Uploaded by User52593

RUANG LINGKUP AGAMA ISLAM DAN EKONOMI

advertisement
RUANG LINGKUP AGAMA ISLAM
DAN EKONOMI
D
I
S
U
S
U
N
Oleh :
1. Amalia Permata Sari
2. Okta Rifaldo
3. Tiara Sakinah
(1822210035)
(1822210028)
(1822210036)
SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI MULTI DATA
PALEMBANG
TAHUN AJARAN 2018/2019
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT,karena atas rahmat-Nya penulis dapat
menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Ruang Lingkup
Agama
Islam
dan
Ekonomi”.
Penulisan makalah merupakan salah satu tugas yang diberikan dalam mata kuliah
pendidikan Agama Islam.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan baik pada teknis
penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang penulis miliki. Untuk itu kritik dan
saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada
mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai
ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
Palembang ,29 April 2019
2
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ..........................................................................................................2
DAFTAR ISI.........................................................................................................................3
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...............................................................................................................4
1.2. Rumusan Masalah ..........................................................................................................5
1.3. Tujuan Penulisan ............................................................................................................5
1.4. Metode Penulisan ..........................................................................................................5
1.5. Manfaat Penulisan ..........................................................................................................5
BAB II PEMBAHASAN
2.1. Konsep Dasar Ekonomi Islam .......................................................................................6
A. Tujuan Hidup .............................................................................................................6
B. Sistem Ekonomi Islam ...............................................................................................6
C. Filsafat Ekonomi Islam ..............................................................................................8
2.2. Filantrofi Islam................................................................................................................8
A. Shadaqah ..........................................................................................................................9
B. Infaq ..................................................................................................................................9
C. Hibah ................................................................................................................................. 9
D. Qurban ...............................................................................................................................10
E. Waris .................................................................................................................................10
F. Wasiat ................................................................................................................................ 11
G. Zakat ................................................................................................................................... 11
H. Wakaf ................................................................................................................................. 13
2.3. Tujuan Ekonomi dalam Islam ................................................................................................ 15
2.4. Prinsip-Prinsip Ekonomi dalam Islam ................................................................................... 15
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan ............................................................................................................................16
3.2. Saran.......................................................................................................................................16
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................................17
3
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Masalah ekonomi merupakan masalah yang universal, karenanya seluruh dunia menaruh
perhatian yang besar terhadap permasalahan ekonomi. Dalam realita kehidupan, manusia
berusaha
mengerahkan tenaga dan juga
pikirannya untuk memenuhi berbagai
keperluan
hidupnya, seperti
sandang,
pangan
dan
tempat
tinggal.
Pengerahan
tenaga
dan pikiran ini penting untuk menyempurnakan kehidupannya sebagai individu maupun sebagai
seorang anggota suatu masyarakat. Segala kegiatan yang bersangkutan dengan usaha yang
bertujuan untuk memenuhi keperluan ini dinamakan ekonomi.
Islam memandang masalah ekonomi tidak dari sudut pandang kapitalis, tidak dari sudut
pandang sosialis, dan juga tidak merupakan gabungan dari keduanya. Islam memberikan
perlindungan hak kepemilikan individu, sedangkan untuk kepentingan masyarakat didukung dan
diperkuat, dengan tetap menjaga keseimbangan kepentingan publik dan individu serta
menjaga moralitas. Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh
sendi kehidupan manusia dan alam semesta.
Islam memperbolehkan seseorang mencari kekayaan sebanyak mungkin. Islam
menghendaki adanya persamaan, tetapi tidak menghendaki penyamarataan. Kegiatan ekonomi
harus diatur sedemikian rupa sehingga tidak terlalu banyak harta dikuasai pribadi. Di dalam
bermuamalah, Islam menganjurkan untuk mengatur muamalah di antara sesama manusia atas
dasar amanah, jujur, adil, dan memberikan kemerdekaan bermuamalah serta jelas-jelas bebas
dari unsur riba. Islam melarang terjadinya pengingkaran dan pelanggaran larangan-larangan dan
menganjurkan untuk memenuhi janji serta menunaikan amanat.
Berbagai hasil penelitian yang dilakukan oleh para ahli, menunjukkan adanya masyarakat
muslim yang dengan sadar memilih berintegrasi pada perekonomian dalam perbankan syari‘ah
sebagai implementasi ketaatan beragama, sekaligus sebagai usaha memenuhi kebutuhan
ekonomi.
4
1.2. Rumusan Masalah
Dari paparan di atas, maka penulis mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
1) Apa konsep dasar ekonomi Islam?
2) Apa filantrofi Islam?
3) Apa tujuan ekonomi dalam Islam?
4) Apa prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam?
1.3. Tujuan penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
Untuk mengetahui konsep dasar ekonomi dalam Islam.
Untuk mengetahui tujuan ekonomi dalam Islam.
Untuk mengetahui prinsip-prinsip ekonomi dalam Islam.
Untuk memberikan penjelasan tentang ekonomi Islam.
1.4. Metode Penulisan
Metode yang penulis gunakan adalah:
1) Deskriptif.
2) Kajian pustaka, yang dilakukan dengan mencari literatur di internet dan buku–buku
panduan.
1)
2)
3)
4)
1.5. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat dari penulisan makalah ini sebagai berikut:
Dapat mengetahui konsep dasar ekonomi dalam Islam
Dapat mengetahui tujuan ekonomi dalam Islam
Dapat mengetahui prinsip-prinsip dalam Islam
Dapat memberikan penjelasan tentang ekonomi Islam dan menerapkannya dalam kehidupan.
5
BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep Dasar Ekonomi Islam
Ekonomi Islam merupakan suatu cabang ilmu yang mempelajari metode untuk memahami
dan memecahkan masalah ekonomi yang didasarkan atas ajaran agama Islam. Perilaku manusia
dan masyarakat yang didasarkan atas ajaran agama Islam inilah yang kemudian disebut sebagai
perilaku rasional Islam yang akan menjadi dassar pembentukan suatu perekonomian Islam.
A. Tujuan Hidup
Pada dasarnya setiap manusia selalu menginginkan kehidupannya di dunia ini dalam keadaan
bahagia, baik secara material maupun spiritual, individual maupun sosial. Namun, dalam
praktiknya kebahagiaan multi dimensi ini sangat sulit diraih karena keterbatasan kemampuan
manusia dalam memahami dan menerjemahkan keinginannya secara komprehensif, keterbatasan
dalam menyeimbangkan antar aspek kehidupan maupun keterbatasan sumber daya yang bisa
digunakan untuk meraih kebahagiaan tersebut. Masalah ekonomi hanyalah merupakan satu
bagian dari aspek kehidupan yang diharapkan akan membawa manusia kepada tujuan hidupnya.
B.
Sistem Ekonomi Islam
Secara definisi, ekonomi Islam merupakan ilmu yang mempelajari usaha manusia untuk
mengalokasikan dan mengelola sumber saya untuk mencapai falah berdasarkan pada prinsipprinsip dan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah.
Muhammad Abdul Manan (1992) berpendapat bahwa ilmu ekonomi Islam dapat dikatakan
sebagai ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi masyarakat yang
diilhami nilai-nilai Islam. Ia mengatakan bahwa ekonomi Islam merupakan bagian dari suatu tata
kehidupan lengkap, berdasarkan empat bagian nyata dari pengetahuan, yaitu: al-Quran, asSunnah, Ijma dan Qiyas.
Menurut Suhrawardi K. Lubis (2004:14) bahwa sistem ekonomi Islam adalah ilmu ekonomi
yan dilaksanakan dalam praktek (penerapan ilmu ekonomi) sehari-harinya bagi individu,
keluarga, kelompok masyarakat maupun pemerintah dalam rangka pengorganisasian faktor
produksi, distribusi, dan pemanfaatan barang/jasa yang dihasilkan tunduk dalam peraturan Islam.
Sistem ekonomi Islam adalah sebuah sistem yang tidak lahir dari hasil ciptaan akal manusia,
akan tetapi sebuah sistem yang berdasarkan wahyu Allah SWT. Dengan kata lain, sistem
ekonomi Islam adalah sistem ekonomi yang berdasarkan ajaran Islam yang bersumber dari AlQur’an dan Hadits yang dikembangkan oleh pemikiran manusia yang memenuhi syarat dan ahli
dalam bidangnya.
Subjek ekonomi dalam Islam seringkali dikaitkan dengan kata muamalah dalam ilmu fiqih.
Kata muamalah sendiri berarti kerjasama antar sesama manusia, sehingga pengertiannya dapat
6
menjadi luas. Menurut Muhammad Daud (2002:50-51) bahwa dalam ruang lingkup hukum
Islam tidak membadakan (dengan tajam) antara hukum perdata dan hukum pidana, karena
menurut sistem hukum Islam pada hukum perdata terdapat segi-segi publik dan pada hukum
publik ada segi-segi perdatanya, maka hukum muamalah dalam arti luas adalah sebagai berikut:
a. Munakahat, mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan perkawinan, perceraian serta
akibat- akibatnya.
b. Wiratsah, segala masalah yang berhubungan dengan pewaris, ahli waris, harta peninggalan serta
pembagian waris.
c. Muamalat dalam arti khusus, mengatur masalah kebendaan dan hak-hak atas benda, tata hubungan
manusia dalam soal jual beli, sewa-menyewa, pinjam-meminjam, perserikatan, dan sebagainya.
d. Jinayat, memuat aturan-aturan mengenai perbuatan-perbuatan yang diancam dengan hukuman
baik dalam jarimah hudud atau ta’zir.
e. Al-Ahkam as-Sulthaniyah, membicarakan soal-soal yang berhubungan dengan pemerintahan,
tentara, pajak, dan lain-lain.
f. Suyar, mengatur tentang urusan perang dan damai, tata hubungan dengan pemeluk agama lain dan
negara lain.
g. Mukhasamat, mengatur soal peradilan, kehakiman dan hukum acara.
Dari sistematika pembagian hukum islam di atas, dapat diketahui bahwa sistem ekonomi
Islam, masuk dalam ruang lingkup mu’amalah.
Ekonomi tidak dapat dipisahkan dari subjek seputar kepemilikan dan pengelolaan terhadap
harta benda. Kepemilikan ialah pemberian yang bersifat social dan diakui suatu hak kepada
seseorang atau suatu kelompok masyarakat. Pemberian ini mencerminkan hak potensial untuk
memanfaatkan barang tertentu dan pada yang sama mengesampingkan pihak yang lain dari
pemberian hak yang sama. Kepemilikan menunjukkan hubungan sosial dan yang diakui antara
individu atau kelompok dalam masyarakat dan mencerminkan hak milik sah pemilik atas barang
dan pada saat yang sama menghalangi pihak lain dari hak seperti itu (Muhammad H. Behesti,
1992:9)
Menurut Rofiq Yunus al-Masry (1993:41) kepemilikan terbagi dua, yaitu kepemilikan yang
bersifat umum dan kepemilikan yang bersifat khusus (privat). Kepemilikan khusus adalah hak
milik perorangan atau kelompok. Jenis kepemilikan seperti ini telah diakui dalam Islam,
sebagaimana terdapat di dalam Al-Qur’an ayat-ayat yang menyebutkan amwaalakum/hartahartamu, amwaalahum/harta-harta
mereka, amwaal
al-yatiim/harta
anak
yatim,
atau buyuutakum/rumah-rumah kamu. Sebagaiman pula terdapat dalam Al-Qur’an perintah untuk
membayar zakat, mengeluarkan infaq. Sedangkan kepemilikan umum adalah wakaf yang
dimiliki oleh seluruh kaum muslimin, setiap muslim boleh mengambil manfaat, namun tidak
dapat dijual, dihapus atau dihadiahkan.
7
C. Filsafat Ekonomi Islam
Menurut Ahmad M. Saefuddin dalam Muhammad Daud (1988:5-6) ada tiga filsafat ekonomi
Islam, yaitu:
1) Semua yang ada di alam semesta langit, bumi serta sumber-sumber alam yang ada padanya,
bahkan harta kekayaan yang dikuasai manusia adalah milik Allah SWT, karena Dialah yang
menciptakannya. Semua ciptaan Allah itu tunduk pada kehendak dan ketentuan-ketentuan-Nya.
Manusia sebagai khalifah-Nya berhak mengurus dan memanfaatkan alam semesta untuk
kelangsungan hidup dan kehidupan manusia dan lingkungannya.
2) Allah Maha Esa, Dialah pencipta segala makhluk yang yang ada di alam semesta. Salah satu
ciptaanNya adalah manusia yang diberi alat kelengkapan sempurna lebih dari makhluk-makhluk
ciptaan Allah lainnya agar ia mampu melaksanakan tugas, hak dan kewajiban sebagai khalifah
Allah di bumi ini.
3) Beriman kepada hari kiamat, keyakinan pada hari kiamat ini merupakan asas penting dalam
sistem ekonomi Islam karena dengan keyakinan itu, tingkah laku ekonomi manusia di bumi ini
akan dapat terkendali, sebab ia sadar bahwa semua perbuatannya termasuk tindakan ekonominya
akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT.
Dari ketiga pokok filsafat ekonomi Islam melahirkan nilai-nilai dasar ekonomi islam, yaitu
nilai dasar kepemilikan, keseimbangan, dan keadilan.
2.2. Filantrofi Islam
Andi Agung Prihatna dalam buku Revitalisasi Filantrofi Islam Studi Kasus Lembaga
Zakat dan Wakaf Di Indonesia (2005:6) menyatakan bahwa istilah filantrofi (philanthropy)
berasal dari bahasa Yunani, philos (cinta) dan anthropos (manusia). Secara harfiah filantropi
adalah konseptualisasi dari praktik memberi (giving), pelayanan (services) dan asosiasi
(assiciation) secara sukarela untuk membantu pihak lain yang membutuhkan sebagai ekspresi
rasa cinta. Di dalam Al-Qur’an perintah berderma mengandung makna kemurahan hati, keadilan
sosial, saling berbagi dan saling memperkuat. Aktivitas berderma inilah yang disebut
sebagai filantrofi Islam.
Di dalam sistem ekonomi Islam terdapat lembaga sosial ekonomi yang dapat
menjembatani dua kelompok sosial, yaitu golongan kelas atas dan golongan kelas bawah.
Adapun lembaga-lembaga sosial ekonomi dalam Islam adalah sebagai berikut:
8
A. Shadaqah atau Sedekah
Shadaqah berasal dari kata shadaqa yang berarti benar. Orang yang suka bersedekah adalah
orang yang benar pengakuan imannya. Adapun secara terminologi syariat shadaqah makna
asalnya adalah tahqiqu syai'in bisyai'i atau menetapkan/menerapkan sesuatu pada sesuatu.
Sikapnya sukarela dan tidak terikat pada syarat-syarat tertentu dalam pengeluarannya baik
mengenai jumlah, waktu dan kadarnya.
Shadaqah memiliki makna yang sangat luas karena bersedekah tidak harus berupa materi
atau benda, tetapi juga dapat bersifat non materi, misalnya tersenyum dan bermuka cerah ketika
bertemu, menyingkirkan rintangan di jalan, menuntun orang yang buta, serta segala perbuatan
yang baik dan bermanfaat.
B. Infaq
Infaq berasal dari kata anfaqa yang berarti mengeluarkan sesuatu (harta) untuk kepentingan
sesuatu. Menurut terminologi syariat, infaq berarti mengeluarkan sebagian dari harta atau
pendapatan/penghasilan untuk suatu kepentingan yang diperintahkan Islam. Dengan kata lain,
infaq merupakan sumbangan sukarela atau seikhlasnya (berupa materi). Misalnya, untuk
menolong orang orang yang kesusahan; membangun masjid, jalan, jembatan; dan sebagainya.
Infaq dikeluarkan setiap orang yang beriman, baik yang berpenghasilan tinggi maupun
rendah, apakah ia di saat lapang maupun sempit. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat
Ali Imron: 134
‫ن ن نل غ ِسُ ِنْني ََّ سَ يالن غنن سَّ َغنان َا ن‬
‫لِ سَاَّنل ن سْغنك ننلغ ن س‬
‫ا َر نض س‬
‫غْ َ نَّنل سِل ن‬
‫ع سل َنعنلِساَّنل ن‬
ْ‫نرن يال ن َن يَ َح س َّسالن غن سيحم‬
Artinya: Yaitu orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik diwaktu lapang maupun sempit, dan
orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan orang, Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebajikan.
Terkait dengan infaq ini Rasulullah SAW bersabda: ada malaikat yang senantiasa berdo'a setiap
pagi dan sore : "Ya Allah SWT berilah orang yang berinfak, gantinya. Dan berkata yang lain :
"Ya Allah jadikanlah orang yang menahan infak, kehancuran". (HR. Bukhori)
C. Hibah
Kata hibah berasal dari bahasa Arab yang secara etimologis berarti melewatkan atau
menyalurkan. Dengan demikian berarti telah disalurkan dari tangan orang yang memberi kepada
tangan orang yang diberi. Jadi, dapat disimpulkan bahwa hibah merupakan suatu pemberian yang
bersifat sukarela (tidak ada sebab dan musababnya) tanpa ada kontra dari pihak penerima
pemberian, dan pemberian itu dilangsungkan pada saat si pemberi masih hidup.
9
1.
2.
3.
4.
Menurut Hussein Syahatah (1998:248) hibah adalah ungkapan tentang pengalihan hak
kepemilikan atas sesuatu tanpa adanya ganti atau imbalan sebagai pemberian dari seseorang
kepada orang lain dengan memenuhi rukun-rukunnya, yaitu:
Orang yang memberi, yaitu pemilik benda yang dihibahkan, disyaratkan harus merdeka, dewasa,
berakal sehat, tidak dipaksa, tidak berhutang, dan pengelolaan hartanya tidak dilarang.
Barang yang dihibahkan, yaitu suatu barang yang menjadi objek hibah.
Orang yang menerima hibah, yaitu orang yang menerima barang hibah dari orang yang memberi
hibah.
Ucapan hibah, yaitu sesuatu yang diucapkan dari orang yang memberi hibah yang menunjukkan
terjadinya hibah dengan format yang ditetapkan.
D. Qurban
Qurban berasal dari bahasa Arab, qaruba (fi’il madhi) – yaqrabu (fi’il mudhari’) –
qurban wa qurbaanan (mashdar) yang berarti mendekati atau menghampiri. Qurban atau disebut
juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan.
Qurban dalam fiqih Islam yaitu hewan yang dipotong dalam rangka
taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah, berkenaan dengan tibanya Idul adha atau yaumun
nahr pada tanggal 10 Dzulhijjah dan pada hari-hari tasyrik (11, 12, 13 Dzulhijjah). Disebut
hari nahr (atas dada), karena pada umumnya waktu dulu hewan yang dipotong itu adalah onta
yang cara pemotongannya atau penyembelihannya dalam keadaan berdiri dengan ditusukkannya
pisau ke lehernya dekat dada onta tersebut. Kemudian di kalangan kita popular dengan sebutan
“qurban” artinya sangat dekat, karena hewan itu dipotong dalam rangka taqarrub kepada Allah.
Qurban sangat dituntut dalam Islam. Dalil yang menerangkan ibadah qurban ialah:
Sebagaimana firman Allah SWT:
Artinya: "Maka bersembahyanglah kamu karena Tuhanmu dan berqurbanlah karena-Nya".
Artinya: "Daging dan darah binatang qurban atau hadiah tidak sekali-kali akan sampai kepada Allah,
tetapi yang sampai kepadaNya ialah amal yang ikhlas berdasarkan taqwa dari kamu".
E. Waris
Warisan adalah segala sesuatu baik yang bersifat materi maupun maknawi, yang telah
meninggal dunia dan dibagikan kepada ahli waris berdasarkan peraturan-peraturan tertentu.
Sebagian ulama mengungkapkan warisan dengan istilah faraidh, artinya warisan itu merupakan
bagian tertentu bagi ahli waris. Hal ini berdasarkan firman Allah SWT:
(٧ : ‫)النساء‬
‫نْامل نَ ي نل َن َ سر َََّي ان نض سر نَل‬
‫… نر ََ يل لل ِ س‬.”
Artinya: “…. baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan” (An-Nisa’ : 7)
10
F. Wasiat
Wasiat adalah pesan tentang suatu kebaikan yang akan dilaksanakan setelah orang yang
berwasiat itu meninggal dunia. Jika diberikan kepada ahli waris maka wasiatnya tidak sah
kecuali semua ahli waris yang lebih berhak menerima warisan itu ridha dan rela memberikan
kepadanya setelah orang yang berwasiat itu meninggal dunia.
“Dari Abu Umamah beliau berkata: Saya telah mendengar Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya
Allah telah menentukan hak tiap-tiap ahli waris maka dengan ketentuan itu tidak ada hak wasiat
bagi seorang ahli waris”.
(HR. Lima Ahli Hadits selain Nasai).
G. Zakat
Secara bahasa zakat berarti suci, baik, berkah, tumbuh, dan berkembang. Secara istilah
zakat adalah sebagian harta yang wajib diberikan kepada orang-orang tertentu dengan syaratsyarat tertentu pula (Didin Hafidhuddin, 1998:13).
Zakat merupakan dasar prinsipil untuk menegakkan struktur sosial Islam. Zakat bukanlah
derma atau sedekah biasa, ia adalah sedekah wajib. Setiap muslim yang memenuhi syarat
tertentu, berdasarkan dalil sebagai berikut:
a. Al-Qur’an
Surat at-Taubah : 103
‫و سوض سْ نال ن كيطن س وَا سا ََّ ك ي ن‬
ََّ ‫وْ ن َر نْغ سن سا ََّ سر َل يت‬
‫و نذك ن نْ سم نْ ن‬
‫ز س وا يل يَ ََّ ِّنانص ن‬
‫عرن َا سا ََّ ن ن‬
‫ن‬
‫ن‬
‫ع سرا ََّ ن ن‬
(١٠٣ : ‫ِ سَا َم )التوبة‬
‫ن‬
‫ِ نض َل ن‬
‫ُي ن يا ََّ ن‬
Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi)
ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
b. Hadits Riwayat Bukhori dan Muslim
‫ وااما‬, ‫قال رسول هللا صلى هللا عليه وسلم "بني ا السلم على خمس شهدة ان الاله االهللا وان محمدارسول هللاو‬
‫الصالةوااتاءالزكاة وحخ البيت وصو رمضان‬
Hadits adalah sebagaimana diriwiyatkan oleh Bukhori dan Muslim yang artinya Islam itu
berdiri di atas lima dasar yaitu bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad
adalah utusan Allah, mendirikan sholat, membayar zakat, naik haji, dan puasa ramadhan.
Zakat bukan hanya kewajiban yang apabila tidak dilaksanakan akan mendapat dosa,
tetapi lebih dari itu zakat memiliki tujuan yang jelas. dengan terlaksananya lembaga zakat secara
baik dan benar diharapkan kesulitan dan penderitaan fakir miskin dapat berkurang. Di samping
11
itu dengan pengelolaan zakat yang professional berbagai permasalahan yang terjadi dalam
masyarakat yang ada hubungannya dengan mustahiq zakat juga dapat dipecahkan.
Macam-macam zakat, antara lain:
1.
Zakat mal (zakat harta), yaitu bagian dari harta kekayaan seseorang atau badan
hukum yang wajib dikeluarkan untuk golongan tertentu setelah dipunyai selama jangka
waktu tertentu dalam jumlah minimal tertentu pula.
2.
Zakat fitrah (zakat jiwa), yaitu zakat wajib dikeluarkan oleh setiap orang Islam
baik laki-laki maupun perempuan, besar atau kecil, setiap tahun menjelang hari raya Idul
fitri.
Adapun secara lebih terperinci dapat dikemukakan hikmah zakat yang dirangkum dari
pernyataan Hussein Syahatah (1998) adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sarana pendidikan bagi jiwa manusia untuk bersyukur kepada Allah SWT
2. Melatih manusia untuk dapat merasakan penderitaan dan kesulitan fakir dan miskin
3. Sebagai sarana untuk menanamkan dalam jiwa manusia sifat jujur, amanah, pengorbanan, ikhlas,
mencintai sesama dan persaudaraan
4. Membentuk masyarakat saling menanggung, menjamin dan saling menyayangi
5. Mewujudkan pembangunan perekonomian sebab zakat dapat menanggulangi masalah-masalah
penimbunan harta melalui anjuran mengola dan mengembangkan harta
6. Untuk menanggulangi pengangguran, karena pengeluaran harta zakat kepada fakir dan miskin
7.
1.
2.
3.
4.
5.
menambah kuatnya daya beli dan tuntutan untuk membeli kebutuhan-kebutuhan pokok tentunya
itu akan meningkatkan produktifitas dan kesempatan kerja
Harta zakat dapat mengetaskan kemiskinan, karena zakat dapat mengubah orang-orang fakir
menjadi orang-orang yang dapat memanfaatkan harta zakat.
Benda yang wajib dizakati, yaitu:
Emas, perak, dan uang
Hasil bumi dan buah-buahan
Harta perniagaan
Barang tambang
Hewan ternak
Syarat-syarat wajib zakat, yaitu:
1. Kemilikan yang sah dan pasti
2. Berkembang biak secara alami atau usaha
3. Mencapai nisab
4. Melebihi kebutuhan pokok
5. Bersih dari hutang
12
6. Mencapai haul yaitu perputaran satu tahun.
Orang-orang yang berhak menerima zakat disebut mustahiq. Sebagaimana firman Allah
dalam surat at-Taubah: 60
ُ‫ا ن ِس‬
‫ال سن َرَي ن نل س‬
‫ْننانلكيقسِن نَل ن َغنعن س‬
‫ع ايريْْي يا ََّ س و‬
‫غن ن‬
‫غنلانل س‬
‫غْ رن َا نال ن َغن يَ نَّننَن سص ن‬
‫لررسالن ن َغن نَ نل سَ س‬
‫ُ ن ن‬
ََّ ‫ع سرا‬
‫ُي ن س‬
‫كص غن نمسا سض ن غْ سَل ن س‬
‫ِمسا سض ن ِسُ ن َغنانل س سرالن ِن سلن ن‬
‫ُ سرلن نٌ سضا ََّ ن‬
‫ن‬
Artinya: Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir,orang-orang miskin, penguruspengurus zakat, para mu´allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang
yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai
suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.
H. Wakaf
Wakaf berasal dari kata “waqofa” artinya menahan, dalam hal ini menahan harta untuk
diwakafkan. Secara etimologi berarti menahan harta dan memberikan manfaatnya di jalan Allah
SWT. Harta yang telah diserahkan oleh Wakif kepada Nazhir (untuk waktu selamanya),
kepemilikannya berpindah kepada Allah SWT. Harta tersebut bukan milik wakif dan juga bukan
milik nazhir. Sedangkan harta yang diserahkan oleh Wakif kepada Nazhir agar dimanfaatkan
(untuk waktu tertentu), masih menjadi milik Wakif, sehingga harus dikembalikan kepada Wakif
setelah jangka waktu pemanfaatan harta wakaf berakhir.
Harta wakaf (baik untuk waktu selamanya maupun untuk waktu tertentu) tidak dapat
dijual, dihibahkan, diwariskan atau apapun yang dapat menghilangkan kewakafannya. Peran
Nazhir adalah hanya mengelola harta wakaf tersebut agar jangan berkurang, dan
mengupayakannya berkembang sehingga hasil (keuntungannya) dapat digunakan untuk
keperluan sosial (mauquf alaih).
Di dalam Islam wakaf adalah salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan meskipun
perintahnya tidak disebutkan secara tegas sebagaimana halnya zakat, namun para ahli dipandang
sebagai landasan perintah untuk berwakaf, yaitu:
1. Al-Qur’an
 Surat al-Hajj : 77
‫ار َكعُو َوا ْس ُجد ُوا َوا ْعبُد ُوا َربَّ ُك ْم وا ْف َع ُل ْال َخي َْر‬
ْ ‫َااااُّ َهاالَّ ِذاْنَ َء آ َمنُوا‬
َ‫لَ َعلَّ ُك ْم ت ُ ْف ِل ُحون‬
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, ruku´lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan
perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.
 Surat Al-Baqarah : 267
‫ْ سرلن نن يض ََّ َ ن َت نل َََّنل ن سر نَل نَ ن َمو ي ََّ نرل ن‬
‫ُ سر َل َ ن َِ سَ يْغ‬
‫راسومنل س‬
‫اَاااُّ َهاالَّ ِذاْنَ ا نرَّيْغ َغو ن َ س‬
13
‫ختَّسن سَ ن نن َ و ي ََّ ك ي ََّ سَ يْْن سر َََّي َن نآ سم ن‬
َْ ‫كْ َ ن‬
‫اَّل غ ن غ َعرن يَِْسا سالك ي َا سَ ي‬
‫ن نث غكنان نَ يَْغ مس نث سْ س‬
َ‫ٌّلِ نٌ سَان‬
‫َ ن نْ ن‬
‫ََّسا ن ن‬
Artinya: Hai orang-orang beriman, berinfaklah dari hasil kerja kalian yang baik-baik dan hasil bumi
yang kalian dapatkan seperti pertanian, tambang dan sebagainya. Janganlah kalian sengaja
berinfak dengan yang buruk-buruk. Padahal kalian sendiri, kalau diberikan yang buruk seperti
itu, akan mengambilnya dengan memicingkan mata seakan tidak ingin memandang
keburukannya. Ketahuilah Allah tidak membutuhkan sedekah kalian. Dia berhak untuk dipuji
karena kemanfaatan dan kebaikan yang telah ditunjuki-Nya.
2. Hadits
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Umar bin Khatab mempunyai tanah (kebun) di Khaibar, lalu ia
datang kepada Nabi SAW, untuk meminta petunjuk mengenai tanah tersebut, ia berkata Wahai
Rasulullah saya memperoleh tanah di Khaibar, yang belum pernah saya peroleh harta yang lebih
baik bagiku melebihi tanah itu, apa perintah engkau (kepadaku) mengenainya? Nabi SAW
menjawab, jika mau kamu tahan pokoknya dan kamu sedekahkan (hasilnya), Ibnu Umar berkata
maka Umar menyedekahkan tanah itu (dengan mensyaratkan) tanah itu tidak dijual, tidak
dihibahkan, dan tidak diwariskan ia menyedekahkan hasilnya kepada fuqara, kerabat, riqab
(hamba sahaya, orang tertindas), sabilillah, ibnu sabil, dan tamu. Tidak berdosa dari orang yang
mengelola untuk memakan dari (hasil) tanah itu secara ma'ruf (wajar) dan memberi makan
(kepada orang lain) tanpa menjadikannya sebagai harta hak milik. Rawi berkata, saya
menceritakan hadis tersebut kepada Ibnu Sirin, lalu ia berkata ghaira mutaatstsilin malan' (tanpa
menyimpanya sebagai harta hak milik. (H.R. al-Bukhari, Muslim, al Tharmidzi, al-Nasa'i).
Tujuan wakaf:
1. Untuk kepentingan umum
2. Untuk menolong fakir miskin
3. Untuk kepentingan anggota keluarga sendiri.
14
2.3. Tujuan Ekonomi dalam Islam
Segala aturan yang diturunkan Allah SWT dalam sistem Islam mengarah pada tercapainya
kebaikan, kesejahteraan, keutamaan, serta menghapuskan kejahatan, kesengsaraan dan kerugian
pada seluruh ciptaan-Nya. Demikian pula dalam hal ekonomi, tujuannya adalah membantu
manusia mencapai kemenangan di dunia dan di akhirat.
Seorang fuqaha asal Mesir bernama Prof. Muhammad Abu Zahrah mengatakan ada tiga
sasaran hukum Islam yang menunjukan bahwa Islam diturunkan sebagai rahmat bagi seluruh
umat manusia, yaitu:
1. Penyucian jiwa agar setiap muslim bisa menjadi sumber kebaikan bagi masyarakat dan
lingkungannya.
2. Tegaknya keadilan dalam masyarakat. Keadilan yang dimaksud mencakup aspek kehidupan di
bidang hukum dan muamalah.
3. Tercapainya mashlahah (merupakan
puncaknya).
Para
ulama
menyepakati
bahwa mashlahah yang menjadi puncak sasaran di atas mencakup lima jaminan dasar:
a. keselamatan keyakinan agama ( al din)
b. kesalamatan jiwa (al nafs)
c. keselamatan akal (al aql)
d. keselamatan keluarga dan keturunan (al nasl)
e. keselamatan harta benda (al mal)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
2.4. Prinsip-Prinsip Ekonomi dalam Islam
Secara garis besar, ekonomi Islam memiliki beberapa prinsip dasar, yaitu:
Berbagai sumber daya dipandang sebagai pemberian atau titipan dari Allah SWT kepada manusia.
Islam mengakui pemilikan pribadi dalam batas-batas tertentu.
Kekuatan penggerak utama ekonomi Islam adalah kerjasama.
Ekonomi Islam menolak terjadinya akumulasi kekayaan yang dikuasai oleh segelintir orang saja.
Ekonomi Islam menjamin kepemilikan masyarakat dan penggunaannya direncanakan untuk
kepentingan banyak orang.
Seorang muslim harus takut kepada Allah SWT dan hari penentuan di akhirat nanti.
Zakat harus dibayarkan atas kekayaan yang telah memenuhi batas (nisab)
8. Islam melarang riba dalam segala bentuk.
15
BAB III
PENUTUP
1.1. Kesimpulan
Masalah ekonomi merupakan masalah yang universal. Oleh karena itu, seluruh dunia
menaruh perhatian yang besar terhadap permasalahan ekonomi. Dalam pandangan Islam,
permasalahan ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui perubahan yang bersifat kosmetik
belaka, diperlukan perubahan yang bersifat mendasar mulai dari tatanan filosofi yang akan
membentuk teori ekonomi Islam, yang kemudian akan membentuk prinsip-prinsip sistem
ekonomi Islam sehingga pada akhirnya akan terbentuk secara otomatis perilaku Islami dalam
ekonomi.
Islam adalah satu-satunya agama yang sempurna yang mengatur seluruh sendi kehidupan
manusia dan alam semesta. Kegiatan perekonomian manusia juga diatur dalam Islam dengan
prinsip illahiyah. Harta yang ada pada kita, sesungguhnya bukan milik manusia, melainkan
hanya titipan dari Allah SWT agar dimanfaatkan sebaik-baiknya demi kepentingan umat
manusia yang pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah SWT untuk
dipertanggungjawabkan.
1.2. Saran
Ekonomi dalam Islam mengajarkan seorang muslim harus memperhatikan ketentuanketentuan syari’at, dimana Islam sebagai way of life, sebagai rahmatan lil alamin telah
memberikan petunjuk kepada kita tentang bagaimana suatu keteraturan itu dibentuk disemua lini
kehidupan baik dunia maupun akhirat, termasuk aturan dalam bermuamalah atau kita persempit
lagi, aturan berekonomi. Dalam perekenomian Islam tersebut sangat dilarang yang namanya riba
dan sejenisnya. Hal ini dilarang karena dapat merugikan baik dalam bentuk materi atau
lainnya. Oleh karna itu, hendaknya kita melakukan suatu usaha ekonomi secara jujur, terbuka
tanpa ada suatu hal yang ditutupi agar tidak ada pihak yang dirugikan.
16
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad Daud. 1988. Sistem Ekonomi Islam Zakat dan Wakaf. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Behesti, Muhammad H. 1992. Kepemilikan dalam Islam, Penerjemah: Luqman Hakim, dkk. Jakarta: Pustaka
Hidayah.
Imtihana, Aida, dkk. 2009. Buku Ajar Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian (MPK) Pendidikan Agama
Islam untuk Perguruan Tinggi Umum. Palembang: Universitas Sriwijaya
Lubis, Suhrawardi K. 2004. Hukum Ekonomi Islam. Jakarta: Sinar Grafika.
Mannan, M. Abdul. 1970. Islamic Economics: Theory and Practice. dalam Delhi. Sh. M. Ashraf.
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam. 2009. Ekonomi Islam. Jakarta: Rajawali Pers
Prihatna, Andi Agung. 2005. Revitalisasi Filantrofi Islam Studi Kasus Lembaga Zakat dan Wakaf di
Indonesia, Editor: Chaidar S. Bamualim, dkk. Jakarta: Pusat Bahasa dan Budaya UIN Syarif
Hidayatullah.
Administrator. Pengertian dan Hikmah Qurban (online). Tersedia: http://rumahyatim.org/indonesia/index.php/Panduan-Qurban/Pengertian-dan-hikmah-Qurban.html (2 Maret 2013)
Hanif. (2009). Ekonomi dalam Islam (online). Tersedia: http://ibbloggercompetition.kompasiana.com/2009/10/07/ekonomi-dalam-islam (2 Maret 2013)
Islam Wiki. (2012). Wasiat Pengertian dan Hukum Wasiat (online).
Tersedia: http://islamwiki.blogspot.com/2012/11/wasiat-pengertian-dan-hukum-wasiat.html (2
Maret 2013)
17
Download