Uploaded by User111227

MAKALAH KELOMPOK VII hhh

advertisement
MAKALAH
“Etika Dan Moral Menurut Ajaran Alkitab”
Dosen Pengampu :
Pdt.Dr.Sampitmo Habeahan,M.Th,M.Pd.K,D.Th.
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK VII
Mario Maysan Kokod
4193250008 ( PSIK A 19 )
Angelina Romauli Lumbantoruan 4193250012 ( PSIK A 19 )
Ananda anugrah putri 4191111051 ( PSPM 19 )
Imelda Ani Yolanda Marbun 4191111002 ( PSPM 19 )
JURUSAN MATEMATIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami penjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa , yang atas rahmat-Nya sehingga
kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Etika menurut ajaran alkitan”.
Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah Pendidikan
Agama Kristen di Unversitas Negeri Medan.
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis penulisan
maupun materi, mengingat akan kemampuan yang kami miliki. Untuk itu, kritik dan saran dari
semua pihak sangat kami harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya
kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini, khususnya kepada Dosen
kami yang telah memberikan tugas dan petunjuk kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan tugas ini.
Medan, 29 Maret2021
Kelompok VII
DAFTAR ISI
SAMPUL HALAMAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah.
1.2. Rumusan Masalah.
1.3 Maksud dan Tujuan.
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Etika.
2.2. Dasar-Dasar Etika Kristen.
2.3. Faktor-Faktor Penting Dalam Pengambilan Keputusan Etika Kristen.
2.4. Pengertian Moralitas.
2.5. Perbedaan Etika Dan Moral.
2.6. Persamaan Etika Dan Moral.
2.7. Kegunaan Etika Dan Moral Dalam Kehidupan Sehari-Hari.
2.8. Etika Mahasiswa Kristen.
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Penulisan makalah ini dimaksudkan agar mahasiswa Pendidikan Agama Kristen dapat
memahami dan menghayati pengertian etika yang berhubungan dengan ajaran alkitab , dan etika
Kristen. Melalui pemahaman dan penghayatan tersebut diharapakan mahasiswa dapat
berperilaku sesuai dengan norma-norma yang sesuai dengan ajaran Kristen.
Makna moral / etika Kristiani sangat penting bagi kehidupan orang Kristen. Manusia seba
gai ciptaan Allah berimplikasi pada eratnya hubungan antara Iman dan Perilaku manusia
dalam rangka tanggung jawab pada Pencipta. Etika Kristen sebagai ilmu mempunyai fungsi
dan misi yang
khusus dalam
hidup manusia yakni
petunjuk dan
penuntun tentang bagaimana manusia sebagai pribadi dan kelompok harus mengambil
keputusan tentang apa yang seharusnya berdasarkan kehendak dan Firman Tuhan. Etika Kristen
adalahIlmu
yang
meneliti,
menilai
dan mengatur
tabiat dan tingkah laku manusia dengan memakai norma kehendak dan
perintah Allah
sebagaimana dinyatakan dalam Yesus Kristus.
1.2 Rumusan Masalah
Permasalahan yang akan disajikan dalam penulisan makalah ini berkaitan dengan moralitas dan
perilaku dalam berkehidupan sebagai mahasiswa Kristen, baik dalam berinteraksi dengan sesama
mahasiswa, dengan dosen, dan dengan masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya.
1.Jelaskan Pengertian dari Etika dalam ajaran alkitab
2.Sebutkan Perbedaan dan Persamaan Etika dan Moral
3.Bagaimana kaitannya dalam kehidupan sehari-hari
1.3 Maksud dan Tujuan
Melalui penulisan makalah ini, diharapkan mahasiswa Pendidikan Agama Kristen
dapat memberikan contoh kehidupan yang bermoral dan beretika sesuai ajaran Kristen dan
alkitab sehingga dapat menjadi teladan di lingkungan kampus ataupun di tempat tinggalnya.
Moral dan etika Kristen yang sesuai dengan ajaranalkitan tersebut diharapkan dapat
diaplikasikan pada sikap dan perilaku sebagai berikut:
1.Sikap terhadap dosen/pengajar ataupun orang tua.
2. Sikap dan perilaku terhadap sesama mahasiswa
3. Sikap dan perilaku di lingkungan tempat tinggal/lingkunga n organisasi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Etika
Untuk memahami pengertian etika, perlu diketahui akar kata dari etika itu sendiri. Verkuyl
(Etika Kristen: Bagian 1, Tahun 2000) menyatakan bahwa kata etika berasal dari bahasa Yunani,
ethos, yang artinya kebiasaan, adat. Kata etos dan ethikos lebih berarti kesusilaan, perasaan
batin, atau kecenderungan hati seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan.
Etika bukanlah ilmu pengetahuan alam. Karena itu juga Etika bukanlah ilmu yang pengetahuan
yang bersifat deskriptif, yang hanya menerangkan dan menguraikan tindakan dan kelakuan
manusia, seperti halnya dengan ilmu bangsa-bangsa( antropologi kultural), yang menguraikan
dan membahas adat-istiadat dan keadaan bangsa-bangsa.
Etika merupakan Ilmu yang mempelajari norma-norma yang mengatur tingkah laku manusia.
Etika berbicara tentang keharusan yang di lakukan oleh manusia tentang apa yang baik, benar
dan tepat.
Kata ethos yang menjadi etika berarti kebiasaan, baik kebiasaaan individu maupun kebiasaan
masyarakat. Etika tidak hanya berurusan dengan dengan segi lahiriah seperti kelakuan dan
tindakan, tetapi juga berurusan dengan segi batiniah seperti sikap, motif, karakter atau tabiat.
a. Etika Dalam Perjanjian Lama
Etika dan moral Abraham dapat terlihat ketika ia dipanggil Allah dalam usianya yang ke
75.Pada saat itu, ia bersama dengan istrinya Sarai beserta keponakannya Lot menuju Kanaan
melalui Sikhem dan Betel sekitar tahun 2091 SM (Kej 12:1-5). Abraham yang pada waktu itu
bernama Abram pergi hanya dengan berbekal iman kepada Tuhan dan ia sendiri tidak
mengetahui bagaimana sebetulnya daerah Kanaan tersebut. Ketika ia sampai di Kanaan, ternyata
negri itu sedang mengalami bencana kelaparan, oleh karena itu ia bersama dengan keluarganya
pergi ke Mesir melalui Negep. Peristiwa Abraham yang menuruti perintah Allah memperlihatkan
beberapa sikap iman dan moralnya, antara lain:
1.Berani melangkah mentaati perintah Tuhan untuk menuju ke negeri yang belum diketahui
keadaannya.
2.Bersedia meninggalkan rumahnya dan pergi mengembara yang penuh suka duka serta ancaman
bahaya.
3.Ketika Abraham mencapai tempat yang ia tuju, ada bencana kelaparan disana, namun
Abraham tidak meninggalkan tempat itu melainkan tetap percaya dan setia pada Tuhan.
4.Percaya bahwa Tuhan pasti akan memberikan yang terbaik dan hal itu terjadi hingga
Abraham menjadi Bapa orang beriman bagi segala bangsa.
Selain dari sikap iman dan moral yang ditunjukkan Abraham, ada juga moral buruk yang ia
tunjukkan ketika menghadapi permasalahan hidupnya, yaitu:
1.Ketika ia berada di Mesir dimana ia kuatir dirinya akan dibunuh supaya orang bisa mengambil
istrinya.
2.Abraham berbohong demi menyelamatkan dirinya dengan mengakui istrinya sebagai adik.
3.Sikap egois dan tidak mengasihi istri dimana Abraham tidak melindungi istrinya dan
membiarkan istrinya rela diambil orang.
4.Abraham tidak menyerahkan perlindungannya pada Allah tetapi ia tenggelam pada perasaan
takutnya yang bisa mengancam nyawanya.
b. Etika Dalam Perjanjian Baru
Ajaran etik Yesus Kristus di antaranya terdapat dalam Injil-injil sinoptis (Matius, Markus,
Lukas), salah satu ajaran tersebut adalah khotbah di bukit (Mat 5-7; Luk 6:20-49). Dalam
khotbah di bukit, Yesus mempermasalahkan etik orang farisi yang sangat berpegang teguh pada
pelaksanaan hukum taurat tetapi tidak mengarah kepada kegenapan hukum taurat dan
kitab para nabi. Dalam hal ini Yesus mengatakan bahwa "jika hidup keagamaanmu tidak
lebih benar daripada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi,
sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam kerajaan surga" (Mat 5:20) karena Kerajaan
Allah sudah dekat kepadamu (Luk 10:9.
Selain itu, ajaran etik Yesus juga meminta kepada manusia untuk menjadi seorang manusia yang
bersifat ilahi. Kata ilahi ini memiliki arti menjadi seseorang yang lebih baik dari yang lain.
Sebagai contoh, Yesus mengajarkan "Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat
kepadamu, melainkan siapapun menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
Dan kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah
juga jubahmu. Dan siapa yang menyuruh engkau berjalan berjalan sejauh satu mil,
berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. (Matius 5;39-41).
Dalam mempelajari PB sebagai buku etika , ada beberapa pendekatan yang dapat dilakukan:
1. PB dapat dikategorikan sebagai kitab hukum untuk membimbing kehidupan manusia.
2. PB sebagai koleksi dari prinsip-prinsip moral universal.
3. Menekankan keputusan etis dimana terdapat pernanan rok kudus , roh kudus sebagai
yang memimpin kedalam etika yang dapat diterima.
4. Menekankan pengambilan keputusan etis didasarkan kasih ditengah-tengah situasi yang
sedang berlangsung.
5. Anugerah dalam yesus kristus sebagai landasan etika kristen.
Stephen moot menguraikan makna etika dalam hubungannya dengan anugrah allah
sebagai landasan dan tindakan etis etika kristen.
a. Etika kristen dilandasi oleh tindakan allah dalam anugrah-Nya.
b. Etika kristen dilandasi oleh tindakan sosial dari anugrah.
c. Dalam aplikasi kehidupan etis orang percaya menciptakan komunitas etis dalam
lingkungan orang percaya maupun orang yang tidak percaya .
1. Etika yesus kristus.
Dalam pelayanan dan kehidupan yesus orientasi etika . yesus adalah sosial dalam injil
sinoptik ia menekankan soal pengampunan. Teladan etis yang paling baik adalah teladan
dari karakter allah. Orang kristen harus sama seperti kristus dalam etika dan ketaatannya.
Khotbah tuhan yesus dibukit adalah khotbah etika yang berhubungan dengan hal-hal
sosial, budaya dan ekonomi dalam masyarakat.
Dan ini mereflesikan etika dalam hukum taurat dengan pengertian yang benar. Prinsip
etika yesus adalah prinsip ketaatan dan anugrah karena ia bukanlag seorang yang
legalistik tanpa praktik . yesus tidak menolak tuntutan moral dari hukum taurat, tetapi ia
menolak apabila ia tidak mewakili kehendak allah . itulah sebabnya ia menggenapinnya .
etika yesus ditulis oleh yohanes dengan menggunakan istilah etika yakni :
kasih,kehidupan,terang dan kebenaran, demikian juga istilah ini digunakan dalam
I,II,III,yohanes.
2. Etika dari paulus.
Dalam surat paulus nampak prinsip-prinsip etika kristen yang dibuatnya sebagai
penuntun :
1. Dipraktekan dengan melihat kondisi lingkungan kristen dan non kristen.
2. Diantara komunitas
gereja kristen ia menggunakan istilah ketergantungan,
gotoroyong dari jemaat sabagai anggota tubuh kristus satu sama lain.
3. Standar nilai ukuran etis paulus adalah dalam kristus ( in chist) yang menjadi teladan
dari etika dalam keluarga dan dalam pekerjaan.
4. Siakp pengambilan keputusan etis harus dan dalam pimpinan roh kudus yang
berbicara mengenai hati nurani.
5. Orang kristen tidak boleh berkompromi dengan dunia dan tida boleh menjadi
penghalang bagi orang kafir untuk mengenal yesus.
6. Hubungan suami-istri , tuan dan hamba, negara dan rakayat , melibatkan prinsipprinsip spritual dari tubuh kristus dan kepala .
7. Prinsip-prinsip etis juga dinyatakan paulus dalam mengadakan rekonsiliasi onesimus
dan filemon.
8. Sikap etis juga diajarkan paulus untuk memelihara keindahan penyembaha, pelayanan
dan juga penggunaan-pengunaan karunia dalam jemaat.
9. Ketegasan sikap etis paulus diwujudkan dalam penerapan displin terhadap pelangaran
moral.
2.2. Dasar-dasar etika kristen.
1. Etika kristen berdasarkan kehendak allah.
Etika ktisten merupakan satu bentuk sikap yang diperintah oleh allah, maka kewajiban etis
meruapakan sesuatu yang harus kita lakukan. Kewajiban merupakan ketentuan atau perintah etis
yang diberikan allah sesuai dengan karakter Moral-NYA yang tidak dapat berubah.
Maksudnya adalah allah menghendaki apa yang benar sesuai sifat-sifat moral-Nya sendiri,
jadilah kudus sebab aku ini kudus (Ima 11:45) harus kamu sempurna , sama seperti bapamu yang
disorga adalah sempurna (Mat 5:48) “allah tidak mungkin berdusta” (Ibr 6:18) “allah adalah
kasih” (I Yoh 4 : 16) “ kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 22:39), jadi
singkatnya etika kristen didasarkan pada kehendak allah, tetapi allah tidak pernah menghendaki
apapun yang bertentangan dengan karakter moral-Nya yang tidak berubah.
2.Etika kristen bersifat mutlak.
Karena karakter moral allah tidak berubah ( Mat 3:6, Yak 1:17) maka kewajiban-kewajiban
moral yang berasal dari natur-Nya itu bersifat mutlak. Maksudnya adalah kewajiban-kewajiban
tersebut selalu mengikat semua orang dimana-mana apapun juga yang ditemukan dalam moral
allah yang tidak berubah merupakan satu kemudahan moral. Termasuk didalamnya adalah
kewajiban-kewajiban moral seperti : kekudusan, keadilan, kasih,sifat yang sebenarnya dan belas
kasihan.
3.Etika Kristen berdasarkan wahyu allah.
Etika kristen berdasarkan perintah-perintah allah wahyu yang bersifat umum ( Rom 1 : 1920,2:12-25) dan khusus (Rom 2:18,3:2).
Allah telah menyatakan diri-Nya baik melalui alam ( Maz 19:1-6) dan didalam kitan suci (Maz
19:7-14). Wahyu umum berisi perintah allah bagi semua orang. Wahyu khusus untuk
mendeklarasikan kehendak-Nya untuk orang-orang percaya. Tetapi didalam kedua hal tersebut
dasar dari tanggung jawab etis manusia adalah wahyu ilahi.
Gagal untuk mengenali allah sebbagai sumber kewajiban moral tidak membebaskan siapapun
juga, bahkan seorang ateis, dari kewajiban moralnya, karena apabila bangsa-bangsa lain yang
tidak memiliki hukum taurat , oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dikehendaki oleh
hukum taurat, maka walaupun mereka tidak memiliki hukum taurat, mereka menjadi hukum
taurat bagi diri mereka sendiri, sebab dengan itu meeka menunjukan, bahwa isi hukum taurat ada
tertulis dalam hati mereka (Roma 2:14-15).
4.Etika kristen bersifat menentukan.
Karena kebenaran moral di tetapkan oleh allah yang bermoral maka harus dilaksanakan. Tidak
ada hukum moral tanpa pembuat undang-undang moral. Dengan demikian etika kristen
berdasarkan naturnya adalah preskriptif, bukan deskriptif. Etika berkaitan dengan apa yang
seharusnya dilakukan, bukan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Orang-orang kristen tidak
menemukan kewajiban-kewajiban etis mereka standar orang-orang kristen tetapi didalam standar
bagi orang-orang kristen di alkitab.
5. Etika Kristen Itu Deontologis.
Sistem-sistem etiak pada umunya dapat dibagi menjadi dua kategori, Deontologis (berpusat pada
kewajiban) dan teologis (berpusar pada tujuan) , ada dua etika kristen yaitu :
a. Etika Deontologis (berpusat pada kewajiban)
Peraturan menentukan hasil, peraturan adalah dasar tindakan, peraturan itu baik tanpa
menghiraukan hasil, hasil harus diperhitungkan beradasarkan peraturan.
b. Etika teologis.
Hasil menentukan peraturan hasil adalah dasar tindakan, peraturan itu baik karena hasil,
hasil kadang bisa melanggar peraturan.
2.3.Faktor-Faktor Penting Dalam Pengambilan Keputusan Etika Kristen.
Dibidang perkawinan, bisnis dan kerja/jabatan (khususnya dalam pelayanan gereja )
a. Bisnis dan kerja
Kerja merupakan unsur hakekat manusia yang dijadikan menurut gambar allah. Kerja
manusia mempunyai sifat yang khas, ia menunjukan perbedaan yang nyata sekali dengan
kerja binatang dan kerja mesin , kerja binatang berlaku menurut naluri, sedangkan kerja
mesin berlaku tanpa kesadaran, sifat khas manusia adalah bahwa kerja manusia
merupakan penggunaan secara sadari daya-daya rohani dan badani juga tertuju kepada
maksud tertentu. Kerja sebagai perintah allah dan perintah itu harus ditaati dengan rela
hati.
b. Pelayanan gereja.
Gereja wajib memberikan bahwa kerjaan allah sedang datang dan oleh sebab itu wajib
memberikan pemerintahan dan janji kerjaan allah dalam segala lapangan hidup dan
menyerukan supaya bertobat . Tuhan Yesus menaruh minat terhadap kesehatan,
makanan, serta perlakuan terhadap orang-orang sekelilingnya . ia menyembuhkan yang
sakit, memberi makan yang lapar, mengecam tingkah laku orang percaya terhadap
lazarus yang miskin.
2.4. Pengertian Moralitas
Moral berasal dari bahasa latin yakni mores, yang merupakan kata jamak dari mos yang berarti
adat kebiasaan. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, moral diartikan sebagai susila. Moral adalah
hal-hal yang sesuai dengan ide-ide yang umum diterima tentang tindakan manusia, mana yang
baik dan mana yang wajar. Abineno (1996) menuliskan bahwa istilah atau kata mos mempunyai
arti yang kira-kira sama dengan Yunani “etos”, yaitu kebiasaan adat istiadat.
Kata atau istilah ini lebih banyak digunakan oleh Gereja katolik Roma, kalau dibandingkan
dengan Gereja-gereja Protestan. Dalam gereja Katolik Roma teolog yang menghususkan diri di
bidang moral disebut teolog moral. Dalam gereja-gereja protestan teolog demikian disebut
tetikius, maksudnya: teolog dibidang etika. Kalau kita membaca karya para teolog katolik Roma
kita mendapat kesan, bahwa pada waktu-waktu yang akhir ini istilah atau pengertian ‘teolog
moral” makin lama makin kurang digunakan, diganti dengan istilah atau pengertian etikus”.
Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya
dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut
amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya.
Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara
ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu. Tanpa moral
manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi. Penilaian terhadap moral diukur dari
kebudayaan atau adat istiadat masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan
seseorang dalam berinteraksi dengan manusia lainnya. Apabila yang dilakukan seseorang itu
sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta
menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral yang baik,
begitu juga sebaliknya.
2.5. Perbedaan Etika dan Moral
Meskipun secara etimologi arti kata etika dan moral mempunyai pengertian yang sama, tetapi
tidak persis dengan moralitas. Etika semacam penelaah terhadap aktivitas kehidupan manusia
sehari-hari, sedangkan moralitas merupakan subjek yang menjadi penilai benar atau tidak.
beberapa perbedaan etikadan moral adalah:
1. moral mengajarkan apa yang benar sedangkan etika melakukan yang kebenaran
2. moral mengajarkan bagaimana seharusnya hidup sedangkan etika berbuat atau bertindak
sesuai dengan apa yang telah diajarkan dalam pendidikan moral.
3. moral menyediakan “rel” kehidupan sedangkan etika berjalan dalam “rel”kehidupan.
4.moral itu rambu-rambu kehidupan sedangkan etika mentaati rambu-rambu kehidupan
5. moral itu memberikan arah hidup yang harus ditepumpuh sedangkan etika berjalan sesuai arah
yang telah ditetapkan (menuju arah )
6.moral itu seperti kompas dalam kehidupan sedangkan etika memperhatikan dan mengikuti arah
kompas dalam menjalani kehidupan .
7. moral ibarat peta kehidupan sedangkan etika mengikuti peta kehidupan
8. moral itu pedoman kehidupan sedangkan etika mengiuti pedoman
9. moral tidak bisa dimanipulasisedangkan etika bisa dimanipulasi
10. moral itu aturan yang wajib ditaati oleh setiap orang sedangkan etika sering berorientasi pada
sikon ,motif ,tujuan,kepentingan ,dsb.
Tanpa pedoman moral manusia tidak mempunyai dasar bagaimana berperilaku dalam dunia yang
multi arah. manusia tidak akan mampu mengambil keputusan etis yang baik,tepat, dan benar.
pada dasarnya hidup manusia akan cendeerung salah arah tanpa acuan moral
2.6. Persamaan Etika dan Moral
Persamaan :
Ada beberapa persamaan etika, dan moral yang dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Pertama, etika dan moral mengacu kepada ajaran atau gambaran tentang perbuatan, tingkah
laku, sifat, dan perangai yang baik.
2.Kedua, etika dan moral merupakan prinsip atau aturan hidup manusia untuk menakar martabat
dan harakat kemanusiaannya. Sebaliknya semakin rendah kualitas etika dan moral seseorang atau
sekelompok orang, maka semakin rendah pula kualitas kemanusiaannya.
3. Ketiga, etika dan moral seseorang atau sekelompok orang tidak semata-mata merupakan
faktor keturunan yang bersifat tetap, stastis, dan konstan, tetapi merupakan potensi positif yang
dimiliki setiap orang. Untuk pengembangan dan aktualisasi potensi positif tersebut diperlukan
pendidikan, pembiasaan, dan keteladanan, serta dukungan lingkungan, mulai dari lingkungan
keluarga, sekolah, dan masyarakat secara tersu menerus, berkesinambangan, dengan tingkat
keajegan dan konsistensi yang tinggi.
2.7. Kegunaan Etika dan Moral Dalam kehidupan sehari
Etika adalah pemikiran yang sistematis tentang moralitas, yang dihasilkan secara langsung
bukan hanya kebaikan, melainkan suatu pengertian yang lebih mendasar dan kritis.
Ada beberapa alasan mengapa etika pada zaman ini semakin perlu yaitu:
1.
Kita hidup dalam masyarakat yang pluralistic, juga dalam bidang moralitas.
2.
Kita hidup dalam masa transformasi masyarakat yang tanpa tanding.
3.
Kita seringkali cepat-cepat memeluk segala pandangan yang baru, tetapi juga sering
menolak nilai-nilai hanya karena baru dan belum biasa.
2.8. Etika Mahasiswa Kristen.
Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya dalam Rumusan Masalah, bahwa penulisan
makalah ini difokuskan pada bagaimana mahasiswa berperilaku sesuai dengan etika Kristen.
Perilaku yang akan dibahas adalah tingkah laku yang terkait dengan interaksi mahasiswa dengan
sesama mahasiswa, mahasiswa dengan dosen termasuk dengan segenap karyawan kampus,
ataupun perilaku mahasiswa dalam berinteraksi dengan masyarakat dimana dia tinggal.
3.1.Mahasiswa Pendidikan Agama Kristen
Sebagai seorang mahasiswa perlu disadari bahwa tugasnya adalah belajar. Untuk mencapai
keberhasilan sebagai seorang mahasiswa perlu mengalokasikan waktu yang lebih untuk belajar,
membaca buku referensi baik dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan ataupun browsing di
internet, berdiskusi dengan teman atau siapapun yang yang dapat memberikan masukan.
Motivasi untuk keberhasilan tersebut dapat ditingkatkan melalui target-target pribadi seperti
target untuk nilai IPK, target untuk cepat lulus, untuk segera bekerja dan target lainnya
tergantung pribadi mahasiswa.
Dalam mencapai keberhasilan dan menambah motivasi seorang mahasiswa, khususnya
mahasiswa FE-UMI harus dilandasi oleh ajaran kristen, yaitu menjadi garam dan terang yang
dilandasi oleh kasih. Tentunya dalam mengejar cita-citanya tidak menghalalkan segala cara,
misalnya malas belajar, tidak mau bertanya, dan mencontek.
3.2.Mahasiswa dengan Mahasiswa.
Sebagai sesama mahasiswa kristen, perlu menerapkan ajaran kasih yang dapat diaplikasikan
dengan kesediaan untuk menolong sesama mahasiswa dalam belajar, mau berbagi pengetahuan,
bersikap ramah satu sama lain, kompak, tidak menyombongkan diri, dan mau memaafkan jika
ada kesalahan teman.
3.3.Mahasiswa dengan Dosen.
Dosen merupakan perwakilan orang tua di lingkungan kampus, dosen juga dapat dianggap
sebagai atasan atau tuan dari mahasiswa kita. Seperti tertulis pada Kolose 3:22 yang berbunyi
“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan
mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan.
Ajaran ini jelas menggambarkan agar mahasiswa mentaati dosen ataupun aturan yang berlaku di
Kampus. Lebih jauh lagi, ketaatan mahasiswa bukan karena dimotivasi oleh keinginan mendapat
pujian ataupun mengharapkan nilai atau IPK yang tinggi, tetapi melakukannya dengan tulus hati.
Hal tersebut, menurut saya adalah keunggulan dari etika Kristen. Mahasiswa tidak akan menjadi
orang yang munafik di kampus. Jika dosen tidak masuk kelas atau berhalangan, akan merasa
senang dan tidak belajar; tetapi jika dosen berada di kelas bertindak seolah-olah memperhatikan
dengan seksama. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan iman Kristen.
Tetapi, bagaimana jika dosen atau pengajar orang yang sangat menjengkelkan? Orang yang
galak, kejam dan “killer”? Bolehkah kita tidak menghormatinya? Jawaban Alkitab sangat tegas,
yaitu TIDAK. Dalam 1 Petrus 2:18 dikatakan, “Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan
penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada
yang bengis.” Lihat, betapa jelasnya Tuhan meminta untuk taat kepada orang yang mempunyai
posisi di atas kita.
3.4.Mahasiswa dengan Lingkungannya
Kehidupan di luar kampus juga merupakan kunci keberhasilan dalam mencapai keberhasilan
seorang mahasiswa. Jika kehidupan di luar kampus dapat berjalan dengan baik, tentu akan
menghindari gangguan fisik ataupun gangguan mental sehingga dapat lebih fokus untuk
mencurahkan waktu dan pikiran pada pelajaran.
Kehidupan yang baik di luar kampus dapat dilakukan melalui hal-hal berikut:
a. Menjadi contoh yang baik di lingkungan dimana mahasiswa tersebut berada;
b. Berperilaku dan bertutur kata yang baik yang mencerminkan sebagai mahasiswa;
c. Berupaya mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang telah dipelajarinya di masyarakat sebagai
wujud pengabdian (misalnya aktif di organisasi gereja);
d. Mengembangkan ilmu pengetahuan di luar kampus.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Sebagai seorang mahasiswa kristen, perlu disadari bahwa perilaku dan segala tindak tanduk tidak
terlepas dari pengamatan orang lain. Untuk itu, mahasiswa kristen harus dapat memberikan
contoh yang baik atau panutan. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi “garam” atau “pelita” bagi
masyarakat disekitarnya.
Menjadi garam artinya seorang mahasiswa dapat membuat kehidupan sosial masyarakat menjadi
damai dan sejahtera atau dengan kata lain dapat memberikan cita rasa yang lebih baik. Menjadi
pelita artinya sebagai seorang mahasiswa dapat memberikan contoh atau menjadi terang
sehingga dapat menjadi panutan bagi orang lain agar tidak tersandung dalam permasalahanpermasalahan yang akan merugikan diri sendiri atau orang lain.
Menjadi terang ataupun garam tersebut perlu didasari oleh ajaran kristen, yaitu melakukan
perbuatan untuk menjadi contoh yang baik bagi orang lain dengan didasarkan pada kasih kepada
Tuhan dan kasih kepada sesama.
Saran
Demikian yang dapat kami paparkan mengenai materi yang menjadi pokok bahasan dalam
makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan kelemahannya, kerena terbatasnya
pengetahuan dan kurangnya rujukan atau referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah
ini.Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan kritik dan saran yang
membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini dan dan penulisan makalah di
kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya
juga para pembaca yang budiman pada umumnya.
DAFTAR PUSTAKA
Abineno Dr.J.L.Ch. (1996), Sekitar Etika dan Soal-Soal Etis”, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Sirait, Drs. Jerry. R.H. dkk (1993), ”Diktat mata kuliah pendidikan Etika (Kristen)”, Departemen
Mata Kuliah Dasar Umum Universitas Kristen Indonesia.
Verkuyl, DR. J. (2000), ”Etika Kristen: Bagian Umum”, PT. BPK Gunung Mulia, Jakarta.
Referensi
http://linajuntak.blogspot.co.id/2014/04/makalah-etika-kristen.html
https://www.slideshare.net/saroduha/diktat-etika-kristen
Download