Uploaded by Monicapramana2345

Lapkas Orto

advertisement
LAPORAN KASUS
Fraktur Collum femur Dextra
Disusun Oleh :
Monica Pramana
406182085
Pembimbing :
dr. Adrian Situmeang, Sp. OT
Kepaniteraan Ilmu Bedah RS Sumber Waras
Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran Universitas
Tarumanagara
2020
BAB I
Laporan Kasus
IDENTITAS
Nama
: Ny D
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur
: 57 tahun
CM
: 00 – 69 -59 -77
Alamat
: Jl WGP Tower C
ANAMNESIS
Keluhan Utama
Nyeri pinggul kanan
Riwayat Sekarang
Pasien datang ke Poli Bedah Ortopedi RS SW dengan keluhan nyeri pada pinggul
kanan setelah terjatuh dari kursi roda sejak 2 minggu SMRS. Pasien mengatakan dia
terjatuh ketika sedang duduk di kursi roda dan berusaha untuk berpindah tempat,
kemudian terpeleset dan terjatuh ke sisi kanan dengan pinggul kanan membentur
lantai. Nyeri pinggul dirasakan terus menerus dan terasa bertambah parah saat
digerakkan. Pasien juga mengatakan pinggul kanan menjadi bengkak dan sulit
digerakkan hingga sekarang. Riwayat tidak sadar, mual, muntah, luka terbuka di
pinggul, pendarahan disangkal pasien. BAK dan BAB normal.
Riwayat Dahulu
-Riwayat Hipertensi sejak 2001
-Riwayat Stroke tahun 2018
-Riwayat DM, asma, asam urat, paru, dan alergi disangkal
Riwayat Pengobatan
-
Pasien mengonsumsi obat Amlodipin 1x10 mg
-
Pasien mengonsumsi obat Mecobalamin 1x500 mg
Riwayat Keluarga
-Riwayat Hipertensi dialami oleh Ibu
-Riwayat Stroke disangkal
-Riwayat DM, asma, asam urat, paru, dan alergi disangkal
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesan sakit
: tampak sakit sedang
Kesadaran
: compos mentis (E4M6V5)
Tanda Vital
Tekanan darah
: 171/100 mmHg (HT grade II)
Nadi
: 72 x/menit,
Suhu
: 36,50C
Frekuensi napas
: 18 x /menit
Berat Badan
: 60 kg
Status Generalis
Kepala :
normocephali, bentuk bulat, deformitas (-), warna rambut hitam tipis,
distribusi merata, tak mudah dicabut.
Wajah :
Pucat (-), kemerahan (-) sianosis (-), wajah simetris.
Mata dan alis mata
:
Alis madarosis (-), alis hitam simetris. Xantelasma (-), ptosis (-), lagophtalmos
(-), udem palpebra (-), Pupil bulat reguler isokor (+/+), Konjungtiva anemis (-/-),
Sklera Ikterik (-/-), RCL (+/+), R (+/+), gerak bola mata normal, LP normal.
4
Hidung :
Bentuk normal, liang hidung lapang sama besar, Simetris, septum deviasi (-),
deformitas (-), sekret (-/-), hiperemis (-/-), darah (-/-), deviasi septum (-/-).
Telinga :
Telinga Normotia, liang telinga lapang, refleks cahaya membran timpani
(+/+), sekret/serumen/darah (-/-), benjolan dan nyeri tekan sekitar liang telinga (-/-).
Mulut :
o Bentuk normal, agak kering, kulit sekitar bibir normal, bibir simetris, sianosis
(-) Kering (-), sianosis (-), anemis (-), tonsil dan faring dalam batas normal
o Gigi dan gusi : oral higiene cukup baik, flek/bolong/karies gigi (-), gusi warna
pink, tanda inflamasi dan perdarahan gusi (-), lidah normoglossi
o Mukosa faring dan tonsil : warna pink tanpa bercak. Ulkus palatum (-), bau
napas (-), detritus dan kriptus tonsil (-)
o Uvula : ditengah, warna pink, hiperemis (-), tonsil ukuran T1/T1
Leher :
bentuk & ukuran normal, deviasi trakea (-), KGB & kelenjar thyroid normal,
nyeri tekan (-), kaku kuduk (-). A. Carotis denyut teraba normal, JVP 5 +2 cmH2O,
-
Thoraks
Paru

Inspeksi : bentuk normal, lordosis (-), kifosis (-), skoliosis (-), gibus (-), warna
kulit sawo matang, ikterik (-), pucat (-), sinosis (-), spider navy (-),
roseola spot (-), dilatasi vena (-), sternum normal datar, tulang iga &
sela iga normal, Hemithoraks simetris saat statis dan dinamis, tipe
abdominotorakal, retraksi sela iga (-).

Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris saat inspirasi dan expirasi,

Perkusi : Sonor. Batas paru dengan hepar, jantung kanan, lambung, jantung kiri
normal.

Auskultasi: Suara nafas vesikuler, ronkhi (-/-), wheezing (-/-)


Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi
: Ictus cordis teraba di ICS V, 1 cm medial linea midclavicularis
sinistra,
thrill (-)
Perkusi
: sonor. batas jantung dengan paru kanan, paru kiri, batas atas jantung
normal.
Auskultasi: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-), BJ III (-). BJ IV (-), ES (-), SC
(-),
OS (-)
Abdomen
Inspeksi : Normal, datar, simetris, buncit (-), skafoid (-), warna kulit sawo
matang, pucat (-), ikterik (-), sianosis (-), kemerahan (-), spider navy(), roseola spot (-), keriput (-), dilatasi vena (-),gerak dinding perut
simetris, tipe pernapasan abdominotorakal
Palpasi :
Supel, massa (-), turgor normal, retraksi (-), defence muskular (-),
rigiditas (-), NT (-), NL (-), hepar, lien, vesica vellea normal, undulasi
(-), ginjal ballotement (-)
Perkusi :
4 kuadran abdomen timpani, batas atas dan bawah hepar normal,
shifting dullnes (-)
Auskultasi: Bising usus (+) normal
Ekstremitas
Atas
Inspeksi : Bentuk, Kulit, Bulu rambut, Jari, Kuku, Telapak tangan, Punggung tangan
Normal
Palpasi : Suhu, Kelembaban, nyeri, Flapping tremor (-), tremor (-) hangat (+/+),
oedem (-/-), CRT <2”
Bawah
Inspeksi : bentuk, kulit, bulu rambut, jari, kuku, telapak kaki normal, kelemahan otot
(-), koordinasi gerakan baik
Palpasi : Suhu, Kelembaban, nyeri normal, Akral hangat (+/+), oedem (-/-),
Status Neurologis
A. Saraf Cranial :
N. II (Optikus)
Refleks cahaya langsung
: +/+ (pupil bulat, isokor)
Tajam penglihatan
: sulit dinilai
Lapang penglihatan
: baik dalam batas normal
Melihat warna
: baik dalam batas normal
Fundus okuli
: Tidak dilakukan
N. III (Occulomotor)
Pupil
Ukuran
: 3mm
Bentuk
: bulat
Isokor/anisokor
: Isokor
Reflex cahaya tidak langsung
: +/+
N. IV (Troklearis)
Pergerakan bola mata
(Ke Bawah Dalam)
: +/+
N. V (Trigeminus)
Membuka mulut
: asimetris
Menguyah
: baik dalam batas normal
Menggigit
: baik dalam batas normal
Refleks kornea
: baik dalam batas normal
Sensabilitas wajah
: baik dalam batas normal
N. VI (Abdusen)
Pergerakan bola mata
(ke lateral)
: baik dalam batas normal
N VII (Facialis)
Mengerutkan dahi
: tidak simetris kanan-kiri
Menutup mata
: tidak simetris kanan-kiri
Memperlihatkan gigi : tidak simetris kanan-kiri
N IX (glosofaringeus)
Perasaan lidah (1/3 bagian lidah belakang) : baik dalam batas normal
Posisi uvula
: tidak ada deviasi
N X (vagus)
Arkus faring
: baik dalam batas normal
Menelan
: baik
Refleks muntah
: baik
N. XI (Asesorius)
Menengok (M. Sternocleidomastoideus) : baik, dapat menengok kanan dan kiri
Mengangkat bahu (M. Trapezius)
: lemah pada sisi kiri
N XII (Hipoglossus)
Pergerakan lidah
: baik, dapat menggerakan lidah ke segala arah
Lidah deviasi
: lidah deviasi ke kanan
Badan dan Anggota Gerak :
Anggota gerak atas
Motorik
: Baik
Pergerakan : (+)/(+)
Kekuatan : 3 / 5
Anggota gerak bawah
Motorik
: Baik
Pergerakan
: (+)/(+)
Kekuatan
:3/5
Tonus
: Normal
Refleks patologis :
Babinski
: (-)/(-)
Chaddock
: (-)/(-)
Gorda
: (-)/(-)
Gondon
: (-)/(-)
Oppenheim
: (-)/(-)
Schiffer
: (-)/(-)
Meningeal sign
: Kaku kuduk (-)
Status Lokalis
Regio Hip Kanan
Look
:Pemendekan (+), udem (+), deformitas (+), tidak terdapat luka robek.
Feel
: Nyeri tekan (+)
Movement
: ROM terbatas.
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Lengkap
Nama Tes
Hasil
Satuan
Nilai Acuan
Hematologi
Eritrosit
4.09
Juta/uL
4.50 – 5.90
Hb
12.5
g/dL
13.5 – 17.5
Ht
37.0
%
41.0 – 53.0
Trombosit
230
Ribu/uL
150 – 440
Leukosit
4.5
Ribu/uL
4.0 – 11.0
Indeks Eritrosit
MCV
90.5
Fl
81.2 – 94.0
MCH
30.6
pg
27.1 – 32.5
MCHC
33.8
%
32.5 – 36.7
Hitung Jenis
Basofil
0
%
0–1
Eusinofil
0
%
0–3
Batang
0
%
0–6
Segmen
64
%
50 – 70
Limfosit
26
%
20 - 40
Monosit
10
%
2 – 10
46(H)
mm/jam
0 - 20
LED
Koagulasi
Masa Pendarahan
3.0
Menit
1.0 – 5.0
Masa Pembekuan
9.0
Menit
6.0 – 10.0
Kimia Darah
Kalium darah
3.8
mmol/L
3.5 – 5.0
Natrium darah
138(L)
mmol/L
136 – 146
Chlorida darah
103
mmol/L
98 – 106
Calsium Ion
1.16
mmol/L
1.15 – 1.29
APT/ALT
14
u/L
0 – 41
Ureum
22
mg/dL
Kreatinin Darah
1.1
mg/dL
0.1 – 1.5
GDS
160
mg/dL
>=200
Foto Pelvis AP
Kesan :
Fraktur komplit os femur kanan dengan displacement fragment (+) ke lateral, gap (+),
shorttering (+) disertai soft tissue swelling sekitarnya.
DIAGNOSIS
CF Right Collum Femur Dextra
Hemiparesis Dextra post stroke
Hipertensi grade II
PENATALAKSANAAN
Non Medikamantosa
Hemiarthroplasty Bipolar
PASCA OPERASI
Pelvis X-Ray AP
RESUME KASUS
Pasien datang dengan keluhan nyeri pada pinggul kanan setelah terjatuh dari kursi
roda sejak 2 minggu SMRS. Pasien mengatakan dia terjatuh ketika sedang duduk di
kursi roda dan berusaha untuk berpindah tempat, kemudian terpeleset dan terjatuh ke
sisi kanan dengan pinggul kanan membentur lantai. Nyeri pinggul dirasakan terus
menerus dan terasa bertambah parah saat digerakkan. Pasien juga mengatakan
pinggul kanan menjadi bengkak dan sulit digerakkan hingga sekarang. Luka terbuka
di pinggul, pendarahan disangkal pasien. Riwayat Hipertensi sejak 2001, riwayat
Stroke tahun 2018, riwayat Hipertensi dialami oleh Ibu dari pemeriksaan fisik
didapatkan TD 171/100 mmHg (HT grade II), parese nervus VII, hemiparesis dextra
Status lokalis regio hip dextra
Look :Pemendekan (+), udem (+), deformitas (+), tidak terdapat luka robek.
Feel
: Nyeri tekan (+)
Movement
:Nyeri gerak aktif (+), nyeri gerak pasif (+), ROM sulit dinilai.
Pemeriksaan penunjang didapatkan peningkatan LED dan pemeriksaan Foto Xray
pelvis AP didapatkan kesan Fraktur komplit os femur kanan dengan displacement
fragment (+) ke lateral, gap (+), shorttering (+) disertai soft tissue swelling
sekitarnya.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I. PENDAHULUAN
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang. Fraktur dibagi atas dua,
yaitu fraktur tertutup dan fraktur terbuka. Fraktur tertutup (simple) yaitu bila kulit
yang tersisa diatasnya masih intak (tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang
dengan dunia luar), sedangkan fraktur terbuka (compound) yaitu bila kulit yang
melapisinya tidak intak dimana sebagian besar fraktur jenis ini sangat rentan
terhadap kontaminasi dan infeksi.1,2
Fraktur collum atau neck (leher) femur adalah tempat yang paling sering
terkena fraktur pada usia lanjut. Ada beberapa variasi insiden terhadap ras. Fraktur
collum femur lebih banyak pada populasi kulit putih di Eropa dan Amerika Utara.
Insiden meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Sebagian besar pasien
adalah wanita berusia tujuh puluh dan delapan puluhan.1,2
Namun fraktur collum femur bukan semata-mata akibat penuaan. Fraktur
collum femur cenderung terjadi pada penderita osteopenia diatas rata-rata, banyak
diantaranya mengalami kelainan yang menyebabkan kehilangan jaringan tulang
dan kelemahan tulang, misalnya pada penderita osteomalasia, diabetes, stroke, dan
alkoholisme.
Beberapa
keadaan
tadi
juga
menyebabkan
meningkatnya
kecenderungan terjatuh. Selain itu, orang lanjut usia juga memiliki otot yang
lemah serta keseimbangan yang buruk sehingga meningkatkan resiko jatuh.1,2
II.
ANATOMI
Femur merupakan tulang terpanjang dan terberat dalam tubuh, meneruskan
berat tubuh dari os coxae ke tibia sewaktu kita berdiri. Caput femoris ke arah
craniomedial dan agak ke ventral sewaktu bersendi dengan acetabulum. Ujung
proksimal femur terdiri dari sebuah caput femoris dan dua trochanter (trochanter
mayor dan trochanter minor).2
6
Gambar 1. Anatomi femur.3
Area intertrochanter dari femur adalah bagian distal dari collum femur dan
proksimal dari batang femur. Area ini terletak di antara trochanter mayor dan
trochanter minor. Caput femoris dan collum femoris membentuk sudut (11501400) terhadap poros panjang corpus femoris, sudut ini bervariasi dengan umur
dan jenis kelamin. Corpus femoris berbentuk lengkung, yakni cembung ke arah
anterior. Ujung distal femur, berakhir menjadi dua condylus, epicondylus medialis
dan epicondylus lateralis yang melengkung bagaikan ulir.2
Caput femoris mendapatkan aliran darah dari tiga sumber, yaitu pembuluh
darah intramedular di leher femur, cabang pembuluh darah servikal asendens dari
anastomosis arteri sirkumfleks media dan lateral yang melewati retinakulum
sebelum memasuki caput femoris, serta pembuluh darah dari ligamentum teres.2
7
Gambar 2. Vaskularisasi femur.3
Pada saat terjadi fraktur, pembuluh darah intramedular dan pembuluh darah
retinakulum mengalami robekan bila terjadi pergeseran fragmen. Fraktur
transervikal adalah fraktur yang bersifat intrakapsuler yang mempunyai kapasitas
yang sangat rendah dalam penyembuhan karena adanya kerusakan pembuluh
darah, periosteum yang rapuh, serta hambatan dari cairan sinovial.2,3
Sendi panggul dan leher femur ini dibungkus oleh capsula yang di medial
melekat pada labrum acetabuli, di lateral, ke depan melekat pada linea
trochanterika femoris dan ke belakang pada setengah permukaan posterior collum
femur. Capsula ini terdiri dari ligamentum iliofemoral, pubofemoral, dan
ischiofemoral. Ligamentum iliofemoral adalah sebuah ligamentum yang kuat dan
berbentuk seperti huruf Y terbalik. Dasarnya disebelah atas melekat ada spina
iliaca anterior inferior, dibawah kedua lengan Y melekat pada bagian atas dan
bawah linea intertrochanterica. Ligament ini berfungsi untuk mencegah ekstensi
berlebihan selama berdiri. Ligamentum pubofemoral berbentuk segitiga. Dasar
ligamentum melekat pada ramus superior ossis pubis, dan apex melekat di bawah
pada bagian bawah linea intertrochanterica. Ligament ini berfungsi untuk
membatasi gerak ekstensi dan abduksi. Ligamentum ischifemoral berbentuk
8
spiral dan melekat pada corpus ossis ischia dekat margo acetabuli dan di bagian
bawah melekat pada trochanter mayor. Ligament ini membatasi gerak ekstensi.
Gambar 3. Anatomi ligament pada femur.3
III. MEKANISME TERJADINYA FRAKTUR
a. Low-energy trauma: paling umum pada pasien yang lebih tua.

Direct: Jatuh ke trokanter mayor (valgus impaksi) atau rotasi
eksternal yang dipaksa pada ekstremitas bawah menjepit leher
osteroporotik


ke
bibir
posterior
acetabulum
(yang
mengakibatkan posterior kominusi)

Indirect : Otot mengatasi kekuatan leher femur
b. High-energy trauma: Terjadi patah tulang leher femur pada pasien
yang lebih muda dan lebih tua, seperti kecelakaan kendaraan
bermotor atau jatuh dari ketinggian yang signifikan.
c. Cyclic loading-stress fractures: Terjadi pada atlet, militer, penari
balet, pasien dengan osteroporosis dan osteopenia berada pada risiko
tertentu.2
Fraktur biasanya disebabkan oleh jatuh biasa, walaupun demikian pada
orang-orang yang mengalami osteoporosis, energi lemah dapat menyebabkan
fraktur. Pada orang-orang yang lebih muda, penyebab fraktur umumnya karena
jatuh dari ketinggian atau kecelakaan lalu lintas. Terkadang fraktur collum femur
pada dewasa muda juga diakibatkan oleh aktivitas berat seperti pada atlit dan
anggota militer.1
9
IV.
KLASIFIKASI
a) Lokasi anatomi:


 Subcapital (paling sering)
 Transcervical
 Basicervical
Gambar 4. Klasifikasi fraktur leher femur mengikut lokasi anatomi. 5
Klasifikasi yang paling bermanfaat adalah Garden dimana klasifikasi ini
dibuat berdasarkan pergeseran yang nampak pada hasil sinar-x sebelum reduksi.1
- Garden Type I : fraktur inkomplit, termasuk fraktur abduksi dimana caput
femoris miring ke arah valgus yang berhubungan dengan
collum femoris
- Garden Type II :fraktur komplit, namun tidak terdapat pergeseran
- Garden Type III :fraktur komplit disertai pergeseran parsial
- Garden Type IV :fraktur komplit dengan pergeseran keseluruhan
Gambar 5. Klasifikasi Garden;. 1
10
Fraktur Garden I dan II dimana hanya terjadi sedikit pergeseran, memiliki
prognosis yang lebih baik untuk penyatuan dibandingkan dengan fraktur Garden
III dan IV. Hal ini tentunya memiliki pengaruh yang penting terhadap pilihan
terapi.1
Klasifikasi Pauwel berdasarkan sudut fraktur dari garis horizontal2:



Tipe I : >30 derajat

Tipe II: 50 derajat

Tipe III: > 70 derajat
Gambar 6. Klasifikasi Pauwel. 2
Besarnya kekuatan dengan sudut yang besar akan mengarah kepada
fraktur yang tidak stabil.2
V.
GAMBARAN KLINIS
Biasanya terdapat riwayat jatuh, yang diikuti nyeri pinggul. Pada fraktur
dengan pergeseran, tungkai pasien terletak pada rotasi eksternal dan terlihat
pemendekan bila dibandingkan dengan tungkai yang lain. Namun tidak semua
fraktur nampak demikian jelas. Pada fraktur yang terimpaksi pasien mungkin
masih dapat berjalan dan pasien yang sangat lemah atau cacat mental mungkin
tidak mengeluh, sekalipun mengalami fraktur bilateral. Untuk high-energy trauma
harus diperiksa sesuai standar ATLS.1,2
Fraktur collum femur pada dewasa muda biasanya disebabkan oleh
kecelakaan lalu lintas atau jatuh dari ketinggian serta sering dikaitkan dengan
cedera multipel. Mendapatkan keterangan yang akurat mengenai ada atau
tidaknya sinkop, riwayat penyakit, mekanisme trauma dan aktivitas keseharian
sangat penting untuk menentukan pilihan terapi.1,2
11
VI.
PEMERIKSAAN FISIS
Diagnosis fraktur femur dapat ditegakkan dengan anamnesis yang lengkap
mengenai kejadian trauma meliputi waktu, tempat, dan mekanisme trauma;
pemeriksaan fisik yang lengkap dan menyeluruh, serta pencitraan menggunakan
foto polos sinar-x.
Look (Inspeksi):


Deformitas: Deformitas dapat timbul dari tulang itu sendiri atau penarikan
dan kekakuan jaringan lunak.

Sikap anggota gerak: Kebanyakan fraktur terlihat jelas, namun fraktur satu
tulang di lengan atau tungkai atau fraktur tanpa pergeseran mungkin tidak
nampak. Pada gambar bawah ini merupakan contoh pengamatan sikap
anggota gerak bawah yang terlihat memendek disertai rotasi eksterna.
Gambar 7. Gambaran klinis fraktur collum femur. 4
Feel (Palpasi):




Nyeri tekan: Tanyakan pada pasien daerah mana yang terasa paling sakit.
Perhatikan ekspresi pasien sambal melakukan palpasi.

Spasme otot: Hal ini bisa terlihat dan teraba dari daerah fraktur dan pada
gerakan sederhana

Krepitasi: Krepitasi tulang dari gerakan pada daerah fraktur dapat diraba

Pemeriksaan kulit dan jaringan lunak di atasnya: Pada fraktur akut, terapi
tergantung pada keadaan jaringan lunak yang menutupinya. Adanya
blister atau pembengkakan merupakan kontraindikasi untuk operasi
12
implan. Abrasi pada daerah terbuka yang lebih dari 8 jam sejak cedera
harus dianggap terinfeksi dan operasi harus ditunda sampai luka sembuh
sepenuhnya. Bebat dan elevasi menurunkan pembengkakan dan ahli
bedah harus menunggu untuk keadaan kulit yang optimal.

Neurovaskular distal: Kondisi neurovaskular distal harus diperiksa
karena fraktur apapun dapat menyebabkan gangguan neurovaskular.
Move (Gerakan):
Sebagai skrining cepat, gerakan aktif dari seluruh anggota gerak diuji
pada penilaian awal. Pasien dengan fraktur mungkin merasa sulit untuk
bergerak dan fraktur harus dicurigai jika ada yang nyeri yang menimbulkan
keterbatasan. Manuver yang memprovokasi nyeri sebaiknya tidak dilakukan.
Gerakan sendi yang berdekatan harus diperiksa pada malunion untuk kasus
kekakuan pascatrauma.
Pengukuran
Pada fraktur dengan pergeseran atau dislokasi, hal ini nampak jelas.Pada
kasus malunion atau nonunion, penilaian pemendekan atau pemanjangan sangat
penting.
Apparent leg length discrepancy dapat diukur dari xiphisternum ke maleolus
medial dengan menjaga tubuh dan kaki sejajar dengan alas dan tidak membuat
setiap upaya untuk menyamakan sisi panggul. Hal ini akan memberikan
perbedaan fungsional pada panjang kaki.
Gambar 8. Pengukuran Apparent leg length discrepancy. 4
13
Gambar 9. True leg length discrepancy. 4
Raba spina iliaka anterior superior (SIAS) dan atur panggul agar sejajar
(garis yang menghubungkan kedua SIAS tegak lurus dengan alas).Lalu ukur
panjang kaki dari SIAS ke maleolus medial, maka akan didapatkan true length
measurement. Pastikan kaki berada dalam sikap dan posisi yang sama.
VII.
PEMERIKSAAN RADIOLOGI
Pemeriksaan sinar-x pelvis posisi anteroposterior (AP) dan sinar-x
proksimal femur posisi AP dan lateral diindikasikan untuk kasus curiga fraktur
collum femur. Dua hal yang harus diketahui adalah apakah ada fraktur dan apakah
terjadi pergeseran. Pergeseran dinilai dari bentuk yang abnormal dari outline
tulang dan derajat ketidaksesuaian antara garis trabekula di kaput femur, collum
femur, dan supra-asetabulum dari pelvis. Penilaian ini penting karena fraktur
terimpaksi atau fraktur yang tidak bergeser akan mengalami perbaikan setelah
fiksasi internal, sementara fraktur dengan pergeseran memiliki angka nekrosis
avaskular dan malunion yang tinggi.1,2
Magnetic resonance imaging (MRI) saat ini merupakan pilihan
pencitraan untuk fraktur tanpa pergeseran atau fraktur yang tidak nampak di
radiografi biasa. Bone scan atau CT scan dilakukan pada pasien yang memiliki
kontraindikasi MRI.1,2
14
Gambar 10. MRI menunjukkan fraktur collum femur tanpa pergeseran. 2
VIII. PENATALAKSANAAN
Prinsip-prinsip umum:
Optimasi pra operasi medis yang cepat : Mortalitas dikurangkan dengan
operasi dalam waktu 48 jam fiksasi yang stabil dan mobilisasi dini.7
Pengobatan fraktur leher femur dapat berupa:
a. Konservatif dengan indikasi yang sangat terbatas
Non-operatif:
Indikasi:
Fraktur nondisplaced pada pasien mampu memenuhi pembatasan
weight bearing.5
b. Terapi operatif:
Indikasi: displaced fraktur dan nondisplaced
Fiksasi internal diindikasikan untuk Garden Tipe I, II, III pada
pasien muda,patah tulang yang tidak jelas, dan fraktur displaced pada
pasien muda.6
Bentuk pengobatan bedah yang dipilih ditentukan terutama oleh
lokasi fraktur (femoralis leher vs intertrochanteric), displacement, dan
tingkat aktivitas pasien.Kemungkinan untuk tidak reduksi adalah pada
pasien dengan stress fracture dengan kompresi pada leher femur dan
fraktur leher femur pada pasien yang tidak bisa berjalan atau
komplikasi yang tinggi.Terapi operatif hampir sering dilakukan pada
orang tua karena:6
15


Perlu reduksi yang akurat dan stabil

Diperlukan mobilisasi yang cepat pada orang tua untuk mencegah

komplikasi

Jenis-jenis operasi:
a. Pemasangan pin
Pemasangan pin haruslah dengan akurasi yang baik karena
pemasangan pin yang tidak akurat ( percobaan pemasangan
pin secara multiple atau di bawah trokanter) telah diasosiasi
dengan fraktur femoral sukbtrokanter.
b. Pemasangan plate dan screw
Fraktur leher femur sering dipasang dengan konfigurasi
apex distal screw atau apex proximal screw.Pemasangan
screw secara distal sering gagal berbanding dengan
distal.fiksasi dengan cannulated screw hanya bisa dilakukan
jika reduksi yang baik telah dilakukan. Setelah fraktur
direduksi, fraktur ditahan dengan menggunakan screw atau
sliding screw dan side plate yang menempel pada shaft
femoralis.Sliding hip screw (fixed-angle device) ditambah
derotation screw diindikasikan untuk fraktur cervical basal
dan patah tulang berorientasi vertikal.1,6
c. Artroplasti; dilakukan pada penderita umur di atas 55 tahun,
berupa:




Eksisi artroplasti
Hemiartroplasti


Diindikasikan untuk pasien usia lanjut dengan fraktur
displaced risiko yang lebih rendah untuk dislokasi
berbanding artroplasti pinggul total, terutama pada
pasien tidak dapat memenuhi tindakan pencegahan
dislokasi (demensia, penyakit Parkinson). Prostesis
disemen memiliki mobilitas yang lebih baik dan kurang
nyeri paha; prostesis tidak disemen harus disediakan
untuk pasien yang sangat lemah di mana status pra
16
cedera menunjukkan bahwa mobilitas tidak mungkin
dicapai setelah operasi.1,5


Artroplasti total

Indikasi:1,5
 Untuk pasien usia lanjut yang aktif dengan fraktur



displaced.
 Pilihan untuk pasien dengan pra hip arthropathy (OA
dan RA).
 Jika pengobatan telah terlambat untuk beberapa
minggu dan curiga kerusakan acetabulum.
 Pasien dengan metastatic bone disease seperti
Paget’s Disease

 Hasil fungsional lebih baik daripada hemiarthroplasty
 Tingkat dislokasi lebih tinggi dari hemiarthroplasty.
17
Gambar 11. Algoritma untuk pengobatan fraktur intracapsular leher femur.
IX.
KOMPLIKASI 1,6,7
Komplikasi umum
Pasien yang berusia tua sangat rentan untuk menderita komplikasi umum
seperti thrombosis vena dalam, emboli paru, pneumonia dan ulkus dekubitus.
Nekrosis avaskular
Nekrosis iskemik dari caput femoris terjadi pada sekitar 30 kasus dengan
fraktur pergeseran dan 10 persen pada fraktur tanpa pergeseran. Hampir tidak
mungkin untuk mendiagnosisnya pada saat fraktur baru terjadi. Perubahan pada
sinar-x mungkin tidak nampak hingga beberapa bulan bahkan tahun. Baik terjadi
penyatuan tulang maupun tidak, kolaps dari caput femoris akan menyebabkan
nyeri dan kehilangan fungsi yang progresif.
Non-union
Lebih dari 30 persen kasus fraktur collum femur gagal menyatu, terutama
pada fraktur dengan pergeseran. Penyebabnya ada banyak: asupan darah yang
buruk, reduksi yang tidak sempurna, fiksasi tidak sempurna, dan penyembuhan
yang lama.
Osteoartritis
Nekrosis avaskular atau kolaps kaput femur akan berujung pada
osteoartritis panggung. Jika terdapat kehilangan pergerakan sendi serta kerusakan
yang meluas, maka diperlukan total joint replacement.
18
DAFTAR PUSTAKA
1. Solomon, L dkk. Fractures of the Femoral Neck; Apley’s System of
Orthopaedic and Fractures, 8th Ed. Arnold, 2001. Hal: 847-52.
2. Egol, K dkk. Femoral Neck Fractures; Handbook of Fractures, 3rd Ed.
Lippincott Williams & Wilkins, 2002. Hal: 319-28.
3. Thompson, J. Netter’s Concise Orthopaedic Anatomy, 2nd Ed. Elsevier
Saunders, 2010. Hal: 251-7.
4. Rex, C. Examination of Patient withBone and Joint Injuries; Clinical
Assessment and Examination in Orthopedics, 2nd Ed. Jaypee Brothers
Medical, 2012. Hal: 17-21.
5. Miller MD, Thompson SR, Hart JA. Review of Orthopaedics 6th Edition.
Philadelphia; Saunder Elsevier. 2012. p. 315-6.
6. Skinner, H. Femoral Neck Fractures. Current Essentials
Orthopedics.McGraw-Hill, 2008. Hal: 37.
7. Frassica, F dkk. Femoral Neck Fractures. 5-Minute Orthopaedic Consult,
2nd Ed.Lippincott Williams & Wilkins, 2007.Hal: 127.
19
Download