Uploaded by ajengsamrotu

Resume Skenario 4 Blok 15 Tutorial K 2020

advertisement
RESUME TUTORIAL K
BLOK 15 (NEUROSENSORIS)
SKENARIO 4 : GATAL KARENA KOMESTIKA?
Oleh :
Kelompok K
Ramzi Setyo Karyanto
172010101116
Ibrila Asfarina A.
182010101028
Nadia Unitassia H.
182010101039
Izza Amalia Putri
182010101062
Ayu Lilyana Nuridah
182010101063
Ajeng Samrotu Sa’adah
182010101071
Sofia Yusnur Rafida
182010101102
R. Ristianto Yoga Pratama
182010101116
Maureta Salsabila Dinamika
182010101129
Muhammad Aqib Husni
182010101158
Dosen Pengampu:
dr. Ika Rahmwati Sutejo, M. Biotech
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JEMBER
2021
SKENARIO 4
Gatal karena Kosmetika?
Seorang perempuan berusia 27 tahun datang ke praktek dokter umum dengan
keluhan gatal di sekitar wajah yang sebelumnya diolesi dengan cream malam
salah satu produk kecantikan. Pasien membeli cream yang ditawarkan pegawai
salon setelah membersihkan komedo di salon tersebut. Pasien juga
mengeluhkan gatal di bagian leher dan lipat siku. Pada bagian leher terdapat
plak hiperpigmentasi, ekskoriasi dan likenifikasi, sedangkan di bagian lipat
siku terdapat makula eritema, papul dan skuama. Dari anamnesis diketahui
bahwa pasien pernah masuk IGD RS karena bengkak di sekitar mata dan bibir,
serta gatal di seluruh badan disertai rasa panas, setelah minum salah satu
antibiotik untuk menyembuhkan batuknya saat itu. Tante pasien sering berobat
karena keluhan sangat gatal di kulit siku dan lutut, yang sering kambuh meski
sudah diobati, dan dikatakan pasien bahwa di siku dan lutut tantenya terdapat
bercak merah bersisik tebal seperti berlapis-lapis. Dokter kemudian
meresepkan obat untuk pasien.
2
LEARNING OBJECTIVE
1.
Dermatitis Eksim
a.
Dermatitis kontak iritan
b. Dermatitis kontak alergika
c.
Dermatitis Atopikk
d. Dermatitis numularis
2.
e.
Liken simpleks kronik (neurodermatitis)
f.
Napkin eczema
Lesi eritro-squamosa
a.
Psoriasis vulgaris
b. Dermatitis seboroik
c.
3.
Pitiriasis rosea
Kelainan kelenjar sebasea dan ekrin
a.
Akne vulgaris ringan
b. Akne vulgaris sedang-berat
c.
Hidradenitis supuratif
d. Dematitis perioral
e.
4.
Miliaria
Penyakit vesikobulosa
a.
Toxic epidermal necrolysis (TEN)
b. Sindrom Stevens-Johnson
5.
Penyakit alergi kulit
a.
Urtikaria
b. Angioedema
6.
Reaksi obat
a.
Exanthematous drug eruption, fixed drug eruption
b. Adverse drug reaction
7.
Gangguan keratinisasi
Ichthyosis vulgaris
8.
Farmakologi kulit setiap penyakit
3
1. DERMATITIS EKSIM
a. Dermatitis Kontak Iritan
Dermatitis kontak adalah dermatitis (peradangan kulit epidermis dan
dermis) akibat substansi yang menempel pada kulit. Terdiri atas dermatitis kontak
iritan (DKI) dan dermatitis kontak alergi (DKA). DKI terjadi akibat bahan-bahan
yang sifatnya iritan misal nahan pelarut, deterjen, asam kuat, alkali kuat, dan
serbuk kayu.
Patofisiologi DKI terjadi tanpa melalui reaksi imunologik yaitu tanpa
disertai pengenalan atau sensitisasi. DKI terjadi langsung menyerang lipid di kulit
dan keratinosit sel. Jadi terjadi destruksi lapisan tanduk. Destruksi ini
menyebabkan aktifnya as.arakidonat, aktifnya DAG, dan delipidasi. AA diubah
menjadi PG dan leuotrien yang akan menginduksi vasodilatasi, peningkatan
permeabilitas vaskuler, dan aktivasi selmast. Delipidasi menyebabkan kulit kering
karena yang seharusnyaada yang menhan air, ini tidak terjadi. Sehingga terjadi
desikasi.
DKI dapat dibagi menjadi beberapa kategori berbeda tergantung pada
iritan dan pola eksposurnya. DKI kumulatif kronis adalah jenis yang paling umum
dilihat oleh profesional perawatan kesehatan.
• Subjective Irritancy. Perih idiosinkratik dan reaksi perih yang terjadi dalam
beberapa menit setelah kontak, biasanya di wajah, tanpa adanya perubahan
yang terlihat. Konstituen kosmetik atau tabir surya adalah pencetus yang
umum.
• Dermatitis kontak iritan akut. Hal ini sering kali disebabkan oleh satu kali
4
paparan berlebihan atau beberapa paparan yang terjadi dalam waktu singkat
terhadap bahan iritan kuat atau bahan kaustik. Bahan kimia kerja umum, yang
menyebabkan reaksi iritan akut, meliputi:
o Asam pekat, mis. asam sulfat, nitrat, hidroklorik, kromat, hidrofluorat.
o Alkali kuat, mis. kalsium, natrium, kalium hidroksida, beton basah,
natrium dan kalium sianida.
o Garam organik dan anorganik, mis. dikromat, garam arsenik.
o Pelarut / gas, mis. akrilonitril, etilen oksida, karbon disulfida, mustine.
•
Dermatitis kontak iritan kronis (kumulatif). Hal ini terjadi setelah
paparan berulang terhadap iritan yang lebih lemah yang mungkin "basah",
seperti deterjen, pelarut organik, sabun, asam lemah, dan alkali, atau
"kering", seperti udara dengan kelembapan rendah, panas, serbuk, dan
debu. DKI kronis disebabkan oleh kerusakan fungsi pelindung kulit secara
bertahap. Biasanya timbul dengan lesi kering, bersisik, dan eksim pada jari
dan tangan; lesi vesikuler memang terjadi tetapi lebih jarang dibandingkan
pada dermatitis kontak alergi. Penyebab umum DKI kronis termasuk iritan
lemah, mis. air, pembersih kulit, pelarut, dan cairan pemotong. Pekerjaan
berisiko termasuk pekerjaan yang melibatkan pekerjaan basah, mis. koki,
tukang roti, pelelangan bar, katering, pembersih, penata rambut, pekerja
logam, perawat, tukang solder, nelayan, dan pekerja konstruksi.
Gejala klinis DKI umumnya kulit terasa pedih, panas, rasa terbakar dengan
morfologi eritoedema, bula yang sirkumskrip, dan asimetris. Contoh bahan iritan
kuat adalah asam sulfat, kalium hidroksida. Bahan iritan lemah misalnya deterjen,
sabun, pelarut, tanah, atau air. Fgejala klinis DKI biasanya tergantung fase. Pada
fase kronis, gejala berupa kulit kering, disertai eritema, skuama yang lama-lama
menebal atau hiperkeratosis, yang jika terus-terusan bisa menjadi fisura.
Uji tempel dalah uji dengan memberikan antigen yang sudah terstandart
untuk ditempel ke tubuh pasien, biasanya daerah punggung. Bahan ditempel
selama 48 jam, pasien diminta untuk tidak mandi dan tidak melakukan aktivitas
5
berat yang sekiranya bisa menyebbakan bahan itu terlepas. Uji tempel dilakukan
jika dermatitis sudah tenah dan sudah menghentikan pengobatan kortikosteroid
selama minimal satu minggu. Hasilnya akan merujuk ke diagnosis DKI jika
hasilnya daerah yang ditempeli itu terasa rasa terbakar, pustula, dan purpura.
b. Dermatitis Kontak Alergika
DKA terjadi karena hapten yaitu bahan molekul sederhana yang sifatnya
lipofilik sehingga bisa masuk stratum korneum dan sampai ke bagian dalam.
Patofisiologi DKA terjadi melalui proses pengenalan yaitu melalui reaksi
hipersensitifitas tipe lambat/tipe IV.
Gejala klinis DKA umumnya gatal dengan morfologi eritematosa berbatas
tegas, papulovesikel diatasnya, bula yang dapat pecah. DKA kronis menunjukkan
gejala manifestasi pada kulit yang serupa DKI kronis. Kedua ini dapat dibedakan
melalui uji tempel.
Uji tempel dalah uji dengan memberikan antigen yang sudah terstandart
untuk ditempel ke tubuh pasien, biasanya daerah punggung. Bahan ditempel
selama 48 jam, pasien diminta untuk tidak mandi dan tidak melakukan aktivitas
berat yang sekiranya bisa menyebbakan bahan itu terlepas. Uji tempel dilakukan
jika dermatitis sudah tenah dan sudah menghentikan pengobatan kortikosteroid
selama minimal satu minggu. DKA ditegakkan jika ada eritea denganpapul,
vesikel,dan bula diatasnya.
Penatalaksanaan Dermatitis Kontak dapat dibagi menjadi pengobatan
kasus aktif dan pencegahan. Kortikosteroid topikal, pengganti sabun, dan emolien
diterima secara luas sebagai pengobatan dermatitis kontak yang sudah mapan.
Perawatan lini kedua seperti PUVA topikal, azathioprine, dan cyclosporin
mungkin banyak digunakan untuk dermatitis tangan kronis yang resistan terhadap
steroid. Ada beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan di tempat kerja.
Metode penghapusan dan penggantian paparan berbahaya meliputi, dalam urutan
prioritas: penggantian bahan kimia yang tidak terlalu menyebabkan iritasi atau
6
alergen; pengenalan kontrol teknik; dan organisasi kerja sedemikian rupa sehingga
semua karyawan dihadapkan pada derajat yang sama. Penggunaan perlindungan
pribadi, misalnya sarung tangan, bersama dengan pemilihan individu yang tidak
terlalu rentan (jika dapat diidentifikasi), diyakini sebagai upaya terakhir yang
memungkinkan.
c. Dermatitis Atopikk
Dermatitis Atopikk (DA) merupakan keadaan peradangan kulit kronis dan
residif yang disertai gatal serta umumnya sering terjadi pada masa bayi dan anakanak. Kelainan ini sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam
serum dan riwayat Atopik pada keluarga atau penderita seperti asma bronkiale,
dermatitis Atopik, ataupun rhinitis alergi.
Berbagai faktor ikut berinteraksi dalam patogenesis penyakit ini misalnya
seperti faktor genetik, lingkungan, sawar kulit, dan imunologik. Pada dasarnya
7
dermatitis Atopikk terjadi melalui reaksi imunologik yang diperantai oleh sel-sel
yang berasal dari sumsum tulang. Selain itu ekspresi gen IL-4 memainkan peranan
penting dalam dermatitis Atopikk yang diekspresikan oleh sel TH2 dimana pada
penderita DA sel TH2 lebih banyak dan sel TH1 menurun sehingga akan
menimbulkan peradangan kulit. Pada anak kecil, makanan dapat berperan dalam
patogenesis dermatitis Atopik seperti susu, telur, gandum, kedelai, dan kacang
tanah sehingga menimbulkan urtikaria karena induksi alergen makanan.
Gejala utama DA ialah pruritus dapat hilang timbul sepanjang hari, tetapi
umumnya lebih hebat pada malam hari. Akibatnya penderita akan menggaruk
sehingga timbul bermacam-macam kelainan di kulit berupa papul, likenifikasi,
eritema, erosi, eksoriasi, eksudasi, dan krusta.
Dermatitis Atopik dibagi menjadi tiga fase yaitu:
•
Dermatitis Atopik Infantil
Dermatitis Atopik ini sering muncul pada tahun pertama kehidupan,
biasanya setelah usia 2 bulan. Lesi mulai di muka (dahi atau pipi)
berupa eritema, papulovesikel yang halus, dan muncul gatal. Apabila
terus digosok makan akan pecah dan menyebabkan krusta.
•
Dermatitis Atopik Anak
Dermatitis ini sering muncul pada anak usia 2 sampai 10 tahun dan
dapat merupakan kelanjutan bentuk infantile atau timbul sendiri. Lesi
lebih kering tidak begitu eksudatif dan lebih banyak papul serta
likenifikasinya.
•
Dermatitis Atopik pada remaja dan dewasa
Lesi kulit dermatitis atopik pada bentuk ini dapat berupa plak populareritematosa dan berskuama atau plak likenifikasi yang gatal. Pada
dermatitis atopik remaja lokalisasi lesi di lipat siku, lipat lutut dan
samping leher, dahi dan sekitar mata. Dermatitis Atopik ini distribusi
lesi kurang karakteristik sering mengenai tangan dan pergelangan
tangan.
Diagnosis dermatitis atopik didasarkan pada kriteria sebagai berikut :
8
•
Kriteria Mayor
➢ Pruritus
➢ Dermatitis di muka atau ekstensor
➢ Dermatitis di fleksura
➢ Dermatitis kronis atau residif
➢ Riwayat atopik pada penderita atau keluarganya
•
Kriteria Minor
➢ Xerosis
➢ Infeksi kulit
➢ Dermatitis nonspesifik pada tangan atau kaki
➢ Iktiosis/keratosis pilaris
➢ Pitiriasis alba
➢ Keilitis
➢ Konjungtivitis berulang
Tatalaksana dermatitis atopik yaitu:
•
Nonmedikamentosa
Kulit penderita cenderung lebih rentan terhadap bahan iritan oleh karena itu
penting
untuk
mengidentifikasi
kemudian
menyingkirkan
faktor
yang
memperberat dan memicu siklus gatal-garuk misalnya sabun dan deterjen, kontak
dengan bahan kimia, pakaian kasar, pajanan terhadap panas atau dingin yang
ekstrim. Bila memakai sabun hendaknya yang berdaya larut minimal terhadap
lemak dan mempunyai PH netral. Pakaian baru sebaiknya dicuci terlebih dahulu
sebelum dipakai untuk membersihkan bahan kimia serta mencuci pakian dengan
deterjen harus dibilas dengan baik sebab sisa deterjen dapat bersifat iritan
•
Medikamentosa
Pengobatan medikamentosa bisa menggunakan hidrasi kulit karena kulit
penderita dermatitis atopik kering dan fungsi sawarnya berkurang, mudah retak,
sehingga mempermudah masuknya pathogen dan bahan iritan. Selain itu bisa
diberikan kortikosteroid topikal namun apabila didapatkan lesinya basah
9
dikompres dahulu sebelum digunakan steroid, misalnya permanganas kalikus
1:5000. Imunomodulator topikal juga diberikan untuk menghambat aktivasi sel
yang terlibat dalam dermatitis atopik seperti sel Langerhans, sel T, dan sel mast.
d. Dermatitis Numularis
Dermatitis numularis atau yang biasa disebut nummular eczema atau discoid
eczema merupakan suatu peradangan berupa lesi berbentuk mata uang (coin) atau
agak lonjong, berbatas tegas dengan efloresensi atau lesi awal berupa papul
disertai vesikel (papulovesikel), biasanya mudah pecah sehingga basah dan
biasanya menyerang ekstremitas.
Dermatitis Numularis biasanya terjadi pada orang dewasa, lebih sering pada
pria dibandingkan wanita dengan pasien paling banyak berusia antara 55 hingga
65 tahun. Pada wanita usia puncak juga terjadi pada usia 15 sampai 25 tahun.
Dermatitis numularis tidak biasa ditemukan pada anak-anak. Bila ada timbulnya
jarang pada usia sebelum satu tahun, umumnya kejadian meningkat seiring
dengan meningkatnya usia.
Penyebabnya pada saat ini belum diketahui. Kemungkinan suatu varian
virus dermatitis atopik dibantah, karena kadar IgE masih dalam batas normal.
Diduga infeksi akut berperan dalam dermatitis numularis dengan ditemukannya
peningkatan koloni Staphylococcus dan Micrococcus ditempat kelahiran
walaupun secara klinis tidak ditemukan tanda infeksi.Timbulnya dermatitis
numularis apakah melalui mekanisme hipersensitifitas terhadap bakteri atau
Karena infeksi bakteri tersebut, belum diketahui dengan jelas. Eksaserbasi terjadi
bila koloni bakteri meningkat diatas 106 kuman/cm2.
Dermatitis kontak mungkin ikut memegang peranan pada berbagai kasus
dermatitis numularis, misalnya alergi terhadap nikel, krom, kobal, demikian pula
iritasi dengan wol dan sabun. Trauma fisik dan kimiawi mungkin juga berperan,
terutama bila terjadi di tangan, dapat pula pada bekas cidera lama atau jaringan
parut.
10
Patofisiologi dermatitis numularis belum diketahui secara pasti, tetapi pada
kulit penderita dermatitis numularis cenderung kering, hidrasi stratum korneum,
rendah. Penelitian mengemukakan hipotesa bahwa pelepasan histamine dan
mediator inflamasi lainya dari sel mast yang kemudian berinteraksi dengan sarafsaraf C yang kemudian menimbulkan gatal. Pada penderita dermatitis numularis,
substansi P dan kalsitosin serat peptide meningkat pada daerah lesi dibandingkan
di daerah non lesi.Neuropeptide ini dapat menstimulasi pelepasan sitokinlainnya
sehingga memicu timbulnya inflamasi. Hal inimenunjukan bahwa neuropeptide
berpotensi pada mekanisme proses degranulasi sel mast.
Keluhan pada pasien dermatitis numularis dapat berupa gatal yang sangat
hebat sehingga dapat mengganggu. Lesi akut berupa vesikel dan papulovesikel
(0,3–1 cm). kemudian membsar dengan cara berkonfluensi atau meluas
kesamping membentuk satu lesi karakteristik seperti uang logam, eritematosa,
sedikit edematosa dan berbatas tegas. Lambat laun vesikel pecah dan terjadi
eksudasi. Kemudian mongering menjadi krusta kekuningan. Ukuran lesi bisa
mencapai 5cm atau lebih, jumlah lesi dapat hanya satu, dapat pula banyak dan
tersebar, bilateral atau simetris dengan ukuran bervariasi dari miliar sampai
nummular, bahkan plakat. Tempat predileksi biasanya terdapat di tungkai bawah,
badan, lengan termasuk punggung tangan.
11
Diagnosis Banding dari dermatitis numularis adalah:
•
Dermatitis kontak
•
Dermatitis Atopik
•
Neurodermatitissirkumskripta
•
Dermakomikosis
Sedapat-dapatnya mencari penyebab atau factor yang memprovokasi. Bila
kulit kering diberi pelembab atau emolien. Secara topical lesi dapat diobati
dengan
obat
antiinflamasi,
misalnya
glukokortikoid,
takrolimus,
atau
primeklolimus. Bila lesi mashi eksudatif, sebaiknya dicompres dahulu. Kalau
ditemukan infeksi bacterial diberikan antibiotic secara sistemik. Kortikosteroid
sistemik hanya diberikan pada kasus yang berat dan refraktor, dalam jangka
pendek. Pruritus dapat diobati dengan antihistamin misalnya Hidroksilin HCl.
e. Liken Simpleks Kronik (Neurodermatitis)
Liken Simpleks Kronik (LSK/neurodermatitis sirkumskripta) adalah suatu
kelainan yang sangat gatal dan bersifat kronis dengan ditandai satu atau lebih plak
yang mengalami likenifikasi yaitu penebalan pada kulit dan permukaan kulitnya
seperti kulit pohon, yang disebabkan oleh respon menggosok atau menggaruk
berulang.
Pruritus memainkan peran sentral dalam timbulnya pola reaksi kulit berupa
likenifikasi dan pririgo nodularis. Hipotesis mengenai pruritus dapat oleh karena
adanya penyakit yang mendasari misalnya gagal ginjal kronis, obstruksi saluran
empedu, limfoma Hodgkin, penyakit kulit seperti dermatitis atopik,dermatitis
kontak alergik, gigitan serangga. Beberapa penelitian menghubungkan antara
penyakit ini dengan faktor emosional yang sering mengakibatkan gatal yang
berulang untuk memadamkan gangguan emosinya sehingga terbentuk plak. Jadi
stress emosional yang menyebabkan iritasi dan keinginan untuk menggaruk kulit
sering kali berupa siklus, dengan plak yang dihasilkan menyebabkan lebih banyak
12
stress dan gatal kronis, perubahan pigmentasi kulit yang terkena dan kemungkinan
ke area yang lebih luas.
Liken simpleks kronik terletak di area kulit yang dapat dengan mudah digaruk.
Gatal memicu gesekan yang menghasilkan lesi, tetapi patofisiologi yang
mendasarinya tidak diketahui. Kulit dengan dermatitis atopik kemungkinan besar
mengalami likenifikasi. Terdapat hubungan di antara jaringan saraf pusat, perifer,
dan mediator inflamasi dalam persepsi gatal dan berkembangnya perubahan pada
liken simpleks kronik.
Penderita mengeluh gatal sekali dan biasanya timbul malam hari yang dapat
mengganggu tidurnya meskipun rasa gatal tidak timbul terus menerus. Rasa gatal
13
akan hilang sementara apabila penderita menggaruk hingga timbul luka pada
daerah tersebut. Lesi biasanya tunggal yang awalnya berupa plak eritema dan
lambat laun terjadi edema dengan bagian tengah berskuama dan menebal serta
terjadi likenifikasi. Letak lesi dapat timbul dimana saja tetapi biasanya ditemukan
ialah di scalp, tengkuk, samping leher, lengan bagian ekstensor dan paha bagian
medial.
Variasi klinis dapat berupa prurigo nodularis akibat garukan atau korekan
tangan penderita yang berulang-ulang pada suatu tempat. Lesi berupa nodus
berbentuk kubah dengan permukaan mengalami erosi tertutup krusta dan skuama
yang lambat laun akan menjadi keras dan berwarna lebih gelap.
Empat langkah yang dapat dilakukan untuk pengobatan LSK yaitu:
mengidentifikasi penyakit yang mendasari, memperbaiki fungsi lapisan barier
kulit, mengurangi inflamasi, dan memutuskan siklus gatalgaruk.Penatalaksaan
pada LSK ini biasanya diberikan steroid topikal yaitu desoksimethason 0,025%.
Penggunaan topikal steroid potensi tinggi lebih efektif dan aman untuk digunakan
dalam jangka waktu pendek daripada penggunaan topikal steroid dosis rendah
dalam jangka lama. Untuk memutuskan siklus gatal garuk maka bisa diberikan
antihistamin, pemakaian antihistamin yang cukup efektif adalah yang memberikan
efek sedatif agar pasiendapat istirahat dengan baik. Didapatkan penggunaan CTM
dan mebhidrolin napadisilat yang mempunyai efek sedatif .Steroid sistemik dapat
diberikan jika pemakain steroid topikal selama 2 minggu tidak memberikan hasil
yang efektif.
f. Napkin eczema
Diaper dermatitis (juga dikenal sebagai napkin eczema, ruam popok, nappy
rash atau dermatitis iritan karena popok) adalah istilah umum untuk
meggambarkan inflamasi akut pada area terkena popok; kondisi ini umumnya
terjadi pada bayi. Kata “popok” digunakan bukan karena popok menyebabkan
14
dermatitis, melainkan secara garis besar akibat faktor-faktor dalam area popok
seperti urin, feses, kelembapan atau gesekan.
EPIDEMIOLOGI
Angka kejadian diaper dermatitis pada bayi sekitar 7% sampai 35% dengan
puncak insidens antara 9 sampai 12 bulan. Tidak ada perbedaan antara laki-laki
dan perempuan ataupun kelompok etnis. Data penelitian di Inggris Raya
menunjukkan insidens diaper dermatitis 25% pada 4 minggu pertama, tetapi juga
dapat terjadi pada orang dewasa berbagai umur yang menggunakan popok. Pada
tahun 1997 data statistik menunjukkan bahwa angka kejadian pada orang Asia
adalah 4,5%, dengan 79,3% kulit putih, 15,1% kulit hitam, dan 1% orang IndianAmerika.
ETIOLOGI
Diaper dermatitis tidak ditemukan pada anak-anak yang tidak menggunakan
popok. Etiologi dermatitis popok adalah multifaktorial. Kerusakan kulit area
diaper merupakan akibat beberapa faktor yang berlangsung lama, sehingga
meningkatkan kelembapan kulit. Hal tersebut meningkatkan risiko kerusakan kulit
karena gesekan, penurunan fungsi barier kulit, dan meningkatkan reaktivitas
iritan. Faktor etiologi lain adalah kontak dengan urin, tinja, enzim pencernaan
pemecah protein dan lemak pada tinja, peningkatan pH kulit dan superinfeksi
kandida, lebih jarang superinfeksi bakteri. Kulit yang memakai popok mempunyai
pH lebih tinggi daripada kulit tidak menggunakan popok baik pada bayi maupun
anak yang lebih tua. Peningkatan pH juga terkait dengan efek oklusi popok dan
peningkatan permeabilitas kulit.
Penyebab diaper dermatitis iritan adalah amoniak dalam urin ataupun tinja
yang dapat menyebabkan maserasi kulit. Penyebab lain yaitu peningkatan hidrasi
kulit, kulit lembap lebih mudah terluka karena gesekan popok saat anak bergerak
dan lebih mudah teriritasi. Kulit basah juga memungkinkan pertumbuhan bakteri
dan ragi yang dapat meningkatkan pH kulit lokal, meningkatkan aktvitas lipase
15
dan protease tinja. Diaper dermatitis juga dapat disebabkan oleh Candida albicans
yang merupakan parasit sekunder. Penggunaan antibiotik juga meningkatkan
kolonisasi Candida albicans.
Faktor-faktor lain adalah kontak dengan iritan kulit (urin, feses, garam
empedu), gesekan mekanis (kulit ke kulit, popok ke kulit), pH kulit, status gizi
atau diet (komposisi feses), diare, dan kondisi medis tertentu.
PATOGENESIS
Diaper dermatitis secara umum disebabkan eaksi iritan pada lingkungan
popok seperti friksi, oklusi, kelembapan, maserasi, urin, feses atau kimia; juga
berhubungan dengan kebiasaan minum susu lewat botol dan adanya Candida
albicans dalam saluran pencernaan.
Sel-sel stratum korneum saling terhubung melalui desmosom; terdapat
struktur lapisan lemak yang dapat melindungi kulit dari paparan air. Iritan lebih
mudah menembus barier rusak. Lingkungan yang berubah karena pemakaian
popok dapat mempengaruhi struktur, fungsi, dan respons penghalang kulit.
Lingkungan lembap dapat menyebabkan hidrasi berlebih stratum korneum dan
gangguan struktur lapisan lemak. Rusaknya integritas stratum korneum dapat
menyebabkan iritasi, mudah ditembus mikroorganisme dan mengaktifkan sel
Langerhans epidermis. Enzim lipase dan protease pada tinja dapat mengganggu
integritas stratum korneum dan mendegradasi protein, sehingga dapat menembus
sawar. Penetran atau iritan yang berinteraksi dengan keratinosit, menstimulasi
pengeluaran sitokin yang kemudian berpengaruh pada pembuluh darah dermis dan
menimbulkan peradangan. Iritan tersebut juga dapat meningkatkan proliferasi,
metabolisme, dan diferensiasi, akibatnya epidermis mengatur ulang susunan
stratum korneum dan menghasilkan struktur yang rusak, pengaturan air tidak
normal, serta deskuamasi yang tidak memadai.
Lesi kulit yang tertutup popok dapat terjadi apabila enzim pankreas tidak
dinetralisir di usus besar dan apabila enzim pankreas bercampur garam empedu
16
akan meningkatkan oklusi, eritema, aliran darah, pH kulit, dan Trans Epidermal
Water Loss (TEWL). Kulit dengan pH tinggi berhubungan dengan tingginya
hidrasi kulit (kulit menjadi lebih basah). Pada pasien gangguan metabolik terjadi
peningkatan enzim pencernaan, sehingga berisiko mengalami kerusakan kulit
karena enzim yang tidak diserap diekskresikan lewat feses dan dapat memecah
protein stratum korneum. Pada bayi dan anak-anak yang menjalani operasi usus
atau dengan diare, waktu proses dan pencernaan makanan dipercepat,
menghasilkan aktivitas protease dan lipase yang meningkat dan membuat kulit
lebih rentan terhadap dermatitis popok.
GEJALA KLINIS
Gejala klinis diaper dermatitis dapat berupa diaper dermatitis iritan atau
diaper dermatitis kandida. Evaluasi keparahan gejala klinis dan keberhasilan
terapi secara garis besar dapat dilihat dari evaluasi eritema, ruam, dan kulit kering.
Diaper dermatitis dapat memengaruhi perut bagian bawah, daerah lumbal bawah,
gluteal, genitalia, paha bagian dalam, dan kulit cembung yang --paling dekat
popok.
Diaper Dermatitis Iritan
Merupakan dermatitis eritematosa terbatas pada permukaan yang tertutup
popok; bentuk diaper dermatitis paling umum, dan mengenai berbagai usia.
Gambaran klinis diaper dermatitis iritan adalah patcheritematosa, lembap, dan
terkadang skuama di area yang cembung di genitalia dan bokong, dimulai dari
area paling dekat popok. Erosi dangkal terkadang ditemukan pada permukaan
konveks yang dapat asimtomatis. Pada kasus parah didapatkan erosi dangkal
17
bahkan ulserasi, ujung penis dapat teriritasi disertai krusta, sehingga bayi sering
miksi dan didapatkan bercak darah di popok.
Diaper Dermatitis candida
Diaper dermatitis kandida adalah dermatitis area popok yang disebabkan oleh
jamur Kandida. Gejala klinisnya adalah tampak papul, patch, dan plak merah
cerah pada lipatan tubuh dan pada permukaan cembung. Lesi tersebut awalnya
muncul perianal kemudian menyebar ke perineum dan terkadang sampai bagian
paha atas. Diaper dermatitis kandida terkadang disertai sariawan mulut yang harus
segera diobati sehingga mulut bayi harus selalu diperiksa. Lesi satelit adalah tanda
khas diaper dermatitis kandida. Kandida yang berasal dari flora usus sering
menyebabkan dermatitis popok lebih dari 3 hari dan jumlahnya meningkat sesuai
tingkat keparahan klinis.1Infeksi Candida albicans jarang terjadi pada bayi yang
tidak menggunakan popok tetapi ditemukan sekitar 41% sampai 77% pada bayi
yang menggunakan popok.
18
KLASIFIKASI TINGKAT KEPARAHAN
Meskipun belum ada metode baku atau divalidasi universal untuk menilai
tingkat keparahan diaper dermatitis, terdapat klasifikasi yang dapat menjadi
panduan untuk menilai keparahan dan menentukan terapi. Klasifikasi ini membagi
diaper dermatitis menjadi kriteria sangat ringan (skor 0,5), ringan (skor 1), sedang
(skor 2), sedang-berat (skor 2,5), dan berat (skor 3).
19
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan penunjang terutama untuk identifikasi infeksi Kandida. Infeksi
ini sering terjadi setelah diare atau penggunaan antibiotik oral. Diagnosis diaper
dermatitis kandida berdasarkan karakteristik morfologi klinis kandida yang pada
kerokan
Kalium
Hidroksida
(KOH)
menunjukkan
adanya
pseudohifa.
Pemeriksaan bakteri diperlukan untuk mengetahui adanya infeksi bakteri pada
lesi. Pada kasus berat dapat dilakukan kultur terhadap kuman Staphylococcus
aureus.
TATALAKSANA
Diaper dermatitis dapat dicegah dengan menggunakan popok daya serap
tinggi; cara kerjanya adalah menyerap air dari kulit yang basah dan melindungi
pH tetap terjaga. Popok superabsorben lebih baik dibandingkan popok kain atau
popok sekali pakai. Penggunaan popok sekali pakai dengan gel penyerap
(mengandung natrium poliakrilat) dapat mengurangi dermatitis popok bayi.
Pada lesi di daerah tertutup popok dapat diperiksa adakah infeksi kandida;
dapat dipertimbangkan penggunaan mikonazol krim 0,25%. Pilihan agen
antijamur topikal adalah nistatin, mikonazol, klotrimazol, dan siklopiroks; nistatin
paling sering digunakan. Nistatin topikal sudah digunakan selama 50 tahun untuk
mengobati infeksi kandida; aman dan efektif untuk terapi kandidiasis kutaneus
pada bayi. Penggunaan nistatin pada diaper dermatitis menunjukkan hasil
memuaskan. Klotrimazol juga efektif untuk dermatitis popok karena Candida
albicans dan pada dermatomikosis resisten terhadap nistatin dan terapi anti-jamur
lainnya.
Jika tidak ditemukan infeksi kandida, dapat diperiksa apakah ada infeksi
bakteri. Infeksi dapat diberi antibakteri topikal (pilihan utama polimiksin B sulfat
dan zink basitrasin, mupirosin krim 2%, atau asam fusidat krim 2%).
20
Terapi paling utama diaper dermatitis adalah menjaga kulit tetap kering
dengan mengganti popok sesering mungkin setelah terkena urin atau tinja. Bahanbahan aktif mengandung zink oksida, petrolatum, minyak hati ikan kod,
dimetikon, atau lanolin dapat menjadi pilihan terapi. Zink oksida topikal 0,25%
sangat baik memberikan perlindungan tahan air, sehingga mengurangi gesekan
dan maserasi. Zink oksida efektif untuk pencegahan ataupun terapi diaper
dermatitis tipe sedang; untuk diaper dermatitis tipe lebih parah diperlukan agen
anti-jamur dan kortikosteroid potensi rendah seperti hidrokortison. Lesi yang
belum membaik dapat diberi campuran salep nistatin dan hidrokortison 1% salep
dengan perbandingan yang sama. Kortikosteroid topikal potensi rendah seperti
hidrokortison dan hidrokortison asetat secara umum aman untuk anak-anak,
direkomendasikan untuk diaper dermatitis sedang sampai parah. Terapi kombinasi
antijamur dan kortikosteroid potensi sedang-tinggi tidak direkomendasikan karena
dapat menyebabkan atrofi kulit dan lebih mudah penetrasi pada kondisi popok
oklusif.
Secara garis besar pencegahan dan terapi praktis diaper dermatitis dapat diringkas
dengan terapi “ABCD”, yaitu:
1. Air (Udara): pada area tertutupi popok harus sesering mungkin terkena udara
dengan membuka popok secara berkala.
2.
Barrier (Penghalang): mengoleskan krim barrier (misalkan zink oksida atau
petrolatum) ke area yang tertutup popok untuk bayi yang berisiko terkena
dermatitis popok.
3. Cleansing (Pembersihan): selalu bersihkan area terkena popok dengan lembut
menggunakan air setiap penggantian popok, hindari menggosok kuat.
4. Diaper (Popok): gunakan popok daya serap tinggi dan hindari popok kain. Ganti
popok setiap 1 hingga 3 jam.5. Education (Edukasi): orang tua harus diberi
edukasi tata cara pencegahan dan pengobatan dermatitis popok.
21
KOMPLIKASI
Komplikasi diaper dermatitis termasuk punch out ulcers atau erosi dengan
tepi meninggi (Jacquet erosive diaper dermatitis), papul/nodul pseudoverukosa,
ataupun plak dan nodul keabuan (granuloma gluteal infantum). Jacquet erosive
diaper dermatitis merupakan bentuk parah diaper dermatitis dengan gambaran
klinis ulserasi parah atau erosi dengan tepi meninggi. Absorpsi topikal
kortikosteroid secara signifikan meningkat pada area kulit tipis dan potensial
atrofi, sehingga penggunaan di selangkangan perlu diperhatikan. Pernah
dilaporkan adanya striae atrofi setelah penggunaan kombinasi produk nistatin dan
triamsinolon.
22
PROGNOSIS
Prognosis dermatitis popok tergantung tingkat keparahan. Kasus tanpa
komplikasi mempunyai prognosis baik; jika terjadi komplikasi, membutuhkan
waktu penyembuhan lebih lama.
2. LESI ERITRO-SQUAMOSA
a. Psoriasis Vulgaris
Psoriasis vulgaris merupakan suatu penyakit kulit inflamasi kronis residif
yang dicirikan oleh lesi berupa plak eritema yang ditutupi oleh skuama tebal,
kasar, kering berwarna putih keperakan pada area predileksi seperti ekstensor
ekstremitas terutama siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral bagian bawah,
bokong dan genitalia. Selain tempat-tempat tersebut lesi juga dapat dijumpai
pada umbilikus dan ruang intergluteal.
23
Epidemiologi
Psoriasis terdapat di seluruh dunia dengan prevalensi yang bervariasi dari
1% sampai 3%. Di Amerika Serikat, prevalensi berkisar antara 2,2% - 2,6%,
sedangkan di Asia 0,4%. Di Eropa insiden tertinggi dilaporkan terjadi di
Denmark sebesar 2,9% . Insiden penyakit ini diperkirakan 60 kasus baru per
100.000 penduduk per tahun. Hal ini dipengaruhi oleh lokasi geografis, ras dan
faktor lingkungan lain. Psoriasis dapat dijumpai pada laki-laki dan perempuan
dalam jumlah yang sama . Puncak insiden psoriasis terjadi pada usia dewasa
awal (20 sampai 30 tahun) dan dewasa lanjut (50 sampai 60 tahun), psoriasis
dapat dijumpai pada segala usia.
Etiologi
Meskipun pola pewarisan psoriasis masih belum sepenuhnya dipahami, telah
banyak penelitian menemukan adanya bukti akan keterlibatan faktor genetik
pada terjadinya psoriasis. Psoriasis terjadi pada 50% saudara kandung penderita
psoriasis dengan kedua orang tua yang juga menderita psoriasis. Tujuh puluh
satu persen penderita psoriasis usia anak memiliki riwayat keluarga positif akan
24
psoriasis. Tingginya angka prevalensi psoriasis pada kembar monozigot, yaitu
70% sementara kembar dizigot 20% juga mendukung konsep predisposisi
genetik. Diduga adanya keterkaitan faktor genetik dengan beberapa lokus gen
yaitu PSORS1, PSORS2, PSORS3, PSORS4, PSORS5, PSORS6, PSORS7,
PSORS 8 dan PSORS 9. Diantara lokus gen suseptibel psoriasis tersebut
didapatkan hubungan yang paling kuat dengan insiden psoriasis adalah PSORS1.
Faktor lingkungan memegang peranan penting pada terjadinya psoriasis.
Pencetus dari lingkungan antara lain infeksi (streptokokus, stapilokokus dan
human immunodeficiency virus), stress, obat-obatan (litium, beta blockers, anti
malaria, obat antiinflamasi non steroid, tetrasiklin, angiotensin converting
enzyme inhibitors, calcium channel blockers, kalium iodida), trauma fisik,
paparan sinar ultraviolet, faktor metabolik (pubertas, kehamilan), merokok, dan
konsumsi alkohol yang berlebihan.
Patogenesis
Psoriasis vulgaris ditandai oleh hiperproliferasi dan gangguan diferensiasi
keratinosit epidermal, hiperaktivasi sel inflamasi seperti sel T, sel dendritik, atau
neutrofil, dan peningkatan angiogenesis di dermis.
Terdapat beberapa jenis sel yang terlibat pada patogenesis terjadinya
psoriasis antara lain sel penyaji antigen (antigen-presenting cell/APC) termasuk
sel limfosit T, sel keratinosit, sel langerhans (Langerhans cell/LC) dan makrofag.
Sistem imunitas seluler alami dan didapat terutama aktivasi sel T memainkan
peran utama pada terjadinya psoriasis.
Pada individu dengan predisposisi genetik, rangsangan eksternal seperti
trauma (dikenal sebagai fenomena Koebner), infeksi, stres, obat-obatan, dan
alkohol dapat memicu episode awal psoriasis. Keratinosit yang terstimulasi
melepaskan deoxyribonucleic acid (DNA) dan ribonucleic acid (RNA) yang
membentuk kompleks dengan katelisidin leusin-leusin 37 (LL37) yang kemudian
menginduksi produksi IFN-α oleh sel dendritik plasmasitoid (pDC), yang
kemudian mengaktivasi sel dermal dendritik (dDC). Sel dDC bermigrasi ke
25
kelenjar limfe regional menjadi sel dendritik matur. Sel dendritik matur
berinteraksi dengan sel T naif dan memproduksi sitokin yang akan memicu
diferensiasi dan ekspansi sel seperti sel Th1, Th17 dan Th22. Sel Th1 akan
menstimuli proliferasi keratinosit dengan mengekspresikan chemokine (c-x-c
motif) receptor 3 (CXCR3) dan dikemoatraksi oleh ligannya yakni chemokine (cx-c motif) ligand 9/10/11 (CXCL9/10/11). Sel Th17, menstimuli keratinosit
dalam menghasilkan kemokin penarik neutrofil yaitu chemokine (c-c motif)
receptor 6 (CCR6) dan dikemoatraksi oleh ligannya yakni chemokine (c-c motif)
ligand 20 (CCL20) yang akan memicu proliferasi keratinosit. Sel Th-17
mensekresikan IL- 17A dan IL-17F, juga IFN-γ dan IL-22 yang menstimulasi
proliferasi keratinosit dan melepaskan β-defensin 1/2, S100A7/8/9 dan kemokin
perekrut
neutrofil
CXCL1, CXCL3, CXCL5, dan CXCL8. Neutrofil
menginfiltrasi stratum korneum dan produksi Reactive Oxygen Species (ROS)
dan α-defensin dengan aktivitas antimikrobial, seperti CXCL8, IL-6, dan
CCL20. Keratinosit juga melepaskan vascular endothelial growth factor
(VEGF), basic fibroblast growth factor (bFGF), dan angiopoetin untuk
meningkatkan proliferasi sel endotel dan merangsang angiogenesis .
Sel Langerhans pada stratum basalis berhubungan dan berinteraksi erat
dengan sel keratinosit melalui E-cadherin. Sel Langerhans berperan melalui
produksi IL-22 dan akhirnya Th22. Makrofag berinteraksi dengan sel keratinosit
dan mensekresikan berbagai sitokin proinflamasi seperti TNF-α, IFN-α/β, IL1β, IL-6, IL-12, IL-10 dan IL-18 . Pada perbatasan dermis dan epidermis, sel T
cluster of differentiation-8 (CD-8) mengekspresikan very late antigen-1 (VLA-1)
berikatan kolagen tipe IV, melepaskan sitokin-sitokin proinflamasi seperti IL-17,
IL-21, IL-22 dan IFN-γ. IL-17 dan IL-22 ini meningkatkan produksi LL-37
menyebabkan aktivasi terus menerus
dari
sistem
imunitas. Gambaran
patogenesis psoriasis vulgaris dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
26
Diagnosis
Diagnosis psoriasis vulgaris ditegakkan berdasarkan anamnesis, gejala klinis
dan pemeriksaan penunjang.
Anamnesis pada penderita psoriasis vulgaris biasanya memperoleh adanya
keluhan gatal dan bercak merah berisisik pada lokasi predileksi. Keluhan dapat
bersifat akut (hitungan hari) maupun kronis (bulanan sampai tahunan), dengan
ataupun tanpa riwayat rekurensi. Penyakit yang bersifat kronis dengan frekuensi
rekurensi tinggi memiliki prognosis yang lebih buruk karena sering dijumpai
perluasan lesi yang progresif. Selain hal diatas, anamnesis juga sangat penting
dalam mengetahui adanya konsumsi obat-obatan yang dapat memicu psoriasis
vulgaris, onset penyakit dan adanya riwayat psoriasis pada anggota keluarga lain.
Psoriasis beronset dini dengan adanya anggota keluarga lain yang menderita
psoriasis telah dihubungkan dengan lesi yang lebih luas dan bersifat rekuren.
Selain lesi kulit penderita psoriasis sering kali mengeluhkan adanya nyeri sendi,
kerusakan kuku maupun nyeri di lidah.
Psoriasis vulgaris atau psoriasis dengan lesi plak kronis merupakan
presentasi klasik dan yang paling sering dijumpai pada psoriasis. Lesi klasik
psoriasis berupa plak eritema berbatas tegas dan ditutupi skuama berwarna putih.
27
Skuama pada lesi tampak berwarna putih menyerupai lilin ketika dikerok
(fenomena Kaarsvlek atau tetesan lilin). Ketika pengerokan dilanjutkan maka
akan dijumpai bintik-bintik perdarahan berukuran kecil (pin point bleeding) yang
disebut sebagai tanda Auspitz. Kulit sehat yang sebelumnya digaruk oleh
penderita dapat berkembang menjadi lesi dalam jangka waktu kurang lebih dua
minggu (fenomena koebner atau isomorfik). Fenomena Kaarsvlek dan tanda
Auspitz merupakan ciri khas lesi psoriasis vulgaris yang sangat mudah diperiksa
secara klinis (Kuchekar dkk., 2011; Gudjonsson dan Elder, 2012). Lesi psoriasis
vulgaris cenderung simetris dijumpai pada bagian ekstensor ekstremitas terutama
siku dan lutut, kulit kepala, lumbosakral bagian bawah, bokong dan genitalia
Selain di tempat-tempat tersebut lesi juga dapat dijumpai pada umbilikus dan
celah intergluteal.
Berdasarkan gambaran klinisnya psoriasis dapat diklasifikasikan menjadi
beberapa bentuk antara lain :
•
Psoriasis vulgaris
Psoriasis vulgaris merupakan 90% dari seluruh kasus psoriasis yang
ditemukan. Lesi khas dijumpai pada area predileksi psoriasis pada tipe ini.
Meskipun demikian variasi ukuran dan bentuk lesi menyebabkan lesi ini sering
kali disebut dengan nama yang berbeda-beda seperti psoriasis geografika
(menyerupai peta), psoriasis girata (gabungan beberapa plak), psoriasis anularis
(menyerupai cincin), psoriasis rupioid (menyerupai kerucut) dan psoriasis
ostrasea (menyerupai kulit kerang).
•
Psoriasis gutata
Dicirikan oleh munculnya plak berukuran kecil (diameter 0,5-1,5 cm) pada
bagian proksimal badan dan ekstremitas yang terjadi secara akut. Psoriasis gutata
umumnya dijumpai pada usia dewasa muda, dihubungkan dengan HLA-Cw6 dan
didahului oleh infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh streptokokus.
•
Psoriasis plak kecil
28
Dibedakan dengan psoriasis gutata oleh onsetnya yang terjadi pada usia tua,
sifatnya yang kronis serta ukuran lesi yang lebih besar (diameter 1 sampai 2 cm).
Selain itu lesi juga lebih tebal dan lebih berskuama.
•
Psoriasis inversa/fleksural
Sesuai namanya, lesi psoriasis inversa/fleksural umumnya dijumpai pada
lipatan- lipatan utama tubuh seperti aksila, genitokrural dan leher. Skuama
biasanya sangat sedikit atau tidak ada dan lesi menunjukkan eritema mengkilap
berbatas jelas.
•
Psoriasis eritroderma
Psoriasis eritroderma merupakan bentuk psoriasis generalisata yang
mengenai seluruh tubuh termasuk wajah, tangan, kaki, kuku, badan dan
ekstremitas. Meskipun gejala klasik psoriasis dapat dijumpai, pada tipe ini
eritema adalah gejala yang paling dominan.
•
Psoriasis pustulosa
Gejala utama psoriasis pustulosa ialah dijumpainya pustul multipel steril
yang menyebar di atas kulit yang eritema. Terdapat beberapa varian klinis
psoriasis, antara lain psoriasis pustulosa generalisata (tipe von Zumbusch),
psoriasis pustulosa anularis, impetigo herpetiformis dan psoriasis pustulosa
lokalisata yaitu pustulosis palmaris et plantaris dan akrodermatitis kontinua
Hallopeau.
•
Sebopsoriasis
Sebopsoriasis ditandai oleh plak eritema dengan skuama berminyak
terlokalisir pada daerah-daerah seboroik seperti kulit kepala, lipatan nasolabial,
perioral, presternal dan intertriginosa.
•
Psoriasis popok
Psoriasis popok biasanya terjadi pada usia 3 sampai 6 bulan. Lesi awalnya
muncul pada area popok sebagai eritema multipel yang berkonfluen, kemudian
29
diikuti oleh munculnya papul eritema kecil. Papul ini memiliki skuama putih
psoriasis yang tipikal.
•
Psoriasis linearis
Bentuk ini merupakan bentuk psoriasis yang sangat jarang dijumpai. Lesi
yang dijumpai berbentuk linear dan berlokasi di ekstremitas.
Selain pada kulit, lesi psoriasis juga dapat dijumpai pada sendi, kuku dan
lidah. Empat puluh persen penderita psoriasis mengalami artritis yang disebut
dengan artritis psoriatik. Gejala yang djumpai berupa nyeri, bengkak, kaku,
kemerahan dan penurunan mobilitas sendi perifer, aksial, seluruh jari, tendon
maupun entesis (tempat perlekatan ligamen atau tendon ke tulang). Terdapat
beberapa manifestasi psoriasis pada kuku antara lain pitting nail, oil drop atau
salmon patch sign, beau lines, splinter hemorrhages, onikoreksis, leukonikia,
onikolisis, penipisan lempeng kuku, hiperkeratosis subungual dan onikolisis.
Meskipun tidak bersifat spesifik pada penderita psoriasis dapat dijumpai lidah
geografik yang juga dikenal sebagai glositis migratori benigna atau glositis
areata migrans. Kondisi ini terjadi akibat hilangnya papila filiformis lokal pada
lidah (Gudjonsson dan Elder, 2012; Boehncke dkk., 2015).
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan dalam menegakkan diagnosis
psoriasis vulgaris terdiri dari pemeriksaan darah, pemeriksaan histopatologi.
Pemeriksaan darah lengkap bersifat tidak spesifik dan berbagai penanda
inflamasi seperti C-reactive protein (CRP), makroglobulin a2 dan laju endap
darah menunjukkan peningkatan. Albumin serum biasanya menurun akibat
hilangnya stratum korneum sementara profil lipid menunjukkan peningkatan.
Pemeriksaan
histopatologi
menunjukkan
adanya
hiperkeratosis
jenis
parakeratosis, akantosis, papilomatosis, dilatasi pembuluh darah, spongiform
pustules of Kogoj maupun mikroabses Munro.
Penilaian Derajat Keparahan Psoriasis Vulgaris
Metode perhitungan derajat keparahan psoriasis vulgaris yang digunakan
adalah Psoriasis Area and Severity Index (PASI). Penilaian ini membagi tubuh
30
menjadi 4 regio, yaitu kepala (10% luas permukaan tubuh), lengan (20%), badan
(30%) dan tungkai (40%). Terdapat tiga faktor yang dinilai yaitu eritema (E),
indurasi (I) dan skuama (S), yang masing masing diberi angka 0 sampai 4 untuk
menunjukkan tidak adanya gejala sampai kondisi yang paling berat. Luasnya
permukaan kulit yang tertutup lesi kemudian diberi angka 0 sampai 6.
Nilai akhir PASI diperoleh dengan menjumlahkan hasil perkalian dari
penjumlahan nilai eritema, indurasi dan deskuamasi tiap-tiap regio tubuh dengan
luas permukaan tubuh yang terlibat (angka 0 sampai 6) dengan koefisien peregio
tubuh (kepala 0,1, lengan 0,2, badan 0,3 dan tungkai 0,4). Nilai 0 menunjukkan
tidak adanya penyakit dan 72 menunjukkan kondisi penyakit yang paling berat.
Berdasarkan nilai PASI maka penderita psoriasis diklasifikasikan menjadi ringan
jika PASI < 7, sedang jika PASI 7-12 dan berat jika PASI > 12.
Penatalaksanaan
Terdapat 3 jenis terapi yaitu terapi topikal, fototerapi dan sistemik seperti
yang dapat dilihat pada Gambar 2.2. Terapi pada psoriasis vulgaris diberikan
berdasarkan pada luas area tubuh yang terkena. Bila area permukaan tubuh yang
terkena kurang dari 10% (ringan), pilihan pengobatannya adalah pengobatan
topikal dan dapat dikombinasi dengan fototerapi. Bila area yang terlibat antara
10- 30 % (sedang) dapat diberikan terapi kombinasi antara terapi topikal,
fototerapi, dan pusat perawatan harian. Sementara itu untuk kategori berat
dengan keterlibatan lesi lebih dari 30% area permukaan tubuh diperlukan
pengobatan sistemik yang dikombinasi dengan pusat perawatan harian, fototerapi
dan terapi topikal.
Terapi topikal terdiri dari emolien, glukokortikoid, analog vitamin D, asam
salisilat, dithranol, tazaroten dan tar. Fototerapi terdiri dari narrow-band
ultraviolet B (NB-UVB), broad-band ultraviolet B (BB-UVB), psoralen yang
dikombinasikan dengan sinar ultraviolet A (PUVA), laser excimer dan
klimatografi. Terapi sistemik terdiri dari metotreksat, asitretin, agen biologis
31
(alefacept, etanercept, adalimumab, infliximab, ustekinumab), siklosporin A,
hidroksiurea, 6-tioguanin, celcept dan sulfasalazin.
Gambar 2.2 Algoritme pemilihan terapi pada psoriasis vulgaris (Gudjonsson
dan Elder, 2012).
b. Dermatitis Seboroik
Dermatitis seboroik adalah dermatosis papulosquamous kronis umum yang
mudah dikenali. Penyakit ini dapat timbul pada bayi dan dewasa dan seringkali
dihubungkan dengan peningkatan produksi sebum (sebaseus atau seborrhea) kulit
kepala dan daerah folikel kaya sebaseus pada wajah dan leher. Kulit yang terkena
berwarna merah muda, bengkak, dan ditutupi dengan sisik berwarna kuningcoklat dan krusta.
Dermatitis seboroik memiliki dua puncak usia, yang pertama pada bayi
dalam 3 bulan pertama kehidupan dan yang kedua sekitar dekade keempat sampai
ketujuh kehidupan. Tidak ada data yang tepat tersedia kejadian dermatitis
32
seboroik pada bayi, tetapi gangguan ini umum.Penyakit pada orang dewasa
diyakini lebih umum daripada psoriasis.Penyakit ini mempengaruhi setidaknya 35% dari populasi di Amerika Serikat. Pria lebih sering terkena daripada wanita
pada semua kelompok umur. Dermatitis seboroik ditemukan pada 85% pasien
dengan infeksi HIV. Dermatitis seboroik banyak terjadi pada pasien yang
menderita penyakit parkinson karena produksi sebumnya meningkat.
Gambaran khas dermatitis seboroik adalah eritema dengan warnakemerahan
dan ditutupi dengan sisik berminyak besar yang dapat dilepaskan dengan
mudah.Pada kulit kepala, lesi dapat bervariasi dari sisik kering (ketombe) sampai
sisik berminyak dengan eritema (Gambar 1.A). Pada wajah, penyakit ini sering
mengenai bagian medial alis, yaitu glabella (Gambar 1.B), lipatan nasolabial
(Gambar 1.C), concha dari daun telinga, dan daerah retroauricular (Gambar 1.D).
Lesi dapat bervariasi dalam tingkat keparahan eritema sampai sisik halus (Gambar
1.E).Pria dengan jenggot, kumis, atau jambang, lesi mungkin melibatkan daerah
yang ditumbuhi rambut (Gambar 1.F), dan lesi hilang jika daerah tersebut
dicukur.Daerah dada medial pada pria terlihat petaloid yang bervariasi dan
ditandai dengan bercak merah terang di pusat dan merah gelap di tepi (Gambar
1.G).Pasien yang terinfeksi HIV, lesi terlihat menyebar dengan pertanda inflamasi
(Gambar 1.H).
33
Meskipun banyak teori yang ada, penyebab dermatitis seboroik masih belum
diketahui secara pasti. Namun ada tiga faktor yang berkaitan dengan munculnya
dermatitis seboroik, yaitu aktivitas kelenjar sebaseus, peran mikroorganisme, dan
kerentanan individu.
1) Aktivitas Kelenjar Sebaseus (Seborrhea)
Kelenjar sebaseus terbentuk pada minggu ke-13 sampai minggu ke-16 dari
kehamilan. Kelenjar sebaseus menempel pada folikel rambut, mensekresikan
sebum ke kanal folikel dan ke permukaan kulit. Kelenjar sebaseus berhubungan
dengan folikel rambut di seluruh tubuh, hanya pada telapak tangan dan telapak
kaki yang tidak memiliki folikel rambut dimana kelenjar sebaseus sama sekali
tidak ada. Kelenjar sebaseus yang terbesar dan paling padat keberadaannya ada di
wajah dan kult kepala.Rambut yang berhubungan dengan kelenjar sebaseus yang
ukurannya besar, sering memiliki ukuran yang kecil.Terkadang pada daerah
tersebut, tidak disebut dengan folikel rambut, tapi disebut dengan folikel sebaseus.
Kelenjar sebaseus mensekresikan lipid dengan cara mengalami proses disintegrasi
sel, sebuah proses yang dikenal dengan holokrin. Aktivitas metabolik sel dalam
kelenjar sebaseus bergantung status differensiasi.Sel bagian luar terdiri atas sel
membran basal, ukuran kecil, berinti dan tidak mengandung lipid. Lapisan ini
mengandung sel yang terus membelah mengisi kelenjar sebagai sel yang
dilepaskan pada proses ekskresi lipid. Selama sel ini bergerak ke bagian tengah
kelenjar, sel mulai menghasilkan lipid dan membesar mengandung banyaklipid
sehingga inti dan struktur sel lain hancur. Sel ini mendekati duktus sebaseus,
sehingga sel akan mengalami desintegrasi dan melepaskan isi. Sebum adalah
cairan kuning yang terdiri dari trigliserid, asam lemak, wax ester, sterol ester,
kolesterol dan squalene. Saat disekresi, komposisi sebum terdiri dari trigliserid
dan ester yang dipecah menjadi digliseid,monogliserid dan asam lemak bebas oleh
mikroba komensal kulit dan enzim lipase.Sebum manusia mengandung asam
lemak jenuh dan tidak jenuh, dengan kandungan asam lemak tidak jenuh yang
lebih tinggi. Belum diketahui secara pasti apa fungsi sebum, namun diduga sebum
34
mengurangi kehilangan air dari permukaan kulit sehingga kulit tetap halus dan
lembut.
Sebum juga punya efek ringan bakterisidal dan fungistatik.Hormon
androgen, khususnya dihidrotestoteron menstimulai aktivitas kelenjar sebaseus.
Kelenjar
sebaseus
manusia
mengandung
5α-reductase,
3α-
dan
17α-
hydroxysteroid dehydrogenase, yang merubah androgen yang lebih lemah menjadi
dihydrotestosteron,yang akan mengikatkan dirinya pada reseptor spesifik di
kelenjar sebaseus kemudian meningkatkan sekresinya.
Kelenjar sebaseus mempunyai reseptor dehidroepiandrosteron sulfas
(DHEAS) yang juga berperan dalam aktivitas kelenjar sebaseus. Level DHEAS
tinggi pada bayi baru lahir, rendah pada anak usia 2-4 tahun dan mulai tinggi pada
saat ekskresi sebum mulai meningkat.
Seborrhea merupakan faktor predisposisi dermatitis seboroik,namun tidak
selalu didapatkan peningkatan produksi sebum pada semua pasien.Dermatitits
seboroik lebih sering terjadi pada kulit dengan kelenjar sebaseus aktif dan
berhubungan dengan produksi sebum.Insiden dermatitis seboroik juga tinggi pada
bayi baru lahir karena kelenjar sebaseusyang aktif yang dipengaruhi oleh hormon
androgen maternal, dan jumlah sebum menurun sampai pubertas.
2) Efek Mikroba
Unna dan Sabouraud, adalah yang pertama menggambarkan penyakit
dermatitis seboroik melibatkan bakteri, jamur, atau keduanya.Hipotesis ini kurang
didukung, meskipun bakteri dan jamur dapat diisolasi dalam jumlah besar dari
situs kulit yang terkena.
Malassezia merupakan jamur yang bersifat lipofilik, dan jarang ditemukan
pada manusia. Peranan malassezia sebagai faktor etiologi dermatitis seboroik
masih diperdebatkan. Dermatitis seboroik hanya terjadi pada daerah yang banyak
lipid sebaseusnya, lipid sebaseus merupakan sumber makanan malassezia.
Malassezia bersifat komensal pada bagian tubuh yang banyak lipid. Lipid
35
sebaseus tidak dapat berdiri sendiri karena mereka saling berkaitan dalam
menyebabkan dermatitis seboroik.
3) Kerentanan Individu
Kerentanan atau sensitivitas individu berhubungan dengan respon pejamu
abnormal dan tidak berhubungan dengan Malassezia.Kerentanan pada pasien
dermatitis seboroik disebabkan berbedanya kemampuan sawar kulit untuk
mrncegah asamlemak untuk penetrasi.Asam oleat yang merupakan komponen
utama dari asam lemak sebum manusia dapat menstimulasi deskuamasi mirip
dandruff. Penetrasi bahan dari sekresikelenjarsebaseus pada stratum korneum
akan menurunkan fungsi dari sawar kulit, dan akan menyebabkan inflamasi serta
squama pada kulit kepala. Hasil metabolit ini dapat menembus stratum korneum
karena berat molekulnya yang cukup rendah (<1-2kDa) dan larut dalam lemak.
Terapi dermatitis seboroik bertujuan menghilangkan sisik dan krusta,
penghambatan kolonisasi jamur, pengendalian infeksi sekunder, dan pengurangan
eritema serta gatal. Pasien dewasa harus diberitahu tentang sifat kronis penyakit
dan memahami bahwa terapi bekerja dengan caramengendalikan penyakit dan
bukan dengan mengobati.
Prognosis dermatitis seboroik infantil sangat baik karena kondisinya yang
jinak dan self-limited.
1) Bayi
Pengobatan terdiri dari langkah-langkah berikut: penghapusan krusta
dengan 3 sampai 5 % asam salisilat dalam minyak zaitun atau air, kompres
minyak zaitun hangat, pemakaian glukokortikosteroid-potensi rendah
(misalnya 1 % hidrokortison) dalam bentuk krim atau lotion selama
beberapa hari, antijamur topikal seperti imidazoles dalam sampo bayi yang
lembut.
2) Dewasa
Karena
penyakit
dermatitis
seboroikbersifat
kronis,
dianjurkan
menggunakan terapi yang ringan dan hati-hati.Obat anti-inflamasi dan jika
36
diperlukan agen antimikroba atau antijamur harus digunakan.
Pada kepala, sering keramas dengan shampoo yang mengandung 1-2,5%
selenium sulfida, imidazoles (misalnya 2% ketokonazole), pyrithione seng,
benzoil peroksida, asam salisilat, atau deterjen dianjurkan. Krusta (Remah) atau
sisik dapat hilang oleh pemakaian semalam glukokortikosteroid atau asam salisilat
dalam air atau bila perlu dipakai dengan caradressing (dibungkus). Tincture, agen
beralkohol, tonik rambut, dan produk sejenis biasanya memperburuk peradangan
dan harus dihindari.
Pada wajah dan leher, pasien harus menghindari kontak dengan agen
berminyak
dan
mengurangi
atau
menghilangkan
penggunaan
sabun.Glukokortikosteroid potensi rendah (1% hidrokortison biasanya cukup)
sangat membantu di awal perjalanan penyakit.Pemakaian jangka panjang yang
tidak terkontrol akan menyebabkan efek samping seperti dermatitis steroid,
fenomena reboundsteroid, steroid rosacea, dan perioral dermatitis.
c. Pitiriasis Rosea
Pitiriasis rosea (PR) adalah kelainan papulosquamous yang pertama kali
dijelaskan oleh Robert Willan pada tahun 1798 tetapi dengan terminologi lain.
Selanjutnya, berbagai nama telah diberikan untuk kelainan ini seperti pityriasis
circinata, roseola annulata, dan herpes tonsurans maculosus.
PR biasanya dimulai dengan perkembangan plak bersisik eritematosa besar
yang juga disebut patch herald di lengan atau leher, yang diikuti oleh erupsi
beberapa lesi bersisik eritematosa sekunder kecil yang terletak terutama di batang
dan mengikuti garis pembelahan di bagian belakang (penampilan seperti pohon
Natal atau pohon cemara terbalik). Penskalaan collarette biasanya terlihat. Erupsi
ini biasanya diawali dengan gejala sakit tenggorokan, gangguan gastrointestinal,
demam, dan artralgia. Namun, karena prodormal mungkin ringan dan erupsi dapat
terjadi beberapa saat setelah prodormal, pasien mungkin tidak memberikan
anamnesis yang tepat kecuali jika diketahui. Perkiraan kejadian PR adalah 0,5-2%
37
dan mempengaruhi orang dari kedua jenis kelamin dalam kelompok usia 15-30
tahun meskipun juga terlihat umum pada orang tua dan anak-anak. Penyakit ini
dapat sembuh sendiri (self-limiting disease) dan pada kebanyakan kasus, erupsi
membaik dalam 2-8 minggu / waktu. Pengelompokan keluarga telah dilaporkan,
dan penyakit ini lebih sering terjadi di musim dingin.Gejala klinisnya malaise
nausea, demam dan nyeri kepala di awal yaitu 1-3 hari kemudian kulit terasa gatal
dengan morfologi skuama halus dengan ruam berjumlah soliter (herald patch-lesi
pertama) bentuk anular diameter 3 cm dengan lokasi pertama di badan yang
nantinya akan ada lesi kedua dan seterusnya.
Penyebab pitiriasis rosea brlum sepenuhnya diketahui, tetapi kemungkinan PR
terjadi karena adanya infeksi virus herpes 7 dan 8, pasca difteri, imunisas BCG,
dan karena obat. Beberapa obat yang mungkin dapat menimbulan PR tertulis pada
tabel di bawah ini:
38
Diagnosis banding diantaranya adalah tinea korporis, psoriasis gutata, dan
dermatitis seboroik. Tinea korporis berbeda dengan pitiriasis rosea melalui adanya
gatal, dan negatifnya hasil KOSH. Psoariasis gutata ukurannya lebih kecil
tersusun menyebar dan skuama lebih tebal. dermatitis seboroik tidak ditemukan
herald patch dengan warna lebih gelap dna berminyak.Tatalaksana simptomatis
saja dimana menggunakan pereda gatal dengan bedak asam salisilat dan mentol 12%. Prognosis baik karena sebetulnya dapat sembuh total sendiri.
3. KELAINAN KELENJAR SEBASEA DAN EKRIN
a. Akne vulgaris ringan
Akne vulgaris (AV) atau sering disingkat akne dan umumnya dikenal dengan
nama jerawat adalah inflamasi kronis dari unit pilosebaseus yang ditandai
komedo, papul, pustul, nodul dan kista pada daerah-daerah predileksi yaitu muka,
punggung, dada, bahu dan lengan bagian atas.
39
Etiologi dan Patogenesis
Akne vulgaris merupakan penyakit yang multifaktorial, namun terdapat
empat faktor utama yang menyebabkan timbulnya akne, yaitu: (1) hiperproliferasi
epidermis folikel kulit, (2) produksi sebum berlebih, (3) inflamasi, dan (4) adanya
aktivitas bakteri Propionibacterium acnes.
Jerawat muncul pada unit pilosebasea di lapisan dermis dimana terdapat
folikel rambut dan berhubungan dengan kelenjar sebasea. Pada saat pubertas,
produksi hormon androgenik dan hormon testosteron meningkat. Jika kelenjar
sebasea sensitif terhadap testosteron, mereka memproduksi minyak berlebih
sehingga menyebabkan kulit menjadi berminyak. Pada saat yang sama, keratin di
dinding epitel folikel mengalami perubahan. Gabungan dari hiperkeratinisasi dan
peningkatan sebum ini kondusif untuk kolonisasi P.acnes, mengakibatkan
berbagai sitokin inflamasi dan faktor kemotaktik selanjutnya menginisiasi cascade
inflamasi. Sebelum pubertas, sel-sel yang mati keluar dengan halus dari
pembukaan saluran duktus, tetapi pada saat pubertas dan pada pasien akne, proses
ini terganggu. Sel-sel ini mengalami perkembangan abnormal dan menutupi
pembukaan di epidermis dan menurunkan pengeluaran sebum secara efektif.
Minyak terjebak pada folikel rambut saat duktus tertutup. Minyak menutupi
pembukaan folikel pada epidermis dan menyebabkan mereka membesar di bawah
kulit. Jika mulut dari kanal folikular terbuka secara cukup, material keratin akan
melewati itu dan menghasilkan komedo yang dikenal dengan komedo terbuka.
Tetapi jika mulut kanal tidak cukup terbuka akan menghasilkan komedo tertutup
dimana inflamasi bisa terjadi. Kebanyakan akne mengalami kombinasi antara
komedo tertutup dan terbuka.
40
Gradasi
Indonesian Acne Expert Meeting (IAEM) 2012 merekomendasikan
penggunaan ASEAN grading Lehmann 2003 yang mengelompokkan akne menjadi
3 kategori, yaitu ringan, sedang, dan berat berdasarkan jumlah komedo,
papul/pustul, dan atau nodul/kista.
41
Pasien dengan tingkat gradasi ringan mempunyai komedo terbuka dan
tertutup dengan jumlah lesi aktif normal pada wajah dan tidak menyebabkan
bekas permanen.
Terapi
Akne ringan-berat: asam retinoat topikal
b. Akne vulgaris sedang – berat
Pasien dengan tingkat sedang mempunyai lebih banyak papula dan pustula
dan mempunyai beberapa nodula. Lesi biasanya nyeri dan terdapat kemungkinan
berbekas.
42
Pada pasien dengan tingkat berat mempunyai abses nodular yang cukup
banyak dan biasanya akan berbekas. Pasien juga mempunyai lesi yang banyak dan
luas.
Tata laksana akne sedang-berat dapat diberikan antibiotik topikal (eritromisin,
klindamisin; sebaiknya dikombinasi dengan benzoil peroksida yang memiliki efek
anti bakterial poten untuk mencegah resistensi P. acnes)
c. Hidradenitis supuratif
Hidradenitis suppurativa (HS), juga disebut acne inversus, adalah kondisi
peradangan kulit kronis dengan lesi termasuk nodul dan abses yang dalam, saluran
pembuangan, dan bekas luka fibrotik.
43
Etiologi HS tampaknya memiliki pengaruh genetik, lingkungan, dan
perilaku. Tiga puluh tiga sampai 40% individu dengan HS melaporkan kerabat
tingkat pertama yang terkena, menunjukkan komponen herediter dengan pola
penularan dominan autosomal. Dalam sebagian kecil keluarga yang terkena
dampak, para peneliti telah mengidentifikasi mutasi jalur pensinyalan Notch
sekretase gamma.
Faktor lingkungan dan perilaku juga berkontribusi. Orang dengan HS lebih
sering kelebihan berat badan atau obesitas. Obesitas menyebabkan luas
permukaan intertriginous yang lebih besar dan gesekan kulit, peningkatan
produksi dan retensi keringat, dan perubahan hormonal yang menyebabkan
kelebihan androgen relatif, yang semuanya berhubungan dengan HS. Sindrom
metabolik lebih sering terjadi pada individu obesitas dan dengan demikian juga
terlihat lebih umum pada HS.
Merokok juga lazim di antara mereka yang didiagnosis dengan HS.
Penyebabnya tidak jelas; namun, nikotin dapat menyebabkan peningkatan
penyumbatan folikel. Seperti obesitas; perkembangan dan keparahan penyakit
lebih buruk pada mereka yang merokok.
44
Proses patologis HS dimulai ketika folikel rambut yang rusak tersumbat dan
pecah, menumpahkan isinya, termasuk keratin dan bakteri, ke dalam dermis
sekitarnya. Respon inflamasi kemotaktik oleh neutrofil dan limfosit di sekitarnya
kemudian dapat menyebabkan pembentukan abses dan selanjutnya merusak unit
pilosebasea dan struktur lain yang berdekatan. Kontributor lain yang mungkin
untuk patologi termasuk peptida antimikroba abnormal, sekresi abnormal kelenjar
apokrin, invaginasi epidermis abnormal yang menyebabkan pembentukan saluran,
dan kekurangan jumlah kelenjar sebaceous.
Karena tahap awal HS sering keliru dengan kondisi lain, keterlambatan ratarata dalam diagnosis yang benar adalah 7 tahun. Diagnosis klinis memerlukan
pengenalan morfologi (dalam, meradang, nodul nyeri, saluran sinus, bekas luka),
lokasi (area intertriginous, area yang mengandung kelenjar apokrin), dan
kronisitas proses penyakit (perjalanan yang berkepanjangan dengan periode
aktivitas dan remisi).
Hampir setengah dari individu akan melaporkan sindrom prodromal yang
melibatkan rasa terbakar, menyengat, nyeri, pruritus, rasa hangat, atau
hiperhidrosis di area 12 hingga 48 jam sebelum munculnya lesi. Pemicunya bisa
berupa menstruasi, penambahan berat badan, stres, perubahan hormonal, panas
berlebih, dan keringat. Pada presentasi, individu biasanya tampak baik dan
demam, kecuali ada infeksi sekunder atau penyakit lanjut.
Lesi primer yang khas adalah nodul yang terletak di dalam, biasanya 0,5
sampai 2 cm yang berlangsung dari hari ke bulan. Mereka sering disalahartikan
sebagai furunkel atau "bisul". Namun, sementara furunkel akan merespons dengan
cepat terhadap drainase atau antibiotik, nodul HS dalam dan dapat pecah dan
keluar secara subkutan. Beberapa nodul berulang di area yang sama dapat
menyebabkan pembentukan saluran sinus intercommunicating yang dapat
memborok atau mengering. Drainase mungkin bernanah dan berbau busuk. Lesi
lain termasuk komedo terbuka (digambarkan sebagai komedo "batu nisan"),
seringkali berkepala dua atau banyak. Pada tahap lanjut, bekas luka fibrotik tebal
45
dan plak dapat berkembang yang menyebabkan distorsi arsitektural pada area
tersebut.
Aksila adalah lokasi paling umum untuk lesi HS. Area umum lainnya adalah
inguinal, paha bagian dalam, perianal dan perineal, inframammary, bokong, area
kemaluan, skrotum, vulva, batang, dan lebih jarang area kulit kepala dan retroaurikuler.
Riwayat terkait termasuk onset dari pubertas hingga dewasa muda dan
riwayat lesi rekuren dengan perbaikan atau resolusi intermiten. HS adalah kondisi
kronis. Mengidentifikasi riwayat keluarga dengan kondisi serupa juga membantu
dalam menegakkan diagnosis yang tepat.
Setelah riwayat dan pemeriksaan fisik lengkap selesai, sistem pementasan
Hurley dapat digunakan untuk mengklasifikasikan kasus.
-
Hurley Tahap I: Pembentukan abses tanpa saluran atau bekas luka
-
Hurley Tahap II: Abses berulang dengan saluran sinus dan jaringan parut;
mungkin ada lesi tunggal atau terpisah jauh
-
Hurley Tahap III: Keterlibatan difus, beberapa saluran sinus yang saling
berhubungan, dan abses di seluruh area meninggalkan sedikit atau tidak ada
kulit yang tidak terlibat.
Tidak ada tes diagnosis biologis atau patologis. Diagnosis tidak memerlukan
biopsi. Namun, biopsi bermanfaat untuk menyingkirkan karsinoma sel skuamosa
dengan adanya HS berat jika diagnosis tidak pasti. Kultur bakteri tidak
menguntungkan kecuali dicurigai adanya infeksi sekunder atau diagnosis
alternatif. Pencitraan biasanya tidak membantu; Namun, USG mungkin menjadi
alat yang berguna sebelum operasi untuk mengidentifikasi luasnya saluran sinus.
Lesi mungkin memerlukan pencitraan lebih lanjut termasuk MRI pada penyakit
perianal yang parah.
Tujuan keseluruhan termasuk mengobati lesi yang ada untuk meminimalkan
nyeri dan drainase, mengurangi frekuensi kekambuhan, dan pencegahan
perkembangan penyakit. Karena ada penelitian terbatas yang membandingkan
46
rejimen pengobatan, sebagian besar algoritme pengobatan didasarkan pada
pendapat dan konsensus ahli.
Pada penyakit awal tanpa komplikasi, antibiotik topikal adalah pengobatan
lini
pertama.
Klindamisin
topikal
telah menjadi
yang
paling efektif.
Kortikosteroid intralesi dapat mengurangi peradangan lokal, dan pengelupasan
sebagian
(punch
debridement)
dari
lesi
individu
dapat
memfasilitasi
penyembuhan.
Perawatan untuk Hurley Tahap II dan Hurley Tahap I yang resisten
melibatkan antibiotik oral. Antibiotik dalam keluarga tetrasiklin adalah yang
paling efektif. Jika kegagalan pengobatan berlanjut, terapi kombinasi dengan
klindamisin oral plus rifampisin direkomendasikan. Terapi hormonal antiandrogenik yang mencakup Cyproterone acetate, kontrasepsi oral, spironolakton,
dan finasterida juga dapat membantu. Retinoid oral telah menunjukkan
responsivitas campuran. Sementara isotretinoin paling efektif untuk jerawat,
acitretin tampaknya lebih efektif untuk HS. Steroid sistemik efektif untuk
beberapa individu.
Untuk Hurley stadium III dan stadium bawah yang resisten, diindikasikan
penghambat tumor necrosis factor-alpha. Adalimumab adalah satu-satunya obat
yang disetujui FDA untuk mengobati HS.
d. Dermatitis perioral
Dermatitis perioral, juga dikenal sebagai dermatitis periorifisial, adalah jenis
ruam kulit yang umum. Dermatitis perioral juga dikenal dengan nama lain
termasuk dermatosis mirip rosacea, dermatitis periorofasial, dan dermatitis
periorificial. Tidak seperti rosacea yang terutama menyerang hidung dan pipi,
tidak ada telangiektasia pada dermatitis perioral. Rosacea juga cenderung muncul
pada orang tua. Jerawat dapat dibedakan dengan adanya komedo dan
penyebarannya yang lebih luas di wajah dan dada. Tidak ada komedo pada
dermatitis perioral.
47
Gejala termasuk beberapa benjolan kecil (1-2 mm) dan lepuh kadang-kadang
dengan latar belakang kemerahan dan bersisik, terlokalisasi pada kulit di sekitar
mulut dan lubang hidung. Mata dan genitalia mungkin dapat terlibat, namun
sangat jarang terjadi. Penyakit ini dapat menetap atau berulang dan terutama
menyerupai rosacea dan sampai batas tertentu jerawat serta dermatitis alergi.
Istilah "dermatitis" adalah istilah yang keliru karena ini bukan proses eksim.
Penyebabnya masih belum diketahui secara pasti. Steroid topikal dikaitkan
dengan kondisi ini dan pelembab serta kosmetik dapat berkontribusi. Mekanisme
yang mendasari mungkin melibatkan penyumbatan pada permukaan kulit yang
diikuti oleh pertumbuhan flora kulit yang berlebihan. Fluoride pasta gigi dan
beberapa mikro-organisme termasuk Candida juga dapat memperburuk kondisi,
tetapi peran mereka dalam kondisi ini tidak jelas. Ini dianggap sebagai penyakit
folikel rambut dengan sampel biopsi yang menunjukkan perubahan mikroskopis
di sekitar folikel rambut. Diagnosis didasarkan pada gejala. Kondisi ini
diperkirakan mempengaruhi 0,5-1% orang setahun di negara maju. Hingga 90%
dari mereka yang terkena adalah wanita berusia antara 16 dan 45 tahun, meskipun
itu juga mempengaruhi anak-anak dan orang tua, dan insidennya meningkat pada
pria.
Gejala
Sensasi perih dan terbakar dengan ruam sering dirasakan dan diperhatikan,
tetapi gatal lebih jarang. Seringkali ruam responsif terhadap steroid, awalnya
48
membaik dengan penerapan steroid topikal. Kemerahan yang disebabkan oleh
dermatitis perioral telah dikaitkan dengan tingkat variabel depresi dan kecemasan.
Pengobatan
Tata laksana biasanya dengan menghentikan penggunaan steroid topikal,
mengganti kosmetik, dan dalam kasus yang lebih parah, mengonsumsi tetrasiklin
melalui mulut. Menghentikan steroid awalnya dapat memperburuk ruam.
49
-
Topikal: Hindari glukokortikoid topikal; metronidazol, 0,75% gel dua kali
sehari atau l% sekali sehari; eritromisin. Gel 2% dioleskan dua kali sehari.
-
Sistemik: Minocycline atau doxycycline, 100 mg setiap hari sampai bersih,
kemudian 50 mg setiap hari selama 2 bulan lagi. (Perhatian: doksisiklin
adalah obat fotosensitisasi.) Atau tetrasiklin 500 mg dua kali sehari sampai
bersih, lalu 500 mg setiap hari selama 1 bulan, diikuti dengan 250 mg selama
satu bulan tambahan.
e. Miliaria
Miliaria adalah kelainan kulit yang muncul akibat tersumbatnya saluran
kelenjar keringat ekrin, ditandai dengan adanya vesikel milier.
Etiologi
Penyebab dari tersumbatnya kelenjar keringat bisa disebabkan oleh :
• Paparan sinar ultraviolet (panas),
• Mikroorganisme (tersumbatnya pori-pori kelenjar keringat oleh bakteri
yang menimbulkan peradangan dan edema),
• Sekresi keringat yang berulang (pakaian yang tidak menyerap keringat).
50
Prevalensi
• Dapat timbul pada semua umur,
• Pria dan wanita memiliki frekuensi yang sama,
• Tidak berpengaruh terhadap bangsa/ras tertentu,
• Cenderung pada daerah yang panas dan kelembapan tinggi.
Patogenesis
Klasifikasi
1)
Miliaria kristalina
51
Kebocoran ductus yang paling dangkal, terjadi pada tingkat stratum korneum.
• Sering terjadi pada bayi di lingkungan yang hangat, juga pada bayi dengan
perawatan ICU
• Gejala klinis : Terlihat vesikel-vesikel berukuran 1-2mm, menyerupai
titik-titik embun. Vesikel bergerombol tanpa tanda radang pada bagian-bagian
yang tertutupin pakaian. Umumnya asimtomatis.
• Pada pemeriksaan histopatologi : terlihat gelembung intra/subkorneal.
• Pengobatan : tidak diperlukan, cukup dengan menghindari panas yang
berlebihan, mengisahakan ventilasi yang baik, pakaian tipis dan menyerap
keringat.
2)
Miliaria rubra
Kebocoran keringat pada tingkat subcorneal (dibawah stratum korneum tetapi
masih dalam lapisan epidermis). Stafilokokus diduga juga mempunyai peranan.
• Gejala klinis : Terlihat papul merah atau papul vesicular ekstrafolikular
yang sangat gatal dan pedih. Mudah terinfeksi sekunder menjadi impetigo dan
furunkulosis, terutama pada anak.
• Pemeriksaan Histopatologi : gelembung terjadi pada stratum spinosum
sehingga menyebabkan peradangan pada kulit.
• Terapi : pakaian yang tipis dan dapat menyerap keringat. Dapat diberikan
bedak salisil 2% yang dibubuhi menthol ¼-2%.
52
3)
Miliaria profunda
Kebocoran keringat terjadi pada papilla dermis. Agak jarang kecuali di daerah
tropis.
Biasanya timbul setelah miliaria rubra.
• Gejala klinis : Papul putih, keras, berukuran 1-3mm. Tidak gatal dan tidak
terdapat eritema.
• Pemeriksaan Histopatologi : tampak duktus kelenjar keringat ekrin yang
pecah pada dermis bagian atas (papilla dermis) dengan atau tanpa infiltrasi sel
radang.
• Terapi : menghindari panas dan kelembapan berlebihan, mengusahakan
regulasi suhu yang baik dan pakaian yang tipis. Dapat diberikan losio calamine
dengan atau tanpa menthol 0,25%, dapat pula resorsin 3% dalam alkohol.
4. PENYAKIT VESIKOBULOSA
a. Toxic epidermal necrolysis (TEN)
Toxic epidermal necrolysis atau TEN merupakan reaksi mukokutan akut
yang mengancam nyawa, ditandai dengan nekrosis epidermis yang luas sehingga
terlepas. Pada nekrosis epidermal toksik ini terjadi epidermolisis sebesar <30%
luas permukaan badan.
53
Epidemiologi
0,4-1,2 kasus/juta penduduh/tahun dengan angka kematian 25-35%. Dapat
terjadi pada semua usia dan meningkat pada usia 40 tahun. Paien perempuan >
laki-laki dengan perbandingan 1,5:1
Etiopatogenesis
Sebagian besar disebabkan oleh alergi obat (sulfonamida, anti-konvulsan
aromatik, alupurinol, anti-inflamasi non-steroid dan nevirapin). Pada lesi terjadi
reaksi sitotoksik terhadap kertainosità apoptosis luas. Reaksi sitotoksik yang
terjadi melibatkan sel NK dan sel limfosit T CD8+ yang spesifik terhadap obat
penyebab.
Gambaran Klinis
Timbul dalam waktu 8 minggu setelah awal pajanan obat. Sebelum terjadi
lesi → demam, sakit kepala, batuk/pilek dan malaise selama 1-3 hari. Kulit:
makula, bula kendur, lesi target (-).
Pemeriksaan Penunjang
Darah tepi lengkap, analisis gas darah, kadar elektrolit, fungsi ginjal, gula darah
sewaktu, foro rontgen, fungsi hepar, albumin dan protein darah.
Waspada tanda-tanda sepsis → segera lakukan pemeriksaan laboratorium
Diagnosis banding
-
Staphylococcal Scalded Skin Syndrome
-
Generalized Bullous Fixed Drug Eruption
54
-
Acute Generalized Exanthematous Pustulosis
-
Graft Versus Host Disease
-
Lupus Eritematosus Bulosa
Tata laksana
Perawatan suportif : mempertahankan keseimbangan cairan, elektrolit, suhu
lingkungan yang optimal 28-30 derajat C, nutrisi sesuai dengan kebutuhan dan
kemampuan asupan makanan, perawatan kulit secara aseptik tanpa debridement,
perawatan mata dan mukosa mulut.
Stabilisasi ABC → rujuk
Obstruksi → injeksi epinefrin + kortikosteroid
b. Sindrom Stevens-Johnson (SJS)
Steven Johnson Syndrome merupakan kumpulan gejala klinis yg ditandai
oleh trias kelainan pada kulit, mukosa orifisium (oral, konjungtiva, anogenital),
serta mata dan juga disertai dengan gejala umum yang berat. Lebih sering
dijumpai pada usia dewasa. Angka mortalitas tinggi, yaitu sebesar 25% - 70% dan
paling banyak pada usia tua.
Penyebab pastinya sukar ditentukan karena bisa disebabkan oleh banyak
faktor, bisa karena infeksi, keganasan dan sebagian besar dikaitkan dengan respon
imun terhadap konsumsi obat. Timbulnya kecacatan dan kematian sering kali
karena tata laksana yang tidak maksimal akibat telatnya pengenalan dari SSJ.
Patogenesis
Antigen yang masuk akan merangsang respon imun spesifik sehingga
terbentuk kompleks imun beredar. kompleks imun ini beredar dan megendap di
daerah kulit dan mukosa, sehingga menimbulkan kerusakan jaringan akibat
aktivasi komplemen dan reaksi inflamasi yang terjadi. Kerusakan jaringan bisa
juga terjadi karena aktivitas sel T serta mediator yg dihasilkannya. Kerusakan
jaringan yang terlihat lokal dikulit bisa disertai dengan gejala sistemik. Kerusakan
55
kulit membawa beberapa implikasi, yaitu kegagalan fungsi kulit yang
menyebabkan terjadinya kehilangan cairan tubuh, kegagalan termoregulasi, dan
meningkatkan resiko infeksi.
Gejala
Gejala prodromal (1-14) hari
● demam
● malaise
● batuk
● koriza
● sakit menelan
● sakit kepala
● nyeri dada
● muntah
● myalgia
● atralgia
● timbul lesi pada kulit, mukosa, dan mata
Ciri khas lesi
Lesi pada kulit
Bisa berupa eritema, papul, vesikel, bula. Keadaan lebih lanjut bisa terjadi
erosi, ulserasi, kulit mengelupas (tanda nikolsky +), pada kasus berat
pengelupasan terjadi di seluruh dan terjadi pengelupasan kuku.
Lesi pada mukosa
Bisa bersamaan atau didahului lesi pada kulit. Bisa ditemukan vesikel, bula,
erosi, ekskoriasi, perdarahan dan krusta berwarna merah. Pada faring juga terdapat
pseudoembran berwarna putih atau keabuan. Pada bibir terdapat krusta kehitaman
dan disertai stomatitis berat.
Lesi pada mata
56
Konjungtivitis,
kataralis,
blefarokonjungtivitis,
iritis,
iridosiklitis,
pseudomembran pada mata, edema pad kelopak mata, secret purulent dan
fotofobia. Kasus berat bisa terjadi erosi dan perforasi kornea
Diagnosis
Diagnosis SSJ 90% ditemukan dari gambaran klinis trias pada kulit, mukosa
dan mata. Kemudian dilakukan juga anamnesis untuk mengetahui factor penyebab
yang sebagain besar karena obat. Bisa juga dilakukan pemeriksaan penunjang
seperti pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan darah tepi, pemeriksaan
imunologis, histopatologi kulit, dll untuk mengetahui hubungan dengan factor
penyebab.
Pemeriksaan histopatologi bisa ditemukan nekrosis pada sebagian kulit atau
menyeluruh. Pemeriksaan imunofluoresen bisa diperlihatkan endapan IgM, IgA,
C3 dan fibrin.
57
Diagnosis banding
Toxic
epidermolysis
necrotikans
(TEN),
Eritema
multiform
(EM),
Staphylococcal scalded skin syndrome (SSSS). TEN dibedakan dengan SSJ dari
luas lesi pada kulit, TEN luas lesi >30% permukaan tubuh. Jika luas lesi <10%
dianggap sebagai SSJ dan bila diantara itu dianggap sebagai SSJ/TEN. Perbedaan
SSJ dan EM dari factor penyebab, infeksi herpes simpleks penyebab tersering dari
EM, kemudian lesinya terbagi menjadi tiga lapisan dan gambaran ini tidak
didapatkan di SSJ. Pada EM lesi mukosa sebatas di oral. Perbedaan SSJ dgn SSSS
yaitu pada SSSS terdapat krusta mengelupas pada seluruh kulit dan biasanya tdk
mengenai mukosa.
Tatalaksana
● Diagnosis gejala secara dini
● Menghentikan atau mengatasi factor penyebab (jika karena penggunaan
obat segera dihentikan)
● Pemberian terapi suportif yang adekuat (pemberian cairan elektrolit,
pemenuhan kebutuhan kalori dan protein)
● Blister pada kulit bisa dikompres dengan larutan salin
● Hindari penggunaan salep kulit yang mengandung sulfa
58
● Lesi kulit yang terbuka dirawat seperti luka bakar
● Lesi pada mulut diberi obat pencucui mulut dan salep gliserin
● Pengendalian nyeri dengan oxicam NSAID dihindari karena menjadi salah
satu factor tersering penyebab SSJ
● Infeksi sekunder pada kulit diobati dgn ab spectrum luas
Prognosis
Pada kasus tidak berat prognosis baik dan penyembuhan terjadi dalam waktu
2-3 minggu. Pada kasus berat atau pengobatan terlambat dan tidak adekuat bisa
terjadi komplikasi, angka kematian 5-15%.
5. PENYAKIT ALERGI KULIT
a. Urtikaria
Urtikaria adalah erupsi pada kulit yang berbatas tegas dan menimbul
(bentol), berwarna merah, memutih bila ditekan, dan disertai rasa gatal. Urtikaria
dapat berlangsung secara akut, kronik, atau berulang. Urtikaria akut umumnya
berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Urtikaria kronik adalah urtikaria
yang dapat muncul terus menerus atau hilang timbul selama lebih dari 6 minggu.
Urtikaria akut dialami oleh 10-20% populasi. Sedangkan urtikaria kronik dialami
oleh 0,1% populasi dan sekitar 20% akan mengalaminya sampai 20 tahun.
Angioedema dapat mucul berupa pembengkakan jaringan dengan batas yang tidak
jelas seperti daerah sekitar kelopak mata dan bibir.
Patofisiologi
Urtikaria merupakan bagian reaksi anafilaksis yang didasari oleh degranulasi
sel mast. Degranulasi sel mast ini pada urtikaria akut umumnya terjadi sekunder
pada reaksi yang diperantarai oleh IgE atau oleh induksi langsung agen penyebab.
Pada urtikaria kronik, penyebab yang mendasari degranulasi sel mast umumnya
tidak dapat ditentukan, umumnya disimpulkan menjadi penyebab idiopatik setelah
disingkirkan aneka penyebab melalui anamnesis, pemeriksaan fisis dan
59
pemeriksaan laboratorium. Angioedema dapat juga terjadi karena obat akibat
reaksi serum sickness.
Klasifikasi
Berdasarkan etiologinya urtikaria dibagi menjadi:
1. Urtikaria imunologik: urtikaria autoimun, kontak alergi dan kompleks imun.
2. Urtikaria nonimunologik: urtikaria fisik, karena obat-obatandan kontak non alergi.
3. Urtikaria idiopatik.
Menurut European Academy of Allergology and Clinical Immunology
(EAACI) tahun 2006, secara klinis urtikaria diklasifikasikan menjadi:
1. Urtikaria spontan: urtikaria akut dan urtikaria kronis.
2. Urtikaria fisik: dermografik,delayed pressure, panas, dingin, solar dan getaran.
3. Urtikaria spesifik: kolinergik, adrenergik, kontak (alergi/non alergi) dan
aquagenik.
60
Diagnosis
Diagnostik ditegakkan dengan mengambil data anamnesis riwayat gatal,
riwayat atopi dalam keluarga, adanya faktor lingkungan seperti debu rumah,
tungau debu rumah, binatang peliharaan, tanaman, karpet, sengatan binatang serta
faktor makanan termasuk zat warna, zat pengawet dan sebagainya.
Pemeriksaan
Pada pemeriksaan fisis dapat ditemukan lesi khas yaitu bentol berwarna
merah, berbatas tegas, gatal, dan memutih bila ditekan pada urtikaria, atau edema
pada daerah yang memiliki jaringan ikat longgar (orbita, sirkum oris, genitalia).
Pemeriksaan penunjang diperlukan pada urti urtikaria kronik/berulang,
angioedema, tetapitidak diperlukan pada urtikaria akut. Beberapa pemeriksaan
laboratorium yang dilakukan adalah urinalisis, untuk mencari fokal infeksi di
saluran kemih, feses rutin untuk mencari adanya parasit cacing. Pada pemeriksaan
darah tepi dapat ditemukan LED yang meningkat bila ada fokal infeksi kronik
61
atau kelainan sistemik, dan pada hitung jenis dapat ditemukan eosinofilia. Selain
itu juga dilakukan pemeriksaan kadar total IgE, total eosinofil dan sebaiknya
dilakukan uji kulit alergen, dermografisme, uji tempel esatau IgE spesifik. Kadar
komplemen (C3, C4) diperiksa pada pasien yang memiliki riwayat angioedema
pada keluarga.
Tatalaksana
Tata laksana terdiri dari menghindari pencetus (yang bisa diketahui). Hatihati dengan obat opiat dan salisilat yang dapat mengaktivasi sel mast tanpa
melalui IgE. Pada urtikaria generalisata mula-mula diberikan injeksi larutan
adrenalin dilanjutkan dengan antihistamin penghambat H1 seperti CTM yang
dikombinasi
dengan
HCL
efedrin.
Bila
belum
memadai
ditambahkan
kortikosteroid. Untuk urtikaria yang sering kambuh terutama pada anak sekolah,
untuk menghindari efek samping obat mengantuk, dapat diberikan antihistamin
penghambat H1 generasi baru misalnya setirizin, loratadin, desloratadin dan
levosetirizin.
62
63
b. Angioedema
Angioedema adalah pembengkakan yang seringkali terjadi akibat reaksi
alergi. Kondisi ini biasanya tidak berbahaya. Namun demikian, pada kasus yang
jarang, angioedema dapat menyebabkan penderitanya sulit bernapas, karena
pembengkakan terjadi di saluran pernapasan.
Bengkak di bawah permukaan kulit. Pembengkakan ini disebabkan
penumpukan cairan di lapisan kulit bagian dalam, serta dapat terjadi pada
beberapa bagian tubuh seperti area sekitar mata, bibir, lidah, tangan, kaki dan
kelamin. Pada kasus yang parah, bengkak juga dapat terjadi di bagian dalam
tenggorokan dan perut.
Pembengkakan akibat angioedema biasanya tidak menimbulkan gatal. Namun
pada idiopathic angioedema dan allergic angioedema, bengkak dapat disertai
biduran atau urtikaria, yang terasa gatal.
Sejumlah gejala lain yang dapat terjadi, antara lain:
•
Sensasi panas dan nyeri, di area yang mengalami pembengkakan.
•
Sesak napas, akibat pembengkakan di tenggorokan dan paru-paru.
•
Mata merah, akibat pembengkakan di konjungtiva (selaput bening yang
melapisi bagian depan mata).
Pada seseorang yang menderita angioedema akibat keturunan, gejala lain
yang dapat muncul adalah:
•
Sulit berkemih, akibat pembengkakan di kandung kemih atau saluran lubang
kencing (uretra).
64
•
Sakit perut, akibat pembengkakan di lambung dan usus. Kondisi ini dapat
memicu diare, mual, dan muntah.
ETIOLOGI
Allergic angioedema
Angioedema ini terjadi akibat reaksi alergi, di antaranya:
•
Alergi makanan, terutama kacang, kerang, susu, dan telur.
•
Alergi obat, seperti antibiotik, aspirin, dan obat antiinflamasi nonsteroid.
•
Alergi akibat gigitan serangga, seperti lebah.
•
Alergi pada lateks, sejenis karet yang digunakan sebagai bahan sarung tangan
karet, balon, atau kondom.
Drug-induced angioedema
Seseorang dapat terserang angioedema akibat penggunaan obat tertentu,
meskipun tidak memiliki alergi obat. Bengkak dapat muncul sesaat setelah
menggunakan obat, bisa juga muncul beberapa bulan atau bertahun-tahun
setelahnya.
Beberapa jenis obat tersebut adalah:
•
Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS), seperti ibuprofen.
•
Obat hipertensi golongan ACE inhibitor, misalnya ramipril, perindopril, dan
lisinopril.
•
Obat hipertensi golongan ARB, di antaranya valsartan, losartan, dan
irbesartan.
Hereditary angioedema
Angioedema jenis ini disebabkan oleh kekurangan protein penghambat C1esterase dalam darah. Protein ini ikut berperan penting dalam menjaga sistem
kekebalan tubuh. Kekurangan protein tersebut, membuat sistem imun berbalik
menyerang tubuh dan menimbulkan gejala angioedema.
Pembengkakan dapat dipicu oleh sejumlah kondisi, seperti:
•
Stres
•
Prosedur bedah atau perawatan gigi
•
Penggunaan pil KB
65
•
Kehamilan
•
Cedera atau infeksi
•
Seseorang yang menderita angioedema jenis ini, berisiko menurunkan
penyakit ini ke anaknya.
Idiopathic angioedema
Di samping sejumlah faktor di atas, sebagian besar kasus angioedema tidak
diketahui penyebabnya. Para ahli menduga, kondisi ini terkait dengan gangguan
pada sistem kekebalan tubuh.
Pembengkakan pada idiopathic angioedema dapat dipicu oleh sejumlah
kondisi seperti:
•
Stres.
•
Mengenakan pakaian ketat.
•
Olahraga terlalu berat.
•
Iklim yang terlalu panas atau terlalu dingin.
•
Konsumsi alkohol, kafein, atau makanan pedas.
•
Kondisi medis, seperti lupus atau limfoma (sangat jarang)
Faktor Risiko Angioedema
Angioedema dapat terjadi pada siapa saja. Meskipun demikian, sejumlah
faktor dapat meningkatkan risiko seseorang terserang angioedema, antara lain:
•
Stress atau gelisah
•
Perubahan temperatur yang tiba-tiba.
•
Riwayat angioedema pada diri sendiri atau keluarga.
•
Memiliki alergi, misalnya pada makanan atau obat.
•
Menderita kondisi medis yang berhubungan dengan angioedema, seperti
lupus, limfoma, dan penyakit tiroid
Pemeriksaan
Tes alergi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu:
Tes tusuk kulit. Kulit pasien akan ditusuk dengan alat yang telah diberi sedikit
alergen (zat penyebab alergi), untuk melihat reaksi pasien.
66
Pemeriksaan darah. Sampel darah pasien akan diperiksa untuk melihat reaksi
sistem kekebalan tubuh pasien pada alergen. Pemeriksaan sampel darah juga
dilakukan pada pasien yang diduga menderita hereditary angioedema. Melalui
pemeriksaan sampel darah pasien, dokter dapat mengetahui apakah pasien
kekurangan protein penghambat C1 esterase.
Tatalaksana
Angioedema yang menimbulkan gejala ringan, cukup ditangani dengan
penanganan mandiri di rumah. Beberapa langkah penanganan untuk membantu
meredakan gejala, di antaranya:
•
Mengompres dingin area yang bengkak.
•
Mengenakan pakaian longgar untuk mencegah iritasi kulit.
•
Tidak menggaruk area yang bengkak.
Penanganan allergic angioedema dan idiopathic angioedema menggunakan
metode yang sama. Salah satunya adalah dengan menghindari makanan pemicu
alergi.
•
Antihistamin dan kortikosteroid untuk meredakan bengkak.
•
Pasien yang mengalami gejala anafilaksis (reaksi alergi berat yang mengancam
nyawa), diberikan suntikan adrenalin atau epinefrin.
•
Pada pasien drug-induced angioedema, diberikan danazol dan asam
traneksamat.
Sedangkan untuk menangani bengkak, dokter dapat meresepkan obat
pengganti penghambat C1 estarase. Obat tersebut akan diberikan dalam bentuk
suntik, untuk meningkatkan kadar protein C1 estarase dalam darah.
6. REAKSI OBAT
a. Exanthematous drug eruption, fixed drug eruption
Fixed drug eruption (FDE) adalah reaksi alergi dengan manifestasi berupa
lesikulit yang muncul di tempat yang sama dan dapat bertambah akibat pemberian
atau pemakaian jenis obat-obatan tertentu. Gambaran klinik dari FDE berupa
timbulnya satu atau beberapa lesi kulit yangeritematous berbentuk bulat atau oval.
Pada mulanya terbentuk efloresensi berupamakula berbatas tegas berwarna ungu
atau coklat.
67
Diagnosis
FDE
ditegakkan
berdasarkan
anamnesa
adanya
riwayat
penggunaanobat sebelum timbulnya lesi dan gambaran klinik yang ditemukan.
Namun jika diperlukan dapat dilakukan pemeriksaan penunjang berupa
pemeriksaan jaringan kulitsecara patologi anatomi dimana akan didapatkan
gambaran mikroskopis berupaterdapatnya makrofag-makrofag dan adanya
penumpukan pigmen melanin. Penatalaksanaan yang dipakai adalah dengan
pengobatan kausal berupamengetahui dan menghindari terpaparnya kembali
dengan obat-obatan penyebab dan pengobatan simptomatis berupa pemberian
obat-obatan secara sistemis sepertikortikosteroid dan antihistamin maupun secara
topikal.
FDE bukan merupakan kasus yang mengancam jiwa dimana akan
menyembuh bila obat penyebab dapat diketahui dan disingkirkan. Namun
demikian dilihat dari sudut pandang kosmetik sangat mengganggu dan
menimbulkan perasaan tidak nyaman. Jikatidak diterapi secara kausal maka dapat
bertambah parah dengan adanya penambahan jumlah lesi
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya FDE :
-
Paparan obat.
Pemberian obat dapat mengakibatkan terjadinya reaksi komplit antigen
antibodidengan terbentuknya hapten. Yang penting juga adalah pola morfologik
yangspesifik yang dapat meningkat atau menurun pada pemberian obat
yangmenyebabkan terjadinya reaksi kulit tersebut. Sebagai contoh FDE lebih
seringditemukan pada pemberian barbiturat daripada penisilin, walaupun
penisilinmemiliki kemungkinan menimbulkan reaksi kulit karena obat yang lebih
tinggi.
-
Waktu kejadian.
Kebanyakan reaksi obat pada kulit terjadi dalam 1 - 2 minggu dari terapi
pertama.Beberapa
tipe
reaksi
terutama
sindrom
hipersensitivitas
dapat
memberikan onsetyang tertunda bahkan sampai lebih dari 2 bulan setelah
68
pemberian obat. Untuk beberapa reaksi yang lebih serius, resiko yang
berhubungan dengan pemberian obatlebih dari 2 bulan tampak lebih rendah.
Uji eliminasi pemakaian obat.
Kebanyakan reaksi kulit karena obat akan berkurang dengan penghentian
pemakaianobat tersebut. Sebuah reaksi kulit tidak mungkin berhubungan dengan
obat jika reksiterus berlanjut setelah dilakukan penghentian pemakaian obat
tersebut.
-
Pemaparan obat ulangan.
Pemberian obat ulangan memberikan informasi pasti apakah obat
tersebutmenyebabkan terjadinya reaksi kulit walaupun pemberian yang sering
tidak dimungkinkan karena tidak menjamin keselamatan dari pasien kecuali
terjadi perubahan pola status imunologik pasien.
b. Adverse drug reaction
World Health Organization (WHO) mendefinisikan Adverse Drug Reactions
(ADR) sebagai setiap efek berbahaya yang tidak diinginkan dan terjadi secara
tidak sengaja dari suatu obat yang timbul pada pemberian obat dengan dosis
normal pada manusia untuk tujuan pencegahan, diagnosis atau terapi, serta
modifikasi fungsi fisiologis.
69
ADR diperkirakan terjadi hampir 15% dari pemberian obat. Risiko terjadinya
dapat meningkat hingga dua kali lipat di rumah sakit. Reaksi obat yang dapat
menimbulkan kematian dapat timbul sebesar 0,1% pada pasien medik rawat inap
dan 0,01% pada penderita bedah. Hanya 5 –10% dari ADR merupakan alergi obat.
ADR dapat dibagi menjadi dua kategori besar:
● Reaksi tipe A, yaitu yang dapat diperkirakan, umum terjadi dan
berhubungan dengan aksi farmakologis obat.
● Reaksi tipe B, yaitu yang tidak dapat diperkirakan, jarang terjadi dan
biasanya tidak berhubungan dengan aksi farmakologis obat.
Hampir 80% ADR adalah tipe A contohnya adalah toksisitas obat, efek
samping, efek sekunder, dan interaksi obat. Reaksi alergi termasuk tipe B,
timbulnya jarang, hanya 6–10% dari keseluruhan ADR.
ADR dalam segi praktis klinis dapat diklasifikasikan:
1) Reaksi yang dapat timbul pada setiap orang:
a. Overdosis obat: efek farmakologis toksik yang timbul akibat kelebihan
dosis ataupun karena gangguan ekskresi obat
b. Efek samping obat: efek farmakologis yang tidak diinginkan yang timbul
pada dosis terekomendasi.
c. Interaksi obat: aksi farmakologis obat pada efektivitas maupun toksisitas
obat yang lain.
2) Reaksi yang hanya timbul pada orang yang suseptibel:
a. Intoleransi obat: ambang batas yang rendah pada aksi farmakologis normal
dari obat.
b. Idiosinkrasi obat: respon abnormal dari obat yang berbeda dari efek
farmakologisnya. Terjadi karena metabolisme obat ataupun defisiensi enzim.
c. Alergi obat: Alergi obat atau hipersensitivitas terhadap obat merupakan
salah satu bentuk dari ADR. Alergi obat merupakan reaksi yang sering
didefinisikan sebagai reaksi yang ditimbulkan oleh mekanisme imunologis.
70
d. Reaksi pseudoalergik/anafilaktoid: reaksi yang secara klinis mirip dengan
reaksi alergi tanpa peranan imunologis (tidak diperantarai IgE).
Faktor Risiko
● Usia = ADR terutama timbul pada usia muda
● Jenis kelamin = 2x lebih sering pada wanita
● Riwayat atopi
Diagnosis
- Anamnesis
Hal – hal yang harus didapatkan pada saat anamnesis adalah:
1. Gejala klinis, waktu timbulnya gejala serta jarak timbul gejala dari paparan
obat yang dicurigai
2. Kemungkinan onset timbulnya gejala:
● Immediate (segera) timbul beberapa detik hingga 6 jam dari paparan,
gejala klinis yang dapat timbul adalah anafilaksis, urtica, angioudem,
bronkospasme
● Accelerated, timbul antara 6 hingga 72 jam setelah paparan. Gejala yang
mungkin didapatkan antara lain urtika dan asma
● Delayed, timbul gejala lebih dari 72 jam setelah paparan. Gejala yang
mungkin didapatkan antara lain sindrom mukokutan (rash, dermatitis eksfoliatif)
atau tipe hematologis (anemia, trombositopenia, netropenia)
- Tes Diagnosis
● Skin Prick Test (tes kulit epikutan) merupakan tes untuk mengetahui
adanya IgE spesifik terhadap obat tertentu.
● Tes Provokasi oral dapat menjadi gold standar dalam menentukan adanya
alergi obat. Tes ini harus dikerjakan dengan pengawasan yang ketat dengan alat
bantu resusitasi yang tersedia.
Penatalaksanaan
-
Untuk reaksi tipe A, modifikasi dosis sebelum diberikan merupakan satusatunya hal yang perlu dikerjakan. Toksisitas, serta efek samping dan efek
71
sekunder dapat membaik dengan menurunkan dosis obat.
-
Untuk reaksi tipe B, obat masih dapat diberikan kembali bila reaksi
sebelumnya ringan. Pada reaksi yang berat atau mengancam nyawa penderita,
obat tersebut tidak boleh diberikan kembali. Pada reaksi yang tidak terlalu
berat, tes provokasi dapat dipertimbangkan.
7. GANGGUAN KERATINISASI
Ichthyosis Vulgaris
Iktiosis merupakan sebuah istilah yang menggambarkan sekelompok penyakit
dengan kelainan proses kornifikasi/ keratinisasi/diferensiasi epidermis. Iktiosis
berasal dari bahasa Yunani “ichthys” yang berarti “ikan” karena iktiosis sendiri
biasa ditandai dengan adanya sisik/scale. Empat tipe iktiosis yang penting
meliputi iktiosis vulgaris, X-linked ichthyosis, iktiosis lamelar, dan hiperkeratosis
epidermolitik.
Iktiosis vulgaris merupakan tipe yang paling umum di berbagai populasi
dengan insidens antara 1:250 dan 1:5300. Penyebab penyakit ini adalah mutasi
filaggrin yang diwariskan secara autosomal semi-dominan. Iktiosis vulgaris
dibedakan dari iktiosis jenis lainnya melalui anamnesis, pemeriksaan fisik,
pemeriksaan histopatologis, ataupun genetik.
Karakteristik khas iktiosis vulgaris meliputi spektrum klinis yang luas, seperti
sisik/scale dan kulit kering yang menyisakan area fleksor, keratosis pilaris,
hiperlinearitas telapak tangan dan kaki, serta kecenderungan yang kuat untuk
memiliki penyakit alergi. Kerusakan sawar atau barier kulit pada iktiosis vulgaris
dapat
mengakibatkan
konsekuensi sistemik, seperti peningkatan penetrasi
alergen yang menyebabkan kejadian atopi, serta peningkatan kerentanan terhadap
infeksi bakteri terutama akibat fisura dan erosi. Pengobatan iktiosis vulgaris
bersifat simptomatik, kompleks, serta dinamis. Tatalaksana utama berupa
pelembap topikal dan obat-obatan untuk mengurangi sisik/scale, mendukung
fungsi sawar kulit, mengurangi kehilangan air, dan mengurangi gejala.
72
Epidemiologi
Sekitar 95% iktiosis merupakan iktiosis vulgaris dan setidaknya 1% populasi
mengidap penyakit ini. Insidens iktiosis secara keseluruhan di India adalah 1:
300.000. Insidens iktiosis vulgaris mencapai 1/100, lebih dari 10 kali lipat lebih
tinggi dibandingkan X-linked ichthyosis (1/2000 pria). Onset iktiosis vulgaris
pada usia 3 hingga 12 bulan dengan insidens yang sama antara laki-laki dan
perempuan. Estimasi prevalensi iktiosis vulgaris antara 4,0%-7,7% di Eropa dan
2,29%- 3,0% di Asia. Mutasi filaggrin dikatakan rendah pada populasi berkulit
gelap. Sekitar dua pertiga pasien memiliki mutasi alel ganda dan menyebabkan
penyakit yang relatif serius, sedangkan sepertiga sisanya memiliki mutasi alel
tunggal dengan penyakit yang lebih ringan.
Etiologi dan Patofisiologi
Iktiosis vulgaris merupakan penyakit yang ditransmisikan secara genetik
dengan pola autosomal semidominan dan menunjukkan mutasi filaggrin yang
bervariasi. Individu dengan mutasi heterozigot memiliki manifestasi klinis yang
lebih ringan daripada individu dengan mutasi homozigot. Pembawa homozigot
memiliki tingkat kelembapan kulit lebih rendah dan transepidermal water loss
(TEWL) yang lebih tinggi. Gen filaggrin terletak di kompleks diferensiasi
epidermis pada kromosom 1q21.
Sebenarnya semua jenis iktiosis menunjukkan abnormalitas pada dua lapisan
kulit terluar, yakni stratum granulosum dan stratum korneum, menyebabkan
gangguan fungsi barier kulit. Fungsi paling penting kulit lainnya adalah sebagai
penghalang terhadap transepidermal water loss (TEWL) tidak terbatas dan
terhadap paparan berbagai faktor lingkungan yang berbahaya. Epidermis pasien
iktiosis vulgaris menunjukkan berkurangnya ukuran dan jumlah granula
keratohialin pada stratum granulosum atau bahkan tidak ada sama sekali.
Pada lapisan granular/stratum granulosum epidermis, granula keratohialin
paling dominan disusun oleh poliprotein profilaggrin besar (>400 kDa). Setelah
diferensiasi terminal keratinosit, profilaggrin dipecah oleh protease spesifik
73
menjadi
10-12
peptida
filaggrin
(37 kDa) yang pada dasarnya identik.
Filaggrin tersebut berikatan dengan keratin dan menghasilkan kompresi
sitoskeleton serta selanjutnya mengalami degradasi menjadi urocanic acid dan
histidin yang memberikan perlindungan dari sinar ultraviolet serta hidrasi
(natural moisturizing factors). Produk degradasi filaggrin selain berperan
sebagai natural moisturizing factors, juga berperan sebagai pemelihara keasaman
pH pada stratum korneum, kedua hal tersebut berperan penting untuk
homeostasis barier epidermis dengan meregulasi aktivitas beberapa enzim yang
mengontrol deskuamasi, sintesis lipid, serta inflamasi. Berdasarkan peran
filaggrin tersebut maka hilangnya atau berkurangnya ekspresi filaggrin akan
mengakibatkan kulit yang sangat kering serta terganggunya fungsi barier, yang
menghasilkan manifestasi klinis iktiosis vulgaris. Defek barier kulit juga
mengakibatkan mudahnya penetrasi allergen, sehingga pada pasien iktiosis
vulgaris bisa disertai penyakit penyerta alergi. Selain itu, pasien iktiosis vulgaris
juga cenderung lebih mudah mengalami infeksi bakteri karena adanya fisura dan
erosi pada kulit.
Manifestasi Klinis
Gejala klinis mulai terlihat pada tahun pertama kehidupan, yaitu antara usia 3
hingga 12 bulan. Klinis terlihat lebih berat pada pasien dengan mutasi alel
ganda
(homozigot) dan lebih ringan pada mutasi alel tunggal (heterozigot).
Diperkirakan sekitar 30% pasien iktiosis vulgaris yang berkonsultasi dengan
dokter adalah pembawa heterozigot dan 70% adalah pembawa homozigot.
Manifestasi klinis khas iktiosis vulgaris meliputi sisik/ scale serta kulit kering
yang lebih prominen di bagian ekstensor (daerah tulang kering, lengan,
punggung, bokong, dan bagian lateral paha) dan menyisakan daerah fleksor/
flexural sparing (aksila, fossa antecubiti, fossa popliteal). Daerah wajah biasanya
tidak terkena, pipi dan dahi bisa terlibat. Sisik pada iktiosis vulgaris
berkarakteristik halus, putih, dan melekat, mungkin lebih kasar pada ekstremitas
bawah.
74
Presentasi klinis pada daerah tangan dan kaki menunjukkan garis
palmoplantar yang lebih terlihat menonjol disebut hiperlinearitas palmoplantar.3
Beberapa pasien juga dapat mengalami penebalan palmar atau plantar mendekati
keratoderma. Manifestasi klinis lain adalah keratosis pilaris, yaitu berupa papul
hiperkeratotik folikular yang berukuran kecil dan sewarna kulit, baik
berkelompok maupun tersebar, sebagian besar pada permukaan ekstensor,
terutama pada lengan, paha, dan bokong. Pada anak-anak, keratosis pilaris juga
bisa tampak pada pipi.
Atopi juga sering diamati pada pasien iktiosis vulgaris dan dapat
bermanifestasi sebagai hay fever atau alergi serbuk sari
bunga, eksim atau
dermatitis, dan asma. Namun, perlu diperhatikan bahwa hiperlinearitas
palmoplantar dan keratosis pilaris bisa tampak pada
individu
atopik
yang
tidak memiliki iktiosis vulgaris. Individu iktiosis vulgaris juga bisa mengalami
hipohidrosis dengan intoleransi panas, meskipun jarang.
Ada variasi besar dalam manifestasi klinis iktiosis vulgaris antar individu
dalam keluarga yang sama. Secara umum, manifestasi klinis tipikal iktiosis
vulgaris meliputi spektrum klinis yang luas, termasuk adanya sisik/scale dan kulit
kering yang menyisakan daerah fleksor, hiperlinearitas palmoplantar, keratosis
pilaris, serta kecenderungan kuat untuk penyakit penyerta alergi.
75
Diagnosis
Diagnosis iktiosis vulgaris melalui anamnesis menyeluruh mengenai
riwayat keluarga, kelahiran, dan presentasi serta perjalanan penyakit.
Pemeriksaan dermatologi untuk melihat karakteristik dan distribusi
sisik/scale, keterlibatan telapak tangan dan kaki, serta keberadaan keratosis
pilaris.
Dalam kasus iktiosis vulgaris yang jelas secara klinis, tidak diperlukan
pemeriksaan lanjutan. Pada beberapa kasus yang kurang jelas, dapat
dilakukan pemeriksaan penunjang, seperti pemeriksaan histopatologi,
imunohistokimia, hingga pemeriksaan genetik.
Pemeriksaan histopatologi di bawah mikroskop cahaya menunjukkan
stratum korneum yang orthohyperkeratotic, stratum korneum lebih tebal
dari normal, tetapi lebih tipis dibandingkan kelainan hiperkeratotik lainnya
seperti psoriasis atau iktiosis lamelar. Selain itu, terlihat juga kelainan
berkurangnya atau tidak adanya lapisan granular. Pemeriksaan dengan
mikroskop elektron memperlihatkan granula keratohialin yang rapuh atau
bahkan tidak ada sama sekali. Pada pemeriksaan lebih detail terlihat retraksi
perinuclear keratin dalam sel granular akibat mutasi filaggrin yang
menyebabkan perubahan organisasi filamen intermediat keratin, sehingga
menghasilkan kelainan sitoskeletal yang khas. Secara ultrastruktur defisiensi
filaggrin menghasilkan defek keratohialin khas dengan granula yang rapuh
dan kecil. Mikroskop elektron juga dapat membedakan antara pembawa
heterozigot dan homozigot. Pada pembawa heterozigot, granula keratohialin
bisa masih ada namun tampak kecil.
76
Pemeriksaan imunohistokimia dapat pula menunjukkan berkurangnya atau
bahkan tidak ada filaggrin. Imunohistokimia dapat membantu diagnosis asalkan
tersedia antibodi terhadap protein yang dicurigai; mutasi pada pasien
menyebabkan delesi atau ekspresi protein abnormal pada epidermis. Metode
sekuensing Sanger sudah lebih dari 30 tahun menjadi gold standard untuk
analisis genetik. Pada metode ini coding part gen yang diduga menyebabkan
penyakit dianalisis ekson demi ekson. Metode ini mahal dan memakan waktu
dibandingkan metode Next-Generation Sequencing (NGS). Sejak awal tahun
2000-an, teknologi sekuensing paralel masif telah dikembangkan dan diterapkan
untuk diagnosis genetik skala besar. Metode NGS memungkinkan analisis coding
portion dari suatu genom atau bahkan keseluruhan genom hanya dalam beberapa
hari. Metode ini menjanjikan biaya lebih murah, lebih cepat, dan sensitivitas lebih
tinggi dalam deteksi mutasi. Pemeriksaan genetik bisa digunakan untuk
konfirmasi diagnosis dan memungkinkan konseling genetik, namun tidak dapat
menggantikan anamnesis dan pemeriksaan klinis terperinci.
Dari segi genetik telah diketahui bahwa mutasi gen filaggrin (FLG)
menyebabkan munculnya klinis iktiosis vulgaris. Namun, pada pasien iktiosis
sangat ringan ditemukan adanya mutasi gen caspase 14 (CASP14). Caspase 14
77
terlibat dalam degradasi proteolitik filaggrin. Pasien-pasien tersebut lahir tanpa
membran kolodion dan tumbuh dengan fenotipe kulit yang bersisik berwana
keputihan serta halus di seluruh tubuh, tanpa disertai eritema ataupun gejala lain
pada kulit. Fenotipe kulit pasien dengan mutasi CASP14 berada pada zona abuabu antara klinis iktiosis vulgaris dan klinis Autosomal Recessive Congenital
Ichthyosis (ARCI) tipe ringan.
Terapi
Tatalaksana bersifat simptomatik, kompleks, dan dinamis. Secara umum,
terapi meliputi pelembap topikal dan obat-obat untuk mengurangi sisik/scale,
mendukung fungsi barier kulit, mengurangi water loss, dan mengurangi gejala.
Mengurangi sisik/scale, memberikan hidrasi dan kelembapan dapat dicapai
dengan emolien, agen keratolitik, dan retinoid. Jika ada infeksi bakteri
(stafilokokus atau streptokokus) diterapi dengan mupirocin atau bacitracin
topikal. Saat ini para peneliti juga mengembangkan farmakologi genetik untuk
meningkatkan produksi filaggrin normal dari tubuh sendiri.
1. Hidrasi stratum korneum
Glycerol, urea (2-10%), dan propylene glycol (10-25%) dalam formulasi
krim merupakan agen hidrasi yang paling sering digunakan. Hidrasi dapat
dicapai dengan baik apabila krim diaplikasikan pada kulit yang basah sekitar 3
menit setelah mandi. Hal tersebut dimaksudkan agar kelembapan dari kulit
yang masih basah/lembap sesudah mandi dapat diperangkap oleh krim. Krim
tidak memasukkan air kembali ke kulit secara eksternal, tetapi bekerja dengan
mencoba menghentikan transepidermal water loss (TEWL). Krim berbahan
dasar urea atau glycerol dapat diaplikasikan pada kulit dua kali sehari.
2. Agen keratolitik
Salicylic acid, a-hydroxy acid berupa lactic acid atau glycolic acid (5-15%),
serta ammonium lactate (12%) berguna untuk menghilangkan sisik/scale.
Salicylic acid 6% di dalam propylene glycol dan alkohol bisa digunakan dalam
plastic occlusion. Krim yang efektif dapat diperoleh dengan mencampurkan agen
78
hidrasi dengan keratolitik. Namun, risiko penyerapan sistemik terutama pada bayi
yang dirawat seluruh tubuhnya harus selalu dipertimbangkan.
3. Retinoid oral
Mekanisme kerja retinoid bersifat simptomatis dengan memberikan efek antikeratinisasi yang tidak spesifik pada kulit hiperkeratotik. Retinoid mengikat
faktor transkripsi yang membantu mengatur banyak gen dan oleh karena itu,
memodulasi proliferasi dan diferensiasi epidermis serta inflamasi. Perlu diingat
bahwa retinoid bersifat teratogen dan memiliki efek samping jangka panjang
berupa kalsifikasi ligamen, fusi lempeng pertumbuhan, dan diffuse skeletal
hyperostosis. Berdasarkan hal tersebut, maka sebaiknya retinoid oral diberikan
pada pasien yang lempeng pertumbuhannya sudah menutup, yaitu pada usia 16
tahun ke atas. Isotretinoin dan acitretin merupakan retinoid oral yang sangat
efektif, tetapi diperlukan pemantauan toksisitas. Hanya kasus parah yang
memerlukan terapi intermiten.
4. Terapi lain
Studi kasus tahun 2015 menunjukkan perbaikan gejala iktiosis vulgaris
dengan perubahan pola makan berdasarkan hasil uji sensitivitas makanan disertai
suplementasi minyak ikan, vitamin D, dan probiotik. Telah diketahui bahwa
pasien iktiosis vulgaris cenderung mengalami penyakit penyerta alergi, seperti
dermatitis atopik, rinitis alergi, serta asma bronkial. Studi klinis menunjukkan
bahwa 30%-40% pasien dermatitis atopik memiliki alergi makanan dan dua
pertiga gejala dermatitis atopik tersebut membaik setelah menghindari makanan
tertentu dari diet sehari-hari.
Terapi retinoid oral termasuk salah satu bagian terapi iktiosis vulgaris.
Namun, studi kasus terbaru menyatakan bahwa konsumsi retinoid oral pada
iktiosis dapat mencetuskan defisiensi vitamin D pada anak iktiosis. Anak- anak
tersebut mengalami rakitis setelah terapi retinoid oral selama beberapa bulan.
Dengan demikian, sangat disarankan untuk memulai pemberian suplemen vitamin
D bersamaan dengan dimulainya terapi retinoid oral. Efek vitamin D pada
79
iktiosis bisa karena efek langsung pada keratinosit (mengekspresikan reseptor
vitamin D) atau merupakan bagian dari perbaikan kesehatan secara umum.
Prognosis
Gejala membaik pada musim panas, iklim lembap, dan pada usia
dewasa. Gejala memburuk pada cuaca dingin dan kering karena penurunan
kelembapan mengakibatkan hidrolisis lebih lanjut filaggrin tersisa pada
pembawa heterozigot. Dermatitis atopik terjadi pada 50% pasien iktiosis
vulgaris, dan sekitar 20% pasien mengalami rinitis alergi dan asma bronkial.
8. FARMAKOLOGI DERMATOTERAPI
A. Golongan Obat untuk kulit
Berbagai gangguan/penyakit kulit dapat disebabkan oleh berbagai faktor
seperti infeksi bakteri, virus, jamur, alergi, lesi bekas garukan dan lain-lain.
Beberapa golongan obat yang sering digunakan pada penyakit kulit yakni :
1. Antihistamin
Histamin merupakan mediator alergi yang merangsang serabut saraf-C dan
menimbulkan sensasi gatal.
Antihistamine H-1:
•
generasi
1
(sedating):
chlorphenon,
diphenhydramine,
promethazine,cyproheptadine, doxepine untuk pruritus berat;
•
generasi
2
(non-sedating):
cetirizine,
loratadine,
desloratadine,fexofenadine.
Antihistamine H-2: cimetidine, ranitidine, famotidine,nizatidine.
2. Antibiotika
Banyak digunakan untuk infeksi kulit superfisial (pyoderma) dan acne
vulgaris.Bakteri penyebab pyoderma adalah Staphylococcus aureus dan
Streptococcus pyogenes. Impetigo (infeksi pada kulit paling luar) dapat diobati
80
dengan antibiotik topikal. Infeksi kulit lebih dalam seperti folicullitis,
erisipelas,cellulitis, fasciitis diobati dengan penicillin atau makrolid sistemik.
Proprioni bacterium acnes adalah bakteri penyebab terbentuknya micro
comedo. Acne sederhana diobati dengan antibiotik topikal. Antibiotika sistemik
digunakan bila topikal tak responsif yakni dapat menggunakan tetrasiklin atau
makrolid. Untuk akne vulgaris dikombinasi dengan asam retinoid.
3. Antifungus
o Azole atau allylamine (terbinafine) topikal untuk tinea corporis lokal.
o Tinea capitis diobat dengan griseofulvin atau terbinafine oral.
o Tinea pedis, berdasarkan keparahannya dapat diobati topikal atau sistemik
dengan griseofulvin, terbinafine, atau azole.
o Onichomycosis
diobati
dengan griseofulvin
selama
12-18
bulan
bila
penyebabnya tercampur dengan candida berikan azole atau terbinafine minimal
3 bulan.
4. Glukokortikoid Topikal
Glukokortikoid merupakan imunosupresan dan antiinflamasi. Mekanisme
kerjanya beragam: apoptosis limfosit, menghambat kaskade asam arakidonat,
menekan produksi sitokin yang berefek terhadap sel radang. Berdasarkan
potensinya menimbulkan vasokonstriksi, steroid topikal terbagi atas 7 kelompok,
dari yang terkuat sampai yang lemah. Steroid kuat adalah betamethasone dan yang
mengandung fluor sedangkan yang paling lemah adalah hidrokortison.
Pemakaian maksimal dua kali sehari.
Efek samping: atrofi, striae, telangi ectasia, purpura,erupsi acneiform.
Senyawaan berfluor tidak digunakan pada kulit muka karena dapat menimbulkan
dermatitis perioral dan rosacea.
5. Glukokortikoid Sistemik
Digunakan untuk penyakit kulit berat: dermatitis kontak alergika terhadap
tanaman, dermatitis vesicobulosa (pemphigoid,pemphigus vulgaris).
Efek
81
samping penggunaan steroid oral jangka lama yakni gangguan psikis, katarak,
myopati,
osteoporosis,
nekrosis
tulang
avaskular,
hiperglikemia/diabetes, hipertensi.
Pulse-therapy yang menggunakan metilprednisolon IV dosis tinggi merupakan
pilihan pyoderma gangrenosum yang berat dan resisten, pemphigus vulgaris, SLE
yang multisitem, dan dermatomyositis.
6. Antivirus dan Antiscabies
o Acyclovir dan turunannya untuk herpes simplex dan varicella. Gunakan
cidofovir bila acyclovir resisten.
o Podophylline dan podofilox untuk condyloma acuminata.
o Gamma-benzene hexachloride
(lindane) adalah insektisida ectoparasite
(scabies dan pediculosis).
o Permethrine untuk scabies dan lice.
o Ivermectine untuk pengobatan masal scabies.
7. Retinoid
Adalah senyawaan alami atau sintetik turnan retinol yang berkhasiat seperti
vitamin A. Fungsi retinoid yakni dalam penglihatan, pengaturan proliferasi dan
diferensiasi sel dan pertumbuhan tulang, pertahanan imun, dan supresi tumor.
Vitamin A pengaruhi diferensiasi epitel, hendak digunakan untuk obati penyakit
kulit, namun banyak memiliki efek samping.
Defisiensi
Vit.
A
menimbulkan
metaplasia
squamosa.
Beta-
carotene: precursor vit A dari sayur, antioksidan, mengurangi fotosensitivitas pada
protoporfiria eritropoetik.
Modifikasi molekuler lahirkan senyawaan dengan marginof safety yang
lebar: retininol, tretinoin (all-trans-retinoic acid), isotretinoin (13-cis-retinoic
acid), alitretinoin (9-cis-retinoic acid); aromatic retinoid(acitrecin); arotinoid
(tarazotene, bexarotene); adapalene (turunan naphtoic acid)
82
Asam retinoid mengaktifkan 2 jenis reseptor, yaitu retinoicacid receptors
(RARs) dan retinoic X receptors (RXRs). Kompleks ligand-receptor ini ikat
promotor region gen target dan mengatur ekspresi gen. Produk yang dihasilkan
oleh ekspresi gen ini memberi efek farmakologik dan efek samping obat ini.
Terdapat 3 isoform reseptor (α,β,γ), kulit berisi RARα dan RARβ.
Generasi 1 dan 2 retinoid tak selektif ikat reseptor, hingga menimbulkan
banyak efek samping. Generasi 3 lebih selektif,lebih disukai. Efek samping: kulit
kering, mimisan karena mukosa menjadi kering,konjungtivitis, dan rambut rontok.
ES yang ringan: nyeri otot,pseudo tumor cerebri, perubahan suasana perasaan.
Retinoid adalah bersifat teratogenik dan tidak dianjurkan untuk wanita usia subur.
Indikasi: penyakit radang kulit, kanker kulit, kulit hiperproliferatif, photo-ageing
Berikut obat-obat golongan retinoid :
•
Tretinoin: untuk acne vulgaris, kurangi hiper keratinisasi yang akan
membentuk mikro komedo untuk kulit photoaging(keriput, kasar, dan
hiperpigmentasi), diberikan topikal.
•
Adepalene: indikasi sama dengan tretinoin; stabil disinar matahari, kurang
meradang.
•
Tazarotene (generasi 3): untuk psoriasis dan acne vulgaris, ikat ketiga jenis
RAR, berikan topikal 1 kali sehari, untuk psoriasis dapat dicampur
dengan steroid.
•
Alitretinoin: ikat semua jenis reseptor retinoid, untuk kelainan kulit pada
sindrom Kaposi; Efek Samping adalah eritema, desquamasi, terbakar,
stinging, fototoksik. Dikontraindikasikan pada wanita hamil.
•
Isotretinoin: untuk acne vulgaris nodul okistik berat dan acne nodular recal
citrant
yang berat
;
dosis adalah 0.5-2.0mg/kgBW
selama
15-20
minggu; indikasi lain untuk acnerosacea, hidradenitis suppurativa, dan
gram-negativefolliculitis. Efek samping: cheilitis, kukosa kering, mimisan,
mata kering, blepharo conjunctivitis, erupsi eritematous, xerosis,rambut
rontok, fotosensitivitas, dislipidemia, myalgia danartralgia, hiperostosis,
teratogenik bila diminum 1 bulan pertama kehamilan.
83
•
Acitrecin: untuk psoriasis, namun telah ditarik karena bersifat toksik.
•
Bexarotene: selektif ikat RXR, digunakan untuk limfoma kulitset T,
dimetabolisisme oleh CYP3A4. Efek samping: hipotiroidism,dislipidemia,
leukopenia, pankreatitis.
8. Biological Agents
Merupakan terapi sistemik yg khusus ditujukan pada mediator tertentu dari
reaksiimonologik/peradanganyang berperan dalam patofisiologi dan manifestasi k
linik penyakit limfoma set T, psoriasis, artritis psoriatik,autoimun, dan keganasan.
Psoriasis dikenal saat ini sebagi penyakit autoimun yang diperantarai oleh
limfosit-T yang bereaksi dengan keratinosit epidermis.
Pengobatan psoriasis dapat diarahkan pada salah satuatau lebih dari 4
mekanisme:
1. kurangi sel-T patogenik
2. hambat aktivasi sel-T
3. deviasi imun dari TH1 ke TH2
4. hambat aktivitas sitolon inflamasi.
Kelebihan agen biologik adalah pengobatan tertuju pada sel-T dan sitokin,
hingga Efek sampingnya lebih ringan.
•
Alefacept: untuk psoriasis sedang sampai berat, hambat aktifasi sel-T
dengan cara ikat CD2 pada permukaan sel-Tdan tingkatkan apoptosis
memory-effector T cells.
•
Efalizumab: ikat CD11a pada set-T hambat aktivasidan sel-T dan fungsi
set-T yg sitotoksik; indikasi untukpsoriasis sedang sampai berat.
Disuntikkan1X/minggu sc.
•
Etanercept: ikat dan hambat kerja TNF. Indikasi:psoriasis, artritis
psoriatik, RA, juvenile RA, danankylosing spondylitis.
•
Infliximab: ikat TNF- α, perkuat kigrasi lekosit.Indikasi: penyakit Crohn,
RA, dan psoriasis.
84
•
IV Imunoglobulin: untuk toxic epidermal necrolysis hilangkan blistering
kulit dan mulosa dan perbailisurvival.
9. Sitotoksik dan Imunospresan
•
Methotrexate untuk psoriasis sedang dan berat. Tidak diberikan bersama
obat yang ikatan proteinnya tinggi karena menimbulkan depresi SST.
•
Azathiprin adalah steroid sparring agent untuk dermatosis autoimun dan
radang
termasuk
pemphigus vulgaris,pemphigoid
bullosa,
dermatomyositis, dermatitis Atopikk, LE, psoriasis, dll. Diberikan oral 1-2
mg/hari.
•
5-FU
ganggu
sintesis DNA,
gunakan
topikal/intralesional
untuk
pertumbuhan sel ganas dan jinak pada kulit.
•
Cyclophosphamide dan mechlorethamine, oral/iv, untuklimfoma kutaneus
sel-T, dll.
•
Cyclosporin oral, tacrolimus oral dan topikal untuk psoriasisdan radang
kulit imunologik lainnya.
•
Mycophenolate mofetil adalah steroid sparring agent,dengan indikasi
seperti azathioprin.
•
Imiquimode, immunomodulatory agent, untuk wart dan supeficial basal
cell carcinoma.
Obat Kulit Lainnya
•
Sunscreen: lindungi kulit dari sinar UV
•
Azelaic acid: untuk acne, melasma, dan hiperpigmentasi pasca radang.
•
Calcipotriene (analog Vit.D): untuk psoriasis dengan cara modulasi
transkripsi gen yg berkaitan dengan proliferasi dan diferensiasi.
•
Keratolitik (salisilat, ure, sulfur, asam glikolat) untuk hiperkeratosis.
•
Minoxidil dan finasteride: untuk alopecia.
•
Hydroquinone: untuk bleaching kulit hiperpigmentasi,timbulkan reversible
depigmentation.
•
Capsaicin: neuralgia pasca herpes.
85
•
Podophyllin: untuk anogenital warts.
B.
Penggunaan obat kulit secara Topikal
Secara umum perjalanan sediaan topikal setelah diaplikasikan melewati tiga
kompartemen yaitu: permukaan kulit, stratum korneum, dan jaringan sehat.
Stratum korneum dapat berperan sebagai reservoir bagi vehikulum tempat
sejumlah unsur pada obat masih berkontak dengan permukaan kulit namun belum
berpenetrasi tetapi tidak dapat dihilangkan dengan cara digosok atau terhapus oleh
pakaian.
Unsur vehikulum sediaan topikal dapat mengalami evaporasi, selanjutnya
zat aktif berikatan pada lapisan yang dilewati seperti pada epidermis, dermis. Pada
kondisi tertentu sediaan obat dapat membawa bahan aktif menembus hipodermis.
Sementara itu, zat aktif pada sediaan topikal akan diserap oleh vaskular kulit pada
dermis dan hipodermis.
Saat sediaan topikal diaplikasikan pada kulit, terjadi 3 interaksi:
1. Solute vehicle interaction: interaksi bahan aktif terlarut dalam vehikulum.
Idealnya zat aktif terlarut dalam vehikulum tetap stabil dan mudah
dilepaskan. Interaksi ini telah ada dalam sediaan.
2. Vehicle skin interaction: merupakan interaksi vehikulum dengan kulit.
Saat awal aplikasi fungsi reservoir kulit terhadap vehikulum.
3. Solute Skin interaction: interaksi bahan aktif terlarut dengan kulit (lag
phase, rising phase, falling phase).
a. Penetrasi secara trans-epidermal
Penetrasi trans-epidermal dapat secara interseluler dan intraseluler. Penetrasi
interseluler merupakan jalur yang dominan, obat akan menembus stratum
korneum melalui ruang antar sel pada lapisan lipid yang mengelilingi sel
korneosit. Difusi dapat berlangsung pada matriks lipid protein dari stratum
korneum. Setelah berhasil menembus stratum korneum obat akan menembus
86
lapisan epidermis sehat di bawahnya, hingga akhirnya berdifusi ke pembuluh
kapiler.
Penetrasi secara intraseluler terjadi melalui difusi obat menembus dinding
stratum korneum sel korneosit yang mati dan juga melintasi matriks lipid protein
startum korneum, kemudian melewatinya menuju sel yang berada di lapisan
bawah sampai pada kapiler di bawah stratum basal epidermis dan berdifusi ke
kapiler.
b. Penetrasi secara trans-folikular
Analisis penetrasi secara folikular muncul setelah percobaan in vivo.
Percobaan tersebut memperlihatkan bahwa molekul kecil seperti kafein dapat
berpenetrasi tidak hanya melewati sel-sel korneum, tetapi juga melalui rute
folikular. Obat berdifusi melalui celah folikel rambut dan juga kelenjar sebasea
untuk kemudian berdifusi ke kapiler.
C. Absorpsi sediaan topikal secara umum
Saat suatu sediaan dioleskan ke kulit, absorpsinya akan melalui beberapa fase:
1. Lag phase
Periode ini merupakan saat sediaan dioleskan dan belum melewati stratum
korneum, se-hingga pada saat ini belum ditemukan bahan aktif obat
dalam pembuluh darah.
2. Rising phase
Fase ini dimulai saat sebagian sediaan menembus stratum korneum,
kemudian memasuki kapiler dermis, sehingga dapat ditemukan dalam
pembuluh darah.
3. Falling phase
Fase ini merupakan fase pelepasan bahan aktif obat dari permukaan kulit
dan dapat dibawa ke kapiler dermis.
D. Zat pembawa pada obat Topikal
87
Obat topikal adalah obat yang mengandung dua komponen dasar yaitu zat
pembawa (vehikulum) dan zat aktif. Zat aktif merupakan komponen bahan topikal
yang memiliki efek terapeutik, sedangkan zat pembawa adalah bagian inaktif dari
sediaan topikal dapat berbentuk cair atau padat yang membawa bahan aktif
berkontak dengan kulit. Idealnya zat pembawa mudah dioleskan, mudah
dibersihkan,tidak mengiritasi serta menyenangkan secara kosmetik. Selain itu,
bahan aktif harus berada di dalam zat pembawa dan kemudian mudah dilepaskan.
Untuk mendapatkan sifat zat pembawa yang demikian, maka ditambahkanlah
bahan atau unsur senyawa tertentu yang berperan dalam memaksimalkan fungsi
dari zat pembawa.
Bahan pembawa yang banyak dipakai:
1. Lanolin
Disebut juga adeps lanae, merupakan lemak bulu domba. Banyak
digunakan pada produk kosmetik dan pelumas. Sebagai bahan dasar salep lanolin
bersifat hipoalergik diserap oleh kulit, memfasilitasi bahan aktif obat yang
dibawa.
2. Paraben
Paraben (para-hidroksibenzoat) banyak digunakan sebagai pengawet
sediaan topikal. Paraben dapat juga bersifat fungisid dan bakterisid lemah.
Paraben banyak dipakai pada shampo, sediaan pelembab, gel, pelumas, pasta gigi.
3. Petrolatum
Merupakan sediaan semisolid yang terdiri dari hidrokarbon (jumlah
karbon lebih dari 25). Petrolatum (vaselin), misalnya vaselin album, diperoleh dari
minyak bumi. Titik cair 10-50°C,dapat mengikat kira-kira 30% air.
4. Gliserin
Berupa senyawa cairan kental, tidak berwarna, tidak berbau. Gliserin
memiliki 3 kelompok hidroksil hidrofi lik yang berperan sebagai pelarut dalam
air.
88
Secara umum, zat pembawa dibagi atas 3 kelompok, cairan, bedak, dan
salep. Ketiga pembagian tersebut merupakan bentuk dasar zat pembawa yang
disebut juga sebagai bentuk monofase. Kombinasi bentuk monofase ini berupa
krim, pasta, bedak kocok dan pasta pendingin.
Farmakokinetik sediaan topikal secara umum menggambarkan perjalanan
bahan aktif dalam konsentrasi tertentu yang diaplikasikan pada kulit dan
kemudian diserap ke lapisan kulit, selanjutnya didistribusikan secara sistemik.
Penyerapan sediaan topikal secara umum dipengaruhi oleh berbagai faktor:
1. Bahan aktif yang dicampurkan dalam pembawa tertentu harus menyatu
pada permukaan kulit dalam konsentrasi yang cukup.
2. Konsentrasi bahan aktif merupakan faktor penting, jumlah obat yang
diabsorpsi secara perkutan perunit luas permukaan setiap periode waktu,
bertambah sebanding dengan bertambahnya konsentrasi obat dalam suatu
pembawa.
3. Penggunaan bahan obat pada permukaan yang lebih luas akan menambah
jumlah obat yang diabsorpsi.
4. Absorpsi bahan aktif akan meningkat jika pembawa mudah menyebar ke
permukaan kulit.
5. Ada tidaknya pembungkus dan sejenisnya saat sediaan diaplikasikan.
6. Pada umumnya, menggosokkan sediaan akan meningkatkan jumlah bahan
aktif yang diabsorpsi.
7. Absorpsi perkutan akan lebih besar bila sediaan topikal dipakai pada kulit
yang lapisan tanduknya tipis.
8. Pada umumnya, makin lama sediaan menempel pada kulit, makin banyak
kemungkinan diabsorpsi.
Pada kulit utuh, cara utama penetrasi sediaan melalui lapisan epidermis,
lebih baik daripada melalui folikel rambut atau kelenjar keringat, karena luas
permukaan folikel dan kelenjar keringat lebih kecil dibandingkan dengan daerah
kulit yang tidak mengandung elemen anatomi ini. Stratum korneum sebagai
89
jaringan keratin akan berlaku sebagai membran semi permeabel, dan molekul obat
berpenetrasi dengan cara difusi pasif.
Prinsip pemilihan obat topikal pada kulit yakni :
1. Pada kulit tidak berambut, secara umum dapat dipakai sediaan salep, krim,
emulsi. Krim dipakai pada lesi kulit yang kering dan superfisial, salep
dipakai pada lesi yang tebal (kronis).
2. Pada daerah berambut, losion dan gel merupakan pilihan yang cocok.
3. Pada lipatan kulit, formulasi bersifat oklusif seperti salep, emulsi W/O
dapat menyebabkan maserasi sehingga harus dihindari.
4. Pada daerah yang mengalami ekskoriasi, formulasi berisi alkohol dan
asam salisilat sering mengiritasi sehingga harus dihindari.
5. Sediaan cairan dipakai untuk kompres pada lesi basah, mengandung pus,
berkrusta.
E. Mekanisme kerja sediaan topikal
1. Cairan
Pada saat diaplikasikan di permukaan kulit, efek dominan cairan akan
berperan melunakkan karena difusi cairan tersebut ke masa asing yang terdapat di
atas permukaan kulit; sebagian kecil akan mengalami evaporasi.
Dibandingkan dengan solusio, penetrasi tingtura jauh lebih kuat. Namun sediaan
tingtura telah jarang dipakai karena efeknya mengiritasi kulit. Bentuk sediaan
yang pernah ada antara lain tingtura iodi dan tingtura spiritosa.
2. Bedak
Oxydum zincicum sebagai komponen bedak bekerja menyerap air, sehingga
memberi efek mendinginkan. Komponen talcum mempunyai daya lekat dan daya
slip yang cukup besar.
90
Bedak tidak dapat berpenetrasi ke lapisan kulit karena komposisinya yang terdiri
dari partikel padat, sehingga digunakan sebagai penutup permukaan kulit,
mencegah dan mengurangi pergeseran pada daerah intertriginosa.
3. Salep
Salep dengan bahan dasar hidrokarbon seperti vaselin, berada lama di atas
permukaan kulit dan kemudian berpenetrasi. Oleh karena itu salep berbahan dasar
hidrokarbon digunakan sebagai penutup. Salep berbahan dasar salep serap (salep
absorpsi) kerjanya terutama untuk mempercepat penetrasi karena komponen
airnya yang besar.
Dasar salep yang dapat dicuci dengan air dan dasar salep larut dalam air mampu
berpenetrasi jauh ke hipodermis sehingga banyak dipakai pada kondisi yang
memerlukan penetrasi yang dalam.
4. Krim
Penetrasi krim jenis W/O jauh lebih kuat dibandingkan dengan O/W karena
komponen minyak menjadikan bentuk sediaan bertahan lama di atas permukaan
kulit dan mampu menembus lapisan kulit lebih jauh.
Namun krim W/O kurang disukai secara kosmetik karena komponen minyak yang
lama tertinggal di atas permukaan kulit. Krim O/W memiliki daya pendingin lebih
baik dari krim W/O, sementara daya emolien W/O lebih besar dari O/W.
5. Pasta
Sediaan berbentuk pasta berpenetrasi ke lapisan kulit. Bentuk sediaan ini
lebih dominan sebagai pelindung karena sifatnya yang tidak meleleh pada suhu
tubuh. Pasta berlemak saat diaplikasikan di atas lesi mampu menyerap lesi yang
basah seperti serum.
6. Bedak kocok
91
Mekanisme kerja bedak kocok ini lebih utama pada permukaan kulit.
Penambahan komponen cairan dan gliserin bertujuan agar komponen bedak
melekat lama di atas permukaan kulit dan efek zat aktif dapat maksimal.
7. Pasta pendingin
Sedikit berbeda dengan pasta, penambahan komponen cairan membuat
sediaan ini lebih mudah berpenetrasi ke dalam lapisan kulit, namun bentuknya
yang lengket menjadikan sediaan ini tidak nyaman digunakan dan telah jarang
dipakai.
8. Gel
Penetrasi gel mampu menembus lapisan hipodermis sehingga banyak
digunakan pada kondisi yang memerlukan penetrasi seperti sediaan gel analgetik.
Rute difusi jalur transfolikuler gel juga baik, disebabkan kemampuan gel
membentuk lapisan absorpsi.
F. Cara aplikasi obat Topikal
Cara aplikasi sediaan obat topikal pada umumnya disesuaikan dengan lesi
pada permukaan kulit. Beberapa cara aplikasi sediaan topikal yaitu:
1. Oles
Pengolesan pada lokasi lesi merupakan cara pakai sediaan topikal yang
umum dilakukan. Cara ini dilakukan untuk hampir semua bentuk sediaan.
Banyaknya sediaan yang dioleskan disesuaikan dengan luas kelainan kulit.
Penambahan cara oles sediaan dengan menggosok dan menekan juga dilakukan
pada obat topikal dengan tujuan memperluas daerah aplikasi namun juga
meningkatkan suplai darah pada area lokal, memperbesar absorpsi sistemik.
Penggosokan ini mengakibatkan efek eksfoliatif lokal yang meningkatkan
penetrasi obat.
2. Kompres
92
Cara kompres digunakan untuk sediaan solusio. Komponen cairan yang
dominan menjadikan kompres efektif untuk lesi basah dan lesi berkrusta.
Dua cara kompres yaitu kompres terbuka dan tertutup. Pada kompres terbuka
diharapkan ada proses penguapan. Caranya dengan menggunakan kain kasa tidak
tebal cukup 3 lapis, tidak perlu steril, jangan terlampau erat.
Pembalut atau kain kasa dicelupkan ke dalam cairan kompres, sedikit diperas, lalu
dibalutkan pada kulit lebih kurang 30 menit. Pada kompres tertutup tidak
diharapkan terjadi penguapan, namun cara ini jarang digunakan karena efeknya
memperberat nyeri pada lokasi kompres.
3. Penggunaan oklusif pada aplikasi
Cara oklusi ditujukan untuk meningkatkan penetrasi sediaan; namun cara ini
tidak banyak digunakan. Berbagai teknik oklusi menggunakan balutan hampa
udara seperti penggunaan sarung tangan vinyl, membungkus dengan plastik.
Teknik oklusi mampu meningkatkan hantaran obat 10-100 kali dibandingkan
tanpa oklusi, namun lebih cepat menimbulkan efek samping obat, seperti efek
atrofi kulit akibat kortikosteroid.
4. Mandi
Mandi atau berendam dianggap lebih disukai daripada kompres pada pasien
dengan lesi kulit luas seperti pada penderita lesi vesiko bulosa. Contoh zat aktif
yang pernah digunakan untuk mandi seperti potassium permanganate. Namun cara
ini sudah tidak dianjurkan lagi mengingat efek maserasi yang ditimbulkan.
93
REFERENSI
English JSC. Current concepts of irritant contact dermatitis. Occupational and
Environmental Medicine 2004; 61:722-726.
Goldsmith LA. KaiZ Sl, Gilchrest BA, et al, eds. Fitzpatrick's Dermatology in
General Medicine. 8th ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2012.
Mahajan, K., Relhan, V., Relhan, A. K., & Garg, V. K. (2016). Pityriasis Rosea:
An Update on Etiopathogenesis and Management of Difficult Aspects. Indian
journal
of
dermatology, 61(4),
375–384.
https://doi.org/10.4103/0019-
5154.185699
Wolff, Klaus, Johnson, Richard A, et al. Fitzpatrick's Color Atlas and Synopsis of
Clinical Dermatology. 8th ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2017.
94
Download