Uploaded by User51332

BHS INDO 1

advertisement
PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA DI KALANGAN REMAJA
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah swt, atas berkat rahmat dan hidayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan karya ilmiah ini yang berjudul
“Penggunaan Bahasa Indonesia Di Kalangan Remaja” dengan lancar. Shalawat dan salam
kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita ke alam yang terang
benderang seperti sekarang ini sehingga kita bisa merasakan nikmat iman dan islam.
Ucapan terima kasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang mempunyai andil
dalam proses pembuatan Karya Ilmiah ini atas bantuan dan partisipasinya. Ucapan terima kasih
disampaikan antara lain kepada:
1. Rektor Universitas Mataram Prof. Ir. Sunarpi, Ph.D.
2. Dekan Fakultas Teknologi Pangan & Agroindustri Prof. Ir. Eko Basuki M. App. Sc.Ph.D.
3. Ketua prodi Ilmu dan Teknologi Pangan Ir. M. Abbas Zaini, MP.
4. Drs. H. Nasaruddin M .Ali, B.A., M.Pd. selaku dosen mata kuliah bahasa Indonesia.
5.
6.
7.
8.
Wiharyani Werdiningsih, S.P., M.Si. selaku pembimbing akademik.
Para dosen dan stap tata usaha yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu.
Orang tua tercinta.
Sahabat-sahabat tersayang, atas semua masukan dan dukungan yang sangat membantu.
Walaupun penyusunan karya ilmiah ini telah diusahakan dengan sebaik-baiknya, namun
tentu tak luput dari kekurangan, baik dalam penyusunan maupun isi karya ilmiah ini. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun penulis harapkan dari para pembaca demi
kesempurnaan karya ilmiah ini.
Akhirnya, penulis berharap semoga peyusunan karya ilmiah ini dapat bermanfaat bagi
masyarakat umum.
Mataram, Desember 2013
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
1.1Latar Belakang
1.2Rumusan Masalah
1.3Tujuan Penelitian
1.3.1Tujuan penelitian secara umum
1.3.2Tujuan penelitian secara khusus
1.4Manfaat Penelitian
1.4.1Manfaat penelitian secara teoritis
1.4.2Manfaat penelitian secara praktis
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1Bahasa dan Peranannya
2.2 Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia
2.2.1Bahasa Nasional
2.2.2Bahasa Negara
2.3Remaja
3.1Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar
3.1.1Bahasa Indonesia baku
3.2 Penggunaan Bahasa Indonesia Di Kalangan Remaja
3.3Faktor Penyebab Remaja Cenderung Meninggalkan Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Baik
Dan Benar
BAB IV
PENUTUP
4.1Kesimpulan
4.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Bahasa merupakan kebutuhan vital manusia dalam berkomunikasi dengan manusia atau
sekelompok manusia lainnya. Sifat dasar manusia yang selalu saling membutuhkan satu dengan
lainnya menjadikan bahasa menjadi kebutuhan mutlak dalam berinteraksi.
Kemampuan
manusia
menciptakan
bahasa
untuk
berkomunikasi
mendukung
keberadaanya sebagai makhluk sosial semakin menonjolkan perbedaan manusia dengan makhluk
Tuhan lainnya. Meskipun tidak hanya bahasa yang menjadi alat komunikasi, tidak dapat
dipungkiri bahwa bahasa adalah alat komunikasi yang sederhana dan sangat mudah dipahami
dalam kehidupan bermasyarakat.
Bahasa merupakan asset yang paling berharga dimiliki oleh suatu kelompok,seperti
bangsa Indonesia yang memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Indonesia terdiri dari
banyak suku dan kelompok yang memiliki bahasa dan budaya berbeda-beda, dengan adanya
bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional telah mencerminkan persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia yang majemuk.
Akan tetapi banyak yang tidak mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar,
khususnya remaja zaman sekarang. Dengan semakin berkembangnya bahasa gaul dan berbagai
modifikasi dari bahasa asing, bahasa Indonesia yang sesungguhnya mulai luntur dan dilupakan.
Perkembangan bahasa-bahasa gaul dewasa ini sangat mengkhawatirkan. Banyak generasi
muda yang tidak mengetahui penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Contoh yang
paling jelas terlihat dalam dunia kampus, mahasiswa acuh tak acuh terhadap penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar, bahkan dalam penyusunan skripsi tak banyak mahasiswa yang
masih saja menggunakan penggunaan bahasa Indonesia yang salah dan tidak sesuai dengan
Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
Remaja-remaja di zaman modern ini juga banyak yang tidak mengimbangi kemampuan
berbahasa Indonesia yang baik dan benar dengan berbahasa asing. Terlihat dari lebih banyak
remaja mengembangkan kemampuan berbahasa asing daripada kemampuan berbahasa Indonesia
yang sesuai dengan ejaan yang disempurnakan. Sehingga, dalam berbahasa remaja sulit
membedakan dimana mereka harus berbicara formal atau tidak. Mereka juga kesulitan menulis
suatu karya dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar yang sesuai dengan pedoman umum
ejaan bahasa Indonesia yang disempurnakan. Oleh karena itu, penulis mengangkat permasalahan
tersebut ke dalam karya tulis ini, dengan harapan agar remaja saat ini mengerti penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar, serta mengembangkan kemampuan berbahasa mereka
sesuai dengan Pedoman Umum Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan.
1.2 Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, diperoleh rumusan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu?
2. Bagaimanakah penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini?
3.
Faktor apa sajakah yang menyebabkan remaja cenderung meninggalkan penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar?
4. Bagaimanakah dampak yang ditimbulkan dengan ditinggalkannya penggunaan bahasa Indonesia
yang baik dan benar?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan penelitian secara umum
1. Mengetahui bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2. Mengetahui penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini.
3.
Mengetahui faktor yang menyebabkan remaja cenderung meninggalkan penggunaan bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
4. Mengetahui akibat yang ditimbulkan karena ditinggalkannya penggunaan bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
1.3.2 Tujuan penelitian secara khusus
Tujuan khusus penulis menyusun karya ilmiah ini adalah untuk memenuhi tugas akhir
semester dan syarat untuk naik ke jenjang atau semester selanjutnya pada program studi bahasa
Indonesia di Fakultas Ilmu dan Teknologi Pangan
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat penelitian secara teoritis
Manfaat secara teoritis adalah untuk memberi pengetahuan tentang bahasa Indonesia yang
baik dan benar sehingga masyarakat dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari
khususnya remaja, sehingga bahasa Indonesia yang baik dan benar tetap terjaga.
1.4.2 Manfaat penelitian secara praktis
1. Bagi dunia pendidikan bahasa, dapat menambah pengetahuan siswa/mahasiswa, tentang bahasa
Indonesia yang baik dan benar.
2.
Karya ilmiah ini diharapkan dapat dijadikan pedoman dalam memilih bahasa yang pas dalam
pergaulan sehari-hari. Sehingga masyarakat khususnya remaja dapat membedakan penggunaan
bahasa Indonesia yang baik dan benar dengan bahasa prokem.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Bahasa dan Peranannya
Bahasa adalah suatu media yang digunakan untuk menyampaikan dan memahami gagasan,
pikiran, dan pendapat. Bahasa juga media komunikasi utama di dalam kehidupan manusia untuk
berinteraksi (Surahman, 1994: 11).
Melalui bahasa, kehidupan berinteraksi suatu bangsa dapat dibentuk, dibina, dan
dikembangkan serta dapat diturunkan pada generasi mendatang. Dengan adanya bahasa sebagai
alat komunikasi, maka semua yang ada di sekitar manusia, dapat disesuaikan dan diungkapkan
kembali kepada orang lain sebagai bahan komunikasi (Craff, 1987: 1).
Secara garis besar, bahasa dapat dilihat dari tiga sudut pandang, antara lain: sudut pandang
bentuk dan sudut pandang makna (Martinet, 1987). Bentuk bahasa berhubungan dengan
keadaannya dalam mendukung perannya sebagai sarana komunikasi untuk berbagai kepentingan
komunikasi pemakai bahasa, dan hubungannya dengan aspek nilai dan aspek makna adalah
perannya yang terkandung dalam bentuk bahasa yang fungsinya sebagai alat komunikasi ketiga
unsur tersebut secara keseluruhan dimiliki oleh semua bahasa di dunia.
2.2 Kedudukan dan fungsi bahasa Indonesia
Sebagaimana kita ketahui bahwa sesuai dengan ikrar Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober
1928, bahasa Indonesia diangkat sebagai bahasa nasional, dan sesuai dengan bunyi UUD 45,
BabXV, Pasal 36 Indonesia juga dinyatakan sebagai bahasa negara. Hal ini berarti bahwa bahasa
Indonesia mempunyai kedudukan baik sebagai bahasa nasional dan bahasa negara.
Yang dimaksud dengan kedudukan bahasa ialah status relatif bahasa sebagai sistem lambang
nilai budaya,yang dirumuskan atas dasar nilai sosialnya Sedang fungsi bahasa adalah nilai
pemakaian bahasa tersebut di dalam kedudukan yang diberikan.
2.2.1 Bahasa Nasional
Sehubungan dengan kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa Indonesia memiliki
empat fungsi. Keempat fungsi tersebut ialah sebagai:
1.lambang identitas nasional,
2.lambang kebanggaan nasional,
3.alat pemersatu berbagai masyarakat yang mempunyai latar belakang sosial budaya dan bahasa
yang berbeda-beda, dan
4.alat perhubungan antarbudaya dan daerah.
2.2.2 Bahasa Negara
Berkaitan dengan statusnya sebagai bahasa negara, bahasa Indonesia berfungsi sebagai:
1.bahasa resmi negara,
2.bahasa pengantar resmi di lembaga-lembaga pendidikan,
3.bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan, dan
4.bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta
teknologi.
2.3 Remaja
Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak
dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa
peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa. Remaja merupakan masa peralihan antara
masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun
(www.wikipedia.com).
Menurut Hurlock tahun 1992 pada artikel tentang remaja di Wikipedia.com menyatakan
remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa.
Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental,
emosional, sosial, dan fisik.
Remaja memiliki tempat di antara anak-anak dan orang tua karena sudah tidak termasuk
golongan anak tetapi belum juga berada dalam golongan dewasa atau tua. Masa remaja
menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status
dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Menurut Sri Rumini & Siti Sundari tahun 2004
dalam artikel tentang remaja di Wikipedia.com masa remaja adalah peralihan dari masa anak
dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek / fungsi untuk memasuki
masa dewasa.
Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13
tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Sedangkan menurut Zakiah Darajat tahun 1990 dalam
artikel tentang remaja di Wikipedia.com, remaja adalah masa peralihan di antara masa kanakkanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan
fisiknya maupun perkembangan psikisnya, sehingga sangat rentan untuk dipengaruhi. Mereka
bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan juga
orang dewasa yang telah matang. Hal yang sama diungkapkan oleh Santrock tahun 2003dalam
artikel tentang remaja di Wikipedia.com, bahwa remaja (adolescene) diartikan sebagai masa
perkembangan transisi antara masa anak dan masa dewasa yang mencakup perubahan biologis,
kognitif, dan sosial-emosional. Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah
antara 12 hingga 21 tahun.
Rentang waktu usia remaja ini biasanya dibedakan atas tiga, yaitu: 1). 12 – 15 tahun; 2).
Masa remaja awal, 15 – 18 tahun; 3). Masa remaja pertengahan, dan 18 – 21 tahun; 4). Masa
remaja akhir.
Berdasarkan definisi beberapa ahli tersebut dapat dikatakan remaja adalah suatu proses
peralihan seorang manusia dari anak-anak menuju kedewasaan dengan usia 12 tahun sampai 22
tahun.
Orang yang dalam proses mencari identitas adalah orang yang ingin menentukan siapa dan
bagaimana dia pada saat sekarang ini dan siapa atau apakah yang dia inginkan pada masa
mendatang (Kiko, 2001).
Pemuda sebagai Embrio Regenerasi suatu bangsa memiliki masa adelonsia dimana pemuda
untuk pertama kali secara diminitif harus menentukan siapakah dan apakah dia ketika itu dan
ingin menjadi siapa dan apa dia di masa depan, (Masa adelonsia yang sangat kental terhadap
"Krisis Identitas").
Identitas memiliki identifikasi sebagai suatu kesadaran yang dipertajam dan sebagai suatu
kesatuan unik yang menjaga kesinambungan arti penjelasan dimasa lampau bagi dirinya sendiri
dengan orang lain. Menurut De Levita dalam artikel Study Analisis Di Balik Perkembangan
Psikologi Remaja, aaspek-aspek identifikasi identitas adalah :
1. Identitas sebagai intisari seluruh kepribadian yang tetap tinggal sama walaupun berubah ketika
menjadi tua serta dalam dunia sekitar.
2. Identitas sebagai keserasian peran sosial yang pada prinsipnya dapat berubah dan berubah-ubah.
3.
Identitas sebagai "bagai hidupku sendiri" yang berkembang dalam tahap-tahap terdahulu dan
menentukan bagaimana peran sosial itu dapat terwujud.
4.
Identitas sebagai suatu yang khas pada tahap adelonsasi yang dapat berubah dan dipahami
setelah setiap adelonsasi.
5. Identitas sebagai pengalaman subjektif.
6. Identitas sebagai kesinambungan diri sendiri dengan orang lain.
Proses terjadinya identitas dapat diungkapkan juga secara abstrak. Identitas adalah suatu
proses restrukturisasi segala identifikasi dan pengalaman terdahulu, seluruh identitas fragmeter
baik dan buruk, atau positif negatif diolah dalam perspektif suatu masa depan yang diartisipasi,
manusia merupakan identitasnya, apabila dapat menggabungkan pengalaman-pengalaman
tersebut menjadi kehidupan baru yang positif.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar
Sering kita dengar ungkapan “gunakanlah bahasa Indonesia yang baik dan benar.” Terhadap
ungkapan itu timbul banyak reaksi. Pertama, orang mengira bahwa kata baik dan benar dalam
ungkapan itu mengandung arti atau makna yang sama atau identik. Sebenarnya tidak! Justru
ungkapan itu memberikan kesempatan dan hak kepada pemakai bahasa untuk menggunakan
bahasa secara bebas sesuai dengan keinginannya dan kemampuannya dalam berbahasa.mari kita
tinjau arti kedua kata itu.
Berbahasa yang baik ialah berbahasa sesuai dengan “lingkungan” bahasa itu digunakan.
Dalam hal ini beberapa faktor menjadi penentu. Pertama, orang yang berbicara; kedua orang
yang diajak berbicara; ketiga, situasi pembicaraan apakah situasi itu formal atau nonforml;
keempat, masalah atau topik pembicaraan.
Sedangkan bahasa yang benar ialah bahasa yang sesuai dengan kaidahnya, aturannya, bentuk,
strukturnya. Kalau berbahasa Indonesia baku harus seperti bahasa yang kaidahya tertulis dalam
buku-buku tata bahasa. Sebaliknya, jika menggunakan salah satu dialek. Dialek Jakarta
misalnya, harus betul-betul bahasa Jakarta seperti yang digunakan oleh penduduk asli Jakarta.
Itulah yang dimaksud dengan kata benar.
3.1.1 Bahasa Indonesia baku
Bahasa Indonesia yang baku ialah bahasa Indonesia yang digunakan orang-orang terdidik
dan yang dipakai sebagai tolak bandingan penggunaan bahasa yang dianggap benar. Ragam
bahasa Indonesia yang baku ini biasanya ditandai oleh adanya sifat kemantapan dinamis dan ciri
kecendekiaan.Yang dimaksud dengan kemantapan dinamis ini ialah bahwa bahasa tersebut selalu
mengikuti kaidah atau aturan yang tetap dan mantap namun terbuka untuk menerima perubahan
yang bersistem. Ciri kecendekiaan bahasa baku dapat dilihat dari kemampuannya dalam
mengungkapkan proses pemikiran yang rumit di berbagai bidang kehidupan dan ilmu
pengetahuan. Bahasa Indonesia baku dipakai dalam:
1.komunikasi resmi, seperti dalam surat-menyurat resmi, peraturan pengumuman instansi resmi
atau undang-undang;
2.tulisan ilmiah, seperti laporan penelitian, makalah, skripsi, disertasi dan buku-buku
pengetahuan
ilmu
3.pembicaraan di muka umum, seperti dalam khotbah, ceramah, kuliah pidato; dan
4.pembicaraan dengan orang yang dihormati atau yang belum dikenal.
3.1.2 Bahasa Indonesia dalam Konteks Ilmiah
Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan yang sangat penting, antara lain, bersumber pada
ikrar ketiga Sumpah Pemuda 1928 yang berbunyi: Kami putra dan putri Indonesia menjunjung
bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Ini berarti bahwa bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional,
kedudukannya berada di atas bahasa-bahasa daerah. Selain itu, di dalam Undang-Undang Dasar
1945 tercantum pasal khusus (Bab XV, Pasal 36) mengenai kedudukan bahasa Indonesia yang
menyatakan bahwa bahasa negara ialah bahasa Indonesia. Dengan demikian ada dua macam
kedudukan bahasa Indonesia. Pertama, bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional,
sesuai dengan Sumpah Pemuda 1928, dan kedua bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa
negara, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 1945.
Dalam tulisan ilmiah, bahasa sering diartikan sebagai tulisan yang mengungkapkan buah
pikiran sebagai hasil dari pengamatan, tinjauan, penelitian yang seksama dalam bidang ilmu
pengetahuan tertentu, menurut metode tertentu, dengan sistematika penulisan tertentu, serta isi,
fakta, dan kebenarannya dapat dibuktikan dan dapat dipertanggungjawabkan. Bentuk-bentuk
karangan ilmiah identik dengan jenis karangan ilmiah, yaitu makalah, laporan praktik kerja,
kertas kerja, skripsi, tesis, dan disertasi.
Dalam penulisan ilmiah, bahasa merupakan hal yang terpenting. Untuk itu kita harus sebaik
mungkin menggunakannya. Antara lain :
1.
Dalam hal penggunaan ejaan. Ejaan ialah penggambaran bunyi bahasa dalam kaidah tulis
menulis yang distandarisasikan yang meliputi pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata,
penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca.
2. Dalam hal penulisan kata. Baik kata dasar, kata turunan, bentuk ulang, kata ganti, kata depan,
kata sandang, maupun gabungan kata.
3. Dalam penggunaan partikel lah, kah, tah, pun. Partikel lah, kah, tah ditulis serangkai dengan kata
yang mendahuluinya. Contoh: Pergilah sekarang! Sedangkan partikel pun ditulis terpisah dari
kata yang mendahuluinya. Contoh: Jika engkau pergi, aku pun akan pergi. Kata-kata yang sudah
dianggap padu ditulis serangkai, seperti andaipun, ataupun, bagaimanapun, kalaupun, walaupun,
meskipun, sekalipun.
4. Dalam hal pemakaian Ragam Bahasa. Berdasarkan pemakaiannya, bahasa memiliki bermacammacam ragam sesuai dengan fungsi, kedudukan, serta lingkungannya. Ragam bahasa pada
pokoknya terdiri atas ragam lisan dan ragam tulis. Ragam lisan terdiri atas ragam lisan baku dan
ragam lisan tak baku. Ragam tulis terdiri atas ragam tulis baku dan ragam tulis tak baku.
5.
Dalam penulisan Singkatan dan Akronim. Singkatan nama orang, nama gelar, sapaan jabatan
atau pangkat diikuti tanda titik. Contoh: Muh. Yamin, S.H. (Sarjana Hukum ). Singkatan yang
terdiri atas tiga huruf atau lebih diikuti satu tanda titik. Contoh: dll. hlm. sda. Yth. Singkatan
nama resmi lembaga pemerintah dan ketatanegaraan, badan atau organisasi, serta dokumen resmi
yang terdiri atas huruf awal setiap kata ditulis dengan huruf kapital dan tidak diikuti tanda titik.
Contoh: DPR GBHN KTP PT. Akronim nama diri yang berupa gabungan huruf awal dari deret
kata ditulis seluruhnya dengan huruf kapital. Contoh: ABRI LAN IKIP SIM. Akronim nama diri
yang berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata ditulis
dengan huruf awal huruf kapital. Contoh: Akabri Bappenas Iwapi Kowani.
6.
Dalam penulisan Angka dan Lambang Bilangan. Penulisan kata bilangan tingkat dapat
dilakukan dengan cara berikut. Contoh: Abad XX dikenal sebagai abad teknologi.
Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata ditulis dengan huruf, kecuali
jika beberapa lambang dipakai berturut-turut. Contoh: Ada sekitar lima puluh calon mahasiswa
yang tidak diterima di perguruan tinggi itu.
7. Dalam pemakaian tanda baca. Pemakaian tanda titik (.), tanda koma (,), tanda titik dua (:), tanda
titik koma (,), tanda hubung, (-) tanda pisah (_), tanda petik (“), tanda garis miring, (/) dan tanda
penyingkat atau aprostop (‘).
8. Dalam pemakaian imbuhan, awalan, dan akhiran.
Dalam penulisan ilmiah, selain harus memperhatikan faktor kebahasaan, kita pun harus
mempertimbangkan berbagai faktor di luar kebahasaan.Faktor tersebut sangat berpengaruh pada
penggunaan kata karena kata merupakan tempat menampung ide. Dalam kaitan ini, kita harus
memperhatikan ketepatan kata yang mengandung gagasan atau ide yang kita sampaikan,
kemudian kesesuaian kata dengan situasi bicara dan kondisi pendengar atau pembaca.
3.2 Penggunaan Bahasa Indonesia Di Kalangan Remaja
Dahulu Bahasa Indonesia digunakan dengan baik dan benar sesuai kaidah berbahasa yang
tepat. Namun kini, seiring dengan perkembangan teknologi dan pengaruh budaya luar, Bahasa
Indonesia rusak justru di tangan para pemudanya sendiri. Penggunaan Bahasa Indonesia oleh
remaja masa kini, terutama di kota-kota besar, sangat tidak sesuai dengan kaidah berbahasa yang
baik dan benar. Remaja mencampur-adukkan Bahasa Indonesia dengan bahasa-bahasa daerah
dan asing kemudian menyebutnya sebagai ‘bahasa gaul’. Kosa kata baru banyak muncul untuk
mengganti kata-kata dalam Bahasa Indonesia. Misalnya ‘gue’ yang berasal dari Bahasa Betawi,
digunakan untuk mengganti kata ‘saya’; ‘loe’ untuk mengganti kata ‘kamu’; ‘nyokap-bokap’
untuk mengganti kata ‘ayah-ibu’ dan muncul kosa kata yang tidak jelas artinya seperti ‘jijay’,
’lebay’, ‘kamseupay’ dan muncul partikel-partikel seperti ‘-sih’ dan ‘dong’.
Ironisnya, penggunaan ‘bahasa gaul’ ini tidak hanya di lingkungan pergaulan, namun telah
mendarah daging dan tak jarang digunakan remaja di sekolah, bahkan ketika tes atau pelajaran
Bahasa Indonesia sekalipun. Di sekolah, remaja spontan berbicara atau menulis dengan ‘bahasa
gaul’ dengan teman dan guru karena telah terbiasa menggunakannya dalam percakapan seharihari dan menulis sms.
Didalam masyarakat saat ini telah berkembang dan banyak yang menyatakan pendapat
bahwa para remaja kita dengan bahasa prokemnya telah merusak bahasa Indonesia yang baik dan
benar. Perkembangan bahasa prokem atau bahasa yang hanya dipakai para pemuda. Remaja yang
menggunakan seenaknya dan tidak dapat dipahami masyarakat umum, atau dapat disebut juga
bahasa gaul.
Mulai dari remaja di tinggakat sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas sampai
para mahasiswa atau mahasiswi. Sebagian besar dari mereka saat berkomunikasi telah jauh dari
susunan keindonesiaan yang baik dan benar, walaupun seperti yang kita ketahui mereka semua
berada dalam kalangan akademik yang masih mendapatkan pendidikan. Tetapi pada
kenyataannya bahasa Indonesia yang telah disusun rapi dengan EYD telah jauh dilupakan.
Menurut Jay Bimo remaja yang kuper atau kurang pergaulan misalnya, “si kutu buku” dan
“si anaak ibu”, tidak mengenal bahasa prokem kebanyakan dari mereka masih alami dalam
penggunaan bahsa Indonesia artinya bahasa yang digunakan masih mengandung unsur-unsur
kebahasaan yang baik dan benar. Sebaliknya dengan remaja yang dikatakan “gaul”, mereka
cenderung kental dengan bahasa prokemnya. Pada dasarnya penggunaan bahasa Indonesia di
kalangan remaja saat ini hampir sudah tidak ada yang menggunakannya dengan benar. Sedikit
sekali remaja yang menggunakan bahasa Indonesia dengan benar. Selang waktu yang berjalan,
pengguna bahasa Indonesia dengan benar telah di geser dengan bahasa-bahasa yang tidak
dikenal. Dikarenakan datangnya penduduk luar negeri ke dalam negeri yang membaur bahasa
Indonesia dengan bahasa asing. Ini merupakan tingkatan yang memperihatinkan. Karena seperti
yang kita ketahui mereka lebih bangga dengan bahasa asing, gaul dan prokemnya yang secara
langsung atau tidak langsung merusak bahasa Indonesia yang baik dan benar, atau untuk
kalangan akademik yang seharusnya bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar
tetapi pada kenyataanya mereka justru kental dengan bahasa asingnya, bahasa daerahnya ban
bahasa gaulnya dalam suasanya formal sekalipun.
Itu disebabkan karena pengaruh globalisasi, media masa dan pengaruh semakin banyaknya
orang asing yang berada di Indonesia secara langsung atau tidak langsung telah mempengaruhi
bagaimana remaja berkomunikasi. Pengaruh globalisasi membawa dampak negatif bagi remaja
dalam hal kebahasaan yaitu tercermin pada perilaku masyarakat yang mulai meninggalkan
bahasa Indonesia dan terbiasa menggunakan bahasa gaul atau bahasa prokem. Sedangkan dari
media masa dan dari pengaruh semakin banyaknya orang asing yang berada di Indonesia
membawa dampak berkembangnya bahasa asing dikalangan remaja yang tidak jelas
penggunaanya dan sulit dipahami masyarakat.
Dari pengaruh tersebut didapatkan tiga bahasa yang digunakan remaja saat ini, yaitu yang
pertama bahasa prokem atau bahasa gaul merupakan bahasa yang digunakan dikalangan pemuda
ataupun remaja yang dalam penggunaan bahasa seenaknya sendiri sehingga masyarakat tidak
dapat memehaminya dalam proses komunikasi. Bahasa gaul merupakan bahasa yang digunakan
dikalangan remaja karena pengaruh arus globalisasi. Bahasa gaul juga merupakan ragam bahasa
Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian
digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul, bahasa karena pengaruh waktu. Dan
yang kedua yaitu bahasa asing, bahasa asing merupakan bahasa yang tidak digunakan oleh
orang yang tinggal di sebuah tempat yang tertentu misalnya, bahasa Indonesia dianggap sebagai
sebuah bahasa yang asing di Australia. bahasa asing juga merupakan sebuah bahasa yang tidak
digunakan di tanah air atau negara asal seseorang. Sangat disayangkan bahwa bahasa asing
terutama bahasa Inggris telah memperkaya kosakata bahasa Indonesia dan yang tidak dapat
dipungkiri lagi banyak diantara mereka yang menuliskan kosakata asing padahal kosakata itu
telah diindonesiakan. Dan yang ketiga yaitu bahasa daerah yang merupakan warisan budaya dari
daerahnya masing-masing di wilayah Indonesia. Bahasa daerah merupakan identitas dari
daerahnya masing-masing. Indonesia kaya akan bahasa daerah, tetapi seperti yang kita ketahui
penggunaannya terkadang tidak sesuai pada waktunya. Remaja yang derada dalam suasana
formal dan lingkungan akedemik seharusnya menggunakan bahasa Indonesia dngan baik dan
benar tetapi pada kenyataannya mereka masih membawa bahsanya asalnya atau bahasa daerah.
3.3 Faktor Penyebab Remaja Cenderung Meninggalkan Penggunaan
Bahasa Indonesia Yang Baik Dan Benar
Kehidupan remaja merupakan suatu fase kehidupan untuk mencari identitas. Siapa dan
bagaimana dia pada saat sekarang ini dan siapa atau apakah yang dia inginkan pada masa
mendatang (Kiko, 2001). Remaja sekarang sebagian besar telah menentukan jalan yang harus dia
tempuh untuk meraih cita-citanya. Berbagai persiapan untuk masa depan telah dicanangkan, baik
oleh orang tua maupun persiapan dari diri-sendiri, seperti:
1. Mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan informasi
Hal seperti itu sangat mudah kita temukan di tengah-tengah masyarakat modern. Penguasaan
terhadap teknologi dan informasi merupakan sebuah keharusan yang dijalankan untuk
mempersiapkan masa depan yang semakin berkembang dengan teknologi-teknologi canggih.
Minimnya pengetahuan tentang teknologi dan komunikasi di zaman ini akan menjadi sebuah
boomerang dalam mengejar cita-cita.
2. Mengasah kemampuan berbahasa asing
Kemampuan menguasai bahasa asing oleh para remaja akhir-akhir ini sedang giat-giatnya
dilakukan. Menguasai bahasa asing sama artinya mendapatkan pekerjaan yang mendatangkan
gemilang harta. Dengan kata lain kesuksesan ada di depan mata.
Penguasaan seorang remaja terhadap ilmu pengetahuan teknologi-informasi dan penguasaan
bahasa-bahasa asing memang sangat mendukung masa depan, namun penguasaan terhadap
budaya dan lebih-lebih terhadap bahasa sendiri sangat memperihatinkan. Remaja, apalagi yang
sudah meiliki gelar mahasiswa sangat pintar dalam berbahasa serta dalam mengembangkannya.
Akan tetapi, dalam penggunanya kebanyakan dari mereka tidak memperhatikan bahasa
Indonesia yang baik dan benar yang sesuai dengan kaidah kebahasaan. Bahkan didalam diri
mereka timbul suatu ketidakwajaran ketika berbahasa Indonesia yang baku. Padahal sangatlah
wajar apabila mahasiswa selaku penerus bangsa dapat menggunakan bahasa nasionalnya dan
menunjukan identitas sebagai Bangsa Indonesia. Ada beberapa hal yang membuat Bahasa
Indonesia baku menjadi sebuah anomali bagi remaja dan pelajarnya sendiri.
Pertama, kurangnya peran dari pendidik. Arti pendidik disini tidak hanya di sekolah saja
tetapi juga dari keluarga dan masyarakat. Di lingkungan keluarga, orang tua cenderung tidak
mempermasalahkan Bahasa Indonesia yang digunakan anak-anaknya sejak kecil. Misalnya
mereka hanya terpaku pada nilai matematika, sains atau pun bahasa Inggris. Asalkan bisa
berkomunikasi, bahasa tidak menjadi masalah. Ironisnya, kurangnya peran pendidik berasal dari
guru Bahasa Indonesianya sendiri. Memang Bahasa Indonesia telah dipelajari sejak usia sekolah
dasar, tetapi guru hanya mengajar cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar bukan mendidik
cara berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Bahasa Indonesia hanya sebuah pelajaran bukan
pendidikan, hanya formalitas dan bukan untuk diterapkan. Secara tertulis kita sering membaca
kalimat “Wajib Berbahasa Indonesia Sesuai EYD” tetapi secara kasat mata “Jauhkan Dari
Jangkauan Anak-anak”.
Kedua, kurangnya kesadaran dari mahasiswanya sendiri. Identik dengan remaja dewasa,
mahasiswa masih mempunyai ego sehingga mereka merasa canggung berbahasa Indonesia yang
baik dan benar dalam pergaulannya. Bahkan mahasiswa lebih memilih untuk menguasai Bahasa
Inggris yang dianggap lebih hebat daripada Bahasa Indonesia dan beralasan untuk mengikuti
perkembangan zaman. Alasan tersebut memang tidak bisa dipungkiri tetapi alangkah baiknya
jika menguasai Bahasa Indonesia yang baik dan benar dulu.
Ketiga, anggapan Bahasa Indonesia baku sebagai bahasa panti jompo. Ini disebabkan karena
peran dari media baik cetak maupun elektronik sering berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa informal yang dibawakan oleh ikon-ikon artisnya sehingga orang yang mengidolakan
artis tersebut suka menirukan apa yang idola mereka lakukan. Contohnya Laura Syndrome yang
gejalanya menirukan gaya ala Cinta Laura. Jadi jika suatu acara menggunakan bahasa formal,
maka acara tersebut membosankan untuk disimak.
3.4 Dampak Ditinggalkannya Penggunaan Bahasa Indonesia Yang Baik Dan
Benar
Meninggalkan suatu kebiasaan yang telah menjadi tradisi akan berakibat besar dalam
kelangsungan hidup masyarakat tersebut. Begitu juga yang akan terjadi pada bahasa Indonsia
yang disempurnakan jika semakin ditinggalkan oleh masyarakatnya.
Dampak buruk yang dapat dirasakan langsung adalah menurunnya nilai kesopanan remaja
ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Sedangkan dampak tidak langsungnya adalah
merusak bahasa nasional itu sendiri. Mungkin, beberapa tahun kedepan masih bisa menggunakan
Bahasa Indonesia yang baik dan benar, namun bagaimana dengan lima puluh tahun yang akan
datang? Apakah Bahasa Indonesia masih bisa bertahan? Atau akan hilang ditelan ‘bahasa gaul’?
Hal ini menjadi tugas kita sebagai remaja sekaligus pelajar yang masih peduli dengan Bahasa
Indonesia. Kita tidak dapat memungkiri bahwa ‘bahasa gaul’ telah mengikis dan merusak Bahasa
Indonesia. Oleh karena itu, sebagai generasi muda, marilah kita menjaga dan melestarikan
Bahasa Indonesia.
Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan membiasakan diri menggunakan Bahasa
Indonesia sesuai dengan kaidah berbahasa yang baik mulai dari diri kita sendiri, karena hal besar
berawal dari hal kecil. Setelah itu marilah kita mengajak teman-teman dan orang-orang di sekitar
kita untuk menggunakan Bahasa Indonesia dengan benar. Hal yang tak kalah penting adalah
dengan tetap memberikan pelajaran Bahasa Indonesia dengan metode pembelajaran yang
menarik kepada siswa di sekolah agar siswa sadar akan pentingnya Bahasa Indonesia dan
mampu untuk turut melestarikan bahasa nasional ini. Dengan demikian, niscaya Bahasa
Indonesia akan tetap terjaga keberadaannya sampai kapanpun.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Penggunaan bahasa Indonesia di kalangan remaja saat ini hampir sudah tidak ada yang
menggunakannya dengan benar. Sedikit sekali remaja yang menggunakan bahasa Indonesia
dengan benar. Selang waktu yang berjalan, pengguna bahasa Indonesia dengan benar telah di
geser dengan bahasa-bahasa yang tidak di kenal. Dikarenakan datangnya penduduk luar negeri
ke dalam negeri, yang membaur bahasa Indonesia dengan bahasa asing.
Bahasa yang digunakan remaja pada saat ini diantaranya adalah bahasa prokem atau bahasa
gaul, bahasa asing dan bahasa daerah. Bahasa indonesia tidak digunakan sebagaimana mestinya
dikarenakan beberapa faktor antara lain faktor dari luar dan faktor dari dalam. Penggunaan
bahasa gaul, asing maupun bahasa daerah dikalangan remaja menimbulkan berbagai dampak,
baik itu dampak positif maupun dampak negatif.
Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan minat para remaja kita agar
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah dengan tindakan yang nyata dari diri
sendiri, masyarakan dan pemerintah. Karena itu merupakan elemen penting untuk perubahan
agar remaja, masyarakat dan pemerintah indonesia memiliki rasa bangga akan bahasanya sendiri.
Bahasa Indonesia merupakan alat pemersatu bangsa, sebagai identitas bangsa Indonesia dan
sebagai lambang kebanggaan nasional.
4.2 Saran
Karena remaja merupakan agen perubahan, sudah seharusnya kita sebagai remaja saat ini
menggunakan bahasa Indonesia yang benar sesuai dengan situasi dan kondisi dan sesuai dengan
kaidah yang telah disempurnakan. Dimana kita sedang berkomunikasi secara lisan maupun
tulisan. Karena apa, karena bahasa Indonesia merupakan identitas kebanggaan bangsa Indonesia
dan merupaka alat pemersatu. Beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mempertahankan
bahasa Indonesia yang baik dan benar :
1.
Para remaja dan anak muda harus biasa menggunakan bahasa indonesia yang baku sesuai
dengan kaidahnya dalam kehidupan sehari-hari.
2.
Dalam forum resmi hendaknya masyarakat khususnya para remaja dan anak muda tetap
menggunakan tatanan bahasa indonesia yang baku.
3.
Media-media cetak atau elektronik harus tetap menggunakana tatanan Bahasa Indonesia yang
baku dalam menyajikan informasi kepada masyarakat.
4.
Menyadarkan masyarakat Indonesia terutama para generasi muda, bahwa Bahasa Indonesia
sebagai bahasa nasional harus diutamakan penggunaanya.
5. Meningkatkan pengajaran Bahasa Indonsia di sekolah dan perguruan tinggi dengan tugas praktik
dialog atau monolog seperti dalam bermain drama, penulisaan artikel makalah, dan lain
sebagainya.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar, Khaidir.1995.Beberapa Aspek Sosio-Kultural Masalah Bahasa.Yogyakarta:Gadjah
Mada University Press.
Badudu, J.S.1994.Inilah Bahasa Indonesia yang Benar. Jakarta:Gramedia Pustaka Utama.
Chaer, Abdul. 1993.Pembakuan Bahasa Indonesia.Jakarta:PT. Rineka Cipta.
Charlie, Lie.1999.Bahasa Indonesia yang Baik dan Gimana Gitu.Jakarta:Gramedia Pustaka
Utama.
Rahardi, R. Kunjana. 2000.Imperatif dalam Bahasa Indonesia.Yogyakarta:Duta Wacana
University Press.
Rahmatarifin,2011.Dampak positif dan negatif penggunaan bahasa gaul dan asing.dalam
Rahmatarifin.wordpress.com.
Salliyanti.2003. Bahasa Prokem Di Kalangan Remaja. Dalam Salliyanti.blogspot.com.
Samsuri.1985.Tata Kalimat Bahasa Indonesia.Jakarta: PT Sastra Hudaya.
Sugihastuti.2003.Bahasa
Indonesia
Dari
Awam
Mahasiswa
Yogyakarta:Gama Media.
Witriani.2012. English Made Simple.Yogyakarta:SUKA Press.
sampai
Wartawan.
Download