Uploaded by User55898

181-350-1-SM

advertisement
Jurnal Gradien Vol. 2 No. 2 Juli 2006 : 187-191
Karakterisiasi Kinerja Dari Beberapa Membran Datar
Irfan Gustian
Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Bengkulu, Indonesia
Diterima 20 Juni 2006; disetujui 1 Juli 2006
Abstrak - Penelitian ini bertujuan untuk membuat membran datar melalui beberapa cara. Cara pertama menggunakan
cara tekan panas dengan bahan dasar selulosa bakteri untuk proses osmosis balik dan proses ultrafiltrasi dan yang
kedua menggunakan cara inversi phasa dengan polisulfon sebagai lapisan pendukung, selulosa asetat, aseton dan
formamida sebagai lapisan aktif. Pengujian yang telah dilakukan adalah terhadap koefisien rejeksi dan fluks dari
membran yang dihasilkan. Dari hasil menunjukkan bahwa keofisien rejeksi untuk cara pertama pada proses osmosis
balik adalah 55% hingga 78% dan untuk proses ultrafiltrasi adalah 98%. Pada cara kedua menggunakan inversi phasa
diperoleh 66,94% hingga 72,93%.
Kata kunci: membran datar; koefisien rejeksi
1. Pendahuluan
Saat ini penggunaan membran pada skala besar telah
dimanfaatkan untuk memproduksi air yang dapat
diminum dari air laut atau proses desalinasi dengan
proses osmosa balik, recovery suatu konstituen dengan
proses elektrodialisis, fraksinasi makromolekul pada
industri makanan dan minuman dengan proses
ultrafiltrasi dan menghilangkan toksin dan racun
lainnya dari darah manusia dengan proses dialisis pada
ginjal buatan. Perkembangan dari penggunaan dan
pemanfaatan dari membran ini tidak lain karena proses
pemisahan dan pemekatan dengan membran ini
memilki kelebihan antara lain: tidak menggunakan zat
kimia, temperatur operasinya cukup pada temperatur
kamar, bersifat non destruktif, “tailor made” dan
teknologinya bersih [6].
Pemilihan terhadap teknik ini dikarenakan berbagai
sifat membran yang menguntungkan dan dapat
dipergunakan luas untuk berbagai proses pemisahan.
Kemampuan membran untuk mentransportasikan atau
memindahkan salah satu komponen lebih cepat
dibandingkan dengan komponen lainnya disebabkan
karena adanya gaya dorong dan perbedaan sifat fisika
kimia antara membran dan komponen permeat [3].
Pada Penelitian ini telah di lakukan karakterisasi
kinerja membran yang dibuat melalui dua cara dan
bahan yang berbeda, yaitu metoda hotpress dengan
bahan dasar selulosa bakteri untuk proses osmosis balik
dan ultrafiltrasi [1][5]. Metoda yang kedua inversi
phasa dengan bahan dasar polisulfon sebagai lapisan
pendukung dan selulosa asetat, aseton, formamida
sebagai lapisan aktifnya. untuk proses ultrafiltrasi.
2. Metode Penelitian
Bahan yang digunakan adalah, air aren, air kelapa,
(NH2)2CO, CH3COOH, NaOH, NaN3, MgCl2 NaCl,
bakteri Acetobacter xylinum, polisulfon, dimetilasetamida, polietilenglikol, selulosa asetat, aseton, dan
formamida, hidrazin sulfat, heksametilen tetramin.
Alat yang digunakan adalah wadah plastik/ baki, koran,
karet, , alat hot press, kasa stainles stell, peralatan
osmosa balik master RUW-4 Nitto Denko, Total
Dissolved Solid meter (TDS), sel membran.
Pembuatan membran dari air aren
terisasi untuk proses osmosis balik
dan karak-
Satu liter air aren (Arenga pinata) yang telah disaring
dididihkan. Setelah mendidih ditambahkan 6,7 gram
gula pasir, 5 gram (NH2)2CO dan 1 mL CH3COOH.
Dalam keadaan panas kemudian dipindahkan wadah
plastik/baki berukuran 15 x 20 cm dan ditutup dengan
kertas. Setelah dingin/ suhu kamar di inokulasi dengan
Irfan Gustian, Jurnal Gradien Vol. 2 No. 2 Juli 2006 : 187-191
Fluks NaCl dan MgCl2
6
Fluks (L/jam m2)
starter bakteri Acetobacter xylinum. Frmentasi pada
suhu kamar selama 7 hari. Nata yang dihasilkan
dimurnikan dan diberi perlakuan perendaman. Setelah
itu nata ditekanan panas pada 100 kgf/cm2 pada suhu
120oC selama 3-5 menit untuk mendapatkan membran
.Membran yang dihasilkan selanjutnya di karakterisasi
pada proses osmosis balik.
188
5
4
3
2
1
0
0
5
10
15
20
25
2
Tekanan (Kgf/cm )
Pembuatan membran dari air kelapa dan karakterisasi untuk proses ultrafiltrasi
Nata yang dihasilkan dimurnikan dan diberi perlakuan
perendaman. Setelah itu nata ditekanan panas pada 100
kgf/cm2 pada suhu 120oC selama 3-5 menit untuk
mendapatkan membran. Membran yang dihasilkan
selanjutnya di karakterisasi pada proses ultrafiltrasi.
Pembuatan membran komposit dan karakterisasi
untuk proses ultrafiltrasi
Fluks MgCl2 NaOH
Gambar 1. Fluks NaCl dan MgCl2
Fluks NaCl dan MgCl2 membran menunjukan
perbedaan yang tidak berarti, pada tekanan 10 Kgf/cm2
fluks NaCl dan MgCl2 yaitu 2,39016 L/m2 jam untuk
MgCl2 dan 2,2294 L/m2 jam untuk NaCl Bila dilihat
dari larutan umpan yang digunakan, fluks NaCl lebih
besar dari fluks MgCl2. Ini dimungkinkan oleh ukuran
molekul larutan umpan yang berbeda.
Koefisein Rejaksi NaCl dan MgCl2
80
% Rejeksi
Satu liter air kelapa yang telah disaring dididihkan.
Setelah mendidih ditambahkan 6,7 gram gula pasir, 5
gram (NH2)2CO dan 1 mL CH3COOH. Dalam keadaan
panas kemudian dipindahkan ke wadah plastik/baki
berukuran 15 x 20 cm dan ditutup dengan kertas.
Setelah dingin/ suhu kamar di inokulasi dengan starter
bakteri Acetobacter xylinum. Frmentasi pada suhu
kamar selama 4 hari.
Fluks NaCl NaOH 2%
60
40
20
0
0
5
10
15
20
25
2
Tekanan (Kgf/cm )
Pembuatan
membran
komposit
berpendukung
dilakukan dengan cara mencetak dope polisulfon diatas
kain poliester dan membiarkannya terkoagulasi di
udara terbuka selama 30 menit. Selanjutnya dope
selulosa asetat dicetak diatas polisulfon sebagai lapisan
tipis dan segera dikoagulasi di dalam air.
Komposisi polisulfon 16%, dimetil-asetamida 68% dan
polietilenglikol 16%. Untuk lapisan aktifnya selulosa
asetat 17%, aseton 56% dan formamida 27%.
Membran yang dihasilkan selanjutnya di karakterisasi
pada proses ultrafiltrasi.
3. Hasil Dan Pembahasan
a.
Kinerja membran dari air aren
osmosis balik
pada proses
% R NaCl NaOH 2%
% R MgCl2 N
Gambar 2. Koefisien rejeksi membran
Nilai rejeksi meningkat dengan meningkatnya aplikasi
tekanan, tetapi peningkatan nilai rejaksi ini tidak terlalu
berarti,. semakin besar tekanan larutan umpan semakin
besar pula berkompetisi untuk melewati pori membran,
sehingga banyak partikel umpan yang tertahan
sehingga menghasilkan nilai rejeksi yang besar
dibandingkan dengan tekanan yang lebih rendah [3][6].
Dari larutan umpan terlihat bahwa nilai rejeksi
membran terhadap larutan umpan MgCl2 lebih besar
dibandingkan dengan larutan umpan NaCl, hal ini
dimungkinkan ukuran larutan umpan yang berbeda.
Irfan Gustian, Jurnal Gradien Vol. 2 No. 2 Juli 2006 : 187-191
b.
Kinerja membran dari air kelapa pada proses
ultrafiltrasi
Hasil pengukuran Fluk beberapa larutan umpan pada
tekanan 1, 1,5 dan 2 bar terhadap membran dariair
kelapa, diperoleh hasil seperti pada Tabel berikuit.
Tabel 1 . Fluk membran dari air kelapa dengan variasi
tekanan pada beberapa jenis umpan
Umpan
Akuades
Suspensi
kekeruhan
Air baku
PDAM
Tekanan
(Bar)
1
1,5
2
1
1,5
2
1
1,5
2
Fluks (Lm-2h-1)
11,3359
14,3437
17,1344
9,6824
12,0846
14,3555
11,3183
14,3250
17,1036
Penambahan
tekanan
berpengaruh
terhadap
peningkatan Fluks membran dari air kelapa. Nilai fluks
tertinggi terjadi pada tekanan 2 bar dengan akuades
sebagai larutan umpan yaitu 17,1344
Lm-2h-1,
sedangkan terendah terjadi pada suspensi kekeruhan
sebagai larutan umpan pada tekanan 1 bar yaitu 9,6824
Lm-2h-1. Hal ini sesuai dengan teori bahwa hubungan
antara tekanan dengan fluk membran adalah
berbanding lurus yang artinya semakin besar tekanan
yang diberikan pada membran maka fluks akan
semakin besar [1].
Berdasarkan Tabel terlihat Akuades sebagai larutan
umpan nilai fluksnya lebih tinggi dibandingkan dengan
air baku PDAM sebagai umpan., sedangkan pada air
baku PDAM terdapat partikel-partikel yang
menyebabkan terjadinya penyumbatan pada pori
membran, sehingga difusinya lebih lambat. Semakin
besar tekanan yang diberikan maka semakin banyak
partikel-pertikel yang tertahan pada permukaan
membran atau pada pori-pori membran dan
mengakibatkan penyumbatan pori-pori membran
sehingga terjadinya penurunan nilai fluks. Difusi
dinyatakan dalam harga koefisien difusi. Pada suspensi
kekeruhan sebagai larutan umpan, diperoleh harga
fluks yang paling kecil yaitu tekanan 1 bar, harga ratarata fluksnya sebesar 9,6824 Lm-2h-1. Tekanan 1,5 bar,
harga rata-rata fluksnya sebesar 12,0846 Lm-2h-1 dan
pada tekanan 2 bar, harga rata-rata fluksnya sebesar
14,3555 Lm-2h-1. Hal ini disebabkan karena pada
suspensi kekeruhan sebagai larutan umpan adanya efek
polarisasi konsentrasi.
Ketika daya dorong berupa tekanan diberikan pada
larutan umpan, maka komponen penyusun larutan
berupa koloid tertahan dipermukaan membran,
sedangkan pelarutnya akan keluar melewati membran.
Dengan semakin banyaknya komponen yang tertahan
pada bagian permukaan membran seiring dengan
penambahan tekanan, maka konsentrasi komponen
yang tertahan di permukaan membran akan semakin
meningkat. Hubungan antara rejeksi membran dengan
tekanan pada berbagai jenis umpan dapat dilihat pada
Gambar berikut :
100
Permselektivitas (%)
189
Air Baku
PDAM
50
Suspensi
0
1
1,5
2
Tekanan (bar)
Gambar 3. Grafik rejeksi membran dengan variasi
tekanan pada beberapa larutan umpan
Berdasarkan gambar di atas, dapat dilihat bahwa pada
suspensi kekeruhan sebagai larutan umpan,
penambahan tekanan tidak memberikan pengaruh yang
berarti terhadap permselektivitas membran dimana
koefisien rejeksi tidak menunjukkan perbedaan yang
berarti yaitu relatif konstan dan koefisien rejeksinya
hampir mencapai 100%. Sedangkan pada Air baku
PDAM sebagai larutan umpan, nilai koefisien rejeksi
meningkat dengan semakin meningkatnya tekanan. Hal
ini disebabkan pada suspensi kekeruhan sebagai larutan
umpan terjadi polarisasi konsentrasi sedangkan pada air
baku PDAM tidak terjadinya polarisasi konsentrasi.
c.
Kinerja membran komposit
ultrafiltrasi
pada proses
Pada pengukuran permeabilitas membran komposit
terhadap limbah zat warna dispersi industri batik
besurek menggunakan limbah zat warna reactiv
Irfan Gustian, Jurnal Gradien Vol. 2 No. 2 Juli 2006 : 187-191
berwarna biru hasil pencucian kain batik besurek dari
industri rumah tangga “Serindang Bulan”. Sebagai
pembanding digunakan larutan umpan air keruh.
Pengukuran permeabilitas dari limbah zat warna dan
larutan umpan air keruh dilakukan pada tekanan 1 Bar,
1,5 Bar, dan 2 Bar.
190
penghalang. Dimana molekul-molekul air akan terikat
pada ion-ion elektrolit sehingga ion terhidrasi ini
mempunyai diameter yang cukup besar untuk dapat
ditahan oleh lapisan aktif membran.
%R
120
100
Dari Gambar.. terlihat fluks dari zat warna dan sampel
air keruh naik pada setiap tekanan yang aplikasikan.
Fenomena ini sama dengan fluks akuades, tetapi nilai
fluks yang dihasilkan untuk zat warna dan sampel air
keruh lebih rendah karena pada akuades tidak ada
partikel atau zat terlarut lain sehingga laju difusi
akuades melewati membran lebih cepat. Sedangkan
pada zat warna dan sampel air keruh terdapat partikel
atau zat-zat terlarut yang dapat memperlambat laju
difusi umpan melewati membran. Fluks limbah zat
warna lebih besar bila dibandingkan dengan fluks
sampel air keruh pada setiap tekanan yang
diaplikasikan.
%R
Fluks
2
(L/Jam m13.687
)
16
14
12
10
8
6
4
2
0
10.826
Zat Warna
8.308
7.368
6.356
5.691
0
1
2
Sampel
air
3
Tekanan (Bar)
Gambar.4. Fluks zat warna dan sampel air keruh
Dari karakterisasi degree of swelling membran oleh air
yang menunjukkan nilai yang cukup tinggi, ini berarti
ikatan silang yang terbentuk pada membran komposit
juga cukup banyak. Adanya ikatan silang menyebabkan
molekul atau ion lebih sulit berdifusi melewati
membran dan akibat meningkatnya ikatan silang
menyebabkan penurunan koefisien difusi akan semakin
tinggi. Fluks akuades lebih tinggi daripada fluks larutan
zat warna dan sampel air keruh, hal ini terjadi karena
molekul air akuades jauh lebih kecil dibandingkan
dengan molekul zat warna dan sampel air keruh
sehingga difusi air akuades akan lebih cepat.
Berdasarkan pada model aliran serapan pipa kapiler
yang dikemukakan oleh Sourirajan dengan asumsi
bahwa air berikatan dengan membran membentuk lapis
zat w arna
80
60
40
sam pel
air
20
0
0
1
2
3
Tekanan (Bar)
Tekanan
Gambar 5.Koefisien rejeksi membran komposit
Koefesien rejeksi dari kedua jenis umpan menunjukkan
kecendrungan yang sama, dimana kenaikan tekanan
yang diaplikasikan akan meningkatkan rejeksi. Pada
tekanan 1 Bar koefisien rejeksi kedua umpan
menghasilkan nilai yang hampir sama. Pada kenaikan
tekanan 1,5 Bar dan 2 Bar koefesien rejeksi sampel air
keruh kenaikannya lebih ekstrim dibandingkan
kenaikan koefesien rejeksi membran terhadap zat
warna. Perbedaan ini karena perbedaan ukuran molekul
atau partikel terlarut dari ke dua umpan, dimana untuk
sampel air keruh ukuran molekul atau partikel
terlarutnya lebih besar dibandingkan zat warna . Hal ini
di dukung juga oleh data yang diperoleh dari
permebilitas membran komposit, dimana laju difusi
umpan zat warna lebih tinggi dibandingkan laju difusi
sampel air keruh. Terjadinya laju difusi yang tinggi
menyebabkan interaksi umpan dengan membran lebih
cepat yang mengakibatkan koefisien rejeksinya
menjadi rendah, membran sukar menahan umpan dan
ada umpan yang dapat berdifusi melewati membran.
Sedangkan umpan air keruh pada tekanan 1,5 Bar dan 2
Bar menghasikan koefisien rejaksi hingga 100%,
artinya molekul atau partikel terlarut tertahan oleh
membran tidak dapat berdifusi melewati membran.
Difusi membran sangat dipengaruhi oleh goemetri poripori dan larutan umpan. Terjadinya ikatan silang pada
antarmuka membran dari asimetris menjadi asimetris
komposit yang mempunyai lapis tipis yang sangat
rapat, proses pembentukan ikatan silang ini akan terus
berlangsung sampai reaktan pembentuk ikatan habis
[3].
191
Irfan Gustian, Jurnal Gradien Vol. 2 No. 2 Juli 2006 : 187-191
4. Kesimpulan
Permeabilitas yang dihasilkan :
a. Untuk membran dari air aren pada proses osmosis
balik adalah 2 hingga 6 Lm-2h-1.
b. Untuk membran dari air kelapa pada proses
ultrafiltrasi adalah 9,68 hingga 17,10 Lm-2h-1
c. Untuk membran komposit pada proses ultrafiltrasi
adalah 8,30 hingga 13,09 Lm-2h-1
Selektifitas yang dihasilkan :
a. Untuk membran dari air aren pada proses osmosis
balik adalah 55% hingga 78%.
b. Untuk membran dari air kelapa pada proses
ultrafiltrasi adalah 98%.
c. Untuk membran komposit pada proses ultrafiltrasi
adalah 66,94% hingga 72,93%.
Perlu dilakukannya penelitian lanjut tentang polarisasi
konsentrasi yang terjadi pada setiap proses pemisahan.
Daftar Pustaka
[1] Iguchi, M., S. Yamanaka, A. Budhiono, Review
Bacterial Cellulose, a Masterpiece of Natueal’s Arts,
2000, Journal of Material Science, 35, 261- 269.
[2] Master, W., Pembuatan dan Pemurnian nata de coco
untuk memperoleh film polimer berkekuatan tinggi,
1999, skripsi, jurusan kimia, ITB.
[3] Mulder, M., Basic principles of Membrane Tecnology,
2nd edition, 1996, kluwer academic Publisher.
[4] Nishi, Y., Uryu, S. Yamanaka, K. Watanabe, N.
Kitamura, M. Iguchi, Structure and Mechanical 5.
Properties of Sheet Prepared from Bacterial Cellulose,
1990, Journal of Material Science, 24, 3141- 4145
[5] Shibazaki, H,. S. Kuga, F. Onabe and M. Usuda,
Bacterial cellulose Membrane as Separatoin Medium,
1993, Journal of Applied Polymer Science, 50, 965 969.
[6] Strathmann, H., Synthetic Membranes and Their
Preparation, 1990, Handbook of industrial Membrane
Technology, Editor: M.C.Porter, Noyes Pub, New
Jersey, 1- 60.
Download