BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Indonesia sebagai

advertisement
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara yang terletak di Asia Tenggara, memiliki karakter budaya
timur yang membedakannya dengan negara lain. Salah satu ciri khas dari budaya timur yang
dimiliki Indonesia adalah masyarakat yang masih menjunjung tinggi budaya warisan nene k
moyang. M ereka sepenuhnya menghormati norma -norma dan nilai-nilai yang hidup dalam
masyarakat dan dilarang untuk melanggar norma -norma dan nilai-nilai tersebut.
Budaya timur membuat Indonesia dan hampir semua negara di Asia tidak bisa dengan
mudah mengubah sistem dan hukum yang tumbuh dan hidup bersama dengan masyarakat.
Budaya timur masih menjunjung tinggi budaya leluhur yang mengajarkan bahwa laki-laki
sebagai pemimpin perempuan dan keluarganya, dan juga sebagai salah satu yang bertanggung
jawab dalam memberikan nafkah. K onsep ini kemudian dikenal dengan budaya patriarki
yang hidup dan tertanam cukup kuat dalam masyarakat Indonesia.
5
Budaya patriarki sering diasumsikan sebagai salah satu penyebab ketidaksetaraan atau
bias gender. A nggapan bahwa laki-laki melakukan pekerjaan untuk mencari nafkah dan
perempuan melakukan pekerjaan rumah tangga membuat asumsi yang melekat kuat dalam
masyarakat sehingga sering terjadi laki-laki mendapatkan status yang lebih tinggi, karena
6
mereka adalah pencari nafkah dan perempuan hanya sebagai ibu rumah tangga. Anggapan
yang hidup dalam masyarakat ini membuat dunia sadar akan adanya diskriminasi antara laki laki dan perempuan.
5
6
Kamla Bhasin, 1996, M enggugat Patriarki, Bentang, Yogyakarta, hlm 6
Ibid, hlm 8
12
Salah satu persoalan ketidaksetaraan dan bias gender ini disebabkan oleh adanya
stereotip mengenai pembagian kerja secara seksual yakni antara laki-laki dan perempuan.
Pembagian kerja (division of labour) merupakan salah satu perbedaan utama yang mendasar
dalam kekuasaan antara perempuan dan laki-laki. Perempuan dalam sistem pembagian kerja
secara seksual cenderung selalu ditempatkan dalam wilayah domestik atau rumah tangga,
dengan serangkaian kerja yang sifatnya reproduktif. Pada sisi lain, laki-laki menempati posisi
di wilayah publik yang sifatnya produktif.
7
Peran gender perempuan yang ditempatkan dalam wilayah domestik tersebut telah
mengakibatkan tumbuhnya tradisi dan keyakinan yang tersosialisasi di masyarakat bahwa
kaum perempuan harus bertanggung jawab atas terlaksananya keseluruhan pekerjaan
domestik. Sedangkan laki-laki tidak harus bertanggung jawab, bahkan banyak tradisi secara
adat melarang laki laki terlibat dalam urusan pekerjaan domestik. Oleh karenanya, tipologi
beban kerja perempuan tidak berkurang walaupun si perempuan juga bekerja di sektor publik.
Hal ini disebabkan selain bekerja di luar (publik), perempuan juga masih harus bertanggung
jawab atas keseluruhan pekerjaan domestik.
8
Selain itu, jika perempuan bekerja di sektor
publik juga terkesan masih ada pembatas yang membatasi pergerakan mereka, yaitu pertama
akses kesempatannya yang masih sangat terbatas, dan kedua adalah kedudukan serta peran
yang disandangnya sebagian besar masih cenderung hanya sebagai peran pelengkap dan
inferior, misalnya sebatas peran sebagai sekretaris atau pegawai kantor kebanyakan, y ang
9
notabene adalah tetap menjadi bawahan laki-laki. Fenomena dan realitas peran domestik
yang
7
dikenakan
kepada
perempuan
tersebut
akhirnya
menimbulkan
Kasiyan, 2008, M anipulasi dan Dehumanisasi Perempuan dalam Iklan , Ombak, Yogyakarta, hlm 55
Ibid, hlm 56
9
Ibid, hlm 58-59
8
konsep
13
pengiburumahtanggaan atau domestikasi atas perempuan di masyarakat. Konsep ini jika
dicermati cenderung bermakna diskriminatif bagi perempuan dalam representasinya.
10
Fenomena ketidakseimbangan antara laki-laki dan perempuan oleh karena adanya
pelabelan domestikasi atas perempuan tersebut, menimbulkan pula diskriminasi dan
ketidakadilan terhadap tena ga kerja perempuan di tempat kerja. M asih banyak tenaga kerja
perempuan yang ditempatkan di posisi yang non-strategis. Pemberian upah dan tunjangan
yang lebih rendah kepada tenaga kerja perempuan juga merupakan salah satu bentuk
diskriminasi yang sering terjadi bagi tenaga kerja perempuan yang bekerja di sektor publik.
Dalam ruang lingkup internasional, masyarakat internasional menyadari diskriminasi
ini sebagai bagian dari pelanggaran hak asasi manusia, sehingga PBB memberlakukan
penghapusan
diskriminasi
terhadap
perempuan
dengan
mendeklarasikan
Konvensi
Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (CEDAW) dan membentuk
Komite Penghapusan Diskriminasi terhadap Perempuan. Komite ini bertugas untuk
memantau pelaksanaan K onvensi di semua negara y ang telah melakukan ratifikasi terhadap
Konvensi tersebut. Selain itu, diskriminasi ini juga melanggar Deklarasi U niversal Hak Asasi
M anusia 1948 sebagai dasar pengakuan hak asasi manusia. ILO ( International Labor
Organization) sebagai organisasi perburuhan yang berskala internasional di bawah naungan
PBB yang memiliki 183 anggota, juga telah membuat aturan -aturan dalam bentuk Konvensi
sebagai instrumen sah yang mengatur aspek-aspek administrasi perburuhan, kesejahteraan
sosial atau hak asasi manusia.
Di Indonesia, diskriminasi upah bagi tenaga kerja perempuan dapat dilihat dalam
kebijakan upah bagi pekerja perempuan yang dianggap lajang yang diatur dalam beberapa
aturan seperti Surat Edaran M enteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No: SE-04/M en/1988,
10
Ibid, hlm 56-57
14
Peraturan M enteri Pertambangan No. 02/P/M /Pertamb/1971, Peraturan Pemerintah N omor 37
Tahun 1967, dan S urat Edaran M enteri Tenaga Kerja Republik Indonesia No: SE07/M en/1990 yang menetapkan bahwa pekerja perempuan dianggap sebagai orang yang
belum menikah dan tidak mendapatkan tunjangan suami dan anak meskipun dalam
kenyataannya mereka telah menikah dan memiliki anak. Peraturan yang dianggap
diskriminasi ini bertentangan dengan peraturan perundang-undangan nasional lain yang telah
dikeluarkan oleh pemerinta h. Dalam peraturan tersebut telah ditetapkan larangan diskriminasi
terhadap
tenaga kerja perempuan. Peraturan tersebut antara lain UU N o. 13 Tahun 2003
Tentang Ketenagakerjaan, UU N o. 11 Tahun 2005 Tentang Ratifikasi Konvensi Internasional
tentang Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, UU No. 7 Tahun 1984 Tentang Ratifikasi
Konvensi Penghapusan Segala Bentuk D iskriminasi terhadap Perempuan (CED AW), UU No.
80 Tahun 1957 Tentang Ratifikasi Konvensi ILO 100, dan Perjanjian Internasional seperti
Deklarasi Universa l Hak Asasi M anusia 1948.
M eskipun Indonesia telah meratifikasi Konvensi CEDAW dan ILO dan adanya
peraturan nasional lain mengenai larangan diskriminasi terhadap tenaga kerja perempuan
tersebut, namun dalam prakteknya di Indonesia masih terdapat perusahaan-perusahaan yang
memberlakukan ketentuan upah terhadap pekerja perempuan dengan menganggap pekerja
perempuan adalah lajang, meskipun mereka telah menikah dan memiliki anak. Sehingga
dalam hal ini, pekerja perempuan tidak akan mendapat tunjangan anak ataupu n tunjangan
suami. Pengaruh diskriminasi upah ini tidak hanya berdampak pada anggapan masyarakat
tentang perempuan, tetapi juga untuk pemenuhan hak dan kewajiban berdasarkan prinsip
upah yang sama untuk pekerjaan yang sama. Lebih jauh, diskriminasi upah te rhadap pekerja
perempuan ini dapat memberi dampak bagi kehidupan dan keluarga pekerja perempuan yang
bersangkutan, contohnya bagi pekerja perempuan yang suaminya tidak bekerja ataupun jika
15
upah dari pekerjaan sang suami yang kurang sehingga kurang mampu un tuk menghidupi
keluarga.
Ketentuan upah bagi tenaga kerja perempuan yang dianggap lajang meskipun sudah
menikah ini juga berlaku di PT. Perkebunan Nusantara II yang merupakan salah satu Badan
Usaha M ilik Negara (BUM N) di Indonesia. PT. Perkebunan Nusantar a II memiliki tenaga
kerja perempuan yang jum lahnya tidak sedikit. Sehingga berdasarkan uraian dan penjelasan
tersebut di atas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul Perspektif
Hak Asasi M anusia Terhadap Diskriminasi Upah Bagi Tena ga Kerja Perempuan Yang
Dianggap Lajang dengan studi pekerja perempuan di PT. Perkebunan N usantara II.
B. Rumusan Masalah
Terkait dari uraian di atas dapat dirumuskan pokok permasalahan dari penelitian ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaturan mengenai pengupahan bagi tenaga kerja perempuan yang dianggap
lajang dalam praktek di PT. Perkebunan Nusantara II ?
2. Bagaimana perlakuan diskriminasi upah bagi tenaga kerja perempuan yang dianggap
lajang ditinjau dari sudut pandang hak asasi manusia ?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian berkenaan dengan maksud penulis melakukan penelitian yang
berupa tujuan obyektif dan tujuan subyektif. Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Tujuan Obyektif
a. Untuk mengetahui dan mengkaji pengaturan mengenai pengup ahan bagi tenaga kerja
perempuan yang dianggap lajang dalam praktek di PT. Perkebunan Nusantara II.
16
b. Untuk mengetahui dan mengkaji perlakuan diskriminasi upah bagi tenaga kerja perempuan
yang dianggap lajang ditinjau dari sudut pandang hak asasi manusia.
2. Tujuan Subyektif
Untuk memperoleh data dan bahan dalam rangka penyusunan tesis sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar magister hukum pada Fakultas Hukum Universitas Gadjah M ada.
.
D. Manfaat Penelitian
Kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah:
1. Bagi ilmu pengetahuan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pengetahuan
mengenai ilmu hukum, khususnya bidang hak asasi manusia dalam hal diskriminasi upah
bagi tenaga kerja perempuan yang dianggap lajang serta bermanfaat bag i penelitianpenelitian ilmu hukum selanjutnya.
2. Bagi ilmu praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pedoman dan masukan
kepada pemerintah, perusahaan, masyarakat, dan khususnya tenaga kerja perempuan
dalam memecahkan permasalahan yang be rhubungan tentang diskriminasi upah tenaga
kerja perempuan yang dianggap lajang.
3. Bagi pembangunan, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kesadaran kepada
pemerintah yang berkompeten dalam rangka menciptakan sistem upah non diskrim inatif
dan sesuai dengan prinsip hak asasi manusia.
E. Keaslian Penelitian
Penelitian yang mengambil topik perspektif hak asasi manusia terhadap diskriminasi
upah bagi tenaga kerja perempuan yang dianggap lajang sejauh pengetahuan penulis belum
diteliti dan ditulis oleh penulis lain sebelumnya. Beberapa sumber seperti majalah, koran,
17
buku, menulis hukum , dan tesis yang sebelumnya telah mencoba untuk meninjau topik
tersebut, tetapi dari semua sumber yang ada tidak ada satupun yang secara khusus dan
spesifik telah mengambil penelitian dengan topik yang sama dengan penulis.
Sepanjang pengetahuan penulis, terdapat penelitian tesis sebelumnya, tapi tidak dalam
topik yang spesifik sama dan tempat yang sama seperti penelitian ini dilakukan, yang
berkaitan dengan penelitian ini, yaitu Upaya Perlindungan H ukum Terhadap Pekerja/B uruh
Perempuan (Analisis Y uridis Terhadap Pekerja/Buruh Pemetik Teh Pada PT. Perkebunan
Tambi Kabupaten Wonosobo), tesis oleh Taufiq El Rahman pada tahun 2006.
11
Penelitian
tersebut menitikberatkan pembahasan pada upaya perlindungan hukum terhadap pekerja
perempuan dengan mengambil lokasi penelitian di PT. Perkebunan Tambi Kabupaten
Wonosobo, sementara penelitian oleh penulis menitikberatkan pembahasan pada diskriminasi
upah bagi tenaga kerja perempuan ya ng dianggap lajang dari sudut pandang hak asasi
manusia dan mengambil lokasi penelitian di PT. Perkebunan Nusantara II. Dengan demikian,
penelitian oleh penulis dengan judul "Perspektif Hak Asasi M anusia Terhadap Diskriminasi
Upah Bagi Tenaga Kerja Perempuan Yang Dianggap Lajang (Studi Pekerja Perempuan di
PT. Perkebunan Nusantara II)" sudah memenuhi kaedah keaslian penelitian.
F. Landasan Teori
Landasan teori merupakan pendukung dalam membangun atau berupa penjelasan dari
12
masalah yang dianalisis. Suatu teori umumnya mengandung tiga elemen, yaitu :
1. Penjelasan tentang hubungan antara unsur dalam suatu teori;
2. Teori menganut sistem deduktif, yaitu sesuatu yang bertolak dari suatu hal yang umum
(abstrak) menuju suatu yang khusus atau nyata;
11
Taufiq El Rahman, 2006, “Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Pekerja/Buruh Pe rempuan (Analisis Yuridis
Terhadap Pekerja/Buruh Pemetik Teh Pada PT. Perkebunan Tambi Kabupaten W onosobo)”, Tesis Fakultas
Hukum Universitas Gadjah M ada, Yogyakarta
12
M . Solly Lubis, 1994, Filsafat Hukum dan Penelitian, M andar M aju, Bandung, hlm 31
18
3. Teori memberikan penjelasan atas gejala-gejala yang dikemukakan, dengan demikian
untuk kebutuhan penelitian maka teori mempunyai maksud dan tujuan untuk memberikan
pengarahan kepada penelitian yang akan dilakukan.
Teori-teori yang dipergunakan dalam penelitian ini antara lain:
a. Teori Keadilan oleh J. Stancy Adams
Teori keadilan Adams menyatakan bahwa manusia mempunyai pikiran, perasaan, dan
pandangan
yang
mempengaruhi
pekerjaan
mereka.
Individu -individu
membuat
perbandingan-perbandingan tertentu terhadap suatu pekerjaan. Hasil akhir suatu pekerjaan
(upah, prestise, dan imbalan tambahan) dan masukan ke dalam pekerjaan (usaha,
pengalaman) membentuk rasio bagi setiap individu atau dalam hal ini pekerja. Individu
kemudian membandingkan rasionya dengan rasio dari sumber referensi yang dianggap serupa
(similiar) seperti sesama pekerja untuk dapat menentukan adilnya situasi.
13
Perbandingan-
perbandingan tersebut sangat mempengaruhi kemantapan pikiran dan perasaan para pekerja
mengenai imbalan, serta menghasilkan perubahan motivasi dan perilaku. Dengan adanya
keadilan di dalam perusahaan akan membuat perasaan para pekerja lebih termotivasi untuk
bekerja dan membuat motivasi untuk pekerja dalam bekerja. A pabila pekerja merasa adanya
ketidakadilan di dalam perusahaan maka a kan menimbulkan ketegangan, motivasi para
pekerja akan berkurang dan akan menghilang dan dapat menganggu produktivitas dalam
perusahaan tersebut.
Teori keadilan mempunyai empat asum si dasar yaitu:
a. individu berusaha untuk menciptakan dan mempertahanka n satu kondisi keadilan;
b. apabila dirasakan ada kondisi ketidakadilan, kodisi ini menimbulkan ketegangan yang
memotivasi individu untuk menguranginya atau menghilangkannya;
13
Dewi, 2011, Teori Keadilan Adams, http://www.academia.edu/5634699/Teori_Keadilan_Adam, diakses 29
Juli 2015.
19
c. semakin besar persepsi ketidakadilannya, semakin besar motivasinya untuk bert indak
mengurangi kondisi ketegangan itu;
d. individu akan mempersepsikan ketidakadilan yang tidak menyenangkan (contohnya
menerima gaji terlalu sedikit) lebih cepat daripada ketidakadilan yang menyenangkan
(contohnya mendapatkan gaji terlalu besar).
Teori ini dipergunakan untuk menganalisis perlakuan diskriminasi upah yang dirasakan oleh
pekerja perempuan yang sudah menikah namun dianggap lajang di PT. Perkebunan
Nusantara II. Perlakuan diskriminasi pengupahan bagi pekerja perempuan tersebut akan
menjadi pelanggaran atas hak asasi manusia.
b. Feminist legal theory menyatakan bahwa hukum merupakan tatanan milik kaum adam
yang meminggirkan kaum hawa. Faktual, hukum dibangun dan dikonstruksi dalam logika
laki-laki. Implikasinya, hal tersebut memperkokoh hubung an sosio yuridis yang
patriarkis.
14
Hubungan yang didasarkan pada norma, pengalaman, dan kekuasaan laki-laki,
dan mengabaikan pengalaman perempuan. Dengan demikian, sampai derajat tertentu,
hukum telah menyum bang kepada penindasan terhadap perempuan. M enuru t teori ini,
mayoritas hukum dibangun atas pandangan dunia yang bias akan kedudukan perempuan
yang dianggap lemah. Oleh sebab itu feminist legal theory memperkenalkan pendekatan
hukum berperspektif perempuan dengan mendeteksi apakah keberadaan perempuan
dengan pengalamannya dan nilai tipikalnya telah diperhitungkan dalam hukum.
15
c. Teori Feminisme Sosialis.
Sebuah paham yang berpendapat tak ada sosialisme tanpa pembebasan perempuan
dan tak ada pembebasan perempuan tanpa sosialisme. Feminisme sosialis berjuang untuk
14
Bernard L.Tanya,dkk, 2013, Teori Hukum Strategi Tertib M anusia Lintas Ruang dan Generasi, Genta
Publishing, Yogyakarta, hlm 162.
15
Ibid
20
menghapuskan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas
harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide M arx yang menginginkan suatu
masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender.
Teori feminisme sosialis menyatakan bahwa patriarki sudah muncul sebelum
kapitalisme dan tetap tidak akan berubah jika kapitalisme runtuh. Kritik kapitalisme harus
disertai dengan kritik dominasi atas perempuan. Feminisme sosialis menggunakan analisis
kelas dan gender untuk memahami penindasan perempuan. Feminisme sosialis berupaya
menghilangkan struktur kelas dalam
masyarakat berdasarkan jenis kelamin dengan
melontarkan isu bahwa ketimpangan peran antara kedua jenis kelamin itu sesungguhnya lebih
disebabkan oleh faktor budaya. Kelompok ini menganggap posisi inferior perempuan
berkaitan dengan struktur kelas dan keluarga dalam masy arakat kapitalis. Feminisme sosialis
sepaham dengan feminisme marxis bahwa kapitalisme merupakan sumber penindasan
perempuan. Akan tetapi, feminis sosialis ini juga setuju dengan feminisme radikal yang
menganggap patriarkilah sumber penindasan itu. A genda perjuagan untuk memeranginya
adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki.
16
Feminist legal theory dan feminisme sosialis dipergunakan untuk menganalisis penyebab
terjadinya pelanggaran hak asasi manusia terhadap perempuan dalam bentuk diskriminasi
upah bagi pekerja perempuan di Indonesia, termasuk diskrim inasi pengupahan bagi pekerja
perempuan yang dianggap lajang di Indonesia.
16
Megawangi, 1999, Mem biarkan Berbeda? Sudut Pandang B aru Relasi Gender, Mizan, Bandung, hlm 121-122
Download