Uploaded by zupernetx

landasan teori tesis kinerja

advertisement
9
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Tinjauan Pustaka
1.
Manajemen Sumber Daya Manusia
Salah satu aspek utama dalam proses pencapaian tujuan
organisasi adalah pemberdayaan secara optimal sumber daya manusia
yang dimiliki. Mengelola sumber daya manusia yang efektif dan efisien
akan memberikan kontribusi terhadap peningkatan kinerja yang optimal,
terlebih menghadapi tantangan di era industri 4.0 yang sangat kompetitif
dan lingkungan yang cepat berubah.
Hal ini sejalan dengan pendapat Suparyadi (2015:1) yang
mengemukakan, bahwa:
Manajemen sumber daya manusia memainkan peranan yang
menentukan dalam kehidupan sebuah organisasi, yaitu seberapa
baik kinerja organisasi itu, seberapa baik strategi organisasi dapat
dilaksanakan, dan seberapa jauh tujuan yang telah ditentukan dapat
dicapai.
Untuk itu organisasi perlu menyadari bagian penting dalam
mengelola sumber daya manusia sebagai sumber daya vital
untuk
mencapai tujuan yang ingin dicapai. Tanpa upaya mempengaruhi dan
mendorong keterlibatan sumber daya manusia secara efekif maka dapat
dikatakan bahwa tujuan organisasi akan sulit dicapai.
Sedangkan Noe dalam Kasmir (2017:6) dengan memberikan
pengertian manajemen sumber daya manusia sebagai:
10
“ Noe menyebutkan Human resources management refers to the policies
practices anda systems that influence employees behavior, attitudes, and
performance.
(Artinya: Noe menyebutkan bahwa manajemen sumber daya manusia
merupakan bagaimana mempengaruhi perilaku, sikap dan kinerja
karyawan melalui kebijakan dan sistem yang dimiliki oleh perusahaan)”.
Dengan demikian dapatlah dijelaskan bahwa manajemen sumber
daya manusia merupakan suatu mekanisme yang bertujuan untuk
mempengaruhi perilaku dan kinerja karyawan agar mampu memberikan
kontribusi yang optimal dalam rangka mencapai tujuan organisasi.
Seperti yang dikemukakan oleh Noe dalam Suparyadi (2015:2) bahwa
manajemen sumber daya manusia meliputi praktek-praktek tentang
orang seperti ditunjukkan pada gambar berikut:
Analisis dan desain pekerjaan
Perencanaan SDM
Perekrutan
Seleksi
Pelatihan dan Pengembangan
Kinerja Perusahaan
Kompensasi
Manajemen Kinerja
Hubungan Karyawan
Gambar 2.1 Praktek manajemen SDM (Noe et al.,2006)
Dengan demikian sangat jelas bahwa manajemen sumber daya
manusia merupakan praktek strategis dalam upaya peningkatan kinerja
11
untuk mencapai tujuan organisasi dan tujuan yang hendak dicapai oleh
karyawan, salah satu aktifitas pentingnya adalah
manajemen kinerja
karyawan.
2.
Manajemen Kinerja
Sebagai upaya meningkatkan kinerja organisasi maka dibutuhkan
manajemen kinerja yang dapat mengelola sumber daya manusia untuk
dapat berkontribusi pada kepuasan
stakeholdernya. Pencapaian
terhadap tujuan organisasi melalui proses bersama antara karyawan dan
atasannya secara efektif menjadi tujuan diperlukannya manajemen
kinerja organisasi.
Menurut Amstrong (2004: 29) bahwa:
Manajemen kinerja merupakan sarana untuk mendapatkan hasil yang
lebih baik dari organisasi, tim, dan individu dengan cara memahami dan
mengelola kinerja dalam suatu keangka tujuan, standar dan persyaratanpersyaratan atribut/kompetensi terencana yang telah disepakati.
Sedangkan Bacal dalam Wibowo (2016:7) memberi pandangan
bahwa “ manajemen kinerja sebagai proses komunikasi yang dilakukan
secara terus menerus dalam kemitraan antara karyawan dengan atasan
langsungnya. Proses komunikasi ini meliputi kegiatan membangun
harapan yang jelas serta pemahaman mengenai pekerjaan yang akan
dilakukan”.
Sehingga dapat dikatakan bahwa upaya peningkatan kinerja
karyawan dalam organisasi akan lebih mudah dilakukan karena
melibatkan seluruh sumber daya manusianya dan memberikan
kesempatan kepada karyawan untuk mengenali lingkungannya dan
12
potensinya
serta mendorong
karyawan
berkontribusi
terhadap
pencapaian tujuan organisasi.
Sejalah dengan itu dapat dikatakan bahwa manajemen kinerja
dapat berjalan lebih baik
dengan terlebih dahulu dirumuskan dan
disepakati bersama oleh seluruh tim dalam organisasi terhadap tujuan
dan kegiatan yang ingin dicapai. Hal ini pun dikatakan oleh Amstrong
dalam Wibowo (2016: 8) bahwa:
“ Manajemen kinerja adalah proses sistematis untuk memperbaiki kinerja
organisasi dengan mengembangkan kinerja individu dan tim. Merupakan
sarana untuk mendapatkan hasil lebih baik dengan memahami dan
mengelola kinerja dalam kerangka kerja yang disepakati tentang tujuan
terencana, standar dan persyaratan kompetensi ”.
Sedangkan menurut Surya Darma (2010:27) berpendapat bahwa
bilamana orang tahu dan mengerti apa yang diharapkan dari mereka, dan
diikutsertakan dalam penentuan sasaran yang akan dicapai maka
mereka akan menunjukkan kinerja untuk mencapai sasaran tersebut.
Selanjutnya Noe dalam Surya Darma (2010:19) menyebutkan 3
(tiga) tujuan manajemen kinerja yaitu:
1. Tujuan Stratejik
Manajemen kinerja harus mengaitkan kegiatan pegawai
dengan tujuan organisasi. Pelaksanaan strategi tersebut perlu
mendefenisikan hasil yang dicapai, perilaku, karakteristik pegawai
yang dibutuhkan untuk melaksanakan startegi, mengembangkan
pengukuran dan sistem umpan balik terhadap kinerja.
2. Tujuan Administratif
Kebanyakan organisasi menggunakan iformasi manajemen
kinerja khusunya evaluasi kinerja untuk kepentingan keputusan
13
administratif, seperti: penggajian, promosi, pemberhentian pegawai
dan lain-lain.
3. Tujuan pengembangan
Manajemen kinerja bertujuan mengembangkan kapasitas
pegawai yang berhasil di bidang kerjanya. Pegawai yang tidak
berkinerja baik perlu mendapat pemberdayaan melalui training,
penempatan yang lebih cocok dan sebagainya. Pihak manajemen
perlu memahami apa saja penyebab pegawai tidak berkinerja baik,
apabila faktor skill, motivasi, dan lain-lain sehingga dapat diambil
langkah-langkah perbaikan kinerjanya.
Lebih lanjut dikemukakan oleh Surya Darma (2010: 27) bahwa
tujuan umum manajemen kinerja adalah untuk menciptakan budaya para
individu dan kelompok memikul tanggung jawab bagi usaha peningkatan
proses kerja dan kemampuan yang berkesinambungan.
Menurut Mangkunegara (2017:20) bahwa adapun bagi pegawai,
tujuan manajemen kinerja adalah:
a. Membantu para pegawai untuk mengerti apa yang seharusnya
mereka kerjakan dan mengapa hal tersebut harus dikerjakan serta
memberikan kewenangan dalam mengambil keputusan.
b. Memberikan kesempatan bagi para pegawai untuk mengembangkan
keahlian dan kemampuan baru.
c. Mengenali rintangan-rintangan peningkatan kinerja dan kebutuhan
sumber daya yang memadai.
Dari pendapat tersebut maka manajemen kinerja merupakan
praktek kinerja secara berkesinambungan dengan berupaya secara
serius melakukan perbaikan dan evaluasi terhadap proses mencapai
tujuan organisasi dengan melibatkan karyawan, tim dan segenap
manajemen dalam organisasinya.
Tenner dan detoro dalam Gaspersz (2003: 13) mengemukakan
suatu model peningkatan proses terus menerus yang terdiri dari enam
14
langkah, sebagai berikut: (1) Mendefenisikan Masalah dalam Konteks
Proses, (2) Identifikasi dan Dokumentasi proses, (3) Mengukur Kinerja,
(4) memahami mengapa suatu masalah dalam kontek proses terjadi, (5)
Mengembangkan dan menguji ide-ide, (6) Implementasi Solusi dan
evaluasi.
Untuk itu terhadap masalah yang dihadapi oleh organisasi berupa
tantangan yang sering menghambat pencapaian kinerja optimal maka
perlu tindakan korektif dengan memahami sumber masalah dan
berupaya melakukan perbaikan atau evaluasi dengan melibatkan
karyawan dan atasan secara bersama sama dan secara terus menerus
meningkatkan kinerja sesuai dengan tujuan organisasinya.
3. Model Manajemen Kinerja
Menurut Wibowo (2016 :23) bahwa proses tentang bagaimana
kinerja seharusnya dijalankan dan diungkapkan dengan cara berbedabeda diantara para pakar dari yang sangat mendasar sampai pada
proses yang mendalam. Beberapa diantaranya sebagai berikut:
a. Model Deming
Deming menjelaskan proses manajemen kinerja dimulai dengan
menyusun rencana, melakukan tindakan pelaksanaan, memonitor
jalannya dan hasil pelaksanaan, dan akhirnya melakukan review atau
peninjauan kembali atas jalannya pelaksanaan dan kemajuan
pekerjaan yang telah dicapai.
Manajemen Kinerja Deming menggambarkan keseluruhan proses
manajemen kinerja dan dapat digambarkan sebagai berikut:
15
Rencana
Review
Tindakan
Monitor
Gambar 2.2 Siklus Manajemen Kinerja Deming
Sumber : Wibowo , Manajemen Kinerja, 2016: 24.
Siklus ini disebut pula “silkus deming” karena deminglah yang
mempopulerkan dan memperluas penerapannya. Ini disebut pula siklus
P-D-C-A (Plan , Do, Check, Action) yang merupakan metode yang dapat
melakukan perbaikan secara terus menerus (continuous improvment)
tanpa berhenti. Selain itu siklus ini merupakan manajemen perbaikan
mutu secara berkesinambungan Siklus ini selain sederhana dan
mendasar namun lebih menekankan pada perbaikan proses sehingga
mampu
menyelesaikan
masalah
baru
dan
berulang
serta
meningkatkannya secara berkelanjutan, sehingga banyak organisasi
yang menerapkannya.
Penjelasan dari tahap-tahap dalam siklus PDCA adalah sebagai
berikut (M. N. Nasution, 2005:32):
16
1. Mengembangkan rencana (Plan)
Merencanakan spesifikasi, menetapkan spesifikasi atau standar
kualitas yang baik, memberi pengertian kepada bawahan akan
pentingnya kualitas produk, pengendalian kualitas dilakukan secara
terus-menerus dan berkesinambungan.
2. Melaksanakan rencana (Do)
Rencana
yang
telah
disusun
diimplementasikan
secara
bertahap, mulai dari skala kecil dan pembagian tugas secara merata
sesuai dengan kapasitas dan kemampuan dari setiap personil. Selama
dalam melaksanakan rencana harus dilakukan pengendalian, yaitu
mengupayakan agar seluruh rencana dilaksanakan dengan sebaik
mungkin agar sasaran dapat tercapai.
3. Memeriksa atau meneliti hasil yang dicapai (Check)
Memeriksa atau meneliti merujuk pada penetapan apakah
pelaksanaannya berada dalam jalur, sesuai dengan rencana dan
memantau kemajuan perbaikan yang direncanakan. Membandingkan
kualitas hasil produksi dengan standar yang telah ditetapkan,
berdasarkan penelitian diperoleh data kegagalan dan kemudian
ditelaah penyebab kegagalannya.
4. Melakukan tindakan penyesuaian bila diperlukan (Action)
Penyesuaian dilakukan bila dianggap perlu, yang didasarkan
hasil analisis di atas. Penyesuaian berkaitan dengan standarisasi
17
prosedur baru guna menghindari timbulnya kembali masalah yang sama
atau menetapkan sasaran baru bagi perbaikan berikutnya.
b. Model Torrington dan Hall
Model ini dijelaskan Wibowo (2016:24) sebagai proses
manajemen kinerja dengan merumuskan terlebih dahulu harapan
terhadap kinerja atau hasil yang diharapkan dari suatu kinerja.
Kemudian, ditentukan dukungan yang diberikan terhadap kinerja untuk
mencapai tujuan. Sementara itu, pelaksanaan kinerja berlangsung
dilakukan peninjauan kembali dan penilaian terhadap kinerja. Langkah
selanjutnya melakukan pengelolaan terhadap standar kinerja. Standar
kinerja harus dijaga agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai.
Menentukan
harapan kinerja
Mengelola
standar kinerja
Mendukung Kinerja
Mereview dan Menilai Kinerja
Gambar 2.3 Siklus Manajemen Kinerja Torrington dan Hall
Sumber: Wibowo, Manajemen Kinerja, 2016: 25.
3. Model Costello
Wibowo (2016: 25) menjelaskan, siklus ini dimulai dengan
melakukan persiapan perencanaan sehingga dapat dibuat suatu
18
rencana dalam bentuk rencana kinerja dan pengembangan. Untuk
meningkatkan kinerja, diberikan coacing pada sumber daya manusia
dan dilakukan pengukuran kemajuan kinerja. Peninjauan kembali
selau dilakukan terhadap kemajuan pekerjaan dan apabila diperlukan
dilakukan rencana. Siklus dapat dilihat pada gambar berikut:
Gambar 2.4: Model Manajemen Kinerja Costello
Sumber: Wibowo, manajemen Kinerja. 2016; 26
4. Konsep Kinerja
Konsep kinerja pada dasarnya dapat dilihat dari dua segi, yaitu
kinerja pegawai (individu) dan kinerja organisasi. Kinerja pegawai
merupakan hasil perilaku individu
dalam suatu organisasi yang
ditetapkan untuk mencapai hasil yang diinginkan. Sedangkan kinerja
organisasi mencakup hasil dari keseluruhan sumber daya dalam
19
organisasi tersebut, sehingga hasil kinerja pegawai akan sangat
mempengaruhi keseluruhan kinerja organisasi.
Beberapa pendapat mengenai kinerja tersebut disebutkan oleh
Mangkunegara (2017:15) bahwa:
Kinerja individu adalah hasil kerja karyawan baik dari segi kualitas
maupun kuantitas berdasarkan standar kerja yang telah ditentukan.
Kinerja individu ini akan tercapai apabila didukung oleh atribut individu,
upaya kerja (work effort) dan dukungan organisasi.
Sedangkan Faustino Cardosa Gomes dalam Mangkunegara (2017:
9) mengemukakan defenisi kinerja karyawan sebagai:
“ Ungkapan seperti output, efisiensi serta efektifitas sering dihubungkan
dengan produktifitas”.
Sedangkan
Gibson
berpendapat
dalam
Kasmir
(2017:182)
mengatakan bahwa:
“Kinerja individu adalah dasar kinerja organisasi yang sangat dipengaruhi
oleh karakteristik individual, motivasi individu, pengharapan, dan
penilaian yang dilakukan oleh manajemen terhadap pencapaian hasil
kerja individu “.
Sehingga dapat dikatakan bahwa kinerja yang dihasilkan oleh
seorang pegawai dari segi kualitas maupun kuantitas dipengaruhi oleh
kondisi internal individu dan motivasi sebagai penggerak pencapaian
tujuan individu dan organisasi secara efisien dan efektif. Kemampuan
seseorang merupakan ukuran pertama dalam upaya meningkatkan
kinerjanya, motivasi yang mendorongnya akan mempengaruhi tingkat
keberhasilannya.
20
Menurut Bernardin dan Russel dalam Sopiah dan Sangadji
(2018:350) mendefenisikan kinerja sebagai berikut:
“Performance is defined as the record of outcome produced on a specified
job function or acivity during a time period. (kinerja didefenisikan sebagai
catatan hasil yang diperoleh dari suatu pekerjaan atau aktivitas tertentu
dalam jangka waktu tertentu) “.
Sedangkan Mangkunegara dalam Sopiah dan Sangadji (2018:350 )
mendefenisikan kinerja sebagai “ hasil kerja secara kualitas dan kuantitas
yang dicapai oleh seseorang pegawai dalam melaksanakan tugasnya
sesuai dengan tangung jawab yang diberikan kepadanya”. Kualitas yang
dimaksud disini adalah dilihat dari kehalusan, kebersihan, dan ketelitian
dalam pekerjaan, sedangkan kuantitas dilihat dari jumlah atau banyaknya
pekerjaan yang harus diselesaikan karyawan.
Sedangkan Soeprihanto (2000:7) mengatakan bahwa ”kinerja atau
prestasi seseorang pegawai pada dasarnya adalah hasil kerja seorang
pegawai selama periode waktu tertentu.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka kinerja pegawai Badan
Pengelola Keuangan Daerah adalah sejauh mana kemampuan seorang
pegawai berperan aktif dalam perilakunya dan hasil kerjanya baik dari
segi kualitas maupun kuantitas dalam pencapaian tujuan organisasi.
Hubungan antara kinerja perorangan (pegawai) dengan kinerja
organisasi sangat erat. Jika kinerja perorangan (pegawai) baik maka
kemungkinan besar kinerja organisasi juga baik. Hanya saja untuk
21
menghasilkan kinerja yang tinggi seorang pegawai tidak hanya harus
memiliki keterampilan dan pengetahuan tetapi ia juga harus memiliki
keinginan dan kegairahan untuk berprestasi tinggi.
Oleh karena itu dapat pula disimpulkan bahwa kinerja pegawai
merupakan
prestasi kerja, unjuk kerja atau hasil kerja (output) baik
secara kualitas maupun kuantitas yang dicapai karyawan dalam periode
waktu tertentu dalam melaksanakan tugas dan tanggungjawabnya.
Selain itu kinerja yang dihasilkan pegawai tidaklah serta merta
terjadi dengan sendirinya, kemampuan pegawai kadangkala terlihat lebih
baik dan seringkali pula kinerjanya rendah. Hal ini sangat dipengaruhi
oleh beberapa faktor, seperti yang dikemukakan oleh Amstrong dalam
dalam Sopiah dan Sangadji (2018:352) sebagai berikut:
1. Personal factors (faktor individu). Faktor individu berkaitan dengan
keahlian, motivasi, komitmen, dan lain-lain.
2. Leadership factors (faktor kepemimpinan). Faktor kepemimpinan
berkaitan dengan kualitas dukungan dan pengarahan yang diberikan
oleh pimpinan, manajer, atau ketua kelompok kerja.
3. Team factors (faktor kelompok/rekan kerja). Faktor kelompok/rekan
kerja berkaitan dengan kualitas dukungan yang diberikan oleh rekan
kerja.
4. System factors (faktor sistem). Faktor sistem berkaitan dengan
sistem metode kerja yang ada dan fasilitas yang disediakan oleh
organisasi.
5. Contextual/situasional factors (faktor situasi). Faktor situasi berkaitan
dengan tekanan dan perubahan lingkungan, baik lingkungan internal
maupun eksternal.
Sehingga untuk dapat meningkatkan kinerja pegawai perlu
memperhatikan faktor faktor internal dan eksternal organisasi dan secara
22
bersama memberi dukungan dan mendorong upaya peningkatan kinerja
secara berkelanjutan. Setiap aspek tidak lebih penting antar satu dengan
lainnya tetapi seharusnya saling menguatkan dan berkontribusi terhadap
upaya pencapain tujuan organisasi.
5. Pengukuran kinerja
Untuk dapat mengetahui tingkat keberhasilan kinerja pegawai
dalam suatu organisasi maka diperlukan standar atau kriteria sebagai
pedoman untuk mengukur hasil kerja tersebut. Hal ini diungkapkan oleh
james B whittaker dalam Sedarmayanti (2017:219)
“ Pengukuran kinerja merupakan suatu alat manajemen yang digunakan
untuk meningkatkan kualitas pengambilan keputusan dan akuntabilitas,
pengukuran kinerja juga digunakan untuk menilai pencapaian tujuan dan
sasaran”.
Selain itu lebih lanjut Sedarmayanti mengungkapkan bahwa pengukuran
kinerja digunakan untuk penilaian atas keberhasilan/kegagalan
pelaksanaan kegiatan/program/kebijakan sesuai dengan sasaran dan
tujuan yang telah ditetapkan dalam mewujudkan misi dan visi organisasi.
Karenanya, sudah merupakan suatu hal yang mendesak untuk
menciptakan sistem yang mampu untuk mengukur kinerja dan
keberhasilan organisasi. Untuk dapat menjawab pertanyaan tingkat
keberhasilan organisasi, maka seluruh aktivitas organisasi tidak sematamata kepada input dari program organisasi, tetapi lebih ditekankan
kepada output, proses, manfaat dan dampak program organisasi.
Sehingga pengukuran kinerja sedemikian pentingnya dilakukan
untuk menilai tercapainya tujuan organisasi yang direncanakan, selain itu
dapat digunakan untuk mendorong peningkatan kinerja pegawai yang
tetap berorientasi pada input, proses dan output serta dampak (outcome)
yang diinginkan.
23
Selain itu ada beberapa indikator yang dapat dijadikan kriteria
pengukuran kinerja, seperti yang dikemukakan oleh Robbins dalam
Sopiah dan Sangadji (2018:351), ada enam indikator untuk mengukur
kinerja individu (karyawan), yaitu:
1. Kualitas, kualitas kerja diukur dari persepsi pimpinan terhadap kualtas
pekerjaan yang dhasilkan serta kesempurnaan tugas terhadap
keterampilan dan kemampuan karyawan.
2. Kuantitas, merupakan jumlah yang dihasilkan, biasanya dinyatakan
dalam istilah seperti jumlah unit, jumlah siklus aktivitas yang
diselesaikan.
3. Ketepatan waktu, merupakan tingkat aktivitas diselesaikannya
pekerjaan dalam waktu tertentu yang sudah ditetapkan sebagai
standar pencapaian waktu penyelesaian pekerjaan.
4. Efektifitas, merupakan tingkat penggunaan sumber daya organisasi
(tenaga, uang, teknologi, bahan baku) dimaksimalkan dengan
maksud menaikkan hasil dari setiap unit dalam penggunaan sumber
daya.
5. Kemandirian, merupakan tingkat seorang karyawan yang nantinya
akan dapat menjalankan fungsi kerjanya.
6. Komitmen kerja, Merupakan suatu tingkat dimana karyawan
mempunyai komitmen kerja dengan instansi dan tanggungjawab
karyawan terhadap organisasi.
Sementara Mangkunegara dalam Sopiah dan Sangadji (2018:352)
berpendapat bahwa objektifitas penilai juga diperlukan agar penilaian
menjadi adil dan tidak subjektif dan pengukuran kinerja dapat dilakukan
melalui indikator-indikator berikut:
1. Ketepatan waktu dalam menyelesaikan tugas yaitu kesanggupan
karyawan menyelesaikan pekerjaan tepat waktu.
24
2. Penyelesaian pekerjaan melebihi target yaitu apabila karyawan
menyelesaikan pekerjaan melebihi target yang ditentukan oleh
organisasi.
3. Bekerja tanpa kesalahan, yaitu tidak melakukan kesalahan terhadap
pekerjaan merupakan tuntutan bagi setiap karyawan.
Mathis dan jackson dalam Sopiah dan Sangadji (2018:352)
menyatakan bahwa penilaian kinerja karyawan juga bisa didasarkan atas
kemampuan mereka dalam menyelesaikan pekerjaan mereka dengan
indikator berikut, (1) Kuantitas hasil kerja, (2) Kualitas hasil kerja, (3)
Ketepatan waktu karyawan dalam menyelesaikan pekerjaannya, (4)
Tujuan penilaian kinerja.
Sehingga dapat dikatakan bahwa keberhasilan kinerja dapat diukur
dengan menggunakan indikator-indikator seperti jumlah yang dihasilkan,
ketepatan waktu, kualitas output dan pelampauan atas target/sasaran
yang diinginkan.
6. Penilaian kinerja
Proses penilaian kinerja bagi individu menjadi suatu tantangan
organisasi dalam menyajikan fakta secara terbuka dan objektif terhadap
perilaku individu dalam organisasi. Potret ini akan mengarahkan
peningkatan motivasi dan kinerja apabila hasil yang ditunjukkannya dapat
diterima oleh karyawan.
Sejalan dengan itu penilaian kinerja menurut Wirawan (2015:105)
dimulai dengan pengumpulan data kinerja pegawai sepanjang masa
25
evaluasi kinerja. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi tentang
apa yang dilakukan para karyawan.
Menurut Kasmir (2016:184) bahwa penilaian kinerja merupakan
suatu sistem yang dilakukan secara periodik untuk meninjau dan
mengevaluasi kinerja individu.
Sedangkan Menurut Attwood Margaret dan Stuart Dimmock, dalam
Sedarmayanti (2017:284) bahwa defenisi kata ‘to appraise “ (menilai)
adalah “ menetapkan harga untuk” atau “ menilai suatu benda”. Jika
menggunakan istilah “penilaian kinerja” berarti kita terlibat dalam proses
menentukan
nilai
karyawan
bagi
perusahaan,
dengan
maksud
meningkatkannya.
Sedangkan Sopiah dan Sangadji (2018:353) mengemukakan
bahwa setiap organisasi pada dasarnya telah mengidentifikasi bahwa
perencanaan prestasi dan terciptanya suatu prestasi organisasi berkaitan
erat dengan prestasi individual para pegawai.
Lebih lanjut dikemukakan dalam Sedarmayanti (2017:284) bahwa:
Penilaian pelaksanaan pekerjaan kinerja adalah sistem yang digunakan
untuk menilai dan mengetahui apakah seorang karyawan telah
melaksanakan pekerjaannya secara keseluruhan. Penilaian pelaksanaan
pekerjaan merupakan pedoman dalam hal karyawan yang diharapkan
dapat menunjukkan kinerja karyawan secara rutin dan teratur sehingga
bermanfaat bagi pengembangan karir karyawan yang dinilai maupun bagi
organisasi secara keseluruhan.
26
Oleh karena itu, penilaian kinerja sebaiknya dilakukan dengan
obeservasi terhadap data kinerja pegawai dan hendaknya dapat
memberikan umpan balik (feedback) kepada pegawai dalam mereposisi
tugas dan fungsinya, sasaran yang ingin dicapainya dan arahan yang
jelas bagi kesesuaian tujuan individu dan tujuan organisasinya.
Organisasi juga sebaiknya dapat secara terbuka merencanakan prestasi
kinerjanya dengan kesempatan terhadap peningkatan karir dan
kompensasi yang akan diterimanya sehingga menjadi sumber motivai
dalam meningkatkan kinerja individunya serta tim kerjanya.
B. Desain Praktek
Untuk meningkatkan kinerja pegawai maka perlu pendekatan
strategik yang dapat dipahami dan dijalankan oleh para pegawai bersama
tim
atau
manajemen
untuk
mencapai
tujuan
organisasi
yang
berkesinambungan tanpa henti. Hal ini sejalan dengan Hendry, bradley
dan Perkins dalam Wibowo (2016:9)
manajemen
kinerja
merupakan
mengungkapkan bahwa
pendekatan
sistematik
untuk
memperbaiki kinerja individual dan tim dengan maksud mencapai tujuan
organisasional.
Sedangkan menurut Levinson dalam Sedarmayanti (2017:285)
bahwa tujuan proses manajemen kinerja untuk; (1) tujuan organisasi, (2)
meningkatkan efektifitas unit kerja, (3) meningkatkan kinerja karyawan.
27
Perbaikan kinerja bukan saja dilakukan ketika individu, tim atau organisasi
tidak mencapai prestasi kerja (kesenjangan kinerja) yang diinginkan
namun dapat pula dilakukan walaupun telah mampu mencapai target yang
telah ditetapkan. Sehingga hal ini dapat membuka peluang bagi individu
maupun organisasinya melakukan pengembangan berkelanjutan.
Untuk itu dalam upaya memperbaiki masalah yang terjadi dan
menemukan strategi yang lebih efektif untuk mencapai tujuan organisasi
melalui peningkatan kinerja pegawai maka penulis menggunakan
manajemen kinerja melalui model deming/deming cycle P-D-C-A. Tahapan
PDCA (Plan-Do-Check-Action) ini menekankan pada tahapan-tahapan
perbaikan yang harus dilakukan, yaitu perencanaan, pelaksanaan,
pemeriksaan dan pengendalian.
Seperti
yang
dikemukanan
oleh
Mangkunegara
(2017:22)
menyebutkan bahwa terdapat paling tidak terdapat tujuh langkah yang
dapat dilakukan dalam rangka peningkatan kinerja, yaitu:
a. Mengetahui adanya kekurangan dalam kinerja.
Dapat dilakukan melalui tiga cara:
 Mengidentifikasi masalah melalui data dan informasi yang
dikumpulkan terus menerus mengenai fungsi-fungsi bisnis.
 Mengidentifikasi masalah melalui karyawan.
 Memperhatikan masalah yang ada.
b. Mengenai kekurangan dan tingkat keseriusan
Untuk memperbaiki keadaan tersebut, diperlukan beberapa informasi,
antar lain:
 Mengidentifikas masalah setepat mungkin.
 Menentukan tingkat keseriusan masalah
28
c. Mengidentifikasi hal-hal yang mungkin menjadi penyebab
kekurangan, baik yang berhubungan dengan sistem maupun yang
berhubungan dengan pegawai itu sendiri.
d. Mengembangkan rencana tindakan untuk menanggulangi penyebab
kekurangan tersebut.
e. Melakukan rencana tindakan tersebut.
f. Melakukan evaluasi apakah masalah tersebut sudah teratasi atau
belum.
g. Mulai dari awal, apabila perlu.
Untuk dapat menganalisis permasalahan yang terjadi dan
memperoleh tindakan strategis untuk mencapai tujuan yang lebih baik
dan secara terus menerus maka penulis menggunakan alat bantu statistik
yang digunakan dalam penelitian ini seperti; Check Sheet (Lembar
pengumpul data), Brainstorming, Pareto Chart (Diagram pareto), 5-Why,
Fishbone Diagram (Diagram sebab akibat) dan Metode 5W2H.
29
Gambar 2.5 desain Praktek Peningkatan Kinerja Pegawai melalui P-D-C-A
Peningkatan Kinerja Pegawai
Tahap Plan
Identifikasi Masalah
 Diskusi
Pengumpulan Data
 Observasi
 Brainstorming
 Diagram
Isikawa/Fishbone
Diagram
 Wawancara
Spesifikasi Masalah
 Diskusi
Tahap Do
Tidak Berhasil
Analisi data
& rencana
perbaikan
 Diagram pareto
Lakukan penerapan
 Action Plan
Berhasil
Periksa Kesimpulan
 Analisa
Hasil/Perbaikan
Tahap Action
Tahap Check
Pertahankan
hasil/usulan standar
baru
Download