4478 - UPT Perpustakaan Universitas Ngudi Waluyo

advertisement
PERBEDAAN KEMAMPUAN SOSIALISASI PADA ANAK PRA SEKOLAH SEBELUM DAN
SESUDAH DIBERIKAN STORYTELLING DENGAN BONEKA JARI PADA ANAK
PRASEKOLAH DI RA MASYITOH GOGIK KECAMATAN UNGARAN BARAT
Herpina *)
Umi Aniroh, S. Kep.,Ns.,M. Kes**), Imron Rosidi, S. Kep, Ns.,M. Kep**)
*) Mahasiswa PSK STIKES Ngudi Waluyo Ungaran
**) Dosen PSK Ngudi Waluyo Ungaran
ABSTRAK
Kemampuan sosialisasi merupakan predikator yang penting untuk berhasil dalam pendidikan dan
lingkungan sosial. Kemampuan ini diperoleh anak melalui berbagai kesempatan atau pengalaman
bergaul dengan orang-orang dilingkungannya, baik orang tua, saudara, teman sebaya ataupun gurunya.
Salah satu cara untuk menstimulasi kemampuan sosialisasi tersebut yaitu dengan boneka jari yang
dimodifikasi dengan storytelling. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui “perbedaan
kemampuan sosialisasi pada anak pra sekolah sebelum dan sesudah diberikan story telling dengan
boneka jari di RA Masyitoh Gogik Kecamatan Ungaran Barat” Jenis desain pada penelitian ini yaitu
pre eksperimen dengan pendekatan one group pre-post test design.populasi penelitian ini adalah anak
usia prasekolah umur 5 tahun yang berada di TK RA Masyitoh Gogik Kecamatan Ungaran
Barat.dengan jumlah sampel 24 responden dengan tehnik total sampling. Alat penggambilan data
dengan observasi menggunakan koesioner.
Hasil penelitian di RA Masyitoh Gogik yaitu kemampuan sosialisasi anak prasekola setelah
dilakukan storytelling dengan boneka jari yaitu kemampuan sosialisasi baik sebanyak 17 (70,8%)
responden dan kemampuan sosialisasi cukup sebanyak 7 (29,2%) responden. Hal ini menunjukkan
bahwa ada perbedaan kemampuan sosialisasi pada anak pra sekolah sebelum dan sesudah diberikan
story telling dengan boneka jari di RA Masyitoh Gogik Kecamatan Ungaran Barat” berdasarkan dari
uji statistik dengan uji wilxocon dengan P value 0,001.
Berdasarkan hasil penelitian diharapkan untuk orang tua maupun guru dapat mengaplikasikan
storytelling ini pada proses belajar untuk meningkatkan kemampuan sosialisasi anak.
Kata kunci
Daftar pustaka
: Story telling, Boneka jari dan Kemampuan sosialisasi
: 30 daftar pustaka (2004-2014)
PENDAHULUAN
Pertumbuhan merupakan peningkatan
pada ukuran, fungsi dan kompleksitas fisik yang
mengarah ke titik kematangan, terutama
menunjuk pada perubahan fisik, seperti
pertambahan tinggi dan berat badan. Istilah
pertumbuhan lebih berkaitan dengan ukuran
tubuh, serta fungsi fisik, (Soetjiningsih, 2012).
Perkembangan merupakan perubahan yang
terjadi secara secara bertahap dan tingkat yang
paling rendah ketingkat yang paling tinggi dan
kompleks
melalui proses maturasi dan
pembelajaran (Wong, 2012). Klasifikasi periode
usia perkembangan dimulai dengan neonatus
usia 0-28 hari, bayi usia 1-12 bulan, toddler 1-3
tahun, pra sekolah 4-6 tahun, masa anak-anak
pertengahan 6-12 tahun, dan masa anak-anak
akhir 12-21 tahun. Siklus usia tersebut setiap
anak-anak
akan
mengalami
perubahan
perkembangan yang berbeda-beda (Hamlin,
2005).
Aspek
pada
pertumbuhan
dan
perkembangan selama masa pra sekolah meliputi
: fisik, motorik halus, motorik kasar, kemampuas
bahasa, sosialisasi, kognisi dan hubungan
keluarga (Wong, 2012). Salah satu kemampuan
yang penting untuk dikuasai pada masa kanakkanak awal (pra sekolah) adalah kemampuan
sosial.
Sosialisasi adalah proses yang digunakan
anak untuk mempelajari standar, nilai, perilaku
yang diharapkan kebudayaan atau lingkungan
masyarakat
mereka
(Chaplin,
2005).
Kemampuan sosialisasi merupakan predikator
yang penting untuk berhasil dalam pendidikan,
pekerjaan dan lingkungan sosial(Ladd, 2008).
Kemampuan sosialisasi merupakan kemampuan
anak untuk menyesuaikan diri terhadap dunia
sosial yang lebih luas (Christiana, 2008).
Perkembangan sosial memiliki 3 komponen
penting yaitu : 1). Bahasa; dimana pada anak
usia 4-5 tahun anak presekolah menggunakan
kalimat panjang yang terdiri atas empat sampai
lima kata dan menggunakan lebih banyak kata
untuk menyampaikan pesan, 2). Perilaku
personal sosial; dimana pada anak presekolah
jauh lebih mampu bersosialisasi dan memiliki
keinginan untuk memuaskan. 3). Bermain;
dimana pada masa ini anak pra sekolah diberi
berbagai macam permainan untuk melatih
kemampuan sosialisasinyaTahap siap bertindak
(game stage)
Pada tahap ini anak semakin banyak
memiliki lawan untuk berinteraksi dan
hubungan anak semakin komplek. Anak
berhubungan dengan teman sebayanya diluar
rumah, peraturan-peraturan didalam keluarga
secara bertahap dapat dipahami. Anak
menyadari bahwa ada norma tertentu yang
berlaku diluar keluarganya.
1) Tahap
penerimaan
norma
kolektif
(generalizal stage)
Ditahap ini anak mulai dianggap lebih
dewasa. Anak dapat menerapkan dirinya pada
masyarakat secara langsung, dengan demikian
anak dapat langsung bertenggangrasa tidak
hanya degan orang-orang yang berinteraksi
dengannya tapi anak juga bisa berinteraksi
dengan masyarakat lain.
Menurut Rachmawati (2004), berpendapat
ada 2 faktor utama yang mempengaruhi
perkembangan sosial anak, yaitu faktor
lingkungan kluarga dan faktor dari luar rumah
atau luar keluarga. Menurut Hurlock (2002),
yaitu faktor pengalaman awal yang diterima
anak. Penjelasan dari 3 faktor tersebut adalah:
1) Faktor lingkungan keluarga
Keluarga merupakan kelompok sosial
pertama dalam kehidupan sosial anak, diantara
faktor yang terkait dengan lingkungan keluarga
dengan teman sebaya dan orang dewasa diluar
rumah menyenangkan, maka akan menikmati
hubungan
sosial
tersebut
dn
ingin
mengulanginya, Demikian pula hal yang
sebaliknya
2) Faktor pengaruh pengalaman sosial awal
Pengalaman sosial awal sangat menentukan
perilaku keperibadian selajutnya,
Storytelling adalah suatu cara yang efektif
bagi orang tua dan guru dalam memberikan
informasi kepada anak. Story telling tidak saja
menyenangkan
namun
ternyata
dapat
menstimulasi,
mengembangkan
dan
mengoptimalkan kecerdasan (Idris, 2014).
Story telling juga dapat menjadi media
untuk dapat menyampaikan nilai-nilai yang
berlaku di masyarakat. Story telling mempunyai
makna penting bagi perkembangan anak TK,
karena melalui story telling pendidik dapat
mengkomunikasikan nilai-nilai sosial, nilai-nilai
keagamaan, membantu mengembangkan fantasi
anak, dan membantu mengembangkan dimensi
kognitif
anak
(Moeslichatoen,
2004).
Penggunaan metode story telling sebagai salah
satu metode pembelajaran di Taman KanakKanak haruslah memperhatikan hal-hal berikut:
1) Isi cerita harus terkait dengan dunia
kehidupan anak TK
2) Kegiatan
bercerita
diusahakan
dapat
memberikan perasaan gembira, lucu, dan
mengasyikkan
sesuai
dengan
dunia
kehidupan anak yang penuh suka cita
3) Kegiatan bercerita harus diusahakan menjadi
pengalaman bagi anak TK yang bersifat unik
dan menarik (Barnawi dkk, 2012).
Story telling sebaiknya dilakukan dalam
kelompok kecil untuk memudahkan guru
melakukan kegiatan yanag berlangsung
sehingga lebih efektif (Barnawi dkk, 2012).
Storytelling menjadi sesuatu yang penting
bagi anak karna beberapa alasan,
diantaranya bercerita memberi contoh pada
anak cara untuk menyikapi permasalahan
dengan baik mengembangkan kemampuan
bersimpati, mengasah kepekaan sosial, dan
mengajarkan anak melihat permasalahan
dari sudut pandang orang lain (Musfiroh,
2008). Manfaat story telling untuk anak
sangatlah banyak seperti merekatkan
hubungan orang tua dengan anak dan story
telling
juga
bisa
membantu
mengoptimalkan perkembangan psikologis
dan kecerdasan anak secara emosionalnya.
Ada
beberapa
manfaat
yang
menguntungkan dari story telling menurut
Idris ( 2014) :
1) Meningkatkan keterampilan bicara anak.
2) Mebantu menenangkan anak yang menangis
3) Mengembangkan kemampuan berbahasa
dengan mendengarkan struktur kalimat .
4) Meningkatkan minat baca.
5) Mengembangkan keterampilan berfikir.
6) Mengembangkan kecerdasan emosional
anak.
7) Memperkenalkan nilai-nilai moral.
8) Memperkenalkan ide-ide baru.
9) Mengalami budaya lain.
10) Meningkatkan relaksasi jiwa dan raga.
11) Mempererat ikatan emosi dengan orang tua
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan jenis penelitian
kuantitatif dengan desain penelitian yaitu pre
eksperimen design. Pendekatan yang dilakukan
dalam penelitian ini adalah menggunakan
pendekatan one group pre-post test design.
Rancangan one group pre-post test design
Tabel 3.1 Rancangan one group pre-post test
design
Pretest
Perlakua
Posttest
n
01
X
02
Penelitian dilakukan di RA Masyitoh Gogik
Kecamatan Ungaran Barat. Penelitian dilakukan
sehari yaitu pada tanggal 29 agustus 2015.
Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia
pra sekolah yang berada di RA Masyitoh Gogik
Kecamatan Ungaran Barat dengan juml;ah 24
siswa
Instumen atau alat yang digunakan dalam
penelitian ini adalah kuesioner mengenai
menggunakan indikator kemapuan sosialisasi
HASIL PENELITIAN
A. Analisa univariat
Tabel 4.1
Distribusi
frekuensi
kemampuan sosilaisasi sebelum diberikan
storytelling dengan boneka jari RA Mayitoh
Gogik Kecamatan ungaran barat
Kemampuan
sosialisassi
Cukup
Baik
Total
frekuensi persen
11
12
23
47,8
52,2
100,0
Berdasarkan tabel 4.1 diketahui bahwa
sampel yang digunakan adalah 23 responden.
Kemampuan sosialisasi sebelum diberikan
storytelling dengan boneka jari didapatkan
dengan skor cukup 11(47%) orang responden
dan skor baik sejumlah 12(52,2%) orang
responden.
Tabel 4.2 distribusi
frekuensi
kemampuan sosialisasi anak presekolah
sesudah diberikan storytelling dengan boneka
jari
Kemampuan
sosialisasi
Cukup
Baik
Frekuen Persen
si
6
26,1
17
73,9
23
100,0
Berdasarkan tabel 4.2dapat diketahui bahwa
sampel yang digunakan adalah 23 responden.
Kemampuan sosialisasi sesudah diberikan
storytelling dengan boneka jari didapatkan skor
terendah dengan nilai nilai cukup sebanyak
6(26,1%) orang responden dan nilai baik
sebanyak 17(73,9%) responden.
B. Analisa bivariat
Tabel 5.3.
perbedaan
kemampuan
sosialisasi pada anak pra sekolah sebelum
dan sesudah diberikan story telling dengan
boneka jari di TK RA Masyithoh Desa
Gogik Kecamatan Ungaran Barat
Vari Perlaku N Mea
Z
P
abel
an
n
value
rank
Kem
amp
uan
sosia
lisasi
Pre
test
Post
test
Ne
gati
ve
Pos
itif
Tie
s
0
20
3
,00
4,038
0.001
10,5
0
Dari hasil penelitian didapatkan 20
responden yang mengalami perbedaan perilaku
sesudah diberikan storytelling dengan boneka
jari dan 3 responden tidak mengalami perbedaan
perilaku sesudah diberikan story telling dengan
boneka jari terhadap kemampuan sosialisasi
pada anak prasekolah di TK RA Masyitoh
Gogik Kecamatan Ungaran Barat.
Dari hasil uji statistik menggunakan
wilcoxon dengan taraf signifikansi 5 % (0,05)
didapatkan p value sebesar 0,001. (Apabila p
value/ signifikansi di bawah 0,05 maka hipotesis
Ho diterima dan Ha ditolak). Nilai p tersebut
menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan
sosialisasi pada anak pra sekolah sebelum dan
sesudah diberikan story telling dengan boneka
jari di TK RA Masyithoh Desa Gogik
Kecamatan Ungaran Barat
PEMBAHASAN
1. kemampuan sosilaisasi sebelum diberikan
storytelling dengan boneka jari di RA
Mayitoh Gogik Kecamatan ungaran barat.
Berdasarkan hasil penelitian diketehaui
bahwa sebagian besar kemampuan sosiaolisasi
anak presekolah sebelum diberikan storytelling
dengan boneka jari di TK RA Masyitoh Gogik
Kecamatan Ungaran Barat dalam katagori cukup
sebanyak 11 responden (47,8%) dan dalam
katagori baik sebanyak 12 responden (52,2%).
Perilaku yang tergolong cukup pada sebagian
besar responden tersebut dapat dilihat dari hasil
jawaban responden terhadap kuesioner yang
diberikan oleh peneliti. Dengan memberikan
pertanyaan seputar indikator dari kemampuan
sosialisasi yaitu kemampuan berbahasa, personal
sosial dan bermain, karena menurut Potter &
Perry (2005), pada masa anak-anak yaitu usia 5
sampai 6 tahun atau masa prasekolah dalam
periode ini anak-anak mencapai peningkatan
baik dari daya geraksampai mereka masuk
sekolah,serta perkembangan motorik yang
meningkat pada usia ini mendapatkan perluasan
bahasa, hubungan sosial belajar standar peran,
meningkatkan kontrol diri, dan penguasaan,
mengembangkangkan peningkatan kesadaran
tentang ketergantungan dan kemandirian, dan
mulai mengembangkan konsep diri.
Program ketrampilan sosial yang diberikan
oleh guru untuk anak umur 3 sampai 5 tahun
usia antara lain tentang, mendengarkan, berbagi,
bergantian,
berurusan
dengan
perasaan,ketakutan,kesedihan dan kemarahan
dan memecahkan masalah. Belajar ketrampilan
sosial diusia dini sama pentingnya seperti
belajar berhitung dan mengenal huruf dan sangat
penting untuk pengembangan masa awal anakanak
Program
keterampilan
sosial
sosial
dirancang oleh psikolog klinis dan guru untuk
awal masa anak-anak dari usia 3 samapi 5 tahun,
yang digunakan ditempat penitipan anak
prasekolah dan ruang kelas TK maupun pusat
pembelajaran anak usia dini lainnya. Meskipun
hal ini dapat disesuaikan untuk seluruh kelas,
dalam hal ini lebih cocok untuk diberikan anak
dengan kelompok kecil 6 sampai 8 anak. Anakanak diajarkan dengan cara konstruktif untuk
memecahkan masalah yang timbul dalam situasi
sosial. Hal ini dilakukan melalui cerita yang
diperankan dengan boneka, video skenario,
kegiatan roleplay dan lagu.
Sosialisasi adalah proses yang digunakan
anak untuk mempelajari standar, nilai, perilaku
yang diharapkan kebudayaan atau lingkungan
masyarakat mereka (Chaplin, 2005)
Kemampuan
sosialisasi
merupakan
predikator yang penting untuk berhasil dalam
pendidikan, pekerjaan dan lingkungan sosial
(Ladd,
2008).
Kemampuan
sosialisasi
merupakan
kemampuan
anak
untuk
menyesuaikan diri terhadap dunia sosial yang
lebih luas (Christiana, 2008).
Dari penelitian sebelumnya yang berjudul
pengaruh terapi bermain dengan bercerita
terhadap kemampuan sosialisasi anak usia
prasekolah dalam menjalani perawatan di RSUD
BATANG yang diteliti oleh Maysaroh 2012,
dengan menunjukkan ada pengaruh terhadap
terapi bermain dengan bercerita terhadap
tindakan sosialisasi anak usia prasekolah.
2. kemampuan sosialisasi anak presekolah
sesudah diberikan storytelling dengan
boneka jari
dari hasil penelitian yang dilakukan setelah
diberikan storytelling dengan boneka jari maka
kemampuan sosialisasi anak prasekolah
mengalami peningkatan yaitu kemampuan
sosialisasi dengan katagori cukup menjadi 17
responden dan katagori baik menjadi 6
responden.
Agar menjadi pribadi yang utuh, anak
prasekolah selain memiliki berbagai ketrampilan
juga harus memiliki kemampuan bersosialisasi.
Perkembangan tingkah laku anak dalam
menyesuaikan diri dengan aturan-aturan yang
berlaku didalam masyarakat dimana anak
berada.
Selain
itu,
Soekanto
(2008),
menambahkan bahwa sosialisasi merupakan
suatu kegiatan yang bertujuan agar seseorang
mematuhi kaedah-kaedah dan nilai-nilai yang
berlaku serta agar bersangkutan menghargai,
didalam interaksi sosial terjadi proses
sosialisasi. Sosialisasi tersebut merupakan suatu
kemampuan untuk bertingkah laku sesuai
dengan harapan kelompoknya (Hurlock, 2002)
Sedangkan menurut penelitian ada hubungan
pola asuh dengan kemampuan sosialisasi pada
anak prasekolah dengan hasildinyatakan ada
hubungan antara pola asuh orang tua dengan
kemampuan sosialisasi pada anak prasekolah.
Menurut Wong (2012), pendidikan atau
stimulasi yang perlu diberikan untuk
kematangan kemampuan sosial pada anak
prasekolah yang paling khas adalah permainan
imitatif, imajinatif dan dramatik. Permainan ini
meliputi permainan pakaian, boneka tangan/jari,
paket permainan pedesaan maupun rumah
tangga, untuk lebih memahami pembelajaran
umum dalam perkembangan anak mengenal
huruf .Hal ini diperlukan untuk menentukan
persyaratan awal selanjutnya siap dalam
menghadapi lingkungan sekolah
Anak-anak mulai belajar awal kemampuan
sosial melalui interaksi sehari-hari seperti
berbagi buku, bercerita , menyanyikan lagulagu, berbicara satu sama lain untuk
menunujukkan penamaan objek (Bohrer, 2005,
Ghosting 2006, Daimant-Cohen, 2007).
Aktivitas ini mampu membantu memperluas
kosakata mereka, memperluas dan memperkaya
pengalaman
mereka
dan
merangsang
perkembangan otak.
Anak-anak terlibat dalam apa yang sedang
di baca lebih lanjut menunjukkan pemikiran
positif
dan
imajinatif
mereka,
juga
meningkatakan perkembangan intelektual dan
emosional mereka dan membantu mereka
memperoleh
keahlian
membaca
yang
dibutuhkan sebelum memasuki usia sekolah
(Fiore, 2004, McGill,2005)
Penelitian menunjukkan mempersiapkan
untuk berhasil disekolah dan dalam kehidupan
selanjutnya, ada hubungan yang kuat antara
perkembangan anak masa awal kehidupan dan
tingkat
keberhasilan
dengan
kehidupan
selanjutnya, anak-anak muda yang dipersiapkan
terhadap lingkungan dimana kaya bahasa dan
mampu berinteraksi dan penuh dengan
kesempatan
untuk
mendengarkan
dan
menggunakan bahasa terus-menerus. Mereka
dapat mulai untuk mendapatkan pembelajaran
yang penting untuk bagaimana bisa membaca.
Seorang anak yang memasuki usia sekolah tanpa
ketrampilan ini menjalankan resiko yang
signifikan untuk memulai tidak lebih unggul
dibandingkan teman yang lain.
Dari hasil penelitian kemampuan sosialisasi
sesudah diberikan storytelling dengan boneka
jari menunjukkan ada perubahan kemampuan
sosialisasi
semakin
meningkat
terhadap
responden yang sudah diteliti atau diberikan
intervensi storytelling dengan boneka jari
tersebut. Meskipun sebagian kemampuan
sosialisasi anak tetap tidak meningkat meskipun
telah diberikan storytelling tersebut seperti hasil
dari penelitian tersebut yaitu dari 23 responden
yang diteliti dari hasil sesudah diberikan
storytelling dengan boneka jari tersebut yaitu
17(73,9) siswa atau anak mengalami
peningkatan kemampuan sosialisasi sedangkan
6(26,1%) anak tetap berda pada tingkat sesudah
diteliti.
Menurut soetjiningsih tumbuh kembang
anak yang sudah dimulai sejak konsepsi sampai
dewasa mempunyai ciri-ciri tersendiri yaitu
tumbuh kembang adalah proses yang kontinyu
sejak dari konsepsi sampai dewasa yang
dipengaruhi oleh faktor bawaan dan lingkungan
A. Analisa bivariate
1. Perbedaan kemampuan sosialisasi pada
anak pra sekolah sebelum dan sesudah diberikan
story telling dengan boneka jari di TK RA
Masyithoh Desa Gogik Kecamatan Ungaran
Barat
Berdasarkan table 5.3 dapat diketahui
bahwa responden dengan kemampuan sosialisasi
dalam katagori
cukup sebelum diberikan
storytelling dengan boneka jari yaitu 11(47,8%)
responden dan yang memiliki kemampuan
sosialisasi baik yaitu 12(52,2%) orang sisiwa
atau responden, sedangkan kemampuan
sosialisasi anak prasekolah tersebut setelah
diberika storytelling dengan boneka jari
meningkat dengan kemampuan sosialisasi
sebanyak 17(73,9%) orang siswa atau responden
sedangkan
yang
memiliki
kemampuan
sosialisasi cukup, masih berjumlah 6(26,1%)
siswa atau responden. Dari hasil uji statistik
menggunakan Wilcoxon dengan taraf signifikan
5% (0,05) didapatkan P value sebesar 0,001.
(Apabila P value signifikan dibawah 0,05 maka
hipotesis Ho diterima dan Ha ditolak). Nilai P
tersebut menunjukkan bahwa ada perbedaan
storytelling dengan boneka jari terhadap
kemampuan sosialisasi pada anak prasekolah di
TK RA Masyitoh Gogik Kecamatan Ungaran
Barat.
Masa kanak-kanak merupakan masa terjadinya
peningkatan kecerdasan dari 50% menjadi
80%. Peningkatan akan tercapai apabila
lingkungan memberikan rangsangan atau
stimulus yang tepat. Interaksi anak dengan
lingkungannya
menjadi
suatu
proses
pembelajaran, yang dapat mengembangkan
ketrampilannya (Gardener, 2011).
Menurut Depkes, (2006) perkembangan adalah
bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam kemampuan gerak
kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta
sosialisasi
dan
kemandirian,
untuk
meningkatkan fungsi tumbuh kembang anak
perlu distimulasi. Stimulasi itu sendiri adalah
kegiatan merangsang kemampuan dasar anak
agar anak tumbuh dan berkembang secara
optimal. Kemmapuan dasar anak yang
dirangsang dengan distimulasi
adalah
kemampuan motorik kasar, matorik halus,
kemapuan berbicara dan kemampuan
bersosialisasi. Stimulasi anak dapat diperoleh
baik dari ibu, ayah, keluaarga maupun guru.
Menurut DepKes RI
(2010),
terdapat
prinsip dasar dalam memberikan stimulasi,
yaitu :
a. Stimulasi dilakukan dengan landasan rasa
cinta dan kasih saying.
b. Selalu tunjukkan sikap dan prilaku yang baik,
karna anak akan meniru tingkah laku orang
tua dan orang-orang terdekat dengannya.
c. Berikan stimulasi sesuai dengan umur anak
d. Lakukan stimulasi dengan cara mengajak
anak bermain, bernyanyi, menyenangkan
tanpa paksaan dan tidak ada hukuman.
e. Lakukan stimulasi secara bertahap dan
berkelanjutan sesuai umur anak, terhadap ke4
aspek kemampuan dasar anak
f. Gunakan
alat
bantu/ppermainanyang
sederhana, aman dan ada disekitar anak
g. Berikan kesempatan yang sama pada anak
laki-laki dan perempuan
h. Anak selalu diberikan pujian, bila perlu
diberikan hadiah atas keberhasilannya.
Dalam memberikan stimulasi ini
yaitu dengan storytelling menggunaka boneka
jari diharapkan perkembangan anak bisa
meningkat baik dari kemampuan sosialisasi,
kemamdirian maupun bahasa bagi anak terutama
anak usia prasekolah, supaya pada saat anak
menempuh usia sekolah anak sudah mempunyai
kemampuan bersosialisasi dengan teman sebaya
yang baru dikenal dan dilihat.
B. Keterbatasan peneliti
Peneliti menyadari bahwa penelitian ini
jauh dari sempurna dan banyak kekurangan,
adapun beberapa keterbatasan yang dihadapi
peneliti yaitu sulitnya mengatur anak-anak untuk
mendengarkan dan duduk secara rapi dan tenang
pada saat storytelling dilakukan. Selain itu
peneliti juga melakukan penelitian ulang selama
sehari karna ada data yang kurang lengkap. Ada
berberapa anak yang pada awalnya tidak mau
mengikuti storytelling yang kita lakukan dengan
alasan takut dan ada pula yang mau ikut apabila
ditemani ibunya disampingnya pada saat
storytelling dilakukan, namun sebelum kita
melakukan
storytelling
tersebut
kita
memperlihatkan kepada responden terlebih
dahulu boneka yang nanti akan kita peragakan
dan akan memberikan cerita yang seru sesuai
karakter boneka dan diakhir akan diberikan
hadiah sama peneliti dengan tujuan untuk
menarik perhatian dan minat untuk anak-anak.
Selain itu kita juga minta tolong kepada ibu dari
responden yang memang tidak mau kalau
ibunya tidaak ikut kedalam, kita minta tolong
kepada ibunya untuk mendampingi selama
berjalannya storytelling tersebut.
A. Kesimpulan
1. Sebagian besar kemampuan sosialisasi
sebelum diberikan storytelling dengan
boneka jari pada anak prasekolah di TK RA
Masyitoh Gogik Kecamatan Ungaran Barat
dalam katagori cukup yaitu sebanyak 11
(47,8%) responden atau siswa.
2. Sebagian besar kemampuan sosialisasi
sesudah diberikan storytelling dengan boneka
jari terhadap kemampuan sosialisasi pada
anak prasekolah di RA Masyitoh Gogik
Kecamatan Ungaran Barat yaitu sebanyak
17(73,9%) orang responden atau siswa
3. Ada perbedaan kemampuan sosialisasi pada
anak pra sekolah sebelum dan sesudah
diberikan story telling dengan boneka jari di
TK RA Masyithoh Desa Gogik Kecamatan
Ungaran Barat dengan p value 0,001
B. Saran
1. Bagi anak usia prasekolah
Anak prasekolah yang telah diajarkan
tentang cara bersosialisasi yang baik bisa
diamalkan dan diaplikasikan baik dikelas
maupun dilingkungan
2. Bagi instansi RA Masyitoh
Guru dari RA tersebut bisa melakukan
Storytelling dengan boneka jari ini yang
nantinya semoga bisa menjadi alternative
pembelajaran dalam keseharian supaya anak
lebih tertarik dan tidak merasa bosan hanya
dengan pengenalan melalui gambar saja
3. Bagi keluarga
Storytelling ini bisa diterapkan di rumah
juga selain disekolah agar bisa mengajarkan
anak tentang berbagai macam hal dan bisa
meningkatkan lagi untuk kemampuan sosialisasi
si anak
4. Bagi peneliti selanjutnya
Bagi peneliti selanjutnya diharapkan bisa
menemukan alternatif media lain selain
storytelling dengan boneka jari yang bisa
berpengaruh terhadap kemampuan sosialisasi
pada anak ataupun perbedaan alat ukur yang
digunakan untuk mengetahui kemampuan
sosialisasi pada anak.
5. Bagi perawat anak
Perawat anak dapat melakukan suatu
pembelajaran, dengan memberikan suatu
penyuluhan atau pendidikan kesehatan bagi guru
pengajar ataupun orangtua mengenai pentingnya
kemapuan sosialisasi pada anak khusunya anak
prasekolah,dengan salah satu alternatif cara
yang bisa dilakukan yaitu dengan memberikan
stimulasi berupa storytelling dengan boneka jari
yang
dapat
meningkatkan
kemampuan
sosialisasi pada anak prasekolah.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, (2010). Prosedur penelitian. Jakarta,
Rineka Cipta.
Ayunisa (2014), dengan judul “Pengaruh
APE(alat permainan edukatif) Terhadap
Ketrampilan Anak Prasekolah Dengan
Retardasi Mental”
Barnawi dan Wijayani. (2012), Format PAUD.
Yogyakarta. Andi offset.
Chaplin, J P. (2005), Kamus Lengkap Psikologi
Departemen Kesehatan RI. (2006). Pedoman
Pelaksanaan Stimulasi, Deteksi dan
Intervensi Dini Tumbuh Kembang Anak.
Dirjen Binkesmas:Depkes RI.
Hurlock, B Elisabeth. (2012) Psikologi
Perkembangan. Jakarta. Penerbit
Erlangga.
Idris, H. (2014). Meningkatkan Kecerdasan
Anak Usia Dini Melalui Mendongeng
Cetakan Pertama. Jakarta. Luxima Metro
Media.
Notoatmodjo, S. (2012). Metodologi Penelitian
Kesehatan Edisi Revisi. Jakarta:
Kania , N.(2006). Stimulasi tumbuh kembang anak.
Retrived december2,2014 from
http://pustaka.unpad.ac.id/WPcontent//upload
s/2010/02/stimulasi-tumbuh-kembang-anakoptimal.pdf/.
Rineka Cipta.
Potter and Perry. (2009). Fundamental of
Nursing. Buku 3 Edisi 7. Jakarta:
Salemba Medika.
Rachmawati , N. (2011). Pengasuh sosial stories
Maclean. Jod Y.(2008). Library preschool storytimes
: Developing Early Literacy Skills in Children.
Canada : Provincial and Territorial Public
Libraries Council
Maysaroh, 2012 Dengan Pengaruh Terapi
Bermain Dengan Bercerita Terhadap
Kemampuan Sosialisasi Anak Usia
Prasekolah Dalam Menjalani Perawatan
di RSUD BATANG
Moeslichaton , T. (2004). Metode Pengajaran
Ditaman Kanak-kanak. Jakarta. Rineka Cipta.
Morrison, George S,. (2012). Dasar-Dasar
Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Musfiroh , T.(2008). Memilih, Menusun, Dan
Menyajikan Cerita Untuk Anak Usia Dini.
Yogyakarta . Tiara Wacana.
terhadap ketrampilan sosial anak dengan
attention-deficit hyperactivity disorder
(ADHD). Jurnal psikologi UNDIP vol. 8, no. 2
oktober 2010
Sainato & salmon.(2005). Young exceptional
children. Division For Early Childhood Of
Council For Exceptional Children
Santrock, John W. (2007). Perkembangan Anak;
Jilid 1. Alih bahasa: Mila Rachmawati.
Jakarta: Erlangga. (Edisi kesebelas).
Septiari, Bea (2012). Mencetak Balita Cerdas
dan Pola Asuh Orang Tua.
Yogyakarta : Nuha Medika
Soetjiningsih, Christiana.(2012) Perkembangan
Anak Sejak Pembuahan Sampai
dengan Kanak – Kanak Akhir. Jakarta :
Mr,Graft john (2002). Helping Your Preschool. Us
EGC
Department Of Education.
Soetjiningsih,Christiana H.(2007). Tumbuh kembang
anak. Cetakan pertama, Jakarta: EGC
Sugiyono, (2009). Metode penelitian kuantitatif
kualitatif dan R & D. Bandung, Alfabeta.
Sujiono, Bambang.dkk, 2007, Metode
Pengembangan Fisik. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Sussman, Sue Karen.(2012). The Importance Of
Play In The Preschool Classroom. Texas
Child Care Quarterly.
Tjandra, (2012). Peniru Paling Luar Biasa. Jakarta.
Sinar Ilmu.
Wong, D. L. (2008). Wong Buku Ajar
Keperawatan Pediatrik Alih bahasa Agus
Sutarna, Neti Juniarti Edisi VI. Jakarta:
EGC.
Yusuf, S. (2014). Psikologi Perkembangan Anak
Dan Remaja Cetakan Keempatbelas.
Bandung. PT Remaja Rosdakarya.
Download