Uploaded by uzumakiojos

6. Fenomena Cocokologi di Kalangan Dai-Dai

advertisement
Nabi Pun Izinkan Salib Menancap Sementara di Masjid Nabawi, Ini Kafir
Bukan?
Abdul Aziz
Ketika bekerja di suatu instansi pendidikan yang diisi oleh orang-orang yang
menurut saya sangat “islami” ditahun 2012-an, saya sempat dituduh sebagai
pengikut Dajjal oleh seorang kolega. Tuduhan ini serius. Saya kaget bercampur lucu.
Alasannya sepele: cocokologi.
Saat itu saya sedang membawa buku French for Reading karya Karl C Sandberg dan
Eddison T Tatham. Kebetulan di sampul depan bagian pojok kiri atas buku ini, ada
gambar berbentuk mata satu, dengan bola mata berwarna merah. “Ini simbol Dajjal
Pak,” kata teman saya itu. “Bisa murtad kalau terus-terusan pakai buku ini,” jelasnya
dengan raut muka yang cukup serius. Saya hanya senyum tersungging menanggapi
komentar seperti itu. Gak mau berdebat. Bisa panjang urusannya. Dan akhirnya,
sejak saat itu, saya tidak pernah bawa buku itu lagi ke tempat kerja.
Beberapa lama kemudian, saya dituduh lagi dengan tuduhan serupa, saya bisa jadi
pengikut Dajjal katanya. Alasannya, teman saya ini sering lihat saya nonton film
Naruto. Gubrak…!!!!
Di serial Naruto, seperti yang kita tahu, memang ada mata Sharingan dan Rinnegan.
Itu simbol Dajjal menurut teman saya ini. Selain itu, pada mata Sharingan itu, kita
juga temukan gabungan segitiga yang menjulang ke atas dan ke bawah. “Simbol
orang Yahudi itu Pak,” ujar teman saya. “Sebagai seorang muslim, saya hanya
mengingatkan Pak Aziz saja, tahdzir kalau meminjam bahasa Ustadz saya, itu film
memakai simbol-simbol iluminati Yahudi, alias pengikut Dajjal Pak, kita jangan ikutikut mereka nanti kita dikategorikan sama kaya mereka, naudzu billah,” begitu
jelasnya panjang lebar sambil ngutip kata Ustadz ini itu yang paham simbol-simbol.
Dan satu lagi, ini yang bikin ngeselin, burung Garuda Pancasila yang menjadi simbol
negara kita ini, kata teman saya itu, “itu berhala, Pak Aziz.” Gubrak lagi dah!!!
Beberapa tahun kemudian, ada teman saya yang kuliah di Belanda pernah
mengirimkan cuplikan video yang menampilkan ceramah seorang Ustadz, saya sebut
saja nama Ustadz itu ya, Ustadz Rahmat Baequni, isinya ceramah tentang simbolsimbol. Katanya kita harus hati-hati pada simbol mata, simbol api dan simbol
segitiga. Simbol mata itu warisan agama-agama pagan mesir kuno, simbol api itu
warisan agama Majusi, dan simbol segitiga itu warisan agama Yahudi. “Mari kita
bersyahadat lagi,” kata Ustadz itu yang seolah kalau kita memakai simbol ini atau
melihatnya akan membuat kita jadi murtad.
Ada lagi, seorang Ustadz yang saat ini sedang melejit namanya, Ustadz Abdus
Somad, menyarankan agar lambang Palang Merah yang ada di ambulans-ambulans
itu diganti dengan lambang bulan sabit. Palang Merah itu simbol Kristen katanya
sedangkan bulan sabit itu simbol Islam. Hadeuuuh, ribet amat yak!!!
Mungkin kalau kasusnya Ustadz Rahmat Baequni, saya wajari saja. Sepengamatan
saya, pengetahuan Ustadz ini sangat jauh levelnya di bawah Ustadz Abdus Somad,
terutama soal hadis, ya walaupun kedua ustadz ini, secara akademik lahir di
komunitas yang ada kaitannya dengan hadis: Rahmat Baequni lulusan tafsir Hadis
STAI Demak dan ustadz Abdus Somad juga lulusan hadis al-Azhar dan Maroko.
Ustadz Abdus Somad saya akui memang benar-benar pakar dalam hadis dan
syarahnya. Jadi aneh, Ustadz secerdas dan sealim beliau ini kok corak berpikirnya
sama dengan Ustadz dengan level di bawahnya: soal cocokologi dan soal mencurigai
simbol agama lain sebagai sesuatu yang membahayakan akidah.
Belakangan ada Ustadz lain lagi. Corak pikirnya sama. Ustadz Zainal Abidin
namanya. Ceramah beliau lebih lengkap. Tidak hanya soal simbol, ceramah Ustadz
ini juga menyinggung pemaknaan suatu kata dalam lagu-lagu anak kecil dan
konotasinya dengan hal-hal yang berbau kristenisasi. Hijau dihubungkannya
dengan Islam. Naik-naik ke Puncak Gunung dan Kiri-kanan dihubungkannya
dengan salib dan pohon natal. Intinya, menurut Ustadz ini, ada proses kristenisasi
secara tak sadar melalui lagu-lagu anak kecil.
Dan masih banyak lagi deretan cerita seperti ini. Ujung-ujungnya, kalau diikutin
terus, kita akan murtad, kafir, musyrik dan seterusnya, kalau kita pakai simbolsimbol ini. Konsep-konsep ini, setidaknya menurut pola pikir Ustadz-Ustadz ini,
akan mengganggu tauhid. Padahal mah, kita tidak kepikiran sama sekali untuk ikut
model keberagamaan Yahudi dan Kristen. Mungkin terlalu lebay juga
pemahamannya kayaknya.
Ringkasnya terhadap cara berpikir yang mirip-mirip cocokologi ini, saya hanya ingin
menyampaikan dua hal;
Pertama, hukum sesuatu itu tidak ditentukan oleh nama atau simbol formalisnya.
Hukum itu ditentukan oleh sifat, perbuatan dan keadaan yang dirujuk oleh nama
tersebut. Pembaca yang budiman mungkin bisa merujuk langsung kitab Maqasid asSyari’ah karya Ibnu Asyur dalam bab Nauthul Ahkam as-Syar’iyyah bi-Ma’anin wa
Ausafin La bi Asma wa Asykal (Bab yang menjelaskan bahwa hukum syariat itu
ditentukan oleh sifat, karakter, dan ciri-ciri sesuatu bukan oleh simbol/namanya).
Dalam bab ini, Ibnu Asyur menyarankan bahwa dalam memahami hukum “Kita
tidak boleh mengandalkan nama sesuatu atau bentuk simbolik sesuatu, apalagi nama
dan bentuk simbolik ini tidak ada kaitannya dengan agama. Kalau cara pandang kita
seformalis ini, kita akan terjerumus dalam kekeliruan.”
Saya jelaskan lebih jauh yang dimaksud Ibnu Asyur ini dengan menggunakan
contoh-contoh. Misalnya, kata teman saya, burung Garuda yang menjadi simbol
negara itu berhala dan karenanya sistem negara itu berbasis pada kesyirikan.
Kerangka pandang seperti ini merupakan kekeliruan kalau dibaca lewat kacamata
Ibnu Asyur. Pasalnya, saat ini, unsur kesyirikan yang melekat pada burung Garuda
itu sudah tidak ada sebab Garuda tidak diberhalakan. Kalau kata Cak Nur, sudah
didesakralisasi. Unsur sakralitasnya sudah hilang. Jadi Garuda hanya ornament
belaka, bukan berhala yang dimasukkan nilai-nilai sacral. Malah Garuda ini hanya
sebentuk ornamen yang diisi dengan sesuatu yang tauhid: Ketuhanan Yang Maha
Esa.
Contoh yang lain. Dulu di era Jahiliyyah, menurut Ismail al-Faruqi, Allah itu nama
untuk Dewa Air. Di Era Islam, makna yang diberikan kepada nama Allah ini jadi lain,
yang semuanya terangkum dalam surat al-Ikhlas. Jadi unsur syiriknya dihilangkan
dan diganti dengan makna baru yang sesuai dengan semangat Islam, yakni semangat
mengesakan Tuhan.
Kedua, kalau kita konsisten dengan corak berpikir seperti ini, corak pikir yang serba
melihat simbol ini milik Yahudi, simbol itu milik Kristen dan seterusnya dan karena
itu memakainya akan berarti sudah masuk perangkap Yahudi atau Kristen, tentunya
di dunia ini tidak ada yang tidak kafir. Semuanya serba dapat menjerumuskan ke
kafir, murtad dan musyrik. Bahkan mungkin Kanjeng Nabi dan umat Islam pun bisa
dikafirkan kalau mereka benar-benar konsisten ya dengan corak mengaitkan simbolsimbol agama lain ini sebagai kekufuran.
Apa pasalnya? Dalam Tabaqat Ibnu Sa’ad, Nabi pernah mengizinkan orang Kristen
Najran untuk menancapkan salib dan melakukan kebaktian di masjid Nabawi. Ini
informasi terkenal. Jadi cukup valid. Kalau di zaman sekarang, mungkin tokoh
agama yang membolehkan seperti ini akan dicaci maki habis, kalau perlu dicap kafir.
Dalam perjanjian Nabi dengan Kristen Najran, disebutlah janji Nabi akan membantu
umat Kristen dalam perbaikan dan pembangunan gereja di Najran kalau-kalau
tenaga umat Islam dibutuhkan saat itu. Ini juga fakta sejarah (Baca Nabi Pernah
Bantu Bangun Gereja: Fiktif atau Fakta?).
Kalau kita baca sunnah Nabi yang toleran ini dalam perspektif Somadian,
Baequnian, atau Abidinian, tindakan Nabi ini jelas-jelas ialah kekufuran karena
membantu orang non-Muslim beribadah dengan keyakinan kelirunya. Mengizinkan
masjid jadi gereja sementara di kala dibutuhkan atau bantu bangun gereja yang
rusak yang merupakan sunnah nabi itu akan dilihat oleh Ustadz-Ustadz ini sebagai
kemurtadan dan kalau perlu dikafiran. Jangankan ini semua, lagu naik-naik ke
puncak gunung saja, kata Ustadz Zainal Abidin, bentuk kristenisasi.
Contoh lain lagi. Nabi seperti yang dapat kita temukan dalam beberapa kitab hadis
induk seperti Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim lebih suka mengikuti adat-istiadat
Yahudi-Kristen ketimbang orang Musyrik selagi memang tidak ada wahyu yang
memerintahkan untuk membedakan diri dari adat mereka ini. Contohnya ialah
model rambut. Nabi lebih suka model rambut orang-orang Bani Israel yang suka
membiarkan rambutnya terurai lepas (yasdil sya’rahu) walaupun kemudian nabi
juga ikut tradisi suku Quraisy yang membelah tengah rambutnya. Ini kan kebiasaan
orang Yahudi dan Kristen dan Musyrik. Kalau pakai cara pikir yang suka simbolsimbol model Ustadz-Ustadz ini, ya Nabi berarti sudah sesat dari jalannya. Sebab
beliau ikut budaya mereka, simbol adat istiadat mereka.
Contoh lain lagi. Kalau di atas ialah contoh bagaimana Nabi mengikuti sunnahnya
ahli kitab sepanjang tidak ada wahyu, bagaimana kalau ada wahyu? Dalam Sahih
Bukhari dan Muslim, Nabi pernah bersabda: “Bedakanlah diri kalian dari model
ibadahnya Yahudi dan Kristen. Mereka salat tidak memakai sandal dan sepatu
(khuff).” Di sini, supaya beda dengan Yahudi dan Kristen, umat Islam diperintahkan
Nabi untuk salat dengan sandal dan sepatu agar membedakan diri mereka dengan
Yahudi-Kristen.
Aneh ya! Tapi cerita ini ada hadisnya. Umat Islam sekarang kalau salat di Masjid
atau di rumah pasti tidak memakai sandal. Jadi kalau kita ikuti corak pikirnya
Ustadz Zainal ini, umat Islam semuanya sudah mengikuti Yahudi dan Kristen. Umat
Islam telah murtad karena telah mengalami proses Yahudisasi dan Kristenisasi.
Contoh lain lagi. Jangan-jangan kaum sufi yang mempraktekan zikir nafi-istbat, zikir
la ilaha Illa Allah juga murtad karena gerakannya menyimbolkan bentuk salib: dari
pusar ke kepala (gerak vertikal), dari kepala turun ke sebelah kanan dan dari kanan
menuju ke sebelah kiri (gerak horizontal). Ini mirip salib. Secara detailnya saya
kutipkan proses zikir tahlil ini demikian:
“Bacaan perlahan disertai dengan pengaturan nafas, kalimat La Ilaha Illallah,
yang dibayangkan seperti menggambar jalan (garis) melalui tubuh. Bunyi La
permulaan digambar dari daerah pusar terus ke hati sampai ke ubun-ubun. Bunyi
Ilaha turun ke kanan dan berhenti pada ujung bahu kanan. Di situ, kata
berikutnya, Illa dimulai dengan turun melewati bidang dada, sampai ke jantung,
dan ke arah jantung inilah kata Allah di hujamkan dengan sekuat tenaga. Orang
membayangkan jantung itu mendenyutkan nama Allah dan membara,
memusnahkan segala kotoran.”
Sekali lagi, kalau kita konsisten dengan cocokologi seperti yang dilakukan UstadzUstadz yang saya sebut di atas, zikir dengan gerakan seperti ini menyimbolkan
gambar salib.
Download