IPS-9E-Tugas Akhir |1
Tugas Ips
Vulkanisme
Oleh :
Ahmad Anwar
9E/01
SMP
NEGERI 2 SEMARANG
Tahun Ajaran 2011/2012
Ahmad Anwar – 9E
01
IPS-9E-Tugas Akhir |2
Vulkanisme
Istilah vulkanisme berasal dari kata latin vulkanismus nama dari sebuah pulau yang
legendaris di Yunani. Tidak ada yang lebih menakjubkan diatas muka bumi ini dibandingkan dengan
gejala vulkanisme dan produknya, yang pemunculannya kerap kali menimbulkan kesan-kesan
religiuos. Letusannya yang dahsyat dengan semburan bara dan debu yang menjulang tinggi, atau keluar
dan mengalirnya bahan pijar dari lubang di permukaan, kemudian bentuk kerucutnya yang sangat
mempesona, tidak mengherankan apabila di masa lampau dan mungkin juga sekarang masih ada
sekelompok masyarakat yang memuja atau mengkeramatkannya seperti halnya di pegunungan Tengger
(Gn.berapi Bromo) di Jawa Timur.
Vulkanisme dapat didefinisikan sebagai tempat atau lubang di atas muka Bumi di mana dari
padanya dikeluarkan bahan atau bebatuan yang pijar atau gas yang berasal dari bagian dalam bumi ke
permukaan, yang kemudian produknya akan disusun dan membentuk sebuah kerucut atau gunung.
Adapun sejumlah bahan-bahan yang dikeluarkan melalui lubang, yang kemudian dikenal
sebagai pipa kepundan, terdiri dari pecahan-pecahan batuan yang tua yang telah ada sebelumnya yang
membentuk tubuh gunung-berapi, maupun bebatuan yang baru sama sekali yang bersumber dari
magma di bagian yang dalam dari litosfir yang selanjutnya disemburkan oleh gas yang terbebas.
Magma tersebut akan dapat ke luar mencapai permukaan bumi apabila geraknya cukup cepat melalui
rekahan atau patahan dalam litosfir sehingga tidak ada waktu baginya untuk mendingin dan membeku.
Terdapat dua sifat dari magma yang dapat memberikan potensi untuk bertindak demikian,
dan itu adalah pertama kadar gas yang ada di dalam magma dan yang kedua adalah kekentalannya.
Sebab-sebab terjadinya vulkanisme adalah diawali dengan proses pembentukan magma dalam litosfir
akibat peleburan dari batuan yang sudah ada, kemudian magma naik ke permukaan melalui rekahan,
patahan dan bukaan lainnya dalam litosfir menuju dan mencapai permukaan bumi.
Wilayah-wilayah sepanjang batas lempeng di mana dua lempeng litosfir saling berinteraksi
Ahmad Anwar – 9E
01
IPS-9E-Tugas Akhir |3
akan merupakan tempat yang berpotensi untuk terjadinya gejala vulkanisme. Gejala vulkanisme juga
dapat terjadi di tempat-tempat di mana astenosfir melalui pola rekahan dalam litosfir naik dengan cepat
dan mencapai permukaan. Tempat-tempat seperti itu dapat diamati pada batas lempeng litosfir yang
saling memisahkan diri seperti pada punggung tengah samudera, atau pada litosfir yang membentuk
lantai samudera.
Tidak semua gunung-berapi yang sekarang ada di muka Bumi ini, memperlihatkan
kegiatannya dengan cara mengeluarkan bahan-bahan dari dalam Bumi. Untuk itu gunungapi
dikelompokan menjadi gunung berapi aktif, hampir berhenti dan gunung-berapi yang telah mati.
Gunung-berapi yang digolongkan kedalam yang hampir mati, adalah gunung-gunung-berapi yang tidak
memperlihatkan kegiatannya saat ini, tetapi diduga bahwa gunungapi itu kemungkinan besar masih
akan aktif di masa mendatang. Biasanya gunung-berapi ini memperlihatkan indikasi-indikasi ke arah
bangunnya kembali, seperti adanya sumber panas dekat permukaan yang menyebabkan timbulnya
sumber dan uap air panas, dll. Gunung berapi yang telah mati atau punah adalah gunung berapi yang
telah lama sekali tidak menunjukkan kegiatan dan juga tidak memperlihatkan tanda-tanda ke arah itu.
Erupsi gunungapi
Gunung berapi di samping merupakan gejala geologi yang berupa keluarnya bahan-bahan yang
bersumber dari magma, baik itu yang berwujud sebagai gas, lelehan maupun benda padat berupa
fragmen-fragmen batuan ke permukaan Bumi, dinamakan erupsi atau erupsi gunung-berapi. Erupsi
dapat dikelompokan berdasarkan :
1. Jenis bahan yang dikeluarkan melalui lubang kepundan, atau lokasi dari tempat keluarnya bahanbahan dari magma. Berdasarkan jenis bahan yang dikeluarkan, kita mengenal sebutan erupsi efusif
apabila bahan yang dikeluarkan hampir seluruhnya terdiri dari lelehan magma yang disebut lava.
Sedangkan sebutan erupsi piroklastik, apabila bahan yang dikeluarkan sebagian besar terdiri dari
Ahmad Anwar – 9E
01
IPS-9E-Tugas Akhir |4
fragmen-fragmen batuan, abu dan gas.
2. Erupsi juga dapat dikelompokan berdasarkan lokasi atau letak serta bentuk dari tempat keluarnya
bahan-bahan magma dari dalam Bumi. Keluarnya bahan-bahan tersebut dapat melalui suatu lubang
di permukaan Bumi yang dihubungkan dengan pipa ke dalam magma, atau suatu rekahan yang
mencapai tempat berhimpunnya magma.
Untuk ini dikenali adanya 2 (dua) tipe erupsi, yaitu:
a.
Erupsi sentral, apabila tempat ke luarnya bahan-bahan itu berupa lubang yang yang dihubungkan
dengan pipa, atau kepundan, dan berada di bagian tengah dari tubuh gunung-berapi;
b. Erupsi rekahan, apabila bahan-bahan berasal dari magma dikeluarkan melalui rekahan dalam
kerak bumi yang bentuknya memanjang.
Rekahan seperti itu terjadi sebagai akibat dari gejala regangan pada kerak yang sedang
memisah diri. Bahan yang dikeluarkan melalui erupsi seperti ini umumnya berupa lelehan pijar dari
magma atau lava. Meskipun pada umumnya bentuk erupsi sentral yang terdapat pada gunung-berapi
terutama di darat berbentuk lubang yang dihubungkan dengan pipa, namun tidak tertutup kemungkinan
juga dapat berupa rekahan. Umumnya lokasi erupsi berlangsung pada bagian tengah puncak gunungberapi, tetapi kadang-kadang juga terjadi pada bagian lereng. Dan apabila ini yang terjadi, maka gejala
tersebut dinamakan “flank” atau “lateral eruption”.
Adapula erupsi gunung-berapi terjadi pada pada bagian kaki gunung-berapi, maka erupsi
seperti itu dinamakan erupsi eksentrik atau erupsi parasitik. Erupsi yang berlangsung pada bagian
puncak dinamakan juga erupsi terminal, sedangkan yang terjadi pada bagian lereng disebut subterminal. Keduanya selalu dianggap sebagai erupsi puncak, di mana yang sub-terminal merupakan
pemisahan saja dari erupsi terminal. Erupsi puncak tidak akan menyebabkan penurunan terhadap
kedudukan dari dapur magma, sedangkan erupsi eksentrik justru akan menyebabkan peningkatan
kegiatan gas dibagian puncaknya.
Gerak dari bahan-bahan piroklastika
Bahan piroklastika yang dikeluarkan saat
terjadinya erupsi gunung-berapi, selanjutnya dapat dialirkan
dari pusatnya ke wilayah sekitar gunung-berapi dengan
media gas yang keluar bersama piroklastik, atau melalui
media air meteorik. Dengan bantuan media gas : Awan
panas atau “glowing avalance” atau “nu’ee ardente”. Sifatsifat fisik dan karakteristik dari awan panas ini dipelajari
dari erupsi gunungapi Mt.Pele’e di Kepulauan Martinique
yang terjadi pada bulan Mei 1902, yang telah
Ahmad Anwar – 9E
01
IPS-9E-Tugas Akhir |5
menghancurkan kota pantai St.Pierre dan menewaskan hampir 30.000 penduduknya. Karena bentuk
awannya yang saat itu sangat menonjol, maka fenomena tersebut diberi nama “awan pijar”, yang
sebenarnya adalah terdiri dari fragmen-fragmen pijar yang mengalir dengan kecepatan tinggi melalui
lembah sebagaimana halnya aliran lava atau air.
Awan yang terlihat sebenarnya adalah hanya debu yang naik ke udara dari aliran tersebut.
Karena itu istilah awan akhir-akhir ini cenderung untuk dirubah menjadi “glowing avalance”.
Kecepatan laju awan panas yang menghampiri kota St.Pierre, diperkirakan mencapai 150 km per jam.
Di Indonesia gunung-berapi yang juga dilaporkan menyemburkan awan panas adalah G. Merapi di
Jawa-Tengah. Di sini awan panas karena warnanya yang putih dan turun mengikuti lereng, dinamakan
“wedhus gembel”. Berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan setelah kejadian tersebut, yang
juga melibatkan gunung-gunungapi lainnya yang memperlihatkan erupsi seperti itu. Letusan dari
gunung-berapi Soufriere yang terletak berdekatan dengan Pulau St.Vincent, juga memperlihatkan
fenomena yang sama seperti di Mt.Pele’e. Kemudian Neumann van Padang (1933) juga melaporkan
kejadian yang sama pada letusan Gunung Merapi di P. Jawa tahun 1930.
Berdasarkan penelitian terhadap bahan yang diendapkan oleh awan panas, ternyata
sebagian besar fragmen-fragmennya ternyata terdiri dari batuan yang baru membeku dari magma.
Hanya sedikit sekali, kurang dari 5% yang diperkirakan berasal dari batuan yang telah ada dari dinding
atau pipa kepundannya. Dari pengamatan tersebut kemudian disimpulkan bahwa pada saat terjadi
erupsi, sejumlah gas yang berada dalam magma membebaskan diri dan mengembang menyelimuti
setiap bagian dari fragmen padat dan sebagain lagi mungkin magma yang masih cair dan pijar,
sehingga dapat bergerak dengan kecepatan tinggi dan dengan suhu yang tinggi pula. Agak berbeda
dengan yang digambarkan oleh NEUMANN van PADANG mengenai hasil letusan awan panas di
Gunung-berapi Merapi di Jawa-Tengah pada tahun 1930. Menurutnya, sebahagian besar fragmen yang
ada di dalam awan panas adalah berasal dari batuan tua, dan hanya sedikit sekali merupakan yang
merupakan lava yang baru. Demikian pula yang terjadi pada letusan gunung-berapi Stromboli pada
tahun 1930, di mana seluruh massa awan panas adalah bebatuan pijar berasal dari dinding kepundan.
Didasarkan kepada cara-cara mekanisma keluarnya awan panas dari kepundan, dapat dibedakan adanya
tiga tipe, yaitu : (a) Tipe Pele’e, (b) Tipe Soufriere, dan (c) Tipe Merapi
a.
Tipe Pele’e:
LACROAIX (orang yang memberi nama
“nue ardente”), melihat adanya bukti bahwa
semburan awal dari bahan dari awan panas itu
arahnya horisontal yang juga memberikan tekanan
terhadap awan panas yang terjadi. Selanjutnya dari
laporan tertulis yang dibuat oleh F.A.PERRET
(1930) pada letusan Gunung-berapi Pe’lee yang
terjadi pada tahun 1930 meskipun awan panasnya
lebih kecil dari letusan tahun 1902, dia
menemukan bukti-bukti baru yang dapat
mengungkapkan bagaimana mekanisma gerak awan panas yang dihasilkan gunung-berapi tersebut.
Dia yakin bahwa pembentukannya diawali oleh suatu letusan yang menyemburkan bahannya
melalui suatu sudut yang kecil. Menurut pengamatannya, “nue ardente” yang terjadi adalah letusan
dari lava itu sendiri yang terarah. Sumber lava yang terkumpul dibawah kubah secara-diam-diam
akan menghimpun energi. Apabila kemudian meletus, maka ia akan menyembur melalui bagian
yang lemah dibawah kubah dan mengarah horisontal menyapu lembah, bukit, menuruni lereng dan
Ahmad Anwar – 9E
01
IPS-9E-Tugas Akhir |6
menyebar seperti kipas.
b.
Tipe Soufriere :
Letusan yang terjadi pada gunung-berapi
Soufriere yang melanda St.Vincent sifatnya agak berbeda
dengan yang terlihat di gunung-berapi Pe’lee. Seperti
halnya di St.Pierre, awan panas juga keluar dari lubang
kepundan dan menuju ke lembah-lembah disekitarnya.
Sebelum terjdi letusan, pada bagian puncak gunug-berapi
ini terdapat kepundan dimana dasarnya ditutupi oleh danau yang dalamnya lebih dari 150 meter.
Lereng gunug-berapi ini agak landai dengan rata-rata sudut 15o4. Sifat letusannya agak berbeda
dengan yang teramati di gunung-berapi Pe’lee. Suhunya lebih rendah dan letusannya juga agak
lemah Kemudian awan yang disemburkan menuju kesegala arah (tidak pada arah tertentu seperti di
St.Pierre), dan bahkan keatas kaldera. Bahan yang dibawanya sebhagian besar berukuran pasir
dengan sedikit sekali yang berukuran lebih besar apabila dibandingkan dengan gunung-berapi
Pe’lee. Disimpulkan bahwa bahan-bahan panas disemburkan vertikal keatas dan awan panas yang
jatuh kemudian menuruni lereng gunung-berapi.
c. Tipe Merapi :
Para pakar gunung-berapi di Pulau Jawa,
berdasarkan pengamatan-2 yang dilakukan terhadap
pola letusan gunung Merapi, ternyata telah
menunjukkan
adanya
jenis
mekanisma
pembentukan awan panas lainnya selain dari yang
dua di atas. Kubah pada kepundannya terus tumbuh
dan lerengnya menjadi tidak mantap dan mulai
runtuh serta menghasilkan guguran-guguran
fragmen pijar melalui lereng gunung-berapi
tersebut. Gunung-gunung-berapi yang mempunyai
ciri-ciri yang sama seperti di Merapi, antara lain yang terjadi pada gunung-berapi Fuego di
Guetamala, dan gunung-berapi Izalco di El Savador. Awan panas pada dasarnya sedikit sekali atau
hampir tidak mengendapkan bahannya di bagian lereng gunung-api tersebut. Namun mereka
mempunyai daya pengikisan yang kuat dan mampu menoreh lembah-lembah. Pada dinding lembah
akan dapat dijumpai goresan-goresan sebagai akibat dari torehannya. Awan panas umumnya akan
mengendapkan bahan-bahannya di bagian yang landai dibawah setelah kehilangan energinya.
Endapannya terdiri dari pencampuran yang sangat lekat berupa bahan berukuran halus (debu) dan
bongkah-bongkah menyudut dengan garis tengah beberapa meter serta kadang juga terdapat batuapung di dalamnya.
Tipe-tipe erupsi gunung berapi
1. Erupsi efusif: Erupsi efusif berjalan tenang, tidak disertai letusan-letusan yang dahsyat dan
melibatkan lava yang bersifat basaltis. Umumnya tidak menghasilkan piroklastik dalam jumlah
Ahmad Anwar – 9E
01
IPS-9E-Tugas Akhir |7
besar. Membentuk Gunung api perisai.Gunung api maar
2. Erupsi sentral: Melalui satu lubang utama yang terletak ditengah, lava basaltis akan mengalir
kesegala arah dalam jumlah yang hampir sama. Erupsi-erupsi yang terjadi berulang kali kemudian
akan membangun sebuah gunungapi yang berbentuk perisai. Gunung-berapi yang terjadi dengan
cara seperti ini disebut gunung-berapi perisai. Gunung-berapi ini mempuyai lereng yang sangat
landai karena lava basaltis yang encer yang mampu mengalir dalam jarak yang jauh dari
sumbernya, sehingga tidak mampu membangun kerucut yang tinggi. Contoh klasik gunungapi tipe
ini dan yang paling banyak dipelajari adalah gunung-berapi yang membentuk Pulau Hawaii yang
terletak di Samudera Pasifik. Pulau Hawaii sendiri terdiri dari 5 buah gunung-berapi perisai,
dimana yang terbesar adalah Mauna Kea dan Mauna Loa dengan ketinggian puncaknya masingmasing 4205 dan 4170 meter. Dasarnya terletak pada dasar samudera yang dalamnya 5000 meter,
sehingga dengan demikian apabila diukur dari kakinya, maka ketinggiannya mencapai
9000
meter. Dan ini adalah lebih tinggi dari gunung tertinggi di darat yaitu Mt.Everest di Pegunungan
Himalaya. Mauna Loa dengan ketinggian seperti itu merupakan tumpukan lava dari berulang kali
erupsi sejak 750.000 tahun yang lalu.
3. Erupsi rekahan: Tipe erupsi ini banyak dijumpai di wilayah lantai samudera. Rekahan terjadi
sebagai akibat dari proses pemisahan pada litosfir, atau interaksi divergen lempeng litosfir, dengan
ukuran panjang hingga beberapa puluh kilometer. Contoh klasik erupsi rekahan seperti ini dijumpai
di Iceland yang terletak tepat diatas punggung-tengah-Samudera Atlantik. Lava yang keluar dari
rekahan seperti ini bersifat sangat encer, akan menyebar ke-kedua arah dari rekahan dengan laju
kecepatan hampir 20 kiliometer/jam. Urut-urutan ke luarnya lava akan membentuk suatu dataran
yang kadang tinggi dan disebut dataran basalt (plateau basalt) , atau “flood basalt”.
Sepanjang sejarah geologi barangkali erupsi rekahan yang berlangsung secara berulangulang dan menghasilkan aliran basalt dalam jumlah yang sangat banyak mungkin hanya terjadi di
tempat-tempat tertentu di muka Bumi. Sebagai contoh adalah “Dataran Deccan” yang terdapat di
bagian barat laut Jazirah India. Kemudian di wilayah dataran Columbia di negara Bagian
Washington dan Oregon hingga ke Idaho. Dalam ukuran yang agak kecil dataran basalt juga
dijumpai di selatan Vietnam, diutara Columbia Inggris dan Patagonia. Demikian pula dalam ukuran
yang lebih kecil dan berumur lebih muda adalah di Afrika Selatan, Siberia Tengah, Abyssinia,
beberapa tempat di Amerika Utara dan Selatan. Di Amerika Keweenawan Basalt, mengandung
endapan tembaga dalam jumlah besar. Erupsi rekahan yang pernah tercatat dalam sejarah sekarang
adalah yang terjadi di wilayah Iceland, yang terletak tepat diatas punggung-tengah Samudra
Atlantik. Erupsi terjadi pada tanggal 8 Juni 1783 melalui rekahan sepanjang 32 kilometer.
4. Erupsi di bawah permukaan laut
Erupsi efusif yang terjadi 300-1000 meter di bawah permukaan laut atau disebut juga “submarine”,
umumnya berlangsung tenang. Lava yang dikeluarkan akan membeku dan membentuk lava bantal.
Tipe erupsi ini sedikit sekali mendapat perhatian karena terjadinya jauh di bawah pengamatan. Lava
yang membeku membentuk akan membentuk lava “bantal” (pillow lava). Bentuknya melonjong
dengan ukuran kurang dari 1.5 meter dan penampang ±30 cm, dengan dasar yang mendatar dan
bagian atasnya membulat.
5. Erupsi piroklastik atau erupsi eksplosif
Ahmad Anwar – 9E
01
IPS-9E-Tugas Akhir |8
Erupsi piroklastik terjadi pada magma yang kental, mengandung banyak gas dan mempunyai sifat
letusan berkisar antara sedang dan sangat dahsyat. Erupsi explosif umumnya banyak menghasilkan
piroklastika dan sedikit lava. Karena sifat magmanya yang kental maka lava yang mengalir tidak
akan dapat menempuh jarak yang jauh dari sumbernya, lubang kepundan.
Bagian-Bagian Dalam Gunung Berapi :
1.
2.
Batolit
Lakolit
3.
Siil
4.
5.
Diaterma
Intrusi Korok
6.
Apolisa/Amphofisa
Korok
: Dapur magma yang membeku
: Magma yang masuk diantara lapisan batuan dan mendesak pada
lapisan atasnya sehingga alasnya datar dan permukaaannya cembung
: Magma yang masuk diantara lapisan kulit bumi dan membeku, jadi
bentuknya lempeng/memanjang
: Jalur keluar Magma
: Magma yang menerobos lapisan kulit bumi yang ada diatasnya dan
membeku, Jadi bentuknya seperti pipa
: Cabang dari
Menurut bentuknya, ada beberapa jenis
gunung api :
(1) Gunung api perisai, bentuknya seperti
perisai, lerengnya sangat landai, terbentuk
karena erupsi efusif magma cair dan encer
yang mengalir dan membeku secara lambat
yang bentuknya seperti perisai
(2 Gunung api maar, bentuknya seperti
trapesium, terbentuk karena erupsi eksplosif
yang tidak terlalu kuat dengan letusan hanya
sekali sehingga terbentuklah lubang besar
(kawah/maar)
(3) Gunung api strato, bentuknya seperti
kerucut dan berlapis, terbentuk karena erupsi
efusif dan eksplosif dengan beberapa kali
letusan yang kuat.
Ahmad Anwar – 9E
01