Modul Psikologi Kepribadian I [TM10]

advertisement
MODUL PERKULIAHAN
Psikologi
Kepribadian I
Individual Psychology
Fakultas
Program Studi
Psikologi
Psikologi
Tatap Muka
9
Kode MK
Disusun Oleh
MK61014
Yoanita Eliseba, M. Psi
Abstract
Kompetensi
Pembahasan teori Alfred Adler
mengenai ciri-ciri khusus, proses &
dinamika kepribadian berdasarkan
pandangan Individual Psychology.
Pemahaman konsep dasar dan utama
dari Individual Psychology dan hal-hal
penting yang terkait.
Kasus: Theodore Roosevelt
Lahir dari Martha dan Theodore Senior di Manhattan pada 27 Oktober 1858.
Setelah kelahirannya, ia mengidap penyakit asma akut dan cenderung mudah terserang
demam, batuk, dan flu, serta terserang nausea dan diare. Teedie begitu kurus dan kecil,
suaranya sangat lemah. Dia mengalami malnutrisi dan sering dipaksa untuk tidur dengan
posisi duduk di kursi karena penyakit asmanya. Beberapa kali ia nyaris sekarat karena
kekurangan oksigen.
Akan tetapi, Teedie adalah seorang anak yang aktif dan memiliki kepribadian
yang menarik. Ia penuh rasa ingin tahu akan alam dan sering bermain dengan binatang.
Ia terkungkung berulang-ulang saat asmanya menyerang, yang saat-saat tersebut
membuatnya berkutat dengan buku-buku. Ia mengalami sakit-sakitan tetapi ia memiliki
hasrat untuk hidup!
Setelah bepergian ke Eropa bersama keluarganya, kondisi kesehatannya
memburuk. Ia bertumbuh tinggi namun sangat kurus. Akhirnya, dengan dorongan dari
dokter keluarga, Roosevelt Senior mendorong anaknya untuk meningkatkan berat
badannya. Teedie pun menjadi lebih sehat dan untuk pertama kalinya ia dapat menjalani
sebulan tanpa serangan asma.
Saat ia berusia tiga belas tahun, ia mengalami gangguan penglihatan parah.
Dalam tahun yang sama, ia dikirim kembali ke negaranya setelah serangan asma parah.
Di perjalanan, ia diserang beberapa anak laki-laki seusianya. Ia tidak mampu membela
dirinya apalagi melawan. Ia kemudian memberitahu ayahnya keinginannya untuk belajar
bertinju. Saat masuk ke Harvard, ia tidak hanya sehat tetapi juga banyak menjuarai
perlombaan atletik.
Akhirnya, Teedie Roosevelt menjadi seorang wakil rakyat yang sukses di New
York, asisten sekretaris angkatan laut, gubernur New York dan penulis buku-buku terlaris
pada usia empat puluh. Setelah kematian presiden William McKinley pada tahun 1901,
Theodore Roosevelt menjadi presiden Amerika Serikat yang termuda.
Bagaimana seorang yang sangat penyakitan dapat menjadi begitu sehat,
bersemangat dan berhasil? Mengapa beberapa anak, sakit atau tidak, berkembang,
sementara beberapa anak yang lain lenyap? Apakah hasrat yang dimiliki Roosevelt
khusus dimiliki olehnya, atau apakah ada sesuatu yang terdapat dalam setiap kita?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini yang menarik perhatian seorang dokter muda dari
2014
2
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Wina bernama Alfred Adler, dan mengarahkannya mengembangkan suatu teori yang
dikenal dengan Individual Psychology.
ALFRED ADLER
Adler memulai karirnya di bidang medis sebagai ahli mata, namun
selanjutnya ia berpraktek sebagai dokter umum pada kelompok kelas bawah
di Wina. Pasiennya termasuk para pemain sirkus, dan ketidaklaziman
kekuatan dan kelemahan dari pemain sirkus tersebut mengarahkan Adler
pada gagasan akan organ inferiorities dan compensation.
Kemudian ia beralih ke psikiatri dan pada tahun 1907 bergabung dengan
kelompok diskusi Freud. Setelah menulis karyanya mengenai organic inferiority yang
cukup sesuai dengan pandangan Freud, ia kemudian menulis karya tentang aggression
instinct, dimana Freud tidak setuju, dan kemudian karya tentang rasa inferioritas anakanak, yang menyebutkan gagasan seksual Freud lebih merupakan metaphor daripada
hurufiah.
Selama perang dunia I, Adler menjadi dokter pada tentara Austria. Pada awalnya
ia melihat kerusakan yang diakibatkan oleh perang, dan pikirannya ini mengarahkan
pada konsep minat sosial (social interest). Adler kemudian membentuk kelompoknya
sendiri yang dinamakan Psikologi Individual.
TEORI
Alfred Adler merumuskan suatu ‘hasrat’ atau kekuatan motivasi dibelakang semua
perilaku dan pengalaman kita. Saat teorinya sudah berkembang menjadi lebih matang, ia
menyebut kekuatan motivasi sebagai striving for perfection. Merupakan hasrat yang
kita miliki untuk memenuhi potensi-potensi kita, untuk mendekati ideal kita. Yang sangat
serupa pada gagasan popular mengenai aktualisasi diri.
Sebelumnya ia mengemukakan tentang aggression drive (dorongan agresi),
mengacu pada reaksi yang kita alami saat dorongan lain, seperti kebutuhan untuk
2014
3
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
makan, seksual, menyelesaikan sesuatu atau kebutuhan untuk dicintai, tidak terpenuhi
dan terjadi frustrasi.
Salah satu gagasan awal Adler adalah masculine protest. Ia menekankan
sesuatu yang cukup tampak pada budayanya (dan sangat mungkin juga terjadi di budaya
kita), dimana anak laki-laki memiliki self esteem yang lebih tinggi daripada anak
perempuan. Anak laki-laki, seringkali sangat dituntut untuk menjadi kuat, agresif,
terkendali (maskulin) dan tidak pasif, tergantung pada orang lain (feminine). Intinya,
bahwa laki-laki bagaimanapun pada dasarnya lebih baik daripada perempuan. Laki-laki,
memiliki kekuatan, pendidikan, dan bakat serta motivasi yang diperlukan untuk
melakukan ‘hal besar’, dan perempuan tidak. Tetapi Adler tidak melihat asertivitas dan
kesukseskan laki-laki berdasarkan superioritas bawaan. Ia melihatnya sebagai gambaran
dari fakta bahwa anak laki-laki didorong untuk menjadi asertif dalam hidupnya,
sedangkan anak perempuan dilarang. Baik anak laki-laki maupun anak perempuan
memulai kehidupan dengan kapasitas untuk ‘protes!’
Gagasan yang terakhir yang dikemukakannya sebelum gagasan striving for
perfection adalah striving for superiority. Meskipun striving for superiority mengacu
pada hasrat untuk melakukan yang lebih baik, gagasan itu juga mengandung ide bahwa
kita ingin menjadi lebih baik daripada orang lain, daripada lebih baik dalam hak kita
sendiri. Adler kemudian cenderung menggunakan striving for superiority lebih pada
perjuangan yang tidak sehat atau neurotik.
KONSEP PENTING TEORI ADLER
Gaya hidup (Life style)
Adler dipengaruhi oleh tulisan Jan Smuts, filsuf dari Afrika Selatan. Smuts merasa
bahwa untuk memahami manusia, kita perlu memahami mereka sebagai kesatuan yang
menyeluruh daripada sebagai kumpulan kepingan-kepingan, dan kita perlu memahami
mereka dalam konteks lingkungan mereka, baik fisik dan sosial. Pendekatan ini disebut
holisme, dan Adler sangat menyetujui pandangan itu.
Pertama untuk merefleksikan gagasan bahwa kita perlu melihat orang sebagai
keseluruhan daripada sebagai bagian-bagian, ia memutuskan untuk menyebut
pendekatannya
sebagai
individual
psychology.
Kata
terpisahkan’.
2014
4
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
individual
berarti
‘tidak
Kedua, daripada membicarakan tentang kepribadian seseorang, dengan sifat-sifat
internal, struktur, dinamik, konflik, dll. Adler memilih untuk berbicara tentang style of life
(lifestyle atau gaya hidup). Gaya hidup mengacu pada bagaimana seseorang menjalani
hidupnya, bagaimana seseorang mengatasi masalah dan hubungan interpersonalnya.
bahwa setiap orang memiliki pola hidup dan tidak semata-mata reaksi mekanis terhadap
lingkungan.

Empat tipe dari gaya hidup:
Yang pertama adalah ruling type. Mereka adalah orang-orang yang sejak kecil
memiliki ciri kecenderungan menjadi agresif dan dominan terhadap orang lain. Energi
mereka sangat besar sehingga mereka cenderung menyingkirkan apapun atau siapapun
yang merintangi mereka. Mereka yang bertipe ini dan paling penuh energi adalah orangorang yang sadistis; sedangkan mereka yang sedikit kurang berenergi adalah yang
menyakiti orang lain dengan menyakiti diri mereka sendiri, dan termasuk juga alkoholik,
pecandu obat terlarang, dan yang mencoba bunuh diri.
Tipe yang kedua adalah leaning type. Mereka adalah orang-orang yang sensitif
yang membuat pertahanan di sekeliling mereka untuk melindungi mereka, namun
mereka harus bergantung pada orang lain untuk menolong mereka menghadapi kesulitan
hidup. Mereka memiliki tingkat energi yang rendah dan menjadi tergantung pada orang
lain. Mereka yang sangat dikuasai oleh tipe ini dapat mengembangkan gejala neurotis
seperti fobia, obsesif kompulsif, kecemasan, hysteria, amnesia, dll.
Jenis ketiga adalah avoiding type. Mereka memiliki tingkat energi yang paling
rendah dan hanya bertahan dengan menghindari hidup, terutama orang lain. Ketika
mereka didorong sampai pada batas akhir mereka cenderung menjadi psikotik, menarik
diri ke dalam dunia mereka sendiri.
Ada jenis keempat juga yang disebut socially useful type. Mereka yang ada
pada jenis ini adalah orang yang sehat, orang yang memiliki minat sosial dan energi.
Perhatikan bahwa tanpa energi, seseorang tidak dapat benar-benar memiliki minat
social, karena ia tidak akan dapat melakukan sesuatu apapun bagi orang lain.
2014
5
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Teleology
Bahwa gaya hidup ‘bukan semata-mata reaksi mekanis’ adalah hal kedua dimana
Adler berbeda dengan Freud. Bagi Freud, hal-hal yang terjadi di masa lalu, seperti
trauma masa awal kanak-kanak, menentukan bagaimana orang tersebut di masa
sekarang. Adler melihat motivasi sebagai pergerakan menuju masa depan, daripada
sekedar terdorong secara mekanis oleh masa lalu. Kita ditarik ke arah tujuan kita, ideal
kita. Inilah yang disebut teleology. Teleologi mengakui bahwa hidup itu keras dan tidak
menentu, namun hidup selalu memiliki ruang untuk perubahan! Kekuatan untuk
berkehendak atau keyakinan bahwa para individu tidak hanya diarahkan oleh kekuatan
mekanis namun mereka juga bergerak menuju tujuan tertentu dari realisasi diri. Perilaku
dimengerti sebagai pergerakan yang terarah pada tujuan, meskipun seseorang mungkin
tidak sepenuhnya menyadari motivasinya.
Pengaruh utama lain terhadap pemikiran Adler adalah filsuf Hans Vaihinger. Hans
mengemukakan bahwa orang hidup dengan banyak fiksi ideal yang tidak berkaitan
dengan realitas dan dengan demikian tidak dapat diuji dan dikonfirmasi. Adler mengambil
gagasan ini dan menyimpulkan bahwa orang termotivasi lebih oleh harapan mereka akan
masa depan daripada masa lalu mereka. Hans percaya bahwa kebenaran akhir selalu
melampaui kita, tetapi untuk tujuan praktis, kita perlu menciptakan kebenaran parsial.
Kebenaran parsial tersebut dinamakannya sebagai fictions. Vaihinger dan Adler
menekankan bahwa kita menggunakan fictions ini dalam kehidupan sehari-hari juga. Kita
berperilaku seolah-olah kita tahu dunia akan ada di sini besok, seolah-olah kita yakin apa
yang baik dan jahat, seolah-olah segala sesuatu adalah seperti yang kita lihat, dan
seterusnya. Adler menyebut ini fictional finalism.
Kita dapat memahami lebih mudah dengan contoh: Banyak orang berperilaku
seolah-olah ada surga atau neraka dalam masa depan mereka. Tentu saja, mungkin
memang ada surga atau neraka, tetapi banyak dari kita tidak berpikir ini sebagai fakta
yang harus dibuktikan. Itu yang membuatnya dikatakan sebagai ‘fiction’ dalam
pandangan Vaihinger dan Adler. Dan finalism mengacu pada teleologinya: fiksi berada di
masa depan, tetapi mempengaruhi perilaku kita di masa sekarang.
Adler menambahkan, pada pusat dari tiap gaya hidup kita, terdapat salah satu
fiksi, yang penting tentang siapa kita dan kemana kita akan bergerak/pergi.
2014
6
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Social interest
Kedua dalam striving for perfection terdapat gagasan tentang social interest atau
minat sosial atau disebut juga ‘perasaan komunitas’. Dalam kaitan dengan holismenya,
tampak ‘striving for perfection’ pada diri siapapun sulit terjadi tanpa mempertimbangkan
lingkungan sosialnya. Sebagai makhluk sosial, kita benar-benar tidak dapat ada, sangat
sulit berkembang, tanpa orang lain.
Adler merasa bahwa perhatian sosial tidak begitu saja merupakan sesuatu yang
dibawa dari lahir, ataupun yang dipelajari, akan tetapi merupakan kombinasi keduanya:
Minat sosial didasarkan pada disposisi yang terberi, tetapi harus dirawat untuk
mempertahankannya. Sebagai sesuatu yang terberi, minat sosial, dapat tampak dari bayi
atau anak kecil yang seringkali menunjukkan simpati pada orang lain tanpa diajarkan
untuk melakukannya. Bagaimana seorang bayi mulai menangis, atau saat kita berjalan
menuju suatu ruangan dimana semua orang tertawa, kita sendiri mulai tersenyum saat
mendengarnya.
Satu kesalahpahaman yang hendak dihindari Adler adalah gagasan bahwa minat
sosial merupakan versi lain dari ekstraversi. Yang Adler maksudkan mengenai minat
sosial bukan dalam hal perilaku sosial tertentu, namun lebih luas menyangkut menjaga
keluarga, komunitas, masyarakat, bahkan bagi kehidupan. Minat sosial adalah
menyangkut kebergunaan bagi orang lain.
Di sisi lain, kurangnya minat sosial bagi Adler adalah definisi utama dari
gangguan kesehatan mental: semua kegagalan – neurotic, psikotik, kriminal, kemabukan,
masalah pada anak, bunuh diri, kelainan perilaku seksual dan prostitusi – semua
kegagalan terjadi karena kurangnya minat sosial. Tujuan mereka untuk sukses adalah
tujuan superioritas personal, dan kemenangan memiliki makna hanya bagi diri mereka
sendiri.
Inferioritas
Kita semua ‘terdorong’ menuju pemenuhan, kesempurnaan, aktualisasi diri. Dan
beberapa dari kita, yang gagal, berakhir pada tidak terjadinya pemenuhan, sangat tidak
sempurna, dan jauh dari aktualisasi diri. Dan semua itu karena kurangnya minat sosial,
2014
7
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
atau, secara lebih positif, karena terlalu berminat pada diri sendiri. Lalu, apa yang
membuat banyak dari kita berminat pada diri sendiri (self-interested)?
Adler mengatakan hal tersebut adalah kondisi dikuasai oleh inferioritas kita. Jika
berhasil, kita merasa kompeten, kita tidak dapat memikirkan orang lain. Jika tidak
berhasil, maka perhatian menjadi semakin berfokus pada diri sendiri. Setiap orang
mengalami inferioritas dalam satu bentuk atau yang lainnya. Sebagai contoh, Adler
memulai karya teoretisnya dengan mempertimbangkan organ inferiority, dimana
kenyataan bahwa setiap orang memiliki baik kelemahan, demikian juga kekuatan, dari
anatomi atau fisiologisnya. Beberapa orang terlahir dengan lemah jantung atau
mengembangkan masalah jantung dalam masa awal kehidupan; beberapa orang
memiliki paru-paru atau ginjal yang lemah, atau masalah hati; Beberapa di antara kita
mengalami gagap bicara; Beberapa memiliki diabetes, asma, atau polio; Beberapa
memiliki penglihatan atau pendengaran yang lemah; Beberapa memiliki kecenderungan
menjadi terlalu gemuk atau terlalu kurus; Beberapa mengalami retardasi mental,
beberapa cacat; terlalu pendek atau terlalu tinggi, dst.
Adler menekankan bahwa banyak orang merespon inferioritas organis ini dengan
kompensasi. Mereka membungkus kelemahan mereka dengan beberapa cara: organ
yang inferior dapat diperkuat dan bahkan menjadi lebih kuat daripada yang dimiliki orang
lain; Atau organ lain dapat menjadi sangat berkembang untuk menutupi kekurangan.
Atau seseorang dapat melakukan kompensasi secara psikologis pada masalah organis
dengan mengembangkan kemampuan tertentu atau jenis kepribadian tertentu.
Adler kemudian melihat hal ini hanya sebagian dari seluruh gambaran. Lebih
banyak orang yang memiliki inferioritas psikologis. Beberapa orang dikatakan bodoh,
atau jelek, atau lemah. Di sekolah seorang anak mendapat nilai yang selalu tidak lebih
baik dari anak lainnya, atau seseorang diejek karena bentuk tubuhnya. Contoh-contoh
tersebut menggambarkan bahwa inferioritas bukan semata-mata dikarenakan faktor
organis. Beberapa orang melakukan kompensasi dengan menjadi lebih baik dalam halhal lain,
dan menutupi rasa inferioritas. Dan beberapa orang
tidak
pernah
mengembangkan keberhargaan diri yang memadai sama sekali.
Jika
seseorang
dikuasai
oleh
rasa
inferioritas,
maka
orang
tersebut
mengembangkan inferiority complex. Inferiority complex bukan sekedar masalah kecil,
melainkan masalah hidup yang besar. Seseorang menjadi menarik diri, tidak aman, tidak
dapat mengambil keputusan, penakut, pasrah, dll. Orang tersebut mengandalkan orang
lain untuk mengarahkan hidupnya.
2014
8
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Ada cara lain dimana orang berespon terhadap inferioritas selain dengan
melakukan kompensasi,
mengembangkan
atau mengalami
superiority
complex.
inferiority complex:
Superiority
complex
Seseorang
adalah
dapat
perilaku
membungkus inferioritas seseorang dengan berlaku seakan-akan sebagai seorang yang
superior. Jika seseorang merasa kecil salah satu cara untuk merasa besar adalah
membuat orang lain merasa lebih kecil! Contoh yang lebih halus misalnya pada orangorang yang merasa berkuasa saat melakukan kejahatan, menempatkan dirinya lebih
tinggi dalam hal gender, ras, etnik, keyakinan religius, bentuk tubuh, dll. Bahkan contoh
lain dimana seseorang dapat menutupi perasaan ketidakberhargaannya dalam delusi
kekuasaan yang dilakukan dengan penyalahgunaan alkohol dan obat terlarang.
Masa Kanak-kanak
Adler melihat kepribadian atau gaya hidup sebagai sesuatu yang terbentuk pada
masa awal kehidupan, dimana protototipe kehidupan cenderung terbentuk pada lima
tahun awal. Adler merasa ada tiga situasi kanak-kanak yang mendasar yang paling
berkontribusi pada gaya hidup yang keliru. Yang pertama, seperti yang sudah dibahas
sebelumnya: organ inferiorities, begitu juga penyakit awal masa kanak-kanak, yang
disebut Adler sebagai ‘overburdened’. Dan jika perhatian mereka tidak teralihkan pada
orang lain, mereka akan tetap fokus pada diri mereka sendiri. Kebanyakan akan
menjalani hidup dengan rasa inferioritas yang kuat; Beberapa yang lain akan melakukan
kompensasi berlebihan dengan superiority complex. Hanya dengan penguatan dan
dorongan dari orang-orang dekat yang mengasihi lah mereka dapat benar-benar
melakukan kompensasi dengan sehat.
Yang kedua adalah pemanjaan. Banyak anak-anak yang diajarkan bahwa
mereka dapat mengambil tanpa memberi. Apa yang mereka harapkan harus dipenuhi
oleh orang lain. Hal ini dapat mengarahkan anak yang manja kepada dua hal
kemungkinan: pertama, ia tidak belajar melakukan apapun untuk dirinya sendiri, dan
kemudian menyadari bahwa ia merasa inferior; Dan yang kedua, ia tidak belajar cara lain
untuk menghadapi orang lain selain dengan memerintah. Dan celakanya masyarakat
dapat membenci mereka.
Yang ketiga adalah pengabaian. Seorang anak yang diabaikan atau diperlakukan
kasar akan belajar apa yang dipelajari anak yang dimanjakan, namun lebih secara
langsung: Mereka belajar menjadi inferior karena kepada mereka dikatakan dan
2014
9
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
ditunjukkan bahwa mereka tidak berharga; Mereka belajar menjadi egois karena mereka
diajarkan untuk tidak mempercayai orang lain. Anak-anak yang mengalami pengabaian
tidak hanya anak yatim piatu dan korban kekerasan, namun juga anak-anak yang
orangtuanya tidak pernah hadir bagi mereka, dan anak-anak yang diasuh dengan pola
asuh yang kaku dan autoritarian (otoriter).
Urutan Kelahiran:
Adler merupakan teoris pertama yang melibatkan tidak hanya ibu dan ayah dari si
anak, serta orang dewasa lain yang memiliki pengaruh awal pada anak, tetapi juga
saudara kandung dari si anak itu sendiri. Pertimbangannya akan efek dari saudara
kandung dan urutan kelahiran anak menjadi perhatian Adler.

Anak tunggal, lebih cenderung mengalami pemanjaan oleh orangtua. Orangtua dari
anak tunggal memberikan perhatian khusus (terkadang disertai dengan rasa cemas)
bagi buah hati mereka. Jika orangtua sering bersikap kasar, maka anak tunggal
menjadi pihak yang menanggung kekasaran tersebut sendiri.

Anak pertama memulai hidup sebagai anak satu-satunya, dengan segala perhatian
yang diarahkan padanya. Sayangnya, saat kondisi mulai nyaman, anak kedua lahir
dan ‘menggeser’ anak pertama. Pada awalnya anak pertama mungkin bergulat untuk
kehilangan posisinya. Sebagai respon, ia mungkin berperilaku seperti bayi, beberapa
berubah menjadi tidak patuh, yang lain menjadi sedih dan menarik diri. Adler percaya
bahwa anak pertama seringkali pintar atau berbakat, dan cenderung relatif
konservatif dibandingkan anak lain di dalam keluarga.

Anak kedua berada di situasi yang sangat berbeda: Ia memiliki anak pertama
sebagai ‘acuan’ dan cenderung menjadi relative kompetitif, berusaha melebihi anak
pertama (yang lebih tua darinya). Mereka seringkali berhasil, namun banyak yang
merasa seakan-akan ‘pertandingan’ tidak pernah selesai, dan mereka cenderung
bermimpi untuk berlari tanpa mengarah pada sesuatu. Anak ‘tengah’ yang lain
cenderung mirip dengan anak kedua, walaupun masing-masing akan fokus pada
‘kompetitor’ yang berbeda.

Anak bungsu cenderung menjadi yang paling dimanja dalam keluarga yang memiliki
lebih dari satu anak. Ia menjadi anak yang tidak pernah ‘tergeser’. Di sisi lain anak
bungsu mungkin merasa inferior, dengan semua orang yang lebih tua dan ‘superior’.
2014
10
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Akan tetapi dengan semua ‘acuan’ yang ada, anak bungsu dapat juga terdorong
untuk melebihi mereka semua.
Namun akan ada perbedaan pada anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan.
Anak kedua yang adalah perempuan mungkin tidak akan menganggap kakak laki-lakinya
sebagai kompetitornya; seorang anak laki-laki dalam keluarga yang anak-anak lainnya
adalah anak perempuan dapat merasa sebagai anak satu-satunya, dst. Urutan kelahiran
ini perlu dipahami dalam konteks situasi khusus masing-masing individu.
Creative Self
Konsep creative self (diri kreatif) menempatkan tanggung jawab dimana
kepribadian individu berada di tangannya sendiri. Adler menekankan bahwa individu tidak
dapat menyalahkan orang lain atau kekuatan yang tidak dapat dikendalikan atas kondisi
yang dialaminya. Manusia adalah aktor yang memiliki inisiatif (kepribadian bersifat
dinamis). Diri kreatif merupakan jembatan antara stimulus yang menerpa seseorang &
respon yang diberikan orang yang bersangkutan terhadap stimulus itu. Pada hakikatnya,
manusia membentuk kepribadiannya sendiri. Manusia membangun kepribadiannya
dari bahan mentah hereditas dan pengalaman
Hereditas membekali manusia dengan kemampuan tertentu; Lingkungan
memberinya kesan tertentu; sikapnya terhadap kehidupanlah yang menentukan
hubungan ini dengan dunia luar. Diri kreatif adalah ragi yang mengolah fakta-fakta dunia
dan mentransformasikan fakta ini menjadi kepribadian yang bersifat subjektif, dinamik,
menyatu, personal dan unik. Diri kreatif memberikan arti pada kehidupan, menciptakan
tujuan maupun sarana untuk mencapainya.
Diagnosis
Untuk membantu melihat ‘fiction’ dasar gaya hidup seseorang, Adler melihat
banyak hal: urutan kelahiran, sebagai contoh, pertama, ia akan memeriksa seseorang
dan riwayat kesehatannya apakah ada kemungkinan organis sebagai akar dari masalah
seseorang. Penyakit serius, misalnya dapat memiliki efek samping yang hampir
menyerupai gejala neurotic dan psikotik.
2014
11
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Adler akan memperhatikan ingatan masa kanak-kanak awal. Ia tidak
menekankan pada kebenaran sebagai suatu indikasi prototype awal dari gaya hidup saat
ini. Jika ingatan awal mencakup rasa aman dan perhatian yang besar, maka itu mungkin
mengindikasikan pemanjaan; Jika seseorang mengingat kompetisi agresi dengan
kakaknya yang lebih tua, hal tersebut mungkin mengindikasikan perjuangan yang kuat
dari seorang anak tengah; Jika ingatan seseorang mencakup pengabaian dan sering
bersembunyi, maka hal itu dapat berarti inferioritas serta penghindaran; dsb.
Adler juga memberi perhatian pada masalah yang dialami saat kanak-kanak:
Kebiasaan buruk termasuk makan di kamar mandi, dapat mengindikasikan cara
seseorang ‘mengendalikan’ orangtuanya; Ketakutan, seperti rasa takut pada gelap atau
ditinggalkan sendirian, dapat mengindikasikan kemanjaan; Gagap bicara dapat berarti
bahwa bicara diasosiasikan dengan rasa cemas; dll.
Seperti Freud dan Jung, mimpi juga penting bagi Adler. Bagi Adler, mimpi
merupakan ekspresi dari gaya hidup seseorang dan jauh dari kontradiksi perasaan yang
ada pada kesadaran. Biasanya mimpi merefleksikan tujuan-tujuan yang dimiliki
seseorang dan masalah yang dihadapi dalam menggapainya. Jika seseorang tidak dapat
mengingat mimpinya, Adler akan meminta membayangkan. Fantasi seseorang akan
merefleksikan gaya hidup orang tersebut juga.
Adler juga menaruh perhatian pada bagaimana seseorang mengekspresikan
dirinya: Postur seseorang, gerak tubuh, bagaimana seseorang bergerak, yang kita sebut
sebagai bahasa tubuh. Selain itu Adler juga melihat pada factor eksogen, kejadian yang
memicu gejala. Ia memberikan sejumlah pemicu umum: masalah seksual, masalah
perempuan (kehamilan dan melahirkan, menstruasi atau menopause); kehidupan cinta;
pekerjaan/akademis; dan kematian atau kehilangan orang yang disayangi.
2014
12
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
DAFTAR PUSTAKA
Hall, C.S., Lindzey, G. & Campbell, J.B. (1998). Theories of Personality (4th ed.). New York: John
Wiley & Sons, Inc.
Diktat Psikologi Kepribadian. Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.
2014
13
Psikologi Kepribadian I
Yoanita Eliseba, M. Psi
Pusat Bahan Ajar dan eLearning
http://www.mercubuana.ac.id
Download