Uploaded by dewipurnamasari886

3. Siklus Hidrologi Kelompok 7

advertisement
MAKALAH PENYEHATAN AIR
“Penyakit yang ditularkan Melalui Air’’
Dosen Pembimbing :
Aris Budianto, S.T., M.KM
Endang Uji Wahyuni, S.KM., MKM
Disusun oleh :
KELOMPOK 7
1. Dewi Purnamasari
P21335118017
2. Jeremie Ethelbert
P21335118026
3. Rogate Jenyfer Prisqilla
P21335118055
4. Salma Fitria
P21335118057
5. Wiwik Purwasih
P21335118077
Kelas : 2DIVB
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN JAKARTA II
JURUSAN KESEHATAN LINGKUNGAN
F3, Jl. Hang Jebat III No.8, RT.4/RW.8, Gunung, Kby. Baru, Kota Jakarta
Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12120
1
Kata Pengantar
Puji syukur kehadirat Tuhan yang Maha Esa sebab atas segala rahmat,
karunia, serta taufik dan hidayah-Nya, makalah Penyehetan Air ini dapat
diselesaikan tepat waktu. Meskipun kami menyadari masih banyak terdapat
kesalahan didalamnya. Kami sangat berharap dengan adanya makalah ini dapat
memberikan manfaat, serta memberikan ilmu dan wawasan
yang baru dan
mendalam pada mata kuliah Penyehatan Air
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa dalam pembuatan makalah ini masih
terdapat banyak kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, kami mengharapkan
kritik dan saran dari pembaca untuk kemudian makalah kami ini dapat kami
perbaiki dan menjadi lebih baik lagi.
Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat
bermanfaat. Kami juga yakin bahwa makalah kami jauh dari kata sempurna dan
masih membutuhkan kritik serta saran dari pembaca, untuk menjadikan makalah ini
lebih baik ke depannya.
Jakarta, Februari 2020
Penyusun
2
I.
Siklus Hidrologi
Ketersediaan air yang memenuhi syarat bagi keperluan manusia relatif
sedikit karena dibatasi oleh berbagai faktor. Lebih dari 97% air di permukaan
bumi ini merupakan air laut yang tidak dapat digunakan oleh manusia secara
langsung. Dari 3% air yang tersisa, 2% di antaranya tersimpan sebagai gunung es
(glacier) di kutub dan uap air, yang juga tidak dapat dimanfaatkan secara
langsung. Air yang benar-benar tersedia bagi keperluan manusia hanya 0,62%,
meliputi air yang terdapat di danau, sungai dan air tanah. Jika ditinjau dai segi
kualitas, air yang memadai bagi konsumsi manusia hanya 0,003% dari seluruh air
yang ada.
Total air di bumi (100%)
Air tawar (3%)
Air tawar yang tersedia (0,5%)
Air tawar dengan kualitas yang memadai bagi konsumsi manusia (0,003%)
Gambar 3.2 Persentase ketersediaan air tawar di bumi dengan kualitas yang memadai bagi
konsumsi manusia (modifikasi Miller.1992).
Siklus hidrologi adalah salah satu dari 6 siklus biogeokimia yang
berlangsung di Bumi. Siklus hidrologi merupakan siklus atau sirkulasi air yang
berasal dari Bumi kemudian menuju ke atmosfer dan kembali lagi ke Bumi yang
berlangsung secara terus menerus. Karena bentuknya memutar dan berlangsung
secara terus- menerus inilah yang menyebabkan air seperti tidak pernah habis.
Siklus ini mempunyai peranan sangat penting bagi kelangsungan hidup makhluk
di Bumi. Karena adanya siklus inilah ketersediaan air di Bumi bisa selalu terjaga.
Untuk lebih jelasnya mengenai siklus hidrologi dapat digambarkan
sebagai berikut:
3
Proses siklus hidrologi secara garis besar yaitu : pertama seluruh air yang
ada di bagian bumi mana pun akan menguap. Seluruh air akan menguap ke
atmosfer atau lebih tepatnya ke angkasa lalu air ini akan berubah menjadi awan di
langit. Setelah itu, air yang telah berubah menjadi awan akan berubah lagi
menjadi bintik air.
Bintik air tersebut selanjutnya akan turun ke bumi dalam bentuk hujan
dapat pula dalam bentuk es dan dapat pula salju. Setelah hujan turun, air akan
masuk ke dalam celah atau pori tanah dengan arah gerak vertikal atau pun arah
horizontal. Air tersebut selanjutnya akan kembali ke aliran permukaan air yang
mana akan terus mengalir hingga kembali ke danau atau sungai.
Siklus hidrologi mempunyai sembilan tahapan atau komponen yaitu
evaporasi sebagai tahap pertama lalu diikuti oleh transpirasi, evapotranspirasi dan
sublimasi serta kondensasi. Tahap selanjutnya ialah tahap adveksi, tahap
presipitasi dan tahap run off serta yang terakhir tahap infiltrasi.
1.1 Manfaat Siklus Hidrologi
a. Water Suply
Air yang ikut sirkulasi siklus hidrologi hanya 521.000 km3/th, yang berarti
1,427.1015 liter/hari. Bila penduduk bumi 6 milyar dan kebutuhan air 200 liter/hari,
maka akan membutuhkan air 1,2.1012liter/hari, sedangkan air yang ikut sirkulasi sebesar
1,427.1015 liter/hari. Jadi masih ada kelebihan air yang dimanfaatkan oleh tumbuhan
4
dan hewan lainnya yang tidak akan mengganggu kondisi air yang sedang mengalir di
sungai, air bawah tanah, danau, dan keberadaan laut. Dalam sirkulasi hidrologi, air
melalui berbagai tempat. Terutama di daratan baik yang melalui permukaan atau bawah
tanah. Berdasarkan hitungan di atas jumlah air sangat memadai untuk memenuhi
kebutuhan manusia, hewan ataupun tumbuhan. Namun memang tiap daerah berbedabeda kualitas dan kauntitasnya, ada kekurangan, kecukupan dan kelebihan, tetapi secara
total masih sangat mencukupi. Penduduk pegunungan tidak perlu menuju laut untuk
memenuhi kebutuhan airnya, cukup menanti hujan atau aliran permukaan atau
mengambil di pancuran atau di telaga. Pendudukan perkotaan yang datar, cukup
mengambil air dari air bawah tanah atau menjernihkan dari air permukaan. Semua
kebutuhan air tercukupi baik dari segi jumlah maupun tempatnya.
b. Resource Life
Air merupakan kebutuhan mutlak setiap makluk hidup. Tanpa ada air mustahil
ada kehidupan. Setelah bumi terbentuk, kemudian mendingin mengkerut, mulai
terbentuk air yang mengisi keriput-keriput bumi. Titik air baru terbentuk sebagai aktifitas
gunung berapi. Air saat itu masih tawar dan belum ada kehidupan. Kemudian karena
adanya panas matahari, panas bumi dan sifat air mulailah terbentuk penguapan, awan,
hujan, air tanah, sungai danau, dan laut, sehingga sempurnalah siklus hidrologi.
Kehidupan pertama kali terbentuk dari adanya petir dari pertemuan dua awan, yang
mengenai permukaan air tawar, sinar ultra violet, panas dan sinar radiasi (Hendro
Darmodjo, 1984/1985, 4). Saat itu mulailah terbentuk unsur-unsur kehidupan dan
akhirnya terbentuk mahkluk sederhana di dasar air tawar. Kemudian secara evolusi
terjadilah makhluk seperti sekarang ini.Sampai sekarang air merupakan bagian yang
tidak bisa dipisahkan dari suatu makhluk hidup atau kehidupan. Suatu mikroorganisme,
bijian kurang dapat berkembang atau tidak aktif dalam kondisi kering tidak ada air,
ketika air ada bijian mulai tumbuh, mikroorganisme mulai aktif. Bahkan pada litosfer
yang kering kerontang, hampir dapat dipastikan kehidupan di sana berjalan lamban,
kurang beraktifitas, lambat berkembang, namun begitu ada air semua kehidupan
menunjukkan jati dirinya sebagai makhluk hidup.
c. Resource Energy
Siklus hidrologi memungkin air hujan jatuh di pegunungan atau dataran tinggi.
Oleh karena gravitasi air mengalir menuju tempat yang rendah. Perbedaan ketinggian
daratan yang dilalui air akan mengakibatkan kekuatan air untuk mengalir lebih kuat,
5
semakin tinggi menuju ke rendah semakin kuat kekuatan air. Kekuatan air tersebut
dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Pada kekuatan yang cukup oleh penduduk
dimanfaatkan untuk memutar kincir, menumbuk, sedangkan pada kekuatan yang besar
dapat digunakan untuk memutar turbin penghasil listrik yang dapat dinikmati di rumah
kita saat ini.
d. Obyek Wisata
Kabut di pegunungan, air terjun, awan yang tebal, hujan gerimis, danau, aliran
sungai, sungai bawah tanah, stalaktit, stalakmit, mata air, sumur artesis, gelombang laut,
semuanya merupakan bagian dari siklus hidrologi. Keadaan itu semua terbentuk oleh
adanya siklus hidrologi ribuan tahun, dan sekarang keindahannya dapat dijadikan obyek
wisata yang menarik. Dapat dibayangkan bila air tidak mengalir mengikuti siklus
hidrologi, semua keadaan tersebut di atas tidak akan ada.
Manfaat lain adanya siklus hidrologi diantaranya :
 Sebagai sarana transportasi aliran sungai, lautan, danau
 Untuk menjadi kelembaban atmosfer maupun litosfer
 Membentuk musim
 Mempengaruhi iklim, pergerakan udara/angina
 Menyebarkan berbagai mikroorganisme, biji-bijian, dsb.
1.2 Dampak Kegiatan Manusia terhadap Siklus Hidrologi
a. Penebangan hutan
Penebangan hutan secara berlebihan yang mengakibatkan pengaruh
terhadap resapan air ke dalam tanah. Hutan yang gundul tidak akan dapat
menyerap air sehingga ketika hujan turun air akan mengalir langsung ke
laut. Karena tidak ada resapan yang terjadi karena hutan gundul, akibatnya
lapisan atas tanah dan humus terkikis oleh air yang mengalir. Terbukanya
permukaan tanah menyebabkan kapasitas intersepsi hujan menurun drastis,
hujan yang jatuh langsung memukul permukaan tanah dan memecahkan
matriks tanah menjadi partikel tanah yang kecil‐kecil. Sebagian dari
partikel tanah menutup pori tanah dan memadatkan permukaan tanah,
sehingga menurunkan kapasitas infiltrasi. Dengan menurunnya kapasitas
infiltrasi maka jumlah aliran permukaan meningkat dan jumlah aliran air
6
yang menuju ke bawah permukaan untuk mengisi air tanah berkurang.
Aliran permukaan menjadi energi yang dapat menggerus partikel tanah di
permukaan dan mengangkutnya ke tempat lain sebagai bagian dari proses
erosi.
b. Pembangunan pemukiman
Pembangunan pemukiman yang tidak memperhatikan aspek lahan
serapan air, akibatnya lahan yang seharusnya menjadi tempat serapan air
menjadi tertutupi pemukiman, dimana dipastikan sebagian besar halaman
pemukiman di tutup oleh jalanan, semen/beton.
c. Pembukaan lahan
Untuk keuntungan dalam hal bisnis, ekonomi, dan sosialisasi
masyarakat hutan-hutan banyak di tebangi dan lahan-lahan baru yang telah
terbuka di alih fungsikan menjadi lahan industri, perumahan, atau lahan
pertanian. Akibatnya daerah resapan air menjadi berkurang.
d. Pemakaian Berbagaai Zat Kimia
Berbagai zat kimia yang dilepaskan ke udara maupun lingkungan
sebagai akibat aktivitas manusia juga mempengaruhi kandungan air hujan
yang turun ke bumi. Berbagai kandungan zat kimia tersebut akan
terakumulasi dengan air hujan yang membahayakan bagi manusia yang
terjadi saat ini contohnya hujan asam
II.
Komponen Siklus Hidrologi
1) Evaporasi
Evaporasi ialah tahap pertama dalam siklus hidrologi yang mana pada
tahap ini air yang berada di sungai dan lainnya menguap. Sungai, danau dan
laut serta tempat lainnya dianggap sebagai badan air lalu air yang menguap
akan menjadi uap air. Air yang ada di seluruh badan air menguap karena
panasnya sinar matahari dan penguapannya disebut evaporasi.
Penguapan atau evaporasi adalah proses perubahan molekul cair menjadi
molekul gas, maka air berubah menjadi uap. Penguapan yang terjadi
menimbulkan efek naiknya air yang telah berubah menjadi gas ke atas atau ke
atmosfer. Sinar matahari ialah pendukung utama dalam tahap evaporasi
7
sehingga semakin terik sinarnya, maka semakin besar molekul air yang
terangkat.
2) Transpirasi atau penguapan air di jaringan makhluk hidup
Transpirasi juga merupakan proses penguapan, namun penguapan yang
terjadi bukan pada air yang tertampung dalam badan air. Transpirasi adalah
penguapan yang terjadi pada bagian tubuh makhluk hidup khususnya
tumbuhan dan hewan dan prosesnya sama dengan tahap evaporasi. Molekul
cair pada tubuh tumbuhan dan hewan akan berubah menjadi uap atau molekul
gas.
Setelah molekul cair menguap, selanjutnya akan naik ke atas atau ke
atmosfer sama seperti proses yang ada saat tahap evaporasi. Transpirasi
khususnya terjadi pada jaringan yang ada di tumbuhan dan hewan, namun dari
tahap ini air yang dihasilkan tidak banyak. Pada proses transpirasi, molekul
cair yang menguap tak sebanyak saat proses evaporasi.
3) Evapotranspirasi
Evotranspirasi adalah proses gabungan dari tahap evaporasi dan tahap
transpirasi sehingga pada tahap ini air yang menguap banyak. Evotranspirasi
ialah suatu tahap penguapan yang mana molekul cair yang menguap ialah
seluruh air dan jaringan makhluk hidup. Tahap ini ialah tahap yang paling
mempengaruhi siklus hidrologi atau jumlah air yang terangkut.
4) Sublimasi
Selain ketiga proses yang telah dijelaskan di atas, ada pula proses
penguapan yang lain yaitu sublimasi. Sublimasi memiliki makna yang sama
ialah perubahan molekul cair menjadi molekul gas ke arah atas yaitu arah
atmosfer. Namun, penguapan yang terjadi ialah perubahan es yang ada di kutub
dan di gunung yang tidak melewati proses cair.
Hasil air yang terangkat pada saat tahap sublimasi memang tak sebanyak
hasil dari tahap evaporasi dan yang lainnya. Namun, tahap sublimasi tetap
berpengaruh terhadap berjalannya siklus hidrologi sehingga tak dapat
dilewatkan atau bahkan dihilangkan. Hal yang membedakan tahap sublimasi
dari tahap evaporasi, tahap ini memerlukan waktu yang lebih lama atau lambat.
8
5) Kondensasi
Setelah melalui empat tahap di atas, selanjutnya yaitu tahap kondensasi
yang mana air yang telah menguap berubah menjadi partikel es. Partikel es
yang dihasilkan sangat kecil dan terjadi karena suhu dingin pada ketinggian
yang ada di atmosfer bagian atas. Lalu partikel es tersebut akan berubah
menjadi awan dan semakin banyak partikel es, awan semakin berwarna hitam.
6) Adveksi
Adveksi adalah tahap yang hanya berada di siklus hidrologi panjang atau
dengan kata lain tidak terjadi di siklus hidrologi pendek. Pada tahap ini yang
terjadi ialah perpindahan awan dari satu titik ke titik lainnya atau dikatakan
awan di langit menyebar. Perpindahan awan ini terjadi karena adanya angin
dan akan berpindah dari lautan ke daratan begitu pula sebaliknya.
7) Presipitasi
Proses yang ketujuh ialah presipitasi yaitu tahap mencairnya awan karena
tidak mampu lagi menahan suhu yang semakin meningkat. Pada tahap inilah
akan terjadi salah satu gejala alam yang dinamakan hujan dengan ciri jatuhnya
butiran air ke permukaan bumi. Bila suhu yang ada di sekitar kurang dari 0
derajat celcius, kemungkinan akan terjadi hujan salju atau bahkan es.
8) Run off
Tahap run off juga mempunyai nama lain limpasan yang mana pada
tahap ini air hujan yang telah turun akan bergerak. Pergerakan yang terjadi
yaitu dari permukaan yang lebih tinggi ke permukaan bumi yang lebih rendah
melalui berbagai saluran. Saluran yag dimaksud sebagai contoh saluran got,
sungai dan danau atau laut bahkan samudera.
9) Infiltrasi
Infiltrasi menjadi tahap terakhir dalam siklus hidrologi yang terjadi,
tahap ini merupakan tahap dimana air hujan menjadi air tanah. Air hujan yang
turun ke bumi tak seluruhnya akan mengalir seperti pada tahap limpasan,
namun akan mengalir pula ke tanah. Merembesnya air hujan ke pori tanah
inilah yang disebut dengan infiltrasi lalu seluruhnya akan kembali ke laut.
9
III.
Macam Macam Siklus Hidrologi
1) Siklus hidrologi pendek
Pada siklus pendek tidak akan terjadi tahap adveksi atau perpindahan
awan. Molekul cair yang telah berubah menjadi uap akan turun sebagai hujan
di daerah sekitar laut. Secara singkat siklus hidrologi pendek yaitu terjadi
penguapan air laut atau evaporasi karena paparan sinar matahari yang
menyinari lautan.
Selanjutnya air laut akan berubah menjadi molekul uap yang kemudian
akan terjadi tahap kondensasi atau pembentukan partikel es di awan. Tahap
terakhir dari siklus hidrologi pendek yaitu turunnya awan menjadi hujan di atas
permukaan laut. Setelah hujan turun ke laut, dengan kata lain air laut yang
awalnya menguap telah kembali lagi ke laut.
2) Siklus hidrologi sedang
Siklus ini merupakan siklus yang paling umum di Indonesia. Pada siklus
hidrologi sedang, tahap atau proses adveksi tetap ada dan berjalan, berbeda
dengan siklus pendek. Siklus hidrologi sedang menghasilkan hujan yang akan
turun di daerah daratan yang kemudian air hujan akan kembali ke badan air.
Siklus hidrologi sedang tahapan yang pertama yaitu tahap evaporasi atau
penguapan dari berbagai air yang ada di badan air. Lalu air akan berubah
menjadi molekul gas atau uap dan terangkat ke atmosfer bagian atas karena
pengaruh sinar matahari. Kemudian uap tersebut bergerak karena pengaruh
tahap adveksi sehingga uap berjalan ke arah daratan.
Setelah sampai pada atmosfer daratan, uap air akan berubah menjadi
awan yang mana setelah itu hujan akan turun ke bumi. Tahap selanjutnya yaitu
air hujan yang telah turun atau sampai ke daratan akan mengalami tahap
10
limpasan atau run off. Air hujan akan mengalami pergerakan melalui berbagai
saluran hingga pada akhirnya kembali ke laut.
3) Siklus hidrologi panjang
Siklus ini biasa terjadi di daerah seperti pegunungan. Tak hanya terjadi di
daerah pegunungan, siklus hidrologi panjang juga terjadi di suatu daerah yang
beriklim subtropis. Perbedaan yang ada dalam siklus panjang dibanding siklus
lainnya yaitu awan tak langsung turun menjadi hujan.
Tahap pertama dari siklus ini yaitu air laut mengalami penguapan atau
evaporasi lalu berubah menjadi molekul gas atau uap. Perubahan yang terjadi
akibat adanya panas dari sinar matahari, kemudian uap akan mengalami tahap
sublimasi. Selanjutnya akan terbentuk awan yang berisi kristal es lalu terjadilah
tahap adveksi atau perpindahan awan ke titik yang lain.
Pada tahap adveksi, awan yang di dalamnya mengandung kristal akan
berubah arah menuju daratan dan mengalami presipitasi. Setelah presipitasi
terjadi, hujan akan turun, namun hujan yang turun berbentuk salju tidak
berbentuk air yang terakumulasi menjadi gletser. Kemudian gletser yang telah
ada di daratan akan mencair akibat dari pengaruh suhu dan tekanan.
Akibat mencairnya gletser, akan terbentuk air yang mana berjalan
menuju aliran air sungai dan membentuk aliran air sungai. Selanjutnya air yang
berawal dari salju kemudian berubah menjadi gletser dan terbentuk air akan
melakukan pergerakan ke arah laut. Saat itulah, seluruh air yang telah melewati
beberapa tahap siklus hidrologi akan kembali lagi ke laut.
IV.
Sumber Air dan Karakteristiknya
Dalam sistem penyediaan air bersih, sumber air merupakan satu
komponen yang mutlak harus ada, karena tanpa sumber air sistem penyedian air
tidak akan berfungsi. Dengan mengetahui karakteristik masing-masing sumber air
serta faktor-faktor yang mempengaruhinya, diharapkan dapat membantu di dalam
pemilihan air baku untuk suatu sistem penyediaan air bersih, serta mempermudah
tahapan selanjutnya di dalam pemilihan tipe dari pengolahan untuk menghasilkan
air yang memenuhi standar kualitas secara fisik, kimiawi dan bakteriologis.
Secara umum sumber air sebagai berikut :
11
1) Air Permukaan
Air permukaan adalah air yang terdapat pada permukaan tanah. Pada
perinsipnya air permukaan terbagi menjadi:
a. Air sungai
Air sungai adalah air hujan yang jatuh kepermukaan bumi dan
tidak meresap kedalam tanah akan mengalir secara grafitasi searah dengan
kemiringan permukaan tanah dan mengalir melewati aliran sungai.
Sebagai salah satu sumber air minum, air sungai harus mengalami
pengolahan secara sempurna karena pada umumnya memiliki derajat
pengotoran yang tinggi.
b. Air Danau
Air danau adalah air permukaan ( berasal dari hujan atu air tanah
yang keluar ke permukaan tanah ), terkumpul pada suatu tempat yang
relative rendah/ cekung. Air permukaan yang biasanya dimanfaatkan
sebagai sumber atau bahan baku air bersih adalah :
 Air waduk (berasal dari air hujan)
 Air sungai (berasal dari air hujan dan mata air)
 Air danau (berasal dari air hujan, air sungai, atau mata air
Di daerah hulu pemenuhan kebutuhan air secara kuantitas dan
kualitas dapat disuplai oleh air sungai, tetapi di daerah hilir pemenuhan
kebutuhan air sudah tidak dapat disuplai secara kualitas lagi karena
pengaruh lingkungan seperti sedimentasi serta kontaminasi oleh zat-zat
pencemar seperti Total Suspended Oil (TSS) yang berpengaruh pada
kekeruhan,serta limbah industri.
2) Air Tanah (Ground Water)
Air tanah banyak mengandung garam dan mineral yang terlarut pada
waktu air melalui lapisan tanah dan juga air yang berasal dari air hujan yang
jatuh di permukaan tanah/bumi dan meresap kedalam tanah dan mengisi
rongga-rongga atau pori didalam tanah. Air tanah biasanya mempunyai kualitas
yang baik karena zat-zat pencemar air tertahan oleh lapisan tanah. Bila ditinjau
dari kedalaman air tanah maka air tanah dibedakan menjadi air tanah dangkal
dan air tanah dalam. Air tanah dangkal mempunyai kualitas lebih rendah
12
dibanding kualitas air tanah dalam. Hal ini disebabkan air tanah dangkal lebih
mudah terkontaminasi dari luar dan fungsi tanah sebagai penyaring lebih
sedikit. Air tanah terbagi atas:
a. Air Tanah Dangkal
Terjadi karena daya proses peresapan air dari permukaan tanah. Air
tanah lebih banyak mengandung zat kimia berupa garam-garam terlarut
meskipun kelihatan jernih karna sudah melewati lapisan tanah yang
masing-masing mempunyai unsur-unsur kimia tertentu. Meskipun lapisan
tanah disini berfungsi sebagai saringan namun pengotoran juga masih terus
berlangsung, terutama pada muka air yang dekat dengan muka tanah. Air
tanah dangkal umumnya mempunyai kedalaman kurang dari 50 meter.
b. Mata Air
Dari segi kualitas, mata air adalah sangat baik bila dipakai sebagai air
baku, karena berasal dari dalam tanah yang muncul ke permukaan 16 tanah
akibat tekanan, sehingga belum terkontaminasi oleh zat-zat pencemar. Dari
segi kuantitasnya, jumlah dan kapasitas mata air sangat terbatas sehingga
hanya mampu memenuhi kebutuhan sejumlah penduduk tertentu. Begitu
pula bila mata air tersebut terus- menerus di ambil maka semakin lama
akan habis.
3) Air Laut
Air laut adalah salah satu sumber air walaupun tidak termasuk kategori
yang biasa dipilih sebagai sumber air baku untuk untuk air bersih atau air
minum, karena memiliki kandungan garam (NaCl) yang cukup besar.
4) Air Hujan
Untuk menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya pada waktu
menampung air hujan mulai turun, karena masih mengandung banyak kotoran.
Selain itu air hujan mempunyai sifat agresif terutama terhadap pipa-pipa
penyalur maupun bak-bak reservoir, sehingga hal ini akan mempercepat
terjadinya korosi atau karatan. Juga air ini mempunyai sifat lunak, sehingga
akan boros terhadap pemakaian sabun. Sifat-sifat air hujan:
 Bersifat lunak karena tidak mengandung larutan garam dan zat-zat mineral.
 Air hujan umumnya bersifat bersih
13
 Dapat bersifat korosif karena mengandung zat-zat yang terdapat di udara
seperti NH3, CO2 agresif, ataupun SO2. adanya konsentrasi SO2 yang
tinggi di udara yang bercampur dengan air hujan akan menyebabkan
terjadinya hujan asam (acid rain)
Dari segi kuantitas, air hujan tergantung pada besar kecilnya curah hujan.
Sehingga hujan tidak mencukupi untuk persediaan umum karena jumlahnya
berfluktuasi. Begitu pula bila dilihat dari segi kontinuitasnya, air hujan tidak
dapat diambil secara terus menerus, karena tergantung pada musim.
14
Daftar Pustaka
Wikipedia.2014.Hujan.(Online).Tersedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Hujan
Kodoatie,Robert J. 1996.Pengantar Hidrogeologi Yogyakarta:Andi Yogyakarta
Effendi Hefni 2003.Telaah Kualitas Air Yogyakarta:kanisius
http://eprints.polsri.ac.id/1340/3/BAB%20II.pdf
Sutrisno, Totok C. dkk.2010.Teknologi Penyediaan Air Bersih.Jakarta:Rineka
Cipta
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hidrologi/komponen-siklus-hidrologi diakses
pada tanggal 21 Februari 2020 pukul 11.58
https://ekosistem.co.id/siklus-hidrologi/ diakses pada tanggal 22 Februari 2020
pukul 12.05
https://www.yuksinau.id/daur-air/
https://ilmugeografi.com/ilmu-bumi/hidrologi/jenis-siklus-air
15
Download