling efektif dalam
mencegah penyakit DBD dengan melakukan cara yang disebut dengan “3M Plus”
yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus
seperti memelihara ikan pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan
kelambu pada waktu tidur, memasang kasa, menyemprot dengan insektisida,
menggunakan repellent, memasang obat nyamuk, memeriksa jentik berkala dan
lain-lain.
2. Dukungan social / Social support
Dukungan sosial adalah upaya menciptakan opini atau lingkungan sosial
yang mendorong individu anggota masyarakat agar dapat melakukan perilaku
yang diperkenalkan. Seseorang akan terdorong dapat melakukan sesuatu apabila
lingkungan sosial di mana pun ia berada seperti keluarga di rumah, orang-orang
yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama dan bahkan
masyarakat umum memiliki opini yang positif terhadap perilaku tersebut.
Dukungan sosial (social support) adalah strategi dukungan sosial dalam
bentuk kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh -tokoh masyarakat
(toma), baik tokoh masyarakat formal maupun informal. Dukungan sosial juga
mempunyai misi mediator atau menjembatani antara sektor kesehatan dengan
sektor yang lain sebagai mitra (social support) dengan pemerintah dan lembaga
7
non pemerintah, dunia industri dan media sehingga terjadi aksi terkoordinasi
untuk kesehatan
Strategi dukungan sosial perlu ditetapkan di daerah pesisir untuk
menciptakan norma-norma dan kondisi atau situasi kondusif di masyarakat dalam
mendukung perilaku hidup bersih dan sehat. Tujuan utama strategi ini adalah agar
para tokoh masyarakat pesisir sebagai jembatan, sektor kesehatan sebagai
pelaksana program kesehatan dengan masyarakat pesisir sebagai penerima
program
kesehatan
dapat
mensosialisasikan
program-program
kesehatan
mengenai penanganan DBD, agar masyarakat mau menerima dan mau
berpartisipasi terhadap program penanganan DBD tersebut. Oleh sebab itu,
strategi ini juga dapat dikatakan sebagai upaya bina suasana, atau membina
suasana yang kondusif terhadap kesehatan. Bentuk kegiatan dukungan sosial ini
antara lain pelatihan dan bimbingan para tokoh masyarakat pesisir untuk
mencegah terjadinya DBD.
Pada proses penerapannya, dukungan sosial dapat dilakukan dengan
berbagai macam pendekatan yaitu :
1) Pendekatan individu
Dengan pendekatan ini diharapkan menjadi individu-individu
panutan dalam hal perilaku yang sedang diperkenalkan. Yaitu dengan
bersedia mempraktikkan perilaku yang sedang diperkenalkan tersebut.
misalnya seorang pemuka agama yang melaksanakan 3M yaitu
Menguras, Menutup dan Mengubur demi mencegah munculnya wabah
DBD serta dapat diupayakan agar mereka bersedia menjadi kader dan
turut menyebarluaskan informasi mengenai pencegahan penyakit DBD
guna menciptakan suasana yang kondusif bagi perubahan perilaku
individu.
2) Pendekatan kelompok
Bina Suasana Kelompok ditujukan kepada kelompok-kelompok
dalam masyarakat daerah pesisir, seperti pengurus Rukun Tetangga
8
(RT), pengurus Rukun Warga (RW), Majelis Pengajian, Perkumpulan
Seni,
Organisasi
Profesi,
Organisasi
Wanita,
Organisasi
Siswa/Mahasiswa, Organisasi Pemuda dan lain-lain.
Dengan
pendekatan
ini
diharapkan
kelompok
dalam
masyarakat menjadi peduli terhadap perilaku yang tepat dalam upaya
penanganan DBD.
3) Pendekatan Masyarakat Umum
Pendekatan masyarakat umum dilakukan terhadap masyarakat
umum dengan membina dan memanfaatkan media-media komunikasi
seperti radio, televisi, koran, majalah, situs internet dan lain-lain
sehingga dapat tercipta pendapat umum yang positif tentang perilaku
dalam upaya penanganan penyakit DBD tersebut. Dengan pendekatan
ini diharapkan masyarakat Indonesia khususnya di wilayah pesisir
dapat selalu menerima informasi mengenai perkembangan kasus
penyakit DBD dan dapat mengetahui langkah-langkah penanganan
penyakit DBD karena penerimaan informasi tidak harus melalui
pendekatan langsung akan tetapi dapat diakses dimana saja dengan
memanfaatkan media komunikasi yang ada.
3. Pemberdayaan masyarakat/Empowerment
Pemberdayaan masyarakat ialah upaya atau proses untuk menumbuhkan
kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi,
memelihara, melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri
(Notoatmodjo, 2007). Sedangkan batasan pemberdayaan dalam bidang kesehatan
meliputi upaya untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan dan kemampuan dalam
memelihara dan meningkatkan kesehatan.
Pranarka & Vidhyandika (1996) menjelaskan bahwa proses pemberdayaan
mengandung dua kecenderungan yaitu :
Pertama, proses pemberdayaan yang menekankan pada proses memberikan
atau mengalihkan sebagian kekuatan, kekuasaan atau kemampuan kepada
9
masyarakat agar individu lebih berdaya. Kedua, menekankan pada proses
menstimulasi, mendorong atau memotivasi individu agar mempunyai kemampuan
atau keberdayaan untuk menentukan apa yang menjadi pilihan hidupnya melalui
proses dialog.
Sesungguhnya dalam melakukan pemberdayaan masyarakat, yang kita tuju
adalah kemandirian masyarakat. Yaitu dengan memfasilitasi mereka untuk
memahami masalah, mencari dan menjalankan pemecahannya untuk kehidupan
mereka sendiri. Hal yang penting dipahami juga adalah salah satu bagian yang
tidak bisa terpisahkan dalam pemberdayaan masyarakat adalah citra diri petugas
kesehatan. Citra diri petugas kesehatan tentu akan berpengaruh terhadap
penerimaan masyarakat. Adanya personal branding yang positif tentunya akan
menunjang keberhasilan pemberdayaan masyarakat tersebut. Selanjutnya Image
dan merek yang di miliki oleh tenaga kesehatan sangat berpengaruh pada
penerimaan masyarakat terhadap apa saja yang tenaga kesehatan berikan untuk
mereka. Jadi, mereka akan sangat tergantung kepada tenaga kesehatan juga.
Dalam hal ini, pemberdayaan masyarakat (Enable/Empowerment dalam
Promosi kesehatan mempunyai misi utama memampukan masyarakat (enable),
membuat masyarakat mampu memelihara dan meningkatkan kesehatan secara
mandiri, dengan menggali seluruh potensi yang ada untuk perbaikan kesehatan,
dengan memberikan pelatihan, pemberian informasi dan lingkungan yang
mendukung.
Dalam realisasi kasus DBD, untuk mencapai sasaran agar masyarakat
mengetahui mengenai penyakit DBD, kemudian bersedia dan dapat melaksanakan
upaya untuk mengurangi tingkat penyebarannya, tidak cukup hanya dengan
informasi yang diterimanya saja. Masyarakat memang perlu mengetahui mengenai
masalah DBD dalam lingkungannya maupun mengenai masalah yang umum
terjadi dalam lingkungan tempat tinggalnya dalam hal ini wilayah pesisir. Lebih
jauh lagi, agar masyarakat pesisir bersedia untuk mengurangi DBD di lingkungan
dan juga kehidupannya, mereka perlu mengetahui informasi mengenai bahaya
10
DBD yang terkait dengan kesehatan serta bagaimana cara mengatasi masalah
DBD sekaligus mencegah agar tidak terjadi lagi masalah yang sama. Agar
masyarakat mampu melakukan pencegahan secara luas dalam lingkungan tempat
tinggalnya, mereka perlu mendapatkan informasi lebih jauh dan mendetail
mengenai pencegahan masalah DBD tersebut.
Berbicara mengenai strategi dalam upaya penanganan penyakit DBD di
wilayah pesisir, tidak terlepas dari peran seseorang di dalamnya yaitu peran
seorang pemuda. Pemuda ialah seseorang yang memegang peranan penting untuk
menyongsong kehidupan selanjutnya. Sebagai agent of change atau agen
perubahan pemuda ialah harta yang paling berharga yang dimiliki oleh bangsa ini.
Karena kemajuan dan kehancuran bangsa berada tangan mereka. Dalam kasus
penanganan penyakit demam berdarah dengue, pemuda menjadi pelopor untuk
memberantas penyakit ini, yaitu dimulai dengan melakukan hal-hal kecil seperti
ikut berkontribusi dalam melakukan penyuluhan terkait pencegahan penyakit
DBD, menjadi duta lingkungan yang selalu menjaga kebersihan agar dapat
mengurangi jentik nyamuk. Pada dasarnya, semua hal kecil tersebut harus mulai
dilakukan oleh diri sendiri. jangan mengajak orang lain berperilaku hidup sehat
kalau kita membuangan sampah sembarangan di tempat umum serta jangan
mengajak orang optimis pada suatu hal kalau kita selalu gagal akan hal tersebut.
Indonesia bebas dari DBD, ayo mulai dari kita !!!.
11
DAFTAR PUSTAKA
1
Departemen Kesehatan RI. 2007. Demam berdarah. Jakarta: Depkes RI.
2
Departemen Kesehatan RI. 2004. Perilaku dan Siklus Hidup Nyamuk Aedes
Aegypti sangat Penting Diketahui dalam Melakukan Kegiatan Pemberantasan
Sarang Nyamuk Termasuk Pemantauan Jentik Berkala. Jakarta: Depkes RI
3
Notoatmodjo, Soekidjo. 2010. Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rinek
Cipta : Jakarta
4
Departemen Kesehatan RI. 1997. Deklarasi Jakarta Tentang Promosi Kesehatan
pada Abad 21. Jakarta: PPKM Depkes RI
5
Ewles, L, Simnett, I. 1994. Promoting Health : A Practical Guide. Emilia, O
(Alih Bahasa).Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
6
Notoatmodjo, Soekidjo. (2010). Promosi Kesehatan Teori dan Aplikasi. Rineka
Cipta : Jakarta
7
French, J. (1990). Boundaries and horizons, the role of health education within
health promotion. Health Education Journal 49: 7-10
8
Bunton, R. (1992). More than a woolly jumper health promotion as social
regulation.Critical Public Health 3: 4-11
9
Dignan, M.B., Carr, P.A. (1992). Program Planning for Health Education and
Promotion. 2nd ed. Philadelphia: Lea & Febiger
10
Departemen Kesehatan RI. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Pemberantasan
Sarang Nyamuk DBD (PSN-DBD) oleh Juru Pemantau Jentik (Jumantik).
Jakarta: Ditjen PPM- PLP
11
Departemen Kesehatan RI. 2007. Ayo Lakukan Gerakan Pemberantasan
Sarang Nyamuk Demam Berdarah. Jakarta: Pusat Promosi Kesehatan.
12
Download