kerangka pemikiran

advertisement
21
KERANGKA PEMIKIRAN
Kerangka Pemikiran
Kekurangan gizi pada usia dini mempunyai
dampak buruk pada masa
dewasa yang dimanifestasikan dalam bentuk fisik yang lebih kecil dengan tingkat
produktifitas yang lebih rendah (Kodyat 1998).
Menurut Unicef (1998)
dalam Azwar (2004) terjadinya kurang gizi
disebabkan oleh banyak faktor, baik faktor langsung maupun faktor tidak
langsung. Faktor langsung penyebab masalah gizi yaitu asupan makanan yang
kurang dan adanya penyakit infeksi dalam Soekirman (2000). Asupan makanan
sangat dipengaruhi oleh ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga sedangkan
ketersediaan pangan rumah tangga dipengaruhi oleh sosial ekonomi keluarga,
selain pola asuh dalam pemberian makanan oleh keluarga. Tingkat pendidikan dan
pengetahuan ibu tentang gizi dan kesehatan memberikan kontribusi dalam
penyediaan makanan yang berkualitas pada batita.
Penyakit infeksi dapat terjadi
apabila batita yang mendapat makanan yang cukup baik tetapi sering terinfeksi
penyakit akhirnya akan menderita kurang gizi, demikian juga pada anak yang
tidak baik status gizinya, maka daya tahan tubuhnya dapat melemah dalam
kondisi ini akan mudah diserang infeksi yang dapat mengurangi nafsu makan dan
akhirnya menderita kurang gizi (Depkes 2003).
Penyebab tidak langsung terjadinya masalah gizi salah satunya adalah
pelayanan kesehatan yang kurang baik. Pelayanan kesehatan dasar yang ada di
Puskesmas, Posyandu, Polindes, Poskesdes dan bidan di desa yaitu: penimbangan,
penyuluhan gizi, pengobatan, distribusi suplemen gizi, pemberian makanan
tambahan (PMT) bagi batita kurang gizi, imunisasi dan konsultasi resiko penyakit.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan yang optimal dapat mendeteksi gejala dini
gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada batita.
22
Konsumsi
Makanan Batita
Asupan Zat
Gizi
Karakteristik keluarga
- Jumlah anggota
- Tk. Pendidikan ibu
- Umur ibu
Karakteristik Batita
- Penyakit infeksi
Frekuensi
kunjungan
Pemanfaatan
pelayanan
kesehatan
Status Gizi
Batita BB/TB,
BB/U, TB/U
Akses ke pelayanan
kesehatan
- Waktu tempuh ke
fasilitas kesehatan
- Jarak tempuh
- Keterjangkauan
transportasi
Keterangan:
Ketanggapan
Pelayanan Kesehatan
Hubungan yang dianalisis
Hubungan tidak dianalisis
Variabel
Variabel
Variabel yang dianalisis
Variabel tidak di analisis
Gambar 1 Kerangka pikir analisis hubungan pelayanan kesehatan dengan status gizi batita di ketiga wilayah penelitian (Provinsi Sumatera
Selatan, DI Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur) berdasarkan data Riskesdas 2007.
23
Hipotesis
1. Terdapat hubungan status gizi batita dengan pemanfaatan pelayanan
kesehatan.
2. Terdapat hubungan keluarga (umur ibu, pendidikan ibu & jumlah anggota)
dan karakteristik batita (penyakit infeksi), akses ke pelayanan kesehatan serta
ketanggapan pelayanan kesehatan dengan frekuensi kunjungan ke pelayanan
kesehatan.
24
METODE
Sumber data, Desain, Waktu dan Tempat
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data hasil Riset Kesehatan
Dasar (Riskesdas) 2007 yang telah mengalami editing dan cleaning oleh Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan (Balitbangkes
Depkes) dengan desain penelitian adalah cross-sectional design. Pengolahan dan
analisis data dilakukan pada Februari-Mei 2010.
Penelitian ini memilih tiga provinsi sebagai contoh yaitu provinsi
Sumatera Selatan, DI Yogyakarta dan Nusa Tenggara Timur.
Cara Pengambilan Contoh
Berdasarkan data yang diperoleh dari Balitbangkes Depkes ada sebanyak
3866 batita contoh dari ketiga wilayah penelitian. Kemudian ditetapkan kriteria
inklusi yaitu batita yang termasuk dalam kuintil 1 dan 2 sebagai proxi indikator
tingkat konsumsi dan status sosial ekonomi yang rendah karena pelayanan
kesehatan di Puskesmas, posyandu, polindes dan poskesdes lebih banyak
dimanfaatkan oleh masyarakat dengan status sosial ekonomi yang rendah,
mempunyai berat badan, tinggi badan, umur dalam bulan, jenis kelamin,
pendidikan ibu dan umur ibu serta jumlah anggota keluarga. Kemudian dilakukan
pengeluaran contoh berdasarkan kriteria eksklusi yaitu nilai z-score yang
diperoleh melewati batasan antrho 2005 yaitu BB/U z-score -6 sampai dengan +
5, BB/TB z-score -5 sampai dengan +5 dan TB/U -6 sampai dengan +6. Dari
ketiga wilayah penelitian tersebut, akhirnya di dapat contoh sebanyak 1724 batita.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data penelitian ini merupakan data primer Riskesdas yang telah mengalami
proses coding, editing dan cleaning dari Balitbangkes Depkes. Data-data yang
diambil dari kuesioner Riskesdas disesuaikan dengan kebutuhan penelitian
meliputi:
1.
Data karakteristik batita meliputi: berat badan, tinggi badan/panjang badan,
umur batita dan jenis kelamin dan keluarga: umur ibu, tingkat pendidikan ibu,
dan jumlah anggota.
25
2. Data penyakit infeksi balita ISPA, Pneumonia, Diare, Campak dan TB Paru.
3. Akses ke pelayanan kesehatan: jarak dan waktu tempuh terdekat, transportasi
ke sarana pelayanan kesehatan.
4. Frekuensi kunjungan ke pelayanan kesehatan 6 bulan terakhir.
5. Pemanfaatan pelayanan kesehatan meliputi: penimbangan, penyuluhan,
imunisasi, kesehatan ibu dan anak (KIA), pengobatan, pemberian makanan
tambahan (PMT), suplemen gizi, dan konsultasi resiko penyakit.
6. Ketanggapan pelayanan kesehatan di pelayanan kesehatan rawat jalan.
Pengolahan Data
Dalam tahap pengolahan data digunakan program komputer software
microsoft Ecxel 2007, kemudian dilakukan kegiatan-kegiatan pengkodean, editing
dan cleaning. Cleaning dilakukan untuk melihat kemungkinan adanya data yang
salah atau missing, apabila data yang diambil terdapat data yang hilang (missing),
maka dilakukan kembali konfirmasi, dan dicek ulang apakah diambil atau di
buang.
Status gizi batita diolah dengan program software anthro 2005, dianalisis
secara statistik dan deskriptif disajikan dalam 3 (tiga) indikator antropometri,
yaitu berat badan menurut umur (BB/U), tinggi badan menurut umur (TB/U) dan
berat badan menurut tinggi badan (BB/TB). Data antropometri anak 0-3 tahun
untuk melihat secara deskriptif dibuat kategori sesuai dengan standar
anthropometri WHO 2006 (Riskesdas 2007) dengan klasifikasi nilai terstandar (zscore) seperti telah dijelaskan pada tinjauan pustaka. Skala pengukuran ordinal
dan rasio.
Pendidikan ibu diolah secara deskriptif dengan melihat kategori tingkat
pendidikan ibu dari pendidikan formal yang ditamatkan, kemudian dikategorikan
menjadi tidak sekolah 0 tahun, tidak tamat SD = 5 tahun, tamat SD 6 tahun,
tamat SMP 9 tahun, tamat SMA 12 tahun dan PT 16 tahun dengan skala rasio dan
ordinal. Umur ibu dibuat kategori 16-25 tahun, 26-40 tahun dan >40 tahun, skala
rasio dan ordinal. Jumlah anggota keluarga dihitung dari jumlah anggota keluarga
yang terdiri dari ayah, ibu, anak dan anggota keluarga lainnya. Kemudian
dikategorikan menjadi kecil < 4 orang, sedang 5-7 orang dan besar >7 orang
dengan skala rasio dan ordinal. Akses ke pelayanan kesehatan diukur dengan
melihat waktu, jarak tempuh dan transportasi (dengan kategori ada dan tidak ada
26
transportasi). Frekuensi kunjungan ke pelayanan kesehatan diolah dengan melihat
berapa kali dalam 6 bulan terakhir orang tua batita ke pelayanan kesehatan
terdekat (Puskesmas, Posyandu/Poskesdes maupun di Polindes atau bidan desa)
untuk menimbang (memantau pertumbuhan) anaknya. Dibuat kategori baik jika
>4 kali kunjungan, sedang jika 1-3 kali kunjungan dan buruk jika tidak pernah
kunjungan, skala pengukuran ordinal dan rasio.
Ketanggapan pelayanan kesehatan diukur dengan melihat jawaban 1) sangat
baik, 2) baik, 3) sedang, 4) buruk dan sangat buruk. Kemudian dibuat skor untuk
jawaban 1= 4, 2=3, 3=2, 2=1 dan 5=0. Dengan skor tertinggi 20 dan dibuat
kategori baik jika skor >12 (>60%) dan kurang jika skor <12 (<60%) untuk
jelasnya dapat dilihat pada lampiran 3.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan diukur dengan melihat jenis-jenis
pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan dalam 6 bulan terakhir baik di
Puskesmas, Posyandu/Poskesdes maupun di Polindes atau bidan desa terdekat.
Program-program
pelayanan
kesehatan
tersebut
meliputi:
penimbangan,
penyuluhan, imunisasi, KIA, KB, pengobatan, PMT suplemen
gizi, dan
konsultasi resiko penyakit. Jenis-jenis pelayanan kesehatan ini diolah dengan
memberikan
kategori
jawaban
ya
(memanfaatkan)
dan
tidak
(tidak
memanfaatkan), kemudian diskors dengan menjumlahkan jenis pelayanan yang
dimanfaatkan. Setiap jenis pelayanan kesehatan yang dimanfaatkan diberi skor 1
(satu) dan nol (0) untuk jenis pelayanan kesehatan yang tidak dimanfaatkan. Skala
pengukuran ordinal untuk pemanfaatan pelayanan kesehatan dan rasio untuk
variabel pelayanan kesehatan (skor pada lampiran 5)
Penyakit infeksi diukur dengan kuesioner diagnosa dan atau gejala spesifik
dari penyakit yang pernah di derita batita selama 1 bulan terakhir untuk penyakit
ISPA, Pneumonia dan Diare sedangkan penyakit Campak dan TB Paru 12 bulan
terakhir. Dikatakan infeksi jika berdasarkan diagnosa terkena penyakit tersebut
dan atau hanya gejala spesifik dari penyakit infeksi tersebut. Penyakit infeksi
diolah dengan pengkategorian infeksi (jika jawaban ya) diberi skor 1 (satu) untuk
penyakit yang jawabannya tidak infeksi jika jawaban tidak skor 0 (nol) , kemudian
secara keseluruhan dijumlahkan skornya dan dibuat variabel penyakit infeksi
(skor pada lampiran 6).
27
Analisis Data
Pada tahap analisis dilakukan dengan menggunakan program komputer
software SPSS for windows versi 16,0. Untuk melihat secara umum dilakukan
analisis univariat, untuk mengetahui hubungan antar variabel digunakan uji
statistik chi-square test dan moment pearson correlation test. Dan untuk menguji
pengaruh berbagai variabel independen terhadap suatu variabel dependen
digunakan uji statistik regresi linier berganda ( Syarief 1992; Hastono 2001).
Variabel-variabel yang diduga berpengaruh terhadap pemanfaatan pelayanan
kesehatan yaitu umur ibu, lama pendidikan ibu, jumlah anggota keluarga, penyakit
infeksi dan ketanggapan pelayanan kesehatan. Model persamaan Regresi linier
berganda adalah sebagai berikut :
Ŷ 1 = Ŷ 2 = Ŷ 3 = β 0 +β 1 X 1 + β 2 X 2 + ......................... + β n X n + €
Keterangan:
Ŷ1
Ŷ2
Ŷ3
= Variabel terikat status gizi batita BB/TB
= Variabel terikat status gizi batita BB/U
= Variabel terikat status gizi batita TB/U
β 1, β 2,.......... β n = Koefisien Regresi
€ = Galat
β0
= Intercept
X 1 ,X 2 ....... X n
Variabel bebas:
Kode
: Umur ibu
X1
X2
: Lama pendidikan ibu
X3
: Jumlah anggota keluarga
: Penyakit infeksi
X4
X5
: Pemanfaatan pelayanan kesehatan
= Variabel bebas
28
Keterbatasan Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional, sehingga hubungan
atau perbedaan yang ditemukan antara variabel independen dan variabel dependen
bukan merupakan sebab akibat. Hal ini disebabkan karena kedua variabel tersebut
diukur pada saat yang bersamaan. Pada analisis univariat dan bivariat hubungan
yang ditunjukkan hanyalah kecendrungan hubungan antar variabel. Namun
dengan dilakukannya analisis multivariat diharapkan dapat memberikan hasil
yang baik untuk mengetahui hubungan pemanfaatan pelayanan kesehatan dengan
status gizi batita.
Penelitian ini melihat faktor-faktor yang berhubungan dengan status gizi
batita baik dari segi karakteristik keluarga maupun dari segi pemanfaatan
pelayanan kesehatan. Pada kerangka Unicef (1998) banyak faktor yang
mempengaruhi status gizi batita di luar variabel yang diteliti seperti pola asuh,
sanitasi ketersediaan pangan di tingkat wilayah dan rumah tangga. Namun
penelitian ini difokuskan pada variabel yang terlihat pada kerangka pemikiran.
Data primer yang diperoleh dari Balitbangkes Depkes RI telah melalui
proses verifikasi, editing dan cleaning sehingga bias penelitian baik pada saat
pengumpulan data sampai dengan cleaning data dapat terjadi karena peneliti tidak
terlibat langsung dalam survey ini.
Batasan Operasional
Status Gizi Batita
Keadaan gizi anak batita yang diamati berdasarkan nilai z-score indikator
berat badan menurut umur (BB/U), berat badan menurut panjang/tinggi
badan (BB/TB) dan panjang/tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan
standart antropometri WHO 2006.
Pemanfaatan Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan adalah kegiatan yang dilaksanakan oleh petugas
kesehatan di tempat pelayanan kesehatan seperti: Puskesmas, Polindes,
Poskesdes, Posyandu dan bidan desa.
Pemanfaatan pelayanan kesehatan adalah pelayanan kesehatan yang
dimanfaatkan oleh batita baik preventif maupun kuratif yang meliputi:
29
penimbangan, penyuluhan, kesehatan ibu dan anak, pemberian makanan
tambahan, pengobatan, suplemen gizi dan konsultasi resiko penyakit di
pelayanan kesehatan.
Karakteristik Keluarga
Karakteristik keluarga pada penelitian ini meliputi: umur ibu, pendidikan
ibu dan jumlah anggota keluarga.
Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi yang pernah diderita oleh batita yang dinilai berdasarkan
penyakit TB Paru dan Campak pernah diderita dalam 12 bulan terakhir dan
penyakit Diare, ISPA dan Pneumonia yang pernah diderita dalam 1 bulan
terakhir yang diukur melalui wawancara dengan orang tua anak.
Dikategorikan menjadi dua yaitu pernah menderita infeksi dan tidak infeksi.
Akses ke Pelayanan Kesehatan
Tingkat kemudahan dalam mengakses dan pemanfaatan pelayanan
kesehatan yang diukur berdasarkan jarak dan waktu serta adanya
transportasi yang diperlukan agar mendapatkan pelayanan kesehatan yang
tersedia baik pemerintah maupun UKBM yang ada.
Ketanggapan pelayanan kesehatan
Penilaian yang diberikan rumah tangga batita yang memanfaatkan
pelayanan kesehatan terdekat untuk rawat jalan di pelayanan kesehatan (RS
Pemerintah, RS swasta, Rumah bersalin, Puskesmas, Pustu, Pusling,
Posyandu, Poliklinik/balai pengobatan swasta, praktek tenaga kesehatan)
yang diukur dengan beberapa kuesioner Riskesdas pada lembar pertanyaan
rumah tangga dan individu yang dibuat kategori baik dan kurang baik.
Download