Uploaded by User108825

KELOMPOK 7 LAPORAN BIOKIMIA ENZIM

advertisement
LAPORAN PRAKTIKUM
APLIKASI BIOKIMIA DAN FISIOLOGI PASCA PANEN
ENZIM
KELOMPOK 7
NURASIA HALEDE
NUR AZISAH
NURHALIZA
NURFATIHAH
NUR HIKMAH
NUR HIKMAWATI ALWI
NUR ASYSA
KEVIN ARMELIA SIARAI
(G031191002)
(G031191047)
(G031191051)
(G031191054)
(G031191060)
(G031191073)
(G031191079)
(G031191091)
APLIKASI BIOKIMIA DAN FISIOLOGI KEAMANAN PANGAN
PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
DEPARTEMEN TEKNOLOGI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2021
ENZIM
Nurasia Halede1), Nur Azisah1), Nurhaliza1), Nurfatihah1), Nur Hikmah1), Nur Hikmawati
Alwi1), Nur Asysa1), Kevin Armelia Siarai1)
Mata Kuliah Aplikasi Biokimia dan Fisiologi Pasca Panen, Program Studi Ilmu dan Teknologi
Pangan, Universitas Hasanuddin
ABSTRAK
Enzymes act as biocatalysts which function to speed up reactions. To maximize enzyme
performance, it is necessary to know the optimum conditions for enzyme activity. Some of the
factors that influence are temperature and pH. Therefore, this practicum aims to determine the
effect of temperature and pH on the amylase enzyme activity. In this practicum, the Benedict
and iodine test methods are used to determine the effect of pH and temperature on the amylase
enzyme. Various temperature treatments used were 10oC, room temperature, 37oC, and 80oC.
Various pH treatments are the addition of hydrochloric acid, acetic acid, distilled water, and
sodium carbonate. In the iodine test with a temperature of 10oC, the result is a brownish orange
color, at room temperature an orange color is obtained, a brown color is obtained at 37oC and
in the 80oC an orange color is obtained. Whereas in the benedict test, at a temperature of 10oC
a blue color is obtained, at room temperature a blue color is obtained and there is
sedimentation, at 37oC a blue color is obtained and at a temperature of 80oC a slightly greenish
blue color is obtained. In the test for the effect of pH, it was found that when the iodine test was
added with hydrochloric acid, it got a clear brownish color, when you added acetic acid you
got a brown color, added distilled water you got a brown color, and when you added sodium
carbonate you got a brown color. Meanwhile, during the Benedict test, the addition of
hydrochloric acid produced a blue color, the addition of acetic acid became a turquoise blue,
the addition of distilled water turned a slightly greenish blue and the addition of sodium
carbonate turned blue. The amylase enzyme can work optimally at its optimum temperature
which is based on the high increase in temperature, but too high a temperature can inhibit
enzyme activity. The amylase enzyme can also work optimally at a pH that is not too acidic and
a pH that is not too alkaline. The amylase enzyme activity reaches its optimum at pH 6.
Kata Kunci : Amilase, Enzyme, Optimum, pH, Temperature
I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Di dalam suatu industri, enzim banyak
digunakan termasuk di industri pangan. Hal
ini disebabkan karena enzim memiliki sifat
biokatalisator yang mempercepat terjadinya
reaksi.
Enzim merupakan molekul protein yang
berfungsi untuk mempercepat terjadinya
reaksi metabolisme. Aktivitas enzim
dipengaruhi oleh faktor lingkungannya.
Untuk dapat menjalankan fungsinya
dengan optimal, maka kondisi lingkungan
enzim perlu diperhatikan dengan baik.
Terdapat
berbagai
faktor
yang
mempengaruhi kinerja enzim, di antaranya
suhu dan pH. Suhu berpengaruh terhadap
enzim karena enzim merupakan protein yang
tersusun dari asam amino yang kerjanya
berkaitan dengan suhu lingkungan.
Salah satu jensi enzim yang banyak
digunakan adalah enzim amilase. Menurut
Isti’anah, et al. (2020), enzim amilase
merupakan
enzim
yang
mampu
menghidrolisis amilum dan menghasilkan
glukosa. Enzim amilase dapat dihasilkan oleh
semua makhluk hidup untuk mengkatalis
reaksi biokimia, sehingga reaksi-reaksi
tersebut dapat berlangsung lebih cepat. Salah
satu fungsi amilase adalah memecah pati
menjadi gula yang terletak pada kelenjar
saliva.
Oleh karena itu, perlu dilakukan praktikum
ini agar dapat diketahui karakteristik dari
enzim amilase yang ada pada saliva manusia
sehingga dengan diketahuinya hal tersebut
maka dapat diatur keadaan yang sesuai
sehingga diperoleh hasil yang optimal.
b. Rumusan Masalah
Rumusan masalah dari praktikum ini
yaitu :
1. Bagaimana pengaruh suhu pada kinerja
enzim?
2. Bagaimana pengaruh pH terhadap
aktivitas enzim amilase saliva manusia?
c. Tujuan Praktikum
Tujuan dilakukannya praktikum ini
yaitu:
1. Untuk mengetahui pengaruh suhu
terhadap aktivitas amilase saliva
manusia.
2. Untuk mengetahui pengaruh pH terhadap
aktivitas enzim amilase saliva manusia.
II. METODOLOGI PRAKTIKUM
a. Alat dan bahan
Alat yang dibutuhkan pada praktikum ini
adalah gelas kimia (Pyrex) 500 mL,
kainsaring, gelas ukur (Gerhardt) 100 mL,
pipet volume (Pyrex) mL, bulb (D&N),
erlenmeyer (Pyrex) 50 mL, hot plate
(Memmert), cawan schott (Normax),
stopwatch, rak tabung reaksi (Lokal),
regrigerator, dan waterbath (Memmert).
Bahan yang dibutuhkan pada praktikum
ini adalah permenasam, tepungkanji,
pereaksi benedict, pereaksi iodin, asam
klorida
(HCl)
0.1%,
asam
asetat
(CH3COOH), aquades, Natrium karbonat
(Na2CO3) 0.1%.
b. Prosedur Kerja
Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Enzim
Amilase pada Saliva
Pertama-tama makanan asam dikunyah
terlebih dahulu, kemudian siapkan 4 tabung
reaksi yang masing-masing tabung diisi
saliva sebanyak 2 mL. Sampel berupa saliva
ditambahkan larutan pati 1% sebanyak 2 mL
dan dihomogenkan. Tabung reaksi pertama
diletakkan pada suhu 10oC, tabung reaksi
kedua diletakkan pada suhu kamar, tabung
reaksi ketiga diletakkan pada suhu 37oC, dan
pada tabung reaksi keempat diletakkan pada
suhu 80oC masing-masing selama 15 menit.
Selanjutnya, setiap tabung ditambahkan
pereaksi iodim dan pereaksi benedict. Lalu,
amati perubahan warna yang terjadi.
Pengaruh pH terhadap Aktivitas Enzim
Amilase pada Saliva
Pertama-tama tabung reaksi disiapkan
sebanyak 4 yang masing-masing diisi HCl
0,1%,
CH3COOH 0.1%, aquades, dan
Na2CO3 0.1% sebanyak 4 mL dan
dihomogenkan. Kemudian ditambahkan
larutan pati 1% dan saliva sebanyak 2 mL lalu
dihomogenkan.
Setelah
itu,
sampel
diletakkan ke dalam waterbath pada suhu
37oC selama 15 menit. Selanjutnya, sampel
diletakkan di atas preparat dan teteskan
larutan iodin dan larutan benedict masingmasing 2 mL. Lalu, amati perubahan yang
terjadi.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
a. Hasil
Berikut adalah data hasil dari praktikum ini adalah sebagai berikut
Tabel 3.1 Pengaruh Suhu terhadap Aktivitas Amilase Saliva
Suhu
Uji
o
Iodium
10 C
Orange kecoklatan
Suhu kamar
Jingga
37 oC
Coklat
Benedict
Biru
Biru dan ada endapan
Biru
80oC
Jingga
Biru sedikit
kehijauan
Sumber : Data Sekunder Praktikum Aplikasi Biokimia dan Fisiologi Pasca Panen, 2018
Tabel 3.2 Pengaruh pH terhadap Aktivitas Amilase Saliva
pH
Uji
Iodium
Asam klorida
Bening kecoklatan
Asam asetat
Coklat
Benedict
Biru
Biru kehijauan
Aquades
Coklat
Biru sedikit
kehijauan
Na-karbonat
Coklat
Biru
Sumber : Data Sekunder Praktikum Aplikasi Biokimia dan Fisiologi Pasca Panen, 2018
b. Pembahasan
Tepung kanji atau yang biasa disebut
tepung tapioka merupakan salah satu bentuk
olahan berbahan ketela pohon atau ubi kayu
(Manihotutilissima) atau biasa juga disebut
singkong. Tepung tapioka adalah pati dari
umbi singkong yang dikeringkan dan
dihaluskan. Singkong yang diolah menjadi
tepung tapioka dapat bertahan selama 1-2
tahun dalam penyimpanan (apabila dikemas
dengan baik). Tepung tapioka memiliki
beberapa keunggulan dibandingkan dengan
bahan bakunya (singkong), yaitu lebih tahan
dalam
penyimpanan,
lebih
mudah
didistribusikan karena praktis, ringan, dan
aman, daya jangkau pemasarannya lebih luas,
dan kegunaannya lebih banyak (Suprapti,
2005).
Tepung tapioka kaya karbohidrat dan
energi. Tepung ini juga tidak mengandung
gluten, sehingga aman bagi yang
alergi.Karena
mengandung
linamarin,
tapioka dapat menangkal pertumbuhan sel
kanker. Tapioka mengandung sedikit protein
dan lemak. Kandungan unsur gizi dalam
tepung tapioka 100 g adalah sebagai berikut:
No.
Kandungan
Tepung
unzur gizi
tapioka
1.
Kalori (kal)
362,00
2.
Protein (g)
0,50
3
Lemak (g)
0.3
4
Karbohidrat
86.90
5.
Mineral (g)
0,30
6.
Kalsium (mg)
00,00
7.
Zat Besi (mg)
00,00
8.
Zat Besi (mg)
00,00
9.
Vitamin A (SI)
00,00
10. Vitamin B1 (mg)
00,00
11.
Vitamin C (mg)
00,00
12.
12. Air (g)
12,00
Tepung tapioka dapat dimanfaatkan
sebagai
bahan
baku
ataupun
campuran/tambahan pada berbagai macam
produk antara lain: kerupuk, biscuit/kue
kering, jajanan/kue tradisional, misalnya
cenil, opak/semprong/lendre, wadah es krim,
kacang shanghai, pilus (Suprapti, 2005).
Tepung ini sering digunakan untuk
membuat makanan dan bahan perekat.
Banyak
makanan
tradisional
yang
menggunakan tapioka sebagai bahan
bakunya, seperti bakso, cimol, maupun
sebagai bahan campuran kue, seperti kue
lapis, kue biji ketapang, dan kue tradisional
lainnya. Selain itu tepung tapioka mempunyai
banyak kegunaan, antara lain sebagai bahan
pembantu dalam berbagai industri. Tapioka
yang diolah menjadi sirup glukosa dan destrin
sangat diperlukan oleh berbagai industri
antara lain industri kembang gula,
pengalengan buah-buahan, pengolahan es
krim, minuman dan industri peragian.
Tapioka juga banyak digunakan sebagai
bahan pengental, bahan pengisi, dan bahan
pengikat dalam makanan, seperti dalam
pembuatan puding, sop, makanan bayi, es
krim, pengolahan sosis daging industri
farmasi, dan lain-lain (Radiyati, 1990).
Amilase (Alpha-amylase) adalah enzim
yang mengkatalisis hidrolisis dari alpha-1, 4glikosidik amilosa pati menghasilkan glukosa
(Ariandi, 2016).
Enzim amilase diproduksi di kelenjar liur,
pankreas, dan usus halus. Saat makanan yang
mengandung karbohidrat dikunyah, kelenjar
liur (saliva) di dalam mulut akan
menghasilkan amilase. Produksi enzim
amilase yang tinggi, tidak lepas dengan
adanya faktor-faktor yang mendukung
keberhasilan produksi suatu enzim. Faktor
yang sangat terpenting adalah suhu, pH dan
substrat yang mengandung kadar pati tinggi.
Suhu sangat memengaruhi aktivitas enzim
karena enzim adalah rangkaian asam amino
yang sistem kerjanya berkaitan erat dengan
suhu lingkungan.
Aktivitas enzim juga akan dipengaruhi
oleh pH. pH akan berkaitan dengan
keberadaan ion hidrogen. Konsentrasi ion
hidrogen sangat memengaruhi aktivitas
enzim, karena enzim dapat aktif apabila asam
amino yang merupakan sisi aktif enzim
berada dalam keadaan ionisasi yang tepat. pH
terlalu asam atau basa akan menyebabkan
enzim terdenaturasi sehingga enzim tidak
aktif. Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan oleh Istia’nah, dkk (2020) dalam
mengetahui karakterisasi enzim amilase,
dilakukan dengan mencari suhu, dan pH
optimum bakteri Bacillus megaterium dalam
memproduksi enzim amilase.
Berdasarkan
penelitian
yang
dilakukannya didapatkan hasil bahwa pada
suhu 37˚C, Bacillus megaterium dapat
menghasilkan aktivitas amilase sebesar 1,279
U/ml. Menurut Tarigan et al. (2015)
menjelaskan bahwa pada suhu optimal,
tumbukan antara enzim dan substrat sangat
efektif, sehingga pembentukan kompleks
enzim-substrat semakin mudah dan produk
yang dihasilkan meningkat. Penelitian yang
dilakukan oleh Istia’nah, dkk ini dapat
dikatakan sesuai
dengan pernyataan
Vaseekaran et al. (2010), yang menyatakan
bahwa enzim amilase pada umumnya aktif
bekerja pada kisaran suhu 25-95˚C. Hasil
penelitian yang kedua yakni karakterisasi
enzim amilase berdasarkan pH optimum.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan,
pH optimum bakteri Bacillus megaterium
dalam memproduksi enzim amilase yakni
pada pH 5,0 dengan aktivitas enzim sebesar
1,241 U/ml. Ph optimum bakteri dikarenakan
protein enzim membentuk struktur yang
sangat tepat sehingga enzim dapat mengikat
dan mengolah substrat dengan kecepatan
yang tinggi. Carvalho et al. (2008) dalam
Istia’nah (2020), menyebutkan bahwa
aktivitas pH optimum enzim amilase berkisar
antara 4,0-8,0.
Uji benedict dan uji iodium yang
menggunakan kanji untuk melihat aktivitas
enzim amilase pada saliva dengan melihat
pengaruh dari pH dan suhu. Uji benedict
dilakukan untuk mengetahui adanya gula
pereduksi seperti glukosa dan maltosa dalam
saliva.
Uji benedict dan uji iodium yang
menggunakan kanji untuk melihat aktivitas
enzim amilase pada saliva dengan melihat
pengaruh dari pH dan suhu. Uji benedict
dilakukan untuk mengetahui adanya gula
pereduksi seperti glukosa dan maltosa dalam
saliva. Uji benedict dapat dikatakan positif
terdapat gula pereduksi apabila terdapat
endapan berwarna merah bata pada sampel
yang menandakan tingginya kandungan
glukosa pada sampel. Selain itu terdapat
warna lain seperti biru kehijauan, merah dan
kuning tergantung konsentrasi dari gula
pereduksinya. Uji benedict berdasarkan atas
reduksi Cu2+ menjadi Cu+. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Sutikno (2008) bahwa
pereaksi benedict berupa larutan yang
mengandung kupri sulfat, natrium karbonat,
dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi
ion Cu2+ dari kupri sulfat menjadi ion Cu+
yang kemudian mengendap sebagai Cu2+.
Natrium karbonat dan natrium sitrat membuat
pereaksi Benedict bersifat basa lemah.
Uji iodium merupakan salah satu uji
dalam
karbohidrat
yang
bertujuan
menentukan polisakarida (positif untuk pati)
pada saliva. Prinsip uji iodium adalah
mengetahui kandungan polisakarida seperti
pati, dekstrin, glikogen pada saliva. Hasil
positif ditunjukkan dengan adanya perubahan
warna pada sampel. Amilum atau pati yang
terdapat dalam sampel akan menimbulkan
warna biru, dekstrin menghasilkan warna
merah ungu, glikogen dan sebagian pati yang
terhidrolisis bereaksi dengan iodium
menghasilkan warna merah coklat atau hitam.
Semakin pekat perubahan warna pada
sampel, maka semakin besar kandungan
polisakarida yang terkandung di dalam
sampel. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Ariandi (2016) bahwa Jika amilosa pati
terdapat dalam larutan, maka akan
menghasilkan warna biru-hitam. Jika amilosa
pati tidak hadir, maka warna akan tetap
oranye atau kuning. Untuk Amilopektin pati,
selulosa, ataupun disakarida seperti sukrosa
yang terdapat dalam larutan tidak akan
memberikan efek warna.
Pada suhu 10°C sampel berubah warna
menjadi orange kecoklatan, pada suhu kamar
sampel berubah warna menjadi jingga,
kemudian pada suhu 37°C warna sampel
menjadi coklat, dan pada suhu 80°C warna
sampel kembali menjadi jingga. Fungsi
penambahan iodium adalah sebagai indikator
terhadap reaksi yang terjadi dimana akan
tampak terjadi perubahan warna.
Pada suhu 10°C sampel berubah warna
menjadi orange kecoklatan disebabkan
karena amilum dapat bereaksi dengan iodine
dalam suasana asam sehingga iodine
membentuk kompleks polisakarida Suasana
asama amilum dapat terhdirolisis sehingga
memudahkannya untuk bereaksi dengan
iodine membentuk kompleks berwarna
cokelat keruh. Menurut Mustakin( 2019)
bahwa pengujian iodin yaitu karbohidrat
golongan poliasakarida akan memberikan
reaksi dengan larutan iodin dimana akan
memberikan warna spesifik bergantung pada
jenis karbohidratnya. Amilosa dan iodin akan
membentuk warna biru. Warna biru yang
tampak menunjukkan terjadinya ikatan antara
iodin dengan amilum. Aktivitas enzim juga
dipengaruhi oleh suhu yang digunakan.
Pada suhu 80°C, warna dari sampel
kembali menjadi jingga hal ini karena
aktivitas enzim pada suhu tinggi menurun.
Hal ini sesuai dengan pernyataan Estrada, et
al (2015) bahawa aktivitas enzim akan
menurun pada suhu 50°C dan meningkat
drastis pada suhu 40°C. Hal ini disebabkan
pada suhu rendah reaksi kimia berlangsung
lambat, sedangkan pada suhu lebih tinggi
reaksi berlangsung lebih cepat. Sehingga dari
data praktikum di atasa dapat diketahui
bahwa suhu optimum dari enzim adalah 37°c
mendekati suhu 40°C,karena pada suhu 37°C
terjadi perubahan warna menjadi cokelat
yang menandakan terbentuknya larutan
kompleks pada larutan amilum.
Uji aktivitas amilase secara kualitatif
ditentukan dengan melihat gula pereduksi
yang terbentuk dengan penambahan
benedicth. Hasil praktikum didapatkan data
bahwa pada suhu 10oC larutan berwarna biru
tanpa endapan, pada suhu kamar larutan juga
berwarna biru dan terbentuk endapan, pada
suhu 37 oC larutan tetap berwarna biru dan
tidak membentuk endapan, dan pada suhu
80oC larutan berubah warna menjadi biru
kehijauan tanpa endapan.
Prinsip dari uji benedict ini adalah
mereduksi ion Cu2+ dari CuSO4.5H2O pada
suasana alkalis menjadi Cu+ oleh gugus
aldehid atau keton bebas pada gula pereduksi
yang terdapat pada sampel(Wahyuni, 2017) .
Suasana
alkalis
didapatkan
dengan
penambahan Na2CO3 dan Na sitrat pada
reagen benedict. Hasil reduksi dari Cu2+ akan
berubah menjadi Cu+ dan Cu2O yang
membentuk endapan.
Hasil positif uji benedict pada suhu kamar
terhadap aktivitas enzim amilase ditunjukkan
dengan terbentuknya endapan. Hal ini sudah
sesuai dengan Azmi (2017) bahwa hasil uji
positif ditunjukkan dengan adanya endapan
merah bata meskipun intensitasnya berbeda.
Tidak terbentuknya endapan pada suhu
o
10 C, 37oC, dan pada suhu 80oC bisa
disebabkan oleh suhu yang terlalu rendah
ataupun suhu yang terlalu tinggi. Suhu yang
ektrim ini akan mempengaruhi reaksi kimia
enzim. Reaksi akan berjalan lebih cepat pada
suhu tinggi dan reaksi akan berjalan lambat
pada suhu yang lebih rendah. Peningkatan
suhu akan menyebabkan molekul-molekul
yang terlibat memiliki banyak energy kinetic
sehingga ini menyebabkan tingginya peluang
terjadi tumbukan antar molekul yang semakin
besar sehingga kecepatan reaksi akan
bertambah. Kecepatan reaksi akan menurun
karena konsentrasi efektif dari enzim akan
berkurang dan terganggu akibat terjadinya
proses denaturasi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan (Poedjiadi, 1994) bahwa enzim
juga termasuk protein, maka jika terjadi
peningkatan suhu yang ekstrim maka enzim
akan mengalami denaturasi. Pembentukan
endapan pada suhu kamar tidak sesuai dengan
penelitian yang dilakukan oleh Estrada, et. al
(2018) bahwa suhu optimum aktivitas enzim
amilase didapatkan pada suhu 60oC yang
menunjukkan aktivitas pembentukan gula
pereduksi lebih tinggi dibandingkan pada
suhu dibawah 35oC (termasuk suhu kamar)
dengan perbedaan yang cukup signifikan.
Perbedaan hasil penelitian ini bisa
disebabkan oleh beberapa factor salah
satunya yaitu pH hal ini sesuai dengan
Poedjiadi (1994) bahwa pengujian aktivitas
amilase
terhadap
suhu
dilakukan
menggunakan amilum pada pH optimum
yaitu pada pH 6.
Pada hasil uji iodium pada pengaruh pH
terhadap aktivitas enzim, penggunaan asam
klorida menyebabkan terjadi perubahan
warna menjadi bening kecokelatan. Hal
tersebut menunjukkan bahwa aktivitas enzim
masih tergolong rendah pada pH yang terlalu
asam. Hal ini sesuai dengan Supriyati dan
Poedjiadi (2007) yang menyaatakan bahwa
pH yang terlalu tinggi ataupun rendah dapat
menyebabkan terjadinya denaturasi dan akan
mengakibatkan menurunnya aktivitas enzim.
Selain itu, Bahri (2012) menyatakan bahwa
pada suasana terlalu asam atau basa,
konformasinya berubah sehingga aktivitas
enzim akan terganggu.
Pada perlakuan menggunakan asam
asetat, terjadi perubahan warna menjadi
cokelat. Warna cokelat juga terjadi pada
perlakuan menggunakan aquades atau natrum
karbonat. Hal tersebut menunjukkan bahwa
perlakuan pada pH optimum menyebabkan
interaksi antara enzim dan substrat menjadi
maksimal, sehingga terbentuk reaksi yang
diinginkan. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Bahri (2012) yang menyatakan bahwa pada
pH optimum, konformasi enzim berada pada
kondisi yang ideal.
Menurut Winarno (2008), amilum yang
direaksikan dengan iodin akan membentuk
warna biru bila polimer glukosanya lebih dari
dua puluh, bila polimernya kurang dari dua
puluh maka akan membentuk warna merah,
dan jika polimernya enam, tujuh, dan delapan
akan membentuk warna cokelat.
Dari
praktikum
yang
dilakukan,
didapatkan hasil uji benedict yaitu pada
tabung reaksi yang diisi asam klorida
menghasilkan warna biru, tabung reaksi
dengan asam asetat menghasilkan warna biru
kehijauan, untuk tabung reaksi yang diisi
aquades menghasilkan warna biru sedikit
kehijauan dan tabung reaksi dengan natrium
karbonat menghasilkan warna biru.
Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa
tabung reaksi yang diisi dengan asam klorida
dan yang berisi natrium karbonat
menunjukkan hasil yang negatif yaitu warna
biru yang menandakan tidak adanya
monosakarida atau glukosa yang terkandung,
hal tersebut menunjukkan tidak adanya
aktivitas enzim amilase.
Tabung reaksi berisi asam asetat dan
aquades menunjukkan hasil yang positif yaitu
menghasilkan warna biru kehijauan yang
menunjukkan adanya kandungan glukosa
pada sampel yang menandakan adanya
aktivitas enzim amilase yang mengurai
amilum menjadi glukosa.
Hasil tersebut menunjukkan aktivitas
enzim tidak optimal pada pH yang terlalu
basa dan terlalu asam. Ha ini sesuai dengan
pernyataan Bahri et al. (2013) Bahwa Pada
suasana yang terlalu asam atau basa,
kanformasinya berubah sehingga aktivitas
enzim akan terganggu.
IV. KESIMPULAN DAN PENUTUP
4.1 Kesimpulan
1. Tingginya suhu menyebabkan terjadinya
kenaikan aktivitas enzim. Akan tetapi
suhu yang terlalu tinggi, akan
menyebabkan enzim terdenaturasi. Suhu
yang optimum pada pH 6 adalah 60oC.
2. Enzim akan bekerja optimum pada keadaan
pH optimumnya. Pada saat kondisi pH
terlalu tinggi atau rendah, maka terjadi
penurunan aktivitas enzim yang akan
membuat enzim terdenaturasi. pH
optimum dalam aktivitas amilasi adalah
pH 6.
4.2 Saran
Sebaiknya, dapat dilakukan penelitian
atau praktikum dengan berbagai variasi pH
sehingga dapat diamati dengan langsung
aktivitas enzim pada pH yang berbeda.
V. DAFTAR PUSTAKA
Ariandi. 2016. Pengenalan Enzim Amilase
(Alpha-Amylase)
dan
Reaksi
Enzimatisnya
Menghidrolisis
Amilosa Pati menjadi Glukosa.
[Jurnal Dinamika] Vol. 7 No. 1 :7482.
Azmi, A. S., Malek, M. I. A., & Puad, N. I.
M. (2017). A Review on Acid and
Enzymatic Hydrilyses of Sago Strach.
[International Food Research Journal]
Vol. 24: 265-273.
Bahri, S., Mirzan, M., dan Hasan, M. 2013.
Karakterisasi Enzim Amilase dari
Kecambah Biji Jagung Ketan (Zea
mays ceratina L.). [Jurnal Natural
Science] Vol. 1 No.1: 132-143.
Estrada, R., Rudi, K., & Winni, A. 2018.
Isolation and Determination of
Optimum Amylase Work Condition
Has Been Conduted From Bogor
Taro (Colocasia esculenta L. shoot).
[Prosiding Seminar Nasional Kimia]
Kimia FMIPA UNMUL : 60-66.
Istia’nah, D. 2020. Karakterisasi Enzim
Amilase dari Bakteri Bacillus
megaterium pada Variasi Suhu, pH
dan Konsentrasi Substrat. [Jurnal
Riset Biologi dan Aplikasinya], Vol.
2 No. 1 :14-15.
Lela, S., Rosahdi, T.D., Supriadin, A. 2015.
Isolasi Dan Karakteristik Amilase
dari Biji Durian (Durio sp). [Al2
Kimiya] Vol. 2 No.1 : 18-23
Mustakin, F., Tahir, M.M. (2019). Analisis
Kandungan Glikogen Pada Hati,
Otot, dan Otak Hewan. [Canrea
Journal] Vol. 2 No.2 : 75-80.
Winarno. 1995. Enzim Pangan. Jakarta:
Gramedia.
VI. KONTRIBUSI ANGGOTA
KELOMPOK
1. NURASIA HALEDE
(G031191002) : Pembahasan Uji
Benedict Pengaruh Suhu
2. NUR AZISAH (G031191047) :
Pembahasan Uji Benedict dan Uji
Iodium
3. NURHALIZA (G031191051):
Pembahasan Uji Iodium Pengaruh
Poedjiadi, A. 1994. Dasar-Dasar Biokimia.
Universitas Indonesia Press: Jakarta.
Radiyati, Tri dan Agusto, W.M. 1990.
Tepung Tapioka (Perbaikan). Subang:
BPTTG Puslitbang Fisika Terapan –
LIPI.
Suprapti, Lies. 2005. Tepung Tapioka
Pembuatan dan Pemanfaatannya.
Yogyakarta : Kanisius.
Sutikno. 2008. Pengaruh Pemblansiran
Irisan Buah Sukun (Artocarpus
Communis) Terhadap Pencoklatan
Dan Kadar Pati sebagai Alternatif
Sumber Belajar Kimia SMA Kelas
XII. [skripsi]. Yogyakarta (ID):
Universitas Islam Negeri Sunan
Kalijaga.
Tarigan, W. F., Sumardi., & Setiawan, W.A.
2015. Karakterisasi Enzim Selulase
dari Bakteri Selulolitik Bacillus sp
[Skrips].
Universitas
Negeri
Lampung.
Wahyuni, S. 2019. The Effect of Enzyme aAmylase Concentration to Hydrolisis
of Japanese Pumpkin (Kaboca)
Statch.
[Chemical
Engineering
Research Articles] Vol. 2 No. 1 : 2632.
pH
4. NURFATIHAH (G031191054):
Pembahasan Enzim Amilase
5. NUR HIKMAH (G031191060):
Pembahasan tepung kanji
6. NUR HIKMAWATI ALWI
(G031191073) : Abstrak,
Pendahuluan, Metodologi, Penutup
dan Susun
7. NUR ASYSA (G031191079):
Pembahasan Uji Benedict pengaruh
pH
8. KEVIN ARMELIA SIARAI
(G03119191): Pembahasan Uji
Iodium Pengaruh Suhu
Download