laporan praktikum fisika dasar 2

advertisement
LAPORAN
PRAKTIKUM
FISIKA DASAR 2
PANAS YANG DITIMBULKAN
OLEH ARUS LISTRIK (L1)
Telah dilakukan percobaan mengenai “Panas yang
ditimbulkan oleh Arus Listrik” dengan tujuan untuk
menentukan panas yang ditimbulkan oleh arus listrik,
membuktikan Hukum Joule, dan menentukan harga 1 Joule
dalam Kalori. Pada percobaan ini hanya menggunakan
rangkaian A, dimana peralatan dan bahan yang digunakan
adalah kalorimeter, termometer, stopwatch, adaptor (power
supply), voltmeter, amperemeter, resistor dan es batu yang
sudah dicairkan. Dari hasil percobaan didapatkan data
sebagai berikut : Hrata-rata = 1100 Joule, Q1rata-rata =
1762,5 Kalori, Q2rata-rata = 458,25 Kalori dan Harga 1
Joulerata-rata = 2,0194 Kalori. Dengan data tersebut dapat
membuktikan bahwa arus listrik dapat menghasilkan panas,
walaupun terdapat perbedaan hasil percobaan harga 1 Joule
dengan teori yang ada, hal ini disebabkan oleh beberapa
faktor yaitu eksternal (optimasi fungsi alat, suhu diluar
sistem) dan internal (kesalahan paralaks, kesalahan kalibrasi
alat) dan lain-lain.Kata kunci : kalorimeter, Asas Black, dan
voltmeter.
YULIA MAINESA
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER SURABAYA
22 MARET 2014
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI................................................................................................................................................ i
DAFTAR TABEL ........................................................................................................................................ ii
DAFTAR GAMBAR................................................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................................................. 1
1.1
Latar Belakang......................................................................................................................... 1
1.2
Permasalahan.......................................................................................................................... 1
1.3
Tujuan Percobaan ................................................................................................................... 1
BAB II DASAR TEORI ................................................................................................................................ 2
2.1 Arus Listrik..................................................................................................................................... 2
2.2 Kalor .............................................................................................................................................. 3
2.3 Hukum Ohm .................................................................................................................................. 5
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN ................................................................................................... 6
3.1 Peralatan dan Bahan ..................................................................................................................... 6
3.2 Langkah Kerja ................................................................................................................................ 6
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN ............................................................................................ 7
4.1 Analisa Data .................................................................................................................................. 7
4.2 Perhitungan................................................................................................................................... 7
4.4 Pembahasan .................................................................................................................................. 9
BAB V KESIMPULAN .............................................................................................................................. 12
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................. 13
i
DAFTAR TABEL
Table 1: Tabel Data Hasil Percobaan pada Rangkaian 1 ........................................................................ 7
Table 2 : Tabel Data Hasil Perhitungan pada Rangkaian 1 ................................................................... 9
ii
DAFTAR GAMBAR
Gambar 3. 1 : Gambar Rangkaian 1........................................................................................................ 6
Gambar 3. 2 : Gambar Rangkaian 2........................................................................................................ 6
iii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari banyak sekali kita menemui listrik, seperti lampu di kamar, AC,
laptop, dan lain-lain. Dalam listrik tersebut terdapat suatu energi yang mengalir atau biasa
disebut dengan arus listrik. Seperti yang kita ketahui kalau arus listrik dalam rangkaian listrik
tersebut dapat mengasilkan panas. Pada peralatan–peralatan yang menggunakan arus listrik
sebagai sumber energinya, apabila kita aktifkan dalam jangka waktu tertentu, maka akan
timbul panas pada bagian rangkaian listrik yang merupakan tempat atau pusat aktifitas arus
listrik. Contohnya saja ketika kita menghidupkan laptop yangmana menggunakan arus listrik
sebagai sumber energinya, jika dihidupkan dalam jangka waktu tertentu laptop tersebut akan
terasa panas. Hal ini membuktikan kalau arus listrik tersebut dapat menghasilkan panas.
Berdasarkan hal inilah yang melatar belakangi praktikum kami tentang panas yang
ditimbulkan oleh arus listrik. Kenyataan tersebut perlu dipelajari dan dikaji lebih lanjut
mengingat panas yang ditimbulkan tergantung oleh beda potensial, arus listrik serta waktu
yang diperlukan.
1.2 Permasalahan
Permasalahan yang ada dalam percobaan ini adalah bagaimana cara menentukan panas yang
ditimbulkan oleh arus listrik dan membuktikan hokum Joule, serta menentukan harga 1 Joule.
1.3 Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan panas yang ditimbulkan oleh arus listrik
dan untuk membuktikan hokum Joule, serta menentukan harga 1 Joule.
1
BAB II DASAR TEORI
2.1 Arus Listrik
Dalam konduktor logam elektron-elektron bebas bergerak kesegala arah secara sembarang.
Dalam elektrolit pembawa muatan listrik adalah ion-ion positif dan negatif. Bila didalam
konduktor terdapat medan listrik, maka gerakan muatan-muatan listrik yang sembarang itu
akan terarah, yaitu muatan positif bergerak searah medan listrik sedang muatan negatif
melawan arah medan, dan terjadi arus listrik (Dosen-DosenFisika, 2014).
Elektron-elektron bebas di dalam sebuah penghantar logam yang terisolasi, seperti suatu
panjang dari kawat tembaga, berada dalam gerakan sembarang (random motion) seperti
halnya molekul-molekul sebuah gas yang dibatasi di dalam sebuah tabung (wadah). Elektronelektron tersebut tidak mempunyai gerakan terarah netto sepanjang kawat. Jika kita
melewatkan sebuah bidang hipotetik melalui kawat tersebut, maka banyaknya elektron yang
melalui bidang tersebut per satuan waktu dari kanan ke kiri adalah sama seperti banyaknya
elektron yang melalui bidang tersebut per satuan dari kiri ke kanan ; jumlah netto dari
elektron yang lewat melalui bidang tersebut per satuan waktu adalah nol.
Jika ujung-ujung kawat tersebut dihubungkan kesebuah baterai maka sebuah medan listrik
akan ditimbulkan pada setiap titik di dalam kawat tersebut. Jika perbedaan potensial yang
dipertahankan oleh baterai adalah 10 V dan jika kawat tersebut (yang dianggap uniform)
mempunyai panjang 5m, maka kekuatan medan ini di setiap titik akan sama dengan 2 V/m.
Medan E ini akan bertindak pada elektron-elektron dan akan memberikan suatu gerak
resultan pada elektron-elektron tersebut di dalam arah E. Kita mengatakan bahwa sebuah arus
listrik (i) dihasilkan ; jika sebuah muatah netto (q) lewat melalui suatu penampang
penghantar selama waktu (t), maka arus (yang dianggap konstan) adalah :
𝐼=
𝑞
… … . … … … … … … … … … … … … … … … . . … . (2.1)
𝑡
Arus (i) adalah kharakteristik dari suatu penghantar khas. Arus tersebut adalah sebuah
kuantitas makroskopik, seperti massa sebuah benda, volume sebuah benda, atau panjang
sebuah tongkat. Sebuah kuantitas mikroskopik yang dihubungkan dengan itu adalah rapat
penghantar dan bukan merupakan ciri penghantar secara keseluruhan (Halliday, 1996).
2
2.2 Kalor
Energi mekanik akibat gerakan partikel materi dan dapat dipindah dari satu tempat ke tempat
lain disebut kalor. Pengukuran jumlah kalor reaksi yang diserap atau dilepaskan pada suatu
reaksi kimia dengan eksperimen disebut kalorimetri. Dengan menggunakan hukum Hess,
kalor reaksi suatu reaksi kimia dapat ditentukan berdasarkan data perubahan entalpi
pembentukan standar, energi ikatan dan secara eksperimen. Proses dalam kalorimetri
berlangsung secara adiabatik, yaitu tidak ada energi yang lepas atau masuk dari luar ke dalam
kalorimeter.
Kalor yag dibutuhkan untuk menaikan suhu kalorimeter sebesar 10oC pada air dengan massa
1 gram disebut tetapan kalorimetri.
Dalam proses ini berlaku Azas Black, yaitu:
Qlepas = Qterima........................................................................(2.2)
Qair panas= Qair dingin+ Qkalorimetri ......................................................................(2.3)
m1 c (Tp-Tc)= m2 c (Tc-Td)+ C (Tc-Td)....................................(2.4)
Keterangan:
m1= massa air panas
m2= massa air dingin
c = kalor jenis air
C = kapasitas calorimeter
Tp = suhu air panas
Tc = suhu air campuran
Td = suhu air dingin
Sedang hubungan kuantitatif antara kalor dan bentuk lain energi disebut termodinamika.
Termodinamika dapat didefinisikan sebagai cabang kimia yang menangani hubungan kalor,
kerja, dan bentuk lain energi dengan kesetimbangan dalam reaksi kimia dan dalam perubahan
keadaan.
3
Hukum pertama termodinamika menghubungkan perubahan energi dalam suatu proses
termodinamika dengan jumlah kerja yang dilakukan pada sistem dan jumlah kalor yang
dipindahkan ke system (Keenan, 1980).
Hukum kedua termodinamika yaitu membahas tentang reaksi spontan dan tidak spontan.
Proses spontan yaitu reaksi yang berlangsung tanpa pengaruh luar. Sedangkan reaksi tidak
spontan tidak terjadi tanpa bantuan luar. Hukum ketiga termodinamika menyatakan bahwa
entropi dari Kristal sempurna murni pada suhu nol mutlak ialah nol. Kristal sempurna murni
pada suhu nol mutlak menunjukan keteraturan tertinggi yang dimungkinkan dalam sistem
termodinamika. Jika suhu ditingkatkan sedikit di atas 0 K, entropi meningkat. Entropi mutlak
selalu mempunyai nilai positif.
Kalor reaksi dapat diperoleh dari hubungan maka zat (m), kalor jenis zat (c) dan perubahan
suhu (ΔT), yang dinyatakan dengan persamaan berikut
q = m.c.ΔT.....................................................(2.5)
Keterangan:
q= jumlah kalor (Joule)
m= massa zat (gram)
ΔT= perubahan suhu (takhir-tawal)
C= kalor jenis
Kalorimeter adalah jenis zat dalam pengukuran panas dari reaksi kimia atau perubahan fisik.
Kalorimetri termasuk penggunaan kalorimeter. Kata kalormetri berasal dari bahasa latin yaitu
calor, yang berarti panas. Kalorimetri tidak langsung (indirect calorimetry) menghitung panas
pada makhluk hidup yang memproduksi karbon dioksida dan buangan nitrogen (ammonia,
untuk organisme perairan, urea, untuk organisme darat) atau konsumsi oksigen. Lavoisier
(1780) menyatakan bahwa produksi panas dapat diperkirakan dari konsumsi oksigen dengan
menggunakan regresi acak. Hal ini membenarkan teori energi dinamik. Pengeluaran panas
oleh makhluk hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk dilakukan langsung, di mana
makhluk hidup ditempatkan di dalam kalorimeter untuk dilakukan pengukuran. Jika benda
atau sistem diisolasi dari alam, maka temperatur harus tetap konstan. Jika energi masuk atau
keluar, temperatur akan berubah (Petrucci, 1987).
4
2.3 Hukum Ohm
Hukum ohm berbunyi sebagai berikut: besarnya kuat arus yang timbul pada suatu pengantar
berbanding lurus dengan beda potensial atau tegangan antara kedua ujung pengantar tersebut.
Hukum ohm menggambarkan bagaimana arus, tegangan, dan tahanan berhubungan. George
ohm menentukan secara eksperimental bahwa jika tegangan yang melewati sebuah tahanan
bertambah nilainya maka arusnya juga akan bertambah nilainya. Begitu juga sebaliknya.
Hukum ohm dapat dituliskan dalam rumus sebagai berikut
V=IR........................................................(2.6)
Keterangan :
V= tegangan
R= tahanan
I= kuat arus
Hukum ohm juga menyatakan bahwa pada tegangan yang konstan, jika nilai tahanan di
perkecil maka akan diperoleh arus yang lebih kuat. Begitu juga sebaliknya dan dapat ditulis
sebagai berikut.
I= V/R ........................................................(2.7)
Hukum ohm dapat diterapkan dalam rangkaian tahana seri. Yang di maksud dengan
rangkaian tahanan seri adalah tahanan di hubungkan ujung tahanan yang ada pada rangkaian
ke ujung atau dalam suatu rantai. Untuk mencari arus yang mengalir pada rangkaian seri
dengan tahanan lebih dar satu, diperlukan jumalah total nilai tahanan tahanan tersebut. Hal ini
dapat di mengerti karena setiap tahanan yang ada pada rangkaian seri akan memberikan
hambatan bagi arus untuk mengalir (Rusdianto, 1999).
5
BAB III METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Peralatan dan Bahan
Peralatan dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah kalorimeter dengan
perlengkapannya satu set, thermometer satu, adaptor satu, stopwatch satu, tahanan geser (Rg)
satu, amperemeter (A) satu, dan voltmeter satu.
3.2 Langkah Kerja
Hal pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah dibuat rangkaian seperti pada
gambar 3.1 dan 3.2 . Lalu dihubungkan tegangan PLN se ijin Asisten, diisi kalorimeter
dengan air, dicatat masa air dalam kalorimeter, dan diberi beda potensial 14,5 volt. Kemudian
dicatat waktu setiap kenaikan 1 derjat celsius, dan dilakukan pada setiap rangkaian masing
masing dua kali.
+
-
E
V
-
A
+
Thermomete
+
K
(a)
Gambar 3. 1 : Gambar Rangkaian 1
_
+
AV
E
+
-
_
V
+
Thermomete
r
K
(b)
Gambar 3. 2 : Gambar Rangkaian 2
6
BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisa Data
Dari percobaan yang telah kami lakukan, didapatkan data sebagai berikut :
Table 1: Tabel Data Hasil Percobaan pada Rangkaian 1
No.
m (gram)
V (Volt)
T (°C)
t (detik)
1
235
10
16
0
2
235
10
17
279
3
235
10
18
187
4
235
10
19
191
5
235
10
20
206
6
235
10
21
194
7
235
10
22
209
8
235
10
23
187
9
235
10
24
215
10
235
10
25
247
11
235
10
26
198
12
235
10
27
205
13
235
10
28
293
14
235
10
29
198
15
235
10
30
271
Percobaan ini dilakukan dengan menggunakan tegangan sebesar 10 Volt dan arus sebesar 0,5
Ampere.
4.2 Perhitungan
Contoh perhitungannya sebagai berikut :
Rangkaian A pada suhu 17 °C
Diketahui :
Massa (m) = 235 gram
Tegangan (V) = 10 Volt
Arus (i) = 0,5 Ampere
7
Waktu (t) = 279 s
Ditanya :
H=?
Q1 = ?
Q2 = ?
1 Joule = ?
Jawab :
H=
Vit
=
(10 ) (0,5) (4,39)
H=
21,95 Joule
Q1 =
m ∆T
= (235) (17-16)
Q1= 235 kalori
Q2 = 0,26m ∆T
= (0,26) (235) (17-16)
Q2 =
61,1 kalori
1 Joule =
=
Q1+ Q2
𝐻
235+61,1
1395
= 0,2123 kal
Selanjutnya akan disajikan hasil dari perhitungan kami dengan data yang diperoleh
sebelumnya.
8
Table 2 : Tabel Data Hasil Perhitungan pada Rangkaian 1
m
I
V
T
Q1
Q2
1
(gram)
(A)
(volt)
(°C)
(Kal)
(kal)
Joule
1
235
0,5
10
16
0
0
0
0
0
2
235
0,5
10
17
279
1395
235
61,1
0,2123
3
235
0,5
10
18
187
935
470
122,2
0,6334
4
235
0,5
10
19
191
955
705
183,3
0,9302
5
235
0,5
10
20
206
1030
940
244,4
1,1499
6
235
0,5
10
21
194
970
1175
305,5
1,5263
7
235
0,5
10
22
209
1045
1410
366,6
1,7001
8
235
0,5
10
23
187
935
1645
427,7
2,2168
9
235
0,5
10
24
215
1075
1880
488,8
2,2035
10
235
0,5
10
25
247
1235
2115
549,9
2,1578
11
235
0,5
10
26
198
990
2350
611
2,9909
12
235
0,5
10
27
205
1025
2585
672,1
3,1777
13
235
0,5
10
28
293
1465
2820
733,2
2,4254
14
235
0,5
10
29
198
990
3055
794,3
3,8882
15
235
0,5
10
30
271
1355
3290
855,4
3,0593
No
t
H
(detik) (Joule)
4.4 Pembahasan
Berdasarkan teori dasar dan hasil percobaan yang dilakukan mengenai percobaan “Panas
yang ditimbulkan oleh Arus Listrik” dengan tujuan menentukan panas yang ditimbulkan oleh
arus listrik, membuktikan Hukum Joule, dan menentukan harga 1 Joule. Adapun peralatan
dan bahan yang digunakan adalah stopwatch yang berfungsi sebagai alat penghitung waktu
pada saat melakukan percobaan. Kalorimeter yang berfungsi sebagai media dan wadah untuk
mengaliri panas dari arus listrik menuju ke air, sehingga kita dapat mengukur kenaikan suhu
yang tejadi pada air di dalam kalorimeter tersebut sebagai bukti bahwa arus listrik itu dapat
menghasilkan panas. Termometer yang berfungsi sebagai alat untuk mengukur suhu air pada
kalorimeter, adaptor atau power supply yang berfungsi sebagai sumber energi dari arus listrik
yang dihubungkan dengan listrik PLN. Resistor atau hambatan yang berfungsi sebagai
pemberi hambatan kepada arus listrik yang mengalir pada konduktor, yangmana jenis resistor
yang digunakan adalah resistor geser yang juga dapat mengatur beda potensial dan arus agar
selalu tetap. Voltmeter berfungsi sebagai alat untuk mengukur beda potensial yang akan
9
digunakan, pada percobaan ini beda potensial yang digunakan adalah 10 Volt, sedangkan
skala pada voltmeter yang digunakan adalah 15 V, sehingga harus diatur terlebih dahulu beda
potensialnya menjadi 10 V dengan memberikan hambatan. Amperemeter berfungsi sebagai
alat yang digunakan untuk mengukur arus listrik yang digunakan dalam percobaan, adapun
besar arus yang digunakan adalah sebesar 0,5 Ampere, namun skala yang digunakan adalah
0,6 Ampere, sehingga praktikan harus mengatur terlebih dahulu besar arusnya menjadi 0,5
Ampere.
Langkah awal yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menimbang massa wadah pada
kalorimeter yang nantinya akan diisi air yang berasal dari es batu yang telah dicairkan,
setelah itu mencatat massa wadah dan memasukkan air yang telah dicairkan, lalu menimbang
kembali berat wadah tersebut, sehingga nanti akan diketahui massa air yang digunakan
dengan mencari selisih massa wadah + air dikurangi massa wadah kosong. Setelah dilakukan
pengukuran dan perhitungan diketahui massa airnya 235 gram. Langkah selanjutnya yang
dilakukan adalah merangkai alat sesuai dengan petunjuk yang tertera pada modul. Dalam
praktikum kali ini kita hanya melakukan praktikum dengan meggunakan rangkaian A
(pertama). Dalam merangkai alat sangat dibutuhkan skill dan keuletan agar dapat merangkai
alat dengan benar sehingga rangkain tersebut dapat digunakan dalam percobaan. Kesulitan
yang sering terjadi adalah memasangkan dan menyambungkan kabel-kabel yang ada agar
terpasang ditempat yang benar. Setelah merangkai alat, langkah selanjutnya yang dilakukan
adalah memasukan wadah yang telah berisi air kedalam kalorimeter, lalu memasangkan
sebuah termometer pada kalorimeter hingga termometer tersebut menyentuh air yang ada
dalam kalorimeter. Namun, jangan sampai termometer tersebut mengenai gumparan yang
terdapat dalam kalorimeter. Hal ini dikarenakan jika termometer tersebut bersentuhan dengan
gumparan, maka suhu pada termometer akan cepat naik sehingga suhu yang terukur pada
termometer tidak mencerminkan suhu air yang sebenarnya, melainkan dipengaruhi oleh
panas yang dihasilkan oleh gumparan tersebut.
Selanjutnya hal yang dilakukan adalah mengatur skala pada voltmeter, amperemeter,
menghidupkan power supply, dan mensett stopwatch dalam kondisi nol. Setelah itu jangan
lupa mengukur suhu air awal pada termometer sebelum percobaan dilakukan dan
mencatatnya. Hal yang nantinya akan diukur dan dihitung dalam percobaan ini adalah waktu
yang diperlukan untuk menaikan suhu sebesar 1 °C pada termometer, menghitung harga
besaran H, Q1, Q2, dan harga 1 Joule dala kalori. Interval suhu yang akan diukur adalah suhu
awal yang terlihat pada termometer yaitu 16 °C sampai 30 °C. Adapun selisih waktu yang
10
didapatkan dalam percobaan itu berbeda-beda setiap kenaikan 1°C. Hal ini dipengaruhi oleh
ketepatan dan keuletan dalam melihat stopwatch dan termometer.
Setelah melakukan percobaan dan perhitungan, didapatkan harga 1 Joule dalam kalori yang
berbeda-beda tiap kenaikan suhu sebesar 1°C. Harga rata-rata 1 Joule yang didapatkan adalah
= 2,0194 Kalori, nilai ini jauh sekali perbedaannya dengan teori yang ada yaitu 1 joule = 0,24
kalori. Namun, nilai yang paling mendekati yang didapatkan adalah pada saat suhu 17 °C,
waktunya 279 detik, H = 1395 Joule, Q1 = 235 kalori dan Q2 = 61,1 Kalori. Jadi dapat
disimpulkan semakin besar nilai H, dan semakin kecil nilai Q, maka itu adalah perbandingan
yang seimbang untuk memperoleh harga 1 Joule dalam kalori. Adapun kalau dilihat pada
grafik T → t didapatkan perbandingan tegak lurus, yaitu semakin tinggi suhunya maka waktu
yang dibutuhkan juga semakin lama. Selain itu, dalam percobaan ini juga terbukti kalau arus
listrik itu dapat menimbulkan panas, hal ini disebabkan adanya elektron yang bergerak
melalui suatu konduktor yang telah diberi energi listrik dan diberi resistor, sehingga terjadi
tumbukan antara elektron-elektron dengan konduktor dan resistor yang dapat menghasilkan
panas. Semakin besar hambatan yang diberikan, maka semakin banyak panas yang akan
dihasilkan.
Adanya perbedaan harga 1 Joule dalam kalori yang didapatkan dipengaruhi oleh beberapa
faktor, yaitu faktor eksternal dan internal. Contoh faktor eksternal disini adalah kurangnya
optimasi kerja dan fungsi alat, faktor suhu di luar sistem dan lainnya. Sedangkan faktor
internal dapat berupa kesalahan paralaks, kesalahan dalam mengkalibrasi alat dan lainnya.
11
BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan teori dasar yang ada dan data hasil percobaan mengenai
“Panas yang
ditimbulkan oleh Arus Listrik”, dapat disimpulkan bahwa :
1. Harga H dalam percobaan adalah :
Hrata-rata pada rangkaian 1 : 1100 Joule
2. Harga energi termal adalah :
Pada rangkaian 1
Q1rata-rata = 1762,5 Kalori
Q2rata-rata = 458,25 Kalori
3. Dari data rangkaian diatas dapat diperoleh Tara Kalor Mekanik : Harga 1 Joulerata-rata
= 2,0194 Kalori
4. Perbandingan suhu ( kenaikan ) dengan waktu selama arus mengalir berbanding lurus
(T~t).
5. Dalam percobaan ini terjadi kesalahan, disebabkan ketidaktelitian dan kesalahan
selama percobaan diantaranya :
Adanya energi termal pada Rg yang disebabkan oleh energi listrik.

Kalorimeter terbuka sehingga adanya penyerapan panas oleh udara.

Tidak semua panas terserap oleh air dan kalorimeter namun juga oleh kawat
spiral yang dalam hal ini tidak diperhitungkan demikian pula plastik hitam
penutup kalorimeter.

Terjadinya kesalahan paralaks dan kesalahan dalam mengkalibrasi alat
Namun, meskipun ada ketidakcocokan namun disini yang paling pokok adalah :
“ Energi listrik dapat dikonversikan menjadi energi termal ( Hukum Joule ) dengan
perbandingan yang sama Asas Black.”
12
DAFTAR PUSTAKA
Dosen-DosenFisika. (2014). FISIKA II LISTRIK - MAGNET - GELOMBANG - OPTIKA - FISIKA MODERN.
Surabaya: ITS Press.
Halliday, D. (1996). Fisika. Jakarta: Erlangga.
Keenan. (1980). Kimia untuk Universitas. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, R. H. (1987). Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern Jilid 2 Edisi 4. Jakarta: Erlangga.
Rusdianto, E. (1999). Penerapan Konsep Dasar Listrik dan Elektronika. Yogyakarta: Kanisius.
13
Download