Uploaded by User98234

LAPORAN PENDAHULUAN CA COLON (HOLIK) (Repaired)

advertisement
LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN KANKER
KOLOREKTAL DI RUANG INSTALASI GAWAT DARURAT (IGD)
RSUD ABDUL WAHAB SJAHRANIE
STASE KEPERAWATAN GAWAT DARURAT & KRITIS
DISUSUN OLEH:
ABDUL HOLIK SANJAYA
NIM. P2003001
PROGRAM PROFESI NERS
INSTITUSI TEKNOLOGI KESEHATAN DAN SAINS WIYATA HUSADA
SAMARINDA
2021
LAPORAN PENDAHULUAN
Colorectal Cancer
A. Konsep Dasar Kanker Kolorektal
1. Anatomi Pencarnaan
Gambar 1.1 anatomi system pencernaan
manusia
Fisiologi sistem pencernaan atau sistem gastroinstestinal (mulai dari
mulut sampai anus) adalah sistem organ dalam manusia yang berfungsi
untuk menerima makanan, mencernanya menjadi zat-zat gizi dan energi,
menyerap zat-zat gizi ke dalam aliran darah serta membuang bagian
makanan yang tidak dapat dicerna atau merupakan sisa proses tersebut
dari tubuh. Anatomi dan fisiologi sistem pencernaan yaitu :
a. Mulut
Merupakan suatu rongga terbuka tempat masuknya makanan dan air.
Mulut merupakan bagian awal dari sistem pencernaan lengkap dan
jalan masuk untuk system pencernaan yang berakhir di anus. Bagian
dalam dari mulut dilapisi oleh selaput lendir. Pengecapan dirasakan
oleh organ perasa yang terdapat di permukaan lidah. Pengecapan
sederhana terdiri dari manis, asam, asin dan pahit. Penciuman
dirasakan oleh saraf olfaktorius di hidung, terdiri dari berbagai macam
bau. Makanan dipotong-potong oleh gigi depan (incisivus) dan di
kunyah oleh gigi belakang (molar, geraham), menjadi bagian-bagian
kecil yang lebih mudah dicerna. Ludah dari kelenjar ludah akan
membungkus bagian-bagian dari makanan tersebut dengan enzimenzim pencernaan dan mulai mencernanya. Ludah juga mengandung
antibodi dan enzim (misalnya lisozim), yang memecah protein dan
menyerang bakteri secara langsung. Proses menelan dimulai secara
sadar dan berlanjut secara otomatis.
b. Tenggorokan (Faring)
Merupakan penghubung antara rongga mulut dan kerongkongan.
Didalam lengkung faring terdapat tonsil (amandel) yaitu kelenjar limfe
yang banyak mengandung kelenjar limfosit dan merupakan pertahanan
terhadap infeksi, disini terletak bersimpangan antara jalan nafas dan
jalan makanan, letaknya dibelakang rongga mulut dan rongga hidung,
didepan ruas tulang belakang keatas bagian depan berhubungan
dengan rongga hidung, dengan perantaraan lubang bernama koana,
keadaan tekak berhubungan dengan rongga mulut dengan perantaraan
lubang yang disebut ismus fausium. Tekak terdiri dari bagian superior
yaitu bagian yang sama tinggi dengan hidung, bagian media yaitu
bagian yang sama tinggi dengan mulut dan bagian inferior yaitu
bagian yang sama tinggi dengan laring. Bagian superior disebut
nasofaring, pada nasofaring bermuara tuba yang menghubungkan
tekak dengan ruang gendang telinga. Bagian media disebut
orofaring, bagian ini berbatas ke depan sampai di akar lidah. Bagian
inferior disebut laringofaring yang menghubungkan orofaring dengan
laring.
c. Kerongkongan (Esofagus)
Kerongkongan adalah tabung (tube) berotot pada vertebrata yang
dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam
lambung.
Makanan
berjalan
melalui
kerongkongan
dengan
menggunakan proses peristaltik. Esofagus bertemu dengan faring pada
ruas ke-6 tulang belakang. Menurut histologi, esofagus dibagi menjadi
tiga bagian yaitu bagian superior (sebagian besar adalah otot rangka),
bagian tengah (campuran otot rangka dan otot halus), serta bagian
inferior (terutama terdiri dari otot halus).
d. Lambung
Merupakan organ otot berongga yang besar, yang terdiri dari tiga
bagian yaitu kardia, fundus dan antrium. Lambung berfungsi sebagai
gudang makanan, yang berkontraksi secara ritmik untuk mencampur
makanan dengan enzim-enzim. Sel-sel yang melapisi lambung
menghasilkan 3 zat penting yaitu lendir, asam klorida (HCL), dan
prekusor
pepsin
(enzim
yang
memecahkan
protein).
Lendir
melindungi sel – sel lambung dari kerusakan oleh asam lambung dan
asam klorida
menciptakan
suasana yang sangat asam, yang
diperlukan oleh pepsin guna memecah protein. Keasaman lambung
yang tinggi juga berperan sebagai penghalang terhadap infeksi dengan
cara membunuh berbagai bakteri.
e. Usus halus (usus kecil)
Usus halus atau usus kecil adalah bagian dari saluran pencernaan yang
terletak di antara lambung dan usus besar. Dinding usus kaya akan
pembuluh darah yang mengangkut zat-zat yang diserap ke hati melalui
vena porta. Dinding usus melepaskan lendir (yang melumasi isi usus)
dan air (yang membantu melarutkan pecahan-pecahan makanan yang
dicerna). Dinding usus juga melepaskan sejumlah kecil enzim yang
mencerna protein, gula dan lemak. Lapisan usus halus terdiri dari
lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar, lapisan otot
memanjang dan lapisan serosa. Usus halus terdiri dari tiga bagian yaitu
usus dua belas jari (duodenum), usus kosong (jejunum), dan usus
penyerapan (ileum).
1) Usus Dua Belas Jari (Duodenum)
Usus dua belas jari atau duodenum adalah bagian dari usus halus
yang terletak setelah lambung dan menghubungkannya ke usus
kosong (jejunum). Bagian usus dua belas jari merupakan bagian
terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale dan
berakhir di ligamentum treitz. Usus dua belas jari merupakan
organ retroperitoneal, yang tidak terbungkus seluruhnya oleh
selaput peritoneum. pH usus dua belas jari yang normal berkisar
pada derajat sembilan. Pada usus dua belas jari terdapat dua muara
saluran yaitu dari pankreas dan kantung empedu. Lambung
melepaskan makanan ke dalam usus dua belas jari (duodenum),
yang merupakan bagian pertama dari usus halus. Makanan masuk
ke dalam duodenum melalui sfingter pilorus dalam jumlah yang
bisa di cerna oleh usus halus. Jika penuh, duodenum akan
megirimkan sinyal kepada lambung untuk berhenti mengalirkan
makanan.
2) Usus Kosong (Jejenum)
Usus kosong atau jejunum adalah bagian kedua dari usus halus, di
antara usus dua belas jari (duodenum) dan usus penyerapan
(ileum). Pada manusia dewasa, panjang seluruh usus halus antara
2-8 meter, 1- 2 meter adalah bagian usus kosong. Usus kosong dan
usus penyerapan digantungkan dalam tubuh dengan mesenterium.
Permukaan dalam usus kosong berupa membran mukus dan
terdapat jonjot usus (vili), yang memperluas permukaan dari usus.
3) Usus Penyerapan (Illeum)
Usus penyerapan atau ileum adalah bagian terakhir dari usus halus.
Pada sistem pencernaan manusia ileum memiliki panjang sekitar
2- 4 m dan terletak setelah duodenum dan jejunum, dan dilanjutkan
oleh usus buntu. Ileum memiliki pH antara 7 dan 8 (netral atau
sedikit basa) dan berfungsi menyerap vitamin B12 dan garam
empedu.
f. Usus Besar (Kolon)
Usus besar atau kolon adalah bagian usus antara usus buntu dan
rektum. Fungsi utama organ ini adalah menyerap air dari feses. Usus
besar terdiri dari kolon asendens (kanan), kolon transversum, kolon
desendens (kiri), kolon sigmoid (berhubungan dengan rektum).
Banyaknya bakteri yang terdapat di dalam usus besar berfungsi
mencerna beberapa bahan dan membantu penyerapan zat-zat gizi.
Bakteri di dalam usus besar juga berfungsi membuat zat-zat penting,
seperti vitamin K. Bakteri ini penting untuk fungsi normal dari usus.
Beberapa penyakit serta antibiotik bisa menyebabkan gangguan pada
bakteri-bakteri didalam usus besar. Akibatnya terjadi iritasi yang bisa
menyebabkan dikeluarkannya lendir danair, dan terjadilah diare.
g. Rektum dan Anus
Rektum adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar
(setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi
sebagai tempat penyimpanan sementara feses. Biasanya rektum ini
kosong karena tinja disimpan di tempat yang lebih tinggi, yaitu pada
kolon desendens. Jika kolon desendens penuh dan tinja masuk ke
dalam rektum, maka timbul keinginan untuk buang air besar (BAB).
Mengembangnya dinding rektum karena penumpukan material di
dalam rektum akan memicu sistem saraf yang menimbulkan keinginan
untuk melakukan defekasi. Jika defekasi tidak terjadi, sering kali
material akan dikembalikan ke usus besar,di mana penyerapan air akan
kembali dilakukan. Jika defekasi tidak terjadi untuk periode yang
lama, konstipasi dan pengerasan feses akan terjadi. Orang dewasa dan
anak yang lebih tua bisa menahan keinginan ini, tetapi bayi dan anak
yang lebih muda mengalami kekurangan dalam pengendalian otot
yang penting untuk menunda BAB. Anus merupakan lubang di ujung
saluran pencernaan, dimana bahan limbah keluar dari tubuh. Sebagian
anus terbentuk dari permukaan tubuh (kulit) dan sebagian lannya dari
usus. Pembukaan dan penutupan anus diatur oleh otot sphinkter. Feses
dibuang dari tubuh melalui proses defekasi (buang air besar) yang
merupakan fungsi utama anus (Pearce, 1999).
2. Fisiologi pencernaan
Fungsi utama usus besar adalah menyerap sisa cairan yang belum tercerna
sempurna dari usus halus. Selain itu, organ ini juga menjadi tempat
mengalirnya sisa pencernaan yang tak digunakan tubuh ke rektum untuk
dibuang dalam bentuk feses.
Proses tersebut akan dibantu dengan bakteri baik yang ada pada usus.
Bakteri ini mensintesis vitamin, memproses limbah sisa pencernaan dari
bentuk cair menjadi padat, serta melindungi usus dari bakteri yang
berbahaya. Prosesnya disebut juga dengan gerak peristaltik dan biasanya
akan memakan waktu sampai sekitar 36 jam. Pencernaan makanan dimulai
dari saat Anda memasukkan makanan ke dalam mulut. Makanan dikunyah
oleh gigi sampai menjadi halus, kemudian ditelan dan masuk ke
kerongkongan yang terhubung dengan perut. Ketika mencapai lambung,
makanan akan dipecah menjadi cair sebelum diteruskan ke usus kecil. Di
usus kecillah nantinya pemecahan akan dilanjutkan. Dengan bantuan
organ pankreas, organ hati, dan kantung empedu, usus kecil bekerja untuk
menyerap vitamin dan nutrisi yang penting dari makanan. Setelah itu,
sisanya akan dipindahkan ke usus besar. Pertama, tentunya sisa makanan
tersebut akan masuk ke kolon asenden. Di kolon asenden, nutrisi yang
belum tercerna di usus kecil akan diserap kembali. Kolon ini juga akan
memadatkan cairan sisa makanan menjadi lebih padat. Kemudian, sisa
makanan ini bergerak menuju kolon transversum. Pada kolon ini, bakteri
akan memecah sisa makanan (fermentasi), menyerap air dan nutrisi yang
masih tersisa, lalu membentuk cairan sisa makanan menjadi tinja. Sisa
makanan yang telah berubah menjadi tinja ini akan ditampung sementara
di kolon desenden. Bila sudah waktunya, kolon sigmoid akan berkontraksi
untuk menekan tinja menuju rektum. Kontraksi inilah yang menimbulkan
sakit perut yang mendorong Anda untuk segera buang air besar.
B. Konsep Medik Colorectal Cancer
1. Definisi Colorectal Cancer
Gambar 1.3 ca colon
Kanker kolorektal adalah kanker yang berasal dalam permukaan
usus besar (kolon) atau rektum/rektal, umumnya kanker kolorektal
berawal dari pertumbuhan sel yang tidak ganas terdapat adenoma atau
berbentuk polip. Adenoma atau polip pada kolorektal dapat diangkat
dengan mudah hanya saja jarang menimbulkan gejala apapun, sehingga
tidak terdeteksi dalam waktu cukup lama hingga berkembang menjadi
kanker kolorektal. Kanker kolorektal adalah suatu bentuk keganasan
yang terjadi pada kolon, rektum, dan appendix. Distribusi kanker pada
kolon adalah 20% terdapat di sepanjang kolon asenden, 10% di kolon
transversum, 15% di kolon desenden, dan 50 % di rektosigmoideus.
Polip adalah tonjolan di atas permukaan mukosa. Polip dapat
dibagi menjadi 3 jenis yaitu neoplasma epithelium, nonneoplasma, dan
submukosa.
Klasifikasi Polip Kolorektal
Epithelium
Neoplasia
Submukosa
Nonneplasia
Premaligna
Mukosa
Limfoid hyperplasia
Tubular
Hiperplastik
Pneumatosis cystoids
intestinalis
Tubulo Villousum Villousum
Inflamatosa
Colitis cystica profunda
Displasia rendah
Pseudo polip
Lifoma
Displasia berat (karsinomaintra
Juvenile
karsinoid
mukosa)
lesi metastasis
Maligna/karsinoma
Peutz-Jeghers
leiomioma
Karsinomatosus
Dan lain-lain
Hemangioma
Polip maligna
Fibroma
Endometriosis
Dan lain-lain
2. Klasifikasi dan stadium
a. Duke
Stadium 0 (carcinoma in situ)
Kanker belum menembus membran basal dari mukosa kolon atau
rektum.
Stadium I
Kanker telah menembus membran basal hingga lapisan kedua atau
ketiga (submukosa/ muskularis propria) dari lapisan dinding kolon/
rektum tetapi belum menyebar keluar dari dinding kolon/rektum
(Duke A).
Stadium II
Kanker telah menembus jaringan serosa dan menyebar keluar dari
dinding usus kolon/rektum dan ke jaringan sekitar tetapi belum
menyebar pada kelenjar getah bening (Duke B).
Stadium III
Kanker telah menyebar pada kelenjar getah bening terdekat tetapi
belum pada organ
tubuh lainnya (Duke C).
Stadium IV
Kanker telah menyebar pada organ tubuh lainnya (Duke D).
b. Stadium TNM menurut American Joint Committee on Cancer
(AJCC)
Stadium
T
N
M
Duke
0
Tis
N0
M0
I
T1
N0
M0
A
T2
N0
M0
II A
T3
N0
M0
B
II B
T4
N0
M0
III A
T1-T2
N1
M0
C
III B
T3-T4
N1
M0
III C
Any T
N2
M0
IV
Any T
Any N
M1
D
Keterangan
T
: Tumor primer
Tx
: Tumor primer tidak dapat di nilai T0 : Tidak terbukti
adanya tumor primer
Tis
: Carcinoma in situ, terbatas pada intraepitelial atau terjadi
invasi pada lamina propria T1 : Tumor menyebar pada
submukosa
T2
: Tumor menyebar pada muskularis propria
T3
: Tumor menyebar menembus muskularis propria ke dalam
subserosa atau ke dalam jaringan sekitar kolon atau
rektum tapi belum mengenai peritoneal.
T4
: Tumor menyebar pada organ tubuh lainnya atau
menimbulkan perforasi peritoneum viseral.
N
: Kelenjar getah bening regional/node
Nx
: Penyebaran pada kelenjar getah bening tidak dapat di nilai
N0
: Tidak ada penyebaran pada kelenjar getah bening
N1
: Telah terjadi metastasis pada 1-3 kelenjar getah bening
regional
N2
: Telah terjadi metastasis pada lebih dari 4 kelenjar getah
bening
M
: Metastasis
Mx
: Metastasis tidak dapat di nilai M0 : Tidak terdapat
metastasis
M1
: Terdapat metastasis
Klasifikasi Histologi
a. Adenocarcinoma (berdifferensiasi baik, sedang, buruk).
b. Adenocarcinoma musinosum (berlendir)
c. Signet Ring Cell Carcinoma.
Signet Ring Cell Carcinoma merupakan salah satu jenis kanker
kolorektal dengan bentuk sel kankernya secara mikroskopis terlihat
seperti cincin dengan sebuah permata yang sebenarnya adalah inti
sel yang terdesak ke pinggir sel. Hal ini karena badan sel dipenuhi
oleh mukus. Signet Ring Cell Carcinoma merupakan jenis sel
kanker yang bersifat ganas dan berprognosis buruk; banyak
ditemukan pada penderita kanker kolorektal dengan usia muda
(<50 tahun).
d. Carcinoma sel skuamosa.
e. Carsinoma recti
3. Etiologi
Kanker kolon dapat timbul melalui interaksi antara faktor genetik dan
faktor lingkungan. Polip kolon dapat berdegenerasi menjadi maligna
sehingga polip kolon harus dicurigai. Selain itu, radang kronik kolon
seperti kolitis ulserosa atau kolitis amuba kronik dapat beresiko tinggi
menjadi kanker kolorektal. Faktor risiko lainnya antara lain:
a. Peradangan (inflamasi) usus dalam periode lama, seperti : kolitis
ulseratif.
b. Riwayat keluarga.
c. Hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC) merupakan
penyakit keturunan dengan risiko terjadi kanker kolorektal pada
usia muda, ditemukan polip dalam jumlah sedikit.
d. Familial adenomatous polyposis (FAP) merupakan penyakit
keturunan yang jarang ditemukan dapat ditemukan ratusan polip
pada kolon dan rektum.
e. Pola makan dan gaya hidup, makanan rendah serat, makanan
dengan kadar lemak tinggi dan lamanya waktu transit sisa hasil
pencernaan dalam kolon dan rektal meningkatkan risiko kanker
kolorektal.
f. Diabetes, meningkatkan 40 % berkembangnya kanker kolorektal
g. Rokok dan alkohol
h. Riwayat polip atau kanker kolorektal
4. Manifestasi Klinis
Manifestasi kanker kolon secara umum adalah :
a. Perdarahan rektum
b. Perubahan pola BAB
c. Tenesmus
d. Obstruksi intestinal
e. Nyeri abdomen
f. Kehilangan berat badan
g. Anorexia
h. Mual dan muntah
i. Anemia
j. Massa palpasi
Manifestasi klinis sesuai dengan bagian kolon yang terkena kaeganasan
▪
▪
▪
▪
▪
▪
▪
▪
▪
Colon Kanan
Nyeri dangkal abdomen.
anemia
melena (feses hitam, seperti
ter)
dyspepsia
nyeri di atas umbilicus
anorexia, nausea, vomiting
rasa tidak nyaman diperut
kanan bawah
teraba massa saat palpasi
Penurunan BB
▪
▪
▪
▪
▪
▪
Colon Kiri
Obstruksi (nyeri abdomen
dan kram, penipisan feses,
konstipasi dan distensi )
Adanya darah segar
dalam feses.
Tenesmus
Perdarahan rektal
Perubahan pola BAB
Obstruksi intestine
Rektal/Rectosigmoid
▪
Evakuasi feses yang
tidak lengkap setelah
defekasi.
Konstipasi dan diare
bergantian.
Feses berdarah.
Perubahan kebiasaan
defekasi.
Perubahan BB
▪
▪
▪
▪
(Smeltzer dan Bare, 2002 dan Black dan Jacob, 1997)
Kolon kanan
Kolon kiri
Rektum
Aspek klinis
Kolitis
Obstruksi
Proktitis
Nyeri
Karena penyusupan
Karena obstruksi
Karena tenesmi
Defekasi
Diare/diare berkala
Kontipasi progresif
Tenesmi
terus-
menerus
Obstruksi
Jarang
Hampir selalu
Tidak/jarang
Darah pada feses
Okul
Okul/makroskopik
Makroskopik
Feses
Normal /diare
Normal
Perubahan bentuk
Dispepsi
Sering
Jarang
Jarang
Memburuknya
Hampir selalu
Lambat
Lambat
Hampir selalu
Lambat
Lambat
keadaan umum
Anemia
5. Patofisiologi
Umumnya tumor kolorektal adalah adenokarsinoma yang berkembang
dari polip adenoma. Insidensi tumor dari kolon kanan meningkat,
meskipun umumnya masih terjadi di rektum dan kolon sigmoid.
Pertumbuhan tumor secara tipikal tidak terdeteksi, menimbulkan
beberapa gejala. Pada saat timbul gejala, penyakit mungkin sudah
menyebar kedalam lapisan lebih dalam dari jaringan usus dan organ-
organ yang berdekatan. Kanker kolorektal menyebar dengan perluasan
langsung ke sekeliling permukaan usus, submukosa, dan dinding luar
usus. Struktur yang berdekatan, seperti hepar, kurvatura mayor
lambung,
duodenum,
usus
halus,
pankreas,
limpa,
saluran
genitourinary, dan dinding abdominal juga dapat dikenai oleh
perluasan.
Metastasis ke kelenjar getah bening regional sering berasal dari
penyebaran tumor. Tanda ini tidak selalu terjadi, bisa saja kelenjar
yang jauh sudah dikenai namun kelenjar regional masih normal. Selsel kanker dari tumor primer dapat juga menyebar melalui sistem
limpatik atau sistem sirkulasi ke area sekunder seperti hepar, paruparu, otak, tulang, dan ginjal. “Penyemaian” dari tumor ke area lain
dari rongga peritoneal dapat terjadi bila tumor meluas melalui serosa
atau selama pemotongan pembedahan. Polip adenoma, Polip maligna,
Menyusup serta merusak jaringan normal serta meluas kedalam struktur
sekitarnya, Sel kanker dapat terlepas dari tumor primer dan menyebar ke
bagian tubuh yang lain Penyebaran kanker kolon dapat melalui 3 cara,
yaitu penyebaran secara langsung ke organ terdekat, melalui sistem
limpatikus dan hematogen, serta melalui implantasi sel ke daerah
peritoneal. Karsinoma kolon dan rektum mulai berkembang pada
mukosa dan bertumbuh sambil menembus dinding dan meluas secara
sirkuler ke arah oral dan aboral. Penyebaran perkontinuitatum
menembus jaringan sekitar atau organ sekitarnya misalnya ureter, bulibuli, uterus, vagina atau prostat. Penyebaran limfogen terjadi ke
kelenjar parailiaka, mesenterium dan paraaorta. Penyebaran hematogen
terutama ke hati. Penyebaran peritoneal mengakibatkan peritonitis
karsinomatosa dengan atau tanpa asites. Sebagian besar tumor maligna
(minimal 50%) terjadi pada area rektal dan 20–30 % terjadi di sigmoid
dan kolon desending (Black dan Jacob, 1997). Kanker kolorektal
terutama adenocarcinoma (muncul dari lapisan epitel usus) sebanyak
95%. Tumor pada kolon asenden lebih banyak ditemukan daripada pada
transversum (dua kali lebih banyak). Tumor bowel maligna menyebar
dengan cara:
a. Menyebar secara langsung pada daerah disekitar tumor secara
langsung
misalnya
ke
abdomen
dari
kolon
transversum.
Penyebaran secara langsung juga dapat mengenai bladder, ureter
dan organ reproduksi.
b. Melalui saluran limfa dan hematogen biasanya ke hati, juga bisa
mengenai paru-paru, ginjal dan tulang.
c. Tertanam ke rongga abdomen.
6. Pathway
7. Pemeriksaan Penunjang
a. Palpasi Abdomen. Tumor kecil pada tahap dini tidak teraba pada
palpasi perut, bila teraba menunjukkan keadaan sudah lanjut.
Apabila ada massa, massa di dalam sigmoid lebih jelas teraba
daripada massa di bagian lain kolon
b. Fecal occult blood test, pemeriksaan darah samar feses di bawah
mikroskop
c. Colok dubur. Untuk mengetahui letak, luas dan mobilitas tumor.
1) Tonus sfingter ani (keras atau lembek)
2) Mukosa (kasar, kaku, licin atau tidak)
3) Ampula rektum (kolaps, kembung, atau terisi feses)
Tumor dapat teraba atau tidak, mudah berdarah atau tidak, jarak
dari garis anorektal sampai tumor, lokasi, pergerakan dari dasar,
permukaan, lumen yang dapat ditembus jari, batas atas, dan
jaringan sekitarnya
d. Barium enema, pemeriksaan serial sinar x pada saluran cerna
bagian bawah, sebelumnya pasien diberikan cairan barium ke
dalam rektum
e. Endoskopi
(sigmoidoscopy
atau
colonoscopy),
dengan
menggunakan teropong, melihat gambaran rektum dan sigmoid
adanya polip atau daerah abnormal lainnya dalam layar monitor.
Sigmoidoskopi atau kolonoskopi adalah test diagnostik utama
digunakan untuk mendeteksi dan melihat tumor. Sekalian
dilakukan
biopsy
jaringan.
Sigmoidoskopi
fleksibel
dapat
mendeteksi 50 % sampai 65 % dari kanker kolorektal. Pemeriksaan
enndoskopi dari kolonoskopi direkomendasikan untuk mengetahui
lokasi dan biopsy lesi pada klien dengan perdarahan rektum. Bila
kolonoskopi dilakukan dan visualisasi sekum, barium enema
mungkin tidak dibutuhkan. Tumor dapat tampak membesar, merah,
ulseratif sentral, seperti penyakit divertikula, ulseratif kolitis
f. Biopsi, tindakan pengambilan sel atau jaringan abnormal dan
dilakukan pemeriksaan di bawah mikroskop.
g. Jumlah sel-sel darah untuk evaluasi anemia. Anemia mikrositik,
ditandai dengan sel-sel darah merah yang kecil, tanpa terlihat
penyebab adalah indikasi umum untuk test diagnostik selanjutnya
untuk menemukan kepastian kanker kolorektal.
h. Test Guaiac pada feces untuk mendeteksi bekuan darah di dalam
feces, karena semua kanker kolorektal mengalami perdarahan
intermitten.
i. CEA
(carcinoembryogenic
antigen)
adalah
ditemukannya
glikoprotein di membran sel pada banyak jaringan, termasuk
kanker
kolorektal.
Antigen
ini
dapat
dideteksi
oleh
radioimmunoassay dari serum atau cairan tubuh lainnya dan
sekresi. Karena test ini tidak spesifik bagi kanker kolorektal dan
positif pada lebih dari separuh klien dengan lokalisasi penyakit, ini
tidak termasuk dalam skreening atau test diagnostik dalam
pengobatan penyakit. Ini terutama digunakan sebagai prediktor
pada prognsis postoperative dan untuk deteksi kekambuhan
mengikuti pemotongan pembedahan (Way, 1994).
j. Pemeriksaan kimia darah alkaline phosphatase dan kadar bilirubin
dapat meninggi, indikasi telah mengenai hepar. Test laboratorium
lainnya meliputi serum protein, kalsium, dan kreatinin.
k. Barium enema sering digunakan untuk deteksi atau konfirmasi ada
tidaknya dan lokasi tumor. Bila medium kontras seperti barium
dimasukkan kedalam usus bagian bawah, kanker tampak sebagai
massa mengisi lumen usus, konstriksi, atau gangguan pengisian.
Dinding usus terfiksir oleh tumor, dan pola mukosa normal hilang.
Meskipun pemeriksaan ini berguna untuk tumor kolon, sinar-X
tidak nyata dalam mendeteksi rektum
l. X-ray dada untuk deteksi metastase tumor ke paru-paru
m. CT (computed tomography) scan, magnetic resonance imaging
(MRI), atau pemeriksaan ultrasonic dapat digunakan untuk
mengkaji apakah sudah mengenai organ lain melalui perluasan
langsung atau dari metastase tumor.
n. Whole-body PET Scan Imaging. Sementara ini adalah pemeriksaan
diagnostik yang paling akurat untuk mendeteksi kanker kolorektal
rekuren (yang timbul kembali).
o. Pemeriksaan DNA Tinja.
8. Komplikasi
a. Pertumbuhan tumor dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau
lengkap
b. Metastase ke organ sekitar, melalui hematogen, limfogen dan
penyebaran langsung
c. Pertumbuhan dan ulserasi dapat juga menyerang pembuluh darah
sekitar kolon yang menyebabkan hemorragi
d. Perforasi usus dapat terjadi dan mengakibatkan pembentukan abses
e. Peritonitis dan atau sepsis dapat menimbulkan syok
f. Pembentukan abses
9. Penatalaksanaan
a. Medis
Pasien dengan gejala obstruksi usus diobati dengan cairan IV dan
pengisapan nasogastrik. Apabila terdapat perdarahan yang cukup
bermakna, terapi komponen darah dapat diberikan. Pengobatan
tergantung pada tahap penyakit dan komplikasi yang berhubungan.
Pengobatan medis untuk kanker kolorektal paling sering dalam
bentuk pendukung atau terapi anjuran. Terapi anjuran biasanya
diberikan selain pengobatan bedah yang mencakup kemoterapi,
terapi radiasi, dan imunoterapi.
1) Terapi radiasi : sering digunakan sebelum pembedahan untuk
menurunkan ukuran tumor dan membuat mudah untuk
direseksi. Intervensi lokal pada area tumor setelah pembedahan
termasuk implantasi isotop radioaktif ke dalam area tumor.
Isotop yang digunakan termasuk radium, sesium, dan kobalt.
Iridium digunakan pada rektum.
2) Kemoterapi:
metastasis
kemoterapi
dan
dilakukan
mengontrol
untuk
manifestasi
menurunkan
yang
timbul.
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan (5-flourauracil (5FU)) untuk membunuh sel-sel kanker. Ia adalah suatu terapi
sistemik, yang berarti bahwa pengobatan berjalan melalui
seluruh tubuh untuk menghancurkan sel-sel kaker. Setelah
operasi
kanker
usus
besar,
beberapa
pasien
mungkin
mengandung microscopic metastasis (foci yang kecil dari selsel kanker yang tidak dapat dideteksi). Kemoterapi diberikan
segera
setelah
operasi
untuk
menghancurkan
sel-sel
mikroskopik (adjuvant chemotherapy).
b. Bedah
Pembedahan adalah tindakan primer untuk kebayakan kanker
kolorektal. Tipe pembedahan tergantung pada lokasi dan ukuran
tumor. Prosedur pembedahan pilihan, sebagai berikut:
1) Pada tumor sekum dan kolon asenden
Dilakukan hemikolektomi kanan, lalu anastomosis ujung ke
ujung. Pada tumor di fleksura hepatika dilakukan juga
hemikolektomi, yang terdiri dari reseksi bagian kolon yang
diperdarahi oleh arteri iliokolika, arteri kolika kanan, arteri
kolika media termasuk kelenjar limfe dipangkal arteri
mesentrika superior.
2) Pada tumor transversum
Dilakukan
reseksi
kolon
transversum
(transvesektomi)
kemudian dilakukan anastomosis ujung ke ujung. Kedua
fleksura hepatika dan mesentrium daerah arteria kolika media
termasuk kelenjar limfe.
3) Pada Ca Colon desenden dan fleksura lienalis
Dilakukan hemikolektomi kiri yang meliputi daerah arteri
kolika kiri dengan kelenjar limfe sampai dengan di pangkal
arteri mesentrika inferior.
4) Tumor rektum
Pada tumor rectum 1/3 proximal dilakukan reseksi anterior
tinggi (12-18 cm dari garis anokutan) dengan atau tanpa
stapler. Pada tumor rectum 1/3 tengah dilakukan reseksi
dengan mempertahankan spingter anus, sedangkan pada tumor
1/3
distal
dilakukan
reseksi
bagian
distal
sigmoid,
rektosigmoid, rektum melalui abdominal perineal (Abdomino
Perineal Resection/APR), kemudian dibuat end colostomy.
Reseksi abdoperineal dengan kel. retroperitoneal menurut
geenu-mies. Alat stapler untuk membuat anastomisis di dalam
panggul antara ujung rektum yang pendek dan kolon dengan
mempertahankan
anus
dan
untuk
menghindari
anus
pneternaturalis. Reseksi anterior rendah (Low Anterior
Resection/LAR) pada rektum dilakukan melalui laparatomi
dengan menggunakan alat stapler untuk membuat anastomisis
kolorektal/koloanal rendah.
5) Tumor sigmoid
Dilakukan reseksi sigmoid termasuk kelenjar di pangkal arteri
mesentrika inferior.
Selain tindakan pembedahan, klien juga harus menjalani terapi
lanjut yang dapat berupa kemoterapi dan radioterapi.Klien
memerlukan asuhan keperawatan yang komprehensif dengan
memperhatikan aspek bio-psiko-sosio-spiritual terutama karena
klien harus menjalani terapi
C. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian
yaitu
suatu
pemikiran
yang
bertujuan
untuk
mengumpulkan informasi maupun data dari klien, agar dapat
mengidentifikasi, mengenal masalah-masalah kebutuhan kesehatan
atau keperawatan klien baik secara mental, fisik, lingkungan dan sosial
dan (Arif Muttaqin, 2009). Terdiri dari :
a. Biodata Klien
Identitas klien meliputi : nama,umur,jeniskelamin, pendidikan,
pekerjaan,agama,suku/bangsa, waktu masuk rumah sakit, waktu
pengkajian, diagnosa medis, nomor MR dan alamat.
Identitas
penanggung jawab meliputi : nama, umur, pekerjaan, agama,
pendidikan, suku/bangsa, alamat, hubungan dengan klien.
b. Pengkajian primary
1) Airway
Proses jalan nafas yaitu pemeriksaan obstruksi jalan nafas,
adanya suara nafas tambahan adanya benda asing.
2) Breathing
Frekuensi nafas, apa ada penggunaan otot bantu nafas, retraksi
dada, adanya sesak nafas, palpasi pengembangan paru,
auskultasi suara nafas, kaji adanya suara nafas tambahan.
3) Circulation
Pengkajian mengenai volume darah dan cardiac output serta
adanya
perdarahan.
pengkajian
juga
meliputi
status
kesadaran
compos
mentis
hemodinamik, warna kulit, nadi.
4) Disability
Pengkajian
meliputi
tingkat
(E4M6V5) GCS 15, pupil isokor, muntah tidak ada,
ekstremitas atas dan bawah normal, tidak ada gangguan
menelan.
5) Exsposure
Pengkajian meliputi untuk mengetahui adanya kemungkinan
cidera yang lain, dengan cara memeriksa semua tubuh pasien
harus tetap dijaga dalam kondisi hangat supaya untuk
mencegah terjadinya hipotermi.
6) Foley Chateter
Pengkajian meliputi adanya komplikasi kecurigaan ruptur
uretra jika ada tidak dianjurkan untuk pemasangan kateter,
kateter dipasang untuk memantau produksi urin yang keluar.
7) Gastric tube
Pemeriksaan ini tujuan nya untuk mengurangi distensi pada
lambung dan mengurangi resiko untuk muntah.
8) Monitor EKG
Pemeriksaan ini di lakukan untuk melihat kondisi irama dan
denyut jantung.
c. Pengkajian Survey Sekunder
1) Keluhan utama
Keluhan utama yaitu penyebab klien masuk rumah sakit yang
dirasakan saat dilakukan pengkajian yang ditulis dengan
singkat dan jelas. Keluhan klien pada gagal jantung bisa terjadi
sesak nafas, sesak nafas saat beraktivitas, badan terasa lemas,
batuk tidak kunjung sembuh berdahak sampai berdarah, nyeri
pada dada, nafsu makan menurun, bengkak pada kaki.
2) Riwayat penyakit sekarang
Merupakan alasan dari awal klien merasakan keluhan sampai
akhirnya dibawa ke rumah sakit dan pengembangan dari
keluhan utama dengan menggunakan PQRST.
P (Provokative/Palliative) : apa yang menyebabkan gejala
bertambah berat dan apa yang dapat mengurangi gejala.
Q (Quality/Quantity) : apa gejala dirasakan klien namun sejauh
mana gejala yang timbul dirasakan.
R (Region/Radiation) : dimana gejala dirasakan? menyebar?
Yang harus dilakukan untuk mengurangi dan menghilangkan
rasa tersebut S (Saferity/Scale) : berapa tingkat parah nya
gejala dirasakan? Skala nya brapa?
T (Timing) : lama gejala dirasakan ? waktu tepatnya gejala
mulai dirasakan.
3) Riwayat penyakit dahulu
Tanyakan mengenai masalah-masalah seperti adanya riwayat
penyakit jantung, hipertensi, perokok hebat, riwayat gagal
jantung, pernah dirawat dengan penyakit jantung, kerusakan
katub jantung bawaan, diabetes militus dan infark miokard
kronis.
4) Riwayat penyakit keluarga
Hal yang perlu dikaji dalam keluarga klien, adakah yang
menderita penyakit sama dengan klien, penyakit jantung, gagal
jantung, hipertensi.
5) Riwayat psikososial spiritual
Yaitu respon emosi klien pada penyakit yang di derita klien dan
peran klien di pada keluarga dan masyarakat serta respon dan
pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari dalam keluarga atau
masyarakat.
6) Pola persepsi dan konsep diri
Resiko dapat timbul oleh pasien gagal jantung yaitu timbul
akan kecemasan akibat penyakitnya. Dimana klien tidak bisa
beraktifitas aktif seperti dulu dikarenakan jantung nya yang
mulai lemah.
7) Pola Aktivitas Sehari-hari
a) Pola Nutrisi
Kebiasaan makan klien sehari-hari, kebiasaan makanmakanan yang dikonsumsi dan kebiasaan minum klien
sehari-hari, pasien akibat gagal jantung akan mengalami
penurunan nafsu makan, meliputi frekwensi, jenis, jumlah
dan masalah yang dirasakan.
b) Pola Eliminasi Kebiasaan BAB dan BAK
klien akan
berpengaruh terhadap perubahan sistem
tubuhnya
c) Pola Istirahat Tidur
Kebiasaan klien tidur sehari-hari, terjadi perubahan saat
gejala sesak nafas dan batuk muncul pada malam hari.
Semua klien akibar gagal jantung akan mengalami sesak
nafas, sehingga hal ini dapat menganggu tidur klien.
d) Personal Hygiene
Yang perlu di kaji sebelum dan sesudah pada psien
yaitunya kebiasaan mandy, gosok gigi, cuci rambut, dan
memotong kuku.t.
e) Pola Aktivitas
Sejauh mana kemampuan klien dalam beraktifitas dengan
konsdisi yang di alami pada saat ini.
8) Pemeriksaan Fisik Head Toe To
a) Kepala
Inspeksi: simetris pada kepala, rambut terlihat kering dan
kusam, warna rambut hitam atau beuban, tidak adanya
hematom pada kepala, tidak adanya pedarahan pada kepala.
Palpasi: tidak teraba benjolan pada kepala, rambut teraba
kasar.
b) Mata
Inspeksi : simetris kanan dan kiri, tidak ada kelainan pada
mata, reflek pupil terhadap cahaya baik, konjungtiva
anemis, sklera tidak ikterik, tidak ada pembengkakan pada
mata, tidak memakai kaca mata. Palpasi : tidak ada nyeri
tekan dan lepas pada daerah mata, tidak teraba benjolan
disekitar mata
c) Telinga
Inspeksi : simetris kiri dan kanan pada telinga, tidak terjadi
perdarahan, tidak ada pembengkakan, dan pendengaran
masih baik. Palpasi : tidak terasa benjolan pada daun
telinga, tidak ada nyeri saat diraba bagian telinga, tidak ada
perdarahan pada telinga baik luar maupun dalam.
d) Hidung
Inspeksi : simetris pada hidung, tidak ada kelainan bentuk
pada hidung, tidak ada perdarahan, ada cuping hidung,
terpasang oksigen. Palpasi : tidak terasa benjolan pada
hidung dan tidak ada perdarahan pada hidung.
e) Mulut dan tenggorokan Inspeksi : mulut terlihat bersih, gigi
lengkap atau tidak sesuai dengan usia, mukosa lembab/
kering, tidak ada stomatitis, dan tidak terjadi kesulitan
menelan.
f) Thoraks
Inspeksi : dada tampak simetris tidak ada lesi pada thorak,
tidak ada otot bantu pernafasan, dan tidak terjadi
perdarahan pada thorak. Palpasi : tidak teraba benjolan
pada dada, suhu pada thorak teraba sama kiri kanan Perkusi
: sonor seluruh lapang paru Auskultasi : vesikuler atau
terdapat suara tambahan pada thoraks seperti ronkhi,
wheezing, dullnes
g) Jantung
Inspeksi : ictus cordis terlihat, arteri carotis terlihat dengan
jelas di leher. Palpasi: denyut nadi meningkat, CRT > 3
detik Perkusi : pekak Auskultasi : S1 dan S2 reguler atau
terdapat suara tambahan seperti mur-mur dan gallop.
h) Abdomen
Inspeksi : abdomen tampak datar, tidak ada pembesaran,
tidak ada bekas operasi, dan tidak adanya lesi pada
abdomen. Auskultasi : bising usus 12x/m Perkusi : saat
diperkusi terdengat bunyi tympani Palpasi : tidak terasa
adanya massa/ pembengkakan, hepar dan limpa tidak
terasa,tidak ada nyeri tekan dan lepas didaerah abdomen.
i) Genitalia
Pasien terpasang kateter, produksi urin banyak karena
pasien jantung dapat diuretik.
j) Ekstremitas
Ekstremitas atas : terpasang infus salah satu ekstremtas
atas, tidak ditemukan kelainan pada kedua tangan, turgor
kulit baik, tidak terdapat kelainan, akral teraba hangat, tidak
ada edema, tidak ada terjadi fraktur pada kedua tangan.
Ekstremitas bawah : tidak ditemukankelainan pada kedua
kaki, terlihat edema pada kedua kaki dengan piring udem >
2 detik, type derajat edema, tidak ada varises pada kaki,
akral teraba hangat.
d. Pemeriksaan penunjang
1) Laboratorium: hematologi (Hb, Ht, Leukosit), eritolit (kalium,
natrium, magnesium), analisa gas darah.
2) EKG (elektrokardiogram): untuk mengukur kecepatan dan
keteraturan denyut jantung
3) Ekokardiografi: untuk mendeteksi gangguan fungsional serta
anatomis yang menjadi penyebab gagal jantung.
4) Foto rontgen dada: untuk melihat adanya pembesaran pada
jantung, penimbunan cairan pada paru-paru atau penyakit paru
lain.
e. Therapy
1) Digitalis: untuk meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan
memperlambat frekuensi jantung misal: Digoxin
2) Diuretik: untuk memacu ekskresi natrium dan air melalui ginjal
serta mengurangi edema paru misal : Furosemide (lasix)
3) Vasodilator : untuk mengurani tekanan terhadap penyemburan
darah oleh ventrikel misal : Natriumnitrofusida, nitrogliserin
4) Trombolitik/ pengencer darah dan antibiotik
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh
b. Risiko konstipasi/diare berhubungan dengan lesi obstruksi
c. Nyeri(akut) berhubungan dengan kompresi jaringan sekunder
akibat obstruksi
d. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik dan
kesulitan bergerak
e. Resiko kekurangan volume cairan berhubungan dengan muntah
dan dehidrasi
f. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan insisi bedah
(abdomen dan perianal), pembentukan stoma, dan kontaminasi
fekal terhadap kulit periostomal
g. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan kolostomi
h. Gangguan pola tidur
i. Ansietas
j. Kurang pengetahuan mengenai kondisi, prognosis dan kebutuhan
pengobatan
3. Intervensi keperawatan
DIAGNOSA
TUJUAN
Pola napas tidak efektif
Ditandai dengan :
Gejala dan tanda mayor
Subjektif :
1. Dispnea
Objektif :
1. Penggunaan otot bantu
pernapasan
2. Pola napas abnormal
(Takipnea)
Gejala dan tanda minor
Subjektif :
1. Ortopnea
Objektif :
1. Pernapasan
hidung
cuping
Pola napas
INTERVENSI
Manajemen jalan napas
dan
Setelah
dilakukan Mengidentifikasi
mengelola
kepatenan
jalan
tindakan keperawatan
diharapkan 2×24 jam napas
ekspektasi pola napas
membaik.
Kriteria Hasil :
a. Dispnea
Menurun (5)
b. Penggunaan
otot
bantu napas
Menurun (5)
c. Ortopnea
Menurun (5)
d. Frekuensi napas
Membaik (5)
e. Kedalaman dada
Membaik (5)
Intervensi :
1. Observasi :
1.1 Monitor pola napas
(frekuensi,
kedalaman,
usaha
napas)
1.2 Monitor bunyi napas
tambahan
(mis.
Gurgling,
mengi,
ronki kering)
2. Teraupetik :
2.1 Posisikan
semi–
fowler atau fowler
2.2 Berikan
minuman
hangat
2.3 Berikan oksigen
3. Edukasi :
3.1 Anjurka
asupan
cairan 2000 ml/hari,
jika kontraindikasi
4. Kolaborasi :
4.1 Kolaborasi pemberian
dekstrose, jika perlu
Kolaborasi pemberian
glukagon, jika perlu
Nyeri Akut
1.
Setelah
ditandai dengan,
Gejala dan tanda mayor
Subjektif :
1.
Tingkat Nyeri
Mengeluh nyeri
keperawatan dalam
1.1. Identifikasi
waktu …x 24 jam
lokasi,
ekspektasi
karakteristik,
Tampak meringis
2.
Bersikap
nyeri klien.
frekuensi,
Kriteria hasil:
intensitas
b.
protektif
(waspada,
Frekunsi
c.
posisi
menghindari nyeri)
4.
d.
e.
nadi
meningkat
5.
tingkat
Keluhan
nyeri
menurun
1.
dan
kualitas nyeri
1.2. Identifikasi skala
Meringis
nyeri
menurun
Terapeutik
Kesulitan tidur
1.3. Berikan
teknik
menurun
non farmakologis
Gelisah
untuk
menurun
mengurangi rasa
Tekanan
darah
membaik
f.
Frekuensi
nyeri
1.4. Fasilitasi istirahat
nadi
membaik
Sulit Tidur
Intervensi:
Observaisi
Objketif :
Gelisah
dilakukan
Manajemen Nyeri
tindakan
a.
3.
1.
dan tidur
Kolaborasi
1.5. Kolaborasi
Gejala tanda minor
1.
pemberian
Tekanan
analgetik,
dara
perlu.
meeningkat
2.
jika
Pola nafas berubah
Penurunan
jantung.
Ditandai dengan :
curah
Gejala dan tanda mayor
Subjektif :
a. Perubahan preload
1) Lelah
Objektif :
a. Perubahan preload
1) Edema
2) Central
venous
pressure
(CVP)
meningkat
Curah jantung
Setelah
dilakukan
tindakan keperawatan
diharapkan …×24 jam
ekspektasi
curah
jantung meningkat.
Kriteria Hasil :
a. Lelah
Menurun (5)
b. Edema
Menurun (5)
c. Distensi
vena
Perawatan jantung
Mengidentifikasi, merawat
dan membatasi komplikasi
akibat ketidakseimbangan
antara
suplai
dan
konsumsi
oksigen
miokard.
Intervensi
1. Observasi
1.1 identifikasi
tanda/gejala primer
penurunan
curah
jantung
(meliputi
3) Hematomegali
Gejala dan tanda minor
Subjektif :
a. Perilaku/emosional
1) Cemas
2) Gelisah
jugularis
Menurun (5)
d. Pucat/sianosis
Menurun (5)
e. Hepatomegaly
Menurun (5)
1.2
f. Tekanan darah
Membaik (5)
1.3
1.4
1.5
1.6
1.7
1.8
2.
2.1
2.2
dyspnea, kelelahan,
edema,
ortopnea,
paroxysmal nocturnal
dyspnea, peningkatan
(CVP)
Identifikasi
tanda/gejala sekunder
penurunan
curah
jantung
(meliputi
peningkatan
berat
badan, hepatomegaly,
distensi
vena
jugularis,
palpitasi,
ronkji
(basah,
oliguria, batuk, kulit
pucat)
Monitor
tekanan
darah
(termasuk
tekanan
darah
ortostatik, jika perlu)
Monitor intake dan
output cairan
Monitor
saturasi
oksigen
Monitor
keluhan
nyeri dada (mis.
Intensitas,
lokasi,
radiasi,
durasi,
presivitasi
yang
mengurangi nyeri)
Monitor
nilai
laboratorium jantung
(mis.
Elektrolit,
enzim jantung, BNP,
NTpro-BNP)
Periksa tekanan darah
dan frekuensi nadi
sebelum dan sesudah
aktivitas
Terapeutik
Posisikan
pasien
semi-fowler
atau
fowler dengan kaki
ke bawah atau posisi
nyaman
Berikan diet jantung
yang sesuai (mis.
Batasi asupan kafein,
natrium,
kolesterol
dan makanan tinggi
Intoleransi Aktivitas
Ditandai dengan :
Gejala dan tanda mayor
Subjektif :
a. Mengeluh lelah
Gejala dan tanda minor
Subjektif :
a. Dispnea
saat/setelah
aktivitas
b. Merasa tidak nyaman
setelah beraktivitas
c. Merasa lemah
Objektif :
a. Sianosis
Toleransi aktivitas
Setelah
dilakukan
tindakan keperawatan
diharapkan 2×24 jam
ekspektasi
toleransi
aktivitas meningkat.
Kriteria hasil :
a. Kemudahan dalam
melakukan aktivitas
sehari-hari
Meningkat (5)
b. Keluhan lelah
Menurun (5)
c. Dispnea
setelah
aktivitas
Menurun (5)
d. Sianosis
Menurun (5)
e. Frekuensi napas
Membaik (5)
lemak)
2.3 Fasilitasi pasien dan
keluarga
untuk
modifikasi
gaya
hidup sehat
2.4 Berikan
terapi
relaksasi
untuk
mngurangi stress, jika
perlu
2.5 Berikan
oksigen
untuk
mempertahankan
saturasi
oksigen
>94%
3. Edukasi
3.1 anjurkan beraktivitas
fisik sesuai toleransi
3.2 anjurkan beraktivitas
fisik secara bertahan
4. Kolaborasi
4.1 Kolaborasi pemberian
antiaritmia, jika perlu
Manajemen energi
Mengidentifikasi
dan
mengelola
penggunaan
energi untuk mengatasi
atau mencegah kelelahan
dan
mengoptimalkan
proses pemulihan.
Intervensi
1. Observasi
1.1 Identifikasi gangguan
fungsi tubuh yang
mengakibatkan
kelelahan
1.2 Moitor
kelolahan
fisik dan emosional
1.3 Monitor lokasi dan
ketidak
nyamanan
selama
melakukan
aktivitas
2.
Terapeutik
2.1 Melakukan
rentan
gerak pasif dan garing
atau aktif
2.2 Berikan
aktivitas
distraksi
menenangkan
3.
yang
Edukasi
3.1 Anjurkan melakukan
aktivitas
secara
bertahap
3.2 Anjurkan
menghubungi perawat
jika tanda dan gejala
kelelahan
tidak
berkurang
3.3 Ajarkan
strategi
koping
untuk
mengurangi kelelahan
DAFTAR PUSTAKA
Black and Jacobs. (1997). Medical surgical nursing: Clinical management for
continuity ofcare. (Edisi V). Philadelphia: Wb Sounders Company.
Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Brunner dan Suddarrth Volume 2
Edisi 8 .Jakarta:EGC
Buku panduan laboratorium keperawatan. ”Perawatan kolostomi.”
Harahap, I.A. (2004). "Perawatan pasien dengan kolostomi Pada penderita cancer
colorectal.”
Diambil
dari
http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan- ikhsanuddin.pdf pada 19
april 2010Prohealth. (2009). ”Irigasi kolostomi.” http://www.puskesmas
oke.com/doc/
Doenges Marilyn E. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk
perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien. (Edisi III). Jakarta:
EGC
Jong & Sjamsuhidajat. (1997). Buku ajar ilmu bedah. (Edisi Revisi).
Jakarta : EGC
Simon, H. (2008). Colostomy. Massachusetts: Harvard Medical SchoolSmeltzer,
Suzanne C. (2002).
Smeltzer and Bare. (2002). Keperawatan Medikal Bedah. (Edisi VIII). akarta: EGC.
Soeparman. (1994). Ilmu penyakit dalam. (Jilid I). Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
Download