Uploaded by User68256

24314-48512-2-PB

advertisement
Submitted : 20-01-2017
Revised : 27-02-2017
Accepted : 16-03-2017
Trad. Med. J., January - April 2017
Vol. 22(1), p 45-56
ISSN-p : 1410-5918 ISSN-e : 2406-9086
EKSPLORASI JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT PADA
MASYARAKAT SUKU MUNA DI PERMUKIMAN KOTA WUNA
INVENTORY OF MEDICINAL PLANTS AS UTILIZED BY MUNA TRIBE IN
KOTA WUNA SETTLEMENT
Wa Ode Jumiarni1, Oom Komalasari2*
1 Balitbangda
Provinsi Sulawesi Tenggara, 2Balitbangda Provinsi Sumatera Selatan
ABSTRAK
Selama ini sudah banyak jenis tumbuhan yang dimanfaatkan oleh suku Muna di Kota Wuna.
Permasalahannya adalah bahwa sampai saat ini belum ada identifikasi yang jelas tentang nama-nama jenis
tumbuhan tersebut secara ilmiah.Tujuan penelitian ini adalahuntuk mengetahui jumlah dan jenis tumbuhan
obat yang dimanfaatkan oleh suku Muna di Permukiman Kota Wuna, khasiat dan organ tumbuhan yang
dimanfaatkan.Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari hingga November 2013, bertempat di
Pemukiman Kota Wuna Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna Provinsi Sulawesi Tenggara. Penelitian ini
menggunakan metode survey dan wawancara. Identifikas jenis tumbuhan obat dilakukan dengan
mencocokkan ciri-ciri yang ada dengan gambar yang mengacu pada buku identifikasi tumbuhan.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa terdapat 34 koleksi tumbuhan yang berkhasiat sebagai obat tradisional
yang dimanfaatkan oleh masyarakat di Pemukiman Kota Wuna. Dari 34 jenis yang dimanfaatkan tersebut,
31 koleksi telah teridentifikasi nama ilmiahnya dan 3 koleksi tidak dapat diidentifikasi nama ilmiahnya.
Kata Kunci : Tumbuhan Obat, Inventarisasi, Suku Muna, Permukiman
ABSTRACT
Muna tribe in Kota Wuna Settlement has utilized various types of medicinal herbs. However, until
nowthere has been no documented information about the scientific names and their utilization of the
medicinal plant species in the area. The objective of this study was to determine the number and types of
medicinal herbs used by the society in the study area, efficacy and organs of the plants are utilized. The
research was conducted from January until November 2013, in Wuna City Settlement Tongkuno districts,
Muna regency, Southeast Sulawesi Province. This research method used was survey and interview.
Identification of the types of medicinal herbs was done by matching the characteristics that exist with images
referring to the plant identification book. The results showed that there were 34 collections of plants that
have medicinal properties traditionally utilized by the Muna tribes at Wuna City Settlement. Based on 34
types of plants that used, Based on 34 types of plants used, 31 species have been identified and 3 plants
species have not been identified.
Key words : Medicines plant, inventory, Muna Tribe, settlement.
Correspondence author : Oom Komalasari
Email : [email protected]
Menurut WHO, hingga 65 % dari penduduk negara
maju dan 80 % penduduk negara berkembang
telah menggunakan obat herbal. Perkembangan
obat herbal semakin pesat dengan pemasok
terbesar adalah Cina, Eropa, dan Amerika Serikat.
Di Afrika, presentase populasi yang menggunakan
obat-obat herbal mencapai 60-90 %, di Australia
sekitar 40-50 %, Eropa 40-80 %, Amerika 40 %,
Kanada 50 % (Sinambela, J.M., 2003). Tumbuhan
obat tradisional merupakan ramuan bahan alam
yang secara tradisional telah digunakan untuk
pengobatan berdasarkan pengalaman dan
keanekaragaman tumbuhan obat-obatan dapat
menunjangadanya
ketersediaan
obat-obat
tradisional yang siap pakai. Masyarakat suku Muna
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
45
PENDAHULUAN
Bangsa Indonesia terdiri dari berbagai suku
bangsa yang memiliki keanekaragaman obat
tradisional yang dibuat dari bahan-bahan alami
bumi Indonesia, termasuk tanaman obat (Anonim,
1992). Di Indonesia terdapat sekitar 30.000 jenis
tanaman dan 7000 diantaranya memiliki khasiat
obat. Keanekaragaman sumberdaya hayati
Indonesia diperkirakan menempati urutan kedua
setelah Brasil (Fellows, L., 1992). Di dunia
internasional, Obat herbal telah diterima secara
luas di Negara berkembang dan di Negara maju.
EKSPLORASI JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
memiliki kearifan tersendiri dalam memanfaatkan
berbagai tanaman berkhasiat obat. Permukiman
kota Wuna merupakan pusat Kerajaan Muna masa
lalu, dimana budaya dan kearifan lokal lainnya
masih dipertahankan termasuk pemanfaatan
tanaman obat. Pemanfaatan tumbuhan obat untuk
mengobati berbagai penyakit yang diderita oleh
masyarakat setempat telah dipertahankan secara
turun-temurun. Pengetahuan tersebut telah lama
dimilikidan dimanfaatkan oleh masyarakat
setempat. Permasalahnnya adalah bahwa dari
aspek taksonominya belum ada data yang jelas
tentang nama ilmiah jenis tumbuhan obat dan
pemanfaatannya.
Penelitian
ini
bertujuan
untuk
mengidentifikasi jenis, khasiat, dan cara
pemanfaatan tumbuhan obat oleh suku Muna di
Pemukiman Kota Wuna. Hasil penelitian ini
diharapkan dapat memberikan informasi bagi
masyarakat
Indonesia
tentang
jenis-jenis
tumbuhan obat yang dimanfaatkan oleh suku
Muna yang mungkin bisa dimanfaatkan di daerah
lain. Lebih lanjut hasil penelitian ini diharapkan
dapat dimanfaatkan sebagai referensi bagi
penelitian selanjutnya.
METODOLOGI
Kerangka Teoritis
Dalam perkembangan ilmu pengetahuan,
tumbuhan obat dapat ditelaah melalui dua
pendekatan yaitu ilmu farmakologi dan ilmu
etnobotani. Farmakologi didefinisikan sebagai
ilmu yang membahas mengenai kerja obat dalam
tubuh seperti mekanisme obat dan juga interaksi
serta khasiat obat pada tubuh. Lebih spesifik
dikenal farmakognosi yaitu ilmu yang membahas
mengenai obat yang berasal dari tanaman, mineral
dan hewan atau biasa disebut sebagai ilmu herbal
(Sanjoyo,
R.,2010). Sedangkan,
etnobotani
mengarah kepada sasaran untuk mengembangkan
sistem pengetahuan masyarakat lokal terhadap
tanaman obat sehingga dapat menemukan
senyawa kimia baru yang berguna dalam
pembuatan
obat-obatan
modern
untuk
menyembuhkan penyakit-penyakit berbahaya
pada manusia. Pada prinsipnya kedua pendekatan
tersebut berperan dalam mengeksplorasi jenis
dan pemanfaatan tumbuhan berkhasiat obat yang
dimanfaatkan
manusia
(etnofarmakologi)
(Permatasari, et al., 2011).
Manusia telah lama mengenal fungsi
tumbuhan sebagai penghasil obat-obatan dalam
upaya menanggulangi masalah kesehatan.
Penemuan-penemuan itu bukan berdasarkan
prilaku yang rasional tetapi karena perasaan
instinktif dan secara turun-temurun pengetahuan
itu dipertahankan dengan penuturan-penuturan
46
secara lisan (Nurmalasari, et al., 2012). Setiap
daerah atau suku bangsa memiliki ciri khas
masing-masing dalam hal pengobatan tradisional.
Hal ini disebabkan oleh kondisi alamnya
khususnya ketersediaan tumbuh-tumbuhan yang
berkhasiat obat di masing-masing daerah,
perbedaan falsafah budaya dan adat istiadat yang
melatarbelakanginya (Peneng dan Sumantera,
2007). Kenyataannya banyak obat-obat yang
dipakai sekarang sudah lama dikenal jauh sebelum
ilmu pengetahuan berkembang, khususnya untuk
obat-obat perangsang atau obat yang mengurangi
rasa nyeri. Seperti di 15 desa Kecamatan
Kintamani Kabupaten Bangli Provinsi Bali,
ditemukan 47 jenis tanaman obat yang berkhasiat
untuk meringankan bahkan menyembuhkan
penyakit gangguan saluran kencing. Tumbuhan
obat tersebut dimanfaatkan dengan cara: kulit
kayu diramu, kulit kayu dan bunga diramu, daun
direbus, akar direbus dan seluruh bagian
tumbuhan diramu (Darsini, N.N., 2013).
Physalis angulata L. (ciplukan) adalah
tanaman semusim berupa herba dari famili
Solanaceae yang tumbuh di dataran rendah hingga
1200 m di atas permukaan laut. Kandungan
senyawa kimia tumbuhan ini antara lain alkaloid,
flavonoid, saponin, fisalin A, fisalin B, witafisalin A,
witafisalin B, terpen, dan asam sitrat (Sutijatmo, et
al., 2011). Lebih lanjut dikatakan bahwa secara
tradisional Physalis angulata L. digunakan sebagai
pencahar, obat bisul, gusi berdarah, mulas, jantung
lemah, terkilir, perut nyeri, kencing nanah,
kencing manis (daun dan buahnya), susah kencing,
ayan, encok, kecacingan, radang saluran
pernafasan, infeksi kerongkongan, radang testis,
diuretik, dan sakit kuning. Hasil penelitian
farmakologi menunjukkan bahwa meniran
mempunyai aktivitas antihepatotoksik. Meniran
memiliki bahan aktif alkaloid, tanin, flavonoid,
saponin, glikosida tetapi tidak ditemukan steroid
(Akin-Osanaiye, et al., 2011).
Penelitian ini mengidentifikasi jenis-jenis
tumbuhan obat yang digunakan oleh masyarakat
suku Muna di Sulawesi Tenggara.
Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan
Januari hingga November 2013, di Permukiman
Kota Wuna Kecamatan Tongkuno Kabupaten
Muna Provinsi Sulawesi Tenggara.
Populasi dan Sampel
Populasi
Yang menjadi populasi adalah semua jenis
tumbuhan obat yang ada di Pemukiman Kota
Wuna Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna.
Sampel dan Informan Utama.
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Wa Ode Jumiarni
Sampel yang digunakan adalah jenis-jenis
obat yang dikoleksi atau dikumpulkan di lokasi
penelitian. Teknik pengambilan sampel tumbuhan
menggunakan purposive sampling. Sebagai
informan utama ditetapkan sejumlah 8 orang
warga masyarakat, sesuai dengan kriteria sebagai
berikut : Terdaftar di Pemukiman Kota Wuna
sebagai dukun minimal 5 tahun; Memiliki
pengetahuan yang cukup tentang sistem
pengobatan tradisional; Bersedia dijadikan
sebagai informan penelitian.
Variabel Penelitian
Variabel yang diamati dalam penelitian ini
adalah identifikasi jenis, ciri morfologi, khasiat
dancara pemanfaatan tumbuhan obat yang
ditemukan di Pemukiman Kota Wuna Kecamatan
Tongkuno Kabupaten Muna.
Prosedur Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui
pengamatan dan koleksi langsung di lokasi dengan
langkah-langkah sebagai berikut :
Survey lapangan
Dilakukan
survey
lapangan
guna
memperoleh gambaran secara jelas tentang
habitattanaman berkhasiat obat.
Wawancara
Teknik wawancara mendalam dilakukan
terhadap subjek penelitian yaitu 8 orang informan
yang telah ditetapkan berdasarkan kriteria.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan
kuisioner dan alat rekam walkman, ditujukan
untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan yang
dimanfaatkan sebagai obat, tempat tumbuh, cara
pemanfaatannya, dan bagian tumbuhan yang
dimanfaatkan.
Pengambilan Sampel
Jenis-jenis tanaman yang dimanfaatkan
dicatat nama lokal/daerah, kegunaan, khasiat,
aspek dan pemanfaatanya, kemudian dikoleksi
untuk dibuat spesimen herbarium, keperluan
deskripsi dan identifikasi untuk menetapkan nama
ilmiahnya.
Dokumentasi
Mengambil gambar jenis-jenis tanaman
yang dijadikan sebagai obat tradisional.
Deskripsi dan identifikasi
Deskripsi dilakukan dengan cara merangkai
kata-kata tertulis secara spesifik yang ditemukan
pada spesimen herbarium sedangkan identifikasi
tanaman mengacu pada buku tentang tumbuhan
seperti Flora of Java(Backer and Van den Brink,
1965), Flora untuk sekolah di Indonesia
(Jitrosoepomo, G, 2000)
dan Taksonomi
Tumbuhan Spermathopyta (Van Steenis, 2002)
sebagai referensi.
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisa secara
deskriptif kualitatif yaitu dengan mendeskripsikan
sifat dan karateristik, morfologi akar, batang,
daun, bunga, buah, biji serta khasiat dan cara
pemanfatan jenis-jenis tanaman obat.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian menunjukkan ditemukan
34 koleksi tanamanobat yang dimanfaatkan oleh
masyarakat Suku Muna di Pemukiman Kota Wuna
Kecamatan Tongkuno Kabupaten Muna. Dari 34
jenis yang dimanfaatkan tersebut, 31 koleksi telah
teridentifikasi nama ilmiahnya dan 3 koleksi tidak
dapat diidentifikasi nama ilmiahnya. Jenis-jenis
tanaman obat yang dimanfaatkan oleh Suku Muna
disajikan pada Tabel 1.
Deskripsi karakteristik morfologi, khasiat
dan cara pemanfaatan jenis-jenis tanaman
berkhasiat obat yang ditemukan dipemukiman
Kota Wuna Kecamatan Tongkuno Kabupaten
Muna diuraikan sebagai berikut:
Ficus septica Burm. f.
Pohon atau perdu yang tegak dengantinggi
1-5 m.Daun tunggal, besar, sangat runcing dengan
duduk daun berseling atau berhadapan.Helaian
daun oval atau bulat telur dengan panjang daun
14-23 cm, lebar 8-14 cm. Memiliki daun tumpul,
pertulangan daun menyirip, tepi daun rata, warna
daun dari atas hijau tua mengkilat dengan banyak
bintik-bintik
yang
pucat.
Tanaman
ini
dimanfaatkan sebagai obat mata merah (trahom),
dengan cara daun awar-awar (Ficus septica Burm.
f.) tempat membungkus daun meniran (Phylantus
niruri L.), dibakar diabu panas selama 2 menit
kemudian diangkat, dibuka lalu dicampur dengan
empelur awar-awar, kemudian diremas-remas
sampai berair setelah itu air hasil remasan
diteteskan pada mata yang terkena trahom setiap
pagi hari.
Averrhoa bilimbi L.
Pohon dengan batang pokok besar, keras,
bulat dan berwarna coklat. Daun majemuk
menyirip dengan duduk daun berseling dan
bentuk daun memanjang. Helaian daun 3-7 cm,
lebar daun 1,5-2 cm. Tanaman ini dimanfaatkan
sebagai obat
tekanan darah tinggi karena
berkhasiat untuk menurunkan atau menormalkan
kembali tekanan darah, dengan cara memetik
daun belimbing (Averrhoa bilimbi L.) yang masih
muda secukupnya setelah itu diberi air
secukupnya lalu direbus sampai mendidih,
didinginkan dan diminum pagi dan sore sebanyak
1 gelas.
47
EKSPLORASI JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
Piper retrofractum Vahl.
Tanaman terna memanjat dengan panjang
batang 5–15 m. Daun tunggal dengan duduk daun
berseling. Helaian daun memanjang, dengan
panjang daun 3-10 cm, lebar daun 2,5 - 4,5 cm.
Memiliki buah dengan ujung bebas membulat.
Buah yang masih muda berwarna hijau, bila masak
berwarna merahdan susunan buah beruntai.
Tumbuhan ini dimanfaatkan sebagai obat kencing
manis, penggunaanya dengan cara memetik buah
yang masih muda secukupnya, kemudian dicuci
hingga bersih setelah itu dikunyah secara
perlahan-lahan sampai benar-benar
lumat
kemudian ditelan bersama ampasnya.
Piper cilibracteum D.C.
Merupakan tumbuhan terna memanjat
dengan panjang batang 5–15 m. Daun tunggal
dengan duduk daun tersebar. Helaian daun bulat
telur dengan panjang daun 7-12 cm, lebar daun 56,5 cm dan memiliki bau yang harum. Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat pencuci mata karena
berkhasiat untuk menjernihkan mata, dengan
cara: daun sirih (Piper cilibractum D.C.)
dihancurkan sampai benar-benar halus kemudian
diambil sedikit demi sedikit daun yang telah halus
dan diteteskan di mata tiap pagi dan sore hari.
Calanchoe pinnata L.
Herba berdaging pada pangkalnya agak
berkayu. Daun tunggal dengan duduk daun
berpasangan, ujung daun tumpul, pangkal daun
runcing, pertulangan daun menyirip dengan
warna daun hijau muda. Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat panas dalam karena
berkhasiat untuk menurunkan panas sehingga
bibir tidak pecah-pecah, kulit kembali normal
(tidak kering) dan menyembuhkan sariawan,
dengan cara: daun cucur bebek (Calanchoe pinnata
L.) dicampur dengan daun kapuk (Ceiba petandra
Gaertn.), daun muda cendana (Sannatalum album
L.) dan daun kaghuse-ghuse, ditambah air masak
secukupnya lalu diembunkan kemudian diminum
tiap pagi sebanyak 1 gelas.
Sannatalum album L.
Pohon dengan tinggi 12-15 cm. Daun
tunggal dengan duduk daun berseling, ujung
daun meruncing, pangkal daun tumpul dan
warna daun pada saat muda berwarna hijau muda,
menjelang tua berwarna hijau tua. Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat :
Panas dalam karena berkhasiat untuk
menurunkan panas sehingga bibir tidak pecahpecah, kulit kembali normal (tidak kering) dan
menyembuhkan sariawan, dengan cara daun
muda cendana (Sannatalum album L.) dicampur
48
dengan daun kapuk (Ceiba petandra Gaertn), daun
kaghuses-ghuse dan daun cucur bebek (Calanchoe
pinnata)
ditambah
air
secukupnya
lalu
diembunkan lalu diminum setiap pagi sebanyak 1
gelas.
Kurus dan banyak keringat (kasoso) karena
berkhasiat untuk menurunkan panas dan
menambah nafsu makan, dengan cara kulit batang
cendana (Sanntalum album L.) dicampur dengan
daun kamboja (Plumeria acuminate Poir.), daun
kasape, akar kelapa lalu direbus dengan air
secukupnya dan diminum sebanyak 1 gelas tiap
pagi, sore dan malam hari.
Penyakit perut dan kadang buang air
disertai lendir dan darah (amuba), dengan cara
kulit batang cendana
(Sanantalum album
L.)dicampur dengan daun jambu batu (Psidium
guajava L.), daun tembelekan (Lantana camara L.),
daun klengkeng (Schleichera oleosa Merr.) dan
akar sidaguri (Sida rhombifolia) setelah itu diberi
air secukupnya lalu direbus sampai mendidih.
Hasil rebusan diminum 1 gelas tiap pagi, sore dan
malam hari.
Paederia scandens Merr.
Tumbuhan terna memanjat.Daun tunggal
dengan duduk daun berseling atau tersebar.
Memiliki helaian daun memanjang, panjang 6-8
cm, lebar daun 2-7 cm, daun bila diremas-remas
akan
mengeluarkan
bau
yang
tidak
sedap.Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat
cacingan karena berkhasiat untuk mematikan
cacing-cacing yang ada dalam perut penderita dan
dikeluarkan bersama-sama dengan kotoran,
dengan cara: daun kentut (Paederia scandens
Merr.) dicampur dengan daun sembung (Blumea
balsanifera D.C.), daun selasi (Ocimum basilicum
L.) lalu diberi air masak secukupnya, diperas,
disaring dan hasil perasan diminum tiap pagi dan
sore sebanyak 1 gelas.
Psidium guajava L.
Perdu atau pohon kecil. Daun tunggal
dengan duduk daun berpasangan, helaian daun
bulat panjang atau memanjang, dengan panjang
daun 4,5-7 cm, lebar
3 - 4 cm. Bunga terletak
diketiak daun, warna putih. Buah bentuk bulat
dengan bagian depan kasar membulat. Dalam
buah berisi banyak biji, daging buah putih
kekuning-kuningan atau merah muda dengan rasa
yang manis serta harum. Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat :
Muntah berak karena berkhasiat untuk
menghentikan buang air besar yang disertai
dengan muntah-muntah, dengan cara daun jambu
biji (Psidium guajava L.) yang tua dicampur
dengan jagung (disangrai sampai hitam) setelah
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Wa Ode Jumiarni
itu diberi air secukupnya lalu direbus sampai
mendidih dan hasil rebusan diminum 1 gelas tiap
pagi, sore dan malam hari.
Penyakit perut dan kadang buang air
disertai lendir dan darah (amuba) dengan cara
menggunakan daun jambu biji (Psidium guajava
L.) dicampur dengan daun tembelekan (Lantana
camara L.), daun klengkeng (Schleichera oleosa
Merr.), kulit batang cendana (Sannatalum album
L.)dan akar sidaguri (Sida rhombifolia) setelah itu
diberi air secukupnya dan direbus sampai
mendidih. Hasil rebusan diminum 1 gelas tiap pagi
dan sore dan malam hari (La Niasa).
Jatropha curcas L.
Perdu dengan tinggi 1,5–5 m. Daun tunggal
dengan duduk daun berseling, helaian daun bulat
telur dengan panjang daun 8–15 cm, lebar 7–12
cm. Ujung daun runcing. Pertulangan daun
menjari. Bunga dalam malai rata yang bercabang
melebar. Memiliki buah bentuk telur lebar.
Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat sakit gigi
karena berkhasiat untuk menghilangkan rasa sakit
pada gigi dan sariawan, dengan cara tangkai jarak
(Jatropha curcas L.) yang masih muda dipatahkan
kemudian diambil getahnya lalu diteteskan pada
sepotong kapas kecil lalu kapas yang telah
dibasahi dengan getah tangkai jarak tersebut
dimasukan ke dalam gigi yang berlubang (Lovadi,
et al., 2013).
obat mata merah (trahom) dengan cara
menggunakan daun meniran (Phylantus niruri L.)
dibungkus didaun awar-awar (Ficus septica Burm.
f.), lalu dibakar diabu panas selama 2 menit setelah
itu diangkat, dibuka lalu dicampur dengan empelur
awar-awar (Ficus septica Burm. f.) kemudian
diremas-remas sampai berair setelah itu air hasil
remasan diteteskan dimata setiap pagi hari.
Euphorbia hirta L.
Herba dengan batang yang tegak memiliki
tinggi 22–30 cm. Batang mengandung getah bila
diremukkan. Daun majemuk, duduk daun
berhadapan dengan panjang daun 2-3,5 cm, lebar
1,1-1,5 cm.Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat
katarak karena berkhasiat untuk menghilangkan
katarak pada mata, dengan cara mengambil
batang patikan kebo (Euphorbia hirta L.) yang
masih muda, dipatahkan kemudian diambil
getahnya lalu diteteskan pada mata yang terkena
katarak setiap pagi dan sore hari.
Aleurites mollucuna Willd.
Pohon dengan memiliki tinggi 10-40 m.
Daun tunggal dengan duduk daun berpasangan.
Helaian daun bulat telur dengan panjang daun 1018 cm, lebar daun 6-7 cm. Buah batu bentuk bola
yang lebar, panjang 6 cm, dengan dinding yang
cukup tebal, berdaging kaku, dengan kulit biji yang
sangat keras dan bijinya mengandung minyak.
Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat penyakit
kuning dengan cara kulit batang kemiri (Aleurites
molucana Willd.) dicampur dengan akar alangalang (Imperata cylindrical Beauv.), akar pinang
dan batang serei (Andropogon nardus L.),
daun, batang dan akar waru putih direbus dengan
air secukupnya sampai mendidih, didinginkan
lalu diminum sebanyak 1 gelas pagi dan sore
hari.
Plumeria acuminata Poir.
Pohon dengan tinggi 1,5-6 m. Batang
mengandung getah. Daun tunggal dengan duduk
daun berkelompok rapat pada ujung ranting,
panjang daun 15-20 cm, lebar 4-6,5 cm. Bunga
dalam malai rata yang gundul bertangkai pada
ujung. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat:
Setelah melahirkan yang berkhasiat untuk
membersihkan darah kotor, memulihkan tenaga,
mengencangkan kembali urat yang kendor setelah
melahirkan, dengan cara daun kamboja (Plumeria
acuminate Poir.) dicampur dengan daun sembung
(Blumea balsanifera D.C.), akar kasape, kulit
batang kayu gabus (Alstonia scholaris R.Br.), akar
sidaguri (Sida rhombifolia), akar pinang, akar
kelapa dan akar pagoda (Cleropendrum japonicum
L.) direbus dalam air sebanyak 2 liter. Hasil rebusan
diminum pagi dan sore hari sebanyak 1 gelas.
Kurus dan badan terasa panas (kasoso)
yang berkhasiat untuk menurunkan panas, dan
menambah nafsu makan dengan cara daun
kamboja (Plumeria acuminata Poir.) dicampur
dengan daun kasape, akar kelapa dan kulit batang
cendana (Santalum album L.) lalu direbus dengan
air secukupnya dan diminum sebanyak 1 gelas
tiap pagi, sore dan malam hari.
Phylantus niruri L.
Herba, tumbuh tegak dengan memiliki
tinggi 30-50 cm. Daun majemuk menyirip genap
ganda dua dengan sempurna dengan duduk daun
berpasangan. Memiliki panjang daun 0,5-1 cm.
Daun kasar berbintik-bintik dan berwarna hijau.
Dalam satu tanaman terdapat buah bulat kecilkecil dan licin. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai
Blumea balsanifera D.C.
Habitus mirip herba atau perdu tegak
dengan tinggi 1-4 m. Daun tunggal dengan duduk
daun berseling, helaian daun bulat telur dengan
panjang 7-15 cm, lebar 3-5 cm dan permukaan
daun berbulu halus dan daun berwarna hijau tua
agak kecoklatan. Tanaman ini dimanfaatkan
sebagai obat :
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
49
EKSPLORASI JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
Cacar karena berkhasiat untuk merangsang
penyakit cacar yang tertinggal dalam tubuh agar
cepat keluar di permukaan kulit sehingga tidak
terjadi peradangan dengan cara daun sembung
(Blumea balsanifera D.C.) dicampur dengan batang
kakalei-kaleinondoke diberi air secukupnya lalu
direbus sampai mengeluarkan bau yang tidak
enak, didinginkan lalu diminum sebanyak 1 gelas
tiap pagi dan sore hari.
Cacingan
karena
berkhasiat
untuk
mematikan cacing yang ada dalam perut penderita
dan dapat dikeluarkan bersamaan dengan kotoran
dengan cara daun sembung (Blumea balsanifera
D.C.)
dicampur
dengan
daun
kentut
(Paederiascandens Merr.), daun selasi (Ocimim
basilicum L.) setelah itu diberi air masak, air
secukupnya lalu diperas, disaring dan hasil
perasan diminum tiap pagi dan sore hari sebanyak
1 gelas.
Maag
karena
berkhasiat
untuk
menyembuhkan lambung yang terluka agar
sembuh kembali seperti sedia kala dengan cara
daun sembung (Blumeabalsanifera D.C.), daun
kapuk (Ceiba petandra Gaertn.) diberi air masak
secukupnya lalu diperas kemudian disaring dan
diminum setiap pagi dan sore hari sebanyak 1
gelas.
Setelah melahirkan karena berkhasiat
untuk membersihkan darah kotor, memulihkan
tenaga, mengencangkan kembali urat-urat yang
kendor setelah melahirkan dengan cara daun
sembung, daun cempaka, akar kasape, kulit batang
kayu gabus (Alstonia scholaris R.Br.), akar sidaguri
(Sida rhombifolia), akar pinang, akar kelapa dan
akar pagoda (Cleropendrum japonicum L.)
dicampur menjadi satu dan direbus dalam air
sebanyak 2 liter. Hasil rebusan diminum setiap
pagi dan sore hari sebanyak 1 gelas.
Alstonia scholaris R. Br.
Pohon dengan tinggi 5-10 m, memiliki
batang bulat, lurus. Daun tunggal dengan duduk
daun berkarang, helaian daun bulat telur, panjang
8-14 cm, lebar 2,5-4 cm, Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat
Demam yang berkhasiat untuk memulihkan
kembali panas dan dingin dengan cara kulit batang
kayu gabus (Alstonia scholaris R.Br.)direbus dalam
air secukupnya sampai mendidih. Hasil rebusan
dimunum tiap pagi dan sore hari sebanyak 1 gelas.
Setelah melahirkan yang berkhasiat untuk
membersihkan darah kotor, memulihkan tenaga,
mengencangkan kembali urat-urat yang kendor
setelah melahirkan dengan cara menggunakan
kulit batang kayu gabus (Alstonia scholaris R.Br.)
dicampur dengan daun cempaka (Plumeria
acuminatea Poir.), daun sembung (Blumea
50
balsanifera D.C.), akar kasape, akar sidaguri (Sida
rhombifolia), akar pinang, akar kelapa dan akar
pagoda (Cleropendrum japonicum L.) dan direbus
dalam air sebanyak 2 liter. Hasil rebusan diminum
pagi dan sore hari sebanyak 1 gelas.
Ceiba petandra Gaertn.
Pohon dengan tinggi 8-30 m. Batang muda
dengan duri tempel besar yang berbentuk kerucut.
Daun majemuk berbilang 5-9, dengan panjang
daun 6,5-12 cm, lebar 2,5-3 cm. Daun mahkota
bulat telur terbalik memanjang, pada pangkalnya
bersatu berwarna mentega memiliki benang sari
5, bersatu menjadi bentuk tabung pendek, bakal
biji banyak, buah memanjang dengan panjang 7,5
– 15 cm menggantung (Sembiring, et al., 2013).
Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat:
Panas
dalam
karena
berkhasiat
menurunkan panas sehingga bibir tidak pecahpecah lagi, kulit kembali normal (tidak kering) dan
menyembuhkan sariawan dengan cara daun
kapuk (Ceiba petandra Gaertn.) dicampur dengan
daun muda cendana (Santalum album L.), daun
kaghuse-ghuse, dan daun cucur bebek (Calanchoe
pinnata) ditambah air masak secukupnya lalu
diembunkan dan diminum setiap pagi sebanyak 1
gelas.
Maag
karena
berkhasiat
untuk
menyembuhkan lambung yang terluka agar
sembuh kembali seperti sedia kala dengan cara
daun kapuk (Ceiba petandra Gaertn.) dicampur
dengan daun sembung diberi air masak
secukupnya lalu diperas kemudian disaring dan
diminum tiap pagi dan sore hari sebanyak 1 gelas.
Cassia alata L.
Perdu dengan batang berkayu, keras, kuat
dan bercabang banyak dengan warna batang hijau
pucat dengan tinggi 1-5 m. Daun menyirip genap,
daun penumpu lama tetap tinggal dalam pangkal
dengan duduk daun berhadapan dengan panjang
daun 5-10 cm, lebar daun 1,8-5,5 cm. Daun
pelindung
pendek
dan
sebelum
mekar
rontok.Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat
sakit dalam (karoko) karena berkhasiat untuk
menghilangkan rasa nyeri yang datang tiba-tiba,
dengan cara batang, akar ketapang cina (Cassia
alata L.) dicampur dengan ujung daun alangalang(Imperata cylindrical Beauv.) kemudian
diberi air secukupnya lalu direbus sampai
mendidih, setelah itu didinginkan lalu diminum
airnya sebanyak 1 gelas tiap pagi dan sore hari.
Orthosiphon stamineus Bth.
Herba
berkayu
dengan
banyak
percabangan. Batang berambut pendek.Ujung
daun meruncing dengan panjang 2,8-4,5 cm, lebar
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Wa Ode Jumiarni
1,5-2 cm. Pertulangan daun menjari. Berbunga 6
terkumpul menjadi tandan yang keluar diujung
cabang. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat
sakit pinggang dengan cara mengambil daun,
batang dan akar kumis kucing (Orthosiphon
stamineus Bth.)secukupnya setelah itu dibersihkan
dari kotoran, lalu diberi air secukupnya, direbus
sampai mendidih kemudian didinginkan lalu
diminum sebanyak 1 gelas tiap pagi dan sore hari.
Ocimum basilicum L.
Herba tegak dengan tinggi 50–80 cm.
Batang berbulu halus dan bercabang. Memiliki
panjang daun 0,5-1 cm, lebar daun 1-2 cm, ujung
daun runcing daun berbintik-bintik serupa
kelenjar. Berbunga 6 dan berkumpul menjadi
tandan
dengan
ujung
bentuk
kait
melingkar.Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat
cacingan karena berkhasiat untuk mematikan
cacing-cacing yang ada didalam perut penderita
dan akan dikeluarkan bersamaan dengan kotoran,
dengan cara daun selasih (Ocimum basilicum L.),
dicampur dengan daun kentut (Paederia scandens
Merr.), daun sembung (Blumea balsanifera D.C.)
setelah itu diberi air masak secukupnya lalu
diperas, disaring dan hasil perasan diminum tiap
pagi dan sore hari sebanyak 1 gelas.
Schleichera oleosa Merr.
Pohon dengan batang pokok besar, bulat,
lurus dan tinggi 15-40 m. Daun majemuk menyirip
dan duduk berhadapandengan panjang daun 5-15
cm, lebar daun 2-5 cm. Daun yang teratas tersebar
dan berwarnah merah muda, sedang bagian
bawah berwarna hijau tua. Buah bentuk spul
lebar.Tumbuh pada tanah yang mengering kuat,
liar dan ditanam untuk kayu.Tanamn ini
dimanfaatkan sebagai obat :
Muntah darah karena berkhasiat untuk
menghentikan muntah disertai dengan darah,
dengan cara daun klengkeng (Schleichera oleosa
Merr.) dicampur dengan daun tembelekan
(Lantana camara L.) diberi air secukupnya dan
direbus sampai mengeluarkan bau yang tidak
enak dan didinginkan lalu diminum sebanyak 1
gelas tiap pagi, sore dan malam hari.
Penyakit perut dan kadang buang air
disertai lendir dan darah (amuba) dengan cara
menggunakan daun klengkeng (Schleichera oleosa
Merr.) dicampur dengan daun jambu batu
(Psidium guajava L.), daun tembelekan (Lantana
camara L.), kulit batang cendana (Santalum album
L.) dan akar sidaguri (Sida rhombifolia) setelah itu
diberi air dan direbus sampai mendidih. Hasil
rebusan diminum 1 gelas tiap pagi, sore dan
malam hari.
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Cleropendrum japonicum L.
Terna menahun dengan tinggi  2 m. Daun
tunggal dengan duduk daun berpasangan dengan
panjang daun 5,8-14 cm, lebar daun 3-8 cm,
Permukaan tepi daun bagian atas berwarna hijau
hitam dan agak berbulu sedang bagian bawah
berwarna hijau muda.Tanaman ini dimanfaatkan
sebagai obat setelah melahirkan karena berkhasiat
untuk membersihkan darah kotor, memulihkan
tenaga dan mengencangkan kembali urat yang
kendor setelah melahirkan, dengan cara akar
pagoda (Cleropendrum japonicum L.), dibersihkan
terlebih dahulu lalu dicampur dengan kulit batang
kayu gabus (Alstonia scholaris R.Br.), daun
cempaka (Plumeria acuminata Poir.), daun
sembung (Blumea balsanifera D.C.), akar kasape,
akar sidaguri (Sida rhombifolia), akar pinang dan
akar kelapa direbus dalam air sebanyak 2 liter,
hasil rebusan diminum pagi dan sore hari
sebanyak 1 gelas.
Salvia splendens Sello.
Herba tegak dengan tinggi  1 m. Helaian
daun runcing dengan panjang daun 4 cm, lebar
2,5–3 cm. Daun majemuk dengan duduk daun
berpasangan, pangkal daun berlekuk, pertulangan
daun menyirip, bagian tepi daun bergerigi,
permukaan daun bagian atas berbulu halus, kasar
dan berwarna hijau. Tanaman ini dimanfaatkan
sebagai obat sesak napas karena berkhasiat untuk
melonggarkan pernapasan, dengan cara daun
salvia (Salvia splendens Sello.) dicampur dengan
daun kanghuse-ghuse setelah itu diberi air masak
sedikit lalu diperas sampai benar-benar hancur,
disaring dan hasil perasan diminum pagi dan sore
hari sebanyak 1 gelas.
Lantana camara L.
Perdudengan bercabang banyak, tinggi 1
cm. Daun majemuk dengan duduk daun saling
berhadapan, dengan panjang daun 3-5 cm, lebar
daun 1,5-2,8 cm. Bunga tersusun dalam karangan
bunga
berwarna orange kekuning-kuningan,
merah jambu, merah atau putih. Buah batu saling
berdekatan, bentuk bulat telur dan berwarna
hitam mengkilat bila sudah masak. Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat penyakit perut dan
kadang buang air disertai lendir dan darah
(amuba) dengan cara menggunakan daun
tembelekan (Lantana camara L.) dicampur dengan
daun jambu batu (Psidium guajava L.), daun
klengkeng (Schleichera oleosa Merr.), kulit batang
cendana (Santalum album L.) dan akar sidaguri
(Sida rhombifolia), diberi air secukupnya lalu
direbus sampai mendidih dan hasil rebus
diminum 1 gelas tiap pagi, sore dan malam hari.
51
EKSPLORASI JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
Muntah darah karena berkhasiat untuk
menghentikan muntah disertai dengan darah,
dengan cara daun tembelakan (Lantana camara
L.) dicampur dengan daun klengkeng (Schleichera
oleosa Merr.) lalu diberi air secukupnya, direbus
sampai mengeluarkan bau yang tidak enak,
didinginkan lalu diminum sebanyak 1 gelas tiap
pagi, sore dan malam hari.
Sida rhombifolia L.
Perdudengan tinggi 0,1–2 m. Daun pada
ujung bercabang, bulat telur, memanjang, bentuk
belah ketupat hingga bentuk lanset, dengan ujung
yang terpancung lebar sampai bentuk jantung
yang datar, bergerigi-bergigi, kadang sisi bawah
berambut abu-abu rapat, bertulang daun menjari
dengan panjang daun 4-5 cm, lebar 2-3 cm. Bunga
berdiri sendiri di ketiak daun. Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat :
Setelah melahirkan karena berkhasiat
untuk membersihkan darah kotor, memulihkan
tenaga dan mengencangkan kembali urat-urat
yang kendor setelah melahirkan, dengan cara akar
sidaguri (Sida rhombifolia) dicampur dengan daun
kamboja (Plumeria acuminate Poir.), daun
sembung (Blumea balsanifera D.C.), akar kasape,
kulit batang kayu gabus (Alstonia scholaris R.Br.),
akar pinang, akar kelapa dan akar direbus dalam
air sebanyak 2 liter. Hasil rebusan pagi dan sore
hari sebanyak 1 gelas.
Penyakit dan kadang-kadang buang air
disertai lendir dan darah (amuba) karena
berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit
amuba, dengan cara akar
sidaguri (Sida
rhombifolia) dicampur dengan daun jambu batu
(Psidium guajava L.), daun tembelekan (Lantana
camara L.), daun klengkeng (Schleihera oleosa
Merr.), kulit batang cendana (Sannatalum album
L.) dan setelah itu diberi air dan direbus sampai
mendidih. Hasil rebusan diminum 1 gelas tiap pagi
dan sore dan malam hari.
Sesbania grandiflora L. Pers
Pohon dengan tinggi 5-10 m. Daun tersebar
dengan panjang 5-7,5 cm, lebar 1-1,5 cm. Bunga
berbentuk seperti kupu-kupu dengan tangkai
bunga keluar dari ketiak daun. Tanaman ini
dimanfaatkan sebagai obat susah kencing
karena berkhasiat untuk memperlancar buang air
kecil, dengan cara mengambil daun turi
(Sesbaniagrandiflora L. pers.) secukupnya lalu
dihaluskan sampai benar-benar halus dan
diberi air sedikit kemudian dioleskan pada
perut bagian bawah dilakukan secara rutin tiap
hari terutama pada malam hari ketika hendak
tidur.
52
Hibiscus tiliaceus L
Semak dengan batang tegak, lurus, berkayu
dan mempunyai cabang, tinggi  1 m. Daun
tunggal, duduk daun berseling, helaian daun
bangun jantung, panjang daun 13,2-14,5 cm, lebar
daun 11-14 cm. Tanaman ini dimanfaatkan
sebagai obat penyakit kuning dengan cara
menggunakan daun, batang, akar waru putih
dicampur dengan kulit batang kemiri (Aleurites
molucana Will.), akar alang-alang (Imperata
cylindrica Beauv.), akar pinang dan batang serei
(Andropogon nardus L.) direbus dengan air
secukupnya sampai mendidih, didinginkan lalu
diminum sebanyak 1 gelas gelas tiap pagi dan sore
hari.
Imperata cylindrical Beauv.
Rumput menahun dengan tunas merayap di
bawah tanah, panjang dan bersisik, tinggi 30-70
cm. Helain daun dari atas kecil dan yang bawah
berbentuk garis lanset, dengan pangkal yang
menyempit dengan panjang 2,8–4,5 cm, lebar 1,5–
2 cm. Bertepi sangat kasar, tajam, pada pangkal
berambut panjang dengan tulang daun tengah
yang lebar dan pucat, memiliki ibu tulang daun
yang keras dengan pertulangan daun yang sejajar;
bunga berwarna putih yang tersusun dalam satu
tangkai dan mudah sekali diterbangkan
angin.Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat :
Penyakit kuning dengan cara menggunakan
akar alang-alang (Imperata cylindrica Beauv.)
dibersihkan dari kotoran, selanjutnya dicampur
dengan akar pinang, kulit batang kemiri (Aleurites
molucana Willd.), batang serei (Andropogon
nardus L.), daun, batang dan akar waru putih
direbus dengan air secukupnya sampai mendidih,
didinginkan lalu diminum sebanyak 1 gelas pagi,
sore dan malam hari.
Sakit dalam (karoko) karena berkhasiat
untuk menghilangkan rasa nyeri yang datang tibatiba, dengan cara ujung daun alang-alang
(Imperata cylindrica Beauv.)dicampur dengan
batang, akar ketapang cina (Cassia alata L.)
kemudian diberi air secukupnya lalu direbus
sampai mendidih, didinginkan lalu diminum
sebanyak 1 gelas tiap pagi dan sore hari.
Cymbopogon citrates
Rumput menahun, membentuk jerami,
tinggi 40-60 cm, berumpun banyak, mengumpul
dan bergerombol. Helaian daun seperti bangun
garis, dengan panjang daun 35-70 cm, lebar daun
0,7-1 cm, ujung daun runcing, pertulangan
daun sejajar, tepi daun rata, permukaan
daun bagian atas dan bawah berwarna hijau
dengan permukaan bagian atas kasar dan daun
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Wa Ode Jumiarni
Jika dihaluskan akan mengeluarkan bau yang
aromatik dan wangi.Tanaman ini dimanfaatkan
sebagai obat.
Penyakit kuning dengan cara menggunakan
batang serei (Cymbopogon citratus.) dicampur
akar pinang, kulit batang kemiri (Aleurites
molucana Willd.), akar alang-alang (Imperata
cylindrica Beauv.) lalu diberi air secukupnya,
direbus sampai mendidih kemudian didinginkan
dan diminum sebanyak 1 gelas tiap pagi, sore dan
malam hari.
Keseleo
karena
berkhasiat
untuk
menyembuhkan salah urat, dengan cara batang
serei (Cymbopogon citratus.) dipecah-pecahkan
dicampur dengan jahe setelah hancur batang serei
(Cymbopogon citratus.) dan jahe disatukan
kemudian dililit pada bagian yang keseleo dilakukan
secara rutin pada malam hari ketika hendak tidur.
Kyllinga brevifoliu Rottb.
Herba menahun, tinggi 0,1–0,4 cm. Akar
rimpang pendek, merayap. Batang bersegi tiga
yang tajam Daun pada pangkal batang 2–4, bentuk
garis sempit, hijau tua, lebar 2–4 mm, pelepah
daun menutup sekelilingnya; daun pembalut 3–4,
tak sama besar; sumbu utama dari bongkol semu
berbentuk kerucut, dengan banyak anak bulir
yang tersusun spiral dengan anak bulir duduk.
Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat jerawat
karena berkhasiat untuk melepaskan dan
membersihkan jerawat dengan cara daun jukut
pendul (Kyllinga brevifoliu Rottb.) dihaluskan dan
diberi air sedikit kemudian ditempelkan seperti
memakai bedak.
Zingiber Americans BI.
Tumbuhan herba menahun tinggi 40-60
cm.Batang tegak bersifat semu dan batang
sesunguhnya di dalam tanah dan akan
menghasilkan rimpang (rhizoma) yang menjalar,
rimpang berdaging, mengkilap, merah sampai
kuning pucat, berserat kasar, dan aromanya
harum. Daun tunggal dengan duduk daun
berhadapan, panjang daun 14-18 cm, lebar daun
4,6-6 cm, warna daun hijau muda kekuningkuningan, pada bagian daun terdapat pelepah.
Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat sesak
napas karena berkhasiat untuk melonggarkan
pernapasan, dengan cara umbinya dibersihkan
dahulu setelah itu umbinya diparut lalu diperas,
disaring kemudian diminum sebanyak 1 gelas
setiap pagi hari.
Drynaria quercifolia J. Sm.
Jenis paku epifit yang menempel pada
pepohonan/batu
cadas.Akar
rimpang
memanjat.Batang tidak jelas.Daun tersusun
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
seperti
sarang
burung.Memiliki
sorus
bergerombol sepanjang pertumbuhan daun pada
bawah
pada
bawah
daun.Tanaman
ini
dimanfaatkan sebagai obat panas dalam karena
berkhasiat untuk menurunkan panas, dengan cara
umbi (Drynaria quercifolia J. Sm.) dibersihkan
setelah itu tambah air secukupnya lalu direbus
hingga mendidih, hasil rebusan diminum sebanyak
1 gelas setiap pagi, sore dan malam hari.
Spesies A (Kakalei-kaleinondoke)
Pohon dengan batang besar, bulat,
berwarna coklat keputihan dan memiliki tinggi 
3 m. Daun tunggal dengan duduk daun
berhadapan, helaian daun lanset, panjang daun 413,5 cm, lebar 1,6-4,4 cm. Pertulangan daun
menyirip, bagian tepi daun rata, warna atas
berwarna hijau tua dan bawah berwarna hijau
muda. Tanaman ini dimanfaatkan sebagai obat
cacar karena berkhasiat untuk meransang sisa
penyakit cacar yang tertinggal dalam tubuh agar
cepat keluar dipermukaan kulit sehingga tidak
terjadi peradangan, dengan cara batang kakaleikaleinondoke dicampur dengan daun sembung
(Blumea balsanifera D.C.) diberi air secukupnya
lalu direbus sampai mengeluarkan bau yang tidak
enak, didinginkan lalu diminum 1 gelas tiap pagi
dan sore hari.
Spesies B (Kaghuse-ghuse)
Pohon dengan tinggi 2 m, memiliki
batang bulat. Daun majemuk menyirip ganda dua
dengan duduk daun berseling dan memiliki
panjang daun 2,5-3 cm, lebar daun 1-1,3 cm.
Tumbuhan ini dimanfaatkan sebagai obat.
Sesak napas karena berkhasiat untuk
melonggarkan pernapasan, dengan cara daun
kaghuse-ghuse dicampur dengan daun salvia
(Salvia splendens Sello.) diberi air masak
secukupnya lalu diperas sampai benar-benar
hancur, disaring lalu diminum setiap pagi dan sore
hari sebanyak 1 gelas.
Panas dalam karena berkhasiat untuk
menurunkan panas sehingga bibir tidak pecahpecah, kulit kembali normal (tidak kering) dan
menyembuhkan sariawan, dengan cara daun
kaghuse-ghuse dicampur dengan daun muda
cendana (Sannatalumalbum L.), dan daun cucur
bebek (Calanchoe pinnata) dan ditambah air
masak secukupnya lalu diembunkan dan diminum
setiap pagi sebanyak 1 gelas.
Spesies C (Kasape)
Herba berkayu, daun tunggal dan duduk
daun berseling. Panjang daun 5-12 cm, lebar daun
3-7 cm. Pertulangan daun menyirip, permukaan
daun bagian atas berwarna hijau tua dan bagian
53
EKSPLORASI JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
Tabel I. Jenis-jenis tanaman yang dimanfaatkan oleh Suku Muna sebagai obat tradisional di Pemukiman
Kota Wuna
Nama
Indonesia
Nama Lokal
Awar-awar
Libho
Belimbing wulu.
Daru
Cabe jawa
Karooroono
kuntai
Sirih hutan
Gili
Familia
Ficus septica Burm. f.
Moraceae
Averrhoa bilimbi L
Piper
retrofractumVahl.
Piper cilibracteum D.C.
Oxilidaceae
Piperaceae
Piperaceae
Daun
Obat Pencuci mata
Cucur bebek
Taporindi
Calanchoe pinnata
Crassulaceae
Daun
Obat Panas dalam
Cendana
Sandana
Sannaqtalum album L.
Santalaceae
Daun, kulit
batang
Paederia scandens
Merr.
Psidium guajava L.
Rabiaceae
Daun
Obat Panas dalam, Obat
Kurus& banyak keringat
(kasoso), Obat penyakit
perut dan kadang buang air
disertai lendir dan darah
(amuba)
Obat Cacingan
Daun kentut Kahgotu-ghotu
Jambu batu
Bumalaka
Jarak Pagar
Kemiri
Ntanga-ntanga
Beau
Meniran
Patikan Kebo
Kaghai-ghai
Kapati-pati
Kamboja
Djampaka
Sembung
Kayu gabus
Kapuk
Selasih
Klengkeng
Puno
Kusambi
Spesies A
Kakaleikaleinondoke
Khaghuseghuse
Spesies B
Jatropha curcas L.
Aleurites molucana
Willd.
Phylatus niruri L.
Euphorbia hirtaL.
Plumeria acuminata
Poi.r
Myrtaceae
Daun
Obat Muntah berak,
Penyakit perut dan kadang
buang air disertai lendir dan
darah (amuba)
Euphorbieceae
Getah
Obat Sakit Gigi/Sariawan
Euphorbiaceae Kulit batang
Obat Penyakit kuning
Phyllanthaceae
Euphorbiaceae
Daun
Getah
Apocynaceae
Daun
Obat Mata merah (trahom)
Obat Katarak
Obat Setelah melahirkan
kurus dan banyak keringat
(kasoso)
Kaembu-embu
Blumea balsanifera
Asteraceae
Daun
Obat Cacar,
D.C.
Obat Cacingan,
Obat Maag dan Obat Setelah
melahirkan
Tongkoea
Alstonia scholaris R.Br. Apocynaceae Kulit batang Obat Setelah melahirkan,
Obat Demam
Kadhawa
Ceiba petandra
Bombaceae
Daun
Obat Panas dalam, Obat
Gaertn.
Maag
Sabandara
Cassia alata L.
Caesalpiniacea Batang, Akar Obat Sakit dalam (karoko)
Ketapang
Cina
Kumis Kucing Kumis Kucing
54
Nama Ilmiah
Bagian
tanaman
Khasiat
yang
digunakan
Daun, batang Obat Mata merah (trahom)
(empulur)
Daun
Obat Tekanan darah tinggi
Buah
Obat Kencing manis
Orthosiphon stamineus Lamiaceae
Bth.
Ocimum basilicum L.
Lamiaceae
Schleichera oleosa
Sapindaceae
Merr.
-
-
Daun, Batang,
Obat Sakit Pinggang
Akar
Daun
Obat Cacingan
Daun
Obat Muntah darah, Obat
Penyakit perut dan kadang
buang air disertai lendir dan
darah (amuba)
Batang
Obat Cacar
Daun
Obat Sesak napas, Obat
Panas dalam
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Wa Ode Jumiarni
Tabel I. Jenis-jenis tanaman yang dimanfaatkan oleh Suku Muna sebagai obat tradisional di Pemukiman
Kota Wuna (lanjutan)
Nama
Indonesia
Nama Lokal
Spesies C
Kasape
Pagoda
Kamena-mena
Salvia
Tantalali
Nama Ilmiah
Cleropendrum
japonicum L.
Salvia splendens
Sello.
Familia
Bagian
tanaman
yang
digunakan
Khasiat
-
Daun,
Akar
Obat Kurus dan banyak
keringat (kasoso),
Obat Setelah melahirkan
Verbenaceae
Akar
Obat Setelah melahirkan
Lamiaceae
Daun
Obat Sesak napas
Obat Penyakit perut dan
kadang buang air disertai
lendir dan darah (amuba),
Muntah darah
Obat Setelah melahirkan,
Penyakit perut dan kadang
buang air disertai lendir dan
darah (amuba)
Obat Susah kencing
(Tampulaho)
Tembelekan
Patiwala
Lantana camara L.
Verbenaceae
Daun
Sidaguri
Kalumembe
Sida rhombifolia
Malvacea
Akar
Turi
Kambhadjawa
Sesbania grandiflora L.
Papillionaceae Daun
pers.
Waru putih
Ghontoghe
Alang-alang
Dhana
Serei
Padamalala
Cymbopogon citratus
Poaceae
Batang
Jukut Pendul
Lakoora
Kyllinga Brevifolius
Rottb.
Cyperaceae
Daun
Lempuyang
emprit
Langendo
Zingiber americans BI. Zingiberaceae Umbi
Obat Sesak Napas
Paku layang
Katimboka
Drynaria
quercifolia J. Sm.
Obat Panas dalam
Hibiscus tiliaceus
L
Imperata cylindrica
Beauv.
bawah berwarna hijau muda. Tumbuhan ini
dimanfaatkan sebagai obat :
Kasoso (kurus dan banyak keringat) karena
berkhasiat untuk menurunkan panas dan
menambah napsu makan, dengan cara daun
kasape dicampur dengan daun kamboja (Plumeria
acuminata Poir.), akar kelapa dan kulit bantang
cendana (Santalum album L.) lalu direbus dengan
air secukupnya dan diminum sebanyak 1 gelas
tiap pagi, sore dan malam hari.
Obat
bersalin
karena
berkhasiat
untuk
membersihkan darah kotor, memulihkan tenaga
dan mengencangkan kembali urat-urat yang
kendor sehabis melahirkan dengan cara akar
kasape dicampur dengan daun kamboja (Plumeria
acuminata Poir.), daun
sembung (Blumea
balsanifera D.C.), kulit batang kayu gabus (Alstonia
scholaris R.Br.), akar sidaguri (Sida rhombifolia),
akar pinang, akar kelapa dan akar pagoda
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Malvaceae
Gramineae
Daun,
Batang,Akar
Ujung daun,
Akar
Polypodiaceae Umbi
Obat Penyakit kuning
Obat Penyakit Kuning, Sakit
dalam (karoko)
Obat Penyakit kuning,
Obat Keseleo
Obat Jerawat
(Cleropendrum japonicum) direbus dalam air
sebanyak 2 liter. Hasil rebusan diminum pagi dan
sore hari sebanyak 1 gelas.
KESIMPULAN
Terdapat 34 koleksi tumbuhan yang
berkhasiat sebagai obat tradisional yang
dimanfaatkan oleh masyarakat suku Muna. Dari 34
yang dimanfaatkan 31 koleksi telah teridentifikasi
nama ilmiahnya dan 3 koleksi tidak dapat
teridentifikasi nama ilmiahnya. Organ tumbuhan
yang digunakan sebagai obat meliputi seluruh
bagian organ tumbuhan atau hanya salah satu
bagian organ saja (akar, batang, daun, bunga, buah
dan biji). Dari keseluruhan jenis tumbuhan yang
dikoleksi
dapat
dimanfaatkan
untuk
menyembuhkan 22 jenis penyakit. Cara
pemanfaatannya adalah dengan direbus, dibakar,
atau diremas-remas sebelum digunakan.
55
EKSPLORASI JENIS DAN PEMANFAATAN TUMBUHAN OBAT
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kepada pemerintah
Kabupaten Muna Sulawesi Tenggara yang telah
mendukung administrasi pelaksanaan penelitian.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, Puslitbangtri-Departemen Pertanian
(1992). Sepuluh Tahun Pusat Penelitian
dan Pengembangan Tanaman Industri
1982-1991. Sumbangan Penelitian dalam
Pembangunan Perkebunan Rakyat, Bogor.
Fellows, L (1992).The Lancet, 339, 130.Katno dan
Pramono S. 2010.Tingkat Manfaat dan
Keamanan Tumbuhan Obat dan Obat
Tradisional.(Online).Jurnal.Tersedia
di:http://cintaialam.tripod.co sutarjo, R,
M.1999. Pengelolaan Tanaman. Semarang
Sinambela, J M., 2003. Standarisasi Sediaan Obat
Herba. Makalah pada Seminar dan Pameran
Nasional POKJANAS TOI, Jakarta, 25-26
Maret.
Sanjoyo, R. (2010). Obat (Biomedik Farmakologi).
Jogjakarta: Universitas Gadjah Mada.
Permatasari, Diah, Diniatik Diniatik dan Dwi
Hartanti, 2011. Studi Etnofarmakologi Obat
Tradisional Sebagai Anti Diare Di
Kecamatan
Baturaden
Kabupaten
Banyumas.Jurnal Farmasi Indonesia 8 (1) :
44-64.
Nurmalasari, N., Sukarsa, S., & Hidayah, H. A.
(2012).
Studi
Kasus
Pemanfaatan
Tumbuhan
Sebagai
Obat-Obatan
Tradisional Oleh Masyarakat Adat Kampung
Naga Di Kabupaten Tasikmalaya. Jurnal
Biosfera, 29(3) :141-150.
Peneng, I.N.M., dan I.W. Sumantera, 2007.
“Inventarisasi Tumbuhan Berkhasiat Obat
Luka Tradisional di Desa Jatiluwih,
Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan,
Bali”.
Prosiding
Seminar
Konservasi
56
Tumbuhan Usada Bali dan Perannya Dalam
Mendukung Ekowisata. UNUD, LIPI, UNHI.
118-123.
Darsini,N.N. (2013). Analisis Keanekaragaman
Jenis Tumbuhan Obat Tradisional Berkasiat
Untuk Pengobatan Penyakit Saluran
Kencing
Di
Kecamatan
Kintamani,
Kabupaten Bangli Provinsi Bali. Jurnal Bumi
Lestari, 13 (1) :159-165
Sutjiatmo, A. B., Sukandar, E. Y., Ratnawati, Y.,
Kusmaningati, S., Wulandari, A., &
Narvikasari, S. (2011). Efek Antidiabetes
Herba Ciplukan (Physalis angulata Linn.)
pada Mencit Diabetes dengan Induksi
Aloksan.Jurnal Farmasi Indonesia, 5(4), 16671.
Akin-Osanaiye, C. B., A. F. Gabriel, and R. A.
Alebiosu., 2011.
Characterization and
antimicrobial screening of ethyl oleate
isolated from Phyllanthus amarus (Schum
and Thonn). Ann Biol Res, 2(2) : 298J305.
Backer, C.A. and R.C.B van den Brink. 1965. Flora
of Java. Volume 1, 2, 3. N. V. P. Noordhoff,
Groningen, Netherlands.
Jitrosoepomo, G. 2000. Taksonomi Tumbuhan
spermathophyta. Gajah Mada University
Press, Yogyakarta.
Van Steenis, C.G.G.J. 2002. Flota Untuk Sekolah di
Indonesia. Pradnya Paramitha, Jakarta..
Lovadi, Irwan, D.M.Takoy and R. Linda, 2013."
Tumbuhan Berkhasiat Obat Suku Dayak
Seberuang Di Kawasan Hutan Desa
Ensabang Kecamatan Sepauk Kabupaten
Sintang." Jurnal Protobiont 2(3) halaman5.
Sembiring, Riwanda, Budi Utomo, and Ridwanti
Batubara, 2013. Keanekaragaman Vegetasi
Tanaman Obat di Hutan Pendidikan
Universitas Sumatera Utara Kawasan
Taman Hutan Raya Tongkoh Kabupaten
Karo Sumatera Utara. Peronema Forestry
Science Journal 2(2): 19-22.
Traditional Medicine Journal, 22(1), 2017
Download