Uploaded by Fadhilahhazhiyah

dokumen.tips laporan-kasus-syok-hipovolemik-bab-iii

advertisement
BAB III
KASUS PASIEN
I.
Identitas
Nama
: Tn. S. T
No RM
: 09-91-87
Umur
: 49 tahun
Jenis kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Alamat
: Desa Buluwatu, kec Sumalata, Gorontalo
Tanggal masuk RS
: 10-03-2015
II. Anamnesis
Keluhan utama :
Luka pada tungkai bawah kanan
Riwayat penyakit sekarang :
Terdapat luka pada tungkai bawah kanan disertai bengkak tungkai
bawah kanan akibat kecelakaan lalu lintas 9 jam yang lalu. Pasien tertabrak
mobil dari samping kemudian kaki kanan pasien terlindas dengan ban mobil.
Mual (-), muntah (-), nyeri pada kaki dan sulit bergerak pada kaki kanan.
Pasien sudah mendapatkan tindakan pencegahan serta resusitasi di
puskesmas kemudian di rujuk ke Rs D 3 jam setelah kecelakaan.
Riwayat penyakit dahulu

Riwayat pingsan

Riwayat tekanan darah tinggi : disangkal

Riwayat penyakit gula
: disangkal

Riwayat alergi
: disangkal

Riwayar operasi
: disangkal
: (-)
16

Riwayat asma
: disangkal

Riwayat stroke
: disangkal
Riwayat kebiasaan

Riwayat merokok
: (-)

Riwayat konsumsi alkohol
: (-)
III. PEMERIKSAAN FISIK
A. General Survey
1. Kesadaran : Composmentis GCS E4V5M6
2. Vital sign : TD 90/70 mmHg, HR 98 x/menit, RR 22x/menit
3. Kulit
:sawo matang, pucat (+), ikterik (-), petekie (-), turgor baik
4. Kepala
:mesocephal, jejas (-)
5. Mata
:pupil (3mm/3mm), refleks cahaya (+/+), conjunctiva pucat
(+/+), conjunctiva bleeding (-/-)
6. Telinga
:sekret (-/-), darah (-/-), nyeri tekan mastoid (-/-)
7. Hidung
:bentuk simetris, napas cuping hidung (-), sekret (-/-), keluar
darah (-/-)
8. Mulut
:maloklusi (-),gigi tanggal (-), sianosis (-), gusi berdarah (-)
9. Leher
: benjolan (-)
10.
Thoraks
:
Inspeksi
: ictus cordis tidak tampak
Palpasi
: ictus cordis tidak kuat angkat
Perkusi
: batas jantung kesan tidak melebar
Jantung
Auskultasi : bunyi jantung I-II intensitas normal, reguler,
bising (-)
17
Pulmo
Inspeksi
: pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi
: fremitus raba dinding dada kanan = kiri,
krepitasi (-/-)
Perkusi
: sonor/sonor
Auskultasi
: suara dasar vesikuler (+/+)
11. Abdomen
Inspeksi : distended (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi
: timpani
Palpasi
: supel, nyeri tekan (-), defans muskuler (-)
12. Genitourinaria: BAK darah (-), BAK nanah (-)
13. Ekstremitas
B.
: akral dingin (-/-) oedem (+)
Status lokalis regio cruris dextra
Luka robek tak beraturan sepanjang tungkai bawah ukuran ± 30 x 15 cm,
muscle expose, bone expose, perikal striping (+).
Kaki dan pergelangan kaki susah di gerakkan di karenakan sakit
Sensilibiias : Jari I-III (+)
CRT
: Jari I : 4 detik
Jari III : 10 detik
IV. ASSESSMENT IRD
Susp fraktur comminute terbuka tibia fibula dextra
VL a/r antebrachii bagian dorsal
V.
Tatalaksana IRD
- O2 2-4 L/menit
- Resusitasi
IVFD  RL guyur (2 kolf)
Nacl guyur (2 kolf)
18
-
Ketorolac 3% drips/ 8jam
-
Ceftriaxone 1gr/12jam/iv
-
Ranitidine 1 amp/12jam/iv
-
Tetagam im di Rs D
-
Asam tranexamat 1 amp/8 jam/iv
-
Transfusi darah 3 unit
-
Pasang kateter
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 10 – 03 - 2015
Pemeriksaan
Hasil
Satuan
Rujukan
Hemoglobin
5,7
g/dl
13,5-17,5
Hematokrit
18,0
%
33-45
Leukosit
19,6
Ribu/ul
4,5-11
Trombosit
146
Ribu/ul
150-450
CT
3’50”
Menit
1-6
BT
7’40”
Menit
5-15
Perkembangan TTV dan urin
TD
Nadi
RR
GCS
Urin Output
00.30
90/70
98 x/mnt
Lemah, dalam
22
15
50cc
01.30
90/70
95x/mnt
Kuat
20
15
70cc
02.30
100/70
96x/mnt
Kuat
20
15
110cc
19
Pasien masuk ke ICU
Ku: lemah
Kes: cm (GCS E4V5M6), dengan O2 nasal 3L/menit, head up300 , TD 80/pp; Nadi
100x/menit; suhu badan 360C, RR 16x/menit, kemudian di loading cairan RL 1 kolf
TD 90/pp. IVFD 2 line: Di berikan raivas 0,05 mikro
TD 120/80; Nadi 80x/menit; RR 16x/menit; Suhu Badan 36,50C.
Terapi
O2 3-4 L/menit
RL dan RL+petidine
Meropenem 1gr/12jam/iv
Ranitidine 1amp/12jam/iv
Fosmycin 2gr/12jam/iv
Ketorolac 3% / 8jam/drips
Raivas 2,2cc/jam
Cairan
10/3/15 RL
17.00
Transfusi TD
3%
darah
Nadi GCS
1gr/12jam
2gr/12jam /8jam
-
-
80/pp
100
15
1gr/12jam
2gr/12jam /8jam
3,2cc/jam -
90/pp
100
15
1gr/12jam
2gr/12jam /8jam
3,2cc/jam +
120/70 80
15
1gr/12jam
2gr/12jam /8jam
3,2cc/jam -
130/80 95
15
1gr/12jam
2gr/12jam /8jam
Stop
130/80
RL+petidine
10/3/15 RL
19.00
Ketorolac Raivas
RL+petidine
10/3/15 RL
18.00
Meropenem Fosmysin
RL+petidine
11/3/15 RL
RL+petidine
11/3/15 RL
-
RL+petidine
20
Pemeriksaan Laboratorium tanggal 11 – 03 - 2015
Pemeriksaan
Hasil
Satuan
Rujukan
Hemoglobin
9,4
g/dl
13,5-17,5
Hematokrit
28,1
%
33-45
Leukosit
15,8
Ribu/ul
4,5-11
Trombosit
160
Ribu/ul
150-450
Natrium darah
133
mmol/L
136-145
Kalium darah
3,6
mmol/L
3,7-5,4
Chlorida darah
105
mmol/L
98-106
GDP
152
mg/dl
70-110
21
BAB IV
PEMBAHASAN
Perjalanan diagnosis pada pasien :
Pasien masuk IRD didiagnosis:
- Susp fraktur comminute terbuka tibia fibula dextra
- VL a/r antebrachii bagian dorsal
( Luka robek tak beraturan sepanjang tungkai bawah ukuran ± 30 x 15 cm, muscle
expose, bone expose, perikal striping (+). Kaki dan pergelangan kaki susah di gerakkan
di karenakan sakit)
Kemudian pasien masuk ICU dengan diagnosis :
Syok Hipovolemik (TD 90/70 mmHg, HR 98 x/menit, RR 22x/menit, akral dingin)
Diagnosis setelah operasi :
•
Fraktur lower end of Femur gr IIIb
•
Fraktur upper end of Tibia ge IIIb
•
Fraktur segmental Tibia Fibula gr IIIb
•
Laceration multiple muscle and tendon lower leg
•
Anemia post Hemoragic
•
Perjalanan tatalaksana pasien :
1. Posisi tubuh
Pada penderita-penderita syok hipovolemik, baringkan penderita telentang dengan
kaki ditinggikan 30 cm sehingga aliran darah balik ke jantung lebih besar dan
tekanan darah menjadi meningkat. Tetapi bila penderita menjadi lebih sukar bernafas
atau penderita menjadi kesakitan segera turunkan kakinya kembali.
Pada pasien posisi yang dilakukan adalah posisi terlentang
22
2. Primary survey
-
ABCDE(airway, breathing, circulation,disability,exposure)
Pemberian oksigen, pemeriksaan nadi, GCS, dan pemerikasaan seluruh tubuh
untuk melihat jika terdapat luka
-
Pemasangan kateter
Kateterisasi kandung kemih memudahkan penilaian urin akan adanya hematuria
dan evaluasi dari perfusi ginjal dengan memantau produksi urin.
Pada pasien di lakukan poin-poin diatas
3. Resusitasi cairan
Beri infuse dengan cairan kristaloid, koloid atau darah. Tujuan untuk memulikan
curah jantung dan perfusi jaringan secepat mungkin.
Cairan kristaloid yang dapat diberikan :
 Ringer Lactat
 Ringer Asetat
 Glukosa 5%,10%
 NaCl 0,9%
Pada pasien ini di berikan cairan Ringer Lactat dan Nacl 0,9% serta darah
23
BAB V
KESIMPULAN
Kehilangan cairan terjadi setiap saat dan mutlak diganti agar metabolisme
tubuh dapat berlangsung normal. Keseimbangan air ini dikelola dengan pengaturan
masukkan dan pengeluaran. Air tubuh terdapat di dalam sel (intrasel) dan di luar sel
(ekstrasel). Cairan extraselular meliputi cairan interstisial dan plasma yang
mempunyai komposisi sama. Kehilangan cairan normal berlangsung akibat
pemakaian energi yang dapat dibagi menjadi tiga kategori Syok hipovolemik
merupakan kondisi medis atau bedah dimana terjadi kehilangan cairan dengan cepat
yang berakhir pada kegagalan beberapa organ, disebabkan oleh volume sirkulasi yang
tidak adekuat dan berakibat pada perfusi yang tidak adekuat. yaitu kehilangan cairan
insensibel, produksi urin serta kehilangan cairan melalui tinja. Secara fisiologis, syok
hipovolemik dibagi menjadi 4 fase, fase insial, fase kompensasi, fase progresif, dan
fase refraktor. Derajat syok hipovolemik dibagi menjadi 4 kelas berdasarkan jumlah
darah yang hilang. Penanggulangan syok dimulai dengan tindakan umum yang
bertujuan untuk memperbaiki perfusi jaringan, memperbaiki oksigenasi tubuh, dan
mempertahankan suhu tubuh. Segera berikan pertolongan pertama sesuai dengan
prinsip resusitasi ABC. Primary survey meliputi : airway, breathing, circulation,
disability, dan exposure. Secondary survey meliputi pengkajian fisik. Sedangkan
tersier survey dilakukan selain pengkajian primary dan secondary survey, misalnya
terapi atau resusitasi cairan. Manajemen resusitasi cairan sangat penting. Untuk
mempertahankan keseimbangan cairan maka input cairan harus sama untuk
mengganti cairan yang hilang. Pemilihan cairan sebaiknya didasarkan atas status
hidrasi pasien, konsentrasi elektrolit, dan kelainan metabolik yang ada. Tujuan dari
terapi cairan dibagi atas resusitasi untuk mengganti kehilangan cairan akut dan
rumatan untuk mengganti kebutuhan harian. Komplikasi yang dapat ditimbulkan
akibat syok hipovolemik adalah kegagalan multi organ, sindrom distress pernafasan,
dan DIC.
24
DAFTAR PUSTAKA
1. Garner K. Management of Hypovolemic Shock in the Trauma Patient. 2013
2. Butler A. Shock – Recognition, Pathophysiology, and Treatment. 2010.
Available at : http://www.dcavm.org/10oct.html. Accessed on July 3th, 2013.
3. Kolecki
P.
Hypovolemic
Shock.
2012.
Available
at:
http://emedicine.medscape.com/article/760145-overview#a0104. Accessed on
July 3th, 2013.
4. Maier RV. Pendekatan Pada Pasien Dengan Syok. Dalam: Fauci AS, TR
Harrison, eds. Harrison 's Prinsip Kedokteran Internal . 17 ed. New York, NY:
McGraw Hill, 2008: chap 264.
5. Purwadianto A, Sampurna B. Kedaruratan Medik. Binarupa Aksara. Jakarta.
2011; 47-53.
6. Latief SA, Suryadi KA, Dachlan MR. Petunjuk Praktis Anestesiologi. Bagian
Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2009; 133-140..
7. Spaniol JR, AR Knight, Zebley JL, Anderson D, JD Pierce. Resusitasi Cairan
Terapi Untuk Syok Hemoragik. J Trauma Nurs . 2007; 14:152-156.
25
Download