ANALISIS PENGARUH TARIF PAJAK DAN ADOPSI IFRS
TERHADAP FOREIGN DIRECT INVESTMENT (FDI) PADA NEGARANEGARA BERKEMBANG DI ASIA
Florency Marbun, Dwi Martani
1. Program Ekstensi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Jakarta
2. Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Jakarta
E-mail: [email protected]
Abstrak
Penelitian ini menganalisis pengaruh tarif pajak dan adopsi IFRS terhadap Foreign Direct Investment (FDI) pada
negara-negara berkembang di Asia dengan menggunakan analisis deskriptif dan regresi data panel. Penelitian ini
dilakukan pada 22 negara berkembang di Asia dengan objek penelitian yaitu tahun 2005 sampai dengan tahun
2013. Hasil penelitian menunjukkan bahwa besarnya tarif pajak di suatu negara berpengaruh negatif terhadap arus
masuk FDI, begitu juga tingkat adopsi IFRS yang dilakukan oleh negara-negara berkembang di Asia berpengaruh
positif terhadap arus masuk FDI di negara tersebut. Kebijakan negara dalam menentukan tarif pajak dan keputusan
melakukan adopsi IFRS memberikan suatu institutional advantage, yang menjadi nilai tambah bagi negara tersebut
di mata investor dalam mengambil keputusan untuk melakukan FDI.
Analysis Effect of Tax Rate and IFRS Adoption on Foreign Direct Investment in Asian
Developing Countries
Abstract
This study analyzed the effect of the tax rate and IFRS adoption on the Foreign Direct Investment (FDI) in Asian
developing countries by using descriptive analysis and panel data regression. This study was conducted in 22 Asian
developing countries, with the object of study is from 2005 to 2013. The results showed that the tax rate in a
country made negative impact on FDI inflows. IFRS adoption by the Asian developing countries has a positive
impact on the FDI inflows. The government’s policy in determining the tax rate and the decision in IFRS adoption
provide an institutional advantage, which is become an added value to support the investor’s decision on
transferring FDI to the country.
Key words: tax rate, IFRS adoption, FDI, developing countries, Asia, data panel regression
Pendahuluan
Globalisasi yang terjadi kini menyebabkan pisah batas antarwilayah negara menjadi
semakin hilang. Kemudahan transaksi lintas negara dan kemudahan dalam transfer modal serta
teknologi antar negara mendorong perusahaan untuk tidak lagi hanya melakukan kegiatan usaha
di dalam negeri, namun secara aktif juga merambah pasar luar negeri, salah satunya dengan
melakukan penanaman modal langsung di negara selain negara domisili (Foreign Direct
Investment/FDI). Bagi negara penerima modal, FDI dipandang sebagai salah satu faktor yang
mempercepat pertumbuhan ekonomi (Hansen dan Rand, 2006). Khususnya di negara-negara
berkembang, FDI menjadi salah satu sumber pendanaan bagi pertumbuhan dan perkembangan
perekonomian. Sebagian besar kemajuan ini disebabkan oleh adanya transfer teknologi dan
transfer pengetahuan yang menggiring pertumbuhan produktivitas modal dan tenaga kerja di
negara penerima modal, seiring dengan arus masuk FDI.
Berdasarkan World Investment Report 2015, negara-negara berkembang di Asia
merupakan regional yang menjadi sasaran FDI terbesar di dunia. Pada tahun 2014, arus masuk
FDI ke negara-negara berkembang di Asia memiliki porsi 40% dari seluruh arus masuk FDI di
dunia (UNCTAD, 2015). Pemerintah di negara-negara berkembang secara aktif ingin menarik
modal asing masuk ke wilayahnya dengan memberikan berbagai insentif, salah satunya melalui
tarif pajak. Pemerintah suatu negara memberikan insentif kepada pemberi modal berupa
pengurangan pajak maupun tarif pajak yang rendah. Tren penurunan tarif pajak ini terlihat di
beberapa negara misalnya Indonesia dengan tarif pajak badan 28% pada tahun 2009 turun
menjadi 25% di tahun 2010. Filipina dengan tarif pajak sebesar 35% pada tahun 2008 turun
menjadi 30% pada tahun 2009. Hingga kini terdapat beragam hasil penelitian mengenai
hubungan antara tarif pajak dan FDI dalam literatur empiris. De Mooij dan Enderveen (2005)
menemukan pengaruh negatif antara tarif pajak dan FDI, sedangkan Slemrod (1991) dan
Hunady (2014) menemukan bahwa tarif pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap arus
masuk FDI. Dalam hal tarif pajak tidak berpengaruh secara signifikan bagi keputusan investor
untuk melakukan investasi (Hunady, 2014), tentu insentif ini menjadi tidak efektif. Sementara
porsi pajak yang menjadi penerimaan negara tersebut berkurang, namun investasi asing yang
masuk ke negara tersebut juga tidak bertumbuh. Hal ini menjadi trade off yang tidak seharusnya
dialami oleh pemerintah.
Selain mempertimbangkan pengaruh beban pajak sebagai bagian yang mempengaruhi FDI,
investor juga memperhatikan bagaimana kualitas laporan keuangan dapat dihasilkan oleh
perusahaan di suatu negara. Salah satu faktor yang mempengaruhi kualitas laporan keuangan
adalah standar akuntansi yang berlaku di setiap negara (Barth et al., 2007). Dengan semakin
hilangnya batas antar negara, kebutuhan akan harmonisasi standar akuntansi dan penggunaan
standar akuntansi yang berlaku secara internasional semakin besar. Harmonisasi akuntansi akan
dapat meningkatkan komparabilitas, sehingga laporan keuangan lebih dapat diandalkan (Aljifri
dan Khasharmeh, 2006). IFRS sebagai standar internasional telah diterapkan oleh sejumlah
negara di dunia, dengan tingkat adopsi yang berbeda-beda. Kathryn (2005) telah
mendokumentasikan lebih dari 100 negara yang telah mengadopsi IFRS sejak tahun 2005 baik
secara mandatory maupun voluntary.
Pengaruh adopsi IFRS terhadap arus masuk FDI telah dilakukan beberapa peneliti
sebelumnya, baik dalam tingkat perusahaan maupun tingkat negara. Penelitian-penelitian ini
juga menunjukkan hasil yang beragam. Marquez (2011) dan Gordon (2012) menemukan
hubungan positif antara keputusan negara melakukan adopsi IFRS dan arus masuk FDI,
sedangkan Lasmin (2012) dan Nnadi (2015) menemukan hubungan negatif antara adopsi IFRS
dan FDI.
Pentingnya peranan FDI dalam pertumbuhan perekonomian negara-negara berkembang,
telah menarik perhatian para peneliti untuk menyelidiki faktor-faktor yang mempengaruhi FDI.
Insentif berupa penurunan tarif pajak serta penerapan standar akuntansi internasional
merupakan beberapa nilai tambah bagi suatu negara dalam mempromosikan wilayahnya
sebagai sasaran FDI di mata investor asing. Untuk itu, penelitian ini akan menguji pengaruh
tarif pajak dan adopsi IFRS terhadap arus masuk FDI di negara-negara berkembang di Asia.
Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya dalam hal pengukuran tingkat adopsi
IFRS. Sebagian besar penelitian terdahulu membagi pengukuran adopsi IFRS menjadi dua
yaitu: negara dengan adopsi IFRS secara penuh dan negara yang tidak melakukan adopsi IFRS.
Pengukuran adopsi IFRS dalam penelitian ini dilakukan dengan scoring. Skor diberikan agar
dapat memperhitungkan strategi adopsi IFRS secara bertahap yang sebagian besar dipilih oleh
negara-negara berkembang.
Tinjauan Teoritis dan Pengembangan Hipotesis
Foreign Direct Investment (FDI) adalah proses dimana penduduk dari salah satu negara
(home country) mempunyai kepemilikan atas aset untuk melakukan kontrol atas produksi,
distribusi dan aktivitas perusahaan lain di negara lainnya (Moosa, 2002). The United Nations
World Investment Report yang diterbitkan oleh United Nations Conference on Trade and
Development (UNCTAD) mendefenisikan FDI sebagai sebuah investasi jangka panjang yang
menghasilkan lasting interest dan kontrol oleh suatu entitas ekonomi di suatu negara dalam
entitas di negara lain. Istilah investasi jangka panjang dan sifat kontrol ini menjadi pembeda
yang mendasar antara FDI dan investasi portofolio lintas negara, karena investasi dalam
portofolio tidak mengejar kontrol atau lasting interest. UNCTAD menyatakan menyatakan
yang menjadi motif perusahaan multinasional dalam melakukan FDI yaitu: motif menguasai
sumber daya (resource-seeking), motif mencari pasar yang luas (market-seeking), dan motif
efisiensi (efficiency-seeking).
Dunning (2006) melakukan kajian yang bersifat eklektik dengan menggabungkan tiga
perspektif dalam membangun teori mengenai FDI: freedom of choice (Sen, 1999) – structural
transformation of societes(Stiglitz, 1998) – institutional (North, 1999). Dengan upaya
penggabungan ini, pendekatan Dunning (2006) menjadi pendekatan yang sangat komprehensif,
karena bukan hanya melibatkan aspek ekonomi namun juga melibatkan aspek sosial, budaya,
politik, hingga lingkungan moral. Pemikiran Dunning (2006) dikenal dengan singkatan OLI
(Ownership advantage – Location Advantage – Internalisation advantage). Ownership
advantage mengacu pada pemikiran Hymer (1960) tentang perlunya memperkokoh kontrol
terhadap investasi yang ditanam. Kontrol tersebut karena investor asing harus memiliki
keunggulan yang spesifik jika harus berhadapan dengan investor lokal. Untuk memperkuat
keuntungan ownership, maka investor mengkombinasinya dengan kepemilikan input yang
tidak dimiliki atau dikuasai oleh investor lokal. Maka pertimbangan investor asing haruslah
pada pemilihan lokasi yang paling menguntungkan (location advantage). Untuk memperkuat
keuntungan ownership, location, maka investor asing harus melakukan internalisasi.
Selaras dengan teori paradigma Dunning (2006), aspek perpajakan dan tingkat kualitas
laporan keuangan yang terwujud dalam adopsi IFRS yang dilakukan oleh suatu negara dapat
mempengaruhi keputusan tersedianya suatu location advantage bagi investor asing yang ingin
berinvestasi. Penelitian mengenai pengaruh tarif pajak terhadap FDI banyak mengacu kepada
penelitian yang dilakukan oleh Hartman (1985) sebagai literatur awal. Hartman (1985)
menemukan dampak negarif dari tarif pajak terhadap FDI. Hasil penelitian ini juga seiring
dengan penelitian oleh De Mooij dan Enderveen (2005), Talpos dan Vancu (2009), Djankov et
al. (2010). Di sisi lain, beberapa peneliti menemukan tarif pajak tidak berdampak signifikan
terhadap FDI (Slemrod (1991), Wheeler dan Mody (1992), serta Hunady dan Orviska (2014)).
Devereux dan Griffith (2002) menyatakan bahwa hal yang akan mempengaruhi keputusan
perusahaan multinasional untuk terjun ke FDI adalah pertimbangan faktor perpajakan yang
akan dihadapi perusahaan tersebut nantinya. Sebuah perusahaan multinasional terlebih dahulu
harus memutuskan apakah akan mengakses pasar luar negeri dengan melakukan produksi
dalam negeri kemudian melakukan ekspor, atau langsung melakukan produksi di luar negeri
(Moosa, 2002). Jika perusahaan memutuskan untuk melakukan produksi di luar negeri,
perusahaan harus memutuskan lokasi spesifik yang menyediakan fasilitas produksi dan
menghasilkan tingkat pengembalian tertinggi (Dunning, 2006). Atas suatu laba operasi yang
diperoleh perusahaan tersebut, semakin rendah beban pajak yang dibayarkan, semakin tinggi
tingkat pengembalian yang akan diperoleh investor. Hal ini akan mendorong investor memilih
berinvestasi di negara dengan tarif pajak yang lebih rendah. Oleh sebab itu, untuk menguji
dampak tarif pajak terhadap arus masuk FDI, disusun hipotesis:
H1: Tarif pajak di suatu negara berpengaruh negatif terhadap arus masuk FDI.
Dengan semakin hilangnya batas antar negara yang terlihat melalui pertumbuhan
perdagangan internasional dan arus modal internasional yang tinggi, maka kebutuhan terhadap
praktik akuntansi internasional semakin besar. Perkembangan standar akuntansi keuangan di
dunia semakin mengarah kepada suatu standar tunggal yang mampu melintasi batas negara dan
mampu menghasilkan informasi keuangan yang dapat diperbandingkan sehingga laporan
keuangan akan lebih dapat diandalkan (Aljifri dan Khasharmeh, 2006). Oleh sebab itu,
kebutuhan akan harmonisasi standar akuntansi dan penggunaan standar akuntansi yang berlaku
secara internasional semakin besar.
Untuk menjawab kebutuhan tersebut, International Accounting Standards Board (IASB)
berusaha melakukan harmonisasi standar-standar yang berbeda dengan menerbitkan
International Accounting Standards (IASs), yang sekarang dikenal dengan International
Financial Reporting Standards (IFRSs). IFRS telah diterapkan oleh sejumlah negara di dunia,
dengan tingkat adopsi yang beragam. Adopsi IFRS dapat dilakukan dalam lima tingkatan:
1. full
adoption,
dimana
suatu
negara
mengadopsi
seluruh
produk
IFRS
dan
menerjemahkankata per kata,
2. adapted, dimana suatu negara mengadopsi seluruh IFRS tetapi disesuaikan dengan kondisi
negara tersebut,
3. piecemeal, dimana suatu negara mengadopsi sebagian nomor IFRS yaitu nomorstandar
tertentu dan hanya memilih paragraf tertentu saja,
4. referenced, dimanasuatu negara menjadikan IFRS sebagai referensi dalam penyusunan
standar yangdibuat sendiri oleh badan pembuat standar,
5. not adoption at all, dimana suatunegara sama sekali tidak mengadopsi IFRS (Media
Akuntansi (2005), dalamPanggabean (2007)).
Adopsi IFRS sebagai standar akuntansi internasional dapat menjamin kualitas pelaporan
yang tinggi. IFRS disusun berdasarkan principles based standards. Keunggulan principles
based
standards
dibandingkan
rule
based
standards
adalah
perusahaan
dapat
mengimplementasikan standar akuntansi sesuai dengan karakteristik khusus yang dimilikinya
sehingga pelaporan keuangan yang dihasilkan akan lebih mencerminkan nilai ekonomis
perusahaan. Peranan standar akuntansi terhadap proses dan hasil pelaporan keuangan
menunjukkan bahwa penggunaan standar akuntansi internasional memberikan dampak positif
bagi pelaporan keuangan dengan semakin meningkatnya komparabilitas dan keandalan laporan
keuangan.
Penelitian mengenai hubungan tingkat konvergensi IFRS dan FDI memperoleh hasil yang
beragam. Lasmin (2012) dan Nnadi (2015) menyatakan bahwa tidak terdapat pengaruh positif
antara adopsi IFRS dengan arus masuk FDI pada negara-negara berkembang (Lasmin, 2012)
dan pada negara-negara Afrika (Nnadi, 2015), sedangkan Gordon (2012) menemukan bahwa
pada negara berkembang, adopsi IFRS berpengaruh positif terhadap FDI. Marquez-Ramos
(2008), dengan menggunakan gravity model, menyatakan hubungan kausalitas dimana negara
dengan tingkat arus masuk FDI yang tinggi cenderung ingin mengimplementasikan IFRS
sebagai konsekuensi, bukan sebagai penyebab. Pada tahun 2011, Marquez-Ramos melanjutkan
studi mengenai pentingnya penerapan IFRS dan menyimpulkan bahwa implementasi IFRS
dapat meningkatkan transparansi dan komparabilitas keuangan dan sebagai hasilnya, dapat
meningkatkan FDI dan perdagangan internasional.
Marquez-Ramos (2011) menemukan adanya pengurangan biaya informasi antara negaranegara Eropa setelah mereka melakukan adopsi IFRS, Marquez (2011) juga mengungkapkan
kaitan IFRS dalam membangun ‘level of familliarity’ antara perusahaan domestik dan
perusahaan asing. Marquez-Ramos (2011) dan Babio-Arcay dan Muino-Vázquez (2005)
menunjukkan bahwa transparansi meningkatkan efek komparabilitas, mengurangi informasi
yang asimetris, dan akhirnya mampu meningkatkan aliran investasi asing langsung yang masuk.
Oleh sebab itu, untuk menguji pengaruh adopsi IFRS terhadap arus masuk FDI, hipotesis yang
dirumuskan adalah sebagai berikut:
H2: Adopsi IFRS pada negara-negara berkembang di Asia berpengaruh positif
terhadap arus masuk FDI.
Selain tarif pajak dan adopsi IFRS di suatu negara, terdapat faktor-faktor lain yang
mempengaruhi FDI yang digunakan sebagai variabel kontrol dalam penelitian ini, yaitu:
1.
Ukuran Pasar. Semakin besar ukuran pasar domestik di suatu negara diharapkan akan
memiliki efek positif terhadap aliran FDI yang masuk ke negara tersebut. (Taylor (2000),
Chakrabarti (2001) pada Nunnenkamp dan Spatz, (2002)). Seperti yang dinyatakan dalam
literatur UNCTAD yang menyimpulkan motif perusahaan dalam melakukan FDI salah
satunya adalah market seeking. Hal ini disebut sebagai horizontal FDI yaitu FDI yang
bertujuan mencari pasar baru.
2.
Tingkat Pembangunan Ekonomi. Semakin tinggi tingkat pembangunan ekonomi di suatu
negara dan semakin sejahtera masyarakat diharapkan akan meningkatkan permintaan akan
barang dan jasa di negara tersebut. Semakin tinggi daya beli masyarakat di suatu negara
selanjutnya dapat menarik aliran FDI yang masuk (Zhu et al., 2012) karena investor asing
yang masuk berusaha untuk mengambil kesempatan atas potensi keuntungan yang ada di
negara tersebut seperti dinyatakan dalam konsep paradigma Dunning (2005) mengenai
behaviour perusahaan multinasional.
3.
Keterbukaan Perekonomian. Keterbukaan terhadap perdagangan merefleksikan hubungan
perdagangan host country dengan dunia internasional. Diharapkan keterbukaan
perdagangan ini memiliki hubungan positif terhadap FDI, khususnya dalam hal
kecenderungan FDI yang mencari sumber dan efisiensi untuk berproduksi, faktor
keterbukaan perekonomian host country akan menjadi keuntungan bagi investor.
Keterbukaan perekonomian berarti semakin sedikitnya batasan atau hambatan untuk
masuk ke pasar tersebut. Keterbukaan perekonomian merupakan salah satu faktor
institusional yang mampu menarik arus masuk FDI (Buckley et al., 2012; Bartels et al.,
2013). FDI dengan motif market seeking akan berkembang pesat di negara yang
keterbukaan perekonomiannya tinggi (Akisik, 2008).
4.
Infrastruktur. Pembangunan infrastruktur dalam hal komunikasi dan teknologi (ICT)
diperkirakan akan menjadi faktor yang mendorong arus masuk FDI ke negara-negara
berkembang. ICT yang berkembang dapat mengurangi biaya produksi juga dapat
meningkatkan standar hidup masyarakat. ICT merupakan salah satu faktor determinan FDI
di negara berkembang ( Addison dan Heshmati, 2003) dan sebagai determinan utama, ICT
membantu perkembangan inovasi dan transparansi yang akhirnya dapat menambah volume
investasi. Lebih lagi, ICT juga mampu mengurangi waktu dan menjadi solusi masalah jarak
dalam menyelesaikan transaksi, misalnya internet marketing (Economou, 2008).
5.
Level of Governance. Korupsi sebagai proksi tingkat tata kelola di suatu negara juga secara
signifikan berkaitan dengan perpindahan modal internasional. Tingkat korupsi menjadi
penghambat masuknya arus modal asing. Level korupsi yang tinggi mengarah pada
penurunan arus masuk FDI (Wei, 2000; Habib dan Zurawicki, 2002).
Metode Penelitian
Negara berkembang yang menjadi objek penelitian ini adalah negara berkembang
menurut klasifikasi United Nations Development Programme dalam laporan yang berjudul
World Economic and Prospects 2014. Obyek penelitian adalah arus masuk FDI pada tahun
2005 hingga tahun 2013. Data yang digunakan merupakan data sekunder berbentuk panel.
Pemilihan sampel negara-negara berkembang di Asia didasarkan pada ketersediaan data.
Sampel terdiri dari 198 observasi dari setiap variabel yang terdiri dari informasi 22 negara
selama tahun 2005 sampai dengan tahun 2013. Model dalam penelitian ini adalah:
, = 0 + 1 , + 2 , + 3 , + 4 ,
+ 5 , + 6 , + 7 , + ,
Tabel 1. Deskripsi Variabel
Variabel
Deskripi
Variabel Dependen
arus masuk FDI di suatu negara yang diambil dari Balance of
FDI it
Payment untuk negara i di tahun t dibandingkan dengan GDP
negara i pada tahun t.
Variabel Independen
Tarif pajak efektif rata-rata di suatu negara (merupakan
TAXit
persentase beban pajak terhadap total income)
Sumber Data
Skor “2” diberikan untuk negara yang memenuhi salah satu
kondisi sebagai berikut: (1) negara yang telah melakukan adopsi
penuh terhadap IFRS, (2) negara yang mewajibkan penggunaan
IFRS bagi seluruh perusahaan listed di negaranya, (3) negara
yang memiliki standar akuntansi lokal yang secara substansial
telah sesuai dengan IFRS.
Skor “1” diberikan untuk negara yang memenuhi salah satu
kondisi sebagai berikut: (1) negara dimana IFRS diizinkan untuk
digunakan secara voluntary sebagai standar pelaporan akuntansi
bagi perusahaan di negaranya, (2) negara yang mewajibkan
pengggunaan IFRS sebagai standar akuntansi untuk industri
tertentu, (3) negara yang dalam penyusunan standar akuntansi
lokal merujuk pada IFRS sehingga terdapat beberapa bagian
standar lokalnya diadopsi dari IFRS.
Skor “0” diberikan untuk negara yang tidak mengizinkan
penggunaan IFRS sebagai standar laporan keuangan di
negaranya.
Variabel Kontrol
Logaritma natural GDP.GDP merupakan jumlah gross value
SIZEit
added oleh semua produsen disuatu negara.
Logaritma natural dari total GDP perkapita suatu negara.
GDPPCit
IFRS in your pocket 20052013 by Deloitte, IFRS by
country oleh Pwc, IFRSJurisdiction profile.
ADOPTit
http://databank.worldbank.
org/data/home.aspx
http://databank.worldbank.
org/data/home.aspx
http://databank.worldbank.
org/data/home.aspx
http://databank.worldbank.
org/data/home.aspx
OPENNESSit
ICTit
CPIit
Merupakan jumlah ekspor dan impor dibandingkan dengan GDP
http://databank.worldbank.
di suatu negara.
org/data/home.aspx
Merupakan jumlah rata-rata pengguna internet (per 100 orang) di
http://databank.worldbank.
suatu negara.
org/data/home.aspx
Corruption Perception Index di suatu negara.
http://transparency.org/cpi
Hasil Penelitian
Tabel 2 menyajikan rangkuman nilai deskripsi statistik dari masing-masing variabel
dependen, variabel independen, dan variabel kontrol atas sampel penelitian.
Tabel 2. Statistik Deskriptif 22 Negara Berkembang di Asia
Variable
FDI_GDP
TAX
ADOPT
SIZE
GDP_PC
OPENNESS
ICT
CPI
N
198
198
198
198
198
198
198
198
Mean
0.044
31.457
1.333
25.782
14361.710
101.527
32.224
42.465
Median
0.031
32.400
1.000
25.863
6105.251
89.735
27.541
37.000
Maximum
0.209
49.302
2.000
29.881
57154.540
290.414
90.004
94.000
Minimum
-0.004
11.300
0.000
22.978
485.853
32.072
0.242
13.000
Std. Dev.
0.045
11.842
0.683
1.425
16449.570
57.889
24.228
17.809
Sumber: Olahan penulis
Berdasarkan tabel 2, rasio arus masuk FDI terhadap GDP di tiap negara rata-rata 4,4%
dengan nilai minimum -0,4% yaitu Qatar pada tahun 2013 dimana ini merupakan nilai terkecil
FDI Qatar sejak tahun 1970 yang menunjukkan jumlah investasi terbalik atau disinvestment
terjadi di Qatar pada tahun 2013. Nilai maksimum rasio FDI adalah maksimum 20,9% yaitu
Singapore. Selain Singapore, Jordan juga mengalami rasio arus masuk FDI tertinggi pada tahun
2013. Jika ditelusuri rata-rata FDI tiap tahun seperti tersaji pada Tabel 3. Rasio arus masuk FDI
dibagi GDP cenderung mengalami penurunan. FDI dari tahun 2005 hingga 2006 mengalami
kenaikan, namun sejak tahun 2007 hingga 2012 memiliki tren yang menurun dan kemudian
naik lagi di tahun 2013. Pada tahun 2005 sebesar 4,7% terus menurun hingga 3,6% pada tahun
2013. Hal ini salah satunya dipicu oleh rata-rata GDP yang terus meningkat di negara-negara
sampel.
Tabel 3. Statistik Deskriptif Tahun 2005-2013
TAHUN
FDI/GDP
2005
0.047
2006
0.061
2007
ADOPT
LN_SIZE
ICT
CPI
32.832
0.955
25.260
11412.452
32.819
0.955
25.419
12384.794
104.650
16.918
39.832
103.636
19.729
39.972
0.059
32.555
1.091
25.588
13348.908
103.523
24.967
38.745
2008
0.048
32.191
1.318
25.781
14854.638
104.702
28.404
40.017
2009
0.040
31.637
2010
0.040
30.409
1.364
25.734
13015.866
93.900
30.977
40.108
1.500
25.899
14416.339
96.996
35.650
39.790
2011
0.035
30.532
1.545
26.058
16218.373
101.757
40.095
39.972
2012
0.035
30.009
1.636
26.123
16628.437
103.240
43.470
42.426
2013
0.036
30.132
1.636
26.179
16975.582
101.335
46.318
42.199
Sumber: Olahan penulis
TAX
GDP_PC
OPENNESS
Dari 22 negara sampel penelitian, rentang variasi tarif pajak efektif di setiap negara
cukup jauh. Nilai minimum tarif pajak efektif adalah 11,3% yaitu di negara Qatar selama tahun
2005 sampai dengan tahun 2013. Nilai maksimum sebesar 49,3% yaitu tarif pajak efektif di
negara China dan India pada tahun 2005 hingga 2011. Nilai rata-rata tarif pajak efektif pada
seluruh sampel penelitian adalah 31,4%. Berdasarkan Tabel 3 rata-rata tarif pajak efektif
mengalami tren penurunan dari tahun 2005 hingga tahun 2013 kecuali pada tahun 2011. Bahrain
mengalami penurunan tarif pajak efektif pada tahun 2010 dari 14,7% menjadi 13,5%. Brunei
Darussalam juga mengalami penurunan tarif pajak efektif yang cukup jauh sebesar 30,1% pada
tahun 2009 menjadi 15,7% pada tahun 2010. Israel dan Jordan pun mengalami tren penurunan
tarif pajak efektif yang sama.
Tingkat adopsi IFRS di negara-negara berkembang juga selaras dengan meningkatnya
jumlah negara yang mengadopsi IFRS di dunia berdasarkan IFRS jurisdiction profile.
Gambar 1. Skor Adopsi IFRS tahun 2005 s.d. 2013
Konvergesi IFRS
16
14
12
10
8
6
4
2
0
2005
2006
2007
2008
Value 0
2009
Value 1
2010
2011
2012
2013
Value 2
Skor “2” diberikan untuk negara yang memenuhi salah satu kondisi sebagai berikut: (1) negara
yang telah melakukan adopsi penuh terhadap IFRS, (2) negara yang mewajibkan penggunaan
IFRS bagi seluruh perusahaan listed di negaranya, (3) negara yang memiliki standar akuntansi
lokal yang secara substansial telah sesuai dengan IFRS. Skor “1” diberikan untuk negara yang
memenuhi salah satu kondisi sebagai berikut: (1) negara dimana IFRS diizinkan untuk digunakan
secara voluntary sebagai standar pelaporan akuntansi bagi perusahaan di negaranya, (2) negara
yang mewajibkan pengggunaan IFRS sebagai standar akuntansi untuk industri tertentu, (3) negara
yang dalam penyusunan standar akuntansi lokal merujuk pada IFRS sehingga terdapat beberapa
bagian standar lokalnya diadopsi dari IFRS. Skor “0” diberikan untuk negara yang tidak
mengizinkan penggunaan IFRS sebagai standar laporan keuangan di negaranya.
Pada tahun 2005 sebanyak 6 negara sampel telah melakukan adopsi IFRS secara penuh
maupun mengizinkan penggunaan IFRS untuk seluruh perusahaan yang terdaftar di negaranya.
Terdapat 9 negara yang mulai mengadopsi IFRS dalam standar laporan keuangan negaranya
maupun mengizinkan penggunaan IFRS bagi jenis industri tertentu, dan terdapat 7 negara yang
belum melakukan konvergensi IFRS. Jumlah negara yang mengadopsi IFRS ini terus
meningkat. Pada tahun 2013 seluruh negara sampel penelitian ini telah mengizinkan
penggunaan IFRS sebagai standar pelaporan keuangan di negaranya, mengacu kepada IFRS
dalam penyusunan standarnya dan 14 negara yang telah mengadopsi IFRS secara penuh
maupun yang telah memiliki GAAP lokal yang secara substansial telah sama dengan IFRS.
Hasil Regresi
Berdasarkan hasil uji asumsi klasik, ditemukan bahwa data mengalami masalah
autokorelasi dan heteroskedastisitas. Maka untuk mengatasi masalah ini digunakan random
effect GLS dalam melakukan regresi. Ringkasan hasil regresi ditampilkan pada Tabel 4.
Tabel 4. Model Penelitian
Variabel
Hipotesis
C
Koefisien
Std. Error
t-Statistic
Prob
-0.06829
0.06873
-0.99350
0.32173
TAX
-
-0.00094
0.00040
-2.35203
0.01969**
ADOPT
+
0.00463
0.00248
1.86871
0.06320*
SIZE
+
0.00351
0.00212
1.65277
0.10003
GDP_PC
+
0.00000
0.00000
2.00742
0.04612**
OPENNESS
+
0.00050
0.00015
3.46458
0.00066***
ICT
+
-0.00128
0.00014
-9.33211
0.00000***
CPI
+
0.00050
0.00057
0.87943
0.38028
R-squared
0.322411
Prob (F)
Adjusted R
0.297447
Observations
S.E.Regression
0.021107
0.00000
198
Definisi variabel: TAX = Tarif pajak efektif rata-rata di suatu negara (merupakan persentase beban
pajak terhadap total income), ADOPT = Skor “2” diberikan untuk negara yang memenuhi salah
satu kondisi sebagai berikut: (1) negara yang telah melakukan adopsi penuh terhadap IFRS, (2)
negara yang mewajibkan penggunaan IFRS bagi seluruh perusahaan listed di negaranya, (3)
negara yang memiliki standar akuntansi lokal yang secara substansial telah sesuai dengan IFRS.
Skor “1” diberikan untuk negara yang memenuhi salah satu kondisi sebagai berikut: (1) negara
dimana IFRS diizinkan untuk digunakan secara voluntary sebagai standar pelaporan akuntansi
bagi perusahaan di negaranya, (2) negara yang mewajibkan pengggunaan IFRS sebagai standar
akuntansi untuk industri tertentu, (3) negara yang dalam penyusunan standar akuntansi lokal
merujuk pada IFRS sehingga terdapat beberapa bagian standar lokalnya diadopsi dari IFRS. Skor
“0” diberikan untuk negara yang tidak mengizinkan penggunaan IFRS sebagai standar laporan
keuangan di negaranya., SIZE = Logaritma natural GDP. GDP merupakan jumlah gross value
added oleh semua produsen di negara tersebut, GDP_PC = Total GDP perkapita suatu negara,
OPENNESS = Dihitung berdasarkan jumlah ekspor dan impor dibandingkan dengan GDP, ICT
= merupakan jumlah rata-rata pengguna internet (per 100 orang) di suatu negara, CPI =
Corruption Perception Index di suatu negara
Pada tabel 4 disajikan nilai Prob F yang menunjukkan tingkat signifikansi model. Nilai
probabilitas F-statistic sebesar 0.0000 menjelaskan bahwa berdasarkan pengujian statistik
dengan menggunakan tingkat keyakinan hingga 99%, variabel-variabel independen yaitu tarif
pajak, tingkat adopsi IFRS, serta variabel kontrol yaitu ukuran pasar, tingkat pembangunan
ekonomi, keterbukaan perekonomian, teknologi informasi dan komunikasi, serta level of
governance di suatu negara secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap arus masuk
FDI. Pada tabel 4.4 koefisien determinasi yang ditunjukkan dengan nilai adjusted R-squared
adalah 0,297 sehingga dapat disimpulkan bahwa keseluruhan variabel independen berpengaruh
sebesar 29,7% terhadap variabel dependen yaitu arus masuk FDI, sedangkan faktor-faktor
lainnya yang tidak digunakan dalam penelitian ini berpengaruh sebesar 70,3% terhadap arus
masuk FDI.
Pembahasan
Seluruh variabel kontrol signifikan secara individu dalam mempengaruhi nilai arus masuk
FDI di negara-negara berkembang, kecuali level of governance. Ukuran pasar di suatu negara
berpengaruh positif terhadap FDI yang masuk. Hal ini selaras dengan literatur oleh UNCTAD
dimana para investor memiliki motif market-seeking dalam pengambilan keputusannya untuk
melakukan FDI di negara lain. Tingkat pembangunan ekonomi juga berpengaruh positif.
Selaras dengan hasil penelitian oleh Taylor (2000), Chakrabarti (2001) pada (Nunnenkamp dan
Spatz, 2002), semakin tinggi pembangunan ekonomi dimana kesejahteraan masyarakat di suatu
negara meningkat, maka akan menaikkan tingkat konsumsi barang dan jasa di negara tersebut,
sehingga hal ini menjadi potensi pasar yang baik. FDI dengan motif market-seeking akan
menyasar negara dengan tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi.
Keterbukaan perekonomian di suatu negara menghasilkan hubungan positif terhadap FDI.
Kebijakan perdagangan open-door akan mendorong pertumbuhan FDI di host country. Hasil
penelitian ini mendukung penelitan sebelumnya oleh Buckley, Forsan, & Munjal (2012) dan
Bartels et al. (2013) tentang pentingnya faktor institusional yang akan meningkatkan aliran
masuk FDI di host ocuntry.
Hasil penelitian ini menyatakan hubungan positif antara tingkat tata kelola di suatu negara
dan FDI, namun tidak signifikan. Di negara-negara berkembang Asia, FDI dengan motif resource-seeking lebih banyak dijumpai. Untuk itu, tingkat tata kelola pemerintahan di suatu
negara tidak berpengaruh signifikan terhadap arus masuk FDI. Hasil penelitian ini juga
menunjukkan hubungan negatif antara infrastruktur dan aliran masuk FDI di negara-negara
berkembang di Asia. Selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Nnadi (2015) terhadap
hubungan infrastruktur dengan arus masuk FDI di negara-negara Afrika, variabel infrastruktur
berhubungan negatif dikarenakan dalam hal majunya infrastruktur di suatu negara, akan
mengakibatkan semakin tingginya modal yang diperlukan untuk berproduksi di negara tersebut,
sedangkan untuk negara-negara berkembang di Asia, yang seringkali menjadi motif para
investor asing untuk menanamkan modal adalah ketersediaan sumber daya produksi yang lebih
murah atau yang disebut resource-seeking FDI.
Sesuai dengan Hipotesis 1, hasil penelitian menyatakan bahwa tarif pajak berpengaruh
negatif terhadap arus masuk FDI di suatu negara. Semakin rendah tarif pajak di suatu negara
akan dapat meningkatkan arus masuk FDI di negara tersebut. Korelasi negatif ini selaras dengan
hasil penelitian Hartman (1985) yang pertama kali meneliti pengaruh tarif pajak terhadap FDI,
De Mooij dan Enderven (2005), serta talpos dan Vancu (2009). Hasil ini juga sesuai dengan
paradigma yang dibangun oleh Dunning. Motivasi investor FDI tidak lepas dari alasan untuk
mendapatkan pengembalian yang tinggi. Berdasarkan paradigma OLI, tarif pajak di suatu
negara menjadi salah satu pertimbangan investor dalam berinvestasi di negara tersebut dari sisi
location advantage. Insentif berupa pengurangan tarif pajak merupakan langkah efektif yang
dapat dilakukan pemerintah untuk menarik modal asing masuk ke negaranya.
Keputusan negara dalam mengadopsi IFRS dalam standar pelaporan akuntansi di
negaranya berpengaruh positif terhadap arus masuk FDI dengan signifikansi 10% seperti
dinyatakan dalam hipotesis dua. Peningkatan kegiatan bisnis global merupakan bagian yang
semakin penting dari perekonomian dunia. Salah satu aspek yang mendasar dari kegiatan ini
berkaitan dengan FDI. Investasi asing sangat penting khususnya bagi negara-negara dengan
karakter tertentu seperti negara-negara yang perekonomiannya dalam tahap berkembang. FDI
memberikan dorongan ekonomi untuk perekonomian di negara-negara tersebut. Seperti yang
ditunjukkan dalam penelitian ini, IFRS diadopsi oleh negara, terutama negara berkembang,
memiliki dampak positif terhadap arus masuk FDI ke negara tersebut.
Kesimpulan dan Implikasi
Hasil penelitian ini menunjukkan tarif pajak berpengaruh negatif terhadap arus masuk
FDI dan adopsi IFRS di negara-negara berkembang di Asia berpengaruh positif terhadap arus
FDI yang masuk ke negara tersebut. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi
pemerintah sebagai regulator bahwa penetapan tarif pajak efektif yang cukup rendah secara
signifikan dapat meningkatkan arus masuk FDI di negara tersebut. Namun tidak dapat
diabaikan juga faktor-faktor lainnya yang secara signifikan juga dapat menarik minat investor
untuk menanamkan modalnya di suatu negara, seperti ukuran pasar, pembangunan ekonomi,
keterbukaan perekonomian, serta level of governance di negara tersebut. Untuk itu kebijakan
mengenai tarif pajak yang efektif juga harus beriringan dengan pengkondisian faktor-faktor
penentu FDI lainnya.
Hasil penelitian terkait pengaruh adopsi IFRS dan FDI diharapkan dapat menjadi
pertimbangan bagi pembuat kebijakan dan badan penyusun standar di negara-negara
berkembang mengenai urgensi konvergensi IFRS yang dilakukan serta strategi yang dipilih
dalam melakukan adopsi IFRS.
Keterbatasan Penelitian dan Saran
Keterbatasan utama dalam penelitian ini adalah dalam penggunaan skor yang sederhana
dalam pengukuran tingkat adopsi IFRS di tiap-tiap negara sampel sehingga tidak mampu
mengukur secara akurat tingkat adopi IFRS di setiap negara. Untuk itu, dalam penelitian
selanjutnya dapat dipertimbangkan untuk menggunakan pengukuran yang lebih rinci mengenai
tingkat adopsi IFRS misalnya dengan membedah standar pelaporan akuntansi di tiap-tiap
negara sebagai ukuran adopsi IFRS di negara tersebut.
Selain itu, ketersediaan data dalam pengukuran variabel level of governance juga
merupakan keterbatasan sehingga dalam mengukur variabel ini, proksi yang digunakan hanya
Corruption Perception Index. Dalam penelitian selanjutnya dapat menggunakan proksi
tambahan untuk pengukuran variabel level of governance, seperti hukum yang mengatur
perlindungan investor, peraturan yang mendukung kemudahan berinvestasi, serta proksi lain
yang mampu menggambarkan level of governance di suatu negara.
Daftar Referensi
Akisik, O. 2008. Accounting standards, corporate governance, and foreign direct investments:
The experience of emerging market economies. Research in Accounting in Emerging
Economies, 8, 157–187.
Aljifri, Khaled., dan Hussein Khasharmeh. 2006. An investigation into the suitability of the
international accounting standards to the United Arab Emirates Environment. International
Business Review, 15, 505–526.
Amiram, D. 2012. Financial information globalization and foreign investment decisions.
Journal of International Accounting Research, 11(2), 25–37.
Babío-Arcay, M.R., & Muiño-Vázquez, M.F. 2005. Corporate characteristics, governance rules
and the extent of voluntary disclosure in Spain. Advances in Accounting, 21, 299–331.
Bartels, F.L., Napolitano, F., &Tissi, N.E. 2013. FDI in Sub-Sahara Africa: A
longitudinalperspective on location-specific factors (2003–2010). International Business
Review.
Barth, M., W. Landsman, dan M. Lang., 2007. International Accounting Standards and
Accounting Quality, Working paper, Stanford University and University of North Carolina.
Buckley, P. J., Forsans, N., &Munjal, S. 2012. Host–home country linkages and host–home
country specific advantages as determinants of foreign acquisitions by Indian firms.
International Business Review, 21(5): 878-890.
Chakrabarti, A., 2001. The Determinants of Foreign Direct Investments: Sensitivity Analyses
of Cross-Country Regressions. Kyklos, 54(1), 89-114.
Chen, C.J.P., Ding, Y., & Xu, B. 2014. The convergence of accounting standards and foreign
direct investment. International Journal of Accounting, 49(1), 53–86.
Daske, H., Hail, L., Leuz, C., & Verdi, R. 2008. Mandatory IFRS reporting around the world:
Early evidence on the economic consequences. Journal of Accounting Research, 46, 1085–
1142.
Deloitte. 2015. http://www.iasplus.com/en/resources/ifrs-topics/use-of-ifrs (diakses 3 November
2015).
Devereux, Michael P., dan Rachael Griffith.2002. The Impact of Corporate Taxation on
location of capital: a review. Swedish Economic Policy Review, 9, 79-102.
Devereux, M.P. dan Griffith, R. 2003.Evaluating tax policy for location decisions.International
Tax and Public Finance, 10, 107-126.
Devereux, M.P. dan Hubbard, G.R. 2003.Taxing multinationals.International Tax and Public
Finance, 10, 469-487.
Devereux, M.P., Lockwood, B. danRedoano, M. 2008. Do countries compete over tax rates?
Journal of Public Economics, 92, 1210-1235.
De Mooij, R.A., Enderveen, S., 2005.Explaining the Variation in Empirical Estimates of Tax
Elasticities of Foreign Direct Investment.
Djankov, S.,Ganser, T., McLiesh, C., Ramalho, R., danShleifer, A. 2010. The Effect of
Corporate Taxes on Investment and Enterpreneurship. American Economic Journal,
Macroeconomics, 2(3), 31-64.
Dunning, J. H. 2006. Comment on Dragon multinationals: New players in 21st century
globalization. Asia Pacific Journal of Management, 23(2): 139-141.
Gordon, Lawrence A., Martin P. Loeb, danWenjie Zhu. 2012. The impact of IFRS adoption on
foreign direct investment. Journal of Accounting and Public Policy, 31(4), 374–398.
Gresilova, Ina. 2013. Chicken or Egg?The Relationship between IFRS Adoption and FDI.
Thesis: Kyiv School of Economics.
Hansen, H., Rand, J., 2006. On the Causal Links Between FDI and Growth in Developing
Countries. The World Economy, 29(1), 21-41.
Hartman, D.G. 1985. Tax Policy and Foreign Direct Investment.Journal of Public Economics,
26(1), 107-121.
Hunady, Jan dan Marta Orviska. 2014. Determinants of Foreign Direct Investment in EU
Countries – Do Corporate Taxes Really Matter? Procedia Economics adn Finance, 12, 243250.
IFRS. 2015. Jurisdiction Profile. http://www.ifrs.org/Use-around-the-world/Pages/Jurisdictionprofiles.aspx (diakses 3 November 2015)
Johnson, A., 2006. The Effects of FDI Inflows on Host Country Economic Growth.CESIS
Electronic Working Paper58.
Kathryn, C., 2005. IFRS and M&A: More transparency but at a cost. International Financial
Law Review, 24(7), 56–58.
Lasmin, Damian. 2012. The unwanted effects of international financial reporting standards
(IFRS) adoption on international trade and investments in developing countries. Journal of
Economics and Economic Education Research, 13(1), 1-14.
Márquez-Ramos, Laura. 2008. The Effect of IFRS Adoption on Trade and Foreign Direct
Investments. International Trade and Finance Association Conference Papers 1124,
International Trade and Finance Association.
Márquez-Ramos, Laura. 2011. European accounting harmonization: Consequences of IFRS
adoption on trade in goods and foreign direct investments. Emerging Markets Finance and
Trade, 47(4), 42-57.
Moosa, I. A. 2002. Foreign Direct Investment Theory, evidence, and practice. New York:
Palgrave.
Nnadi, M., & Soobaroyen, T. 2015. International financial reporting standards and foreign
direct investment: The case of Africa, Advances in Accounting, incorporating Advances in
International Accounting.
Nunnenkamp, P., &Spatz, J. 2002. Determinants of FDI in Developing Countries: Has
Globalization Changed the Rules of Game?Kiel Institute.
OECD. 2007. Tax Effects on Foreign Direct Investment: Recent Evidence and Policy Analysis,
OECD Tax Policy Studies No.17
Panggabean, Rosinta Ria. 2007. Studi Banding PSAK dengan IFRS: Menghadapi Penerapan
IFRS secara Menyeluruh di Indonesia. Tesis S2 Program Studi Magister Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia.
Country. http://www.pwc.com/us/en/issues/ifrsreporting/publications/ifrs-status-country.html (diakses 3 November 2015).
PwC.
2015.
IFRS
adoption
by
Razin, A., Sadka, E. dan Yuen, C.W. 1999. Excessive FDI Flows Under Asymmetric
Information. NBER Working Paper No.7400.
Slemrod, J., 1991. Tax Effects on Foreign Direct Investment in the United States: Evidence
from a Cross-Country Comparison dalamRazin, Slemrod, A. (Ed.) Taxation in the Global
Economy, Chicago, IL: University of Chicago Press, 79-122.
Talpos, I., Vancu, I. 2009. Corporate Income Taxation Effects on Investment Decisions in The
European Union. AnnalesUniversitatisApulensis Series Oeconomic, 11(1),51.
Taylor, Christopher. 2000. The Impact of Host Country Government Policy on US
Multinational Investment Decesions. World Economy, 23(5), 635-647.
United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). 2014. World investment
report.
United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD). 2015. World investment
report.
Wei, Shang-Jin. 2000. Natural Openness and Good Government. World Bank Working Paper
2411.
Wheeler, D., Mody, A. 1992. International Investment Location Decisions: The Case of U.S.
firms. Journal of International Economics, 33, 57-76.
Wilson, John D. 1999. Theories of tax competition. National Tax Journal, 52, 269-304.
Zhu, H., Eden, L., Miller, S.R., Thomas, D.E., & Fields, P. 2012. Host-country location
decisions of earlymovers and latecomers: The role of local density and experiential learning.
International Business Review, 21, 145–155.
Download

Analisis Adopsi IFRS dan Tax Rate terhadap foreign