Uploaded by tantania1610

Thrombocyte and D-Dimer Level

advertisement
Journal Reading
Hubungan antara Jumlah Trombosit dengan Kadar D-Dimer sebagai
Indikator Terapi pada Anak dengan Demam Berdarah Dengue
Arthi Sridhar, B. M. Sunil Kumar, Aarathi Rau, A. T. K. Rau
Oleh :
Oktania Imas
G99162022/L19
Pembimbing :
Pudjiastuti, dr., Sp.A(K)
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNS / RSUD Dr. MOEWARDI
SURAKARTA
2018
HALAMAN PENGESAHAN
Journal Reading ini disusun untuk memenuhi persyaratan kepaniteraan klinik
Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret / RS Dr
MOEWARDI:
Hari, tanggal:
,
Desember 2018
Disusun Oleh :
Oktania Imas
G99162022/L19
Mengetahui dan menyetujui,
Pembimbing Journal Reading
Pudjiastuti, dr., Sp.A(K)
2
Hubungan antara Jumlah Trombosit dengan Kadar D-Dimer sebagai
Indikator Terapi pada Anak dengan Demam Berdarah Dengue
Arthi Sridhar, B. M. Sunil Kumar, Aarathi Rau, A. T. K. Rau
Indian J Hematol Blood Transfus 33(2):222–227
CRITICAL APPRAISAL
General Description
1. Design
: case control & prospective Study
2. Subject
: children in the age group of 1–15 years who were
seropositive for DF (NS 1 and/or IgM positive) with
thrombocytopenia
3. Title
: interesting, concise and straightforward
4. Authors
: clearly written constitution and there are correspondence
address
5. Abstract
: clear and appropriate rules
6. Introduction
: consists of the purpose of the study
Level of Evidence
3B (Individual Case-control study)
P-I-C-O Analysis
1. Population
:Children with seropositive DF
2. Intervention :No intervention
3. Comparison :D-dimer level in patient with thrombocyte <30.000/mm3
and >30.000/mm3
4. Outcome
:No significant difference in D-dimer level
Telaah Kritis
1. Validitas
:
3
a. Apakah penelitian ini memiliki pertanyaan yang jelas?
Penelitian ini tidak menggunakan pertanyaan, hanya berdasar pada
rekam medis dan hasil pemeriksaan penunjang yang kemudian
diolah secara statistik.
b. Apakah metode penelitian sudah sesuai untuk menjawab
pertanyaan penelitian?
Belum,
peneliti
belum
dapat
menjelaskan
hubungan
trombositopenia dengan kadar D-dimer
c. Apakah
metode
pemilihan
subjek
penelitian
sudah
jelas
deskripsinya?
Ya, peneliti memberikan definisi penelitian secara jelas.
d. Apakah terdapat faktor perancu yang belum dipertimbangkan?
Tidak ada.
e. Apakah pertanyaan yang diberikan valid dan reliabel?
Penelitian ini tidak menggunakan pertanyaan untuk pengambilan
datanya. Data diambil dari rekam medis pasien dan hasil
pemeriksaan penunjang yang valid dan reliable.
2. Kepentingan :
a. Apakah sampel penelitian dapat mempresentasikan populasi yang
diharapkan?
Ya, sebab cakupan sampel penelitian sudah memenuhi perhitungan
sampel
b. Apakah respon kepuasan tercapai?
Ya.
3. Aplikabilitas :
a. Bisakah hasil penelitiannya diterapkan di tempat Anda?
Ya.
4
Hubungan antara Jumlah Trombosit dengan Kadar D-Dimer Sebagai
Indikator Terapi pada Anak dengan Demam Berdarah Dengue
Abstrak
Pendahuluan: Demam dengue /dengue fever (DF) dapat menyebabkan dua
kondisi yang mengancam jiwa yaitu Demam berdarah dengue /Dengue
Hemorrhagic Fever (DHF) dan Sindrom Syok / Dengue Dengue Shock Syndrome
(DSS). DHF merupakan kondisi yang ditandai peningkatan permeabilitas vaskular
dan kebocoran plasma yang menyebabkan trombositopenia dan penurunan faktor
pembekuan. Keadaan tersebut dapat memicu perdarahan yang awalnya
disebabkan oleh trombositopenia, dan kemudian dapat menjadi Disseminated
Intravascular Coagulation (DIC), sering terjadi sebagai kondisi terminal.
Identifikasi dini dan terapi awal pada perdarahan minor pada anak dengan DF dan
DIC insipien dapat meningkatkan tingkat harapan hidup, apabila gagal diterapi
biasanya berakhir buruk. Penanda sensitif pada DIC yaitu ditemukannya D-dimer
(DD) di darah.
Tujuan: Untuk menjelaskan hubungan antara keparahan trombositopenia dengan
DIC tahap awal pada anak dengan DHF. Faktor lain seperti usia dan syok juga
akan dievaluasi.
Metode penelitian : Penelitian case control prospektif yang melibatkan 60 anak
(usia 1-15 tahun) dengan DHF sero-positif dan trombositopenia. Setelah
dievaluasi secara klinis, kemudian dibagi menjadi 2 grup berdasarkan jumlah
trombosit (lebih dan kurang dari 30.000/mm3). PT/APTT dan kadar D-dimer
diukur pada seua pasien serta dilakukan analisis statistikal.
Hasil : Tidak ditemukan adanya perbedaan yang bermakna pada kadar DD di
kedua kelompok. Namun, pada anak dengan gejala syok dan trombositopenia
ditemukan adanya kadar DD yang lebih tinggi. Terapi komponen empirik tidak
dapat diberikan hanya berdasarkan jumlah trombosit yang rendah. Namun pasien
5
DHF anak dengan trombositopenia dan gejala syok, terapi komponen dapat
mencegah perdarahan dan dapat dipertimbangkan untuk diberikan.
Kata
kunci:
Demam
berdarah;
Demam
berdarah
Trombositopenia; Disseminated intravascular coagulation
6
dengue;
D-dimer;
PENDAHULUAN
Demam berdarah (DF) merupakan virus dari family flaviridiae yang
ditularkan melalui perantara nyamuk. Secara global WHO memperkirakan 2,5
milliar orang (40% dari populasi di dunia) saat ini berisiko terkena penyakit
dengue, dengan perkiraan kasus baru sejumlah 50-100 juta kasus setiap tahunnya.
Virus ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti non-nokturnal, yang menyebar di
area urban dan menggigit pada pagi hari atau malam menjelang pagi. Nyamuk
terinfeksi virus dari orang yang sudah terinfeksi dan jika sudah terinfeksi, akan
dapat menularkan virus seumur hidupnya.
Terdapat dua macam jenis infeksi dengue yang mengancam jiwa, yang
disebut dengan severe DF yaitu DHF dan DSS. Tanda dari severe DF tersebut
yaitu peningkatan permeabilitas plasma dan kebocoran plasma yang menetap. Jika
tidak ditangani dengan baik, kebocoran plasma dapat menyebabkan gangguan
sirkular dan syok juga gangguan koagulasi karena trombosit dan faktor
pembekuan yang hilang. Hal ini tidak menyebabkan perdarahan massif, namun
ketika terdapat syok, hipoksia atau asidosis, sering mengarah ke keadaan DIC dan
kegagalan organ multipel.
Telah diketahui bahwa terapi dari demam berdarah hanya bersifat suportif
dan tidak spesifik. Namun pada keadaan tertentu, transfusi darah (PRBC,
trombosit, dan FFP) digunakan secara tidak jelas, dengan tujuan ‘mencegah’
perdarahan yang mengancam jiwa karena DIC yang mungkin terjadi. Namun,
beberapa anak dengan DHF, dengan trombositopenia dan pemanjangan PT/APTT
dapat menjadi tanda terjadinya dari DIC dini atau insipien, yang ditandai dengan
adanya peningkatan produk dari pemecahan fibrin/fibrin degradation products
(FDP) dan kadar D dimer (DD), yang berisiko terjadinya perdarahan massif.
Identifikasi dan terapi dini pada perdarahan minor dengan terapi komponen pada
pasien tersebut mungkin dapat membantu.
Maka dari itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui apakah pasien
DHF anak dengan trombositopenia memiliki risiko terjadinya DIC dan untuk
mengetahui faktor komorbid lain seperti usia dan adanya syok.
7
TUJUAN

Untuk membandingkan kadar D-dimer pada pasien DHF anak dengan dan
tanpa trombositopenia berat (lebih dan kurang dari 30.000/mm3)

Menilai apakah pasien DHF dengan syok memiliki kadar DD yang lebih
tinggi dibandingkan yang tanpa syok

Menilai apakah usia dapat menjadi faktor untuk pemberian tranfusi
komponen pada pasien DHF anak..
METODOLOGI
Jenis penelitian
Case control dan penelitian prospektif.
Sampel penelitian:
Anak usia 1-15 tahun dengan seropositif DF (NS 1 dan/atau IgM) dengan
trombositopenia di rumah sakit pendidikan di India Selatan. Perjalanan penyakit
dan keadaan klinis dicatat terutama yang berhubungan dengan syok antara lain (a)
Tekanan darah kurang dari persentil 3 sesuai usia, jenis kelamin dan tinggi badan
anak (b) CRT (capillary refill time) >2 detik (c) akral dingin. Anak dengan infeksi
penyerta lain, riwayat DF sebelumnya, riwayat perdarahan karena gangguan
koagulasi, serta penyakit liver dikeluarkan dari sampel.
Subjek penelitian
Dibagi menjadi 2 grup, grup I dengan trombositopenia berat (<30.000
sel/mm3) dan grup II dengan trombositopenia >30.000sel/mm3ketika masuk. PT,
APTT dan kadar D-dimer diukur pada kedua grup dan dibandingkan. Faktor lain
seperti usia dan tanda syok juga dievaluasi secara statistik.
Ukuran sampel
25% pasien DF dapat mengarah menjadi DHF, dengan presisi mutlak ±9
dan α error = 0,1. Sehingga didapatkan minimal 60 kasus yang harus diteliti.
Pengumpulan sampel
Sampel darah dari pasien seropositif yang memenuhi kriteria inklusi,
disimpan pada suhu -80oC.
8
Analisis sampel
Sampel dilakukan uji kuantitatif dengan ELISA menggunakan ELISA strip
reader dengan 8 wells yang merupakan gold standard pemeriksaan kadar D-dimer.
Semua sampel dianalisis dalam 4 minggu penyimpanan.
Analisis statistik
Semua parameter kualitatif dinyatakan dengan confidence interval (CI)
95% (p≤0.05). Parameter klinik dan data seperti usia, lamanya terkena penyakit
demam berdarah diambil nilai median dan nilai puncaknya karena merupakan data
tidak terdistribusi normal. Semua parameter, dibandingkan pada kedua grup,
termasuk angka trombosit dan kadar Ddimer. Uji chi square digunakan untuk
menilai signifikansi. Analisis data menggunakan SPSS 20.
HASIL PENELITIAN
Pada grup I dengan jumlah trombosit <30,000/mm3 didapatkan rentang
jumlah trombosit 10,600–30,000/mm3 sedangkan pada grup II dengan jumlah
trombosit
>30,000/mm3
didapatkan
rentang
jumlah
trombosit
30,510–
78,000/mm3. Data usia dan jenis kelamin dari dua kelompok ditunjukkan pada
Tabel 1. Perbandingan PT, APTT dan nilai DD diantara kedua kelompok, serta
berdasarkan usia, dijelaskan pada Tabel 2.
Pada grup I, semua pasien didapatkan adanya pemanjangan PT atau APTT
atau keduanya, sedangkan pada grup II hanya 6 dari 30 sampel dengan
pemanjangan PT/APPT (p = 0.00001). Nilai median dari kadar DD pada grup I
yaitu 5.50 sedangkan pada grup II didapatkan 4.15. Nilai p tidak bermakna ((p =
0.804), menunjukkan bahwa perbedaan kadar DD pada kedua grup tidak
bermakna.
Sebanyak 24 pasien dari total sampel, didapatkan adanya syok, dengan
rincian 14 pasien dari grup I dan 10 pasien dari grup II (Tabel 3). Semua pasien
dengan syok pada grup I diperoleh pemanjangan PT atau APTT atau keduanya,
sedangkan pada grup II hanya 2 pasien syok yang didapatkan pemanjangan
PT/APTT (p = 0.00004). Nilai median dan nilai tertinggi dari kadar DD pada grup
I (4.0 dan 40.1) didapatkan 25% lebih tinggi dibandingkan dengan grup II ((3.01
9
and 22.8), namun tidak dapat dibandingkan secara statistik karena angka yang
kurang. Pada perbandingan PT dan APTT pada grup dengan dan tanpa syok
(tanpa memperhatikan derajat trombositopenia) tidak didapatkan adanya
perbedaan yang bermakna diantara kedua grup (p = 0.389). Namun pada
perbandingan kadar DD, diperoleh kadar DD lebih tinggi pada pasien anak
dengan
syok
tanpa
memperhatikan
derajat
trombositopenia,
sehingga
menunjukkan adanya risiko terjadinya DIC (p = 0.012) (Tabel 3).
Penilaian kadar DD berdasarkan usia dan keadaan syok dilakukan untuk
mengetahui kebutuhan terapi komponen berdasarkan usia (Tabel 4). Nilai median
dari kadar DD pada anak dengan syok usia 1-7 tahun yaitu 7.25, sedangkan pada
usia 8-14 tahun diperoleh 6.4, perbandingan keduanya tidak bermakna (p
0.591).
10
=
DISKUSI
Demam berdarah berada pada peringkat atas di dunia penyakit yang
ditularkan lewat nyamuk. Sekitar 2,5 milliar penderita tersebar di 100 negara
endemik dimana virus disebarkan. Sekitar 50 juta infeksi terjadi tiap tahunnya,
dengan 22.000 kematian terjadi pada anak.
Terdapat dua keadaan demam berdarah yang mengancam jiwa yaitu
Demam Berdarah Dengue/Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) dan Dengue Shock
Syndrome (DSS) yang dapat menyebabkan perdarahan dan syok. Penyakit ini
dicirikan dengan adanya ‘Cytokine Tsunami’ yang mekanismenya belum
diketahui pasti, dimana didapatkan pelepasan sitokin, IL-6, radikal bebas dan
histamin yang kemudian menyebabkan peningkatan permeabilitas vascular dan
kebocoran plasma pada onset demam hari ke 4-6. Hal ini menyebabkan cairan
tubuh beserta komponennya seperti trombosit dan faktor pembekuan berpindah
dari ruang intravasckular ke ekstravaskular. Hipotensi yang menetap pada DSS,
penurunan jumlah trombosit, pemanjangan waktu protrombin (PT) dan Activated
partial thromboplastin time (APTT) menunjukkan DHF. Pada kasus berat,
didapatkan
peningkatan
Fibrin
Degradation
Products
(FDP)
dan
DD,
menunjukkan adanya kemungkinan terjadinya DIC insipien, yang dapat berakibat
fatal jika terlambat diidentifikasi. Penelitian terbaru di Chennai menunjukkan
bahwa 6 dari 9 pasien yang meninggal karena DHF/DSS dan syok didapatkan
11
adanya DIC. Sehingga, kebocoran plasma menyebabkan perdarahan dan syok
pada demam berdarah berat.
DIC sendiri dapat menyebabkan peningkatan permeabilitas vascular dan
kebocoran plasma, dan pada keadaan demam berdarah dapat meningkatkan
keparahan. Jika diketahui dan diterapi dini, DIC insipien dapat bersifat reversibel.
Kadar D-dimer (DD) merupakan marker yang spesifik dan sensitif dalam
mengidentifikasi DIC. Pada penelitian oleh Setrkraising et al. 41 pasien seropositif dengue dievaluasi dan dinilai kadar DD nya sebagai indikator keparahan
dengue. 12 dari pasien didapatkan demam dengue (DF) dan 29 pasien dengan
demam berdarah dengue (DHF). DD positif diperoleh pada 13% pasien DF dan
87% pasien DHF (p = <0.01). Kemudian diperoleh spesifitas dan sensitifitas DD
dalam menunjukkan DHF yaitu 90% dan 67%. Penelitian ini juga menunjukkan
korelasi positif antara infeksi dengue dan kadar DD. Kadar fibrinogen serum,
yang merupakan marker lain dalam mengidentifikasi DIC tidak digunakan dalam
penelitian ini karena sensitifitas D dimer dan fibrin serum sama sebagai indikator
DIC, dan kadar D dimer normal menunjukkan negative predictive value yang
tinggi. Selain itu, fibrinogen serum mungkin menurun karena kebocoran plasma
pada keadaan ini.
Telah diketahui bahwa terapi dengue bersifat suportif, juga termasuk terapi
cairan untuk menjaga volume intravaskular, serta terapi komponen (PRBC,
platelet dan koloid) pada kasus dengan penurunan hematokrit atau perdarahan.
Perdarahan jarang terjadi pada jumlah trombosit lebih dari 30.000 sel/mm3 dan
transfusi platelet biasanya diberikan ketika perdarahan dan jumlah trombosit yang
jauh lebih rendah. Namun, saat ini transfuse trombosit dan komponen lain
dibutuhkan oleh orang tua dan diberikan secara kurang tepat untuk meredakan
kecemasan
orangtua
dan
mencegah
perdarahan.
Anak
DHF
dengan
trombositopenia dan perubahan parameter koagulasi dengan peningkatan kadar
DD di plasma dapat diberikan transfusi komponen secara dini meskipun hanya
akan terjadi perdarahan minimal. Dalam hal lain mungkin tidak tepat dan
berbahaya. Hal tersebut mungkin malah menyebabkan komplikasi dan risiko lain
akibat transfusi.
12
Sehingga, kami ingin mengetahui apakah trombositopenia pada anak DHF
merupakan DIC iminens. Pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh Makroo et
al. diketahui bahwa perdarahan yang terjadi lebih banyak didapatkan pada
trombosit kurang dari <30.000/mm3. Sebaliknya kami meneliti kadar DD pada
dua grup berdasarkan jenis kelamin dan usia anak, juga berdasarkan jumlah
trombosit kurang dan lebih dari >30.000/mm3.
Sementara kami menemukan bahwa semua anak di Grup I dengan jumlah
trombosit kurang dari 30.000/mm3 PT / APTT mengalami perubahan, hanya enam
anak dalam kelompok II yang memiliki temuan serupa (p<0,05). Namun, pada
analisis lebih lanjut kami menemukan bahwa tidak ada perbedaan statistik dalam
nilai DD antara kedua kelompok yang menunjukkan bahwa trombositopenia
kurang dari 30.000/mm3 saja tidak menunjukkan DIC. Oleh karena itu, terapi
komponen pada anak-anak ini tidak tepat. Dalam sebuah penelitian yang
dilakukan di Thailand, terlihat bahwa tingkat DD secara signifikan meningkat
pada anak-anak dengan DHF (dengan thrombocytopenia) dibandingkan dengan
mereka yang hanya dengan DF. Namun, dalam penelitian itu tidak ada korelasi
jumlah trombosit dengan tingkat DD.
Dua puluh empat anak dengan syok, 14 anak dari kelompok I dan 10 anak
dari kelompok II. Dalam hal ini, perubahan dalam PT / APTT atau keduanya
terlihat pada 14 dan 2 masing-masing (p<0,05). Lebih lanjut, peningkatan nilai
median dan nilai puncak DD ditemukan lebih pada yang sebelumnya meskipun
korelasi statistik tidak dapat diteliti karena jumlah yang kurang, tetapi karena
salah satu parameter >25% lebih besar daripada kelompok lain, itu bisa
menunjukkan
bahwa
anak-anak
DHF
yang
mengalami
syok
dengan
trombositopenia berisiko lebih tinggi untuk menjadi DIC. Ketika kita lebih lanjut
membandingkan tingkat DD pada anak-anak dengan DHF, terlepas dari tingkat
trombositopenia, dengan dan tanpa gambaran klinis syok, kami menemukan
bahwa tingkat DD secara signifikan meningkat pada anak-anak dengan syok (p
value<0,05). Sebaliknya, pemanjangan PT / APTT sendiri hanya terjadi pada 16
dari 24 anak dalam kelompok ini dibandingkan dengan 20 dari 36 anak-anak
tanpa syok (p <0,05) menunjukkan bahwa PT dan APTT, jika dihubungkan
13
dengan jumlah trombosit. pada anak-anak DD tanpa syok, tidak ada korelasi
seperti
pada
anak-anak
DF
dengan
syok
yang
menunjukkan
bahwa
trombositopenia yang signifikan mungkin menjadi penanda yang lebih baik dari
perubahan PT dan APTT saja. Ini lebih lanjut menunjukkan bahwa terapi
komponen dini pada anak-anak yang sakit parah dengan syok, dengan jumlah
trombosit <30.000/mm3 dan terlepas dari nilai PT / APTT, dapat meminimalkan
perdarahan berikutnya dan dapat dibenarkan.
Selanjutnya, kelompok anak-anak yang datang dengan syok kemudian
dianalisis untuk menentukan apakah ada hubungan antara peningkatan kadar DD
dan usia. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Toulon, ditemukan bahwa
tingkat DD normal ditemukan meningkat terutama dalam 6 bulan pertama
kehidupan. Data menunjukkan bahwa sebagian besar hasil tes koagulasi sangat
tergantung pada usia, terutama selama tahun pertama kehidupan, dan rentang
referensi usia tertentu diperlukan untuk digunakan untuk mempertahankan
akurasi. Kami ingin melihat apakah ada hubungan yang signifikan antara tingkat
DD dalam kelompok usia yang berbeda dalam penelitian kami. Ditemukan bahwa
secara statistik, tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat DD pada
kelompok usia yang berbeda menunjukkan bahwa pendekatan untuk pengobatan
tidak perlu berbeda dalam kelompok usia yang berbeda.
Diagnosis DIC melibatkan sejumlah besar tes canggih dalam menegakkan
penyakit. Sebagian besar tes tidak mudah tersedia untuk dokter yang bekerja di
rumah sakit non tersier. Sementara sistem penilaian ISTH adalah metode yang
sangat baik untuk mendiagnosis DIC yang jelas dan insipien, memerlukan
penggunaan tes mahal untuk mencapai diagnosis. Salah satu tujuan dari penulisan
ini adalah untuk menggunakan jumlah trombosit (tes murah dan mudah tersedia)
sebagai penanda untuk mengidentifikasi DIC insipien pada anak-anak dengan
DHF dan karena itu memulai, mungkin terapi komponen lebih awal dapat bersifat
life-saving. Kami telah menemukan bahwa meskipun tidak berguna untuk tujuan
ini pada anak-anak DHF tanpa syok, hal ini berkorelasi dengan kehadiran DIC
insipien pada anak-anak DHF dengan syok. Ini akan sangat bermanfaat dalam
situasi di mana fasilitas perawatan kesehatan terbatas, terutama di tempat miskin
14
sumber daya. Diagnosis klinis syok dan perkiraan jumlah trombosit yang tersedia
secara universal mungkin diperlukan semua dokter yang merawat baik mengatur
komponen di awal perjalanan penyakit atau untuk merujuk pasien ke pusat di
mana fasilitas untuk mengobati komplikasi ini ada, dengan demikian
menyelamatkan nyawa.
Sementara penelitian lain dan 'praktik' standar telah mengakui korelasi
antara trombositopenia yang signifikan dan terjadinya perdarahan yang
mengancam kehidupan pada anak-anak dengan DHF, sepengetahuan kami, ini
adalah studi pertama dalam literatur yang menunjukkan bahwa trombositopenia
yang parah mungkin memang terjadi terkait dengan peningkatan risiko DIC pada
anak-anak dengan DHF syok.
KESIMPULAN
Tingkat DD pada anak-anak dengan trombositopenia berat (jumlah
trombosit <30.000 / mm3) dan tidak berat (jumlah trombosit <30.000 / mm3)
tidak berbeda secara signifikan. Oleh karena itu, terapi komponen empiris pada
anak-anak ini murni berdasarkan jumlah trombosit mereka tidak dapat dibenarkan.
Namun, pada anak-anak DBD dengan trombositopenia berat dan gambaran klinis
tingkat syok, median dan puncak ditemukan peningkatan dan terapi komponen
awal pada anak-anak dengan perdarahan ringan dapat dibenarkan dengan tujuan
akhir untuk meminimalkan atau membatalkan perdarahan katastropik berikutnya.
15
Download