ANALISIS KESUKAAN DAN PERSEPSI KONSUMEN
TENTANG MANFAAT PRODUK PROBIOTIK ACTIVIA
Oleh:
RETNO NURBAITI
A54104034
PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN
RETNO NURBAITI. A54104034. Analisis Kesukaan dan Persepsi Konsumen
tentang Manfaat Produk Probiotik Activia. Dibawah bimbingan Dr. Ir. Budi
Setiawan, MS.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesukaan dan persepsi konsumen
tentang produk probiotik. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah: 1)
mengetahui kebiasaan konsumsi produk susu fermentasi contoh, 2) mengetahui
penilaian contoh terhadap mutu cita rasa dan tingkat kesukaan terhadap produk
probiotik 3) mengetahui persepsi emosional dan kesehatan contoh berkaitan dengan
masalah pencernaan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi, 4) mengetahui
kebiasaan konsumsi produk probiotik setelah intervensi berakhir.
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian besar yang berjudul “Studi
Persepsi Konsumen tentang Penggunaan Activia”. Desain penelitian berupa
Experimental Study yang dilakukan pada bulan Juni-Juli 2008 di Bantar Kemang
(Bogor Timur), dengan pertimbangan tempat tersebut merupakan Perumahan
Nasional (Perumnas) pertama di Bogor, sehingga masyarakatnya sebagian besar
adalah pensiunan yang berumur lanjut usia (lansia) dan dewasa yang merupakan
contoh penelitian.
Contoh dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Perumahan
Bantar Kemang baik pria maupun wanita berusia 30-55 tahun untuk dewasa lanjut
atau > 55 tahun untuk lansia. Pemilihan contoh dilakukan secara purposive sampling,
dengan kriteria: 1) tidak alergi terhadap produk susu, 2) besar keluarga ≤ 4 orang, 3)
tidak puasa senin-kamis atau puasa sunah lainnya selama masa penelitian, 4)
memiliki lemari es (kulkas), 5) bersedia mengonsumsi produk probiotik Activia
selama 14 hari, dan 6) bersedia berpartisipasi dalam penelitian.
Saat tahap awal (baseline), diperoleh 90 contoh yang bersedia diwawancarai.
Kepada setiap contoh diberikan 1 cup Activia untuk dikonsumsi langsung dihadapan
enumerator/tenaga lapang, sekaligus untuk memastikan bahwa contoh tidak alergi
produk susu atau bersedia mengonsumsi Activia. Dari baseline ini diperoleh 45
contoh yang memenuhi persyaratan. Pada akhir penelitian, sebanyak 41 orang
dengan data yang lengkap dijadikan contoh.
Berdasarkan kebiasaan konsumsi produk susu fermentasi, sebagian besar
contoh (92,68%) tidak mengonsumsi produk susu fermentasi secara teratur. Dilihat
dari kategori penilaian mutu cita rasa, sebagian besar contoh (85,36%) menilai warna
Activia tergolong pas. Lebih dari separuh contoh (68,29%) menilai aroma buah
Activia tergolong pas. Sebagian besar contoh (75,61%) menyatakan kekentalan
Activia pas. Lebih dari separuh contoh (78,05%) menyatakan Activia rasa asamnya
pas. Sebagian besar contoh (87,80%) menyatakan Activia rasa manisnya pas.
Sebagian besar contoh (51,22%) menilai mutu cita rasa Activia (kesan keseluruhan)
amat sangat enak. Dapat disimpulkan bahwa contoh memberikan kesan positif pada
mutu cita rasa produk Activia.
Berdasarkan kategori tingkat kesukaan terhadap produk Activia, sebagian
besar contoh (53,66%) amat sangat suka dengan warna Activia. Sebanyak 48,78
persen contoh menyukai aroma buah Activia. Sebagian besar contoh (53,66%) amat
sangat suka dengan kekentalan Activia. Sebanyak 46,34% contoh menyukai rasa
asam Activia. Sebagian besar contoh (70,73%) menyatakan rasa manis Activia pas.
Sebagian besar contoh (65,85%) menyatakan kesan cita rasa keseluruhan Activia
amat sangat enak.
Berdasarkan kategori persepsi emosional, variabel perut terasa nyaman, tidak
mengalami stress akibat gangguan pencernaan, tidak mengalami gangguan
pencernaan, tubuh terasa bertenaga, tubuh terasa ringan, merasa langsing, tubuh
terasa rileks, merasa bahagia terkait dengan pencernaan, merasa bergengsi dengan
pola makan yang sekarang, sering merasakan “mood” baik terkait dengan
pencernaan, jika dibandingkan sebelum mengonsumsi Activia, keseluruhan hasilnya
lebih baik setelah mengonsumsi Activia.
Sebagian besar contoh (70,73%) tidak lagi mengonsumsi Activia sesudah
intervensi berakhir. Sebagian besar contoh (87,8%) tidak lagi mengonsumsi produk
probiotik lain sesudah intervensi berakhir. Sebagian besar contoh (82,93%)
merasakan perbedaan selama intervensi dan sesudah intervensi Activia berakhir.
Sebagian besar contoh (80,49%) masih merasakan manfaat Activia sesudah
intervensi berakhir. Sebagian besar contoh (90,24%) tidak merasakan efek samping
dari konsumsi Activia.
ANALISIS KESUKAAN DAN PERSEPSI KONSUMEN
TENTANG MANFAAT PRODUK PROBIOTIK ACTIVIA
Skripsi
Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga
Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor
Oleh:
RETNO NURBAITI
A54104034
PROGRAM STUDI GIZI MASYARAKAT DAN SUMBERDAYA KELUARGA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
Judul
: ANALISIS KESUKAAN DAN PERSEPSI KONSUMEN
TENTANG MANFAAT PRODUK PROBIOTIK ACTIVIA
Nama
: Retno Nurbaiti
NRP
: A54104034
Menyetujui,
Dosen Pembimbing
Dr. Ir. Budi Setiawan, MS
NIP 131 667 778
Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian
Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, M. Agr.
NIP 131 124 019
Tanggal Lulus:
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas segala rahmat dan karunia Allah SWT yang senantiasa
dilimpahkanNya, shalawat dan salam senantiasa disanjungkan kepada Nabi
Muhammad SAW sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul
Analisis Preferensi dan Persepsi Konsumen tentang Manfaat Produk Probiotik
Activia. Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana di
Program Studi Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga, Fakultas Pertanian,
Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Ir. Budi Setiawan, MS.
selaku
dosen
pembimbing
yang
senantiasa
meluangkan
waktunya
untuk
membimbing dan mengarahkan penulis hingga skripsi ini tersusun dengan baik.
Kepada teman-teman dan semua pihak yang telah memberikan dorongan baik moral
maupun material, semoga Allah SWT membalasnya dengan yang lebih baik.
Bogor, Agustus 2008
Penulis
UCAPAN TERIMAKASIH
Puji syukur kehadirat Allah SWT dan Shalawat kepada Rasulullah SAW
untuk semua kelancaran penyusunan skripsi ini. Pada kesempatan ini,
perkenankan saya menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:
1.
Bapak Dr. Ir. Budi Setiawan, MS selaku dosen pembimbing yang senantiasa
sabar, perhatian dan penuh kasih sayang.
2.
Ir. Retnaningsih, MSi selaku pemandu seminar atas masukannya
3.
Dr. Ir. Ikeu Ekayanti selaku penguji skripsi atas pertanyaan, saran, dan kritik
demi kesempurnaan skripsi ini.
4.
Ahmad Wahyudin dan Arina Rizkiana selaku pembahas seminar.
5.
All Gamasakers 41. Juga adik-adik angkatan 42, 43, 44, 45. HAMASAH!
6.
Ayah dan Bunda tercinta atas limpahan kasih sayang dan kesabarannya
dalam membesarkan dan mendidik (Mama dan Bapak yang saya banggakan)
serta My Sister dan My Brother yang menghiasi kehidupan hingga saat ini.
Mari kita berdo’a agar bersama-sama sampai ke Surga. Amin.
7.
CPS of Activia Team, baik dosen maupun rekan-rekan terutama Mbak Iiq
dan Kartika Hidayati yang sama-sama berjuang di Bantar Kemang. Juga
untuk Keluarga Besar Bantar Kemang yang selalu “welcome” bagi penulis.
8.
My Friend: Achi, Nchi, Eka WL, Resti, Salam ISC ‘06-‘08, Mb Nelly,
Yuliya, K Asep, Bayu, Hanhan, K Dian (Alvo FM Crew), Infokomers 2007,
Crew Emulsi, FKRD-ers, FSLDKI, Birena, Adhil syukron tumpangannya,
Mb Arti (Matur Nuwun nemenin), PANATAYUDHA, APD-ers, KKP
Cianjur ’07 (Desa Gekbrong), dan tempat awalku berpijak, Al-Hurriyyah.
9.
Kost-kostan & Crew: Elegant, WJ, NJ, Putri 26, Vamdi, Etos (Makasih
kulkasnya), P.Sugih, P. Jaika, As-Sakinah, Al-Iffah,& Asrama Al-Hurriyyah.
10. Semua pihak yang belum saya sebutkan, terima kasih atas bantuan,
keceriaan, kesabaran, dan semangat.
Jazakumullah Khairan Katsiran
Bogor, Agustus 2008
Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis merupakan anak dari pasangan Bapak Ir. Sukar dan Ibu
Jauhariyah, BA yang dilahirkan di Bogor, 26 April 1987. Merupakan anak ke dua
dari tiga bersaudara, Kakak bernama Rika Latriningsih dan Adik bernama Ahmad
Rahmanto. Penulis menempuh pendidikan Sekolah Dasar di SDN Sarimulya V
Cikampek tahun 1992-1998, dilanjutkan ke SLTPN 1 Cikampek tahun 1998-2001
dan aktif di Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra). Tahun 2001-2003 melanjutkan
ke SMAN 1 Cikampek (Sachie) dan aktif di OSIS divisi Pemuda dan Olahraga.
Pada tahun 2004, penulis diterima melalui jalur USMI di jurusan Gizi
Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Penulis aktif di berbagai organisasi
kampus maupun di luar kampus antara lain: DKM Al-Hurriyyah divisi informasi
dan Komunikasi (Infokom) 2004-2007, Penyiar Agri 107,7 FM tahun 2005-2006,
Pembina Bimbingan Remaja dan Anak-Anak (BIRENA) 2006 dan 2008, Kru
Majalah Emulsi tim Advertising, FKRD-A sebagai sekretaris administratif,
Penyiar Alvo FM (Radio Al-Hurriyyah), dan diakhir studi (2008) mendapat
kesempatan sebagai Tim Bina Latih SMAN 1 Dramaga hingga saat ini.
Penulis berkesempatan mengikuti Program Kreativitas Mahasiswa (PKM)
dan dua tahun berturut-turut (2006-2007) mendapat dana dari DIKTI. Tahun
2006, bersama tiga orang rekan dari GMSK, Achi, Edo, dan Firdaus membuat
PKMK. Tahun 2007, tiga dari lima proposal yang diajukan, mendapat dana
DIKTI. PKMM bersama rekan GMSK yang sama; PKMM bersama rekan Ilmu
dan Teknologi Pangan (ITP) tim BGTS (Bakery Goes to School-Risma, Olif,
Idham, Imam dan ITP & GM 44); PKMK bersama rekan GMSK Novita Melanda
dan Novita Nining; Ilmu Ekonomi 41, Restu, dan Statistika 43, Shofi.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL......................................................................................
vi
DAFTAR GAMBAR.................................................................................
vii
DAFTAR LAMPIRAN.............................................................................
viii
PENDAHULUAN
Latar Belakang...............................................................................
1
Perumusan Masalah.......................................................................
1
Tujuan............................................................................................
2
Kegunaan.......................................................................................
2
TINJAUAN PUSTAKA
Penilaian Kesukaan terhadap Produk Pangan...............................
3
Penilaian Persepsi.........................................................................
4
Pengetahuan Kebiasaan Makan.....................................................
4
Penilaian Konsumsi Pangan...........................................................
5
Manfaat Produk Probiotik.............................................................
5
Kebutuhan Gizi Dewasa...............................................................
9
Kebutuhan Gizi Lansia.................................................................
9
KERANGKA PEMIKIRAN....................................................................
11
METODE PENELITIAN.........................................................................
13
Desain, Tempat, dan Waktu Penelitian........................................
13
Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh.............................................
13
Jenis dan Cara Pengumpulan Data...............................................
14
Analisis Data................................................................................
15
HASIL DAN PEMBAHASAN...............................................................
16
Keadaan Umum Lokasi Penelitian.................................................
16
Deskripsi Produk...........................................................................
16
Kondisi Kesehatan & Kebiasaan Konsumsi..................................
17
Riwayat Kesehatan..................................................................
17
Kebiasaan Konsumsi Susu Fermentasi dan Suplemen Serat...
17
Persepsi Contoh tentang Produk Activia.......................................
17
Penilaian Mutu Cita Rasa........................................................
17
Warna.................................................................................
17
Aroma buah........................................................................
18
Kekentalan..........................................................................
18
Rasa asam...........................................................................
18
Rasa manis..........................................................................
19
Kesan keseluruhan..............................................................
19
Tingkat kesukaan terhadap produk Activia...........................
20
Warna...............................................................................
20
Aroma buah.....................................................................
20
Kekentalan......................................................................
20
Rasa manis......................................................................
21
Rasa asam.......................................................................
21
Kesan keseluruhan..........................................................
22
Persepsi Emosional...............................................................
22
Perut terasa nyaman.......................................................
22
Tidak mengalami stress akibat gangguan pencernaan...
23
Tidak mengalami gangguan pencernaan.......................
23
Kesan emosional lain.....................................................
24
Persepsi Manfaat Kesehatan...............................................
26
Kebiasaan Konsumsi Probiotik Sesudah Intervensi Berakhir...
29
KESIMPULAN DAN SARAN............................................................
31
Kesimpulan...............................................................................
31
Saran.........................................................................................
31
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................
32
LAMPIRAN........................................................................................
34
DAFTAR TABEL
Nomor
Halaman
1
Ringkasan manfaat kesehatan susu fermentasi probiotik................
8
2
Sebaran contoh berdasarkan penilaian warna..................................
17
3
Sebaran contoh berdasarkan penilaian aroma buah.........................
18
4
Sebaran contoh berdasarkan penilaian kekentalan..........................
19
5
Sebaran contoh berdasarkan penilaian rasa asam............................
19
6
Sebaran contoh berdasarkan penilaian rasa manis..........................
19
7
Sebaran contoh berdasarkan penilaian kesan keseluruhan..............
19
DAFTAR GAMBAR
Nomor
Halaman
1
Skema Kerangka Penelitian.................................................................... 12
2
Persentase contoh yang menyukai warna Activia..................................
20
3
Persentase contoh yang menyukai aroma buah Activia.........................
20
4
Persentase contoh yang menyukai kekentalan Activia..........................
21
5
Persentase contoh yang menyukai rasa manis Activia .........................
21
6
Persentase contoh yang menyukai rasa asam Activia...........................
22
7
Persentase contoh yang menyukai keseluruhan Activia.......................
22
8
Persepsi perut nyaman, stres akibat pencernaan & gg pencernaan......
23
9
Persepsi tubuh terasa bertenaga, terasa ringan & merasa langsing......
24
10 Persepsi tubuh rileks, bahagia, mood baik,& pola makan bergengsi...
25
11
26
Frekuensi BAB, feses lancar, wkt mengejan, & feses lembik.............
DAFTAR LAMPIRAN
Nomor
Halaman
1
Survei Pendahuluan................................................................................ 34
2
Pernyataan Kesediaan............................................................................. 36
3
Persepsi Emosional................................................................................. 37
4
Persepsi Kesehatan................................................................................. 38
5
Penilaian Mutu Hedonik......................................................................... 39
6
Penilaian Hedonik................................................................................... 40
7
Kebiasaan Konsumsi Sesudah Intervensi............................................... 41
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Era globalisasi menuntut seseorang bekerja serba cepat. Gaya hidup
tersebut, jika dikaitkan dengan konsumsi pangan, sering membuat seseorang
mengonsumsi makanan yang praktis walaupun gizinya belum tentu baik. Nutrisi
yang tidak seimbang sangat berpengaruh pada sistem kekebalan tubuh kita. Pada
akhirnya, frekuensi sakit meningkat, sehingga pekerjaan sehari-hari tertunda dan
seseorang harus mengeluarkan ongkos ekstra untuk biaya pengobatan.
Upaya untuk menjaga sistem kekebalan tubuh adalah minum air yang
cukup agar tidak dehidrasi, menghirup udara segar, istirahat cukup, merilekskan
tubuh, diet seimbang dengan tidak mengonsumsi makanan secara sembarangan.
Tambahan vitamin, mineral, atau elemen lain, seperti vitamin A, C, B6, termasuk
zinc, zat besi, juga akan mendukung kekebalan tubuh (Anonimous 2004).
Sistem kekebalan tubuh mempunyai fungsi sebagai penjaga kesehatan
tubuh. Sepanjang hari ia akan mengidentifikasi patogen berbahaya dan substansisubstansi asing lainnya yang ada dalam tubuh kita. Selama proses ini, sel
kekebalan dan antibodi akan bekerja bersama dalam aliran darah untuk
menghentikan sebaran virus dan bakteri jahat. Salah satu upaya untuk
meningkatkan sistem kekebalan tubuh adalah dengan mengonsumsi probiotik.
Tujuan menambahkan bakteri probiotik dalam makanan adalah untuk
meningkatkan kesehatan. Upaya ini memperluas standar definisi atas fungsi
makanan itu sendiri. Fungsi bakteri probiotik adalah mengurangi bakteri patogen
dalam usus, menstimulasi respons kekebalan, dan untuk menjaga kesehatan.
Perumusan Masalah
Efek positif dari bakteri probiotik terutama untuk mengatasi masalah
pencernaan. Jadi, sangatlah penting untuk memastikan bahwa probiotik dapat
mencapai saluran pencernaan dalam jumlah yang memadai. Pemberian probiotik
yang teratur dapat mempercepat penyembuhan diare yang disebabkan oleh infeksi
kuman virus.
Setiap orang memiliki daya tahan yang berbeda-beda terhadap produk
probiotik. Terlebih pada orang-orang yang belum terbiasa mengonsumsi jenis
produk turunan susu (dairy product). Hal ini tentunya terkait dengan pola
konsumsi pangan seseorang yang akan sangat menentukan kerja terbaik sistem
pencernaan apalagi bila dibantu dengan konsumsi probiotik. Tetapi, bagaimana
jika sebuah produk probiotik baru hadir dengan klaim dapat melancarkan
pencernaan dan langsung melakukan intervensi kepada konsumen? Apakah
produk tersebut menjadi kegemaran baru atau sebaliknya, tidak disukai? Oleh
karena itu peneliti merasa tertarik untuk mengetahui kaitan kebiasaan konsumsi
produk probiotik dengan kecenderungan pemilihan terhadap produk probiotik
baru.
Tujuan
Tujuan umum:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesukaan dan persepsi
konsumen tentang produk probiotik.
Tujuan khusus
Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah:
1. mengetahui kebiasaan konsumsi produk susu fermentasi contoh
2. mengetahui penilaian contoh terhadap mutu cita rasa dan tingkat kesukaan
terhadap produk probiotik
3. mengetahui persepsi emosional dan kesehatan contoh berkaitan dengan
masalah pencernaan sebelum dan sesudah dilakukan intervensi
4. mengetahui kebiasaan konsumsi produk probiotik setelah intervensi
berakhir
Kegunaan
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan khususnya penelitian-penelitian tentang produk probiotik dan
kaitannya dengan kebiasaan konsumsi seseorang. Diharapkan penelitian ini juga
dapat menjadi acuan unruk melihat kecenderungan masyarakat terutama di
Indonesia dengan hadirnya produk baru yang tentunya lebih baik.
TINJAUAN PUSTAKA
Kesukaan
Kesukaan, pilihan, atau sesuatu hal yang lebih disukai oleh konsumen
membentuk
preferensi.
Preferensi
adalah suatu konsepsi abstrak yang
menggambarkan peta peningkatan kepuasan yang diperoleh dari kombinasi
barang dan jasa sebagai cermin dari selera pribadinya. Dengan kata lain,
preferensi konsumen merupakan gambaran mengenai kombinasi barang dan jasa
yang lebih disukai konsumen apabila ia memiliki kesempatan untuk
memperolehnya. Menurut Sanjur 1982, preferensi terhadap pangan bersifat plastis
pada orang yang berusia muda, akan tetapi bersifat permanen bagi mereka yang
sudah berumur dan akhirnya menjadi gaya hidup. Pilihan jenis makanan dan
minuman dalam jumlah yang beragam, akhirnya dapat mempengaruhi preferensi
makan dan minum dari individu (Rahardjo 2007).
Menurut Suhardjo 1989, jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi
selain dipengaruhi oleh hasil budaya setempat, juga dipengaruhi oleh preferensi
terhadap makanan tersebut. Makanan dianggap memenuhi selera atau tidak,
tergantung tidak hanya pada pengaruh sosial budaya sebagai sifat fisiknya. Reaksi
indera terhadap pemilihan pangan, kesukaan pangan pribadi dipengaruhi oleh
pendekatan melalui media massa, radio, TV, pamflet, dan iklan (Rahardjo 2007).
Setiap konsumen pasti memiliki preferensi. Preferensi ini dapat diubah dan
dipelajari sejak kecil. Nisemita 1981 diacu dalam Rahardjo 2007 menuliskan
bahwa selera dan preferensi konsumen itu selalu berubah dan tidak terbatas baik
waktu dan ruang. Preferensi terhadap makanan didefinisikan sebagai derajat
kesukaan atau ketidaksukaan terhadap makanan dan preferensi ini akan
berpengaruh terhadap konsumsi pangan. Fisiologi, perasaan, dan sikap terintegrasi
membentuk preferensi terhadap pangan dan akhirnya akan membentuk perilaku
konsumsi pangan.
Selain pengaruh reaksi indera terhadap pemilihan pangan (warna/bentuk),
kesukaan pribadi semakin terpengaruh oleh pendekatan melalui media radio,
televisi, pamflet, iklan, dan bentuk media massa lain (Suhardjo 1989). Dalam
melakukan pengukuran terhadap preferensi makanan dapat digunakan skala
hedonik (sangat tidak suka, tidak suka, netral, suka, sangat suka) (Sanjur 1982).
Persepsi
Persepsi adalah proses dimana sensasi yang dirasakan oleh konsumen,
dipilih, diorganisir, dan diinterpretasikan. Tiga tahap dari persepsi adalah
pemaparan, perhatian, dan interpretasi (Salminen 2004). Dengan pengertian yang
hampir sama, Tubbs dan Sylva 1996 mendefinisikan persepsi sebagai suatu proses
yang aktif berupa kegiatan memperhatikan, mengorganisasikan, dan menafsirkan
seluruh stimuli secara selektif. Pemilihan stimuli tersebut tergantung pada minat,
motivasi, keinginan, dan harapan. Kesalahan dalam mempersepsikan sesuatu akan
memberikan respon yang negatif terhadap stimuli (Rahardjo 2007).
Persepsi dapat juga diartikan sebagai suatu proses yang dilakukan
seseorang dalam mengorganisasikan pikiran, menafsirkan, mengalami, dan
mengolah tanda-tanda atau segala sesuatu yang terjadi di lingkungannya
(Sulistyorini 1995 diacu dalam Rahardjo 2007). Jadi jika segala sesuatu itu
mempengaruhi
persepsi
seseorang
maka
nantinya
akan
mempengaruhi
perilakunya juga. Pola perilaku konsumen pada dasarnya senantiasa mengalami
perubahan walaupun hanya sedikit. Perusahaan-perusahaan sudah tentu
berkeinginan untuk menimbulkan perubahan-perubahan dalam perilaku yang
menyebabkan semakin membaiknya persepsi konsumen terhadap merek-merek
tertentu yang dimiliki oleh perusahaan tersebut.
Setiap orang akan memiliki persepsi yang berbeda dalam menghadapi
situasi yang sama, hal tersebut terjadi karena data atau informasi yang diterima
melalui kelima indera yang diterjemahkan secara pribadi masing-masing. Menurut
Assael 1992 diacu dalam Rahardjo 2007, membatasi persepsi sebagai perhatian
kepada pesan yang mengarah terhadap pemahaman dan ingatan.
Menurut Setiadi 2003 diacu dalam Nurmarchus 2006, terdapat dua faktor
kunci yang akan berinteraksi dalam menentukan bagaimana stimuli akan
dirasakan dan bagaimana stimuli itu dapat dipersepsikan, yaitu: 1) Karakteristik
stimulus yang mempengaruhi persepsi berupa a) Elemen inderawi (Sensory
Element): warna, bau, rasa, dan b) Elemen struktural (Structural Element):
ukuran, posisi, warna, dan kontras yang biasanya terdapat dalam iklan media
cetak; 2) Kemampuan konsumen untuk mendeteksi perbedaan suara, cahaya, bau,
atau stimuli lainnya yang dideteksi oleh ambang batas.
Walaupun stimulus yang diberikan sama, persepsi setiap orang berbeda.
Hal ini dapat disebabkan karena adanya perbedaan dalam perceptual selection,
perceptual organization, dan perceptual interpretation. Perceptual selection
adalah proses pemilihan stimuli apa yang akan diolah lebih lanjut oleh konsumen.
Perceptual organization adalah pengorganisasian stimuli dalam benak konsumen,
sementara perceptual interpretation adalah proses memberikan arti kepada suatu
stimulus (Simamora 2004).
Kebiasaan Makan
Kebiasaan makan diartikan sebagai cara individu atau kelompok individu
memilih pangan dan mengkonsumsinya sebagai reaksi terhadap pengaruh
fisiologik, psikologik, sosial, dan budaya (Suhardjo 1989). Menurut Sanjur 1982,
terdapat dua dasar pemikiran tentang kebiasaan makan yang terdapat dalam diri
seseorang, yaitu: (1) Kebiasaan makan secara budaya dipandang sebagai peubah
tak bebas (dependent variable) yang terbentuk pada diri seseorang karena ia
pelajari (learned) dan (2) Kebiasaan makan terdapat pada diri seseorang bukan
karena proses pendidikan tertentu atau yang disengaja ia dipelajari (unlearned),
lebih bersifat “inherited” (diturunkan dari orang tua dan nenek moyang) dan
banyak ditemukan pada masyarakat yang terbelakang, terisolir, rendah
pendidikannya serta tidak mampu.
Konsumsi Pangan
Konsumsi pangan merupakan informasi tentang jenis dan jumlah pangan
yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu. Konsumsi
pangan juga dapat diartikan jumlah dan jenis pangan yang dimakan seseorang
dengan tujuan untuk pemenuhan kebutuhan fisiologis, psikologis, dan sosiologis.
Tujuan fisiologis adalah untuk memenuhi rasa lapar atau keinginan memperoleh
zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis merupakan sesuatu yang
berhubungan dengan kebutuhan untuk memenuhi kepuasan emosional ataupun
selera individu dan tujuan sosiologis berhubungan dengan upaya pemeliharaan
hubungan antar manusia dalam kelompok kecil maupun kelompok besar (Riyadi
1996).
Pangan dikonsumsi oleh seseorang atau sekelompok orang karena disukai,
tersedia, dan terjangkau, faktor sosial, dan alasan kesehatan. Faktor-faktor dasar
yang mempengaruhi jumlah dan jenis pangan yang dikonsumsi adalah rasa lapar
atau kenyang, selera atau reaksi cita rasa, motivasi, ketersediaan pangan, suku
bangsa, agama, status sosial ekonomi, dan pendidikan (Riyadi 1996).
Manfaat Produk Probiotik
Probiotik berasal dari bahasa Latin yang berarti “untuk kehidupan” (for
life); disebut juga “bakteri bersahabat”, bakteri menguntungkan”, “bakteri baik”
atau “bakteri sehat”. Apabila didefinisikan secara lengkap, probiotik adalah kultur
tunggal atau campuran dari mikroorganisme hidup yang jika diberikan ke manusia
atau hewan dapat mempengaruhi tingkat kesehatan karena beberapa probiotik
dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen/bakteri jahat yang ada di dalam usus
manusia dan hewan. Penemuan fungsi probiotik pertama kali ditemukan oleh
seorang peneliti Rusia yang bernama Metchnikoff. Atas penemuannya tersebut,
Metchnikoff memenangkan hadiah Nobel, kemudian teori yang dikembangkannya
bahwa mengkonsumsi yoghurt dapat mencegah penuaan dikenal dengan
Intoxication theory atau Eternal youth theory (Maulidya 2007).
Tahun 1965, konsep probiotik sudah mulai dikenal pertama kali digunakan
oleh Lily dan Stilwell (Surono 2004 diacu dalam Sobariah 2007). Pada mulanya
probiotik
dikembangkan
sebagai
tambahan
pada
pakan
ternak
untuk
meningkatkan produktivitas dan kesehatan ternak. Definisi probiotik selanjutnya
diperbaiki oleh Fuller 1989 yang mendefinisikan probiotik sebagai mikroba hidup
yang disuplementasikan ke dalam makanan atau pakan dan memiliki efek
menguntungkan bagi inang yang mengonsumsi melalui keseimbangan mikroflora
saluran pencernaan (Farida 2007).
Definisi probotik juga disampaikan oleh Havenar et al., 1992 yang
mengartikan probiotik sebagai kultur mikroba tunggal atau campuran yang dapat
diaplikasikan pada hewan atau manusia yang memiliki efek menguntungkan
dengan cara memperbaiki sifat-sifat mikroflora indigenous pada saluran
pencernaan (Farida 2007). Sebenarnya hingga tahun 1990, masih diperdebatkan
apakah konsep probiotik itu fakta, fiksi, mitos, atau suatu realitas. Tahun 1995
diakui mulai memasuki era probiotik (Surono 2004 diacu dalam Sobariah 2007).
Definisi umum probiotik, yang biasa digunakan, adalah preparat yang
terdiri dari mikroba hidup yang dimasukkan ke dalam tubuh manusia atau hewan
secara oral. Mikroba hidup itu diharapkan mampu memberikan pengaruh positif
terhadap kesehatan manusia atau hewan dengan cara memperbaiki sifat-sifat yang
dimiliki mikroba alami yang tinggal di dalam tubuh manusia atau hewan tersebut.
Dr. Stephen Bymes, ND seorang ahli gizi klinis dan ahli naturopati dalam Health
and Natural Journal menyebutkan bahwa dalam tubuh manusia normal kurang
lebih terdapat 1800 g bakteri. Sebagian bakteri tersebut hidup di usus tetapi
banyak pula yang hidup di kulit, mulut, tenggorokan dan lapisan bagian dalam
vagina. Jenis spesies mencapai lebih dari 400 macam (Surono 2004 diacu dalam
Sobariah 2007).
Mikroba probiotik pada umumnya merupakan makanan fermentasi yang
berbasis susu. Alasan pemilihan produk ini adalah bahwa susu yang sudah
difermentasi (contohnya yoghurt) telah dikenal sebagai makanan yang
menyehatkan. Makanan yang mengandung mikroba probiotik untuk konsumsi
manusia tersebut telah dipasarkan di Jepang sejak tahun 1920. Bakteri yang
pertama digunakan adalah Lactobacillus acidophilus dan Lactobacillus casei yang
merupakan mikroba pada produk susu fermentasi. Saat ini jumlah spesies mikroba
yang digunakan dalam makanan probiotik sudah meningkat dengan pesat, tetapi
makanan pembawa kultur probiotik yang utama tetap susu fermentasi dengan
berbagai variasi produk olahannya (Hartanti 2007).
Hasil riset membuktikan bahwa bakteri probiotik mampu bertahan hidup
dalam saluran pencernaan setelah dikonsumsi. Bakteri ini tahan terhadap lizozim
(enzim pemecah dinding sel bakteri yang terdapat di air liur), asam lambung dan
asam empedu sehingga mampu mencapai usus dalam keadaan hidup. Ia mampu
melekat pada sel epithelial dan memproduksi zat metabolit yang berperan dalam
menjaga dan mempertahankan keseimbangan mikroflora usus yang dalam kondisi
seimbang memberikan aktivitas yang menguntungkan dan menghasilkan efek
positif bagi kesehatan (Waspodo 2001 diacu dalam Daud 2005).
Meski jumlah bakteri probiotik melimpah dalam saluran pencernaan,
namun probiotik tidak membahayakan, bahkan sebaliknya karena probiotik tidak
memakan sel-sel dinding pencernaan, baik yang masih hidup maupun sel yang
sudah mati. Probiotik hanya memakan zat makanan yang tidak bisa dicerna
manusia, seperti inulin. Tidak hanya sekedar tidak mengganggu, keberadaan
probiotik ternyata menghadirkan manfaat besar bagi manusia maupun hewan.
Pasalnya, probiotik mampu mencegah munculnya infeksi pada saluran
pencernaan, terutama yang disebabkan oleh bakteri jahat. Tidak seperti probiotik,
bakteri jahat memang potensial merugikan manusia maupun hewan. Ini
disebabkan bakteri jahat hidupnya dengan cara memakan sel dinding pencernaan
yang mati maupun yang masih hidup. Akibatnya, dinding saluran pencernaan bisa
terinfeksi dan bocor (Siswono 2002 diacu dalam Daud 2005).
Keuntungan bakteri yang bersahabat adalah (Waspodo 1997): 1)
membantu pencernaan laktosa dan protein; 2) membersihkan saluran usus halus,
usus besar, dan meningkatkan pergerakan pembuangan feses; 3) menciptakan
asam laktat yang menyeimbangkan pH usus; memproduksi antibiotik alami dan
mencegah pertumbuhan bakteri atau jamur yang berbahaya; 5) berperan
menghancurkan virus dan parasit; 6) melindungi dari racun, polusi, mengeluarkan
sisa-sisa pembuangan yang beracun dari sel dan merangsang perbaikan sel; 7)
menambah daya tahan tubuh; 8) sebagai penyedia vitamin B6, B12, K, asam folat,
dan asam amino, 9) menolong pengaturan level kolesterol dan trigliserida.
Mengonsumsi produk-produk susu fermentasi misalnya susu asidofilus,
yogurt, yakult, dan sebagainya serta sel hidup dari bakteri asam laktat (BAL) telah
terbukti mampu mengendalikan berbagai macam diare pada orang dewasa dan
anak-anak. Sebagaimana yang dilaporkan oleh Vanderhoof et al. 1999 diacu
dalam Wirawati 2002, yang memberikan terapi probiotik menggunakan
Lactobacillus GG kepada anak-anak penderita diare akibat konsumsi antibiotik
berkepanjangan dengan hasil yang memuaskan, yaitu 85% pasien tidak lagi
menderita diare setelah pemberian Lactobacillus GG selama dua minggu. Infeksi
usus yang menyebabkan diare ini disebabkan oleh bakteri enterik patogen yang
masuk melalui makanan dan minuman atau tidak terkontrolnya bakteri indigenus
yang terkait gejala-gejala terseut. Diduga bakteri ini dapat dikurangi
keberadaannya karena sensitivitasnya terhadap metabolit antimikroba yang
diproduksi oleh BAL.
Keuntungan lain dari konsumsi bakteri asam laktat adalah peningkatan
sistem kekebalan tubuh dengan mekanisme yang sampai saat ini tidak begitu jelas,
tetapi diduga komponen khusus dinding sel atau lapisan sel menjadi prekursor dan
meningkatkan respon sistem imunitas (Erikson dan Hubbard 2000 diacu dalam
Wirawati 2002). Penurunan resiko kanker usus besar mungkin diperoleh melalui
kontrol pertumbuhan bakteri patogen seperti E. coli, S. faecalis, dan Clostridium
paraputrificum pada usus melalui kompetisi sisi penempelan dan nutrisi. Dinding
sel bakteri asam laktat, menunjukkan kemampuannya menstimulir pagositosis dari
makrofag sehingga menekan terbentuknya tumor dan kanker usus (Driessen dan
Boer 1989; Ray 1996 diacu dalam Wirawati 2002). Hal ini sejalan dengan
kesimpulan penelitian Rusilanti 2006 yang menyatakan bahwa pemberian susu
plus probiotik (MEDP) dapat meningkatkan respon imun IgA (antibodi
Imunoglobulin a) sehingga diharapkan dapat meningkatkan ketahanan tubuh
khususnya pada lansia.
Manfaat lain probiotik menurut Hoover 2000 diacu dalam Saputra 2007,
yaitu: 1) memproduksi senyawa antimikroba (khususnya patogen) seperti asam
laktat, asam asetat, karbondioksida, H2O2, bakteriosin, reuterin, dan senyawa
penghambat pertumbuhan bakteri patogen lainnya, 2) Unggul dalam kompetisi
penyerapan nutrien dan sisi penempelan pada sel epitel usus, 3) menstimulasi
sistem imunitas dan mampu mengubah aktivitas metabolisme mikroba dalam
saluran pencernaan. Hasil penelitian Swamilaksita 2008, alasan konsumsi
minuman probiotik sebesar 54,3% adalah karena adanya manfaat bagi kesehatan
yang dirasakan contoh.
Populasi bakteri dalam ekosistem saluran pencernaan orang sehat yang
mengkonsumsi diet berimbang umumnya stabil. Perubahan pola hidup, pola
makan, dan kondisi sakit mengubah stabilitas ekosistem tersebut, sehingga perlu
diupayakan suatu cara untuk menjaga keseimbangan mikroflora usus yaitu
meningkatkan proporsi bakteri “baik” dan menekan jumlah bakteri jahat yaitu
dengan cara mengkonsumsi probiotik dan menyediakan nutrisi sesuai untuk
bakteri probiotik agar dalam usus berkembang lebih pesat (Surono 2004 diacu
dalam Rusilanti 2006).
Ringkasan manfaat kesehatan susu fermentasi probiotik pada saluran
pencernaan, mikroba usus, diare, dan lainnya dapat dilihat pada Tabel berikut:
Tabel 1. Ringkasan manfaat kesehatan susu fermentasi probiotik
Aktifitas/Efek
Manfaat Kesehatan
Saluran Pencernaan
Aktif terhadap infeksi H. phylori, memperbaiki
pencernaan laktosa, menstimulir imunitas saluran
usus, menstimulir gerak peristaltik usus.
Mikrobiota Usus
Keseimbangan populasi mikrobiota, menurunkan
aktivitas fekal enzim, kolonisasi pada saluran usus,
menurunkan kesempatan infeksi Salmonella spp.
Diare
Pencegahan/penanganan diare akut dan rotavirus,
mencegah diare akibat antibiotik, penanganan diare
akibat Clostridium difficile.
Efek lainnya
Memperbaiki kekebalan terhadap penyakit, menekan
terjadinya kanker, menurunkan serum kolesterol,
menurunkan tekanan darah tinggi.
Sumber: Surono 2004 diacu dalam Rusilanti 2006
Kebutuhan Gizi Dewasa
Orang dewasa adalah orang yang berumur antara 18-65 tahun. Dewasa
awal berusia antara 18-30 tahun, dewasa menengah antara 30-35 tahun. Dengan
berhentinya pertumbuhan fisik pada dewasa awal, zat gizi yang diperlukan untuk
pemeliharaan, mengalami penurunan. Kebutuhan dalam jumlah besar adalah
untuk menjaga dan memperbaiki jaringan tubuh. Kebutuhan ini tetap sama selama
usia dewasa, kecuali untuk energi dan zat besi. (Eschleman 1984 diacu dalam
Chotimah 2003).
RDA
(Recommended
Dietary
Allowance)
untuk
orang
dewasa
dikelompokkan ke dalam tiga kelompok umur: 19-22 tahun, 23-50 tahun, dan ≥
50 tahun. Perbedaan utama dari ketiga kelompok ini adalah berbedanya kebutuhan
untuk pemeliharaan dan pertumbuhan. Energi dasar untuk menjaga kesehatan dan
memelihara semua jaringan yang ada dalam tubuh mulai menurun sekitar 2%
setiap sepuluh tahun setelah berumur 23 tahun (Holman 1987 diacu dalam
Chotimah 2003). Kebutuhan gizi dewasa pria umur 30-49 tahun yaitu: Energi
2350 Kkal, Protein 60 g, vitamin D 5 µg, Ca 800 mg, vitamin B12 (2,4 µg), dan
asam folat 400 µg. Sedangkan Kebutuhan gizi dewasa wanita umur 30-49 tahun
yaitu: Energi 1800 Kkal, Protein 50 g, vitamin D 5 µg, Ca 800 mg, vitamin B12
(2,4 µg), dan asam folat 400 µg (AKG 2004).
Kebutuhan Gizi Lansia
Penentuan masa usia lanjut merupakan hal yang tidak mudah. Di
Indonesia, batas usia 60 tahun ditetapkan sebagai awal dari usia lanjut. Hal ini
disesuaikan dengan kondisi Indonesia, dimana masa pensiun yang tergolong pada
tahap dewasa akhir adalah 55 tahun, kecuali untuk orang dengan fungsi tertentu
seperti profesor, ahli hukum, dokter atau profesional lain yang biasanya pensiun
ketika berumur 65 tahun (Anitasari 1993 diacu dalam Nurlaela 2006).
Pada masa kehidupan lanjut usia, biasanya seseorang mengalami banyak
masalah yang berkaitan dengan kesehatannya. Berbagai macam masalah yang
terjadi semakin bertambah dengan bertambahnya umur, kondisi ini berkaitan
dengan proses penuaan yang terjadi. Pada setiap individu, proses menjadi tua
sangat bervariasi, tergantung dari kondisi fisik dan mentalnya sehingga sulit
membuat patokan siapa yang disebut lanjut usia (lansia). Dalam kegiatan
program, Departemen Kesehatan membuat patokan kelompok lansia berdasarkan
usia kronologis yaitu seorang pria dan wanita yang berumur 60 tahun atau lebih,
baik secara fisik masih berkemampuan (potensial) maupun karena sesuatu hal
tidak lagi mampu berperan secara aktif dalam pembangunan (Depkes 1998 diacu
dalam Nurlaela 2006). Karena keterbatasan waktu dan wilayah, peneliti
menggunakan kategori ≥ 55 tahun keatas sebagai lansia, dengan pertimbanagn
definisi pertama.
Konsumsi makanan yang lebih beragam dapat memperbaiki kecukupan
akan zat-zat gizi dan menunjukkan perlindungan terhadap serangan berbagai
penyakit kronik yang berhubungan dengan proses penuaan (Howarth, Blazos,
Savige, &Wahlqvist 1999 diacu dalam Nadhira 2007). Konsumsi makanan
sumber protein, vitamin, & mineral perlu ditingkatkan baik dari segi jumlah
maupun mutunya. Sayuran dan buah-buahan dikonsumsi dalam jumlah cukup
secara teratur dan bervariasi, karena keduanya merupakan sumber serat yang baik,
yang berguna untuk mengatasi kesulitan buang air besar pada lansia. Selain itu,
sebaiknya dipilih makanan yang lunak dan mudah dikunyah, sedangkan untuk
meningkatkan selera makan, bumbu-bumbuan dapat ditambahkan ke dalam
makanan.
Pencernaan protein lansia semakin tidak efisien, kemungkinan disebabkan
oleh menurunkan sekresi pepsin dan enzim proteolitik lain. Demikian pula
penyerapan kalsium juga turut berkurang (Beal 1980 diacu dalam Nadhira 2007).
Defisiensi vitamin/mineral yang sering dialami lansia tidak berarti bahwa mereka
sebaiknya makan suplemen vitamin/mineral. Lebih baik disarankan agar mereka
memperbaiki pola makannya. Makanan yang kaya vitamin biasanya juga kaya
akan zat gizi lainnya, sementara suplemen vitamin hanya melulu memberikan
vitamin (Khomsan 2002 diacu Nadhira 2007).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa keadaan malnutrisi protein
dan energi berpengaruh terhadap lemahnya kekebalan tubuh khususnya sel yang
bertanggung jawab terhadap sistem kekebalan tubuh. Dengan demikian perbaikan
asupan gizi pada lansia dapat memperbaiki sistem kekebalan tubuhnya. Penurunan
sistem kekebalan menjadikan lansia rentan terhadap berbagai serangan penyakit
infeksi. Pola penyakit yang menyerang lansia, erat hubungannya dengan
penurunan fungsi kekebalan tubuh (Wirakusuma 2002 diacu dalam Rusilanti
2006).
Kebutuhan gizi lansia pria umur 50-64 tahun yaitu: Energi 2250 Kkal,
Protein 60 g, Vitamin D 10 µg, Ca 800 mg Vitamin B12 (2,4 µg), dan asam folat
400 µg. Sedangkan lansia pria umur ≥65 tahun yaitu Energi 2050 Kkal, Protein 60
g, Vitamin D 15 µg, Ca 800 mg, Vitamin B12 (2,4 µg), dan asam folat 400 µg.
Untuk kebutuhan gizi lansia wanita umur 50-64 tahun yaitu: Energi 1750 Kkal,
Protein 10 g, Vitamin D 10 µg, Ca 800 mg, Vitamin B12 (2,4 µg), dan asam folat
400 µg. Sedangkan lansia wanita umur ≥65 tahun yaitu Energi 1600 Kkal, Protein
45 g, Vitamin D 15 µg, Ca 800 mg, Vitamin B12 (2,4 µg), dan asam folat 400 µg
(AKG 2004).
KERANGKA PEMIKIRAN
Kesadaran akan pentingnya kesehatan meningkat seiring dengan majunya
tingkat pendidikan dan meningkatnya pendapatan masyarakat Indonesia secara
umum. Saat ini, banyak upaya yang dilakukan masyarakat agar kondisi fisiknya
tetap baik. Salah satu upaya tersebut adalah dengan mengkonsumsi produk
probiotik seperti yoghurt yang sudah banyak tersedia di pasaran. Hal ini
berpengaruh terhadap persepsi masyarakat tentang produk probiotik yang
dinyatakan mengandung mikroba menguntungkan.
Persepsi dapat diartikan sebagai tanggapan, pendapat, yang didalamnya
terkandung unsur penilaian seseorang terhadap objek dan gejala berdasarkan
pengalaman dan wawasan yang dimilikinya (Martias 1997 diacu dalam Rahardjo
2007). Jadi, apa yang dialami seseorang berpengaruh terhadap apa yang
dilakukannya. Konsumen seringkali memutuskan untuk membeli suatu produk
berdasarkan persepsi terhadap produk tersebut. Oleh sebab itu, persepsi dapat
mempengaruhi konsumsi suatu produk.
Persepsi dan kesukaan mempengaruhi konsumsi pangan. Semakin baik
konsumsi pangan seseorang, diharapkan status gizinya semakin baik pula. Pada
penelitian ini akan dilihat hubungan kebiasaan konsumsi produk probiotik dengan
kesehatan pencernaan setelah intervensi produk probiotik Activia selama 14 hari
dan kecenderungan pemilihan produk selanjutnya yang akan dilakukan konsumen.
Skema kerangka pemikiran dapat dilihat pada Gambar 1.
Intervensi
Konsumsi produk
produk probiotik
probiotik Activia
Activia 14 hari
14 hari
Persepsi manfaat
kesehatan yang
dirasakan
Kebiasaan
konsumsi produk
susu fermentasi
Gambar 1. Skema Kerangka Penelitian
Ket:
Hub yang diteliti
Variabel yang diteliti
Kesukaan
METODE PENELITIAN
Desain, tempat, dan waktu penelitian
Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian besar yang berjudul “Studi
Persepsi Konsumen tentang Penggunaan Activia” hasil kerjasama PT Danone
Indonesia dengan Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) IPB dan Perhimpunan
Peminat Gizi dan Pangan (PERGIZI PANGAN) INDONESIA. Desain penelitian
berupa Cross Sectional Study karena pengambilan data dilakukan pada satu waktu
yang tidak berkelanjutan untuk menggambarkan karakteristik contoh dan
hubungan antar variabel (Singarimbun dan Effendi 1989).
Penelitian dilakukan pada bulan Juni-Juli 2008. Tahapan penelitian terdiri
dari: 1) pengambilan data awal (baseline), dilakukan minggu I bulan Juni 2008, 2)
proses washing out pada minggu ke-2 bulan Juni 2008, 3) pemberian (distribusi)
Activia dilakukan pada minggu ke-3 dan ke-4 bulan Juni 2008, 4) pengambilan
data akhir (end-line) pada minggu ke-1 bulan Juli 2008, 5) pengolahan data dan
pembuatan laporan pada minggu ke-2 & ke-3 bulan Juli 2008, 6) survei keloyalan
contoh mengonsumsi produk Activia pada minggu ke-4 bulan Juli 2008.
Penelitian dilaksanakan di kawasan perumahan Bogor, yaitu Perumahan
Taman Yasmin (Bogor Barat), Kedung Badak (Tanah Sareal), Bukit Cimanggu
City (Kecamatan Mekarwangi), dan Bantar Kemang (Bogor Timur). Demi
kemudahan akses, peneliti memilih lokasi terakhir, Bantar Kemang (Bogor Timur)
sebagai tempat penelitian, dengan pertimbangan tempat tersebut merupakan
Perumahan Nasional (Perumnas) pertama di Bogor, sehingga masyarakatnya
sebagian besar adalah pensiunan yang berumur lanjut usia (lansia) dan dewasa.
Jumlah dan Cara Pemilihan Contoh
Contoh dalam penelitian ini adalah masyarakat yang tinggal di Perumahan
Bantar Kemang baik pria maupun wanita berusia 30-55 tahun untuk dewasa lanjut
atau > 55 tahun untuk lansia. Pemilihan contoh dilakukan secara purposive
sampling, dengan kriteria: 1) tidak alergi terhadap produk susu, 2) besar keluarga
≤ 4 orang, 3) tidak puasa senin-kamis atau puasa sunah lainnya selama masa
penelitian, 4) memiliki lemari es (kulkas), 5) bersedia mengonsumsi produk
probiotik Activia selama 14 hari, dan 6) bersedia berpartisipasi dalam penelitian.
Di samping itu terdapat beberapa kriteria yang tidak boleh dimiliki contoh
(kriteria eksklusi), yaitu: 1) memiliki penyakit serius, 2) pernah menjalani operasi
dalam 6 bulan terakhir, 3) berada dalam perawatan medis, 4) mengonsumsi
suplemen serat secara teratur, dan 5) mengonsumsi produk pangan probiotik lain
secara teratur
Saat tahap awal (baseline), diperoleh 90 contoh yang bersedia
diwawancarai. Kepada setiap contoh diberikan 1 cup Activia untuk dikonsumsi
langsung dihadapan enumerator/tenaga lapang, sekaligus untuk memastikan
bahwa contoh tidak alergi produk susu atau bersedia mengonsumsi Activia. Dari
baseline ini diperoleh 45 contoh yang memenuhi persyaratan. Pada akhir
penelitian, sebanyak 41 orang dengan data yang lengkap dijadikan contoh.
Sejumlah contoh yang semula bersedia akan berpartisipasi penuh dalam
penelitian, ternyata tidak bisa memenuhinya karena tugas atau kegiatan keluar
kota (liburan anak sekolah), tidak sanggup mengonsumsi 2 cup setiap hari karena
rasa asam dan tidak nyaman di perut, dan bagi beberapa lansia karena dilarang
anggota keluarga yang menjadi tuan rumahnya.
Untuk contoh terpilih, diberikan sosialisasi tentang studi dan diminta
melakukan washing out, yaitu tidak mengonsumsi produk probiotik selama 1
minggu (7 hari). Pada tahap ini, contoh diminta untuk tidak mengonsumsi produkproduk suplemen (makanan/ minuman/ obat), produk susu fermentasi jenis dan
merk apapun (termasuk Activia) selama satu minggu. Dengan demikian,
diharapkan bahwa kesan dan/ atau manfaat yang dirasakan nantinya selama
mengonsumsi Activia 14 hari adalah memang berasal dari Activia.
Setelah menjalani masa washing out, setiap contoh diminta untuk
mengonsumsi 2 cup Activia (masing-masing 80 gram) setiap hari selama 14 hari
secara berturut-turut. Activia yang dikonsumsi contoh, didistribusikan sekali
dalam 2 hari. Selain empat cup tersebut, kepada contoh juga diberikan 4 cup
tambahan untuk dikonsumsi anggota keluarga lainnya untuk menjamin agar
jumlah yang harus dimakan contoh tidak diberikan kepada anggota keluarga
lainnya.
Jenis dan Cara Pengumpulan Data
Data awal dikumpulkan untuk memperoleh informasi tentang 1) Sosiodemografi, 2) Kebiasaan makan, 3) Konsumsi produk probiotik lain, 4) Konsumsi
suplemen serat, 3) Frekuensi buang air besar. Yang tercakup dalam dua bagian
besar, yatu 1) karakteristik individu meliputi jenis kelamin, umur, berat badan,
tinggi badan, pengeluaran untuk makan per bulan dan jumlah anggota keluarga
serta kepemilikan lemari es/kulkas, 2) kondisi kesehatan dan kebiasaan
mengkonsumsi produk susu fermentasi.
Data akhir dikumpulkan setelah dua minggu mengonsumsi produk Activia
dengan memperoleh informasi: persepsi contoh tentang: 1) penerimaan pada
kualitas sensori dari produk Activia, 2) penerimaan pada desain kemasan dan
harga produk Activia, 3) manfaat kesehatan setelah mengonsumsi produk Activia
yang tercakup dalam tiga macam kuesioner yaitu 1) kesan emosional dan
kesehatan konsumen pre-test sebelum mengkonsumsi produk Activia, 2) persepsi
konsumen tentang produk Activia, 3) kesan emosional dan kesehatan konsumen
post-test sesudah mengkonsumsi produk Activia. Demi kesempurnaan, peneliti
juga mengumpulkan data tentang kebiasaan konsumsi produk probiotik setelah
dua minggu intervensi Activia berhenti.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Lokasi Penelitian
Perumahan Bantar Kemang merupakan perumahan nasional (Perumnas)
pertama di Kota Bogor yang terletak di Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan
Bogor
Timur,
dengan
luas
wilayah
±235
hektar.
Kondisi
Kelurahan
Baranangsiang berlembah dan datar dengan ketinggian rata-rata 200-300 m diatas
permukaan laut. Curah hujan rata-rata 3000-4000 mm dengan tingkat kesuburan
tanah sangat subur.
Sejarah singkat Perumahan Bantar Kemang diawali dari upaya sebuah
partai yang ingin memenangkan suara di wilayah ini pada masa orde baru. Partai
tersebut akhirnya membeli semua tanah di wilayah ini dan membangun
perumahan untuk rakyat. Banyak orang yang menginginkan bertempat tinggal di
perumahan ini karena letaknya yang strategis, sehingga dilakukan sistem undian
khusus untuk Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan para pendatang. Oleh karena itu,
banyak warga pensiunan dan dewasa lanjut yang bukan penduduk asli bogor,
bertempat tinggal di perumahan ini.
Perumahan Bantar Kemang mendapat julukan “Etalase Kota Bogor”
karena merupakan wilayah “Kesan Pertama” saat memasuki Kota Bogor, hingga
muncul anggapan, jika Bantar Kemang bersih, maka Kota Bogor pasti bersih,
demikian sebaliknya. Perumahan Bantar Kemang terdiri dari 14 RW dan 84 RT
serta jumlah penduduk ± 26.000 orang. Hal ini juga dilengkapi dengan potensi
wilayah yang mencakup air, gas alam, telepon, listrik dan kemudahan
memperoleh angkutan umum.
Deskripsi Produk
Activia adalah suatu produk yoghurt diproduksi oleh PT. Danone
Indonesia yang merupakan multinasional company berpusat di Perancis yang telah
mendapat memiliki izin dari Badan POM dengan nomor pendaftaran
MD205210086288 dan telah mendapat sertifikasi Halal MUI. Activia
menggunakan bakteri Bifidus animalis DN-173010 yang berguna bagi
pencernaan. Dalam setiap kemasan Activia ukuran saji 80 gram mengandung 108
probiotik/gr (sama dengan 80x108 probiotik/serving size).
Kondisi Kesehatan dan Kebiasaan Konsumsi Produk Susu Fermentasi
Riwayat Kesehatan
Selama satu bulan terakhir, sebanyak 36,6 persen contoh mengalami diare.
Frekuensinya berkisar 1-3 kali dalam satu bulan. Alasan contoh yang mengalami
diare terutama berkaitan dengan makanan seperti makan makanan yang pedas
(rujak), makan makanan bersantan, dan juga karena masuk angin.
Sebanyak
19,51
persen
contoh
sedang
menjalani
masa
perawatan/penyembuhan karena penyakit tertentu. Tidak ada contoh yang sedang
menjalani masa perawatan pasca bedah.
Sebanyak 19,51 persen contoh
mengalami penyakit serius dalam enam bulan terakhir seperti paru-paru dan
infeksi saluran pencernaan. Tidak ada contoh yang pernah menjalani operasi
dalam enam bulan terakhir.
Sebagian besar contoh (92,68%) tidak alergi atau mengalami diare sesudah
konsumsi susu. Tidak ada contoh yang alergi atau mengalami diare sesudah
konsumsi yoghurt. Sebagian besar contoh (60,98%) tidak teratur BAB setiap hari.
Hal ini sesuai dengan kebutuhan penelitian untuk mendapatkan orang-orang yang
tidak teratur BAB setiap hari. Dalam sebulan terakhir, sebanyak 23,53% contoh
mengalami keluhan sulit buang air besar/sembelit. Sebanyak 17,64% contoh
mengalami keluhan perut kembung dalam sebulan terakhir. Hal inilah yang
menjadi pertimbangan orang-orang tersebut diambil sebagai contoh penelitian.
Kebiasaan Konsumsi Produk Susu Fermentasi dan Suplemen Serat
Sebagian besar contoh (92,68%) tidak mengonsumsi produk susu
fermentasi secara teratur. Demikian juga, sebagian besar contoh (85,37%) tidak
mengonsumsi produk suplemen serat secara teratur. Hal ini diperkirakan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain: pengetahuan gizi, pendapatan,
kebiasaan makan sehari-hari, dan sebagainya.
Persepsi Contoh tentang Produk Activia
Penilaian Mutu Cita Rasa
Warna. Penilaian seluruh contoh terhadap warna Activia berkisar antara 1
(amat sangat pucat) sampai 9 (amat sangat pekat), kebanyakan (modus) contoh
(85,36%) memberikan penilaian warna produk Activia adalah 5 (pas). Sebaran
contoh berdasarkan penilaian warna disajikan dalam Tabel 2. Dengan warna pink
yang lembut, Activia dinilai mempunyai warna seperti es krim.
Tabel 2. Sebaran contoh berdasarkan penilaian warna
Kategori
n
%
Amat sangat pucat
3
7,32
Pas
35
85,36
Amat sangat pekat
3
7,32
Total
41
100
Aroma buah. Penilaian seluruh contoh terhadap aroma buah Activia
berkisar antara 1 (amat sangat tidak beraroma) sampai 9 (amat sangat beraroma),
kebanyakan (modus) contoh (68,29%) memberikan penilaian aroma buah produk
Activia adalah 5 (pas). Sebaran contoh berdasarkan penilaian aroma buah
disajikan dalam Tabel 3. Aroma buah strawberry yang juga menyerupai es krim,
menambah citarasa tersendiri bagi contoh.
Tabel 3. Sebaran contoh berdasarkan penilaian aroma buah
Kategori
n
%
Amat sangat tidak beraroma
6
14,64
Pas
28
68,29
Amat sangat beraroma
7
17,07
Total
41
100
Kekentalan. Penilaian seluruh contoh terhadap kekentalan Activia berkisar
antara 2 (sangat encer) sampai 9 (amat sangat kental), kebanyakan (modus)
contoh (75,61%) memberikan penilaian kekentalan produk Activia adalah 5 (pas).
Sebaran contoh berdasarkan penilaian kekentalan disajikan dalam Tabel 4.
Kekentalan Activia yang juga menyerupai es krim, menyimpan keunikan
tersendiri dibanding produk probiotik lainnya.
Tabel 4. Sebaran contoh berdasarkan penilaian kekentalan
Kategori
n
%
Amat sangat encer
0
0
Pas
31
75,61
Amat sangat kental
10
24,39
Total
41
100
Rasa asam. Penilaian seluruh contoh terhadap rasa asam Activia berkisar
antara 2 (sangat encer) sampai 9 (amat sangat kental), kebanyakan (modus)
contoh (78,05%) memberikan penilaian rasa asam produk Activia adalah 5 (pas).
Sebaran contoh berdasarkan penilaian rasa asam disajikan dalam Tabel 5. Rasa
asam Activia yang pas, membuat contoh merasa aman untuk mengonsumsinya
terkait dengan keluhan maag yang diderita beberapa contoh.
Tabel 5. Sebaran contoh berdasarkan penilaian rasa asam
Kategori
n
%
Amat sangat tidak asam
0
0
Pas
32
78,05
Amat sangat asam
9
21,95
Total
41
100
Rasa manis. Penilaian seluruh contoh terhadap rasa asam Activia berkisar
antara 1 (amat sangat tidak manis) sampai 9 (amat sangat manis), kebanyakan
(modus) contoh (87,80%) memberikan penilaian rasa manis produk Activia
adalah 5 (pas). Sebaran contoh berdasarkan penilaian rasa manis disajikan dalam
Tabel 6. Rasa manis ini membuat contoh bertambah nikmat saat mengonsumsi
Activia.
Tabel 6. Sebaran contoh berdasarkan penilaian rasa manis
Kategori
n
%
Amat sangat tidak manis
4
9,76
Pas
36
87,80
Amat sangat manis
1
2,44
Total
41
100
Kesan keseluruhan. Penilaian seluruh contoh terhadap cita rasa produk
Activia berkisar antara 1 (amat sangat tidak enak) sampai 9 (amat sangat enak),
separuh contoh (51,22%) memberikan penilaian cita rasa keseluruhan produk
Activia adalah 9 (amat sangat enak). Sebaran contoh berdasarkan kesan
keseluruhan disajikan dalam Tabel 7. Hasil ini menunjukkan bahwa contoh
memberikan kesan positif terhadap keseluruhan mutu cita rasa Activia.
Tabel 7. Sebaran contoh berdasarkan kesan cita rasa keseluruhan
Kategori
n
%
Amat sangat tidak enak
1
2,44
Pas
19
46,34
Amat sangat enak
21
51,22
Total
41
100
Tingkat kesukaan terhadap produk Activia
Warna. Tingkat kesukaan seluruh contoh terhadap warna produk Activia
berkisar antara 3 (tidak suka) sampai 9 (amat sangat suka), separuh contoh
(53,66%) memberikan penilaian tingkat kesukaan terhadap produk Activia adalah
9 (amat sangat suka). Hasil ini menunjukkan bahwa contoh sangat menyukai
warna Activia. Dengan warna pink yang lembut, contoh mengibaratkan Activia
%
seperti es krim.
60
50
40
30
20
10
0
46,34
53,66
0
Amat sangat
tidak suka
Biasa
Amat sangat
suka
Gambar 2. Persentase contoh yang menyukai warna produk Activia
Aroma buah. Tingkat kesukaan seluruh contoh terhadap aroma buah
produk Activia berkisar antara 1 (amat sangat tidak suka) sampai 9 (amat sangat
suka), namun secara umum (modus) tingkat kesukaan terhadap aroma buah
Activia adalah 5 (biasa). Persentase contoh yang menyukai aroma buah Activia
(≥5) adalah sebanyak 48,78 persen. Aroma buah strawberry sangat menggugah
contoh untuk dapat menikmati Activia dengan lezat.
%
60
50
40
30
20
10
0
48,78
43,9
7,32
Amat sangat
tidak suka
Biasa
Amat sangat
suka
Gambar 3. Persentase contoh yang menyukai aroma buah produk Activia
Kekentalan. Tingkat kesukaan seluruh contoh terhadap kekentalan produk
Activia berkisar antara 1 (amat sangat tidak suka) sampai 9 (amat sangat suka),
namun secara umum (modus) tingkat kesukaan terhadap kekentalan Activia
adalah 5 (biasa). Persentase contoh yang menyukai kekentalan Activia (≥5) adalah
sebanyak 53,66 persen. Kekentalan Activia yang menyerupai es krim, menambah
%
daya tarik tersendiri bagi contoh untuk mengonsumsi Activia.
60
50
40
30
20
10
0
53,66
43,9
2,44
Amat sangat
tidak suka
Biasa
Amat sangat
suka
Gambar 4. Persentase contoh yang menyukai kekentalan produk Activia
Rasa manis. Tingkat kesukaan seluruh contoh terhadap rasa manis produk
Activia berkisar antara 1 (amat sangat tidak suka) sampai 9 (amat sangat suka),
namun secara umum (modus) tingkat kesukaan terhadap rasa manis Activia
adalah 5 (biasa). Persentase contoh yang menyukai rasa manis Activia (≥5) adalah
sebanyak 70,73 persen. Rasa manis Activia dianggap sesuai dengan selera contoh.
Jika rasa manis ini dikurangi atau ditambah, dikuatirkan kelezatan Activia terasa
berkurang.
%
100
80
60
40
20
0
70,73
78
12,2
Amat sangat
tidak suka
Biasa
Amat sangat
suka
Gambar 5. Persentase contoh yang menyukai rasa manis produk Activia
Rasa asam. Tingkat kesukaan seluruh contoh terhadap rasa asam produk
Activia berkisar antara 1 (amat sangat tidak suka) sampai 9 (amat sangat suka),
namun secara umum (modus) tingkat kesukaan terhadap rasa asam Activia adalah
5 (biasa). Persentase contoh yang menyukai rasa asam Activia (≥5) adalah
sebanyak 46,34 persen. Asamnya Activia yang segar, dinilai tidak mengganggu
%
bagi contoh yang memiliki keluhan sakit maag,
50
40
30
20
10
0
41,45
46,34
12,2
Amat sangat
tidak suka
Biasa
Amat sangat
suka
Gambar 6. Persentase contoh yang menyukai rasa asam produk Activia
Kesan keseluruhan. Tingkat kesukaan seluruh contoh terhadap cita rasa
produk Activia secara keseluruhan berkisar antara 1 (amat sangat tidak suka)
sampai 9 (amat sangat suka), secara umum tingkat kesukaan terhadap cita rasa
Activia secara keseluruhan adalah 5 (biasa). Persentase contoh yang menyatakan
suka terhadap cita rasa Activia (≥5) adalah sebanyak 65,85 persen. Dari hasil
penelitian diketahui bahwa contoh sangat menyukai produk Activia. Hal ini
merupakan respon positif untuk perkembangan Activia selanjutnya.
80
65,85
%
60
34,15
40
20
0
0
Amat sangat
tidak suka
Biasa
Amat sangat
suka
Gambar 7. Persentase contoh yang menyukai keseluruhan produk Activia
Persepsi Emosional dan Kesehatan Contoh
Persepsi Emosional
Perut terasa nyaman.
Sebelum mengonsumsi Activia terdapat sekitar 22 % contoh yang merasa
perutnya tidak nyaman, namun setelah 14 hari mengonsumsi Activia tinggal 2%
yang merasakan demikian dan sisanya sebanyak 98% menyatakan perutnya terasa
nyaman. Hal ini menunjukkan bahwa contoh merasakan manfaat Activia terhadap
perut contoh sehingga bisa beraktivitas lebih lancar dan tenang.
Tidak mengalami stress akibat gangguan pencernaan.
Sebelum mengonsumsi Activia terdapat 12% contoh yang mengalami stres
akibat gangguan pencernaan, namun setelah 14 hari mengonsumsi Activia tinggal
2% yang merasakan demikian dan sisanya sebanyak 98% menyatakan tidak lagi
mengalami stress akibat gangguan pencernaan sesudah mengonsumsi Activia.
Stress contoh terkait dengan pencernaan terutama dirasakan berupa perut serasa
diaduk-aduk, feses sulit dikeluarkan, perut terasa penuh. Setelah mengonsumsi
Activia, beberapa perasaan tersebut tidak lagi dirasakan contoh.
Tidak mengalami gangguan pencernaan.
Sebelum mengonsumsi Activia terdapat sekitar 22% contoh yang
mengalami gangguan pencernaan, namun setelah 14 hari mengonsumsi Activia
tinggal 2% yang merasakan demikian dan sisanya sebanyak 98% menyatakan
tidak lagi mengalami gangguan pencernaan. Gangguan pencernaan berkurang
karena adanya aktivitas bakteri probiotik yang terkandung dalam Activia, yang
memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan manusia dengan cara
memperbaiki sifat-sifat mikroba alami yang tinggal di dalam tubuh seseorang
Sobariah 2007). Persepsi emosional contoh sebelum dan sesudah mengonsumsi
Activia (perasaan perut nyaman, stres akibat gangguan pencernaan, dan gangguan
pencernaan) disajikan pada gambar 8 berikut ini.
120
100
80
60
40
20
0
78
98
88 98
78
98
Sebelum
Sesudah
Perut terasa
Tidak
Tidak
nyaman
mengalami mengalami
stres akibat
gangguan
pencernaan pencernaan
Gambar 8. Persepsi emosional contoh sebelum dan sesudah mengonsumsi Activia
(perut nyaman, stres akibat pencernaan, dan gangguan pencernaan)
Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, menunjukkan perbedaan yang nyata
antara sebelum dan sesudah konsumsi Activia terhadap variabel perut terasa
nyaman, tidak mengalami stress akibat gangguan pencernaan, dan tidak
mengalami gangguan pencernaan. Artinya, ketiga variabel tersebut memberikan
hasil yang positif terhadap keadaan pencernaan contoh lebih baik dan sehat.
Kesan emosional lain
Kesan emosional lain yang ditanyakan ke responden setelah mengonsumsi
Activia yaitu kesan tubuh terasa bertenaga, tubuh terasa ringan, dan kesan merasa
langsing (Gambar 9). Hampir seluruh contoh (95%) menyatakan merasa tubuh
bertenaga setelah mengonsumsi Activia. Jumlah ini meningkat dari 76 persen
sebelum mengonsumsi Activia. Hampir seluruh contoh (90%) juga menyatakan
tubuhnya terasa ringan setelah mengonsumsi Activia. Jumlah ini meningkat dari
73 persen yang merasakan tubuhnya ringan. Begitu pula sebanyak 80 persen
contoh menyatakan lebih merasa langsing setelah mengonsumsi Activia, padahal
sebelum mengonsumsi Activia hanya 59 persen yang merasa langsing. Persepsi
emosional contoh sebelum dan sesudah mengonsumsi Activia (tubuh terasa
bertenaga, terasa ringan, dan langsing) disajikan pada gambar 9 berikut ini.
76
100
95
73
90
59
80
50
0
Tubuh terasa
bertenaga
Tubuh terasa
ringan
Sebelum
Merasa
langsing
Sesudah
Gambar 9. Persepsi emosional contoh sebelum dan sesudah mengonsumsi Activia
(tubuh terasa bertenaga, terasa ringan, dan langsing)
Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, menunjukkan perbedaan yang nyata
antara sebelum dan sesudah konsumsi Activia terhadap variabel tubuh terasa
bertenaga, terasa ringan, merasa langsing (p<0,05). Artinya, Activia memberikan
hasil lebih baik atau contoh merasa semakin bertenaga tubuhnya dan terasa
ringan, setelah mengonsumsi Activia. Contoh merasa langsing karena berat
badannya berkurang.
Tubuh terasa rileks, perasaan bahagia terkait dengan pencernaan dan
merasa bergengsi dengan pola makan yang sekarang serta sering merasakan mood
baik terkait pencernaan merupakan kesan emosional lain yang dirasakan oleh
contoh setelah mengonsumsi Activia selama 14 hari. Sebanyak 93 persen contoh
menyatakan tubuh terasa rileks setelah mengonsumsi Activia, meningkat
jumlahnya dari sebelum mengonsumsi Activia (59%).
Sebanyak 95 persen contoh menyatakan merasa bahagia terkait dengan
pencernaan setelah mengonsumsi Activia. Hal ini diduga berhubungan erat
dengan mood baik yang sering dirasakan terkait pencernaan oleh hampir seluruh
contoh (98%). Demikian juga sebanyak 85 persen contoh menyatakan merasa
bergengsi dengan pola makan yang sekarang, setelah mengonsumsi Activia.
Persepsi emosional contoh sebelum dan sesudah mengonsumsi Activia (tubuh
terasa rileks, perasaan bahagia terkait dengan pencernaan dan merasa bergengsi
dengan pola makan yang sekarang serta sering merasakan mood baik terkait
pencernaan) disajikan pada gambar 10 berikut ini.
120
80
60
98
95
93
100
85
73
59
59
63
40
20
0
Tubuh terasa
rileks
Merasa bahagia
terkait
pencernaan
Sebelum
Merasa mood
baik terkait
pencernaan
Bergengsi
dengan pola
makan sekarang
Sesudah
Gambar 10. Persepsi emosional contoh sebelum dan sesudah mengonsumsi
Activia (tubuh terasa rileks, perasaan bahagia terkait dengan
pencernaan dan merasa bergengsi dengan pola makan yang sekarang
serta sering merasakan mood baik terkait pencernaan)
Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, menunjukkan perbedaan yang nyata
antara sebelum dan sesudah konsumsi Activia terhadap variabel tubuh terasa
rileks, perasaan bahagia terkait dengan pencernaan dan merasa bergengsi dengan
pola makan yang sekarang serta sering merasakan “mood” baik terkait dengan
pencernaan (p<0,05).
Persepsi Manfaat Kesehatan Sebelum dan Sesudah Mengonsumsi Activia
Kondisi Kesehatan contoh dalam Hal Frekuensi BAB, Pengeluaran Feses, Waktu
Mengejan dan Konsistensi Feses sebelum dan sesudah mengonsumsi Activia
Sebanyak 85 persen menyatakan mengalami keteraturan BAB 1 kali/hari,
terjadi peningkatan dari 68 persen contoh sebelum mengonsumsi Activia. Seluruh
contoh (100%) menyatakan pengeluaran fesesnya lancar, dimana terjadi
peningkatan dari 78 persen contoh sebelum mengonsumsi Activia.
Hampir seluruh contoh (95%) menyatakan mengalami waktu mengejan
BAB tidak lama, dimana meningkat dari 76 persen contoh sebelum mengonsumsi
Activia. Demikian juga, hampir seluruh contoh (93%) menyatakan mengalami
konsistensi feses lembik, dimana meningkat dari 66 persen contoh sebelum
mengonsumsi Activia. Kondisi kesehatan contoh dalam hal Frekuensi BAB,
Pengeluaran Feses, Waktu Mengejan dan Konsistensi Feses sebelum dan sesudah
mengonsumsi Activia disajikan dalam gambar 11 berikut ini.
120
100
100
80
85
78
68
95
76
93
66
60
40
20
0
Frekuensi BAB
teratur setiap
hari
Pengeluaran
feses lancar
Sebelum
Waktu
mengejan tidak
lama
Konsistensi
feses lembik
Sesudah
Gambar 11. Kondisi kesehatan contoh dalam hal Frekuensi BAB, Pengeluaran
Feses, Waktu Mengejan dan Konsistensi Feses sebelum dan sesudah
mengonsumsi Activia
Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, menunjukkan hubungan yang nyata
antara sebelum dan sesudah konsumsi Activia terhadap variabel frekuensi BAB
teratur setiap hari, pengeluaran feses lancar, waktu mengejan, dan konsistensi
feses lembik (p<0,05). Contoh merasa semakin lancar pengeluaran fesenya
sesudah mengonsumsi Activia.
Beberapa persepsi kesehatan lain dijabarkan sebagai berikut:
Pengeluaran feses terasa tuntas dengan sekali ke toilet.
Hampir seluruh contoh (98%) menyatakan pengeluaran feses terasa tuntas
dengan sekali ke toilet dimana meningkat dari 73 persen contoh sebelum
mengonsumsi Activia. Tuntasnya seseorang mengeluarkan feses hanya dengan
sekali ke toilet menandakan kesehatan pencernaan orang tersebut baik dan sehat.
Perut terasa “plong” sesudah buang air besar (BAB).
Seluruh contoh (100%) menyatakan perut terasa “plong” sesudah BAB,
dimana terjadi peningkatan dari 85 persen contoh sebelum mengonsumsi Activia.
Contoh merasa lega sesudah buang air besar dengan lancar.
Tidak merasa perut kembung.
Sebanyak 90 persen contoh menyatakan tidak merasa perut kembung
setelah mengonsumsi Activia dimana terjadi peningkatan dari 68 persen contoh
sebelum mengonsumsi Activia. Perasaan perut kembung contoh terkait dengan
pencernaan teratasi setelah mengonsumsi Activia.
Tidak perlu mengejan dengan kuat atau berkali-kali.
Sebanyak 90 persen contoh menyatakan tidak perlu mengejan dengan kuat
atau berkali-kali setelah mengonsumsi Activia dimana terjadi peningkatan dari 78
persen contoh sebelum mengonsumsi Activia. Hal ini dikarenakan keinginan
contoh untuk buang air besar diikuit pula dengan lancarnya pengeluaran feses.
Jadi, contoh tidak perlu lagi mengejan dengan kuat atau berkali-kali.
Merasa kelebihan berat badan.
Sebanyak 56 persen contoh menyatakan merasa kelebihan berat badan
setelah mengonsumsi Activia dimana terjadi penurunan dari 73 persen contoh
sebelum mengonsumsi Activia. Hal ini terjadi karena berat badan berkurang
setelah mengonsumsi Activia.
Kentut tidak berbau tajam.
Sebanyak 93 persen contoh menyatakan kentut tidak berbau tajam setelah
mengonsumsi Activia dimana terjadi peningkatan dari 76 persen contoh sebelum
mengonsumsi Activia. Kentut adalah gas sisa produk metabolisme makanan yang
dihasilkan bakteri kolon (usus besar) (Almatsier 2003) yang merupakan salah satu
tanda pencernaan seseorang berfungsi dengan baik. Bau atau tidaknya kentut,
terkait dengan pangan yang dikonsumsi dan lamanya keberadaan kotoran di
kolon. Bakteri probiotik yang terkandung dalam Activia mampu mempercepat
tumbuhnya bakteri kolon yang dapat mempercepat pengeluaran feses.
Kulit terasa halus.
Sebanyak 93 persen contoh menyatakan kulit terasa halus setelah
mengonsumsi Activia dimana terjadi peningkatan dari 78 persen contoh sebelum
mengonsumsi Activia. Kulit terasa halus merupakan hasil sampingan jika
seseorang dapat mengonsumsi produk probiotik yang berbasis susu. Salah seorang
contoh pun menggunakan sisa konsumsi Activia untuk masker 1 kali setiap hari
yang dapat menambah kesegaran kulit.
Tidak berjerawat.
Sebanyak 93 persen contoh menyatakan tidak berjerawat setelah
mengonsumsi Activia dimana terjadi peningkatan dari 85 persen contoh sebelum
mengonsumsi Activia. Jerawat muncul akibat tumpukan lemak dan kotoran.
Activia yang lembut secara tidak langsung meluluhkan lemak dan kotoran
terutama yang berkaitan dengan kulit sehingga keluhan jerawat berkurang.
Tidak mengalami keluhan sakit maag.
Sebanyak 88 persen contoh menyatakan tidak mengalami keluhan sakit
maag setelah mengonsumsi Activia dimana terjadi peningkatan dari 68 persen
contoh sebelum mengonsumsi Activia. Penyakit maag terutama disebabkan oleh
keadaan telat makan sehingga gas lambung meningkat. Activia mengandung
unsur gula (glukosa) sehingga dapat menahan rasa lapar walaupun hanya sebentar.
Perut tidak terasa kencang.
Hampir seluruh contoh (98%) menyatakan perut tidak terasa kencang,
dimana meningkat dari 76 persen contoh sebelum mengonsumsi Activia. Perasaan
perut penuh tidak lagi dirasakan karena contoh buang air besar dengan lancar.
Hasil uji Wilcoxon Signed Ranks Test, menunjukkan perbedaan yang nyata
antara sebelum dan sesudah konsumsi Activia terhadap variabel pengeluaran feses
terasa tuntas dengan sekali ke toilet, perut terasa “plong” sesudah BAB, tidak
mengalami keluhan sakit maag, tidak merasa perut kembung, tidak perlu
mengejan dengan kuat atau berkali-kali, kulit terasa halus, tidak berjerawat, kentut
tidak berbau tajam, merasa kelebihan berat badan, dan perut tidak terasa kencang
(p<0,05). Artinya, variabel-variabel di atas, memberikan hasil positif (lebih baik)
terutama terkait dengan pencernaan setelah mengosnsumsi Activia.
Penggolongan Activia.
Sebanyak
41
persen
contoh
menggolongkan
Activia
sebagai
makanan/minuman fungsional sesudah mengonsumsi Activia, dimana 39 persen
contoh sebelum mengonsumsi Activia juga menggolongkan Activia sebagai
makanan/minuman fungsional. Sebaran contoh berdasarkan penggolongan Activia
dapat dilihat pada Tabel 8 berikut ini
Tabel 8. Sebaran contoh berdasarkan penggolongan Activia
Kategori
Pre-test
Post-test
n
%
n
%
Minuman/makanan biasa
1
2,44
0
0
Minuman/makanan penyegar/selingan
7
17,07
8
19,51
Makanan/minuman suplemen (food suplement)
15
36,59
13
31,71
Makanan/minuman fungsional
16
39,02
17
41,46
Obat
2
4,88
3
7,32
Total
41
100
41
100
Contoh menggolongkan Activia sebagai makanan/minuman fungsional
karena mereka menganggap banyak manfaat yang diberikan Activia.
Kebiasaan Konsumsi Probiotik sesudah Intervensi Berakhir
Sebagian besar contoh (70,73%) tidak lagi mengonsumsi Activia sesudah
intervensi berakhir. Sebagian besar contoh (87,8%) tidak lagi mengonsumsi
produk probiotik lain sesudah intervensi berakhir. Sebagian besar contoh
(82,93%) merasakan perbedaan selama intervensi dan sesudah intervensi Activia
berakhir. Sebagian besar contoh (80,49%) masih merasakan manfaat Activia
sesudah intervensi berakhir. Sebagian besar contoh (90,24%) tidak merasakan
efek samping dari konsumsi Activia. Hal ini menunjukkan bahwa konsumsi
pangan seseorang sebagian besar dipengaruhi oleh: faktor ekonomi, pengetahuan
(pendidikan), latar belakang budaya, dan lingkungan.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan kebiasaan konsumsi produk susu fermentasi, sebagian besar
contoh tidak mengonsumsi produk susu fermentasi secara teratur. Secara
keseluruhan, mutu cita rasa produk Activia disukai sebagian besar contoh.
Berdasarkan kategori tingkat kesukaan terhadap produk Activia, sebagian
besar contoh menyukai produk Activia. Dilihat dari kategori persepsi emosional,
keseluruhan hasil contoh merasa lebih baik setelah mengonsumsi Activia.
Berdasarkan kategori kondisi kesehatan, seluruh variabel menunjukkan
hasil positif atau kondisi kesehatan lebih baik setelah mengonsumsi Activia.
Sedangkan variabel merasa kelebihan berat badan menunjukkan hasil negatif,
artinya berat badan contoh justru berkurang setelah mengonsumsi Activia.
Sebagian besar contoh baik sebelum dan sesudah konsumsi Activia,
menggolongkan Activia sebagai makanan/minuman fungsional. Disimpulkan
bahwa, kondisi kesehatan contoh lebih baik setelah mengonsumsi Activia.
Berdasarkan kategori kebiasaan konsumsi probiotik setelah intervensi
berakhir, sebagian besar contoh tidak lagi mengonsumsi Activia dan produk
probiotik lain sesudah intervensi berakhir. Alasan utama contoh tidak lagi
mengonsumsi probiotik terutama karena harga.
Saran
Perlu adanya penelitian lebih lanjut dengan kategori umur yang lebih beragam
dan hubungannya dengan jenis penyakit yang diderita. Masyarakat perlu
pengetahuan yang lebih baik agar lebih sehat pencernaannya salah satunya dengan
pembuatan produk probiotik lain yang lebih terjangkau dan rasa lebih bervariasi.
Masyarakat pun diharapkan lebih cermat memilih produk probiotik yang akan
dikonsumsinya.
DAFTAR PUSTAKA
Adhitama, G. S. 2007. Kualitas Mikrobiologis Minuman Jelly Berbahan Baku
Yoghurt Probiotik selama Penyimpanan pada Suhu 4-7oC [skripsi]. Bogor:
Departemen Teknologi Pangan dan Gizi. IPB. Bogor.
Anonimous. 2004. Probiotik. www.dairyreporter.com. 06 November 2004.
Anugrah, S. T. 2005. Pengembangan Produk Kombucha Probiotik berbahan Baku
The Htam (Camellia sinensis) [skripsi]. Bogor: Departemen Teknologi
Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB. Bogor.
Fuller, Roy. 1992. Probiotic Scientific Basis. Chapman and Hall, London.
Hardinsyah & D. Martianto. 1992. Gizi Terapan. Pusat Antar Universitas Pangan
& Gizi. IPB. Bogor.
Hartanti. A. W. Seleksi Bakteri Asam Laktat yang Berpotensi sebagai Probiotik
dari Isolat Air Susu Ibu [skripsi] Bogor: Departemen Teknologi Pangan
dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB.
Maulidya, A. 2007. Kajian Pembuatan Yoghurt Susu Jagung sebagai Minuman
Probiotik menggunakan Campuran Kultur (Lactobacillus delbruekii subsp.
Bilgaricus, Streptococcus salivarus subsp. thermophillus dan
Lactobacillus casei subsp. rhamnossus.) [skripsi]. Bogor: Departemen
Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian. IPB.
Nadhira. 2007. Keadaan Sosial Ekonomi, Pengetahuan Gizi, Gaya Hidup,
Konsumsi Pangan, dan Status Gizi Lansia Laki-laki di Kecamtan
Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat [skripsi]. Bogor: Fakultas
Pertanian, Institut Pertanian Bogor.
Phujiyanti, Y. 2004. Identifikasi Gaya Hidup dan Kebiasaan Makan Mahasiswa
Institut Pertanian Bogor [skripsi]. Jurusan Gizi Masyarakat dan
Sumberdaya Keluarga. Fakultas Pertanian. IPB
Rahardjo, RP. 2007. Persepsi Konsumsi dan Preferensi Minuman Berenergi
[skripsi]. Jurusan Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga. Sarjana
Fakultas Pertanian. IPB
Rahmiwati, A. 2007. Pola Konsumsi Pangan, Status Gizi dan Pengetahuan
Reproduksi Remaja Putri [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut
Pertanian Bogor.
Rusilanti. 2006. Aspek Psikososial, Aktivitas Fisik, Konsumsi Makanan dan
Status Gizi, dan Pengaruh Susu plus Probiotik Enterococcus faecium IS27526 (MEDP) terhadap Respon Imun IgA Lansia [tesis]. Bogor: Sekolah
Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Salminen, S., Wright, A. V., Ouwehand, A. 2004. Lactic Acid Bacteria:
Microbiology and Functional Aspectc. 3th edition. Revised and Expanded.
Marcel Dekker, Inc., New York.
Sanjur, D. 1982. Social dan Cultral Perspective in Nutrition. USA: Prentice Hall.
Saputra, P. I. 2007. Sifat Kimia dan Viskositas Minuman Jelly Berbahan Baku
Yoghurt Probiotik selama Penyimpanan pada Suhu 4-7oC [skripsi]. Bogor:
Departemen Teknologi Pangan dan Gizi. Fakultas Teknologi Pertanian.
IPB
Sediaoetama, AD. 1989. Ilmu Gizi untuk Mahasiswa dan Profesi Jilid II. Jakarta:
Dian Rakyat.
Singarimbun M dan Effendi S. 1989. Metode Penelitian Survey. Jakarta: LP3S
Sobariah, E. 2007. Viabilitas Bakteri Probiotik In Vitro dan Pengaruh Pemberian
air Oksigen terhadap Viabilitas Bakteri Probiotik secara In Vivo [tesis].
Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Supariasa, IDN, B. Bakri dan I. Fajar. 2001. Penilaian Status Gizi. Jakarta: Buku
Kedokteran EGC.
Waspodo, I. S. 1997. Probiotik Bakteri Pencegah Kanker. Intisari no 409. PT.
Gramedia. Jakarta.
Wirawati, C. U. 2002. Potensi BAL yang diisolasi dari Tempoyak sebagai
Probiotik [tesis]. Bogor: Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor.
Lampiran 1 Survei Pendahuluan
Kode :
KUESIONER I
SURVEI PENDAHULUAN
Dengan hormat kami mohon kesediaan Anda meluangkan waktu sekitar 10 menit untuk mengisi
dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut
Hari/tanggal wawancara
:
.......................................................................................
Nama Lengkap
:
............................................................................ (P/L)
Umur
:
.......................................................................................
Berat badan
:
..................... kg
Tinggi badan
:
..................... cm
Asal Daerah/Suku
:
.......................................................................................
No Telepon/HP
:
.......................................................................................
Alamat
:
.......................................................................................
I. Karakteristik Individu
Pengeluaran untuk makan per bulan : Rp ...................................../bulan/keluarga*
Jumlah anggota keluarga (termasuk ayah, ibu, anak) : ............ orang
Memiliki lemari es/kulkas
: Ya/tidak
II. Kondisi Kesehatan dan Kebiasaan Mengkonsumsi Produk Susu Fermentasi (kriteria
eksklusi)
Beri tanda “√” pada kotak yang sesuai dengan pilihan Anda
Ya
1.
Apakah Anda biasa mengkonsumsi produk suplemen serat secara teratur?
Jika ya, sebutkan:
Nama/merk 1: ............................. frekuensi.......... kali/minggu
Nama/merk 2. ............................. frekuensi.......... kali/minggu
Nama/merk 3. ............................. frekuensi.......... kali/minggu
2.
Apakah Anda biasa mengkonsumsi produk susu fermentasi seperti yoghurt atau yakult
secara teratur?
Jika ya, sebutkan:
Nama/merk 1: .............................. frekuensi ........ kali/minggu
Nama/merk 2. .............................. frekuensi ........ kali/minggu
Nama/merk 3. .............................. frekuensi ........ kali/minggu
3.
*
Dalam satu bulan terakhir, apakah Anda pernah mengalami diare?
Bagi lansia yang mengikuti keluarga anaknya gunakan data/informasi pengeluaran anaknya
Tdk
Ya
Jika ya, berapa kali terjadi? ..........................................................kali/bulan
Menurut Anda, apa penyebabnya?...........................................................................................
4.
Apakah Anda sedang dalam masa perawatan atau penyembuhan karena penyakit tertentu?
Jika ya, atas penyakit apa? .....................................................................................................
5.
Apakah Anda sedang dalam masa perawatan pasca bedah?
Jika ya, sebutkan bedah apa? ................................................................................................
Apakah Anda pernah mengalami sakit serius atau menjalani operasi dalam 6 bl terakhir ini?
6.
Jika ya, atas penyakit apa?
a. Penyakit ........................................ Lama sakit...........................hari
b. Penyakit........................................ Lama sakit...........................hari
c. Penyakit ........................................ Lama sakit...........................hari
d. Penyakit........................................ Lama sakit...........................hari
7.
Apakah Anda alergi atau mengalami diare setelah mengkonsumsi susu ?
8.
Apakah Anda alergi atau mengalami diare setelah mengkonsumsi yoghurt ?
9.
Apakah Anda buang air besar secara teratur setiap hari (1 sampai 3 kali/hari) ?
10. Keluhan yang dirasakan berkaitan dengan pencernaan dalam sebulan terakhir (lingkari dan
boleh lebih dari satu)
1. sulit buang air besar/sembelit 5. mulas/nyeri perut 9. lainnya, sebutkan ........
2. feses/tinja keras
6. mencret
3. perut kembung
7. maag
4. mual/rasa ingin muntah
8. nyeri ulu hati
11. Apakah Anda bersedia mengkonsumsi 2 cup ACTIVIA1 setiap hari selama 2 minggu
dan tidak mengkonsumsi produk yoghurt/produk susu fermentasi lain? (diberikan secara
gratis)
12. Bila Anda bersedia mengkonsumsi ACTIVIA, apakah Anda bersedia diwawancara (mengisi
kuesioner) sebelum dan selama studi ini (4 kali) ?
* Apabila jawaban no 11 dan 12 adalah “ya” maka wawancara dilanjutkan dengan mengisi
pernyataan kesediaan berikut.
1
Yoghurt Activia adalah suatu produk yoghurt yang diproduksi oleh PT. Danone Indonesia yang
merupakan multinasional company berpusat di Perancis yang sudah beredar di pasaran.
Tdk
Lampiran 2 Pernyataan Kesediaan
PERNYATAAN KESEDIAAN BERPARTISIPASI DALAM KEGIATAN SURVEI
Dengan ini saya menyatakan bahwa informasi yang saya berikan di atas adalah
benar; dan apabila saya memenuhi persyaratan yang ditetapkan peneliti, saya bersedia
berpartisipasi dalam survei ini dan memenuhi kesepakatan berikut:
1. Mengkonsumsi ACTIVIA sebanyak 2 cup setiap hari (pagi dan sore/malam), selama 14
hari berturut-turut
2. Bersedia tidak melaksanakan puasa selama 14 hari tersebut
3. Bersedia tidak mengkonsumsi berbagai produk susu fermentasi/probiotik termasuk
ACTIVIA dan suplemen serat seminggu sebelum survei dimulai
4. Bersedia tidak mengkonsumsi produk susu fermentasi/probiotik selain produk
ACTIVIA selama pelaksanaan survei (Produk ACTIVIA diberikan secara gratis selama
14 hari survei dilaksanakan).
5. Bersedia menerima 4 cup produk ACTIVIA setiap 2 hari yang diantar oleh petugas
survei
6. Bersedia mengumpulkan 4 buah cup bekas produk ACTIVIA dan mengembalikannya
kepada petugas survei saat petugas datang mengantar produk ACTIVIA
7. Tidak merencanakan untuk bepergian selama lebih dari 24 jam selama survei
dilaksanakan (14 hari).
8. Bersedia diwawancara di awal, setelah seminggu dan setelah survei dilaksanakan (14
hari).
Bogor, ................. 2008
Yang membuat pernyataan
(........................................)
1
Yoghurt Activia adalah suatu produk yoghurt yang diproduksi oleh PT. Danone Indonesia yang
merupakan multinasional company berpusat di Perancis yang sudah beredar di pasaran.
Lampiran 4 Persepsi Kesehatan
PERSEPSI EMOSIONAL
Kami ucapkan terima kasih atas kesediaan Bapak/Ibu untuk berpartisipasi mengkonsumsi
ACTIVIA selama 14 hari ke depan. Sehubungan dengan itu, kami mohon kesediaan Bapak/Ibu
meluangkan waktu sekitar 15 menit untuk mengisi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
Hari dan tanggal mengisi/ wawancara
: ............................................................
I. Karakteristik Individu
Nama Lengkap
: ................................................. (P/L)
Berat badan (sebelum mengkonsumsi ACTIVIA)
: ...................... kg
II. Persepsi emosional sebelum mengkonsumsi Activia
Saat ini, Kami ingin memperoleh informasi tentang persepsi Bapak/Ibu
mengenai kondisi emosional sebelum konsumsi ACTIVIA. (Beri nilai : “Sangat
Setuju” = 5; “Setuju” = 4; Agak setuju =3; tidak setuju =2; sangat tidak setuju=1)
5
1.
Perut terasa nyaman
2.
Tidak mengalami stress akibat gangguan pencernaan
3.
Tidak mengalami gangguan pencernaan
4.
Tubuh terasa bertenaga (berenergi)
5.
Tubuh terasa ringan
6.
Merasa langsing
7.
Tubuh terasa rileks
8.
Merasa bahagia terkait dengan pencernaan
9.
Merasa bergengsi dengan pola makan yang sekarang
4
10. Sering merasakan “mood” baik terkait dengan pencernaan
11. Kondisi emosional lainnya ...........................................................
12. Keluhan (bila ada), sebutkan ............................................................................
3
2
1
Lampiran 4 Persepsi Kesehatan
III. Kondisi kesehatan yang Anda rasakan sebelum mengkonsumsi ACTIVIA
Saat ini, Kami ingin memperoleh informasi tentang persepsi Bapak/Ibu
mengenai kondisi kesehatan sebelum konsumsi ACTIVIA. (Beri nilai : “5 =
Sangat Setuju”; “4 = Setuju”; “3 = Agak setuju”; “2 = tidak setuju”; “1= sangat tidak
setuju”)
5
1.
Frekuensi buang air besar teratur setiap hari
Sebutkan ................kali /minggu
2.
Pengeluaran feses lancar
3.
Waktu mengejan tidak lama
4.
Konsistensi feses lembik
5.
Pengeluaran feses terasa tuntas dengan sekali ke toilet
6.
Perut terasa “plong” setelah buang air besar (BAB)
7.
Tidak merasa perut kembung
8.
Tidak perlu mengejan dengan kuat atau berkali-kali
9.
Merasa kelebihan berat badan
10. Kentut tidak berbau tajam
11. Kulit terasa halus
12. Tidak berjerawat (saat tidak menstruasi bagi perempuan)
13. Tidak mengalami keluhan sakit maag
14. Perut tidak terasa kencang (saat tidak menstruasi bagi perempuan)
4
3
2
1
Lampiran 5 Penilaian Mutu Hedonik
Kode :
PERSEPSI KONSUMEN TENTANG PRODUK ACTIVIA
Kami ucapkan terima kasih atas partisipasi Bapak/Ibu/Saudara telah berkenan mengkonsumsi ACTIVIA
selama 7 hari. Sehubungan dengan itu, kami mohon kesediaan Bapak/Ibu/Saudara meluangkan waktu
sekitar 15 menit untuk mengisi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut
Hari/Tanggal wawancara
:
.......................................................................
:
............................................................ (P/L)
I. Karakteristik Individu
Nama Lengkap
Berat badan (setelah mengkonsumsi ACTIVIA) :
...............kg
II. Penilaian Bapak/Ibu/Saudara terhadap mutu citarasa ACTIVIA
Bagaimana pendapat Bapak/Ibu/Saudara tentang mutu citarasa ACTIVIA. Beri tanda
silang (X) pada posisi/garis yang sesuai dengan penilaian Bapak/Ibu/Saudara (antara 1
sampai 9, tidak perlu tepat pada angka).
1. Bagaimana warna ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
Amat sangat
pucat
3
4
5
Pas
6
7
8
9
Amat sangat
pekat
8
9
2. Bagaimana aroma buah ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
3
4
Amat sangat
tidak beraroma
5
6
7
Amat sangat
beraroma
Pas
3. Bagaimana kekentalan ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
3
4
Amat sangat
encer
5
6
8
7
9
Amat sangat
kental
Pas
4. Bagaimana rasa asam ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
Amat sangat
tidak asam
2
3
4
5
Pas
6
8
7
9
Amat sangat
asam
5. Bagaimana rasa manis ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
3
4
Amat sangat
tidak manis
5
6
7
8
9
Amat sangat
manis
Pas
6. Bagaimana kesan cita rasa Bapak/Ibu/Saudara secara keseluruhan atas ACTIVIA?
1
2
Amat sangat
tidak enak
3
4
5
Pas
6
7
8
9
Amat sangat
enak
Lampiran 6 Penilaian Hedonik
III. Tingkat kesukaan Bapak/Ibu/Saudara terhadap produk ACTIVIA
Setelah mengonsumsi ACTIVIA, bagaimana tingkat kesukaan Bapak/Ibu/Saudara
terhadap warna, aroma, rasa dan kekentalan ACTIVIA. Beri tanda silang (X) pada
posisi/garis yang sesuai dengan penilaian Bapak/Ibu/Saudara (antara 1 sampai 9, tidak
perlu tepat pada angka).
1. Bagaimana warna ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
Amat sangat
tidak suka
3
4
5
6
7
8
9
Amat sangat
suka
8
9
Biasa
2. Bagaimana aroma buah ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
3
4
Amat sangat
tidak suka
5
6
7
Amat sangat
suka
Biasa
3. Bagaimana kekentalan ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
3
4
Amat sangat
tidak suka
5
6
7
8
9
Amat sangat
suka
Biasa
4. Bagaimana rasa asam ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
3
4
Amat sangat
tidak suka
5
6
7
8
9
Amat sangat
suka
Biasa
5. Bagaimana rasa manis ACTIVIA menurut Bapak/Ibu/Saudara?
1
2
3
4
Amat sangat
tidak manis
5
6
7
8
9
Amat sangat
manis
Biasa
6. Bagaimana kesan cita rasa Bapak/Ibu/Saudara secara keseluruhan atas ACTIVIA?
1
Amat sangat
Tidak enak
2
3
4
5
Biasa
6
7
8
9
Amat sangat
enak
Lampiran 7 Kebiasaan Konsumsi sesudah Intervensi Berakhir
KUESIONER AKHIR
KEBIASAAN KONSUMSI PRODUK PROBIOTIK
SETELAH INTERVENSI BERAKHIR
Kami ucapkan terima kasih atas partisipasi Bapak/Ibu yang telah berkenan mengonsumsi
ACTIVIA selama 14 hari. Sehubungan dengan itu, kami mohon kesediaan Bapak/Ibu meluangkan
waktu sekitar 15 menit untuk mengisi dan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
Hari dan tanggal mengisi/wawancara :
I. Karakteristik Individu
Nama Lengkap
:
Usia
:
Berat Badan
:
…………………………………………
……………………………………(P/L)
…………… tahun
…………… kg
II. Kebiasaan konsumsi probiotik setelah intervensi berakhir
1. Apakah Anda masih mengonsumsi produk probiotik?
Jika ya, berapa kali (frekuensi) ……………………………………….
alasan …………………………..…………………………….
Jika tidak, apakah Anda mengonsumsi produk probiotik lain
a) bila jawaban ya, sebutkan merek ….………………………………...
frekuensi …...…………………………………………………..
alasan .………..………………………………………………...
b) bila jawaban tidak, alasan …………………………………………..
………………………………………………………………………....
2. Apakah Anda merasakan perbedaan selama Activia diberikan 14 hari dan
sesudah tidak diberikan Activia lagi?
a. Ya
b. Tidak
Jika ya, sebutkan……………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………
3. Apakah Anda masih merasakan manfaat kesehatan setelah pemberian
produk Activia dihentikan?
a. Ya
b. Tidak
alasan …………………………………………………………………………..
Download

analisis kesukaan dan persepsi konsumen tentang manfaat