Uploaded by Elfa Al Aufa

Essay Elfa M. Ihsan Al Aufa

advertisement
PENGARUH KOMBINASI ZAT PENGATUR TUMBUH
Benzyl Amino Purin (BAP) DAN Naphthalene Acetic Acid (NAA) TERHADAP
PERTUMBUHAN PULE PANDAK (Rauvolfia serpentina (L.) Benth. ex Kurz.) SECARA IN
VITRO
EFFECT OF GROWING COMBINATION OF GROWING SUBSTANCES Benzyl Amino Purin
(BAP) AND Naphthalene Acetic Acid (NAA) ON PULE PANDAK GROWTH (Rauvolfia
serpentina (L.) Benth. Ex Kurz.) IN VITRO
Elfa M. Ihsan Al Aufa1, Liberty Chaidir2, Dikayani2
1
Mahasiswa Jurusan Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
2
Dosen Jurusan Agroteknologi, Fakultas Sains dan Teknologi,
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung.
Korespondensi : [email protected]
Diterima 28 Desember 2018 / Disetujui 14 Januari 2019
ABSTRAK
Pule Pandak (Rauvolfia serpentine (L.) Benth. ex Kurz) merupakan tanaman obat yang
mengandung senyawa alkaloid diantaranya reserpin, rescinamine, dan ajmalin yang berkhasiat
obat. Tanaman Pule Pandak termasuk kategori tanaman langka karena dieksploitasi secara
berlebihan untuk memenuhi permintaan sebagai tanaman obat. Pada umumnya Pule Pandak
diperbanyak secara konvensional namun tingkat keberhasilannya masih rendah. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh Benzyl Amino Purine (BAP) dan Naphthalene Acetic
Acid (NAA) terhadap perbanyakan tanaman Pule Pandak secara in vitro. Penelitian ini
dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati dari
bulan April sampai dengan bulan November 2018. Metode penelitian yang digunakan adalah
deskriptif, rancangan perlakuan yang digunakan terdiri dari 2 faktor yaitu NAA (0,5 mg L -1, 0,75
mg L-1, 1 mg L-1) dan BAP (1 mg L-1, 2 mg L-1, 3 mg L-1) yang diulang sebanyak tiga kali. Hasil
penelitian menunjukkan pemberian (NAA 0,75 mg L-1 + BAP 2 mg L-1) memberikan pengaruh
paling baik pada pembentukkan kalus yaitu pada 14 HSK dengan jumlah kalus yang terbentuk
dua eksplan. kalus yang dihasilkan berwarna kuning dengan tekstur remah.
kata kunci : Benzyl Amino Purine, Pule Pandak, in vitro, kalus, Naphthalene Acetic Acid
ABSTRACT
Pule Pandak (Rauvolfia serpentine (L.) Benth. Ex Kurz) is a medicinal plant that contains
alkaloid compounds such as reserpine, rescinamine and ajmalin which have medicinal
properties. Pule Pandak plants are categorized as rare plants because they are overexploited
to meet the demand for medicinal plants. In general Pule Pandak is propagated conventionally
1
but the success rate is still low. This study aims to determine the effect of Benzyl Amino Purine
(BAP) and Naphthalene Acetic Acid (NAA) on the multiplication of Pule Pandak plants in vitro.
This research was carried out at Sunan Gunung Djati State Islamic University Network Culture
Laboratory from April to July 2018. The research method used was descriptive, the treatment
design used consisted of 2 factors, namely NAA (0.5 mg L- 1, 0.75 mg L-1, 1 mg L-1) and BAP (1
mg L-1, 2 mg L-1, 3 mg L-1) repeated three times. The results showed that administration (NA
0.75 mg L-1 + BAP 2 mg L-1) gave the best effect on callus formation at 14 HSK with the
number of calluses formed by two explants. The resulting callus is yellow with a crumb texture.
The fastest shoot formation in the treatment (0.75 mg L-1 + BAP 1 mg L-1 NAA) is 6 HSK with
one bud.
keyword: Benzyl Amino Purine, Pule Pandak, in vitro, callus, Naphthalene Acetic Acid
PENDAHULUAN
karena mudah terdegradasi di tanah serta
relatif kurang beracun terhadap parasitoid.
Reserpine dari Pule Pandak dapat
menghambat proses makan hama tanaman.
Kebutuhuan tanaman Pule Pandak yang
tinggi ini, belum berbanding lurus dengan
upaya perbanyakannya. Sulandjari (2008)
mengungkapkan
data
Menurut
the
Convention on International Trade in
Endangered Species of Wild Fauna and Flora
(CITES) Pule Pandak termasuk Appendix II
atau kategori genting dan terancam punah.
Perbanyakan Tanaman Pule Pandak yang
dilakukan secara konvesional melalui
perbanyakan generatif dinilai tidak optimal.
Pertumbuhan biji dan stek batang pada
perbanyakan
Pule
Pandak
secara
konvensional menunjukkan pertumbuhan
kurang dari 15%.
Persentase tumbuh yang rendah ini
disebabkan oleh biji bertempurung yang
keras, sehingga daya kecambah yang
dimiliki sangat rendah (Yunita dan Lestari,
2011). Oleh karena itu, diperlukan upaya
perbanyakan
yang
efektif
dalam
perbanyakan Tanaman Pule Pandak. Salah
satu teknik perbanyakan yang efektif
digunakan adalah teknik kultur jaringan.
Teknik kultur jaringan merupakan salah
satu solusi dalam perbanyakan tanaman
Pule Pandak, sebab perbanyakan tanaman
Tanaman Pule Pandak (Rauvolfia
serpentina (L.) Benth. ex. Kurz) adalah
tanaman perdu dan salah satu anggota
famili Apocynaceae varietas sumaterana
yang merupakan tanaman obat potensial
(Lampiran 1). Pule Pandak mengandung
beberapa senyawa alkaloid diantaranya
reserpin, rescinamine dan ajmalin yang
digunakan sebagai obat penurun tekanan
darah tinggi, tranquilizer (penenang) dan
gangguan pada sistem sirkulator (Yunita dan
Lestari, 2011).
Pemanfaatan Pule Pandak dilakukan
dengan mengekstrak bagian akarnya
sebagai bahan baku simplisia Pule Pandak.
Data menunjukkan bahwa penggunaan
simplisia Pule Pandak dalam negeri memiliki
kecenderungan
pertambahan
sebesar
25,89% pertahun (Yahya et al., 2002 ;
Sulandjari, 2008). Kebutuhan akar untuk
membuat ekstrak Pule Pandak diperkirakan
hampir 650 ton per tahun (Ramawat et al.,
1999 ; Aryati et al., 2005). Selain
dimanfaatkan sebagai tanaman obat,
kandungan reserpine dari tanaman Pule
Pandak
dapat
dimanfaatkan
untuk
pembuatan insektisida alami. Subandi et al.,
(2018) mengungkapkan Insektisida alami
dianggap lebih aman untuk lingkungan
2
dapat dilakukan dalam waktu yang relatif
singkat dengan jumlah yang banyak.
Keberhasilan kultur jaringan dipengaruhi
oleh berbagai faktor, diantaranya adalah zat
pengatur tumbuh (ZPT).
Menurut Lestari (2011) zat pengatur
tumbuh memiliki peranan penting dalam
mengatur kecepatan pertumbuhan dari
masing-masing jaringan untuk berkembang
menjadi organ tanaman. Penggunaan zat
pengatur tumbuh dalam kadar tertentu
akan dapat mendorong, menghambat, atau
secara
kualitatif
dapat
mengubah
pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Pada umumnya, ZPT yang digunakan
dalam kultur jaringan terdiri dari golongan
auksin dan sitokinin. Auksin dalam
pertumbuhan tanaman berperan dalam
inisiasi
akar,
pertumbuhan
batang,
diferensiasi
jaringan
vaskuler
dan
menghambat proses senesen pada daun
(Srivastava, 2002 ; Tyas et al,. 2016),
sedangkan Sitokinin berperan antara lain
dalam pembentukan tunas adventif,
multiplikasi tunas aksiler dan penghilang
pengaruh dominasi apikal (Davies, 2004 ;
Tyas et al,. 2016).
Zat pengatur tumbuh yang sering
digunakan dalam kultur jaringan adalah
NAA (Napthalene Acetic Acid) dan BAP
(Benzyl Amino Purine). Zat tengatur tumbuh
NAA berupa auksin yang berfungsi dalam
pemanjangan kuncup dan BAP berupa
sitokinin yang berfungsi untuk merangsang
pembesaran sel, sintesis DNA (Deoxyribo
Nucleic Acid) kromosom, pembentukan
tunas, pembentukan batang, serta untuk
merangsang
pertumbuhan
akar.
Berdasarkan uraian tersebut, maka
penelitian ini diarahkan untuk mengkaji
pengaruh pemberian zat pengatur tumbuh
NAA dan BAP untuk pertumbuhan eksplan
Pule Pandak yang ditanam dalam media MS
(Murashige and Skoog) secara in vitro.
BAHAN DAN METODE
Penelitian
ini
dilaksanakan
di
Laboratorium Kultur Jaringan, Fakultas Sains
dan Teknologi, Universitas Islam Negeri
Sunan Gunung Djati Bandung pada bulan
April hingga November 2018.
Bahan yang digunakan dalam penelitian
ini yaitu Eksplan berupa nodus dari planlet
Pule Pandak yang berasal dari Esha Flora
Bogor, Jawa Barat. Bahan untuk pembuatan
media meliputi agar, aquades steril, Buffer
solution, gula, media MS instan, dan ZPT
NAA serta BAP.
Alat yang digunakan dalam penelitian ini
yaitu Alat pembuatan media meliputi
timbangan analitik, pH meter, spatula,
magnetic stirrer, batang pengaduk, gelas
ukur, hot plate, gelas kimia 100 L-1, gelas
kimia 100 L-1, botol kultur, karet, label, botol
saus, dan autoklaf. Alat penanaman dan
inkubasi meliputi pinset berbagai ukuran,
pisau scalpel, plastik wrap, alumunium foil,
karet, rak kultur, Laminar Air Flow Cabinet
(LAFC), cawan petri, hand sprayer, Air
Conditioner (AC).
Penelitian ini dilakukan dengan metode
deskriptif,
yang
dilakukan
melalui
pendeskripsian
respon
pertumbuhan
eksplan tanaman Pule Pandak terhadap
berbagai konsentrasi NAA dan BAP yang
diberikan. Rancangan perlakuan yang
digunakan terdiri dari 2 faktor yaitu NAA
dan BAP yang masing-masing memiliki 3
taraf berbeda dan dikombinasikan menjadi
9 perlakuan dengan 3 kali ulangan sehingga
dihasilkan 27 unit percobaan. Taraf
konsentrasi perlakuan NAA dan BAP yaitu
sebagai berikut:
1. Faktor NAA
dengan 3 taraf
konsentrasi:
3
n1 = 0,50 mg L-1
n2 = 0,75 mg L-1
n3 = 1,00 mg L-1
2. Faktor BAP dengan 3 taraf konsentrasi
b1 = 1 mg L-1
b2 = 2 mg L-1
b3 = 3 mg L-1
Pelaksanaan penelitian yang dilakukan
terbagi menjadi beberapa tahapan yaitu
sebagai berikut:
1. Sterilisasi Ruang dan Alat
Kegiatan kultur jaringan harus dilakukan
dalam kondisi aseptis atau steril, sehingga
ruangan yang digunakan harus steril.
Ruangan kerja harus senantiasa bersih,
dinding dan lantai dibersihkan dengan zat
anti kuman atau desinfektan. Selain
ruangan yang digunakan, alat-alat yang
digunakan untuk penanaman pun harus
dalam kondisi steril. Sterilisasi yang
dilakukan bertujuan untuk membunuh dan
menghilangkan mikroorganisme yang dapat
menyebabkan
kontaminasi.
Sebab,
mikroorganisme yang dapat menyebabkan
kontaminasi dapat berada pada alat-alat
ataupun di udara.
Sterilisasi
alat
dilakukan
dengan
sterilisasi kering ataupun sterilisasi basah.
Sterilisasi
basah
dilakukan
dengan
menggunakan
autoklaf,
sedangkan
sterilisasi
kering
dilakukan
dengan
menggunakan oven. Alat-alat gelas dan
cawan
petri
disterilkan
dengan
menggunakan autoklaf pada suhu 121°C
dengan tekanan 17,5 psi dalam waktu 30
menit. Sterilisasi basah dilakukan untuk
alat-alat yang akan langsung digunakan.
Sedangkan sterilisasi kering dilakukan
dengan menggunakan oven, botol kultur
dan alat-alat tanam disterilkan dengan cara
pencucian dengan detergen dan air bersih,
dikeringkan lalu disimpan dalam oven
selama 24 jam.
Alat lain yang penting untuk disterilisasi
pada proses penanaman eksplan adalah
Laminar Air Flow Cabinet (LAFC). Laminar
Air Flow Cabinet disterilkan dengan cara
lampu Ultra Violet (UV) dihidupkan pada
laminar sebelum digunakan kurang lebih
selama 30-60 menit. Setelah itu, lampu UV
dimatikan kemudian tutup laminar dibuka
dan blower dihidupkan serta lampu dalam
laminar. Setelah itu lakukan pembersihan
ruangan dalam laminar dengan cara
menyemprotkan alkohol 90% lalu lap
dengan kapas bersih. Setelah itu, laminar
telah siap untuk digunakan.
2. Pembuatan Media
Media yang digunakan untuk induksi
tunas dalam penelitian ini adalah Media
Musrashige and skoog (MS) instan. Media
yang dibuat pada setiap perlakuan adalah
100 mL. Konsentrasi media MS yang
digunakan yaitu 0,443
g
dengan
penambahan gula 3 g , agar 0,7 g dan
aquades. Zat pengatur tumbuh yang
digunakan adalah BAP dan NAA dengan
konsentrasi sesuai perlakuan dan diaduk
hingga homogen menggunakan magnetic
stirrer, sedangkan untuk media awal tanpa
ditambahkan ZPT.
Pembuatan media dilakukan dengan
pencampuran MS instan, gula, dan aquades
yang dihomogenkan dengan menggunakan
hot plate dan magnetic stirrer. Setelah
larutan homogen, pH larutan diatur hingga
5,8. kemudian ditambahkan agar 0,7 g yang
berfungsi
sebagai
pemadat
dan
ditambahkan aquades hingga volume 100
mL. Larutan yang telah bercampur
kemudian dihomogenkan kembali dengan
menggunakan hot plate dan magnetic
stirrer hingga mendidih. Setelah itu, media
dimasukkan ke dalam botol kultur dan
ditutup rapat dengan alumunium foil serta
diikat dengan karet gelang. Selain itu, botol
4
kultur diberi kode media sesuai dengan
perlakuan dan tanggal
pembuatan.
Selanjutnya, media di autoklaf selama 30
menit dengan tekanan 17,5 psi. kemudian,
media yang telah siap disimpan di rak kultur
dan disimpan minimal 3 hari untuk melihat
kontaminasi atau tidak pada media.
3. Subkultur Eksplan
Subkultur eksplan merupakan tahapan
dalam menetralisir pengaruh penggunaan
ZPT sebelumnya pada planlet yang
digunakan sebagai eksplan. Oleh karena itu,
subkultur eksplan ini dilakukan diawal
sebelum dilakukan penanaman pada media
perlakuan. Planlet Pule Pandak disubkultur
atau dipindahkan ke media MS tanpa
penambahan ZPT untuk menetralkan
pengaruh ZPT pada media sebelumnya.
Hasil dari subkultur awal ini kemudian
diamati dan dipelihara selama 2 minggu.
Waktu 2 minggu ini diharapkan dapat
menghilangkan pengaruh penggunaan ZPT
pada media sebelumnya. Sehingga media
perlakuan yang digunakan dapat lebih
optimal
dalam
perkembangan
dan
pertumbuhan tanaman Pule Pandak secara
in vitro.
4. Penanaman Eksplan
Penanaman eksplan dilakukan di dalam
LAFC yang telah disterilkan dengan
penyemprotan alkohol 90% dan disinari
dengan sinar Ultra Violet (UV) selama 30-60
menit. Setelah itu, lampu dan blower
dihidupkan, alat yang diperlukan seperti
pinset, pembakar bunsen, cawan petri,
scalpel dimasukkan ke dalam LAFC. Tunas
dipisahkan dan dipotong-potong menjadi
beberapa tunas atau potongan tunas.
Kemudian tunas-tunas tersebut ditanam
pada media perlakuan..
Pada saat penanaman, kondisi mulut
botol harus selalu dekat dengan Bunsen
untuk memperkecil resiko kontaminasi yang
terjadi. Saat eksplan telah ditanam pada
media perlakuan, botol ditutup dengan
alumunium
foil
dan
dikencangkan
menggunakan karet gelang. Ketika seluruh
eksplan telah ditanam, pada setiap botol
diberi label berupa tanggal penanaman dan
perlakuan.
5. Pemeliharaan Tanaman
Pemeliharaan
dilakukan
dengan
membersihkan lingkungan sekitar kultur
dengan penyemprotan alkohol 70% secara
rutin. Pemeliharaan ini penting untuk
menjaga kultur tidak terkontaminasi. Selain
itu, suhu didalam ruangan juga harus
diperhatikan. Kisaran suhu yang optimal
adalah 230C. Pemeliharaan lainnya
dilakukan untk menjaga kebersihan
lingkungan ruang kultur dari debu dan
kotoran yang dapat menjadi sumber
kontaminasi.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Lingkungan Ruang Inkubasi
Berdasarkan hasil pengamatan, pada
penelitian yang dilakukan di laboratorium
kultur jaringan Agroteknologi Universitas
Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
didapatkan suhu harian dalam kisaran 2223°C. suhu yang didapatkan meski relatif
lebih rendah dari suhu optimum 25°C,
namun masih dalam rentang suhu
optimum. Kisaran suhu ini masih sesuai
untuk pertumbuhan eksplan Pule Pandak.
Menurut basri (2016), suhu ruang kultur
yang berada di bawah suhu optimum akan
membuat pertumbuhan dan perkembangan
eksplan semakin lambat, begitu juga ketika
suhu ruang kultur di atau suhu optimum,
hal tersebut akan membuat pertumbuhan
eksplan menjadi lambat karena laju
respirasi yang tinggi.
5
Pengamatan yang dilakukan terhadap
kelembaban relatif di Lingkungan ruang
inkubasi, didapatkan nilai kelembaban 8990%. Kelembaban relatif di dalam botol
kultur umumnya adalah antara 80-90%.
Sedangkan kelembaban relatif di ruang
kultur umumnya adalah 70%. Kelembaban
relatif di ruang kultur akan mempengaruhi
kelembaban relatif di dalam botol kultur.
Semakin lembab ruang kultur akan
membuat semakin lembab kondisi di dalam
botol kultur. Kelembaban udara di dalam
botol kultur yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan tanaman tumbuh abnormal
yaitu daun lemah, mudah patah, tanaman
kecil-kecil namun terlampau sukulen.
Kondisi tanaman demikian disebut vitrifikasi
atau hiperhidrocity.
Pengukuran intensitas cahayadalam
penelitian ini dengan menggunakan
luxmeter didapatkan hasil berupa bagian
yang paling jauh dari sumber cahaya
memiliki intensitas 183 lux, sedangkan yang
terdekat dengan sumber cahaya memiliki
intensitas 723 lux. Perbedaan intensitas ini
disebabkan perbedaan letak botol kultur
dengan sumber cahaya. Eksplan yang
memiliki
intensitas
cahaya
rendah
cenderung mengalami stagnasi ataupun
tidak tumbuh dengan optimal. sedangkan
pada eksplan yang mendapatkan intensitas
cahaya cukup terjadi respon pertumbuhan
berupa kalus dan tunas. Hal ini menandakan
pengaruh intensitas cahaya terhadap
pertumbuhan atau morfogenesis eksplan.
planlet Pule Pandak. Hal ini bertujuan untuk
mengurangi pengaruh ZPT sebelumnya
pada planlet Pule Pandak. Subkultur awal ke
media tanpa ZPT ini diharapkan mampu
menghilangkan pengaruh ZPT pada media
perlakuan sebelumnya, sehingga perlakuan
yang diberikan dapat bekerja lebih optimal.
Pertumbuhan Kalus Pada Eksplan
Kalus yang terbentuk pada teknik kultur
jaringan adalah indikator dari eksplan yang
tumbuh dan berkembang. Menurut Rahayu
dan Mardini (2015) bahwa Kalus merupakan
salah satu indikator adanya pertumbuhan
eksplan dalam kultur in vitro. Respon yang
terjadi pada eksplan terhadap ZPT yang
diberikan berupa pembentangan ataupun
pembengkakan
pada
eksplan
yang
kemudian diikuti dengan terbentuknya
kalus pada bekas irisan.
Pada penelitian ini, respon pembentukan
kalus pada eksplan diawali dengan
pembengkakan dan kumpulan sel yang
belum memiliki bentuk atau belum
terdiferensiasi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Ajijah et al., (2010) yang
mengatakan bahwa pembengkakan pada
eksplan adalah tahap awal pembentukan
kalus yang mengindikasikan adanya aktifitas
sel pada eksplan. Respon pembengkakan
terjadi diduga karena adanya interaksi
antara eksplan terhadap lingkungan tumbuh
dan zat pengatur tumbuh melalui
penyerapan nutrisi yang dilakukan oleh
eksplan.
Kalus pada penelitian ini terbentuk ratarata pada 14 Hari setelah Kultur (HSK), yaitu
pada perlakuan (n3b3(3)), (n2b2(2)), dan
(n2b2(3)). Kalus yang terbentuk dapat dilihat
pada Gambar 1.
Subkultur Eksplan
Pada penelitian ini, subkultur dilakukan
di awal penelitian sebelum penanaman
pada media perlakuan. Planlet Pule Pandak
dipisah-pisahkan kemudian di subkultur ke
media MS tanpa ZPT selama dua minggu.
Setiap media MS tanpa ZPT disubkultur satu
6
a
b
putih, putih kekuningan, dan kuning. Variasi
warna kalus dalam terlihat dalam Gambar 3.
Sorentina et al.,(2013) mengungkapkan
bahwa Warna kalus putih kekuningan
merupakan warna kalus yang baik karena
menandakan sel kalus masih aktif
membelah. Selain warna kuning atau putih
kekuningan, terdapat pula eksplan kalus
yang berwarna putih. Secara umum, kalus
berwarna putih biasanya adalah kalus
muda. Namun, hingga 7 MSK perlakuan n3b3
memiliki kalus berwarna putih, hal ini dapat
menandakan pertumbuhan yang lambat
ataupun kalus yang tidak berkembang.
Kalus
yang
terbentuk
pada
penelitian ini memiliki tekstur yang kompak
dan remah. Menurut Shofyani dan
Purnawanto (2017) Pembentukan kalus
yang remah terbentuk karena pertumbuhan
yang mengarah pada pembentukan sel-sel
yang berukuran kecil dan memiliki ikatan
yang longgar. Sedangkan tekstur kalus yang
kompak menurut Mahadi et al., (2016)
disebabkan karena kalus mengalami
pembentukan lignifikasi yang membuat
kalus tersebut mempunyai tekstur yang
keras, dan ini merupakan efek dari sitokinin
yang berperan dalam transport zat hara.
Pada penelitian ini, kalus yang terbentuk
dengan struktur dan tekstur yang remah
mengalami regenerasi serta diferensiasi sel
menjadi tunas. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Suhesti et al., (2015) yang
mengungkapkan bahwa kalus dengan
struktur dan tekstur yang remah dan
berwarna putih kekuningan cenderung
bersifat embriogenik sehingga lebih mudah
diregenerasikan dibanding dengan tekstur
dan struktur kalus yang kompak dan basah.
Pada penelitian ini, terdapat empat eksplan
yang mengalami pembentukan kalus,
seperti pada Gambar 3.
c
Gambar 1. Respon pembentukan kalus.
a) perlakuan n2b2(2) b) perlakuan n2b2(3) c) perlakuan n3b3(3)
Kalus mengalami perkembangan yang
cukup baik dengan penambahan ukuran
kalus secara visual. Hal ini menandakan
adanya
perkembangan
kalus
dan
menunjukkan pertumbuhan kalus masih
berada pada fase eksponensial ketika laju
pembelahan sel mengalami peningkatan.
Hal ini dapat dilihat dari perkembangan
kalus dengan perlakuan n2b2 pada Gambar
2.
a
b
c
d
e
f
g
h
Gambar 2. Perkembangan kalus pada perlakuan NAA 0,75
mg/L-1 dan BAP 2 mg/L-1‎(a, b, c, d) Kondisi Eksplan pada 1,
2, 3, 4 MSK (e, f, g, h) Kondisi Eksplan pada 5, 6, 7, 8 MSK
Warna dan Tekstur Kalus
Warna kalus merupakan indikasi dari
kondisi kalus, yaitu baik atau tidaknya
kualitas kalus. Warna kalus mengindikasikan
kandungan klorofil yang ada di dalam
eksplan. Perbedaan warna kalus yang
terjadi disebabkan perkembangan yang
berbeda pada eksplan. Jaringan kalus yan
dihasilkan dari suatu eksplan biasanya
menimbulkan warna yang berbeda-beda.
Pada penelitian ini, warna kalus diamati
secara visual dengan melihat langsung
kondisi fisik kalus. Warna kalus yang
terbentuk pada penelitian ini berwarna
7
a
b
c
d
serpentina (L.) Bentham ex Kurz. ]
secara In Vitro. Biofarmasi 3 (2):
52-56, Agustus 2005, ISSN: 16932242
Basri, A. H. H. 2016. Kajian Pemanfaatan
Kultur
Jaringan
dalam
Perbanyakan Tanaman Bebas
Virus. Agrica Ekstensia. Vol. 10 No.
1 Juni 2016: 64-73
Mahadi, I., Wan S., dan Yeni S. 2016. Induksi
Kalus Jeruk Kasturi (Citrus
microcarpa)
Menggunakan
Hormon 2,4-D dan BAP dengan
Metode in vitro. Jurnal Ilmu
Pertanian Indonesia (JIPI), Agustus
Gambar 3. Visual kalus pada beberapa eksplan saat 8
MSK. a) perlakuan n2b2(2) b) perlakuan n2b2(3)
c) perlakuan n3b1(1) d) perlakuan n3b3(3)
SIMPULAN
Konsentrasi yang optimal memberikan
pengaruh terbaik dalam pertumbuhan
eksplan Pule Pandak adalah perlakuan NAA
0,75 mg L-1 + BAP 2 mg L-1, menghasilkan
rata-rata muncul kalus 14 HSK dengan
jumlah kalus yang terbentuk dua eksplan.
0853-4217 EISSN 2443-3462
Mardini, Ucik. 2015. Pengaruh Kombinasi
2,4 – D dan BAP terhadap Induksi
Kalus Eksplan Daun dan Batang
Tanaman Binahong (Anredera
cordifolia (Ten.) Steenis) secara In
Vitro.Universitas Muhammadiyyah
Surakarta: Artikel Publikasi Ilmiah.
SARAN
Adapun saran yang disampaikan
yaitu perlu dilakukannya penelitian lebih
lanjut mengenai penggunaan zat pengatur
tumbuh yang sesuai untuk pertumbuhan
tunas adventif pada eksplan tanaman Pule
Pandak dan pengaruh penggunaan sitokinin
secara tunggal pada pertumbuhan tunas
adventif.
Lestari, E. G. dan Rossa Y. 2008. Induksi
Kalus dan Regenerasi Tunas Padi
Varietas Fatmawati. Bul. Agron.
(36) (2) 106 – 110 (2008)
Lestari, E. G. 2011. Peranan Zat Pengatur
Tumbuh dalam Perbanyakan
Tanaman melalui Kultur Jaringan.
Jurnal AgroBiogen 7(1):63-68.
DAFTAR PUSTAKA
Ajijah, N., Darwati, I., Yudiwanti., Roostika.
(2010). Pengaruh suhu inkubasi
terhadap
pertumbuhan
dan
perkembangan embrio somatik
Purwoceng (Pimpinella pruatjan
Molk.). Jurnal Littri. 16(2): 56-63.
Aryati, H., E. Anggarwulan, dan Solichatun.
2005. Pengaruh Penambahan DLTriptofan terhadap Pertumbuhan
Kalus dan Produksi AlkaloidReserpin Pule Pandak [Rauvolfia
Lestari, E. G. 2012. Regenerasi Tanaman
secara in vitro dan Faktor-faktor
yang Mempengaruhi. BB Biogen,
Bogor
–
http://biogen.litbang.deptan.go.id
Subandi, M., Dikayani, dan Efrin F. 2018.
Production of reserpine of
rauwolfia serpentina [L] kurz ex
benth through in vitro culture
8
enriched with plant growth
regulators of NAA and kinetin.
International
Journal
of
Engineering & Technology, 7 [2.29]
[2018] 274-278
Shofyani, A. dan A. M. Purnawanto. 2017.
Pertumbuhan
Kalus
Kencur
(Kaemferia galangal L.) pada
Komposisi
Media
dengan
Perlakuan Sukrosa dan Zat
Pengatir Tumbuh (2,4 – D dan
Benzil Amino Purine). AGRITECH :
Vol. XIX No. 1 Juni 2017 : 55-64.
ISSN : 1411-1063
Suhesti, S., Nurul K., G. A. Wattimena, M.
Syukur A., Endang H., dan RR. Sri
Hartati. 2015. Induksi Kalus dan
Regenerasi Dua Varietas Tebu
(Saccharum
officinarum
L.)
through in vitro. Jurnal Littri 21 (2)
, Juni 2015 Hlm. 77-88. ISSN 08538212.
Sorentina, M. S. M., Haliani, Muslimin, dan I
Nengah S. 2013. Induksi Kalus
Bawang
Merah
(Allium
ascalonicum L.) Lokal Palu Pada
Medium MS Dengan Penambahan
2,4-D (2,4-Asam Dikloropenoksi
Asetat) dan Air Kelapa. Online
Jurnal of Natural Science, Agustus
2013. Vol. 2 (2): 55-63. ISSN: 23380950.
Sorentina, M. S. M., Haliani, Muslimin, dan I
Nengah S. 2013. Induksi Kalus
Bawang
Merah
(Allium
ascalonicum L.) Lokal Palu Pada
Medium MS Dengan Penambahan
2,4-D (2,4-Asam Dikloropenoksi
Asetat) dan Air Kelapa. Online
Jurnal of Natural Science, Agustus
2013. Vol. 2 (2): 55-63. ISSN: 23380950.
9
Download