Uploaded by thoifatunnisa

23713 LAPORAN KASUS dic

advertisement
BAB I
LAPORAN KASUS
1. Identitas Pasien
Nama
: Ny. I
Jenis Kelamin
: Perempuan
Umur
: 56 Tahun 9 Bulan
Pekerjaan
: Petani
Pendidikan
: SD
Suku
: Jawa
Agama
: Islam
Alamat
: Sindangwangi
No Rekam Medis
: 1024797
Tanggal Masuk RS
: 26 Juli 2019 (pukul 14.16 WIB)
Tanggal Keluar RS
: 3 Mei 2019
II. Identitas Keluarga
Nama
: Tn. K
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Umur
: 40 tahun
Pekerjaan
: Petani
Pendidikan
: SD
Suku
: Jawa
Agama
: Islam
Alamat
: Sindangwangi
Hubungan dengan pasien : Suami pasien
1
ANAMNESA
Keluhan Utama
Mual Muntah sejak 3 hari SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang
Seorang pasien rujukan dari puskesmas kramat datang ke IGD
RSUD Arjawinangun dengan keluhan mual muntah setiap makan dan
minum sejak 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Selain mual muntah,
pasien juga mengaku juga mengalami demam naik turun disertai seluruh
badannya terasa sakit sejak 3 hari SMRS. Sebelumnya pasien mengeluh
sakit kepala seperti cekot-cekot sejak 1 tahun hilang timbul dan memberat
dalam 1 minggu ini. Selain sakit kepala, pasien mengeluh batuk, nyeri
dada , nyesek dan sesak nafas sejak 2 minggu SMRS. Batuk yang
dirasakan pasien berdahak warna putih namun dalam 3 hari susah keluar.
Pasien mengeluh sakit perut pada semua bagian perutnya, pada kedua
telapak tangan dan kedua kakinya terasa baal dan kesemutan. BAK normal
BAB sulit keluar sejak 3 hari.
Setelah dari IGD pasien di rawat di bangsal dan mengeluh keluar
darah dari mulutnya, darah tersebut berasal dari perdarahan gusi.
Keesokan harinya terdapat bercak kemerahan seperti lebam pada tangan
yang terkena jarum suntik dan bekas infus awalnya sedikit menjadi banyak
dan meluas.
Pasien mengaku mempunyai riwayat perdarahan pada saat
menggunakan alat kontrasepsi IUD sebelumnya saat masih muda. Pasien
mempunyai riwayat BAK seperti teh 3 bulan yang lalu.
RIWAYAT PENYAKIT DAHULU :
-
Riwayat Gastritis sejak 3 tahun yang lalu.
-
Riwayat Hipertensi disangkal.
-
Riwayat Diabetes Melitus sejak 2 tahun yang lalu.
2
RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA:
-
Riwayat sakit seperti ini dalam keluarga disangkal
-
Riwayat Hipertensi dalam keluarga disangkal
-
Riwayat Diabetes Melitus dalam keluarga disangkal
RIWAYAT PENGOBATAN:
-
Pasien kontrol rutin untuk mengobati diabetes mellitus ke puskesmas
atau rumah sakit.
RIWAYAT PENYAKIT ALERGI:
-
Riwayat alergi terhadap makanan, obat-obatan, debu dan cuaca
disangkal oleh pasien
A. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran
: Compos Mentis
BB
: 60 kg
TB
: 160 cm
Status Gizi
: Baik
Tanda Vital
Tekanan Darah
: 140/90 mmHg
Nadi
: 90 x / menit
Respiratory Rate : 24 x/menit
Suhu
: 37,8 0C
Kepala dan Leher :
Kepala
: Normocephal
Mata
: Konjungtiva anemis (-/-), sclera ikterik (+/+)
Hidung
: Sekret (-), epistaksis (-/-), septum deviasi (-),
pernapasan cuping hidung (-)
Telinga
: Bentuk normotia, secret (-)
Mulut
: Trismus (-) , bibir lembab (+), gusi berdarah (-)
3
Leher
: Kuduk kaku (-), pembesaran KGB (-),
peningkatan JVP (-) purpura fulminant (+)
Thoraks
- Bentuk normochest,
- Pernapasan thorakal abdominal,
Paru :
-
Inspeksi
: Bentuk dada normal, pergerakan dinding dada
simetris, retraksi sela iga (-)
-
Palpasi
: Vocal fremitus sama pada kedua lapang paru
-
Perkusi
: Sonor pada kedua lapang paru
-
Auskultasi : Vesikuler di kedua lapang paru, ronchi (-/-),
wheezing (-/-)
Jantung :
-
Inspeksi
: Ictus Cordis terlihat di ICS V linea mid
clavicula sinistra
-
Palpasi
: Teraba ictus cordis di ICS V linea mid clavicula
sinistra
-
Perkusi : Batas jantung kanan di ICS Vl linea parasternal
dextra
Batas jantung kiri di ICS Vl linea mid
clavicula sinistra
-
Auskultasi : Bunyi Jantung I dan II regular, murmur (-),
gallop (-)
Abdomen
- Inspeksi
: Abdomen bucit.
- Palpasi
: Perut papan (-), nyeri epigastrium (+) , turgor baik,
hepar dan lien tidak teraba pembesaran
- Perkusi
: Timpani pada ke-empat kuadran abdomen
- Auskultasi
: Bising usus normal
4
Ekstremitas
- Superior
: Akral hangat, CRT < 2 detik, Edema (-), sianosis
(-) Purpura fulminant (+)
- Inferior
: Akral hangat, CRT < 2 detik, Edema (-), sianosis
(-)
STATUS NEUROLOGIK
Kesadaran : Compos Mentis
GCS
: E4M6V5 (15)
RANGSANG MENINGEAL
Kaku Kuduk
: (-)
Laseuge, Kernig : (-)
Bruinski I/II/II : (-)
SARAF CRANIAL
N.I (OLFAKTORIUS)
Daya Pembau : tidak dilakukan
N.II (OPTIKUS )
Daya Penglihatan
KANAN
:
KIRI
+
+
Pengenalan Warna : tidak dilakukan
Lapang pandang
: baik
N.III (OKULOMOTORIUS)
Ptosis
:
Gerakan Mata
: baik
Ukuran pupil
:
Refleks cahaya direct
: (+/+)
KANAN
-
3 mm
KIRI
-
3 mm
5
Refleks cahaya indirect
: (+/+)
N.IV (TROKHLEARIS)
KANAN
KIRI
+
+
Gerakan mata ke medial bawah :
Diplopia
:
N.V (TRIGEMINUS)
Refleks maseter
tidak ada
KANAN
KIRI
:
(+)
(+)
Refleks zigomatikum :
(+)
(+)
N.VI (ABDUSEN)
KANAN
KIRI
(+)
(+)
tidak ada
tidak ada
N.VII (FASIALIS)
KANAN
KIRI
Lipatan naso-labial
: simetris
Sudut mulut
: simetris
Menutup mata
: baik dan simetris
Meringis
: simetris
Gerakan mata ke lateral :
Diplopia
:
Daya kecap lidah 2/3 depan : Tidak dilakukan
N.VIII(VESTIBULOCHOCLEARIS)
KANAN
Tes rinne
: tidak dilakukan
Tes weber
: tidak dilakukan
Tes Schawabach
: tidak dilakukan
KIRI
NIX (GLOSOFARINGEUS)
Arkus farings
: Tidak dilakukan
Arkus faring saat bergerak
: Tidak dilakukan
Daya kecap lidah 1/3 belakang : Tidak dilakukan
6
Reflex muntah
: Tidak dilakukan
N.X(VAGUS)
Menelan
:
(+)
N.XI (ASESORIUS)
Mengangkat Bahu
KANAN
:
KIRI
(+)
(+)
N.XII(HIPOGLOSUS)
Sikap lidah
: ditengah
Atropi otot lidah
: (-)
MOTORIK
Kekuatan
:
5
5
5
5
SENSORIK
Nyeri : Ekstremitas Atas
: kanan – kiri sama
Ekstremitas Bawah : kanan – kiri sama
Raba : Ekstremitas Atas
: kanan – kiri sama
Ekstremitas Bawah : kanan – kiri sama
Suhu : Ekstremitas Atas
: tidak dilakukan
Ekstremitas Bawah : tidak dilakukan
REFLEKS FISIOLOGIS
Refleks bisep
: ++/++
Refleks trisep
: ++/++
Refleks patella
: ++/++
Refleks Achilles
: ++/++
B. PEMERIKSAAN PENUNJANG
7
Laboratorium Tanggal 26-04-2019 pukul 14.21 WIB
Pemeriksaan
Hasil
Nilai rujuk
HB
15.2
13.2-15.5
Leukosit
5.8
3.6 -11
Trombosit
84
150-440
Hematokrit
42.5
35-47
Eritrosit
4.96
3.8-5.2
MCV
85.6
80-100
MCH
30.5
26-34
MCHC
35.7
32-36
RDW
10.4
11.5-14.5
MPV
10.2
7.0-11.0
HITUNG JENIS
Segmen
79.2
28-78
Limfosit
8.6
25-40
Monosit
10.7
2-8
Eosinofil
0.2
2-4
Basofil
1.2
0-1
KIMIA KLINIK
Ureum
13.1
10-50
Creatinin
0.46
0.45-0.75
Glukosa sewaktu
272
75-140
Laboratorium Tanggal 27-04-2019 pukul 07.29 WIB
Pemeriksaan
Hasil
Nilai rujuk
HB
16.2
13.2-15.5
Leukosit
4.9
3.6-11
Trombosit
30
150-440
Hematokrit
47.8
35-47
Eritrosit
5.46
3.8-5.2
MCV
87.6
80-100
8
MCH
29.7
26-34
MCHC
33.9
32-36
RDW
10.8
11.5-14.5
MPV
13.0
7.0-11.0
HITUNG JENIS
Segmen
77.7
28-78
Limfosit
11.0
25-40
Monosit
10.0
2-8
Eosinofil
0.2
2-4
Basofil
1.2
0-1
KIMIA KLINIK
Glukosa Puasa
258
75-110
Glukosa 2 Jam PP
240
<141
Laboratorium Tanggal 27-04-2019 pukul 16.53 WIB
Pemeriksaan
Hasil
Nilai rujuk
HB
15.4
13.2-15.5
Leukosit
9.0
3.6 -11
Trombosit
62
150-440
Hematokrit
40.3
35-47
Eritrosit
4.86
3.8-5.2
MCV
83.0
80-100
MCH
31.8
26-34
MCHC
38.3
32-36
RDW
10.5
11.5-14.5
MPV
8.9
7.0-11.0
HITUNG JENIS
Segmen
58.6
28-78
Limfosit
13.7
25-40
Monosit
26.9
2-8
Eosinofil
0.2
2-4
9
Basofil
0.6
0-1
KIMIA KLINIK
Glukosa Sewaktu
298
75-140
Elektrokardiografi
Kesan = normal sinus Rhythm, normal ECG
Resume
Seorang pasien rujukan dari puskesmas kramat datang ke IGD
RSUD Arjawinangun dengan keluhan mual muntah setiap makan dan
minum sejak 3 hari sebelum masuk Rumah Sakit. Pasien juga mengaku
juga mengalami demam naik turun.
Setelah dari IGD pasien di rawat di bangsal dan mengeluh keluar
darah dari mulutnya, darah tersebut berasal dari perdarahan gusi.
Keesokan harinya terdapat bercak kemerahan seperti lebam pada tangan
yang terkena jarum suntik dan bekas infus awalnya sedikit menjadi banyak
dan meluas.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan tekanan darah mmHg, nadi 90
x / menit, nafas 24 x/menit, suhu 37,8 0C. Pada leher dan ekstremitas
superior pasien terdapat purpura fulminan.
Diagnosis
Trombositopenia ec DIC
10
I.
RENCANA TERAPI
-
IVFD NaCl 500 cc/12 jam
-
OMZ 1x 4 mg
-
Kalnex
-
Vitamin K
-
PCT 3x1 gr
-
Ketokonazole 1x 200 mg
-
Betamethoson cream + Miconazole cream
-
Cetirizine 2x 10 mg
II.
PROGNOSIS
Quo ad vitam
: Dubia ad bonam
Quo ad functionam
: Dubia ad bonam
Quo ad sanationam
: Dubia ad malam
III. FOLLOW UP
Tanggal
Keluhan
Pemeriksaan
Demam (+) 3 hari seluruh
TD : 140/80
badan sakit (+)
N
Terapi
Bulam
Tahun
26/07/2019
IGD
Mual
: 108 x/menit
(+)
SPO2 : 99 %
Muntah (+) isi makanan
RR : 24 x/menit S
: 37.0 C
27/07/2019
Demam (+)
TD : 150/90
Nyeri perut (+)
N
Gatal-Gatal di perut
SPO2 : 97%
sampai pantat (+) Batuk
RR : 22 x/menit S
: 113 x/menit
11
(+)
: 39.0 C
Nyeri dada (+)
Sesek (+)
Mual (+)
Muntah (+)
Kesemutan dan baal (+)
telapak tangan dan kaki
Keluar darah dari gusi (+)
BAB (+) susah
BAK (+) Dalam batas
normal
29/07/2019
Demam (-)
Nyeri perut (+)
Gatal-Gatal di leher, perut
sampai pantat (+)
Batuk (+)
Sesak (+)
Nyeri dada (+)
Mual (+)
Muntah (+) setiap makan
dan minum
Kesemutan dan baal (+)
telapak tangan dan kaki
Lebam pada daerah bekas
suntikan (+)
TD : 130/90
N : 102 x/menit
SPO2 : 99%
RR : 25 x/menit
S : 37.0 C
Sklera : +/+
OMZ 2X1
Ondansentron
3X1
Neurobion 1X1
drip
PCT 3X1
Metil
prednisone 125
extra
Glikoidon 2X3
Mecobalamin
3x1
30/07/2019
Demam (-)
Nyeri perut (+)
Gatal-Gatal di leher, perut
sampai pantat (+)
Batuk (+)
Sesak (+)
Nyeri dada (+)
Mual (+)
Muntah (+) setiap makan
dan minum
Kesemutan dan baal (+)
telapak tangan dan kaki
Lebam pada daerah bekas
suntikan (+)
Gusi berdarah (-)
TD : 180/100
N : 98 x/menit
SPO2 : 90%
RR : 40 x/menit
S : 37.0 C
Sklera : +/+
Nacl 12 ttm
Terapi lanjut
12
Nafsu makan (+)
BAK (+) Normal
BAB (-)
1/8/2019
2/08/2019
Demam (-)
Nyeri perut (+)
Gatal-Gatal di leher, perut
sampai pantat (+)
Batuk (+)
Sesak (+)
Nyeri dada (+) jika
bernafas
Mual (-)
Muntah (-) setiap makan
dan minum
Kesemutan dan baal (+)
telapak tangan dan kaki
Lebam pada daerah bekas
suntikan (+)
Gusi berdarah (+)
BAB (-)
TD : 130/90
N : 111 x/menit
SPO2 : 99 %
RR : 22 x/menit
S : 37.5 C
Demam (-)
Nyeri perut (+)
Gatal-Gatal di leher, perut
sampai pantat (+)
Batuk (+)
Sesak (+)
Nyeri dada (+) jika
bernafas
Mual (-)
Muntah (-) setiap makan
dan minum
Kesemutan dan baal (+)
telapak tangan dan kaki
Lebam pada daerah bekas
suntikan (+)
Gusi berdarah (+)
BAB (-)
Sakit kepala (+)
Keringat malam (+)
Menggigil (+)
Demam (-)
TD : 130/90
N : 89 x/menit
SPO2 : 99 %
RR : 22 x/menit
S : 36.3 C
Sklera : +/+
Ronkhi : -/+
VBS : +/+
Whezing: -/-
Sklera : +/+
Ronkhi : -/VBS : +/+
Whezing: -/-
13
Kentut (-)
BAK : Normal
3/08/2019
Demam (+)
TD : 140/80
Nyeri perut (+) semua
N : 100 x/menit
kuadran
SPO2 : 98%
Gatal-Gatal di perut
RR : 20 x/menit
sampai pantat (-)
Batuk (+) berkurang
Nyeri dada (+)
Sesek (+)
S : 36.7 C
SI +/+
NTE (+)
Mual (+)
Muntah (+)
Kesemutan dan baal (+)
telapak tangan dan kaki
Keluar darah dari gusi (+)
BAB (+)
Kentut (+)
BAK (+) Dalam batas
normal
Menggigil (+)
14
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi Tetanus
Tetanus merupakan penyakit
toksemia akut yang disebabkan oleh
eksotoksin (tetanospasmin) bakteri Clostridium tetani. Bakteri gram positif ini
berbentuk batang anaerob, sporanya dapat bertahan di tanah dan menginfeksi
luka yang terkontaminasi.1
2.2 Etiologi Tetanus
C. tetani adalah bakteri Gram positif anaerob yang ditemukan di tanah
dan kotoran binatang.3 Bakteri ini berbentuk batang dan memproduksi spora,
memberikan gambaran klasik seperti stik drum, meski tidak selalu terlihat.
Spora ini bisa tahan beberapa bulan bahkan beberapa tahun. C. tetani
merupakan bakteri yang motil karena memiliki flagella, dimana menurut
antigen flagellanya, dibagi menjadi 11 strain dan memproduksi neurotoksin
yang sama. Spora yang diproduksi oleh bakteri ini tahan terhadap banyak agen
desinfektan baik agen fisik maupun agen kimia. Spora C. tetani dapat bertahan
dari air mendidih selama beberapa menit (meski hancur dengan autoclave pada
suhu 121° C selama 15-20 menit). Jika bakteri ini menginfeksi luka seseorang
atau bersamaan dengan benda lain, bakteri ini akan memasuki tubuh penderita
tersebut, lalu mengeluarkan toksin yang bernama tetanospasmin. 3
15
Gambar 1. Clostridium tetani, dengan bentukan khas “drumstick” pada
bagian bakteri yang berbentuk bulat tersebut spora dari Clostridium
tetani dibentuk. (dengan pembesaran mikroskop 3000x).
Spora atau bakteri masuk ke dalam tubuh melalui luka terbuka. Ketika
menempati tempat yang cocok (anaerob) bakteri akan berkembang dan
melepaskan toksin tetanus. Dengan konsentrasi sangat rendah, toksin ini dapat
mengakibatkan penyakit tetanus (dosis letal minimum adalah 2,5 ng/kg).3
2.3 Epidemiologi Tetanus
Pada negara berkembang, penyakit tetanus masih merupakan masalah
kesehatan publik yang sangat besar.3 Dilaporkan terdapat 1 juta kasus per tahun
di seluruh dunia, dengan angka kejadian 18/100.000 penduduk per tahun serta
angka kematian 300.000-500.000 per tahun.2
Di Indonesia, berdasarkan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT),
jumlah kasus tetanus neonatorum sebanyak 141 kasus pada tahun 2007, turun
menjadi 114 kasus pada tahun 2011 dengan case fatality rate (CFR) 60,5%.5
Profil Kesehatan Indonesia 2012 menunjukkan kenaikan kasus tetanus
neonatorum menjadi 119 kasus, namun jumlah pasien meninggal turun menjadi
59 kasus dengan CFR 49,6%.6
Mortalitas dari penyakit tetanus melebihi 50 % di negara berkembang,
dengan penyebab kematian terbanyak karena mengalami kegagalan pernapasan
akut. Angka mortalitas menurun karena perbaikan sarana intensif (ICU dan
ventilator), membuktikan bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan oleh ahli
sangat berguna dalam efektivitas penanganan penyakit tetanus.8
Penyebab kematian pasien tetanus terbanyak adalah masalah semakin
buruknya sistem kardiovaskuler paska tetanus ( 40%), pneumonia (15%), dan
kegagalan pernapasan akut (45%).Health Care Associated Pneumonia (HCAP)
dalam beberapa penelitian dihubungkan dengan posisi saat berbaring. Tetapi,
penelitian terbaru oleh Huynh et al (2011), posisi semi terlentang atau
terlentang tidak memberi perbedaan yang bermakna terhadap terjadinya
pneumonia pada pasien tetanus. Angka mortalitas penyakit tetanus di negara
maju cukup tinggi bagi kelompok yang mempunyai risiko tinggi terhadap
16
kematian akibat penyakit ini. Infark miokard menjadi konsekuensi dari
disfungsi saraf otonom dan berperan besar terhadap angka mortalitas penyakit
tetanus di populasi usia lanjut.8
2.4 Patogenesis
Clostridium tetani dalam bentuk spora masuk ke tubuh melalui luka yang
terkontaminasi dengan debu, tanah, tinja binatang, pupuk.3 Cara masuknya
spora ini melalui luka yang terkontaminasi antara lain luka tusuk oleh besi, luka
bakar, luka lecet, otitis media, infeksi gigi, ulkus kulit yang kronis, abortus, tali
pusat, kadang–kadang luka tersebut hampir tak terlihat.8
Bila keadaan menguntungkan di mana tempat luka tersebut menjadi
hipaerob sampai anaerob disertai terdapatnya jaringan nekrotis, leukosit yang
mati, benda–benda asing maka spora berubah menjadi vegetatif yang kemudian
berkembang.3 Kuman ini tidak invasif. Bila dinding sel kuman lisis maka
dilepaskan eksotoksin, yaitu tetanospasmin dan tetanolisin. Tetanolisin, tidak
berhubungan dengan pathogenesis penyakit. Tetanospasmin, atau secara umum
disebut toksin tetanus, adalah neurotoksin yang mengakibatkan manifestasi dari
penyakit tersebut.3
Tetanospasmin masuk ke susunan saraf pusat melalui otot dimana
terdapat suasana anaerobik yang memungkinkan Clostridium tetani untuk hidup
dan
memproduksi toksin. Toksin tersebut akan menghambat pelepasan
neurotransmitter inhibisi dan secara efektif menghambat inhibisi sinyal
interneuron. Toksin tetanus adalah metalloproteinase yang bergantung pada
zinc yang menargetkan protein (protein membran terkait synaptobrevin /
vesikel — VAMP) yang diperlukan untuk pelepasan neurotransmitter dari
ujung saraf melalui fusi vesikel sinaptik dengan membran plasma neuronal. 1
Namun, khususnya toksin tersebut menghambat pengeluaran Gamma
Amino Butyric Acid (GABA) yang spesifik menginhibisi neuron motorik. Pada
neuron motorik ini, toksin diangkut melintasi sinapsis dan diambil oleh ujung
saraf neuron penghambat GABAergik dan / atau glikinergik yang mengontrol
aktivitas neuron motorik bawah. Begitu masuk ke dalam terminal saraf
penghambat, toksin tetanus memotong VAMP, sehingga menghambat
17
pelepasan GABA dan glisin. Namun, tidak seperti toksin botulinum, toksin
tetanus mengalami transpor retrograde yang luas di akson neuron motorik
bawah dan dengan demikian dapat mencapai sumsum tulang belakang atau
batang otak. Hal tersebut akan mengakibatkan aktivitas tidak teregulasi dari
sistem saraf motorik.1
Tetanospamin juga mempengaruhi sistem saraf simpatis pada kasus yang
berat, sehingga terjadi overaktivitas simpatis berupa hipertensi yang labil,
takikardi, keringat yang berlebihan dan meningkatnya ekskresi katekolamin
dalam urin. Hal ini dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskuler.
Tetanospamin yang terikat pada jaringan saraf sudah tidak dapat dinetralisir
lagi oleh antitoksin tetanus.1
Gambar 2. Patofisiologi tetanus9
2.5 GambaranKlinis Tetanus
Secara klinis tetanus ada 4 macam, yaitu tetanus umum, tetanus local,
cephalic tetanus, dan tetanus neonatal. Tergantung pada jenisnya yaituitu lokal /
18
sefalika atau generalisasi / neonatal, tetanus biasanya bermanifestasi sebagai
trismus / lockjaw, risus sardonicus, disfagia, kekakuan leher, kekakuan perut, dan
opistotonus, mis., Hiperaktifitas otot-otot kepala, leher, dan badan. 1
2.5.1 Tetanus Umum
Bentuk ini merupakan gambaran tetanus yang paling sering dijumpai.
Terjadinya bentuk ini berhubungan dengan jalan masuk kuman. Biasanya
dimulai dengan trismus dan risus sardonikus, lalu berproses ke spasme umum
dan opistotonus.8
Dalam 24 – 48 jam dari kekakuan otot menjadi menyeluruh sampai ke
ekstremitas. Kekakuan otot rahang terutama masseter menyebabkan mulut
sukar dibuka, sehingga penyakit ini juga disebut lock jaw. Selain kekakuan otot
masseter, pada muka juga terjadi kekakuan otot muka sehingga muka
menyerupai muka meringis kesakitan yang disebut risus sardonikus (alis
tertarik ke atas, sudut mulut tertarik ke luar dan ke bawah, bibir tertekan kuat
pada gigi), akibat kekakuan otot–otot leher bagian belakang menyebabkan nyeri
waktu melakukan fleksi leher dan tubuh sehingga memberikan gejala kuduk
kaku sampai opisthotonus.1,8
Selain kekakuan otot yang luas biasanya diikuti kejang umum tonik baik
secara spontan maupun hanya dengan rangsangan minimal (rabaan, sinar dan
bunyi). Kejang menyebabkan lengan fleksi dan adduksi serta tangan mengepal
kuat dan kaki dalam posisi ekstensi.8
Kesadaran penderita tetap baik walaupun nyeri yang hebat serta
ketakutan yang menonjol sehingga penderita nampak gelisah dan mudah
terangsang. Spasme otot–otot laring dan otot pernapasan dapat menyebabkan
gangguan menelan, asfiksia dan sianosis.Retensi urine sering terjadi karena
spasme sfincter kandung kemih.8
Disfungsi otonom dengan episode takikardia, hipertensi, dan berkeringat,
kadang-kadang berganti dengan bradikardia dan hipotensi, keadaan ini sering
terjadi terutama pada tetanus umum. Gejala-gejala tersebut dikaitkan dengan
peningkatan dramatis dalam sirkulasi adrenalin dan noradrenalin, yang dapat
19
menyebabkan nekrosis miokard. Gejala otonom cenderung terjadi seminggu
setelah terjadinya gejala motorik.
1
Saraf sensorik juga dapat diserang oleh toksin tetanus, menyebabkan
sensasi yang berubah, seperti rasa sakit dan allodynia. Tidak jelas di mana efek
ini terjadi, karena bukti eksperimental menunjukkan bahwa toksin tidak dapat
melewati ganglia sensorik tulang belakang. Oleh karena itu, efek sensorik toksin
harus dari perifer. Namun, pelepasan neurotransmiter vesikular dari neuron
sensorik terjadi secara terpusat, di sumsum tulang belakang atau batang otak.
Paradoks ini mungkin mencerminkan fakta bahwa sensasi yang berubah pada
tetanus sebagian besar terlihat di daerah kepala yaitu, di area saraf trigeminal
(tengkorak), ganglion yang mungkin berbeda dari tulang belakang. saraf sensorik
sehubungan dengan transportasi akson toksin tetanus. Tidak diketahui apakah
toksin tetanus yang berada di batang otak menyebar ke struktur yang terlibat
dalam fungsi yang lebih tinggi, seperti pengaturan kognisi dan suasana hati.
Gejala seperti itu jarang dilaporkan.1
2.5.2 Tetanus Lokal
Bentuk ini sebenarnya banyak akan tetapi kurang dipertimbangkan
karena gambaran klinis tidak khas. Bentuk tetanus ini berupa nyeri, kekakuan
otot–otot pada bagian proksimal dari tempat luka. Tetanus lokal adalah bentuk
ringan dengan angka kematian 1%, kadang–kadang bentuk ini dapat
berkembang menjadi tetanus umum.8
2.5.3 Cephalic Tetanus
Merupakan salah satu varian tetanus lokal. Terjadinya bentuk ini bila luka
mengenai daerah mata, kulit kepala, muka, telinga, otitis media kronis dan jarang
akibat tonsilektomi. Gejala berupa disfungsi saraf kranial antara lain n. III, IV,
VII, IX, X, XI, dapat berupa gangguan sendiri–sendiri maupun kombinasi dan
menetap dalam beberapa hari bahkan berbulan–bulan. Cephalic Tetanus dapat
berkembang menjadi tetanus umum. Pada umumnya prognosis bentuk cephalic
tetanus jelek.1,8
2.5.4 Tetanus Neonatal
Tetanus neonatal didefinisikan sebagai suatu penyakit yang terjadi pada
20
anak yang memiliki kemampuan normal untuk menyusu dan menangis pada 2
hari pertama kehidupannya, tetapi kehilangan kemampuan ini antara hari ke-3
sampai hari ke-28 serta menjadi kaku dan spasme. Tetanus neonatal, biasa
terjadi karena proses melahirkan yang tidak bersih. Gejala klinisnya biasa
terjadi pada minggu kedua kehidupan, ditandai dengan kelemahan dan
ketidakmampuan menyusu, kadang disertai opistotonus.1
2.6 Diagnosis Tetanus
Diagnosis tetanus sudah cukup kuat hanya dengan berdasarkan
anamnesis serta pemeriksaan fisik. Pemeriksaan kultur C. tetani pada luka,
hanya merupakan penunjang diagnosis. Adanya trismus, atau risus sardonikus
atau spasme otot yang nyeri serta biasanya didahului oleh riwayat trauma sudah
cukup untuk menegakkan diagnosis.4
2.7 Tatalaksana
1. Umum
Pasien sebaiknya ditempatkan di ruang perawatan tersendiri yang sunyi
dan dihindarkan dari stimulasi taktil ataupun auditorik. Luka dibersihkan dan
dirawat sesuai indikasi. 4
2. Imunoterapi
Berikan antitoksin human
tetanus
immunoglobulin (TIG) 500 U
secara intramuscular atau intravena bergantung pada ketersediaan sediaan.4
Berikan selanjutnya vaksin Toxoid tetanus (TT) 0.5cc secara intramuscular
dan di lokasi penyuntikan yang berbeda.4 Pasien yang tidak memiliki riwayat
atau tidak jelas sudah diberikan vaksin primer sebelumnya, sebaiknya
mendapatkan dosis kedua dengan jarak 1-2 bulan dari dosis sebelumnya, dan
dosis ketiga pada 6-12 bulan kemudian.4
Bila human TIG tidak tersedia, dapat digunakan ATS dengan dosis
100.000-200.000 unit, diberikan 50.000 unit intravena dan 50.000 unit IM.
Antitoksin diberikan untuk menginaktivasi toksin tetanus bebas, sedangkan
toksin yang sudah berada di saraf terminal tidak dapat ditangani dengan
antitoksin. Oleh karena itu, gejala otot dapat tetap berkembang karena toksin
tetanus berjalan melalui akson dan trans-sinaps serta memecah VAMP.9
21
3. Antibiotik
Metronidazol lebih direkomendasikan (500 mg setiap enam jam
intravena atau per-oral); Penisilin G (100.000–200.000 IU / kg / hari
intravena, diberikan dalam 2-4 dosis terbagi). Tetrasiklin, makrolida,
klindamisin, sefalosporin, dan kloramfenikol juga masih efektif untuk
diberikan.4
4. Kontrol Spasme Otot
Golongan benzodiazepin menjadi pilihan utama. Diazepam intravena
dengan dosis mulai dari 5 mg atau lorazepam dengan dosis mulai dari 2 mg
dapat dititrasi hingga tercapai kontrol spasme tanpa sedasi dan hipoventilasi
berlebihan. (untuk anak-anak, dimulai dengn dosis 0.1–0.2 mg/kg setiap 2–6
jam, dapat dinaikan titrasi sesuai dengan kebutuhan). Dosis maksimal
perhari yaitu 600 mg. Pemberian oral dapat dilakukan namun dengan
pengawasan ketat untuk menghindari depresi pernapasan dan henti napas. 4
Magnesium sulfat dapat digunakan tunggal atau kombinasi dengan
benzodiazepin untuk mengontrol spasme dan disfungsi otonom dengan dosis
loading 5 g (atau 75 mg/kg) intravena diikuti 2-3 gram/jam hingga tercapai
kontrol spasme. Untuk mencegah overdosis, dapat di monitor dengan
pemeriksaan reflex patella. Jika terjadi areflexia, dosis harus diturunkan.4
Obat lain yang dapat digunakan untuk mengontrol spasme otot yaitu
termasuk baclofen, dantrolene (1–2 mg/kg intravena atau oral setiap 4 jam),
barbiturates, disarankan yang short-acting (100–150 mg setiap 1–4 jam pada
dewasa; 6–10 mg/kg pada anak-anak; melalui rute mana saja), dan
chlorpromazine (50–150 mg injeksi intramuskular setiap 4–8 jam pada
dewasa; 4–12 mg injeksi intramuskular setiap 4–8 jam pada anak-anak).4
5. Kontrol Disfungsi Otonom
Dapat menggunakan magnesium sulfat atau morfin. Pengobatan dengan
β-blockers seperti propranolol dapat digunakan pada jaman dulu namun,
dapat menyebabkan hipotensi dan sudden death; hanya esmalol yang hingga
saat ini direkomendasikan.4
22
6. Kontrol Saluran Napas
Obat yang digunakan untuk mengontrol spasme dan memberikan efek
sedasi dapat menyebabkan depresi saluran napas. Ventilasi mekanik diberikan
sesegera mungkin. Trakeostomi lebih dipilih dibandingkan intubasi
endotrakeal yang dapat memprovokasi spasme dan memperburuk napas.4
7. Cairan dan Nutrisi yang Adekuat
Diperlukan cairan serta nutrisi yang adekuat mengingat tetanus
meningkatkan status metabolik dan katabolik. Dukungan nutrisi yang baik
akan meningkatkan peluang angka survival. 4
Dengan ketersediaannya vaksin dan ventilasi mekanik (pada tahun
1920an-1930an),
monitor
ketat
dan
perawatan
yang
baik,
dapat
meningkatkan angka survival. Bila pasien didukung dengan perawatan yang
baik selama 1-2 minggu masa spasme otot dan komplikasinya, peluang
untuk pulih sepenuhnya sangat meningkat pesat, terlebih lagi pada pasien
yang belum memasuki usia lanjut dan pada pasien yang sebelumya memiliki
kesehatan yang baik.4
2.8 Komplikasi Tetanus
Komplikasi yang berbahaya dari tetanus adalah hambatan pada jalan
napas sehingga pada tetanus yang berat , terkadang memerlukan bantuan
ventilator. Sekitar kurang lebih 78% kematian tetanus disebabkan karena
komplikasinya. Kejang yang berlangsung terus menerus dapat mengakibatkan
fraktur dari tulang spinal dan tulang panjang, serta rabdomiolisis yang sering
diikuti oleh gagal ginjal akut.8
Infeksi nosokomial umum sering terjadi karena rawat inap yang
berkepanjangan. Infeksi sekunder termasuk sepsis dari kateter, pneumonia yang
didapat di rumah sakit, dan ulkus dekubitus. Emboli paru sangat bermasalah
pada pengguna narkoba dan pasien usia lanjut. Aspirasi pneumonia merupakan
komplikasi akhir yang umum dari tetanus, ditemukan pada 50% -70% dari
kasus diotopsi.8
Salah satu komplikasi yang sulit ditangani adalah gangguan otonom
karena pelepasan katekolamin yang tidak terkontrol. Gangguan otonom ini
23
meliputi hipertensi dan takikardi yang kadang berubah menjadi hipotensi dan
bradikardi.1 Walaupun demikian, pemberian magnesium sulfat saat gejala
tersebut sangat bisa diandalkan.8 Magnesium sulfat dapat mengontrol gejala
spasme otot dan disfungsi otonom.8
2.9 Scoring System untuk Mengetahui Probabilitas Kematian pada Pasien
Tetanus
Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan di bidang kesehatan,
perhatian terhadap penyakit tropis dan infeksi semakin besar. Penyakit tetanus
merupakan penyakit yang telah banyak diteliti oleh para ahli di dunia dan
memunculkan hasil-hasil penelitian yang penting dalam membantu manajemen
klinis. Salah satunya adalah scoring system yang digunakan untuk memprediksi
kematian pada penderita tetanus.
Scoring system yang sudah mendunia dan sering digunakan oleh klinisi
dalam penanganan tetanus adalah Phillips score (1967), Ablett classification
(1967), Dakar score (1975). Tentunya masing-masing scoring system
mempunyai variabel-variabel yang berbeda dalam penentuan outcome klinis.
Variabel inilah yang dapat menjadi faktor-faktor risiko yang dapat berpengaruh
pada kematian penderita tetanus.
Phillips score menggunakan variabel masa inkubasi, lokasi infeksi,
riwayat proteksi, dan complicating factors menurut ASA 1963 sebagai faktorfaktor risiko yang dapat berpengaruh pada kematian penderita tetanus.Phillips
score menghasilkan akumulasi nilai yang nantinya dapat diprediksi kematian
pada penderita tetanus. Jika akumulasi nilai 9 maka, termasuk dalam kategori
ringan, skor 9-16 sedang, dan >16 berat
Maksud dari riwayat proteksi adalah status imunisasi penderita. Jika
belum terproteksi, peluang terjadi kematian pada penderita tetanus semakin
besar. Complicating factors menurut ASA 1963 mengindikasikan kejadian
pasien sebelum terkena penyakit tetanus. Penilaiannya dapat berupa baik-baik
saja, sudah ada penyakit ringan sebelumnya, sudah ada penyakit sistemik, dan
sudah ada penyakit yang mengancam sebelumnya. Penilaian lebih lengkapnya
24
bisa dilihat di tabel 2
Gambar 3. Phillips Score7
Dakar score menggunakan variabel masa inkubasi, periode onset, jalan
masuk kuman, adanya spasme, suhu badan, dan takikardia sebagai faktor-faktor
risiko yang dapat berpengaruh pada kematian penderita tetanus.Dakar score
menghasilkan akumulasi nilai yang nantinya dapat diprediksi kematian pada
penderita tetanus. Jika akumulasi nilai 0-1 maka masuk dalam kategori mild
dengan mortalitas 10%, 2-3 masuk dalam kategori moderate dengan mortalitas
10-20%, 4 masuk dalam kategori severe dengan mortalitas 20-40%, dan yang
terakhir 5-6 masuk dalam kategori very severe dengan mortalitas 50%.
Maksud dari masa inkubasi adalah waktu saat terjadi infeksi sampai
terjadi gejala awal (trismus). Tentunya semakin pendek masa inkubasinya,
semakin buruk prognosisnya. Periode onset adalah waktu saat gejala awal
(trismus) sampai terjadinya kejang umum. Spasme artinya kejang, dapat berupa
kejang umum maupun khusus. Jalan masuk kuman meliputi lokasi yang dinilai
dapat menjadi tempat masuk kuman dapat berupa melewati suntikan atau
injeksi dan lokasi lainnya. Tentunya interpretasi keparahan akan berbeda jika
lokasi jalan kumannya berbeda. Penilaian lebih lengkapnya dapat dilihat di
tabel 3.
25
Gambar 4. Dakar Score7
Ablett membagi tetanus menurut derajat keparahannya sehingga dapat
diklasifikasikan menjadi 4, yaitu ringan (derajat 1), sedang (derajat 2),
berat(derajat 3), dan sangat berat (derajat 4). Variabel yang digunakan
merupakan gejala dan tanda klinis yang dialami pasien. Semakin berat
trismusnya, semakin jelek prognosisnya. Kekakuan disertai spasme yang
berlangsung terus menerus dan disfagia yang berat mengindikasikan tetanus
berat. Selain itu, frekuensi napas >40 kali/menit dan frekuensi nadi > 120
kali/menit juga mengindikasikan ke arah tetanus yang berat. Semua gejala
tetanus derajat 3 disertai gangguan otonom mengindikasikan tetanus sangat
berat.2 Penilaian lengkap kriteria Ablett bisa dilihat di tabel 4.
Gambar 4. Kriteria Ablett1
26
2.10 Pencegahan Tetanus
Pecegahan tetanus dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi DPT.
Imunisasi DPT juga termasuk komitmen global dalam rangka eliminasi tetanus.
Imunisasi DPT diberikan 3 kali secara serial sebagai imunisasi dasar pada usia 2,
4, dan 6 bulan, dilanjutkan dengan imunisasi ulangan 1 kali (interval 1 tahun
setelah DPT3). Pada usia 5 tahun, diberikan ulangan lagi (sebelum masuk
sekolah) dan pada usia 12 tahun berupa imunisasi Td. Pada wanita, imunisasi TT
perlu diberikan 1 kali sebelum menikah dan 1 kali pada ibu hamil, yang bertujuan
untuk mencegah tetanus neonatorum. 10
Apabila imunisasi DPT terlambat diberikan, berapa pun interval
keterlambatannya, jangan mengulang dari awal, tetapi lanjutkan imunisasi sesuai
jadwal. Bila anak belum pernah diimunisasi dasar pada usia <12 bulan, lakukan
imunisasi sesuai imunisasi dasar baik jumlah maupun intervalnya. Bila pemberian
DPT ke-4 sebelum usia 4 tahun, pemberian ke-5 paling cepat diberikan 6 bulan
sesudahnya. Bila pemberian ke-4 setelah umur 4 tahun, pemberian ke-5 tidak
diperlukan lagi. 10
27
BAB III
PEMBAHASAN
Pada pasien ini didapatkan gambaran neurologis risus sardonikus,
trismus, spasme otot leher, disfagia, dan rigiditas otot perut yang merupakan
ciri khas klinis tetanus. Anamnesis riwayat gigi berlubang dan gusi bengkak
mengeluarkan nanah putih 10 hari sebelum masuk rumah sakit. Sebelumnya
pasien sudah mempunyai riwayat tetanis pada saat remaja. Berdasarkan kriteria
WHO tetanus jika menemukan salah satu tanda klinis, yaitu trismus atau risus
sardonikus atau kontraksi otot yang nyeri, dan memiliki riwayat trauma atau
infeksi tempat masuknya bakteri Clostridium tetanii.
Pada penilaian awal, berdasarkan gejala klinis pasien yang timbul yaitu
trismus berat, kejang spontan dan kejang rangsang, disfagia berat, berkeringat
banyak, juga terdapat pernafasan terganggu dengan kadar saturasi oksigennya
93 namun respirasi normal, serta tekanan darah yang meningkat yaitu 140/90.
Berdasarkan klasifikasi derajat tetanus menurut kriteria Abllet, pasien ini
termasuk kedalam kategori tetanus derajat 3, dimana dikatakan derajat 3 bila
ditemukan trismus berat, otot spastis atau kejang spontan, serangan apnea,
takikardi atau takipnea, disfagia berat, aktivitas sistem otonom meningkat.
Penatalaksanaan umum sesuai rekomendasi WHO. Pasien dirawat di
ruang perawatan khusus terpisah dari pasien lain dengan pencahayaan yang
minimal. Tindakan lainnya yaitu pemasangan oksigen dengan nasal kanul,
pemasangan Naso Gastric Tube (NGT), pemasangan kateter urin. Pengobatan
yang didapat pasien untuk imunoterapinya yaitu Anti tetanus serum (ATS) 20.000
Unit, dan TT 500 unit. Untuk antibiotik yang diberikan yaitu drip Metronidazol 500
mg/6 jam, penisilin prokain 3x 1 juta unit pada awal masuk rumah sakit. Untuk
mengontrol spasme otot, pasien diberikan drip diazepam 1 ampul/jam dalam NaCl
0.9 % dengan dosis maksimal 600 mg/24 jam, serta fenitoin jika diperlukan.
Diazepam telah terbukti efektif mengatasi spasme dan hipertonisitas tanpa
menekan pusat kortikal. Parameter perbaikan klinis di antaranya tidak dijumpai
spasme spontan, kesadaran membaik, dan tidak dijumpai gangguan pernapasan.
Selain obat-obatan, untuk menunjang nutrisi dan cairan pada pasien diberikan
28
infus D5% : NaCl 0,9 % pada awal perawatan yang kemudian diganti dengan
Hydromal 500 ml, dan juga dilakukan diet sonde 1200 kkal.
Penilaian prognosis merupakan salah satu komponen terpenting
untuk melihat risiko mortalitas. Phillips score dan Dakar score telah diakui
>40 tahun untuk menilai prognosis pasien tetanus. Pada pasien, Masa
inkubasi pasien berkisar 2-5 hari (skor 4), lokasi infeksi termasuk dalam
kategori kepala, leher, dan badan (skor 4), status proteksi terlindungi >10
tahun (skor 4), dan faktor komplikasi penyakit minor (skor 2). Skor total
berdasarkan Phillips score ialah 14 sesuai severitas sedang. Sementara itu,
periode inkubasi <7 hari (skor 1), periode onset <2hari (skor 1), tempat
masuk gigi carries (skor 0), spasme ada (skor 1), demam <38,40C (skor 0),
nadi 90 kali/menit (skor 0). Dengan demikian, Dakar score 3 sesuai severitas
moderate dengan mortalitas 10-20%.
29
Datar pustaka
1. Hassel B. Tetanus: Pathophysiology, treatment, and the possibility of
using botulinum toxin against tetanus-induced rigidity and spasms.
Toxins (Basel). 2013; 5(1): 73-83.
2. Bleck TP. Clostridium tetani (Tetanus). In: Mandell GL, Bennett JE,
Dolin R, editors. Principles and practice of infectious diseases 6th.
Amsterdam: Elsevier Saunders; 2005. 2817–22.
3. Center for Disease Control and Prevention. Tetanus.
Epidemiology and prevention of vaccine-preventable disease
13th ed. [Internet]. 2015 [cited 2015 May 29]; p. 341-51.
Available from:
http://www.cdc.gov/vaccines/pubs/pinkbook/downloads/tetan
us.pdf
4. WHO. Current recommendations for treatment of tetanus
during humanitarian emergencies. WHO Tech Note
[Internet]. 2010 [cited 2015 May 29]. Available from:
http://www.who.int/
diseasecontrol_emergencies/who_hse_gar_dce_2010_en.pdf
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan
Indonesia 2012.: http://www.depkes.go.id/resources/download/
pusdatin/profil-kesehatan-indonesia/profil-kesehatan-indonesia2012.pdf
6. Pusat Data dan Informasi. Eliminasi tetanus maternal dan neonatal
(MNTE) di Indonesia. Bul Jendela Data dan Informasi Kesehatan
Eliminasi Tetanus Maternal & Neonatal. 2012; 1: 1-22.
7. Surya R. Skoring prognosis tetanus generalisata pada pasien
dewasa. CDK-238. 2016; 43(3): hal 199-203.
8. Rahmanto D. Tetanus. 2017. Hal 1-28.
9. https://www.researchgate.net/
10. Dirjen Bina Upaya Kesehatan. Kemenkes RI. Panduan Praktik
Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer,
Edisi Revisi. 2014.
30
Download