HARMFUL TAX PRACTICES
&
INTERNATIONAL TAX AVOIDANCE
HARMFUL TAX PRACTICES





Tax Haven Country dan Preferential Tax Regime
Controlled Foreign Corporations (CFC)
Transfer Pricing
Thin Capitalization
Treaty Shopping
2
CONTROLLED FOREIGN
CORPORATIONS (CFC)
CONTROLLED FOREIGN CORPORATIONS
(CFC)
Pengertian:
Perusahaan yang berkedudukan di luar negeri
(offshore company) akan dianggap sebagai CFC oleh
suatu negara apabila perusahaan luar negeri
tersebut dikuasai oleh penduduk negara tersebut.
4
CONTROLLED FOREIGN CORPORATIONS
(CFC)
Potensi Permasalahan:
Dengan menempatkan perusahaan di negara lain
(CFC), investor dapat menunda pemajakan
penghasilan yang berasal dari pengoperasian
perusahaan di luar negeri dengan cara menunda
pendistribusian laba (dividen) kepadanya.
5
CONTROLLED FOREIGN CORPORATIONS
(CFC)
Solusi: Penerapan CFC Rule
 Apabila suatu perusahaan yang berkedudukan di
luar negeri (offshore company) telah dianggap
sebagai CFC oleh suatu negara, maka negara
tersebut berwenang menentukan saat perolehan
penghasilan yang berasal dari CFC tersebut.
 CFC Rule di Indonesia:
- Pasal 18 ayat (2) UU PPh
- PMK 256/PMK.03/2008
- PER-59/PJ/2010
6
KMK Nomor 164/KMK.03/2002
Penggabungan penghasilan yang berasal dari luar
negeri dilakukan sebagai berikut:



untuk penghasilan dari usaha dilakukan dalam
tahun pajak diperolehnya penghasilan tersebut;
untuk penghasilan lainnya dilakukan dalam tahun
pajak diterimanya penghasilan tersebut;
untuk penghasilan berupa dividen sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) UU PPh,
dilakukan dalam tahun pajak pada saat perolehan
deviden tersebut ditetapkan sesuai dengan
Keputusan Menteri Keuangan.
7
Pasal 18 ayat (2) UU PPh
Menteri Keuangan berwenang menetapkan saat
diperolehnya dividen oleh Wajib Pajak dalam negeri
atas penyertaan modal pada badan usaha di luar
negeri selain badan usaha yang menjual sahamnya di
bursa efek, dengan ketentuan sebagai berikut:


besarnya penyertaan modal Wajib Pajak dalam
negeri tersebut paling rendah 50% (lima puluh
persen) dari jumlah saham yang disetor; atau
secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam
negeri lainnya memiliki penyertaan modal paling
rendah 50% (lima puluh persen) dari jumlah saham
yang disetor.
8
PMK 256/PMK.03/2008

Wajib Pajak dalam negeri yang:
a. memiliki penyertaan modal paling rendah 50%
(lima puluh persen) dari jumlah saham yang
disetor pada badan usaha di luar negeri; atau
b.secara bersama-sama dengan Wajib Pajak dalam
negeri lainnya memiliki penyertaan modal paling
rendah 50% (lima puluh persen) dari jumlah
saham yang disetor pada badan usaha di luar
negeri.
9
PMK 256/PMK.03/2008
• Saat diperolehnya dividen oleh Wajib Pajak dalam negeri atas
penyertaan modal pada badan usaha di luar negeri selain
badan usaha yang menjual sahamnya di bursa efek adalah:
a. pada bulan keempat setelah berakhirnya batas waktu
kewajiban penyampaian surat pemberitahuan tahunan
Pajak Penghasilan badan usaha di luar negeri tersebut
untuk tahun pajak yang bersangkutan; atau
b. pada bulan ketujuh setelah tahun pajak berakhir apabila
badan usaha di luar negeri tersebut tidak memiliki
kwajiban untuk menyampaikan surat pemberitahuan
tahunan Pajak Penghasilan atau tidak ada ketentuan
batas waktu penyampaian surat pemberitahuan tahunan
10
Pajak Penghasilan.
PMK 256/PMK.03/2008
1) Besarnya dividen yang wajib dihitung oleh Wajib Pajak dalam
negeri sebagaimana tersebut di atas adalah sebesar jumlah dividen
yang menjadi haknya terhadap laba setelah pajak yang sebanding
dengan penyertaannya pada badan usaha di luar negeri selain
badan usaha yang menjual sahamnya di bursa efek.
2) Ketentuan tersebut di atas tidak berlaku apabila sebelum batas
waktu saat perolehan dividen sebagaimana diatur dalam PMK ini,
badan usaha di luar negeri dimaksud sudah membagikan dividen
yang menjadi hak Wajib Pajak.
3) Dividen sebagaimana dimaksud butir 1) dan 2) di atas wajib
dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan
untuk tahun pajak saat dividen tersebut dianggap diperoleh.
11
PMK 256/PMK.03/2008
1) Dalam hal Wajib Pajak dalam negeri menerima pembagian dividen
dalam jumlah yang melebihi jumlah dividen yang telah dilaporkan
berdasarkan ketentuan PMK ini, atas kelebihan jumlah dividen
tesebut wajib dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan Tahunan
Pajak Penghasilan pada tahun pajak dibagikannya dividen tersebut.
2) Dalam hal Wajib Pajak dalam negeri menerima pembagian dividen
selain dividen yang telah dilaporkan berdasarkan ketentuan PMK
ini, dividen tersebut wajib dilaporkan dalam Surat Pemberitahuan
Tahunan Pajak Penghasilan pada tahun pajak dibagikannya dividen
tersebut.
Contoh perhitungan: Perdirjen PER-59/PJ/2010
12
Contoh:
• WP A berkedudukan di negara X yg mengenakan tarif
pajak sebesar 25%. WP A mendirikan persh H Ltd di
negara Y yg tdk mengenakan pajak (tax haven country).
Selanjutnya H Ltd melakukan investasi di anak persh B
Corp di negra Z yg mengenakan tarif 10%.
• Saat B Corp membagikan deviden ke H Ltd, akan
dikenakan pajak di negra Z sebesar 10%. Deviden yg
diterima merup penghasilan H Ltd yg tdk dikenakan
pajak di negara Y. Jika H Ltd membagikan deviden
kepada WP A di negara X , akan dikenakan pajak
sebesar 25%, sehingga lebih baik H Ltd menahan
pembagian deviden tsb. Dng demikian pengenaan
pajak sebesar 25% oleh negara X dpt ditunda .
Negara Z (tarif
pajak 10%)
B corp
B corp
10%
Negara Y (tarif pajak
0%) – Tax Haven
Country
10%
H Ltd
25%
Negara X (tarif
pajak 25%)
WP A
WP A
SPECIAL PURPOSE COMPANY
• UU PPh pasal 18 ayat 3(b) :
WP yg melakukan pembelian saham atau aktiva persh
melalui pihak lain atau badan yg dibentuk untk maksud
demikian (special purpose company), dapat ditetapkan
sebagai pihak yg sebenarnya melakukan pembelian tsb
sepanjang WP yg bersangkutan mempunyai hubungan
istimewa dng pihak lain atau badan tsb dan terdapat
ketidak wajaran penetapan harga.
 ketentuan ini dimaksud untk mencegah penghindaran
pjk oleh WP yg melakukan pembelian saham/penyertaan
pada suatu persh WPDN melalui persh luar negeri yg
didirikan khusus untk tujuan tsb (special purpose
company)
PMK No. 140/PMK.03/2010 :
1. Pembelian saham atau aktiva WP badan dlm negeri oleh
suatu pihak atau badan yg dibentuk khusus untk
maksud demikian (special purpose company), dpt
ditetapkan sebagai pembelian yg dilakukan oleh WPDN
lainnya, sebagai pihak yg sebenarnya melakukan
pembelian dimaksud, sepanjang:
a. WPDN yg ditetapkan sebagai pihak yg sebenarnya
melakukan pembelian tsb, mempunyai hubungan
istimewa dng pihak atau badan yg dibentuk, dng
maksud melakukan pembelian saham atau aktiva
perusahaan (special purpose company): dan
b. Terdapat
ketidakwajaran
penetapan
harga
pembelian.
2. Saham atau aktiva perusahaan sebagaimana
dimaksud pada poin (1) adalah:
a. Saham atau aktiva yg sebelumnya dimiliki
dan/atau dijaminkan oleh WPDN yg
ditetapkan sebagai pihak yg sebenarnya
melakukan pembelian, sehubungan dng
perjanjian utang piutang; atau
b. Aktiva yg merupakan aset kredit (piutang)
kepada WPDN yg ditetapkan sebagai pihak yg
sebenarnya
melakukan
pembelian,
sehubungan dng perjanjian utang piutang.
3. Pihak atau badan yg dibentuk dengan
maksud melakukan pembelian saham atau
aktiva perusahaan (special purpose company)
sebagaimana dimaksud pada poin (2)
merupakan pihak atau badan yg tidak
mempunyai substansi usaha dan yg dibentuk
oleh WPDN yg bertujuan antara lain untuk
membeli saham atau aktiva WPDN lainnya.
Contoh:
PT. ABC dimiliki oleh XYZ Ltd Hongkong
melalui anak perusahaan SPV XYZ Ltd yg
berada di Cayman Island . Apabila dipandang
sudah tidak menguntungkan lagi, PT. ABC
dapat dijual ke perusahaan lainnya. Namum
yg dijual adalah saham XYZ Ltd Hongkong di
SPV XYZ Ltd Cayman Island bukan saham SPV
XYZ Ltd di PT. ABC. (lihat Keputusan Menteri
Keuangan No. 434/KMK.04/1999)
XYZ Ltd
Hongkong
HIJ Corp
Amerika
HIJ Corp
Amerika
SPV XYZ Ltd
Cayman Island
SPV XYZ Ltd
Cayman Island
PT ABC
Indonesia
PT ABC
Indonesia
PT.ABC
Indonesia
Jika HIJ Corp Amerika
untk menguasai PT ABC
dg cara membeli saham
PT ABC langsung dari SPV
XYZ Ltd Cayman Island
akan terhutang PPh Ps 26
(tarif 5% ) Final
Jika untk menguasai PT ABC
dg cara membeli saham SPV
XYZ Cayman Island dari XYZ
Ltd
Hongkong
tidak
terhutang
PPh Ps 26
(penguasan tdk langsung)
THIN CAPITALIZATION
Pengertian:
Thin capitalization adalah pembentukan struktur
permodalan suatu perusahaan dengan kontribusi
hutang sebanyak mungkin dan modal sesedikit
mungkin.
21
THIN CAPITALIZATION
Potensi Permasalahan:
Pajak yang seharusnya menjadi hak suatu negara
dapat dialihkan ke negara lain.
Modus:
Dalam membiayai subsidiary-nya, suatu holding
company akan memberikan kontribusi berupa
hutang (bukan modal).
22
THIN CAPITALIZATION
Solusi: Thin Capitalization Rules
 Negara mempunyai kewenangan untuk menentukan
tingkat kewajaran perbandingan hutang dan modal dalam
struktur permodalan, serta sekaligus membatasi jumlah
biaya bunga yang dapat dijadikan unsur pengurang
penghasilan.
 CFC Rule di Indonesia:
- Pasal 18 (1) UU PPh
- KMK Nomor 1002/KMK.04/1984
- KMK Nomor 254/KMK.01/1985
23
Pasal 18 (1) UU PPh
Menteri Keuangan berwenang mengeluarkan
keputusan mengenai besarnya perbandingan antara
utang dan modal perusahaan untuk keperluan
penghitungan pajak berdasarkan Undang-undang
ini.
24
KMK Nomor 1002/KMK.04/1984
 Perbandingan antara hutang dan modal tidak
boleh melebihi 3:1.
 Jumlah hutang adalah jumlah rata-rata hutang
pada tiap akhir bulan.
 Jumlah modal adalah sebesar penyertaan modal
oleh pemegang saham pada akhir tahun
(termasuk Laba Ditahan).
 Apabila perbandingan antara hutang dan modal
tersebut melebihi 3:1, maka biaya bunga yang
dapat menjadi unsur pengurang harus dihitung
kembali dengan mengoreksi terlebih dahulu
jumlah hutang yang diizinkan sebesar 3 x jumlah
modal.
25
KMK Nomor 1002/KMK.04/1984
Contoh:
 Biaya bunga:
 Rata-rata jumlah hutang:
 Modal pada akhir tahun:
Rp 1.000.000.000
Rp 5.000.000.000
Rp 1.000.000.000
Biaya bunga dihitung kembali sebagai berikut:
 Hutang yang diizinkan = 3 x jumlah modal
= 3 x Rp1.000.000.000
= Rp3.000.000.000
 Biaya bunga yang diizinkan:
Rp1.000.000.000 x (Rp3.000.000.000/Rp5.000.000.000)
= Rp600.000.000
26
KMK Nomor 254/KMK.01/1985
 Penentuan besarnya perbandingan antara hutang
dan modal sebagaimana dimaksud dalam KMK
Nomor 1002/KMK.04/1984 dikuatirkan dapat
menghambat perkembangan dunia usaha
 Pelaksanaan
KMK
1002/KMK.04/1984
ditangguhkan sampai saat yang ditentukan
kemudian oleh Menteri Keuangan.
27
TREATY SHOPPING
 Taxpayers who are not residents or nationals of a
Contracting States have sought to obtain the benefits of a
tax treaty by organizing a corporation or other legal entity in
one of the Contracting States to serve as a conduit for
income earned in the other Contracting State.
 Merupakan suatu cara untuk mendapatkan manfaat suatu
tax treaty oleh pihak yang sebenarnya tidak berhak atas
manfaat tax treaty tsb.
Treaty Shopping biasanya
melibatkan para pihak yg mempunyai hubungan istimewa,
atau bahkam dengan sengaja mendirikan perusahaan yang
semata-mata untk tujuan penghindaran pajak (special
purpose company)
28
Prevention of TREATY SHOPPING
a. “limitation of benefits” article in the DTA (double taxation
agreement)
To deny treaty benefits to a corporation that is resident of one of
Contracting States but is in effect serving as a conduit for
residents of some third country (in other words, income it
obtains in the other Contracting State is not derived from the
active conduct of a trade or business in its country of residence).
b. beneficial ownership
c. anti-abuse provision
29
Transaksi Pemberian Pinjaman
Negara R
(Indonesia)
Pinjaman Rp 100 M
Bunga 10%
PT A
PT B
Penghasilan Bunga
Rp 10M
Penghasilan
PPh Ps 17
Kredit Pajak
Kurang Byr
: Rp 10.000.000.000
: Rp 2.500.500.000
: Rp 1.500.000.000
: Rp 1.000.000.000
Memotong PPh Ps 23 :
15% X Rp 10M = Rp 1,5
M (tidak final)
Treaty Shopping
Indonesia
Rp 100 M (penyertaan modal)
PT A
Negara Tax Haven
(Territorial Income)
PT B
A Subsidiary
Bunga
Rp 100 milyar
(pinjaman)
Bunga
Belanda
A BV
Rp 100 milyar
(pinjaman)
Download

CFC dan Treaty Shopping dll