Uploaded by Fadli Jalil

DIKTAT ANALISIS LOKASI DAN KERUANGAN (RP09-1209) Eko Budi Santoso Ema Umilia Belinda Ulfa Aulia

advertisement
DIKTAT
ANALISIS LOKASI DAN
KERUANGAN (RP09-1209)
Eko Budi Santoso
Ema Umilia
Belinda Ulfa Aulia
PROGRAM STUDI PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2012
LEMBAR PENGESAHAN
1. Program
2. Judul
3. Ketua Tim
a. Nama Lengkap
b. Jenis Kelamin
c. NIP
d. Jabatan Fungsional
e. Pangkat/Golongan
f. Jabatan Struktural
g. Bidang Keahlian
h. Laboratorium
i. Fakultas/Jurusan
j. Tim
No
: Penulisan Diktat Tahun 2012
: Analisa Lokasi dan Keruangan (RP09-1209)
:
: Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg.
: Laki-laki
: 196107261989031004
: Lektor
: Penata Tingkat I / IIId
: Kepala Laboratorium
: Pengembangan Wilayah
: Perencanaan Wilayah
: FTSP / Perencanaan Wilayah dan Kota
Bidang
Nama lengkap
keahlian
Fakultas/Jurusan
Instansi /
Perguruan Tinggi
1.
Ema Umilia, ST, MT
Perenc. Kota
FTSP/PWK
ITS
2.
Belinda U. Aulia, ST, MSc
GIS
FTSP/PWK
ITS
4. Dana dan Waktu
:
a. Jangka waktu program yang diusulkan : 1 tahun
b. Biaya yang disetujui tahun 2012
: Rp. 10.000.000,-
Surabaya, 29 Nopember 2012
Mengetahui,
Ketua Jurusan Perenc. Wilayah dan Kota
Ketua Tim
Putu Gde Ariastita, ST, MT
NIP. 19780402 200501 1 003
Dr. Ir. Eko Budi Santoso, Lic.rer.reg.
NIP. 19610726 198903 1 004
Menyetujui,
Dekan FTSP
Dr. Ir. Hidayat Soegihardjo M, MS.
NIP. 19550325 198003 1 004
1
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan YME sehingga DIKTAT MATA KULIAH ANALISA LOKASI DAN
KERUANGAN (RP-09-1209) dapat terselesaikan dengan baik. Diktat ini diharapkan dapat menjadi
panduan mengajar yang lengkap tidak hanya bagi pengajar namun juga berguna bagi mahasiswa
yang mengikuti mata kuliah Analisa Lokasi dan Keruangan. Sehingga diharapkan terdapat
penyempurnaan atau pemutakhiran bahan mengajar baik melalui literatur maupun masukan dalam
proses diskusi belajar-mengajar.
Di dalam penyusunan diktat ini banyak pihak yang telah memberi kepercayaan dan
membantu di dalam pelaksanaanya, untuk itu kami mengucapkan terima kasih.
Penyusun,
2
KERANGKA MATERI DIKTAT
Tujuan Instruksional Umum:
Memberikan pemahaman tentang pengertian teori lokasi dan kedudukannya dalam perencanaan
wilayah dan kota.
Tujuan Instruksional Khusus:
1. Menjelaskan pengertian Teori Lokasi
2. Menjelaskan aspek Lokasi dan Implikasinya terhadap perencanaan wilayah dan kota
3. Menjelaskan ruang lingkup analisis lokasi dan keruangan
4. Menjelaskan faktor-faktor dasar penentuan lokasi
5. Menjelaskan permasalahan dalam penentuan lokasi
Tabel 1. Pembahasan Diktat Berdasarkan Kompetensinya
BAB
Bab 1
Bab 2
Kompetensi
Menjelaskan pengertian teori
lokasi dan kedudukannya dalam
perencanaan wilayah dan kota
1.
2.
3.
4.
5.
1.
Menjelaskan teori lokasi klasik
yang menjadi dasar perkembangan
pendekatan
analisis
lokasi
mutakhir
Sub bab
Pengantar Teori Lokasi
Pengertian Lokasi dan Implikasinya
Ruang lingkup analisis lokasi dan keruangan
Faktor-faktor dasar lokasi
Masalah Lokasi
Teori Von Thünen: Land Use Theory
2. Teori Weber : ndustrial Location Theory
3. Teori Lösch dan Christaller : Central Place
Theory
4. Teori Hotelling: Spatial Competition and
Competitive Differentiation
5. Teori Alonso
Bab 3
Bab 4
Menjelaskan pendekatan dalam 1. Dasar-dasar dan Analisis lokasi kegiatan
analisis lokasi beberapa komponen
industri
kegiatan kota dan wilayah seperti
perumahan,
pemerintahan, 2. Dasar-dasar dan analisis lokasi kegiatan
perdagangan (retail)
industri, komersial, fasilitas sosial
3. Dasar-dasar dan analisis lokasi fasilitas
dan ekonomi
4. Dasar-dasar dan analisis lokasi Permukiman
Mampu
mengimplementasikan 1. Aplikasi Multicriteria Analysis untuk
teknik analisis yang sesuai untuk
menentukan pemilihan lokasi
mengkaji
aspek
lokasional 2. Perspektif analisis keruangan dan Analisis
3
BAB
Kompetensi
Sub bab
komponen kegiatan wilayah dan
interaksi keruangan
kota
3. Analisis sistem pusat permukiman dan
komposisi keruangan
4. Aplikasi SIG untuk Analisis interaksi
keruangan
4
BAB 1. TEORI LOKASI DAN KEDUDUKANNYA DALAM PERENCANAAN
WILAYAH DAN KOTA
1.1.
Pengantar Teori Lokasi
Pengertian lokasi

lokasi diartikan sebagai tempat, posisi, site, tapak, ruang

lokasi absolut: posisi yg dikaitkan dengan sistem grid konvensional, contoh: Washington D.C.
posisinya 38°50’ LU dan 77°00’ BB

lokasi relatif: posisi yg dikaitan dengan lokasi lainnya, contoh: malang terletak 90 km di sebelah
Selatan Surabaya

lokasi dapat dinyatakan dalam bentuk node (simpul), network (jejaring), area
KONTEKS LOKASI RELATIF

social space: jumlah kontak sosial yg terjadi dalam waktu tertentu (jumlah kontak per minggu)

cost space: biaya yg dikeluarkan untuk interaksi antar simpul (rupiah)

time space: waktu yg dibutuhkan untuk interaksi antar simpul (jam, menit)

absolute space: jarak fisik antar dua simpul (kilometer)
1.2.
Persoalan Lokasional dan Spasial
Distribusi spasial:

karakteristik ruang/lokasi

frekuensi kegiatan (harian, mingguan, bulanan)

pola lokasional (terpusat, tersebar)

keterkaitan antar kegiatan
Struktur spasial dan proses spasial menentukan distribusi spasial

struktur spasial bersifat static phenomena

proses spasial bersifat dynamic phenomena

struktur spasial dan proses spasial merupakan circularly causal (hubungan sebab akibat)
Sifat Distribusi

Discrete distribution terdiri dari kumpulan kejadian yang berbeda
-

rumah, pabrik, pompa bensin ketika dinyatakan secara terpisah dalam suatu area
Continuous distribution bila ada kejadian yang terkait
5
-
temperatur udara dan air bersifat kontinyu dalam suatu area tergantung pada
sirkulasi udara

Contingent distribution bila besaran distribusi dinyatakan dalam bentuk area atau waktu
-
produksi dinyatakan dalam ton, rupiah per hektar, atau jarak tempuh per jam
Pola Distribusi

Pola Statis: pola distribusi yg menggambarkan waktu tertentu dengan mengukur lokasi,
susunan, dan besaran yg dapat diuraikan untuk kurun waktu tertentu
-

distribusi pusat perbelanjaan atau rumah sakit di area metropolitan
Pola Dinamis: pola distribusi menggambarkan perubahan yang terjadi pada periode waktu yg
berbeda
-

persebaran permukiman dapat dilihat untuk waktu yg berbeda dan diperbandingkan
Pola Jejaring: pola didefinisikan oleh garis batas atau penghubung (link) antar simpul dalam
suatu sistem transportasi
-

sirkuler, heksagonal, linier digunakan untuk menggambarkan jaringan transportasi
Pola Normatif: pola yang “seharusnya” dengan pemberian asumsi tertentu
-
mengindikasikan suatu pola yg diuraikan dari prinsip teoritis yg dapat
diperbandingkan dengan pola dunia nyata
Penentuan proses dan struktur dalam distribusi spasial terkait:

Perspektif waktu yang digunakan
-
PERGERAKAN MANUSIA DENGAN KENDARAAN ATAU JALAN KAKI MERUPAKAN hasil
struktur spasial dari obyek seperti jalan, rel kereta, airport, sidewalk

kecepatan proses perubahan
-
pilihan manusia terhadap aktifitas pertanian, industri, komersial menghasilkan
econimic spatial structure

catatan: lebih mudah membuat peta distribusi phenomena fisik yg statis dibanding
pergerakan manusia, motif pergerakan, atau membuat keputusan untuk itu
1.3.
Implikasi Lokasi

Biaya transportasi: aktivitas memilih lokasi yg dapat meminimalkan ongkos angkut

Jangkauan pelayanan: aktivitas memilih lokasi yg dapat memaksimalkan pelayanan

Agglomerasi: keuntuntungan/ keunggulan lokasional yg diperoleh beberapa aktivitas bila
mengelompok pada suatu area tertentu
6

Struktur Kota: tatanan berbagai aktivitas kota yg dicirikan dari pola penggunaan lahannya
Distribusi Spasial Berdasarkan Aktivitas

Aktivitas Primer, adalah aktivitas yang mengandalkan hasil hutan, tambang, perikanan,
pertanian yang nonkomersial.

Aktivitas Sekunder, adalah aktivitas yang melibatkan produksi massal seperti mekanisasi
pertanian, buruh pabrik.

Aktivitas Tertier, adalah aktivitas pemenuhan dan distribusi kegiatan jasa.

Aktivitas Kuarter, adalah aktivitas yang menggunakan pemrosesan informasi untuk
pekerjaan (Information & Communication Technology)
1.4.

Teori Lokasi
Teori Lokasi membahas pertanyaan penting tentang Siapa (Perusahaan, Individu,
Pemerintah) yang memproduksi barang atau jasa tertentu pada Lokasi yang mana, dan
Mengapa memilih lokasi tersebut

Banyak kebijakan pemerintah yang melibatkan upaya untuk mengalihkan/mengarahkan
kegiatan produksi, yang pertama harus diteliti adalah dasar keputusan-keputusan lokasi
awal untuk memahami dampak insentif yang dapat mengubah pola lokasi
Pendekatan Teori Lokasi

Typically researchers in location theory have been concentrating very much on the
resolution (optimization phase) of a given problem (Stefan Nickel, Justo Puerto. 2005).

Proses pemecahan masalah pemilihan lokasi:
-
Definition of the problem
-
Identification of side constraints
-
Choice of the right objective function(s)
-
Data collection
-
Data analysis (data mining)
-
Optimization (actual resolution)
-
Visualization of the results
-
Discussion if the problem is solved or if the phases have to be started again.
7
1.5.
Locational Analysis

Locational analysis was originally the central question of regional economics.

Based on the earlier work of Von Thiinen, Weber, Losch, Christaller and others, locational
analysis has succeeded in developing an impressive series of theoretical contributions and
empirical analyses in order to provide adequate answers to the question where (and why)
specific economic activities are taking place in a given spatial system. (P. NIJKAMP and E. S.
MILLS (1986)
Perkembangan Teori Lokasi

Location Theory has shifted its attention away from “hard” (cost) factors, relating to the
proximity of markets and suppliers, towards relatively “soft” factors as the (perceived)
quality of institutions, knowledge levels and environmental quality.
Tabel 2.Perubahan Kecenderungan Lokasi
Sumber: Mathijs Assink & Nico Groenendijk (2009)
Location Analysis

Location Analysis Tools Help Starbucks Brew Up New Ideas - The phenomenal growth at
Starbucks Coffee Co. has been aided with the help of site selection technology to strengthen
the decision-making process of strategic planning and market development.
8
Faktor-Faktor Penentu Lokasi

Faktor Teknologi: terkait dengan penyediaan infrastruktur (jalan raya, pelabuhan, bandara,
irigasi, etc.)

Faktor Ekonomi dan Geografi: kenyamanan lingkungan, kemampuan membayar (willingness
to pay), akses terhadap pasar, etc.

Faktor Politis: terkait kewenangan Pemerintah dan Pemerintah Daerah, Zoning, Kemudahan
Fiskal, etc.

Faktor Sosial: terkait perilaku masyarakat, sosial-budaya, privasi, etc.
Referensi:
1. Mathijs Assink & Nico Groenendijk (2009) SPATIAL QUALITY, LOCATION THEORY AND
SPATIAL PLANNING, Paper presented at Regional Studies Association Annual Conference
2009, Understanding and Shaping Regions: Spatial, Social and Economic Futures, Leuven,
Belgium, April 6-8, 2009
2. Peter Nijkamp, ed.(1986) HANDBOOK OF REGIONAL AND URBAN ECONOMICS: VOL. 1
REGIONAL ECONOMICS, North-Holland
3. Stefan Nickel, Justo Puerto. (2005). LOCATION THEORY: AN UNIFIED APPROACH. Springer
Verlag. Berlin.
4. Chan, Yupo. 2011. Location Theory and Decision Analysis: Analytics of Spatial Information
Technology. Springer. New York.
9
BAB 2. TEORI LOKASI KLASIK YANG MENJADI DASAR PERKEMBANGAN
PENDEKATAN ANALISIS LOKASI MUTAKHIR
2.1.
Teori Von Thünen: Land Use Theory
Teori Von Thunen merupakan teori dasar atau teori klasik dalam teori lokasi. Teori ini
mengawali perkembangan teori lokasi berikutnya. Analogi yang digunakan masih sangat
sederhana yaitu terkait analisis lokasi wilayah perdesaan dengan sistem lokasi yang
sederhana.
2.1.1. Aspek Lokasi/Spasial
Hukum Geografi “ Tobler”
“setiap hal memiliki keterkaitan dengan hal lainnya, namun yang lebih berdekatan memiliki
keterkaitan lebih dari yang lainnya”, (Tobler dalam Rustiadi, 2009).

Aspek lokasi/spasial
landasan lokasi dan ruang/spasial (Tarigan , 2005)
 ruang adalah permukaan bumi, baik yang ada di atasnya maupun yang ada di bawahnya
sepanjang manusia bisa menjangkaunya.
 lokasi menggambarkan posisi pada pada ruang. Dalam konteks wilayah, lokasi
menggambarkan keterkaitan antar kegiatan di suatu lokasi dan berbagai kegiatan
lainnya di lokasi lain ( faktor kedekatan lokasi/spasial).

Teori lokasi
ilmu yang menyelidiki tata ruang (spatial order) kegiatan ekonomi, atau ilmu yang menyelidiki
alokasi geografis dari sumber-sumber yang potensial, serta hubungannya dengan atau
pengaruhnya terhadap keberadaan berbagai macam usaha/kegiatan lain baik ekonomi maupun
sosial. (Tarigan, 2005)
2.1.2. Perkembangan Teori Lokasi

Analisis Lokasi
Analisis lokasional merupakan pertanyaan initi dari ilmu ekonomi wilayah. Analisis-analisis
lokasional pada dasarnya berupaya mencari jawaban-jawaban tentang “ dimana” dan “
mengapa” aktivitas ekonomi memilih lokasi (Rustiadi, 2009).
10

Teori-teori lokasi klasik
Pada awalnya (hingga 1950-an), teori lokasi hanya didominasi oleh pendekatanpendekatan geografis-lokasional atau disebut sebagai karya-karya teori lokasi klasik (Von
Thunen, Weber, Palander, Hotteling, Predhol, Losch, dan lainnya)

Teori-teori lokasi neoklasik
Setelah tahun 1950-an, teori lokasi berkembang dengan analogi-analogi ilmu
ekonomi umum, dan diperkaya oleh analisis-analisis kuantitatif standar ilmu ekonomi,
khususnya ekonometrika, dynamic model dan model-model optimasi seiring berkembangnya
cabang ilmu regional science.

Perkembangan mutakhir teori lokasi
Sejak akhir 1980-an mulai tumbuh pendekatan-pendekatan metodologis kuantitatif
yang mempertimbangkan aspek spasial, terkait dengan perkembangan metode-metode
statistika spasial, ekonometrika spasial dan SIG.
2.1.3. Model Von Thunen
Teori Lokasi Von Thunen ditulis oleh Johan Heinrich Von Thunen tahun 1826. Teori
lokasi Von Thunen diawali oleh analisis lokasi areal produksi pertanian. Karyanya berjudul
‘Der Isolierte Staat (The Isolated State atau Negara yang Terisolasi). Von Thunen
menggambarkan negeri yang terisolasi dengan iklim dan tanah yang seragam, topografi yang
seragam dan datar, serta alat-alat transportasi yang seragam yang hanya dilayani oleh
kereta yang ditarik oleh hewan atau ternak.

Asumsi yang digunakan:
 Areal pertanian satu ragam (uniform) dalam atribut lingkungannya
 Hanya ada satu pasar akibat lokasi yang terisolasi
 Transportasi sejenis dan biaya transportasi meningkat bersamaan dengan jarak
terhadap pasar.
 Semua petani bertindak rasional/ ekonomis, yang penggunaan lahannya untuk
memaksimumkan profit, mereka mempunyai info yang cukup mengenai biaya
produksi dan harga pasar.
 Pola ruang dengan bentuk wilayah yang melingkar seputar kota  zona-zona
konsentrik.
 Area Isolated State : model ideal dengan karakteristik wilayah yang terisolasi (bagan
bagian atas)
11
 Modified Condition: keberadaan sungai dan sub centre/pasar lainnya (bagan bagian
bawah)
 Klasifikasi zona: zona 1-6
Tabel 3. Pola Land Use Von Thunen
Pola Land Use Model Von Thunen
Keterangan
 Klasifikasi zona:
1. Zona 1: paling mendekati kota/pasar,
diusahakan tanaman yang mudah rusak
(highly perishable), seperti sayuran dan
kentang (free cash cropping)
2. Zona 2: merupakan hutan dengan hasil
kayu (foresting)
3. Zona 3: menghasilkan biji-bijian seperti
gandum, dengan hasil yang relatif tahan
lama dan ongkos transportasi murah
4. Zona 4: merupakan lahan garapan dan
rerumputan yang ditekankan pada hasil
perahan seperti susu, mentega dan keju.
5. Zona 5: untuk pertanian yang berubahubah, dua sampai tiga jenis tanaman
6. Zona 6: berupa lahan yang paling jauh dari
pusat, digunakan untuk rerumputan dan
peternakan domba dan sapi.

Konsep dasar model Von Thunen adalah; membuat kurva hubungan sewa lahan dengan
jarak ke pasar.(Nugroho, 2004)

Sewa lahan / Land Rent adalah nilai atau harga yang dihubungkan dengan aset-aset yang
memberikan aliran produksi san jasa sepanjang lahan dipergunakan (Mills dalam Nugroho,
2004).

Sehingga, sewa lahan merupakan residu (privat profit) dari perolehan-perolehan ekonomi
penggunaan lahan sesudah dikurangi biaya konstruksi dan operasi.
12
Model Von Thuenen
FORMULA SEWA LAHAN :
R = E ( p – a ) – E. f. k
DIMANA:


R = Sewa Lahan

E = Produksi per unit area

p = Harga per unit komoditi

a = Biaya produksi per unit komoditi

f = Ongkos angkut per unit jarak per unit komoditi

k = Jarak terhadap pasar
Konsep dasar model Von Thunen adalah; membuat kurva hubungan sewa lahan dengan
jarak ke pasar.(Nugroho, 2004)
Gambar 1. Model Von Thunen dengan Satu Komoditas

Bila ada lebih dari satu komoditas, maka akan didapati sewa lahan yang paling optimum
untuk setiap komoditas.
Gambar 2. Model Von Thunen dengan Zero Rent Margin
13
Gambar 3. Aplikasi Zone Konsentrik Von Thunen
Studi Kasus
Petani menanam jeruk dengan hasil panen 2 ton/ha, sedangkan harga jeruk di pasar Rp. 5 juta/ton
dan biaya produksi Rp. 1.5 juta/ton. Untuk mengangkut jeruk ke pasar diperlukan biaya Rp. 100
ribu/ton/km.
Berapa jauhkah jarak maksimum dari pasar yang memungkinkan petani untuk menanam
jeruk?
Jawaban:....?
R = E ( p – a ) – Efk
R = 2 ( 5 – 1.5) – (2)(0.1)k
asumsi R = 0 artinya sewa lahan Nol/tidak ada privat profit/tidak memungkinkan lagi untuk
menaman jeruk.
0 = 10 – 3 – 0.2k
0.2k = 7 ------- k = 35 km sebagai jarak maksimum
14
Latihan
Komoditas
A
B
C
D
Harga Pasar
(Rp/Kg)
600
100
500
600
Hasil
(ton/Ha)
1
3
2,5
1
Biaya Produksi
(Rp/Kg)
400
25
350
550
Biaya Transport
(Rp/Km/Kg)
1,5
2,5
3
2
1. Komoditas apa yang ditanam pada areal yang dekat dengan pasar?
2. Komoditas apa yang paling jauh dari pasar?
3. Gambarkan dalam diagram von thunen kelima komoditas diatas!
2.1.4. Aplikasi Model Von Thunen
Penerapan Model Von Thunen dapat diaplikasikan pada identifikasi pola land use dan
menjelaskan fenomena Urban Sprawl. Hal ini dapat dikaitkan dengan model Von Thunen Land Rent
yang menjelaskan Urban bid-rent Curve (distance decay function), hal ini digunakan sebagai basis
analisis bagi penggunaan lahan dan merupakan komponen dasar dalam model penggunaan lahan
masa kini. Berikut ini adalah aplikasi model Von Thunen.
15
(buku: Community Economic,Theory & Application)
Gambar 4. Pola Land Use pada Model Von Thunen

Von Thunen Land Rent
 Urban bid-rent Curve (distance decay function)

Aplikasinya pada land use
Digunakan untuk melihat sejauh mana alokasi geografis suatu kegiatan di suatu wilayah.
(buku: Community Economic,Theory & Application)
Gambar 5. Urban bid-rent Curve
16
Fenomena Urban Sprawl:

Proses perembetan kenampakan fisik kekotaan ke arah luar (Yunus: 125, 2000)

The areal expansion of urban concentrations beyond what they have been. Urban sprawl
involves the conversion of land peripheral to urban center that has previously been used for
non urban uses to one or more urban uses (Notham, 1975)

The continuos expansion around large cities, where by there is always a zone of land that is
in the process of being converted from rural to urban use (Harvey dan Clark, 1971)

The growth of metropolitan area through the process of development of miscellaneous types
of land use in the urban fringe area (Domouchel, 1976)

Faktor Urban Sprawl : Gerak Sentrifugal (Daldjoeni, 1987)

Gerak sentrifugal  gerak keluar dari penduduk dan berbagai usahanya  dispersi kegiatan
manusia dan relokasi zona-zona kota

Hal yang mendorong gerak sentrifugal (Daldjoeni, 1987):

Gangguan yang berulang, seperti kemacetan dan polusi

Industri modern memerlukan lahan relatif kosong di pinggiran kota 
memungkinkan pemukiman tidak padat dan bebas kemacetan

Sewa tanah yang jauh lebih murah dibandingkan dengan di tengah kota

Terbatasnya perluasan ruang  keterbatasan lahan di tengah kota

Perumahan di dalam kota umumnya sempit, kuno, tidak sehat  perumahan di
pinggir kota dapat lebih sehat, luas, model mutakhir

Sebagian penduduk secara naluri berkeinginan menghuni wilayah di luar kota yang
terasa lebih alami
Model Von Thunen dalam menjelaskan fenomena Urban Sprawl

Penjelasan urban sprawl melalui model Von Thunen:

Prinsip penggunaan lahan: highest and best

Penggunaan lahan untuk pertanian dan kehutanan memiliki nilai yang lebih rendah
dibandingkan dengan penggunaan untuk perumahan, industri, komersial  harga
komoditi dianggap stabil  kurva bid-rent relatif flat dibandingkan dengan
penggunaan lahan lainnya


Asumsi terjadi pertumbuhan ekonomi di wilayah perkotaan
Latar Belakang Pertumbuhan urban sprawl
Ekonomi meningkat  stimulasi pasar tenaga kerja  pengangguran lebih rendah dan
pendapatan
 pekerjaan lebih baik makin banyak  perumahan baru  permintaan
17
lahan untuk perumahan, industri, komersial meningkat alokasi geografis akan permintaan
lahan juga meningkat.

Dampak Pertumbuhan
Permintaan meningkat akan lahan  suplai lahan dengan pengubahan guna lahan 
terjadi konversi lahan  peningkatan harga lahan  pergeseran bid-rent curve  pergeseran edge
of city  “URBAN SPRAWL”
Model
Von
Thunen
dalam
menjelaskan
fenomena
Urban
Sprawl
(buku: Community Economic,Theory & Application)
Gambar 6. Fenomena Urban Sprawl
Aplikasi Model Von Thunen

Model Von Thunen merupakan dasar teori dalam pengembangan teori lokasi selanjutnya.

Model Von thunen dalam perkembangan mengalami penyempurnaan dari para ahli lainnya,
untuk dapat lebih menjelaskan gambaran kompleks analisa lokasi saat ini, akibat
perkembangan teknologi transportasi, teknologi produksi. Sehingga hambatan jarak menjadi
relatif.
18
Referensi:
1. Perencanaan dan pengembangan Wilayah (2009), Ernan Rustiadi, Sunsun saefulhakim, Dyah
R. Panuju. Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
2. Perencanaan Pembangunan Wilayah (2005). Robinson Tarigan. Bumi Aksara. Jakarta
3. Pembangunan Wilayah; Perspektif Ekonomi, Sosial dan Lingkungan (2004). Iwan Nugroho
dan Rochmin Dahuri. LP3ES. Jakarta.
4. Community Economic: Theory & Application, second edition.(2004). pengarang: Ron Shaffer,
Steve Deller, Dave Marcouiller. Penerbit: Blackwell Publishing.
2.2.
Teori Weber : Industrial Location Theory
In 1909 the German location economist Alfred Weber formulated a theory of industrial
location in his book entitled Über den Standort der Industrien (Theory of the Location of
Industries, 1929). Weber's theory, called the location triangle, sought the optimum location for
the production of a good based on the fixed locations of the market and two raw material
sources, which geographically form a triangle. He sought to determine the least-cost production
location within the triangle by figuring the total costs of transporting raw material from both
sites to the production site and product from the production site to the market. The weight of
the raw materials and the final commodity are important determinants of the transport costs
and the location of production. Commodities that lose mass during production can be
transported less expensively from the production site to the market than from the raw material
site to the production site. The production site, therefore, will be located near the raw material
sources. Where there is no great loss of mass during production, total transportation costs will
be lower when located near the market.
Gambar 7. Weber’s Triangle
19
Perhitungan indeks bahan baku (IB)
IB = Bobot bahan baku local / Bobot produk akhir
Keterangan:
- IB > 1, perusahaan akan berlokasi dekat ke bahan baku,
- IB < 1, perusahaan akan berlokasi dekat ke pasar
Konsep ini dijelaskan dengan menggunakan segitiga lokasional, di mana lokasi optimum (p)
adalah keseimbangan antara kekuatan yang ditimbulkan oleh sumber bahan baku (input 1 dan input
2) dan titik pasar (market). Untuk mengetahui apakah lokasi optimum lebih dekat ke sumber input
atau pasar, digunakan index bahan, yaitu perbandingan berat input bahan lokal dengan berat
produk akhir.
Asumsi teori Weber:
1. Unit studi terisolasi, homogen, konsumen terpusat di titik tertentu, semua unit perusahaan
dapat memasuki pasar yang tidak terbatas (persaingan sempurna).
2. Sumber daya alam: air, pasir, lempung, tersedia di mana-mana (ubiquitous)
3. Bahan lainnya seperti mineral dan biji besi tersedia terbatas pada sejumlah tempat (sporadis)
4. Tenaga kerja tidak tersedia secara luas, mengelompok pada beberapa lokasi dan mobilitasnya
terbatas.
Isotim dan Isodapane

Isotim is line of equal transit costs from a alocation.
Market isotim+input isotims + total cost

Isodapanes is lines of equal total cost between all points within a production system (equal
sum of isotims)
Gambar 8. Isotim
20
Gambar 9. Isodapane
FAKTOR LOKASI MENURUT ALFRED WEBER (1909)
 Berdasarkan kelaziman yg terjadi
 Berlaku umum dan praktis untuk setiap kegiatan industri (biaya transport, biaya tenaga
kerja, biaya lahan, etc.)
 Berlaku khusus dan hanya terjadi pada kegiatan tertentu pada bobot (bahan mentah dan
produk mudah busuk, kelembaban udara, aliran air)
 Berdasarkan pengaruh ruang
 Faktor regional dimana industri tertarik pada aspek geografis tertentu, jaringan utama
orientasi industri (ketersediaan lahan, simpul transportasi, tempat bongkar-muat,
pelabuhan). Faktor regional yang murni ekonomi adalah harga bahan baku, biaya tenaga
kerja, biaya transport
 Faktor aglomerasi/deglomerasi dimana dalam jaringan utamanya tidak tergantung pada
orientasi geografis, antar industri saling terkait atau saling berjauhan (menekan harga
melalui produksi massal, penggunaan mesin yg lebih baik (internal faktor), ketersediaan
bantuan (eksternal faktor)
 Berdasarkan sifat dan keadaan
 Faktor alamiah dan teknis: posisi dan iklim, tingkat upah (umr), kualitas tenaga kerja
 Faktor sosial budaya: tingkat suku bunga, tingkat pendidikan, tingkat kinerja
Referensi:
Alfred
Weber
and
Subsequent
Developments
(http://faculty.washington.edu/krumme/450/weber.html)
21
in
Industrial
Location
Theory
2.3.
Teori Lösch dan Christaller : Central Place Theory
Teori Christaller (1933)
Model Christaller menjelaskan model area perdagangan heksagonal dengan menggunakan
jangkauan atau luas pasar dari setiap komoditi yang dinamakan range dan threshold.
Teori Central Place diperkenalkan pertama kali pada tahin 1933 oleh seorang Geographer Walter
Christaller yang menjelaskan distribusi spasial kota dalam suatu ruang. Pada suatu pusat kotadi Selatan
Jerman, Crhristaller berpendapat bahwa tujuan utama sebuah pusat permukiman atau pasar adalah
menyediakan barang dan jasa untuk populasi di lingkungan sekitarnya. Teori Central place menggunakan
konsep dasar threshold dan range. Lokasi atas suatu tempat ditentukan oleh threshold-nya, atau kebutuhan
area pasar minimum atas suatu barang maupun jasa untuk dapat ditawarkan secara ekonomis, contohnya
membawa sebuah perusahaan dapat mengadakan barang dan jasa dan menjaganya menjadi sebuah bisnis.
Christaller menyarankan bahwa setiap lokasi mengembangkan pasarnya sampai rangenya atau ukuran
maksimum/jarak maksimum dimana konsumen mampu melakukan perjalanan untuk menjangkau suatu
komoditi atau jasa. Dalam kondisi ideal pusat pasar dengan ukuran dan fungsi yang sama akan memiliki jarak
yang sama satu sama lain.
Gambar 10. Ilustrasi Range dan Threshold
Teori Christaller mengasumsikan kondisi ideal dimana sebuah dataran homogen yang sama dengan
kepadatan populasi dan daya beli yang sama. Dalam hal ini, teori central place mirip dengan teor lokasi Weber
dan Von Thunen, dimana lokasi diasumsikan euclidean, dataran isotropic dengan kemampuan daya beli
konsumen yang sama besar ke segala arah. Christaller menyarankan bahwa barang dan jasa dapat
dikategorikan menjadi rangkaian tingkatan dari kekhususan rendah atau orde dasar (seperti produk pangan)
sampai orde tinggi atau memiliki kekhususan tinggi (seperti sebuah tingkatan layanan kesehatan atau
tingkatan alat-alat rumah tangga maupun kendaraan). Misal: dilakukan kategorisasi atau pengelompokan
produk.

Kelompok 1: diperlukan sehari-hari: produk pangan.

Kelompok 2: diperlukan setiap 3 bulan sekali: sandang, peralatan rumah tangga, dll.

Kelompok 3: diperlukan setahun sekali: furniture.

Kelompok 4: barang mewah, kendaraan.
Semakin tinggi kelompok barang, range dan threshold nya semakin luas. Dalam konsep ruang, makin
luas wilayah pemasaran suatu barang, ordenya semakin tinggi. Pada contoh diatas, barang kelompok 4
22
termasuk pada orde I, barang kelompok 3 sebagai orde II, dst. Masing-masing item atau jasa memiliki optimal
market areanya masing-masing dan dapat digambarkan sebagai sebuah radius lingkaran. Untuk memastikan
bahwa seluruh bagian dataran terlayani, maka seluruh lingkaran market area harus tumpang tindih. Hasil
polanya dapat digambarkan menggunakan bentuk geometrik lingkaran, segi enam, dan segitiga.
Gambar 2.3.2
Gambar 11. Bentuk Heksagon dapat Mengisi Ruang secara Efisien
Asumsi
Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait teori Christaller adalah terori tersebut berdasar pada
sebuah asumsi dimana model tersebut tidak dapat diterapkan pada situasi yang realistis. Asumsi yang
digunakan adalah:
1.
Permukaan bumi datar, tak terbatas, dan memiliki sumber daya yang homogen dimana tersebar
secara merata atau dengan kata lain tidak terdapat perbedaan kondisi geografis;
2.
Tidak terdapat batasan administrasi dan politis yang dapat menyimpangkan perkembangan
permukiman
3.
Tidak terdapat eksternal ekonomi yang mengganggu pasar
4.
Populasi tersebar secara merata diseluruh area dan tidak terdapat pusat permukiman
5.
Banyak pedagang kecil menawarkan produk yang sama dan tidak ada keragaman produk
6.
Semua pembeli memilik daya beli yang sama
7.
Biaya transportasi sama ke semua arah dan ragamnya sebanding dengan jarak
8.
Pembeli membayar biaya transportasi produk atau layanan
9.
Tidak ada akomodasi untuk inovasi atau kewirausahaan.
Proses Model Christaller
Mula-mula terbentuk area perdagangan satu komoditi berbentuk lingkaran dengan range dan
threshold tertentu. Setiap lingkaran memiliki pusat dan menggambarkan threshold dari komoditi tersebut,
lingkaran ini tidak tumpang tindih. Kemudian digambarkan lingkaran berupa range dari komoditi tersebut yang
tumpang tindih. Range yang tumpang tindih dibagi antara dua pusat yang berdekatan sehingga terbentuk areal
heksagonal yang menutupi seluruh wilayah yang tidak tumpang tindih. Tiap komoditi berdasarkan tingkatan
rodenya memiliki heksagonal sendiri-sendiri. Dengan menggunakan k = 3, barang orde I lebar heksagonalnya 3
kali heksagonal barang orde II, dst. Tiap heksagonal memiliki pusat yang besar-kecilnya sesuai dengan
besarnya heksagonal tersebut. Heksagonal yang sama besarnya tidak saling tumpang tindih, tetapi antara
23
heksagonal yang tidak sama besarnya akan terjadi tumpang tindih. Terdapat komoditi yang range nya luas,
sedang, atau kecil. Hirarki yang sama memiliki daerah pemasaran yang tidak tumpang tindih, tetapi hirarki
yang berbeda memiliki daerah pemasaran yang tumpang tindih. Berbagai jenis barang pada orde yang sama
cenderung bergabung pada pusat dari wilayahnya sehingga pusat itu menjadi lokasi konsentrasi (kota)/central
place. Pusat dari hirarki yang lebih rendah berada pada sudut dari hirarki yang lebih tinggi sehingga pusat yang
lebih rendah berada pada pengaruh tiga hirarki yang lebih tinggi. Pusat dari beberapa wilayah yang lebih
rendah berada di dalam heksagonal dari pusat yang lebih tinggi.
Walaupun heksagonal hanya menggambarkan wilayah pemasaran dari barang dengan orde yang
berbeda, tetapi christaller mengaitkan teorinya dengan susunan orde perkotaan. Ada kota yang menjual
barang orde IV, III, dst. Kota yang menjual barang orde tertinggi sampai terendah dinyatakan sebagai kota orde
I. Makin rendah orde barang yang bisa disediakan oleh suatu kota, orde kotanya juga makin rendah.
Gambar 12. Konsep Heksagon Christraller yang Mendasari Teori Orde kota
Kondisi ini menimbulkan beberapa kota memiliki orde yang lebih tinggi daripada desa yang memiliki orde yang
lebih rendah. Akhirnya, muncullah konsep hirarki kota. Untuk setiap urutan tertentu, secara teoritis
pemukiman akan memiliki jarak dari satu sama lain. Pemukiman urutan yang lebih tinggi akan lebih jauh
terpisah dari urutan yang lebih rendah.
Aplikasi di Indonesia
Penerapan model Christaller di Indonesia, salah satu contohnya dapat dilihat dari hierarki layanan fasilitas
kesehatan. Di tingkat kecamatan, PUSKESMAS melayani kebutuhan kesehatan masyarakat pada level penyakit
ringan. Di tingkat kabupaten, terdapat RSUP yang melayani kebutuhan kesehatan masyarakat dengan ragam
layanan yang lebih bervariasi sehingga penyakit berat dapat ditangani dan jangkauan layanan yang lebih jauh.
Sedangkan di tingkat propinsi, RSUP mampu memberikan layanan kesehatan lengkap untuk segala macam
penyakit dan jangkauan layanan paling luas.
24
Evaluasi
Apabila dibandingkan dengan kondisi yang sebenarnya terdapat beberapa hal yang perlu dicermati terkait
asumsi yang digunakan oleh Christaller yaitu:
1.
Biaya produksi bervariasi, tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi saja tetapi juga oleh faktor
ketersediaan SDA
2.
Biaya transportasi tidaklah sama ke segala arah
3.
Pasar lingkup rumah tangga tidak tersebar secara merata
4.
Praktek-praktek kompetisi dapat mengakibatkan terjadinya persaingan pasar tidak sempurna
Teori Lösch (1940)
Ahli ekonomi dari Jerman, August Losch, memodifikasi dan melengkapi teori central place Christaller. Dalam
bukunya, The Spatial Organization of the Economy (1940), Losch memulainya dengan skala aktivitas ekonomi
terkecil yaitu pertanian, dimana secara reguler lahan pertanian terdistribusi di seluruh dataran dengan pola
kisi-kisi segitiga.
Losch mengusulkan sebuah model konsumen berdasarkan stuktur administratif dan industri yang
berseberangan dengan pusat layanan Christaller. Didasarkan pada asumsi yang tidak realistik, teori pusat
layanan merupakan sebuah titik awal yang membantu untuk membangun sebuah pemikiran mengenai
perbedaan perkembangan komunitas dan meskipun demikian juga berguna dalam pertimbangan untuk lokasi
perdagangan dan layanan serta ketentuan untuk lokasi barang dan jasa khusus. Konsep dari sebuah penataan
suatu hirarki juga mempertimbangkan dampak jaringan sosial terhadapa aktivitas ekonomi dan pergerakan
orang yang termodifikasi berdasarkan tingkatan hirarki atas layanan yang tersedia. Teori pusat layanan
memberikan sebuah pondasi untuk sebuah bangunan besar penelitian empiris atas kerangka pembangunan
kota dan hal ini berguna untuk pembangunan ekonomi kota dan wilayah yang memiliki isu mengenai lokasi
dan kelangsungan hidup aktivitas ekonomi.
Gambar 13. Keberagaman Fungsi di Metropolis yang Masing-masing memiliki Market Area
Menurut Losch, suatu metrópolis memiliki fungsi yang berragam dan fungsi tersebut memiliki area pasar yang
dibatasi oleh range dan thresholdnya masing-masing. Jadi tidak perlu ditentukan sebuah hirarki pasar karena
akan muncul dengan sendirinya.
25
Gambar 14. Jaringan Kota yang Dibentuk oleh Ragam Fungsi (Aktivitas) yang berbeda
Gambar di atas menunjukkan, bahwa masing-masing fungsi membentuk pangsa pasarnya masingmasing, yang saling bertumpang tindih dengan pangsa pasar yang lainnya yang akhirnya membentuk
suatu jaringan. Losch berseberangan dengan Christaller dimana ditegaskan bahwa tidak semua orde
tinggi dibentuk oleh konstruksi orde yang lebih rendah.
Referensi
Caves, Roger W. (2005) Encyclopedia of The City, London and New York: Taylor and Francis Group.
Christaller, W. (1966 [1933]) Central Places in Southern Germany (Die zentralen Orte in Süddeutschland), trans. C.W.
Baskin, Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall.
Lösch, A. (1954 [1940]) Economics of Location, trans. William Woglom from 2nd rev. edn, New Haven: Yale University
Press.
2.4.
Teori Hotelling: Spatial Competition and Competitive Differentiation
Muncul sebagai kelemahan teori lokasi yang mengasumsikan bahwa karakter demand dalam suatu
ruang (space) adalah seragam
Pengembangan dari konsep “least-cost location” dengan mempertimbangkan “ketergantungan
lokasi”
Produsen dalam memilih lokasi industri berprilaku untuk menguasai market area seluas-luasnya
yang dipengaruhi oleh perilaku konsumen dan keputusan berlokasi produsen lainnya
Kontributor pemikiran: Fetter (1942), Hotteling (1929).
Locational Interdependence, Pada kondisi inelastic demand

Industri A pertama kali memasuki market, kemudian industri B berkompetisi dengan A

Jika keduanya berlokasi di tengah, maka market area terbagi sama dari kedua industri

Jika B berpindah ke kanan, harga di kanan lebih rendah dibandingkan dengan harga di
tengah
26

Jika, demand-nya inelastic (membeli produk pada harga berapa pun) maka B tidak mendapat
keuntungan dari perubahan lokasi ini
Gambar 15. Locational Interdependence pada Inelastic Demand
Locational Interdependence, Pada kondisi elastic demand

Dua industri A dan B berkolusi memonopoli pasar dan berlokasi pada posisi kuartil

Keduanya membagi market area sama luasnya Perbandingan dengan lokasi di tengah, biaya
angkut di lokasi kuartil lebih besar dibadingkan dengan lokasi yang di tengah

Keuntungan berlokasi di kuartil melebihi berbagai kemungkinan alternatif lainnya

Pemikiran Hotteling dikritik oleh Devletoglou (1965) bahwa market area yang dipisahkan
oleh garis indiferen adalah tidak realistis
Gambar 16 Locational Interdependence pada Elastic Demand
Referensi:

Robinson Tarigan, Perencanaan Pembangunan Wilayah, edisi revisi, 2005.

Industrial Location; an Economic Geographical Analysis. David M. Smith, 1971.
27
2.5.
Teori Alonso Faktor-faktor Dasar Lokasi
William Alonso extended the Von Thünen model in his book Location and Land Use (1964) and put it
in an urban context. The central market town in the Von Thünen model is interpreted by Alonso as a
city with a Central Business District (CBD) in the city centre. Households must commute there in
order to work in the CBD. Again transportation costs are considered the main explanatory factor in
the location decision of households and enterprises. This so-called bid-rent function approach now
forms the basis of all contemporary theories on land use and land values.
The bid rent theory is a geographical economic theory that refers to how the price and demand for
real estate changes as the distance from the Central Business District (CBD) increases. It states that
different land users will compete with one another for land close to the city center. This is based
upon the idea that retail establishments wish to maximize their profitability, so they are much more
willing to pay more money for land close to the CBD and less for land further away from this area.
This theory is based upon the reasoning that the more accessible an area (i.e., the greater the
concentration of customers), the more profitable.
Bid-rent functions are typically formulated as follows:
A household is supposed to spend its income on three things:1) land, 2) transportation costs and 3)
all other goods. The household requires a location in a simplified city, which is monocentric, uniform,
and in which markets are competitive. Employment, goods, and services are only available in the city
centre. For an individual household the prices of land are given. Land prices are supposed to
decrease with increasing distance from the city centre, which is “essentially true for most cities” and
a requirement for the market equilibrium.
28
Gambar 17. Bid Rent Curve
Land users all compete for the most accessible land within the CBD. The amount they are willing to
pay is called "bid rent". The result is a pattern of concentric rings of land use, creating the Concentric
zone model.
It could be assumed that, according to this theory, the poorest houses and buildings will be on the
very outskirts of the city, as that is the only place that they can afford to occupy. However, in
modern times this is rarely the case, as many people prefer to trade off the accessibility of being
close to the CBD, and move to the edges of the settlement, where it is possible to buy more land for
the same amount of money (as Bid Rent states). Likewise, lower income housing trades off greater
living space for greater accessibility to employment. For this reason low income housing in many
North American cities, for example, is often found in the inner city, and high income housing is at the
edges of the settlement.
Though later used in the context of urban analysis, though not yet using this term, the bid rent
theory was first developed in an agricultural context. One of the first theoreticians of bid rent effects
was probably David Ricardo, according to whom the rent on the most productive land is based on its
advantage over the least productive, the competition among farmers ensuring that the full
advantages go to the landlords in the form of rent. Later, this theory was developed by J. H. von
Thünen who combined it with the notion of transport costs. His model implies that rent at any
location is equal to the value of its product minus production costs and transport costs. Admitting
that transportation costs are constant for all activities, this will lead to a situation where activities
with the highest production costs are located near to the market place. Those with low production
costs will be farther away.
29
The concentric land-use structure thus generated closely resembles the urban model described
above: CBD - high residential - low residential. This model, introduced by William Alonso, was
inspired by von Thünen's model.
Land users, whether they be retail; office; or residential, all compete for the most accessible land
within the CBD. The amount they are willing to pay is called bid rent. This can generally be shown in
a ‘bid rent curve’. Based upon the reasoning that the more accessible the land, generally in the
centre, is the more expensive land.
Commerce (in particular large department stores/chain stores) is willing to pay the greatest rent to
be located in the inner core. The inner core is very valuable for them because it is traditionally the
most accessible location for a large population. This large population is essential for department
stores, which require a considerable turnover. As a result, they are willing and able to pay a very
high land rent value. They maximise the potential of their site by building many stories.
As one goes farther from the inner core, the amount commerce is willing to pay declines rapidly.
Industry, however, is willing to pay to be in the outer core. There is more land available for their
factories, but they still have many of the benefits of the inner core, such as a market place and good
communications.
As one goes farther out, the land becomes less attractive to industry because of the reducing
communication links and a decreasing market place. Because householders do not rely heavily on
these and can now afford the reduced costs (when compared with the inner and outer core),they
can purchase land. The further from the inner core and, the cheaper the land. This is why inner city
areas are very densely populated (terraces, flats and high rises), whilst the suburbs and rural areas
are sparsely populated (semi and detached houses with gardens).
Referensi
 Dedi NS Setiono [2011], Ekonomi Pengembangan Wilayah: Teori dan Analisis, Lembaga Penerbit
FE-UI, Jakarta
 Rustiadi, Ernan, et.al. [2009], Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Crestpent Press dan
Yayasan Obor Indonesia, Jakarta
 Sjafrizal [2008], Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi, Baduose Media, Padang
 Tarigan, Robinson [2006], Ekonomi Regional: Teori dan Aplikasi, Edisi Revisi, Bumi Aksara, Jakarta
 Krumme, (http://faculty.washington.edu/krumme/450/weber.html)
 William Alonso [1964], Location and Land Use, Harvard University Press, Cambridge, MA.
 William Alonso [1960], a theory of the urban land market, Papers in Regional Science, Volume 6,
Issue 1, pp 149 – 157.
30
BAB 3. PENDEKATAN DALAM ANALISIS LOKASI
3.1.
Dasar-dasar dan Analisis lokasi kegiatan industri
FAKTOR LOKASI UNTUK KEGIATAN INDUSTRI
 FAKTOR LOKASI DARI SISI MAKRO
 Transportasi
 Jarak terhadap pemasok, konsumen
 Ketersediaan komunikasi (pos, bank, telkom, etc)
 Posisi terhadap jaringan jalan (arteri, kolektor, tol)
 Posisi terhadap jaringan kereta api & terminal container
 Posisi terhadap kanal, angkutan sungai & penyeberangan
 Posisi terhadap bandara, pelabuhan
 Tenaga kerja
 Ketersediaan tenaga kerja
 Kemampuan/keterampilan (profesional, tukang, buruh)
 Upah tenaga kerja
 Tempat pelatihan tenaga kerja (blk)
 Kondisi sosial budaya masyarakat setempat
 Iklim (temperatur, kelembaban, curah hujan, etc.)
 Pajak, retribusi, pungutan, insentif
 FAKTOR LOKASI DARI SISI MIKRO
 Lahan
 Layanan transportasi
 Penyediaan energi
 Kelistrikan (tegangan, kinerja, gardu induk, biaya samb.)
 Gas (jenis pelayanan, jaring distribusi, harga, biaya samb.)
 Batubara
 Penyediaan air bersih
 Layanan jaringan pdam (sambungan, kinerja, sumber air, harga jual)
 Penggunaan air tanah (kualitas, kuantitas)
 Pengolahan limbah cair
 Pengelolaan limbah padat
 Kegiatan usaha yg berdekatan
31
PERTIMBANGAN DALAM PEMILIHAN LOKASI INDUSTRI
 Location of resources & markets
 Changing demand for products
 Transportation costs for assembly & distribution
 Variations in manufacturing costs; principally in labor cost, but also in land cost, costs of heating
& cooling the plant, disposal of waste, and corporate & inventory taxes
 Scale of operations
 Techniques of production – labor-intensive or capital intensive
 Availability of capital
 Governmental policy that serves to encourage industry to locate in special areas by guaranteeing
markets, providing land and/ or trained employees & tax reductions
 Agglomeration economies achieved through availability of specialized services & inter-industry
linkages between suppliers & customers within specialized manufacturing regions
 Amenity factors, such as superior schools, or location adjacent to college or university, which
offers pool of prospective employees. Mild climate, cultural amenities, and suburban locations
are especially to management
Gambar 18. Variabel Lokasi Industri
32
Gambar 19. Kasus 1 Lokasi Alternatif
Gambar 20. Kasus 2 Lokasi Alternatif
33
Gambar 21. Kasus 3 Lokasi Alternatif
Gambar 22. Kasus 4 Lokasi ALternatif
34
Gambar 23. Kasus 5 Lokasi ALternatif
KLASIFIKASI INDUSTRI
 Resource orientation: utilize bulky or perishable raw material normally seek location close to
source of raw material. Expl. Mining industries, fruit canning
 Market orientation: location of market-oriented industries having high distribution cost is
positively correlated with location of population.
expl. Printing industries, office equipment & supplies
 Optional orientation: industries can be either market or resource oriented because of ability to
rearrange (exchange) technique production to maximize profitability of alternative location
Gambar 24. Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi
35
Theories of Industrial Clusters
 Discussion of two theories of regional clusters, (Marshallian) industrial districts and Porters
regional clusters.
 The two cluster theories are discussed in the context of innovation. A main theme is to which
extent and how the two types of clusters stimulate the innovation capability of cluster firms.
 The interest in innovation is related to some ‘stylised facts’ about firms’ innovation processes:
- Firms rely first of all on internal competence in their innovation activity
- However, firms also often bring in ideas, information and knowledge from external actors
during the innovation process
- The ‘quality’ of the external environment and the firms’ ability to use external knowledge
determine to a large extent the innovation capability of an economy
- Firms often find external actors of importance for their innovation process in their local area.
These actors may constitute regional clusters or innovation systems.
What is an industrial district? Definition of the districts
 The districts have many firms and jobs in one or a few adjacent industrial sectors in a local area.
(The area is overrepresented with jobs in a sector compared with the national average, as
measured with location quotients)
 Local networks between firms creating external economies, i.e. the achievement of effective
production through extensive, external division of labour between firms specialising within
various phases of a production chain. (What can happen to achieve more effective production
when firms share the same suppliers?)
 A specific, local socio-cultural dimension denoted as Marshallian agglomeration economies
consisting of three factors:
a) mutual trust between firm leaders, workers etc. that reduces transaction costs,
b) accumulation of skill among workers (denoted as an ‘industrial atmosphere’)
c) stimulation of incremental innovations through ‘learning by doing’ and ‘learning by
using’ by factor a and b
Alfred Marshall’s century-old theory of industrial districts. (Marshall 1890, 1920)
Marshall’s basic point about why companies in the same industry congregate still holds: industrial
districts enjoy the same economies of scale that only giant companies normally get. Specialized
suppliers arrive. Skilled workers know where to come to ply their trade. And everyone involved
benefits from the spillovers of specialized knowledge. As Marshall put it, “The mysteries of the trade
become no mysteries, but are as it were in the air.” (James Surowiecki 2000, p. 68, emphasis added.)
Back to Marshall’s external economies
”Something is in the air” – i.e. benefits that are not represented as costs for the single firms:
 Labour market pooling
 Networks of supplier and auxiliary firms
 Localised knowledge spillovers
From Mark I to Mark II Industrial Districts
 Mark I Industrial districts: Traditional industrial districts with considerable growth in the 1960s
and 70s. The local system of firms is innovative, first of all as regards small, stepwise changes in
products and processes (incremental innovations). The innovation activity builds on the
experience based competence of entrepreneurs and skilled workers, and on close cooperation
between persons and firms in an atmosphere of mutual trust and understanding (i.e.
agglomeration economies)
 Mark II industrial districts: In the 1980s the traditional industrial districts had to upgrade
themselves to mark II districts in order for firms to carry out more radical innovations. Radical
36
innovations were necessary to meet increased competition from low cost countries and to
introduce more advanced technology. Upgrading to mark II districts take place through the
establishment of centres for real service. The centres have specialised competence for the
dominating industrial sectors in the districts. The centres offer subsidised services to firms, such
as information about markets and technological development, help in exporting or in
introducing new production equipment. The centres supply the system of firms with
professional competence that small firms often cannot possess themselves, but competence
necessary to carry out more radical innovations
Why the large interest in industrial districts?
 The interest in industrial districts far exceeds their empirical significance. Districts are of some
importance in countries with craft traditions like Italy, Spain, France, Denmark (and examples
are found in Norway)
 The interest of the districts is rooted in:
a) the fact that the districts may constitute a possibly new and more human-centred
industrial development. The model symbolise the possibility of small firms and craft skills
in a world of impersonal big firms and deskilling
b) the emphasizing of social and cultural factors (as traditions and trust) in economic life,
i.e. that industrial development rely on more than ‘economic factors’,
c) what the districts can tell about the mechanisms of innovation, learning and knowledge
flow, i.e. that these build on factors in the local environment and not just on factors
internal to firms,
d) what the districts have to say about the possibility of independent SMEs to be
internationally competitive as long as the SMEs collaborate, i.e. that local areas can
develop without relying on large firms
The boat-building industry in the Arendal-Grimstad region: The growth of an industrial district?
The development of the industry: Six historical phases
1. The start: Tradition and knowledge about boatbuilding from the period of sailing vessels, when
Arendal was by fare the largest shipping town in Norway
2. The revolution with the building of glass fibre boats in the 1950s. This kind of boat building
started in Arendal by the linking of external knowledge and local competence
3. Spreading of the knowledge in the local area in the 1950s and 60s, giving rise to many start-ups
and growth
4. The growth of giant firm Fjord Plast, and the centre for the building of motor boats in Europe
5. Restructuring in the 1970s and 80s. Start-ups, specialisation on firm level and growth of
subcontractors
What is an industry cluster?
 Geographic concentration of interconnected companies and institutions in a particular field
 A cluster includes
 the core or driver industries
 upstream industries (suppliers)
 downstream industries (customers)
 other institutions (such as, agricultural extension, research labs, trade associations, and
so on)
The background of Porter’s cluster theory
 Michael Porter departs from studies of firm strategies, particularly the question of how
individual firms can compete internationally
37
 In the 1980s he started to study what makes a nation’s firms and industries competitive in global
markets. This research led to the theory of clusters, first national clusters (1990), then regional
clusters (1998)
 The central idea behind the cluster theory is:
a) that the national (or regional) environment is of central importance in stimulating firms’
competitiveness (‘Competitive advantage is created and sustained through a highly localized
process’),
b) that the environment influences the ability to succeed in particular industries or industry
segments (nations become the home base for competitive firms in some particular
industries, and most important is competitiveness in sophisticated industries),
c) that the international successful firms in an industry constitute systems or clusters of firms,
and
d) that firms and industries become competitive by continually upgrading and innovation (and
by developing new and sophisticated industries)
Porter’s cluster definition
Clusters are geographic concentrations of interconnected companies, specialised suppliers, service
providers, firms in related industries, and associated organisations (such as universities, standard
agencies, trade associations) in a particular field linked by commonalities and complementarities.
There is competition as well as cooperation.
Why are Industry Clusters Important?
 Industry clusters create a competitive advantage for the region.
 The competitive advantage derives from four factors (M.E. Porter, 1990):
 Factor conditions
 Demand conditions
 Related and supporting industries
 Firm strategy, structure, and rivalry
Firm Strategy
and Rivalry
Factor
(Input)
Conditions
Demand
Conditions
Related and
Supporting
Industries
Gambar 25. Porter’s Diamond
Source: Michael Porter, Harvard Business School
The sources of locational competitive advantage in a nation (‘the diamond’)
 Four broad attributes of a nation form an environment that can promote or impede the creation
of competitive advantage by firms in specific industries
1) Factor conditions. Factors of production (inputs) such as skilled labour, natural
resources, capital or infrastructure. Important factors are created, and disadvantage of
38
factors can contribute to sustained competitive success (e.g. automation because of high
labour costs)
2) Demand conditions. The quantity and particularly quality of home demand for the
industry’s products / services (the importance of sophisticated and demanding
customers for innovation).
3) Relating and supporting industries. Supplier and related industries that are international
competitive. Support cost-effective supplies and stimulates innovation
4) Firm strategy, structure, and rivalry. How companies are created, organised, and
managed, and the nature of domestic rivalry. How firms are managed support some
type of industries more than others (f.ex. liberal and coordinated market economies
‘support’ different types of industries)
 Two additional variables can influence the national system in important ways; chance and
government policy
What are Industry Clusters?
Three critical conceptual dimensions:
1. Linkage, Interdependence between businesses/industries/sectors
2. Stage of development, Clusters may be existing, emerging, or potential
3. Geography
Linkage
 The heart of cluster analysis
 May be formal or informal
 Sources
 common value (e.g. production, market) chains
 similar labor skill requirements
 shared or similar technologies
 or knowledge and/or innovation exchange
 Choice of study linkage determined, at least in part, from policy goals.
Stage of Development
 Offers different cluster types for study focus, depending on goals
 Existing stage
 Existing clusters are those that have reached a critical mass in size and/or diversity of
operation
 Existing clusters may be expanding or contracting at any given point in time
 Emerging
 Emerging clusters are likely to achieve critical mass, given current trends
 Potential
 Potential clusters are those with potential, but uncertain growth environment and
possibly have only a few related industries
Geography
 Clusters must be identified by more than locality
 Regional concentration versus global dispersion
 Cross boundary linkages
 Study order:
Linkage/economic logic (Geographic concentrations)
39
Cluster Organizations
 Help identify careers in related industries
 Help guide local schools and colleges in providing appropriate training
 Help policy makers understand the connections between industry requirements and the training
needed for successful welfare reform and implementation of the Workforce Investment Act
What is a cluster?
 Firms in one or more industries that have competitive advantage in a region
 Cluster competitive advantage may be based on resources, shared labor pool, access to
research or other institutions, presence of significant customers or suppliers in the
region, and innovation within the cluster
 Empirical definition in this study:
 High LQ, strong inter-industry ties (sales or purchases from other industries as depicted
in input-output model), or moderate LQ + significant size
 Data sources: IMPLAN input-output model for each WDA, ESD data on cluster
characteristics
Industry Cluster Bubble Chart
Four Quadrants
 Northwest: Mature clusters
 Specialization and slow or declining growth
 Northeast: Star clusters
 Specialization and fast growth
 Southeast: Emerging clusters
 Not specialized, but fast growth
 Southwest: Transforming clusters
 Not specialized and slow or declining growth
4.0
3.5
3.0
LQ in 2006
2.5
2.0
1.5
1.0
-150
-100
-50
0.5
0
50
100
0.0
-0.5
-1.0
% chg in LQ 2001-2006
Gambar 26. Madison County, Missouri Industry Clusters
40
150
200
Gambar 27. The California Wine Cluster
Keterkaitan Pusat Pertumbuhan Dan Pengembangan Industri
 Dalam proses pembangunan akan timbul industri unggulan yang merupakan industri penggerak
utama dalam pembangunan daerah
 Pemusatan industri pada suatu daerah akan mempercepat pertumbuhan ekonomi
 Kegiatan ekonomi yang timbul merupakan gabungan dari sistem industri-industri unggulan
dengan industri-industri yang tergantung dari industri unggulan
Aspek lokasi dalam pengembangan industri
 Industri yang didasarkan pada ketersediaan bahan baku (resources based industry)
 Industri yang memproses hasil dari sektor primer, misal bahan pertanian dan bahan
pangan, dimana ditentukan oleh ketersediaan bahan baku/bahan mentah yang tersedia
di daerah tersebut
 Industri yang dekat dengan pasar produksi (market oriented industry)
 Industri bahan makanan yang tidak tahan lama dan industri jasa-jasa
 Industri yang letaknya netral terhadap pasar maupun bahan mentah (foot-loose industry)
 Industri yang umumnya terdiri dari industri pengolahan dimana efisiensinya tidak
tergantung pada bahan baku yang tersedia di daerah tersebut
Konsepsi ekonomi spasial dalam pengembangan industri
 WILAYAH PUSAT PERTUMBUHAN INDUSTRI (WPPI)
41
 Beberapa Zona Industri yang memiliki potensi untuk tumbuh dan berkembangnya
kegiatan industri dan mempunyai keterkaitan ekonomi yang bersifat dinamis karena
didukung sistem perhubungan yang mantap
 ZONA INDUSTRI
 Satuan geografis sebagai tempat tumbuh dan berkembangnya kegiatan industri baik
berupa industri dasar yang berorientasi pada sumber daya alam, industri kunci yang
bertumpu kepada pengolahan potensi pembangunan yang ada, maupun industri hilir
yang berorientasi kepada konsumen akhir dengan populasi tinggi, sebagai penggerak
utama (prime mover)yang secara keseluruhan membentuk berbagai kawasan-kawasan
yang terpadu dan beraglomerasi dalam kegiatan ekonomi yang mempunyai daya ikat
spasial, sehingga mewujudkan suatu sistem ekonomi dalam batasan jarak tertentu.
PENGELOMPOKAN LOKASI INDUSTRI BESAR DAN MENENGAH
 Kompleks Industri
 Lokasi industri yang berlokasi di luar kota dan jauh dari permukiman penduduk,
terutama untuk menampung industri-industri dasar dan lebih dikenal dengan istilah
Kompleks Industri yang menjadi inti Zona Industri.
 Estat Industri (Industrial Estate)
 Lahan yang dipersiapkan secara khusus guna menampung industri-industri yang bersifat
manufaktur yang dikelola oleh suatu manajemen terpusat, dengan luasan yang cukup
memadai bagi pengembangan sistem kegiatan industri yang terintegrasi yang lokasinya
masih di dalam radius pelayanan sarana dan prasarana perkotaan.
 Lahan Peruntukan Industri/Kawasan Industri (Umum)
 Lokasi industri yang telah ditetapkan dalam Master Plan suatu daerah / kota yang
biasanya terletak pada jalur jalan regional di luar wilayah yang dapat bersifat
pertumbuhan pita atau plotting setempat dan masih berbaur dengan kegiatan lain
secara lebih teratur.
 Kawasan Berikat
 Lokasi industri yang berlokasi pada areal yang mempunyai tingkat aksesbilitas tinggi baik
dari dan ke pelabuhan maupun airport, mempunyai ketentuan-ketentuan pabean
khusus dan dimaksudkan untuk proses pengolahan manufaktur dan pergudangan
berorientasi ekspor.
PENGELOMPOKAN LOKASI INDUSTRI KECIL
 Permukiman Industri Kecil
 Lokasi industri kecil yang biasanya berbaur dengan permukiman para pengusaha dan
pengrajin dalam tingkat aglomerasi yang cukup besar dari beraneka ragam jenis industri
kecil terkait, terletak di daerah pinggiran kota (daerah semi urban).
 Sentra Industri Kecil
 Lokasi industri kecil, berbaur atau tidak berbaur dengan daerah permukiman para
pengrajin dalam jumlah relatif kecil atau industri-industri sejenis dan terletak di dalam
kota atau di pedesaan.
 Sarana Usaha Industri Kecil (SUIK)
 Tempat-tempat usaha industri kecil yang dikelompokkan dan disediakan oleh suatu
badan tertentu yang berupa los-los kerja. Sarana usaha industri kecil tersebut
dimaksudkan untuk menunjang dan bekerjasama secara langsung dengan industri besar,
biasanya terletak di dalam suatu estet industri.
Strategi pengembangan industri
 Industri substitusi import
42
 Diharapkan bisa menghasilkan barang-barang baru di dalam negeri yang semula di
import
 Melakukan proteksi untuk membatasi barang-barang import
 Industri promosi eksport
 Hasil produksi dalam negeri mempunyai daya saing internasional yang kuat didorong
untuk kepentingan eksport
Gambar 28. Lokasi Persebaran Industri Prioritas di WPPI I,II,III
PENGEMBANGAN INDUSTRI BERDASAR POTENSI PASAR (LN & DN)
 Industri Padat Sumber Daya Alam, meliputi industri-industri yang banyak menggunakan sumber
daya alam sebagai bahan baku.
 Industri ini mempunyai potensi yang kuat dari sisi internal supply, dan untuk
pengembangan produk ini sudah dapat didukung oleh litbang dalam negeri;
 Kriteria pemilihan industri padat sumber daya alam: nilai ekspor, kandungan lokal,
orientasi pasar, dan nilai produksi
 Industri Padat Tenaga Kerja, meliputi industri-industri yang banyak menggunakan tenaga kerja.
 Untuk dapat mengembangkan produk ini diperlukan usaha meningkatkan keterampilan
dan produktivitas tenaga kerja, baik melalui penanaman modal maupun penerapan
teknologi;
 Kriteria pemilihan industri padat tenaga kerja: nilai ekspor, penyerapan tenaga kerja,
nilai tambah per tenaga kerja, orientasi pasar, dan nilai produksi;
 Industri Padat Modal, meliputi industri-industri yang banyak menggunakan modal.
43
 Dalam pengembangan produk ini diperlukan usaha meningkatkan penanaman modal
asing.
 Pada umumnya untuk mengembangkan produk ini sangat tergantung pada faktor
eksternal;
 Kriteria pemilihan industri padat modal: total investasi, ICOR, nilai tambah, orientasi
pasar, dan nilai produksi
 Industri Padat Teknologi, meliputi industri-industri yang mengandalkan teknologi sebagai faktor
keunggulan untuk bersaing.
 Untuk mengembangkan produk ini diperlukan usaha meningkatkan penguasaan
teknologi, baik melalui alih teknologi maupun melalui teknologi yang menyatu pada
barang modal yang diimpor.
 Kriteria pemilihan industri padat teknologi: nilai ekspor, kandungan impor, nilai tambah,
nilai produksi, orientasi pasar, biaya litbang, dan pelatihan tenaga kerja.
TUJUAN PENGEMBANGAN INDUSTRI
 Mendorong suatu wilayah meraih keunggulan daya saing yang berkelanjutan (sustainable
competitive advantage)
 Menciptakan pertumbuhan wilayah yang dinamis
 Meningkatkan nilai tambah (value added) melalui pengembangan produk-produk unggulan
PENGEMBANGAN KLASTER INDUSTRI
 Memperkuat industri-industri yang terdapat dalam rantai nilai, yang mencakup industri inti,
industri terkait, dan industri pendukung dengan keunggulan lokasi, yang dapat mendorong
keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetitif;
 Memperkuat keterkaitan antar klaster dalam satu sektor maupun dengan klaster pada sektor
lainnya, sekaligus mendorong kemitraan antara IKM dengan perusahaan besar dan kaitan
interaktif yang relevan lainnya, sehingga membentuk jaringan industri serta struktur yang
mendukung peningkatan nilai tambah melalui peningkatan produktivitas;
 Mendorong tumbuhnya industri terkait yang memerlukan pasokan bahan baku dan penolong
yang sama, sehingga memperkuat partnership antara industri prioritas, terkait, dan pendukung;
 Memfasilitasi upaya-upaya pemasaran dalam maupun luar negeri.
44
Gambar 29. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kakao dan Coklat
Gambar 30. Lokasi Pengembangan Industri Pengelolahan Kakao dan Coklat
45
Referensi:
 Dedi NS Setiono [2011], Ekonomi Pengembangan Wilayah: Teori dan Analisis, Lembaga Penerbit
FE-UI, Jakarta
 Gordon J. Fielding [1974], Geography as Social Science, Harper and Row, New York.
 Michael E. Porter [1990], The Competitive Advantage of Nations, Harvard Business Review.
3.2.
Dasar-dasar dan analisis lokasi kegiatan perdagangan (retail)
Elemen apa saja yang berpengaruh pada keberhasililan sebuah tapak? Secara umum, faktor-faktor
yang berkontribusi terhadap keberhasilan sebuah tapak dapat dikategorikan menjadi tiga yaitu
pengelolaan, tapak, dan lokasi. Sudah terdapat beberapa upaya untuk mengetahui kepentingan
relative masing-masing faktor utama tersebut, tetapi masing-masing faktor tersebut penting dan
dapat menenggelamkan bisnis jika tidak secara hati-hati dikontrol.
Faktor pengelolaan biasanya terdiri dari elemen-elemen yang bisa dikontrol dari dalam bangunan.
Seperti managemen toko, layanan pelanggan, barang, kebersihan, penampilan, dekorasi, dan
penataan semua elemen tersebut penting untuk elemen pengelolaan. Faktor tapak merupakan
elemen yang berhubungan dengan kondisi fisik penataan bangunan dan property disekitarnya.
Elemen seperti tempat parkir, penandaan, lebar ruang pejalan kaki, taman, aksesibilitas,
keluar/masuk, tipe pemusatan, dan hal-hal lainnya seperti bangunan yang berdiri sendiri atau
bangunan penghubung yang semuanya penting untuk tapak.
46
Faktor lokasi, yang berkontribusi terhadap pemilihan lokasi yaitu demografi, permintaan konsumen,
kepadataan lalu lintas, generator lalu lintas (pusat perbelanjaan, Rumah Sakit, bandara stadion),
populasi harian, kompetisi, bisnis pelengkap, dan gaya hidup. Tekait dengan faktor lokasi, terdapat
dua pertimbangan penting yang harus diputuskan oleh sebuah pengecer (retailer), yaitu:
1. Memilih target pasar
2. Menentukan format retail yang bagaimana yang paling efektif untuk menjangkau pasar.
Gambar 31. Format Retail
Seorang retailer dapat menjangkau konsumen potensial melalui dua konsep yaitu store atau non
store format retail. Pengecer toko (store based retalilers) mengoperasikan sebuah toko dengan
lokasi yang sudah tetap sehingga membutuhkan konsumen untuk bergerak ke toko untuk melihat
dan memilih barang atau layanan yang diinginkan. Sedangkan pengecer non-toko (non-store based
retailers) menankap konsumen yang ada di rumah, di tempat kerja, atau tempat selain toko dimana
konsumen mudah untuk melakukan pembelian. Bentuk-bentuk store based diantaranya yaitu pusat
bisnis, mall, free standing, dan non tradisional. Sedangkan bentuk-bentuk non store based yaitu
penjualan via internet, penjualan langsung ke rumah-rumah, penjualan non formal di sepanjang
jalan, dan penjualan melalui mesin-mesin barang.
Beberapa tipe retail berdasarkan konsep toko (store based):
1. Central Business Districts (CBD) usually consists of an unplanned shopping area around the
geographic point at which all public transportation systems converge; it is usually in the
center of the city and often where the city originated historically.
2. Secondary Business District (SBD) is a shopping area that is smaller than the CBD and that
revolves around at least one department or variety store at a major street intersection.
3. Neighborhood Business District (NBD) is a chopping area that evolves to satisfy the
convenience-oriented shopping needs of a neighborhood, generally contains several small
stores (with the major retailer being a supermarket or a variety store), and its located on a
major artery of a residential area.
4. Shopping Center (or mall) is a centrally owned or managed shopping district that is planned,
has balanced tenancy (the stores complement each other in merchandise offerings), and is
surrounded by parking facilities.
47
5. Anchor Stores are the stores in a shopping center that are the most the most dominant and
are expected to draw customers to the shopping center.
6. Free-Standing Retailer generally locates along major traffic arteries and does not have any
adjacent retailers to share traffic with.
Variabel Pertimbangan Pemilihan Lokasi Retail
Sebuah study mengungkapkan bahwa faktanya retailer memiliki criteria tertentu yang mereka
gunakan untuk mencari lokasi baru untuk sebuah toko. Charles G. Schimdt. Seorang professor dari
Departeman Geografi di University Colorado-Denver, mengemukakan empat karakteristik utama
dalam memilih lokasi retail yaitu:
1. Volume lalu lintas yang padat
2. Frontage yang lebar dan akses yang aman untuk keluar masuk menuju tapak
3. Ukuran tapak untuk ekspansi
4. Threshold populasi
Brubaker (2004)
Peneliti lainnya, Brubaker, melakukan penelitian untuk mengidentifikasi pemilihan lokasi untuk
penyewa ritel. Brubaker melakukan interview terhadap sejumlah real estate regional direktur,
developer, ahli tata kota, dan makelar. Beberapa criteria yang harus dimiliki oleh sebuah lokasi
adalah signage, visibility, ukuran tapak, parker, kepadatan lalu lintas, co-tenancy, dan demografi
penduduk (populasi penduduk, tingkat pendapatan, kompetisi dan wilayah perdagangan.
Davidson et al (1980)
Davidson mengungkapkan bahwa terdapat secara berurutan terdapat empat hal penting yang harus
diputuskan untuk memilih lokasi perdagangan, yaitu pertimbangan wilayah, pertimbangan cakupan
pasar, pertimbangan area perdagangan, dan pertimbangan tapak.
Gambar 32. Pertimbangan untuk Mennetukan Lokasi Tapak
Pertimbangan Wilayah
Pertimbangan yang digunakan untuk memutuskan lokasi wilayah adalah
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
Kondisi populasi (ukuran, pertumbuhan, kepadatan, distribusi, dan lahan kosong)
Jaringan kota (ukuran, jarak dan hubungan dengan kota disekitarnya)
Karakteristik lingkungan (iklim, vegatasi, karakteristik medan)
Karakteristik ekonomi (tenaga kerja, industry, trend)
Target pasar (jumlah dan prosentas populasi yang dibidik)
Budaya local
Kompetisi
Tingkat kejenuhan pusat perbelanjaan
Daya beli
Pertimbangan Kawasan Pasar
a. Dimensi populasi (ukuran, pertumbuhan, kepadatan, distribusi) dan dimensi target populasi pasar
48
b. Publik transportasi dan jaringan jalan
c. Karakteristik ekonomi dan daya beli efektif
d. Potensi pasar dalam hal barang
e. Selera konsumen
f. Intensitas persaingan (kejenuhan pasar)
g. Kemampuan distribusi
h. Karakteristik lingkungan
i. Batasan peraturan dan zonasi
j. Iklim bisnis
Pertimbangan Area Perdagangan (Trade Area)
Area perdagangan adalah wilayah geografis yang berdekatan yang menyumbangkan sebagian besar
jumlah penjualan dan konsumen. Area perdagangan bisa dibagi menjadi tiga polygon yaitu zona
utama, zona sekunder, dan zona tersier (cincin terluar).
 Zona utama merupakan area geografis dimana pusat perbelanjaan atau toko memperoleh
60% - 65% tingkat penjuala dari total konsumen.
 Zona sekunder merupakan area geografis yang menyumbangkan 20% tingkat penjualan dari
total konsumen.
 Sedangkan zona tersier merupakan zona dimana pengunjung hanya sesekali saja untuk
berbelanja di pusat perdagangan. Beberapa alasan mengapa pengunjung di zona ini
mendatangi pusat perbelanjaan yang jauh secara jarak dari rumah yaitu ketersediaan akses
jalan bebas hambatan, toko berada pada jalan menuju tempat kerja, dan toko berada dekat
dengan daerah wisata.
Gambar 33. Area Perdagangan
Pertimbangan Karakteristik Tapak
a. Profil tapak (ukuran dan bentuk)
b. Kebutuhan sewa/harga tanah
c. Rasio parkir
d. Arus pejalan kaki
e. Akses public transportasi
f. Visibilitas
g. Akses menuju area perdagangan
49
Themido et al (1998)
Sedangkan menurut Themido dkk, terdapat dua kelompok variabel yang dijadikan sebagai tools
untuk menilai lokasi suatu kawasan yaitu evaluasi kondisi tapak dan evaluasi area perdagangan.
Gambar 34. Klasifikasi Variabel Penilaian Lokasi (Themido et al, 1998)
Evaluasi atas kondisi tapak didasarkan pada tiga hal yaitu ukuran toko, konfigurasi toko (mencakup
komposisi ritel dan rantai layanan), dan variabel lokasi (mencakup aksesibilitas tapak dan konfigurasi
tapak). Sedangkan untuk Evaluasi atas kondisi area perdagangan ada dua hal utama yaitu potensi
penjualan sekarang dan masa depan (mencakup ukuran pasar dan area tankapan), dan kompetisi
sekarang dan masa yang akan datang (mencakup dimensi dan kualitaskompetisi.
Metode Estimasi Potensi Area Perdagangan (Trade Area)
Perkembangan dari prediksi akurat penjualan merupakan hal penting dalam pemilihan lokasi ritel
(Kotler, 1984). Prediksi penjualan dengan metode statistik berkontribusi untuk menemukan
hubungan antara tingkat penjualan dengan variable berpengaruh lainnya seperti profil tapak dan
kondisi demografi. Pastor (1994) juga menekankan akan pentingnya teknik baru yang focus pada
keduanya yaitu mampu menemukan lokasi yang optimal untuk outlet baru dan memprediksi
penjualan berdasarkan criteria yang obyektif.
1. Analog Model
Analog model merupakan upaya pertama yang digunakan dalam proses memilih lokasi retail
(Applebaum, 1968). Pencetus model ini, William Applebaum, fokus pengamatan pada lokasi ritel
eksisting yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi lokasi ritel potensial lainnya. Pengunjung dari
ritel eksisting diinterview untuk menentukan dimana mereka tinggal sehingga selanjutnya dapat
ditemukan area perdagangan utama ritel eksisting. Model ini menggunakan tingkat penjualan ritel
eksisting untuk memprediksi lokasi masa depan yang potensial (Buckner, 1998). Untuk menentukan
kinerja ritel yang direncanakan makan dilakukanlah perbandingan sistematis antara karakteristik ritel
eksisting dengan karakteristik ritel yang direncanakan (Breheny, 1988). Salah satu keuntungan model
analog atas metode lain adalah adaptasinya untuk menilai hampir semua jenis toko ritel.Tetapi
kekurangannya adalah metode ini sangatlah subyektif dan dapat bekerja dengan baik hanya
ditangan analis yang sudah berpengalaman (Buckner, 1998).
2. Gravity Model
Gravity model digunakan secara luas dalam teknik menentukan lokasi ritel. Metode ini berasal dari
William J. Reilly’s yang disebut dengan “Hukum Gravitasi Ritel”. Pada intinya, metode ini merupakan
50
metode yang digunakan untuk mengevaluasi tingkah laku manusia yang mengukur bahwa setiap
individu kemungkinan akan tertarik menuju ritel bergantung pada jarak tempuh, jarak tempuh ke
toko alternative, dan keunggulan masing-masing lokasi. Hukum Reilly’s secara sederhana dapat
diibaratkan sebagai batasan area perdagangan, dengan cara menentukan titik yang berbeda dari dua
kota atau dua wilayah, maka masing-masing luasan area perdagangan dapat ditentukan.
Gambar 35. Gravity Model
3. Multiple Regresi Model
Analog model berkembang menjadi multiple regresi model. Model ini pada intinya memiliki fungsi
yang sama seperti analog model. Model ini menentukan hubungan antara tingkat penjualan dan
karakteristik tapak sepeti jarak menuju lokasi, populasi, dan kompetisi (Breheny, 1988). Multiple
regresi model mencari hubungan antara variable independen tertentu dan variasi penjualan antara
kelompok toko (Breheny, 1988).
Multiple regresi model dianggap lebih menguntungkan daripada model lainnya. Ketika sudah
diformulasikan, regresi model mudah untuk diimplementasikan dan tidak membutuhkan analis
berpengalaman untuk mengoperasikannya (Buckner, 1998). Sebagai tambahan, metode ini dapat
51
meninvestigasi hubungan yang lebih kompleks, flexible, dan dapat mengetes banyak variable
sekaligus (Breheny, 1988).
PERATURAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 112 TAHUN 2007 TENTANG PENATAAN DAN
PEMBINAAN PASAR TRADISIONAL, PUSAT PERBELANJAAN DAN TOKO MODERN
Penataan Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern
Lokasi pendirian Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern wajib mengacu pada Rencana Tata Ruang
Wilayah Kabupaten/Kota, dan Rencana Detail Tata Ruang Kabupaten/Kota, termasuk Peraturan
Zonasinya.
Batasan luas lantai penjualan Toko Modern adalah sebagai berikut:
1. Minimarket, kurang dari 400 m2 (empat ratus meter per segi);
2. Supermarket, 400 m2 (empat ratus meter per segi) sampai dengan 5.000 m2 (lima ribu meter
per segi);
3. Hypermarket, di atas 5.000 m2 (lima ribu meter per segi);
4. Department Store, di atas 400 m2 (empat ratus meter persegi);
5. Perkulakan, di atas 5.000 m2 (lima ribu meter per segi).
Pendirian Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern wajib:
1. Memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, keberadaan Pasar Tradisional, Usaha
Kecil dan Usaha Menengah yang ada di wilayah yang bersangkutan;
2. Memperhatikan jarak antara Hypermarket dengan Pasar Tradisional yang telah ada
sebelumnya;
3. Menyediakan areal parkir paling sedikit seluas kebutuhan parker 1 (satu) unit kendaraan
roda empat untuk setiap 60 m2 (enam puluh meter per segi) luas lantai penjualan Pusat
Perbelanjaan dan/atau Toko Modern; dan
4. Menyediakan fasilitas yang menjamin Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern yang bersih,
sehat (hygienis), aman, tertib dan ruang publik yang nyaman.
Perkulakan hanya boleh berlokasi pada atau pada akses sistem jaringan jalan arteri atau kolektor
primer atau arteri sekunder.
1. Hypermarket dan Pusat Perbelanjaan:
Hanya boleh berlokasi pada atau pada akses sistem jaringan jalan arteri atau kolektor; dan
Tidak boleh berada pada kawasan pelayanan lokal atau lingkungan di dalam kota/perkotaan.
2. Supermarket dan Department Store:
Tidak boleh berlokasi pada sistem jaringan jalan lingkungan; dan Tidak boleh berada pada
kawasan pelayanan lingkungan di dalam kota/perkotaan.
3. Minimarket boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan, termasuk sistem jaringan jalan
lingkungan pada kawasan pelayanan lingkungan (perumahan) di dalam kota/perkotaan.
4. Pasar Tradisional boleh berlokasi pada setiap sistem jaringan jalan, termasuk sistem jaringan
jalan lokal atau jalan lingkungan pada kawasan pelayanan bagian kota/kabupaten atau lokal
ata lingkungan (perumahan) di dalam kota/kabupaten.
52
Referensi
Applebaum, W. (1968). The Analog Method for Estimating Potential Store Sales. In C. Kornblau, Guide to
Store Location Research. Reading, Mass.: Addison-Wesley.
Breheny, M. J. (1988). Practical Methods of Retail Location Analysis: A Review. In N. Wrigley, Store Choice,
Store Location and Market Analysis (pp. 39-86). London: Routledge.
Brubaker, B. T. (2004). Site Selection Criteria in Community Shopping Centers: Implications for Real Estate
Developers. Cambridge.
Buckner, R. W. (1998). Site Selection: New Advancements in Methods and Technology. New York: Chain
Store Publishing Corp.
Laddel, et al (2009). Retail Site Selection: A New, Innovative Model for Retail Development. Woolbright
Development, Inc.
Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 112 Tahun 2007 Tentang Penataan Dan Pembinaan Pasar
Tradisional, Pusat Perbelanjaan Dan Toko Modern
Schmidt, C. G. (n.d.). Location Decision-Making Within a Retail Corporation. 60-71.
3.3.
Dasar-dasar dan analisis lokasi fasilitas
LOKASI OPTIMUM LAYANAN FASILITAS
 Untuk memilih lokasi yang optimal bagi layanan fasilitas perlu memperhatikan prinsip
pemanfaatan sumberdaya yang paling minimum, seperti waktu, biaya, jangkauan layanan, etc
 Metoda perhitungan:
LO = ∑ d.W = minimum
–
LO
= Lokasi Optimum
–
d
= jarak antara lokasi pusat pelayanan dan lokasi yang dilayani
–
W
= bobot lokasi yang dilayani
The P-median Problem
 In the p-median problem we are interested in finding the location of p facilities to serve demand
nodes so that the transportation cost is minimized.
 The transportation cost is given by the product of the demand at the demand node and the
distance between the demand node and the facility that serves the demand node.
 There are no capacity constraints at the facilities.
53
Gambar 36. P-Median Model
 As there are no capacity constraints at the facilities, it is optimal to satisfy the demand at a
demand node from a single facility.
 An optimal solution can be found by restricting the search to the demand nodes.
 Fixed costs are assumed to be equal.
 The number of possible solutions is
n!
p!n  p !
 For even moderate values of n and p the number of possible solutions can be very large:
 For example, if n=20 and p=5, there are 15,504 solutions.
 If n=50 and p=10, the problem has more than 1010 possible solutions.
 If you could evaluate 1 million solutions per second, it will take you 3 hours for total
enumeration.
The P-median Problem
Inputs:
hi
=
demand at node i
dij
=
distance between demand node i and site j
p
=
number of facilities
Decision variables:
54
1 if a facility is located at site j
Xj 
0 otherwise
1 if demand at node i is served by a facility at site j
Yij  
0 otherwise
min
 h d Y
Y  1
X  p
for all i
Yij  X j
for all i, j
Yij  0,1
for all i, j
X j  0,1
for all j
i
i
subject to
ij ij
j
ij
j
j
j
Tabel 4. Distance Matrix For The Network
Site j
Node i
A
B
C
D
E
F
G
H
I
J
K
L
A
0
15
37
55
24
60
18
33
48
40
58
67
B
15
0
22
40
38
52
33
48
42
55
61
61
C
37
22
0
18
16
30
41
28
20
58
39
39
D
55
40
18
0
34
12
59
46
24
62
43
34
E
24
38
16
34
0
36
25
12
24
47
37
43
F
60
52
30
12
36
0
57
42
12
50
31
22
55
G
18
33
41
59
25
57
0
15
45
22
40
61
H
33
48
28
46
12
42
15
0
30
37
25
46
I
48
42
20
24
24
12
45
30
0
38
19
19
J
40
55
58
62
47
50
22
37
38
0
19
40
K
58
61
39
43
37
31
40
25
19
19
0
21
L
67
61
39
34
43
22
61
46
19
40
21
0
Tabel 5. Cost (demand x distance) matrix for the network
Demand
Node i
A
0
A
150
B
444
C
990
D
120
E
1440
F
198
G
528
H
624
I
880
J
1102
K
1340
L
B
225
0
264
720
190
1248
363
768
546
1210
1159
1220
C
555
220
0
324
80
720
451
448
260
1276
741
780
D
825
400
216
0
170
288
649
736
312
1364
817
680
E
360
380
192
612
0
864
275
192
312
1034
703
860
Site j
F
G
900
270
520
330
360
492
216
1062
180
125
0
1368
627
0
672
240
156
585
1100
484
589
760
440
1220
H
495
480
336
828
60
1008
165
0
390
814
475
920
Tabel 6. Heuristic Algorithm
56
I
720
420
240
432
120
288
495
480
0
836
361
380
J
600
550
696
1116
235
1200
242
592
494
0
361
800
K
870
610
468
774
185
744
440
400
247
418
0
420
L
1005
610
468
612
215
528
671
736
247
880
399
0
Note that the optimal solution had a total cost of 1444 whereas the heuristic solution provides a
total cost of 1707. This means that we can improve the solution obtained by the heuristic. Therefore
we apply an improvement algorithm. For each facility site, this algorithm identifies the set of
demand nodes that are served from the facility called as the neighborhood. Within each
neighborhood, the optimal 1-median is found.
Summary of Exchange Opportunities from Neighborhood Search Solution (Facilities at sites A, F, H, I
and J with a total cost of 1572)
Referensi:
 Rushton, G. [1979], Optimal Location of Facilities, Compress, Inc., Wentworth
 Alperovich G, Weksler I, [1982], "Optimal location of public facilities: the case of median and quartile
locations" Environment and Planning, Volume 9(2); 143 – 152
57
3.4.
Dasar-dasar dan analisis lokasi Permukiman
Perumahan merupakan pencerminan dan pengejawantahan dari diri pribadi manusia, baik
secara perseorangan maupun dalam suatu kesatuan dan kebersamaan dengan alam lingkungannya.
Sehingga perumahan tidak dapat dilihat hanya sebagai benda mati atau sarana kehidupan sematamata, tetapi lebih dari itu perumahan merupakan suatu proses bermukim, kehadiran manusia dalam
menciptakan ruang hidup di lingkungan masyarakat dan alam sekitarnya (Yudohusodo dkk, 1991, hal
1).
Perkembangan permukiman dan wilayah saling berpengaruh. Menurut Yudohusodo,dkk (1991),
perumahan dan permukiman dapat menjadi salah satu unsur pengarah pertumbuhan wilayah. Sehingga
konsep perkembangan permukiman dapat merujuk pada teori perkembangan kota dan wilayah.
Penyelenggaraan kawasan permukiman dilakukan untuk mewujudkan wilayah yang berfungsi sebagai
lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung perikehidupan dan penghidupan yang terencana,
menyeluruh, terpadu, dan berkelanjutan sesuai dengan rencana tata ruang (Pasal 56, UU No. 1 Tahun 2011
tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman).
Kawasan Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa
kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan
hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri kehidupan dan penghidupan.
Lingkungan Hunian adalah bagian dari kawasan permukiman yang terdiri atas lebih dari satu satuan
permukiman.
Kegiatan Penyelenggaraan Permukiman baru meliputi:
1.
Penyediaan lokasi permukiman;
2.
Penyediaan PSU permukiman; dan
3.
Penyediaan lokasi pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.
KriteriaTeknis:
Karakteristik Lokasi dan Kesesuaian Lahan
Kawasan perumahan harus dilengkapi dengan:
1. Sistem pembuangan air limbah
2. Sistem pembuangan air hujan
3. Sistem penyediaan air bersih yang sesuai syarat kuantitas dan kualitas
4. Sistem pembuangan sampah
5. Penyediaan sarana perkotaan yang sesuai dengan standar kebutuhan
Secara Teknis, Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan diatur secara rinci pada SNI 031733-2004, tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan. Adapun Aaspekaspek dalam perencanaan lingkungan perumahan meliputi:
58
1. Persyaratan Lokasi
a. Lokasi perumahan harus sesuai dengan rencana peruntukan lahan yang diatur dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) setempat atau dokumen perencanaan lainnya yang
ditetapkan dengan Peraturan Daerah setempat, dengan kriteria sebagai berikut:
1) Kriteria Keamanan, dicapai dengan mempertimbangkan bahwa lokasi tersebut bukan
merupakan kawasan lindung (catchment area), olahan pertanian, hutan produksi,
daerah buangan limbah pabrik, daerah bebas bangunan pada area Bandara, daerah
dibawah jaringan listrik tegangan tinggi;
2) Kriteria Kesehatan, dicapai dengan mempertimbangkan bahwa lokasi tersebut bukan
daerah yang mempunyai pencemaran udara di atas ambang batas, pencemaran air
permukaan dan air tanah dalam;
3) Kriteria Kenyamanan, dicapai dengan kemudahan pencapaian (aksesibilitas),
kemudahan berkomunikasi (internal/eksternal, langsung atau tidak langsung),
kemudahan berkegiatan (prasarana dan sarana lingkungan tersedia);
4) Kriteria Keindahan/Keserasian/Keteraturan (Kompatibilitas), dicapai dengan
penghijauan, mempertahankan karakteristik topografi dan lingkungan yang ada,
misalnya tidak meratakan bukit, mengurug seluruh rawa atau danau/setu/sungai/kali
dan sebagainya;
5)
Kriteria
Fleksibilitas,
dicapai
dengan
mempertimbangkan
kemungkinan
pertumbuhan fisik/pemekaran lingkungan perumahan dikaitkan dengan kondisi fisik
lingkungan dan keterpaduan prasarana;
6) Kriteria Keterjangkauan Jarak, dicapai dengan mempertimbangkan jarak pencapaian
ideal kemampuan orang berjalan kaki sebagai pengguna lingkungan terhadap
penempatan sarana dan prasarana-utilitas lingkungan; dan
7) Kriteria Lingkungan Berjati Diri, dicapai dengan mempertimbangkan keterkaitan
dengan karakter sosial budaya masyarakat setempat, terutama aspek kontekstual
terhadap lingkungan tradisional/lokal setempat.
b. Lokasi perencanaan perumahan harus berada pada lahan yang jelas status
kepemilikannya, dan memenuhi persyaratan administratif, teknis dan ekologis.
c.
Keterpaduan
antara
tatanan
kegiatan
dan
alam
di
sekelilingnya,
dengan
mempertimbangkan jenis, masa tumbuh dan usia yang dicapai, serta pengaruhnya
terhadap lingkungan, bagi tumbuhan yang ada dan mungkin tumbuh di kawasan yang
dimaksud.
59
2. Persyaratan Fisik
a. Ketinggian lahan tidak berada di bawah permukaan air setempat, kecuali dengan
rekayasa/ penyelesaian teknis.
b. Kemiringan lahan tidak melebihi 15% (lihat Tabel 2) dengan ketentuan:
1) tanpa rekayasa untuk kawasan yang terletak pada lahan bermorfologi datarlandai dengan
kemiringan 0-8%; dan
2) diperlukan rekayasa teknis untuk lahan dengan kemiringan 8-15%.
Tabel 7. Kesesuaian Penggunaan Lahan Berdasarkan Kemiringan Lereng
Sumber : SNI 03-1733-2004
3. Kebutuhan Prasarana dan sarana
Untuk merencanakan bangunan rumah yang memenuhi persyaratan teknis kesehatan,
keamanan dan kenyamanan, data dan informasi yang perlu dipersiapkan:
a) jumlah dan komposisi anggota keluarga;
b) penghasilan keluarga;
c) karakteristik nilai sosial budaya yang membentuk kegiatan berkeluarga dan
kemasyarakatan;
d) kondisi topografi dan geografi area rencana sarana hunian;
e) kondisi iklim; suhu, angin, kelembaban kawasan yang direncanakan;
f) pertimbangan gangguan bencana alam;
g) kondisi vegetasi eksisting dan sekitar; dan
h) peraturan setempat, seperti rencana tata ruang yang meliputi GSB, KDB, KLB, dan
sejenisnya, atau peraturan bangunan secara spesifik, seperti aturan khusus arsitektur,
keselamatan dan bahan bangunan.
Sedangkan Kebutuhan Sarana penunjang lainnya ditentukan berdasarkan ketentuan berikut
ini:
60
Tabel 8. Ketentuan Kebutuhan Sarana Permukiman
Sumber : SNI 03-1733-2004
Referensi:
1. Perencanaan dan pengembangan Wilayah (2009), Ernan Rustiadi, Sunsun saefulhakim, Dyah
R. Panuju. Crestpent Press dan Yayasan Obor Indonesia. Jakarta
2. Rumah Seluruh Rakyat, Siswono Yudohusodo.
3. UU No.26 Tahun 2007, tentang Penataan Ruang
4. UU No.1 Tahun 2011, tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman
5. SNI 03-1733-2004, tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan
61
BAB 4. TEKNIK ANALISIS YANG SESUAI UNTUK MENGKAJI ASPEK
LOKASIONAL KOMPONEN KEGIATAN WILAYAH DAN KOTA
4.1.
Aplikasi Multicriteria Analysis untuk menentukan pemilihan lokasi
Multi-Criteria Decision Making (MCDM) atau pengambilan keputusan yang didasarkan banyak
criteria merupakan sebuah metode atau prosedur yang memproses banyak criteria yang
bertentangan untuk dapat digabungkan menjadi sebuah proses perencanaan. Atau dengan kata lain
dapat juga didefinisikan menjadi mengukur dan mengintegrasikan atribut yang bervariasi untuk
menjawab suatu tujuan.
Gambar 37. Multiple Criteria untuk Menjawab Satu Tujuan
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu menjawab satu tujuan (dalam hal ini tujuannya
adalah pemilihan lokasi) maka masing-masing criteria harus diketahui bobotnya. Tujuan dari
pembobotan criteria adalah untuk menjelaskan tingkat kepentingan masing-masing criteria relative
terhadap criteria lainnya. Pembobotan criteria dapat dilakukan dengan banyak cara, yaitu dengan
metode ranking, metode rating, metode perbandingan berpasangan (pair wise comparison), metode
trade-off analisis, dan metode perbandingan. Namun, aplikasi empiris menyarankan bahwa metode
perbandingan berpasangan adalah salah satu teknik yang paling efektif untuk pengambilan
keputusan spasial yang memakai pendekatan berbasis GIS (Malczewski, 2006). Metode
perbandingan berpasangan dikembangkan oleh Saaty dalam konteks Analytical Hierarchy Process
(AHP) (Saaty, 1980). Metode AHP dibangun berdasarkan tiga prinsip, yaitu dekomposisi, penilaian
komparatif, dan sintesis prioritas (Malczewski, 1999). Metode ini menggunakan perbandingan
berpasangan untuk menciptakan matriks rasio. Dalam hal ini dibutuhkan sebuah input perbandingan
berpasangan sehingga dapat dihasilkan bobot relative sebagai output. Secara khusus, bobot
62
ditentukan oleh normalisasi eigenvector yang terkait dengan nilai eigen maksimum matriks rasio
(timbal balik).
Selanjutnya AHP dapat dibagi menjadi:
1. Penyusunan Hirarki AHP
Menguraikan sebuah permasalahan menjadi sebuah hirarki merupakan langkah pertama yang
dilakukan dalam prosedur AHP. Struktur hirarki tersebut terdiri dari tujuan, sasaran, atribut, dan
alternatif. Biasanya sebuah alternative direpresentasikan dalam GIS database. Masing-masing layer
mengandung nilai atribut. Nilai atribut inilah yang nantinya dimasukkan ke dalam alternative,
sehingga masing-masing alternative nantinya akan terhubung dengan tingkatan elemen yang
tertinggi yaitu tujan. Atribut inilah yang nantinya menghubungkan antara metode AHP dan prosedur
GIS.
2. Perbandingan atas Elemen Pengambilan Keputusan
Metode perbandingan berpasangan dirumuskan dalam tiga langkah. Langkah pertama yaitu
mengembangkan matriks perbandingan berpasangan dengan memasukkan nilai dalam skala 1
sampai 9. Hal ini dilakukan untuk memberikan nilai preferensi relative atas dua criteria. Tabel 4.1
menunjukkan tingkat intensitas kepentingan yang digunakan untuk matriks perbandingan
berpasangan.
Tabel 4.1
Tingkat Intensitas Kepentingan
Nilai
1
Keterangan
Kedua elemen sama pentingnya
3
Elemen yang satu sedikit lebih penting daripada elemen lainnya
5
7
Elemen yang satu lebih penting daripada elemen lainnya
Satu elemen jelas lebih mutlak penting daripada elemen lainnya
9
2, 4, 6, 8
Satu elemen mutlak penting daripada elemen lainnya
Nilai-nilai antara dua nilai pertimbangan yang berdekatan
Langkah kedua, bobot criteria dikomputasikan dengan cara: a) menjumlah nilai masing-masing
kolom pada matriks perbandingan berpasangan, b) membangi masing-masing eemen dalam matriks
dengan nilai total kolom (matriks yang dihasilkan disebut dengan matriks perbandingan berpasangan
normalisasi), dan c) mengkomputasikan rata-rata elemen pada masing-masing baris pada matriks
normalisasi yang dapat dilakukan dengan membagi jumlah skor normalisasi dengan masing-masing
baris dengan angka 3 (atau sebanyak jumlah criteria). Nilai rata-rata yang dihasilkan akan
63
memberikan sebuah estimasi bobot relative criteria yang diperbandingkan. Tabel 4.2 menunjukkan
kalkulasi dari masing-masing langkah untuk menentukan bobot criteria relative.
Tabel 9. Determining the Relative Criterion Weight (Malczewski, 1999)
Langkah ketiga, yaitu menentukan konsistensi perbandingan dengan mengestimasikan perbandingan
rasio. Hal ini membutuhkan beberapa langah sebagai berikut: a) menentukan weighted sum vector
dengan cara mengalikan bobot criteria pertama dengan kolom pertama matriks perbandingan
berpasangan, kemudian mengalikan bobot kedua dengan kolom kedua, bobot ketiga dengan kolom
ketiga, dan akhirnya menjumlahkan semua nilai pada baris yang sama, dan b) menentukan
konsistensi vector dengan cara membagi weighted sum vector dengan bobot criteria yang telah
ditetapkan sebelumnya. Tabel 4.3 menunjukkan dua tahap kalkulasi dari langkah ketiga untuk
menentukan konsistensi rasio.
Tabel 10. Penentuan Konsistensi Rasio (Malczewski, 1999)
Langkah terakhir yaitu dengan menentukan nilai rata-rata konsistensi vector yang disebut dengan
lambda (λ) and index konsistensi (CI). Nilai lamda (λ) merupakan ni;ai rata-rata dari konsistensi
vector. Kalkulasi CI tergantung pada pertimbangan bahwa lamda (λ) selalu lebih besar atau sama
dengan jumlah criteria dengan syarat (n) bernilai positif. Jika perbandingan berpasangan merupakan
matriks yang konsisten, lambda akan bernilai sama dengan jumlah criteria (λ = n). Oleh karena itu,
sebuah ukuran (λ = n) dipercaya sebagai nilai atas derajat ketidakkonsistenan. Ukuran tersebut dapat
dinormalisasi sebagai berikut
64
Selanjutnya, kita dapat mengkalkulasikan consistency ratio (CR), yang dijelaskan sebagai berikut:
Dimana RI adalah random index. Random index bergantung pada jumlah elemen yang
dikomparasikan. Rasio didapat dari pengukuran CR yang menunjukkan kinerja penilaian. Jika rasio
kurang dari 0.1 (CR < 0.10) menunjukkan sebuah tingkatan kekonsistenan atas perbandingan
berpasangan namun jika a reasonable level of consistency in the pair-wise comparison. Namun jika
rasio lebih dari 0.1 (CR ≥ 0.10) menunjukkan terjadinya penilaian yang tidak konsisten. Jika terjadi
ketidak konsistenan maka nilai asli dari matriks perbandingan berpasangan harus dipertimbangkan
ulang dan direvisi (Malczewski, 1999)
Nilai di atas menunjukkan Randim Indek (RI) untuk masing-masing ukuran matriks.
3. Pembentukan Peringkat Prioritas
Langkah terakhir dalam analisis pembobotan dengan menggunakan metode perbandingan
berpasangan adalah menggabungkan bobot relative masing-masing tingkatan yang didapat dari
langkah kedua. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan perkalian berurutan masing-masing matriks
pada masing-masing tingkatan hirarki. Berat gabungan yang didapatkan pada langkah kedua
menunjukkan skor alternative peringkat atau skor alternative keputusan yang digunakan untuk
membuat keputusan terhadap keseluruhan analisis. Total keseluruhan skor Ri atas alternative ke-i
merupakan total penjumlahan dari peringkat masing-masing tingkatan dan diformulasikan sebagai
berikut:
65
Dimana wk merupakan vector prioritas yang berhubungan dengan elemen ke-k pada struktur hirarki
criteria, Σ wk = 1; dan rik merupakan vector prioritas dari membandingkan alternative pada masingmasing criteria. Nilai Ri yang paling besar mengindikasikan alternative yang paling diinginkan.
Keseluruhan peringkat alternatf didapatkan dengan cara menggabungkan bobot atribut dengan
data. Jika data atribut dapat direpresentasikan dengan layer, maka metode AHP dapat digabungkan
dengan GIS. GIS memiliki kemampuan untuk mengolah atribut (map layer) data dan memasukkan
bobot AHP ke dalam layer sehingga dimungkinkan untuk memperoleh peringkat dalam GIS.
Referensi
J. Malczewski, GIS and Multicriteria Decision Analysis. Canada: John Wiley & Sons Inc., 1999.
J. Malczewski, "Integrating Multicriteria Analysis and Geogrphic Information System. The Ordered
Weighted Averaging (OWA) Approach," International Journal on Environmental Technology and
Management, vol. 6 (1/2), 2006.
T. L. Saaty, The Analytic Hierarchy Process. New York: McGraw-Hill, 1980
4.2.
Perspektif analisis keruangan dan Analisis interaksi keruangan
Konsep interaksi spasial
 Perpindahan manusia, barang dan informasi antar titik-titik (tempat-tempat) yang berlainan
 Interaksi terjadi untuk menjembatani jarak
 Efek-efek yang terjadi di titik-titik saat terjadinya interaksi antar pelaku kegiatan
 Fungsi interaksi untuk menjamin kelangsungan fungsi suatu fungsi keruangan
 Akibat adanya interaksi keruangan akan mendorong:
– Sistem keruangan lestari, termasuk spesialisasi antar wilayah yang berinteraksi
– Muncul pusat-pusat interkasi baru
– Terjadinya persebaran (difusi) baru dari barang dan manusia
Prasyarat terjadinya interaksi keruangan
 Adanya komplementaritas, yaitu saling melengkapi
– Dua lokasi atau lebih harus ada kebutuhan saling melengkapi atau komplementaritas,
yang didorong oleh permintaan dan penawaran
 Adanya transferabilitas
– Kemungkinan barang atau manusia dapat dipindahkan ke tempat lain, selain dibutuhkan
biaya dan waktu, juga harus diperhitungkan peraturan dan tata tertib pelaksanaannya
66
 Adanya intervening opportunity
– Terjadinya gangguan yang menghambat hubungan interaksi antar lokasi yang berbeda,
maka akan memunculkan keputusan untuk mencari lokasi yang lain
Model gravitasi
 Setiap lokasi mempunyai daya tarik tertentu yang menjadi preferensi pengambilan keputusan
tentang pilihan lokasi
 Daya tarik tergantung pada potensi yang terdapat pada suatu lokasi
 Adanya daya tarik mendorong berbagai kegiatan lain untuk berlokasi di dekat kegiatan yang
telah ada terlebih dahulu
 Model gravitasi digunakan untuk melihat kaitan potensi suatu lokasi dan besarnya wilayah
pengaruh dari potensi tersebut
 Daya tarik suatu lokasi (kota atau wilayah) dapat diukur dari jumlah penduduk, lapangan kerja,
total pendapatan, fasilitas pelayanan publik, dll
Rumus model gravitasi
Pi . Pj
Tij = k -------------------------dijb
Keterangan:
– Tij = jumlah trip antara kota i dengan kota j
– Pi = penduduk kota i
– Pj = penduduk kota j
– dij = jarak antara kota i dengan kota j
– b = cepatnya penurunan jumlah trip seiring dengan bertambahnya jarak, sering digunakan b = 2
– k = konstanta
Breaking point theory
 Interaksi antara kota besar dengan kota-kota kecil di sekitarnya memberikan pengaruh terhadap
pola keruangan
 Breaking point theory untuk menyajikan cara meramalkan garis perbatasan (pelayanan) yang
memisahkan wilayah-wilayah di sekitar dua kota yang berlainan besarnya
 Breaking point merupakan titik terluar suatu kota yang berkembang akibat adanya pengaruh
interaksi antara dua kota
 Breaking point dipengaruhi oleh jarak antar kota yang saling berinteraksi dan jumlah penduduk
pada masing-masing kota tersebut
Rumus breaking point theory
dij
BPj = --------------------1 + √ (Pi / Pj)
Keterangan:
– BPj
– dij
– Pi
– Pj
= breaking point (batas pengaruh) kota j
= jarak antara kota i dan kota j
= penduduk kota i
= penduduk kota j
67
Penentuan hierarki kota
 Membantu dalam penentuan fasilitas publik yang harus/perlu dibangun di masing-masing kota
 Penentuan fasilitas publik tidak hanya menyangkut jenis, tetapi juga kapasitas dan kualitas
pelayanan (low order – high order)
 Mengarahkan lokasi fasilitas publik agar lebih tepat dan lebih efisien
 Membentuk struktur ruang bersama dengan sistem transportasi yang menghubungkan antara
pusat dan hinterlandnya
Penetapan orde kota berdasarkan metode rank size rule
 Metode rank size rule untuk penentuan orde kota berdasarkan atas jumlah penduduk
 Metode perhitungan:
Pn = P1 x Rn -1
– Pn
= jumlah penduduk kota orde ke-n
– P1
= jumlah penduduk kota terbesar di wilayah tersebut (Orde I)
– Rn -1
= orde kota dengan pangkat -1 atau 1/Rn
Penetapan orde kota berdasarkan metode zipf
 Metode zipf untuk penentuan orde kota berdasarkan atas jumlah penduduk menurut tingkat
ranking perkotaan yang digunakan di wilayah tersebut
 Metode perhitungan:
Pn = P1 / nq
– Pn
= jumlah penduduk kota orde ke-n
– P1
= jumlah penduduk kota terbesar di wilayah tersebut (Orde I)
– n
= orde (ranking) kota tersebut
– q
= sebuah pangkat
4.3.
Analisis sistem pusat permukiman dan komposisi keruangan
TEORI PERKEMBANGAN KOTA
Seiring dengan perjalanan waktu, kota akan mengalami perkembangan sebagai akibat dari
pertambahan penduduk, perubahan sosial-ekonomi dan budayanya serta interaksinya dengan kotakota lain dan daerah sekitarnya. Secara fisik, perkembangan suatu kota dapat dicirikan dari
penduduknya yang semakin bertambah padat, bangunan-bangunan semakin rapat dan wilayah
tebangun terutama permukiman yang cenderung semakin luas, serta semakin lengkapnya fasilitas
kota yang mendukung kegiatan sosial dan ekonomi kota. Dinamika perkembangan kota pada
dasarnya adalah baik dan alamiah karena perkembangan tersebut merupakan ekspresi dari
masyarakat di dalam kota tersebut.
Pola penggunaan lahan kota sifatnya tidak statis, tergantung pada perkembangan dan
pertumbuhan kota. Penambahan dan pengurangan bangunan, pengubahan fungsi, pertambahan
jumlah penduduk, perubahan struktur penduduk, komposisi penduduk, tuntutan masyarakat, serta
perubahan nilai-nilai kehidupan, dan aspek-aspek kehidupan (politik, sosial, ekonomi dan budaya
68
teknologi, psikologi, religius) dari waktu ke waktu telah menjadikan kota menjadi dinamis dalam
artian selalu berubah dari waktu ke waktu demikian juga pola penggunaan lahannya. Secara garis
besar, kekuatan dinamis yang mempengaruhi struktur keruangan kota dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu:
1. Kekuatan-kekuatan centrifugal (centrifugal forces), kekuatan-kekuatan yang menyebabkan
terjadinya pergerakan dan fungís-fungsi perkotaan dari bagian dalam suatu kota menuju ke
bagian luarnya.
2. Kekuatan-kekuatan centripetal (centripetal forces), kekuatan-kekuatan yang menyebabkan
terjadinya pergerakan baik penduduk maupun fungsi-fungsi yang berasal dari bagian luar
menuju kebagian dalam daerah13 perkotaan.
Peripheral
Zones
Inner Zones
CITY
Inner Zones
CORE
Inner Zones
Inner Zones
Peripheral Zones
Gambar 38. Struktur Keruangan Kota Yang Dipengaruhi Oleh Kekuatan Sentripetal Dan Sentrifugal
Tabel 11. Kekuatan-Kekuatan Dinamis Yang Mempengaruhi Struktur Keruangan Kota (Model Charles Colby)
Centripetal
Movement
Pull Forces
(Place of Detination)
Push Forces
(Place of Origin)
Attractive Qualities of
Inner Zones :
 High access to rest of
city
 High access to other
central firm
 Prestige site
 Many
services
&
facilities, etc.
Unattractive
Qualities Peripheral
Zones :
 Low access to rest
of city
 Lack
of
many
services
 Lack
of
many
facilities
 Low
prestige
sites, etc.
69
Centrifugal
Movement
Pull Forces
(Place of Detination)
Push Forces
(Place of Origin)
Attractive Qualities of
Peripheral Zones :
 Pleasant environtment
 Plenty cheap land
 Access to axial and
circumferential
transport
 Less traffic congestion
 Free fromm pollution
Unattractive
Qualities
Inner
Zones :
 Congestion
 Expensive land
 Land shortage
 Prohibitive
regulation
 High taxes
 Pollution, etc.
Sumber : Yunus (1999)
Perkembangan kota dapat menyebabkan batas fisik kota berubah-ubah setiap saat sehingga
seringkali terlihat batas fisik kota telah berada jauh diluar batas administrasinya Mengacu pada
hubungan antara eksistensi batas fisik dan batas administrasi kota, terdapat tiga kemungkinan
hubungan yaitu :
1. Sebagian besar batas fisik kekotaan berada jauh di luar batas administrasi kota (Under
Bounded City)
2. Sebagian besar batas fisik kekotaan berada di dalam batas administrasi kota (Over Bounded
City)
3. Batas fisik kota koinsiden dengan batas administrasi (True Bounded City)
Under Bounded City
Over Bounded City
Batas Administrasi
Batas Administrasi
Batas Morfologi
Batas Morfologi
Rute Transportasi
Rute Transportasi
Sumber : Yunus, 2000
Gambar 39. Perkembangan Kota
Struktur Ruang kota ditinjau dari UU 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang
70
Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan prasarana dan sarana
yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis
memiliki hubungan fungsional (UU No. 26 Tahun 2007).
Gambar 40. Struktur Ruang Kota
Struktur Perkotaan Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008
Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
Gambar 41. Struktur Ruang Perkotaan
Sistem Pusat Pelayanan terdiri atas:

Pusat Kegiatan Nasional yang selanjutnya disebut PKN adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala internasional, nasional, atau beberapa provinsi.

Pusat Kegiatan Wilayah yang selanjutnya disebut PKW adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala provinsi atau beberapa kabupaten/kota.
71

Pusat Kegiatan Lokal yang selanjutnya disebut PKL adalah kawasan perkotaan yang
berfungsi untuk melayani kegiatan skala kabupaten/kota atau beberapa kecamatan.

Pusat Kegiatan Strategis Nasional yang selanjutnya disebut PKSN adalah kawasan perkotaan
yang ditetapkan untuk mendorong pengembangan kawasan perbatasan negara.
Struktur Ruang Perdesaan
Gambar 42. Struktur Ruang Perdesaan
Struktur Ruang Perdesaan meliputi:

Desa Pusat Pertumbuhan diarahkan dapat terkait dengan pusat-pusat desa disekitarnya dan
dapat memberikan efek menetes secara mikro bagi kawasan desa disekitarnya.

Selain Desa Pusat Pertumbuhan, untuk tetap menjaga keterkaitan antara kota dan desa
(urban-rural linkages) yang bersifat interdependensi/timbal balik dan saling membutuhkan,
dimana kawasan pertanian di pedesaan mengembangkan usaha budidaya (on farm) dan
produk olahan skala rumah tangga (off farm), sebaliknya kota menyediakan fasilitas untuk
berkembangnya usaha budidaya dan agribisnis seperti penyediaan sarana pertanian antara
lain: modal, teknologi, informasi, peralatan pertanian dan lain sebagainya. Keterkaitan
tersebut merupakan salah satu ciri dari ”AGROPOLITAN”.
Referensi:
1. Hadi Sabari Yunus, 1999. The Urban Land Use Change : The Case of the City of Yogyakarta,
Proceedings of Remote Sensing for Urban Study and Land Use Planning, Geography Faculty,
Gadjah Mada University, Yogyakarta.
2. Yunus,
Hadi
Sabari.
2000.
Struktur
Tata
Ruang
Kota.
Yogyakarta:
Pustaka
Pelajar.
3. Undang-undang No. 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
4. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata
Ruang Wilayah Nasional
72
4.4.
Aplikasi SIG untuk Analisis interaksi keruangan
Perencana memerlukan solusi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sementara juga
mengembangkan kemampuan untuk secara efektif memprediksi dan menanggapi masalah
perkotaan yang kronis dan fluktuatif di masa depan. Sebagian besar keberhasilan perencana dalam
memerangi masalah perkotaan yang kronis ditentukan oleh kemampuan mereka untuk
memanfaatkan alat yang efektif dan perencanaan sistem dukungan yang memungkinkan mereka
untuk membuat keputusan berdasarkan informasi . Hari ini, perencana memanfaatkan GIS di seluruh
dunia dalam berbagai aplikasi.
Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah sebuah sistem komputer yang memiliki kemampuan
untuk menangkap, mengumpulkan, menyimpan, mengambil, mengubah, menganalisis, dan
menampilkan data geospasial dari dunia nyata untuk tujuan tertentu (Chang, 2008;
Burrough et.al, 1998)Beberapa software SIG yang tersedia di pasar yaitu ArcGIS, GeoMedia,
MapInfo, ERDAS, IDRISI dan Autocad Map. Dari sekian banyak software, ArcGIS dari
Enviromental Systems Research Institute (ESRI) adalah yang paling populer (Dong, 2008).
Berikut ini beberapa aplikasi bagaimana GIS digunakan sebagai platform untuk membantu
perencana mencapai tujuan mereka dalam menciptakan masyarakat yang makmur dan
meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan sekaligus melindungi lingkungan dan
mempromosikan pembangunan ekonomi. GIS dapat menyediakan platform perencanaan yang
diperlukan untuk visualisasi, pemodelan, analisis, dan kolaborasi.
Analisis Kesesuaian Lahan SPBU
Analisis kesesuaian lahan merupakan proses dalam menentukan kesesuaian sebuah
penggunaan lahan untuk penggunaan yang telah ditentukan (Hopkins, 1977; Steiner, 2000).
Dengan kata lain, analisis kesesuaian merupakan proses untuk menentukan apakah lahan
tersebut sesuai untuk penggunaan khusus dan untuk menentukan tingkat kesesuaian.
Perkembangan dan dan kemampuan untuk mengoverlay peta digital membuat peta
kesesuaian lahan lebih cepat dan lebih mudah. Dikarenakan analisis kesesuaian lahan
melibatkan beberapa data set analisis, GIS dapat digunakan secara efektif dalam melihat
karakteristik lahan dan beberapa jumlah layer untuk masing-masing lokasi sehingga dapat
menyelesaikan permasalahan. GIS dapat memproses banyak sekali data dan memiliki fungsi
untuk menampilkan dan menghasilkan peta (Manlun, 2003).
73
Tujuan
Analisis kesesuaian lahan SPBU, menentukan lahan yang sesuai untuk lokasi SPBU dengan
sudut pandang pertimbangan kualitas lingkungan.
Kriteria
Kriteria yang digunakan untuk menentukan lokasi yang sesuai untuk SPBU, adalah sebagai
berikut.
Tabel 12. Kriteria dan Indikator dalam Penentuan Lokasi SPBU
Sasaran
Perlindungan tata air
dari kebocoran tangki
penyimpanan
dalam
tanah (UST)
perlindungan
area
sekitar dari bahaya
kebakaran dan ledakan
pemilihan tata
lahan yang tepat
guna
Kriteria
Air tanah
Garis pantai
Sungai
Sumur
Jarak terhadap permukiman
Jarak terhadap sekolah dan
rumah sakit
Jarak dari SUTT / SUTM
Ketersediaan lahan
Kelerengan lahan
Zonasi penggunaan lahan
pemilihan kemudahan
akses terkait aktivitas
keluar masuk menuju
tapak
Layanan
tanggap
darurat
Jarak terhadap persimpangan
Jarak terhadap jalan utama
Jarak terhadap jalur KA
Jarak terhadap Stasiun PMK
Jarak terhadap Rs
(Sumber: Aulia, 2011)
74
Indikator
Penyimpanan UST Min. 300 ft
dari air tanah
Min. 3.250 ft dari Garis pantai
Min. 500 ft dari sungai dan danau
Min. 250 ft dari sumur artesis
Min. 100 ft dari permukiman
Min. 500 ft dari sekolah dan
rumah sakit
Min. 150 ft dari SUTT/SUTM
Lahan
Kosong/peruntukan
perdagangan maupun industri
Max. 35% kelerengan
Terletak pada zona perdagangan
jasa dan/atau industri
Min. 250 ft dari persimpangan
Min. 40 ft. Dari jalan utama
Min. 820 ft dari jalur KA
Min. pada jarak
8 minutes
(driving time) dari PMK
Min. pada jarak
8 minutes
(driving time) dari Rs
Proses dan Hasil
Garis
pantai
perlindungan
Jalan utama
Jarak
terhadap
Sekolah dan RS
Kelerengan lahan
Jangkauan
layanan
tanggap darurat
Jarak aman terhadap
sungai
Penggunaan
lahan
Gambar 43. Tahapan Analisis Kesesuaian Lahan dan Gambaran Proses Overlay Data Layer
Gambar 36. menunjukkan proses analisis kesesuaian lahan yang terdiri dari empat tahap
yaitu rasterization, buffering, reclassification, dan overlay.Konversi dari data vector ke data
raster disbut dengan rastrisasi (rasterization) dam metode ini menggunakan algoritma
computer yang berbeda (Piwowar et.al, 1990). Dalam raster, penampang garis dirubah
menjaru sebuah penampang sel kotak yang disebut juga dengan pixel (seperti elemen
gambar). Setelah semua data dirasterisasi maka selanjutnya diberlakukan kriteria jarak
maksimum yang disebut juga dengan Euclidean Distance. Ukuran jarak tersebut berbeda
tergantung kriteria yang digunakan. Pada prinsipnya penerapan Euclidean distance tersebut
dilakukan dengan cara menarik garis lurus dari sel sumber ke sel lain sesuai spesifikasi
maksimum yang ditentukan (Chang, 2008). Setelah itu, semua data map layer siap untuk
direklasifikasikan. Tujuan dari reklasifikasi adalah untuk memberikan nilai untuk kelas pada
masing-masing data layer sehingga masing-masing layer memiliki ukuran yang sama dalam
menentukan lokasi yang paling sesuai (Tomlin, 1990).
75
Gambar 44. Hasil Analisis Kesesuaian Lahan SPBU (Aulia, 2012)
Gambar di atas menunjukkan hasil peta kesesuaian lahan SPBU. Berdasarkan kriteria yang
diinputkan pada masing-masing data map layer maka dapat diketahui bahwa sebagian besar
kota Surabaya memiliki kesesuaian tinggi untuk lokasi SPBU. Kawasan yang digaris bawahi
tidak sesuai khususnya adalah kawasan sempadan pantai, sempadan sungai, dan RTH.
Referensi
Aulia, Belinda, “Penataan SPBU berdasarkan Preferensi Pelaku dan Micro Zonasi Kegempaan”,
Penelitian BOPT, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Indonesia, 2012.
Aulia, Belinda, “Siting Suitability Analysis of Petrol Filling Station using GIS and Analytical Hierachy
Process: A Case Study of Surabaya Metropolitan”, Thesis, Civil Engineering Department: Universiti
Teknologi PETRONAS, Malaysia, 2011.
K. T. Chang, Introduction to Geographic Information System vol. Fourth Edition. Unites States:
McGrawHill, 2008.
P. A. Burrough and R. A. McDonnell, Principles of Geogrpahical Information System. New York:
University of Oxford, 1998.
J. Dong, "GIS and Location Theory Based Bioenergy Systems Planning," in Systems Design
Engineering. vol. Master of Applied Science Ontario, Canada: University of Waterloo, 2008.
L. D. Hopkins, "Methods for Generating Land Suitability Maps: a Comparative Evaluation," Journal for
American Institute of Planners, vol. 43, pp. 386-399, 1977.
76
F. Steiner and L. McSherry, "Land Suitability Analysis for The Upper Gila River Watershed," in
Landscape and Urban Planning. vol. 50, 2000, pp. 199-214.
Y. Manlun, "Suitability Analysis of Urban Green Space System Based on GIS," in Urban Planning and
Management. vol. Master of Science in Geo-Information Science and Earth Observation Enschede,
The Netherlands: International Institute for Geo-Information Science and Earth Observation, 2003.
J. M. Piwowar, E. F. LeDraw, and D.J.Dudycha, "Integration of Spatial Data in Vector and Raster
Formats in a Geographic Information System Environment," International Journal of Geographical
Information System, vol. 4, pp. 429-44, 1990.
C. D. Tomlin, Geographic Information Systems and Cartographic Modeling. Englewood Cliffs, NJ:
Prentice Hall, 1990.
77
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................................................................. 1
KERANGKA MATERI DIKTAT ............................................................................................................... 3
BAB 1. TEORI LOKASI DAN KEDUDUKANNYA DALAM PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA ................ 5
1.1.
Pengantar Teori Lokasi ....................................................................................................... 5
1.2.
Persoalan Lokasional dan Spasial........................................................................................ 5
1.3.
Implikasi Lokasi .................................................................................................................. 6
1.4.
Teori Lokasi ........................................................................................................................ 7
1.5.
Locational Analysis ............................................................................................................. 8
BAB 2. TEORI LOKASI KLASIK YANG MENJADI DASAR PERKEMBANGAN PENDEKATAN ANALISIS LOKASI
MUTAKHIR ...................................................................................................................................... 10
2.1.
Teori Von Thünen: Land Use Theory ................................................................................. 10
2.1.1.
Aspek Lokasi/Spasial ................................................................................................. 10
2.1.2.
Perkembangan Teori Lokasi ...................................................................................... 10
2.1.3.
Model Von Thunen ................................................................................................... 11
2.1.4.
Aplikasi Model Von Thunen ...................................................................................... 15
2.2.
Teori Weber : ndustrial Location Theory .......................................................................... 19
2.3.
Teori Lösch dan Christaller : Central Place Theory ........................................................... 22
2.4.
Teori Hotelling: Spatial Competition and Competitive Differentiation............................... 26
2.5.
Teori Alonso Faktor-faktor Dasar Lokasi ........................................................................... 28
BAB 3. PENDEKATAN DALAM ANALISIS LOKASI ................................................................................ 31
3.1.
Dasar-dasar dan Analisis lokasi kegiatan industri .............................................................. 31
3.2.
Dasar-dasar dan analisis lokasi kegiatan perdagangan (retail)........................................... 46
3.3.
Dasar-dasar dan analisis lokasi fasilitas............................................................................. 53
3.4.
Dasar-dasar dan analisis lokasi Permukiman..................................................................... 58
BAB 4.
TEKNIK ANALISIS YANG SESUAI UNTUK MENGKAJI ASPEK LOKASIONAL KOMPONEN
KEGIATAN WILAYAH DAN KOTA ....................................................................................................... 62
4.1.
Aplikasi Multicriteria Analysis untuk menentukan pemilihan lokasi .................................. 62
78
4.2.
Perspektif analisis keruangan dan Analisis interaksi keruangan ........................................ 66
4.3.
Analisis sistem pusat permukiman dan komposisi keruangan ........................................... 68
4.4.
Aplikasi SIG untuk Analisis interaksi keruangan ................................................................ 73
79
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Model Von Thunen dengan Satu Komoditas ................................................................... 13
Gambar 2. Model Von Thunen dengan Zero Rent Margin ................................................................ 13
Gambar 3. Aplikasi Zone Konsentrik Von Thunen ............................................................................. 14
Gambar 4. Pola Land Use pada Model Von Thunen.......................................................................... 16
Gambar 5. Urban bid-rent Curve ...................................................................................................... 16
Gambar 6. Fenomena Urban Sprawl ................................................................................................ 18
Gambar 7. Weber’s Triangle ............................................................................................................ 19
Gambar 8. Isotim ............................................................................................................................. 20
Gambar 9. Isodapane ...................................................................................................................... 21
Gambar 10. Ilustrasi Range dan Threshold ....................................................................................... 22
Gambar 11. Bentuk Heksagon dapat Mengisi Ruang secara Efisien .................................................. 23
Gambar 12. Konsep Heksagon Christraller yang Mendasari Teori Orde kota ................................... 24
Gambar 13. Keberagaman Fungsi di Metropolis yang Masing-masing memiliki Market Area............ 25
Gambar 14. Jaringan Kota yang Dibentuk oleh Ragam Fungsi (Aktivitas) yang berbeda .................... 26
Gambar 15. Locational Interdependence pada Inelastic Demand ..................................................... 27
Gambar 16 Locational Interdependence pada Elastic Demand......................................................... 27
Gambar 17. Bid Rent Curve.............................................................................................................. 29
Gambar 18. Variabel Lokasi Industri ................................................................................................ 32
Gambar 19. Kasus 1 Lokasi Alternatif ............................................................................................... 33
Gambar 20. Kasus 2 Lokasi Alternatif ............................................................................................... 33
Gambar 21. Kasus 3 Lokasi Alternatif ............................................................................................... 34
Gambar 22. Kasus 4 Lokasi ALternatif .............................................................................................. 34
Gambar 23. Kasus 5 Lokasi ALternatif .............................................................................................. 35
Gambar 24. Klasifikasi Industri Berdasarkan Lokasi .......................................................................... 35
Gambar 25. Porter’s Diamond ......................................................................................................... 38
Gambar 26. Madison County, Missouri Industry Clusters ................................................................. 40
Gambar 27. The California Wine Cluster .......................................................................................... 41
Gambar 28. Lokasi Persebaran Industri Prioritas di WPPI I,II,III ........................................................ 43
Gambar 29. Kerangka Keterkaitan Industri Pengolahan Kakao dan Coklat ........................................ 45
Gambar 30. Lokasi Pengembangan Industri Pengelolahan Kakao dan Coklat.................................... 45
Gambar 31. Format Retail ............................................................................................................... 47
Gambar 32. Pertimbangan untuk Mennetukan Lokasi Tapak ........................................................... 48
Gambar 33. Area Perdagangan ........................................................................................................ 49
80
Gambar 34. Klasifikasi Variabel Penilaian Lokasi (Themido et al, 1998) ............................................ 50
Gambar 35. Gravity Model .............................................................................................................. 51
Gambar 36. P-Median Model........................................................................................................... 54
Gambar 37. Multiple Criteria untuk Menjawab Satu Tujuan............................................................. 62
Gambar 38. Struktur Keruangan Kota Yang Dipengaruhi Oleh Kekuatan Sentripetal Dan Sentrifugal 69
Gambar 39. Perkembangan Kota ..................................................................................................... 70
Gambar 40. Struktur Ruang Kota ..................................................................................................... 71
Gambar 41. Struktur Ruang Perkotaan............................................................................................ 71
Gambar 42. Struktur Ruang Perdesaan ............................................................................................ 72
Gambar 43. Tahapan Analisis Kesesuaian Lahan dan Gambaran Proses Overlay Data Layer ............. 75
Gambar 44. Hasil Analisis Kesesuaian Lahan SPBU (Aulia, 2012)....................................................... 76
81
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Pembahasan Diktat Berdasarkan Kompetensinya ................................................................. 3
Tabel 2.Perubahan Kecenderungan Lokasi ......................................................................................... 8
Tabel 3. Pola Land Use Von Thunen ................................................................................................. 12
Tabel 4. Distance Matrix For The Network ....................................................................................... 55
Tabel 5. Cost (demand x distance) matrix for the network ............................................................... 56
Tabel 6. Heuristic Algorithm ............................................................................................................ 56
Tabel 7. Kesesuaian Penggunaan Lahan Berdasarkan Kemiringan Lereng ......................................... 60
Tabel 8. Ketentuan Kebutuhan Sarana Permukiman ........................................................................ 61
Tabel 9. Determining the Relative Criterion Weight (Malczewski, 1999)........................................... 64
Tabel 10. Penentuan Konsistensi Rasio (Malczewski, 1999).............................................................. 64
Tabel 11. Kekuatan-Kekuatan Dinamis Yang Mempengaruhi Struktur Keruangan Kota (Model Charles
Colby).............................................................................................................................................. 69
Tabel 12. Kriteria dan Indikator dalam Penentuan Lokasi SPBU........................................................ 74
82
Download