RINGKASAN EKSEKUTIF

advertisement
RINGKASAN EKSEKUTIF
DIAN DAMAIRINI. 2006. Analisis Pelayanan Kesehatan Unit Swadana
Daerah (Studi Kasus di Puskesmas Kecamatan Kramat Jati, Kotamadya
Jakarta Timur). Di bawah bimbingan E. GUMBIRA SA’ID dan BUSTANUL
ARIFIN.
Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan yang
paling dasar dan terdepan di Indonesia. Keberadaan puskesmas sangat
diperlukan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Agar mutu
pelayanannya terjaga perlu mendapat perhatian khusus dari semua pihak.
Puskesmas memiliki berbagai macam fungsi, salah satu fungsi dan tugas
pokok puskesmas adalah memberikan pelayanan kesehatan dasar
kepada masyarakat di wilayah kerjanya yang paling banyak dimanfaatkan
oleh golongan masyarakat menengah ke bawah. Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta yang mempunyai tugas pokok sebagai regulator,
perlu membuat suatu kebijakan yang berkaitan dengan peningkatan mutu
pelayanan kesehatan di puskesmas sehingga derajat kesehatan
masyarakat yang optimal dapat tercapai.
Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 30 tahun 1991
tentang Unit Swadana dan Tata Cara Pengelolaan Keuangannya serta
Keputusan Menteri Dalam Negeri nomor 92 tahun 1993 tentang
Penetapan dan Penatausahaan serta Pertanggungjawaban Keuangan
Unit Swadana Daerah, memberi peluang bagi puskesmas untuk dapat
dikembangkan menjadi puskesmas unit swadana daerah. Kemudian
dengan keluarnya Surat Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan
Menteri Dalam Negeri nomor 93A/Menkes.SKB/II/1996 dan nomor
17/1996 mengenai pemberian kesempatan kepada Pemerintah Daerah
untuk mengatur pola tarif dan segi pemanfaatannya, Gubernur Propinsi
DKI Jakarta mengeluarkan Keputusan nomor 39 tahun 2000 tentang
Penetapan Uji Coba Unit Swadana Daerah. Salah satu puskesmas
swadana di Propinsi DKI Jakarta yang telah berupaya meningkatkan mutu
pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah kerjanya, serta
memperoleh sertifikat ISO 9001:2000 adalah Puskesmas Kecamatan
Kramat Jati, Kotamadya Jakarta Timur.
Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengidentifikasi dampak positif dan
negatif yang diperoleh puskesmas, masyarakat dan Dinas Kesehatan
Propinsi DKI Jakarta dengan diterapkannya konsep puskesmas swadana;
(2) Mengetahui tingkat kepuasan masyarakat dan pegawai puskesmas
dalam upaya meningkatkan
mutu
pelayanan
dan
manajemen
puskesmas dan; (3) Memberikan masukan bagi Dinas Kesehatan Propinsi
DKI Jakarta sebagai regulator, dalam menetapkan suatu kebijakan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi puskesmas di masa
yang akan datang. Didasari keterbatasan yang ada, penelitian ini hanya
mengkaji hal-hal berikut (1) Mutu pelayanan kesehatan puskesmas; (2)
Kepuasan pegawai puskesmas dan; (4) Kepuasan pelanggan puskesmas.
Penelitian ini menggunakan desain Descriptive Research dengan
pendekatan studi kasus dan survei. Pengumpulan data primer dilakukan
dengan cara wawancara menggunakan kuesioner terhadap 100 pasien
yang berkunjung ke Puskesmas Kecamatan Kramat Jati dengan metode
purposive and convenience random sampling dan terhadap 30 karyawan
yang telah bekerja di Puskesmas Kecamatan Kramat minimal lima tahun
dengan metode purposive sampling. Data sekunder diperoleh dari studi
pustaka, laporan penelitian, peraturan-peraturan, dan lain-lain.
Pelaksanaan penelitian pada bulan Pebruari sampai dengan April 2006.
Kerangka pemikiran konseptual dalam penelitian ini melakukan
pengukuran kepuasan responden pengguna jasa dan responden
karyawan puskesmas melalui lima dimensi kepuasan yang didasari teori
Parasuraman yaitu dimensi reliability, responsiveness, assurance,
empathy, tangibles. Terdapat 20 atribut kualitas pelayanan yang diteliti
yaitu (1) Prosedur penerimaan pasien; (2) Pelayanan pemeriksaan pasien;
(3) Pelayanan pengobatan; (4) Jadual pelayanan puskesmas; (5)
Prosedur pelayanan; (6) Cepat tanggap dokter dan paramedis; (7)
Kejelasan pemberian informasi; (8) Kecepatan memberi tindakan; (9)
Kemampuan diagnosa; (10) Keterampilan petugas; (11) Keramahan dan
kesopanan petugas; (12) Keamanan dan kepercayaan; (13) Perhatian
khusus petugas; (14) Keluhan pasien; (15) Keseriusan petugas; (16)
keadilan petugas; (17) Keadaan ruangan; (18) Penggunaan peralatan;
(19) Penataan ruangan dan; (20) Penampilan petugas. Data primer yang
diperoleh dilakukan analisa kualitatif dan analisa kuantitatif dengan
dilakukan analisis harapan dan kenyataan, analisis tingkat kepuasan,
analisis prioritas perbaikan dimensi, dan analisis prioritas perbaikan atribut.
Hasil penelitian menunjukkan dari dua puluh atribut yang
ditanyakan kepada responden pengguna jasa dan responden karyawan
puskesmas ternyata semua atribut menunjukkan nilai kesenjangan antara
harapan dan kenyataan menunjukkan nilai negatif yaitu lebih kecil dari 0
yang berarti kualitas pelayanan yang diberikan puskesmas belum
memenuhi harapan pengguna jasa. Khusus atribut nomor 1 menunjukkan
nilai kesenjangan -1,30 yang berarti pelayanan ini kurang baik, sedangkan
atribut-atribut lainnya dianggap sudah baik walaupun tidak memuaskan.
Analisis prioritas perbaikan kualitas jasa terhadap dimensi berdasarkan
tanggapan responden pengguna jasa menunjukkan bahwa dimensi
reliabilitas (84,28%) paling rendah berarti kinerja karyawan puskesmas
untuk dimensi ini perlu ditingkatkan. Hal ini sepadan dengan tanggapan
yang diberikan responden karyawan puskesmas terhadap dimensi ini yaitu
sebesar 84,12%. Sedangkan dimensi yang paling tinggi nilainya adalah
dimensi empati adalah 90,29% untuk responden pengguna jasa dan
93,21% untuk responden karyawan puskesmas. Selanjutnya pengujian
terakhir dilakukan analisis prioritas perbaikan atribut dengan
menggunakan diagram kartesius. Atribut yang harus menjadi prioritas
utama bagi puskesmas untuk ditingkatkan menempati kuadran A adalah
prosedur penerimaan pasien, pemeriksaan pasien, pemberian tindakan
saat pasien membutuhkan, sikap petugas, kelengkapan dan kebersihan
alat-alat. Sedangkan atribut kualitas jasa yang harus dipertahankan
puskesmas menempati kuadran B yang dianggap cukup memuaskan bagi
pengguna jasa adalah cepat tanggap petugas menyelesaikan keluhan,
pemberian informasi, menetapkan diagnosa penyakit, petugas terampil
bekerja, serius mengobati pasien, dan pelayanan tanpa memandang
status sosial.
Pihak manajemen Puskesmas Kecamatan Kramat dapat
mengkaitkan hasil penelitian ini dalam upaya meningkatkan kualitas jasa
pelayanan kesehatan di puskesmas. Hal-hal yang perlu dilakukan
puskesmas untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan adalah
sebagai berikut: perlu adanya penambahan tenaga, alur penerimaan
pasien perlu dievaluasi, adanya sanksi dan reward terhadap kinerja
petugas, perlu dilakukan pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan
petugas dan perlunya penyegaran atau perputaran staf sehingga tidak
terjadi kejenuhan, serta kinerja petugas agar lebih professional. Sarana
fisik yang tidak kalah penting untuk menunjang kualitas pelayanan
kesehatan seperti dibuatnya pojok informasi, penataan ruangan yang baik
sehingga pasien tidak menumpuk di tempat tertentu, serta kebersihan dan
kelengkapan alat-alat yang dipergunakan baik medis maupun non medis.
Upaya yang harus dilakukan pihak manajemen puskesmas agar
pelayanan kesehatan yang diberikan dapat memenuhi harapan pengguna
jasa tidak terlepas dari keseriusan pimpinan dan staf dalam melaksanakan
berbagai komitmen yang telah dibuat bersama yaitu sesuai dengan visi,
misi, dan moto Puskesmas Kecamatan Kramat Jati.
Kata Kunci
: Unit Swadana Daerah, Puskesmas Kecamatan Kramat Jati,
Mutu Pelayanan Kesehatan, Kepuasan Pengguna Jasa,
Analisis Harapan dan Kenyataan, Analisis Tingkat
Kepuasan, Analisis Prioritas Perbaikan Dimensi, Analisis
Prioritas Perbaikan Atribut.
Download