Uploaded by willy.gunawan14

Jurnal Willy

advertisement
PROFIL PEMERIKSAAN RADIOLOGI PASIEN SPONDILITIS TUBERKULOSIS DI
RSUD DR. SOETOMO SURABAYA
Willy Gunawan1, Dwikora Novembri Utomo2, Ni Made Mertaniasih3
Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia
Email : [email protected]
ABSTRAK
Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini
juga dapat menyebar ke jaringan tulang belakang yang disebut sebagai spondilitis tuberkulosis. Karena
sulitnya menemukan gambaran radiologis yang patognomonic dalam mendiagnosis spondilitis TB ditambah
dengan mulai munculnya atypical spondilitis TB yang memiliki gambaran radiologi tidak spesifik sehingga
dapat menyebabkan salah diagnosis, maka diperlukan adanya penelitian yang memberikan informasi
mengenai gambaran radiologi pada pasien spondilitis TB di indonesia saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk
menyediakan informasi mengenai profil pemeriksaan radiologi pasien spondilitis TB di RSUD Dr. Soetomo
Surabaya. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dan menggunakan metode observasional
dalam mengamati 45 data rekam medik pasien pada periode bulan Maret 2013 sampai Maret 2014 di bagian
rekam medik pusat RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Data yang dikumpulkan meliputi data identitas (jenis
kelamin dan umur) serta hasil pemeriksaan radiologi yang dilakukan oleh pasien di RSUD Dr. Soetomo
Surabaya. Mayoritas pasien berusia antara 36-45 tahun (20%) dimana jumlah pasien laki-laki lebih banyak
dibanding pasien perempuan dengan perbandingan 1,6. Penelitian ini menunjukkan ada 35 pasien (77,78%)
yang melakukan pemeriksaan radiologi, yang terdiri dari 2 jenis pemeriksaan yaitu foto polos tulang
belakang (53,33%) dan Magnetic Resonance Imaging / MRI (51,11%). Semua pasien yang melakukan
pemeriksaan radiologi didapati gambaran yang menyokong diagnosis spondilitis TB.
Kata kunci : spondilitis tuberculosis, diagnosis, pemeriksaan radiologi
ABSTRACT
Tuberculosis is an infectious disease which is caused by Mycobacterium tuberculosis. It also can
spread to spine which is called Spondylitis Tuberculosis. Due to the difficulties in finding a patognomonic
radiological feature and emerging of some atypical spondylitis tuberculosis which has an atypical imaging
feature that can lead to misdiagnosed, some research is needed to give information about the effectivity of
radiology examination in case of spondylitis TB in Indonesia nowaday. This research’s purpose is to give
information about profile of radiological imaging of spondylitis TB patients in Dr. Soetomo General Hospital.
This research is a descriptive observational study of 45 patient’s medical record which is collected from
March 2013 until March 2014 in the medical record center of Dr. Soetomo General Hospital. The data
collected including basic data (sex and age) and the result of radiology examination which patients perform
in Dr. Soetomo General Hospital. Majority of patient is at 36-45 years old (20%), where the number of male
patients are greater than female with ratio 1,6. This research found that 35 patients (77,78%) do a radiology
examination which is consist of two kind of examination : plain radiograph of the spine (53,33%) and
Magnetic Resonance Imaging / MRI (51,11%). All patient who performs radiology examination has a positive
result that support the diagnosis of spondylitis TB.
Keywords : spondylitis tuberculosis, diagnosis, radiology examination
1. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
2. Departemen Orthopaedi dan Traumatologi RSUD Dr. Soetomo Surabaya
3. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga
PENDAHULUAN
Kasus tuberkulosis / TB juga menjadi masalah bagi mayoritas penduduk dunia. Pada tahun 2012,
organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) mencatat kira-kira 8,6 juta orang terinfeksi
tuberkulosis dan 1,3 juta orang diantaranya meninggal dunia karena penyakit ini [1]. Saat ini keadaan
penyakit tuberkulosis semakin berbahaya dengan adanya penyakit-penyakit yang dapat mengganggu sistem
imun, seperti HIV (Human Immunodefciency Virus). Pasien yang terinfeksi virus HIV (keadaan
immunocompromise), memiliki resiko yang lebih tinggi untuk terinfeksi tuberkulosis. Kasus-kasus
tuberkulosis ko-infeksi HIV juga telah menimbulkan banyak korban. Dari antara 8,6 juta orang yang terinfeksi
tuberkulosis, dicatat setidaknya 1,1 juta orang yang positif mengidap HIV. Dari jumlah itu, terdapat sekitar
320.000 kematian dari 1,3 juta kematian akibat tuberkulosis, yang terjadi akibat kasus TB ko-infeksi HIV [1].
Tuberkulosis / TB memiliki 2 bentuk yaitu bentuk yang sering ditemui, tuberkulosis paru (pulmonary
TB), dan bentuk lainnya yaitu tuberkulosis ekstra paru (extrapulmonary TB). TB ekstra paru merupakan
bentuk infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis di jaringan atau organ tubuh selain paru-paru. Tingkat
pengetahuan masyarakat tentang TB ekstra paru ini masih belum memadai, dan seringkali diabaikan.
Penelitian di India mencatat sekitar 15-20% kasus TB, merupakan TB ekstra paru. Di Indonesia sendiri, TB
ekstra paru ditemukan sejumlah 5% dari kasus TB sepanjang 2012 [1].
Salah satu jenis tuberkulosis ekstra paru yang perlu mendapat perhatian adalah spondilitis
tuberkulosis. Meskipun spondilitis tuberkulosis dapat mengakibatkan komplikasi yang serius, masyarakat
belum banyak mengetahui tentang spondilitis tuberkulosis serta bahayanya, sehingga kadang penyakit ini
jadi terabaikan. Akibatnya, pengobatan dan deteksi jadi sangat terlambat dan mengakibatkan komplikasi
yang meluas. Spondilitis tuberkulosis daerah lumbal dapat mengakibatkan Low Back Pain (LBP), tetapi
masyarakat belum mengerti bahwa ada kemungkinan LBP disebabkan oleh tuberkulosis. Masyarakatpun
tidak melakukan diagnosis dini karena merasa hanya nyeri otot biasa, namun setelah sekian lama, bisa
menimbulkan komplikasi yang meluas. Padahal apabila diagnosis terlambat, maka kondisi pasien akan lebih
buruk dan mengakibatkan disabilitas permanen yang memperburuk kondisi pasien tersebut [2].
Pemeriksaan radiologi merupakan pemeriksaan yang cukup handal dalam mendiagnosis kasus
spondilitis TB. Penggunaan foto polos tulang belakang, CT scan, serta MRI dapat membantu dokter dalam
diagnosis kasus spondilitis TB dengan lebih jelas, karena itu pemeriksaan radiologi juga menjadi salah satu
pilihan utama bagi para klinisi untuk menunjang diagnosis spondilitis TB. Namun, sampai saat ini tidak ada
guideline nasional yang menjelaskan detail tentang gambaran radiologi yang patognomoni untuk spondilitis
TB. Keterbatasan pemeriksaan radiologi untuk menentukan penyebab pasti dari kelainan tulang apakah
disebabkan oleh TB atau tidak juga masih menjadi masalah [3]. Ditambah kasus-kasus atypical spondilitis
TB yang mulai bermunculan saat ini, dimana pasien tidak mengalami gejala yang khas tuberkulosis dan
gambaran radiologi yang ditemukan tidak spesifik proses spondilitis tuberkulosis, sehingga diagnosis yang
diambil tidak sesuai [4].
Melihat beberapa permasalahan ini, penelitian yang dapat memberikan informasi tentang gambaran
radiologi pasien spondilitis TB di Indonesia sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan
informasi mengenai profil pemeriksaan radiologi pasien spondilitis tuberkulosis di RSUD Dr. Soetomo
Surabaya.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan menggunakan metode
observasional untuk mengetahui profil pemeriksaan radiologi pasien spondilitis tuberkulosis di RSUD Dr.
Soetomo Surabaya. Sampel dalam penelitian ini adalah semua data rekam medik pasien spondilitis
tuberkulosis yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya selama periode bulan Maret tahun 2013 sampai
bulan Maret tahun 2014 yang dipilih menjadi sampel. Penelitian ini menggunakan teknik total sampling.
Rekam medik pasien diambil dari bagian rekam medik pusat dan rekam medik poli rawat jalan RSUD Dr.
Soetomo Surabaya.
Data rekam medik pasien spondilitis tuberkulosis yang dipilih menjadi sampel adalah data pasien
yang telah didiagnosis mengidap spondilitis tuberkulosis yaitu yang mencakup : (1) Gejala klinis nyeri
punggung, gangguan neurologis, dan gejala umum tuberkulosis seperti demam, berat badan turun, riwayat
batuk lama, dan keringat malam ; (2) Pemeriksaan Histopatologi didapati hasil berupa gambaran lesi khas,
dimana terlihat sel raksasa dengan banyak inti yang dikelilingi sel-sel limfosit, monosit, dan fibroblas. Di
tengah-tengah dapat terjadi nekrosis keju (caseation necrosis). (3) Pemeriksaan bakteriologi dengan
dilakukan kultur bakteri menggunakan spesimen jaringan biopsi. Kultur dilakukan pada media LowensteinJensen atapun bisa juga dalam tabung MGIT. (4) Pemeriksaan radiologi didapat gambaran antara lain :
pembengkakan jaringan lunak di sekitar lesi, osteopenia yang progresif, kerusakan tulang periarticular dan
kartilago, serta penebalan periosteum [5].
Data yang diambil meliputi identitas pasien (jenis kelamin dan umur) serta hasil pemeriksaan
radiologi yang dilakukan pasien. Data yang terkumpul kemudian diobservasi dan disajikan dalam bentuk
tabel. Data yang ada dianalisis secara deskriptif dan ditarik kesimpulan.
HASIL
Sepanjang periode bulan Maret 2013 sampai bulan Maret 2014 didapatkan 45 data rekam medik
pasien yang mengalami penyakit spondilitis tuberkulosis yang dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
Pasien yang paling banyak mengalami penyakit spondilitis tuberkulosis adalah pasien berusia 36-45 tahun
sebanyak 9 pasien (20%), diikuti pasien berusia 17-25 tahun sebanyak 8 pasien (17,78%), dan pasien
berusia 46-55 tahun sebanyak 7 pasien (15,56%).
Tabel 1
Distribusi Pasien Spondilitis Tuberkulosis berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin di RSUD Dr.
Soetomo, Maret 2013 sampai Maret 2014
Usia Pasien
0-5
5-11
12-16
17-25
26-35
36-45
46-55
56-65
> 65
Jumlah
n
%
6
1
3
8
6
9
7
5
0
45
13,33
2,22
6,67
17,78
13,33
20
15,56
11,11
0
100
Laki-Laki
n
%
3
1
3
6
3
6
3
3
0
28
Jenis Kelamin
Perempuan
n
%
6,67
2,22
6,67
13,33
6,67
13,33
6,67
6,67
0
62,22
3
0
0
2
3
3
4
2
0
17
6,67
0
0
4,44
6,67
6,67
8,89
4,44
0
37,78
Tabel di atas juga menunjukkan bahwa pasien yang berjenis kelamin laki-laki lebih banyak
dibanding pasien yang berjenis kelamin perempuan dengan rasio 1,6.
Tabel 2
Hasil Pemeriksaan Radiologi Pasien Spondilitis Tuberkulosis di RSUD Dr. Soetomo, Maret
2013 sampai Maret 2014
Jenis Pemeriksaan
Pasien yang
melakukan
pemeriksaan
n
%
n
%
n
%
Foto Polos Tulang
belakang
24
53,33
24
53,33
0
0
MRI
23
51,11
23
51,11
0
0
Hasil (+)
Hasil (-)
Tabel di atas menunjukkan hasil pemeriksaan radiologi yang dilakukan oleh pasien spondilitis TB
di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Data menunjukkan hanya 23 pasien saja (51,11%) yang melakukan
pemeriksaan MRI sebagai pemeriksaan penunjang diagnosis dan hanya 24 pasien (53,33%) yang
melakukan pemeriksaan foto polos tulang belakang. Diantara 45 pasien yang diteliti, hanya 12 pasien
(26,67%) yang melakukan 2 macam pemeriksaan radiologi bersamaan (MRI sekaligus Foto polos tulang
belakang), 11 pasien (24,44%) hanya melakukan pemeriksaan radiologi MRI saja, dan 12 pasien (26,67%)
hanya melakukan pemeriksaan radiologi Foto polos tulang belakang saja. Jadi total ada 35 pasien (77,78%)
yang telah
menjalani pemeriksaan radiologi untuk membantu menegakkan diagnosis spondilitis
tuberkulosis.
Hasil pengamatan juga menunjukkan bahwa pasien yang melakukan pemeriksaan radiologi untuk
membantu penegakan diagnosis spondilitis tuberkulosis semua menunjukkan hasil (+) artinya hasil
pemeriksaan radiologi menyokong gambaran spondilitis tuberkulosis. Gambaran MRI yang menyokong
diagnosis spondilitis tuberkulosis yaitu apabila didapatkan gambaran kerusakan tulang vertebrae (destruksi
corpus vertebrae) pada lokasi yang terinfeksi, bisa disertai dengan abses paravertebrae, kompresi myelum,
maupun pembentukan gibbus formation. Gambaran foto polos tulang belakang yang menyokong gambaran
spondilitis tuberkulosis yaitu apabila didapatkan gambaran kompresi corpus vertebrae lokasi yang terinfeksi,
bisa disertai dengan penyempitan spatium intervertebralis.
PEMBAHASAN
Pemeriksaan radiologis merupakan pemeriksaan yang penting di dalam penegakan diagnosis
spondilitis tuberkulosis. Dalam rekam medik pasien spondilitis tuberkulosis didapatkan bahwa 77,78%
pasien spondilitis tuberkulosis di RSUD Dr. Soetomo telah dilakukan pemeriksaan radiologis. Pemeriksaan
radiologis yang dilakukan ada 2 jenis yaitu foto polos tolang belakang dan MRI. Foto polos / plain radiograph
tulang belakang masih menjadi andalan bagi bagi golongan ekonomi bawah karena harga yang murah.
Namun gambaran foto polos tulang belakang hanya dapat mendeteksi kelainan struktur luar tulang belakang
serta cukup banyak variasi gambaran yang dihasilkan [3]. Pada penelitian ini semua hasil foto polos tulang
belakang menunjukkan gambaran yang mendukung spondilitis TB, seperti kompresi corpus vertebrae,
penyempitan spatium intervertebralis, maupun kyphosis angulation. Namun hal ini tidak membuktikan bahwa
foto polos tulang belakang merupakan pemeriksaan terbaik, karena pasien yang datang di RSUD Dr.
Soetomo adalah pasien yang sudah masuk dalam keadaan parah. Gambaran plain radiograph untuk
stadium awal spondilitis TB cenderung normal. Pemeriksaan CT scan juga dapat dipakai dalam melihat
keadaan soft tissue disekitar vertebrae yang terinfeksi. Pemeriksaan ini dapat mendeteksi kelainan lebih
awal dibanding foto polos. CT scan sering dimanfaatkan untuk CT-guided biopsy [3]. Pada penelitian ini
penggunaan CT scan hanya untuk membantu FNAB (FNAB CT guiding) dilakukan pada 3 pasien, dan tidak
untuk mendiagnosis spondilitis tuberkulosis.
MRI merupakan salah satu pemeriksaan radiologis pilihan untuk diagnosis spondilitis tuberkulosis.
MRI merupakan pemeriksaan yang lebih sensitif dibanding foto polos tulang belakang dan lebih spesifik
dibanding CT scan dalam diagnosis spondilitis tuberkulosis. MRI sangat baik dalam menilai kerusakan korda
spinalis dalam kasus spondilitis tuberkulosis serta melihat keadaan soft tissue paravertebral. Namun tidak
adanya gambaran patognomonic pada pemeriksaan menggunakan MRI yang bisa membedakan kelainan di
tulang belakang memang disebabkan tuberkulosis, infeksi lain non tuberkulosis, ataupun neoplasma [3].
Namun, pemeriksaan radiologi saat ini masih mengalami kesulitan dalam mendiagnosis kasus
atypical spondilitis TB. Kasus-kasus atypical spondilitis TB tidak memiliki gejala yang khas, bahkan
pemeriksaan radiologi tidak dapat membedakannya dengan kasus lain, seperti penyakit tulang karena
infeksi bakteri, fungi, proses inflamasi, dan neoplasma tulang [6]. Hal ini menyebabkan beberapa kasus
dapat terjadi salah diagnosis dan penanganan yang terlambat. Kasus atypical spondilitis TB memiliki
gambaran yang menyerupai lymphoma atau proses metastasis [7]. Karena itu perlunya kecurigaan ke arah
spondilitis tuberkulosis meski saat pemeriksaan radiologi menunjukkan gambaran yang tidak spesifik,
terutama pada daerah-daerah dengan endemisitas tinggi tuberkulosis [8]. Karena itu, pemeriksaan radiologi
perlu dikerjakan bersamaan dengan pemeriksaan penunjang lain yaitu pemeriksaan histopatologi,
pemeriksaan mikrobiologi, dan pemeriksaan laboratotium.
Pemeriksaan histopatologi dan pemeriksaan kultur Mycobacterium juga penting dilakukan untuk
memberikan gambaran yang lebih spesifik dan dapat menunjang diagnosis spondilitis TB. WHO
menganjurkan setiap pasien tuberkulosis untuk melakukan kultur Mycobacterium untuk mendapatkan
diagnosis pasti tuberkulosis (apakah disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis atau Mycobacterium
other than tuberculosis). Kultur juga dipandang penting karena menyediakan koloni bakteri untuk tes
kepekaan anti tuberkulosis / Drug Susceptibility Testing. Namun, kerugiannya melakukan kultur
Mycobacterium tentu butuh waktu yang lebih lama, biaya yang lebih mahal, dan hanya bisa dilakukan di
laboratorium yang memiliki fasilitas untuk itu. Kultur juga membutuhkan tenaga ahli sehingga sulit dilakukan
oleh semua rumah sakit di Indonesia [9]. Pemeriksaan LED / Laju Endap Darah dan CRP / C-Reactive
Protein juga dapat membantu diagnosis tuberkulosis. LED pada pasien spondilitis TB cenderung meningkat
dan dapat menurun kembali saat treatment pasien berjalan dengan baik [10]. Karena itu pemeriksaan pada
pasien spondilitis TB harus dikerjakan secara menyeluruh dan tidak bisa hanya bergantung pada 1 jenis
pemeriksaan saja.
KESIMPULAN
Pasien spondilitis tuberkulosis di RSUD Dr. Soetomo sepanjang bulan Maret 2013 sampai Maret
2014 yang melakukan pemeriksaan radiologi sebanyak 35 pasien (77,78%). Diantaranya terdapat 12 pasien
(26,67%) yang melakukan 2 macam pemeriksaan radiologi bersamaan (MRI sekaligus Foto polos tulang
belakang), 11 pasien (24,44%) melakukan pemeriksaan radiologi MRI saja, dan 12 pasien (26,67%)
melakukan pemeriksaan radiologi Foto polos tulang belakang saja.
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terimakasih kepada Prof. Dr. Ni Made Mertaniasih, dr., MS., Sp.MK(K),
selaku dosen pembimbing pertama, Dr. Dwikora Novembri Utomo, dr., Sp.OT(K), selaku dosen pembimbing
kedua, Prof. Dr. Soetojo, dr., Sp.U, selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Prof. Dr.
Agung Pranoto, dr., M.Sc., Sp.PD, K-EMD, FINASIM, selaku mantan dekan Fakultas Kedokteran Universitas
Airlangga, Prof. Dr. Nancy Margarita Rehatta, dr., Sp.An-KIC, selaku koordinator modul integrasi KBK
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Dr. Florentina Sustini, dr., MS., selaku penanggung jawab modul
penelitian Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga sekaligus dosen penguji penelitian ini, kedua orang tua
saya, Hendra Gunawan dan Sri Farida, serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam
penyelesaian karya tulis ini, yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
DAFTAR PUSTAKA
1. World Health Organization. 2013. Global Tuberculosis Report 2013. Diakses dari :
http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/91355/1/9789241564656_eng.pdf?ua=1 [diakses pada 7
Agustus 2014]
2. Santosa, Wahyu Budi. 2011. Low Back Pain : Kapan Dicurigai sebagai TB Tulang Belakang?.
Diakses dari : http://indonesia.digitaljournals.org/index.php/idnmed/article/viewFile/1004/996
[diakses pada 7 Agustus 2014]
3. Garg, Ravindra Kumar, Somvanshi, Dilip Singh. 2011. Spinal Tuberculosis : A review. Diakes dari :
http://www.iapncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3184481/ [diakses pada 1 Januari 2016]
4. Yu, Yang, Wang, Xinwei, Du, Bin, Yuan, Wen, Ni, Bin, Chen, Deyu. 2013. Isolated Atypical Spinal
Tuberculosis mistaken for neoplasia : case report and literature review. Diakses dari :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3641247/ [diakses pada 10 Februari 2016]
5. Agashe, Vikas, et al. 2009. Osteoarticular Tuberculosis – Diagnostic Solutions in a Disease Endemic
Region. Diakses dari :
http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&ved=0CCcQFjAB&url=http%
3A%2F%2Fjidc.org%2Findex.php%2Fjournal%2Farticle%2Fdownload%2F19762969%2F268&ei=tD
_qU_qoHoLl8AXNsoGwCw&usg=AFQjCNEVwBX5KWO8_D928oOf5ME7FZD8jA&bvm=bv.7267610
0,d.dGc [diakses pada 12 Agustus 2014]
6. Sarangapani, Aparna, Fallah, Aria, Provias, John, Jha, Neilank K. 2008. Atypical Presentation of
Spinal Tuberculosis. Diakses dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2592567/ [diakses
pada 10 Februari 2016]
7. Momjian, Rita, George, Mina. 2014. Atypical Imaging Features of Tuberculous Spondylitis : Case
Report with Literature Review. Diakses dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4394978/
[diakses pada 10 Februari 2016]
8. Khattry, Naveen, Thulkar, Sanjay, Das, Anup, Khan, Shah Alam, Bakhshi, Sameer. 2006. Spinal
Tuberculosis Mimicking Malignancy : Atypical Imaging Features. Diakses dari :
http://medind.nic.in/icb/t07/i3/icbt07i3p297.pdf [diakses pada 10 Februari 2016]
9. World Health Organization. 2015. Implementing Tuberculosis Diagnostics Policy Framework.
Diakses dari : http://apps.who.int/iris/bitstream/10665/162712/1/9789241508612_eng.pdf?ua=1
[diakses pada 1 Januari 2016]
10. Rasouli, Mohammad R., Mirkoohi, Maryam, Vaccaro, Alexander R., et al. 2012. Spinal Tuberculosis :
Diagnosis and Management. Diakses dari : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3530707/
[diakses pada 1 Januari 2016]
Download