Uploaded by User76479

50255 SEJARAH NASKAH

advertisement
Pada suatu pagi ketika jelo jempiring sedang mengoyak beras datanglah I Gusti Jelantik, yaitu suami dari
Jero Jempiring
I Gusti Jelantik; Adinda, adinda diam disini. Akanda akan pergi ke kerajaan
Jero Jempiring; Iya kanda, hati-hati dijalan
Setelah sampai di kerajaan (Buleleng)
I Gusti Jelantik; *hormat* salam raja.. salam brahmana
Gusti Ngurah Made Karangasem; salam juga patih.. *gestur mempersilahkan duduk* silahkan duduk.
Bagaimana kabar rakyat buleleng sekarang patih?
I Gusti Jelantik; Yang saya tahu, rakyat Buleleng sekarang sehat dan makmur
Tahun 1843, Belanda yang diwakili oleh Huskus koopman mengadakan perjanjian terkait penghapusan
Hak Tawan Karang.
Huskus Koopman beserta pasukan Belanda datang ke kerajaan Buleleng
Prajurit Istana; untuk apa kamu kesini?!
Huskus Koopman; calm down calm down, aku kesini untuk menemui raja, ada hal penting *gestur
santai*
Prajurit Istana; apa kalian sudah buat janji?! *posisi defensif (mencondongkan tombak tepat di depan
Koopman)
Huskus Koopman; belum! *sebutnya dengan tegas*
Prajurit Istana: baiklah tunggu sebentar!
*********
Prajurit Istana; *hormat kepada Gusti Ngurah Made Karangasem* maaf tuanku, ada Belanda datang
kesini untuk bertemu dengan anda
Gusti Ngurah Made Karangasem; *gestur bertanya kepada I Gusti Ketut Jelantik* Baiklah, suruh mereja
kesini!
Prajurit Istana; Baiklah tuanku.. *hormat*
Belanda pun datang dipandu oleh prajurit istana
Huskus Koopman; *berjabat tangan kepada Gusti Ngurah Made Karangasem, I Gusti Ketut Jelantik*
Gusti Ngurah Made Karangasem; silahkan duduk. *gestur tangan menpersilahkan duduk*
Huskus Koopman; *duduk diatas meja dengan tidak sopan* saya kesini untuk memberi tahu anda
bahwa saya ingin mengadakan kerjasama dengan anda.
Gusti Ngurah Made Karangasem; kerjasama apa yang kau maksud?! *nada marah*
Huskus Koopman; *meminta surat pada prajurit, lalu dibacakan olehnya isi surat itu* kami pihak
Belanda ingin melakukan kerjasama dengan kerajaan Buleleng untuk meniadakan hukum Hak Tawan
Karang terhadap Belanda. Apakah kau setuju dengan perjanjian kami?
Gusti Ngurah Made Karangasem; *meminta pendapat kepada I Gusti Ketut Jelantik* baiklah, saya setuju
dengan perjanjian yang kau buat.
*Huskus Koopman dan Gusti Ngurah Made Karangasem saling berjabat tangan*
Huskus Koopman; ok, terimakasih saya pergi dari sini.
Gusti Ngurah Made Karangasem; baiklah, silahkan pergi.
Belanda pun pergi dari kerajaan Buleleng dan akhirnya Gusti Ngurah Made Karangasem menyetujui
perjanjian terkait peniadaan Hak Tawan Karang.
Tahun 1844 terjadi perampasan kapal-kapal Belanda di pantai Prancah dan Sangsit. Belanda menuntut
kerajaan Buleleng meniadakan Hak Tawan Karang sesuai dengan perjanjian tahun 1843.
Belanda datang ke kerajaan Buleleng dan menemui I Gusti Ketut Jelantik seraya berkata; tuan mengapa
raja kau tidak menepati perjanjian yang kita buat?!
I Gusti Ketut Jelantik; baik, saya akan membicarakan ini pada raja.
Belanda; jika raja kau tidak menepati janjinya, maka kalian akan menerima akibatnya!.
I Gusti Ketut Jelantik; berani sekali kau mengancam?!?! *dengan nada marah* *lalu berjalan kedalam
istana*
I Gusti Ketut Jelantik; *hormat* maaf tuan, saya ada berita dari Belanda mereka meminta anda
menepati perjanjian yang telah anda sepakati.
Gusti Ngurah Made Karangasem; *mengangguk*
*****
Prajurit Istana; maaf tuanku, ada kapal terdampar milik Belanda.
Gusti Ngurah Made Karangasem; rampas kapal dan barang mereka!
Prajurit istana; baiklah tuanku
Kapal Belanda kembali dirampas oleh pihak kerajaan Buleleng karena hal tersebut Belanda marah
Dan memutuskan untuk menyerang kerajaan Buleleng.
7 maret 1848 Belanda menyerang kerajaan Buleleng dibawah pimpinan mayor jendral van der wijck
namun berhasil digagalkan oleh I Gusti Ketut Jelantik dengan siasat raja pura-pura menyerah.
Prajurit Istana 1; ada apa ini? Belanda sudah datang.
Prajurit istana 2; mari kira laporkan kepada tuan.
*mereka berlari kedalam istana dengan tergesa-gesa*
Prajurit Istana; *hormat* maaf tuanku, pasukan Belanda akan segera menyerang.
Gusti Ngurah Made Karangasem; *terperangah* kenapa pasukan Belanda menyerang kita?. Baiklah,
segera kumpulkan pasukan kita.
Prajurit Istana;*hormat* baiklah, tuanku. *berlari keluar istana*
Setelah mendengar kabar dari Prajurit Istana, Gusti Ngurah Made Karangasem menjadi panik oleh
kedatangan Belanda. Ia menyusun strategi untuk mengalihkan perhatian Belanda dengan pura-pura
menyerah agar I Gusti Ketut Jelantik bisa dengan mudah menyerang Belanda disaat mereka lengah.
Pasukan Belanda dibawah pimpinan Van der Wijck datang dan menyerang Gusti Ngurah Made
Karangasem.
*Gusti Ngurah Made karangasem mengangkat kedua tangan keatas kepala yg berarti menyerah*
Van der Wijck: hahahahah *tertawa meremehkan* I’ll kill you, loser!.
I Gusti Ketut Jelantik beserta Prajurit datang dan seraya berkata “mati kalian disini!!* Belanda pun panik
karena serangan mendadak tersebut. Van der Wijck berhasil melarikan diri dari istana sedangkan para
prajuritnya tidak. Belanda mengalami kekalahan dalam perperangan ini. Seorang perwira Belanda
bernama Rochussen mengirim surat kepada Van der Wijck yang isinya; “jangan menyerah sebelum
dapat menghancurkan benteng jagaraga”.
Seluruh prajurit istana berkumpul untuk mendengarkan nasihat I Gusti Ketut Jelantik
“ baiklah, saya memerintahkan kalian untuk jangan berbangga dulu atas kemenangan ini, mungkin
saja mereka akan menyerang balik “.
Di kediaman Van der Wijck
Prajurit Belanda: lapor! *hormat* ada kiriman surat dari letnan Rochussen.
Van der Wijck: give it to me.
*prajurit menyerahkan surat tersebut*
Isi dari surat tersebut adalah “ good morning jendral Van der Wijck, saya letnan Rochussen tidak akan
pernah menyerah sebelum dapat menghancurkan benteng jagaraga”. Setelah membaca isi surat
tersebut Van der Wijck pun memutuskan untuk memberi kepercayaan kepada Mayor A.V Michels untuk
menyerang kerajaan Buleleng.
Michels datang untuk bertemu dengan Van der Wijck dan Van der Wijck berkata
“pada perang kemarin kita kalah karena ulah licik inlander, *menyerahkan pedang* you must destroy
jagaraga castle” dan Michels pun menjawab “ with my pleasure *tersenyum* dan kali ini aku yakin kita
akan menang”.
Van der Wijck; ok, kau bisa pergi sekarang.
Tahun 1849 Belanda menyerang kerajaan Buleleng dibawah pimpinan Mayor A.V Michels.
Ketika pasukan Belanda sedang bersiap-siap untuk melakukan penyerangan ke kerajaan Buleleng
Michels berkata “jika diperang kemarin kita kalah dan kehilangan banyak prajurit, maka diperang kali ini
kita harus menang dan menghancurkan benteng jagaraga!”
Belanda pun mulau melancarkan aksinya untuk menyerang kerajaan Buleleng, tetapi sebelum mereka
menyerang Michels mengutus salah satu prajuritnya untuk memata-matai Gusti Ngurah Made
Karangasem untuk mengetahui apa strategi yang mereka rencanakan. Setelah mengetahui strategi
kerajaan Buleleng, Belanda pun mulai menyusun strategi untuk menyerang.
*****
Gusti Ngurah Made Karangasem dan I Gusti Ketut Jelantik beserta prajurit melakukan doa sebelum
perang. Setelah selesai berdoa Gusti Ngurah Made Karangasem memberi kata-kata motivasi pada
prajuritnya “meskipun darah kita menetes sampai ibu pertiwi, jangan sampai kita menyerah kepda
Belanda *ucapnya dengan semangat yang berkobar-kobar* “.
Belanda melancarkan serangannya dari Pantai Sangsit lalu menuju kerajaan. Perperangan pun dimulai
dengan sangat sengit, banyak prajurit yang gugur dalam perperangan ini baik dari pihak Belanda
maupun Kerajaan Buleleng namun karena persenjataan Belanda lebih maju maka perperangan ini
dimenangi oleh Belanda
Download