Download: Imunitas Pimpinan KPK

advertisement
IMUNITAS PIMPINAN KPK
Oleh:
Patty Regina
Rafli Fadilah Achmad
Valeryan Natasha
KOMPETISI DEBAT KONSTITUSI 2015
Universitas Indonesia
Depok
April 2015
1
LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS
Kami yang bertandatangan di bawah ini :
Nama :
Patty Regina
Nama :
Rafli Fadilah
NPM :
1106056075
NPM :
1206246313
Program Studi : Ilmu Hukum
Program Studi: Ilmu Hukum
Nama :
Valeryan Natasha
NPM :
1206251471
Program Studi: Ilmu Hukum
Menyatakan bahwa artikel imiah yang berjudul :
IMUNITAS PIMPINAN KPK
Benar-benar merupakan hasil karya pribadi dan seluruh sumber yang dikutip
maupun dirujuk telah kami nyatakan dengan benar. Demikian pernyataan ini kami
buat dengan sebenarnya, tanpa ada paksaan dari pihak manapun. Apabila di
kemudian hari terbukti terdapat pelanggaran di dalamnya, kami siap untuk
didiskualifikasi dari kompetisi ini sebagai bentuk tanggung jawab kami.
Depok, 12 Mei 2015
(Patty Regina)
(Rafli Fadilah Achmad)
(Valeryan Natasha)
2
DAFTAR ISI
I. PENDAHULUAN .............................................................................................. 4
II.PEMBAHASAN ................................................................................................ 5
II.1. Argumen Pro Imunitas Pimpinan KPK ................................................. 5
II.1.1. Melindungi Pimpinan KPK dari Ancaman ‘Kriminalisasi’ ................. 5
II.1.2. Pimpinan KPK Pantas Mendapatkan Perlindungan Hak Imunitas....... 7
II.1.3. Perbandingan Ketatanegaraan .............................................................. 8
II.2. Argumentasi Kontra Imunitas Pimpinan KPK ................................... 10
II.2.1. Hak Imunitas Bertentangan Dengan Prinsip Persamaan di Muka
Hukum ........................................................................................................... 10
II.2.2. Ketiadaan Urgensi Pemberian Imunitas Bagi Pimpinan KPK ........... 11
II.2.3. Hak Imunitas Rentan Untuk Disalahgunakan .................................... 12
III. PENUTUP ..................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………………. 17
3
I. PENDAHULUAN
Korupsi masih marak dan menjadi masalah yang krusial di Indonesia.
Berdasarkan Indeks Persepsi Korupsi (Corruption Perception Index / CPI) tahun
2011 yang dikeluarkan oleh Transparency International, Indonesia menempati skor
CPI sebesar 3,0, naik 0,2 dibanding tahun sebelumnya sebesar 2,8. Skor tersebut
diperoleh dari hasil survei yang dilakukan terhadap 183 negara di dunia. dalam
Indeks Persepsi Korupsi tersebut, Indonesia menempati peringkat ke-100.1
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dibentuk untuk meningkatkan
pemberantasan tindak pidana korupsi perlu secara profesional, intensif, dan
berkesinambungan.2 Pembentukan ini didasari pada kekhawatiran bahwa lembaga
pemerintah yang menangani perkara tindak pidana korupsi sebelum berdirinya
KPK belum berfungsi secara efektif dan efisien dalam memberantas tindak pidana
korupsi.3 Untuk menjalankan fungsi KPK sebagaimana yang diharapkan pada awal
pembentukannya, tentunya para pimpinannya sebagai ujung tombak harus
dipastikan berada pada keadaan yang kondusif untuk melaksanakan peranannya.
Isu yang sedang menjadi bahan kontroversi belakangan ini adalah terkait
pemberian imunitas bagi para pimpinan KPK. Ide ini awalnya dikemukakan oleh
Mantan Wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia, Denny Indrayana, yang
menganjurkan Presiden untuk mengeluarkan Peraturan Pengganti Perundangundangan (Perppu) yang berisi pemberian imunitas bagi para pimpinan KPK. Latar
belakang dari ide yang diwacanakan oleh Denny adalah adanya trend
‘kriminalisasi’ pimpinan KPK, yang bagi beberapa kalangan dilihat sebagai usaha
untuk melumpuhkan kinerja KPK sebagai suatu institusi. Sebut saja dua dari
pimpinan KPK yang dalam jangka waktu kurang dari setengah tahun ini terpaksa
mundur sementara dari jabatannya akibat tersandung dugaan kasus: Bambang
Widjojanto, 4 dan Abraham Samad. 5 Selain itu, Novel Baswedan yang juga
merupakan penyidik utama KPK juga tertimpa situasi yang sama.6
Penahanan beberapa Pimpinan KPK dalam jangka waktu yang singkat dan
berdekatan, serta momen yang tepat sejak diawalinya ketegangan hubungan antara
KPK dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri) inilah yang memicu dugaan
‘kriminalisasi.’ Kejadian beruntun yang terjadi pada para pimpinan KPK ini diduga
4
sebagai bentuk balas dendam pihak Polri terhadap KPK atas penetapan tersangka
yang sebelumnya dilakukan oleh KPK terhadap petinggi Polri.7
Oleh sebab itulah, tragedi ditahannya beberapa Pimpinan KPK ini
dikhawatirkan akan membawakan dampak regresif pada kinerja KPK, dimana
fokus KPK dalam memberantas korupsi tidak lagi maksimal akibat para
pimpinannya terjerat permasalahan hukum. Namun betulkah hak imunitas bagi
Pimpinan KPK merupakan jalan keluarnya? Artikel ini akan membahas legalitas
dan dampak yang akan ditimbulkan dari pemberian hak imunitas bagi Pimpinan
KPK, baik dari segi pro maupun kontra.
II.PEMBAHASAN
Hak imunitas sendiri bukanlah hal yang baru dikenal di Indonesia. Berbagai
individu dalam kapasitas posisi tertentu telah dilindungi dengan hak imunitas dalam
pekerjaannya, contohnya: Anggota Legislatif, Ombudsman, dan advokat. 8 Hak
imunitas sendiri, berdasarkan definisi yang diangkat dari Undang-Undang No. 17
Tahun 2014 tentang Majelis Permusyawaratan Rakyat, Dewan Perwakilan Rakyat,
Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (UU MD 3),
adalah hak kekebalan hukum untuk tidak dapat dituntut di muka pengadilan karena
pernyataan dan pendapat yang disampaikan dalam bertugas. Untuk hak imunitas
pimpinan KPK itu sendiri, kekebalan hukum akan diperluas dalam bentuk tindakan
yang dilakukan dalam bertugas pula, karena berbeda dengan legislator yang
tugasnya adalah berpendapat, pimpinan KPK memiliki tugas yang berbentuk
pengikutsertaan tindakan nyata. Tentunya hak kekebalan ini memiliki
pengecualian, yaitu apabila ia tertangkap tangan melakukan suatu tindakan pidana,
serta juga mengecualikan tindak pidana yang sifatnya personal di luar kepentingan
tugas, sebagaimana yang dikemukakan oleh Todung Mulya Lubis.9
II.1. Argumen Pro Imunitas Pimpinan KPK
II.1.1. Melindungi Pimpinan KPK dari Ancaman ‘Kriminalisasi’
Berdasarkan Pasal 21 Ayat (2) Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang
KPK, Pimpinan KPK terdiri dari 5 (lima) Anggota KPK. Ayat (6) dari pasal yang
sama menjelaskan bahwa para Pimpinan KPK bekerja secara kolektif, yang
diartikan sebagai “setiap pengambilan keputusan harus disetujui dan diputuskan
5
secara bersama-sama oleh Pimpinan KPK.” 10 Metode kerja secara kolektif ini
menekankan pentingnya peranan tiap-tiap Pimpinan KPK dalam menentukan ke
arah mana haluan KPK sebagai institusi akan digerakkan.11 Sehingga, memastikan
kondusifitas kondisi kerja tiap-tiap Pimpinan KPK dalam kapasitas kerjanya
menjadi sangat penting. Hal ini dikarenakan, apabila ada kondisi yang merugikan
salah satu Pimpinan KPK saja akan berdampak pada kelumpuhan KPK sebagai
suatu institusi, karena kehilangan salah satu Pimpinan KPK sudah merupakan suatu
hambatan kerja kolektif yang harus dilakukan KPK.
Tidak dapat dipungkiri bahwa KPK sebagai lembaga yang bertugas untuk
menuntaskan korupsi di Indonesia merupakan lembaga yang akan banyak memiliki
‘musuh.’ Musuh disini terutama berasal dari kalangan orang-orang yang memiliki
kekuatan untuk melakukan tindak pidana korupsi tentunya, yang justru pada
umumnya berasal dari kalangan penguasa. Keadaan ini menjadikan KPK sebagai
sasaran empuk serangan balas dendam jika ada individu dari lembaga tertentu yang
merasa kedudukannya terancam oleh kewenangan KPK untuk mengusut kasus
korupsi
yang
mungkin
melibatkan
dirinya.
Kemungkinan
inilah
yang
meningkatkan resiko kriminalisasi bagi KPK, khususnya para Pimpinan KPK
sebagai ujung tombak institusi ini.
Oleh sebab itu, sistem kerja kolektif yang ditujukan untuk menjaga
keseimbangan dalam kerja KPK itu sendiri justru dapat menjadi titik lemah KPK
sebagai suatu institusi, karena seberapa rentannya individu Pimpinan KPK untuk
diserang dengan tuduhan-tuduhan kriminalisasi, sehingga kemudian terpaksa
mengundurkan diri secara sementara sebagaimana yang diatur dalam UU KPK.12
Meskipun untuk kepentingan kelangsungan kerja KPK nantinya akan dipilih
Pelaksana Tugas (Plt) atau calon pengganti untuk mengisi kekosongan jabatan
sementara tersebut,13 namun tetap tidak dapat dipungkiri hal ini akan menghambat
kinerja KPK. Sebabnya adalah KPK yang telah bekerja secara sistematis dan
kolektif telah memiliki pola kerja dan pengetahuan kerja yang sangat spesifik,
terlebih lagi dalam lingkaran 5 (lima) orang pemimpinnya. Sehingga, penggantian
posisi oleh seorang Plt tidak dapat secara langsung mengembalikan performa KPK
seperti sebelum pimpinannya diharuskan mengundurkan diri, karena fungsi tiap
6
individu pimpinan KPK tidak semudah itu dipindahtangankan / diambil alih
fungsinya.
Situasi yang rentan dan penuh resiko ini pada akhirnya memenuhi ketentuan
dasar hukum pembuatan Perppu, sebagaimana yang dituliskan dalam Pasal 22 Ayat
(1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia (UUD NRI 1945), yaitu:
“Dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, Presiden berhak
menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang.”
Menurut Prof. Jimly Asshidiqie, ketentuan tersebut memberikan
kewenangan kepada Presiden untuk secara subjektif menilai keadaan negara atau
hal ihwal yang terkait dengan negara yang menyebabkan suatu undang-undang
tidak dapat dibentuk segera, sedangkan kebutuhan akan pengaturan materiil
mengenai hal yang perlu diatur sudah sangat mendesak sehingga Pasal 22 UUD
1945 memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menetapkan Perppu.14
Kondisi yang dianggap sebagai ‘hal ihwal kegentingan yang memaksa’ ini
dapat diartikan sebagai kegentingan yang benar terjadi atau akan terjadi. Pada
situasi ancaman kriminalisasi terhadap Pimpinan KPK yang dapat melumpuhkan
KPK sebagai suatu institusi, dapat dilihat sebagai kegentingan yang memaksa yang
akan terjadi. Oleh sebab itu, dapat memenuhi kondisi yang mendasari pembentukan
Perppu imunitas ini oleh Presiden, agar pelumpuhan KPK sebagai institusi (yang
merupakan suatu kegentingan) dapat dicegah.
II.1.2. Pimpinan KPK Pantas Mendapatkan Perlindungan Hak Imunitas
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, beberapa individu dalam
kapasitas pekerjaannya telah diberikan hak imunitas oleh Negara berdasarkan
kedudukan atau jabatannya (ratione personae). 15 Di antaranya adalah: Anggota
Legislatif, Ombudsman dan advokat. Selain itu, perwakilan diplomatik dan Kepala
Negara juga diberikan hak imunitas, namun hal ini berbeda secara prinsip
dibandingkan imunitas ratione personae dalam topik ini. Dasar dari pemberian
imunitas bagi tiap-tiap individu tersebut dalam kapasitas pekerjaannya adalah untuk
memudahkannya di dalam melaksanakan tugas pekerjaannya tanpa hambatan yang
dapat mengancam keberlangsungan kerja mereka. Sebagai contoh, hak imunitas
yang dimiliki oleh Anggota Legislatif adalah imunitas atas pernyataan dan pendapat
yang disampaikannya di dalam gedung parlemen, hal ini ditujukan agar Anggota
7
Legislatif dapat menyampaikan pendapatnya dengan sebebas-bebasnya untuk guna
legislative drafting atau penyampaian aspirasi masyarakat tanpa adanya ancaman
pemanfaatan pernyataan tersebut untuk menginkriminasinya.16 Jika ada ancaman
inkriminasi Anggota Legislatif berdasarkan pada pernyataannya selama bertugas di
parlemen, maka dikhawatirkan Anggota Legislatif tidak dapat secara bebas
mengemukakan pendapatnya dan tidak maksimal dalam menjalankan tugasnya
sebagai representasi rakyat. Hal serupa jugalah yang mendasari imunitas
Ombudsman, advokat, dan perwakilan konsuler untuk memenuhi tuntutan
pekerjaannya dengan semaksimal mungkin.
Oleh sebab itu, Pimpinan KPK sudah harusnya diberikan akses terhadap hak
imunitas yang serupa dalam menjalankan tugasnya. Sebab jika Anggota Legislatif
dan Ombudsman yang ancaman pekerjaannya tidak seberapa besarnya saja
diberikan hak ini, mengapa Pimpinan KPK tidak? Padahal pekerjaan yang diemban
Pimpinan KPK jauh lebih rumit dan beresiko dibandingkan Anggota Legislatif dan
Ombudsman. Terutama, dikarenakan karakteristik tugas KPK yang telah
dipaparkan pada bagian sebelumnya, yaitu terkait mengungkapkan kebobrokan
orang-orang yang memegang kekuasaan di Negara ini. Sehingga, bahaya
kriminalisasi bahkan jauh lebih nyata dalam konteks kerentanan Pimpinan KPK.
Hal ini juga diamini oleh Budi Santoso, anggota Ombudsman Republik Indonesia,
dalam pernyataannya kepada Media Republika tanggal 25 Januari 2015, yaitu
terkait ketiadaan pasal imunitas dalam UU KPK yang menyebabkan KPK rawan
dikriminalisasi.
17
Budi juga mencontohkan kejadian kriminalisasi yang
sebelumnya telah terjadi pada Komisioner KPK, Bibit Slamet Riyanto dan Chandra
Hamzah. Hal ini mempertegas bahwa resiko kriminalisasi telah terjadi bahkan dari
bertahun-tahun yang lalu, dan ancaman ini selalu ada dari tahun ke tahun sampai
sekarang tanpa adanya penyelesaian. Jika hal ini terus berlanjut, tentunya akan
memundurkan kinerja KPK yang semakin lama bisa semakin lemah akibat adanya
resiko kriminalisasi.
II.1.3. Perbandingan Ketatanegaraan
Pada November 2012, di Jakarta telah berkumpul lembaga-lembaga antikorupsi sedunia, yang kemudian menghasilkan Jakarta Statement on Principles for
Anti-Corruption Agencies (Jakarta Principles). Salah satu isinya mengatur tentang
8
pentingnya hak imunitas bagi pemimpin lembaga independen anti-korupsi di setiap
negara yang sedang memerangi korupsi. Pemberian hak imunitas ini ditujukan
untuk melanjutkan dan meningkatkan semua upaya yang dapat dilakukan untuk
memperkuat dan memastikan diterapkannya independensi dan perlindungan pada
KPK.
Denny Indrayana dalam pernyataan yang mengacu pada partisipasi
Indonesia dalam Jakarta Principles, memberikan contoh-contoh perbandingan
ketatanegaraan dengan negara lain yang telah dengan suksesnya memerangi
korupsi, salah satunya dengan cara memberikan imunitas bagi pimpinan lembaga
independen anti-korupsi di masing-masing negara tersebut. Beberapa negara di
antaranya adalah Malaysia, Nigeria, Zambia, Swiss, dan Australia.
Malaysia dengan tegas mengatur imunitas ini dalam Pasal 72 Malaysia
Anti-Corruption Commission Act pada tahun 2009. Imunitas yang diberikan
merupakan perlindungan dari segala gugatan dan tuntutan terhadap perbuatan atau
pernyataan yang dilakukan dengan itikad baik terkait pelaksanaan undang-undang
ini.18
Selain itu, negara-negara lain di Afrika rata-rata menerapkan hak imunitas
ini, bagi Pimpinan lembaga anti-korupsi mereka. Sebutlah Nigeria dan Zambia.
Tujuan utamanya adalah karena sebagai negara yang sedang berkembang, masih
banyak penegak hukum yang korup dan jamak dalam melakukan serangan balik
melalui kriminalisasi, jika kebobrokan mereka sedang terancam untuk diungkapkan
oleh lembaga anti-korupsi. Di Zambia, hal ini diatur dalam Anti-Corruption
Commission Act pada Pasal 91. Perlindungan kepada komisioner dari permintaan
/ perintah memberikan informasi atau bukti-bukti terkait pengetahuannya sebagai
orang yang menjalankan fungsi seperti yang tercantum dalam undang-undang
tersebut.19
Swiss memunyai The Prevention of Corruption Act No. 3 Tahun 2006,
dimana imunitas yang diberikan perlindungan dari gugatan atau tuntutan pidana
atau perdata terhadap perbuatan yang dilakukan dengan itikad baik dalam rangka
melaksanakan fungsi yang tercantum dalam undang-undang tersebut.20
Sama halnya dengan di Australia. Dimana lembaga anti-korupsinya
bernama Independent Broad-based Anti-corruption Commission Victoria, misalnya
9
yang berkedudukan di tingkat Negara Bagian Victoria (IBAC Victoria). Hal terkait
imunitas diatur di dalam Pasal 193 Independent Broad-based Anti-corruption
Commission Act No. 66 Tahun 2011. Imunitas yang diberikan adalah bahwa
pegawai IBAC tidak bertanggung jawab secara individu terhadap tindakan yang
dilakukan dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi dan kewenangan IBAC sesuai
dengan undang-undang tersebut.21
II.2. Argumentasi Kontra Imunitas Pimpinan KPK
II.2.1. Hak Imunitas Bertentangan Dengan Prinsip Persamaan di Muka
Hukum
Indonesia adalah Negara Hukum, sebagaimana tertuang di dalam Pasal 1
Ayat (3) UUD NRI 1945. Konsekuensi sebagai Negara Hukum adalah
diterapkannya asas equality before the law, atau persamaan di hadapan hukum bagi
seluruh warga negaranya. Asas inilah yang menyetarakan seluruh warga negara
Indonesia, baik penguasa maupun rakyat biasa. Bila tidak ada persamaan hukum,
maka orang yang mempunyai kekuasaan akan merasa kebal hukum.
Prinsip ini kemudian dipertegas kembali dalam Pasal 27 Ayat (1) UUD NRI
1945 yang berbunyi :
“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum dan
pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak
ada kecualinya.”
Serta, Pasal 28D UUD NRI 1945, yang berbunyi :
“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan
kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.”
Menurut Prof. Mardjono Reksodiputro, asas persamaan di hadapan hukum
mengandung arti bahwa “semua warga harus mendapat perlindungan yang sama
dalam hukum – tidak boleh ada diskriminasi dalam perlindungan hukum ini.
Menurut Beliau pula, asas ini bertitiktumpu pada kata kunci ‘perlindungan’ dan
‘perlakuan’ dalam hukum. Persamaan ‘perlindungan’ dapat ditafsirkan sebagai
perintah kepada Negara / Pemerintah untuk memberi perlindungan hukum yang
sama adilnya (fairness) kepada warganya. Dalam sebuah Negara dengan
masyarakat majemuk atau bersifat multi-kultural seperti Indonesia, ini mengandung
makna perlindungan terhadap kelompok minoritas (terhadap kemungkinan
10
ketidakadilan dari kelompok mayoritas). Sedangkan, persamaan ‘perlakuan’ dapat
ditafsirkan sebagai perintah kepada Negara / Pemerintah untuk tidak membedakan
dalam perlakuan hukum antara warganya. Dalam masyarakat yang terstruktur ke
dalam ‘kelas-kelas,’ maka ini mengandung makna jangan memberi perlakuan
istimewa kepada anggota kelas tertentu. Khususnya dalam artian ‘kelas pejabat
Negara’ dan / atau ‘kelas orang kaya’ yang meminta perlakuan khusus dan istimewa
dalam proses peradilan. Maka, dalam asas ini, diskriminasi perlakuan dalam bentuk
tersebut dilarang.22
Hak imunitas yang akan diberikan pada Pimpinan KPK jelas-jelas akan
melanggar asas persamaan di hadapan hukum, karena memberikan kekebalan
terhadap hukum bagi kelas tertentu. Meskipun hal ini dikondisikan hanya dalam
saat bertugas saja, tetap saja sifatnya membedakan perlakuan dalam kompetensi
seseorang berdasarkan jabatan yang dipegangnya.
II.2.2. Ketiadaan Urgensi Pemberian Imunitas Bagi Pimpinan KPK
Selain bertentangan dengan konstitusi, permohonan hak imunitas bagi
Pimpinan KPK ini tidak didasari oleh urgensi yang jelas. Kekhawatiran
kriminalisasi Pimpinan KPK merupakan tuduhan kosong yang belum dapat
dibuktikan secara jelas kebenarannya. Sejauh ini, pemberitaan terkait kriminalisasi
hanya bertitikberat pada sentimen belaka dan tidak didukung bukti yang jelas.
Di sisi lain, pemberian hak imunitas bagi Pimpinan KPK akan menggeser
orientasi tuntutan perilaku seorang pejabat publik. Menurut Prof. Mardjono
Reksodiputro, pejabat publik seharusnya merupakan seseorang yang menjaga
perilakunya dan tidak melakukan kesalahan ‘must do no wrong.’ Hak kekebalan
dari hukum bagi pejabat publik justru akan menimbulkan kesan ‘can do no wrong.’
Sehingga, ini akan mengaburkan tuntutan atas perilaku seorang pejabat publik yang
seharusnya tidak boleh berbuat salah ‘must do no wrong,’ menjadi tidak dapat
berbuat salah ‘can do no wrong.’23 Pergeseran pandangan ini tentunya justru akan
berdampak buruk bagi kinerja pejabat publik, yang dalam konteks ini adalah para
Pimpinan KPK.
Terlebih lagi, Pimpinan KPK merupakan orang-orang yang telah terpilih
melalui serangkaian seleksi yang ketat untuk memastikan orang-orang yang akan
menjabat adalah betul-betul bersih dan sangat kecil kemungkinan melakukan tindak
11
pidana. 24 Ini semakin memperkuat tuntutan ‘must do no wrong’ yang telah
dijabarkan dalam paragraf sebelumnya. Sehingga, seharusnya tidak dibutuhkan hak
imunitas bagi orang-orang yang berkedudukan sebagai Pimpinan KPK. Apabila
kemudian orang yang menjabat Pimpinan KPK melakukan tindak pidana, maka
seharusnya bukan dikebalkan melalui hak imunitas, tetapi diusut hingga tuntas,
serta jadi refleksi ke depannya dalam proses fit and proper test Pimpinan KPK di
masa depan.
Selain tidak ada urgensinya, pemberian hak imunitas bagi Pimpinan KPK
ini gagal menjawab kekhawatiran atas tuduhan ‘kriminalisasi’ terhadap Pimpinan
KPK. Karena, pada akhirnya imunitas yang diberikan hanya dalam cakupan
kapasitas orang terkait dalam jabatannya, serta pekerjaannya terkait penyidikan
KPK. Sedangkan, jika ditelaah dari kasus-kasus yang menimpa Bambang
Widjojanto, Abraham Samad dan Novel Baswedan, justru hal-hal yang menjadi
dasar pemidanaan adalah hal-hal yang mereka lakukan di luar jabatannya.
Sehingga, tidak menutup kemungkinan bagi Para Pimpinan KPK untuk terjerat
permasalahan hukum ke depannya di luar kapasitas jabatannya. Jadi dapat
disimpulkan bahwa selain tidak ada urgensinya, pemberian imunitas bagi Pimpinan
KPK ini bukan merupakan jawaban yang tepat atas permasalahan yang ada.
II.2.3. Hak Imunitas Rentan Untuk Disalahgunakan
Dalam penjabaran sebelumnya telah dijelaskan bahwa hak imunitas akan
diberlakukan secara limitatif dalam kapasitas seseorang ketika menjabat. Pun
dibuat imunitas dalam cakupan yg lebih luas, hal ini justru menyebabkan hak
imunitas tersebut rentan disalahgunakan. Kekhawatiran ini juga dikemukakan oleh
pakar hukum tata negara, Margarito Kamis yang menyatakan bahwa baginya
pemberian hak imunitas ini justru membahayakan, karena pemberian hak imunitas
sama saja membuka celah bagi seseorang untuk bertindak semena-mena.25
Kesemena-menaan yang dapat dilakukan oleh Pimpinan KPK sebagaimana
yang dimaksud di atas misalnya ketika KPK berkali-kali mangkir dalam panggilan
rapat oleh Komisi III DPR dan Tim Pengawas Bank Century. 26 Selain itu, terkait
permasalahan hukum yang menimpanya, Abraham Samad juga beberapa kali
mangkir atas panggilan Komisi III DPR atas kasus pemalsuan dokumen dan
kepolisian.27 Mangkir atas panggilan pemeriksaan merupakan salah satu tindakan
12
semena-mena yang dilakukan oleh Pimpinan KPK yang dapat memperlambat
proses hukum.
Di luar daripada kasus di atas, Abraham Samad juga tersandung kasus
penyalahgunaan wewenang selama masa Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014
lalu, saat dirinya terbukti melakukan hubungan langsung dengan petinggi partai tim
sukses dari (sebelumnya calon) Presiden Joko Widodo. 28 Hal ini dituduhkan
sebagai pemenuhan unsur dalam Pasal 36 UU KPK, yang dapat dipidanakan
berdasarkan Pasal 65 KPK.
Jika sebelum mendapatkan imunitas saja hal-hal semacam itu sudah dapat
dilakukan oleh Pimpinan KPK, maka dikhawatirkan setelah mendapatkan hak
imunitas, maka Pimpinan KPK akan semakin tidak bekerjasama dengan penegak
hukum lainnya terkait permasalahan hukum yang ke depannya harus diusut.
Sebabnya adalah jika telah diberikan hak imunitas, maka hak panggil paksa akan
otomatis hilang.
Jika dibandingkan dengan penegak hukum lainnya, misalnya Jaksa dan
Hakim. Bahkan, jika Jaksa atau Hakim melakukan pelanggaran hukum selama
mereka bertugas, tetap saja Jaksa atau Hakim tersebut dapat diproses secara hukum
dan tidak mendapatkan kekebalan. 29 Presiden saja tidak memiliki imunitas atas
hukum, dan jika melanggar hukum dapat diberikan sanksi hukum. 30 Hal ini
membuktikan bahwa seluruh warga negara memang harus berkedudukan sama di
hadapan hukum, dan kekebalan terhadap hukum tidak ada hubungannya dengan
efisiensi kerja selama menjabat dalam pekerjaan tertentu.
MEKANISME SOLUSI
1. Pemberian hak imunitas bagi Pimpinan KPK akan dituangkan dalam bentuk
Perppu yang dikeluarkan oleh Presiden.
2. Imunitas yang akan diberikan bagi Pimpinan KPK hanya terkait tindakan dan
pernyataan yang dilakukan dan dikemukakannya dalam kapasitas jabatannya
sebagai Pimpinan KPK. Dengan pengecualian tindak pidana yang bersifat
personal / pribadi, serta apabila tertangkap tangan.
3. Revisi terhadap Pasal 65 UU KPK terkait ketentuan pidana bagi Anggota KPK.
13
III. PENUTUP
Dapat disimpulkan bahwa isu mengenai pemberian imunitas bagi Pimpinan
KPK muncul akibat kekhawatiran tindakan ‘kriminalisasi’ yang mengancam
Pimpinan KPK. Kekhawatiran ini terjadi akibat kejadian belakangan ini dimana
beberapa pimpinan dan penyidik utama KPK ditahan akibat tersandung
permasalahan hukum.
Pandangan pro terhadap isu ini didasari oleh keyakinan bahwa sangat
penting melindungi Pimpinan KPK dari ancaman ‘kriminalisasi’ sebab KPK
bekerja secara kolektif kolegial, sehingga penahanan terhadap satu atau lebih
pimpinannya akan berakibat buruk pada kinerja KPK sebagai institusi. Selain itu,
jika dibandingkan dengan individu lain yang mendapatkan imunitas secara ratione
personae (anggota DPR dan Ombudsman), kinerja KPK tidak kalah vitalnya bagi
Negara dan bahkan lebih beresiko. Jika dibandingkan dengan kondisi tata negara di
luar Indonesia, juga sudah banyak yang memberikan hak imunitas bagi anggota
komisi anti-korupsinya, seperti Australia, Malaysia, Zambia, Swiss, dan lain-lain.
Pandangan kontra terhadap isu ini melihat bahwa pemberian hak imunitas
bagi Pimpinan KPK justru melanggar konstitusi Negara, khususnya pada asas
persamaan di hadapan hukum. Di sisi lain, urgensi pemberian imunitas ini juga
tidak jelas dan hanya didasari sentimen belaka, bahkan dapat mengaburkan
pandangan bahwa pejabat publik seharusnya tidak boleh berbuat salah (‘must do no
wrong’) dan bukan tidak dapat berbuat salah (‘can do no wrong’). Terlebih lagi,
pemberian hak imunitas ini bahkan dapat disalahgunakan oleh individu terkait
untuk mangkir dari pengusutan permasalahan hukum.
1
Dian Cahyaningrum, Kewenangan KPK versus Polri dalam Penyidikan Dugaan Korupsi
Pengadaan Simulator Pembuatan Surat Izin Mengemudi di Korlantas Polri, Info Singkat Hukum
DPR RI Vol. IV, No. 15/I/P3DI/Agustus/2012, h. 1
2
Indonesia, Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, UU No. 30 Tahun
2002, LN No. 137 Tahun 2002, TLN No. 4250, Konsiderans Poin (a)
3
Ibid, Konsiderans Poin (b)
4
Bilal Ramadhan, Bambang Widjojanto Ditangkap Sebagai Tersangka Kasus Kesaksian
Palsu, http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/01/23/nim3bs-bambang-widjojantoditangkap-sebagai-tersangka-kasus-kesaksian-palsu, diakses pada 28 Mei 2015
5
Muhammad Nur Abdurrahman, Abraham Samad Ditahan Polda Sulselbar,
http://news.detik.com/read/2015/04/28/202254/2900794/10/abraham-samad-ditahan-poldasulselbar, diakses pada 28 Mei 2015
14
6
Anton
Setri,
Novel
Baswedan
Ditangkap
Bareskrim,
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/05/01/063662486/Novel-Baswedan-DitangkapBareskrim, diakses pada 28 Mei 2015
7
Tika Primandari, Polisi Serang Balik KPK Picu Cicak Vs Buaya Bab 2,
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/21/063636459/polisi-serang-balik-kpk-picu-cicak-vsbuaya-bab-2, diakses pada 28 Mei 2015
8
Akhmad Aulawi, Perspektif Pelaksanaan Hak Imunitas Anggota Parlemen dan
Pelaksanaanya
di
Beberapa
Negara,
Rechtsvinding
Online,
http://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/PERSPEKTIF%20PELAKSANAAN%20HAK%20I
MUNITAS%20ANGGOTA%20PARLEMEN%20DAN%20PELAKSANAANNYA%20DI%20B
EBERAPA%20NEGARA.pdf, diakses pada 29 Mei 2015
9
Rini
Friastuti,
Pimpinan
KPK
Perlu
Diberikan
Hak
Imunitas,
http://news.detik.com/read/2015/01/27/050014/2814702/10/pimpinan-kpk-perlu-diberikan-hakimunitas, diakses pada 29 Mei 2015
10
Indonesia, Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, UU No. 30 Tahun
2002, LN No. 137 Tahun 2002, TLN No. 4250, Penjelasan Pasal 21 Ayat (6)
11
Tb. A. Adhi R. Faiz, Kolektif Kolegial Pimpinan KPK Dalam Pelaksanaan Kewenangan,
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt54e2a68c08e64/kolektif-kolegial-pimpinan-kpkdalam-pelaksanaan-kewenangan-broleh--tb-a-adhi-r-faiz--sh--mh, diakses pada 30 Mei 2015
12
Indonesia, Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, UU No. 30 Tahun
2002, LN No. 137 Tahun 2002, TLN No. 4250, Pasal 32 Ayat (2)
13
Ibid, Pasal 33
14
Ibnu Sina Chandranegara, Pengujian Perppu Terkait Sengketa Kewenangan
Konstitusional Antar-Lembaga Negara: Kajian Atas Putusan MK No. 138/PUU-VII/2009, Jurnal
Yudisial, Vol. 5 No. 1, April 2012.
15
Yudha Bhakti Ardhiwisastra, Imunitas Kedaulatan Negara Di Forum Pengadilan Asing,
Alumni, Jakarta, 1999, h. 185
16
Bagir Manan, DPR, DPD, dan MPR Dalam UUD 1945 Baru, FH UII Press, Yogyakarta,
2003, h. 41
17
Indah Wulandari, Ombusdman RI: tak Ada Hak Imunitas, Komisioner KPK Rawan
Dikriminalisasi, http://ombudsman.go.id/index.php/beritaartikel/berita/1563-ombusdman-ri-takada-hak-impunitas-komisioner-kpk-rawan-dikriminalisasi-.html, diakses pada 30 Mei 2015
18
Anis Yusal Yusoff, et al. Combating Corruption: Understanding Anti- Corruption
Initiatives in Malaysia. Institute for Democracy and Economic Affairs (IDEAS), Kuala Lumpur,
2012, h. 33
19
Marie Chêne, Zambia: Overview of Corruption and Anti-Corruption, CMI, Bergen,
2014, h. 7
20
International Council on Human Rights Policy. Integrating Human Rights in the AntiCorruption Agenda: Challenges, Possibilities and Opportunities, Transparency International,
Jenewa, 2010, h. 53
21
Carly Sheen. Anti-Corruption Agencies: Impact on The Privileges and Immunities of
Parliament, Australasian Parliamentary Review Autumn Vol. 27, Victoria, 2012, h. 19
22
Prof. Mardjono Reksodiputro, sebagaimana disampaikan dalam Dialog Hukum Komisi
Hukum Nasional RI Bekerjasama dengan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Perubahan UU MD3,
dan Kantor Berita Radio (KBR) pada 3 September 2014
23
Ibid.
24
Indonesia, Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi, UU No. 30 Tahun
2002, LN No. 137 Tahun 2002, TLN No. 4250, Pasal 30-31
25
Gunawan Wibisono, Hak Imunitas Buka Celah Bagi KPK Berbuat Semena-Mena,
http://news.okezone.com/read/2015/01/26/337/1097030/hak-imunitas-buka-celah-bagi-kpkberbuat-semena-mena, diakses pada 2 Juni 2015
26
Bagus Santosa, 3 Kali Mangkir Bahas Century, KPK Pilih Pembekalan Caleg,
http://news.okezone.com/read/2013/07/03/339/831253/3-kali-mangkir-bahas-century-kpk-pilihpembekalan-caleg, diakses pada 2 Juni 2015
27
Budi Sam Law Malau, Berkali-kali Abraham Samad Mangkir Panggilan DPR,
http://wartakota.tribunnews.com/2015/02/18/berkali-kali-abraham-samad-mangkir-panggilan-dpr,
diakses pada 3 Juni 2015
15
28 Fabian Januarius Kuwado, Polri Kembali Tetapkan Abraham Samad sebagai
Tersangka dalam Kasus Baru,
http://nasional.kompas.com/read/2015/02/27/15555051/Polri.Kembali.Tetapkan.Abraham.Samad.
sebagai.Tersangka.dalam.Kasus.Baru, diakses pada 3 Juni 2015
29
Anang Priyanto, Citra Hakim dan Penegakan Hukum Dalam Sistem Peradilan Pidana,
Jurnal Civics, Yogyakarta, 2015, h. 6
30
Eko Noer Kristiyanto, Pemakzulan Presiden Republik Indonesia Pasca Amandemen Uud
1945, Jurnal Rechtsvinding Volume 2 No. 3, Jakarta, 2013, h. 331
Daftar Pustaka
Abdurrahman, Muhammad Nur. Abraham Samad Ditahan Polda Sulselbar.
http://news.detik.com/read/2015/04/28/202254/2900794/10/abrahamsamad-ditahan-polda-sulselbar diakses pada 28 Mei 2015.
Ardhiwisastra, Yudha Bhakti. 1999. Imunitas Kedaulatan Negara Di Forum
Pengadilan Asing. Jakarta: Alumni.
Aulawi, Akhmad. Perspektif Pelaksanaan Hak Imunitas Anggota Parlemen dan
Pelaksanaanya di Beberapa Negara, Rechtsvinding Online.
http://rechtsvinding.bphn.go.id/jurnal_online/PERSPEKTIF%20PELAKS
ANAAN%20HAK%20IMUNITAS%20ANGGOTA%20PARLEMEN%2
16
0DAN%20PELAKSANAANNYA%20DI%20BEBERAPA%20NEGARA
.pdf diakses pada 29 Mei 2015.
Cahyaningrum, Dian. 2012. Kewenangan KPK versus Polri dalam Penyidikan
Dugaan Korupsi Pengadaan Simulator Pembuatan Surat Izin Mengemudi
di Korlantas Polri. Info Singkat Hukum DPR RI Vol. IV. No.
15/I/P3DI/Agustus/2012.
Chandranegara, Ibnu Sina. 2012. Pengujian Perppu Terkait Sengketa Kewenangan
Konstitusional Antar-Lembaga Negara: Kajian Atas Putusan MK No.
138/PUU-VII/2009. Jakarta: Jurnal Yudisial.
Chêne, Marie. 2014. Zambia: Overview of Corruption and Anti-Corruption.
Bergen: CMI.
Faiz, Tb. A. Adhi R. Kolektif Kolegial Pimpinan KPK Dalam Pelaksanaan
Kewenangan.
http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt54e2a68c08e64/kolektifkolegial-pimpinan-kpk-dalam-pelaksanaan-kewenangan-broleh--tb-a-adhir-faiz--sh--mh diakses pada 30 Mei 2015.
Friastuti, Rini. Pimpinan KPK Perlu Diberikan Hak Imunitas.
http://news.detik.com/read/2015/01/27/050014/2814702/10/pimpinan-kpkperlu-diberikan-hak-imunitas diakses pada 29 Mei 2015.
International Council on Human Rights Policy. 2010. Integrating Human Rights in
the Anti-Corruption Agenda: Challenges, Possibilities and Opportunities.
Geneva: Transparency International.
Indonesia. Undang-Undang tentang Komisi Pemberantasan Korupsi. UU No. 30
Tahun 2002. LN No. 137 Tahun 2002. TLN No. 4250
Kristiyanto, Eko Noer. 2013. Pemakzulan Presiden Republik Indonesia Pasca
Amandemen Uud 1945. Jakarta: Jurnal Rechtsvinding.
Malau, Budi Sam Law. Berkali-kali Abraham Samad Mangkir Panggilan DPR.
http://wartakota.tribunnews.com/2015/02/18/berkali-kali-abraham-samadmangkir-panggilan-dpr diakses pada 3 Juni 2015.
Manan, Bagir. 2003. DPR, DPD, dan MPR Dalam UUD 1945 Baru. Yogyakarta:
FH UII Press.
Primandari, Tika. Polisi Serang Balik KPK Picu Cicak Vs Buaya Bab 2.
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/01/21/063636459/polisi-serangbalik-kpk-picu-cicak-vs-buaya-bab-2 diakses pada 28 Mei 2015.
Priyanto, Anang. 2015. Citra Hakim dan Penegakan Hukum Dalam Sistem
Peradilan Pidana. Yogyakarta: Jurnal Civics. Yogyakarta.
17
Ramadhan, Bilal. Bambang Widjojanto Ditangkap Sebagai Tersangka Kasus
Kesaksian
Palsu.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/01/23/nim3bsbambang-widjojanto-ditangkap-sebagai-tersangka-kasus-kesaksian-palsu
diakses pada 28 Mei 2015.
Santosa, Bagus. 3 Kali Mangkir Bahas Century, KPK Pilih Pembekalan Caleg,
http://news.okezone.com/read/2013/07/03/339/831253/3-kali-mangkirbahas-century-kpk-pilih-pembekalan-caleg diakses pada 2 Juni 2015.
Setri,
Anton.
Novel
Baswedan
Ditangkap
Bareskrim.
http://nasional.tempo.co/read/news/2015/05/01/063662486/NovelBaswedan-Ditangkap-Bareskrim diakses pada 28 Mei 2015.
Sheen, Carly. 2012. Anti-Corruption Agencies: Impact on The Privileges and
Immunities of Parliament. Victoria: Australasian Parliamentary Review
Autumn (Vol 27).
Wibisono, Gunawan. Hak Imunitas Buka Celah Bagi KPK Berbuat Semena-Mena.
http://news.okezone.com/read/2015/01/26/337/1097030/hak-imunitasbuka-celah-bagi-kpk-berbuat-semena-mena diakses pada 2 Juni 2015.
Wulandari, Indah. Ombusdman RI: tak Ada Hak Imunitas, Komisioner KPK Rawan
Dikriminalisasi
http://ombudsman.go.id/index.php/beritaartikel/berita/1563-ombusdmanri-tak-ada-hak-impunitas-komisioner-kpk-rawan-dikriminalisasi-.html
diakses pada 30 Mei 2015.
Yusoff, Anis Yusal, et al. 2012. Combating Corruption: Understanding AntiCorruption Initiatives in Malaysia. Kuala Lumpur: Institute for Democracy
and Economic Affairs (IDEAS).
18
Download