Uploaded by User60764

proposal revisi

advertisement
PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING UNTUK
MENINGKATKAN PROSESDAN HASIL BELAJAR
MATEMATIKADIKELAS IVSDN NO 40/VI
RANTAU PANJANG KECAMATAN TABIR
KABUPATEN MERANGIN
PROPOSAL PENELITIAN
Disusun Oleh:
EKA FITRIA MUSRAFA
NPM : 171014286206035
PROGRAM STUDI S1 PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
MUHAMMADIYAH MUARA BUNGO
2021
ii
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI .........................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ..............................................................
B. Identifikasi Masalah ....................................................................
C. Batasan Masalah..........................................................................
D. Rumusan Masalah .......................................................................
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ...................................................
BAB II LANDASAN TEORI
A. Kajian Teori ................................................................................
1. Hakikat Keterampilan Bercerita Dan Berbicara ...................
2. Karakteristik Keterampilan Bercerita Dan Berbicara ...........
3. Manfaat Keterampilan Bercerita Dan Berbicara ...................
B. Media...........................................................................................
1. Pengertian Media ..................................................................
2. Media Gambar .......................................................................
C. Pembelajaran Bahasa Indonesia ..................................................
1. Perbedaan Pembelajaran dan Pengajaran .............................
2. Teori Belajar .........................................................................
3. Jenis-Jenis Belajar ................................................................
D. Kerangka Berfikir........................................................................
E. Penelitian Yang Relevan .............................................................
F. Hipotesis Tindakan......................................................................
BAB III METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian ............................................................................
B. Subjek Penelitian.........................................................................
C. Desain Penelitian .........................................................................
D. Data dan Tenik Pengumpulan Data.............................................
E. Instrumen Penelitian....................................................................
F. Reduksi Data ...............................................................................
G. Kriteria Keberhasilan Tindakan ..................................................
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................
i
1
6
7
7
8
10
10
19
27
28
28
32
37
38
39
40
43
45
47
48
50
50
54
54
59
59
60
3
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan segala daya upaya dan semua usaha untuk membuat masyarakat dapat
mengembangkan potensi manusia agar memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
berkepribadian, memiliki kecerdasan, berakhlak mulia, serta memiliki keterampilan yang diperlukan sebagai
anggota masyarakat dan warga negara. Di sampimg itu pendidikan merupakan usaha untuk membentuk
manusia yang utuh lahir dan batin cerdas, sehat, dan berbudi perkerti luhur.
Pendidikan mampu membentuk kepribadian melalui pendidikan lingkungan yang bisa dipelajari
baik secara sengaja maupun tidak. Pendidikan juga mampu membentuk manusia itu memiliki disiplin,
pantang menyerah, tidak sombong, menghargai orang lain, bertaqwa, dan kreatif, serta mandiri. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa pendidikan baik sengaja maupun tidak, akan mampu membentuk
kepribadian manusia yang matang dan wibawa secara lahir dan batin, menyangkut keimanan, ketakwaan,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.
pembelajaran Matematika di SD merupakan salah satu kajian yang selalu menarik untuk dikemukakan.
model pembelajaran Matematika yang berkembang didasarkan pada teori-teori belajar. hakikat dari teoriteori belajar yang sesuai dengan pembelajaran matematika perlu dipahami sungguh-sungguh sehingga tidak
keliru dalam penerapannya. teori-teori pembelajaran itu menjadi tidak berguna jika tidak dipahami dengan
baik. matematika sebagai salah satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang cukup pesat baik materi
maupun kegunaannya sehingga konsep dasar matematika harus dikuasai oleh anak didik sejak dini yang
akhirnya terlampil dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, Karena sangat penting kegunaan dan
fungsinya. mata pelajaran matematika perlu diberikan kepada semua perserta didik dengan kemampuan
berpikir secara logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan berkerja sama dengan
kelompoknya.
Kemampuan tersebut diperlukan agar perserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola
dan memanfaatka informasi yang berpadu pada ilmu pengetahuan dan informasi.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada Tanggal 1-3 Desember 2020 di kelas IV SD
Negeri No 40/IV Rantau Panjang Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin. Diketahui bahwa terdapat
beberapa kendala dalam pelaksanaan pembelajaran Matematika. Diantaranya kurangnya antusias peserta
1
4
didik untuk belajar karena bosan dalam pembelajaran. Hal ini dapat dilihat dari sikap peserta didik yang
melakukan aktivitas lain yang lebih menarik dari pada belajar seperti ribut atau mengganggu teman
lainnya yang sedang fokus belajar sehingga suasana kelas tidak kondusif. Selain itu hasil belajar
Matematika peserta didik kelas IV di SD tersebut masih tergolong rendah.
Hal ini dapat dilihat dari kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang diterapkan untuk mata
pelajaran Matematika adalah 70. Guru juga belum menerapkan model pembelajaran yang tepat dalam
pembelajaran, masih menggunakan model ceramah, sehingga peserta didik merasa bosan. peneliti
menduga pembelajaran yang dilaksanakan selama ini kurang menarik perhatian peserta didik karena
pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode pembelajaran yang tidak menarik hal ini yang
menyebabkan rendahnya hasil belajar Matematika peserta didik.
Berikut tabel daftar nilai peserta didik kelas IV SD Negeri No 40/VI Rantau Panjang Kecamatan
Tabir Kabupaten Merangin, yang didapatkan dari wali kelasnya, yang bernama Arlena S.Pd.
Tabel 1 Nilai hasil Mid Semester peserta didik Mata Pelajaran MTK kelas IV SDN 40/VI
Rantau panjang Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin.
NO
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
NAMA
AB
AK
AN
DS
DO
FI
FS
EO
JM
KA
MR
MS
MS
NA
PNU
RDP
SP
SIL
SAB
KKM
PKn
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
70
NILAI
TUNTAS
50
80
75
50
75
60
60
40
70
80
75
40
40
45
30
75
40
60
60
T
T
T
T
T
T
T
-
TIDAK
TUNTAS
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
TT
5
20.
21.
22.
23.
24.
SMR
JD
YF
YL
ZA
Jumlah
Rata-rata
Nilai Tertinggi
Nilai terendah
Peserta didik Tuntas
Peserta didik Tidak
Tuntas
KKM
70
70
70
70
70
80
65
65
60
80
1.455
60.63
80
30
9
15
T
T
TT
TT
TT
-
37,5%
62,5%
70
Sumber: Dokumentasi Mid Semester guru kelas IV.
Berdasarkan tabel 1.1 di atas diketahui bahwa pada kelas IV dengan jumlah peserta didik secara
keseluruhan sebanyak 24 orang dan dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 70, jumlah
peserta didik yang tuntas yaitu 9 peserta didik (37,5%), sedangkan peserta didik yang belum tuntas 15
peserta didik (62,5%).
Upaya untuk mengatasi hal tersebut diperlukan model pembelajaran yang dapat meningkatkan
peserta didik aktif dalam meningkatkan proses dan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran
Matematika dengan menggunakan model Problem Based Learning (PBL) adalah salah satu model
pembelajaran yang betul-betul mengoptimalisasikan kemampuan berpikir perserta didik dengan proses
kerja kelompok yang sistematis sehinggan perserta didik dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan
mengembangkan kemampuan berpikirnya secara berkesinambungan Menurut Rusman 2016:145
(Octaviana 2018:10).
Menurut Barrow (Murfiah 2017:143) Menyatakan bahwa “pembelajaran berbasis masalah
Problem Based Learning
(PBL) sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju
pemahaman akan resolusi suatu masalah. Menurut Kemendikbud 2016 (Suherti, E & Rohiman, S.M
2016:61) menyatakan Problem Based Learning adalah pembelajaran yang menggunakan masalah nyata
dalam kehidupan sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka untuk diselesaikan oleh perserta didik untuk
6
mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan menyelesaikan masalah, keterampilan sosial,
keterampilan untuk belajar mandiri, dan membangun atau memperoleh pengetahuan baru.
Proses pembelajaran Matematika yang dirasa sulit dan membosankan dapat dirubah menjadi
pelajaran yang menyenangkan karena dengan model Problem Based Learning (PBL) siswa lebih
memahami isi materi pembelajaran sebab kegiatan pembelajaran melibatkan siswa secara aktif untuk
membangun dan menemukan sendiri pengetahuan yang dimilikinya hal ini akan membuat siswa proses
dan hasil belajarnya akan meningkat serta menyenangkan. Berdasarkan pendapat para ahli dapat
disimpulkan bahwa model Problem Based Learning (PBL) pembelajaran yang berbasis masalah dalam
model ini perserta didik belajar untuk memecahkan suatu masalah atau tantangan di dunia nyata melalui
tahapan-tahapan pembelajaran.
Berdasarkan latar belakang masalah penulis mengambil judul “penerapan model Problem Based
Learning (PBL) untuk menigkatkan proses dan hasil belajar Matematika di kelas IV SD Negeri No 40/VI
Rantau Panjang Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka dapat di
identifikasikan beberapa permasalahan yang terjadi pada perserta didik kelas IV di SD Negeri 4/VI
Rantau Panjang kecamatan Tabir Kabupaten Merangin:
1.
Hasil belajar perserta didik masih rendah sehingga masih ada yang belum mencapai KKM.
2.
Pembelajaran matematika masih dianggap sulit bagi perserta didik.
3.
Dalam menerapkan model pembelajaran pendidik kurang berinovasi dan kratif.
4.
Pendidikan belum pernah menerapkan pembelajaran menggunakan PBL model problem based
learning.
C. Batasan Masalah
7
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dijelaskan, maka penelitian dilakukan pembatasan
masalah atau fokus penelitian yaitu pada masalah proses dan hasil belajar perserta didik pada mata
pelajaran matematika, sehingga perlu dilaksanakan pembelajaran menggunakan model PBL problem
based learning pada perserta didik kelas IV SD Negeri 40/VI Rantau Panjang kecamatan Tabir
Kabupaten Merangin.
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas maka peneliti dapat merumuskan masalah dalam penelitian
ini yaitu:
1.
Bagaimana peningkatan proses belajar matematika menggunakan model problem based learning
PBL pada perserta didik kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 40/VI Rantau Panjang Kecamat Tabir
Kabupaten Merangin?
2.
Bagaimaa peningkatan hasil belajar matematika menggunakan model PBL problem based learning
pada perserta didik kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 40/VI Rantau Panjang Kecamat Tabir
Kabupaten Merangin?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah maka tujuan yang ingin dicapai peneliti dalam penelitian ini
adalah :
1.
Untuk mendeskripsikan proses belajar matematika menggunakan model PBL problem based
learning pada perserta didik kelas kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 40/VI Rantau Panjang Kecamat
Tabir Kabupaten Merangin.
2.
Untuk mendeskripsikan peningkatan hasil belajar matematika menggunakan model PBL problem
based learning pada perserta didik kelas kelas IV di Sekolah Dasar Negeri 40/VI Rantau Panjang
Kecamat Tabir Kabupaten Merangin..
8
F. Manfaat Penelitian
Hasil pemikiran ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang
menyelenggarakan pendidikan dan memberikan manfaat, manfaat penelitian terbagi 2 yaitu manfaat
teoritis dan praktis sebagai berikut :
1.
Manfaat Teoritis
Secara teoritik, penelitian ini dapat membantu perkembangan pengetahuan khususnya yang
terkait dengan hasil belajar siswa dan penerapan model problen based learning dalam pembelajaran
matematika.
2.
Manfaat Praktis
a.
Bagi Guru Matematika
Memberikan pembelajaran alternatif yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran
khususnya matematika dalam rangka meningkatkan proses dan hasil belajar matematika siswa.
b.
Bagi siswa
Penerapan model problem based learning diharapkan dapat melatih siswa menjadi lebih
baik dan meningkatkan kemauan serta hasil belajar siswa pada mata pelajaran matematika.
c.
Bagi Sekolah
Penerapan model problem based learning akan membantu dalam perbaikan dan
peningkatan pembelajaran matematika yang aktif dan terpusat pada siswa, serta pembaharuan
pendidikan matematika di sekolah tersebut.
d.
Bagi Mahasiswa
Manfaat yang dapat diambil bagi mahasiswa dari penelitian ini adalah untuk
mengembangkan wawasan tentang pembelajaran menggunakan model problem based learning
9
delam meningkatkan proses dan hasil belajar siswa. Selain itu, hasil penelitian ini juga dapat
digunakan sebagai syarat memperoleh gelar sarjana.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Kajian Teori
1. Proses dan Hasil Belajar Siswa
a.
Pengertian Pembelajar
Pendidikan merupakan salah satu cara seseorang untuk mewujudkan cita-cita atau
impiannya. Pendidikan tidak lepas dari kata belajar, karena dengan pendidikan seseorang akan
belajar banyak hal, baik berupa perilaku, sikap, maupun keterampilan. Dengan ini di bawah
akan membahas belajar menurut teori.
Menurut Murfiah, U (2017:1) mengatakan bahwa belajar merupakan kata kunci untuk
menghantar manusia agar menjadi manusia yang berkualitas. Dengan belajar yang berkualitas,
manusia bisa memainkan peran kemanusiaannya dengan berhasil, melalui proses belajar agar
dapat membangun proses peradaban yang tinggi.
Menurut Majid, A (2014:15) menyatakan “ belajar pada hakikatnya merupakan proses
perubahan di dalam kepribadian yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, dan kepandaian”.
Pendapat Majid berbeda dengan pendapat Murfiah. Perbedaannya adalah menurut Murfiah
belajar merupakan sebagai kunci untuk menghantar manusia agar menjadi berkualitas,
sedangkan menurut Majid belajar merupakan proses perubahan kepribadiaan seseorang seperti
sikap, kebiasaan, dan kepandaian.
10
Selain itu Skinner (Hanafi, 2014:68) berpendapat “belajar adalah menciptakan kondisi
peluang dengan penguatan (reinforcement), sehingga individu akan bersungguh-sungguh dan
lebih giat belajar dengan adanya ganjaran (funnistment) dan pujian (reward) dari guru atas
hasil belajarnya”.
Menurut (Rahmayanti, V, 2013:212) menyatakan “Belajar adalah suatu aktivitas yang
mengharapkan perubahan tingkah laku pada diri individu yang belajar”.
Perubahan tingkah laku terjadi karena usaha individu yang bersangkutan. Teori ini
hampir sama dengan yang dikemukakan oleh Majid, karena menurut mereka belajar itu
merupakan proses perubahan perilaku yang diakibatkan oleh pengalaman. Menurut Hamalik
(Susanto, 2013:4) menyatakan “Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu
atau seseorang melalui interaksi dengan lingkungannya”. Perubahan tingkah laku ini
mencakup perubahan
dalam kebiasaan (habit), sikap
(afektif),
dan keterampilan
(psikomotorik).Perubahan tingkah laku dalam kegiatan belajar disebabkan oleh pengalaman
atau latihan.
Dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa belajar adalah proses yang aktif
untuk memahami hal-hal baru dengan pengetahuan yang kita miliki. Di sini terjadi
penyesuaian dari pengetahuan yang sudah kita miliki dengan pengetahuan baru.Dengan kata
lain, ada tahap evaluasi terhadap informasi yang didapat, apakah pengetahuan yang kita miliki
masih relevan atau kita harus memperbarui pengetahuan kita sesuai dengan perkembangan
zaman.
b.
Tujuan Belajar
Proses belajar seseorang berbeda-beda, tergantung dari apa yang ingin mereka pelajari
dan tujuan dari mereka belajar itu apa. Dengan ini di bawah akan membahas tujuan belajar
menurut teori.
Menurut (Agustina, R, 2016:16) mengemukakan tujuan belajar sebagai berikut :
11
1.
Belajar bertujuan mengadakan perubahan di dalam diri antara lain tingkah laku. Misalnya
seorang anak kecil yang belum memasuki sekolah bertingkah laku cengeng, takut,
pendiam.Kemudian setelah beberapa bulan masuk sekolah dasar, tingkah lakunya berubah
menjadi anak yang tidak lagi cengeng, menjadi lebih berani dalam berinteraksi dengan
teman, dan dapat bergaul bersama temannya.Hal ini dapat menunjukkan bahwa tersebut
telah belajar dari lingkungan yang baru.
2.
Belajar bertujuan mengubah kebiasaan, dari yang buruk menjadi baik. Contohnya
mengubah kebiasaan mabuk-mabukan menjadi tidak mabuk-mabukan, kebiasaan
merokok menjadi tidak merokok, menghilangkan ketergantungan pada obat-obatan
terlarang, kebiasaan ini dapat dilakukan dengan suatu proses belajar.
3.
Belajar bertujuan untuk mengubah sikap dari negatif menjadi positif, tidak hormat
menjadi hormat, benci menjadi sayang, dan sebagainya. Misalnya seorang remaja yang
tadinya selalu melawan orangtuanya menjadi lebih patuh.
4.
Belajar bertujuan untuk meningkatkan keterampilan atau kecakapan. Misalnya dalam hal
olahraga, seorang yang terampil bermain sepak bola sebagian besar ditentukan oleh
ketekunan belajar dan latihan yang sungguh-sungguh.
5.
Belajar bertujuan untuk menambah pengetahuan dalam berbagai bidang ilmu. Misalnya
seorang..anak yang tadinya tidak bisa berhitung, menjadi bisa karena belajar.
Menurut
Dimyati&
Mujiono,
2012:23
(Agustina, R, 2016:17) “tujuan belajar
penting bagi guru dan siswa sendiri”. Dalam desain instruksional guru merumuskan”tujuan
instruksional khusus atau sasaran belajar siswa.Menurut Suprijono, A, 2014:5 (Agustina, R,
2016:17) “tujuan belajar adalah tujuan belajar sangat banyak dan bervariasi, tujuan belajar ada
yang eksplisit dan ada yang berbentuk instruksional”.Tujuan ini merupakan konsekuensi logis
dari peserta didik menghidupi suatu sistem lingkungan belajar tertentu.
Dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa tujuan belajar merupakan sesuatu
12
yang ditetapkan untuk dapat merubah kebiasaan yang ada pada diri orang tersebut, yang
tadinya memiliki sikap kurang baik menjadi lebih baik, yang kurang disiplin menjadi lebih
disiplin.
2.
Hasil Belajar
a.
Pengertian Hasil Belajar
Menurut Suprijono, Agus, 2014:5 (Agustina, R, 2016:18) hasil belajar adalah polapola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi, dan keterampilan.
Menurut Rusman (2015:67) menyatakan ”Hasil Belajar adalah sejumlah pengalakman
yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik”. Belajar tidak
hanya penguasaan konsep teori mata pelajaran saja, tetapi juga penguasaan kebiasaan,
persepsi, kesenangan, minat-bakat, penyesesuaian sosial, macam-macam keterampilan, citacita, keinginan dan harapan.
Menurut Sudjana, 1989:39 (Susanto, 2016:15) menyatakan
“hasil belajar yang
dicapai oleh siswa dipengaruhi oleh dua faktor utama, yakni faktor dalam diri siswa dan faktor
yang datang dari luar diri siswa atau factor lingkungan”. Faktor yang datang dari diri siswa
terutama kemampuan yang dimilikinya. Faktor kemampuan siswa besar pengaruhnya terhadap
hasil belajar siswa.
Menurut Nasution, 1982:25 (Supardi, 2015:2) menyatakan
“keberhasilan belajar
adalah suatu perubahan yangterjadi pada individu yang belajar, bukan saja perubahan
mengenai pengetahuan, tetapi juga pengetahuan untuk membentuk kecakapan, kebiasaan,
sikap, pengertian, penguasaan, dan penghargaan dalam diri individu yang belajar”.
Dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa hasil belajar merupakan hasil yang
diperoleh peserta didik setelah terjadinya proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan nilai
tes yang diberikan oleh guru setiap selesai memberikan materi pelajaran pada satu pokok
bahasan dan memberikan perubahan dalam prilaku peserta didik.
13
b.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Slameto, 2003:54 (Pratiwi, 2018:12) faktor yang mempengaruhi hasil belajar
adalah :
1.
Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa)
a) Faktor jasmaniah yang berkenaan dengan faktor kesehatan dan cacat tubuh.
b) Faktor psikologis yang berkenaan dengan intelegensi, bakat motivasi dan
kematangan.
c) Faktor kesiapan, yang berkenaan dengan kesiapan jasmani dan rohani.
2.
Faktor Eksternal (faktor dari luar diri siswa)
a.
Faktor keluarga yang berkenaan dengan cara orang tua mendidik, hubungan antar
anggota keluarga suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga.
b.
Faktor sekolah yang berkenaan dengan metode mengajar, kurikulum, relasi guru
dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu
sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas
rumah.
c.
Faktor masyarakat yang berkenaan dengan kesiapan siswa dalam masyarakat,
media, teman bergaul dan bentuk kehidupan dalam masyarakat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar menurut Munadi, 2008:24
(Rusman, 2015:67) meliputi faktor internal dan eksternal, yaitu :
1) Faktor internal
a) Faktor fisiologis. Secara umum kondisi fisiologis, seperti kondisi kesehatan yang
prima, tidak dalam keadaan lelah dan capek, tidak dalam keadaan cacat jasmani
dan sebagainya.
14
b) Faktor psikologis. Setiap individu dalam hal ini siswa pada dasarnya memiliki
kemapuan psikologis yang berbeda-beda, tentunya hal ini turut mempengaruhi
hasil belajarnya. Beberapa faktor intelektual (IQ), perhatian, minat, bakat, motif,
motivasi, kognitif dan nalar siswa.
2) Faktor eksternal
a) Faktor lingkungan. Faktor lingkungan dapat memengaruhi hasil belajar. Faktor
lingkungan ini meliputi lingkungan fisik dan lingkungan sosial, lingkungan alam
misalnya suhu, kelembaban dan lain-lain.
b) Faktor instrumental. Faktor-faktor instrumental adalah faktor yang keberadaan
dan penggunaannya dirancang sesuai dengan hasil belajar yang diharapkan.
Dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa faktor yang mempengaruhi hasil
belajar yaitu faktor yang berasal dari dalam diri peserta didik yang berhubungan dengan
kesiapan jasmani dan rohani,sedangkan faktor yang berasal dari luar yaitu hubungan antar
keluarga.
3.
Indikator Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dikatakan berhasil apa bilamencapai indikator dan tujuan suatu
pembelajaran,
hasil
belajar
siswa
dapat dilihat dari aspek pengetahuan, sikap, dan
keterampilan. Dalam system pendidikan nasional rumusan tujuan pendidikan, baik tujuan kulikuler
maupun tujuan intruksional, menggunakan klasifikasi hasil belajar dari
Bloom (Sudjana, 2016:22) yang secara garis besar membaginya dalam tiga ranah yaitu:
a.
Aspek kognitif penggolongan tujuan ranah kognitif oleh Bloom, mengemukakan adanya 6
(enam) kelas/tingkat yakni:
1) Pengetahuan, dalam hal ini siswa diminta untuk mengingat kembali satu atau lebih dari
fakta-fakta yang sederhana.
2) Pemahaman, yaitu siswa diharapkan mampu untuk membuktikan bahwa ia memahami
15
hubungan yang sederhana di antara fakta-fakta atau konsep.
3) Penggunaan / penerapan, disini siswa dituntut untuk memiliki kemampuan untuk
menyeleksi atau memilih generalisasi/ abstraksi tertentu (konsep, hukum, dalil, aturan,
cara) secara tepat untuk diterapkan dalam suatu situasi baru dan menerapkannya secara
benar.
4) Analisis, merupakan kemampuan siswa untuk menganalisis hubungan atau situasi yang
kompleks atau konsep-konsep dasar.
5) Sintesis, merupakan kemampuan siswa untuk menggabungkan unsur-unsur pokok ke
dalam struktur yang baru.
6) Evaluasi, merupakan kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan dan kemampuan
yang telah dimiliki untuk menilai suatu kasus.
b.
Aspek Afektik
Tujuan ranah afektif berhubungan denga hierarki pehatian, sikap, penghargaan, nilai,
perasaan, dan emosi. Kratwohl, Bloom, dan Masia mengemukakan taksonomi tujuan ranah
kognitif meliputi 5 kategori yaitu menerima, merespon, menilai, mengorganisasi, dan
karakterisasi.
c.
Aspek Psikomotorik
Tujuan ranah psikomotorik berhubungan dengan keterampilan motorik, manipulasi
benda atau kegiatan yang memerlukan koordinasi saraf dan koordinasi badan. Kibler, Barket,
dan Miles mengemukakan taksonomi ranah psikomotorik meliputi gerakan tubuh yang
mencolok, ketepatan gerakan yang dikoordinasikan,perangkat komunikasi nonverbal, dan
kemampuan berbicara.
Menurut Djamarah (Supardi, 2015:5) untuk mengetahui keberhasilan belajar dapat
dilihat dari daya serap siswa dan perilaku yang tampak pada siswa.
1) Daya serap yaitu tingkat penguasaan bahan pelajaran yang disampaikan oleh guru dan
16
dikuasai oleh siswa baik secara individual atau kelompok.
2) Perubahan dan pencapaian tingkah laku sesuai yang digariskan dalam kompetensi dasar
atau indikator belajar mengajar dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bias menjadi bisa
dari tidak kompeten menjadi kompeten.
Adapun menurut Moore, 2014 (Ricardo, 2017:85), ketiga ranah hasil belajar tersebut
dijabarkan sebagai berikut:
1) Ranah kognitif, yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, penciptaan, dan
evaluasi.
2) Ranah afektif, yaitu penerimaan, menjawab, penilaian, organisasi, dan penentuan ciri-ciri
nilai.
3) Ranah psikomotorik, yaitu fundamental movement, generic movement, ordinative
movement, dan creative movement.
Berdasarkan teori yang dikemukakan oleh Bloom dapat disimpulkan bahwa
indikator yang digunakan untuk melihathasil belajarpesertadidikpadapenelitian ini yaitu
menggunakanranah kognitif, afektif, dan psikomotor. Rinciannya sebagai berikut:
1) Pengetahuan, dalam hal ini peserta didik diminta untuk mengingat kembali satu atau lebih
dari fakta-fakta yang sederhana.
2) Pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran matematika.
3) Penerapan kemampuan yang tepat untuk memilih konsep dalam menyelesaikan
pembelajaran.
4) Evaluasi, merupakan kemampuan siswa untuk menerapkan pengetahuan dan kemampuan
yang telah dimiliki untuk menilai suatu kasus.
5) Kemampuan untuk menyelesaikan soal yang diberikan oleh pendidik.
6) Kemampuan dalam merespon materi pembelajaran yang telah dipelajari.
4.
Model Pembelajaran Problem Based Learning
17
a.
Pengertian Model Pembelajaran Problem Based Learning
Menurut Rusman, 2016:145 (dalam Octaviana, 2018:10) menyatakan bahwa problem
based learning sebagai salah satu inovasi pembelajaran yang betul-betul mengoptimalisasikan
kemampuan berpikir peserta didik dengan proses kerja kelompok yang sistematis sehingga
peserta didik dapat memberdayakan, mengasah, menguji dan mengembangkan kemampuan
berpikirnya secara berkesinambugan.
Menurut Barrow (Murfiah, 2017:143) menyatakan “Pembelajaran berbasis masalah
(PBM) sebagai pembelajaran yang diperoleh melalui proses menuju pemahaman akan resolusi
suatu masalah”.
Menurut Mulyasa, E., Iskandar, D & Aryani, W.D (2016:132) menyatakan sebagai
berikut:
Pembelajaran berbasis masalah (problem based learning/PBL) merupakan sebuah
pendekatan pembelajaran yang menyajikan masalah kontekstual untuk merangsang peserta
didik belajar. PBL merupakan model pembelajaran yang dirancang secara inovatif dan
revolusioner agar peserta didik mendapat pengetahuan penting yang membuat mereka mahir
dalam memecahkan masalah, dan memiliki model belajar sendiri serta memiliki kecakapan
berpartisipasi dalam tim. Proses pembelajarannya menggunakan pendekatan yang sistemik
untuk memecahkan masalah atau menghadapi tantangan yang diperlukan dalam kehidupan
sehari-hari.
Menurut Kemendikbud 2016 (Suherti, E & Rohimah, S.M, 2016:61) menyatakan
sebagai berikut:
Pengertian Problem Based Learning adalah pembelajaran yang menggunakan masalah
nyata dalam kehidupan sehari-hari (otentik) yang bersifat terbuka (open-ended) untuk
diselesaikan oleh peserta didik untuk mengembangkan keterampilan berpikir, keterampilan
menyelesaikan masalah, keterampilan sosial, keterampilan untuk belajar mandiri, dan
18
membangun atau memperoleh pengetahuan baru.
Menurut Sanjaya (2014:214) menyatakan “Strategi Pembelajaran berbasis masalah
dapat diartikan sebagai rangkaian aktivitas pembelajaran yang menekankan kepada proses
penyelesaian masalah yang dihadapi secara ilmiah”.
Dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa modelpembelajaran Problem Based
Learning adalah model pembelajaran yangberbasis masalah. Dalam model ini peserta didik
belajar untuk memecahkan suatu masalah atau tantangan di dunia nyata melalui tahapantahapan pembelajaran.
Model pembelajaran Problem Based Learning merupakan suatu strategi pembelajaran
yang menggunakan masalah sebagai suatu konteks bagi peserta didik untuk belajar tentang
cara berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan suatu permasalahan.
Model pembelajaran berbasis masalah dapat melatih peserta didik untuk belajar
bagaimana ia bisa menemukan solusi dari permasalahan tersebut.Dengan ini peserta didik
dapat langsung terlibat dalam memecahkan masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah
sehingga peserta didik dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah
tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah.
b.
Karakteristik Model Pembelajaran Problem Based Learning
Menurut Maryati, I (2018:66) menyatakan karakteristik Problem Based Learning
sebagai berikut:
1) Belajar dimulai dengan satu masalah.
2) Memastikan bahwa masalah tersebut berhubungan dengan dunia nyata siswa.
3) Mengorganisasikan pelajaran seputar masalah, bukan seputar disiplin ilmu.
4) Memberikan tanggung jawab yang besar kepada siswa dalam membentuk dan
menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri.
5) Menggunakan kelompok kecil.
19
6) Menuntut siswa untuk mendemonstrasikan yang telahmereka pelajari dalam bentuk
produk atau kinerja.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik model pembelajaran
berbasis masalah ini merupakan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yang di mana
pendidik hanya sebagai fasilitator. Pendidik memberikan konsep dasar kepada peserta didik,
kemudian pendidik menyampaikan masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik, setelah
itu peserta didik mencari solusi dari masalah tersebut, setelah itu peserta didik berdiskusi
bersama teman-temannya dan didampingi oleh pendidik. Pendidik berperan sebagai
mengawasi jalan diskusi dan meluruskan jawaban yang kurang tepat.
c.
Langkah-langkah Model Pembelajaran Problem Based Learning
Menurut Huda, 2015:272 (Murfiah, 2017:144) menyatakan bahwa sintaks operasional
PBL bisa mencakup antara lain sebagai berikut:
1) Pertama-tama siswa disajikan suatu masalah.
2) Siswa mendiskusikan masalah dalam tutorial PBL dalam sebuah kelompok kecil. Mereka
mengklarifikasi fakta-fakta suatu kasus, kemudian mendefinisikan suatu masalah. Mereka
membrain storming gagasan-gagasannya dengan berpijak pada pengetahuan sebelumnya.
Kemudian, mereka mengidentifikasi apa yang mereka butuhkan untuk menyelesaikan
masalah serta apa yang tidak mereka ketahui. Mereka menelaah masalah tersebut. Mereka
juga mendesain suatu rencana tindakan untuk menggarap masalah.
3) Siswa terlibat dalam studi independen untuk menyelesaikan masalah di luar bimbingan
guru. Hal ini bisa mencakup, perpustakaan, database, website, masyarakat, dan observasi.
4) Siswa kembali pada tutorial PBL, lalu saling sharing informasi, melalui peer teaching
atau cooperative learning atas masalah tertentu.
5) Siswa menyajikan solusi atas masalah.
6) Siswa mereview apa yang mereka pelajari selama proses pengerjaan. Semua yang
20
berpartisipasi dalam proses tersebut terlibat dalam review pribadi, review berpasangan,
dan review berdasarkan bimbingan guru, sekaligus melakukan refleksi atas kontribusinya
terhadap proses. tersebut.
Menurut Mulyasa, E., Iskandar, D & Aryani, W.D (2016:234) mengemukakan bahwa
prosedur pembelajaran berbasis masalah adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Prosedur Pembelajaran Berbasis Masalah
Fase-fase
Fase 1
Orientasi peserta
pada masalah.
Fase 2
Mengorganisasikan
peserta didik.
didik
Perilaku Guru
Menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan
logistik yang dibutuhkan.
Memotivasi peserta didik untuk terlibat aktif
dalam pemecahan masalah yang dipilih.
Membantu peserta didik mendefinisikan dan
mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan
dengan masalah tersebut.
Fase 3
Mendorong peserta didik untuk mengumpulkan
Membimbing
informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen
penyelidikan
individu untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan
dan kelompok.
masalah.
Fase 4
Membantu peserta didik dalam merencanakan dan
Mengembangkan
dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan,
menyajikan hasil karya. model, dan berbagi tugas dengan teman.
Fase 5
Menegevaluasi hasil belajar/meminta kelompok
Menganalisis
dan presentasi hasil kerja.
mengevaluasi
proses
pemecahan masalah
21
Menurut (Priansa, D.J, 2015:190) mengemukakan langkah pokok dalam melaksanakan
pembelajaran pemecahan masalah adalah sebagai berikut:
1) Memahami Masalahnya. Masing-masing peserta didik mengerjakan latihan yang berbeda
dengan teman sebelahnya.
2) Menyusun Rencana Penyelesaian. Pada tahap ini peserta didik diarahkan untuk dapat
mengidentifikasi masalah, kemudian mencari cara yang tepat untuk menyelesaikan
masalah.
3) Melaksanakan Rencana Penyelesaian tersebut. Peserta didik dapat menyelesaikan masalah
dengan melihat contoh atau dari buku, dan bertanya pada pendidik.
4) Memeriksa Kembali Penyelesaian yang Telah Dilaksanakan. Peserta didik mengulang
kembali atau memeriksa jawaban yang telah dikerjakan, kemudian peserta didik bersama
pendidik dapat menyimpulkan dan dapat mempresentasikan di depan kelas.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah pembelajaran
problem based learning yaitu suatu tahapan untuk mencapai suatu pembelajaran. Langkah
pertama, pendidik memberikan suatu fenomena yang di mana peserta didik akan
mengobservasi masalah dari fenomena tersebut. Langkah kedua, pendidik menyampaikan
permasalahannya dan peserta didik diminta untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapatnya.
Langkah ketiga, peserta didik mencari solusi untuk memecahkan permasalahannya dari
berbagai sumber dan dibantu oleh pendidik dalam mengumpulkan informasi agar dapat
memecahkan permasalahan tersebut. Langkah keempat, peserta didik diminta untuk
menyajikan hasil dari suatu karya dalam bentuk laporan tertulis maupun nontulis. Langkah
kelima, peserta didik mengulas apa yang telah mereka pelajari selama proses pengerjaan.
Semua peserta didik yang berpartisipasi dalam proses tersebut diminta untuk mempresentasikan
hasil karya mereka berdasarkan bimbingan dari pendidik, sekaligus melakukan refleksi.
d.
Tujuan Model Pembelajaran Problem Based Learning
22
Adapun tujuan dari Model Pembelajaran Problem Based Learning menurut Trianto,
2017:94 (Octaviana, 2018:11) adalah sebagai berikut :
1) Membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan memecahkan
masalah.
2) Belajar peranan orang dewasa yang autentik.
3) Menjadi pembelajar yang mandiri.
Tujuan PBM adalah penguasaan isi belajar dari disiplin heuristic dan pengembangan
keterampilan pemecahan masalah PBM juga berhubungan dengan belajar tentang kehidupan
yang lebih luas (lifewide learning), keterampilan memaknai informasi, kolaboratif dan belajar
tim, dan keterampilan berpikir refleksi dan evaluatif, Rusman (2017:341). Menurut Sanjaya, W
(2014:216) menyatakan “tujuan yang ingin dicapai oleh strategi pembelajaran berbasis masalah
adalah kemampuan siswa untuk berpikir kritis, analitis, sistematis, dan logis untuk menemukan
alternatif pemecahan masalah melalui eksplorasi data secara empiris dalam rangka
menumbuhkan sikap ilmiah”.Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan model
pembelajaran problem based learning yaitu membantu peserta didik untuk mengembangkan
keterampilan dalam berpikir kritis, membantu peserta didik agar terampil dalam memecahkan
masalah, terampil dalam memaknai suatu informasi, dan bisa berdiskusi bersama temannya.
e.
Keunggulan Model Pembelajaran Problem Based Learning
Menurut Ibrahim, 2015:27 (Octaviana,2018:13) kelebihan model Problem Based
Learning yaitu sebagai berikut:
1) Siswa terlibat aktif dalam pembelajaran karena masalah yang menjadi fokus utama
pembelajaran membuat kegiatan belajar menjadi bermakna.
2) Orientasi pembelajaran adalah investasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah
pemecahan masalah, sehingga perhatian siswa terpusat pada masalah.
23
3) Pengetahuan bertahan lama, dapat diingat, bila dibandingkan dengan pengetahuan yang
diperoleh dengan sebagian model pembelajaran lain.
4) Dapat meningkatkan penalaran siswa dan kemampuan berpikir kritis.
5) Dapat membangkitkan keingintahuan siswa, memotivasi untuk bekerja secara tim sampai
menemukan solusi.
6) Menjadikan peserta didik lebih mandiri.
7) Dapat membuat pelajaran lebih luas dan konkrit.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa keunggulan model problem based
learning adalah model ini cukup bagus untuk peserta didik dalam memahami isi pelajaran,
dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik, model ini dapat membantu peserta
didik untuk mengembangkan
pengetahuan barunya, peserta didik mampu memecahkan
masalah dengan suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, model ini dapat
mengembangkan kemampauan berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan
mereka
guna beradabtasi dengan pengetahuan baru, bisa memberikan kesempakatan kepada peserta
didik agar dapat
mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam
mengembangkan minat peserta
didik
dunia nyata,bias
dan mengembangkan konsep belajar secara terus
menerus karena masalah tidak akan pernah selesai.
f.
Kelemahan Model Pembelajaran Problem Based Learning
Kelemahan/kekurangan model Problem Based Learning menurut Ibrahim, 2015:27
(Octaviana, 2018:13), yaitu sebagai berikut:
1) Kapasitas siswa yang banyak membuat guru sulit untuk menerapkan model ini karena
butuh perhatian dan bimbingan guru secara langsung selama penyelidikan.
2) Jika tidak disertai perencanaan yang matang, waktu akan terbuang sehingga pembelajaran
menjadi kurang efektif dan efisien.
24
3) Tidak semua siswa dapat memahami pembelajaran dengan menggunakan model ini jika
tidak disertai dengan petunjuk yang jelas dari guru.
Menurut Suyadi (2015:143) selain memiliki keunggulan, strategi pembelajaran berbasis
masalah juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya sebagai berikut:
1) Ketika peserta didik tidak memiliki minat tinggi, atau tidak mempunyai kepercayaan diri
bahwa dirinya mampu menyelesaikan masalah yang dipelajari, maka mereka cenderung
enggan untuk mencoba karena takut salah.
2) Tanpa pemahaman mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang
dipelajari, maka mereka tidak akan belajar apa yang mereka ingin pelajari. Artinya, perlu
dijelaskan manfaat menyelesaikan masalah yang dibahas pada peserta didik.
3) Proses pelaksanaan PBL membutuhkan waktu yang lebih lama atau panjang. Itupun belum
cukup, karena sering sekali peserta didik masih memerlukan waktu tambahan untuk
menyelesaikan persoalan yang diberikan. Padahal, waktu pelaksanaan PBL harus
disesuaikan dengan beban kurikulum yang ada.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kelemahan model problem based
learning yaitu apabila peserta didik tidak memiliki minat yang tinggi atau tidak mempunyai
kepercayaan diri bahwa ia mampu menyelesaikan masalah yang dipelajari, maka mereka akan
enggan untuk mencoba karena takut salah. Jumlah peserta didik yang banyak membuat
pendidik sulit dalam menerapakan model ini,karena butuh perhatian dan bimbingan pendidik
secara langsung. Tidak semua peserta didik bisa belajar dengan model ini jika tidak disertai
denganpetunjuk yang jelas dari pendidik. Proses pelaksanaan pembelajaran ini membutuhkan
waktu yang lebih lama, itupun belum tentu cukup, karena sering sekali peserta didik masih
memerlukan waktu untuk menyelesaikan persoalan yang diberikan oleh pendidik.Tanpa sebuah
pemahaman tentang mengapa mereka berusaha untuk memecahkan masalah yang dipelajari,
25
maka mereka tidak akan bias belajar apa yang ingin mereka pelajari, untuk itu pendidik perlu
menjelaskan maanfaat dari yang mereka pelajari.
g.
Pembelajaran Matematika di Sekolah Dasar
1) Pengertian Pembelajaran Matematika
Menurut Amir (2014:73) Pembelajaran matematika adalah proses pemberian
pengalaman belajar kepada peserta didik melalui serangkaian kegiatan yang terencana
sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan tentang matematika yang dipelajari,
cerdas,terampil, mampu memahami dengan baik bahan yang diajarkan.
Dapat disimpulkan dari pengertian di atas bahwa matematika merupakan salah
satu mata pelajaran yang setiap konsepnya harus disajikan dalam bentuk kongkret, agar
peserta didik memperoleh pengetahuan tentang matematika dengan baik. Pembelajaran
matematika tidak terlepas dari kehudipan sehari-hari, karena matematika memiliki
kegunaan yang praktis dalam kehidupan sehari-hari.
2) Tujuan Pembelajaran Matematika
Dalam dokumen Standar Kompetensi mata pelajaran matematika untuk satuan SD
dan MI pada kurikulum 2006 (Amir,2014:76) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran
matematika adalah:
a) Memahami konsep bilangan bulat dan pecahan, operasi hitung dan sifat-sifatnya, serta
menggunakan dalam pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.
b) Memahami bangun datar dan bangun ruang sederhana, unsur-unsur dan sifat-sifatnya,
serta menerapkannya dalam pemecahan masalah kehidupan sehari-hari.
c) Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu,
kecepatan, debit, serta mengaplikasikan dalam pemecahan masalah sehari-hari.
d) Memahami konsep ukuran dan pengukuran berat, panjang, luas, volume, sudut, waktu,
kecepatan, debit, serta mengaplikasikan dalam pemecahan masalah sehari-hari.
26
e) Memahami konsep pengumpulan data, penyajian data dengan tabel, gambar dan grafik
(diagram), mengurutkan data, rentangan data, rerata hitung, modus, serta
menerapkannya dalam pemecahan masalah sehari-hari.
f)
Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan.
g) Memiliki kemampuan berpikir logis, kritis, dan kreatif.
Dapat disimpulkan dari pendapat di atas bahwa tujuan pembelajaranmatematika
yaitu memahami konsep matematika,menjelaskan
mengaplikasikan
keterkaitan
antar
konsep
dan
konsep.Memecahkan masalah dengan cara memahami masalah,
mengomunikasikan masalah dengan simbol, tabel, diagram, agar bisa memperjelas
masalah. Memiliki sikap menghargai matematika dan kegunaannya dalam kehidupan
h.
Ciri-ciri Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar
Dalam Amir (2014:76) menyatakan bahwa ciri-ciri pembelajaran matematika SD adalah
sebagai berikut:
1) Pembelajaran matematika menggunakan metode spiral Pendekatan spiral dalam
pembelajaran matematika merupakan pendekatan yang selalu menghubungkan suatu topik
sebelumnya yang menjadi prasyarat untuk mempelajari topik matematika berikutnya.
Topik baru yang dipelajari merupakan pendalaman dan perluasan dari topik sebelumnya.
Pemberian konsep dimulai dengan benda-benda konkrit kemudian konsep itu diajarkan
kembali dengan bentuk pemahaman yang lebih abstrak dengan menggunakan notasi yang
lebih umum digunakan dalam matematika.
2) Pembelajaran matematika bertahap Materi pelajaran matematika diajarkan secara bertahap
yaitu dimulai dari konsep yang sederhana, sampai kepada konsep yang lebih sulit. Selain
itu pembelajaran matematika dimulai dari yang konkret, dilanjutkan ke semi konkret dan
akhirnya menuju konsep abstrak.
27
3) Pembelajaran matematika menggunakan metode induktif Matematika merupakan ilmu
deduktif. Namun karena sesuai tahap perkembangan mental siswa maka pada pembelajaran
matematika di SD digunakan pendekatan induktif. Contoh: Pada materi bangun datar dan
bangun ruang. Pengenalannya tidak dimulai dari definisi, tetapi dimulai dengan
memperhatikan contoh-contoh dari bangun tersebut dan mengenal namanya. Menentukan
sifat-sifat yang terdapat pada bangun tersebut sehingga didapat pemahaman konsepnya.
4) Pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi Kebenaran matematika
merupakan kebenaran yang konsisten artinya tidak ada pertentangan antara kebenaran yang
satu dengan kebenaran yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar jika didasarkan
kepada pernyataan-pernyataan sebelumnya yang telah diterima kebenarannya.
5) Pembelajaran matematika hendaknya bermakna Pembelajaran secara bermakna merupakan
cara mengajarkan materi pelajaran yang mengutamakan pengertian daripada hafalan.
Dalam pembelajaran bermakna siswa mempelajari matematika mulai dari proses
terbentuknya suatu konsep kemudian berlatih menerapkan dan memanipulasi konsep
konsep tersebut pada situasi baru. Dengan pembelajaran seperti ini, siswa terhindar dari
verbalisme. Karena dalam setiap hal yang dilakukannya dalam kegiatan pembelajaran ia
memahaminya mengapa dilakukan dan bagaimana melakukannya. Oleh karena itu akan
tumbuh kesadaran tentang pentingnya belajar.
B. Penelitian Yang Relevan
Beberapa penelitian yang terkait dengan model Problem Based Learning terhadap kemampuan
metakognitif siswa diantaranya :
1. Penelitian yang dilakukan oleh Sastriani, 2017 dengan judul “Pengaruh
Model Pembelajaran Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar
IPA Siswa Kelas V SDN Gugus Wijaya Kusuma Ngaliyan Semarang”
28
Tahun 2017, menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan hasil belajar IPA,
dibandingkan dengan penggunaan model pembelajaran sebelumnya yaitu
model konvensional. Hal ini ditunjukkan dengan perolehan hasil belajar
siswa pada Siklus I dengan rata-rata nilai 65,95 dan persentase ketuntasan
66,67%. Siklus II dengan rata-rata 72,73 dan persentase ketuntasan
78,57%. Siklus III dengan nilai rata-rata 75,35 dan persentase ketuntasan
88,09%.
2. Penelitian yang dilakukan oleh Fajar Puji Hardono, Siti Istiyati, Idam
Ragil Widianto Admojo, 2016 dengan judul “Penerapan Model
Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) untuk Meningkatkan
Keterampilan Proses IPA pada Siswa Sekolah Dasar”, menunjukkan
bahwa Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukakan sebanyak tiga
siklus pada pembelajaran IPA dengan menerapkan model pembelajaran
Problem Based Learning (PBL) dapat meningkatkan ketrampilan proses
IPA pada siswa kelas IV SD Negeri Karanganyar Tahun Ajaran 2016/
2017. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya nilai ketrampilan proses
IPA, pada ketrampilan mengamati dari 33 siswa sudah mencapai
indikator kinerja penelitian cukup terampil (75-84) sejumlah 32 siswa
atau 99,96% dan pada keterampilan mengomunikasikan juga mencapai
96,96% atau 32 siswa dari 33 siswa sudah cukup terampil (75-84).
3. Penelitian yang dilakukan oleh Maaruf Fauzan, Abdul Gani, &
Muhammad Syukri, 2017 dengan judul “Penerapan Model Problem
Based Learning pada Pembelajaran Materi Sistem Tata Surya untuk
29
Meningkatkan Hasil Belajar Siswa”, menunjukkan bahwa peningkatan
hasil belajar kognitif, sikap sosial serta ketrampilan peserta didik dengan
menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih baik
daripada pembelajaran secara konvensional khususnya pada materi sistem tata
surya. Analisis data menunjukkan bahwa terjadi kenaikan komponen- komponen
yang dinilai antara kelas kontrol dan kelas eksperimen. Rata- rata nilai
ketrampilan kelas kontrol sebesar 68, sedangkan pada kelas eksperimen yang
menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) lebih tinggi dari
pada kelas kontrol.
4. Penelitian yang dilakukan oleh Maysitah dengan judul “Penerapan Model
Prpblem Based Learning” untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada
mata pelajaran Matematiks kelas V MIN 3 Banda Aceh” menunjukan
bahwa melalui pembelajaran problem Based learning meningkatkan iklim
pembelajaran, terlihat dengan siswa lebih berpikir kritis daan aktif dalam
pembelajaran dan hasil belajar yang meningkat.
5. Penelitian yang dilakukan oleh Desvian HalimWicaksono dengan judul
“Penerapan Model Problem Based Learning” (PBL) untuk meningkatkan
Aktivitas Belajar IPA Kelas V SD Negeri Panjunan 02 Tahun 2014/2015”
menunjukan bahwa kemampuan memcahkan masalah belajar yang
diajarkan dengan model problem based learning lebih tinggi dibanding
dengan pembelajaran konvensional.
1
C. Kerangka Konseptual
Pembelajaran
matematika bukanlah
suatu
proses
pemindahan
pengetahuan dari guru ke siswa. Matematika juga bukan sekedar menghapal.
Dalam pembelajaran membutuhkan konsep-konsep yang sederhana ke konsep
yang lebih kompleks. Konsep-konsep matematika yang mudah untuk dapat
dikuasai oleh siswa, oleh sebab itu untuk mempermudah belajar memahami
konsep siswa menggunakan model pembelajaran yang dapat meningkatkan
hasil belajar siswa.
Pada model pembelajaran siswa diberikan permasalahan yang ada
disekitar mereka untuk didiskusikan sehingga dalam pembelajaran siswa
dituntut lebih aktif dengan memcahkan masalah yang ada disekitar mereka
menjadikan siswa lebih mudah memahami materi pembelajaran matematika
sehingga hasil belajarnya dapat meningkat.
Salah satu model pembelajaran yang dapat merangsanag aktivitas
belajari siswa dalam mengembangkan pengetahuan adalah model problem
based learning, dalam PBL siswa mengikuti pola pembelajaran tertentu yang
dimulai dengan mempertimbangkan masalah yang terdiri dari kejadian yang
membutuhkan penjelasan. Berdasarkan berbagai hal tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa dengan menggunakan model PBL dapat meningkatkan
Proses dan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika.
2
D. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kerangka berpikir diatas, maka hipotesis tindakan dalam
penelitian diterima yaitu : Penerapan Model Problem Basad Learning (PBL)
dapat meningkatkan proses dan hasil belajar siswa pada pembelajaran
matematika dikelas IV SD Negeri No. 40/VI Rantau Panjang Kecamatan
Tabir Kabupaten Merangin.
3
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Menurut Sugiyono (2016:2) menyatkan jika “metode penelitianPada
dasarnya cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuandankegunaan
tertentu”.
Penelitian yang dilakukan peneliti dalam penelitian iniadalahPenelitian
Tindakan Kelas ( Classroom Action Reserch ). Penelitian tindakan yang
dilakukan yang memiliki tujuan untuk
meningkatkan hasil belajar
pesertadidik. Menurut Suyadi dalam bukunya (2014:14) menyimpulkan
bahwa “ Penelitian Tindakan Kelas (PTK) adalah pencermatan dalam bentuk
tindakanterhadap kegiatan belajar yang sengaja dimunculkan dan terjadi
dalam sebuahkelas secara bersamaan “.
Arikunto
yang
merupakan
salah
satu
pakar
dari
metode
Penelitian tindakan Kelas (PTK) menjelaskan pengertian dari Penelitian
Tidakan Kelas(PTK) secara sistematis , sebagai berikut:
1.
Penelitian adalah kegiatan mencermati objek dengan menggunakan cara
dan dan aturan atau metodologi tertentu untuk menemukan data akurat
tentang hal-hal yang dapat meningkatkan mutu objek yang diamati.
2.
Tindakan adalah gerakan yang dilakukan dengan sengaja dan terencana
denngan tujuan tertentu. Dalam PTK, gerakan ini dikenal dengan sikussiklus kegiatan untuk peserta didik.
37
4
3.
Kelas adalah tempat di mana terdapat sekelompok peserta didik yang
dalam waktu bersamaan menerima pelajaran dari guru yang sama.
Penelitian
Tindakan
kelas
dilakukan
oleh
seorang
guru
seyogyinyadilakukan dengan kesadaran dan tanpa tuntutan dari pihak
manapun, sesuaidengan yang pernah di ungkapkan oleh Arikunto bahwa
Penelitian Tindakandilakukan dengan kesadaran untuk meningkatkan hasil
kualitas kinerja, makapeneliti harus melakukannya secara sukarela.
Adapun Kemmis dan Tagart dalam Badang Iskandar (2015:2)
menyatakan bahwa Penelitian Tindakan adalah bentuk penyelidikan refleksi
diri yang dilakukan peneliti dalam situasi sosial (mencakup pendidika) untuk
meningkatkan rasionalitas dan keadilan sosial atau praktik pendidikan,
pemahaman praktik, situasi, berlagsung praktik.
Iskandar, Dais dan Narsim (2015:6) menyatakan bahwa Penelitian
Tindakan Kelas (PTK) adalah “Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan
penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru (sebagai peneliti) atas sebuah
permasalahan nyata yang ditemui saat pembelajaran berlangsung guna
meningkatkan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan dan kualitas
pendidikan dalam arti luas”.
Berdasarkan uraian pendapat diatas mengenai Penelitian Tindakan
Kelas (PTK) sehingga dapat disimpulkan bahwa, Penelitian Tindakan Kelass
(PTK) adalah suatu kegiatan tindakan yang dilakukan oleh guru yang
memiliki tujuan untuk memperbaiki proses dan meningkatkan hasil belajar
peserta didik. Permasalahan yang ditemukan dalam penelitian ini adalah
5
rendahnya hasil belajar peserta didik yang belum mencapai ketuntasan KKM
secara menyeluruh pada subtema Keberagaman Budaya Bangsaku. Penelitian
Tindakan kelas ini menerapkan model Problem based Learning (PBL).
B. Setting Penelitian
Setting penelitian dalam penelitian ini meliputi tempat penelitian,
waktu penelitian dan subjek penelitian.
1.
Tempat Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan di Kelas IV SD Negeri No.
40/VI Rantau Panjang Kecamatan Tabir Kabupaten Merangin untuk mata
pelajaran matematika.
2.
Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran
2020/2021, penentuan waktu mengacu pada kalender akademik sekolah,
karena PTK memerlukan beberapa siklus yang membutuhkan proses
belajar yang efektif dikelas.
3.
Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini akan dilaksanakan pada tahun ajaran
2020/2021 di kelas IV SD Negeri No. 40/VI Rantau Panjang Kecamatan
Tabir Kabupaten Merangin yang terdiri dari 24 siswa masing-masing
terdiri dari 10 laki-laki dan 14 perempuan.
6
4.
Desain Penelitian
Menurut pandangan Arikunto (2010:6) menyatakan penelitian ini
mengacu pada desain PTK yang terdiri dari empat tahapan yang perlu
dilakukan yaitu perencanaan,pelaksanaan tindakan,pengamatan atau
observasi dan refleksi.
Hubungan empat komponen tersebut merupakan suatu siklus dan
dapat di gambarkan pada bagan sebagai berikut :
Gambar 3.1 Rancangan penelitian tindakan kelas dengan model Problem
Based Learning Sumber Arikunton,(2010:6) siklus penelitian tindakan kelas.
Pelaksanaan penelitian ini meliputi tahap-tahap penelitian kelas yang
dalam pelaksanaan tindakan kelas terdiri dari beberapa siklus. Setiap siklus
terdiri atas tahap perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), pengamatan
(observasing) dan refleksi (reflecting). Secara rinci pelaksanaan penelitian
tindakan kelas ini meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
7
Pada tahap ini dilakukan penyusunan instrumen yang akan
dipergunakan saat pelaksanaana tindakan dan membuat rencana pembelajaran
untuk setiap pertemuan saat pembelajaran. Tahap penyusun instrumen pada
penelitian ini meliputi :
1.
Perencanaan
a.
Menyiapkan standar kopetensi, kopetensi dasar dan indikator silabus,
pemetaan dan bahan ajar.
b.
Menyiapkan instrument penelitian dari lembar observasi untuk
kegiatan siswa.
c.
2.
Memilih alat dan bahan untuk digunakan dalam pembelajaran.
Pelaksanaan Tindakan
a.
Kegiatan awal
Guru
menyiapkan
peserta
didik
untuk
mengikuti
pembelajaran. Untuk mengawali proses pembelajaran guru mengajak
siswa untuk berdoa bersama. Guru memeriksa satu persatu untuk
membangun komunikasi awal bersama siswa. Kemudia peneliti dan
guru berdiskusi rencana pembelajaran model PBL dengan materi
pokok.
b.
Kegiatan inti
Pelaksanaan tindakan ini dilakukan dengan melakukan
rencana pembelajan yang telah disusun. Peneliti melakukan
kerjasama dengan guru kelas dalam melaksanakan pembelajaran.
8
Guru berperan untuk melaksanakan pembelajaran dan peneliti
berperan sebagai obsever serta mendokumentasikan kegiatan yang
dilakukan.
3.
Observasi
Pelaksanaan observasi dilaksanakan bersamaan dengan
berlangsungnya
pelaksanaan
pembelajaran
dikelas.
Observasi
dilakukan oleh teman sejawat yang bertindak sebagai obsver.
Observasi dilakukan untuk mengamati aktivitas siswa dalam proses
pembelajaran menggunakan model PBL. Melalui pengantar ini
diterapkan
dapat
mengetahui
kekurangan-kekurangan
dalam
pelaksanaan tindakan, sebagai modifikasi rancangan dapat dilakukan
secepatnya, dengan kata lain pengamatan
dilakukan untuk
mengumpulkan bukti hasil tindakan agar dapat dievaluasi dan
dijadikan landasan daalam melaksanakan refleksi. Pengamatan
dilakukan dalam satu siklus memberikan pengaruh pada penyusunan
tindakan yang dilakukan pada siklus berikutnya.
4.
Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan mengkaji semua informasi yang
diperoleh dari penelitian untuk mengetahui hal-hal yang dirasakan
sesudah berjalan baik dan bagian mana yang belum atau dikatakan
sebagai evaluasi diri. Kegiatan refleksi dilaksanakan secara
kolaboratif antara peneliti dan guru untuk mendiskusikan hasil dari
9
kegiatan yang dilakukan. Beberapa tindakan yang dilakukan pada
saat refleksi, yaitu:
a.
Mengidentifikasikan kembali aktivitas yang telah dilaksanakan
selama proses pembelajaran berlangsung disetiap siklus.
b.
Menganalisis pengolahan data hasil evaluasi dan merinci
kembali tindakan pembelajaran yang telah dilakukan.
c.
Menetapkan tindakan selanjutnya berdasarkan hasil analisis
kegiatan.
Jika pelaksanaan tindakan telah tercapai maka penelitian
dianggap selesai, tetapi jika belum tercapai kembali pada siklus
rencana pembelajaran berikutnya.
C. Data dan Teknik Pengumpulan Data
1. Data Penelitian
Data penelitian ini berupa hasil pengamatan, observasi, dan
dokumentasi pada setiap tindakkan perbaikan pembelajaran Matematika
dengan penerapan model Problem Based Learning (PBL) pada peserta didik
kelas IV SD Negeri No.40/VI Rantau Panjang Kecamatan Tabir Kabupaten
Merangin, data tersebut tentang hal-hal sebagai berikut :
a.
Pelaksanaan
pembelajaran
yang
berhubungan
dengan
proses
pembelajaran.
b.
Evaluasi pembelajaran Matematika dengan penerapan model Problem
based learning (PBL) proses maupun hasil.
10
c.
Hasil tes peserta didik sesudah pelaksanaan tindakkan pembelajaran
Matematika dengan penerapan model Problem based learning (PBL).
2.
Teknik Pengumpulan Data
a.
Observasi
Observasi adalah salah satu alasan penggunaan metode
observasi dalam penelitian kualitatif adalah memungkinkan melihat
dan mengamati sendiri fenomena yang terjadi pada saat penelitian,
kemudian mencatat perilaku dan kejadian sebagaimana yang terjadi
pada keadaan sebenarnya.
Observasi dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui
bagaimana proses pembelajaran Matematika dengan menggunakan
model Problem Based Learning(PBL).
b.
Tes Tertulis
Tes tertulis ini digunakan untuk memperkuat data observasi
yang terjadi dalam kelas, terutama pada butir penguasaan materi
pembelajaran siswa dengan bentuktes ganda. Adapun soal ganda
pada setiap siklus yaitu sebanyak 10 soal dengan bobot nilai 10.
c.
Dokumentasi
Dokumentasi berupa fhoto-fhoto pada saat penelitian sebagai
data visual untuk memperkuat data baik dari peneliti maupun dari
siswa.
11
D. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian ini dikatakan tercapai apabila
telah mencapai nilai 70 sampai 80 persentase hasil belajar peserta didik
meningkat dari standar nilai KKM yang telah ditentukan, yaitu 70. Berikut
rincian ketercapaian indikator yang diharapkan :
1.
Proses belajar peserta didik dalam proses pembelajaran >70%.
2.
Hasil belajar menggunakan model Problem Based Learnig>70%.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan suatu langkah yang paling
pentingmenentukan dari suatu penelitian, karena analisis data berfungsi untuk
menyimpulkan hasil penelitian.
1.
Analisis Data Kualitatif
Data kualitatif ini dari pengamatan siswa dan guru pada saat
pembelajaran sedang berlangsung sesuai indikator observasi yang telah
disusun kemudian dipersentasikan peningkatan pada setiap pertemuan.
a.
Penilaian kinerja guru
Untuk menghitung presentasi hasil observasi kinerja guru
menggunakan rumus :
P = Σ skor perolehan x 100 %
Σ skor total
Keterangan p = tingkat keberhasilan
12
Untuk melihat tingkat keberhasilan guru dalam melaksanakan
proses pembelajaran digunakan lima kategori yaitu dapat dilihat pada
table berikut :
Tabel 1.2 Kriteria Keberhasilan Proses Pembelajaran Siswa dan Guru
dalam %.
No
Tingkat
Predikat
Keberhasilan
Keberhasilan
1
86 - 100 %
Sangat tinggi
2
71 - 85 %
tinggi
3
56 - 70 %
sedang
4
41 - 55 %
rendah
5
< 40 %
Sangat rendah
Rentang 15 %
( Sumber :Arikunton 2010:6)
b.
Penilaian proses belajar siswa
Untuk menghitung presentasi hasil observasi kinerja siswa
menggunakan rumus :
P = Σ skor perolehan x 100 %
Σ skor total
Keterangan :
p = tingkat keberhasilan
Dari hasil penilaian sebelumya, nilai tersebut kemudian
dikatagorikan berdasarkan tabel :
Tabel 1.3 Kriteria Keberhasilan siswa dalam %.
No
Rentang Nilai
Katagori
1
80 - 100%
Sangat baik
2
70 – 79%
Baik
3
60 – 69%
Cukup
4
≤ 50%
Kurang
13
Nilai tersebut kemudian di katagorikan berdasarkan tabeldibawah
ini:
Tabel 1.4 Kriteria Keberhasilan Proses Pembelajaran Siswa dan Guru
dalam %.
No
Tingkat Keberhasilan
Predikat Keberhasilan
1
86 - 100 %
Sangat tinggi
2
71 - 85 %
tinggi
3
56 - 70 %
sedang
4
41 - 55 %
rendah
5
< 40 %
Sangat rendah
Rentang 15 %
( Sumber : Arikunton 2010:6)
2.
Analisis Data Kuantitatif
Analisis data kuantitatif didapat dari penilaian latihan dan tes
(pre-tes dan post-tes ).
a.
Penilaian latihan dan tes mencari nilai rata-rata
Peneliti
menjumlahkan
nilai
yang
diperoleh
siswa,
selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang mengikuti tes sehingga
diperoleh nilai rata-rata. Nilai rata-rata ini didapat dengan
menggunakan rumus :
Nilai rata-rata ini didapat dengan menggunakan rumus :
X= ΣX
ΣN
Keterangan :
X= nilai rata-rata
Σ X = jumlah semua nilai siswa
Σ N = jumlah siswa yang mengikuti tes
( Sumber: Arikunto 20010 : 6 )
14
b.
Penilaian untuk ketuntasan belajar
Dalam penelitian ini terdapat dua kategori ketuntasan belajar
yaitu secara individu dan klasikal. Ketuntasan belajar secara
individual didapat dari KKM untuk pembelajaran tematik ditetapkan
sekolah yaitusiswa dinyatakan tuntas jika telah mendapatkan nilai
sekurang-kurangnya 74 dan di bawah 74 dinyatakan belum tuntas.
Sedangkan ketuntasan belajar secara klasikal yaitu mengukur tingkat
keberhasilan ketuntasan belajar siswa menyeluruh.
Untuk menghitung persentase :
P = Σ jumlah siswa yang mendapat nilai ≥ 70 x 100 %
Σ Siswa mengikuti tes
( Arikunton 2010:6)
Keterangan :
P = Persentase ketuntasan
Ketuntasan
belajar
klasikal
dinyatakan
berhasil
jika
persentase siswa yang tuntas belajar atau siswa yang mendapat nilai
≥ 70 jumlahnya lebih besar atau sama dengan 85 % dari jumlah
siswa seluruhnya.
Hasil analisis ini digunakan sebagai bahan refleksi untuk
melakukan perencanaan lanjutan dalam pertemuan dan siklus
selanjutnya. Hasil analisis juga dijadikan sebagai bahan refleknsi
dalam memperbaiki rancangan pembelajaran atau bahkan sebagai
15
bahan pertimbangan dalam penentuan metode pembelajaran yang
tepat.
16
DAFTAR PUSTAKA
Abdul Majid. (2014). Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Ahmad Susanto. Teori Belajar dan Pembelajaran Di Sekolah Edisi Pertama.
Jakarta: Kencana. 2013.
Agustina, R 2016. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta:
Kencana Prenada Media Group
Amir, A. (2014). Kemampuan Penalaran dan Komunikasi dalam Pembelajaran
Matematika. Logaritma,Vol. II, No.01
Arikunto, Suharsimi, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT Bumi Aksara, 2009
Arnyana, Ida Bagus Putu. 2006. Perencanaan dan Desain Model-Model
Pembelajaran. Singaraja. Jurusan Pendidikan Biologi. FPMIPA
UNDIKSHA.
Arief S. Sadiman. Media Pendidikan: Pengertian, Pengembangan
Pemanfaatannya. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. 2014.
dan
Arifin, Zaenal, Evaluasi Pembelajaran, Bandung. PT. Remaja Rosda Karya 2010
Pembelajaran terpadu teori dan praktik terbaik di sekolah
Damsar. 2012. “Pengantar Sosiologi Pendidikan”. Jakarta : Kencana Prenada
Media Group.
Darmodjo. 2008. Evaluasi Pembelajaran : Prinsip Teknik Prosedur. Bandung:
PT.Remaja Rosdakarya.
Daryanto, 2014. Pendekatan Pembelajaran Saintifik Kurikulum 2013. Yogyakarta:
Gava Media.
Depdiknas, 2006. Pembelajaran Berdasarkan Masalah. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional.
Daryanto, Suyatri D 2013. Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah.
Yogyakarta: Gava Media.
Dimyati dan Mudjiyono. 2013. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta: jakarta.
Eggen, P. dan Kauchak, D. 2012. Strategi dan Model Pembelajaran Mengajarkan
Konten dan Keterampilan Berpikir. Jakarta: Indeks.
17
Fachrurazi. 2011. “Penerapan Pembelajaran Berbasis Masalah untuk
Meningkatkan Kemampuan Berfikir Kritis dan Komunikasi Matematis
Siswa Sekolah Dasar”, Edisi Khusus No. 1
Gunantara, Gd dan Pt. Nanci Riastini. 2014. “Penerapan Model Pembelajaran
Problem Based Learning untuk Meningkatkan Kemampuan Pemecahan
Masalah Matematika Siswa Kelas V”, Jurnal Mimbar PGSD Universitas
Pendidikan Ganesha/ Vol: 2 No.501, 1-10
Hanafi. 2014. Kontruktivisme Dalam Pembelajaran. Jakarta: PAU-PPAL
Hermawan, Ruswandi, dkk., Metode Penelitian Pendidikan Sekolah Dasar,
Bandung:UPI Press, 2007
Iskandar, D. & Narsim. (2015). Penelitian Tindakan Kelas dan Publikasi. Jawa
Tengah: Ihya Media
50
Jihad, A. dan Abdul Haris. 2012. Evaluasi
Pembelajaran. Yogyakarta: Multi
Presindo.
Kusumah, Wijaya, Mengenal Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: PT Malta
Printindo, 2009
Kasful, A. Dkk. 2011. Perencanaan Sistem Pembelajaran. Penerbit: Alfabeta.
Marsudi,2012,Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar.Jakarta:Prestasi Pustaka
Maryati, I. (2018), Penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah Pada Materi
Pola Bilangan Di Kelas Vii Sekolah Menengah Pertama. Jurnal
“Mosharafa”,
Mulyasa. (2016). Standar Kompetendi dan Sertifikasi Guru. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Murfiah, Uum. (2017). Pembelajaran Terpadu. Bandung: Departemen FKIP
Universitas Pasundan
Octaviana 2018. Ragam pengembangan model pembelajaran untuk peningkatan
profesionalitas guru. Jakarta: Kata Pena
Pratiwi. (2018). Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw Terhadap
Hasil Belajar Tematik Peserta Didik Kelas V Madrasah Ibtidaiyah Negeri
3 Srimulyo Natar. Disertasi, Sekolah Fakultas Keguruan Dan Ilmu
Pendidikan (FKIP). Lampung: Universitas Lampung
Priansa, D.J. (2015). Manajemen Peserta Didik dan Model pembelajara. Bandung:
Alfabeta
Rahmayanti. 2013 Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Pembinaan dan Peningkatan
Mutu Tenaga Dikti
18
Ratuman. 2015. Inovasi Pembelajaran. (Yogyakarta: Ombak)
Ricardo. (2017). Impak minat dan motivasi belajar terhadap hasil belajar siswa (
The impacts of students’ learning interest and motivation on their learning
outcomes ). Jurnal Pendidikan Manajemen Perkantoran
Rohimah, S.M. (2016). Bahan Ajar Mata Kuliah Pembelajaran Terpadu. Bandung:
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pasundan
Rusman. (2015). Model-model pembelajaran. Jakarta: Rajawali Press
Rusmono. 2014. Strategi Pembelajaran dengan Problem Based Learning Itu Perlu.
Bogor : Penerbit Ghalia Indone Peraturan Menteri Pendidikan Nasional
Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi Untuk
Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta : Menteri Pendidikan
Nasional.
Sadjana.2015,Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Pt Remaja
Roskarya
Sanjaya, W. (2014). Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses
Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Subhan, Fautin. 2013. Penelitian Tindakan Kelas. (Sidoarjo: Qisthos Digital
Perss).
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: PT. Raja
Grafindo Persada)
Sudjana, Nana. (2016). Dasar-Dasar Proses Belajar Mengajar. Bandung: Sinar
Baru Algensindo
Supardi. 2015. Penelitian Pendidikan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
Suherman,
Erman,dkk
.2003.
Kontemporer.Bandung: JICA.
Strategi
Pembelajaran
Matematika
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Suprihatiningrum, J. 2013. Strategi Pembelajaran:Teori dan Aplikasi. (Jogjakarta:
Arhaz Media)
Susanto, Ahmad. 2013. Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar.
(Jakarta:Kencana).
Susanto 2013 Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif,
dan R & D. Bandung: Alfabeta
Susanto 2016. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya
Supardi. 2015. Penelitian Pendidikan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
19
Sutama (2010). Penelitian Tindakan Teori dan Praktek dalam PTK, PTS,
danPTBK. Semarang : Surya Offset.
Sutama. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif, PTK, R &
D.Kartasura: FAIRUZ MEDIA.
Suyadi. (2015). Strategi Pembelajaran Pendidikan Karakter. Bandung: PT Remaja
Rosdakarya
Trianto
(2010)
Mendesain
Model
Pembelajaran
Jakarta:Kencana Prenada Media Grup.
Inovatif-Progesif.
Download