Uploaded by User79575

3 Bab 2 Gambaran Umum Wilayah Studi

advertisement
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
BAB II
GAMBARAN UMUM WILAYAH
BAB I.
I.1
GAMBARAN UMUM WILAYAH
Gambaran Umum Kabupaten Bantul
II.2.1. Kondisi Geografis
Kabupaten Bantul merupakan salah satu kabupaten yang berada di
DIY.
Kabupaten Bantul memiliki luas wilayah 506,85 Km2 (15,90 % dari Luas wilayah
DIY). Secara geografis, Kabupaten Bantul terletak antara 07°44'04"-08°00'27"
Lintang Selatan dan 110°12'34"-110°31'08" Bujur Timur. Berikut adalah batas
wilayah Kabupaten Bantul:
a.
Sebelah Utara
: Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman
b.
Sebelah Selatan
: Samudera Indonesia
c.
Sebelah Timur
: Kabupaten Gunungkidul
d.
Sebelah Barat
: Kabupaten Kulon Progo
Untuk lebih jelasnya terkait batas-batas wilayah Kabupaten Bantul,
dapat dilihat pada peta administrasi di bawah ini:
Gambar 2. 1 Peta Administrasi Kabupaten Bantul
Laporan Antara
II - 1
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
Kabupaten Bantul berbatasan dengan Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman
di sebelah utara, Kabupaten Gunungkidul di sebelah timur, Samudra Hindia di
sebelah selatan, serta Kabupaten Kulon Progo di sebelah barat. Bagian selatan
kabupaten ini berupa pegunungan kapur, yakni ujung barat dari Pegunungan Sewu.
Sungai besar yang mengalir di antaranya Kali Progo membatasi kabupaten ini
dengan Kabupaten
Kulon
Progo, Kali
Opak, Kali
Tapus,
beserta
anak-anak
sungainya.
II.2.2. Kondisi Geomorfologi
Garis besar geomorfologi di Kabupaten Bantul terdapat satuan geomorfologi,
yakni:
a.
Satuan Perbukitan Struktural Baturagung
Perbukitan Baturagung secara umum merupakan bentuk lahan asal proses
strukturisasi, yang secara genesis merupakan dataran tinggi (plate) Selatan
Pulau Jawa yang telah mengalami pengangkatan dan patahan. Perbukitan
struktural ini terbentuk oleh proses diatropisme yang berupa sesar bertingkat.
Topografi perbukitan ini mempunyai lereng yang miring di bagian bawah (I 5—
30%) hingga terjal di bagian atas (30—45%), terdapat igir memanjang dari
selatan ke utara di bagian barat, dan arah barat ke timur di bagian utara
dengan lereng sangat curam (>45%) yang merupakan bidang patahan
(escarpment). Batuan penyusun pada perbukitan Baturagung yang termasuk
dalam wilayah kajian ini berupa material vulkanik tua yang telah banyak
mengalami pelapukan tingkat lanjut, yang meliputi: Formasi Kebo-Butak,
Semilir, Nglanggeran dan Sambipitu, menghasilkan Satuan Geomorfologi S1k,
S1n, dan S1s (Lihat Gambar 2.2). Struktur batuan umumnya masif dengan
banyak retakan dan patahan, banyak singkapan batuan (outcrop), lapisan
tanah relalif tipis (litosol), dan dengan curah hujan yang cukup tinggi. Kondisi
ini menyebabkan proses erosi dan longsor lahan cukup intensif dan sangat
sering terjadi di wilayah ini. Lembah-lembah yang sempit dengan lereng
relalif datar hingga landai (8-15%) hanya dijumpai di antara perbukitanperbukitan yang ada dan di sekitar aliran Sungai Oyo (intermountain basin)
membentuk Satuan Geomorfologi F3 (Gambar 2.2).
Laporan Antara
II - 2
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
b.
Satuan Perbukitan Karst Wonosari
Perbukitan
karst
merupakan
satuan
geomorfologi
yang
mempunyai
karakteristik relief dan drainase yang khas, terutama disebabkan oleh derajat
pelarutan batuannya yang intensif (Ford dan Williams, 1989). Berdasarkan
definisi tersebut mengungkapkan bahwa batugamping bukan merupakan salah
satu batuan yang dapat membentuk topografi karst. Batugamping mudah
mengalami
pelarutan
(solusional)
akibat
curah
hujan
yang
tinggi.
Berlangsungnya proses geomorfologis dalam waktu yang sangat lama, telah
membentuk fenomena topografi karst yang unik di Perbukitan Karst Gunung
Sewu, yang sebagian terdapat di wilayah Kabupaten Bantul, yaitu di sebagian
Kecamatan Dlingo dan Kecamatan Pundong. Perbukitan karst merupakan
satuan geomorfologi yang mempunyai banyak keunikan alami, seperti bukitbukit berbentuk kerucut yang teratur, lembah-lembah drainase yang disebut
dolina, sistem gua-gua dan sungai bawah tanah yang berpotensi besar akan
sumber daya air bawah permukaan serta berbagai kekayaan flora di
permukaannya dan fauna di dalamnya. Satuan geomorfologi ini tersusun oleh
material batugamping formasi Wonosari. Formasi Wonosari (Tmpw) terbentuk
pada zaman Miosen Atas sampai Pliosen di bagian selatan perbukitan
Baturagung, seluruh cekungan Wonosari dan Pegunungan Sewu. Formasi ini
tersusun atas batugamping berlapis kasar (kalkarenit) dan lunak (kalsilutit),
dengan ketebalan lapisan berkisar antara 300 hingga 800 meter.
Laporan Antara
II - 3
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
Gambar 2. 2 Peta Geomorfologi Kabupaten Bantul
Sumber: Santosa dan Aji, 2014
Berdasarkan morfologinya cekungan air tanah Yogyakarta, Kabupaten Sleman,
dan Kabupaten Bantul merupakan dataran fluviovulkan yang merupakan sebuah
graben. Sedangkan perbukitan menoreh merupakan horst yang menyebabkan air
tanah berkumpul pada bagian tengah sedangkan di bagian ujung graben dan horst
tidak memiliki banyak cadangan air tanah. bagian tersebut berada di Kabupaten
Bantul.
II.2.3. Kondisi Geologi
Formasi geologi adalah suatu susunan batuan yang mempunyai keseragaman
ciri-ciri geologis yang nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, maupun
perulangan dari dua jenis batuan atau lebih yang terletak di permukaan bumi atau
Laporan Antara
II - 4
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
di bawah permukaan. Formasi geologi menunjukkan kelompok-kelompok batuan
yang berguna sebagai indikator terdapatnya suatu bahan tambang. Jenis batuan
yang terdapat di Kabupaten Bantul secara umum terdiri dari tiga jenis batuan yaitu
batuan beku, batuan sedimen, dan batugamping. Berdasarkan sifat-sifat batuannya
dapat dirinci menjadi beberapa formasi sebagaimana ditampilkan pada tabel
berikut:
Tabel 2.1 Daftar Formasi Geologi Kabupaten Bantul
No
1
Formasi Geologi
Endapan Gunung
Merapi Muda
2
Sentolo
3
Sambipitu
SemilirNglanggeran
4
5
Wonosari
6
Endapan Aluvium
Jenis Batuan
Pasir vulkanik klastik, lanau,
gravel
Batu
gamping
berlapis,
napal, tuff
Konglomerat, batupasir
Luas (Ha)
Breksi, batupasir, tuff
12.164
Batu
gamping,
lagoon
Pasir Tersortasi
karang,
23.316
9.123
1.520
4.055
507
II.2.4. Jenis Tanah
Kabupaten Bantul mempunyai tujuh jenis tanah yaitu tanah Regosol, Litosol,
Mediteran, Latosol, Grumosol, Rendzina dan Alluvial. Masing-masing jenis tanah
tersebut tersebar di berbagai wilayah di Kabupaten Bantul yang secara rinci dapat
dilihat pada penjelasan di bawah ini:
a.
Tanah Regosol merupakan jenis tanah yang dominan di wilayah Kabupaten
Bantul yang tersebar pada Kecamatan Kasihan, Sewon, Banguntapan, Jetis,
Bantul dan Kecamatan Bambanglipuro. Tanah Regosol adalah tanah yang
berasal dari material gunung berapi, bertekstur kasar bercampur pasir,
dengan solum tebal dan memiliki tingkat kesuburan rendah.
b.
Tanah Litosol berasal dari batuan induk batugamping, batupasir, dan
breksi/konglomerat,
tersebar
di
Kecamatan
Pajangan,
Kasihan,
dan
Kecamatan Pandak.
c.
Tanah Mediteran berasal dari batugamping karang, batugamping berlapis, dan
batupasir, tersebar di Kecamatan Dlingo dan sedikit di Kecamatan Sedayu.
Laporan Antara
II - 5
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
d.
Tanah Latosol berasal dari batuan induk breksi yang tersebar di Kecamatan
Dlingo, Imogiri, Pundong, Kretek, Piyungan dan Kecamatan Pleret.
e.
Tanah Grumosol berasal dari batuan induk batu gamping berlapis, napal, dan
tuff, terdapat di Kecamatan Sedayu, Pajangan, Kasihan, Pandak, Sanden,
Bambanglipuro dan Kecamatan Srandakan.
f.
Tanah Rendzina adalah jenis tanah berwarna coklat keabu-abuan, kaya humus
dan biasanya berada di antara zona-zona tanah. Jenis tanah ini sangat erat
berkaitan dengan tanah hasil pelapukan batuan dasar. Jenis tanah ini
terbentuk dari pelapukan batuan lunak seperti dolomit, batugamping,
batukapur, batuserpih, kadang-kadang batuan gipsum. Jenis tanah ini terletak
di Kecamatan Piyungan, Imogiri, Dlingo, Pleret, Pajangan dan Kecamatan
Kasihan.
g.
Tanah Alluvial merupakan tanah yang berasal dari endapan badan air (sungai
dan danau), bertekstur halus dan dapat menampung air hujan yang
tergenang. Tanah alluvial biasanya terdapat di tebingan sungai, delta sungai,
dan dataran yang tergenang banjir. Banjir yang melimpah akan menimbulkan
endapan tanah alluvial di tepi sungai.
Jenis tanah yang dimiliki oleh Kabupaten Bantul sebagian besar bukan
merupakan jenis tanah yang mudah meloloskan dan menyimpan air, oleh sebab itu
diperlukan kajian khusus dalam menemukan sumber pengambilan air tanah di
daerah yang sulit ditemukan melalui kegiatan Eksplorasi Detail Geologi Lingkungan
Air Tanah di Kabupaten Bantul.
II.2.5. Hidrogeologi
Secara hidrogeologi, Kabupaten Bantul merupakan bagian dari cekungan air
tanah Yogyakarta-Sleman. Cekungan Air tanah Yogyakarta-Sleman mencakup
wilayah di lereng selatan Gunung Merapi yang meliputi Kabupaten Sleman, Kota
Yogyakarta dan Kabupaten Bantul yang saat ini telah mengalami perkembangan
yang cukup pesat dalam bidang industri, pertanian dan domestik. Kabupaten
Bantul merupakan wilayah di Cekungan Air tanah Yogyakarta-Sleman yang memiliki
Laporan Antara
II - 6
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
ketebalan akuifer paling tipis. Hal ini disebabkan Kabupaten Bantul merupakan
daerah discharge dalam sistem Cekungan Air tanah Yogyakarta-Sleman. Untuk lebih
jelasnya terkait cekungan air tanah Yogyakarta-Sleman, dapat dilihat pada peta
cekungan air tanah di bawah ini:
Gambar 2. 3 Peta Cekungan Air Tanah Yogyakarta-Sleman
Kabupaten Bantul memiliki ketebalan akuifer yang cukup bervariasi.
Ketebalan maksimal berkisar antara 35-80 meter, meliputi Kecamatan Bantul,
Sewon bagian selatan dan Kecamatan Bambanglipuro bagian utara. Besarnya
ketebalan yang mencapai 80 meter ini disebabkan karena adanya struktur geologi
Laporan Antara
II - 7
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
berupa sesar turun yang membentuk Graben Bantul. Sedangkan ketebalan akuifer
minimal berkisar antara 5-25 meter, yang terletak di Kecamatan Srandakan,
Imogiri, Jetis, Pleret, Pandak, Sanden, Kretek, Sedayu dan Kecamatan Pundong.
Hal ini salah menjadi salah satu penyebab Kecamatan kecamatan seperti Imogiri,
Pandak, dan Kecamatan Sedayu mengalami kesulitan air terutama saat musim
kemarau.
Berdasarkan satuan geomorfologinya Kabupaten Bantul memiliki cadangan air
tanah sebagai berikut:
Tabel 2. 2 Cadangan Air Tanah Kabupaten Bantul Tahun 2018
No
Zona
Karakteristik
Satuan
Geomorfologi
Lokasi
Zona 1:
Dataran Kaki Gunungapi
Merapi
Luas: 117.656.090 m2
Ketersediaan:
5.147.453.937,5 m3
Hasil Aman: 123.538.894,5
m3
Penetrasi Bor: 60 - 120 m
Dataran Fluvial Gunungapi
Merapi
Luas: 191.336.220 m2
Ketersediaan:
4.783.405.500 m3
Hasil Aman: 119.585.137,5
m3
Penetrasi Bor: 60 - 80 m
Akuifer tebal
produktivitas
tinggi dengan
penyebaran
luas, dan
potensi air
tanah tinggi
Dataran Kaki
Gunungapi
Merapi
Kecamatan Sedayu,
Kasihan, Sewon,
Banguntapan, dan
Kecamatan
Piyungan
Dataran Fluvio
Gunungapi
Merapi
Kecamatan Bantul,
Jetis, Imogiri,
Pundong,
Bambanglipuro,
Pandak, Srandakan,
Sanden, dan
Kecamatan Kretek
Zona 2:
Dataran Fluviomarin
Luas: 9.012.200 m2
Ketersediaan: 135.183.000
m3
Hasil Aman: 3.379.575 m3
Penetrasi Bor: 40 - 60 m
Kompleks Beting Gisik dan
Gumuk
Pasir
Luas: 6.231.670 m2
Ketersediaan: 94.721.384
m3
Hasil Aman: 5.920.086,5 m3
Zona 3:
Lembah antar Perbukitan
Baturagung
Luas: 2.250.030 m2
Ketersediaan: 4.050.054 m3
Hasil Aman: 945.012,6 m3
Akuifer tebal
produktivitas
sedang dengan
penyebaran
sempit, dan
potensi air
tanah sedang
Dataran
Fluviomarin
Kecamatan
Srandakan,
Sanden,
dan
Kecamatan Kretek
Kompleks Beting
Gisik dan Gumuk
Pasir
Kecamatan
Srandakan,
Sanden, dan
Kecamatan Kretek
Akuifer tipis,
produktivitas
rendah dengan
penyebaran
sempit, dan
potensi air
tanah rendah
Lembah antar
Perbukitan
Baturagung
Kecamatan Dlingo
Sumber: DPUPKP, 2018
Laporan Antara
II - 8
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa cadangan air tanah di Kabupaten
Bantul dibagi menjadi 3 zona dengan karakteristik yang berbeda-beda. Perbedaan
karakteristik masing-masing zona menyebabkan setiap wilayah di Kabupaten Bantul
memiliki cadangan yang berbeda. Salah satu wilayah di Kabupaten Bantul yang
memiliki cadangan air tanah sedikit adalah Kecamatan Dlingo karena memiliki
akuifer yang tipis sehingga potensi air tanahnya rendah.
II.2.6. Formasi Geologi
Formasi geologi adalah suatu susunan batuan yang mempunyai keseragaman
ciri-ciri geologis yang nyata, baik terdiri dari satu macam jenis batuan, maupun
perulangan dari dua jenis batuan atau lebih yang terletak di permukaan bumi atau
di bawah permukaan. Formasi geologi menunjukkan kelompok-kelompok bantuan
yang berguna sebagai indikator terdapatnya simpanan air.
No
1
2
3
4
5
6
Tabel 2. 3 Daftar Formasi Geologi Kabupaten Bantul
Formasi Geologi
Jenis Batuan
Luas (Ha)
Pasir vulkanik
Endapan Gunung Merapi
klastik, lanau,
23.316
Muda
gravel
Batu gamping
Sentolo
9.123
berlapis, napal, tuff
Konglomerat,
Sambipitu
1.520
batupasir
Kebu-Butak-SemilirBreksi, batupasir,
12.164
Nglanggeran
tuff
Batu gamping,
Wonosari
4.055
karang, lagoon
Endapan Aluvium
Pasir Tersortasi
507
Jenis batuan yang terdapat di Kabupaten Bantul secara umum terdiri dari tiga
jenis batuan yaitu batuan beku, batuan sedimen dan batugamping. Berdasarkan
sifat-sifat batuannya dapat dirinci menjadi beberapa formasi sebagaimana
ditampilkan pada tabel 2. 3.
Laporan Antara
II - 9
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
II.2.7. Klimatologi
Secara umum wilayah Kabupaten Bantul dapat dikategorikan sebagai daerah
beriklim tropis basah (humid tropical climate) karena termasuk tipe Af sampai Am
dari klasifikasi iklim Koppen. Pada musim hujan, secara tetap bertiup angin dari
Barat Laut yang membawa udara basah dari Laut Cina Selatan dan bagian Barat
Laut Jawa. Pada musim kemarau, bertiup angin kering bertemperatur relatif tinggi
dari arah Australia yang terletak di Tenggara.
Untuk mengetahui pola curah hujan pada suatu wilayah tertentu diperlukan
parameter data minimal berupa banyaknya Hari Hujan (HH) dan intensitas curah
hujan (mm) hujan yang berada pada 12 lokasi tersebar di Kabupaten Bantul. Curah
hujan tertinggi di Kabupaten Bantul pada tahun 2019 terjadi pada bulan November
dan Desember yang tercatat di Stasiun Pemantau Kebonongan, yaitu sebanyak
1.287 mm. Sedangkan, jumlah hari hujan terbanyak pada bulan Januari sebanyak
27 hari tercatat di Stasiun Pemantau Pundong.
II.2.8. Demografi
Jumlah penduduk di Kabupaten Bantul terus mengalami pertambahan
dari tahun ke tahun. Jumlah penduduk yang semakin bertambah berbanding
lurus dengan peningkatan aktivitas dan kegiatan sehari-hari, salah satunya
adalah untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Dengan adanya sumur bor
diharapkan dapat membantu masyarakat untuk memanfaatkan salah satu
sumber air bersih sehingga dapat terpenuhi kebutuhan utamanya. Untuk itu,
semakin besar jumlah penduduknya maka potensi untuk pengembangan sumur
bor sebagai salah satu sumber air bersih akan semakin baik. Jumlah penduduk
di Kabupaten Bantul dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 2. 4 Jumlah dan Kepadatan Penduduk Kabupaten Bantul
Tahun 2018
No
1
2
3
4
5
Kecamatan
Srandakan
Sanden
Kretek
Pundong
Bambanglipuro
Jumlah Penduduk
29.414
30.340
30.608
32.654
38.656
Kepadatan Penduduk
(jiwa/km 2 )
1.606
1.310
1.143
1.379
1.703
Laporan Antara
II
10
-
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
No
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
Kecamatan
Jumlah Penduduk
Pandak
Bantul
Jetis
Imogiri
Dlingo
Pleret
Piyungan
Banguntapan
Sewon
Kasihan
Pajangan
Sedayu
Jumlah
49.600
63.678
55.478
59.065
36.966
47.626
56.272
145.956
117.200
129.233
36.297
47.649
1.006.692
Kepadatan Penduduk
(jiwa/km 2 )
2.041
2.901
2.267
1.084
662
2.073
1.729
5.125
4.315
3.991
1.092
1.387
1.986
Sumber: BPS Kabupaten Bantul, 2019
Jumlah penduduk di Kabupaten Bantul pada tahun 2018 sebesar 1.006.692
jiwa yang tersebar di 17 kecamatan yang ada di Kabupaten Bantul. Kepadatan
penduduk Kabupaten Bantul adalah 1.986 jiwa/km2. Kecamatan dengan jumlah
penduduk dan kepadatan penduduk paling besar adalah Kecamatan Banguntapan
dengan jumlah penduduk 145.956 jiwa dan kepadatan penduduk 5.125 jiwa/km2.
Sementara itu, kecamatan dengan jumlah penduduk paling sedikit adalah
Kecamatan Srandakan dengan jumlah penduduk 29.414 jiwa dan kecamatan
dengan kepadatan penduduk terendah adalah Kecamatan Dlingo dengan kepadatan
penduduk 662 jiwa/km2.
II.2.9. Penggunaan Lahan
Terdapat tiga jenis penggunaan lahan yang dominan di Kabupaten Bantul,
yaitu: kampung/permukiman, sawah irigasi dan kebun campuran. Penggunaan
lahan dengan persentase paling tinggi adalah kampung seluas 18.112,96 Ha
(35,76%), selanjutnya sawah irigasi seluas 14.266,80 Ha (28,15%), dan kebun
campuran seluas 7.431,72 Ha (14,66%).
Tabel berikut merupakan detail
penggunaan lahan di Kabupaten Bantul:
Laporan Antara
II
11
-
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
Tabel 2. 5 Penggunaan Lahan Kabupaten Bantul 2018
Kecamatan Dlingo memiliki luasan hutan yang paling besar dibandingkan
dengan kecamatan lainnya di Kabupaten Bantul. Hutan yang ada di Kecamatan
Dlingo merupakan hutan pinus yang cenderung menyerap air tanah. Walaupun
hutan penyerapan air yang dilakukan oleh tumbuhan pinus tidak maksimal. Oleh
sebab itu ketersediaan air tanah tidak signifikan. Kecamatan Imogiri, Pandak dan
Kecamatan Sedayu penggunaan lahan terbesar adalah pemukiman. Hal ini
menyiratkan bahwa konsumsi air banyak digunakan untuk konsumsi harian dan
minim daerah resapan. Sedangkan Kecamatan Pajangan sebagian besar merupakan
kebun campuran. Kebun campuran ini berpotensi untuk diajdikan lahan resapan
bila ditanami dengan tumbuhan yang tepat.
I.2
Gambaran Umum Kecamatan Dlingo
II.2.1. Kondisi Geografis
Kecamatan Dlingo berada di sebelah Timur Ibukota Kabupaten Bantul, dengan
luas wilayah 5.793,9790 ha. Wilayah administrasi Kecamatan Dlingo meliputi 6 desa
yaitu Desa Terong, Dlingo, Temuwuh, Muntuk, Mangunan dan Desa Jatimulyo.
Berikut adalah peta administasi Kecamatan Dlingo:
Laporan Antara
II
12
-
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
Gambar 2. 4 Peta Administrasi Kecamatan Dlingo
Secara administrasi, Kecamatan Dlingo berbatasan dengan Kecamatan lain
yang ada di Kabupaten Bantul dan Kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul.
Berikut adalah batas administrasi Kecamatan Dlingo:

Sebelah Utara
: Kecamatan Piyungan dan Kecamatan Patuk;

Sebelah Timur
: Kecamatan Playen dan Kabupaten Gunungkidul;

Sebelah Selatan
: Kecamatan Playen dan Kecamatan Panggang;

Sebelah Barat
: Kecamatan Imogiri dan Kecamatan Pleret.
Kecamatan Dlingo berada di dataran tinggi. Ibukota Kecamatannya berada
pada ketinggian 320 mdpl. Jarak Ibukota Kecamatan ke Pusat Pemerintahan
(Ibukota) Kabupaten Bantul adalah 23 km. Bentangan wilayah di Kecamatan Dlingo
berupa daerah berombak sampai berbukit.
II.2.2. Klimatologi
Kecamatan Dlingo beriklim seperti layaknya daerah dataran tinggi di daerah
tropis dengan cuaca panas sebagai ciri khasnya. Suhu tertinggi di Kecamatan Dlingo
adalah 32ºC dengan suhu terendah 24ºC.
Laporan Antara
II
13
-
2020
SED Geologi Lingkungan Air Tanah di Kabupaten Bantul
II.2.3. Demografi
Berdasarkan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Bantul,
jumlah penduduk Kecamatan Dlingo adalah sebanyak 39.092 orang yang terdiri dari
13.310 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk laki-laki 19.463 orang dan
penduduk perempuan 19.629 orang. Dari keseluruhan jumlah penduduk di
Kecamatan Dlingo terdapat warga miskin sebanyak 9.786 orang atau sebesar
22,31% dari keseluruhan jumlah penduduk Kecamatan. Tingkat kepadatan
penduduk di Kecamatan Dlingo adalah 750 jiwa/Km2. Sebagian besar penduduk
Kecamatan Dlingo adalah petani. Dari data monografi kecamatan tercatat 20,88%
penduduk Kecamatan Dlingo bekerja di sektor pertanian.
Laporan Antara
II
14
-
Download