BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Pergaulan bebas sering

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pergaulan bebas sering dikonotasikan dengan sesuatu yang negatif seperti seks
bebas, narkoba, kehidupan malam, dan lain-lain. Memang istilah ini diadaptasi dari
budaya barat dimana orang bebas untuk melakukan hal-hal diatas tanpa takut
menyalahi norma-norma yang ada dalam masyarakat. Berbeda dengan budaya timur
yang menganggap semua itu adalah hal tabu sehingga sering kali kita mendengar
ungkapan “jauhi pergaulan bebas”.
Sebenarnya makna pergaulan bebas tidak sebatas itu. Coba jika kita sering
menonton film-film hollywood, dan bila kita memperhatikan di film-film tersebut ada
percakapan antara anak-anak dan orang dewasa, anak-anak tersebut memanggil orang
dewasa tersebut dengan panggilan “you” yang berarti “kamu” sedangkan berdasarkan
budaya timur panggilan itu kurang sopan untuk seorang anak-anak kepada orang yang
lebih dewasa, maka dari itu, untuk menyesuaikan dengan budaya kita seringkali
stasiun televisi sampai mengganti kata “you” dengan kata “ayah” misalnya atau
“paman”.
Kasus diatas merupakan salah satu bentuk dari pergaulan bebas dimana usia
bukanlah menjadi pembatas. Seperti pada film “Pay It Forward”, Trevor (Haley Joel
Osment) memanggil gurunya Mr. Simonet (Kevin Spacey). Tapi di luar jam sekolah
dia memanggilnya Eugene. Menurut saya ini adalah sesuatu yang positif untuk
membangun hubungan yang akrab dan baik. Tanpa adanya batasan usia sehingga
yang muda tidak sungkan dengan yang lebih tua dan yang tua tidak perlu jaim dengan
yang muda.
B. Tujuan
Dalam tulisan ini bertujuan agar masyarakat khususnya para remaja untuk
lebih memahami tentang pengertian pergaulan bebas, dampak pergaulan bebas, serta
dapat menghindari segala bentuk pergaulan bebas.
C. Sasaran
Sasaran dari tulisan ini adalah masyarakat khususnya para remaja agar tidak terjebak
dalam lingkungan pergaulan bebas. Dan peran aktif para orang tua, masyarakat, dan
pemerintah dalam mengawasi para remaja.
BAB II
PERMASALAHAN
A. Pendahuluan
Melihat berbagai fakta yang terjadi saat ini, tidak sedikit para pemuda dan
pemudi yang terjerumus ke dalam lembah perzinahan (Free sex), disebabkan terlalu
jauhnya kebebasan mereka dalam bergaul, faktor utama masalahnya adalah kurangnya
pemahaman masyarakat saat ini terhadap batas-batas pergaulan antara pria dan
wanita. Disamping itu didukung oleh arus modernisasi yang telah mengglobal dan
lemahnya benteng keimanan kita mengakibatkan masuknya budaya asing tanpa
penyeleksian yang ketat.
Kita telah mengetahui bahwa sebagian besar bangsa barat adalah bangsa
sekuler, seluruh kebudayaan yang mereka hasilkan jauh dari norma-norma agama. Hal
ini tentunya bertentangan dengan budaya Indonesia yang menjujung tinggi nilai
agama dan pancasila. Tidak ada salahnya jika kita mengatakan pacaran adalah
sebagian dari pergaulan bebas. Saat ini pacaran sudah menjadi hal yang biasa bahkan
sudah menjadi kode etik dalam memilih calon pendamping. Fakta menyatakan bahwa
sebagian besar perzinahan disebabkan oleh pacaran. Bila kita menengok kebelakang
tentang kebudayaan Indonesia sebelumnya, pacaran (berduaan dengan non muhrim)
merupakan hal yang tabu. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa pacaran memang
tidak dibenarkan dan tidak sesuai dengan budaya Indonesia, demikian juga dengan
budaya islam.
Masa remaja adalah masa yang paling berseri. Di masa remaja itu juga proses
pencarian jati diri. Dan, disanalah para remaja banyak yang terjebak dalam pergaulan
bebas.
Menurut Program Manajer Dkap PMI Provinsi Riau Nofdianto seiring Kota
Pekanbaru menuju kota metropolitan, pergaulan bebas di kalangan remaja telah
mencapai titik kekhawatiran yang cukup parah, terutama seks bebas. Mereka begitu
mudah memasuki tempat-tempat khusus orang dewasa, apalagi malam minggu.
Pelakunya bukan hanya kalangan SMA, bahkan sudah merambat di kalangan SMP.
‘’Banyak kasus remaja putri yang hamil karena kecelakan padahal mereka tidak
mengerti dan tidak tahu apa resiko yang akan dihadapinya,’’ kata cowok yang disapa
Mareno ini pada Xpresi, Rabu (20/8) di ruang kerjanya.
Sejak berdirinya Dkap PMI tiga tahun lalu, kasus HIV dan hamil di luar nikah
terus mengalami peningkatan. Setiap bulan ada 10-20 kasus. Mereka yang sebagian
besar kalangan pelajar dan mahasiswa ini datang untuk melakukan konseling tanpa
didampingi orang tua. ‘’Rata-rata mereka berusia 16-23. Bahkan ada yang berusia 14
tahun datang ke Dkap untuk konsultasi bahwa ia sudah hamil. Mereka yang
melakukan konseling, ada datang sendiri, ada juga dengan pasangannya. Sebagian
besar orang tua mereka tidak tahu,’’ ujarnya. Meskipun begitu, lanjutnya para remaja
yang mengalami ‘kecelakaan’ ini tak boleh dijauhi dan dibenci. ‘’Kita tidak pernah
melarang mereka untuk melakukan hubungan seks, karena ketika dilarang atau kita
menghakimi, mereka akan menjauhi kita. Makanya, Dkap disini merupakan teman
curhat mereka dan kita memberikan solusi bersama. “Seberat apapun masalahnya,
kalau bersama bisa diatasi” ungkapnya lagi.
Bukan hanya remaja nakal saja yang terjebak, anak baik pun bisa kena. ‘’Anak
baik yang disebut anak rumah pun ada yang mengalami ‘kecelakaan’ ucapnya. Oleh
sebab itu, sangat diperlukan pancegahan dini dengan memberikan pengetahuan seks.
Pendidikan seks itu sangat penting sekali. Tapi, di masyarakat kita pendidikan seks itu
masih dianggap tabu. Berdasarkan pengamatan kami, banyaknya remaja yang terjebak
seks bebas ini dikarenakan mereka belum mengetahui tentang seks.
Seks itu bukan hanya berhungan intim saja. Tapi, banyak sekali, bagaimana
merawat organ vital, mencegah HIV dan lainnya. Pelajari seks itu secara benar supaya
kita bisa hidup benar.
Sementara itu, Martha Sari Uli pelajar SMAN 4 Pekanbaru mengaku interaksi
bebas di kalangan remaja dalam pergaulan bebas, identik dengan kegiatan negatif.
“Banyak anak-anak remaja beranggapan bahwa masa remaja adalah masa paling
indah dan selalu menjadi alasan sehingga banyak remaja yang menjadi korban dan
menimbulkan sesuatu yang menyimpang,’’ ungkapnya ketika diminta komentarnya
mengenai pergaulan bebas di kalangan remaja.
Senada dengan itu, Debora Juliana juga pelajar SMAN 4 Pekanbaru
mengatakan pergaulan bebas itu saat ini sudah tidak tabu lagi, dan banyak remaja
yang menjadikannya budaya modern. “Pergaulan bebas berawal ketika remaja mulai
melakukan perbuatan yang keluar dari jalur norma-norma yang berlaku di sekitar
kehidupan kita. Sekarang banyak banget anak-anak seumuran kita sudah keluar dari
jalurnya,’’ ujar cewek kelahiran 18 Juli 1993. ‘’Kalo aku nggak pernah melakukan hal
tersebut dan jangan sampai lah,’’ tambahnya.
Di tempat terpisah, Ketua MUI Provinsi Riau Prof Dr H Mahdini MA
mengatakan data yang ditemukan lebih banyak lagi anak-anak yang melakukan seks
bebas. Maka diperlukan pencegahan. ‘’Saya meminta semua kalangan, baik para
pendidik, orang tua, dan tokoh masyarakat agar memfungsikan tugas-tugas
sosialnya,’’ pintanya.
Banyaknya kalangan remaja yang melakukan seks bebas, lanjutnya
diindikasikan ada jaringan tertentu yang menggiring anak-anak ke hal yang negatif.
Oleh karena itu, MUI menghimbau untuk menutup tempat yang berbau maksiat.
‘’Menutup tempat maksiat itu jauh lebih penting demi generasi muda,’’ sarannya.
Ditingkat pergaulan dalam kondisi hari ini, anak-anak bisa saja berbohong.
Oleh sebab itu, sambungnya pengawasan orang tua harus diperketat. Tentu saja
contoh perilaku orang tua sangat berperan.
Ia berharap, semua sekolah-sekolah tanpa terkecuali memperkuat kembali
kehidupan beragama. ‘’Kita harus menanamkan nilai-nila agama sejak dini sehingga
mereka memiliki kepribadian yang kuat,’’ katanya.
Hal yang sama juga diutarakan Drs Ali Anwar, kepala SMA 5 Pekanbaru.
Menurutnya, akibat perkembangan zaman, ketika agama tidak lagi menjadi pokok
dalam kehidupan banyak remaja yang terjebak dalam pergaulan bebas. ‘’Solusinya,
kuatkan lagi ajaran agama. Baik di sekolah maupun di rumah agama merupakan
kebutuhan pokok,’’ ucapnya.
Selain itu, orang tua harus lebih memperhatikan anaknya. ‘’Orang tua dan
anak harus selalu berkomunikasi. Sehingga tahu persoalan anak,’’ ungkapnya.
Menyikapi hal ini, kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Drs HM Wardan MP
mengatakan akan melakukan komunikasi dengan dinas pendidikan kabupaten/kota
untuk membuat surat edaran ke sekolah-sekolah dalam mengantisipasi hal tersebut.
‘’Kita berharap jangan sampai terjadi hal tersebut karena akan merusak diri sendiri,
sekolah, agama dan daerah,’’ ujarnya ketika ditemui usai acara pelantikan Persatuan
Anak Guru Indonesia (Pagi) Provinsi Riau, Rabu (20/8) malam di Hotel Sahid
Pekanbaru.
B. Pengertian Pergaulan Bebas
Munculnya istilah pergaulan bebas seiring dengan berkembangnya ilmu
pengetahuan dan tekhnologi dalam peradaban umat manusia, kita patut bersyukur dan
bangga terhadap hasil cipta karya manusia, karena dapat membawa perubahan yang
positif bagi perkembangan/kemajuan industri masyarakat. Tetapi perlu disadari bahwa
tidak selamanya perkembangan membawa kepada kemajuan, mungkin bisa saja
kemajuan itu dapat membawa kepada kemunduran. Dalam hal ini adalah dampak
negatif yang diakibatkan oleh perkembangan iptek, salah satunya adalah budaya
pergaulan bebas tanpa batas.
Dilihat dari segi katanya dapat ditafsirkan dan dimengerti apa maksud dari
istilah pergaulan bebas. Dari segi bahasa pergaulan artinya proses bergaul, sedangkan
bebas artinya terlepas dari ikatan. Jadi pergaulan bebas artinya proses bergaul dengan
orang lain terlepas dari ikatan yang mengatur pergaulan.
Islam telah mengatur bagaimana cara bergaul dengan lawan jenis. Hal ini telah
tercantum dalam surat An-Nur ayat 30-31. Telah dijelaskan bahwa hendaknya kita
menjaga pandangan mata dalam bergaul. Lalu bagaiamana hal yang terjadi dalam
pergaulan bebas? Tentunya banyak hal yang bertolak belakang dengan aturan-aturan
yang telah Allah tetapkan dalam etika pergaulan. Karena dalam pergaulan bebas itu
tidak dapat menjamin kesucian seseorang.
C. Pacaran adalah Pergaulan Bebas
Pacaran merupakan satu konsep yang sama dengan pergaulan bebas. Dari
sumber di atas kita telah mengetahui bahwa pergaulan bebas tidak mengenal batasbatas pergaulan. Para remaja dengan bebas saling bercengkrama, bercampur baur
(ikhtilat) antara lawan jenis, akibatnya mudah di telusuri berkembanglah budaya
pacaran.
Kecintaan terhadap lawan jenis adalah fitrah manusia. Tetapi pacaran
bukanlah wadah yang tepat. Cinta bukanlah sekedar pandangan mata ataupun
kerlingan. Bukan pula lembaran surat yang berisi pujian kata yang melebihi dari
ikatan
pernikahan,
dan
cinta
tidak
akan
berakhir
dengan
pernikahan.
Banyak orang yang mengagungkan dan memproklamirkan kata cinta. Namun
mengapa gambaran dan kenyataan pahit mewarnai dunia cinta. Betapa banyak cinta
berujung pada pembunuhan bayi-bayi yang tak berdosa. Banyak orang yang memiliki
cinta melakukan hal yang keji. Cinta berubah menjadi perceraian dan mengakibatkan
suramnya masa depan generasi mendatang. Mengapa pula cinta bisa dijajakan di
sembarang tempat oleh wanita berbusana minim ? Hal-hal yang mengenaskan
sekaligus memalukan itu menjadi daftar persoalan yng melingkupi dunia cinta.
Sebagian orang berpendapat bahwa cinta bermakna kecenderungan terus menerus
disertai dengan hati yang meluap-luap. Inilah yang membuat seseorang menjadi buta
dan tuli. Kebutaan ini dapat diartikan tidak lagi melihat tata nilai terutama nilai-nilai
syariat
islam,
sehingga
banyak
orang
menabrak
nilai-nilai
Islam
dalam
mengekspresikan cintanya. Dan yang dimaksud tuli yaitu tidak mau mendengar
nasihat-nasihat agama yang seharusnya dapat membingkai cintanya. Seperti yang
telah disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Kecintaanmu kepada sesuatu bisa
membuat buta dan tuli.” (HR. Ahmad). Lain halnya dengan seseorang yang berada
dalam wilayah tidak terlarang, seperti seseorang yang berada jauh dari rumah lalu
merindukan istrinya.
Semua aktifitas tubuh kita berpotensi menimbulkan zina ketika digerakkan
atas nama syahwat yang melesat lepas dari kendali fitrah. Namun nama Allah Maha
Pemurah, zina yang dilakukan selain farji tidak sampai dikenakan hukuman cambuk.
Ia masih bisa dihapus dengan taubat yang tulus dan ditebus dengan amal-amal shalih.
Cara untuk menghindari zina adalah dengan mengendalikan hawa nafsu dan menutup
rapat-rapat pintu zina.
D. Bagaimana Islam memandang Pergaulan Bebas ?
Banyak hal-hal yang negatif yang ditimbulkan oleh pergaulan bebas. Ini
semua telah terlukis oleh mereka di belahan bumi Barat, yang dulu mengagungagungkan kebebasan dalam segala hal, termasuk kebebasan seks, kini mereka
menjerit. Angka perceraian sangat tinggi, dan pranata pernikahan diragukan.
Akibatnya keluarga sebagai sendi masyarakat runtuh, kemudian terjadilah dekadensi
moral. Wabah AIDS menebarkan kengerian dan ketakutan karena semakin liarnya
perilaku masyarakat dalam free sex.
Apa yang terjadi di Barat dapat kita sinyalir dari tulisan George Balusyi dalam
bukunya ; “Ledakan Seksual”, yaitu ; “pada tahun 1962, Kennedy menjelaskan, masa depan
Amerika diancam bahaya, sebab para pemudanya cenderung dan tenggelam di dalam
syahwat sehingga tidak mampu memikul tanggung jawab yang harus dipikul di atas
pundaknya. Setiap tujuh pemuda yang maju untuk jadi tentara, terdapat enam pemuda
yang tidak pantas dijadikan tentara. Sebab syahwat yang telah mereka lampiaskan itu,
telah merusak keseimbangan hygienis dan psikis mereka”. Budaya free sex tidak jauh
berbeda dengan budaya pacaran. Dan dengan menghubungkan fakta yang terjadi di sekitar
kita, banyak para pemuda dan pemudi yang mengaku dirinya muslim tetapi mereka
melakukan perbuatan zina. Jika hal ini dibiarkan, maka akan sangat berbahaya bagi
kelanjutan da’wah Islam. Betapa sedihnya jika ummat Islam yang begitu besar tetapi akhlak
para pemudanya penuh dengan kebobrokan. Naudzubillahi min zaalik.
BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan uraian sebelumnya penulis akan menyimpulkan beberapa hal, yakni
sebagai berikut : Islam telah menetapkan dan mengatur batas-batas dalam pergaulan bebas
diantaranya dengan menjaga dengan pandangan mata dan memelihara kehormatan (tarji).
Islam tidak mengakui dan mengatur tata cara seperti yang ada pada saat ini. Budaya pacaran
adalah merupakan satu konsep yang sama dengan pergaulan bebas dan dampak negatif
(bahayanya) tidak jauh berbeda.
Dan saya sarankan agar pemuda pemudi zaman sekarang harus hati-hati dalam
pergaulan apalagi pergaulan bebas, penulis mohon maaf apabila banyak kekurangan dalam
penulisan, penulis mengharapkan saran dan kritiknya, terima kasih banyak.
Download