BAB II KERANGKA TEORISASI A. Pendekatan Pendidikan Sosial

advertisement
BAB II
KERANGKA TEORISASI
A. Pendekatan Pendidikan Sosial Peningkatan Kualitas SDM
1. Pendekatan Pendidikan Sosial
Istilah
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial
menurut
Muhammad
Nu'man
Somantri dalam
makalah
yang
berjudul
Penelusuran Filsafat Ilmu Tentang PIPS dan Kaitan Struktural
Fungsionalnya Dengan Disiplin Ilmu-Ilmu Sosial pada
Forum
Komunikasi IV Pimpinan FPIPS-IKIP dan Jurusan Pendidikan IPSFKIP Universitas di Ujung Pandang ( 1993 ) mengemukakan bahwa
dalam " nomenclature
filsafat ilmu, disiplin ilmu-ilmu
sosial, dan ilmu pendidikan , kita belum menemukan sub-sub
disiplin ilmu yang diberi nama " Pendidikan Ilmu Pengetahuan
Sosial " ( PIPS ) yang dalam kepustakaan SSEC dan NCSS di sebut
" Social Science Education dail Sooi.ftl Studies
Istilah Studi Sosial atau Pendidikan Sosial
muncul
sebagai sebutan bagi pendidikan ilmu-ilmu sosial
sebagai
terjemahan dari " Social Studies " yang telah lama digunakan di
Amerika Serikat untuk mata pelajaran pada kurikulum sekolah. Di
Indonesia diperkenalkan pendidikan sosial sejak tahun 1971 pada
Seminar Nasional Civics Education di Tawangmangu - Solo (
Panitia Seminar Civics Education ). Didasari hasil survai
pelajaran ilmu-ilmu sosial pada tahun 1969, dan kemudian
disusul, dengan munculnya naskah yang berjudul " Tantangan Dalam
Pengajaran Ilmu Sosial " yang ditulis oleh Hartshorn dan Nu'man
Somantri ( Suwarma Al Muchtar, 1991 : 48 ).
Penggunaan istilah " studi sosial ", kendatipun tidak
dijadikan nama bagi pendidikan IPS, namun terus berkembang
sebagai sebutan dalam pembaharuan pendidikan IPS, yang secara
operasional
lebih
berperan sebagai "
pendekatan
dalam
pengembangan
kurikulum " pendidikan
IPS. Implikasi
dari
studi sosial sebagai terjemahan dari " social studies "
dijadikan acuan teoritik dalam pengembangan pendidikan IPS di
Indonesia. Beberapa istilah yang digunakan dalam pendidikan IPS
antara lain menurut Gross dan Zeleny adalah Civics. Ciyjcs
m
Education. Sedangkan menurut Wesley Soclal Studles- Social
Sciences
dan Sosial Educatlon. sering
digunakan
secara
bergantian, " Soclal Sciences " sebagai organisasi dari
bodles of knowledge " mengenai hubungan antar manusia. Begitu
pula Marsh dan Print menggunakan " Soclal Sciences " untuk
kelompok mata pelajaran sosial dalam kurikulum sekolah
(
Suwarma Al Muchtar : 1991 )Sedangkan istilah " social studles " menurut Barr, Barth
dan Shermis ( 1977 ) adalah sebagai integrasi dari ilmu-ilmu
sosial dan humanitis untuk kepentingan pendidikan kewargaan
negara (" citizenshlp education "), sehingga model " soclal
studles " sebagal soclal sclence, citizenshlp education, dan
reflective inguiry ". Dihubungkan dengan pendekatan pendidikan
sosial dalam rangka fokus penelitian ini, tentunya mempunyai
kontekstual terhadap " soclal studies &£ citizenship education
Pendidikan sosial sebagai intergrasi
atau
totalitas
transformasi dan internalisasi nilai pengetahuan, sikap dan
pengalaman dalam rangka hubungan manusia bagi kepentingan
tujuan pendidikan warga negara. Adapun tujuan yang dikehendaki
dari " soclal studles " bagi " citizenshlp education " untuk
memperoleh efektivitas pengetahuan, sikap, kepercayaan dan
keterampilan yang dibutuhkan melalui proses transformasi nilai
guna menumbuhkan partisipasi sosial bagi perubahan sosial.
2. Pendidikan Untuk Perubahan Sosial Menuju SDM
Salah
satu
karakteristik utama
kebanyakan
negara
berkembang adalah komitmen dan konsisten terhadap pembangunan
nasional.
Pembangunan Nasional pada prinsipnya
merupakan
perubahan sosial yang besar dari satu situasi ke situasi lain
yang lebih bernilai, dari statis ke dinamis, dari masyarakat
tradisional
menuju
mansyarakat
industri
atau
modern.
Pembangunan sebagai proses perubahan yang terencana dalam
rangka perbaikan tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat
bersifat
multidisipliner, komprehensif dan integral
yang
berakar pada suatu konfigurasi lingkungan sosial budaya.
31
Perubahan sosial yang diwarnai oleh dinamika perilaku
masyarakat tidak dapat dipisahkan dari sistem sosial, baik yang
bersumber dari faktor internal maupun eksternal sistem sosial.
Perubahan sosial terjadi dalam sistem sosial harus memenuhi
persyaratan fungsional, yaitu " adaptation " ( penyesuaian diri
)»
" goal attainment " ( mencapai tujuan ), " integration
( integrasi ) , dan " latent maintenance "
( pemeliharaan
pola ) dalam kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Mengingat
masyarakat terdiri dari subsistem budaya, subsistem sosial dan
subsistem kepribadian berupa individu-individu. Sistem budaya
berisi nilai-nilai, norma-noram, pengetahuan dan kepercayaan
atau keyakinan hidup yang dianut bersama ( " shared "). Dalam
sistem sosial terdapat struktur peran yaitu perilaku yang
diharapakan dan dilakukan seseorang sesuai dengan
status
sosialnya
( " Hfllfi ftypactation " ).
Sedangkan
sistem
kepribadian, setiap individu memiliki keperluan yang lahir atau
dibentuk saat berlangsungnya proses sosialisasi bagi dirinya (
Parson dalam Sudardja Adiwikarta, 1988 ).
Sistem sosial merupakan salah satu wujud dari kebudayaan,
disamping wujud idiil dan fisik, sehingga sistem
sosial
bersifat kompleks. Sifat komplek dari sistem sosial, karena
mencerminkan aktivitas pola perilaku
dari setiap individu
berdasarkan struktur, norma, nilai, kepercayaan dan
lain
sebagainya dalam masyarakat. Sistem sosial budaya menurut
komponennya
dapat membentuk
yaitu : keluarga,
ekonomi,
pemerintahan,
agama, pendidikan dan kelas
atau
lapisan
masyarakat. Komponen-komponen tersebut dapat dipengaruhi oleh :
a). Ekologi r tempat dan geografi dimana masyarakat berada;
b). Demografi. menyangkut populasi, susunan penduduk dan
ciri-ciri penduduknya ;
c). Kebudayaan. menyangkut nilai-nilai
sosial,
sistem
kepercayaan, dan norma-norma dalam masyarakat ;
d). Kepribadian, meliputi sikap mental, semangat, temperamen
dan ciri-ciri psikologis masyarakat ;
e). Haktll, sejarah dan latar belakang masa lampau masyarakat
tersebut ( Slamet Margono, 1985 ).
32
Gambar. II.1. MASYARAKAT SEBAGAI SISTEM SOSIAL
I
Waktu
i
Keluarga
B/
^
- III
Demografi
II
• C.
Kebudayaan
Lapisan Masyarakat
Keterangan :
-> Interaksi, interelasi dan interdependesl
=> Kekuatan mempengaruhi ke semua arah
Ferdinan Toennies ( dalam Slamet Margono, 1986 ) suatu
masyarakat dapat mengalami fase ." Gemeinsphaft " atau fase
Gesseleschaft " . Sifat dari masyarakat
" Gemeinschaft
adanya keterikatan yang bersifat emosional dibandingkan dengan
2. Gesselschaft "
yang bersifat rasional. Masyarakat
Gemeinschaft "
biasanya lebih berorientasi ke masa silam
bersikap
fatalistik dan dogmatik.
Sebaliknya
masyarakat
"GesselBchaft " lebih beroirentasi ke masa depan dan bersifat
obyektif. Sedangkan Durhkeim mengatakan bahwa adanya proses
perubahan sosial disebabkan oleh solidaritas mekanik
dan
solidaritas organik. Solidaritas mekanik, manusia dilahirkan
dalam
lingkungan
sosialnya yang akan
membentuk
ikatan
emosional. Bentuk perubahan sosial atas dasar solidaritas
organik, manusia sebagai alat untuk mencapai tujuan.
Smelser ( Etziona, 1974 ) berpendapat bahwa terdapat
hubungan erat antara ekonomi dengan perubahan struktur sosial,
karena sistem ekonomi memerlukan dan dilandasi oleh suatu
struktur masyarakat tertentu. Dengan perkataan lain setiap
struktur sosial merupakan ekologi dari bentuk sistem ekonomi
33
sekaligus
bersifat pengadaan struktur sosial
baru
yang
menunjangnya. Pendekatan semacam ini adanya " adaptasi " dan
keharusan " instrumen teknologi sebagai pengganti
tenaga
manusia telah merubah struktur sosial masyarakat. Heilbron (
Slamet Margono, 1986 ) sebaliknya mempunyai pemikiran bahwa
struktur
sosial yang tepat dari suatu masyarakat
harus
menunjang sistem ekonomi agar berfungsi dengan baik. Unsur yang
ikut
menentukan adalah peran individu dalam
masyarakat,
spesialisasi pekerjaan dan kesempatan kerja yang merata serta
meningkat, keterbatasan sumber daya manusia melalui pendidikan
dan
keterampilan, maupun sistem organisasi ekonomi
yang
menunjang. Sepaham dengan Chodak dan Ekeh ( Astrid S. Susanto,
1984 ), terjadinya perubahan sosial menuju modernisasi dan
industrialisasi unsur pertukaran sosial ( " social change " )
timbul sebagai akibat diversifikasi dan spesialisasi pekerjaan
yang biasanya menginginkan sikap demokratis dan adanya sikap
timbal balik dalam hubungan antar manusia.
Sejak dekade tahun 1980 kehidupan dunia ditandai oleh
adanya
krisis dehumanisasi kemiskinan,
kerusakan
sistem
lingkungan dan struktur sosial sebagai implikasi dari perang
nuklir. Pada dekade tahun 1990 dan menjelang abad ke 21
merupakan periode " human soclety " atau periode karakteristik
perjuangan kelangsungan hidup , yang ditandai oleh gejala
globalisasi dan arus informasi ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam perubahan masyarakat seperti ini memerlukan strategi
pembangunan yang berwawasan sosial, tekanan upaya pertumbuhan
selama ini memerlukan perombakan strategi pada
transformasi
pembangunan sosial yang memperhatikan kapabilitas institusi /
kelembagaan, ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai, sikap dan
perilaku manusia yang konsisten dengan lingkungan dan realita
sosial. Strategi transformasi sosial tersebut dilandasi tiga
kebutuhan
dasar
globalisasi sosial berupa
"
Justlce,
Sustainabllity and Inci vs i veness " { David C. Korten, 1989 ).
Berkenaan dengan asumsi dasar di atas, menunjukkan bahwa
perubahan sosial biasanya mempunyai akses terhadap kemampuan
institusi
pemerintah dan institusi sosial
dalam
proses
34
perubahan struktur , perilaku, nilai dalam lingkungan
sosial
untuk mengantisipasi krisis pertumbuhan penduduk, kemiskinan,
kebodohan,
dan pertumbuhan ekonomi.
Masalah
kemiskinan,
keterbelakangan dan kebodohan masyarakat, khususnya masyarakat
pedesaan
dipengaruhi
oleh faktor sumber
daya
manusia,
sumber daya alam, teknologi, lapangan kerja, permodalan dan
kelembagaan yang saling keterkaitan dan ketergantungan satu
sama lain yang bersifat ekonomi, politik,sosial dan budaya.
Perubahan sosial mempunyai relevansi dengan perubahan
ekonomi, politik, kebudayaan, termasuk ilmu pengetahuan dan
tekonologi melalui proses pendidikan secara timbal balik.
Pendidikan dapat mempercepat perubahan teknologi,
sosial,
ekonomi, politik dan budaya. Perubahan pendidikan masyarakat
menghasilkan perubahan sosial diberbagai aspek
dengan aneka
ragam perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Perubahan sosial
yang demikian melalui fase inovasi, difusi, dan konsekuensi
nilai yang direncanakan atau tidak, evolusi dan revolusi maupun
internal sistem maupun eksternal sistem sosial.Konsepsi Basil
dan Cook ( Slamet Margono : 1986 ) menggambarkan bentuk
mekanisme perubahan sosial yang disebabkan oleh transformasi
pendidikan dan teknologi kepada masyarakat sehingga terdapat
hubungan kontributor sosio-ekonomi utama dalam
pertumbhan
nasional adalah sebagai berikut :
Gambar III.2. PENDIDIKAN DAN TEKNOLOGI DALAM PERUBAHAN SOSIAL
*
*
*
*
Tata Nilai
Aspirasi
Kerangka Kelembagaan
Masyarakat
35
Keunggulan bidang pendidikan dalam berbagai jenjang,
jenis dan jalur pendidikan akan memberi kontribusi terhadap
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai investasi bagi
peningkatan kualitas sumber daya manusia dalam
perubahan
sosial. Pertanda meningkatnya kualitas manusia diiringi dengan
produktivitas kerja, profesional, etos kerja maupun kemandirian
dalam proses peningkatan kesej ahteraannya. Dalam
dinamika
proses
berlangsungnya
hubungan
kontributor
tersebut,
dipengaruhi oleh sistem tata nilai, aspirasi serta kerangka
kelembagaan
masyarakat pada waktu
berlangsungnya
proses
perubahan sosial. Perubahan sosial dapat dilihat pula
melalui
perubahan dalam distribusi status masyarakat dan perubahan
dalam peran-peran yang mencakup hak dan kewajiban, serta
perubahan dalam norma antar warga dengan masyarakat, perubahan
seperti ini lebih konsisten pada perubahan sosial budaya.
Pendidikan sebagai sistem nilai dan kepercayaan, pengetahuan,
norma serta adat kebiasaan serta berbagai perilaku yang telah
membudaya untuk diwariskan melalui proses sosialisasi dari satu
generasi kegenerasi berikutnya.
Dalam proses regenerasi terdapat dua peran pendidikan
dalam perubahan sosial, yaitu : pertama, pendidikan berperanan
dalam upaya mewariskan kebudayaan dan sistem sosial; dan kedua
peranan pendidikan sebagai pembawa atau pelaku
perubahan
masyarakat atau " agen t of ch&nge ". Kedua, peranan pendidikan
tersebut dalam rangka perubahan yang cepat, biasanya dikaitkan
dengan teknologi, karena penerapan teknologi merupakan sumber
utama
perubahan sosial
bila dibandingkan
dengan
aspek
perubahan mental
dan rohani. Apabila tidak seimbang antara
penerapan teknologi dengan aspek kehidupan mental dan rohani
dalam proses perubahan sosial, bentuk seperti ini biasanya
dapat menimbulkan " cul tur e lag " .
Peranan pendidikan sebagai salah satu unsur dinamika
sosial mempunyai kontribusi terhadap peningkatan
kualitas
sumber daya manusia dan masyarakat. Hal ini seperti dikemukakan
oleh C. Arnold dalam Wiener dikutip Soepardjo Adikusumo, dkk (
1992 ) terdapat hubungan antara perubahan sosial, modernisasi
36
dengan peranan pendidikan dalam rangka
" empowerment
sehubungan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Pernyataan tersebut tegasnya dikatakan sebagai :
Modernlzation and social change can be achieved only by
improving and extending educatlon. Why do the leader of
developing countries put so much emphasis on the point ?
First, you much have education before you can obtain
technologlcal and economic progress. To boot food
production , to operate factories, to apply science for
Improvement of life, or to trade in world markets, acountry
has t o have a large group o f well-trained people. Scound
to unity a collectlon of people and tribes into nation, you
also need education. Man cannot understand the i r fellow
citlzens and widen their loyalitles beyond the vallage i f
they cannot communicate ....Third. a political state in
modern world can survive only i f its officials can coordlnate administration over large areas ... A people has
t o learn how t o behave so that there can be an effectlve
modern state and society ...Finally. since schools have
important political purposes, we should point out that
pupils a indoctrinated ".
Fungsi, peranan dan kedudukan pendidikan dalam proses
transformasi sosial dalam rangka modernisasi melalui berbagai
program pembangunan sosial, terutama peningkatan
kualitas
manusia sebagai mahluk pribadi, Tuhan dan sosial
sangat
strategis
dan
menyeluruh. Modernisasi
yang
menimbulkan
perubahan sosial tidak akan berlangsung tanpa didukung dengan
sumber daya manusia yang terdidik. Untuk menggalang tenaga
manusia,
merebut
teknologi,
menertibkan
administrasi,
mengembangkan industri , membangun pabrik,
mendayagunakan
sumber daya alam dan lain sebagainya, kesemuanya membutuhkan
sumber
daya manusia yang berkualitas
guna
meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.
Peter Ranis
dalam Jan Knippers Black ( 1990 : 8 )
menjelaskan bahwa karakteristik proses perubahan sosial pada
37
negara berkembang di Asia, Amerika Latin dan Afrika menuju
modernisasi yang terencana dalam rangka
dehumanisasi Jl
mengandung aspek rasionalisasi ilmu pengetahuan dan teknologi;
orientasi
individu
yang mempunyai
kepentingan
bersama;
orientasi
konsumtif;
mobilisasi
kehidupan
perkotaan;
partisipasi yang disebabkan oleh mobilisasi dan kemampuan
organisasi
dalam memperjuangkan kepentingan individu
dan
kelompok; integrasi sosial; dan perluasan kesempatan
dan
perluasan pendidikan dan minat baca masyarakat yang tinggi.
Hal ini mendukung hasil penelitian sebelumnya
yang
dilakukan oleh Daniel Lerner di Timur Tengar tahun 1965-1970
bahwa perubahan sosial terjadi akibat fungsi individu dalam
sikap dan perilaku dalam pola tradisional ke pola modernisasi
baik
adanya
diferensiasi struktur
dan
fungsi
sosial,
redistribusi pendapatan dan suasana demokrasi yang didukung
oleh kemampuan masyarakat dalam aktivitas pendidikan, saluran
media masa, kemampuan minat baca dan partisipasi masa yang
terorganisir.
Kesemuanya
ini
dinamakan
memudarnya
masyarakat
tradisional menuju modernitas melalui perubahan sosial atau
passing in the tradisional society " . Terdapat indikator yang
sangat kuat adanya fungsi pemberdayaan atau " empowerment
masyarakat dalam perubahan sosial ekonomi melalui pendidikan
terutama bagi masyarakat tradisional. Pemberdayaan merupakan
strategi
pendidikan yang umumnya diterapkan dalam
upaya
pemerataan, relevansi dan tujuan pendidikan tingkat masyarakat
di pedesaan untuk menghubungkan modernisasi dan pembangunan,
dengan tujuan mendukung " Gross National Product " dan " Rate
o f Growth " untuk kemajuan sosial ekonomi dan peningkatan
kualitas hidup yang dikembangkan tahun 1980.
Alasannya
pendidikan bagi masyarakat
dalam
rangka
perubahan dan dinamika sosial adalah : adanya energi sosial
untuk ditingkatkan kualitasnya bagi tujuan sosial ekonomi,
t
pengembangan pendidikan yang relevan dengan dunia kerja dan
bisnis, sikap dan perilaku inidividu secara kerjasama dan
integrasi merupakan bentuk
kelangsungan budaya, pendidikan
38
merupakan
akar pembangunan dan kekuasaan
sentral
dalam
kehidupan maupun elit yang berkuasa harus konsern terhadap
pemberdayaan sebagai perwujudan dari " nature collective or
communal ".
Terdapat relevansi antara pendidikan dan pembangunan
melalui perubahan sosial pada negara-negara berkembang dalam
rangka meningkatkan kualitas sumber daya manusia
sebagai
potensi utama pembangunan- Indonesia sebagai negara berkembang
secara konsisten telah melaksanakan pembangunan sejak orde baru
lahir melalui Pelita I sampai V. Pada Pelita VI ditandai dengan
era PJP II, lebih menitik beratkan dan menegaskan ulang
relevansi tersebut, sehingga menjadi akses dalam GBHN tahun
1993/94-1998/89
bahwa adanya kecenderungan
kuat
antara
pendidikan dan kebutuhan pembangunan dalam rangka perubahan
sosial melalui strategi " Link and Match " yang ditandai oleh :
Pertama. Semakin tingginya tuntutan dunia kerja sejalan dengan
pembangunan baik kuantitatif maupun kualitatif ;
Perubahan dalam struktur dan persyaratan dunia kerja
Kedua,
yang semakin kompetitif dan mengandalkan keahlian
dalam suatu bidang tertentu, tanpa mengabaikan
wawasan dan pengetahuan secara interdisipliner ;
adanya
Ketiga, Kecenderungan umum dalam dunia pendidikan
perubahan
cara
berpikir
yang
menyangkut
pengetahuan, sikap, kemauan, dan keterampilam yang
fungsional bagi kehidupan sebagai pribadi, warga
negara, dan warga masyarakat.
Keempat. Semakin populernya konsep pengembangan sumber daya
manusia dan pendidikan dipandang upaya kuat untuk
pengembangan sumber daya yang berkualitas ( Z. A.
Achmady dkk, 1994 : 26 ).
Pengembangan
sumber
daya
manusia
mengimplikasikan
pentingnya makna pendidikan sebagai wahana dan intrumen untuk
pembangunan dan perubahan sosial. Bahkan sekaligus dipandang
sebagai investasi sumber daya manusia atau " human investment
2 dimasa mendatang. Pentingnya pembangunan pendidikan bagi
39
manusia dan masyarakat dalam pembangunan atau perubahan sosial
bagi peningkatan sumber daya manusia menjadi pusat perhatian
negara berkembang ( Asia , Afrika dan Amerika Latin ), melalui
pendidikan formal, informal dan terutama sekali non formal bagi
masyarakat miskin di pedesaan ( Philip Coombs : 1984 ).
Konsep dasar sumber daya manusia bersumber pada kodrat
manusia sebagai mahluk Tuhan, individu dan sosial. Citra
manusia Indonesia masa depan, secara ideologis~filosofis telah
dirumuskan dalam Eka Prasetia Panca Karsa. Namun demikian
secara operasional masih perlu dijabarkan ke dalam kehidupan
keseharian secara nyata, kreatif dan dinamis, disesuaikan
dengan
keadaan
masyarakat baik secara
vertikal
maupun
horizontal "
Pancasila lu Aotlon ". Salah satu
upaya
mendasarnya yaitu disesusaikkan dengan kodrat manusia, baik
sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, sosial maupun pribadi dalam
struktur kebudayaan ( Pidato Presiden Soeharto dalam Dialog
Utara-Selatan dan Selatan-Selatan, 1993 ).
1). Manusia sebagai mahluk Tuhan Xailg Maha Esa, bahwa manusia
masa depan memiliki hak dan kewajiban yang sama sebagai
warga negara, sekalipun secara kenyataan bisa berbeda,
minimal sesuai dengan tugas-tugas perkembangannya.
Ia
seyogyanya memiliki budaya utama sebagai dasar ketahanan
nasional. Dalam hal ini berawal dari kebersihan fisik dan
rokhani yang menampilkan manusia yang sehat. Lebih lanjut
ia harus menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur
Pancasila, disiplin dan jujur dalam melaksanakan peraturan
dan undang-undang yang berlaku , hidup berwawasan jauh
kedepan seperti digariskan dalam GBHN, memiliki pengetahuan
dasar yang memadai dan berbahasa Indonesia yang baik dan
benar.
Semuanya
itu merupakan dasar
manusia
dalam
kehidupan yang berintikan moral Pancasila ( P ) yang
seharusnya dimiliki setiap orang Indonesia sesuai dengan
tingkat perkembangannya, termasuk masyarakat atau penduduk
misikin pada desa tertinggal.
2). Manusia sebagai makhluk sosial. ia tak dapat melepaskan
diri dari manusia lain. Ia selayaknya memiliki budaya
40
profesi yang dilandasi ilmu pengetahuan dan teknologi baik
yang bersifat teknologi tepatguna maupun teknologi tinggi.
Kebudayaan ini sebagai dasar upajiwa atau pencaharian untuk
mendapatkan nafkah secara ekonomik, minimal untuk dirinya
sendiri dan berangsur-angsur untuk orang lain. kemampuan
ini selayaknya ditanamkan sedini mungkin baik melalui
semangat belajar dan semangat bekerja yang dijiwai oleh
etos dan budaya " yang berlangsung sepanj ang
hayat.
Sehubungan
dengan pekerjaan,ia mempunyai kemauan
dan
kemampuan bekerja di orang lain, terutama bekerja bagi
dirinya sendiri serta akan lebih baik apabila
dapat
memberikan pekerjaan kepada orang lain. Etos dan budaya
kerja yang didukung dengan kemauan belajar setiap individu
anggota masyarakat Indonesia, sangat mutlak diperlukan
dalam menghadapi era globalisasi dewasa ini.
Salah satu karakteristik kerja yang dapat mengentaskan
kemiskinan dan memberantas pengangguran, setiap individu
anggota masyarakat dengan dilandasi kemampuan pendidikan
upajiwa kewiraswastaan atau keterampilan ekonomik untuk
dapat mengembangkan kandungan potensi sumber daya alam
setempat atau kandungan lokal. Misalnya masyarakat Bali
dengan keterampilan untuk kerajinan ukiran dan
seni,
masyarakat Tasikmalaya dengan kerajinannya dan berdagang,
masyarakat Padang dengan restorannya dsb.
Kemampuan budaya semacam itu, sudah barang tentu setiap
orang dilandasi dengan minat, keterampilan, kemahiran dan
ahli
sesuai dengan profesinya yang berlaku bagi kelompok
masyarakat
tertentu
(
petani,
pendidik,
pedagang,
pengrajin, dokter dan lain-lain ) memiliki etika sesuai
dengan pengalaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang
dipelihara dan dikembangkan sesuai dengan tatakrama kerja.
Kemampuan semacam ini manusia dituntut untuk mempunyai
ilmu pengetahuan dan teknologi ( IT ) sebagai dasar
kehidupannya.
Manusia sebagai makhluk individu, manusia memiliki keunikan
sendiri yang sangat khusus dan berusaha untuk meningkatkan
41
sesuatu sebaik dan seindah mungkin sesuai dengan kodratnya
karena ia diciptakan Tuhan Yang Maha Esa maklhuk yang
paling sempurna dan indah. Budaya seperti ini disebut
budaya pribadi dalam bentuk seni hidup yang bersifat
kreatif dan inovatif sesuai dengan kemampuan pribadinya.
Kemampuan ini sangat realistik yang dimilikinya, sehingga
tak dapat menanggalkan kemampuan seni ( S ) baik sebagai
pelengkap budaya utama maupun budaya profesi.
Ketiga
nilai budaya bagi pembentukan manusia
yang
berkualitas adalah manusia yang dituntut untuk memiliki moral
Pancasila ( P ), memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi ( IT )
dan seni hidup yang indah, kreatif dan inovatif ( S ). Tanpa
kecuali bagi penduduk miskin pada desa tertinggal. Untuk
membekali manusia yang syarat terhadap sumber daya
yang
berkualitas dari ketiga dimensi ( PITS ) tersebut, perlu
membekali atau menyiapkan melalui upaya yang simultan dengan
wahana utama " pembangunan pendidikan ".
Begitu pula dikemukakan oleh Ginandjar Kartasasmita dalam
makalahnya pada Seminar Kebijaksanaan Pendidikan, Pengembangan
IPTEK dan Transformasi Sosial dalam rangka Dies Natalis UGM
pada
Bulan Desember 1994, bahwa penyiapan SDM dalam PJPT II
mangacu pada konsep dasar dari manusia yang terdiri dari tiga
komponen yaitu jasmani, akal dan kalbu. Sumber daya manusia
adalah segenap potensi jasmani,akal dan kalbu yang satu sama
lain mendukung dan dapat didayagunakan manusia untuk melakukan
berbagai kegiatan guna mencapai tujuan hidupnya. Kualitas SDM
sangat ditentukan oleh kualitas jasmani, akal dan kalbu.
Kualitas jasmani
diukur dengan derajat kesehatan. Kualitas
akal diukur dengan derajat kecerdasan dan penguasaan ilmu
pengetahuan serta kemampuan berpikir. Kualitas kalbu diukur
dengan keimanan dan ketagwaan, budi pekerti, moral dan akhlak
serta kepedulian dan kepekaan sosial.
Oleh karena itu, SDM yang berkualitas manusia yang sehat
jasmani,
cerdas, berilmu pengetahuan luas berdaya pikir
sehingga mampu menerapkan, menguasai dan mengembangkan iptek
guna kemaslahatan umat manusia, beriman dan bertagwa kepada
42
Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur , bermoral dan
berakhlak mulya, selalu condong dan berpihak kepada keadilan
dan kebenaran, berkepribadian serta mempunyai kepedulian dan
kepekaan
sosial
sehingga memiliki rasa
tanggung
jawab
kemasyarakatan, kebangsaan dan kemanusiaan yang tinggi. Manusia
seperti itu manusia pembangunan yang efektif yang berguna bagi
dirinya, keluarga dan masyarakat. Untuk mewujudkan kualitas SDM
tersebut faktor pendidikan sangat penting, terutama
bagi
penduduk miskin, karena gejala kemiskinan pada desa tertinggal
ditandai oleh kurangnya atau tidak memiliki pendidikan.
Oleh karena itu, pengembangan sumber daya manusia melalui
pembangunan pendidikan ( formal, informal dan non formal )
yang dirumuskan dalam kebijaksanan dibidang pendidikan yang
berakses pada :
a). Pemerataan kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang
mengandung makna terhadap : (1) kesempatan (" eaualltv of.
opportunltv
(2) aksesibilitas ( " anesibilitv " ) dan
(3)
keadilan dan kewajaran ( " eouitv " ).
b). Relevansi pendidikan yang erat kaitannya perubahan nilai
yang
didasari oleh kebutuhan iman, taqwa, iptek atau
budaya dengan kebutuhan sektor dan program pembangunan.
c). Kualitas proses dan produk pendidikan untuk menciptakan
sumber daya manusia bagi kepentingan pembangunan.
d). Efisiensi pendidikan yang erat kaitannya dengan tujuan
pendidikan baik secara makro maupun mikro.
3. Sasaran Perubahan SDM dan Masyarakat
Perubahan sosial dapat terjadi secara evolusioner maupun
direncanakan.
Perubahan sosial yang evolusioner
biasanya
lambat,
monoton dan diiringi dengan sifat statis, karena
terjadinya lebih berpusat pada pengaruh dari dalam sistem
sosial. Perubahan sosial yang direncanakan, biasanya pengaruh
luar sistem sosial sangat dominan dan menentukan terhadap
perubahan
sikap, kepribadian, keyakinan, motivasi
maupun
kebiasaan serta pengetahuan yang bermanfaat bagi perubahan
nilai budayanya.
43
Dalam perubahan sosial dapat dilakukan melalui berbagai
usaha pendekatan bagi percepatan yang diinginkan bagi proses
pembangunan
secara
substansial. Salah satu
yang
perlu
diperhatikan dalam sistem sosial, karena dalam masyarakat
terdiri dari individu, kelompok dan organisasi, komunitas
tertentu dan masyarakat maka pendekatan halayak sasaran dalam
proses perubahan sosial perlu diperhatikan ( Noeng Muhadjir,
Long et.al, Kunto dalam Slamet Margono, 1985 ).
a. Sasaran Perubahan Sosial SDM Pada Individu
Untuk melakukan perubahan individu dalam masyarakat dapat
dilakukan model perubahan individu ( " change mau strateev " )
ataupun pendekatan perubahan mandiri (" self-help apprnanh " ).
Model pendekatan tersebut beraneka ragam mencakup antara lain
sebagai berikut :
1. Model perubahan kebiasaan individu dari Goodenough ( 1970
), yang menekankan kerjasama antara agen pembaharu dengan
warga
masyarakat agar terjadi perubahan kebiasaan,
sehingga
dapat
diadakan
perubahan
lingkungan
masyarakat.
Agen Pembaharu <
> Warga Masyarakat
Kerjasama
2. Model
perubahan
tingkah
laku
dari
Kuenkel
(1947),menekankan pada terciptanya proses belajar yang
dilakukan oleh
pemerintah/pendidik/penyuluh/fasilitator
dalam konteks sosial agar terjadi perubahan tingkah laku
individu anggota masyarakat.
Pemerintah/
Pendidik/
Pembina/
> Anggota Masyarakat
Penyuluh/
Proses Pendidikan
Fasilitator
<
3. Model reformasi dari Neihoff ( 1946 ), beranjak adanya
gagasan, ide atau rencana yang diperkenalkan oleh pembawa
inovasi
kepada
warga masyarakat,
sehingga
dari
interaksi tersebut terjadi integrasi baru.
44
Inovantor
> Gagasan
> Masyarakat
Integrasi Baru <
4. Model orientasi proses dari Batten ( 1956 ), menekankan
pent ingnya perubahan sikap dan t ingkah laku manus ia
sehingga pada gilirannya
menggugah partisipasi warga
masyarakat untuk melaksanakan
pembaharuan. Perubahan
sikap dan tingkah laku melalui
hasil proses pendidikan
dan pengorganisasian sebagai wujud
dari hasil kerjasama
antara pekerja sosial dengan warga
masyarakat.
5. Model pemanfaatan serentak arus komunikasi Jenjang tunggal
dan jenjang ganda. Model ini diadaptasikan sekaligus pada
struktur
sosial yang paternalistik
dan
mengkondisi
tumbuhnya kehidupan yang lebih demokratis. Arus komunikasi
jenjang tunggal dipakai untuk memperluas dan mempercepat
jangkauan
informasi
tanpa reduksi.
Sedangkan
arus
komunikasi
jenjang ganda dipakai
untuk
menumbuhkan
pemahaman,
implementasi,
implikasi
dan
menumbuhkan
kemampuan untuk mengambil keputusan.
Berbagai
model
tersebut
menunjukkan
bahwa
dalam
peningkatan kualitas individu merupakan proses transformasi
nilai-nilai pengetahuan, keterampilan dan sikap melalui sarana
pendidikan. Dalam prosesnya bersifat " Learning prooess
berupa informasi, gagasan, ide dan bentuk nilai lainnya baik
yang bersifat abstrak ( konsep nilai ) maupun konkrit (
pengalaman dan pengetahuan riil ). Tegasnya seperti dikemukakan
John Deway, Lewin, Piaget ( Lois Lamdin : 1991 > bahwa
pendidikan merupakan suatu proses transformasi, dialektik dan
analisis yang terintegrasi dari nilai " abstraction
and
experience "
secara terus menerus dalam kehidupan manusia
sebagai mahluk Tuhan, peribadi dan sosial.
Begitupula
dalam
rangka pembangunan
sosial
untuk
menumbuhkan partisipasi individu anggota
masyarakat, tidak
terlepas dari kesadaran dan tanggung jawabnya untuk memikul
beban pembangunan terutama perannya selaku subyek dari pada
sebagai obyek pembangunan di desa. Aspek sikap, kesadaran dan
tanggung
jawab individu anggota masyarakat dalam
proses
45
pembangunan menunjukkan adanya kualitas pengetahuan, pengalaman
dan keterampilan sebagai dasar partisipasinya dalam proses
pengambilan
keputusan dan pelaksanaan pembangunan
sesuai
dengan kebutuhan dan kepentingannya. Peningkatan pengetahuan
dan keterampilan setiap individu anggota masyarakat selaku
obyek dan pelaku program pembangunan penting dalam upaya :
a.
Perluasaan pendidikan yang dibutuhkan oleh aneka macam
program pembangunan ;
b. Pengembangan individu yang mempunyai akses terhadap variasi
sosio-ekonomi dan kelompok etnis sosial ;
c. Mempunyai sikap keterbukaan dan demokratis dalam memecahkan
berbagai masalah sosial ;
d. Pengembangannya
difokuskan
pada
kemampuan
untuk
mengembangkan sumber daya lokal di wilayahnnya ;
e. Pengembangan perilaku individu anggota masyarakat yang
mempunyai komitmen dan akses terhadap kelangsungan program
dan proyek pembangunan ( Ross dalam William R. Lassey dan
Marshall Sashkin, 1983 ).
Dalam kaitannya dengan program IDT, tentunya sasaran
peningkatan kualitas SDM dari segi pendidikan sosial diarahkan
pada manusia selaku makhluk pribadi, mahluk sosial dan Tuhan
Yang Maha Esa. Mereka yang dikatagorikan atau digariskan
penduduk miskin seperti petani, nelayan, pengrajin maupun
pedagang kecil memerlukan pendekatan pembinaan melalui " human
approach " dan " human sfcjll " secara terus menerus sehingga
menumbuhkan sikap dan tanggung jawab berupa percaya diri atau "
self confidience " dalam mendukung produktivitas usahanya
bagi
peningkatan
pendapatan
dan
kesehatannya
menuju
kesejahteraan hidupnya.
b. Sasaran Perubahan Sosial pada SDM Kelompok dan Organisasi
Perubahan sosial lewat halayak sasaran SDM kelompok dan
organisasi berpegang pada prinsip bahwa kehidupan sosial tidak
dapat dilepaskan dari struktur dan fungsi sosial. Ditinjau dari
psikologi
sosial,
adanya
iasumsi
dasar
bahwa
adanya
kecenderungan manusia untuk berkelompok, berorganisasi dan
46
bermasyarakat atas dasar interaksi dan komunikasi sesuai dengan
kebutuhan hidupnya. Perilaku manusia dalam kelompok, organisasi
dan
masyarakat
didasarkan
pada
tipe
dependensi,
konterdependensi dan interdependensi sesuai dengan status dan
peranannya ( William R. Lassey dan Marshall Sashkin : 1983 ).
Kelompok dan organisasi masyarakat beragam mulai dari
pendekatan kepentingan dan kebutuhan sosial, aksi atau tindakan
sosial maupun struktur kehidupan dari sudut pendekatan politik,
sosial,
ekonomi maupun budaya. Beragamnya
kelompok
dan
organisasi sebagai sasaran perubahan sosial, tidak terlepas
dari faktor internal dan ekternal sistem nilai yang dianut,
dipelihara
dan
dikembangkan.
Kelompok
sesuai
dengan
kepentingan, tujuan, interaksi dan komunikasi serta sistem
nilai yang dianut dapat dibagi pada kelompok primer dan skunder
serta kelompok formal dan informal. Kelompok akan menjadi
organisasi manakala mengandung dasar yang memiliki nilai berupa
aturan, norma dan etika yang mengikat dan dipelihara oleh
setiap anggota untuk ditaati dan dipelihara bagi kepentingan
tujuan bersama. Adanya proses kegiatan yang terorganisir untuk
mencapai tujuan, apabila disertai dengan pembagian tugas,
kewenangan dan tanggung jawab anggotanya maupun adanya susunan
kekuasaan yang herarkis dalam suatu organisasi.
Kelompok dan organisasi cakupannya sangat luas dalam
fungsi pembangunan masyarakat, seperti organisasi
sosial,
organisasi keluarga, organisasi kerja , organisasi kebudayaan,
ekonomi maupun politik. Kelompok
dan organisasi tersebut
merupakan potensi dan kekuatan bagi sarana upaya menumbuhkan
keterlibatan
partisipasi sosial bahkan untuk mengakarkan
pembangunan pada masyarakat. Kelompok dan organisasi sosial
sebagai sasaran dalam rangka transformasi budaya
beragam
dipedesaan mulai dari kelompok yang bergerak dalam program
agama sampai ekonnomi berupa Majelis Taklim ,
kesehatan
misalnya NKKBS, kelompok tani seperti Mitra Cai dsb.
Dalam rangka program pengentasan kemiskinan
melalui
program IDT berupa Kelompok Swadaya Masyarakat yang terdiri
dari beberapa penduduk miskin yang ada di desa tertinggal.
47
Kelompok tersebut, dapat dipandang sebagai kelompok primer yang
perlu mendapatkan informasi, pembinaan, bimbingan dan bantuan
dana
dari pemerintah sesuai dengan
proses
transformasi
pendidikan sosial budaya dalam rangka " empowerment " dan
pelembagaan partisipasi masyarakat dalam pembangunan serta
institutional building " bagi penguatan kelembagaan sosial yang
berkiprah selaku " agen t of development ".
Kelompok sasaran program IDT dalam bentuk KSM di desa
tertinggal, terdiri dari kelompok penduduk miskin yang bekerja
sebagai nelayan, petani, pedagang kecil, peternak, pengrajin
dan kegiatan usaha kelompok masyarakat lainnya yang dalam
kegiatan usahanya memerlukan transformasi pendidikan sosial
dari
pemerintah, khsusnya birokrasi pemerintahan
selaku
organisasi pelaksana program baik selaku penanggung jawab,
pelaksana, pendamping maupun fasilitator pada tingkat Kecamatan
dan Desa. Kelompok sasaran dalam rangka perubahan sosial
tersebut, tentunya memerlukan penanganan yang lebih terencana
dan terprogram melalui program pembangunan sumber daya manusia
kelompok sasaran masyarakat miskin di desa tertinggal.
c. Perubahan Sosial Pada KSM Komunitas
Perubahan sosial dapat terjadi pada subsistem kepribadian
( individu ), sosial dan budaya, komunitas sebagai unsur dari
masyarakat akan mengalami perubahan sosial. Komunitas dalam
kaitannya dengan perubahan sosial beragam, dapat dipandang dari
aspek mikro berupa kampung , marga, desa dan kota kecil.
Sedangkan komunitas dilihat dari aspek makro dalam rangka
perubahan sosial berupa kota besar, propinsi, bangsa dan
seluruh umat manusia. Komunitas baik dilihat dari aspek makro
maupun mikro yang beraneka ragam bentuknya pada prinsipnya
mempunyai tiga unsur yang sangat kuatnya
komunitas
yaitu
berupa kolektivitas manusia, lokasi georgrafis dan kesamaam
yang memberikan identitas, pandangan dan tujuan hidup komunitas
tersebut. Komunitas dapat diklasifikasikan berdasarkan ciriciri struktur sosial budaya, yaitu komunitas yang struktur
48
sosial budayanya
sederhana ( tradisional
),
madya
(
transisional ) dan modern ( Selo Soemardjan dalam Slamet
Margono, 1986 ). Terdapat enam model pendekatan perubahan
sosial pada halayak sasaran komunitas, yang dihubungkan dengan
kualitas manusianya, partisipasi dan pemanfaatan sumber daya
lokal melalui proses " pemberdayaan manusia " yaitu :
1). Pendekatan komunitas sebagai suatu kesatuan atau
" the
community approach " , pendekatan ini menekankan pentingnya
partisipasi anggota komunitas secara lintas bagian dalam
lokalitas tertentu- Partisipasi sepenuhnya dari anggota
masyarakat ini sangat diperlukan untuk menentukan dan
memecahkan
problematiknya sendiri
dengan
menggunakan
prosedur yang demokratis dan kepemimpinan sendiri.
2). Pendekatan penanggulangan mandiri lewat informasi atau
the Information self-help approach ", pendekatan komunitas
ini dianggap sebagai suatu hal yang berubah, sehingga
informasi yang diberikan pada komunitas pada saat yang
tepat akan dapat menolong mereka, baik informasi dari luar
komunitas berupa para ahli dari anggota komunitas sendiri.
3). Pendekatan lewat pemecahan masalah tertentu atau " the
special purpose eolving approach " , pendekatan ini
menganggap bahwa manusia anggota komunitas mampu menentukan
pilihan
secara
rasional
dengan
mengenyampingkan
pertimbangan emosional. Lokalitas walaupun penting, sering
kurang dapat diandalkan secara operasional, sehingga lebih
tepat perhatian dipusatkan pada pemecahan masalah tertentu.
Interes yang sama didasari kebutuhan dan masalah yang
dirasakan bersama , merupakan hal yang fungsional yang
dapat menumbuhkan loyalitas terhadap komunitas.
4). Pendekatan eksperimental atau " the experlmental approach
", pendekatan ini mencari model
pendekatan yang tepat
lewat observasi dan analisa, untuk akhirnya memperoleh
penyempurnaan
teoritik maupun aplikasinya.
Eksperimen
disini lebih tepat kaitannya dengan aksi penanggulangan
terhadap
peningkatan kualitas komunitas dilihat
dari
berbagai faktor manusianya.
49
5). Pendekatan lewat introduksi percontohan atau "
the
demonstration approach
", pendekatan ini juga sering
disebut dengan jenis pendekatan " show and tell " , dimana
yang dperagakan adalah hasil uji coba yang
dianggap
berhasil dan siap untuk diterapkan. Dalam pendekatan ini
ditunjukkan dan diperagakan metode, prosedur ataupun hasil
pengembangan yang dianggap tepat guna dapat diterapkan
dalam suatu komunitas.
6). Pendekatan lewat konflik kekuasaan atau " the
power
conflict approach " , pendekatan ini mempunyai kerangka
berpikir dan dasar teori yang sangat berbeda
dengan
pendekatan sebelumnya, dimana keserasian kehidupan dan
fungsionalisasi suatu komunitas sangat diutamakan. Dalam
pendekatan ini, konflik kekuasaan sebagai dasar
dari
perubahan sosial dalam waktu tertentu yang ditimbulkan oleh
unsur kekuasaan yang ada pada komunitas tersebut.
Berbagai pendekatan untuk perubahan sosial pada komunitas
mempunyai keragaman, sasaran dan landasannya yang berbeda,
tentunya pendekatan yang baik adalah kondisional dan relevan
dengan ciri struktur budaya komunitas yang bersangkutan. Bagi
komunitas pedesaan yang mempunyai karakteristik masyarakat
miskin yang melanda petani dan nelayan digambarkan Robert
Chambers ( 1993 ) seperti ditandai oleh pemilikan aset rumah
gubug, terisolasi dari dunia luar, lemah fisik dan ratio,
ketidak berdayaan untuk memenuhi kebutuhan yang mendesak
tidak memiliki kekuatan hukum dan tanpa perlindungan hukum,
sehingga model pendekatan komunitas seperti ini memerlukan
pendekatan sistemik, baik dari segi perubahan sikap
dan
perilaku manusianya, kebijakan pemerintah dan institusi sosial
maupun metode transformasi sosial yang terpadu.
Oleh
karena itu, pendekatan perubahan sosial
bagi
peningkatan sumber daya manusia kelompok sasaran miskin sebagai
komunitas
sosial di desa tertinggal, dilakukan
beberapa
pendekatan
program
IDT
yaitu
demokratis,
keswadayaan,
terdesentralisasi maupun kegotongroyongan yang satu sama lain
dilaksanakan secara terpadu, simultan dan berkelanjutan.
50
B. Strategi Pembangunan : Pendekatan Pertumbuhan dan Pemerataan
Menuju Pembangunan Manusia
Dinamika sosial mempunyai makna strategis dalam proses
pembangunan sesuai dengan era globalisasi dan arus informasi
yang semakin deras dalam puncak keunggulan budaya. Makna
strategis,
karena dinamika sosial
mempunyai
interelasi,
interdependensi
dan korelasi dengan perkembangan
budaya,
pertumbuhan ekonomi serta pembinaan politik yang bersifat
integral-komprehensif
dalam
rangka
pembangunan
untuk
meningkatkan
kualitas
hidup
manusia
dan
kesejahteraan
masyarakat.
Karakteristik
yang
menonjol
dari
komitmen
peningkatan kualitas hidup dan kesejahteraan hampir setiap
negara melaksanakan berbagai program pembangunan yang terencana
dan berkesinambungan atau " programme oriented and sustainable
development ".
Pembangunan
pada hakekatnya adalah
perubahan
yang
terencana dari situasional yang satu kesituasional yang lain
yang dinilai lebih baik ( Katz dalam Mooelyarto. 1993 ). Dengan
perkataan lain Phillip Roupps ( 1953 : 16 )
" development
signifles change from something throught to be more desirable
Adanya proses perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Pada
awalnya,
proses
pembangunan
difokuskan
terhadap
pertumbuhan
ekonomi dan proses perubahan
sosial
secara
kumulatif dengan ekonomi dan demokrasi politik. Pembangunan
suatu proses yang saling terkait dan terjadi dalam lingkaran
sebab akibat secara kumulatif atau " Civcular Cumulative
Causatlon ( Gunnar Myrdal, 1956 ).
Konsep
pembangunan mempunyai kaitan
dengan
nilai,
strategi,
dan indikator yang menjadi domain setiap negara
berkembang. Konsep pembangunan mempunyai interpretasi yang
secara diametrik bertentangan satu
sama lain, mulai dari
perbedaan
dalam perspektif ontologi dan epistimologi pada
tingkat filsafat sampai pada tingkat empirik. Ditinjau dari
hakekat nilai dan strategi pembangunan yang harus dicapai
terdapat perbedaan dari paradigma pertumbuhan, pemerataan dan
stabilitas dari indikator ekonomi klasik versus indikator neo51
ekonomi; perbedaan proses pembangunan dari teori konflik dan
ekuilibrium ; perbedaan penahapan dan Jalur pembangunan (
unilinier
versus
multylinier , necessity
model
versus
possibility model ); perbedaan antara hubungan bangsa dalam
proses pembangunan ( dependency model versus diffusionisme );
perbedaan keseimbangan antara manusia dengan lingkungannya (
limit to growth versus model of doom ); perbedaan pandangan
pemikian faktor produksi ( capitalist mode of production versus
socialist mode of production ); perbedaan dalam strategi
pembangunan pertanian versus industri : big push strategy
versus unbalanced growth strategy dan lain sebagainya
(
Moelyarto T., 1993 ).
Paradigma pertumbuhnan sosial ekonomi ditinjau
dari
konsep pembangunan " growth paradlgm " menimbulkan kelompok
negara maju dan berkembang- Untuk mengejar ketinggalan sosial
ekonomi pada negara berkembang diterapkan konsep paradigam
pertumbuhan " growth paradiem ", yang ditandai oleh Pertumbuhan
Pendapatan Nasional ( Gross National Productivity or GNP }.
Peningkatan GNP tidak menjamin distribusi Pendapatan Nasional
dan harapan
" trlckle down effect " tidak tercapai untuk
mengatasi
dan
menghapus
kemiskinan,
pengangguran
dan
ketimpangan. Paradigma pertumbuhan menimbulkan ketimpangan yang
lebih besar. Kemudian diterapkan konsep pembangunan dengan
paradigma pertumbuhan dan pemerataan atau " growth and epultv
Hasilnya dapat dirasakan dalam perbaikan sosial ekonomi
masyarakat, tetapi ternyata dihawatirkan terjadi eksploitasi
terhadap
sumberdaya
alam
yang
mengancam
kelangsungan
pembangunan.
Kemudian diterapkan konsep pembangunan
yang
berkelanjutan atau " sustainable development " yang didukung
dengan pendekatan " konsep pembangunan manusia " atau " human
development ".
Proses pembangunan berkelanjutan yang menitik beratkan
pendekatan
pembangunan
manusia
erat
kaitannya
dengan
pembangunan sebagai sistem, metode dan gerakan dalam rangka
perubahan sosial ( Sarkansky, 1973 : 5 dan Katz dalam Riggs :
1971 ). Lebih lanjut keduanya menjelaskan bahwa pembangunan
52
sebagai sistem mencakup komponen-komponen : a)
Masukan
terdiri dari nilai, sumber daya manusia, alam, budaya dan
kelembagaan masyarakat; b) Proses, kemampuan organisasi dan
manajemen pemerintahan dalam melaksanakan program pembangunan;
c) Keluaran, berupa perubahan kualitas perilaku manusia yang
berakses pada kognisi, afeksi dan keterampilan yang berkaitan
dengan taraf hidupnya. Pembangunan sebagai Gerakan mengandung
makna bahwa pembangunan sebagai usaha sadar, terorganisir,
terarah dan berkelanjutan yang dilakukan birokrasi pemerintah
bersama masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Pembangunan sebagai Metode berorientasi pada upaya penciptaan
kemajuan sosial ekonomi yang didukung oleh pengorganisasian dan
peran serta masyarakat selaku pelaku pembangunan.
Berdasarkan pengalaman pembangunan di Pakistan ( Mahbub
UI Haq, 1983 ) mencatat bahwa pembangunan yang terlalu bertumpu
pada pembangunan ekonomi dan GNP akan berakibat pada semakin
lebarnya jurang antara kaya dan miskin. Oleh UI Haq ini
merupakan kesalahan, karena kurang mengacu pada upaya menghapus
bentuk gejala kemiskinan, tetapi lebih berfokus pada pencapaian
tingkat
pendapatan perkapita yang tinggi
dan
akibatnya
tumbuhnya kemiskinan, ketimpangan dan kebodohan atau " dlrect
attact to the poverty, distributioan and inliteracy .
Mc. N amar a yang sejalan dengan UI Haq. dalam Pidatonya
didepan Direksi Bank Dunia
tahun 1980 menyarankan
agar
Pemerintah negara berkembang mengubah kebijaksanaan pembangunan
untuk memerangi kemiskinan
bagi golongan penduduk miskin
sebesar 40 % dari jumlah penduduk itu, tanpa mengorbankan
tujuannya untuk mencapai laju pertumbuhan ekonomi yang kokoh.
Dudle Seer berpendapat bahwa proses pembangunan akan bermakna
bila prosesnya mampu mengatasi masalah kemiskinan, pengangguran
dan ketimpangan. Seer mempertanyakan apakah hasil - hasil
pembangunan yang telah dilakukan menjawab ketiga
masalah
tersebut.
" The question t o ask about a country's development are
therefore : What has been happening to poverty ? What has
been happening t o un empl oymen t ? What has been happening
53
to Ineguallty ? I f all o f three o f these have declalned
f r om hlgh level s, then beyond doubt this has been a prlod
o f development for the country concerned. I f one or two o f
these central problem have been growing worse, espesially
It all there have, it would be strange to call the result "
development " event If per capi t a income doubled " ( Seer
dalam Moeljarto Tjokrowinoto, 1993 )
Baik UI Haq, Mc. Namara dan Seer lebih menekankan pada
pertumbuhan dan pemerataan pembangunan sebagai suatu paradigma
dalam konsep pembangunan. Namun demikian pandangan Dennis
Goulet ( Moeljarto Tjokrowinoto, 1993 ) bahwa gejala
under deve lotane nt'' bukanlah semata-mata masalah ekonomi (
kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan ), tetapi merupakan
pengalaman
deprivasi
yang disadari adanya
" shock o f
underdevelopment ". Untuk menghindari gejala tersebut, Goulet
memberikan konsep pembangunan yang memiliki tiga komponen utama
: yaitu kelangsungan hidup (" llfe-sustenance " ), kehormatan
diri ( "self esteem ") dan kebebasan (" freedom "). Selain itu,
pembangunan harus dapat menciptakan kualitas diri yang berupa
keautentikan (" authencity "), identitas (" identity " },
kemulyaan (" dlgnlty" ), kehormatan (" respect "),
dan
pengakuan ( " recognition ").
Kegagalan
orientasi
pembangunan
pada
paradigma
pertumbuhan dan pemerataan, selain menekankan pada pendekatan
human development " juga menekankan pada model pembangunan
kebutuhan dasar manusia atau
" baslc needs strategy
Kebutuhan dasar manusia mempunyai tingkatan berupa kebutuhan
fisiologis,
rasa aman, hubungan sosial, harga diri
dan
aktualisasi diri ( Abraham Maslow , 1954 ). Alderfer ( 1972 )
mengelompokkan kebutuhan dasar manusia dari Maslow menjadi tiga
katagori yaitu kebutuhan untuk keberadaannya ( " needs for
existence" ), kebutuhan untuk berhubungan dengan orang lain ("
needs for relatedness") dan kebutuhan untuk pengembangan diri (
" needs for growth ").
Laporan Bank Dunia tahun 1980 tentang
Kemiskinan dan
Pembangunan Manusia
bahwa Kebutuhan dasar manusia dalam
54
mengatasi kesenjangan sosial ekonomi pada masyarakat miskin
sehubungan
dengan pembangunan manusia tidak lain
adalah
kesempatan
pemenuhan
gizi,
pelayanan
kesehatan,
cukup
penghasilan, kesempatan memperoleh pendidikan dan kehidupan
keluarga sejahtera ( " pollcy againt poverty " ). Kebijakan
pengentasan kemiskinan merupakan sasaran multidimensi terpadu
dan dirumuskan dalam model hubungan kebutuhan dasar manusia
sebagai berikut :
GAMBAR.II.3. MODEL KEBIJAKAN PEMBANGUNAN KEMISKINAN )
( POLICY AGAINT POVERTY )
* Land ownership and tenure * Inveetment allocation
* Technology and research
* Agriculture
* Domestic saving
* External trade
* External capital
* Taxation and transfer
income
health
nutrition
public health,
sanitation, an
housing
food production
subsidies/rations,
food fertification
educat ion
fert ility
public education
family planning
incentive
Gema strategi kebutuhan dasar dalam pendekatan kemiskinan
dan pembangunan manusia semakin besar dan banyak dianut oleh
negara berkembang. Kita harus mengakui kebutuhan dasar dari
setiap negara berbeda, perbedaan ini dilandasi oleh model dan
strategi pembangunan yang dilaksanakan, disamping itu, konsep
kebutuhan dasar bersifat dinamis yaitu kebutuhan dasar dari
suatu priode ke priode yang lain. Semakin maju suatu negara,
55
kebutuhan dasar manusianya akan meningkat. Streeten ( Syahrir,
1986 ) mengatakan bahwa terjadinya perbedaan dalam menentukan
kebutuhan dasar dari setiap negara, pada hakekatnya didasarkan
pada pendekatan tiga tujuan pokok yaitu :
1. Terpenuhinya kebutuhan minimum keluarga untuk konsumsi :
pangan, sandang, papan dan sebagainya ;
2. Peningkatan akses masyarakat terhadap pelayanan publik (
" access to public services " ) ;
3. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam formulasi dan
implementasi program atau kebijaksanaan yang menyangkut
diri masyarakat.
Untuk mencapai pemenuhan kebutuhan dasar minimal dari
setiap
negara, peranan pemerintah sangat
penting
dalam
menyalurkan
pelayanan masyarakat. Pelayanan
publik
yang
dilakukan birokrasi pemerintahan pada negara-negara berkembang
terus menerus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk,
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta pengaruh arus
informasi
maupun
dinamika
dan
tuntutan
masyarakat
(
Rondinnelli,
1989 ). Dalam paradigma
pembangunan
untuk
pemenuhan kebutuhan dasar manusia dan masyarakat miskin selain
dibutuhkan pelayanan publik yang efisien dan efektif oleh
birokrasi pemerintahan, juga dituntut terciptanya suatu kondisi
pemberian akBes yang sama pada setiap penduduk dalam memperoleh
pelayanan publik.
Terciptanya akses yang terbuka dan sama dalam pelayanan
publik kepada lapisan masyarakat diperlukan bagi pemerataan
hasil -hasil pembangunan dan pelayanan publik. Kesejahteraan
masyarakat sangat tergantung pada kemampuan mereka memperoleh
akses
dan memanfaatkan kesempatan serta kemampuan
untuk
menggunakan pelayanan publik. Terdapat keterhubungan yang erat
antara pembangunan, kebutuhan dasar manusia serta kepentingan
lapisan masyarakat dengan pelayanan publik yang optimal dari
birokrasi pemerintahan, tentunya di dukung oleh kesempatan
untuk memanfaatkan dan mampu menggunakannya.
Di
dalam pelaksanaannya, strategi pembangunan
yang
berorientasi
pada
kebutuhan
dasar
manusia,
cenderung
56
memanifestasikan
charlty strategy dari pada penumbuhan
kemampuan masyarakat untuk dapat " self sustalnlng ". Bentuk
strategi seperti ini oleh Feire dalam Moeljarto ( 1993 )
disebut " assjstenclali sm " yang memandang masyarakat sebagai
obyek asistensi dan obyek bantuan di dalam bentuk pelbagai
pelayanan dan pemberian fasilitas sosial. Strategi pembangunan
dengan menitik beratkan bantuan kepada masyarakat
justru
memperbesar
ketergantungan masyarakat pada uluran
tangan
pemerintah ( " dependency " ) dan pada hakekatnya merendahkan
hakekat dan martabat manusia ( Moelyarto, 1993 : 24 ). Hal ini
disadari bahwa untuk menumbuhkan oto aktivitas dan swadaya
masyarakat dalam proses pembangunan, stimulasi dari pemerintah
sangat dibutuhkan terutama bagi lapisan masyarakat miskin dan
posisi Btrategis peranan dan fungsi pemerintah pada negara
berkembang sangat dominan selaku motivator, dinamisator, dan
komunikator dalam berbagai aspek pembangunan.
Perlu disadari, meskipun berbagai program pembangunan
dilaksanakan secara optimal, tetapi tidak menjamin
bahwa
akses masyarakat miskin terhadap program pembangunan akan cepat
meningkat dengan sendirinya, terutama dengan strategi
assistence " dari pemerintah. Korten ( 1984 : 176 ) mengatakan
banyak program pembangunan tidak mampu meningkatkan akses
masyarakat
terhadap
program pengentasan
kemiskinan
dan
keterbelakangan, bahkan gagal dalam mencapai program tersebut.
Kendala besar dalam pelayanan publik adanya perbedaan sosial
ekonomi
masyarakat
beragam
dengan
kemampuan
birokrasi
pemerintahan. Pemerintah
dalam melakukan pelayanan publik
harus memperhatikan kondisi lokal sehingga dapat menyesuaikan
diri
dengan kebutuhan kelompok sasaran masyarakat.
Inti
dasarnya terletak pada proses kebijakan publik, dan pendekatan
terhadap operasionalisasi kebijakan publik tersebut.
Bertitik tolak dari kelemahan yang melekat pada strategi
pembangunan yang berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan dasar
atau " basic needs approach " dan untuk menutupi kelemahan
tersebut, pada akhirnya muncul strategi pembangunan kualitas
manusia atau " Strategy o f Human Approach" , strategi ini juga
57
sering dikatakan " people-centered development " ( pembangunan
yang berpusat pada manusia atau kualitas manusia ). Pembangunan
yang berpusat pada arah manusia di Indonesia mendapatkan tempat
sejak dikeluarkannya GBHN tahun 1988-1983 dan GBHN tahun 19931998. Tujuan pembangunan Indonesia adalah untuk membangun
kualitas manusia Indonesia seutuhnya dan arah pembangunan pada
PJPT II untuk meningkatkan kualitas manusia dan masyarakat
Indonesia agar makin maju, mandiri dan sejahtera berdasarkan
Pancasila. Pembangunan yang berpusat pada manusia memandang
manusia sebagai individu dan warga masyarakat merupakan fokus
dan sumber utama pembangunan.
Seperti ditegaskan oleh G. Satari dan Kedi Suradisastra
dalam Seminar Nasional Upaya Peningkatan Pendidikan Dalam
Pengentasan
Kemiskinan
Pada
Desa
Tertinggal
yang
diselenggarakan di IKIP Bandung pada tanggal 24-26 Oktober
1994, bahwa :
Dalam
PJPT II manusia dan
masyarakat
Indonesia
ditempatkan sebagai titik pusat dari segenap pembangunan,
sekaligus sebagai modal dasar atau kekuatan, sebagai faktor
dominan
dan determinan serta sebagai
sasaran
utama
pembangunan. Pembangunan manusia merupakan bagian integral
dari masyarakat Indonesia yang memiliki keaneka ragaman
sosio-budaya dan perkembangan kondisi ekonominya antar
golongan
masyarakat
dan
wilayah
berbeda
tingkat
kemampuannya ".
Oleh karena itu pembangunan yang berpusat pada manusia
dan masyarakat Indonesia, sasaran utamanya adalah peningkatan
sumber daya manusia ( SDM ) agar mereka mampu berperan serta
secara aktif dalam pembangunan, mempunyai kemandirian dan mampu
meningkatkan
efisiensi dan produktivitas
Nasional
dalam
menghadapi dan menangani tantangan-tantangan permasalahan dalam
dan luar negeri. Pembangunan yang berpusat pada
manusia
seperti dikemukakan Thomas ( dalam Moelyarto, 1993 ) adalah :
"... a sence o f sel f - worth and a personal capaclty for
actlvely particlpating in life's important decislon ... a
sence o f political offlcacy which, when realized, converts
58
passive resipients lnto actlve, contributing partlcipants in
the development process... soclal development becomes the
liberation of human belng and communities from passive
reclplents to words a developed, active citizenry capable ov
partlclpating in choices about communlty issues
Komitmen pemerintah dalam pembangunan kualitas manusia
( GBHN, 1993-1998 ) yaitu dengan ditegaskannya manusia dan
masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan, maka pemerintah
berkewajiban untuk mengarahkan, membimbing, membina
serta
menciptakan
suasana
yang menunjang
proses
pembangunan.
Keinginan
yang kuat dari pemerintah
untuk
mendudukkan
masyarakat tidak hanya sebagai obyek pembangunan,
tetapi
sebagai subyek guna mengembangkan kemandiriannya.
Karakteristik pokok pendekatan pembangunan yang berpusat
pada manusia dikemukakan Korten ( dalam Moelyarto, 1993 )
adalah sebagai berikut :
a. Keputusan dan inisiatif untuk memenuhi kebutuhan rakyat
dibuat ditingkat lokal, yang di dalamnya rakyat memiliki
identitas dan peranan yang dilakukan sebagai partisipasi
yang dihargai ;
b. Fokus utamanya adalah memperkuat kemampuan rakyat miskin
dalam mengawasi dan mengerahkan aset-aset untuk memenuhi
kebutuhan yang khas menurut daerah mereka sendiri ;
c. Pendekatan ini mempunyai toleransi terhadap perbedaan dan
karenanya mengakui arti penting pilihan nilai individual
dan pembuatan keputusan yang terdistribusi ;
d. Dalam melaksanakan pembangunan, pendekatan ini menekankan
pada proses " social learning " yang di dalamnya terdapat
interaksi kolaborasi antara birokrasi dan komunitas mulai
dari proses perencanaan sampai evaluasi proyek dengan
mendasarkan diri pada saling belajar ;
e. Budaya kelembagaan ditandai adanya organisasi yang mengatur
diri sendiri dan lebih terdistribusi, yang menandai unitunit lokal yang mengelola diri sendiri, yang terintegrasi
satu sama lain guna memberikan umpan balik pelaksanaan yang
cepat dan kaya kepada semua tingkat organisasi
yang
59
membantu tindakan koreksi diri.Dengan demikian keseimbangan
yang lebih baik antara struktur vertikal dan horizontal
dapat terwujud.
f. Proses pembentukan jaringan koalisi dan komunikasi antara
birokrasi dengan lembaga lokal ( LSM ), satuan organisasi
tradisional yang mandiri, merupakan bagian integral dari
pendekatan ini, baik untuk meningkatkan kemampuan mereka
dalam mengidentifikasi dan mengelola berbagai
sumber,
maupun untuk menjaga keseimbangan antara struktur vertikal
dan horizontal.
Strategi dan pendekatan pembangunan yang demikian lebih
memfokuskan pada unggulan potensi untuk memperbaiki proses
pelaksanaan pembangunan dengan memberi kekuatan, kesempatan dan
kekuasaan individu, kelompok sasaran lokal, masyarakat serta
struktur kelembagaan pembangunan ( " capacity, capability and
institutional locally " ), agar berpartisipasi dalam proses
pembangunan.
Pendekatan
ini
berusaha
untuk
mengurangi
ketergantungan
masyarakat
pada
birokrasi
pemerintahan.
Birokrasi pemerintahan dalam pelayanan publik hendaknya lebih
melakukan peran dan fungsi sebagai " steering organization
ketimbang sebagai " rowing organization " untuk menjamin
tumbuhnya " self-sustalning capacity " masyarakat menuju
sustained development " seperti disarankan Osborne dan Gaebler
Tead ( 1992 ).
Pada hakekatnya strategi dan pendekatan
pembangunan
manusia untuk menumbuhkan otonomi perilaku pribadi dan sosial
yang terintegrasi. Interaksi tersebut merupakan kristalisasi
dari faktor-faktor situasional dengan kognisi,
keinginan,
sikap, motivasi dan responsnya. Latar belakang sosio-kultural,
status sosial dan tingkatan hidup menentukan kesempatan dan
kemampuan untuk berproses dalam pembangunan. Faktor internal
manusia dan lingkungan sosial, terutama sekali kelembagaan
sosial untuk tumbuhnya " eelf-sustaining capacity " mempunyai
derajat penting bekerjasama dengan kelembagaan pemerintahan
dalam
pembangunan
kualitas
sumber
daya
manusia
yang
berkelanjutan.
60
Kapasitas dan kapabilitas dari kualitas sumber daya
manusia dalam proses pembangunan yang berkelanjutan oleh (
Bryant dan White, 1987, 22-23 ) mempunyai implikasi tertentu
yaitu : Pertama, pembangunan memberikan perhatian terhadap
kemampuan " atau " capaci ty ", terhadap apa yang perlu
dilakukan untuk mengembangkan kemampuan dan tenaga guna membuat
perubahan. Ini menunjukkan kapasitas terhadap harga diri, dalam
memikirkan
dan membentuk hari depan yang
baik;
Kedua.
pembangunan harus mencakup " keadilan " atau " egult y",
perhatian yang tidak berimbang terhadap kelompok tertentu akan
menimbulkan
perpecahan
dalam masyarakat
dan
mengurangi
konsistensinya
;
KetigaT
pembangunan
berusaha
untuk
menumbuhkan kekuasaan dan wewenang bertindak yang lebih besar
kepada si miskin. Penumbuhan kekuasaan dan wewenang dalam
masyarakat akan menerima manfaat pembangunan yang
besar.
Keempatf pembangunan harus memperhatikan masa depan melalui
keberlanjutan
program
pembangunan
tersebut
atau
sustainability
Kelima.
pembangunan
memperhatikan
keseimbangan antara titik berat manusia dengan kelangsungan
sumber daya lingkungannya atau " resources o f envlroiwentlingkage ".
Untuk
menggambarkan
strategi
pembangunan
dalam
peningkatan kualitas sumber daya manusia yang unggul dan
mempunyai kepedulian terhadap sosial. David C. Korten ( 1984:
182 ) mengajukan suatu model interaksi antara masyarakat
kelompok
sasaran
pembangunan,
program
pembangunan
dan
organisasi pelaksana pembangunan. Model tersebut sering disebut
kesesuaian tiga arah " atau three way fit model. Model ini
berasumsi
bahwa
daya
kerja
dari
suatu
program
pembangunan adalah merupakan fungsi kesesuaian antara mereka
yang dibantu atau "beneficiarlea
program pembangunan dan
organisasi yang membantu.
Dengan istilah lain, program pembangunan akan berhasil
dan gagal memajukan kesejahteraan suatu
kelompok sasaran
masyarakat, dipengaruhi oleh kualitas derajat kesesuaian antara
kebutuhan pihak penerima dengan program, persyaratan program
61
dengan kemampuan nyata dari organisasi pembantu, dan kemampuan
pengungkapan kebutuhan oleh organisasi pembantu. Oleh karena
itu, suatu program pembanguan agar menjadi akses dan komitmen
yang melekat pada masyarakat, sehingga masyarakat mempunyai
sence of bilonging dan sence of responsibility " kesesuaian
tiga arah ini harus disosialisasikan dan dilembagakan melalui
kebijakan publik.
GAMBAR.II.4 : MODEL KESESUAIAN PEMBANGUNAN
Persyaratan Tugas
Hasil Program
Kemampuan Khusus
Kebutuhan-kebutuhan
Proses-proses Keputusan
Organisasi
Saran Pengungkapan
Kebutuhan
I
( Diadaptasi dari : David C. Korten dan Rudy Klauss,
Centered Developmentz 1994 ).
62
People
C. Pembangunan Masyarakat
Dalam Mengatasi Kemiskinan
Di
Pedesaan
1. Makna Pembangunan Masyarakat
Pembangunan manusia dan pembangunan masyarakat satu sama
lain
berkaitan, karena manusia secara kodrati
mempunyai
kecenderungan hidup dalam masyarakat sesuai dengan kedudukannya
manusia sebagai makhluk individu, Tuhan Yang Maha Esa dan
sosial- Dalam kehidupan masyarakat terdiri dari individu,
kelompok , komunitas yang melakukan interaksi dan komunikasi
satu sama lain baik secara terorganisir maupun tidak untuk
mencapai
kepentingan nya secara bersama
dalam
berbagai
kebutuhan hidup dan kehidupannya.
Semua pembangunan menyangkut bahkan ditujukan
untuk
masyarakat,
tetapi pembangunan masyarakat sebagai
metode
mempunyai karakteristik tersendiri. Pembangunan
masyarakat
tidak saja bermaksud membina hubungan dan kehidupan setiap
orang untuk hidup bermasyarakat, melainkan untuk membangun
masyarakat karena setiap satuan masyarakat mempunyai kekuatan
sendiri yang disebut " community power ". Suatu masyarakat
dapat kehilangan kekuatannya jika masyar&kat itu mengalami
community disorganization " , untuk itu pentingnya pembangunan
masyarakat jika diingat bahwa masyarakat komunitas
perlu
disiapkan untuk memasuki bentuk masyarakat atau
society
baik untuk masyarakat pedesaan maupun perkotaan ( Talziduhu
Ndraha, 1986 ).
Masyarakat
dalam konteks pembangunan masyarakat adalah
masyarakat dalam arti " community " atau komunitas. yang
berarti memiliki sistem budaya dan sistem sosial serta sejarah
tertentu pada pemukiman terkecil. Komunitas dari pendekatan
antropologis adalah pemukiman kooil penduduk yang bersifat
mandiri yang mempunyai perbedaan satu sama lain serta dicirikan
oleh kesadaran kelompok atau - " group consciusness ", anggotanya
saling mengenal secara pribadi, bersifat homogen dan hidup
mandiriSedangkan
dari
pendekatan
sosial,
mempunyai
kontekstual yang erat dengan masyarakat pada umumnya antara
kehidupan masyarakat pedesaan dan perkotaan,
masyarakatan
63
paguyuban dan patembeyan, masyarakat tradisional, industrial
dan post industrial yang mempunyai karakeristik tertentu.
Karakteristik masyarakat tersebut ditinjau dari segi bentuk
pengorganisasian,
interaksi,
stratifikasi,
kekuasaan,
komunikasi, kerjasama maupun pencapaian tujuannya.
Pembangunan masyarakat dalam artian komunitas maupun
masyarakat umum dikaitkan dengan masyarakat industrial desawa
ini mengundang perhatian para ahli seperti Priedman, Bryand and
White ( 1992 ) yang menekankan pada karakteristik masyarakat
atas dasar kemampuan, kebersamaam, kemerataan, keberdayaan ,
kemandirian, dan saling tergantungan. John Naisbitt dalam
Megatrend" dengan ciri masyarakat industrinya. Daniel Bell (
1973 ) di dalam memasuki post masyarakat industri, masyarakat
diramalkan adanya peralihan pasca industri yang dicirikan oleh
masyarakat penghasil jasa, profesional, pengetahuan teoritik ,
orientasi masa depan dan timbulnya teknologi intelektual baru.
Gambaran
tersebut,
membawa
konsekuensi
terhadap
masyarakat ideal sebagai akibat kebokbrokan moral dan etika
sosial dikemukakan oleh Ashley Montagu dan Floyd Matson dalam
The Dehumanizatlon o f Man " mengusulkan konsep " The Good
Community and Competency " . Konsep komunitas yang baik atau
"The Good Community " mengandung sembilan nilai yaitu :
1). Setiap anggota masyarakat berinteraksi satu sama lain
berdasarkan hubungan pribadi, adanya kelompok Juga kelompok
primer.
2). Komunitas memiliki otonomi, yaitu kewenangan dan kemampuan
mengurus kepentingannya sendiri secara bertanggung Jawab.
3). Memiliki vialibilitas yaitu mempunyai kemampuan memecahkan
masalah sendiri.
4). Distribusi
kekuasaan
merata,
seting
setiap
orang
berkesempatan
real,
bebas
memilih
dan
menyatakan
kehendaknya.
5). Kesempatan setiap anggota masyarakat untuk berpartisipasi
aktif untuk kepentingan bersama.
6). Komunitas memberi makna kepada anggotanya.
64
7). Adanya heterogenitas dan beda pendapat.
8). Pelayanan masyarakat ditempatkan sedekat dan secepat kepada
yang berkepentingan.
9). Adanya konflik dan " managing conflict ".
Selanjutnya, dalam masyarakat kompeten yang komponenkomponennya adalah mempunyai nilai :
1). Mampu mengindentifikasikan masalah dan kebutuhan komunitas.
2). mampu mencapai kesepakatan tentang sasaran yang hendak
dicapai dan skala prioritasnya.
3). Mampu menemukan dan menyepakati cara dan alat mencapai
sasaran yang telah disetujui.
4). Mampu bekerjasama rasional dalam bertindak mencapai tujuan.
Oleh karena itu, penting dalam pembangunan masyarakat
memperhatikan karakteristik komunitas dan masyarakat umum,
terutama dihubungkan dengan kekuasaan dan kekuatan pentingnya
informasi yang bersifat global, pesatnya ilmu pengetahuan serta
sumber daya manusia faktor utama bagi perubahan sosial dan
kemajuan masyarakat.
Pembangunan masyarakat dalam arti sosial merupakan salah
satu upaya untuk mewujudkan cita-cita negara menuju kesejahraan
( Welfare State ). Pembangunan masyarakat dalam rangka
welfare state " semula digunakan oleh William Temple pada tahun
1941 dan digunakan secara umum setelah Perang Dunia Kedua.
Untuk menunjukkan bahwa negara tidak lagi hanya bertugas
sebagai polisi yang bertanggung jawab memelihara ketertiban dan
menegakkan hukum, atau sebagai hakim yang menyelesaikan perkara
dan mendamaikan orang yang bersengketa, tugas utama sekarang
adalah peningkatan kesejahteraan semua warga negara baik dalam
wujud komunitas, suku dan masyarakatnya.
Pembangunan masyarakat sebagai bagian integral
dari
pembangunan secara nasional dengan pembangunan lainnya yang
dilaksanakan oleh negara-negara berkembang bervariasi, karena
mempunyai batasan terhadap budaya dan kaitannya dengan konteks
ciri sosial
yang ada pada masyarakatnya, tetapi mempunyai
dasar
pertimbangan
yang
bersifat
multidimensional,
kesejahteraan lebih diutamakan, pembangunan selalu membawa efek
65
sosial, kemiskinan, ketimpangan dan kebodohan dampak dari tidak
seimbangnya pembangunan sosial.
Seperti dikemukakan oleh Moeljarto Tjokrowinoto ( 1993 )
bahwa pembangunan sosial bersifat lintas budaya dan lintas
waktu yang dipengaruhi oleh sosio-kultural dan sosio-politie.
Terdapat tiga katagori makna pembangunan sosial atau masyarakat
yaitu :
a. Pembangunan
sosial atau masyarakat
sebagai
pengadaan
pelayanan
masyarakat. Pembangunan sosial seperti ini
menginterpretasikan adanya usaha terencana untuk membangun
dan memberikan fasilitas sosial sesuai
dengan kebutuhan
Nasional,
yang
mencakup program
nutrisi,
kesehatan,
pendidikan, kesejahtraan dan peningkatan kehidupan sosial,
terutama dalam rangka memberantas kemiskinan, kebodohan dan
ketertinggalan masyarakat.
b. Pembangunan sosial atau masyarakat sebagai upaya terencana
untuk mencapai tujuan sosial yang komplek dan bervariasi.
Tujuan
sosial yang komplek dan variasi dalam
rangka
pembangunan sosial mencapuk proses pencapaian
keadilan
sosial, persamaan, pemerataan, peningkatan budaya, kedamaian
pikiran ketentraman bathin dan lain sebagainya. Negara Asia
dan
Pasifik
Selatan
misalnya,
menolak
interpretasi
pembangunan
masyarakat
secara
sempit
sebagai
upaya
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan menekankan kepada
interpretasi pembangunan masyarakat sebagai " communlty
self-reliance " dan family sel f reliance " ( O'Collins
dalam Moeljarto, 1993 ). Begitu pula aspek " human dlgnity
dan
" social egulty " sebagai pembangunan masyarakat di
Afrika
mewarnai
terhadap upaya dari dominasi bangsabangsa pada masa kolonial sehingga menempatkan nilai seperti
antidominasi dan penindasan, kemulyaan martabat manusia, dan
kebebasan sebagai tujuan sosial dari pembangunan masyarakat
mereka.
c. Pembangunan Sosial sebagai upaya yang terencana
untuk
meningkatkan kemampuan manusia untuk berbuat. Pembangunan
sosial
ini berorientasi pada derivasi dari
paradigma
66
pembangunan yang berpusat pada manusia ( " people-centered
development" ). Dengan anggapan dasar dari interpretasi
pembangunan masyarakat bahwa manusia, bukan ekonomi dan
teknologi yang menjadi
fokus dan sumber pembangunan yang
utama. Kehendak, komitmen dan kemampuan manusia sebagai
anggota
masyarakat merupakan sumber
pembangunan
yang
strategis.
Pembangunan
masyarakat
dengan
demikian,
menyangkut suatu upaya yang terencana untuk meningkatkan
kemampuan
dan
potensialitas
anggota
masyarakat
dan
memobilisasikan
antusiasme mereka untuk
berpartisipasi
secara aktif di dalam proses pengambilan keputusan yang
menyangkut dirinya. Dengan kata lain, merupakan upaya
t o promote the empowermen t o f people, instead o f
perpetuatlng the dependency-creatlng re J a t i onshi ps to
characterlstlc of top-down approach " . ( Hollnsteiner dalam
Moeljarto, 1993 ). Pembangunan ini lebih menekankan pada
sustalned development " yang menuntut kemampuan masyarakat
untuk membangun atas kekuatan sendiri, untuk membangun
dengan swasembada melalui " sel f sustaining " dan " sel f
to help and sel f for creative " .
Pembangunan masyarakat dapat dipandang dalam arti luas
sebagai
perubahan
sosial yang terencana
yang
berusaha
meningkatkan dan perbaikan masyarakat secara umum dari segi
budaya, ekonomi, sosial, politik, agama. Sedangkan pembangunan
masyarakat dalam arti sempit berarti perubahan sosial berencana
pada lokalitas atau komunitas tertentu seperti kampung, desa,
kota dan sebagainya. Dikaitkan dengan proyek atau program yang
berhubungan
dengan
pemenuhan kebutuhan
dan
kepentingan
masyarakat, sepanjang mampu dikelola masyarakat setempat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1956 melalui
Dewan
Sosial Ekonominya merumuskan makna pembangunan masyarakat dan
telah diterima secara luas adalah sebagai berikut :
Community development Is the processes by which the
efforts o f the people themselves are unlte.d wlth those
of governmental authorlties to Improve the economlc, social
and cultural condltlons o f communlties, to Integrate to
67
enable them to contrlbute fully to national progress.
This complex o f proceases i s thus made up o f two essential
elements : the participation o f the people themaelves in
efforts to improve their level of livlng with as mu c h
reliance as possible on their own Initlative ; and the
provislons of technical and o the r services in way which
encourage initiative, self help and mutual help and make
these more effective. It is expressed in programmes
designed to achieve a wi de vari e ty o f specl f i c
improvements. These programmes are usually concerned with
local communities because o f the fact that the people
livlng together in a local i ty have many and varled interest
in common. Some o f their in terest are expressed in
functional groups organized t o further a more limited range
o f interest not primarily determined by locality. " ( J.
Bhattacharyya dalam Taliziduhu Ndraha, 1986 )
Pembangunan masyarakat dari definisi tersebut adalah
suatu
proses, baik usaha masyarakat sendiri
berdasarkan
prakarsa, inisiatif, kreaktivitas dan kemandiriannya bersamasama kegiatan pemerintah untuk memperbaiki kondisi sosial,
budaya dan ekonomi dari komunitas yang bersangkutan menjadi
integritas bangsa dalam usaha memberi dukungan bagi kemajuan
bangsa dan negara. Proses tersebut mencirikan adanya elemen
dasar yaitu : Pertama. partisipasi masyarakat itu sendiri dalam
rangka
memperbaiki kehidupannya atas dasar kekuatan
dan
kemampuan sendiri dan; Kedua, pelayanan dan bantuan teknis dari
pemerintah untuk membangkitkan prakarsa, tekad untuk menolong
diri sendiri dan kesediaan membantu orang lain ( " self-help and
self to other" }.
Proses tersebut diwujudkan dalam bentuk rencana dan
program serta pelaksanaannya didasarkan pada " -pemberdayaan
melalui
bimbingan,
pembinaan dan bantuan
teknis
untuk
menumbuhkan kemandirian dan jatidirinya selaku sumber daya
manusia mempunyai kekuatan dan kemampuan hidupnya.
68
Konsep pembangunan masyarakat tersebut, lebih relevan
pada pembangunan komunitas atau " Community Development
dalam
bentuk gerakan pembangunan
pendidikan
masyarakat.
Kemudian dikembangkan menjadi pembangunan sosial atau " Social
Development " yang jangkauannya meliputi bidang pendidikan atau
budaya, sosial, ekonomi dan sebagainya yang dilaksanakan dalam
bentuk pendekatan pembangunan desa, pembangunan masyarakat
desa, pembangunan pedesaan dan pembangunan masyarakat pedesaan
termasuk pembangunan desa terpadu.
2. Strategi Pembangunan Masyarakat Pedesaan
Pembangunan masyarakat pedesaan merupakan bagian dari
pembangunan masyarakat atau sosial dan pembangunan desa serta
pembangunan pedesaan yang diarahkan pada kelembagaan
dan
partisipasi masyarakat miskin dalam meningkatkan kesejahtraan
pada satuan wilayah pedesaan yang jumlah penduduknya banyak.
Secara
demografis, bagian terbesar penduduk
tinggal
di
pedesaan, sekitar
70 - 80 % penduduk dunia terutama pada
negara berkembang dan terbelakang bermukin di pedesaan. Taraf
pendidikannya sangat rendah, kebanyakan buta huruf dan buta
pengetahuan dasar yang menjadi pemasalahan global.
Phillip Coombs ( 1985 ) menjelaskan bahwa penduduk
menjadi
masalah
utama negara-negara miskin
dan
sedang
berkembang. Jumlah penduduk kedua katagori negara tersebut
adalah 1.19 milyar orang sedangkan pada tahun 1990
meningkat
2.62 milyar. Penduduk miskin selain tersebar di pedesaan, juga
merupakan bagian dari masyarakat kota. Kemiskinan dapat dilihat
dari kondisi keluarga dan kantong atau wilayah yang dihuni
penduduk miskin. Gejala kemiskinan disebabkan oleh
indikator
keluarga yaitu rata-rata kelahiran dan kematian tinggi, angka
pengangguran meningkat, tingkat pendapatan rendah, status gizi
rendah, status perumahan kumuh, tingkat pendidikan rendah,
pengeluaran konsumsi pangan tidak mencukupi dsb. Sedangkan
indikator kantong kemiskinan ditandai oleh pendapatan perkapita
wilayah yang rendah, persentase rawan gizi yang tinggi, umur
harapan hidup rendah disertai rata-rata tingkat pendidikan
69
rendah. Disamping itu, kondisi pemukiman, transfortasi, sarana
air bersih, Jalan, fasilitas kesehatan, sarana pendidikan dan
fasilitas umum lainnya tidak mencukupi.
Konsep pembangunan pedesaan menjadi pusat
perhatian
negara-negara
berkembang
semenjak
tahun
limapuluhan,
enampulahan dan tujuh puluhan sampai sekarang dalam pembangunan
nasionalnya,
dengan menerapkan strategi untuk
memecahkan
masalah besar masyarakat pedesaan yang menyangkut pertumbuhan
penduduk,
kemiskinan,
urbanisasi
dan
pengangguran
masyarakatnya.
Para
penentu
kebijaksanaan
pembangunan
masyarakat
di negara-negara berkembang, telah
mengangkat
masalah tersebut dalam haluan dan program serta kegiatan
pembangunan pedesaan secara menyeluruh yang menyangkut sektor
ekonomi, pendidikan, kesehatan, kesempatan kerja,
sosial,
budaya, agama dsb.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lee dan Chaudri (
Moelyarto, 1993 ) kenapa sejak tahun 70-an hingga
kini
pembangunan pedesaan dan masyarakat pedesaan banyak mendapat
sorotan para ahli :
Pertama. dua
pertiga penduduk negara berkembang tinggal di
wilayah pedesaan dan terdapat proporsi yang tinggi
antara negara-negara miskin;
Kedua, pesatnya laju pertumbuhan penduduk yang menimbulkan
persoalan
sosial-ekonomi seperti
pengangguran,
kemiskinan dan pendidikan rendah;
Ketiga, peningkatan dan
pertumbuhan ekonomi negara
tidak
membawa
pengaruh
besar
terhadap
peningkatan
pendapatan penduduk miskin, tetapi pada golongan
tertentu.
Sehubungan dengan itu, Uma Lele ( Moeljarto,
1993 )
merumuskan pembangunan masyarakat pedesaan sebagai berikut :
Community rural development is a improving Standard of
the
mass of the low-income population residing in
rural areas and making the process of their development
self sustaining ". ( Pembangunan masyarakat pedesaan
sebagai upaya perbaikan standar kehidupan bagi sebagaian
70
besar penduduk yang berpenghasilan rendah yang tinggal di
daerah pedesaan seraya menciptakan proses pembangunan yang
berkelanjutan ).
Sedangkan Batten ( 1961 ) menjelaskan bahwa pembangunan
masyarakat
desa
adalah aktivitas
yang
dilakukan
oleh
masyarakat, dimana mereka mendiskusikan kebutuhan dan masalah
bersama , merencanakan masalah yang mereka hadapi bersama. Para
Pakar
yang
tergabung dalam
ICED-UN
menegaskan
bahwa
pembangunan masyarakat desa adalah merupakan kegiatan yang
berencana untuk menciptakan kondisi-kondisi bagi
kemajuan
sosial-ekonomi masyarakat dengan partisipasi aktif masyarakat
dan kepercayaan sepenuh mungkin atas prakarsa itu sendiri.
Irwin
Sander dalam Phillip Coombs ( 1984
)
memberikan
argumentasi bahwa pembangunan masyarakat desa adalah perpaduan
antara
pembangunan sosial-ekonomi dengan
pengorganisasian
masyarakat. Pembangunan sektor sosial ekonomi masyarakat desa
perlu diwujudkan dalam program pembangunan, didukung oleh
kemampuan administratif serta dukungan partisipasi masyarakat.
Organisasi dan partisipasi masyarakat tumbuh dari dan dalam
masyarakat, yang dapat dipandang sebagai lembaga pemicu
atau
sebagai katalisator pembangunan masyarakat pedesaan. Dengan
syarat organisasi masyarakat tersebut memiliki
kapasitas,
kapabilitas dan performansi yang memperjuangkan kepentingan
masyarakat.
Pada
Negara berkembang yang menempuh
kebijaksanaan
pembangunan pedesaan , paling tidak terdapat empat jenis
strategi yang dipergunakan oleh pemerintah negara-negara yang
bersangkutan
dalam rangka mewujudkan
tujuan
pembangunan
pedesaan
tersebut.
Keempat
jenis
strategi
tersebut
diadaptasikan dari John C. Ickis dalam " Structural Reeponses
to New Rural Development Strategles " yang dikemukakan
David
C. Korteen dan Fillip- Alponso pada "Bureaucracv and the
( 1990 ) ialah :
1. The Growth Strategy ( Strategi Pertumbuhan ) ;
2. The Welfare Strategy ( Strategi Kesejahteraan ) ;
71
3. The Responsive Strategy ( Strategi yang tanggap Kebutuhan
Masyarakat ) ;
4. The Integrated or Holistic Strategy ( Strategi Keterpaduan atau Strategi Menyeluruh ).
1. Strategi Pertumbuhan
Strategi
pertumbuhan pada umumnya bermaksud
untuk
mencapai peningkatan yang cepat dalam nilai ekonomis melalui
peningkatan pendapatan perkapita penduduk, produktivitas
sektor
pertanian,
permodalan,
kesempatan
kerj a dan
peningkatan kemampuan konsumsi masyarakat pedesaan.
2. Strategi Kesejahteraan
Strategi kesejahteraan pada dasarnya dimaksudkan untuk
memperbaiki taraf hidup atau kesejahteraan penduduk daerah
pedesaan melalui pelayanan dan peningkatan program-program
pembangunan sosial yang berskala besar atau nasional seperti
peningkatan
pendidikan, perbaikan kesehatan dan
gizi,
penanggulangan urbanisasi, perbaikan pemukiman penduduk,
pembuatan sarana dan prasarana sosial lainnya transportasi,
pendidikan, ibadah, fasilitas umum lainnya di pedesaan.
3. Strategi Tanggap Kebutuhan Masyarakat
Strategi
ini
merupakan
reaksi
terhadap
strategi
kesejahteraan yang bermaksud untuk menanggapi kebutuhankebutuhan yang dirumuskan masyarakat sendiri dengan bantuan
pihak
luar ( " sel f need and assistence ")
untuk
memperlancar usaha mandiri melalui pengadaan teknologi serta
sumber-sumber yang sesuai bagi kebutuhan proses pembangunan
akibat
tidak
tersedianya sumber pada
pedesaan
yang
bersangkutan.
Dari
ketiga
strategi pembangunan
masyarakat
desa
tersebut,
memiliki kelemahan tertentu yang melekat
pada
pendekatan yang dianutnya. Kelemahan dari strategi pertumbuhan
akan menimbulkan jurang kaya-miskin di pedesaan; strategi
kesejahteraan justru menciptakan ketergantungan masyarakat pada
72
pemerintah dan sumber-sumber yang mereka butuhkan akan melapaui
kemampuan pemerintah untuk memenuhinya. Strategi yang tanggap
terhadap kebutuhan masyarakat terlalu idealistik, sulit untuk
diadaptif dan transformasi budaya sehingga sukar dilaksanakan
secara efektif dalam skala luas.
4. Strategi Integratif atau Menyeluruh
Untuk
mengatasi dilema pembangunan masyarakat
desa
tersebut,
para penentu kebijaksanaan
pada
negara-negara
berkembang
mempunyai kesepakatan merumuskan
konsep
yang
merupakan kombinasi dari unsur-unsur pokok dari pendekatan
ketiga
strategi tersebut. Strategi baru berupa
Strategi
Intergratlf atau Menyeluruh ingin mencapai secara simultan
tujuan-tujuan
yang
menyangkut
kelangsungan
pertumbuhan.
persamaan, ke se.i ah teraan <ian taarti H 1 pasi aktif masvarftkat dalam
proses pembangunan pedesaannya. Strategi ini amat berbeda
dengan pendekatan strategi, dalam artian fungsi yang dijalankan
secara
mendasar
lebih
beragam
dan
kompleks.
Secara
konsepsional, terdapat tiga prinsip yang membedakan dengan
strategi lainnya yaitu :
a). Persamaan, keadilan,pemerataan dan partisipasi merupakan
tujuan yang secara eksplisit dari strategi menyeluruh,
maka badan publik yang ditugasi untuk melaksanakan harus :
a) memahami dinamika sosial
masyarakat sebagai basis
intervensinya; b) intervensi dilakukan untuk memperkokoh
kemampuan masyarakat sendiri dalam memecahkan masalah yang
dihadapinya,
serta
untuk
mengambil
langkah-langkah
instrumental
yang
membutuhkan
kemampuan
aparatur
pemerintah melakukan intervensi sosial.
b). Memerlukan
perubahan-perubahan
mendasar
baik
dalam
komitmen maupun dalam gaya dan cara bekerja, maka badan
publik yang belum memiliki kemampuan intervensi sosial
akan memerlukan pemimpin yang kuat komitmen pribadinya
terhadap tujuan dari strategi menyeluruh tersebut, yakni
untuk : a) menentukan arah nilai organisasi, energi dan
proses menuju tujuan strategi; b) memelihara integritas
73
organisasi yang didukung oleh "Institutlonal leadership".
c). Keterlibatan badan publik dan organisasi sosial yang
terpadu, maka memerlukan suatu pedoman untuk memfungsikan
struktur supra organisasi yang bertugas antara lain : 1)
membangun
dan memelihara perspektif
menyeluruh,
2)
melaksanakan
rekrutmen
dan
pengembangan
pimpinan
kelembagaan, dan 3) membuat mekanisme untuk mengatur
saling keterkaitan antara organisasi formal dan informal
melalui sistem mflnaeamfin BtartegiSDalam strategi integratif atau menyeluruh pembangunan
masyarakat desa ini, secara struktural dapat dilihat unsur
pendekatan yang digunakannya adalah :
a. Tu.iuan adalah pertumbuhan, persamaan, kesejahteraan dan
partisipasi aktif masyarakat pedesaan.
b. Sarana
adalah
membangun kemampuan
masyarakat
untuk
melaksanakan pembangunan bersama pemerintah.
c. Fungsi Lingkungan Masyarakat
adalah aneka ragam dan
kompleks.
d. Dasar Asumsi adalah bahwa pemerintah dapat menempuh suatu
kebijaksanaan yang bertujuan untuk
merestrukturalisasi
hubungan kekuasaan dalam masyarakat. Birokrasi Pusat yang
didesentralisasikan
dapat memahami
kekuatan
kelompok
masyarakat.
e. Struktur Birokrasi adalah struktur desentralisasi yang
herarkhi dan fungsional dengan mekanisme dan prosedure
kegiatan yang permanen bagi terciptanya integrasi vertikal
dan
horizontal.
Kemampuan
manajerial,
spesialisasi,
kualifikasi
dan
fungsionalisasi
birokrasi
yang
terdesentralisasi tetap mempunyai kemampuan generalis dan
spesialis.
f. Koordinasi adalah beraneka ragam koordinasi dapat permanen
atau adhoc. dalam semua tingkatan, fungsi, kebutuhan dan
mekanismenya.
g. Arus Komunikasi adalah dua arah yang dapat dilakukan secara
formal,
informal, vertikal, horizontal
dan
diagonal
secara
terus
menerus melalui bermacam
saluran
dan
74
bentuk
sarana
komunikasi
yang
persuasif
dan
edukatif.
masyarakat,
h. Tempat
Prakarsa adalah
kelompok-kelompok
pengumpulan
Pemerintah Lokal dan Desa melalui proses
keputusan,
informasi,
penentuan
dan
pengambilan
kegiatannya
implementasi
kebijaksanaan dan monitoring
secara terpadu, berkaitan dan terus menerus.
i. Indikator Prestasi Yang Dicapai adalah lebih mengakar pada
pemecahan aspek kependudukan yang diarahkan pada perbaikan
persamaam/pemerataan/keadilan,
kesejahteraan,
dan
partisipasi
aktif masyarakat yang dihubungkan
dengan
tujuannya.
3. Prinsip Pembangunan Masyarakat Pedesaan
Pembangunan
masyarakat
desa
meliputi
pembangunan
masyarakat perkotaan dan pedesaan dapat ditinjau
sebagai
sistem, metode. gerakan untuk memerangi kemiskinan, kebodohan
dan keterbelakangan, baik kemiskinan struktural, kultural dan
alamiah.
Mengingat
gejala
kemiskinan,
kebodohan
dan
keterbelakangan masyarakat harus dipecahkan dalam pendekatan
sistem dan metode tertentu serta gerakannya secara menyeluruh
karena satu sama lain saling berhubungan dan ketergantungan
baik yang bersumber dari sumber daya alam, manusia, teknologi,
lapangan pekerjaan, permodalan, dan kelembagaan.
Haguel dalam Slamet Margono ( 1985 ) membuat model
pengaruh
dan
interelasi
kemiskinan,
kebodohan
dan
keterbelakangan yang memerlukan pendekatan sistem, metode dan
gerakan pembangunan masyarakat desa, dimana hubungan
dan
faktornya dapat digambarkan sebagai berikut :
75
GAMBAR II.5. MODEL PENGARUH DAN INTERELASI KE1ISKINAN,
KEBODOHAN DAN KETERBELAKANGAN
Sumber Daya Alam
Pembangunan masyarakat pedesaan dapat ditinjau
dari
pendekatan
sistem, metode dan gerakan
pembangunan
yang
dilakukan
oleh
masyarakat dan bersama
pemerintah
guna
meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya secara menyeluruh
terutama
dalam mengatasi kemiskinan, keterbelakangan
dan
kebodohan
penduduknya dalam suatu wilayah
atau
kantong
kemiskinan di pedesaan. Pendekatan tersebut merupakan bagian
dari strategi pembangunan pedesaan yang bersifat terpadu atau
menyeluruh.
1). Pembangunan
masyarakat pedesaan dapat
ditinjau
dari
pendekatan
sistem,
merupakan bagian
dari
sistem
pembangunan nasional yang secara sub sistem adalah meliputi
:
sub
sistem
pembangunan
regional,
pembangunan
lokal/daerah, pembangunan desa, pembangunan pedesaan dan
perkotaan, pembangunan masyarakat pedesaan dan masyarakatan
perkotaan. Pembangunan masyarakat pedesaan sebagai sistem
mencapuk komponen-komponen: masukan. proses, kfiluaran dan
penaaruh .
76
Masukan,
pembangunan masyarakat
pedesaan
me1iput i
lingkungan,
sarana, mentah dan lain-lain.
Masukan
Lingkungan terdiri sumber daya manusia, alam, budaya, dan
kelembagaan masyarakat yang bersangkutan. Masukan Sarana
terdiri dari pelaku pembangunan , program, fasilitas,
pengelolaan dan biaya.
Masukan Mentah adalah
warga
masyarakat baik individu atau kelompok, terutama penduduk
miskin di pedesaan.
Proses, pembangunan masyarakat pedesaan mencakup rangkaian
kegiatan semua komponen untuk menghasilkan keluaran berupa
proses organisasi dan managemen pemerintahan, baik dari
segi perencanaan sampai pada pelaksanaan dan pengendalian
maupun dari segi perilaku birokrasi pemerintahannya yang
profesional dan kultural.
Kelyaran.
pembangunan masyarakat pedesaan
menciptakan
perubahan kualitas tingkah laku manusia selaku individu,
kelompok dan masyarakat
yang mencakup aspek kognisi,
afeksi, dan skills yang berkenaan dengan peningkatan taraf
kehidupannya.
Pengaruh pembangunan masyarakat pedesaan
merupakan akibat yang diperoleh penduduk dalam peningkatan
taraf kehidupannya, penularan pengalamannya kepada orang
lain dan partisipasinya dalam pembangunan pedesaan.
2). Pembangunan masyarakat pedesaan ditinjau dari pendekatan
metode adalah upaya pendidikan sosial yang dilakukan oleh
pemerintah, LSM, organisasi masyarakat atau
perguruan
tinggi
terhadap penduduk pedesaan melalui
pendekatan
edukatif
dan persuasif untuk
menumbuhkan
inisiatif,
kreativitas,
keterampilan
dan
kemandirian
dalam
meningkatkan
taraf
hidup
dan
kehidupannya
maupun
partisipasi aktif dalam pembangunan pedesaan.
3). Pembangunan
masyarakat
desa sebagai
gerakan
lebih
menekankan pada pengdemokrasian, pelembagaan, partisipasi
aktif masyarakat untuk memecahkan, merumuskan, merencanakan
dan melaksanakan kegiatan sesuai dengan kebutuhannya secara
bersama dalam upaya menciptakan kondisi sosial-ekonomi
masyarakatnya.
77
Sehubungan dengan pandangan di atas, maka prinsip umum
dari
pembangunan
masyarakat
desa
termasuk
pembangunan
masyarakat pedesaan adalah meluputi: prinsip pembangunan yang
berkelanjutan, prinsip pembangunan yang integral ; prinsip
pembangunan
dinamis
.
Namun
demikian
prinsip-prinsip
pembangunan
masyarakat pedesaan adalah berorientasi
pada
kebutuhan, partisipasi, keterpaduan, berkelanjutan, keserasian,
kemampuan sendiri / kemandirian, dan kaderisasi.
1). Prinsip Kebutuhan adalah program pembangunan
masyarakat
pedesaan terutama didasarkan atas dan untuk
memenuhi
kebutuhan yang dirasakan dan dinyatakan oleh masyarakat.
2). Prinsip Partisipasi menekankan pada keterlibatan masyarakat
secara aktif dan lembaga-lembaga yang mempunyai fungsi
pelayanan masyarakat di dalam perencanaan (
termasuk
identifikasi kebutuhan ), pengorganisasian, penggerakkan ,
pembinaan, penilaian dan pengembangan kegiatan pembangunan
masyarakat di daerah pedesaan. Penyelenggaraan kegiatan
inipun sekaligus bertujuan untuk : a) mendorong tumbuhnya
perubahan sikap dan perilaku masyarakat yang kondusif untuk
kemajuan, b) meningkatkan kualitas partisipasi masyarakat,
c) memberikan kepercayaan yang lebih besar terhadap peranan
pemuda dan wanita yang merupakan bagian terbesar penduduk
pedesaan, d) menyegarkan dan meningkatkan
efektivitas
fungsi dan peranan kepemimpinan serta pemerintahan lokal.
3). Prinsip
Keterpaduan, mencerminkan adanya upaya
untuk
memadukan sumber-sumber yang dimiliki oleh masyarakat dan
lembaga-lembaga terkait dalam penyelenggaraan
kegiatan
pembangunan
masyarakat. Rencana pembangunan
merupakan
produk dari perpaduan perencanaan dari bawah dan dari atas
atau
bottom UR and top down plannlng
sehingga kegiatan
pembangunan masyarakat memiliki kaitan erat dengan program
sektoral dan regional. Sumber yang berasal dari lembaga
terkait
dimanfaatkan
secara optimal
untuk
memenuhi
kebutuhan dan memecahkan permasalahan yang dihadapinya.
4). Prinsip
Berkelanjutan.
menegaskan
bahwa
pembangunan
masyarakat di daerah pedesaan tidak dilakukan sekali tuntas
78
melainkan secara bertahap, terus menerus, dan terarah untuk
mencapai kondisi sosial ekonomi yang lebih baik. Suatu
program
yang
dianggap berhasil menjadi
titik
awal
penyelenggaraan program berikutnya, sedangkan program yang
perlu diperbaiki atau diperluas perlu ditindak lanjuti.
5). Prinsip
Keserasjan , mengandung makna bahwa
program
pembangunan masyarakat di pedesaan memerlukan perhatian
keserasian antara kebutuhan yang dirasakan oleh anggota
masyarakat dengan kebutuhan lembaga-lembaga terkait dan
pembangunan
sehingga
terdapat
kaitan
erat
antara
kepentingan
masyarakat dengan kepentingan
pemerintah.
Tujuan dan proses pembangunan adalah untuk terwujudnya
keseimbangan dan keserasian antara pemenuhan kebutuhan
jasmaniah
dan rohaniah serta antara
berbagai
aspek
kehidupan masyarakat.
6). Prinsip
gemamPUfrn Sendiri, menegaskan bahwa
kegiatan
pembangunan masyarakat pedesaan disusun dan dilaksanakan
berdasarkan kemampuan dan sumber-sumber yang
dimiliki
masyarakat.
Keterlibatan pihak lain baik
perorangan,
kelompok maupun lembaga adalah untuk mendorong dan menarik
agar masyarakat mampu mengidentifikasi dan menggunakan
sumber-sumber dari dalam dan dari luar masyarakat secara
efektif dan efisien. Kemampuan sendiri itu diwujudkan dalam
swadaya dan gotong royong, kreativitas, dan sikap inovatif
serta produktif dari masyarakatnya dalam berbagai kegiatan
kehidupannya.
7). Prinsip Karierina»i- memberi arah bahwa penyelenggaraan
pembangunan masyarakat di pedesaan akan berlanjut apabila
kader-kader pembangunan disiapkan dan dibina selama proses
pembangunan berlangsung. Upaya peningkatan pimpinan lokal
dan pembinaan kader yang berasal dari kalangan pemuda ,
perlu
dijadikan sarana
pokok dalam
setiap
program
pembangunan masyarakat. Kader-kader ini diharapkan menjadi
" agen t of development " masyarakat yang mencerminkan
sikap dan perilaku antisipasif dan partisipatif
bagi
kemajuan masyarakat yang lebih baik dimana mendatang.
79
D.
Transformasi
Pedesaan
Pendidikan Sosial Pengentasan
Kemiskinan
di
1. Transformasi Pendidikan Peningkatan SDM
Pendekatan pembangunan manusia atau " human development
approach " dalam rangka pembangunan manusia dan masyarakat
merupakan titik pusat dari segenap pembangunan, sekaligus
sebagai modal dasar atau kekuatan maupun faktor dominan dan
determinan serta sasaran utama pembangunan. Sasaran utama dari
peningkatan kualitas sumber daya manusia adalah peningkatan
kualitas manusia dan masyarakat agar mereka mampu berperan
serta secara aktif dalam pembangunan, mempunyai kemandirian,
meningkatkan efisiensi dan produktivitas bagi
peningkatan
kesejateraan hidupnya.
Dukungan penduduk selaku sumber daya pembangunan, tidak
hanya dilandasi oleh jumlah yang besar melainkan ditentukan
oleh
kualitas daya nalar, keterampilannya dan
penerapan
teknologi yang dimiliki sumber daya yang menjadi
subyek
pelaksana pembangunan. Dengan dilandasi oleh rasa tanggung
jawab kebangsaan, kenegaraan dan kemasyarakatan melalui ikut
sertanya dalam proses pembangunan. Menarik untuk diperhatikan
pernyataan Prof. Dr. Soepardjo Adikusumo, dkk dalam " Laporan
Penelitian Pendidikan di Indonesia Bagian Timur " ( 1991 : 37
) bahwa kualitas sumber daya manusia secara menyeluruh meliputi
tingkat kesehatan, pengetahuan ilmu, keterampilan memanfaatkan
teknologi dan sikap mentalnya dalam keikut sertaan dalam
pembangunan akan menentukan keberhasilan pembangunan, terutama
dalam mengatasi ketinggalan dengan daerah lainnya.
Oleh karena itu, penduduk selaku sumber daya manusia
selain subyek dalam melaksanakan pembangunan, juga sekaligus
menjadi obyek garapan pembangunan melalui garapan pembangunan
sebagai peningkatan kesehatan, pengetahuan, keterampilan dan
kesadarannya sebagai
subyek yang
menentukan keberhasilan
pembangunan.
Tanpa
dukungan sumber
daya
manusia
yang
berkualitas, pembangunan tidak mencapai hasil optimum sesuai
dengan tujuannya.
80
Melibatkan penduduk selaku sumber daya manusia dalam
pembangunan, tidak dapat dipisahkan dari proses transformasi
pendidikan sebagai sarana untuk menciptakan dan sekaligus obyek
peningkatan sumber daya pembangunan. David C. Korten < 1990 )
mengatakan bahwa dalam era sekarang
dan masa mendatang,
transformasi budaya dalam arti pendidikan erat kaitannya dengan
perubahan sosial, pranata sosial serta pertumbuhan ekonomi
masyarakat, sehingga transformasi seperti ini
menumbuhkan
kualitas manusia untuk "
gualitv af llfe^ developmental Q£
«ani»!
inflfcttutionai.
aplication
cl£
tftghnologies
and
maint.enance resources
environmenta 1 " ( peningkatan kualitas
hidup,
pengembangan
institusi
sosial
yang
demokratis,
pemanfaatan teknolgi serta pemeliharaan sumberdaya alam dan
lingkungan ).
Proses transformasi pendidikan dalam
arti
pengembangan pengaruh sistem budaya, sisten sosial dan sistem
kepribadian
yang unggul untuk mencerdaskan kehidupan bangsa
berhubungan erat dengan pranata sosial, kehidupan ekonomi,
stratifikasi sosial. mobilltan Rnaial seria perubahan sosial (
Sudardja Adiwikarta, 1988 ). Seperti dikemukakan Ki Hajar
Dewantara transformasi pendidikan landasan andalannya mengacu
pada " kemerdekaan " sebagai upaya pemulyaan harkat dan
martabat manusia yang diarahkan pada bakat dan kodratnya.
Sedangkan pemikir Dryarkara bahwa
transformasi pendidikan
berkenaan dengan nilai budaya yang " laten t and Manifest
yang diarahkan bagi manusia dalam upaya
hotglnlsasi dan
humanisasi secara terus menerus sesuai dengan zamannya.
Pendidikan sebagai sarana transformasi budaya
dalam
rangka
kualitas sumber daya manusia mempunyai
relevansi
terhadap
aspek
survlval.
Vftmardekftan.
humanisasi.
pemberdayaan.
dan
rasionalisasi
guna
terCiptanya
produktivitas, etos kerja, kemandirian dan jatidiri manusia
yang
unggul
bagi
tuntutan
pembangunan.
Dalam
proses
transformasi yang demikian dikenal sebagai proses peralihan
from old societes to a new ( nation ) Btate " . Pendidikan
mengemban misi sebagai transformasi perjuangan nilai budaya
untuk membebaskan manusia dari belenggu kebodohan, kemiskinan,
81
keterbelakangan, penjajahan, primordial dan tradisi-tradisi
lokal yang sempit menuju perilaku yang global baik dari .aspek
apektif, kognitif dan psikomotorik.
Prof. Dr. Soepardjo Adikusumo dalam "
Pengaruh dan
Transformasi
Antisipasi f
Perobahan Sosial di Indonesia
_
(
1992 ) menyebutkan bahwa upaya pembudayaan transformasi pada
saat
ini menghadapi saatnya kritis. Situasi dari
upaya
transformasi formal pada pasca proklamasi berubah menjadi upaya
massal, pemikiran cenderung pada upaya transformasi teknologis
dan mengacu pada pembenahan instrumental... bukan pada proses
belajar.
Upaya
pembenahan pendidikan
sebagai
sarana
transformasi, bahwa pengemban sumber daya manusia adalah proses
pendidikan, pelatihan dan penyuluhan, penataran dan bentuk
pembinaan lainnya sarana kunci demi eksistensi bangsa dan
terasanya
kelemahan dan kesadaran dari
potensi
raksasa
tersebut, maka diperlukan pembenahan melalui upaya transformasi
pendidikan formal, nonformal dan informal untuk peningkatan
kualitas sumber daya bagi era kemajuan dunia dan berani
berkompetisi demi survive eksistensinya.
Ini mengisyaratkan terhadap upaya transformasi budaya
dalam rangka peningkatan sumber daya manusia yang berkualitas
melalui
sarana pendidikan dan pelatihan
yang
mempunyai
relevansi dengan kebutuhan kerja atau " Link and Match " yang
dapat dilakukan melalui jalur pendidikan formal, informal dan
non formal yang kondusif berorientasi pada nilai budaya seperti
yang terkandung dalam tujuan sistem pendidikan nasional. Hal
ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Phillip
Coomb yang dibiayai oleh UNESCO PBB di negara-negara berkembang
( 1984 ) menyebutkan bahwa " timbulnya sumber daya manusia yang
tidak berkualitas, khususnya dipedesaan karena mereka tidak
mempunyai kesempatan untuk mengikuti proses pendidikan sejak
kecil sampai dewasa melalui cara dan sumber pada pendidikan
formal, pendidikan informal maupun pendidikan non
formal
sehingga
timbul kemiskinan
kultural yang
berkelanjutan.
Transformasi nilai budaya melalui pendidikan tersebut, terutama
diarahkan pada upaya sosialisasi, pemberdayaan dan pengembangan
82
intelektual, sikap dan kepercayaan, kepribadian, kemampuan
pengambilan keputusan maupun produktivitas atau etos .kerja
sebagai
manusia
yang berdayaguna
dan
berhasilguna
Transformasi nilai melalui pendidikan sosial dapat dilalaikan
dalam proses pembelajaran, pelatihan dan pembimbingan dan
pembinaan di sekolah maupun di luar sekolah yang intensitas dan
kapasitasnya memperhatikan aspek strategis dari sudut
tujuan,
kualitas, relevansi, dan efisiensi.
Dalam hubungannya dengan transformasi budaya melalui
pendidikan
Sosial dalam rangka meningkatkan sumber
daya
manusia, maka pendidikan mempunyai dimensi sebagai berikut :
a). Transformasi Pendidikan Sosial Sebagai Terapi Budaya
Sumberdaya manusia dapat diusahakan atau diupayakan menjadi
sumber daya yang mempunyai arti bagi pembangunan budaya dan
pengembangan
keseluruhan
eksistensi
bangsa
dengan
keseluruhan sumber daya alam yang dimiliki. Manusia yang
berkualitas
sadar terhadap eksistensi manusia sebagai
manusia dan manusia yang menyadari eksistensi dirinva
dan
keberadaannya. Kesadaran akan eksistensinya, tercermin pada
ihtiar untuk memperkuat ketahanan dirinya sendiri dan
melaksanakan peranannya dalam proses interaksi
dengan
lingkungannya, sehingga pernanannya mempunyai makna dalam
hidupnya.
Ketahanan dalam hidupnya mempunyai
konteks
terhadap ketahanan dalam bidang Ipoleksosbudhankam sebagai
manifestasi ketahan dirinya, sosial dan bangsanya. Untuk
mewujudkanya melalui usaha pendidikan yang terkait dengan
nilai
sosial budaya. Oleh karena
itu,
transformasi
pendidikan sosial dalam rangka meningkatkan kualitas sumber
daya manusia merupakan
pengembangan budava. juga sebagai
terapi budaya dan transformasi budayaT yang mencerminkan
pendidikan mampu memantapkan ciri-ciri kebribadian bangsa
dan ciri-ciri budaya bangsa. Kepribadian individu merupakan
hasil dari budaya bangsa itu sendiri.
b>. Transformasi Pendidikan Sosial Pemicu Potensi
Pendidikan sosial berfungsi sebagai pelestari eksistensi
manusia dan bangsa untuk bersaing dalam mencapai keunggulan
83
penguasaan iman, taqwa dan budaya. Manusia yang berkualitas
adalah manusia yang memiliki keunggulan iman, tagwa dan
iptek sesuai dengan tingkat peradabannya sehingga dipandang
bagi
peran
untuk
peningkatan
kehidupannya
dan
masyarakatnya.
Pengembangan
potensi
manusia
melalui
transformasi pendidikan lebih diarahkan pada pembinaan dan
penyaluran
kemampuan
potensi dasar baik
dari
segi
pengetahuan, keterampilan dan kepribadiannya memiliki harga
diri, kemandirian dan tanggung jawab sosial,
c). Transformasi Pendidikan Sosial Selaku Kekuasaan
Transformasi pendidikan sosial bagi manusia sebagai sumber
daya manusia diharapkan mereka memiliki pengetahuan sebagai
kekuasaan. Kekuasaan pengetahuan yang ditransformasi dan
dimodifikasi
melalui
pendidikan
karena
pengetahuan
merupakan kebajikan, kebenaran, kebaikan dan kemulyaan (
Plato dan Aristoteles ). Oleh karena itu, Theodore Bremeld
( 1977 ) bahwa pendidikan adalah moral pengetahuan sebagai
kekuasan
yang ditransformasikan dan dimodifikasi
untuk
inovasi dan memperkuat manusia yang mampu mengatasi krisis
ekonomi, budaya, sosial, agama, ilmu pengetahuan, politik,
demografi dan kesenian sehingga terciptanya stabilitas,
harmoni,
keseimbangan
dan keserasian
hidupnya
dan
lingkungan sosialnya.
Transformasi
pendidikan sosial sebagai upaya
untuk
menanamkan, mempengaruhi, mengembangkan nilai budaya
yang
dimodifikasi bagi kebutuhan peningkatan sumberdaya manusia
harus memperhatikan tujuan, jalur, metode atau cara, materi
serta unsur pendidikan yang relevan dan kondisional. Dalam hal
ini yang erat kaitannya dengan bahasan pendidikan non
formal,
berkenaan dengan subyek pendidikan bagi penduduk miskin untuk
dientaskan melalui
pemberdayaan ; tu.iuan pendidikan untuk
penguasaan keterampilan dalam rangka mewujudkan etos
dan
produktivitas kerja penduduk miskin ; metode andragogi yang
menumbuhkan pengetahuan, sikap, kepercayaan dan kepribadian
dalam beruasaha dan bekerja. ;
materi
atau
substansi
pengetahuan
dan
teknologi tepatguna yang
relevan
bagi
84
keswadayaan, pengorganisaslan/pelembagaan
pendemokrasian penduduk miskin.
masyarakat
maupun
2. Kriteria Miskin dan Kantong Kemiskinan
Penduduk
Desa
Tertinggal
Kedudukan manusia dalam proses pembangunan, terutama
pembangunan di pedesaan merupakan sumber daya unggulan karena
penduduk pedesaan jumlahnya besar. Wilayah pedesaan
pada
umumnya ditandai oleh karakteristik penduduknya besar
dengan
pendapatan, produktivitas, tingkat pendidikan, kesehatan dan
gizi
serta kesejahteraannya lemah. Sangat penting
untuk
ditingkatkan, terutama dalam upaya mengatasi kemiskinan pada
masyarakat desa tertinggal. Pengentasan kemiskinan merupakan
multi dimensi tidak hanya terkait dengan sasaran
bidang
pendidikan, tetapi merupakan sasaran pemenuhan kebutuhan dasar
manusia atau " human basic needs " yang harus ditangani secara
terpadu. Pemenuhan kebutuhan dasar manusia tidak lain adalah :
kesempatan menperoleh kesehatan dan gizi, penghasilan yang
cukup, kesempatan memperoleh pendidikan dan kehidupan keluarga
yang sejahtera.
Menurut Bank Dunia ( 1990 ) dalam Laporannya pada PBB
Povertv £uad Imman rievelopment " mengatakan bahwa :
The case for human development is not only or event
primarily an economic one. Less hunger, fewer child death,
and beter
change of primary education are almost
universally accepted as important and in themselves ".
( Pembangunan manusia tidak hanya diutamakan pada aspek
ekonomi, tetapi yang lebih penting mengutamakan aspek
pendidikan secara universal bagi kepentingan diri orang
miskin guna meningkatkan kehidupan sosial ekonominya ).
Booth dan MC. Cawley ( Dalam Moelyarto T., 1993 )
menyatakan bahwa
" dibanyak negara memang terjadi kenaikan
tingkat kesejahteraan masyarakat yang diukur dari pendapatan
perkapita,
tetapi hanya dapat dinikmati
sebagian
kecil
masyarakat, sedangkan sebagian besar masyarakat miskin kurang
memperoleh manfaat dan bahkan merugikan
Untuk itu perlu
85
kebijaksanaan yang tepat dengan mengidentifikasikan golongan
masyarakat yang hidup di bawah garis kemiskinan
beserta
karakteristiknya.
Di mana keadaan miskin
ditandai
oleh
kekuarangan atau tidak mampu untuk memenuhi tingkat kebutuhan
dasar manusia untuk hidup yang paling rendah. Kemiskinan
tersebut meliputi kebutuhan dasar yang mencakup aspek primer
dan skunder. Aspek primer berupa miskin akan aset pengetahuan
dan keterampilan, sedangkan aspek sekunder adalah miskin akan
jaringan sosial, sumber-sumber keuangan dan informal yang
berbentuk kekurangan gizi, air, perumahan, perawatan kesehatan
yang kurang baik dan pendidikan yang relatif rendah.
a. Karakteristik Kelompok Penduduk Miskin
Emil Salim ( 1976 ) mengemukakan lima karakteristik
kemiskinan, kelima karakterisktik kemiskinan tersebut adalah :
1). Penduduk
miskin pada umumnya tidak
memiliki
faktor
produksi.
2). Tidak mempunyai kemungkinan untuk memperoleh aset produksi
dengan kekuatan sendiri.
3). Tingkat pendidikan pada umumnya rendah.
4). Banyak diantara mereka tidak mempunyai fasilitas.
5). Diantara mereka berusia relatif muda dan tidak mempunyai
keterampilan atau pendidikan yang memadai.
Kriteria lain yang digunakan untuk mengukur kemiskinan
penduduk adalah dengan menggunakan Ratio-Kebutuhan Fisik Mnimum
( R-KFM ). Apabila diasumsikan kebutuhan fisik minimum sesuai
dengan kondisi yang dihadapi sekarang ini untuk memenuhi
kebutuhan hidup minimum empat sehat lima sempurma adalah
sebesar Rp. 2.500,- perkapita perhari, maka dapat ditentukan
besarnya
kebutuhan fisik minimum perbulan. Dengan
nilai
tersebut dapat dihitung nilai kebutuhan fisik minimum per bulan
sebesar Rp. 2.500 X 30 hari = Rp. 75.000,- dan pertahun sebesar
Rp. 2.500 X 365 hari = Rp. 912.500,- ( Zulkifli Husin, 1993 ).
Apabila
nilai kebutuhan fisik minimum per kapita per
tahun dijadikan sebagai pembagi maka akan diperoleh Ratio
Kebutuhan Fisik Minimum ( R-KFM ). Dari hasil tersebut dapat
86
dikatagorikan apakah penduduk tersebut miskin atau tidak.
Apabila R-KFM yang diperoleh sama dengan 1 maka penduduk
tersebut dikatagorikan sebagai miskin, dikarenakan tingkat
pendapatan tersebut merupakan tingkat subsisten atau
subslstance level ". Artinya bahwa orang tersebut memperoleh
sejumlah
pendapatan
dengan
tingkatannya
hanya
untuk
mempertahankan hidup. Berdasarkan kondisi tersebut, maka R-KFM
diformulasikan sebagai berikut :
a),
b),
c),
d),
miskin sekali apabila R-KFM < 0,75
miskin apabila R-KFM 0,76-1,00
nyaris miskin apabila R-KFM 1,01 - 1,50
nyaris kaya apabila R-KFM 1,51 - 2,00
Kelompok penduduk miskin yang berada pada masyarakat
pedesaan dan perkotaan, pada umumnya dapat digolongkan pada
buruh tani, petani gurem, pedagang kecil, nelayan, pengrajin
kecil, buruh, pedangan kaki lima, pedagang asongan, pemulung,
gelandangan dan pengemis dan pengangguran. Kelompok miskin akan
menimbulkan
problema yang berkelanjutan
bagi
kemiskinan
kultural dan struktural, apabila tidak ditangani secara serius
terutama generasi berikutnya. Pada umumnya penduduk
yang
tergolong miskin adalah " golongan residual " adalah sebagian
masyarakat yang belum disentuh dengan berbagai
kebijakan
pemerintah secara terkonsentrasi khusus seperti sekarang ini
melalui IDT, namun secara umum sudah ada melalui PKT, Program
Bimas, Program Peningkatan Pendapatan Petani dan Nelayan,
NKKBS, KUD, PKK di desa dsb. Golongan ini sulit untuk dicapai,
karena kualitas sumber dayanya yang rendah sehingga kurang
memanfaatkan fasilitas maupun faktor produksi dan kemampuan
pendidikan dan latihan yang sangat minimal, bahkan pemberian
bantuan kebutuhan dasar manusia serta perlindungan hukum atau
perundang-undangan yang tidak adil.
Kelompok
penduduk miskin di Indonesia yang
berada
disektor perkotaan dan pedesaan sejak tahun 1984 sampai
tahun
1993
mengalami
penurunan, sebagai akibat
dari
program
pemerintah dan peran serta masyarakat dalam
mengentaskan
kemiskinan dari aspek sosial ekonomi secara terpadu.
87
TABEL.II.1. PERSENTASE PENDUDUK MISKIN SEKTOR PERKOTAAN
DAN PEDESAAN TAHUN 1984-1993
No Tahun
Garis kemiskinan (Rp) Jumlah dan % Penduduk Miskin
Desa+Kota
Desa
Kota
Kota
Desa
1. 1984
13.337
9.184
2. 1987
16.105
11.175
3. 1990
21.098
14.524
4. 1993
1,9
3,8
5,7
( 24,7 % ) ( 16,5 % ) ( 18,5 % )
2,9
2,1
5,0
( 22,2 % ) ( 12,75 % )( 15,5 % )
2,4
2,4
4,8
( 20,9 % ) ( 10,2 % ) ( 13,9 % )
8,7
17,2
25,9
Sumber : Kantor BPS Jabar 1994
Penduduk miskin yang tinggal di kota sebanyak 8,7 juta
orang sekitar 71,3 % berada di Jawa termasuk di Bali dan 15,0 %
berada di Sumatera sedangkan yang tinggal di desa sekitar 17,2
juta penduduk miskin berada di Jawa 48 % dan 21,9 % di
Sumatera.
b. Peta Kantong Kemiskinan Pada Desa Tertinggal
Kelompok
penduduk miskin pada umumnya berada
pada
desa/kelurahan miskin atau tertinggal, bukan berarti penduduk
miskin tidak berada pada bukan desa/kelurahan miskin. Biro
Pusat Statistik menentukan suatu desa tergolong miskin atau
tidak miskin menggunakan tiga metode yaitu : metode Standard
deviasi ( SD ), metode range ( R ) , dan metode persepsi
lapangan ( PL ). Dengan ketiga metode tersebut akan dihasilkan
3 macam desa miskin : miskin menurut metode standar deviasi,
miskin menurut metode range dan miskin menurut
persepsi
lapangan. Walaupun suatu desa tergolong miskin menurut suatu
metode standar deviasi, desa tersebut belum tentu miskin
menurut metode yang lain. Batasan desa miskin yang disepakai
adalah apabila paling sedikit -dua atau tiga metode tersebut
mengatakan bahwa suatu desa adalah miskin, maka desa tersebut
88
dikategorikan miskin. Akan tetapi apabila hanya satu dari
ketiga metode tersebut yang mengatakan miskin maka
desa
tersebut tidak digolongkan sebagai miskin.
Salah satu metode standar deviasi dan metode range
merupakan metode yang sering digunakan penilaian terhadap
status desa didasarkan atas 29 variabel ( untuk perkotaan 25
variabel, pedesaan 27 variabel dan tambahan keduanya 2 variabel
) yang terdapat pada Potensi Desa Sensus Penduduk 1990 ( Podes
SP 1990 ). Variabel-variabel tersebut dibagi menjadi tiga
kelompok yaitu : a), potensi dan fasilitas sosial ekonomi
desa, b), fasilitas perumahan dan lingkungan hidup, dan c),
keadaan penduduk / kependudukan. Setiap variabel tersebut
mempunyai skor, jumlah skor dari setiap desa dihitung dan
dipakai untuk menghitung rata-rata, standar deviasi dan range
untuk tingkat propinsi. Kemudian jumlah
skor
masing-masing
desa dibandingkan dengan rata-rata skor tingkat propinsi untuk
menentukan desa miskin atau tidak dari metode standar deviasi.
Skor desa juga dibandingkan dengan nilai range untuk menentukan
desa tersebut miskin dari metode range.
TABEL. I1.2. METODE STANDAR DEVIASI DAN RANGE
UNTUK MENENTUKAN DESA MISKIN
Rumus
Nomor
Metode
1.
Metode Standar
Deviasi
2.
Metode Range
Keterangan :
Xi
X
SD
T
I
=
=
=
=
=
Xi <
( X - 1 SD )
Xi > ( X - 1 SD )
Xi < ( T - 3 I )
Xi > ( T - 3 I )
Katagori
Miskin
Tidak Miskin
Miskin
Tidak Miskin
Total skor Desa
Rata-rata skor desa untuk tingkat propinsi
Standar deviasi untuk tingkat propinsi
Nilai skor tertinggi disuatu propinsi
Interval ( range / 5 )
89
Sedangkan ketiga variabel yang meliputi 25 dan
27
indikator penilaian yang
digunakan untuk menentukan desa
miskin tahun 1993 di Indonesia, kaitannya dengan penduduk
miskin dan program IDT sebagai berikut :
TABEL II.3.
VARIABEL YANG DIGUNAKAN DALAM MENENTUKAN DESA MISKIN 1993
NO
VARIABEL
KLASIFIKASI
I. POTENSI DESA
1. Tipe LKMD
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
tipe
3
tipe
1 atau 2
tipe
0
Jalan Utama
aspal
diperkeras
tanah
Sebagian Besar Penduduk
jasa, perdagangan dll
industri/keraj inan
bergantung pada potensi
pertaian
Rata2 tanah pertanian yg > 1 Ha
diusahakan/rt tani untuk 0,5 Ha - lHa
< 0,5 Ha
pertanian
Jarak dari Desa/Kelurahar 0 - 5 Km
ke ibukota Kecamatan
6 - 9 Km
> 10 Km
s/d SLTA keatas
Fasilitas Pendidikan
S/d SLTP keatas
S/d SD
Poliklinik keatas
Fasilitas Kesehatan
Puskesmas
Puskesmas Pembantu
Dokter
Tenaga Kesehatan
Paramedis
Dukun Bayi
Sarana Komunikasi
Telepon terpasang/umum
Kantor Pos
90
SKOR
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
10 .Pasar
Tidak ada sarana
Bangunan permanen/Setengan
permanen
Kios/Pertokoan
Tanpa bangunan
Total Skor
1
3
2
1
30
II PERUMAHAN DAN LINGKUNGAh
0 - 200 jiwa/Km
3
11 Kepadatan Penduduk
201 ~ 299 jiwa/Km
2
1
> 300 jiwa/Km
Pam, Pompa Listrik
3
12 Sumber Air Minum
Sumur pompa/mata air
2
Air hujan
1
Tidak ada wabah
13 Wabah penyakit selama
3
Selain muntaber/deman ber
setahun
2
darah paling sedikit 1 kali
Deman berdarah/muntaber pa1
ling sedikit 1 kali
14. Bahan bakar
Listrik/Gas
3
2
Minyak; Tanah
1
Kayu Bakar
3
15 Pembuangan sampah
Tempat sampah dan diangkut
Kedalam lubang
2
1
Kekali dll
3
16. Jamban
Sendiri
Bersama-sama
2
1
Bukan jamban
3
17. Penerangan Listrik
Listrik PLN
2
Listrik Non PLN
Lainnya/tidak ada
1
3
18. Ratio banyaknya tempat
> = 5/1000
2
ibadah/1000 penduduk
(2-4)/1000
1
< = 1/1000
Total Skor
27
113 . KEADAAN PENDUDUK
91
19 . Tingkat Kelahiran Kasar ( 0-2 )/1000
setiap penduduk
( 3-9 )/1000
> = 10/1000
( 0-4 )/1000
20 . Tingkat Kematian Kasar
( 5-9 )/1000
setiap penduduk
> = 10/1000
21 Enrolment Ratio Penduduk 96 - 100 %
81-95 %
< = 80 %
22 . Rata-rata banyaknya ter- > - 5 ekor
nak per rt ternak
2 - 4 ekor
< = 1 ekor
29
23 . % Rumah Tangga punya TV >
5-29
<
5
> 9 %
24 . % Rumah Tangga punya
1-9 %
Telepon
< 5 %
25 . Sosial budaya penduduk salah satu dari
- B, C dan D
- B dan C, B dan D atau
C dan D
- B, C atau D
Total
Skor
TAMBAHAN VARIABEL UNTUK DAERA fl PEDESAAN
>15
%
1. Rumah Tangga Pertanian
16-29
%
> = 30
%
Rincian -5,6 atau 7
2. Angkutan penduduk
Rincian -1,2,3,4,8,9 atau 1C
Tidak ada
Total Skor Tertinggi
Sumber : BPS tahun 1993
92
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
3
2
1
31
3
2
1
3
2
0
6
TABEL. II.4.
PETA DESA DAN KOTA TERTINGGAL TK. PROPINSI DI INDONESIA TH 1993
No Propinsi
Kota (%)
Miskin
31
1 .D.I. Aceh
2 Sumut
33
26
3 Sumbar
18
4 Riau
5 Jambi
12
38
6 Sumsel
7
7 Bengkulu
8
8 Lampung
9 DKI Jakarta 11
10 Jawa Barat 203
11 Jawa Tengal 198
12 D.I.Y.
19
13 Jawa Timur 232
17
14,Bali
13
15 NTB
17
16 NTT
17 Timor Timui 4
12
18, Kalbar
3
19 Kalteng
20 Kalsel
13
21 Kaltim
6
22 Sulut
24
23 Sulteng
3
42
24 Sulsel
6
25 Sultra
5
26 Maluku
27 Irian Jaya
7
T o t a l
Desa (%)
Miskin
(14,16) 2244
( 7,45) 1331
( 8,58) 674
(13,74) 442
(15,38) 263
(18,01) 677
( 9,72) 321
(10,26) 527
( 4,15)
(16,60) 1357
(15,22) 2241
(15,32) 92
(18,43) 1737
(16,35)
91
(21,31) 112
(21,25) 451
(50,00) 308
(20,34) 513
(12,50) 963
(12,38) 555
( 8,57) 449
(17,27) 337
( 6,00) 598
(14,84) 613
(13,64) 321
( 7,04) 807
(11,67) 1731
-
Desa+Kota Desa/Kota JumNon Miskin lah
Miskin
(41,37) 2275
(27,45) 1364
(31,15) 700
(38,94) 460
(25,05) 275
(26,77) 715
(30,23) 328
(33,09) 635
11
(23,07) 1560
(31,15) 2439
(29,30) 111
(24,39) 1969
(15,37)
98
(21,46) 125
(27,27) 468
(70,97) 312
(39,43) 525
(57,42) 696
(26,90) 568
(48,21) 505
(26,81) 361
(44,96) 601
(26,26) 655
(40,58) 327
(56,28) 812
(79,33) 1738
-
008 (14,68) 19625(33,44) 20633
Sumber : BPS tahun 1983
93
3368
3927
1767
806
853
853
806
1338
254
5544
6056
327
6412
533
458
1266
130
835
535
1600
600
1035
1035
1962
508
693
504
5643
5291
2467
1266
1128
1128
1134
1937
265
7104
8495
438
8381
631
583
1734
442
1360
1231
2168
1105
1396
1396
2117
835
1505
2242
44921
65554
Berdasarkan data di atas, terdapat 20-633 desa tertinggal
yang terdiri dari 1.008 desa yang bersifat perkotaan dan 19.625
desa yang bersifat pedesaan. Secara absolut, terdapat lima ( 5
) Propinsi yang paling banyak desa tertinggalnya yaitu Jawa
Tengah ( 2.439 desa ), Daerah Istimewa Aceh ( 2.275 desa ),
Jawa Timur ( 1.969 desa ), Irian Jaya ( 1.798 desa } dan Jawa
Barat C 1560 desa ). Namun apabila dilihat secara relativitas
yaitu persentase jumlah desa tertinggal terhadap jumlah seluruh
desa di Propinsi yang bersangkutan, terdapat lima Propinsi
termiskin " di Indonesia yaitu : Irian Jaya ( 77,5 % ), Timor
Timur ( 70,6 % ), NTT ( 56,5 %), Maluku ( 53,9 % ) dan
Kalimantan Timur ( 45,7 % ).
Penentuan Propinsi termiskin dapat juga dilakukan dengan
menggunakan data riil per kapita per tahun dan melihat angka
persentase penduduk miskin terhadap total penduduk propinsi
yang bersangkutan. Dengan berbagai cara perhitungan tersebut,
maka propinsi yang memerlukan prioritas penanganannya karena
kondisi kemiskinannya lebih parah dibandingkan dengan propinsi
lainnya adalah : Irian Jaya, Timor Timur, Nusa tenggara Timur,
Maluku, Kalimantan Barat, Jawa Tengah, D.I. Aceh, Jawa Timur,
Kalimantan Timur, Lampung dan Jawa Barat. Dari jumlah 20.633
desa tertinggal terdapat 3.968 desa tertinggal (19,2 ) yang
kondisi kemiskinannya paling parah kebanyakan pada propinsi
tersebut. Dari jumlah tersebut, berada di Jawa- Bali sebanyak
813 desa dan luar Jawa-Bali berjumlah 3.155 desa.
Peta kemiskinan nampaknya mempunyai relevansi dengan
keragaman tingkat pendidikan yang antara lain diukur dengan
APK. Pada tahun 1992/1993, sebagian besar propinsi termiskin
APK tingkat SLTP atau di bawah rata-rata nasional sebesar 53 %
yaitu : Jawa Barat ( 45,4 % ), Jawa Tengah ( 51,6 % ), D.I.
Aceh ( 52,1 % ), NTT ( 41,3 % ), Irian Jaya ( 46,5 % ), Timor
Timur ( 49 % ) Kalbar ( 46 % ), Lampung ( 46,5 % ), Maluku ( 49
% ) dan Kaltim ( 54,3 % ).
3. Tingkat dan Kebutuhan Pendidikan Sosial Penduduk Miskin
Kemiskinan merupakan situasi serba keterbatasan yang
94
terjadi bukan dikehendaki oleh si miskin. Penduduk miskin di
tandai oleh rendahnya tingkat pendidikan, produktivitas kerja,
pendapatan, kesehatan dan gizi serta kesejahteraannya sehingga
menunjukkan lingkaran ketidak berdayaan. Kemiskinan disebabkan
oleh terbatasnya sumber daya manusia yang dimiliki
dan
dimanfaatkan terutama dari tingkat pendidikan formal maupun
nonformal
serta membawa konsekuensi
terhadap
pendidikan
informal yang rendah.
Terdapat relevansi yang positip dan kuat antara gejala
kemiskinan penduduk di pedesaan dan perkotaan dengan pendidikan
formal maupun nonformal. Phillip Coombs ( 1984 : 14
)
mengatakan bahwa :
Bentuk
pendidikan
formal
apabila tidak
mampu
dilakukan
penduduk
miskin,
maka
pemerintah
negara
berkembang membuat kebijaksanaan pendidikan nonformal yang
dibutuhkan untuk mengatasi kesempatan kerja, urbanisasi,
peningkatan pendapatan dan perbaikan kesehatan serta gizi
berupa
penyuluhan, penataran, krusus,
maupun
bentuk
keterampilan teknis lainnya
Sasaran dan tujuannya untuk meningkatkan kecerdasan dan
keterampilan kaum petani, pengrajin, nelayan, pertukangan,
pengusaha kecil, pedagang dan lainnya yang tergolong penduduk
miskin. Pada umumnya pendidikan yang diperlukan di negara
berkembang menurut Phillip Coombs berupa pendidikan umum dan
dasar, pendidikan keluarga, pendidikan kemasyarakatan
dan
pendidikan kejuruan.
Gambaran tingkat pendidikan kaitannya dengan kemiskinan
di Indonesia, berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 1990 yang
dilakukan BPS menunjukkan bahwa sekitar 68,4 % dari rumah
tangga miskin di pedesaan kepala rumah tangganya tidak tamat SD
dan 28,8 % dari kepala rumah tangga tamat SD. Kecenderungan
yang sama dijumpai pada rumah tangga miskin di perkotaan
sekitar 54,4 % rumah tangga miskin kepala rumah tangganya tidak
tamat SD dan 34,4 % kepala rumah tangga tamat SD.
Secara keseluruhan di kota dan desa dari 94 % kepala
rumah tangganya hanya berpendidikan SLTP ke atas. Begitupula
95
dalam pendidikan nonformal baik bersifat pengetahuan umum dan
dasar, keluarga dan kemasyarakatan maupun keterampilan teknis
kurang mendapatkan kesempatan yang diprioritaskan dalam program
pembinaan dan pengembangan penduduk miskin.
Keterampilan teknis yang dibutuhkan penduduk
miskin
sesuai dengan klasifikasi dan sektor kegiatannya, seperti
keterampilan Industri berupa Industri kecil, Kerajinan Rumah
Tangga, Keterampilan Pertanian baik manajerial maupun teknis
pertanian, keterampilan pengelolaan modal dagang kaki lima dan
pedagang kecil, keterampilan permodalan dan teknis perikanan
bagi nelayan, keterampilan pengelolaan usaha peternakan dan
lain sebagainya. Menurut Oshima dalam Zulkarnaen Amin ( 1993
: 6 ) mengatakan bahwa :
Meningkatkan kesejahteraan penduduk miskin
meliputi
mobilisasi sektor pedesaan, penggalakan industri orientasi
ekspor, pembangunan perumahan sederhana, perbaikan struktur
bunga dan kredit, perbaikan tingkat upah minimum, pajak
progresif dan program pendidikan keterampilan
lainnya.
Pendidikan keterampilan merupakan salah satu aspek yang
sangat penting dalam upaya transformasi sosial budaya
penduduk miskin. Pendidikan formal bersifat makro untuk
anggota keluarga dan pendidikan
nonformal/keterampilan
bersifat mikro untuk kepala keluarga atau orang dewasa dari
penduduk miskin".
Pendidikan formal dan nonformal harus disesuaikan dengan
situasi dan kondisi masyarakat miskin, dalam arti
nilai
sosiologis dan antropologis daerah sasaran. Kebijaksanaan dan
program mikro dibidang pendidikan keterampilan disesuaikan
dengan kebutuhan yang berbeda antara daerah yang satu dengan
daerah yang lain, antara kelompok penduduk miskin dengan
kelompok penduduk miskin lainnya.
a. Kebijaksanaan Pendidikan Sosial Untuk Petani
Kebijaksanaan mikro bagi masyarakat yang tidak punya tanah
dan petani guram dapat dilakukan dengan redistribusi tanah,
perlindungan kepemilikan tanah dari penggusuran, penyuluhan
96
sapta usaha tani, pemberian bea siswa pada anak petani dan
kesempatan mengikuti pendidikan kejuruan.
b. Kebijaksanaan Pendidikan Sosial Untuk Nelayan
Program peningkatan taraf hidup nelayan dapat dilakukan
melalui pemberian modal dan peningkatan teknologi serta
keterampilan.
Kebijaksanaan berlaku juga bagi
petani,
pedagang, pengrajin yang ditopang dengan proses pemasaran
yang menjamin harga yang relatif stabil. Kegiatan ini lebih
difokuskan pada mobilitas sosial baik vertikal
maupun
horizontal.
c. Kebijaksanaan Pendidikan Sosial Untuk Pengrajin, Kaki Lima
dan Pedagang Eceran.
Kebijaksanaan pendidikan diarahkan pada pemberian
modal
kepada kelompok pengrajin kecil atau rumah tangga, karena
umumnya mereka memiliki modal yang sangat kecil. Sama halnya
terhadap pedagang kaki lima, pedagang eceran dan pedagang
keliling dengan syarat ringan dan kredit lunak. Pembinaan
keterampilan serta pembinaan pemasaran hasil produksi tidak
hanya dilakukan oleh pemerintah, BUMN, BUMD tetapi juga
Yayasan dan Swasta.
E.
Pendidikan Keterampilan Penduduk Miskin
Pendidikan sosial sangat dibutuhkan masyarakat dalam
rangka orientasi pada perilaku kehidupan yang berakses pada
budaya. Apalagi dihubungkan dengan tuntutan ilmu pengetahuan
dan
perkembangan teknologi yang semakin memberi
peluang
terhadap
kebutuhan pembangunan masyyarakat.
Tujuan
dari
pendidikan sosial adalah untuk menciptakan warga masyarakat
mempunyai pengetahuan, keterampilan, nilai dan kepercayaan
serta partisipasi sosial yang disesuaikan dan dimodifikasi dari
aspek
tujuan, metode dan materi pendidikan
bagi
warga
masyarakat ( Barr, Barth dan Shermis : 1977 ). Pendidikan
sosial dapat dilakukan pada warga negara melalui pendidikan
formal dan non formal baik bagi personil dan bukan personil,
orang
dawasa, pemuda, anak-anak, masyarakat umum maupun
masyarakat miskin dalam rangka sosialisasi budaya.
97
Penduduk miskin dalam konteks pendidikan sosial mempunyai
kaitannya terhadap upaya pemberdayaan, partisipasi, demokrasi,
dan percaya diri maupun kemandirian melalui pendidikan non
formal perlu mendapatkan prioritas utama dalam
mengatasi
kebodohan,
keterbelakangan
dan
ketertinggalan
sosial
ekonominya. Pendidikan non formal dalam rangka pendidikan
sosial bagi sasaran orang miskin selaku kepala keluarga (
individu ) dan anggota masyarakat tidak terlepas dari konsep
Learning society, adui t education, experience learning " dan
dari sudut ekonomi " human resources development and inservice
training
" atau dalam bahasa Indonesia dengan
istilah
pendidikan luar sekolah, kursus keterampilan,
penyuluhan,
pendidikan dan latihan, penataran atau bimbingan dan latihan.
Konsep
pendidikan luar sekolah bagi
orang
dewasa
khususnya orang miskin dikemukakan
Darkenwald dan Meriam
dalam Sudardja Adiwikarta ( 1988 ) " adult
education is a
process where by persons whose major social rol es are
characteristic of adult status undertake systematic and
sustained learning activities for purpose of bringing about
change in knowledge, attitude, va 1ues or ski lis " . Konsep
tersebut mengisyaratkan adanya tujuan, proses, subyek, materi
dan metode yang digunakan dalam rangka pendidikan luar sekolah
atau pendidikan non formal terutama bagi orang miskin selaku
orang dewasa.
Sedangkan John H. Trange dalam bunga rampai yang berjudul
"Experience Learning £uad Liberal Aci " saduran Louis Lamdin (
1991 ) bahwa " experiental learning the educational community
has the determined that experiental learning is a subset of
learning, particularly that learning which occurs outside the
clasroom or laboratory learning is a real learning some
sugested communicating skill, intelectual/problem solving skill
and affective behaviors ". Belajar pengalaman bagi pendidikan
masyarakat dilakukan di luar sekolah, laboratorium dan tempat
praktek
lain
dalam menumbuhkan
keterampilan,
kemampuan
memecahkan masalah dan perilaku afektif dari masyarakat. Dengan
kata lain belajar pengalaman melalui pendidikan luar sekolah,
98
pendidikan
orang
dewasa, pendidikan
keterampilan
untuk
menumbuhkan
the challenges of advancee profesional
development society " melalui sumber pengembangan nilai, sikap
dan perilaku masyarakat dalam bentuk " response centering,
response of caryng, response of learning, response of vlslon,
response o f team work, response o f hvmility and response o f
courage " ( David A. Kolb dalam Lamdin : 1991 ).
Menurut K. Patricia dalam karangannya berjudul "
The
Eoad
ihs Learning Societv " ( Lamdin : 1991 ) bahwa khusus
bagi masyarakat pedesaan terutama penduduk miskin, pendidikan
luar
sekolah, orang dewasa, belaj ar pengalaman sej enis
pendidikan keterampilan penduduk diarahkan :
1). mempunyai akses terhadap penambahan pengalaman hidup dan
pengalaman sebagai dasar pendidikan, kesempatan kerja,
latihan keterampilan dan pemupukan profesi;
2). menjadi dasar untuk perubahan struktur sosial ekonomi;
3). memberikan basis terhadap penumbuhan
sikap
kelompok,
komunikasi, dan tindakan sosial;
4). menumbuhkan dan mengembangkan personil dari aspek sikap
efektivitas kelompok.
Adanya informasi berupa pengalaman, pengetahuan, dan
keterampilan yang menumbuhkan nilai dan sikap afektif bagi
penduduk miskin tersebut merupakan dasar bagi aktivitas hidup
dan perubahan kehidupan dalam struktur sosial ekonomi maupun
sosial budaya. Dalam arti sebagai aset sumber daya manusia yang
dibutuhkan bagi produktivitas kerja, kemandirian, dan perubahan
kehidupan sosialnya.
1. Tujuan Pendidikan Keterampilan
Tujuan dari bentuk pendidikan ini secara pilosofis lebih
menekankan
praktek
daripada teori, tetapi
tidak
dapat
dipisahkan yang menifestasinya bagi penduduk miskin berupa
substansi
keteladanan, bimbingan, pembinaan,
penyuluhan,
praktek,
peragaan
dan latihan-latihan
guna
menumbuhkan
pengetahuan dan keterampilannya. Dengan asumsi dasar bahwa
mereka hidup dan mempunyai kewajiban dalam situasi
yang
99
memerlukan perubahan baik dalam kehidupan keluarga, pekerjaan,
masyarakat dan negara.
Terdapat 1ima macam
penekanan dalam rumusan tuj uan
pendidikan keterampilan bagi orang dewasa, termasuk penduduk
miskin yaitu :
a. Pengembangan intelektual dan keahlian ;
b. Pengembangan perwujudan diri ;
c. Pengembangan pribadi dan masyarakat ;
d. Perubahan sosial ;
e. Peningkatan efektivitas organisasi
(
Darkenwald dan
Merriam dalam Sudardja Adiwikarta : 1987 ).
Pendekatan dari tujuan pendidikan seperti itu, mempunyai
interdependensi terhadap penumbuhan sikap, pengetahuan dan
keterampilan untuk kebutuhan berupa " Job performance ",
produktivitas
kerja, partisipasi program pembangunan
dan
peningkatan sosial ekonomi maupun kesejahtraan keluarganya.
Dalam hal ini biasanya tujuan pendidikannya merupakan gabungan
antara " Job performance " dengan " Standard ", sehingga
secara
spesifik
dirumuskan dalam bentuk
"Operational
Performance
Standard" dan ditentukan bentuk
pendidikan
keterampilan yang standar atau " Training Performance Standard
2. Metode Pendidikan Keterampilan
Metode pendidikan keterampilan bagi orang desawa seperti
penduduk
miskin
dalam
rangka
memperoleh
pengetahuan,
pengalaman, sikap, kepercayaan, keahlian, dan partisipasi
sosial dengan penerapan II metode andragoei". Alasannya menurut
Malcolm S. Knowless ( 1977 ) adalah : pertama, adanya konsep
diri orang dewasa lebih mengarah pada " self directing
kedua, orang dewasa memupuk pengalaman yang diperoleh menjadi
suatu hasanah; ketiga, berorientasi pada pekerjaan praktis;
keempat, dapat menunjang pemecahan masalah hidupnya.
Oleh karena itu, pemupukan transformasi keterampilan pada
penduduk
miskin
setidaknya memerlukan
pendekatan
teori
humanistik, perkembangan dan behavior atau perilaku.
Teori
100
pendekatan frumaniptlk- lebih ditekankan pada proses penanaman
dan pengembangan keterampilan bagi penduduk miskin akan tumbuh
sumbur apabila substansi dan sumber pengembangan lingkungan
masyarakat sekelilingnya memberikan iklim yang mendukung dan
positif. " Pendekatan Teori Perkembangan " bahwa penduduk
miskin adalah sebab tidak berdaya yang memerlukan pengembangan
nilai, sikap, kepercayaan serta keterampilan melalui beberapa
macam tahapan dalam pola tertentu, disertai lingkungan yang
dapat mempengaruhi kecepatan tahapan tersebut.
Oleh
Mezirowi ( 1978 ) dipandang sebagai
konsep
transformasi
perspektif,
dimana
tahapan-tahapan
yang
dikembangkan dapat diketahui sebagai pengetahuan baru dan
menjadi sesuatu yang bermanfaat guna menjadi kebutuhan nyata
bagi perbaikan hidupnya.
Pendekatan Teoni Perilaku , lebih
menekankan pada kegiatan pendidikan yang merubah perilaku
dengan latihan kerja dan keterampilan, sehingga mempengaruhi
terhadap paket pengalaman, nilai, kebutuhan, tujuan hidup,
kepercayaan dan ide yang menyebabkan individu bertingkah laku
berbeda terhadap sesuatu gejala kehidupannya.
3. Proses Pendidikan Keterampilan
Proses
pendidikan termasuk pendidikan luar
sekolah
khusus pendidikan keterampilan bagi orang dewasa sesuai dengan
prinsip-prinsip belajar dan tahap belajar yang ingin dicapai
serta metode yang ingin diterapkan. Salah satu konsep yang
relevan dengan proses belajar orang dewasa termasuk penduduk
miskin menerapkan konsep A.I.C atau proses A.I.C. Konsep proses
ini dikembangkan oleh Kurt Lewin yang kemudian diterapkan oleh
William E. Smith ( 1985 ) dalam proses belajar yang berhubungan
erat dengan " Policy Formulation " terutama dalam pelatihanpelatihan, bimbingan dan pembinaan, penyuluhan, penataran dan
bentuk lainnya dalam meningkatkan kemampuan praktis, pengalaman
dan profesi tertentu. Model proses belajar dari William E.
Smith
yang demikian dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai
berikut :
101
APPRECIATION
CONTROL
INFLUENCE
Reallties
Relating Parts
Interacting
Transforming
Probabilities
Model
Reflection
Plans
Possibilities
LISTENING
DIALOQUE
ACTION
Ilustrasi dari gambar yang dideskripsikan
tersebut,
setidaknya dapat dikemukakan sebagai berikut :
a). Setiap tahapan intruksional yang tercermin dalam tujuan
intruksional dalam bahasan disajikan melalui tiga phase
yaitu phase apresiasi, phase mempengaruhi ( influence ),
dan phase pengendalian ( control ).
b). Dalam phase appresiasi, pelatih, instruktur, pembimbing,
pasilitator dan lain sebagainya menerapkan metode " braln
storming
" untuk menggali khasanah
pengetahuan
dan
pengalaman subyek pelatihan, bimbingan, penyuluhan berupa
ide, pengetahuan, pengalaman yang dapat diterapkan untuk
kepentingan pekerjaan, pengorganisasian maupun kehidupan
sosial.
c). Pelatih,
Instruktur,
pembina dan
pembimbing
maupun
fasilitator
memproses pendapat, ide, pengalaman,
dan
pengetahuan yang tumbuh dari peserta ke dalam suasana
diskusi yang dinamis dengan mengikut sertakan peserta
sebanyak mungkin, dengan cara mengkaitkan satu pendapat
dengan pendapat lain. Pemberian ulasan, rangkuman dan
kesimpulan diberikan dengan didukung contoh-contoh nyata
yang
berguna
bagi
peserta
melalui
diskusi
dalam
meningkatkan pengetahuan, pengalaman, sikap, nilai serta
102
perilakunya
dalam
kepentingan
pekerjaan
maupun
keh i dupannya.
d). Pada gilirannya pelatih, pembimbing, pembina, instruktur
dan
fasilitator membawa pikiran pada pase ketiga yaitu
untuk direfleksikan kembali yang telah didiskusikan untuk
diperagakan, praktek, studi banding, maupun membuat pilot
proyek atau percontohan dari berbagai materi keterampilan
yang dibutuhkan masyarakat.
4. Materi Pendidikan Keterampilan
Materi/substansi
pendidikan
keterampilan
yang
diinformasikan, diperagakan, dipraktekkan dan percontohan bagi
peserta
pendidi- kan keterampilan beraneka ragam dengan
memperhatikan kondisi, tingkatan kemampuan, jenis materi yang
dibutuhkan
serta sarana prasarana
sebagai
intrumentalis
pendukungnya. Materi yang termuat dalam kurikulum, program,
kebijaksanaan teknis maupun bentuk lainnya mempunyai relevansi
terhadap tujuan, metode dan proses, seperti tersebut di atas,
dengan selektif model pendekatan yang dibutuhkannya.
Kegiatan pendidikan keterampilan dapat disesuaikan dengan
kondisional peserta ( petani, pengrajin, pedagang, pertukangan
dsb ), sehingga dapat dilaksanakan secara terstruktur maupun
nonstruktur
melalui
pelatihan,
bimbingan
keterampilan,
pembinaan dan pengarahan yang dilakukan oleh fasilitator dari
instansi dan dinas fungsional pemerintahan di wilayahnya.
F. Program IDT Berakses Pemberdayaan Masyarakat
Strategi dan pendekatan program IDT dalam Inpres Nomor 5
Tahun
1993 tentang Peningkatan Penanggulangan
Kemiskinan
mempunyai kecenderungan yang sangat kuat terhadap orientasi
pembangunan manusia. Salah satu indikasinya terlihat adanya
keterlibatan kelompok penduduk miskin yang terintegrasi dalam
pengorganisasian berbentuk Kelompok Sasaran Masyarakat ( KSM )
sebagai pelaku dan sekaligus sasaran untuk mengelola programprogram pembangunan yang bersumber dari dana Inpres tersebut.
103
Masalah pengentasan kemiskinan menjadi tanggung jawab
bersama, yaitu tanggung jawab birokrasi pemerintahan sampai
jajarannya di tingkat lokal dan desa, Kelembagaan Sosial dan
Politik, Dunia Usaha, Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM ),
Perguruan Tinggi dan masyarakat dan penduduk miskin sendiri.
Pendekatan
ini nampaknya searah dengan
pendekatan
yang
dirumuskan David C. Korten pada pembahasan yang lalu dan
sering disebut " Tliree Way Fit Model " atau model kesesuaian
tiga jalur, terdiri dari unsur program, kelompok sasaran dan
organisasi.
Organisasi
selaku pelaksana
program
yaitu:
Pemerintah, LSM dan Perguruan Tinggi, serta Kelompok Sosial
atau Kelompok Penduduk Miskin.
Oleh karenanya untuk menganalisis pelaksanaan program
IDT, setidaknya mengacu pada model kesesuaian tiga arah dari
David C. Korteen yang dimodifikasi dengan kepentingan dan
kebutuhan
di Indonesia. Penelitian diarahkan pada
fokus
perilaku unsur birokrasi pemerintahan pelaksana program di
tingkat
lokal dengan pendekatan pendidikan sosial
dalam
menginternalisasikan nilai, pengetahuan, keterampilan
pada
kelompok
sasaran
masyarakat
miskin
dalam
upaya
mengaktualisasikan
dirinya
dan
berpartisipasi
dalam
pembangunan. Dengan kata lain, fokusnya untuk menganalisis
kemampuan unsur birokrasi pemerintahan pelaksana program IDT
dalam pemberdayaan pada KSM penduduk miskin sesuai kebutuhan,
kemampuan dan kepentingannya, dengan mengantisipasi kepedulian
kelembagaan non pemerintah lainnya.
Makna
pemberdayaan masyarakat
menurut
G i nan j ar
Kartasasmita ( 1996 : 24 ) dapat dilihat dari tiga sisi :
Ppri^ma
, menc iptakan suasana yang memungkinkan
potensi
masyarakat berkembang ( " e nabi Ing " ). Setiap .manusia dan
masyarakat mempunyai potensi dan daya yang dapat dikembangkan.
Pemberdayaan upaya membangun daya, dengan memotivasi
dan
membangkitkan kesadaran dan membangkitkan kesadaran potensi
yang dimiliki serta mengembangkannya. Kedua ,
memperkuat
potensi atau daya yang dimiliki oleh masyarakat ( " empowerlng
). Perkuatan ini meliputi langkah-langkah
nyata
dan
104
menyangkut penyediaan berbagai masukan serta pembukaan akses ke
dalam berbagai peluang ( " opportunitiee " ) yang membuat
masyarakat makin berdaya. Upaya yang amat pokok peningkatan
taraf pendidikan, derajat kesehatan serta akses ke dalam
sumber-sumber kemajuan ekonomi. Penguatan dan
pembaharuan
pranata sosial ekonomi amat penting dalam menanamkan nilainilai budaya dalam pengintegrasian kelembagaan dan peranan
masyarakatnya. Kualitas peningkatan partisipasi terarah pada
proses pengambilan keputusan bagi kepentingan dirinya dan
masyarakatnya. Pemberdayaan masyarakat amat erat kaitannya
dengan
pemantapan, pembudayaan dan pengamalan
Pancasila.
Ketiga , memberdayakan mengandung arti proses pemberdayaan
dalam melindungi dan keberpihakan pada yang lemah. Tujuannya
memandirikan
masyarakat
dan membangun
kemampuan
untuk
memajukan diri ke arah kehidupan yang lebih baik secara
sinambung.
Pendekatan
utama
dalam
konsep
pemberdayaan
masyarakat, masyarakat tidak dijadikan obyek dari
proyek
pembangunan tetapi merupakan sumbyek dari pembangunan sendiri.
Pemberdayaan yang demikian harus mengikuti : 1) pemberdayaan
secara terarah ( " targetted " ) dalam upaya pemihakan; 2)
program mengikut sertakan masyarakat sasaran; 3 ) menggunakan
pendekatan
kelompok.
Program
IDT
dalam
pelaksanaannya
mengandung muatan konsep dan pendekatan pemberdayaan terhadap
penduduk miskin pada desa tertinggal.
Kesesuaian
dan
keberpihakan
antara
program
IDT,
organisasi pelaksana program dan penerima program dilakukan
dengan pendekatan pendidikan sosial dengan pemberdayaan yang
terpadu dari semua unsur yang terlibat dapat meningkatkan
tingkat kesejahteraan masyarakat miskin. Suatu program IDT akan
berhasil mengentaskan kemiskinan, jika terdapat
struktur
hubungan yang erat antara : kebutuhan masyarakat; persyaratan
program dengan kemampuan nyata dari pelaksana program yang
bersifat pemberdayaan ; dengan pengungkapan kebutuhan oleh
pihak
masyarakat
miskin dalam
proses
perencanaan
dan
pengambilan keputusan sebagai tahap awal pelaksanaan program
yang didasari keterampilannya.
105
GAMBAR 11.6: MODEL KESESUAIAN TIGA JALUR PROGRAM IDT
Program IDT
LSI dan Perguruan Tinggi
Kelompok sasaran masyarakat merupakan sarana penting
dalam mencapai keberhasilan pelaksanaan Program Inpres Desa
Tertinggal. Dengan melibatan kelompok sasaran masyarakat selaku
unsur obyek program dalam mengatasi kemiskinan, pada hakekatnya
pemerintah berkeinginan untuk meningkatkan sumber daya manusia
yang
terampil,
mengatasi pengangguran,
tumbuhnya
sikap
partisipasi, timbulnya kepedulian sosial, semakin
kuatnya
desentralisasi, keterpaduan dan kegotongroyongan.
Kelompok
sasaran masyarakat sesuai dengan kebutuhan
diberi kekuasaan untuk merencanakan program sesuai dengan
kebutuhan
dan kondisi setempat, masalah serta memanfaatkan
kelembagaan yang ada. Oleh David C. Korten disebut dengan
learning with the people, and building new knowledge and
institutional capacity throught actlon
" atau belajar
diantara
masyarakat,
pengembangan pengetahuan
baru
dan
pengembangan kelembagaan yang ada. Kelompok yang dibentuk dari
penduduk miskin sebagai wadah kebersamaan dari kelompok sasaran
program
IDT
untuk mengelola
kegiatan
sosial
ekonomi.
Kebersamaan ini menunjukkan semangat dan kegiatan kooperatif
yang menjadi dasar bagi gerakan koperasi yang mandiri dan
andal.
Mereka
dengan
dasar
kebersamaan,
keterpaduan,
partisipasi
dan keswadayaan akan menyusun program
untuk
memanfaatkan dana bagi kepentingan seluruh anggotanya. Untuk
menumbuhkan sikap demikian, memerlukan " Learning Proceas
atau proses pendidikan/pemberdayaan melalui pembinaan kelompok
sasaran program IDT dari pihak luar untuk meningkatkan belajar
efektif, belajar efisien dan belajar mengembangkan dirinya.
106
Pemberian bantuan dana program IDT untuk kepentingan usaha yang
memacu peningkatan pendapatan disertai dengan upaya pelatihan
keterampilan, pembimbingan dan pendampingan baik dari kalangan
pemerintah maupun LSM dan Perguruan Tinggi agar kelompok
swadaya masyarakat dapat menumbhkan kemampuan otonomi dan
kemampuan
administratif.
Kemampuan
otonomi
dalam
konseptualisasi disini berhubungan dengan fleksibilitas dan
keleluasaan kelompok swadaya masyarakat dapat mengelola bantuan
atas dasar pendekatan demokratis-partisipatif dalam pengambilan
keputusan
sesuai dengan kondisi dinamis dari
lingkungan
masyarakat
setempat.
Sedangkan
kemampuan
adminsitrasi
berkenaan dengan pengelolan bantuan yang dapat dipertanggung
jawabkan secara kelembagaan, pemupukan modal dan peningkatan
pendapatan masyarakat.
Tumbuhnya kemampuan otonomi dan administratif
dalam
organisasi yang berpihak pada program IDT, faktor penting
keberhasilan suatu organisasi dan program pembangunan adalah
manusia atau " the primerly resourcess o f any organ i zat ion and
development programmu are people
".
Kelompok Sasaran
Masyarakat sebagai sasaran obyek dan pelaku program IDT dalam
pengentasan kemiskinan harus memiliki kesadaran, tanggung jawab
dan harga diri yang tinggi. Dalam konteks seperti ini Kelompok
Sasaran
Masyarakat
harus
bersifat
responsif
terhadap
permasalahan
yang ada dilingkungannya,
partisipatif
dan
mendorong tumbuhnya swadaya masyarakat.
Disini dituntut adanya kemampuan
administrasi Kelompok
Sasaran Masyarakat baik secara internal maupun eksternal.
Kemampuan
internal administratif, erat
kaitannya
dengan
penggunaan sumber-sumber tenaga kerja, sarana dan teknologi
yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi
kelembagaannya.
Kemampuan administrasi ekternal meliputi proses kegiatan dan
hubungan dengan lembaga-lembaga dan kelompok - kelompok dari
luar administrasi suatu lembaga, terutama dalam memperoleh
bantuan pengetahuan dan keterampilan teknis yang diperlukan
bagi pengembangan kemandiriannya dari agen pembangunan atau
pembaharu.
107
Seperti
dikemukakan oleh Zaltman dan
Duncan
yang
dikemukakan oleh William R Lassey dan Marshall Sashkin ( 1983 :
251 ) bahwa upaya untuk memperbaiki kelompok
masyarakat
tentunya didasarkan pada empat asumsi dasar yaitu :
1)
produktivitas partisipasi pengambilan keputusan yang tidak
tersentralisir; 2) program yang terencana dengan memperluas
partisipasi; 3) program yang dapat diajarkan dan dimanfaatkan
bagi proses peningkatan kualitas kelompok dan 4) pengembangan
potensi
kepemimpinan
kelompok
yang
dapat
menularkan
pengetahuan,
keterampilan dan pengalamannya. Tetapi
yang
menjadi kunci pokoknya terletak pada proses pengembangan dan
pendidikan keterampilan kelompok masyarakat atau "
learning
and development o f skills potential communi ty " agar mampu
mengidentifikasi masalah, proses pemecahan masalah, pengambilan
keputusan dan penentuan perencanaan, program, sumber dana dan
daya maupun pelaksanaan programnya.
Pentingnya penumbuhan kemampuan administratif kelompok
masyarakat dari segi pengembangan pengetahuan dan keterampilan
yang
dibutuhkan
bagi
proses
penyusunan
program
dan
pelaksanaannya, sangat dibutuhkan pengaruh dari luar kelompok
masyarakat dalam rangka " learning process " atau pemberdayaan.
Pengaruh luar Belaku agen pembaharu atau fasilitator berfungsi
untuk mempercepat dalam peningkatan otonomi dan kemampuan
administratif dan sosial budaya kelompok masyarakat.
Hal ini didukung oleh William R. Lassey dan Marshall
Sashkin ( 1983 : 252 ) bahwa konsultan atau fasilitator
pendidikan sangat dibutuhkan bagi masyarakat setempat dalam
meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan pengalamannya untuk
mengelola
program
pembangunan
masyarakat.
Peran
dari
konsultan, pembimbing atau pendamping yang berfungsi dalam
pemberdayaan pendidikan baik kedudukannya selaku " Ca.ta.lyst,
Process Helper, Resotirce Linker and Expert " atau Katalisator,
Pembina, Pendamping, dan Para akhli bagi kelompok masyarakat.
1). Fasilitator pendidikan yang berfungsi «^lafeii
KatalisT
mampu membantu anggota masyarakat menentukan dan memecahkan
masalah yang menyangkut kepentingannya dalam memperbaiki
108
kemampuan untuk memperbaharui program pembangunan yang akan
dihasiIkannya.
2). Fasilitator Rslahi fungsi Pembina, memberikan
bantuan
bimbingan dan pembinaan pada masyarakat setempat dalam
proses
merencanakan dan melaksanakan
perbaikan
yang
dkehendaki sesuai dengan keterampilannya.
3). Fasilitator
pendidikan
fungni
Pendamping,
membantu
masyarakat setempat untuk mengarahkan pemanfaatan sumbersumber yang tersedia yaitu keuangan, bantuan
teknis,
pengetahuan dan program pemerintah yang terjalin antara
kemampuan dari masyarakat setempat dengan sumber batuan
dari luar baik dari pemerintah maupun pihak lainnya.
4). Fflflj3 3tator pendidikan fungsi Ekspert, membantu mengarahkan
peningkatan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman untuk
memecahkan
masalah dan merealisasikan program
maupun
bantuan
dalam meningkatkan pemahaman
atau
kemampuan
efisiensi bagi masyarakat.
Bantuan pengetahuan, keterampilan dan pengalaman dari
konsultan selaku fasilitator pendidikan pada masyarakat dapat
bersumber dari Pemerintah berupa Pekerja Sosial, Penyuluh
Lapangan Kesehatan, Penyuluh Pertanian, Pendidik/Guru maupun
LSM dan Perguruan Tinggi dalam rangka proses perencanaan dan
pelaksanaan program yang dibutuhkan masyarakat setempat.
Ini berarti pendekatan pemberdayaan dalam memperkuat
aspek
kelembagaan kelompok masyarakat untuk
melaksanakan
program yang dibutuhkannya. Kaitannya dengan program IDT,
pembinaan kelompok berfungsi sebagai wahana proses belajarmengajar anggotanya, wahana untuk menajamkan masalah bersama
yang dihadapi, wahana pengambilan keputusan untuk menentukan
strategi masalah bersama, dan wahana mobilisasi sumber daya
para anggota. Pembinaan kelompok swadaya masyarakat dalam
program IDT melalui tenaga pendamping yang bertugas membina
penduduk
miskin dalam kelompok, sehingga
menjadi
suatu
kebersamaan yang berorientasi pada perbaikan kehidupannya.
Pendampingan
bertugas
menyertai proses
pembentukan
dan
penyelenggaraan
kelompok sebagai fasilitator,
komunikator
109
maupun dinamisator. Lingkup, pembinaan yang dilakukan para
pendamping meliputi upaya peningkatan kualitas sumber, daya
manusia dari para anggota kelompok dan pengurus kelompok,
peningkatan kemampuan penyelenggaraan kelompok, dan peningkatan
kemampuan usaha anggota.
Kemampuan pendamping, pembina, pembimbing, dan pelaksana
dari unsur birokrasi pemerintahan lokal/daerah tingkat II
sampai ke tingkat kecamatan dan desa/kelurahan dalam rangka
memobilisasi,
mendinamisasi serta
mengembangkan
kelompok
masyarakat penduduk miskin melalui pendekatan administratif dan
pemberdayaan
pendidikan keterampilan sangat mewarnai
dan
menentukan
tumbuhnya keswadayaan, demokratisasi,
kegotong
royongan serta kemandirian untuk menggulirkan dana program IDT
secara berdayaguna dan berhasiguna. Keberhasilan pelaksanaan
program IDT sangat ditentukan oleh berbagai faktor
yang
meliputi sumber daya manusia berupa birokrasi pemerintahan,
Lembaga Sosial Masyarakat dan peran Perguruan Tinggi serta
penerima program ( KSM ), faktor program dan kegiatan,
metode
pendikikan sosial, prosedur penggunaan dana maupun faktor
pengerahan
sumber organisasi lainnya
seperti
kemantapan
administratif yang dikehendaki oleh INPRES Nomor 5 Tahun 1993.
6. Perilaku Unsur Birokrasi Pemerintahan Di Daerah Pelaksana
Program IDT
1. Birokrasi Pemerintahan
Dalam rangka proses pemerintahan dan pembangunan
pada
negara berkembang, pemerintah mempunyai kedudukan yang sangat
strategis dalam fungsinya selaku " Pelayan Publik " guna
meningkatkan kesejahteraan, keadilan, keamanan, dan ketentraman
serta ketertiban masyarakat. Ditinjau dari segi kenegaraan,
pemerintah
sebagai
salah satu unsur dan
bagian
dari
masyarakat.
Pemerintah dan masyarakat mempunyai
hubungan
sistemik, organik, struktural, fungsional dan ideal. Pemerintah
merupakan manifestasi dari rakyat, sehingga berkewajiban untuk
memperhatikan kepentingan rakyat, melaksanakan fungsi rakyat
melalui sistem pemerintahannya.
110
Fungsi pemerintahan yang dilakukan pemerintaah meliputi
fungsi pelayanan publik dan pengaturan terhadap warga negara.
Untuk
melakukan fungsi pemerintahan tersebut,
pemerintah
melakukan
aktivitas
pelayanan,
pengaturan,
pembinaan,
pengaturan, koordinasi, pengelolaan dan pembangunan
dalam
berbagai bidang kehidupan masyarakat. Seperti dikemukakan David
Osborne
dan Gaebler Tead ( 1991 )
dalam
"Reinventing
Government" bahwa fungsi pemerintahan dalam arus globalisasi
sekarang ini yang ditandai dengan berbagai
kecenderungan
pengaruh informasi, arah dalam pelayanan publik tidak hanya
rowing role's " ( peran pengaturan ), tetapi lebih dititik
beratkan pada pemberdayaan, kemitraan dan pengendalian
untuk
mendorong masyarakat dalam bentuk kebijakan publik yaitu
steering role 's " ( peran pengendali terhadap kegiatan
masyarakat dalam proses pemerintahan dan pembangunan ).
Pemerintah
dalam
melaksanakan
peran
dan
fungsi
pemerintahan
tidak dapat dipisahkan dengan kebijakan publik,
aktivitas
administratif, organisasi dan managemen, pelayanan
publik, maupun kepentingan dan urusan publik atau " publlc
affair and public interest ". Erat kaitannya dengan fungsi
pemerintahan
yang dilakukan oleh kekuasaan pemerintah dalam
wadah institusi atau organisasi pemerintahan dalam sekala besar
berbentuk birokrasi pemerintahan. Apa yang dikemukakan Ferrel
Heady ( 1971 ) bahwa "
bureaucracy is most opten employed as a " political
cussword
and is cast in the role of villain by openents
of " big government " or the welfare state... Bureaucracy
in a way intended to identity a phenomenon assoclated with
large scale coplex organization ... identity bureaucracy as
form of social organization with certain characteristic.
Bureaucracy
in term organization's
basic
structural
characteristic a highly elaborated hierarchy of outhority ,
specialization and division of labor. Bureaucracy tendency
of behavioral characteristics or structural characteristic,
result being that a pattern of behavior or related pattern
to be bureaucracy. Bureaucracy has of achievement of
111
purpose " ( Birokrasi selalu dihubungkan dengan personil
sebagai " kebi.i aksanaan pq]itik " dan berkenaan pada
pemerintahan besar atau kesejahteraan rakyat
Birokrasi
merupakan fenomena yang dihubungkan dengan skala organisasi
besar ... identitas birokrasi sebagai bentuk organisasi
sosial yang mempunyai ciri tertentu. Birokrasi
dalam
isltilah
organisasi mempunyai ciri
struktur
herarki
kekuasaan, spesialisasi dan pembagian kerja. Ciri perilaku
birokrasi
atau
struktur merupakan hasil
dari
pola
perilaku
atau pola birokrasinya. Birokrasi mempunyai
pencapaian tujuan ).
Konsep birokrasi mempunyai erat kaitannya dengan : peran
dan fungsi organisasi pemerintahan yang besar dalam rangka
kesejahtraan
rakyat melalui kebijakan publik;
mencirikan
identitas penomena sosial yang dicirikan bentuk organisasi
sosial; mempunyai karakteristik struktur, herarki kekuasaan,
pembagian
tugas dan spesialisasi jabatan; ciri
perilaku
birokrasi dalam struktur sesuai dengan pola birokrasi serta
birokrasi
mempunyai tujuan secara efektif
dan
efisien.
Birokrasi sebagai bentuk organisasi pemerintahan yang dicirikan
oleh struktur mempunyai prinsip-prinsip dasar normatif, nilai
filosofis dan etika dalam perilaku dalam proses administrasi
dan psikologi sosial. Dikatakan demikian, karena birokrasi
pemerintahan dalam melaksanakan peran dan fungsinya, dapat
dilihat dari pendekatan arfminiRtratif bermula pada
struktur
kekuasaan, pembagian tugas, spesialisasi, fungsi kegiatan,
koordinasi, jenjang pengawasan dan lain sebgainya. Sedangkan
dilihat dari pendekatan
sosial
berhubungan erat
dengan perilaku manusia selaku unsur birokrasi dalam struktur
organisasi pemerintahan baik perilaku individu dalam
kelompok
formal dan informal, maupun internal dan ektemal organisasi
pemerintahan.
Karakteristik birokrasi pemerintahan dalam menjalankan
peran dan fungsi pemerintahan menurut teori klasik dari Max
Weber
dapat diklasifikasikan pada birokrasi
pemerintahan
kaitannya
dengan dominasi kekuasaan
pemimpin
birokrasi.
112
Dominasi
salah satu bentuk hubungan
kekuasaan
pemimpin
pemerintahan secara herarkis sadar haknya untuk memerintah,
sedangkan yang diperintah sadar bahwa menjadi kewajibannya
untuk mentaati perintah penguasa. Adanya tiga klasifikasi
dominasi kekuasaan pemimpin birokrasi pemerintahan. 1)
Chariamatlc Domlnation " adalah keabsahan bentuk hubungan
kekuasaan yang bersumber pada kualitas supra natural pribadi si
pemimpin birokrasi; 2) " Tradisional Dnmlnatinn " adalah suatu
bentuk hubungan kekuasaan yang memperoleh keabsahan karena
bersumber pada tradisi; 3) " Legal Tfatinnal Dnminfcaion " adalah
melihat keabsahan bersumber pada ketentuan atau peraturan
formal.
Dalam " nharismatic domlnation " penggunaan kekuasaan
dilaksanakan melalui suatu aparat yang terdiri dari pengikut
setia ( decipline ), pada " tradisional dnmination " penggunaan
kekuasaan dilakukan melalui aparat dalam bentuk pejabat feodal,
maka aparat pemerintah " legal rasional domination " disebut
birokrasi. Karakteristik utama " Weberian Bureaucracv " yang
rasional dikemukakan Max Weber dalam John G. Garson dan Haris
( 1985 : 21 ) adalah sebagai berikut :
1). Adanya struktur kewenangan dan jabatan herarkis dengan
batas
tanggung jawab yang jelas;
2). Pembagian
tugas, kewenangan dan yuridiksi administratif
diatur
berdasarkan
hukum,
aturan
dan
ketetapan
administratif;
3). Pengisian dan promosi jabatan berdasarkan spesialisasi dan
kecakapan teknis;
4). Hubungan kerja anggota oraganisasi bersifat impersonal;
5). Pelaksanaan
kegiatan dikendalikan oleh sistem peraturan
dan
prosedur pelaksanaan yang konsisten serta pemisahan
kepentingan dinas dengan pribadi;
6). Sistem penggaj ian berdasarkan kewenangan, j abatan dan
keahlian.
Konsep " Kegelian Bureaucracv " dalam kaitannya dengan
birokrasi pemerintahan
mengandung nilai strategis dari
hubungan kausalitas fungsi birokrasi sebagai penghubung
113
negara dengan masyarakat sipil . Negara mengejawantahkan
kepentingan
umum.
Sedangkan
masyarakat
eivil
merepresentasikan kepentingan khusus yang ada di dalam
masyarakat. Keberhasilan birokrasi diukur dari kemampuan
untuk mengartikulasikan kepentingan-kepentingan khusus di
dalam masyarakat dan menginkorporasikan dalam kepentingan
umum negara. Hegel tidak meitik beratkan pada efisiensi
birokrasi seperti halnya Weber, melainkakan sejauhmana
birokrasi
menyalurkan
kepentingan-kepentingan
khusus
masyarakat
sipil menjadi kepentingan
negara.
Tetapi
keduanya, mempunyai pandangan dalam katagori birokrasi
bureau-rational " dan " sopial plagg " untuk kepentingan
sosial sebagai " Grand Theorv " .
Cendikiawan lain yang dipandang mutahir dalam "
Midle
Ranee FormulaUon Theory "( David C. Korten, 1983 : 35 )
melihat
cukup toleransi terhadap nilai birokrasi
dengan
masyarakat yang bersifat " leaimlng process approach " , unsur
pembinaan, pendidikan, demokratis, partisipasi dan kelembagaan
sosial maupun artikulasi kepentingan merupakan nilai absolut
yang perlu mendapatkan kapasitas dan kapabilitas birokrasi
dalam melaksanakan fungsi pemerintahannya.
Birokrasi
pemerintahan suatu sistem
yang
mengatur
jalannya pemerintahan dan pembangunan. Sebagai suatu sistem,
dalam proses birokrasi tercakup berbagai sub-sistem yang saling
berkaitan , saling mendukung dan menentukan, sehingga dapat
membentuk suatu totalitas komponen terpadu dalam suatu sistem
tersebut. Berbagai sub-sistem tersebut mencakup
kewenangan,
tugas pokok, unsur manusia, biaya, tempat kerja, dan tata
kerja.
Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa
birokrasi
pembangunan juga merupakan suatu alat atau instrumen pemerintah
dalam melaksanakan kebijaksanaan dalam proses pemerintahan,
pembangunan dan kemasyarakatan ( Ermaya Suradinata : 1994 ).
Birokrasi
pemerintahan tidak sekedar
dilihat
dari
pendekatan struktur administratif, melainkan menyangkut aspek
po1it ik, budaya, sosial dan ekonomi yang mampu membangun
mekanisme organisasi formal, informal, internal dan eksternal
114
serta dapat memecahkan persoalan yang menyangkut kepentingan
umum atau pelayanan publik melalui proses penetapan kebijakan
dan pelaksanaannya yang konsisten.
Birokrasi pemerintahan dan pembangunan di
Indonesia
sebagai alat pemerintahan dalam menjalankan wewenang, tugas dan
kewajibannya berdasarkan pada falsafah dan landasan hukum.
Falsafah dan landasan hukum yang menj adi dasar kebij akan
birokrasi di Indonesia adalah : Pancasila sebagai landasan
idil, UUD 1945 sebagai landasan konstitutional, GBHN sebagai
landasan operasional, REPELITA sebagai landasan operasional
jangka sedang, APBN sebagai landasan operasional jangka pendek.
Begitupula untuk Daerah Tingkat I dan daerah Tingkat II mengacu
pada Lanndasan dan dasar hukum umum dan kondisional. Namun
demikian secara moral dan etika kepegawaian, birokrasi juga
dalam
melaksanakan tugasnya selain berladaskan pada
hal
tersebut di atas, tetapi secara spesifik diatur pada UU Mo. 8
tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian, PP 30 tahun 1980
dan aturan pelaksanaan lainnya yang mengatur perilaku, etika
dan moral birokrasi pemerintahan.
Berdasarkan falsafah dan landasan tersebut,
berarti
fungsi
pemerintahan dan program-program pembangunan
baik
sektoral, regional, daerah, perkotaan dan pedesaan
yang
dilaksanakan
oleh sistem birokrasi harus
bermuara
pada
pemenuhan
kebutuhan rakyat. Hal ini mengingat
birokrasi
pemerintahan dalam kendudukannya selaku abdi negara dan abdi
masyarakat, atau dengan kata lain sebagai instrumen pemerintah
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Pelaksanaan
fungsi
birokrasi
sebagai
pelayanan
masyarakat tidak dapat dipisahkan dari kemampuan profesional
dan managemen dan organisasi " capacity and capabllity
instltutional " yang berorientasi pada proses penggerakkan
pembangunan
secara terpadu, lancar dan
integral
dengan
pendekatan
adminiRtratl f <iail pendidikan
atau
orlentation bereaucratle to admlnietration and education " (
David C. Korten : 1983 , Bryant and White: 1987 dan Hondinelli
: 1983 ). Oleh karena itu, birokrasi dalam menjalankan " public
115
service " harus mempunyai keseimbangan antara kekuasaan dengan
tanggung jawab " power and responsibility " , sehingga fungsifungsi yang telah dijalankannya akan memperkokoh terhadap
kedudukannya bagi birokrasi yang bersangkutan.
Birokrasi
pemerintahan
dalam
menjalankan
fungsi
pemerintahan terdapat dalam wadah organisasi C struktur ),
melakukan proses ( kegiatan ) dan berperilaku ( nilai ),
sehingga
birokrasi
pemerintahan
memerlukan
kemampuan
profesional, kualifikasi adminsitratif/manajerial, dan herarki
dalam menjalankan kekuasaan dan tanggung jawabnya terhadap
pelayanan masyarakat.
Birokrasi mengandung prinsip herarki, sehingga terdapat
birokrasi
pemerintahan lokal merupakan
manifestasi
dari
birokrasi
sentral
dalam sistem
birokrasi
pemerintahan.
Birokrasi lokal merupakan perpanjangan dalam memberikan akses
pelayanan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Kedudukan
birokrasi pemerintahan
lokal dalam kaitannya dengan nilai
demokrasi, otonomi, keterbukaan sangat strategis dalam upaya
menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan
nasional maupun daerah- Baik birokrasi pusat maupun lokal dalam
proses pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat
harus
melekat tiga aspek penting selaku aparatur pemerintah yaitu :
1). Memiliki tanggung jawab selaku abdi negara dan
abdi
masyarakat;
2). Responsif
terhadap masalah masyarakat, khususnya yang
membutuhkan pelayanan masyarakat dalam arti luas ;
3). Komitmen yang besar terhadap nilai standar moralitas dalam
menjalankan kekuasaan pemerintahan.
Sehubungan dengan itu, birokrasi pemerintahan
dalam
menjalankan
tugasnya tidak terlepas dari
perilaku
yang
konsisten terhadap landasan falsafah dan hukum sebagai suatu
nilai dan moral; dalam menjalankan tugas dan kewenangannya
berorientasi pada sistem organisasi; memberikan fungsi " public
service
"
yang memperhat ikan aspir as i dan kepent ingan
masyarakat, sehingga mampu memberikan aset imformasi yang
relevan dalam rangka menumbuhkan partisipasi masyarakat. Di
116
bawah ini akan di bahas aspek perilaku birokrasi lokal yang
konsisten dengan pemberdayaan masyarakat miskin, peningkatan
partisipasi
masyarakat dan aset informasi dalam perumusan
kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan masyarakat miskin
bagi peningkatan kesejahteraannya.
2. Perilaku Birokrasi di Pemerintahan
Kondisi
utama
bagi terciptanya iklim
yang
mampu
menumbuhkan partisipasi masyarakat maupun kelembagaan pada
kelompok masyarakat miskin adalah perilaku birokrasi. Bagaimana
suatu
birokrasi memandang kemiskinan dan cara
mengatasi
kemiskinan tersebut sangat menentukan tindakan-tindakan yang
diambil dalam penanganan suatu program pengentasan kemiskinan.
Dalam pelaksanaan program pembangunan, salah satu
bentuk
organisasi
yang sering digunakan oleh pemerintah
adalah
organisasi birokrasi. Karena menurut Katz ( 1985 ) bahwa
birokrasi
pemerintah adalah satu-satunya organisasi
yang
memiliki akses penguasaan atas seluruh sumber-sumber nasional.
Oleh karena itu, pada negara - negara yang sedang berkembang,
terutama di kita menghendaki peran dan fungsi birokrasi yang
mencerminkan tuntutan pembangunan dan ciri masyarakat yang
sedang mengalami transisional, sehingga birokrasi pemerintah
yang adaptif, responsip, proaktif, rasional, obyektif maupun
efektif dan efisien. Dengan kata lain birokrasi pemerintah
dalam melaksanakan fungsi pemerintahan dan program pembangunan
dalam rangka mengakomodasikan, menyalurkan dan memperjuangkan
kepentingan rakyat melalui berbagai kebijakannya
bertopang
pada nilai-nilai budaya bangsa, sehingga hubungan perilaku
birokrasi
dengan nilai kultural dan kepentingan umum
(
pelayanan pubkik ) bersifat integral ( David E. Apter : 1977 ).
117
GAMBAR : II.7. HUBUNGAN PERILAKU BIROKRASI DENGAN NILAI
KULTURAL DAN KEPENTINGAN UMUM
Nilai Kultural
Pada negara berkembang dengan ciri masyarakat yang dalam
proses transisional dari masyarakat agraris menuju industri
atau dari masyarakat tradisonal menuju modern, masih ditandai
oleh ciri birokrasi yang paternalistik, formalistik, tumpang
tindih, nevotisme dan mekanistik ( F.W. Riggs : 1964 ). Ciri
birokrasi pemerintahan seperti ini disadari masih berorientasi
pada status, struktur yang statis-mekanistis, sikap mental
kental seremonial-slogan dan kurang profesional dan poliferasi
birokrasi yang ditandai dengan budaya birokrasi peternalistik
sehingga akan menghambat pada pelayanan publik.
Oleh karena itu, perilaku birokrasi pemerintah dalam
iklim pembangunan, tidak sekedar dilihat dari segi pendekatan
struktur dan fungsi administratif, melainkan segi pendekatan
budaya, sosiologis, dan psikologis merupakan aspek penting bagi
pelayanan publik yang optimal menuju dayaguna dan hasilguna
peningkatan kesejahtraan masyarakat. Seperti ditegaskan oleh
Frederick ( Ferel Heady : 1971 ) bahwa perilaku birokrasi
pemerintahan dalam melaksanakan fungsi administratif
yang
obyektif, diskreasi, presisi dan konsisten ditentukan oleh
faktor budaya, sosiologi dan psikologi sehingga
tercipta
patologis
fungsi antara
kekuasaan
birokrasi
secara
internal maupun eksternal dengan kepentingan rakyat melalui
berbagai
kebijakan, pelayanan, pembinaan
dan
pengayoman
masyarakat.
118
Erat kaitannya dengan pemerataan, peningkatan sumber daya
manusia dan pendidikan sosial, maka peran dan fungsi perilaku
birokrasi pemerintahan dalam rangka pelayanan publik -harus
bersandar pada demokratisasi, otonomi dan humanisasi melalui
akses debirokratisasi lokal yang profesional dengan cara-cara
kerja dinamis, inisiatif, inovatif, kreatif dan desisif untuk
menumbuhkan suasana dinamika pembangunan yang kondusif dan
didukung oleh partisipasi aktif masyarakat.
Karakeristik perilaku birokrasi pemerintahan ditinjau
dari pendekatan administratif menekankan pada tipe birokrasi
model Max Weber berupa " rule organization ". Sedangkan
pendekatan lainnya melalui " human approaeh " yang menekankan
pada hubungan manusia secara internal organisasi dan eksternal
lingkungan organisasi. Pada pendekatan pertama lebih menekankan
pada struktur formal organisasi dan pendekatan kedua pada aspek
tata
hubungan kemanusiaan secara sosiologis, budaya
dan
psikologis sosial, terdapat di dalamnya berbagai perilaku
individu dan kelompok suatu organisasi.
Pengaruh lingkungan berupa nilai sosial budaya dan sosial
politik
mewarnai perilaku birokrasi pemerintahan,
karena
kedudukan birokrasi pemerintahan selaku " agent of society and
cultural " atau agen sosial dan budaya C Eugene Litwak dalam
Fred D. Carver dan Thomas J. Sergiovannni, 1969 : 92 dan
Stephen P.Robbins, 1997 : 6 )
Dalam kaitannya dengan fenomena perilaku birokrasi maka
kedudukan, peran danf fungsinya tidak dapat dipisahkan dari
individu selaku aparat pemerintah yang mempunyai persepsi,
nilai, motivasi dan pengetahuan dalam rangka melaksanakan
fungsi, tugas dan tanggung jawab sosial dalam pelayanan publik.
Oleh sebab itu, perilaku individu dalam birokrasi
dipengaruhi
oleh berbagai variabel yaitu variabel psikologis, fisiologis
dan lingkungan. Variabel tersebut dirinci menurut faktornya
yang digambarkan oleh James L. Gibson ( 1984 : 52 ) adalah
sebagai berikut :
119
GAMBAR : II.8. VARIABEL PERILAKU BIROKRASI PEMERINTAHAN
Perilaku Birokrasi
Variabel Fisiologis
( kemampuan fisik
dan mental )
/
/Variabel Fsikologis
L ( persepsi, sikap,
\ kepribadian, bela\ jar dan motivasi )
\
Perilaku Individu
Variabel Lingkungan
( keluarga, kebudaan,dan kias sosial)
Perilaku
birokrasi pemerintahan merupakan
interaksi
antara individu dalam organisasi dengan lingkungannya, karena
perilaku birokrasi ditentukan oleh fungsi individu
dalam
lingkungan oraganisasi atau Perilaku Birokrasi - Fungsi (
Individu dalam Lingkungan Organisasi ). Struktur birokrasi
pemerintahan diwarnai oleh karakteristik dari kapabilitas dan
kapasitas individu atau aparat selaku abdi negara/pemerintah
dan pelayan masyarakat secara herarki sesuai dengan fungsi dan
tanggung jawab
dalam institusional, sosial dan negara.
Selain itu, diwarnai oleh karakteristik birokrasi yang
tercermin dalam pola dan struktur organisasinya sehubungan
dengan
fungsi pembangunan baik dalam proses
pengambilan
keputusan ( "public policy" ) sebagai strategi- arah, rencana ,
program
yang konsisten dengan tujuan
pemerintah
maupun
pelaksanaan kebijakan ( " policy implementation " ) dan
evaluasinya dalam rangka pelayanan publik bagi peningkatan
120
kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, dilihat dari fungsi,
pola dan perilaku birokrasi berkenaan dengan aspek proses
politik dan administrasi pemerintahan dalam upaya mencapai
tujuan kepentingan publik.
Michael Barzelay dalam bukunya " Breacking Bureaucracv "
( 1992 ) bahwa pada masa lalu sejak tahun 1930, paradigma
perilaku birokrasi pemerintahan dengan formal organisasinya
menekankan pada determinasi pada prinsip efektivitas
dan
efisiensi yang dicirikan oleh delegasi kewenangan spesifik dari
setiap cabang eksekutif, kewenangan pelaksanaan, ekspertis dari
setiap kewenangan, tanggung jawab fungsi keuangan, cabang
pelaksana pemerintahan. Pada masa sekarang dengan adanya aneka
ragam
fungsi pelayanan publik,
masalah
dan
keinginan
masyarakat yang perlu dipecahkan menuntuk ciri birokrasi dari
strategi
managemen
pemerintahan,
cabang
pemerintahan,
spesialisasi dan teknis operasional.
Sedangkan paradigma karakteristik pola dan
perilaku
birokrasi pemerintahan sekarang disebut "
Post-Bureaucracy
Paradigm " adalah berfungsi selaku agen yang lebih difokuskan
kepada
kebutuhan dan persfektifnya, mempunyai peran
dan
tanggung
jawab dari setiap unit secara jelas,
memiliki
kemampuan
daya kontrol, pelayanan yang
rutin,
bersifat
pelayanan bisnis, sistem dan prosedur yang mendukung tujuan,
strategi yang memuat rencana dan program matang, memiliki
kemampuan nilai pelayanan yang optimal. Dengan perkataan lain
pendekatan perilaku birokrasi dewasa ini lebih dikembangkan
pada kualitas, nilai, pelayanan, inovasi, pleksibel, kustomer,
dan pemberdayaan pada masyarakat yang dilakukan pemerintah.
121
GAMBAR : II.9- KUALITAS BIROKRASI PEMERINTAHAN
karakteristik
birokrasi
Pelayanan
Karakterist ik
individu
kualitas fungsj
birokrasi
Publik
nilai, inovasi, insentif
pleksibel dan pemberdayaan
Diperjelas oleh Miftah Thoha ( 1992 ) bahwa fungsi
pemerintahan dan pembangunan dalam rangka pelayanan publik yang
dilakukan pemerintah, dipengaruhi oleh
perilaku birokrasi
pemerintah. Yang digambarkan dalam paradigma sebagai berikut :
Karakteristik Individu/aparat
1. Kemampuan fisiologis C fisik dan mental )
2. Kemampuan Psikologis ( persepsi, sikap,
kepribadian dan motivasi )
3. Kemampuan Lingkungan ( keluarga, kelas
sosial dan kebudayaan )
Karakteristik Birokrasi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
Struktur dan herarki kekuasaan
Pembagian tugas dan kewenangan
Sistem dan prosedur yang formal
hubungan impersonal
Sistem karir dan promosi
Sistem penggajian
Manajemen dan kepemimpinan
Komunikasi, koordinasi dan integrasi
122
Perilaku Birok rasi Pemerintahan
Oleh karena itu, perilaku birokrasi pemerintahan dalam
rangka perumusan kebijakan dan pelaksanaan kebijakan publik
sehubungan dengan pelayanan publik yang menyangkut kepentingan
umum melalui penyelenggaraan program pembangunan dan pembinaan
masyarakat adalah sebagai berikut :
a). Pendekatan hukum adanya persepsi nilai, norma, dan aturan.
b). Pendekatan
administrasi
adanya
kemampuan
struktur,
status, fungsi, profesi, dan keterampilan manajerial dan
operasional, dan teknis administratif.
c). Pendekatan
sosiologis,
ditunjukkan
oleh
hubungan
komunikasi
yang efektif baik internal maupun eksternal
organisasi.
d). Pendekatan
psikologis,
adanya
kemampuan
dalam
pemberian
pelayanan
umum melalui " Learning
process " ( membimbing,
membina, keteladanan
dan
mengarahkan dsb ).
e). Pendekatan
ekonomi mampu untuk
memberikan
efisiensi
organisasi
dan meningkatkan kesejahtraan masyarakat.
f). Pendekatan budaya, merupakan agen sosial yang tercermin
dari struktur dan fungsi dalam peran sosial.
Mengingat
birokrasi
pemerintahan
terdapat
dalam
organisasi pemerintahan besar, maka ciri herarki dan delegasi
kekuasaan
akan menimbulkan debirokrasi pemerintahan
pada
tingkat lokal sesuai dengan struktur birokrasi pemerintahan
yang berlaku. Struktur birokrasi pemerintahan merupakan satu
kesatuan yang berskala besar dan mempunyai relevansi dengan
sistem sosial berdasarkan kekuasaan, tata hubungan, fungsi
pelayanan, tata nilai maupun efisiensi pelayanannya tidak dapat
dipisahkan dari faktor internal dan eksterani sehingga perlu
adanya birokrasi lokal dalam upaya mencapai tujuan pusat dan
daerahnya ( David Beetham, 1980 ).
Struktur herarhi kekuasaan birokrasi pemerintahan di
tingkat lokal ( debirokratisasi ) terdapat kewenangan manajemen
yang dibantu oleh unsur staf administratif dan operasional atau
pelaksana
dalam mengamankan kebijakan
umum,
menetapkan
kebijakan dan mengatur, melaksanakan dan mengendalikan teknis
123
operasional baik yang bersifat dekonsentrasi, desentralisasi
dan tugas pembantuan sesuai dengan aturan dan
kebijakan
pemerintah
sentral.
Debirokratisasi
pemerintahan
lokal
merupakan alat pemerintah pusat di daerah yang melaksanakan
fungsi untuk membantu kelancaran tugas atau urusan pusat dan
menciptakan kemandirian dalam melaksanakan fungsi pemerintahan
dan pembangunan di daerah. Sehubungan dengan itu, seperti
dikemukakan
oleh
Bowman
dan
Hamton ( 1983
)
bahwa
debirokratisasi atau birokrasi pemerintahan lokal dalam rangka
pelaksanaan urusan desentralisasi, dekonsentrasi, devolusi dan
privatisasi timbul karena ketidak pedulian pemerintah pusat
dalam melaksanakan fungsi pelayanan pembangunan sampai di
daerah.
Berarti erat kaitannya dengan herarki kekuasaan dan
kewenangan birokrasi pusat yang didelegasikan dari manajemen
pemerintahan pusat pada unit-unit manajemen pemerintahan di
daerah, sehingga tidak terlepas dari masalah akses
atau
kepercayaan, kewenangan, keleluasaan atau kemandirian, dan
pertanggung jawaban dalam rangka menghindari keterlambatan
keputusan dan pelaksanaan fungsi pelayanan publik. Kewajiban
birokrasi lokal sebagai perpanjangan tangan birokrasi pusat
dalam
mewujudkan
kesejahteraan
rakyat
melalui
fungsi
pemerintahan dan pembangunan di daerah berbentuk pelayanan
umum,
pengaturan,
pembangunan, perwakilan
serta
fungsi
perencanaan dan koordinasi yang lebih responsif.
Suatu kebijakan desentralisasi, dekonsentrasi dan tugas
pembantuan yang lebih responsif dan kondusif serta mengakar
pada
kepentingan masyarakat maupun
pelaksanaannya
lebih
konsisten maka yang paling mendasar dilaksanakan birokrasi
lokal apabila didukung oleh kemampuan kualitas sesuai dengan
keahlian dan tugasnya.
Birokrasi lokal yang memiliki kualifikasi profesional dan
kompetensi administratif dapat memahami kondisi sosio-kultural
dan
sosio-ekonomi
di
daerahnya
beserta
kendala
dan
permasalahannya.
Kualitas birokrasi pemerintahan lokal
sangat ditentukan oleh struktur, kultur dan perilaku elit serta
124
unsur
pelaksana operasional yang
mendapatkan
pelimpahan
kewenangan, dukungan keuangan dan sumber daya lainnya terhadap
proses kebijakan dan pelaksanaan program pembangunan sehubungan
dengan peningkatan partisipasi dalam meningkatkan kesejahteraan
pada masyarakat di daerahnya.
Perilaku birokrasi pemerintah Indonesia merupakan sistem
birokrasi yang selalu bernafaskan nilai Pancasila yang diatur
mulai dari etika Korps Pegawai dan UU No. 8 Tahun 1974 tentang
Popok-pokok Kepegawaian sampai pada peraturan pelaksanaannya
seperti PP No. 30 tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai RI.
Birokrasi pemerintah dari pusat sampai di daerah , dimana gaya,
perilaku dan orientasi bersumber pada nilai budaya tersebut
mulai dari pengambilan keputusan ( " policy m&king " ) yang
tetapkan
dan diformulasikan
sampai pada
kebijakan
itu
dilaksanakan, diawasi dan dievaluasi.
Pengambilan kebijakan yang dilakukan birokrasi dengan
menekankan musyawarah dan mufakat yang dijiwai oleh sikap
birokrasi dengan
cara, sistem dan prosedur
kerja dengan
mengutamakan nilai agama; menghargai dan menempatkan manusia
ciptaan
Tuhan, masyarakat dan individu yang sama
untuk
dilayani; menempatkan persatuan, kesatuan, kepentingan bangsa
dan negara di atas kepentingan individu, golongan dan kelompok
tertentu; mengutamakan kepentingan umum dalam
pengambilan
keputusan atas dasar musyawarah dan mufakat dengan
yang
dipertanggungjawabkan
secara
moral, nilai
dan
martabat
kebenaran
dan keadilan; mengembangkan sikap dan
suasana
kekeluargaan dan kegotong royongan dengan menjaga hak dan
kewajiban, menghargai orang lain dan pemerataan keadilan bagi
seluruh rakyat tanpa membedakan suku, agama, ras dan golongan.
Bagi birokrasi pemerintahan di daerah dalam melaksanakan
tugas, fungsi dan kewajibannya dari segi yuridis formal selain
memperhatikan aturan umum yang berlaku, Juga dari
aspek
pemerintahan dikendalikan melalui UU Nomor 5 tahun 1974 tentang
Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah dan UU Nomor 5 tahun 1979
tentang Pemerintahan Desa. Sejalan dengan upaya pemerintah
dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan di daerah
yang
125
berdayaguna dan berhasilguna, dengan titik berat otonomi pada
daerah tingkat II maka PP No. 45 tahun 1992 tentang Pelaksanaan
Titik Berat Otonomi Pada Daerah Tingkat II yang di dukung
dengan PP No. 6 tahun 1988 tentang Koordinasi
Instansi
Pemerintahan di wilayah.
Birokrasi
pemerintahan di tingkat II sebagai
alat
pemerintah
pusat
dan
daerah
dalam
melaksanakan
asas
desentralisasi,
asas dekonsentrasi dan
tugas
pembantuan
dilaksanakan
oleh organisasi pemerintahan
wilayah/daerah.
Organisasi Pemerintahan Wilayah/ Daerah Tingkat II terdiri dari
Unsur
Organisasi
Pemerintahan
Wilayah
yaitu
Bupati/Walikotamadya Kepala Wilayah, Unsur Sekteratiat wilayah,
Unsur pengawasan Inspektorat wilayah, Unsur pelaksana wilayah
Instansi Vertikal Pemerintahan Umum dan Pemerintahan Teknis.
Sedangkan
Organisasi
Pemerintahan
Daerah
adalah
Pemerintah Daerah yaitu Kepala Daerah dan DPRD, Sekretariat
Daerah, Unsur perencana Bappeda, Unsur pelaksana Dinas Daerah
dan
Badan/Instansi daerah lainnya. Organisasi
Pemerintah
Daerah/Wilayah Tingkat II diatur dengan Keputusan Menteri Dalam
Negeri Nomor 29 Tahun 1993. Organisasi pemerintahan pada daerah
tersebut dalam rangka lebih mendayagunakan aparatur pemerintah
di daerah dalam rangka otonomi daerah maupun pelaksanaan tugas
pemerintahan umum dan pemerintahan teknis di daerah ( pusat di
daerah
)
sejalan dengan fungsi
pelayanan
pembangunan,
kesejahteraan
rakyat, pemerataan pembangunan,
peningkatan
sumber daya manusia, termasuk di dalamnya penanggulangan atau
pengentasan kemiskinan di desa tertinggal.
3. Birokrasi Pelaksana Program IDT dan Pengentasan Kemiskinan
di Daerah
Dalam pelaksanaan pembangunan yang berorientasi pada
kebutuhan
dan
sasaran
kelompok
miskin
memerlukan
organisasi/birokrasi yang konduktif, pemberdayaan dan inovatif
melalui pelayanan masyarakatnya. Orientasi perilaku birokrasi
tidak
sekedar
mencapai
sasaran
peningkatan
pendapatan
masyarakat yang tinggi, tetapi usahanya untuk menciptakan
126
delivery mechanlsm " atau mekanisme ketat yang tandai oleh
birokrasi yang kreatif, inovatif, pemberdayaan, efisiensi, dan
pemecahan masalah.
Perubahan ini menuntut perubahan perilaku
birokrasi
sampai birokrasi lokal dari paternalistik-tradisional kepada
perilaku birokrasi pelayanan publik. Birokrasi seperti ini
lebih mementingkan proses dari pada hasil atau
sasaran,
sehingga mampu menterjemahkan program sebagai kegiatan untuk
mencapai sasaran sesuai dengan target yang telah ditetapkan.
Birokrasi pelaksana lokal akan lebih mementingkan kesesuaian
antara organisasi, program dengan kelompok sasaran seperti
contohnya pengentasan kemiskinan pada penduduk miskin. Tujuan
program yang dilakukan unsur birokrasi lokal, disesuaikan dan
dimodifikasi dengan kondisi sosial dan kultural dari masyarakat
penerima program.
Birokrasi sampai jajarannya pada pemerintahan lokal yang
berorientasi pada kelompok sasaran, lebih mampu menclptakan
akses terhadap kelompok miskin, kelembagaan sosial dan tokoh
informal untuk melakukan pendidikan sosial melalui pendekatan
adminsitratif dan pendidikan keterampilan sebagai bentuk
pemberdayaan
" bagi partisipasi aktif masyarakat miskin.
Pembentukan birokrasi pelaksana program tingkat lokal dan
kelompok ssasaran masyarakat miskin selaku organisasi program,
diharapkan terbentuknya proses program IDT yang optimal.
Kedua organisasi tersebut diharapkan sesuai dengan INPRES
Nomor 5 Tahun 1993, Kelompok Swadaya Masyarakat yang dibentuk
dari masyarakat miskin dengan bantuan pengaruh
orientasi
perilaku
birokrasi lokal akan mampu
mengindentifikasikan
masalah,
mengambil keputusan, merencanakan program, memantau
dan mengevaluasi pelaksanaan program secara cepat dan tepat
sesuai dengan kondisi dan situasi desa tertinggal masingmasing .
Moeljarto Tjokrowinoto ( 1993 ) menunjukkan bahwa sosok
birokrasi pemerintahan sampai ke tingkat lokal selaku unsur
pelaksana
program
pembangunan masyarakat
miskin
adalah
birokrasi harus melaksanakan fungsi " empowering "
atau
127
pemberdayaan,
menciptakan iklim agar anggota
anggota
masyarakat
dapat mengembangkan berbagai potensinya,
baik
potensi sosial, intelektual, mental spiritual maupun fisiknya
secara
maksimal;
dan fungsi integrasi
agar
poliferasi
kelembagaan, diferensiasi struktural dan fungsional, tekanan
penduduk terhadap sumber daya dan sebagainya tidak mempunyai
efek
disintegratif. Kualitas birokrasi pelaksana
program
seperti ini adalah :
a). Birokrasi yang mampu menumbuhkan " self-sustainlng capacity
dan menghilangkan " dependency-crea t Ing" masyarakat,
dengan
secara terencana dan bertahap menyerahkan
tanggung jawab dan kewenangan pembangunan kepada masyarakat
untuk mengurus
kepentingan masyarakat sesuai dengan
potensi yang mereka
miliki.
b). Birokrasi sampai ke tingkat lokal tidak lagi sebagai
governing
"
dalam merealisasikam rencana pembangunan
yang
dirumuskan
secara sentralistis,
akan
tetapi
bertindak sebagai "
fasilitating ", yaitu menciptakan
lingkungan sosial yang
memungkinkan potensi - potensi
tadi
untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya
melalui
pembentukan jaringan atau gugus proses
belajar atau
social
learning clu&ters " yang merangsang
mereka
mengenali permasalahan mereka, mengidentifikasi berbagai
sumber yang mereka miliki dan bersama-sama
mengatasi
permasalahan mereka.
c). Pembangunan
masyarakat yang bertujuan untuk menciptakan
kualitas masyarakat yang dicita-citakan bertumpu
pada
pengakuan akan adanya variasi sosio-kultural antara daerah
yang menuntut variasi dalam pendekatannya. Oleh karenanya
birokrasi harus mencegah kebijaksanaan yang uniformitas dan
sterotipikal.
d). Birokrasi pelaksana harus memberi peluang bagi tumbuhnya
lembaga-lembaga swakelola " sel f managing local unit ",
melalui interaksi dengan lembaga-lembaga swakelola ini akan
tercapai mobilisasi sumber yang amat besar: komitmen,
kreatif,
energi, dana dan daya yang akan menjadi tumpuan
128
pemberdayaan,
menciptakan iklim agar anggota
anggota
masyarakat
dapat mengembangkan berbagai potensinya,
baik
potensi sosial, intelektual, mental spiritual maupun fisiknya
secara
maksimal;
dan fungsi integrasi
agar
poliferasi
kelembagaan, diferensiasi struktural dan fungsional, tekanan
penduduk terhadap sumber dan sebagainya tidak mempunyai efek
disintegratif. Kualitas birokrasi pelaksana program seperti ini
adalah :
a). Birokrasi yang mampu menumbuhkan " self-suataining capacity
dan menghilangkan " dependency-crea. ting" masyarakat,
dengan
secara terencana dan bertahap menyerahkan
tanggung jawab dan kewenangan pembangunan kepada masyarakat
untuk mengurus
kepentingan masyarakat sesuai dengan
potensi yang mereka
miliki.
b). Birokrasi sampai ke tingkat lokal tidak lagi sebagai
governing
"
dalam merealisasikam rencana pembangunan
yang
dirumuskan
secara sentralistis,
akan
tetapi
bertindak sebagai "
familitating ", yaitu menciptakan
lingkungan sosial yang
memungkinkan potensi - potensi
tadi
untuk tumbuh dan berkembang. Misalnya
melalui
pembentukan jaringan atau gugus proses
belajar atau
aocial
learning clusters " yang merangsang
mereka
mengenali permasalahan mereka, mengidentifikasi berbagai
sumber yang mereka miliki dan bersama-sama
mengatasi
permasalahan mereka.
c). Pembangunan
masyarakat yang bertujuan untuk menciptakan
kualitas masyarakat yang dicita-citakan bertumpu
pada
pengakuan akan adanya variasi sosio-kultural antara daerah
yang menuntut variasi dalam pendekatannya. Oleh karenanya
birokrasi harus mencegah kebijaksanaan yang uniformitas dan
sterotipikal.
d). Birokrasi pelaksana harus memberi peluang bagi tumbuhnya
lembaga-lembaga swakelola " sel f managing local unit
melalui interaksi dengan lembaga-lembaga swakelola ini akan
tercapai mobilisasi sumber yang amat besar: komitmen,
kreatif,
energi, dana dan daya yang akan menjadi tumpuan
128
masyarakat
dalam mempertahankan momentum pembangunan,
e). Birokrasi harus mampu melaksanakan fungsi yang dicitrakan
oleh
Hegel, yaitu sebagai " mediating agen t" antara
kepentingan
khusus
dengan
kepentingan
nasional,
menjembatani
" civi1
society " yang mencerminkan
berbagai kepentingan khusus dan "
the state "
yang
mencerminkan " general interest ". Inilah yang
dikenal
dengan fungsi integratif birokrasi.
Birokrasi
pemerintahan
pada
tingkat
lokal
dalam
pelaksanaan program IDT dicirikan sifat pemberdayaan, kreatif,
inovatif, adaptif dan kondusif terhadap tumbuhnya aspirasi
masyarakat miskin, mampu memberikan ruang gerak bagi masyarakat
miskin untuk mengartikulasikan kepentingan, serta memberikan
kesempatan kepada masyarakat miskin untuk berpatisipasi dalam
program
IDT dan program lainnya. Pentingnya
partisipasi
masyarakat
dalam
proses
pembangunan,
termasuk
program
pembangunan masyarakat miskin yang perlu diperhatikan oleh
birokrasi menurut Moelyarto ( 1993 > dengan alasan adalah :
a. Rakyat -adalah fokus sentral dan tujuan akhir pembangunan,
partisipasi merupakan akibat logis penyertaanya.
b. Partisipasi menimbulkan harga diri dan kesempatan pribadi
untuk dapat turut serta dalam keputusan
penting yang
menyangkut masyarakat.
c. Partisipasi menciptakan suatu lingkaran umpan balik arus
informasi tentang sikap, aspirasi, kebutuhan dan kondisi
daerah yang tanpa kebedaraannya akan tidak terungkap. Arus
informasi ini tidak dapat dihindari untuk berhasilnya
pembangunan.
d. Pembangunan dilaksanakan lebih baik dengan dimulai dari
mana
rakyat berada dan dari apa yang mereka miliki.
e. Partisipasi memperluas zone ( wawasan ) penerimaan proyek
pembangunan.
f. Ia akan memperluas jangkauan pelayanan pemerintah kepada
seluruh masyarakat.
g. Partisipasi menopang pembangunan.
h. Partisipasi menyediakan
lingkungan yang kondusif baik
129
aktualisasi potensi manusia maupun pertumbuhan manusia,
i. Partisipasi
merupakan
cara yang
efektif
membangun
kemampuan
masyarakat untuk pengelolaan program guna
memenuhi kebutuhan
khas daerah.
Selain dari itu, menurut Conyers ( Moelyarto : 1993 )
bahwa
pentingnya birokrasi memperhatikan dan
menumbuhkan
partisipasi masyarakat dalam program pembangunan sampai ke
tingkat lokal dengan alasan sebagai berikut :
Eectama, partisipasi
masyarakat merupakan suatu alat guna
memperoleh
informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan
sikap masyarakat setempat, yang tanpa
kehadirannya
program pembangunan serta proyek-proyek akan gagal.
Kedua. bahwa masyarakat akan lebih mempercayai proyek atau
program pembangunan jika merasa dilibatkan
dalam
proses persiapan dan perencanaannya, karena mereka akan
lebih mengetahui seluk beluk proyek tersebut dan akan
lebih merasa memiliki terhadap proyek tersebut.
Ketiga, adanya
anggapan bahwa suatu hak
demokrasi
bila
masyarakat
dilibatkan dalam pembangunan
masyarakat
mereka sendiri.
Oleh karena itu, pelaksanaan program IDT memerlukan,
tumbuhnya iklim dan kondisi yang mendukung partisipasi tersebut
melalui strategi pembangunan yang diarahkan rakyat miskin,
struktur kepemimpinan yang cocok, pembentukan kelompok diluar
kooperasi ( kerjasama ) yang berbasis pedesaan dan kelembagaan
sosial yang memainkan peranan yang bersifat mendukung. Program
IDT merupakan perluasan dan peningkatan berbagai program dan
upaya pengembangan dari P ^ ^ n t Pengembangan Kawasan terpadu L
EKI -LL Provek peningkatan Pendapatan petani dan NelflVan Kecil L
P4K). Kegjatan Usaha Peningkatan Pendapatan keluarga Akseptor
EB
L hppkakbi- dan program serupa yang (1i Inftfiflnatom oleh.
PKK.
Program PKT dan lainnya menangani secara langsung masalah
kemiskinan pada
tingkat pedesaan di desa
tertinggal yang
diintegrasikan
dalam program IDT. Program IDT
merupakan
kebijakan terpadu untuk meningkatkan potensi dan dinamika
ekonomi masyarakat lapisan bawah.
130
Dalam kerangka ini, program IDT secara umum bertujuan
memantapkan
segi kelembagaan sosial ekonomi penduduk miskin
sebagai wadah penyalur aspirasi mereka dalam meningkatkan taraf
hidupnya melalui usaha produktif yang berkelanjutan. Program
IDT diarahkan pada upaya peningkatan penciptaan dan perluasan
lapangan kerj a me lalui perluasan kegiatan pembangunan di
desa/kelurahan yang dikatagorikan tertinggal. Upaya tersebut
berupa pemberian perhatian dan bantuan khusus, seperti modal
usaha T
pelatihan ^ t e r a m n i i a n . pembimbingan
serta pelaksanaan
pendapatan.
kegiatan
yang
dapat
dan
pendampingan
memacu
peningkatan
Di
tinjau dari birokrasi pemerintahan,
organisasi
pelaksana program IDT secara herarki melekat pada
unsur
kewenangan sesuai dengan tugas dan tanggung jawabnya secara
langsung baik tingkat pusat maupun di tingkat daerah di bawah
pengawasan
Presiden. Kelembagaan pelaksanaan program
IDT
disusun dari kelembagaan yang sudah ada dengan memperhatikan
berbagai program pembangunan sektoral dan regional
serta
ditujukan untuk meningkatkan koordinasi dan integrasi aktif
pada setiap tingkatan wilayah.
Kelembagaan yang sudah ada diperkaya dengan dukungan
dari berbagai unsur masyarakat, termasuk perguruan tinggi dan
organisasi kemasyarakatan serta lembaga kemasyarakatan setempat
lainnya untuk membantu kelancaran dan efektivitas pelaksanaan
program IDT. Unsur - unsur tersebut ditempatkan sebagai mitra
yang
tidak
bersifat
struktural,
tetapi
konsultatif,
pendampingan, dan fungsional dengan tidak membebankan dana yang
tersedia dalam program IDT.
Pada tingkat nasional dibentuk tim pusat yang anggotanya
terdiri atas wakil-wakil Bappenas, Departemen Dalam Negeri,
departemen Keuangan dan instansi lainnya yang terkait sesuai
dengan bidang tugasnya masing-masing. Pada tahap perencanaan,
Menteri
Negara
PPN/Ketua
Bappenas
bertindak
sebagai
koordinator. Tim Pusat bertugas untuk menyusun kebijaksanaan
iimnm dalam mengkoordinasikan perencanaan, memantau pelaksanaan
131
dan mengendalikan, serta melakukan evaluasi untuk penyempurnaan
pelaksanaan program IDT.
Pada tingkat propinsi, Gubernur Kepala daerah Tingkat I
bertanggung jawab atas keberhasilan pelaksanaan program IDT dan
keterpaduan program antar sektor dan antar daerah
dalam
wilayahnya. Pada tingkat Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II,
tanggung jawab berada pada Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah
Tingkat II. Pada tingkat Kecamatan , Camat yang dibantu oleh
Kepala Seksi Pembangunan Masyarakat Desa ( Kasi PMD ), bertugas
mense ras ikan program IDT di desa/kelurahan tertinggal dalam
wilayah kerjanya, memantau pelaksanaan, dan menyusun laporan
hasil pelaksanaan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, Camat
dapat dibantu oleh tenaga lapangan dari berbagai instansi atau
organisasi kemasyarakatan dan lembaga kemasyarakatan lainnya
yang ada di tingkat kecamatan.
Disamping itu, Camat berkewajiabn melaporkan rencana
program IDT di desa/kelurahan tertinggal yang berada di wilayah
kerjanya serta program sektoral dan regional yang diperlukan
untuk mendukung pelaksanaan pelaksanaan program IDT kepada
Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II. Berdasarkan
laporan tersebut dan rencana program sektoral dan regional yang
dilaksanakan di wilayah kerjanya, Bupati/walikotamadya Kepala
Daerah Tingkat II memadukan program sektoral dan regional
dengan memberikan prioritas pada kegiatan pembangunan yang
menunjang program IDT.
Pada tingkat desa, Kepala Desa/Kepurahan dengan dibantu
LKMD menemukenali penduduk miskin di daerahnya dan kemudian
mendorong terbentuknya kelompok. Kepala Desa /
Kelurahan
memimpin musyawarah LKMD untuk mengevaluasi usulan rencana
kegiatan program IDT yang diajukan oleh kelompok yang telah
disepakati untuk disampaikan pada Camat. Kegiatan ditingkat
desa/kelurahan dilaksanakan oleh kelompok masyarakat desa dalam
wadah LKMD dan dibantu oleh tenaga pendamping yang ditugaskan
di kecamatan atau di lingkungan desa/kelurahan bersangkutan.
132
H. Model Kelembagaan Program IDT
Karakteristik penting yang membedakan program IDT dengan
program lainnya, sama-sama mengatasi kemiskinan seperti Kawasan
Pembangunan Terpadu ( PKT ), Norma Kehidupan Keluarga Bahagia
dan Se j ahtera ( NKKBS ), Peningkatan Pendapatan Petani dan
Neyalan Kecil ( PPPNK ) dan program pemerintah lainnya yang
berorientasi ke desa adanya komitmen untuk menyertakan kelompok
sasaran dan lembaga swadaya masyarakat miskin. Komitmen ini
menunjukkan kesadaran politik dari pemerintah dalam rangka
pembangunan
sosial untuk mengatasi
kesenjangan
ekonomi,
ketimpangan sosial dan kemiskinan alamiah dan struktural yang
harus diatasi tidak saja menjadi tanggung jawab internal
masyarakat
miskin, tetapi pengaruh eksternal agar
mampu
mengatasi problema tersebut.
Birokrasi pemerintahan atas dasar persepsi, orientasi dan
motivasi
strukturalnya,
khususnya
pada
pemerintahan
lokal/daerah dan desa/kelurahan bertindak dan bertanggung jawab
selaku katalisator, dinamistaor maupun motivator bagi kelompok
sasaran miskin dalam mengatasi problemanya. Dengan menumbuhkan
kepedulian lembaga sosial kemasyarakatan dan kesetiakawanan
pihak lainnya untuk membantu memecahkan secara terpadu dan
berkelanjutan.
Seperti disimak oleh David C. Korten ( 1984 ), Bryant
dan White ( 1987 ) dan Moeljarto Tjokrowinoto < 1993 ) bahwa
salah
satu
unsur penting dalam
mendukung
keberhasilan
pelaksanaan program pembangunan adalah dilibatkannya atau ikut
sertanya kelompok sasaran dan swadaya masyarakat yang terdapat
dalam
kelompok sasaran tersebut untuk mengelola
program
pembangunan. Tanpa penyertaan kelompok selaku obyek dan subyek
sasaran dan lembaga sasaran masyarakat penerima program dapat
diprediksi tujuan mengetaskan kemiskinan yang diharapkan oleh
program IDT akan mengalami hambatan bahkan kegagalan.
Lembaga Swadaya Masyarakat ( LSM ) sebagai
institusi
lokal atau organisasi lokal dalam pembangunan
terdapat pada
masyarakat berbentuk agregasi masyarakat dan sekaligus sarana
komunikasi
bagi
kelancaran
dalam
pengelolaan
program
133
pembangunan. Fungsi lembaga swadaya masyarakat selaku institusi
atau organisasi lokal mencerminkan " intermedlares function
atau fungsi perantara Kelompok Sasaran Masyarakat ( KSM )
dengan pemerintah untuk menyelaraskan dan menyatu padukan
keinginan pemerintah dengan kebutuhan masyarakat
penerima
program.
Lembaga
swadaya
masyarakat
berperan
untuk
mengartikulasikan dan mengungkapkan kebutuhan atau aspirasi
terhadap program pembangunan, serta menjadi jembatan antara
kelompok
sasaran masyarakat dengan pemerintah atau
LSM
lainnya.
Dalam
pelaksanaan
program
IDT,
kelompok
sasaran
masyarakat ( KSM adalah penduduk miskin yang bermukin di
desa/kelurahan tertinggal, yaitu kelompok masyarakat
yang
berpenghasilan rendah dan terbatas kemampuan sumber daya serta
keterbatasan
terhadap
akses
pelayanan,
prasarana,
dan
permodalan
untuk memenuhi kebutuhan dasarnya atau
dalam
menghadai masalah khusus dan mendesak yang segera memerlukan
penanganan dan bantuan.
Dari segi kedudukannya atau statusnya, kelompok swadaya
masyarakat sebagai kumpulan penduduk miskin setempat yang
terorganisir atau menyatukan diri dalam usaha dibidang sosial
ekonomi untuk meningkatkan kesejahteraan, keswadayaan, dan
kegotong royongan mereka. Kelompok sasaran masyarakat milik
anggota untuk mengatasi masalah bersama serta mengembangkan
usaha bersama anggotanya.
Tujuan
pembentukkan kelompok swadaya masyarakat ini
adalah untuk memperlancar dan mengefektifkan upaya mempercepat
penanggulangan kemiskinan. Disamping itu, pembentukan kelompok
dimaksudkan agar pelayanan terhadap penduduk miskin dapat
terarah,
terjalinnya interaksi diantara masyarakat
dapat
ditingkatkan, serta kesetiakawanan dan kegotong royongan dapat
dibangun dan dikembangkan ( INPRES Nomor 5 tahun 1993 ).
Kelompok sasaran masyarakat dalam program IDT, ditinjau dari
terminologi dan konsep dari Easman dan Uphoff ( Moelyarto, 1993
) adalah lembaga yang aktivitas, dan pengambilan keputusan
berada pada masyarakat pedesaan ataupun daerah pedesaan.
134
Secara lengkap Easman dan Uphoff memberikan gambaran
t ingkatan lembaga lokal dalam rangka program
pembangunan
sebagai berikut :
GAMBAR .11.10 : LEVEL OF DECISION MAKING AND ACTIVITY
1. INTERNATIONAL LEVEL
2. NATIONAL LEVEL
3. REGIONAL ( STATE OR PROVINCIAL ) LEVEL
4. DISTRICT LEVEL
5. SUB DISTRICT LEVEL
6. LOCALITY LEVEL
( a set of communities having cooperating/commercial
relation, this level may be the same as the
subdistrict level where the sub-district center is a
maket town )
7. COMMUNITY LEVEL
( a relatively self-contained, socio-economic-residential unit )
8. GROUP LEVEL
C a set-identified set of persons having some common
interest; any be a small residential group like a
hamlet, or nightborhood, an occupational group, or
some ethic, caste, age, sex, or other grouping )
9. HOUSEHOLD LEVEL
10. INDIVIDUAL LEVEL
Dari gambar di atas, maka yang dimaksud dengan lembaga
lokal adalah pada tingkat 6, 7 dan 8 atau dapat diidentikkan
dengan dengan tingkat kecamatan smapai pada desa/kelurahan yang
mencakup Rukun Warga ( EW ), Rukun Tetatngga ( RT ) kelompokkelompok swadaya lainnya ). Kemudian lembaga lokal
termasuk
lembaga pemerintah ( " public sector " ) dan lembaga swasta (
" privat e sector " ).
Dalam
kaitan
ini,
Esman dan Uphoff
(
1984
)
mengklasifikasikan enan katagori utama dari lembaga lokal,
yaitu:
135
a). Los&l AdmjnlstraftiPn ( LA ), yaitu aparat pemerintah pusat
yang ada di daerah dan bertanggung jawab pada atasannya
dalam melaksanakan urusan dekonsentrasi.
b). Lcjsal Government ( LG ), badan-badan pemerintahan otonom
yang mempunyai wewenang untuk menangani tugas pemerintahan
dan pembangunan dan
peraturan, serta bertanggung jawab
kepada pemerintah daerah.
c). Memberghjp Qrgani?atlons ( MOs ), asosiasi sosial yang
mempunyai tugas dan bergerak dibidang sosial, seperti:
1). Multjple Task. badan asosiasi pada tingkat lokal atau
pembangunan masyarakat desa.
2). Spgfilfic
lembaga sosial khusus yang menangani
masalah irigasi, kesehatan dan pertanian pada program
pedesaan.
3). Needs. kumpulan/kelompok yang mempunyai kepentingan
tertentu, misalnya kelompok wanita, petani, nelayan
dsb.
d). Cooperatlves ( Co), bentuk organisasi lokal yang menyatukan
sumber daya ekonomi anggota-anggotanya untuk memperoleh
keuntungan, contohnya kelompok pemasaran, koperasi, keredit
dan lain sebagainya.
e). Service
Organizations ( SOs), organisasi lokal
yang
dibentuk terutama untuk memberikan bantuan kepada orangorang yang biakan anggota, contohnya adalah lembaga-lembaga
pelayanan kesehatan, kredit dan lain sebagainya.
f). Private Business ( PBs ), cabang-cabang atau kelompok
pelaksana yang bebas dari kestrataan lokal, bergerak di
sektor publik, jasa, ataupun perdagangan.
Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa
yang
termasuk organisasi lokal adalah " Membership Organization,
Cooveratives dan Service Organizations ". Sedangkan " Local
Administration dan Local Government ", tidak termasuk karena
merupakan bagian dari lembaga-lembaga lainnya ataupun bagian
dari pemerintah di tingkat atas. Begitupula " Private Busslness
", meskipun organisasi ini sama-sama menghasilkan keuntungan
bagi orang-orang di luar organisasi, tetapi orang-orang ini
136
-tidak dianggap sebagai bagian dari organisasi itu ( klien ) dan
tidak memiliki hak untuk menentukan aktivitas organisasi.
Dengan demikian maka kelompok sasaran masyarakat dalam
program IDT dapat dikatagorikan " Membership Organiza t i on " dan
M
Co opera t ive ", karena kelompok ini disusun berdasarkan
kesamaan jenis kegiatan dan kebutuhan kelompok miskin. Misalnya
kelompok peternak ayam buras, kelompok perikanan, kelompok
petani, kelompok nelayan dan lain sebagainya.
Suatu studi tentang program dan proyek
pembangunan
masyarakat desa menunjukkan bahwa peran organisasi atau lembaga
lokal sangat penting dalam mempermudah pencapaian
tujuan
program pembangunan dengan alasan :
a) Organisasi-organisasi lokal dapat membantu pengembangan
suatu sistem komunikasi dua arah yang efektif
untuk
menyusun rencana proyek, pelaksanaan dan evaluasinya;
b) Orgainsasi-organisasi
lokal
merupakan
sarana
untuk
menggalakkan dan mengukuhkan perubahan-perubahan perilaku
seperti adopsi praktek-praktek pertanian baru;
c) Pada wilayah yang penyaluran dan pemasaran hasil pertanian
buruk, organisasi lokal dapat berfungsi untuk pengadaan,
integrasi dan administrasi jasa-jasa tersebut;
d) Komitmen sumber daya petani, pedagang* nelayan, pengrajin
dan
lain-lain dapat ditingkatkan
dengan
pengaturanpengaturan
agar
risiko
ditanggung
bersama,
dengan
melibatkan organisasi-organisasi lokal untuk memudahkan
pengaturan ini dan mengetatkan pelaksanaannya.
Oleh karena itu, seperti apa yang dikatakan Rondinelli (
1983 ) untuk mendukung pernyataan tersebut bahwa :
New insti tutional introduced by government or
International agencies are frequently BO incompatible with
traditional
practicea, custom and behaviour that they
not only fail to
eerve, but may further alienate rural
people. "
( Institusi baru yang mengacu pada institusi pemerintah
atau
internasional harus mempunyai perhatian terhadap
tradisi,
kebiasaan, tatacara dan perilaku mereka, tidak
137
hanya
memberikan pelayanan tetapi mempunyai kepedulian
pada masyarakat pedesaan ).
Penggunaan kelompok-kelompok lokal dalam
pembangunan
pedesaan, terutama yang ditujukan kepada kelompok masyarakat
miskin,
dapat membantu anggota masyarakat
miskin
dalam
mengatasi kekurangannya, baik sumber daya ekonomi, kekuasaan
maupun
informasi untuk mengadopsi teknologi
atau
untuk
melaksanakan pembangunan. Dengan membentuk kelompok-kelompok,
masyarakat miskin dapat secara bersama-sama membuat
suatu
jaringan kerjasama untuk memobilisasi sumber daya guna mencapai
tujuan pembangunan. Demikian pula kelompok-kelompok lokal ini
dapat digunakan sebagai media bagi para perencana pembangunan
untuk
memperkenalkan program-program pembangunan.
Melalui
kelompok-kelompok ini maka perencanaan pembangunan akan mampu
mencakup kebutuhan kelompok masyarakat secara nyata dan bukan
keinginan pihak perencana pembangunan di tingkat atas atau
bottom-up planning
Dengan
pendekatan
pembangunan
yang
memanfaatkan
organisasi lokal ini maka konsekuensi yang harus dipenuhi
adalah memberikan wewenang yang cukup kepada organisasi lokal
tersebut dalam pengelolaan proses pembangunan. Perlu diakui
bahwa semakin Bedikit wewenang yang dimiliki oleh organisasi
lokal maka akan semakin lemah organisasi tersebut. Secara umum
pemerintah sampai pada tingkat lokal harus menghindari tugas
yang harus dilakukan masyarakat, pemerintah, lembaga masyarakat
maupun gabungan antara ketiganya secara terpadu sesuai dengan
fungsi dan kewenangannya masing-masing dengan lebih menitik
beratkan proses menuju kemandirian masyarakat dalam membangun
dirinya.
Untuk
menunj ang
pelaksanaan
pembangunan
dengan
memanfaatkan
lembaga-lembaga lokal, seperti halnya
dalam
program
IDT maka Rondinelli ( 1983 ) mengajukan
model
kelembagaan yang tepat bagi pembangunan masyarakat dengan
karakteristiknya adalah : 1). Lembaga tersebut harus memiliki
kemampuan adaptasi yang tinggi
untuk
menjawab berbagai
masalah dan kondisi yang bervariasi. Kelompok sasaran biasanya
138
sangat
heterogen, baik permasalahan,
kebutuhan
maupun
keinginannya. Oleh karenanya lembaga tersebut harus mampu
menyatukan keinginan dan kebutuhan serta
menyelesaikan
setiap permasalahan secara memuaskan bagi semua
pihak.
2). Lembaga
pedesaan harus komplementer dan menyatu dengan
lembaga-lembaga pembangunan lainnya untuk mengatasi setiap
permasalahn pembangunan yang tinggi.
3). Sebagai suatu organisasi yang adaptif, lembaga tersebut
harus
dibentuk dan disusun berdasarkan
sifat-sifat
budaya,
praktekpraktek dan
perilaku
masyarakat
sekitarnya. Tanpa penyesuaian terhadap budaya dan perilaku
lokal, lembaga ini dapat dipastikan tidak diterima oleh
masyarakat.
4). Jaringan
kelembagaan
harus
disusun
untuk
mentransformasikan,
perilaku
dan
praktek-praktek
tradisional menuju kepada
perilaku yang mampu mencapai
pertumbuhan ekonomi dan
distribusi pendapatan
yang
seimbang. Untuk kepentingan ini
maka lembaga tersebut
harus mendorong perubahan, transformasi praktek-praktek
pembangunan yang lebih cocok dan perilaku yang mendorong
perubahan.
5). Lembaga yang adaptif harus dibentuk bersama-sama kelompok
sasaran dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya bagi
masyarakat untuk berpartisipasi dan menjamin
tegaknya
pemimpin
lembaga tersebut.
6). Lembaga
yang adaptif harus menyalurkan pelayanan secara
merata kepada masyarakat yang menjadi kliennya.
Dengan demikian, apabila kelompok sasaran
masyarakat
pelaksana program IDT memiliki karakteristik yang demikian,
maka kelompok sasaran masyarakat tersebut merupakan model
kelembagaan yang tepat bagi pelaksanaan program pembangunan
dalam pengentasan kemiskinan secara kultural dan struktural.
139
Download