Uploaded by reynanda.hizrian

Iffahni Depresi Tanpa Gejala Psikotik

advertisement
a.
IDENTITAS PASIEN
Nama
: Tn. R
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Tempat/Tgl Lahir
: Jakarta, 01 Juni 1998
Usia
:4
Agama
: Islam
Suku Bangsa
: Betawi
Pendidikan
: SMA
Pekerjaan
: Saat ini tidak bekerja
Status Pernikahan
: Menikah
Alamat
: Duren Sawit,Jakarta Timur
A. Keluhan Utama

Autoanamnesis
Pasien datang sendiri tanpa diantar keluarga ke Rumah Sakit Jiwa Islam
Klender dengan keluhan lelah dengan hidup dan tidak bisa tidur saat malam
hari.
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RS Jiwa Duren Sawit tanpa diantar keluarganya dengan
keluhan merasa Lelah dengan hidupnya dan sulit tidur pada saat malam hari.
Pasien mengatakan kejadian ini sudah berlangsung selama ± 2 minggu
SMRS, setelah dimaki-maki ibu nya karena bolak balik mencari pekerjaan
namun tidak ada hasil. Pasien sudah berhenti bekerja selama 2 bulan setelah
kantornya bangkrut. Pasien merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi karena
pasien tidak memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk menghidupi
keluarganya. Saat ini ekonomi pasien dan keluarganya ditanggung oleh Ibu dan
adiknya. Menurut ibu pasien, pasien sering berhutang dengan orang lain tanpa
sepengetahuan Ibu dan adiknya, yang harus menanggung hutang tersebut.
Pasien berhutang karena ingin membuat modal usaha yang selalu gagal. Pasien
juga beberapa kali mencuri barang adiknya untuk dijual lagi. Hal ini membuat
Ibu pasien dan adiknya kesal.
Pasien merasa sedih sepanjang hari, dan sering menangis memikirkan
kesehatan istrinya yang baru sembuh setelah didiagnosis tumor otak sejak bulan
1
maret. Pasien sulit tidur saat malam hari yang sering membuatnya berfikir
bahwa usianya yang sudah 40 tahun sudah cukup untuk menerima beban
sebanyak ini dan merasa usianya kedepan sudah tidak perlu lagi. Pasien sering
mengatakan kalau umurnya yang tersisa tinggal 10 tahun lagi. Pasien sesekali
pernah berfikir untuk bunuh diri karena terlalu lelah dengan beban hidup yang
tidak ada habisnya, namun pasien mengatakan dirinya masih punya iman dan
memikirkan anak istrinya.
Ibu pasien mengatakan setelah berhenti bekerja, pasien hanya tidurtiduran, tidak solat, merokok, sering melamun, dan jarang makan. Hal ini
membuat ibu pasien geram dan menyuruhnya untuk mencari kerja. Ibu dan adik
pasien mulai tidak perduli lagi setelah melihat sikap pasien yang malas-malasan
yang membuat pasien merasa dirinya sudah tidak diperdulikan lagi oleh
keluarganya.
Pasien menyangkal pernah mendengar bisikan-bisikan ataupun melihat
sesuatu yang orang lain tidak bisa melihatnya, serta pasien menyangkal pernah
memiliki perasaan senang yang berlebihan lebih dari biasanya.
b.
Riwayat Penyakit Dahulu
a. Riwayat Psikiatri Sebelumnya
Pada tahun 2010 , pasien diterima di SBMPTN Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran , namun karena masalah ekonomi keluarga, pasien
memilih untuk tidak mengambil kesempatan tersebut dan memutuskan untuk
bekerja. Hal ini merupakan suatu penyesalan terbesar dalam hidup pasien.
Pada tahun 1998, adik pasien yang paling kecil lahir dan mengidap
autisme, setelah itu perekonomian keluarga makin berantakan untuk
mengurus adiknya yang harus disekolahkan di Sekolah Luar Biasa sehingga
keluarga pasien harus menjual rumahnya dan tinggal di rumah warisan nenek
pasien, kejadian ini membuat pasien terpukul hingga menyalahkan adiknya
dan meminta kepada Ibunya untuk tidak usah menyekolahkan adiknya
tersebut.
Pada tahun 2004 pasien datang ke dokter spesialis kejiwaan setelah
di PHK dari kantor dan putus dengan pacarnya. Ibu pasien mengatakan
sebelumnya pasien memiliki pekerjaan yang cukup bagus dan bisnis hingga
milyaran, hal ini yang mendorong pasien untuk datang ke dokter spesialis
2
kejiwaan. Setelah itu pasien diberikan obat Amitriptiline 1x25mg, Diazepam
1x5mg, Haloperidol 2 x 0,5 mg. Pasien didiagnosis Obsesive Compulsive
Disorder, menurut pasien, dirinya merupakan seseorang yang perfeksionis.
Pasien mengatakan selama 14 tahun hingga sekarang pasien selalu control
dan meminum obatnya secara rutin. Pasien merasa selalu senang untuk
berobat karena pasien merasa didengar dan dirinya butuh seseorang yang
dapat mendengarkan dirinya karena ia merasa dirumah keluarganya tidak ada
yang perduli lagi.
b. Riwayat Medis Umum
Pasien tidak memiliki penyakit bawaan sejak lahir dan tidak memiliki
riwayat kejang sebelumnya. Pasien tidak pernah menderita sakit berat hingga
membutuhkan perawatan rumah sakit. Riwayat trauma kepala, tumor, epilepsi,
dan penyakit neurologis lain tidak ada. Pasien memiliki riwayat Tuberculosis
tahun 2000 dan berobat tuntas selama 6 bulan di RS Pondok Kopi. Riwayat
diabetes mellitus, penyakit jantung, dan hipertensi disangkal.
D. Riwayat Penggunaan Alkohol dan NAPZA
Pasien menyangkal pernah meminum minuman alcohol dan obatobatan narkotika. Pasien mengaku merokok, kira-kira 4-5 batang perhari untuk
membuatnya lebih tenang.
E. Riwayat Premorbid
a.
Masa Prenatal dan Perinatal
Menurut ibu kandung pasien, pasien lahir dari pernikahan yang sah.
Pasien merupakan seorang anak yang diharapkan. Selama masa kehamilan, ibu
pasien tidak pernah menderita penyakit dan tidak pernah menggunakan obatobatan yang mempengaruhi tumbuh kembang janin. Pasien dilahirkan secara
normal dengan usia kandungan cukup bulan. Saat lahir pasien langsung
menangis.
b.
Masa Kanak-Kanak Dini (0-3 tahun)
Pasien diasuh oleh ibu dan ayahnya. Pasien mengkonsumsi susu
formula sampai usia 2 tahun. Pasien mendapatkan asupan dan nutrisi yang
cukup untuk pertumbuhan dan perkembangannya. Menurut ibu kandung pasien,
pasien merupakan anak yang aktif, tumbuh dan berkembang seperti anak lain
3
seusianya, pasien tidak pernah mengalami kejang, kepala pasien tidak pernah
terbentur, ataupun memiliki penyakit lainnya.
c.
Masa Kanak-Kanak Pertengahan (3-11 tahun)
Pada periode ini, pasien tumbuh dan berkembang seperti anak
seusianya. Hubungan pasien dengan keluarga baik. Pasien mulai masuk sekolah
dasar ketika pasien berusia 6 tahun. Pasien tidak pernah mempunyai masalah
dengan teman-temannya. Pasien tidak pernah dikucilkan selama masa kanak
kanak dan sekolah dasar.
d. Masa Kanak Akhir dan Pubertas (11-18 tahun)
Pasien merupakan anak yang kurang percaya diri sehingga hanya
memiliki beberapa teman. Pasien masih dapat bergaul dengan teman disekitar
rumah dan di sekolahnya. Pasien merupakan anak yang pintar dan selalu
mendapat ranking 1, karena kepintarannya, pasien mendapat beasiswa saat
sekolah. Pasien dituntut untuk selalu menjadi yang terbaik oleh orang tuanya.
Menurut ibunya, pasien merupakan anak yang sangat menurut.
e.
Masa Dewasa
- Riwayat Pekerjaan
Setelah pasien lulus dari SMA dan memutuskan untuk tidak masuk
FK UI pasien mulai bekerja, pasien pernah bekerja di Super Indo sebagai
staff, menjadi cleaning service, hingga membuat bisnis sendiri hingga
milyaran namun bangkrut, pasien terakhir bekerja sebagai staff umum di
kantor nya yang bangkrut.
- Riwayat Pernikahan
Pasien menikah dengan istrinya tahun 2006, Istri pasien sangat baik
dan dari pernikahannya pasien dikaruniai 2 anak yaitu laki-laki dan
perempuan.
-
Riwayat Keagamaan
Pasien memiliki latar belakang yang berasal dari keluarga beragama
Islam. Pasien mendapat pendidikan agama yang baik dari keluarga dan
sekolahnya.
- Riwayat Aktivitas Sosial
4
Pasien memiliki beberapa teman dekat, namun saat beranjak dewasa
teman-temannya memiliki keluarga sudah jarang berhubungan lagi.
- Riwayat Hukum
Pasien tidak memiliki riwayat pelanggaran hukum.
- Riwayat Psikoseksual
Pasien mengalami pubertas seperti remaja pada umumnya. Pasien
memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis sejak duduk di bangku SMP.
Menurut pengakuan pasien, pasien tidak pernah melakukan hubungan
seksual diluar nikah dengan siapapun.
f. Riwayat Keluarga
Pasien merupakan anak pertama dari 4 bersaudara. Sampai saat ini
pasien masih tinggal Bersama Ibu, adik no 4, istri, dan kedua anak pasien.
Ayah pasien sudah meninggal dunia. Kedua adiknya sudah menikah, dan
tinggal Bersama keluarganya. Adik pasien yang paling kecil mengidap
autisme. Saat ini perekonomian pasien ditanggung oleh adik dan Ibunya. Saat
awal menikah kehidupan perekonomian pasien ditanggung oleh istrinya saat
pasien tidak bekerja.
5
Genogram:
Keterangan :
Laki-laki
Meninggal
Perempuan
c.
Pasien
Tinggal Serumah
PEMERIKSAAN STATUS MENTAL
B. Deskripsi Umum
a. Penampilan
Pasien seorang laki-laki, usia 40 tahun, tampak sesuai dengan
usianya, berkulit sawo matang, potongan rambut pendek. Saat diwawancara,
pasien berpakaian rapi, menggunakan kaos hijau tosca dan menggunakan
celana pendek bercorak, serta menggunakan sandal warna coklat
b. Perilaku dan aktivitas psikomotor
Saat di wawancara, pasien cukup kooperatif, kontak mata baik.
Hanya saja pasien tampak murung, sesekali pasien menunduk dan mengusap
matanya. Selebihnya pasien menunjukkan sikap tenang. Terkadang pasien
bertatapan kosong. Tidak ada perilaku agitasi, hiperaktivitas, maupun
agresivitas.
c. Sikap terhadap pemeriksa
Pasien cukup kooperatif saat diajak berbicara dan bersikap sopan
terhadap pemeriksa.
C. Mood dan Afek
6
a.
Mood
: Hipotim
b.
Afek
: Depresif
c.
Keserasian afek : Serasi
D. Pembicaraan (volume, intonasi, kualitas, kuantitas)
a.
Cara berbicara
: Spontan
b.
Volume bicara
: Kecil
c.
Irama
: Teratur
d.
Kualitas
: Jelas
e.
Kuantitas
: Normal
D. Gangguan Persepsi
a. Halusinasi
- Auditorik
: Tidak ada
- Visual
: Tidak ada
- Taktil
: Tidak ada
- Olfaktorik
: Tidak ada
- Gustatorik
: Tidak ada
b. Ilusi
: Tidak ada
c. Derealisasi
: Tidak ada
d. Depersonalisasi
: Tidak ada
E. Proses Pikir
a. Produktivitas (flight of idea, asosiasi longgar, kemiskinan isi pikir, dsb):
Tidak ada
b. Kontinuitas (blocking, tangensial, sirkumstansial, perseverasi, dsb):
- Blocking
: Tidak ada
- Tangensial
: Tidak ada
- Sirkumtasial
: Tidak ada
- Perseverasi
: Tidak ada
c. Hendaya Bahasa (word salad, neologisme, dsb):
- Word salad
: Tidak ada
- Neologisme
: Tidak ada
F. Isi Pikir
a. Preokupasi
: Ada, pasien secara berulang mengatakan
7
ingin pulang, mencari pekerjaan, hidup tenang tanpa
beban
b. Waham
Waham bizzare
: Tidak ada
Waham sistematik
: Tidak ada
Waham kebesaran
: Tidak ada
Waham Nihilistik
: Tidak ada
Waham kejar
: Tidak ada
Waham rujukan
: Tidak ada
Thought echo
: Tidak ada
Thought broadcasting
: Tidak ada
Thought withdrawal
: Tidak ada
Thought insertion
: Tidak ada
Delusion of control
: Tidak ada
Delusion of influence
: Tidak ada
Waham cemburu
: Tidak ada
Ide bunuh diri
: Tidak ada
c. Obsesi
: Tidak ada
d. Kompulsif
: Tidak ada
e. Fobia
: Tidak ada
G. Fungsi Kognitif dan Kesadaran
d. Kesadaran
: Composmentis (E4M6V5)
e. Orientasi
- Waktu
: Baik
(pasien mampu menyatakan sekarang ini siang/malam dan mengetahui hari
ini, tanggal, bulan, dan tahun berapa dengan tepat).
- Tempat
: Baik
(pasien dapat menyebutkan bahwa saat ini sedang berada di RS Jiwa Islam
Klender Jakarta).
- Orang
: Baik
(pasien masih ingat pemeriksa adalah dokter dihari ketiga follow up).
f. Daya ingat
- Segera
: Baik
8
(pasien mampu mengingat 3 nama benda yang pemeriksa sebutkan)
- Jangka Pendek
: Baik
(pasien dapat mengingat menu sarapan tadi pagi dan bangun sholat subuh
jam berapa)
- Jangka Sedang
: Baik
(pasien mampu mengingat hari masuk ke RS Jiwa Islam Klender)
- Jangka Panjang
: Baik
(pasien dapat mengingat kejadian saat masih kanak-kanak dan remaja)
H. Konsentrasi dan Perhatian
- Konsentrasi baik (pasien mampu menghitung “serial seven”)
- Perhatian baik, pasien tidak dapat mengeja kata D U N I A dan tidak dapat
mengejanya dari belakang.
I. Kemampuan Visuospasial
Baik (pasien dapat menggambar segi lima berhimpit namun tidak dapat
menggambar arah jarum jam dengan tepat)
J. Kemampuan Membaca-Menulis
Baik (pasien mampu membaca satu kalimat panjang dan pasien mampu menulis
kalimat “SAYA SANGAT PINTAR DISEKOLAH”)
K. Pikiran Abstrak
Baik (pasien dapat menyebutkan 3 persamaan antara jeruk dan apel)
L. Kemampuan Informasi dan Intelegensi
Baik (pasien mengetahui nama presiden RI saat ini dan nama presiden RI yang
pertama)
M. Pengendalian Impuls
Pasien dapat mengendalikan impuls dengan baik
N. Daya Nilai
1. Daya nilai sosial : Baik
Pasien dapat bersosialisasi dengan pasien lainnya dan mengenal namanama pasien lain dengan benar.
2. Uji daya nilai : Baik
Pasien tahu hal yang benar yang harus dilakukan, ketika ditanya jika pasien
menemukan dompet di jalan, pasien mengatakan akan melihat kartu
identitas pemilik dompet tersebut, kemudian mengembalikannya ke alamat
yang tertera di kartu identitas pemilik dompet.
9
O. Reality Test Ability (RTA)
Tidak terganggu
P. Tilikan
Tilikan 6: Menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya, serta motivasi untuk
mencapai perbaikan
Q. Taraf Dapat Dipercaya
Dapat dipercaya.
f.
PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Internus
Keadaan Umum
: Tenang, TSS
Tanda Vital
: TD: 120/80 N: 90 x/menit RR: 20 x/menit
Suhu : 36,8oC
Kepala
: Normocephali, rambut warna hitam
Thorax
: Pergerakan dada simetris kanan dan kiri
Cor
: BJ I-II regular, gallop (-), murmur (-)
Pulmo
: Vesikuler, Rhonki -/-. Wheezing -/-
Abdomen
: Datar, supel, Bising usus (+), nyeri tekan(-)
Ekstremitas
: Akral hangat, sianosis (-), edema (-),
CRT <2 detik
B. Status neurologis
Rangsang meningeal : Negatif
Mata
: CA -/-, SI -/-
Gerakan bola mata
: Baik
Reflek pupil
: Isokor
Motorik
: Normal
Tonus otot
: Normal
Kekuatan
: Baik, kekuatan otot ekstremitas superiorinferior dextra dan sinistra  5555
g.
Koordinasi
: Baik
Sensorik
: Baik
IKHTISAR PENEMUAN BERMAKNA
10
Seorang laki-laki berusia 40 tahun datang ke RS Jiwa Islam Klender dengan
keluhan Lelah dan tidak dapat tidur saat malam hari. Pasien mengaku datang sendiri
tanpa diantar keluarga dan ingin beristirahat dengan tenang. Pasien mengeluh sudah
2 minggu ini perasaannya sangat berat, menghadapi cobaan yang tidak ada
habisnya, ditambah tidak punya pekerjaan setelah mencari kerja selama 2 minggu
menggunakan sepeda namun tidak dapat dan dimaki-maki ibunya. Selama tidak
memiliki pekerjaan kehidupan pasien ditanggung ibu dan adiknya. Istri pasien baru
sembuh dari tumor otak yang didiagnosis bulan maret. Pasien sulit tidur saat malam
hari yang sering membuatnya berfikir bahwa usianya yang sudah 40 tahun sudah
cukup untuk menerima beban sebanyak ini dan merasa usianya kedepan sudah tidak
perlu lagi. Pasien sering mengatakan kalau umurnya yang tersisa tinggal 10 tahun
lagi. Pasien sesekali pernah berfikir untuk bunuh diri karena terlalu lelah dengan
beban hidup yang tidak ada habisnya, namun pasien mengatakan dirinya masih
punya iman dan memikirkan anak istrinya
Dari pemeriksaan status mental didapatkan:
h.
-
Mood: Depresif
-
Tilikan derajat 6
-
Tidak ada halusinasi
-
Tidak ada waham
-
Tidak ada gangguan RTA
DAFTAR MASALAH
A. Organobiologik:
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan atau penyakit serupa seperti
yang dialami oleh pasien.
B. Psikologik:
Ditemukan adanya gejala depresi sehingga pasien memerlukan psikoterapi
untuk menghilangkan masalah.
C. Lingkungan dan Faktor Sosial:
Masalah berkaitan dengan sosialisasi kurang baik. Pasien juga memiliki
masalah dengan keluarganya karena perekonomian. Ibu pasien mengatakan
pasien sering dimanfaatkan oleh teman-temannya.
11
i.
FORMULASI DIAGNOSIS
Berdasarkan riwayat penyakit pasien didapatkan adanya pola perilaku dan
psikologis yang secara klinis bermakna dan khas berkaitan dengan gejala yang
menimbulkan suatu penderitaan (distress) maupun hendaya (disability) dalam
fungsi psikososial dan pekerjaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
pasien mengalami gangguan jiwa.
Pada pemeriksaan status internus dan neurologikus tidak ditemukan kelainan
gangguan medis umum yang secara fisiologis menimbulkan disfungsi otak serta
mengakibatkan gangguan jiwa yang diderita saat ini sehingga Gangguan Mental
Organik dapat disingkirkan.
Pada riwayat penyakit sekarang ditemukan dua gejala utama depresi dan 6
gejala lainnya yang sudah dirasakan pasien selama 2 minggu terakhir, seperti
kehilangan minat dan kegembiraan, mudah Lelah, konsentrasi dan perhatian
berkurang, gagasan tentang rasa bersalah dan tidak berguna, pandangan masa depan
yang suram, gagasan untuk bunuh diri, gangguan tidur dan tidak nafsu makan Pada
pemeriksaan status mental ditemukan afek depresif . Berdasarkan PPDGJ-III kasus
ini digolongkan kedalam
AKSIS I
Pasien didapatkan:
-
Pasien merasa lelah dengan cobaan hidup
-
Pasien merasa sedih sepanjang hari dan sering menangis
-
Pasien hanya malas-malasan
-
Pasien sering murung
-
Pasien tidak nafsu makan
-
Pasien merasa hidupnya tidak berguna lagi
-
Pasien sulit tidur
-
Pasien pernah berfikir ingin bunuh diri
Sehingga pasien ini memenuhi kriteria umum diagnosis F 32.2 Episode Depresif
Berat tanpa Gejala Psikotik
12
Tabel 1 Pedoman Diagnostik Episode Depresif
Kriteria Diagnosis

Hasil
Gejala utama (pada derajat ringan, sedang, dan
berat) :
-
Afek depresif
Ada
-
Kehilangan minat dan kegembiraan, dan
Ada
-
Berkurangnya
Ada
energi
yang
menuju
meningkatnya keadaan mudah lelah (rasa
lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja)
dan menurunnya aktivitas.

Gejala lainnya:
a) Konsentrasi dan perhatian berkurang
Tidak Ada
diri
Ada
c) Gagasan tentang rasa bersalah dan tidak
Ada
b) Harga
diri
dan
kepercayaan
berkurang
berguna
d) Pandangan masa depan yang suram dan
Ada
pesimistis

e) Tidur terganggu
Ada
f) Nafsu makan berkurang
Ada
Untuk episode depresif dari ketiga tingkat keparahan
tersebut diperlukan masa sekurang-kurangnya 2
minggu untuk penegakkan diagnosis, akan tetapi
Terpenuhi
periode lebih pendek dapat dibenarkan jika gejala luar
biasa beratnya dan berlangsung cepat.

Kategori diagnosis episode depresif ringan (F32.0),
sedang (F32.1) dan berat (F32.2) hanya digunakan
untuk episode depresi tunggal (yang pertama). Episode
depresif berikutnya harus diklasifikasi di bawah salah
satu diagnosis gangguan depresif berulang (F33.-).
13
Tabel 2. Pedoman Diagnostik Episode Depresif Berat tanpa Gejala Psikotik
Kriteria Diagnosis
Memenuhi kriteria umum diagnosis Episode Depresif

Semua 3 gejala utama depresi harus ada

Ditambah sekurang-kurangnya 4 dari gejala lainnya, dan
Hasil
Terpenuhi
beberapa di antaranya harus berintensitas berat

Bila ada gejala penting (misalnya agitasi atau retardasi
psikomotor) yang mencolok, maka pasien mungkin tidak
mau atau tidak mampu untuk melaporkan banyak
gejalanya secara rinci
Dalam hal demikian, penilaian secara menyeluruh
Terpenuhi
terhadap episode depresif berat masih dapat dibenarkan.

Episode depresif biasanya harus berlangsung sekurangkurangnya 2 minggu, akan tetapi jika gejala amat berat
dan beronset sangat cepat, maka masih dibenarkan untuk
menegakkan diagnosis dalam kurun waktu kurang dari 2
minggu.

Sangat tidak mungkin pasien akan mampu meneruskan
kegiatan social, pekerjaan atau urusan rumah tangga,
kecuali pada taraf yang sangat terbatas
AKSIS II (Gangguan Kepribadian dan Retardasi Mental)
Gangguan Kepribadian Obsesif-Kompulsif / Anankastik
AKSIS III (Kondisi medis umum)
Tidak ada kelainan medis umum pada pasien.
AKSIS IV (Masalah psikososial dan lingkungan)
-
Masalah dengan: “primary support group”
-
Masalah ekonomi
-
Masalah pekerjaan
AKSIS V (Penilaian fungsi secara global)
GAF saat masuk
: 60-51 gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
14
GAF saat diperiksa
: 60-51 gejala sedang (moderate), disabilitas sedang
GAF satu tahun terakhir : 70- 61 beberapa gejala ringan dan menetap, disabilitas ringan
dalam fungsi, secara umum masih baik
j.
DIAGNOSIS MULTIAKSIAL
Aksis I
: F32.2 Episode depresif berat tanpa gejala psikotik
Aksis II
: F60.5 Gangguan Kepribadian Obsesif Kompulsif/Anankastik
Aksis III
: Tidak ada
Aksis IV
:
-
Masalah dengan: “primary support group”
-
Masalah ekonomi
-
Masalah pekerjaan
Aksis V

GAF saat masuk
: 60-51

GAF saat diperiksa
: 60-51

k.
:
GAF satu tahun terakhir
: 70-61
PENATALAKSANAAN
A. Farmakoterapi

Diazepam 2 x 5mg

Haloperidol 2 x 0,5mg

Amytriptilin 2 x 25mg
B. Nonfarmakoterapi
a.
Edukasi
Dilakukan psikoedukasi pada pasien dan keluarganya mengenai
penyakit yang dialami pasien, gejala yang mungkin terjadi, rencana
tatalaksana yang mungkin diberikan, pilihan obat, efek samping
pengobatan, dan prognosis penyakit.
b.
Terapi suportif
 Membiarkan pasien mengeluarkan isi hatinya yaitu mengenai
kekhawatiran, kecemasan, masalah yang dihadapi pasien.
15
 Menerangkan kepada pasien mengenai gejala-gejala yang terdapat pada
pasien serta baik-buruknya dan akibat yang dapat timbul dari gejala
tersebut.
 Menanamkan pikiran kepada pasien dan membangkitkan kepercayaan
bahwa gejala-gejala tersebut akan hilang.
 Memberikan nasihat-nasihat yang berhubungan dengan masalah
kesehatan jiwa pasien agar pasien sanggup mengatasi masalahnya,
seperti cara berkomunikasi, bekerja, belajar, hubungan antar-manusia
dan sebagainya.
 Menimbulkan kesadaran pada pasien akan penyakitnya sehingga dapat
memperbaiki kembali kepribadian pasien yang telah mengalami
goncangan akibat adanya stressor sosial yang tidak dapat diatasi oleh
pasien.
c.
Terapi spiritual
Memotivasi pasien agar selalu rajin beribadah dan selalu mengingat
Allah di setiap saat.
l.
PROGNOSIS
Morbid
Onset usia dewasa muda
Perjalanan penyakit
Kelainan organik
Kepatuhan minum obat
Sosial ekonomi
Riwayat pekerjaan
Status pernikahan
Faktor genetik
Tidak
Kronis
Tidak Ada
Buruk
Kurang
Tidak
bekerja
Menikah
Tidak Ada
Prognosis
Buruk
Buruk
Baik
Buruk
Buruk
Buruk
Baik
Baik
 Faktor yang memberikan pengaruh baik :
- Tidak ada kelainan organik
- Pasien mengetahui dirinya sakit dan ingin berobat
- Rutin berobat dan kontrol
 Faktor yang memberikan pengaruh buruk :
- Pasien tidak bekerja
- Pasien memiliki masalah ekonomi
- Hubungan pasien dengan keluarga kurang baik
16
Kesimpulan prognosis :
Quo ad Vitam
: Bonam
Quo ad Sanactionam
: Dubia ad Malam
Quo ad Functionam
: Dubia ad Bonam
17
Download