Uploaded by mardhatillahdathill

Makalah Tenatang Kemahasiswaan

advertisement
MAKALAH TENTANG KEMAHASISWAAN
DISUSUN
O
L
E
H
SEPRIAN
: 131100342
ABANG SELAMAT : 131100074
CALON PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN MAHASISWA
STMIK INDONESIA PADANG
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Mahasiswa adalah salah satu elemen penting yang diharapakan dapat melakukan
perubahan dan memberikan kontribusi nyata terhadap bangsa dan negaranya. Menjadi
mahasiswa seharusnya menjadi langkah awal yang nyata untuk melakukan perubahan. Rasa
idealisme yang ada pada diri mahasiswa sudah seharusnya di dukung oleh seluruh masyarakat
sebagai salah satu alat aspirasi masyarakat untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik.
Namun melihat fenomena yang ada sekarang ini, pemerintah cenderung mematikan karakter
para mahasiswa dengan menerapkan kurikulum-kurikulum yang sekuler yang menjadikan
mahasiswa sibuk mementingkan kepentingan dirinya sendiri yakni bagaimana cara mendapat
nilai yang baik, lulus tepat waktu, dan bekerja di perusahaan dengan mendapat gaji besar,
bahkan saat ini mahasiswa lebih merasa bangga ketika mereka lulus dan bekerja di negara
asing. Tidakkah mereka ingin memberikan kontribusinya kepada bangsa ini? Mereka dididik
di tanah air hanya untuk melakukan perbaikan di negara lain. Sungguh itu merupakan realita
yang menyedihkan. Pemerintah yang merasa kedaulatannya terancam oleh semangat dan rasa
idealisme tinggi para mahasiswa kini menerapkan kurikulum-kurikulum sekuler menjadikan
mahasiswa disibukkan dengan kepentingan materi kuliah sehingga mahasiswa tidak lagi
peduli terhadap apa yang terjadi di lingkungan mereka. Hal ini yang menjadikan mahasiswa
Indonesia seperti hidup dalam pemerintahan yang dikatator.
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana peran mahasiswa dalam pelaksanaan perannya sebagai agen perubahan?
b. Apa sajakah faktor penyebab mahasiswa menjadi peka terhadap berbagai permasalahan
kemasyarakatan?
c. Apakah problematika yang menghambat pelaksanaan peran mahasiswa sebagai agen perubahan?
d. Bagaimana solusi atas problematika tersebut?
1.3 Tujuan
Selain untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan,
makalah ini juga bertujuan untuk menyadarkan mahasiswa akan betapa pentingnya peran
mereka bagi kelangusungan hidup bangsa ini, sehingga para mahasiswa tidak lagi
mempunyai pola pikir yang lebih mementingkan dirinya sendiri dengan sibuk mendapatkan
nilai yang baik dan lulus dengan baik, namun lebih daripada itu para mahasiswa haruslah
lebih peka terhadap kejadian-kejadian yang terjadi di lingkungan mereka. Begitu juga para
dosen yang sudah seharusnya lah memberikan keleluasaan mahasiswa untuk menyatakan
pendapat mereka dan tidak menilai mahasiswa dari satu sisi saja, sehingga para dosen tidak
hanya mencetak mahasiswa yang baik secara akademik, terlebih secara sosial dan emosional.
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Mahasiswa
Definisi mahasiswa menurut Kamus Lengkap Bahasa Indonesia (Kamisa, 1997), bahwa
mahasiswa merupakan individu yang belajar di perguruan tinggi. Montogmery dalam Papalia
dkk (2007) menjelaskan bahwa perguruan tinggi atau universitas dapat menjadi sarana atau
tempat untuk seorang individu dalam mengembangkan kemampuan intelektual, kepribadian,
khususnya dalam melatih keterampilan verbal dan kuantitatif, berfikir kritis dan moral
reasoning.
Mahasiswa merupakan satu golongan dari masyarakat yang mempunyai dua sifat, yaitu
manusia muda dan calon intelektual, dan sebagai calon intelektual, mahasiswa harus mampuu
untuk berfikir kritis terhadap kenyataan sosial, sedangkan sebagai manusia muda, mahasiswa
seringkali tidak mengukur resiko yang akan menimpa dirinya (Djodjodibroto, 2004).
Mahasiswa dalam perkembangannya berada pada kategori remaja akhir yang berada dalam
rentang usia 18-21 tahun (Monks dkk, 2001). Menurut Papalia, dkk. (2007), usia ini berada
dalam tahap perkembangan dari remaja atau adolescence menuju dewasa muda atau young
adulthood. Pada usia ini, perekembangan individu ditandai dengan pencarian identitas diri,
adanya pengaruh dari lingkungan, serta sudah mulai membuat keputusan terhadap pemilihan
pekerjaan atau karirnya.
Lebih jauh, menurut Ganda (2004), mahasiswa adalah individu yang belajar dan
menekuni disiplin ilmu yang ditempuhnya secara mantap, dimana didalam menjalani
serangkaian kuliah itu sangat dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa itu sendiri, karena
pada kenyataannya diantara mahasiswa ada yang sudah bekerja atau disibukkan oleh kegiatan
kemahasiswaan.
BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Peran Mahasiswa
Dalam sejarah perjalanan bangsa pasca kemerdekaan Indonesia, mahasiswa merupakan salah satu
kekuatan pelopor di setiap perubahan. Tumbangnya Orde Lama tahun 1966, Peristiwa Lima Belas
Januari (MALARI) tahun 1974, dan terakhir pada runtuhnya Orde baru tahun 1998 adalah tonggak
sejarah gerakan mahasiswa di Indonesia. Sepanjang itu pula mahasiswa telah berhasil mengambil
peran yang signifikan dengan terus menggelorakan energi “perlawanan” dan bersikap kritis membela
kebenaran dan keadilan. Kaum minoritas berintelekual ini sebenarnya merupakan tulang punggung
pembangun bangsa dan negara menuju perubahan kearah yang lebih baik lagi.
Siapa itu mahasiswa yang sebenarnya ? Suatu pertanyaan yang akhir-akhir ini muncul dengan
adanya dinamika yang terjadi dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri. Mahasiswa yang digambarkan
sebagai sosok yang muda, berintelektual dan kritis seakan semakin luntur dari waktu ke waktu. Hal
seperti ini terjadi karena adanya kegagalan pemahaman peran dan fungsi mahasiswa yang telah keluar
dari koridor. Kegagalan pemahaman tersebut terlihat dari adanya penyimpangan sikap, gaya hidup,
pencapaian cita-cita yang tinggi tanpa didasari usaha nyata dan integritas kehidupan mahasiswa yang
tidak lagi mencerminkan dan tidak terarah terhadap perjuangan mahasiswa itu sendiri.
Mahasiswa saat ini seakan lupa siapa dirinya dan untuk apa mereka mengenyam pendidikan
sampai level paling tinggi di dunia pendidikan. Pola pikir semacam ini wajar adanya karena memang
perubahan zaman yang luar biasa pada saat ini. Paham-paham seperti ini semakin tumbuh
berkembang dalam diri mahasiswa seiring dengan pencarian jati dirinya. Bahkan sampai dengan saat
ini masih ada mahasiswa yang bingung tentang jati dirinya dan kebingungan dalam menentukan arah
kehidupan selanjutnya.
Kini kita bisa menyaksikan dengan mudah betapa banyaknya organisasi atau kelompok
mahasiswa dibentuk, tetapi kegiatan tersebut sangat minim dengan keilmuan, perjuangan dan
tanggung jawab sosial, sehingga mereka tidak memiliki kemampuan untuk merubah keadaan atau
setidaknya menyadarkan identitas sebagai mahasiswa. Sehingga yang terjadi justru mahasiswa yang
diatur oleh keadaan dan mereka telah melupakan jati dirinya. Padahal masa depan negara ini menjadi
pengaruhnya.
3.2 Mahasiswa sebagai Agen Perubahan
Semua mahasiswa dari segala cabang keilmuan seharusnya sadar bahwa ia merupakan caloncalon pemimpin bangsa sebagai agent of change dimasyarakat dan dapat resisten terhadap berbagai
macam godaan yang merubah polapikir mahasiswa saat ini. Mahasiswa yang sadar pasti akan
merasakan bahwa bangku kuliah yang dia enyam saat ini merupakan the real education pendidikan
yang penuh warna dan pertarungan pembentukan jati diri dengan intelktualitas cara berpikir.
Sistem yang telah berhasil menutup ruang gerak mahasiswa sekarang ini mampu menghipnotis
pola pikir mahasiswa, kegiata-kegiatan ilmiah, tanggungjawab dan kepekaan terhadap kondisi sosial
mahasiswa telah menjadi budaya mahasiswa seperti kegiatan diskusi, kajian, seminar, emgontrol
pemerintah, kepekaan dan empati sosial hilang dalam kehidupan mahasiswa.
Menurut Arbi Sanit, ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka dengan permasalahan
kemasyarakatan sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai
kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas
untuk dapat bergerak di antara semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang
paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang
di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi
sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahasiswa sebagai golongan yang akan
memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu
dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit di kalangan kaum muda. Kelima, seringnya
mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat,
memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karier.
Disamping itu ada dua bentuk sumber daya yang dimiliki mahasiswa dan dijadikan energi
pendorong gerakan mereka. Pertama, ialah Ilmu pengetahuan yang diperoleh baik melalui mimbar
akademis atau melalui kelompok-kelompok diskusi dan kajian. Kedua, sikap idealisme yang lazim
menjadi ciri khas mahasiswa. Kedua potensi sumber daya tersebut ‘digodok’ tidak hanya melalui
kegiatan akademis didalam kampus, tetapi juga lewat organisasi-organisasi ekstra universitas yang
banyak terdapat di hampir semua perguruan tinggi.
Peran sejarah cukup besar dimainkan oleh kaum muda, sebagaimana secara tepat digambarkan
Arbi Sanit. Menurut Arbi Sanit (1989), ada dua peranan pokok yang selalu tampil mewarnai sejarah
aktifitas mahasiswa selama ini, yakni: Sebagai kekuatan korektif terhadap penyimpangan yang terjadi
di dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Kedua, Sebagai pencetus kesadaran masyarakat luas
akan problema yang ada dan menumbuhkan kesadaran itu untuk menerima alternatif perubahan yang
dikemukakan atau didukung oleh mahasiswa itu sendiri, sehingga masyarakat berubah ke arah
kemajuan.
Dua peranan pokok inilah yang sesungguhnya dijalankan oleh para mahasiswa, atau pun kaum
terpelajar umumnya, di zaman kolonial clan yang kemudian diperankan juga oleh generasi berikutnya
sampai saat ini. Kendatipun demikian, tidak dapat disangkal bahwa saat ini semakin dirasakan
menurunnya daya pengaruh gerakan mahasiswa terhadap perubahan masyarakat umumnya, maupun
terhadap proses pengambilan keputusan. Setelah berhasil menggulingkan lokomotif rezim otoriter
Orde Baru, Suharto, perubahan substansial dari cara-cara Orde Baru tidak mengalami perubahan yang
signifikan. Bahkan yang timbul adalah kecenderungan berbedanya arah gerakan sebagian mahasiswa
dengan apa yang tengah diperjuangkan masyarakat lewat lembaga politik formalnya. Tentu saja
realitas ini tidaklah dilihat dalam term “benar salah”, sebab hal tersebut lebih merupakan suatu
konsekuensi logis dari proses perubahan masyarakat itu sendiri.
Di Indonesia terdapat lima organisasi mahasiswa ekstra universitas atau sering dinamakan ormas
mahasiswa, yang cukup menonjol, yaitu HMI Dipo (Himpunan Mahasiswa Islam), PMII (Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia), IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah), HMI MPO (Himpunan
Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi) dan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim
Indonesia). Kesemuanya menarik untuk dikaji karena sama-sama membawa label Islam sebagai
identitas organisasinya, namun memiliki corak wacana dan strategi perjuangan yang khas.
Fenomena penting yang ada kaitannya dengan lembaga kemahasiswaan, yaitu gejala lebih
berminatnya mahasiswa terhadap lembaga lembaga non-afiliatif . Bagian ini secara lebih khusus
tetapi singkat menyoroti soal kelembagaan itu. Dalam konteks ini secara sederhana dikedepankan dua
problematika yang saling mengait, yang berhubungan dengan kelembagaan mahasiswa.
Problematika pertama menyangkut gejala ‘diskontinuitas’ sumber cumber rekruitment kader
pimpinan dengan ladang ‘orbitasi’ kader. Selama ini, setuju atau tidak, sumber-sumber rekruitment
kader pimpinan mahasiswa yang potensial adalah organisasi mahasiswa ekstra universiter/institutes,
sernentara
ladang
orbitasi
kader
yang
subur
adalah
lembaga
kemahasiswaan
intra
universiter/institutes. Keadaan ini berjalan secara baik dan dinamis sampai sekitar awal 1978, ketika
pemerintah memberlakukan kebijaksanaan NKK/BKK. Lepas dari maksud kependidikan yang
menyertainya, tidak dapat diingkari bahwa pelaksanaan kebijaksanaan tersebut, terutama proses
restrukturisasi lembaga kemahasiswaan membawa dampak yang luas, yang langsung menyebabkan
ladang orbitasi yang subur itu semakin kurus saja. ‘Zat zat hara’ yang selama ini menggemukkan
dinamika mahasiswa, semakin dikuras. Pada saat berikutnya, sumber cumber rekruitment yang
potensial ikut mengalami nasib yang serupa. Lembaga kemahasiswaan ekstra universiter semakin
diciutkan peranannya.
Problematika kedua, justru merupakan akibat langsung dari problematika pertama, yakni semakin
terbukanya dunia kemahasiswaan terhadap ‘intervensi’ kepentingan kepentingan lain yang
kadang kadang destruktif adanya. Bisa kita bayangkan runyamnya keadaan, jika di satu sisi para kader
tidak lagi dipersiapkan di sumber-sumber rekruitment secara terkonsentrasi, sementara ladang orbitasi
pun tidak lagi terlalu subur. Sulit untuk dibantah bahwa dasar bagi restrukturisasi lembaga
kemahasiswaan yang dilakukan tahun 1978 adalah upaya untuk mencegah konsentrasi mahasiswa di
tingkat universitas dan antaruniversitas sebagai suatu kekuatan pendobrak. Jadi sangat politis. Tetapi
yang kurang diperhitungkan ialah, di samping tereliminasinya salah satu substansi pembangunan
pendidikan yaitu pembentukan kepribadian, juga terpecahnya mahasiswa ke dalam puluhan atau
bahkan ratusan lembaga non afiliatif yang justru membuat kerepotan baru bagi para penentu
kebijaksanaan politik pendidikan
Kondisi saat ini,
GM mengambil posisi dan menciptakan isu yang berbeda-beda tanpa dikawal
oleh semangat sebuah mainstream utama. Sehingga ketika akan melakukan reposisi, seharusnya
mengagendakan main stream utama dari isu-isu yang akan digagas dan perjuangkan oleh masing-
masing organ. Sampai saat ini menurut hemat saya, main stream yang memungkinkan melakukan
konsolidasi sekaligus perjuangan demokrasi yakni bagaimana melakuklan proses pemberdayaan atau
penguatan terhadap peran rakyat yang selama ini terpinggirkan oleh dua kekuatan besar, yakni
Oligarki Negara dan Imperialisme Neo Liberal. Dengan kata lain agenda besarnya dalah radikalisasi
peran rakyat agar lebih berdaulat.
3.3 Radikalisasi Peran Rakyat
Salah satu yang menjadi problem besar dari demokratisasi di Indonesia adalah tidak
ketidakmampuan rakyat bersikap secara mandiri, rasional dan kritis dalam melihat permasalahan
bangsanya. Rakyat tidak memiliki kekuatan yang utuh dan hegemonik untuk melakukan perlawanan
menuju kemandirian dan kebebasan bersikap. Sebagian masyarakat kita masih memiliki nalar
pragmatisme yang cukup akut. Salah satu indikasinya adalah ketika menentukan hak-hak politiknya
dan pilihan politiknya kepada partai politik, rakyat tidak berangkat dari sebuah pemahaman yang utuh
tentang makna dan fungsi partai politik, visi partai politik beserta calegnya. Pilihan dan sikap politik
tidak berangkat dari kesadaran kritis. Sehingga kita sulit menemukan masyarakat yang secara sukarela
bergerak dalam aktivitas dukung mendukung kepentingan politik tertentu (Peserta Pemilu). Mereka
akan bergerak kalau dibayar, diberikan dukungan materi yang membuat hidup mereka senang dan
survive.
Dengan demikian, apapun yang dilakukan oleh gerakan Pro Demokrasi termasuk dalam halnya
GM akan tertolak oleh pragmatisme masyarakat, karena mereka tidak memerlukan gagasan-gagasan
yang berat dan bagi mereka utopis. Mereka berprinsip bagaimana saya bisa makan dan kenyang hari
ini. Sehingga tidak mengherankan, ketika kekuatan orde baru mencoba mengajak masyarakat
mengingat kembali kemakmuran semu yang dibangun oleh Suharto, masyarakat langsung tersadarkan
dan merasa rindu dengan kondisi ketika Suharto berkuasa.
Di sinilah mainstream penguatan, penyadaran dan pendidikan politik rakyat sebagai bagian dari
proses radikalisasi peran rakyat menjadi penting. Ada beberapa alasan mainstream ini menjadi fokus
Pertama, Kran demokratisasi yang mulai terbuka lebar pasca lengsernya Suharto, yang diiringi oleh
kebebasan partisipasi yang luar biasa, tidak diiringi oleh mental dan sikap yang demokratis.
Kebebasan berpolitik, tidak ditopang oleh rasionalitas, kekritisan dan kemandirian berpikir dan
bersikap. Sehingga Demokratisasi yang muncul adalah anarkisme, kekerasan, perpecahan tapi bukan
perubahan yang paradigmatik dan konstruktif.
Kenyataan tersebut diperparah oleh faktor kedua yakni semakin menguatnya penjajahan yang
dilakukan kapitalisme dengan Neo Liberal nya. Kapitaslime menawarkan dan meninabobokan
masyarakat dengan cara menggembor-gemborkan sikap hidup yang hedonis, serba mewah dan
menempatkan materi di atas segala-galanaya. Semua level masyarakat, berkompetisi untuk meraih
materi sebanyak-banyaknya dan bersaing untuk mendapatkan kehidupan ekonomi yang layak.
Kapitalisme menjadikan segala sesuatu harus dihargai dengan materi. Sehingga tidak mungkin
mangajak apalagi menggerakkan masyarakat yang sedang kelaparan untuk memikirkan format serta
bangunan demokratisasi di Indonesia. Masyarakat dengan kungkungan kapitalisme, tidak memiliki
ruang-ruang berpikir rasional dan kritis.
Faktor ketiga, Ketergantungan masyarakat kepada kaum kapital itu diperparah lagi oleh
pragmatisme negara dalam memberikan ruang pastisipasi secara sehat kepada masyarakat. Negara
gagal dalam menciptakan ruang-ruang berpikir rasional kepada masyarakat, akan tetapi justru
sebaliknya negara mempertontonkan sikap dan budaya kapitalistik dan feodalistik dalam mengurus
negara. Fenomena Korupsi dan Nepotisme menunjukkan betapa negara tidak pernah memiliki
keberpihakan terhadap rakyat. Birokrasi yang kaku dan korup yang diperagakan negara tidak memberi
ruang partisipasi yang sehat di tengah ruang demokrasi yang seharusnya mengalami keterbukaan.
Negara lewat kebijakan-kebijakan dan Undang-undangnya kebih banyak memihak kepada kaum
kapital daripada memberdayakan masyarakat.
Sementara itu sistem politik saat ini sama sekali tidak memberikan jalan alternatif untuk keluar
dari permasalahn-permasalahan di atas. Partai Politik sebagai salah satu instrumen dan infrastruktur
demokrasi, gagal melakukan pendidikan dan komunikasi politik yang sehat kepada masyarakat.
Bahkan ada beberapa partai politik yang sangat memamfaatkan, kebodohan, ketidakberdayaan serta
irrasonalitas masyarakat pemilihnya. Karena dengan demikian mereka begitu mudah mendapat
dukungan hanya dengan memberikan masyarakat kepuasan materi, tapi tidak menjalankan
kewajibannya yakni melakukan pendidikan politik
Dari ekplorasi di atas, maka Reposisi Gerakan Mahasiwa Pasca Pemilu 2004 adalah
dengan mengagendakan penguatan basis dan radikalisasi peran rakyat dalam mewujudkan
demokratisasi di Indonesia.
3.4 Faktor-faktor Penyebab Lunturnya Gerakan Mahasiswa
Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab melemahnya gerakan mahasiswa. Pertama,
lunturnya ideologi gerakan. Saat ini gerakan mahasiswa telah kehilangan ideologi sehingga
stigma mahasiswa yang terjun di berbagai organisasi kampus baik intra maupun eksra sudah
mengalami titik kejenuhan dan kebosanan. Hal itu mengakibatkan lunturnya rasa sensitivisme
serta responsbility aktivis mahasiswa terhadap perubahan sosial, dampaknya adalah gerakan
mahasiswa mengalami disorientasi .
Kedua, gerakan mahasiswa sudah tidak dianggap sebagai kekuatan besar dalam
mengawal perubahan. Hal tersebut bisa kita lihat dari berbagai gerakan mahasiswa lewat
berbagai aksi demonstrasi yang jarang menghasilkan perubahan yang signifikan. Suara
mahasiswa sebagai manifestasi suara rakyat sudah tidak mempan dalam melakukan kritik
serta kontrol terhadap kinerja pemerintah. Hal itulah yang pada akhirnya menjadikan gerakan
mahasiswa menjadi semakin tumpul.
Ketiga, sudah tidak ada lagi kebanggaan menjadi seorang aktivis. Gerakan mahasiswa
selalu identik dengan para aktivis kampus, namun saat ini menjadi seorang aktivis kampus
bukanlah menjadi pilihan utama mahasiswa karena dianggap sebagai batu sandungan dalam
meraih prestasi akademik. Oleh sebab itu tidak mengherankan jika saat ini jumlah aktivis
kampus semakin sedikit.
Keempat, adanya tindakan represif dari pemerintah. Sebagai langkah preventif untuk
menangkal setiap gerakan mahasiswa, saat ini pemerintah lebih memilih tindakan yang
represif. Tak jarang kekerasan fisik dilakukan aparat pemerintah untuk mencegah aksi dan
gerakan mahasiswa. Sehingga tidak mengherankan jika gerakan mahasiswa menjadi melemah
karena adanya rasa takut akan eksistensi dan keselamatan jiwa para aktivis.
Kelima, minimnya dukungan dari masyarakat. Gerakan mahasiswa yang sering berakhir
dengan kericuhan, serta seringnya mahasiswa melakukan pengrusakan terhadap berbagai
fasilitas umum saat melakukan aksi-aksi demonstrasi menjadikan citra mahasiswa menjadi
menurun di mata masyarakat. Hal tersebut mengakibatkan kepercayaan dan dukungan
masyarakat terhadap gerakan mahasiswa semakin memudar. Keenam, adanya politik
kepentingan mahasiswa. Saat ini orientasi mahasiswa dalam melakukan gerakan bukan lagi
murni berjuang demi kepentingan rakyat melainkan lebih dikarenakan adanya politik
kepentingan. Hal itulah yang menjadikan pola pikir mahasiswa menjadi pragmatis, dan hanya
memikirkan soal untung-rugi.
3.5 Mambangkitkan Peran Pergerakan Mahasiswa
A. Mengasah Kemampuan Reflektif
Dalam mengembangkan perannya, kaum muda Indonesia perlu mengasah kemampuan reflektif
dan kebiasaan bertindak efektif. Perubahan hanya dapat dilakukan karena adanya agenda refleksi
(reflection) dan aksi (action) secara sekaligus. Daya refleksi kita bangun berdasarkan bacaan baik
dalam arti fisik melalui buku, bacaan virtual melalui dukungan teknologi informasi maupun bacaan
kehidupan melalui pergaulan dan pengalaman di tengah masyarakat. Makin luas dan mendalam
sumber-sumber bacaan dan daya serap informasi yang kita terima, makin luas dan mendalam pula
daya refleksi yang berhasil kita asah. Karena itu, faktor pendidikan dan pembelajaran menjadi sangat
penting untuk ditekuni oleh setiap anak bangsa, terutama anak-anak muda masa kini.
B. Membangun Kebiasaan Bertindak Efektif
Di samping kemampuan reflektif, kaum muda Indonesia juga perlu melatih diri dengan kebiasaan
untuk bertindak, mempunyai agenda aksi, dan benar-benar bekerja dalam arti yang nyata. Kemajuan
bangsa kita tidak hanya tergantung kepada wacana, ‘public discourse’, tetapi juga agenda aksi yang
nyata. Jangan hanya bersikap “NATO”, “Never Action, Talking Only” seperti kebiasaan banyak kaum
intelektual dan politikus amatir negara miskin. Kaum muda masa kini perlu membiasakan diri untuk
lebih banyak bekerja dan bertindak secara efektif daripada hanya berwacana tanpa implementasi yang
nyata.
C. Melatih Kemampuan Kerja Teknis
Hal lain yang juga perlu dikembangkan menjadi kebiasaan di kalangan kaum muda kita ialah
kemampuan untuk bekerja teknis, detil atau rinci. “The devil is in the detail”, bukan semata-mata
dalam tataran konseptual yang bersifat umum dan sangat abstrak. Dalam suasana sistim demokrasi
yang membuka luas ruang kebebasan dewasa ini, gairah politik di kalangan kaum muda sangat
bergejolak. Namun, dalam wacana perpolitikan, biasanya berkembang luas kebiasaan untuk berpikir
dalam konsep-konsep yang sangat umum dan abstrak. Pidato-pidato, ceramah-ceramah, perdebatanperdebatan di ruang-ruang publik biasanya diisi oleh berbagai wacana yang sangat umum, abtrask dan
serba enak didengar dan indah dipandang. Akan tetapi, semua konsep-konsep yang bersifat umum dan
abstrak itu baru bermakna dalam arti yang sebenarnya, jika ia dioperasionalkan dalam bentuk-bentuk
kegiatan yang rinci.
Sebaiknya, kaum muda Indonesia, untuk berperan produktif di masa depan, hendaklah
melengkapi diri dengan kemampuan yang bersifat teknis dan mendetil agar dapat menjamin benarbenar terjadinya perbaikan dalam kehidupan bangsa dan negara kita ke depan. Bayangkan, jika semua
anak muda kita terjebak dalam politik dan hanya pandai berwacana, tetapi tidak mampu
merealisasikan ide-ide yang baik karena ketiadaan kemampuan teknis, ketrampilan manajerial untuk
merealisasikannya, sungguh tidak akan ada perbaikan dalam kehidupan kebangsaan kita ke depan.
BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Peran mahasiswa bagi bangsa dan negeri ini bukan hanya duduk di depan meja dan dengarkan
dosen berbicara, akan tetapi mahasiswa juga mempunyai berbagai perannya dalam melaksanakan
perubahan untuk bangsa Indonesia, peran tersebut adalah sebagai generasi penerus yang melanjutkan
dan menyampaikan nilai-nilai kebaikan pada suatu kaum, sebagai generasi pengganti yang
menggantikan kaum yang sudah rusak moral dan perilakunya, dan juga sebagai generasi pembaharu
yang memperbaiki dan memperbaharui kerusakan dan penyimpangan negatif yang ada pada suatu
kaum.
Peran ini senantiasa harus terus terjaga dan terpartri didalam dada mahasiswa Indonesia baik yang
ada didalam negeri maupun mahasiswa yang sedang belajar diluar negeri. Apabila peran ini bisa
dijadikan sebagai sebuah pegangan bagi seluruh mahasiswa Indonesia, “ruh perubahan” itu tetap akan
bisa terus bersemayam dalam diri seluruh mahasiswa Indonesia.
4.2 Saran
Pada bagian ini penyusun ingin mengajak yang dalam hal ini ditujukan kepada para generasi
muda pelajar dan mahasiswa, para Dosen dan Guru, seluruh elemen pemerintah baik yang ada di
daerah maupun yang ada di pusat serta seluruh lapisan masyarakat Indonesia secara luas agar tetap
bersatu demi mempertahankan keutuhan NKRI. Terkadang masalah sepele akan menjadi kompleks
jika tidak ada solidaritas di antara sesama kita. Penyusun berharap tak akan ada lagi perselisihan di
negeri kita tercinta sehingga cita-cita bangsa Indonesia akan tercapai.
Pepatah dalam bahasa Inggris mengatakan Student Today, Leader Tomorrow. Penyusun
meyakini bahwa kunci tercapainya cita-cita itu ada di tangan para generasi muda. Oleh karena itu,
tetaplah semangat dalam meraih apa yang telah menjadi tujuan hidup kita.
DAFTAR PUSTAKA
Zubaidi Ahmad. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan untuk Perguruan Tinggi. Yogyakarta:
Paradigma. Diktat Kuliah.
shttp://library.binus.ac.ids/eColls/eThesis/Bab2/2011-2-00013-PL%202.pdf
http://fauzulandim.blogspot.com/2012/11/membangkitkan-spirit-gerakan-mahasiswa.html
Download