199 Tahun, Garut Masih Andalkan Kekuatan Ekonomi Pertanian

advertisement
199 Tahun, Garut Masih Andalkan Kekuatan Ekonomi Pertanian
Tahun 2011 telah berlalu, meninggalkan ragam kenyataan setidaknya bagi
Kabupaten Garut. Harapan dan kenyataan senantiasa selalu beriringan. Meski harapan itu
dibalut dengan kenyataan yang membawa daerah agraris ini tidak luput dari berbagai
permasalahan yang senantiasa menggelayuti waktu demi waktu, mulai dari masalah
sosial, politik, hingga bencana alam.
Tengok saja, selama 2011 (periode Januari hingga Oktober 2011) tidak kurang dari
231 kejadian bencana, mengakibatkan 24 orang meninggal dunia (6 meninggal dunia
akibat kebakaran, 13 orang akibat banjir, dan 5 orang terkena longsor), dengan kerugian
ditaksir Rp 17.923.020.000. Kejadian bencana lebih banyak terjadi pada kebakaran (171
kali), puting beliung (17 kali), banjir (13 kali), dan longsor (28 kali).
Banjir bandang yang terjadi pada Jum’at sore (6/5) di beberapa kecamatan di Garut
Selatan yakni Kecamatan Cikelet, Kecamatan Pameungpeuk, Mekarmukti dan Kecamatan
Cisompet, merupakan kejadian memilukan bagi Kabupaten Garut. Selain menyebabkan
korban tewas, banjir ini menyebabkan kerusakan sejumlah bangunan, termasuk
perumahan warga.
Bupati Garut H. Aceng H.M. Fikri, S.Ag, saat meninjau lokasi bencana bersama
Gubernur Jawa Barat, menyatakan bencana banjir bandang yang terjadi pada Jumat
malam itu menimpa 2.700 kepala keluarga di Kecamatan Cisompet, Pameungpeuk,
Cibalong, Cikelet, dan Mekarmukti. Berdasarkan data sementara, akibat banjir bandang ini
sebanyak 59 rumah hancur, 342 rusak berat, dan 1.532 rumah rusak ringan.
Ironisnya, kebanyakan korban banjir bandang kali ini merupakan korban gempa
bumi yang juga sempat melanda kawasan selatan Jabar pada 2009. "Gempa belum
selesai, sudah kena lagi bencana banjir. Sehingga, mereka benar-benar butuh bantuan,"
katanya.
Dengan lokasi bencana yang dianggap menyulitkan penyaluran logistik bagi korban
bencana dibutuhkan sebuah koordinasi dan komunikasi yang baik. Bahkan Gubernur
Ahmad Heryawan menegaskan, dalam penanganan bencana, komunikasi merupakan salah
satu hal yang paling penting. Karena itu, komunikasi harus ditingkatkan sehingga
pendistribusian logistik tidak menemui kendala di lapangan.
Tidak berlebihan, bila Kabupaten Garut sebagai salah satu dari 26 Kabupaten/ Kota
di Jawa Barat yang memiliki tingkat potensi rawan bencana yang cukup tinggi, sehingga
orang lebih mengenal daerah ini layaknya sebagai “mini marketnya” bencana di Jawa
Barat termasuk di Indonesia.
Sejarah mencatat pula, di Kabupaten Garut pernah terjadi dua letusan gunung
berapi yang sampai sekarang gunung tersebut masih berpotensi untuk meletus kembali,
yaitu Gunung Guntur dan Gunung Papandayan.
Gunung Papandayan terakhir kali meletus pada tahun 2002, menimbulkan dampak
fisik/infrastruktur maupun dampak psikis/psikologis bagi masyarakat. Potensi rawan
bencana lain di antaranya gerakan tanah, longsor serta tsunami.
Secara geografis Kabupaten Garut terletak di bagian selatan pada posisi
107º25'8" - 107º6' Bujur Timur dan 6º56'49"- 7º45'00" Lintang Selatan, dengan luas
wilayah ± 3.066,88 Km2, dengan jumlah penduduk ± 2.513.680 Jiwa. Kondisi Kabupaten
Garut sebagai berikut :
1. Curah hujan cukup tinggi
2. Banyaknya aliran sungai yang bermuara ke pantai selatan maupun ke pantai utara
jawa, dan hal inilah yang menyebabkan sebagian besar dari luas wilayahnya
dipergunakan untuk lahan pertanian.
3. Sebelah utara, timur dan barat secara umum merupakan dataran tinggi dengan
kondisi alam yang berbukit-bukit dan pegunungan.
4. Sebelah selatan sebagian besar permukaan tanahnya memiliki kemiringan yang relatif
cukup curam.
Secara geografis, geologis, hidrologis, dan klimatologi dikategorikan cukup rentan
bencana, khusus yakni bencana :
a. Tanah longsor,
b. Gempa bumi,
c. Letusan gunung [Papandayan],
d. Puting beliung
e. Kebakaran pemukiman/hutan.
f. Tsunami.
Kondisi potensi rawan bencana di Kabupaten Garut tidak hanya di sebagian
wilayah, akan tetapi di seluruh wilayah kecamatan pun hampir sama, seperti potensi
gerakan tanah.
Secara umum, Kabupaten Garut merupakan wilayah yang dinamis, berbagai
dinamika pembangunan terus berlangsung baik bidang politik, ekonomi, sosial maupun
budaya, sehingga berbagai perkembangan hampir terjadi pada semua sektor.
Secara administratif, sampai saat ini Kabupaten Garut mempunyai jumlah
kecamatan sebanyak 42 kecamatan, 21 kelurahan dan 421 desa, 4.303 RW dan 14.206
RT, dengan luas wilayah 306.519 Ha. Kecamatan Cibalong merupakan kecamatan yang
mempunyai wilayah terluas mencapai 6,97% dari wilayah Kabupaten Garut atau seluas
21.359 Ha, sedangkan Kecamatan Kersamanah merupakan wilayah terkecil dengan luas
1.650 Ha atau 0,54%.
Sebagai Kabupaten yang mempunyai wilayah cukup luas, tentu saja Kabupaten
Garut tidak terlepas dari permasalahan intern maupun ekstern dalam penyelenggaraan
pemerintahannya. Dengan segala kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang ada,
Pemerintah Kabupaten Garut berusaha untuk menerapkan arah kebijakan pembangunan
dan strategi yang tepat, bertekad untuk meningkatkan daya guna dan hasil guna
penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pelayanan kepada
masyarakat.
Kabupaten Garut, berjuluk Swis Van Java, beriklim tropis basah (humid tropical
climate), di mana menurut hasil studi data sekunder, iklim dan cuaca itu dipengaruhi oleh
tiga faktor utama, yaitu : pola sirkulasi angin musiman (monsoonal circulation pattem),
topografi regional yang bergunung-gunung di bagian tengah Jawa Barat, dan elevasi
topografi dengan curah hujan rata-rata setiap tahun berkisar antara 2.589 mm dengan
bulan basah 9 bulan berturut-turut dan bulan kering berkisar 3 bulan berturut-turut,
sedangkan di sekelilingnya terdapat daerah pengunungan dengan ketinggian mencapai
3.500-4.000 meter di atas permukaan laut dengan variasi temperatur bulanan berkisar
antara 24ºC - 27ºC.
Garut memiliki ketinggian tempat yang bervariasi antara wilayah yang paling
rendah, yang sejajar dengan permukaan laut hingga wilayah tertinggi di puncak gunung.
Wilayah yang berada pada ketinggian 1.000 - 1.500 mdpl terdapat di Kecamatan Cikajang,
Pakenjeng, Pamulihan, Cisurupan dan Cisewu, wilayah yang berada pada ketinggian 500 1.000 mdpl terdapat di Kecamatan Pakenjeng dan Pamulihan. Wilayah yang terletak pada
ketinggian 100 - 500 mdpl terdapat di Kecamatan Cibalong, Cisompet, Cisewu, Cikelet dan
Bungbulang serta wilayah yang terletak di daratan rendah pada ketinggian kurang dari
100 mdpl terdapat di Kecamatan Cibalong dan Pameungpeuk.
Wilayah Kabupaten Garut mempunyai kemiringan lereng yang bervariasi antara 0 –
2% sebesar 10,51% atau 32.229 Ha, kemiringan lahan antara 2 – 15% adalah seluas
38.097 ha atau seluas 12,43%, kemiringan lahan antara 15 – 40% adalah seluas 110.326
ha atau sebesar 35,99%. Lahan dengan kemiringan di atas 40% adalah seluas 125.867 ha
atau sebesar 41,06%.
Akibat pengaruh adanya daerah pegunungan, daerah aliran sungai dan daerah
dataran rendah pantai, maka tingkat kesuburan tanah di Kabupaten Garut bervariasi.
Secara umum jenis tanahnya terdiri dari tanah sedimen hasil letusan Gunung Berapi
Papandayan dan Gunung Guntur, dengan bahan induk batuan turf dan batuan kuarsa.
Pada daerah sepanjang aliran sungai, terbentuk jenis tanah aluvial yang merupakan hasil
sedimentasi tanah akibat erosi di bagian hulu. Jenis tanah podsolik merah kekuningkuningan, podsolik kuning dan regosol merupakan bagian paling luas dijumpai di wilayah
Kabupaten Garut, terutama di wilayah Garut Selatan, sedangkan Garut bagian utara
didomiasi oleh jenis tanah andosol.
Dari permasalahan politik, Kabupaten Garut kembali harus diuji. Melalui SK.
Mendagri Nomor 132.32-829 Tahun 2011 Tertanggal 29 Nompember 2011, Bupati Garut
H. Aceng H.M. Fikri, S.Ag, saat mengawali pidato Nota Pengantar Raperda Tentang RAPBD
Kab. Garut, Raperda tentang penambahan penyertaan modal Pemerintah Daerah Kab.
Garut, dalam Rapat Paripurna DPRD, di gedung DPRD Kabupaten Garut, Senin (5/12),
menyatakan prihatin dengan mundurnya Diky candra sebagai wakil bupati Garut. “Saya
merasa prihatin dan merasa kecewa yang mendalam atas mundurnya Wakil Bupati Garut.
Pada dasarnya saya tidak menghendaki Wakil Bupati mundur karena saya memiliki
keinginan supaya bisa bersama sampai akhir masa jabatan, tapi saya menghormati hak
konstitusional dari Wakil Bupati untuk mengajukan pengunduran diri dalam jabatannya
karena hal itu telah diatur dalam undang-undang”, tuturnya
Dalam kesempatan itulah Bupati menyatakan permohonan maafnya kepada
masyarakat Garut atas dinamika yang berlangsung dalam penyelenggaraan pemerintah di
Kabupaten Garut, terkait dengan pengunduran diri Wakil Bupati Garut Diky Candra.
Kondisi tersebut, menurutnya, di luar kemampuannya selaku pasangan bupati dan
wakilnya, yang secara manusiawi perlu dipandang sebagai dinamika hubungan antara dua
individu. Tentunya hal tersebut tidak dimaksud untuk melakukan pengingkaran atas
amanah yang diembannya, namun semata-mata karena situasi dan kondisi yang pada
akhirnya membuat pasangan ini mengambil pilihan politik yang berbeda.
Meski demikian daerah ini memang telah teruji dari segi politis, sehingga kondisi
dengan mundurnya pendamping bupati tidak berdampak negatif terhadap pelayanan
publik. Sekadar catatan, Pemerintah Kabupaten Garut pernah memiliki wakil bupati
semasa Bupati H. Toharudin Gani, saat itu pendampingnya adalah Drs. H. Mamad Suryana
yang kemudian di akhir karirnya ia dipercaya sebagai Kepala Dinas Pendapatan Provinsi
Jawa Barat. Begitu pula dengan masa pemerintahan H. Agus Supriadi, Wakil Bupati Memo
Hermawan pun turut mencatat proses politik di Pemerintahan Kabupaten Garut, meski
kemudian pasangan ini tidak berlanjut hingga akhir pemerintahannya karena H. Agus
Supriadi tersandung hukum yang kemudian menjadikan Memo Hermawan ditunjuk
sebagai Pelaksana Tugas Bupati hingga akhir jabatannya Januari 2009.
Tuntutan pelayanan publik yang kerap dilontarkan sebagian masyarakat pasca
mundurnya Diky Candra, tentu menjadi hal yang menarik, terlebih reformasi birokrasi
yang menjadi fokus perhatian masyarakat memberi sinyalemen agar Bupati Aceng Fikri
segera menunjuk penggantinya. Permasalahan pun datang, seiring dengan tidak diaturnya
proses penggantian wakil bupati dari jalur independen. Namun demikian Pemkab Garut
kini telah mempersiapkan proses penggantian itu melalui konsultasi-konsultasi dengan
pihak Kementrian dalam Negeri, pengamat hukum, atau bahkan tokoh-tokoh masyarakat
yang dapat dijadikan bekal berharga bagi proses estafeta kepemimpinan di Garut ini.
Seiring dengan dinamika kehidupan sosial kemasyarakatan yang tinggi, Bupati
Garut Aceng Fikri berharap tentunya menjadi sebuah tantangan bagi seluruh jajaran
pemerintah daerah untuk tetap konsisten dalam menjalankan tupoksinya. Jajaran birokrasi
pemerintah daerah tetap memegang teguh nilai-nilai sebagaimana terkandung dalam
Panca Prasetya Korpri, tidak terpengaruh atas situasi yang berkembang akhir-akhir ini.
“Kami berharap seluruh pihak senantiasa mengedepankan kepentingan bersama
dan menghindarkan diri dari upaya untuk mempertajam setiap perbedaan pandangan. Kita
harus fokus pada tujuan bersama dalam rangka meningkatkan kapasitas pembangunan di
Kabupaten Garut demi mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran masyarakat”,
ungkapnya. Kini masyarakat pun semakin berharap kepada Pemerintah Kabupaten Garut
pasca mundurnya Diky Candra.
Sesuai dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Garut
2011-2013, Kabupaten Garut akan diarahkan sebagai kawasan konservasi
dengan dukungan utama sektor agribisnis, pariwisata dan kelautan.
Kabupaten Garut juga termasuk dalam Kawasan Andalan Nasional dan Kawasan
Andalan Provinsi Jawa Barat. Kabupaten Garut ditetapkan sebagai Kawasan Andalan
Nasional dengan sektor unggulan bidang pertanian, industri, perkebunan, pariwisata, dan
perikanan.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 26/2008 tentang RTRWN, selain sebagai
Kawasan Andalan Nasional (KAN), Kabupaten Garut juga termasuk ke dalam Kawasan
Strategis Nasional (KSN) dengan adanya kawasan fasilitas peluncuran roket dan stasiun
pengamat dirgantara di Kecamatan Pemeungpeuk dan Kecamatan Cikelet.
Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 22/2010 tentang RTRW
Provinsi Jawa Barat, dari luas wilayah Kabupaten Garut yang mencapai 307.407 hektar
ditetapkan sebesar 81,39% merupakan kawasan lindung dan diarahkan menjadi daerah
unggulan. Dalam hal tersebut yang diprioritaskan yakni sektor pertanian dan industri
pengolahan pertanian, perikanan dan industri pengolahan perikanan, wisata alam dan
minat khusus, serta kegiatan pertambangan mineral logam dan non logam.
Menurut RTRW Provinsi Jawa Barat tersebut, Kabupaten Garut termasuk ke dalam
Kawasan Strategis Provinsi dengan adanya potensi panas bumi Kamojang-DarajatPapandayan yang potensi pengembangannya bersifat lintas kabupaten/kota. Ditambah
dengan potensi masalah lintas kabupaten yang ditimbulkan akibat dibukanya jalur Selatan
Jabar
Sebagai daerah agraris, Kabupaten Garut memiliki daya tarik mempesona, bagai
putri yang tengah tidur, ia memiliki aura yang membuat orang luar tertarik. Tengok saja di
sektor pertanian yang masih menjadi sektor andalan, hal tersebut tercermin dari mata
pencaharian masyarakatnya 65% bertumpu kepada sektor pertanian. Dari produk
domestik bruto sektor pertanian yang mencapai 47,62 % pada tahun 2009, hampir 42%nya merupakan kontribusi sub sektor tanaman pangan dan holtikultura.
Nilai ini memperlihatkan bahwa sub sektor tanaman pangan dan holtikultura
memberikan andil yang cukup besar terhadap perkembangan perekonomian Kabupaten
Garut, sehingga perlu mendapatkan perhatian yang lebih seksama. Komoditas unggulan
sayuran di Kabupaten Garut antara lain kentang, tomat, kubis, dan cabai merah,
berdasarkan data yang ada, khususnya untuk cabai luas tanam untuk tiap tahunnya tidak
kurang dari 3.500 Ha, yang tersebar di bebepara kecamatan sentra pengembangan
holtikultura di Kabupaten Garut. Oleh karenanya Kabupaten Garut sangat potensial untuk
dijadikan pengembangan Cluster cabai merah di wilayah kerja KBI Bandung Jawa Barat.
Menyikapi harga cabai di tingkat konsumen yang sangat fluktuatif pada beberapa
tahun terakhir, Bupati Garut turut angkat bicara. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten
Garut berupaya mendorong terjalinnya kemitraan antara petani cabai dengan pihak
swasta yang bergerak di bidang pengolahan berbahan baku cabai. Dengan harapan
terjalinnya kemitraan, para petani mendapatkan jaminan pasar, jaminan harga serta bagi
pihak yang menjadi mitranya mendapatkan jaminan pasokan bahan baku.
Ia menilai salah satu kendala yang dihadapi para petani dalam melakukan
agrobisnis cabai antara lain lemahnya dukungan kelembagaan, teknologi budi daya serta
dukungan pembiayaan. Ia berharap tercipta kluster-kluster yang mampu bekerja sama
saling melengkapi serta mengakomodir berbagai kebutuhan terkait berbagai hal dari mulai
pembibitan, penanaman, pengadaan sarana produksi sampai kepada pemasaran hasil bisa
berjalan dengan baik.
Lebih jauhnya yang menjadi harapan terbesar para petani, ialah adanya dukungan
dari pihak bank-bank untuk bisa memberikan layanan jasa bagi berlangsungnya
pelaksanaan pengembangan cabai di Kabupaten Garut terutama dalam hal permodalan.
Menurut Pimpinan Bank Indonesia Bandung Lucky Fathul Aziz Hadibrata,
mengungkapkan perkembangan komoditas cabai merah di Jawa Barat, khususnya dari
faktor harga. Berdasarkan pantauan KBI Bandung, bahwa perubahan harga bulanan
komoditas Volatile Foods di Jawa Barat meningkat sebesar 6,24%, lebih tinggi dari
peningkatan harga rata-rata nasional sebesar 5,15%. Di antara komoditas tersebut cabai
merah merupakan komoditas yang mengalami peningkatan harga tertinggi atau
meningkat sebesar 75,89%, lebih tinggi dari rata-rata peningkatan harga cabai merah
Nasional sebesar 53,70%.
Untuk menekan fluktuasi harga yang terjadi, diperlukan dukungan dan koordinasi
dari semua pihak yang terkait. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan
membentuk struktur rantai nilai usaha cabai merah yang efektif dari hulu sampai hilir,
atau juga disebut dengan kluster. Dan Kabupaten Garut dipandang sebagai daerah yang
sangat potensial untuk pengembangan kluster cabai merah, yang merupakan salah satu
bagian dari sektor komoditas pertanian penyumbang terbesar 49 % PDRD Kabupaten
Garut.
Unggulan daerah ini di bidang agribisnis padi sawah, salah satunya adalah beras,
sebagai komoditas strategis berperan penting dalam perekonomian dan ketahanan pangan
nasional, dan menjadi basis utama dalam revitalisasi pertanian kedepan. Sejalan dengan
pertambahan jumlah penduduk, kebutuhan beras di Kabupaten Garut diproyeksikan masih
terus akan meningkat, produksi padi tahun 2010 diproyeksikan sebesar 770.409 ton GKG.
Realisasi produksi padi tahun 2010 mencapai 918.735 ton GKG atau naik sebesar 14,21 %
bila dibandingkan dengan realisasi tahun 2009 (804.457 ton GKG).
Pemerintah
berkeinginan
mempertahankan
swasembada
beras
secara
berkelanjutan. Peningkatan produktivitas padi 5,03 % per tahun dengan indeks panen
1,52 diperkirakan dapat mempertahankan swasembada beras hingga tahun 2014. Untuk
mencapai sasaran tersebut Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian telah dan akan
menghasilkan varietas unggul padi hibrida dan padi tipe baru. Varietas-varietas unggul
yang berdaya hasil tinggi ini diharapkan dapat diaktualisasikan potensi genetiknya melalui
pengembangan teknologi budi daya dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman dan
Sumber Daya Terpadu (PTT).
Dalam penggunaan varitas unggul, varitas Sarinah merupakan varitas unggul lokal
Garut, penggunaan varitas ini tidak kurang dari 80 % dari total luas pertanaman. Secara
umum, Padi Sarinah dikembangkan di Kecamatan Cilawu, Samarang, Tarogong Kaler,
Karangpawitan, Wanaraja, Sukawening, Leuwigoong, Kadungora, dan Bayongbong.
Sayang keberhasilan itu tidak diiringi dengan perluasan lahan, bahkan
terjadi penyempitan. Dalam kurun waktu 8 tahun terakhir ini saja, luas lahan
persawahan di Kabupaten Garut berkurang sekitar 5.000 hektar dari total
lahan sawah sebelumnya seluas sekitar 50.273 hektar. Padahal Kabupaten
Garut termasuk salah satu daerah pemasok beras nasional berkualitas bagus.
"Penyempitan luas lahan sawah dalam beberapa tahun terakhir terutama akibat alih
fungsi lahan menjadi perumahan. Ditambah dengan bertambahnya infrastruktur jalan
seperti adanya jalan lintas Jabar Selatan, dan jalan by pass di Kubang Banyuresmi. Ke
depan mungkin lahan sawah terus berkurang," kata Kepala Dinas Tanaman Pangan dan
Hortikultura Kabupaten Garut Tatang Hidayat dalam suatu kesempatan.
Diakui Tatang, pihaknya kesulitan mengatur penyempitan lahan sawah yang terjadi
akibat alih fungsi lahan. Pasalnya, hingga kini belum ada aturan khusus yang dapat
dijadikan sebagai acuan untuk mengatasi persoalan tersebut. Data luasan sawah yang
digunakan hingga saat ini pun merupakan data yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS)
pada 2003.
Tatang menuturkan, berdasarkan data BPS terkait alokasi rencana tanam dan
target produksi padi pada 2003, luas lahan baku sawah di Kabupaten Garut tersebar di 42
kecamatan mencapai 50.273 hektar. Luas lahan sawah terluas berada di Kecamatan
Bungbulang sekitar 3.526 hektar. Sedangkan luas lahan paling sempit terdapat di
Kecamatan Cigedug yang hanya mencapai 220 hektar.
Dalam kurun waktu 7-8 tahun, luas lahan sawah di Kabupaten Garut ternyata
berkurang seiring banyaknya lahan beralih fungsi ke non sawah. Berdasarkan data yang
dikeluarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Pusdatin) Kementrian Pertanian
pada 2010, terjadi pengurangan lahan sawah di Kabupaten Garut seluas 5.435.12 hektar.
Sehingga total luas lahan sawah di Kabupaten Garut tinggal seluas 44.837,88 hektar.
Berkaitan dengan penyempitan lahan sawah tersebut, Institut Pertanian Bogor
(IPB) pun melakukan penelitian pada 2011. Hasilnya, diketahui bila luas lahan di
Kabupaten Garut berkurang seluas 4.752,42 hektar. "Ada selisih mengenai luas lahan
sawah di Garut antara Pusdatin dengan IPB sekitar 682,70 hektar," kata Tatang.
Di bidang kelautan, yang berada di bagian selatan Kabupaten Garut, hingga
kini masih belum tergali secara maksimal. Padahal, potensi produksi ikan laut
dari kawasan selatan Garut diperkirakan mencapai 10.000 ton MSY (Maximum
Suistanable Year/ tingkat penyediaan ikan di laut secara lestari) per tahun,
termasuk di dalamnya potensi rumput laut, dan potensi kelautan lainnya.
Dengan kewenangan pengelolaan laut sejauh 4 mil dari garis pantai untuk Kabupaten
Garut, potensi ikan yang bisa diproduksi sekitar 10.000 ton MSY per tahun, namun potensi
itu baru dapat dikelola hanya 40%. Bentangan pantai selatan Kabupaten Garut sendiri
mencapai 83 kilometer. Mencakup 23 desa dan 7 kecamatan, yakni Kecamatan Cibalong,
Pameungpeuk, Cikelet, Mekarmukti, Pakenjeng, Bungbulang, dan Caringin. Dan total
jumlah nelayan sebanyak 4.119 dengan sarana tangkap ikan terdiri dari 17 kapal (perahu
berukuran 10 gross ton ke atas) dan 452 perahu. Sedangkan jenis ikan yang bisa
diproduksi di antaranya tongkol, tuna, cakalang, layur, kakap, kerapu, lobster/udang
karang, cumi-cumi, dan gurita.
Pihak Pemkab Garut melalui Dinas Peternakan, Perikanan dan Kelautan
(Disnakanla), telah berupaya meningkatkan produksi ikan laut di perairan laut Selatan
Garut telah dilakukan melalui program akselerasi Selatan Jabar mulai Sukabumi hingga
Ciamis. Antara lain berupa pemberian GPS fish finder agar nelayan bisa melihat potensi
ikan dari permukaan laut, dan rumponisasi. Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) pun
direncanakan ditambah di pantai Cicalobak Kecamatan Mekarmukti. Sedangkan PPI yang
ada saat ini hanya lima buah, yakni di Cibalong, Pameungpeuk, Cikelet Cilauteureun,
Cimari Muara Pakenjeng, dan Ranca Buaya Caringin.
Selama ini pemanfaatan potensi laut yang dilakukan para nelayan di daerah ini
masih sederhana dengan menggunakan alat tangkap ikan congkrang yang jangkauannya
tak terlalu jauh.
Di sektor energi dan pertambangan, Garut hingga kini sebagian besar masih belum
termanfaatkan, padahal selain geothermal (panas bumi) juga terdapat energi angin, air
laut, sinar matahari dan sungai. Dari sekitar 1.045 Mega Watt Elektrik (MWE) potensi
geothermal Garut, baru termanfaatkan 110 MWE yang diekploitasi PT. Chevron
Geothermal Energi Indonesia di lapangan panas bumi Kampung Darajat, Kecamatan
Pasirwangi. Pemkab Garut saat ini pun tak memiliki kesiapan dana Rp12 milyar, untuk
memenuhi biaya studi pendahuluan geothermal oleh konsultan. Meski studi pendahuluan
tersebut semestinya dilaksanakan tahun 2011, sebagai persyaratan pelaksanaan tender
kegiatan ekplorasi dan eksploitasi potensi geothermal 40-70 MWE di Kampung Arinem,
Kecamatan Pakenjeng, pada 2012 ini.
Sehingga studi pendahuluan termasuk tender serta realisasi eksplorasi dan
eksploitasi sumber energi terbarukan itu, terpaksa mengalami penundaan, menunggu
alokasi bantuan dana dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui Dinas Energi dan
Sumber Daya Mineral (ESDM) Jabar.
Sedangkan potensi geothermal lainnya, yang hingga kini masih dibiarkan telantar di
Kabupaten Garut antara lain di Kampung Cilayu, Kecamatan Cisewu serta yang berlokasi
di antara Gunung Guntur dan Masigit, masing-masing berkapasitas energi terpasang
berkisar 40-70 MWE.
Sementara itu, potensi pengembangan energi sumber daya air sungainya, antara
lain terdapat di Cibatarua Kecamatan Pamulihan, Cirompang Kecamatan Bungbulang dan
Cimerak Kecamatan Cibalong dengan kapasitas berkisar 19,57 KW hingga 277,5 KW,
sehingga masih banyak diperlukan sentuhan investor.
Satu lagi Potensi Sumber Ekonomi Kabupaten Garut, yaitu Domba Garut. Sebagai
salah satu ternak alternatif, ternak domba garut sangat berpotensi untuk di kembangkan,
selain harganya mahal domba garut sangat langka. Domba Garut, Ovies Aries, adalah
hasil persilangan dari 3 rumpun bangsa domba : Merino – Australia, Kaapstad dari Afrika
dan Jawa Ekor Gemuk di Indonesia. Domba Jawa Ekor Gemuk sudah ada sebelumnya
sejak lama sebagai jenis domba lokal, Domba Merino dibawa oleh pedagang Belanda ke
Indonesia sedangkan Domba Kaapstad didatangkan para pedagang Arab ke tanah Jawa
sekitar abad ke-19.
Domba Garut sendiri adalah jenis domba tropis bersifat proliflic yaitu dapat beranak
lebih dari dua ekor dalam 1 siklus kelahiran. Dalam periode 1 tahun, Domba Garut dapat
mengalami 2 siklus kelahiran. Domba ini memiliki berat badan rata-rata di atas domba
lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat memiliki berat sekitar 60 hingga 80 kg
bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki
berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan
kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba
betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak
warna yang serupa domba jantan.
Domba Garut merupakan plasma nutfah terlangka di dunia karena postur hewan
ternak ini nyaris menyerupai bison di USA. Populasi Domba Garut terbesar di Indonesia
tentunya ada di wilayah provinsi Jawa Barat dengan lokasi daerah penyebaran antara lain
: Garut, Majalengka, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang,
Indramayu dan Purwakarta.
Satu hal penting dalam mendukung kehidupan perekonomian di Kabupaten Garut
adalah sarana transportasi terutama infrastruktur jalan. Keterbatasan sarana transportasi,
terutama jalan mengakibatkan rendahnya aksesibilitas antar wilayah dan banyaknya
wilayah yang terisolir, sehingga berpotensi terhadap dinamika perkembangan daerah.
Prasarana jalan yang ada belum sepenuhnya dapat mendukung / menunjang
kelancaran lalu lintas perekonomian masyarakat yang merata. Lihat saja, panjang jalan
total di Kabupaten Garut mencapai 4.750,59 km, terdiri dari jalan nasional 30,08 km, jalan
provinsi 282,68 km, jalan Kabupaten 828,76 km, Jalan desa 3.617,32 km
Di luar jaringan jalan yang sudah memiliki status itu terdapat ruas jalan yang belum
ditetapkan fungsi dan statusnya (non status yaitu ruas jalan di koridor Horizontal Garut
bagian Selatan mulai dari Cilaki Batas Kabupaten Cianjur sampai batas Kabupaten
Tasikmalaya sepanjang 94 Km. Dari total panjang jalan tersebut kondisi faktual hingga
Desember 2011 adalah kondisi mantap sepanjang 323,80 km, kondisi sedang 195,75 km,
kondisi rusak / rusak berat 309,29 km, dengan jenis permukaan terdiri dari hotmix 80,24
km, aspal 626,81 km, kerikil/batu 113,71 km, tanah 8,00 km.
Pada Tahun 2011, Pemkab Garut dapat menangani sepanjang 199,62 Km (24,01
%) dari total 828,76 KM, yaitu berupa pembangunan jalan baru sepanjang 0,80 Km,
pembangunan saluran drainase/gorong-gorong sepanjang 970,00 meter, pembangunan
turap/bronjong sebanyak 470,00 Pkt, pemeliharaan rutin jalan kabupaten sepanjang
171,22 Km, pemeliharaan berkala sepanjang 28,40 Km, serta rehabilitasi jembatan
sebanyak 20 buah. Penanganan jalan desa pada tahun angaran 2011 sepanjang 42,63 Km
untuk rehablitasi/pengaspalan (29,66 Km) dan reahabilitasi/ pengaspalan sepanjang 12,07
Km dari Bantuan Provinsi.
Tahun ini, Pemkab Garut melalui Dinas Bina Marga akan menangani jalan dalam
kota, meliputi pemeliharaan jalan dalam kota wilayah Garut Kota dan Tarogong sepanjang
14,64 Km, kemudian pembangunan Jalan By Pass Garut Tahap IV di wilayah Kecamatan
Tarogong dan Banyuresmi yang dianggarkan sebesar Rp 7,5 M. Selain itu dibangun pula
Jembatan Maleer II Jalan By Pass Kecamatan Banyuresmi, serta peningkatan jalan
Wanaraja – Talagabodas yang dianggarkan tidak kurang dari Rp 3,9 M.
Proyek pembangunan Jalan Bypass Kubang-Banyuresmi sendiri baru dimulai sejak
tahun 2008 lalu dengan pembebasan lahan. Direncanakan proyek Jalan Bypass sepanjang
2,457 Km dan lebar 21 meter itu akan selesai pada tahun 2013 mendatang. Bupati Garut
H. Aceng HM Fikri, S.Ag, di sela-sela peninjauan beberapa waktu lalu, mengatakan,
pembangunan jalan ini dimaksudkan selain untuk membuka pusat pertumbuhan ekonomi
dan perluasan kota, juga dimaksudkan sebagai jalur alternatif dalam menghadapi Hari
Raya Idul Fitri mendatang.
Pembangunan jalan diharapkan dapat selesai pada tahun 2013, yang masih
membutuhkan anggaran sebesar Rp 38 milyar, sementara Pemkab Garut sudah
mengalokasikan anggaran sebesar Rp 3,8 milyar ditambah dari anggaran perubahan 2011
sebesar 1,5 milyar rupiah, yang digunakan selain untuk pengerjaan jalan juga untuk
pembebasan lahannya.
Kabupaten Garut di usianya yang ke-199 tahun ini, memang terus membenahi
potensi berbasis pelayanan publik guna mengejar ketertinggalan dari daerah lain. Langkah
strategis diupayakan untuk memperkuat insfrastruktur terhadap akses pengembangan
ekonomi. Dalam upaya mewujudkan pembangunan tersebut, dirumuskan 26 prioritas
pembangunan yakni, peningkatan kualitas pendidikan pada penuntasan wajar dikdas 9
tahun dan pancanangan wajar 12 tahun, peningkatan semua jenjang pada jalur
pendidikan, pemberdayaan pemuda dan peningkatan prestasi olah raga serta partisipasi
sekolah menengah kejuruan.
Menurut Bupati Garut Aceng H.M. Fikri, S.Ag, yang menjadi prioritas pembangunan
adalah peningkatan daya saing usaha dan nilai tambah produk lokal, diprioritaskan pada
pembangunan pusat informasi potensi, produksi dan pasar termasuk peningkatan nilai
tambah dan daya saing produk lokal. Di sektor pariwisata adalah pengembangan budaya
daerah serta menggali potensi wisata.
Tentu saja harapan itu tidak sekadar jadi wacana, semestinya perlu adanya
kesamaan visi dan persepsi melalui ‘rempug jukung’, kebersamaan antar pihak
pemerintah, legislatif, yudikatif, media massa, masyarakat, dan unsur stake holder agar
Visi Garut mewujudkan Kabupaten Garut wujud yang Mandiri dalam Ekonomi, Adil dalam
Budaya dan Demokratis dalam Politik yang Didasari Ridlo Alloh SWT bisa segera terwujud
dan dinikmati masyarakat.
Selamat Hari Jadi ke-199 Kabupaten Garut. Bangkit dan Maju Bersama !!!!
Download