Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
HUBUNGAN KEKERABATAN FAMILIA POLYPODIACEAE DI JALAN UTAMA
PERKEBUNAN KALIBENDO KABUPATEN BANYUWANGI BERDASAR
MORFOLOGI FROND PADA FASE SPOROFIT
The Phenetic Relationship Among Polypodiaceae Familia Members On The Main Road
Of Kalibendo Plantation Banyuwangi Based On Morphological Frond
In Sporophytes Phase
Ifa Muhimmatin, Firda Maulidiyah, Nur Laila, Nurin Farihah
Program Studi Pendidikan Biologi Universitas 17 Agustus 1945 Banyuwangi
Jl. Adi sucipto No. 26 Banyuwangi Telp. 0333-416440
[email protected]; [email protected]; [email protected];
[email protected]
Abstrak
Tumbuhan paku anggota familia polypodiaceae di perkebunan Kalibendo terdiri dari
banyak jenis, namun pengamatan secara subyektif seringkali sulit membedakan tiap jenis
karena anggota familia polypodiaceae mempunyai banyak kesamaan. Usaha agar tiap jenis
dapat dilihat secara obyektif ialah dengan mendeskripsikan ciri morfologi frond dan
membandingkannya. Frond pada tumbuhan paku di fase sporofit merupakan bagian yang
dominan dan mudah diamati. Tujuan penelitian ini ialah mengetahui hubungan
kekerabatan beberapa anggota familia polypodiaceae di Perkebunan Kalibendo kabupaten
Banyuwangi berdasar morfologi frond pada fase sporofit.
Penelitian dilaksanakan dengan menjelajah kawasan tepi jalan utama Perkebunan
Kalibendo, Banyuwangi untuk menginventarisir seluruh spesies tumbuhan paku yang
tergolong dalam familia polypodiaceae. Karakter tumbuhan paku yang dideskripsi ialah
morfologi frond pada fase sporofit. Data hasil karakterisasi dianalisis berdasarkan analisis
cluster (Hierarchical Cluster Analysis) menggunakan program SPSS 16 dan metode
WPGMA (Weighted Pair Group Method with Arithmetic Mean).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa di perkebunan Kalibendo terdapat 11 jenis anggota
familia polypodiaceae, yang terbagi dalam 6 genus. Seluruh jenis tersebut hidup di
lingkungan dengan pH tanah 5,8 - 6; kelembaban tanah 1 – 3,5; ketinggian 527 m – 600 m
dpl; suhu 27o – 29,5oC; dan intensitas cahaya 110 – 534 x100 LUX pada siang hari. Hasil
deskripsi terhadap 38 ciri morfologi frond didapat fenogram yang menunjukkan bahwa
tumbuhan F (Adiantum diaphanum) dengan tumbuhan G (Adiantum raddianum)
mempunyai hubungan kekerabatan tertinggi dengan persentase ketidaksamaan 10,5%
namun mempunyai persentase ketidaksamaan terbesar yaitu 39,6% terhadap seluruh
tumbuhan lain.
Kata Kunci: hubungan kekerabatan, polypodiaceae, morfologi frond, Kalibendo
Abstract
Polypodiaceae family member consist of many species, but subjective observations often
blur the distinction between species because each member of polypodiaceae have a lot in
common. The distinction between species can be viewed objectively by describing and
comparing the frond morphological characteristics. Frond in sporophyte phase was a
dominant part and easily observed. The purpose of this study was to determine the phenetic
relationship among Polypodiaceae family members on the main road of Kalibendo
plantation Banyuwangi based on morphological frond in sporophytes phase. This study
was conducted by exploring along the edge of the main road of Kalibendo Plantation,
Banyuwangi to invent all fern species that become member of Polypodiaceae family. Fern
characteristics described based on morphological frond in sporophytes phase. The results
819
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
are analyzed based on Hierarchical Cluster Analysis using SPSS 16 program and WPGMA
(Weighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) method. The results showed that
there are 11 fern species of polypodiaceae family member were found from 6 genus. All
fern spesies living in pH from 5.8 to 6; soil moisture 1 to 3.5; 527 m - 600 m above sea
level; temperature 27° - 29.5°C; and the light intensity 110-534x100 LUX at noon. The
results of 38 morphological frond description obtained phenogram that indicates that
Adiantum diaphanum and Adiantum raddianum has the highest percentage of relationship
with dissimilarity only 10,5%; but had the larger dissimilarity (39,6%) toward all other
fern.
Key words: phenetic relationship, polypodiaceae, frond morphology, Kalibendo
PENDAHULUAN
Perkebunan Kalibendo merupakan perkebunan kopi, karet, dan cengkeh yang
terdapat di Desa Kampunganyar Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi. Perkebunan
seluas 822,96 Ha tersebut mempunyai ketinggian antara 500 hingga 825 meter di atas
permukaan laut dengan topografi datar hingga berombak, dan iklim tipe B dalam skala
Schmidt-Ferguson (daerah basah, hujan tropis). Perpaduan antara topografi, ketinggian,
dan iklim di perkebunan Kalibendo akhirnya mempengaruhi jenis vegetasi yang tumbuh.
Victoria et, al., (2012) menyatakan bahwa keragaman spesies tumbuhan paku dipengaruhi
oleh suhu rendah, kelembapan tinggi, dan area yang sedikit terjamah. Area tepi jalan utama
di Perkebunan kalibendo merupakan salah satu area yang tidak dialihfungsikan menjadi
area penanaman, sehingga area ini menjadi tempat ideal tumbuhnya berbagai jenis
tumbuhan paku dari suku polypodiaceae.
Polypodiaceae merupakan nama takson pada tingkat suku (familia) yang
merupakan salah satu familia tumbuhan paku terbesar dan mempunyai habitat di daerah
tropis (Chiou dan Farrar, 1997). Eames (1936) mengatakan bahwa dari semua tumbuhan
paku yang hidup, sebagian besar adalah anggota Polypodiaceae, sehingga Polypodiaceae
adalah suatu suku yang disebut sebagai paku-pakuan umum.
Dalam klasifikasi tumbuhan, batasan anggota dari suku Polypodiaceae belum jelas
karena terdapat perbedaan pendapat diantara ahli taksonomi. Perbedaan pendapat tersebut
akibat dasar klasifikasi dan pemilihan ciri taksonomi yang berbeda-beda. Suatu organisme
yang sama, dengan pemilihan sifat atau ciri taksonomi yang berbeda dapat menghasilkan
versi klasifikasi yang berbeda. Sehingga organisme yang mana saja yang termasuk anggota
suatu kelompok adalah tergantung pada dasar yang digunakan untuk mengelompokan
(Ariyanto, 2014).
Christensei dalam Ariyanto (2014) mengelompokan jenis-jenis anggota suku
Polypodiaceae ke dalam 15 subfamilia. Pengelompokan ini menggunakan karakter
morfologi seperti letak sori pada daun, bentuk sporangium, bentuk spora, morfologi
rhizom, dan pertulangan daun. Ilmuwan lain seperti Smith et, al., (2006) yang
menggunakan pendekatan molekuler menyatakan bahwa familia Polypodiaceae terdiri dari
35-40 genus dengan 600 spesies. Beberapa faktor yang dijadikan dasar klasifikasi
Polypodiaceae oleh para ahli taksonomi secara umum adalah morfologi sporofit, jumlah
kromosom, gametofit, dan gametangia. Morfologi sporofit meliputi perawakan, rhizoma,
petiola, susunan daun, dan spora (Crabe et, al., 1973).
820
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
Penelitian telah banyak dilakukan untuk mengungkap hubungan kekerabatan
anggota familia polypodiaceae berdasar jumlah kromosom, morfologi spora (Sunanda &
Pal, 1970), maupun gametofitnya. Hubungan kekerabatan ialah sistem pengklasifikasian
berdasar deskripsi karakter-karakter tertentu yang mirip untuk menunjukkan hubungan
(Rincon et, al., 1996). Dalam hubungan kekerabatan, sebaiknya karakter yang
dideskripsikan ialah karakter yang mempresentasikan seluruh daur hidup organisme
tersebut, namun penelitian ini hanya meneliti kekerabatan anggota famili polypodiaceae
berdasar morfologi frond pada fase sporofit. Morfologi frond pada fase sporofit dipilih
untuk dijadikan karakter pembeda karena frond pada tumbuhan paku di fase sporofit
merupakan bagian yang dominan dan mudah diamati oleh pebelajar.
Frond sebenarnya merupakan bagian tumbuhan paku yang biasa disebut daun.
Frond terdiri dari petiole atau tangkai daun; dan blade atau bagian yang melebar seperti
lembaran daun (Stensvold, 2010). Menurut Negi, et, al., (2009), anggota familia
polypodiaceae mempunyai ciri frond isomorphic maupun dimorphic, lamina tunggal atau
majemuk, tepi lamina dapat lurus atau bergelombang, urat daun bebas atau reticulate, dan
sori terdapat pada bagian bawah lamina. Pemilihan frond sebagai subyek karakterisasi dan
hubungan kekerabatan antar anggota kelompok polypodiaceae ini diharapkan dapat
mempermudah pebelajar untuk mempelajari anggota familia polypodiaceae yang hidup di
Perkebunan Kalibendo.
METODE PENELITIAN
Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari hingga Februari 2016. Penelitian untuk
menginventarisir jenis tumbuhan paku familia polypodiaceae dilaksanakan dengan metode
jelajah di sepanjang jalan utama perkebunan kalibendo, kabupaten Banyuwangi. Penentuan
genus dari tumbuhan paku yang ditemukan yaitu melakukan determinasi menurut Steenis
(2003) dan Tjitrosoepomo (1989). Faktor fisik lingkungan diukur dengan menggunakan
GPS, termometer, soiltester, dan luxmeter.
Tumbuhan paku yang ditemukan kemudian dideskripsi berdasar karakter morfologi
frond pada fase sporofit. Karakter morfologi frond yang dideskripsi meliputi warna,
tekstur, bentuk, dan ukuran frond. Hasil deskripsi morfologi frond dibuat skoring untuk
kemudian dianalisis berdasarkan analisis cluster (Hierarchical Cluster Analysis)
menggunakan metode numerik pada program SPSS 16; kemudian diolah menggunakan
metode WPGMA (Weighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) untuk
menghasilkan phenogram hubungan kekerabatan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil dari proses jelajah di sepanjang jalan utama perkebunan Kalibendo,
ditemukan 11 jenis tumbuhan paku familia polypodiaceae yang terbagi dalam 6 genus.
Genus tersebut antara lain Nephrolepis (3 jenis), Pteris (3 jenis), Blechnum (1 jenis),
Pityrogramma (1 jenis), Adiantum (2 jenis), dan Davallia (1 jenis). Tumbuhan paku familia
polypodiaceae tersebut ditemukan pada daerah yang terbuka hingga terlindung pada
ketinggian antara 527 m hingga 600 m dpl, dengan pH tanah dari 5,8 hingga 6; dan
kelembapan tanah dari 1 hingga 3,5. Pada siang hari, area jalan perkebunan Kalibendo
mempunyai suhu antara 27o hingga 29,5o C; dengan intensitas cahaya 110 hingga 534x100
821
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
LUX. Victoria et, al., (2012) menyatakan bahwa kondisi fisik lingkungan yang mendukung
tumbuhnya keragaman jenis tumbuhan paku ialah suhu rendah, kelembapan tinggi, dan
area yang sedikit terjamah.
Tumbuhan paku yang berhasil didapat kemudian diidentifikasi bagian morfologi
frondnya untuk menentukan hubungan kekerabatan antar jenisnya. Morfologi frond pada
fase sporofit dipilih untuk dijadikan karakter pembeda karena frond pada tumbuhan paku
di fase sporofit merupakan bagian yang dominan dan mudah diamati oleh pebelajar.
Karakter morfologi frond yang dideskripsi meliputi warna, tekstur, bentuk, dan ukuran
frond, seperti pada Tabel 1 berikut.
Tabel 1. Deskripsi Frond pada Tumbuhan Paku yang Ditemukan
Kode Nama Tumbuhan
Deskripsi Frond
Tumb
.
A
Nephrolepis hirsutula
Tumbuhan ini memiliki daun majemuk, anak
daunnya duduk saling berhadapan. Bangun anak
daunnya memanjang dengan pangkal membulat,
ujung meruncing, tepi rata. Warna daun muda
ialah hijau dan daun yang sudah tua berwarna
hijau tua. Permukaan daun licin berambut,
tangkai daun memiliki trikoma, warna tangkai
daunnya berwarna hijau tua. Letak sorusnya
ditepi dan bentuknya seperti bangun ginjal.
B
Pteris vittata
Tumbuhan ini berdaun majemuk dan duduk anak
daun saling berhadapan. Bangun daun
memanjang, pangkalnya membulat, ujungnya
meruncing. Tepi daun rata dengan warna daun
hijau muda dan permukaann licin. Pemukaan
tangkai daun memiliki trikoma dengan warna
tangkai cokelat. Letak sorusnya berada di tepi
daun.
C
Pteris longifolia
Tumbuhan ini merupakan tumbuhan berdaun
majemuk dengan duduk anak daun saling
berhadapan.
Bangunnya
belah
ketupat,
pangkalnya tumpul, ujungnya runcing, dengan
tepi daun rata. Warna daun hijau tua dengan
permukaannya kasap, permukaan tangkai
daunnya memiliki trikoma, warna tangkai daun
coklat. Sorus berada di tepi.
822
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
D
Pityrogramma
calomelanos
E
Nephrolepis exaltata
F
Adiantum diaphanum
G
Adiantum raddianum
H
Davallia denticulata
I
Nephrolepis biserrata
J
Pteris ensiformis
K
Blechnum orientale
Tumbuhan ini berdaun majemuk dengan duduk
anak daun berhadapan. Bangunnya memanjang,
pangkal daunnya membulat, ujung meruncing,
tepi bercangap, warna hijau muda. Permukaan
daun licin, permukaan tangkai daun kasar
berwarna cokelat, letak shorus menyebar.
Tumbuhan ini berdaun majemuk dengan duduk
anak daun saling berhadapan, bangunnya bulat
telur dengan pangkal membulat. Ujung
meruncing, tepi beringgit, warna hijau tua.
Permukaan daunnya licin sedangkan permukaan
tangkainya kasar. Warna tangkai hijau tua, letak
sorus berada di tepi.
Tumbuhan ini duduk anak daunnya berseling.
Bangunnya lanset, pangkalnya tumpul, ujung
runcing, dan tepi beringgit. Warna daun hijau
muda, permukaan daun licin, permukaan tangkai
licin, warna tangkai hitam dan letak sorus berada
di ujung lekukan tepi daun.
Tumbuhan ini berdaun majemuk, duduk anak
daunnya berseling. Bangunnya delta, pangkal
rompang, ujungnya runcing, tepi beringgit dan
warna hijau muda. Permukaan daun licin,
permukaan tangkai licin, warna tangkai daun
hitam dan sorusnya terletak pada ujung lekukan
tepi daun.
Tumbuhan ini berdaun majemuk dan duduk anak
daunnya berseling. Bangunnya segitiga, pangkal
daun rompang, ujung daun meruncing, tepi daun
bercangap, warna daun hijau. Permukaan daun
licin, permukaan tangkai daun licin, warna
tangkai daun cokelat tua dan sorusnya terletak
ditepi.
Tumbuhan ini berdaun majemuk dan duduknya
saling berhadapan, bangunnya jorong, pangkal
daun membulat, ujungnya tumpul, tepinya
berombak warna hijau. Permukaan daun licin,
permukaan tangkai memiliki trikoma, warna
tangkai daun coklat tua, sorus di tepi daun
Tumbuhan ini berdaun majemuk dengan duduk
anak daun berhadapan, bangun daun jantung,
pangkalnya berlekuk, ujung meruncing, tepinya
bergerigi halus, warna daunnya hijau dengan
permukaan daun licin. Permukaan tangkai
daunnya licin, warna tangkainya coklat dan letak
sorusnya menyebar
Tumbuhan ini berdaun majemuk dengan duduk
daun berseling, bangunnya delta, pangkal
rompang,
ujungnya
meruncing,
tepinya
meruncing, warna hijau tua. Permukaan daun
823
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
licin, permukaan tangkai daunnya trikoma,
warna tangkai daun coklat dan letak sorusnya
menyebar
Hasil deskripsi frond pada fase sporofit kemudian dijadikan dasar untuk
menentukan tingkat kemiripan antar tumbuhan. Perhitungan hasil kemiripan atau indeks
similaritas dilakukan dengan menggunakan aplikasi SPSS versi 16 dengan rumus Simple
Matching Coeficient. Adapun tahapan analisa hubungan kekerabatan sebagai berikut: (1)
skoring hasil pengamatan 38 karakter menggunakan skor 1 dan 0; (2) memasukkan data
skoring dalam aplikasi SPSS. Hasil pengukuran kemiripan diperoleh dalam bentuk
similarity matrix, namun kami ubah menjadi dissimilarity matrix dan data tersebut tersaji
dalam Tabel 2.
Tabel 2. Dissimilarity Matrix (Matriks Ketidaksamaan)
A
B
C
D
E
F
G
0
A
18.42 0
B
26.32 21.05 0
C
31.58 26.32 42.11 0
D
26.32 18.42 36.84 26.32 0
E
50
39.47 39.47 39.47 39.47 0
F
39.47 34.37 39.47 39.47 10.53 0
G 50
H 42.11 47.37 47.37 36.84 36.84 39.47 21.05
31.58 31.58 36.84 36.84 31.58 44.74 44.74
I
31.58 42.11 42.11 36.84 31.58 39.47 39.47
J
K 28.95 34.21 28.95 28.95 34.21 42.11 31.58
H
0
31.58
26.32
28.95
I
0
31.58
39.47
J
0
39.47
K
0
Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai similaritas tertinggi terdapat pada hubungan
kekerabatan antara F dengan G, yang ditunjukkan oleh angka ketidaksamaan yang paling
kecil yaitu 10,53%. Sedangkan nilai similaritas terendah terdapat pada hubungan
kekerabatan antara A dengan F dan G, yakni dengan angka ketidaksamaan terbesar 50%.
Sokal dan Sneath (dalam Fatimah, 2013) menyatakan bahwa semakin banyak persamaan
karakter yang dimiliki maka semakin besar nilai similaritasnya, berarti semakin dekat
hubungan kekerabatannya diantara kelompok OTUs (karakter yang dipilih dari tiap jenis)
yang diperbandingkan. Jadi berdasar karakter morfologi frond, anggota familia
polypodiaceae yang dikarakterisasi tersebut menunjukkan kesamaan yang tinggi antar
jenisnya, yakni antara 50% hingga 89,47%.
Selanjutnya matriks ketidaksamaan diolah menggunakan metode WPGMA
(Weighted Pair Group Method with Arithmetic Mean) yang dirumuskan oleh Sokal &
Michener (1958) untuk menghasilkan phenogram hubungan kekerabatan. Hasil Phenogram
hubungan kekerabatan jenis tumbuhan paku tersaji pada Gambar 1.
Gambar 1 merupakan phenogram yang menunjukkan bahwa dari seluruh anggota
familia polypodiaceae yang ditemukan di perkebunan Kalibendo, jenis yang berkerabat
824
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
paling dekat berdasar karakter morfologi frond ialah tumbuhan F (Adiantum diaphanum)
dengan tumbuhan G (Adiantum raddianum) dengan persentase ketidaksamaan hanya
10,5%. Kedua tumbuhan ini tergabung dalam genus yang sama, yaitu dalam genus
Adiantum sehingga kedua tumbuhan tersebut mempunyai morfologi frond mirip dari segi
warna, ukuran, tekstur, dan letak sorus; sedang perbedaannya ialah terletak pada bentuk
frondnya. Kedua tumbuhan Adiantum yang ditemukan tersebut memang mempunyai
kekerabatan paling dekat, namun mempunyai ketidaksamaan sebesar 39,6% terhadap
seluruh tumbuhan lain, sehingga dapat dikatakan kedua jenis ini mempunyai kekerabatan
paling jauh terhadap seluruh jenis tumbuhan lain.
Gambar 1. Phenogram Hubungan Kekerabatan Jenis Tumbuhan Paku
Tumbuhan lain yang mempunyai hubungan kekerabatan dekat ialah tumbuhan A,
E, dan B dengan persentase ketidaksamaan sebesar 18,4%. Tumbuhan A dan E merupakan
tumbuhan yang berasal dari satu genus yaitu genus Nephrolepis, sedang B merupakan
tumbuhan dari genus Pteris. Ketiga tumbuhan tersebut kemudian mempunyai persentase
ketidaksamaan sebesar 28,1% dengan tumbuhan C (tumbuhan genus Pteris). Tumbuhan
lain yang mempunyai hubungan kekerabatan dekat ialah tumbuhan H dan J dengan
persentase ketidaksamaan 26,3%; kemudian kedua tumbuhan tersebut mempunyai
persentase ketidaksamaan sebesar 31,6% terhadap tumbuhan I.
Hubungan kekerabatan yang ditampilkan pada Gambar 1 menunjukkan bahwa
tumbuhan yang secara taksonomi dinyatakan dekat, misal satu genus; ternyata tidak selalu
mempunyai hubungan kekerabatan yang dekat jika dilihat berdasar karakter morfologi
frondnya. Hal ini karena untuk menentukan takson tertentu dari suatu tumbuhan,
825
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
diperlukan karakterisasi dari berbagai sudut pandang ciri, baik pada fase sporofit maupun
pada fase gametofit. Ariyanto (2014) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa tipe
stomata tidak dapat dijadikan dasar klasifikasi Polypodiaceae pada tingkat subfamilia,
genus, maupun pada tingkat jenis. Namun meski demikian, studi hubungan kekerabatan
familia polypodiaceae di perkebunan Kalibendo berdasar karakter morfologi frond pada
fase sporofit dapat dilakukan sebagai latihan dalam proses pembelajaran.
PENUTUP
Hasil dari proses jelajah di sepanjang jalan utama perkebunan Kalibendo,
ditemukan 11 jenis tumbuhan paku familia polypodiaceae yang terbagi dalam 6 genus.
Tumbuhan paku tersebut ditemukan pada daerah yang terdedah maupun terlindung, suhu
rendah, kelembapan tinggi, dan area yang sedikit terjamah.
Phenogram yang dihasilkan dari hasil karakterisasi morfologi frond menunjukkan
bahwa jenis tumbuhan yang berkerabat paling dekat ialah tumbuhan F (Adiantum
diaphanum) dengan tumbuhan G (Adiantum raddianum) dengan persentase ketidaksamaan
hanya 10,5%. Tumbuhan lain yang mempunyai hubungan kekerabatan dekat ialah
tumbuhan A, E, dan B dengan persentase ketidaksamaan 18,4%. Ketiga tumbuhan tersebut
kemudian mempunyai persentase ketidaksamaan sebesar 28,1% terhadap tumbuhan C.
Tumbuhan lain yang mempunyai hubungan kekerabatan dekat ialah tumbuhan H dan J
dengan persentase ketidaksamaan 26,3%; dimana kedua tumbuhan tersebut mempunyai
persentase ketidaksamaan 31,6% terhadap tumbuhan I.
Penelitian ini menunjukkan bahwa karakterisasi morfologi frond tidak dapat
digunakan untuk mengetahui dasar klasifikasi, namun studi hubungan kekerabatan familia
polypodiaceae di perkebunan Kalibendo berdasar karakter morfologi frond pada fase
sporofit dapat digunakan sebagai latihan dalam proses pembelajaran. Penelitian lebih lanjut
diharapkan dapat meneliti hubungan kekerabatan anggota familia polypodiaceae berdasar
karakter yang lebih kompleks, baik pada fase sporofit maupun pada fase gametofitnya.
DAFTAR PUSTAKA
Ariyanto, J. 2014. Taksonomi Polypodiaceae Ditinjau dari Type Stomata. Prosiding
Seminar Nasional XI Pendidikan Biologi FKIP UNS. Tema: Biologi, Sains,
Lingkungan, dan Pembelajarannya (hal. 189-194).
Chiou, W. L. & Farrar, DR. 1997. Antheridiogen Production and Response in
Polypodiaceae Species. American Journal of Botany, 84 (5): 633-640.
Crabe, J. A., Jermy, A. C. and Thomas, R. A. 1973. The Phylogeni and Classification of
Ferns. London: Academic Press Linnean Society.
Earnes, A. J. 1936. Morphology of Vascular Plants: Lower Groups. London: Mc. Grawhill Publications inc.
Fatimah, S. 2013. Analisis Morfologi dan Hubungan Kekerabatan Sebelas Jenis Tanaman
Salak (Salacca Zalacca (Gertner) Voss Bangkalan. Jurnal Agrovigor, 6 (1): 1-15.
Negi, S., Lalit M.T,, Pangtey, Y.P.S., Kumar, S., Martolia, A., Jalal, J; Upreti, K. 2009.
Taxonomic Studies On The Family Polypodiaceae (Pteridophyta) Of Nainital
Uttarakhand. New York Science Journal, 2 (5) 47-83.
Rincon, F., Johnson, BJ., Crossa, S. T. 1996. Cluster analysis, an approach to sampling
826
Prosiding Seminar Nasional II Tahun 2016,
Kerjasama Prodi Pendidikan Biologi FKIP dengan Pusat Studi Lingkungan dan
Kependudukan (PSLK) Universitas Muhammadiyah Malang
Malang, 26 Maret 2016
variability in maize accessions. Maydica Journal, 41 (1): 307-316.
Smith, A.R., Pryer, K.M., Schuettpelz, E., Korall, P., Schneider, H., Wolf, P.G. 2006. A
Classification for Extant Fern. Journal of Taxon. 55(3): 705-731.
Stensvold, M. 2010. Ferns of the National Forests in Alaska. United States Department of
Agriculture, (online) (http://www.fs.fed.us/wildflowers/regions/alaska/index. html/,
diakses tanggal 13 Februari 2016).
Steenis, CGGJ Van. 2003. Flora Untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta: Pradnya Paramita.
Sunanda Pal & N. Pal.1970. Spore Morphology and Taxonomy of Polypodiaceae. Journal
of Grana, 10 (2), 141-148. DOI: 10.1080/00173137009427394.
Tjitrosoepomo, G. 1989. Taksonomi Tumbuhan (Schyzophyta, Thallophyta, Bryophyta,
Pteridophyta). Yogyakarta: GMU Press.
Verdoorn, F.R. 1938. Manual Pteridophyta. The Hague Mortinus Nijhoff. 8 (2): 20-21.
Victoria L.M., Catapang, Joanne P.D., Reyes; Medecilo, M.P. 2012. Factors Influencing
Species Diversity of Ferns in Mt. Makulot, Cuenca, Southern Luzon, Philippines.
Proceeding 2nd International Conference on Environment and Industrial
Innovation IPCBEE, 35 IACSIT Press, Singapore.
827
Download

819 hubungan kekerabatan familia