ANALISIS PENGARUH PENGELUARAN PEMERINTAH, CADANGAN
DEVISA, DAN ANGKA PENGGANDA UANG TERHADAP JUMLAH UANG
BEREDAR DI INDONESIA
Oleh:
Hedwigis Esti R1
Bellia Novianti2
Abstract
The purpose of this research analyzed the output of partial and simultaneous variables which are
government expenditure, foreign exchange reserves, and money multiplier against to money supply (M2) in
Indonesia. Data of the research are used government expenditure, foreign exchange reserves, and money
multiplier against the money supply (M2) in period January 2005 to December 2008. The result of partial
test shows the government expenditure, foreign exchange reserves and money multiplier are influence each
other with positive significant to money supply (M2). The result of simultaneous test shows the all
independent variables influence significant to money supply (M2) in Indonesia.
Key words: government expenditure, foreign exchange reserves, money multiplier and money supply (M2)
Pendahuluan
Bank Indonesia sebagaimana diatur dalam Undang-undang No. 23 Tahun 1999, yang
telah diubah dengan Undang-undang No.3 tahun 2004 adalah Bank Sentral Republik
Indonesia yang merupakan lembaga negara yang independen, bebas dari campur tangan
pemerintah dan/atau pihak-pihak lainnya, kecuali untuk hal-hal yang secara tegas diatur
dalam undang-undang yang mengaturnya (Siamat,2005:38). Peran Bank Indonesia
sebagai Bank Sentral sangat berpengaruh besar dalam perekonomian Indonesia yang
berdampak pada kestabilan nilai rupiah. Tujuan Bank Indonesia dalam mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah perlu ditopang dengan tiga pilar utama, yaitu
menetapkan dan melaksanakan kebijakan moneter; mengatur dan menjaga kelancaran
sistem pembayaran; serta mengatur dan mengawasi bank.
Bank Indonesia merupakan lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan
mengatur peredaran uang rupiah, yakni mencabut, menarik dan memusnahkan uang serta
menetapkan macam, harga, ciri uang yang akan dikeluarkan, bahan yang digunakan, dan
penentuan mulai berlakunya sebagai alat pembayaran yang sah. Sebagai konsekuensi dari
ketentuan tersebut, maka Bank Indonesia harus menjamin ketersediaan uang di
masyarakat dalam jumlah yang cukup dan dengan kualitas yang memadai.
Uang merupakan suatu alat untuk melakukan tukar-menukar serta untuk
melakukan kegiatan ekonomi yang meliputi produksi, distribusi, dan kosumsi. Bagi
produsen, uang diperlukan untuk membeli bahan-bahan baku yang kemudian diolah
menjadi barang siap pakai untuk dijual kepada masyarakat. Dalam distribusi, uang
diperlukan untuk membeli barang untuk dijual kembali dan akhirnya uang digunakan
oleh konsumen untuk membeli barang dan jasa yang diperlukan.
Pengertian uang dalam perekonomian modern dibagi menjadi pengertian uang
dalam arti sempit dan pengertian uang dalam arti luas. Pengertian uang dalam arti sempit
disebut dengan M1, yaitu uang kartal dan uang giral. Sedangkan pengertian uang dalam
1
2
Dosen Tetap Institut Perbanas.
Alumni S1 Manajemen Institut Perbanas.
arti luas disebut M2, yaitu M1 ditambah Time Deposits dan Saving Deposits. Pengertian
uang yang lebih luas lagi adalah M3, yaitu M2 ditambah obligasi. Tetapi menurut
Herlambang (2002:116) istilah yang sering dipakai hanyalah M1 dan M2.
Jumlah uang beredar di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain
tingkat suku bunga, tingkat inflasi, nilai tukar rupiah, pengeluaran pemerintah, cadangan
devisa, dan angka pengganda uang (Prayitno,2002:47). Sesuai dengan metode yang
digunakan Soenhadji (2003), maka penelitian bertujuan untuk menganalisis pengaruh dari
besarnya pengeluaran pemerintah, cadangan devisa serta besarnya angka pengganda uang
secara parsial maupun simultan terhadap jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) di
Indonesia.
Landasan Teori
Jumlah Uang Beredar
Menurut Ritonga (2003:74), jumlah uang beredar (JUB) adalah jumlah uang dalam suatu
perekonomian pada waktu tertentu. Pada dasarnya, jumlah uang beredar ditentukan oleh
besarnya penawaran uang (dari Bank Sentral) dan permintaan uang (dari masyarakat).
Sedangkan menurut Boediono (1998:3), jumlah uang beredar pada dasarnya memiliki
dua pengertian, yaitu uang beredar dalam arti sempit (narrow money) dan uang beredar
dalam arti luas (broad money).
Dalam arti sempit, uang memiliki pengertian sebagai seluruh uang kartal dan uang
giral yang tersedia untuk digunakan oleh masyarakat, sehingga merupakan daya beli yang
bisa langsung digunakan untuk pembayaran (Boediono,1998:3). Uang kartal (currency)
adalah uang tunai yang dikeluarkan oleh pemerintah atau Bank Sentral yang langsung di
bawah kekuasaan masyarakat umum untuk menggunakannya dan terdiri dari uang kertas
dan uang logam yang berada di luar bank-bank umum dan Bank Sentral itu sendiri.
Sedangkan uang giral memiliki pengertian sebagai seluruh nilai saldo rekening koran
(giro) yang dimiliki masyarakat pada bank-bank umum yang sewaktu-waktu dapat
digunakan oleh pemiliknya (masyarakat).
Tidak termasuk dalam pengertian uang giral ini adalah saldo rekening koran milik
bank pada bank lain atau pada Bank Sentral ataupun saldo rekening koran milik
pemerintah pada bank atau Bank Sentral. Dengan demikian, jumlah uang beredar pada
suatu saat adalah penjumlahan dari uang kartal dan uang giral (Boediono, 1998:4).
M1 = C + DD..................................................................(1)
M1
C
DD
= JUB dalam arti sempit
= uang kartal (currency) adalah uang kertas dan uang logam yang dikeluarkan oleh
otoritas moneter.
= uang giral (demand deposits) adalah simpanan milik sektor swasta domestik pada
bank pencetak uang giral yang setiap saat dapat ditarik untuk ditukarkan dengan
uang kartal sebesar nominalnya.
Uang beredar dalam arti luas diartikan sebagai M1 ditambah dengan deposito
berjangka dan saldo tabungan milik masyarakat pada bank-bank (Boediono,1998:5).
Secara matematis ditunjukkan dalam persamaan sebagai berikut:
M2 = M1 + TD + SD.......................................................(2)
2
M2
TD
SD
= JUB (dalam arti luas)
= deposito berjangka (time deposits)
= saldo tabungan (savings deposits)
Meskipun tidak semudah uang tunai atau cek untuk menggunakannya, uang yang
disimpan dalam bentuk deposito berjangka dan tabungan ini merupakan daya beli
potensial bagi pemiliknya, oleh karena itulah keduanya dimasukkan ke dalam definisi
M2. Pengertian JUB yang lebih luas lagi adalah M3, yaitu M2 + uang kuasi (quasi
money). Pengertian uang kuasi mencakup semua deposito berjangka dan tabungan, baik
dalam mata uang lokal maupun mata uang asing (dolar) serta giro valas milik penduduk
pada bank atau lembaga keuangan bukan bank.
Pengertian JUB yang paling luas adalah likuiditas total (total likuidity) dengan
notasi L, yaitu mencakup semua alat-alat likuid yang ada di masyarakat. Alat-alat likuid
itu bukan hanya simpanan berjangka dan tabungan, tapi juga dapat meliputi obligasi
pemerintah dan swasta yang berjangka pendek, wesel perusahaan, deposito di luar negeri,
dan sebagainya (Boediono,1998: 6-7).
Menurut Ritonga (2003:74), pada dasarnya jumlah uang beredar (JUB) ditentukan
oleh besarnya permintaan uang (dari masyarakat) dan penawaran uang (dari bank
sentral). Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi JUB dalam masyarakat antara lain
sebagai berikut: 1) pendapatan, adalah jumlah uang yang diterima oleh masyarakat dalam
jangka waktu tertentu; 2) tingkat suku bunga; 3) selera masyarakat; 4) harga barang; 5)
fasilitas kredit (cara pembayaran) dengan menggunakan kartu kredit atau cara angsuran;
6) kekayaan yang dimiliki masyarakat, jumlah uang yang beredar dalam masyarakat
semakin besar apabila ragam (variasi) bentuk kekayaan sedikit.
Pengeluaran Pemerintah
Pengeluaran pemerintah adalah semua pengeluaran negara untuk membiayai tugas-tugas
umum pemerintah dan pembangunan (Ritonga,2003:131). Pengeluaran pemerintah
(goverment spending, G) merupakan pengeluaran terbesar dari 1 unit ekonomi. Biasanya
mencapai 20 persen dari GDP. Pengeluaran ini dibiayai dari penerimaan berupa pajak.
Jika pajak lebih kecil dari pengeluaran maka anggaran pemerintah mengalami defisit atau
pemerintah memiliki hutang. Untuk Indonesia pengeluaran dan penerimaan tercermin
dalam APBN (Herlambang,2002:250).
Pengeluaran pemerintah baik pusat maupun daerah dibedakan menjadi dua jenis
yaitu:: 1) pengeluaran rutin yang terdiri dari belanja pegawai, belanja barang, belanja
rutin daerah, bunga dan cicilan hutang, serta subsidi; 2) pengeluaran pembangunan yaitu
semua pengeluaran negara untuk membiayai proyek pembangunan fisik maupun nonfisik.
Cadangan Devisa
Cadangan devisa (Rd) adalah simpanan mata uang asing oleh bank sentral dan otoritas
moneter. Simpanan ini merupakan asset bank sentral yang tersimpan dalam beberapa
mata uang cadangan (reserve currency) seperti Dollar, Euro, atau Yen, dan digunakan
3
untuk menjamin kewajibannya, yaitu mata uang lokal yang diterbitkan, dan cadangan
berbagai bank yang disimpan di bank sentral oleh pemerintah atau lembaga keuangan
(Wikipedia).
Perkembangan neraca pembayaran dapat mengakibatkan perubahan dalam
cadangan devisa, defisit dalam neraca pembayaran berarti berkurangnya cadangan devisa
yang terdapat di bank sentral dan bank devisa. Apabila hal ini terus berlanjut maka
dikhawatirkan cadangan devisa bisa menipis dan bahkan bisa habis. Cadangan devisa
bisa ditingkatkan dengan cara meningkatkan ekspor supaya devisa bertambah. Promosi
dari hasil industri-industri besar seperti industri tekstil yang dapat diekspor keluar negeri
seperti Amerika Serikat dan China merupakan peluang yang besar. Bagi Indonesia ekspor
merupakan sumber utama penerimaan devisa dan oleh sebab itu ekspor harus
ditingkatkan.
Mayoritas cadangan devisa suatu negara berasal dari berbagai pinjaman.
Penambahan cadangan devisa Indonesia diperoleh dari hasil penerbitan Global Medium
Term Notes (GMTN). Dengan penambahan cadangan devisa diperkirakan cukup untuk
menjaga stabilitas rupiah jika tidak terjadi gejolak.
Beban utang luar negeri, baik pemerintah maupun swasta masih menekan
cadangan devisa. Investor sangat mengkhawatirkan cadangan devisa negara yang makin
tergerus akibat ketidak-seimbangan penawaran dan permintaan mata uang dollar di pasar
domestik, kondisi pasar uang ini sangat berbahaya. Dengan ketatnya likuiditas di pasar
keuangan, mata uang lokal akan mengalami keterpurukan, setiap saat bisa menembus
level 12 ribu per dollar AS. Rupiah sangat rentan terhadap pergerakan dollar karena
munculnya permintaan dollar dapat menekan rupiah hingga ratusan poin.
Penawaran dollar sangat minim karena tidak ada investor yang masuk ke sektor
riil, sedangkan investor asing banyak melepas aset portofolionya di Indonesia. Selain
kerugian bank atas produk derivatif, penurunan perolehan devisa hasil ekspor dan
kebutuhan menutup utang valas yang jatuh tempo. Dengan kondisi seperti ini, yang bisa
dilakukan BI adalah meredam permintaan dollar atau menambah penawaran. Beberapa
langkah memang telah dilontorkan pemerintah dan BI untuk menambah pasokan dollar
AS dan melonggarkan likuiditas. Pemerintah berusaha mencari negara tujuan baru untuk
ekspor agar menghasilkan devisa.
Pemerintah Indonesia terus mengupayakan pinjaman dari luar negeri. Pinjaman
demi pinjaman yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia tersebut dapat memperkuat
cadangan devisa Indonesia. BI mengupayakan pinjaman dari bank sentral negara lain,
karena Indonesia membutuhkan valuta asing tidak hanya untuk menahan kurs rupiah,
tetapi juga untuk mendanai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Dana
dari swap dan budget support ini disiapkan sebagai pertahanan lini kedua.
Angka Pengganda Uang
Angka pengganda uang (money multiplier, m) adalah bagian dari proses penciptaan uang
oleh bank umum (Prayitno,2002:48). Menurut Nilawati (2000:162), angka pengganda
uang merupakan bagian dari proses pasar yaitu penyesuaian antara permintaan dan
penawaran uang. Sedangkan menurut Parkin (1993:768) angka pengganda uang
merupakan rasio antara perubahan jumlah uang beredar dan perubahan uang primer, yang
juga disebut monetary base.
4
Nilai money multiplier biasanya lebih besar dari satu, artinya setiap Rp1 uang inti
bisa menimbulkan lebih dari Rp1 uang beredar. Nilai dari money multiplier tergantung
kepada: 1) kecenderungan masyarakat memegang uangnya dalam bentuk uang kartal; dan
2) berapa besar cadangan yang dipegang bank untuk menjamin uang giral
Metode penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kuantitatif yang ditekankan pada data-data
yang berhubungan dengan variabel indikator ekonomi seperti pengeluaran pemerintah,
cadangan devisa, angka pengganda uang, dan jumlah uang beredar.
Variabel bebas (independent variable) dalam penelitian ini adalah pengeluaran
pemerintah (G), cadangan devisa (Rd), dan angka pengganda uang (m), sedangkan
variabel terikatnya (dependent variable) adalah jumlah uang beredar (M2).
Tabel 1
Definisi Operasional Variabel
No.
Dimensi
1. Jumlah Uang
Beredar (M2)
2.
Pengeluaran
Pemerintah (G)
3.
Cadangan Devisa
(Rd)
4.
Angka Pengganda
Uang (m)
Variabel
Definisi Operasional
Y
Jumlah uang dalam arti luas yang terdiri dari
uang kartal, uang giral, deposito berjangka, dan
saldo tabungan.
X1
Semua pengeluaran negara untuk membiayai
tugas-tugas
umum
pemerintah
dan
pembangunan.
X2
Stok mata uang asing yang dimiliki suatu negara
dan disimpan oleh bank sentral yang dapat
digunakan untuk transaksi atau pembayaran
internasional.
X3
Rasio antara perubahan jumlah uang beredar dan
perubahan uang primer.
Sumber: Lily Prayitno (2002) & Ritonga (2003)
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari jumlah uang beredar
(M2), pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang periode
Januari 2005-Desember 2008 yang diambil dari data triwulanan Statistik Ekonomi
Keuangan Indonesia (SEKI).
Metode pengambilan sampel dengan nonprobability sampling, yaitu teknik
pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur
atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Selanjutnya peneliti memilih
sampling purposive, yakni teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu.
Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder yang berkurun
waktu dari bulan Januari 2005-Desember 2008.
Pembahasan
5
Perkembangan data mengenai jumlah uang beredar (M2), pengeluaran pemerintah (G),
cadangan devisa (Rd), dan angka pengganda uang (m) di Indonesia secara triwulanan
periode 2005-2008, ditunjukkan pada tabel 2.
Tabel 2
Jumlah Uang Beredar (M2), Pengeluaran Pemerintah (G),
Cadangan Devisa (Rd), dan Angka Pengganda Uang (m)
Periode 2005-2008
Period
M2
G
Rd
m
(Milyar Rp)
(Milyar Rp)
(Juta $)
2005
I
1.016.237
26.823,3
36.221
5,58
II
1.054.730
28.813,6
34.969
5,56
III
1.118.234
34.641,0
31.236
5,48
IV
1.179.074
44.347,7
33.537
4,90
2006
I
1.193.255
29.909,8
36.894
5,15
II
1.229.764
37.102,5
42.386
5,15
III
1.270.003
35.237,2
41.825
5,02
IV
1.348.762
45.314,2
41.353
4,84
2007
I
1.368.891
31.021,7
45.392
5,03
II
1.409.549
38.522,1
46.782
5,02
III
1.491.083
37.537,8
52.060
4,98
IV
1.567.516
46.228,0
55.324
4,71
2008
I
1.590.616
32.145,8
57.370
4,88
II
1.648.246
40.547,5
58.562
4,91
III
1.707.567
42.816,6
58.676
4,74
IV
1.842.649
53.787,3
50.800
5,78
Sumber: Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (data diolah)
Tabel 3 menunjukkan hasil perhitungan statistik dengan menggunakan program SPSS.
Tabel 3
Hasil Analisis Regresi Berganda
Coefficientsa
Model
1
(Constant)
G
Rd
m
Unstandardized
Coefficients
B
Std. Error
-773844
355079.2
12.422
2.398
21.966
2.138
134772.1 58004.967
Standardized
Coefficients
Beta
.374
.837
.177
t
-2.179
5.180
10.276
2.323
Sig.
.050
.000
.000
.039
a. Dependent Variable: M2
Sumber: Hasil Output SPSS
6
Mengacu pada hasil pengolahan data pada tabel 3, maka dapat dibentuk
persamaan regresi sebagai berikut:
JUB’ = −773844 + 12.422 G + 21.966 Rd + 134722.1 m
Persamaan di atas dapat diinterpretasikan bahwa apabila tidak ada pengeluaran
pemerintah, negara tidak mempunyai cadangan devisa, dan tidak menciptakan angka
pengganda uang maka diramalkan jumlah uang beredar akan sama dengan nilai konstanta
yaitu akan menurun sebesar Rp773.844 Milyar. Pengaruh antara pengeluaran pemerintah,
cadangan devisa, dan angka pengganda uang dengan jumlah uang beredar adalah positif,
yaitu apabila ketiga variabel tersebut meningkat maka jumlah uang beredar akan
meningkat dan sebaliknya apabila ketiga variabel mengalami penurunan, maka jumlah
uang beredar juga akan menurun.
Hasil pengujian statistik untuk koefisien determinasi berganda (R2) ditunjukkan
pada tabel berikut ini:
Tabel 4
Hasil Analisis Uji Koefisien Determinasi Berganda (R2)
Model Summaryb
Model
1
R
.973a
R Square
.948
Adjusted
R Square
.934
Std. Error of
the Estimate
62856.922
a. Predictors: (Constant), m, G, Rd
b. Dependent Variable: M2
Sumber: Hasil Output SPSS
Koefisien determinasi sebesar 0,948 yang berarti bahwa jumlah uang beredar (M2) dalam
penelitian ini dipengaruhi oleh ketiga variabel bebas yang terdiri dari pengeluaran
pemerintah (G), cadangan devisa (Rd), dan angka pengganda uang (m) sebesar 93,4
persen, sedangkan sisanya 6,6 persen dipengaruhi oleh variabel lain.
Hasil uji individu (uji t) bertujuan untuk menguji signifikansi konstanta dari
setiap variabel bebas, dengan anggapan variabel bebas lainnya konstan, diperoleh hasil
sebagai berikut:
Tabel 5
Hasil Analisis Uji t
Variabel
Bebas
G
Rd
m
Nilai
t Hitung
5.180
10.276
2.323
Nilai
t Tabel
2.179
2.179
2.179
Nilai t Stat
Signifikansi
0.000
0.000
0.039
Taraf
Signifikansi
0.05
0.05
0.05
Hipotesis
H0 ditolak
H0 ditolak
H0 ditolak
Sumber: Data SPSS yang diolah
Berdasarkan hasil uji t terlihat bahwa: pengeluaran pemerintah nilai t hitung > t tabel
(5,180 > 2,179) dan signifikansi < 0,05; maka H0 ditolak sehingga pengeluaran
pemerintah berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar. Demikian juga untuk
7
variabel cadangan devisa dan angka pengganda uang berdasarkan hasil uji t, Ho ditolak
sehingga secara parsial variable cadangan devisa dan angka pengganda uang berpengaruh
signifikan terhadap jumlah uang beredar.
Tabel 6
Hasil Analisis Uji F
ANOVAb
Model
1
Regres sion
Residual
Total
Sum of
Squares
9E+011
5E+010
9E+011
df
3
12
15
Mean Square
2.854E+011
3950992694
F
72.232
Sig.
.000a
a. Predic tors: (Constant), m, G, Rd
b. Dependent Variable: M2
Sumber: Hasil Output SPSS
Hasil uji global (uji F) diperoleh hasil F hitung > F tabel (72,232 > 3,480) maka
secara bersama-sama variabel pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka
pengganda uang berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar.
Simpulan
Pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka pengganda uang secara parsial
mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan terhadap jumlah uang beredar (M2)
untuk periode tahun 2005-2008, yaitu apabila pengeluaran pemerintah, cadangan devisa,
dan angka pengganda uang meningkat maka jumlah uang beredar akan meningkat dan
sebaliknya.
Secara simultan, variabel pengeluaran pemerintah, cadangan devisa, dan angka
pengganda uang berpengaruh signifikan terhadap jumlah uang beredar (M2) periode
2005-2008.
Rekomendasi
Untuk penelitian selanjutnya diharapkan selain menggunakan indikator makroekonomi
sebagai faktor yang mempengaruhi jumlah uang beredar juga dapat menggunakan faktor
lainnya (non makroekonomi) yang juga mempengaruhi jumlah uang beredar dengan data
series maupun lintas sektor (cross section), serta menggunakan alat analisis yang lebih
andal.
DAFTAR PUSTAKA
Boediono. 1998. Ekonomi Moneter. Yogyakarta: BPFE.
Dahlan Siamat. 2005. Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter dan
Perbankan Edisi 5. Jakarta: LP-FEUI.
8
Imam Murtono Soenhadji. 2003. “Jumlah uang Beredar dan Faktor-faktor yang
Mempengaruhi (Tinjauan Money Supply (M2) Periode Tahun 1990-2002)”.
Jurnal Ekonomi dan Bisnis No. 2 Jil. 8 Hal. 56-64.
Lily Prayitno, dkk. 2002. “Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Jumlah Uang
Beredar di Indonesia Sebelum dan Sesudah Krisis: Sebuah Analisis
Ekonometrika”. Jurnal Manajemen & Kewirausahaan Vol. 4 No. 1. Maret. Hal.
46-55.
Nilawati. 2000. “Pengaruh Pengeluaran Pemerintah, Cadangan Devisa dan Angka
Pengganda Uang Terhadap Perkembangan Jumlah Uang Beredar di Indonesia”.
Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 2. Agustus. Hal. 64-72.
Parkin, M. 1993. Economics. Second Edition. Addison-Wesley Publishing Company.
Massachussetts.
Ritonga, dkk. 2003. Pelajaran Ekonomi Jil. 2 Untuk SMU Kelas 2. Jakarta: Erlangga.
Tedy Herlambang, dkk. 2002. Ekonomi Makro: Teori, Analisis, dan Kebijakan. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
9
Download

analisis pengaruh pengeluaran pemerintah, cadangan