Uploaded by User65666

kelompok 9

advertisement
MACAM DAN
JENIS
PAJAK
PUSAT DAN
DAERAH
D3 KP
Angelina K
2018010947
Anung P. B.
2018010948
Frida S. O.
2018010949
PPh
– PPh adalah pajak yang dibebankan atas suatu penghasilan yang diperoleh wajib pajak, baik yang berasal
dari Indonesia maupun dari luar negeri.
– Dasar hukum PPh adalah Undang-Undang (UU) Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan. UU ini
mengalami empat kali perubahan, yakni:
1. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1991 tentang Perubahan Atas UU No.7/1983 tentang Pajak Penghasilan
2. Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1994 tentang Perubahan Kedua UU No.7/1983 tentang Pajak
Penghasilan
3. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2000 tentang Perubahan Ketiga UU No.7/1983 tentang Pajak
Penghasilan
4. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat UU No.7/1983 tentang Pajak
Penghasilan.
– Jenis – Jenis PPh
 PPh Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan dan
pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau
jabatan, jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri.
 PPh Pasal 22 adalah pajak penghasilan yang dikenakan kepada badan-badan usaha tertentu, baik
milik pemerintah maupun swasta yang melakukan kegiatan perdagangan ekspor, impor dan reimpor.
 PPh Pasal 23 adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas modal, penyerahan jasa, atau hadiah
dan penghargaan, selain yang telah dipotong PPh Pasal 21.
 PPh Pasal 4 ayat (2) atau juga disebut PPh Final adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas
beberapa jenis penghasilan yang didapatkan dan pemotongan pajaknya bersifat final serta tidak
dapat dikreditkan dengan pajak penghasilan terutang.
 PPh Final ini berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2018 tentang Pajak
Penghasilan Atas Penghasilan dari Usaha yang Diterima atau Diperoleh Wajib Pajak yang Memiliki
Peredaran Bruto Tertentu.
 PPh Pasal 15 adalah pajak penghasilan yang dikenakan atau dipungut dari wajib pajak yang bergerak
pada industri-industri tertentu yang ditetapkan dalam UU PPh.
 PPh Pasal 19
Dalam UU PPh No. 36/2008, pada Pasal 19 disebutkan:
1. Menteri Keuangan berwenang menetapkan peraturan tentang penilaian kembali aktiva dan faktor
penyesuaian apabila terjadi ketidaksesuaian antara unsur-unsur biaya dengan penghasilan karena
perkembangan harga.
2. Atas selisih penilaian kembali aktiva sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diterapkan tarif pajak
tersendiri dengan Peraturan Menteri Keuangan sepanjang tidak melebihi tarif pajak tertinggi
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1).
 PPh Pasal 24 adalah pajak yang dibayar atau terutang di luar negeri atas penghasilan dari luar negeri
yang diterima atau diperoleh wajib pajak dalam negeri, di mana pembayaran pajaknya bisa
dikreditkan.
 PPh Pasal 25 adalah pajak yang dibayar secara angsuran setiap bulannya dalam tahun pajak berjalan
dengan tujuan untuk meringankan beban wajib pajak, mengingat pajak yang terutang harus dilunasi
dalam waktu satu tahun.
 Pajak penghasilan pasal 26 adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas penghasilan yang diterima
wajib pajak luar negeri dari Indonesia selain BUT dari pemerintah, subjek pajak dalam negeri,
penyelenggara kegiatan, dan perwakilan perusahaan luar negeri
– PPh Pasal 29 adalah pajak penghasilan atau PPh Kurang Bayar yang tercantum dalam SPT Tahunan
PPh, yaitu sisa dari PPh yang terutang dalam tahun pajak yang bersangkutan dikurangi dengan kredit
PPh (jenis PPh Pasal 21, 22, 23, dan 24) dan PPh Pasal 25.
– PPh Pasal 21/26 adalah pajak atas penghasilan berupa gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan
pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apa pun sehubungan dengan pekerjaan atau
jabatan, jasa dan kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri dan subjek
pajak luar negeri.
PPN dan PPnBM
– Definisi PPN
PPN merupakan pajak yang dikenakan terhadap pertambahan nilai yang muncul karena pemakaian faktorfaktor produksi oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP) yang menyiapkan, menghasilkan dan memperdagangkan
Barang Kena Pajak (BKP) dan Jasa Kena Pajak (JKP).
– Karakteristik PPN
1.
Merupakan pajak tidak langsung
2.
Merupakan pungutan yang sifatnya objektif
3.
Multi stage tax
4.
Dihitung dengan metode indirect substraction
5.
Merupakan pajak atas konsumsi umum dalam negeri
6.
Bersifat netral
7.
Tidak menimbulkan pajak berganda
– Definisi PPnBM
PPnBM merupakan pajak yang dikenakan pada barang yang masuk golongan barang mewah.
Pengenaan PPnBM dibebankan pada produsen atau PKP yang menghasilkan atau mengimpor barang
mewah.
– Karakteristik PPnBm
1.
Merupakan pungutan tambahan
2.
Hanya dikenakan satu kali
3.
Tidak dapat dikreditkan
4.
Jika diekspor, PPnBM yang dibayar pada saat perolehan dapat diminta kembali.
– Perbedaan PPN dan PPnBM
1. Jenis pungutan. Pada PPN, jenis pungutan yang dibebankan adalah pungutan atas nilai tambah
barang. Sementara, PPnBM merupakan pungutan tambahan yang dikenakan selain PPN kepada
barang yang sifatnya mewah.
2. Pengenaan Pajak. PPN dikenakan di setiap mata rantai jalur produksi maupun jalur distribusi,
mulai dari tingkat pabrikan, tingkat pedagang besar hingga tingkat pedagang pengecer.
Sementara, PPnBM hanya dikenakan satu kali, yakni saat impor atau saat penyerahan BKP di
dalam negeri oleh pabrikan yang menghasilkannya.
3. Pengkreditan. PPN dapat dikreditkan melalui mekanisme pajak masukan dan pajak keluaran.
Sementara, PPnBM tidak dapat dikreditkan dengan PPN atau PPnBM lainnya.
PBB
– Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) adalah pungutan atas tanah dan bangunan yang muncul karena
adanya keuntungan dan/atau kedudukan sosial ekonomi bagi seseorang atau badan yang memiliki
suatu hak atasnya atau memperoleh manfaat darinya.
– Undang-Undang yang mengatur PBB :
1. UU No. 12 Tahun 1994 tentang Perubahan Atas UU No. 12 tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan
Bangunan mengatur semua tentang pungutan atas Pajak Bumi dan Bangunan
2. UU No. 28 tahun 2009 tentang Pajak dan Retribusi Daerah membahas kewenangan dalam
pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pedesaan dan Perkotaan (PBB P2) yang telah
diserahkan ke pemerintah kabupaten atau kota.
3. Undang-undang yang sama mengatur Pajak Bumi dan Bangunan sektor Pertambangan,
Perhutanan dan Perkebunan (PBB P3) di bawah wewenang pemerintah pusat melalui Direktorat
Jenderal Pajak (DJP)
Pajak Daerah
– Pajak Daerah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang terutang oleh orang pribadi atau badan
yang bersifat memaksa berdasarkan undang-undang dengan tidak mendapatkan imbalan secara
langsung dan digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
– Ciri-Ciri Pajak Daerah :
1. Pajak daerah bisa berasal dari pajak asli daerah atau pajak pusat yang diserahkan ke daerah
sebagai pajak daerah.
2. Pajak daerah hanya dipungut di wilayah administrasi yang dikuasainya.
3. Pajak daerah digunakan untuk membiayai urusan/pengeluaran untuk pembangunan dan
pemerintahan daerah.
4. Pajak daerah dipungut berdasarkan Peraturan Daerah (PERDA) dan Undang-undang sehingga
pajaknya dapat dipaksakan kepada subjek pajaknya.
– Jenis –Jenis Pajak Daerah :
 Pajak Provinsi
1.
Pajak Kendaraan Bermotor dan Kendaraan di Atas Air
2.
Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB)
3.
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBB-KB)
4.
Pajak Pengambilan dan Pemanfaatan Air Bawah Tanah
5.
Pajak Rokok
 Pajak Kabupaten/Kota
1.
Pajak hotel
2.
Pajak restoran
3.
Pajak hiburan
4.
Pajak reklame
5.
Pajak penerangan jalan
6.
Pajak parkir
Retribusi Daerah
– Retribusi daerah merupakan pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu
yang khusus disediakan dan/atau diberikan oleh Pemerintah Daerah untuk kepentingan pribadi atau
badan.
– Jenis-jenis Retribusi daerah :
 Retribusi Jasa Umum merupakan pungutan atas pelayanan yang disediakan atau diberikan pemerintah
daerah untuk tujuan kepentingan dan kemanfaatan umum serta dapat dinikmati oleh orang pribadi atau
badan.
 Retribusi Jasa Usaha merupakan pungutan atas pelayanan yang disediakan oleh Pemerintah Daerah
dengan menganut prinsip komersial, baik itu pelayanan dengan menggunakan/memanfaatkan kekayaan
daerah yang belum dimanfaatkan secara optimal dan/atau pelayanan oleh pemerintah daerah
sepanjang belum dapat disediakan secara memadai oleh pihak swasta.
 Retribusi Perizinan Tertentu merupakan pungutan atas pelayanan perizinan tertentu oleh pemerintah
daerah kepada pribadi atau badan yang dimaksudkan untuk pengaturan dan pengawasan atas kegiatan
pemanfaatan ruang, penggunaan sumber daya alam, barang, sarana, atau fasilitas tertentu guna
melindungi kepentingan umum dan menjaga kelestarian lingkungan.
Retribusi daerah
Pajak daerah
Payung Hukum
Peraturan Pemerintah, Peraturan
Menteri atau pejabat negara yang
lebih rendah.
Undang-Undang No. 6 Tahun 1983
tentang Ketentuan Umum dan Tata
Cara Perpajakan, Undang-Undang
No. 7 Tahun 1983 tentang Pajak
Penghasilan, dan Undang-Undang
No. 8 Tahun 1983 tentang Pajak
Pertambahan Nilai dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah.
Objek
Orang yang menggunakan jasa
pemerintah dan pelayanan umum,
seperti kesehatan, terminal, pasar,
dan lain sebagainya
Penghasilan, barang mewah,
kendaraan, laba perusahaan, dan
lain sebagainya
Balas jasa
Didapatkan secara langsung.
Tidak didapatkan secara langsung.
Lembaga pemungutan
Dipungut hanya oleh Pemerintah
Daerah, dalam hal ini Dinas
Pendapatan Daerah (Dispenda)
Dipungut oleh Pemerintah Pusat
atau Pemerintah Daerah.
Terima Kasih
Download