BAB I

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita akan berinteraksi dengan keluarga dan
masyarakat. Dalam keluarga kita akan bertemu dengan ayah, ibu, kakak maupun
adik serta nenek dan kakek. Sedangkan dalam masyarakat kita bertemu dengan
tetangga dekat maupun jauh, tokoh masyarakat, ketua RT dan lain-lain. Serta di
sekolah kita akan bertemu dengan teman-teman, guru, kepala sekolah, karyawan
dan lain-lain.
Melihat kenyataan di atas, maka perlu adanya kecerdasan emosional
dalam diri kita semua. Kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk
mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain, kemampuan memotivasi
diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan
dalam hubungan dengan orang lain.1
Adapun dalam keluarga yang kehidupannya aman dan tentram, maka
emosinya akan stabil serta cenderung akan bersikap dengan ramah, berkelakuan
baik sesuai dengan norma yang telah diajarkan dalam keluarga, bertanggung
jawab dengan apa yang dilakukannya. Meskipun ia berkelakuan buruk maka ia
1
Agus Nggermanto, Quantum Quetiont, (Bandung: PT. Nuansa, 2005), hal. 98.
1
2
akan berpikir ulang sebab dengan ia berbuat buruk, perbuatannya itu akan
merugikan dirinya sendiri dan orang lain.
Apabila perkembangan emosinya dalam iklim yang kondusif, cenderung
akan memperoleh perkembangan emosinya secara matang, kematangan emosi ini
ditandai oleh 1). Adekuasi emosi: cinta kasih, simpati, altruis, (senang menolong
orang lain), dan ramah, 2). Mengendalikan emosi, tidak mudah tersinggung,
bersikap optimis dan tidak pesimis (putus asa) dan dapat menghadapi situasi
frustasi secara wajar.2 Kondisi diatas akan terwujud individu apabila dididik
dengan keluarga yang kondusif. Sedangkan apabila dididik dengan keluarga yang
(keluarga yang berantakan), maka sikapnya akan pendiam, kurang bergaul,
senang mengganggu, tidak percaya diri, banyak melamun, berbuat sesuai dengan
kemauannya sendiri tanpa menghiraukan orang lain, minum-minuman keras, atau
obat-obatan terlarang, sulit diatur dan masih banyak lagi yang akan cenderung
keperbuatan yang negatif.
Dalam menghadapi ketidaknyamanan emosional tersebut tidak sedikit
sikap yang mereaksi secara depensif, sebagai upaya untuk melindungi kelemahan
dirinya. Reaksi itu tampil dalam tingkah laku malasuai (maladjusment) seperti, 1)
Agresif: melawan, keras kepala, bertengkar, berkelahi, dan senang mengganggu,
2
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, (Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya, 2005), hal. 197-198.
3
dan 2). Melarikan diri dari kenyataan, melamun, pendiam, senang menyendiri,
dan meminum-minuman keras atau obat-obatan terlarang.3
Melihat kesenjangan antara (idea, cita) dengan kenyataan (realita, fakta)
yang ada di atas, maka diharapkan akan muncul sikap yang:
1. Menjamin hubungan yang baik dengan para anggota keluarga (orang tua dan
saudara).
2. Menerima otoritas orang tua (mau menaati peraturan yang ditetapkan orang
tua karena itu baik untuk dirinya).
3. Menerima tanggung jawab dan batasan-batasan (norma) keluarga.
4. Berusaha untuk membantu anggota keluarga, sebagai individu maupun
kelompok dalam mencapai tujuannya.
Kemudian dalam lingkungan sekolah, sikap juga akan mempengaruhi kita
ataupun diri seseorang dalam bergaul dengan teman, guru, karyawan sekolah
maupun kepala sekolah. Maka dari itu, perkembangan sikap sosial yaitu
kemampuan untuk memahami orang lain, itu sangat penting di dalam kehidupan
sehari-hari. Di lingkungan sekolah kita diajarkan atau dididik dengan baik oleh
bapak dan ibu guru. Apabila kita bersikap baik maka akan mendapatkan hadiah
atau pujian. Sebaliknya bila berbuat buruk, maka akan mendapat hukuman. Maka
3
Ibid., hal. 197.
4
dari itu, diperlukan kebiasaan dalam bersikap. Kebiasaan adalah cara bertindak
atau berbuat seragam.
Menurut Wetherington, dalam pembentukan kebiasaan ada 2 macam,
yaitu pengulangan dengan disengaja dan direncanakan.4 Dengan kita bersikap
baik dengan siapapun dilingkungan sekolah dan dilakukan berulang-ulang tanpa
memperdulikan pada siapa kita berbuat baik yang penting kita ikhlas. Maka kita
akan banyak teman dan disukai banyak orang. Sebaliknya apabila kita berbuat
buruk tidak banyak teman dan cenderung dijauhi teman. Maka melihat kejadian di
atas, diharapkan akan muncul sikap sebagai berikut:
1. Bersikap respek dan mau menerima peraturan sekolah
2. Berpartisipasi dalam kegiatan sekolah-sekolah
3. Menjalin persahabatan dengan teman-teman di sekolah
4. Bersikap hormat terhadap guru, pemimpin sekolah, dan staf lainnya.
5. Membantu sekolah dalam merealisasikan tujuan-tujuannya.5
Kemudian dalam lingkungan masyarakat, kecerdasan emosi akan sangat
berguna karena emosi kita akan terkendali dan dalam berinteraksi dengan
masyarakat juga mudah. Dan sebaliknya apabila kita tidak bisa mengendalikan
emosi, maka dalam berinteraksi akan sulit dan cenderung akan dijauhi. Sebab
4
5
Jalaludin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hal. 218.
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak . . ., hal.199.
5
kurang bisa mengendalikan emosi dan berbuat tidak sesuai dengan norma yang
ada dalam masyarakat hal ini dapat di perjelas dengan kenyataan yang ada, bahwa
dalam beberapa dasawarsa terakhir ini jumlah pembunuhan kaum remaja telah
meningkat menjadi empat kali lipat. Jumlah bunuh diri telah meningkat tiga kali
lipat sedangkan pemerkosaan telah berlipat dua kali. Menurut Yasin Musthofa
bahwa anak-anak zaman sekarang lebih gampang untuk marah, resah, murung,
memberontak, dan menurutkan dorongan kata hati.6 Dengan adanya berbagai
konflik di atas, diharapkan sikap sosial yang sangat memprihatinkan akan
berkurang, kedepannya akan lebih terkontrol dan itu harus dimulai dengan diri
kita sendiri, dari lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Melihat kesenjangan antara (idea, cita) dengan kenyataan (realita, fakta)
antara apa yang seharusnya ada dengan apa yang nyata-nyata ada dalam
pengembangan sikap sosial remaja, dapat berupa adanya perbedaan bahkan
bertentangan pemikiran terhadap suatu hal pengembangan sikap sosial remaja,
sehingga akibat dari pengaruh lingkungan, keluarga, sekolah dan masyarakat
diharapkan sikap sosial remaja akan sesuai dengan norma-norma yang ada. Atas
dasar tersebut, ketidak sesuaian antara yang seharusnya dengan kenyataan yang
timbul dalam pengembangan sikap sosial remaja yang perlu dicari kejelasannya.
Terutama hal-hal yang melatarbelakangi munculnya masalah diatas. Supaya dapat
6
Yasin Mustofa, EQ untuk Anak Usia Dini dalam Pendidikan Islam, (Yogyakarta: PT:
Sketsa, 2007), hal. 12.
6
dengan jelas diketahui duduk masalahnya dan dapat ditentukan dengan jelas
pemecahannya atau penyelesaiannya dengan tepat yang secara akademis menjadi
pendorong bagi penulis untuk mengkaji lebih mendalam yang hasilnya
dituangkan dalam Skripsi ini dengan tema “Konsep Kecerdasan Emosional dalam
Pengembangan Sikap Sosial Remaja”.
B. Permasalah Penelitian
1. Identifikasi Masalah
Untuk memperjelas yang akan diteliti lebih lanjut, maka dari latar
belakang masalah di atas dapat dikenali masalah yang relatif banyak seperti di
bawah ini:
a. Kecerdasan Emosional dalam pengembangan sikap sosial remaja di
keluarga
1) Pengertian kecerdasan emosional
2) Manfaat memiliki kecerdasan emosional
3) Ciri-ciri kecerdasan emosional
4) Dasar-dasar kecerdasan emosi dan sosial
5) Pengertian sikap sosial
6) Pembentukan dan perubahan sikap sosial
7) Ciri-ciri dan fungsi sikap sosial
8) Tinjauan tentang konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan
sikap sosial
7
b. Kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap sosial remaja di
sekolah
1) Pengertian sekolah
2) Pergaulan dengan guru, karyawan dan teman
c. Kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap sosial remaja di
masyarakat
1) Pengertian masyarakat
2) Keuntungan memiliki kecerdasan emosional di masyarakat
2. Pembatasan Masalah
Agar permasalahan yang dikaji lebih lanjut dapat benar-benar
memfokus maka masalah-masalah yang didentifikasi tersebut dibatasi
menjadi:
a. Konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap sosial remaja
di keluarga.
b. Konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap sosial remaja
di sekolah.
c. Konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap sosial remaja
di masyarakat.
3. Rumusan Masalah
Berpijak kepada latar belakang di atas, maka permasalahan yang ingin
diungkap dalam skripsi ini adalah:
8
a. Bagaimana konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap
sosial remaja di keluarga?
b. Bagaimana konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap
sosial remaja di sekolah?
c. Bagaimana konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap
sosial remaja di masyarakat?
C. Tujuan Kajian
Berangkat dari formulasi perumusan masalah di atas, maka ada beberapa
hal mendasar yang menjadi tujuan dari penulisan skripsi ini, yaitu:
a. Untuk mengetahui konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap
remaja di keluarga.
b. Untuk mengetahui konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap
remaja di sekolah.
c. Untuk mengetahui konsep kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap
remaja di masyarakat.
D. Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan bagian penting dari penelitian literatur yang
berfungsi untuk merujuk teori tertentu dari kajian atau hasil penelitian seseorang
sebelum penulis merumuskan kembali kesimpulan hasil penelitian berdasarkan
perumusan masalah. Dalam penelitian ini, penulis merujuk teori Daniel Goleman
9
tentang kajian kecerdasan emosional dan kontribusinya dalam kesuksesan hidup
seseorang. Lebih dari itu peneliti juga merujuk dari beberapa teori serupa yang
disampaikan oleh Ary Ginanjar, tentang konsep rukun Islam, rukun iman dan
ihsan serta dalam bukunya yang lain tentang pencarian jati diri manusia
bersumber dari Tuhan, yang menggabungkan antara IPTEK (Ilm Pengetahuan dan
Teknologi) berbasis digital serta didukung dengan Imtak (iman dan takwa) digital.
Suharsono tentang konsep dan cara-cara melejitkan tiga kecerdasan yaitu
kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual. Utsman
Najati tentang kecerdasan emosional, sosial dan spiritual yang dicontohkan oleh
Nabi. Mas Udik Abdullah tentang kecerdasan lahir dan batin (IESQ) yang
mengacu kepada keimanan dan kebersihan hati serta kejernihan akal berdasarkan
pada bimbingan wahyu (Al-Qur'an).
Terkait dengan masalah kecerdasan emosional dalam diri remaja. Penulis
mengembangkan sikap sosial dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa teori tentang
pengembangan sikap sosial yang dijadikan sumber rujukan oleh peneliti adalah
Alex Sobur tentang psikologi penting agi mereka yang dalam kehidupannya
selalu berhubungan dan bersama orang lain, yang dibutuhkan atau dipelajari, oleh
mereka dalam tugas dan jabatannya akan bekerja bersama orang lain. Abu
Ahmadi tentang menyelidiki dan mempelajari masalah-masalah sosial nyata yang
tampak sehari-hari di dalam kehidupan sehari-hari.
Yasin Mustofa tentang
konsep kecerdasan emosional pada anak usia dini dalam pendidikan Islam adalah
pendidikan Islam yang bukan hanya memahami akal anak didik saja tetapi juga
10
menanamkan ajaran Islam yang bersumber pada Al-Qur'an dan As-Sunnah yang
direalisasikan dalam sikap dan perilaku kehidupan anak semenjak usia dini. Toto
Tasmara tentang proses berkelanjutan manusia dalam mengelola kecintaannya
(mahabbah) kepada Allah secara kontinyu sesuai dengan manhaj-Nya (Al-Qur'an
dan Sunnah) Syamsul Yusuf tentang proses perubahan sikap dan tingkah laku
individu pada setiap fase perkembangannya, baik menyangkut aspek fisik,
kecerdasan, emosi, sosial, kepribadian maupun moral. Perlu dipahami secara dini
agar dapat dipersiapkan berbagai upaya yang memfasilitasinya atau iklim
lingkungan belajar yang sehat dan kondusif. Referensi yang penulis sampaikan
berisi tentang konsep umum tentang pengembangan sikap sosial bagi remaja.
Dengan berbagai rujukan yang penulis sampaikan diharapkan kesimpulan akhir
dapat ditarik benang merah seluruh pembahasan dalam skripsi ini.
E. Penegasan Istilah
Agar sejak awal para pembaca dapat secara tegas memperoleh kesamaan
pemahaman mengenai konsep yang terkandung dalam tema skripsi beserta yang
akan dikaji atau diselidiki, sehingga pembaca tidak memberikan persepsi yang
berbeda terhadapnya maka penulis merasa perlu memaparkan penegasan istilah
yang menjadi kata kunci dari tema skripsi berikut:
11
1. Secara Konseptual
a
Kecerdasan Emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan kita
sendiri dan perasaan orang lain kemampuan memotivasi diri sendiri dan
kemampuan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan dalam
hubungan orang lain.7
b
Pengembangan adalah proses, cara, perbuatan mengembangkan.8
c
Sikap adalah pengalaman tentang suatu obyek atau persoalan.9
d
Sosial adalah berkenaan dengan masyarakat perlu adanya komunikasi - dalam usaha menunjang pembangunan.10
e
Menurut Salzaman mengemukakan bahwa remaja merupakan masa
perkembangan sikap tergantung terhadap orang tua kearah kemandirian,
minat-minat seksual, perenungan diri dan perhatian terhadap nilai-nilai
estetika dan isu-isu sosial.11
2. Secara Operasional
Dari judul diatas yaitu konsep kecerdasan emosional dalam
pengembangan sikap sosial remaja. Dititik beratkan pada remaja, agar dalam
bersikap atau bertingkah laku ada pedoman atau pegangan, karena remaja
sekarang mempunyai kecerdasan intelektual tinggi tetapi tidak di imbangi
7
Agus Nggermanto, Quantum Quetiont, (Bandung: PT. Nuansa, 2005), hal. 98.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1989), hal. 414
9
Alex Sobur, Psikologi Umum, (Bandung: PT. Pustaka Setia, 2003), hal. 356.
10
Tim Penyusun Kamus Bahasa Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta : Balai
Pustaka, 2002 ), hal.1085.
11
Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan . . . , hal. 184
8
12
dengan kecerdasan emosional tinggi. Maka dari itu diharapkan kedepannya
para remaja memiliki keseimbangan dalam menjalankan kehidupannya seharihari.
Pengembangan sikap sosial adalah proses dalam bersikap sesuai
dengan norma-norma yang ada, dan sikap itu dapat dibentuk melalui
pengalaman pribadi, pengaruh orang lain yang dianggap penting, pengaruh
kebudayaan, media massa, lembaga pendidikan da lembaga agama dan
pengaruh faktor emosional.
Maka bersikap sesuai dengan norma-norma yang ada baik itu dalam
keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dengan begitu remaja nantinya
menjadi contoh yang baik.
F. Manfaat Penelitian
1. Secara Teoritis
a
Bagi Lembaga STAIN Tulungagung
Dapat diwujudkan sebagai khasanah bagi Mahasiswa dalam
mengkaji dan mendalami masalah konsep kecerdasan emosional dalam
pengembangan sikap sosial remaja.
b
Bagi Masyarakat Umum
Dapat dijadikan kontribusi, informasi dan pemikiran dalam
masyarakat.
13
2. Secara Praktis
Dapat menambah wawasan penulis dalam memahami kajian
kecerdasan emosional dalam pengembangan sikap sosial remaja yang akan
penulis bawa nantinya.
G. Metode Penelitian
1. Jenis Penelitian
Ditinjau dari sudut tempat aktifitas penyelidikan, penelitian ini dapat
dimasukkan dalam jenis kajian pustaka. Kajian pustaka adalah telaah yang
dilaksanakan untuk memecahkan suatu masalah yang pada dasarnya bertumpu
pada penelahaan kritis dan mendalam terhadap bahan-bahan pustaka dan
hasil-hasil penelitian terkait dengan topik (masalah) kajian.12
Ditinjau dari sudut cara dan taraf pembahasan masalah, penelitian ini
dapat dimasukkan dalam pola deskriptif. Dalam penelitian deskriptif
merupakan
metode
penelitian
yang
berusaha
menggambarkan
dan
menginterprestasikan objek sesuai dengan apa adanya.13
12
STAIN Tulungagung, Pedoman Penyusunan Skripsi, (Tulungagung: STAIN Tulungagung,
2005), hal. 35.
13
Sukardi, Metodologi Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya, (Jakarta: PT.
Bumi Aksara, 2007), hal. 157.
14
Sedangkan tujuan penelitian deskriptif menurut Sukardi, yaitu
menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek atau subjek
yang diteliti secara tepat.14
2. Data dan Sumber Data
Data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan
untuk menyusun suatu informasi, sedangkan informasi adalah hal pengolahan
data yang dipakai untuk suatu keperluan.15 Data yang digunakan dalam
penelitian kepustakaan ini adalah hasil catatan atau publikasi tentang konsep
kecerdasan emosional, konsep pengembangan sikap sosial dan remaja.
Adanya data tidak bisa lepas dari adanya sumber data yaitu subjek
darimana data itu diperoleh.16 Sumber data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah:
a. Sumber data primer yaitu sumber-sumber pustaka (buku-buku atau bahanbahan pustaka lain) yang berkaitan dengan masalah penelitian yang
sedang dikaji secara langsung. Sumber penelitian ini adalah al-Quran,
Dadang Sulaeman dalam bukunya Psikologi Remaja Dimensi-dimensi
Perkembangan. Daniel Goleman dalam bukunya Kecerdasan Emosional
dan Kecerdasan Emosi untuk mencapai puncak sukses. Syamsul Yusuf
dalam bukunya Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja.
14
Ibid., hal. 157.
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Yogyakarta: Rineka
Cipta, 2002), hal. 96
16
Ibid., hal. 96.
15
15
b. Sumber data sekunder yaitu sumber-sumber pustaka (buku-buku atau
bahan pustaka lain) yang berkaitan langsung dengan masalah penelitian
yang sedang di kaji akan tetapi data-data tersebut diperlukan guna
mendukung data primer adalah semua buku-buku yang ada hubungannya
dengan judul skripsi ini secara tidak langsung. Adapun yang menjadi data
sekunder penelitian ini adalah karangan Bimo Walgito dalam bukunya
Psikologi Sosial Suatu Pengantar Abu Ahmadi dalam bukunya Psikologi
Sosial. Sarlito Wirawan dalam bukunya Psikologi Sosial.
3. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar
untuk memperoleh data yang diperlukan.17 Sesuai dengan metode dengan
metode yang digunakan, maka pengumpulan data yang tepat digunakan kajian
pustaka
adalah
teknik
dokumentasi.
Menurut
Suharsimi
Arikunto,
dokumentasi dari asal kata dokumen yang artinya barang tertulis di dalam
melaksanakan metode dokumentasi. Peneliti menyelidiki benda-benda tertulis
seperti buku-buku, majalah, dokumentasi, peraturan-peraturan, notulen rapat,
catatan harian dan sebagainya.18 Maka penulis akan mengumpulkan data dari
buku-buku yang berkaitan dengan Konsep kecerdasan emosional dalam
pengembangan sikap sosial remaja.
17
18
Moh. Nazir, Metodologi Penelitian, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hal. 174
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian . . . , hal. 135.
16
4. Metode Analisis Data
Analisis data menurut Moleong, proses mengorganisasikan dan
mengurutkan data kedalam pola kategori dan satuan uraian dasar sehingga
ditemukan tema dan ditemukan hipotesis seperti yang disarankan oleh data.19
Dari pengumpulan data yang diperoleh ada beberapa metode yang perlu
dipahami dan diperhitungkan yaitu metode deduksi dan metode induksi.
a
Metode deduksi adalah kesimpulan yang ditarik atas dasar dari hal yang
umum ke hal yang bersifat khusus atau peristiwa.20
b
Metode induksi adalah kesimpulan yang ditarik dari peristiwa khusus
menuju hal yang bersifat umum, atau dari hal-hal yang khusus menuju ke
hal yang bersifat umum.21
Sistematika Pembahasan
Untuk melihat gambaran skripsi ini, maka ini dikemukakan tentang
pokok-pokok pikiran dari keseluruhan isi skripsi ini sehingga secara garis besar
dapat diketahui maksud dan gambaran umum dari skripsi ini akan penulis coba
deskripsikan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab I
: Pendahuluan berfungsi sebagai pola dasar keseluruhan skripsi, berisi
A. Latar Belakang Masalah
19
Lexy. J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2002), hal. 130.
20
Bimo Walgito, Pengantar Psikologi Umum, (Yogyakarta: PT. Andi Offset, 2004), hal. 187188.
21
Ibid., hal. 187.
17
B. Permasalahan Penelitian
1
Identifikasi Masalah
2
Pembatasan Masalah
3
Rumusan Masalah
C. Tujuan Kajian
D. Manfaat Penelitian
E. Tinjauan Pustaka
F. Penegasan Istilah
G. Metode Penelitian
H. Sistematika Pembahasan
Bab II
: Kecerdasan Emosional dalam Pengembangan Sikap Sosial Remaja di
Keluarga
A. Pengertian kecerdasan emosional
B. Manfaat memiliki kecerdasan emosional
C. Ciri-ciri kecerdasan emosional
D. Dasar-dasar kecerdasan emosi dan sosial
E. Pengertian sikap sosial
F. Pembentukan dan perubahan sikap sosial
G. Ciri-ciri dan fungsi sikap sosial
H. Tinjauan
tentang
konsep
kecerdasan
emosional
pengembangan sikap sosial remaja di keluarga
dalam
18
Bab III
: Kecerdasan Emosional dalam Pengembangan Sikap Sosial Remaja di
Sekolah
A. Pengertian Sekolah
B. Pergaulan dengan guru, karyawan dan teman
Bab IV
: Kecerdasan Emosional dalam Pengembangan Sikap
Sosial Remaja
di Masyarakat
A. Pengertian Masyarakat
B. Keuntungan Memiliki Kecerdasan Emosional di masyarakat
Bab V
: Penutup
A. Kesimpulan
B. Saran-saran
Download