Uploaded by User16341

Essay Nuklir Rezki Desrena 21040116140076

advertisement
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil Untuk Mengurangi Emisi Gas
Rumah Kaca
Rezki Desrena
21040116140076
Mahasiswa Program Studi S-1 Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Diponegoro
Jalan Prof. Soedarto, Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah 50275
Pendahuluan
Sektor energi tidak lepas dari tenaga listrik yang menjadi sumber daya dari berbagai aspek
kehidupan manusia. Berbagai sumber energi telah digunakan manusia dalam kehidupan guna
untuk mendukung kelangsungan hidupnya. Sektor industri dunia mendapatkan 85% energi yang
bersumber dari bahan bakar fosil, batu bara, minyak, dan gas. Sumber energi tersebut
menghasilkan energi dari proses pembakaran, kemudian proses tersebut menghasilkan gas
karbon dioksida (CO2). Gas CO2 yang dihasilkan kemudian berkontribusi besar dalam gas rumah
kaca sebagai penyebab pemanasan global.
Sebagai isu internasional, pemanasan global tentu memiliki dampak yang besar begi seluruh
dunia. Pemanasan global mengarahkan kepada perubahan iklim yang dapat mengancam
kelansungan habitat, ekosistem, bahkan kehidupan manusia. Hal tersebut dipengaruhi oleh
penggunaan jenis bahan bakar, yaitu bahan bakar fosil. Bahan bakar fosil merupakan hasil dari
pembusukan bahan bakar organic yang terjadi lebih dari ratusan juta tahun lalu. Karena berasal
dari bahan organik atau bangkai mahkluk hidup, maka bahan bakar fosil dikategorikan sebagai
bahan bakar konvensional atau tidak dapat didaur ulang. Oleh karena itu, cepat atau lambat
bahan bakar fosil tersebut akan mencapai titik kritis menuju jenjang kekurangan dan kehabisan.
Bahan Bakar Fosil : Batu Bara
Batu bara mulai digunakan saat Inggris tidak dapat menggunakan bahan bakar kayu untuk
memenuhi kebutuhan revolusi industri. Sejak saat itu, penggunaan batu bara mulai digunakan
1
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
sebagai sumber bahan bakar untuk tahun-tahun selanjutnya. Namun, batu bara memiliki dampak
negatif sebagai bahan bakar fosil. Batu bara memproduksi polutan dalam bentuk karbon dioksida
yang lebih banyak dari pada bahan bakar fosil lainnya, yaitu gas alam dan minyak bumi.
Bahan Bakar Fosil : Minyak Bumi dan Gas Alam
Minyak bumi dan gas alam merupakan hasil dari pembusukan bahan organik dan telah diproses
sedemikian rupa dalam bentuk sedimentasi. Fosil yang terendapkan mengalami proses dari
bangkai organik menjadi minyak berat kemudian minyak ringan dan menjadi gas alam.
Penghasil minyak bumi terletak di arab tengah dengan volume minyak yang tersedia di bumi
hanya 1,070 juta barrel (1 barrel setara dengan 42 galon). Jumlah ketersedian minyak bumi
tersebut dapat menunjang penggunaan sumber daya energi manusia secara global dalam 40
tahun. Selain itu, peralihan bahan bakar fosil sebagai bahan bakar utama juga perlu dilakukan
dengan meninjau dari aspek lingkungan. Dengan pembakaran yang terjadi dalam bahan bakar
fosil, karbon dioksida dihasilkan terus menerus di seluruh dunia setiap detiknya. Dalam angka,
23 juta ton karbon dioksida dilepaskan ke atmosfer setiap tahunnya atau setara 730 ton setiap
detiknya.
Berdasarkan urgensi tersebutlah, dapat disimpulkan kegentingan pergantian bahan bakar
fosil ke bahan bakar lainnya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Terdapat beberapa sumber
energi yang memadahi sebagai pengganti bahan bakar fosil. Dalam pembahasan ini, bahan bakar
tersebut akan lebih ditinjau dari sumber tenaga nuklir.
Perkembangan nuklir telah berlangsung mulai 2 dekade lalu. Pada awal tahun 2007, 439
reaktor nuklir telah dibangun di 30 negara dengan kapasitas tenaga sebesar 370 GWe, dengan 30
reaktor nuklir lainnya yang sedang masih dalam konstruksi di 13 negara.
Gambar I. Penggunaan listrik dengan sumber tenaga nuklir (dalam %)
2
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Gambar III. Perkembangan Reaktor Nuklir di dunia, 439 Reaktor Nuklir Telah Dioperasikan di 31 Negara di Dunia.
Berdasarkan grafik dan gambar persebaran tersebut, didapatkan bahwa perkembangan
nuklir semakin pesat di negara maju. Perancis mampu memproduksi tenaga nuklir hampir
mencapai 77% dari penggunaan listrik negaranya dari 58 pembangkit tenaga nuklir. Kemudia hal
ini disusul oleh Belgia, yang mampu mengoptimalkan penggunaan tenaga nuklir hampi 55%
hanya dari 7 pembangkit tenaga nuklir. Hal tersebut menunjukkan perkembangan penggunaan
nuklir yang semakin menyebar. Pada tahun 2006, penggunaan sumber tenaga nuklir dapat
menghasilkan 15,2% dari kebutuhan elektisitas dunia. Dan diprediksi akan meningkat ke angka
17-20 % pada tahun 2010. Perkembangan pembangkit tenaga nuklir tersebut didasari oleh alasan
pemilihan nuklir sebagai pengganti bahan bakar fosil. Beberapa alasan tersebut adalah nuklir
mendapat respon positif sebanyak 73% dalam survey sumber energi bersih dan aman ( Clean and
Safe Energi Coalition) pada tahun 2006.
3
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Berdasarkan keterkaitan penggunaan energi nuklir dengan emisi gas kaca, tenaga nuklir
dianggap sebagai sumber energi yang cocok untuk mengatasi masalah tersebut. Tenaga nuklir
tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca, hal ini disebabkan karena tenaga nuklir menghasilkan
energi melalui proses fusi inti. Proses fusi inti tersebut tidak melalui proses pembakaran yang
menghasilkan karbon dioksida dan gas emisi rumah kaca lainnya dengan jumlah yang sangat
signifikan. Namun, reaksi fusi inti tersebut menghasilkan sedikit gas buangan berupa Helium
yang nantinya akan cepat terurai dan tidak akan memberikan dampak besar terhadap lingkungan
dan juga sedikit CO2.
Gambar III. Perbandingan emisi rumah kaca tiap sumber energi
Grafik diatas menunjukkan perbandingan gas rumah kaca yang dihasilkan berdasarkan
perbedaan sumber energi yang digunakan oleh UCTE (Union for the Coordination of the
Transmission of Electricity) secara minimal, rata-rata, dan maksimal. Beberapa sumber energi
yang tertera dalam grafik tersebut adalah lignit, batu bara, minyak bumi, gas alam, gas alam CC,
cogen, nuklir, hydro, angin darat, angin laut dan PV. Bergasarkan grafik tersebut, sumber energi
yang menghasilkan gas emisi rumah kaca tersebesar secara rata-rata adalah lignit. Sedangkan,
penggunaan batu bara secara normal dapat menghasilkan gas rumah kaca yang hampir besar
dengan lignit. Dan sumber energi gas alam memproduksi gas rumah kaca yang paling sedikit
dibandingkan dengan sumber energi fosil lainnya.
4
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Dengan penggunaan energi daur ulang seperti hydro, angin darat, angin laut, PV dan
penggunaan nuklir. Didapatkan bahwa sumber daya tersebut menghasilkan gas rumah kaca yang
relatif sangat sedikit dibandingkan dengan sumber energi fosil. Sumber tenaga angin dan hydro
menghasilkan CO2 yang lebih sedikit dari PV. Dan berdasarkan penggunaan sumber energi dari
UCTE secara rata-rata, nuklir menghasilkan 8 g CO2-eg,/kWh, 5 g CO2-eg,/kWh oleh tenaga
hydro, 11 g CO2-eg,/kWh oleh angin darat, 14 g CO2-eg,/kWh oleh angin laut, dan 60 g g CO2eg,/kWh oleh PV. Berdasarkan hasil tersebut, nuklir tidak menempati urutan pertama untuk
emisi gas CO2 terkecil. Namun, hal ini dapat mendorong penggunaan nuklir karena adanya
dorongan faktor lain seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.
Selain itu, perbandingan emisi gas rumah kaca setiap sumber energi dapat dirinci dengan
berbagai gas emisi lainnya. Gas tersebut berupa SO2, NO2, PM dan lainnya.
Gambar IV. Perbandingan emisi gas SO2 berdasarkan sumber energi.
Berdasarkan grafik tersebut, sumber energi lignit, batu bara dan minyak bumi
memproduksi gas SO2 yang relatif lebih banyak dari sumber energi lainnya. Gas alam yang
digolongkan ke dalam sumber energi fosil hanya menghasilkn 0.2 g CO2-eg,/kWh sebagai
penghasil gas SO2 terkecil dari sumber energi fosil secara rata-rata. Selain itu, nuklir, hydro,
tenaga angin dan PV yang tergolong dalam sumber energi daur ulang tetap memiliki produksi
gas SO2 yang rendah.
5
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Gambar V. Perbandingan emsisi gas NOx berdasarkan sumber energi
Selain, SO2, gas emisi rumah kaca juga terdiri dari NOx. Grafik diatas menunjukkan
perbandingan hasil gas NOx berdasarkan sumber energi di negara yang berbeda. Dari grafik
tersebut, didapatkan bahwa minyak bumi menempati urutan pertama sebagai penghasil gas NO x
terbesar dibandingkan sumber energi lainnya.Dan gas alam menempati urutan terakhir dalam
memproduksi gas NOx diantara bahan bakar fosil lainnya. Gas alam hanya menghasilkan 0.7 g
CO2-eg,/kWh dari penggunaan oleh UCTE secara rata-rata. Sedangkan, nuklir, hydro, dan tenaga
angin memproduksi NOx yang hampir sama dengan jumlah yang sangat sedikit.
Berdasarkan pemaparan tersebut, didapatkan bahwa nuklir bukan lah satu-satunya
sumber energi yang menghasilkan gas rumah kaca dengan jumlah sedikit. Terdapat beberapa
sumber energi lainnya yang mampu memproduksi gas rumah kaca yang sedikit, seperti tenaga
hydro, tenaga angin, dan PV. Oleh karena itu, dibutuhkan beberapa alasan penguat lainnya dalam
mendorong penggunaan energi nuklir sebagai pengganti sumber energi konvensional. Hal
tersebut dapat dilihat dari beberapa aspek lainnya, seperti produksi limbah buangan (radioaktif
dan non-radioaktif), penggunaan lahan, dan faktor keamanan dalam produksi energi.
6
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Gambar VI. Perbandingan banyaknya produksi limbah non-radioaktif berdasarkan sumber tenaga
Grafik tersebut menggambarkan tentang produksi limbah non-radioaktif oleh
sumber energi yang berbeda. Limbah non-radioaktif tersebut termasuk limbah berbahaya,
pembakaran, penimbunan material inert, abu batu bara, limbah residu, limbah sanitasi, dan
lainnya. Berdasarkan grafik tersebut, lignit dan batu bara memproduksi limbah radioaktif dengan
jumlah yang hampir sama tingginya yaitu 0.18 kg/kWH secara normal. Sumber energi gas alam,
tenaga nuklir memproduksi limbah non-radioaktif terkecil dari antara sumber energi lainnya.
Gambar VII. Perbandingan luas penggunaan lahan berdasarkan sumber energi.
7
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Grafik tersebut menyatakan penggunaan lahan yang diperlukan dalam pemproduksi
tenaga dari setiap sumber energi. Kogenerasi kayu membutuhkan area yang sangat luas
dibandingkan sumber energi lainnya. Kemudian diikuti oleh minyak bumi dan sumber batu bara,
hal ini dikarenakan adanya proses ekspliotasi dan pertambangan.tenaga nuklir, hydro, dan angin
darat membutuhkan area yang relatif kecil. Sedangkan, tenaga angin laut membutuhkan luas area
yang terkecil dibandingkan sumber energi lainnya.
Nuklir biasanya erat dengan bahaya keamanan dan potensi bencana atau malfungsi dari
pembangkit nuklir. Contohnya terdapat dua peristiwa besar dalam kerusakan pembangkit tenaga
nuklir, yaitu Three Mile Island (1979) dan Chernobyl (1986). Namun, dalam kenyataannya hal
ini berbanding terbalik dengan tingkat kemanan sumber bahan bakar lainnya, seperti gas alam,
minyak bumi, dan batu bara. Di Amerika Serikat, ditemukan 100 kematian penambang dan 100
kematian pengangkut batu bara setiap tahunnya dengan jumlah sebanyak 33,134 jiwa pada tahun
1931 sampai 1995. Selain itu, peleburan batu bara memproduksi radiasi 100 kali lebih besar dari
pembangkit nuklir pada umumnya. Di lain sisi, perisitwa Three Mile Island hanya melepas 1/6
radiasi dari pusat ledakan dan insiden Chernobyl menyebabkan 56 kematian langsung dan
paparan radiasi lainnya dengan jangka waktu yang berbeda.
ENSAD (Energi-related Sever Accident Database) merupakan sebuah sektor yang
memperlajari tentang kumpulan data tentang kecelakaan dan peristiwa-peristiwa kerusakan dari
berbagai sektor energi. ENSAD menyatakan bahwa terdapat 18,400 kecelakaan yang 89% terjadi
pada tahun 1969-2000, dengan kecelakaan oleh faktor manusia sebanyak 12,943 (70%) dan
bencana alam sebanyak 5,457 kejadian (30%). ENSAD mengelompokkan pencatatan tersebut
dalam kategori kecelakaan, dan korban jiwa oleh negara OEDC, EU15, dan negara non-OECD.
Tabel 1. Laporan ENSAD mengenai jumlah kecelakaan dan korban jiwa berdasarkan sumber tenaga.
8
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Gambar VIII. Banyaknya kecelakaan (per GWeryr) untuk negara OECD dan non-OECD periode 1969-2000.
Dari segi keamanan, dapat dilihat bahwa nuklir lebih aman dibandingkan proses produksi
sumber bahan bakar lainnya. Disamping itu, tingkat keamanan pembangkit tenaga nuklir juga
tentu sudah ditingkatkan dengan adanya perkembangan teknologi. Hal ini menjadi salah satu
dasar untuk mengembangkan tenaga nuklir sebagai sumber listrik pengganti fosil.
Namun, di lain sisi tenaga nuklir memiliki kekurangan, salah satunya adalah adanya
limbah radioaktif dengan jumlah yang sangat besar dari sumber energi lainnya. Nuklir
menghasilkan limbah radioaktif yang sangat tinggi karena bahan dasar nuklir merupakan unsur
radioaktif seperti uranium dan lithium. Hal tersebut dapat digambarkan dalam grafik sebagai
berikut :
Gambar IX. Perbandingan banyaknya produksi limbah radioaktif berdasarkan sumber energi
9
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Berdasarkan penjelasan banyaknya kecelakaan dari berbagai sumber energi, nuklir
jelas memiliki jumlah kecelakaan yang paling sedikit mengingat hanya terdapat dua kecelakaan
fatal pada sejarah manusia. Namun, dengan jumlahyang sedikit tersebut, manusia dapat
merasakan dampak tersebut sampai bertahun-tahun bahkan ratusan tahun. Hal tersebut
disebabkan oleh unsur radioaktif yang terkandung dalam nuklir. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa, jumlah kecelakaan tenaga nuklir memang paling sedikit, namun jika terjadi kecelakaan
dapat menimbulkan dampak yang sangat besar bagi manusia. Hal ini merupakan sisi positif
sekaligus sisi negatif dari penggunaan energi nuklir. Namun, dengan perkembangan teknologi
saat ini, diharapkan tingkat keamanan reactor nuklir semakin meningkat sehingga dapat
meminimalisir peluang kecelakaan dan mendorong optimalisasi penggunaan energi nuklir.
Kesimpulan
Berdasarkan faktor-faktor pendukung tersebut, nuklir memiliki banyak sisi positif dan negatif.
Namun, jika dilihat melalui kacamata produksi gas rumah kaca. Nuklir memang memproduksi
gas rumah kaca yang relative sedikit, namun hal iti tidak cukup untuk mendukung penggunaan
nuklir sebagai pengganti bahan bakar konvensional. Nuklir didukung oleh beberapa faktor
lainnya seperti aspek keamanan, landuse, kepadatan energi, dan biaya. Oleh karena itu, menurut
pemaparan tersebut nuklir memiliki peran yang signifikan dalam membantu peningkatan mutu
sumber energi bagi manusia, mengurangi, dan mencegah perubahan iklim yang lebih besar dari
emisi gas rumah kaca yang dihasilkan.
10
Tenaga Nuklir Sebagai Pengganti Bahan Bakar Fosil
Untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca
Referensi :
Comby, Bruno. 2008. Environmentalists For Nuclear Energy.TND Editions. Dalam
www.ecolog.org. Diakses pada 24 Maret 2017
Ervin, Elizabeth K. 2009. Nuclear Energy : Statistics. Presentasi. Dalam www.niehs.nih.gov.
Diakses pada 24 Maret 2017.
Finahari, Ida N., Salimy, Djati H. Kontribusi PLTN Dalam Mengurangi Emisi Gas CO2 Pada
Studi Optimasi Pengembangan Sistem Pembangkit Listrik Sumatera. Prosiding
Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir. Juni 2008 di Jakarta. Dalam
www.ansn.bapeten.go.id. Diakses pada 25 Maret 2017
OECD Nuclear Energy Agency (NEA). 2007. Risks and Benefits of Nuclear Energy. France :
OECD Publications. Dalam www.oecd-nea.org. Diakses pada 25 Maret 2017
11
Download